Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN RESMI

PRAKTIKUM TERMODINAMIKA
PENENTUAN PANAS SPESIFIK

DOSEN PEMBINA : CUCUK EVI LUSIANI, S.T., M.T.


KELOMPOK : 01
1. ABDUL KADIR JAELANI A
2. AGUSTIN ROSANALIA
3. ALFA ZAINULLAH R
4. AVIELIA PUTRI W
5. DINIA IFANY C N
6. ELSA SARTIKA Y

JURUSAN TEKNIK KIMIA


POLITEKNIK NEGERI MALANG
2018
I. TUJUAN
Setelah melakukan percobaan ini, mahasiswa dapat :
a) Menjelaskan hukum kekekalan energi yang diaplikasikan pada energi thermal.
b) Merumuskan konsep termodinamika yang terkait dengan aliran panas dari dan ke
material / bahan padat.
c) Menghitung panas spesifik logam tertentu dalam rentang temperatur antara suhu air
mendidih sampai dengan suhu ruangan.

II. ALAT DAN BAHAN


1) Termometer
2) Potongan logam Aluminium, besi, stainless steel, kuningan dan tembaga.
3) Aquades
4) Styrofoam cup
5) Beaker glass
6) Heater
7) Termometer digital
8) Neraca analitis

III. SKEMA KERJA


Potongan logam ( aluminium, besi,
tembaga, kuningan dan stainless steel )  Kondisi Baik
ditimbang dengan teliti dan dicatat
sebagai m.

Air dipanaskan dengan heater dan


dihitung suhunya dengan termometer  Kondisi Baik
digital.

Potongan logam dimasukkan kedalam


air yang sudah menididih secara  Kondisi Baik
bergantian.

Suhu akan menurun setelah logam


dimasukkan kedalam beaker glass.  Kondisi Baik
Tunggu hingga suhu menjadi 100oC,
kemudian suhu tersebut dicatat sebagai
suhu awal dari logam (T1)

Timbang styrofoam cup dan styrofoam


cup + air, kemudian hitung massa air
dalam styrofoam dan catat sebagai mw.  Kondisi Baik
Suhu air di dalam styrofoam cup
diukur dan dicatat sebagai (T1w)

Potongan logam didalam beaker glass


kemudian dipindahkan dengan cepat
kedalam styrofoam cup yang berisi air,  Kondisi Baik
jangan sampai ada air yang tumpah dan
aduk sesaat setelah logam dimasukkan
kedalam air.

Suhu air dan potongan logam dicatat


setiap 3 detik sampai tercapai suhu  Kondisi Baik
kesetimbangan, kemudian suhu
tersebut dicatat sebagai suhu akhir (Tf)

IV. HASIL PENGAMATAN

 Kelompok 1

Logam Aluminium Kuningan Besi Tembaga Stainless steel


Berat Logam 62,768 gram 130,732 gram 73,048 gram 92,944 gram 75,405 gram
(m)
Berat 7,248 gram 7,248 gram 7,248 gram 7,248 gram 7,248 gram
Styrofoam cup
Berat 157,140 gram 154,787 gram 155,691 gram 156,837 gram 151,650 gram
Styrofoam
cup+air
Berat air (mw) 149,892gram 147,539 gram 148,443 gram 149,589 gram 144,402 gram

Suhu awal 96,9 oC 98,4 oC 97 oC 97,6 oC 97,6 oC


Logam (T1)
Suhu Awal air 30,2 oC 30,1 oC 30,1 oC 30 oC 28,6 oC
(T1w)
Suhu akhir 35,5 oC 35,4 oC 33,4 oC 33,9 oC 32,5 oC
logam (Tf)
 Kelompok 2

Logam Aluminium Kuningan Besi Tembaga Stainless steel


Berat Logam 61,019 gram 135,116 gram 71,679 gram 93,084 gram 70,260 gram
(m)
Berat 7,148 gram 7,148 gram 7,148 gram 7,148 gram 7,148 gram
Styrofoam cup
Berat 149,26 gram 150,118 gram 159,32 gram 147,026 gram 148,462 gram
Styrofoam
cup+air
Berat air (mw) 142,112 gram 142,87 gram 152,172 gram 139,878 gram 141,462 gram

Suhu awal 97,6 oC 98,2 oC 97,1 oC 99,2 oC 95,7 oC


Logam (T1)
Suhu Awal air 30,3 oC 29,2 oC 29,7 oC 30,2 oC 27,6 oC
(T1w)
Suhu akhir 36,5 oC 35,1 oC 32,7 oC 34,4 oC 30,5 oC
logam (Tf)

V. ANALISIS DATA
Aliran panas yang terjadi dari atau ke suatu benda menyebabkan terjadinya
perubahan suhu. Hubungan antara perubahan energi panas yang mengalir dengan
perubahan suhu disebut panas spesifik. Energi panas Q yang dibutuhkan untuk
menaikkan suhu benda yang memiliki massa m sebesar T dapat dirumuskan dalam
persamaan sebagai berikut :
Q = m . C . T
Konstanta C menunjukkan besarnya panas spesifik (specific heat). Panas spesifik
didefinisikan sebagai energi panas yang dibutuhkan untuk menaikkan suhu dari 1 gram
bahan atau zat sebesar 1C. Jika suhu suatu zat meningkat, suhu akhir akan lebih besar
dari suhu awal. Banyaknya energi, kalor yang bertanda positif, menandakan bahwa kalor
diserap atau diperoleh ketika suhu zat meningkat. Jika suhu zat diturunkan, suhu akhir
akan lebih kecil dari suhu awal. Banyaknya kalor yang bertanda negatif, menyatakan
bahwa kalor dilepaskan atau hilang ketika zat tersebut didinginkan. (Petrucci,1985)
Percobaan ini bertujuan untuk mengukur panas spesifik logam berdasarkan
hukum kekekalan energi. Panas spesifik logam, misalnya aluminium dapat diukur dengan
mencelupkan potongan logam dengan massa tertentu (mAl) dan suhu awal (initial
temperature) Ti,Al (sekitar 100C) kedalam air dengan massa mw dan suhu awal Ti,w
sehingga mencapai suhu kesetimbangan Tf .
Kehilangan panas dari logam-logam tersebut sama dengan panas yang diserap
oleh air, jika diasumsikan tidak ada tambahan atau kehilangan energi panas dari
lingkungan dan / atau oleh air dan logam. Pernyataan tersebut dapat dirumuskan sebagai
berikut.
-ΔQlogam = ΔQwater
Tanda minus menunjukkan panas mengalir dari potongan logam menuju ke air.
Hukum kekekalan energi menyatakan bahwa enrgi tidak bisa dibuat atau dimusnahkan,
namun bisa diubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya, sehingga ΔQlogam + Δqwater = 0.
Dari persamaan-persamaan diatas, dapat diperoleh persamaan untuk menentukan panas
spesifik beberapa zat, baik berupa padatan, cairan maupun gas pada tekanan atmosfir.

mlogam . Clogam . (Tilogam – Tf) = mw . Cw . (Tf – Tiw)

mw. Cw. (T𝑓 – Tiw)


C=
m(Ti − Tf)

Nilai Spesifik beberapa zat


Logam Panas spesifik
Aluminium 0,216 kal/goC
Kuningan 0,092 kal/goC
Besi 0,108 kal/goC
Tembaga 0,097 kal/goC
Stainless steel 0,12 kal/goC
Air 1,000 kal/goC

Berikut perhitungan hasil dari percobaan yang telah dilakukan :


 Aluminium ( Al )
a) Kelompok 1
mw. Cw. (T𝑓 – Tiw)
C Al =
m(Ti − Tf)
149,892 . 1 . (35,1 − 30,2)
C Al =
62,768 . (96,8 − 35,1)
= 0,19

C teoritis = 0,216
C Al − C teoritis
% error = . 100%
C teoritis
0,19 − 0,216
% error = . 100%
0,216
= 10,4 %
Terdapat persen error sebesar 10,4% pada percobaan penentuan panas spesifik
dengan aluminium dan didapatkan harga Tf sebesar 35,1oC. Hal ini membuktikan
bahwa perbedaan panas spesifik antara hasil literatur dan percobaan yang telah
dilakukan tidaklah terlalu besar.

 Kuningan
mw. Cw. (T𝑓 – Tiw)
C Kuningan =
m(Ti − Tf)
147,539 . 1 . (35,4 − 30,1)
C Kuningan =
130,723 . (98,4 − 35,4)
= 0,0949

C teoritis = 0,092
C Kuningan − C teoritis
% error = . 100%
C teoritis
0,0949 − 0,092
% error = . 100%
0,092
= 3,1 %
Terdapat persen error sebesar 3,1% pada percobaan penentuan panas spesifik
dengan aluminium dan didapatkan harga Tf sebesar 35,4oC. Hal ini membuktikan
bahwa perbedaan panas spesifik antara hasil literatur dan percobaan yang telah
dilakukan tidaklah terlalu besar.

 Besi (Fe)
mw. Cw. (T𝑓 – Tiw)
C Fe =
m(Ti − Tf)
148,443 . 1 . (33,4 − 30,1)
C Fe =
73,048 . (97 − 33,4)
= 0,105

C teoritis = 0,108
C Fe − C teoritis
% error = . 100%
C teoritis
0,105 − 0,108
% error = . 100%
0,108
= 2,78 %

Terdapat persen error sebesar 2,78% pada percobaan penentuan panas spesifik
dengan aluminium dan didapatkan harga Tf sebesar 33,4oC. Hal ini membuktikan
bahwa perbedaan panas spesifik antara hasil literatur dan percobaan yang telah
dilakukan tidaklah terlalu besar.

 Tembaga (Cu)
mw. Cw. (T𝑓 – Tiw)
C Cu =
m(Ti − Tf)
149,589 . 1 . (33,9 − 30)
C Cu =
92,944 . (97,6 − 33,9)
= 0,0985

C teoritis = 0,097
C Cu − C teoritis
% error = . 100%
C teoritis
0,0985 − 0,097
% error = . 100%
0,097
= 1,54 %
Terdapat persen error sebesar 1,54% pada percobaan penentuan panas spesifik
dengan aluminium dan didapatkan harga Tf sebesar 33,9oC. Hal ini membuktikan
bahwa perbedaan panas spesifik antara hasil literatur dan percobaan yang telah
dilakukan tidaklah terlalu besar.

 Stainless Steel
mw. Cw. (T𝑓 – Tiw)
C Stainless =
m(Ti − Tf)
144,402 . 1 . (32,5 − 28,6)
C Stainless =
75,405 . (97,6 − 32,5)
= 0,114

C teoritis = 0,12
C Stainless − C teoritis
% error = . 100%
C teoritis
0,114 − 0,12
% error = . 100%
0,12
=5%
Terdapat persen error sebesar 5% pada percobaan penentuan panas spesifik
dengan aluminium dan didapatkan harga Tf sebesar 32,5oC. Hal ini membuktikan
bahwa perbedaan panas spesifik antara hasil literatur dan percobaan yang telah
dilakukan tidaklah terlalu besar.

b) Kelompok 2

 Aluminium
mw. Cw. (T𝑓 – Tiw)
C Al =
m(Ti − Tf)
142,112 . 1 . (36,5 − 30,3)
C Al =
61,019 . (97,6 − 36,5)
= 0,2363

C teoritis = 0,216
C Al − C teoritis
% error = . 100%
C teoritis
0,2363 − 0,216
% error = . 100%
0,216
= 9,3%
Terdapat persen error sebesar 9,3% pada percobaan penentuan panas spesifik
dengan aluminium dan didapatkan harga Tf sebesar 36,5oC. Hal ini membuktikan
bahwa perbedaan panas spesifik antara hasil literatur dan percobaan yang telah
dilakukan tidaklah terlalu besar.

 Kuningan
mw. Cw. (T𝑓 – Tiw)
C Kuningan =
m(Ti − Tf)
142,87 . 1 . (35,1 − 29,2)
C Kuningan =
135,166 . (98,2 − 35,1)
= 0,098

C teoritis = 0,092
C Kuningan − C teoritis
% error = . 100%
C teoritis
0,098 − 0,092
% error = . 100%
0,092
= 6,52 %
Terdapat persen error sebesar 6,52% pada percobaan penentuan panas spesifik
dengan aluminium dan didapatkan harga Tf sebesar 35,1oC. Hal ini membuktikan
bahwa perbedaan panas spesifik antara hasil literatur dan percobaan yang telah
dilakukan tidaklah terlalu besar.

 Besi (Fe)
mw. Cw. (T𝑓 – Tiw)
C Fe =
m(Ti − Tf)
152,172 . 1 . (32,7 − 29,7)
C Fe =
71,679 . (97,1 − 32,7)
= 0,099

C teoritis = 0,108
C Fe − C teoritis
% error = . 100%
C teoritis
0,099 − 0,108
% error = . 100%
0,108
= 8,33 %

Terdapat persen error sebesar 8,33 %pada percobaan penentuan panas spesifik
dengan aluminium dan didapatkan harga Tf sebesar 32,7oC. Hal ini membuktikan
bahwa perbedaan panas spesifik antara hasil literatur dan percobaan yang telah
dilakukan tidaklah terlalu besar.

 Tembaga (Cu)
mw. Cw. (T𝑓 – Tiw)
C Cu =
m(Ti − Tf)
139,878 . 1 . (34,4 − 30,2)
C Cu =
93,084 . (99,2 − 34,4)
= 0,0973

C teoritis = 0,097
C Cu − C teoritis
% error = . 100%
C teoritis
0,0973 − 0,097
% error = . 100%
0,097
= 0,31 %
Terdapat persen error sebesar 0,31% pada percobaan penentuan panas spesifik
dengan aluminium dan didapatkan harga Tf sebesar 34,4oC. Hal ini membuktikan
bahwa perbedaan panas spesifik antara hasil literatur dan percobaan yang telah
dilakukan tidaklah terlalu besar.

 Stainless Steel
mw. Cw. (T𝑓 – Tiw)
C Stainless =
m(Ti − Tf)
142,482 . 1 . (31,7 − 27,6)
C Stainless =
73,260 . (95,7 − 31,7)
= 0,124

C teoritis = 0,12
C Stainless − C teoritis
% error = . 100%
C teoritis
0,124 − 0,12
% error = . 100%
0,12
= 3,82%
Terdapat persen error sebesar 3,82% pada percobaan penentuan panas spesifik
dengan aluminium dan didapatkan harga Tf sebesar 31,7oC. Hal ini membuktikan
bahwa perbedaan panas spesifik antara hasil literatur dan percobaan yang telah
dilakukan tidaklah terlalu besar.

Dari hasil percobaan penentuan panas spesifik dan hasil perhitungan yang telah
dilakukan pada masing – masing jenis logam, pengaruh besar kecilnya persen error
dapat disebabkan karena alat yang digunakan sebagai wadah untuk merendam logam
tersebut dan alat untuk mengukur suhu yang kurang akurat, bahan yang digunakan
dalam percobaan berbeda, dan human error.
VI. KESIMPULAN
1. Hukum kekekalan energi yang diaplikasikan pada energi termal yaitu kalor. Kalor
adalah salah satu bentuk energi yang dapat diterima atau dilepaskan oleh suatu benda,
dan dapat merubah suhu ataupun wujud bentuknya.
2. Konsep termodinamika yang terkait dengan aliran panas dari dan ke material / bahan
padat yaitu energi panas tidak dapat berpindah atau mengalir dari suhu benda yang
lebih dingin ke suhu benda yang lebih panas, melainkan harus mengalami perubahan
pada kedua jenis benda tersebut.
3. Pada percobaan ini, panas spesifik yang dihasilkan pada masing – masing logam yaitu
sebagai berikut :
Kelompok 1
 Logam Aluminium = 0,19
 Logam Kuningan = 0,0949
 Logam Besi = 0,105
 Logam Tembaga = 0,0985
 Logam Stainless Steel = 0,114
Kelompok 2
 Logam Aluminium = 0,2363
 Logam Kuningan = 0,098
 Logam Besi = 0,099
 Logam Tembaga = 0,0973
 Logam Stainless Steel = 0,124
VII. DAFTAR PUSTAKA
 Hendrawati, Nanik, dkk., 2011. Modul Ajar Praktikum Thermodinamika Teknik
Kimia. Politeknik Negeri Malang.
 Petrucci, Ralph H., 1985. Kimia Dasar Prinsip dan Terapan Modern Edisi Keempat
Jilid 1. Jakarta. Erlangga

Malang, 11 April 2018


Mengetahui,

CUCUK EVI LUSIANI, S.T., M.T.