Anda di halaman 1dari 31
KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL ENERGI BARU, TERBARUKAN, DAN KONSERVASI
KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL ENERGI BARU, TERBARUKAN, DAN KONSERVASI

KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA

DIREKTORAT JENDERAL ENERGI BARU, TERBARUKAN, DAN KONSERVASI ENERGI

JENDERAL ENERGI BARU, TERBARUKAN, DAN KONSERVASI ENERGI Dialog Publik “Inisiatif Energi Berkelanjutan Untuk

Dialog Publik “Inisiatif Energi Berkelanjutan Untuk Semua: Status Kemajuan di Indonesia”

Diselenggarakan Oleh:

Institute for Essential Services Reform (IESR)

Diselenggarakan Oleh: Institute for Essential Services Reform (IESR) Jakarta, 19 Juni 2013 ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat

Jakarta, 19 Juni 2013

ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat

Diselenggarakan Oleh: Institute for Essential Services Reform (IESR) Jakarta, 19 Juni 2013 ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat
I. LATAR BELAKANG II. KEBIJAKAN DAN REGULASI TERKAIT ENERGI BARU TERBARUKAN DAN KONSERVASI ENERGI III.
I. LATAR BELAKANG II. KEBIJAKAN DAN REGULASI TERKAIT ENERGI BARU TERBARUKAN DAN KONSERVASI ENERGI III.
I. LATAR BELAKANG II. KEBIJAKAN DAN REGULASI TERKAIT ENERGI BARU TERBARUKAN DAN KONSERVASI ENERGI III.
I. LATAR BELAKANG II. KEBIJAKAN DAN REGULASI TERKAIT ENERGI BARU TERBARUKAN DAN KONSERVASI ENERGI III.
I.
LATAR BELAKANG
II.
KEBIJAKAN DAN REGULASI TERKAIT ENERGI BARU TERBARUKAN DAN
KONSERVASI ENERGI
III.
PROGRAM PENGEMBANGAN ENERGI BARU TERBARUKAN DAN
KONSERVASI ENERGI
IV.
STRATEGI PENGEMBANGAN ENERGI BARU TERBARUKAN DAN
KONSERVASI ENERGI
V.
TANTANGAN/HAMBATAN PENGEMBANGAN ENERGI BARU
TERBARUKAN DAN KONSERVASI ENERGI
VI.
UPAYA PENINGKATAN PEMANFAATAN ENERGI BARU TERBARUKAN
VII.
dan UPAYA PENINGKATAN PELAKSANAAN KONSERVASI ENERGI
PENUTUP
ENERGI BARU TERBARUKAN VII. dan UPAYA PENINGKATAN PELAKSANAAN KONSERVASI ENERGI PENUTUP ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat

ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat

ENERGI BARU TERBARUKAN VII. dan UPAYA PENINGKATAN PELAKSANAAN KONSERVASI ENERGI PENUTUP ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat
ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat
ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat
ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat
ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat
ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat

ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat

ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat
NO ENERGI BARU TERBARUKAN SUMBER DAYA (SD) KAPASITAS TERPASANG (KT) RASIO KT/SD (%) 1 2
NO ENERGI BARU TERBARUKAN SUMBER DAYA (SD) KAPASITAS TERPASANG (KT) RASIO KT/SD (%) 1 2
NO ENERGI BARU TERBARUKAN SUMBER DAYA (SD) KAPASITAS TERPASANG (KT) RASIO KT/SD (%) 1 2

NO

ENERGI BARU TERBARUKAN

SUMBER DAYA (SD)

KAPASITAS TERPASANG (KT)

RASIO KT/SD (%)

1

2

3

4

5 = 4/3

1

Hydro

75.000

MW

6.848,46 MW

9,13%

2

Panas Bumi

29.164

MW

1.341 MW

4,6 %

3

Biomass

49.810

MW

1.644,1 MW

3,3%

4

Tenaga Surya

4,80 kWh/m 2 /day

27,23 MW

-

5

Tenaga Angin

3 6 m/s

1,4 MW

-

6

Samudera

49 GW ***)

0,01 MW ****)

0%

7

Uranium

3.000 MW *)

30 MW **)

0%

8

Biodiesel

28 JUTA TON (Produksi CPO 2013)

9 JUTA TON (KONSUMSI NASIONAL)

 

*) Hanya di Kalan Kalimantan Barat ***) Sumber Dewan Energi Nasional

**) Sebagai pusat penelitian, non-energi ****) Prototype BPPT

   

SUMBER

CADANGAN TERBUKTI (CT)

 

PRODUKSI

RASIO CT/PROD (TAHUN)

NO

ENERGI TAK TERBARUKAN

DAYA (SD)

RASIO CT/SD

(PROD)

1

2

3

4

5 = 4/3

6

7 = 4/6

1

Minyak (milliar barel)

7.408,24

3.741,33

0,505

0,314

12

2

Gas (TSCF)

150,70

103,35

0,685

2,98

35

3

Batubara (miliar ton)

161,3

28,17

17

0,317

89

4

Gas Metana Batubara (TSCF)

453,3

-

-

-

-

 

Shale Gas (TSCF)

574

-

-

-

-

5
5

ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat

453,3 - - - -   Shale Gas (TSCF) 574 - - - - 5 ESDM
Sektor Penghematan Energi Target Penghematan Energi Sektoral (2025) Industri 10 – 30% 17%
Sektor Penghematan Energi Target Penghematan Energi Sektoral (2025) Industri 10 – 30% 17%
Sektor Penghematan Energi Target Penghematan Energi Sektoral (2025) Industri 10 – 30% 17%

Sektor

Penghematan Energi

Target Penghematan Energi Sektoral

(2025)

Industri

10

30%

17%

Komersial

10

30%

15%

Transportasi

15

35%

20%

Rumah Tangga

15

30%

15%

Lainnya (Pertanian,Konstruksi, dan Pertambangan)

 

25%

-

Sumber: Draft Rencana Induk Konservasi Energi Nasional (RIKEN) 2011

  25% - Sumber: Draft Rencana Induk Konservasi Energi Nasional (RIKEN) 2011 ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat

ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat

  25% - Sumber: Draft Rencana Induk Konservasi Energi Nasional (RIKEN) 2011 ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat
KONDISI SAAT INI TAHUN 2010 Elastisitas Energi = 1,65 Pangsa Energi Non Fosil  5%
KONDISI SAAT INI TAHUN 2010 Elastisitas Energi = 1,65 Pangsa Energi Non Fosil  5%
KONDISI SAAT INI TAHUN 2010
KONDISI SAAT INI
TAHUN 2010

Elastisitas Energi = 1,65 Pangsa Energi Non Fosil 5%

Elastisitas Energi = 1,65 Pangsa Energi Non Fosil  5% ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat TARGET TAHUN

ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat

TARGET TAHUN 2025 PERPRES 5/2006 TENTANG KEBIJAKAN ENERGI NASIONAL
TARGET TAHUN 2025
PERPRES 5/2006 TENTANG KEBIJAKAN
ENERGI NASIONAL
2025 PERPRES 5/2006 TENTANG KEBIJAKAN ENERGI NASIONAL Nuklir, Panas Batubara BBN 5% Hidro, Bumi 5%
Nuklir, Panas Batubara BBN 5% Hidro, Bumi 5% Tercairkan 2% Surya,
Nuklir,
Panas
Batubara
BBN 5%
Hidro,
Bumi 5%
Tercairkan 2%
Surya,

Angin,

dan EBT

lainnya 5%

Elastisitas energi kurang dari 1 pada 2025

Mengoptimalkan Sumber Energi Baru dan Energi Terbarukan

lainnya 5% • Elastisitas energi kurang dari 1 pada 2025 • Mengoptimalkan Sumber Energi Baru dan
1. UNTUK MENINGKATKAN KETAHANAN ENERGI  Indonesia memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap energi fosil sementara

1. UNTUK MENINGKATKAN KETAHANAN ENERGI

Indonesia memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap energi fosil sementara cadangannya semakin terbatas;

Ketergantungan terhadap energi fosil akan berkurang dengan meningkatkan pemanfaatan energi terbarukan yang potensinya sangat besar.

2. UNTUK MENINGKATKAN AKSES TERHADAP ENERGI BERSIH TERMASUK AKSES TERHADAP LISTRIK KHUSUSNYA DI DAERAH PERDESAAN DAN TERPENCIL

Akses publik terhadap energi modern di Indonesia masih terbatas. Hal ini dapat

ditunjukkan dengan rasio elektrifikasi. Pada tahun 2012 sebesar 76,53 %;

Sebagian besar masyarakat di daerah perdesaan tidak memiliki akses terhadap energi bersih untuk keperluan rumah tangga.

3. UNTUK MEMBERIKAN KONSTRIBUSI TERHADAP LINGKUNGAN (PENGURANGAN GRK, MITIGASI PERUBAHAN IKLIM, DAN PENGURANGAN POLUSI)

GRK, MITIGASI PERUBAHAN IKLIM, DAN PENGURANGAN POLUSI)  Pengembangan energi terbarukan dan konservasi energi

Pengembangan energi terbarukan dan konservasi energi merupakan salah satu upaya untuk mengurangi perubahan iklim. Indonesia memiliki komitmen nasional untuk mengurangi emisi gas rumah kaca 26% pada tahun 2020;

Pemanfaatan limbah sebagai salah satu sumber energi terbarukan dapat mengurangi polusi dan menghemat bahan bakar fosil.

ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat

satu sumber energi terbarukan dapat mengurangi polusi dan menghemat bahan bakar fosil. ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat
ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat
ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat
ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat
ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat

ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat

ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat
1. UNDANG-UNDANG No. 27 Tahun 2003 tentang Panas Bumi 2. UNDANG-UNDANG No. 30 Tahun 2007
1. UNDANG-UNDANG No. 27 Tahun 2003 tentang Panas Bumi 2. UNDANG-UNDANG No. 30 Tahun 2007

1.

UNDANG-UNDANG No. 27 Tahun 2003 tentang Panas Bumi

2.

UNDANG-UNDANG No. 30 Tahun 2007 tentang Energi

3.

UNDANG-UNDANG No. 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan

4.

PERATURAN PEMERINTAH No. 70 Tahun 2009 tentang Konservasi Energi

5.

PERATURAN PRESIDEN No. 5 Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional

6.

INSTRUKSI PRESIDEN No. 1 Tahun 2006 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Bahan bakar Nabati (Biofuel) sebagai Bahan Bakar Lain.

7.

INSTRUKSI PRESIDEN No. 2 Tahun 2006 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Batubara yang dicairkan (liquefied coal) sebagai Bahan Bakar Lain.

8.

INSTRUKSI PRESIDEN No. 13 Tahun 2011 tentang Penghematan Energi dan Air

9.

PERATURAN MENTERI ESDM No. 32 Tahun 2008 tentang Penyediaan, Pemanfaatan Dan Tata

Niaga Bahan Bakar Nabati (Biofuel) Sebagai Bahan Bakar Lain.

10.PERATURAN MENTERI ESDM No. 6 Tahun 2011 Tentang Pembubuhan Label Tanda Hemat Energi

10.PERATURAN MENTERI ESDM No. 6 Tahun 2011 Tentang Pembubuhan Label Tanda Hemat Energi ESDM untuk Kesejahteraan

ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat

10.PERATURAN MENTERI ESDM No. 6 Tahun 2011 Tentang Pembubuhan Label Tanda Hemat Energi ESDM untuk Kesejahteraan
11. PERATURAN MENTERI ESDM No. 4 Tahun 2012 tentang Harga Pembelian Tenaga Listrik Oleh PT

11.

PERATURAN MENTERI ESDM No. 4 Tahun 2012 tentang Harga Pembelian Tenaga Listrik Oleh PT PLN (Persero) dari Pembangkit Tenaga Listrik Yang Menggunakan Energi Terbarukan Skala Kecil dan Menengah Atau Kelebihan Tenaga Listrik.

12.

PERATURAN MENTERI ESDM No. 01 Tahun 2012 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri

Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 15 Tahun 2010 tentang Daftar Proyek Percepatan

Pembangunan Pembangkit Tenaga Listrik Menggunakan Energi Terbarukan, Batubara dan Gas Bumi serta Transmisi Terkait

13.

PERATURAN MENTERI ESDM No. 22 Tahun 2012 tentang Penugasan Kepada PT. PLN (Persero) untuk Melakukan Pembelian Tenaga Listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga Panas

Bumi dan Harga Patokan Pembelian Tenaga Listrik oleh PT. PLN (Persero) dari Pembangkit

Listrik Tenaga Panas Bumi.

14.

PERATURAN MENTERI ESDM NO. 13 Tahun 2012 Tentang Penghematan PemakaianTenaga Listrik.

15.

PERATURAN MENTERI ESDM No. 14 Tahun 2012 Tentang Manajemen Energi.

16.

PERATURAN MENTERI ESDM No. 01 Tahun 2013 Tentang Pengendalian Penggunaan Bahan

MENTERI ESDM No. 01 Tahun 2013 Tentang Pengendalian Penggunaan Bahan Bakar Minyak ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat

Bakar Minyak

ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat

MENTERI ESDM No. 01 Tahun 2013 Tentang Pengendalian Penggunaan Bahan Bakar Minyak ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat
ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat
ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat
ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat
ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat
ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat

ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat

ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat
1. PENGEMBANGAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA PANAS BUMI DAN AIR (HIDRO) • Percepatan Pembangunan Pembangkit Listrik

1.

PENGEMBANGAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA PANAS BUMI DAN AIR

(HIDRO)

Percepatan Pembangunan Pembangkit Listrik 10.000 MW Tahap II (PLTPanas Bumi = 3.967 MW dan PLTA (Hidro) = 1.174 MW)

Melakukan Penugasan Kepada PT. PLN (Persero) untuk Melakukan Pembelian Tenaga Listrik

dari Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi ( PerMen ESDM No. 22 TAHUN 2012)

Menyusun Harga Patokan Pembelian Tenaga Listrik oleh PT. PLN (Persero) dari Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (telah diatur dalam Peraturan Menteri ESDM No. 22 Tahun 2012)

2.

PENGEMBANGAN PLT SKALA KECIL BERBASIS EBT UNTUK DAERAH TERPENCIL DAN PULAU KECIL TERLUAR

Pengembangan pembangkit listrik perdesaan skala kecil untuk wilayah terpencil dan pulau kecil terluar yang tidak terjangkau dengan jaringan listri nasional.

Berbasis Tenaga Air, Sinar Matahari, dan Angin.

dengan jaringan listri nasional. • Berbasis Tenaga Air, Sinar Matahari, dan Angin. ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat

ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat

dengan jaringan listri nasional. • Berbasis Tenaga Air, Sinar Matahari, dan Angin. ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat
3. PROGRAM PENGEMBANGAN DAN PEMANFAATAN BAHAN BAKAR NABATI (BBN) SEBAGAI PENGGANTI BBM • Pemanfaatan BBN

3. PROGRAM PENGEMBANGAN DAN PEMANFAATAN BAHAN BAKAR NABATI (BBN) SEBAGAI PENGGANTI BBM

Pemanfaatan BBN akan mengurangi ketergantungan terhadap BBM. Pemanfaatan BBN akan mengurangi pencemaran lingkungan karena merupakan ENERGI BERSIH dan RENDAH EMISI

Pemanfaatan BBN telah dilakukan pada: campuran biodiesel sebesar 7,5% (B-7,5) pada transportasi PSO, sebesar 2% (B-2) pada transportasi Non-PSO, sebesar 2%/B-2 pada industri pertambangan mineral dan batubara serta akan diperluas ke subsektor industri lainnya secara bertahap, serta pada sektor pembangkit listrik.

4. PENGEMBANGAN PULAU IKONIS ENERGI TERBARUKAN (ICONIC ISLAND)

Program untuk mengembangan suatu pulau berukuran kecil dan sedang di Indonesia, yang dapat memenuhi kebutuhan energinya sendiri melalui pemanfaatan energi terbarukan.

Saat ini telah diimplementasikan di Pulau Sumba dan akan dikembangkan ke pulau-pulau lain

di Pulau Sumba dan akan dikembangkan ke pulau-pulau lain yang sesuai kriteria. ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat

yang sesuai kriteria.

ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat

di Pulau Sumba dan akan dikembangkan ke pulau-pulau lain yang sesuai kriteria. ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat
5. PROGRAM PENGEMBANGAN DAN PEMANFAATAN LIMBAH YANG DIOLAH MENJADI SUMBER ENERGI (WASTES TO ENERGY) •

5. PROGRAM PENGEMBANGAN DAN PEMANFAATAN LIMBAH YANG DIOLAH MENJADI SUMBER ENERGI (WASTES TO ENERGY)

Pemanfaatan limbah menjadi energi akan mengurangi pencemaran lingkungan dari pembuangan limbah yang tidak dimanfaatkan. Dengan mengolah limbah tersebut menjadi energi maka

lingkungan akan terjada serta meningkatkan nilai tambah pemanfaatan sebagai sumber energi.

Pemanfaatannya antara lain: pemanfaatan limbah peternakan dan rumah tangga menjadi biogas untuk memenuhi kebutuhan energi rumah tangga dan pemanfaatan limbah pertanian, perkebunan, dan sampah kota sebagai bahan bakar pembangkil listrik (PLT Bioenergi).

Untuk mendorong pengembangang PLT Bioenergi makan Pemerintah telah menetapkan feed-in

tarriff melalui Peraturan Menteri ESDM No. 4 Tahun 2012 yang mengatur harga pembelian listrik

oleh PT. PLN dari PLT Biomassa, Biogas, dan Sampah Kota.

6. PROGRAM DESA MANDIRI ENERGI

Pengembangan pemanfaatan EBT bagi desa-desa agar dapat memenuhi kebutuhan energinya sendiri dari sumber energi setempat.

desa-desa agar dapat memenuhi kebutuhan energinya sendiri dari sumber energi setempat. ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat

ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat

desa-desa agar dapat memenuhi kebutuhan energinya sendiri dari sumber energi setempat. ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat
Program Keterangan 1. Pembuatan Peraturan dan Kebijakan  Penyiapan Kebijakan Efisiensi Energi di sektor
Program Keterangan 1. Pembuatan Peraturan dan Kebijakan  Penyiapan Kebijakan Efisiensi Energi di sektor
Program Keterangan 1. Pembuatan Peraturan dan Kebijakan  Penyiapan Kebijakan Efisiensi Energi di sektor

Program

Keterangan

1. Pembuatan Peraturan dan Kebijakan

Penyiapan Kebijakan Efisiensi Energi di sektor industri, komersial, rumah tangga dan transportasi.

2. Insentif dan

Sebagai tindak lanjut dari PP No. 70/2009 tentang konservasi

Disinsentif

energi

Penyiapan mekanisme insentif fiskal, insentif untuk barang-barang impor peralatan efisiensi energi

Menilai skema pembiayaan implementasi energi efisensi

Menilai kriteria peralatan energi efisiensi dan implementasi konservasi energi bagi perusahaan/peralatan yang akan

menerima insentif dan disinsentif

energi bagi perusahaan/peralatan yang akan menerima insentif dan disinsentif ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat

ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat

energi bagi perusahaan/peralatan yang akan menerima insentif dan disinsentif ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat
Program Keterangan 3. Peningkatan  Melaksanakan seminar/workshop, penayangan iklan tentang Kesadaran
Program Keterangan 3. Peningkatan  Melaksanakan seminar/workshop, penayangan iklan tentang Kesadaran
Program Keterangan 3. Peningkatan  Melaksanakan seminar/workshop, penayangan iklan tentang Kesadaran

Program

Keterangan

3. Peningkatan

Melaksanakan seminar/workshop, penayangan iklan tentang

Kesadaran Publik

penghematan energi di koran dan media elektronik, brosur,

buletin dll

Melaksanakan Lomba Hemat Energi tingkat nasional dan berpartisipasi pada ASEAN Energy Award for building and energy management

Energy Efficiency Guidelines (untuk bangunan gedung)

4. Pendidikan dan

Pelatihan efisiensi dan konservasi energi yang diselenggarakan oleh Badiklat KESDM

Pelatihan

Ikut serta pada training konservasi energi diluar negeri yang diselenggarakan oleh JICA, ECCJ, ACE, dll

training konservasi energi diluar negeri yang diselenggarakan oleh JICA, ECCJ, ACE, dll ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat

ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat

training konservasi energi diluar negeri yang diselenggarakan oleh JICA, ECCJ, ACE, dll ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat
Program Keterangan 5. Program Kemitraan Konservasi Energi  Memberikan audit energi gratis bagi bangunan
Program Keterangan 5. Program Kemitraan Konservasi Energi  Memberikan audit energi gratis bagi bangunan
Program Keterangan 5. Program Kemitraan Konservasi Energi  Memberikan audit energi gratis bagi bangunan

Program

Keterangan

5. Program Kemitraan Konservasi Energi

Memberikan audit energi gratis bagi bangunan gedung dan industri

Selama tahun 2003 - 2012, telah dilaksanakan audit energi bagi 806 industri dan bangunan

6. Manajer dan Auditor Energi

Pengembangan Standar Kompetensi bagi manajer dan auditor energi

Mempersiakan Lembaga Sertifikasi HAKE (Himpunan Ahli Konservasi Energi)

Telah dilaksanakan Sertifikasi Manajer Energi: 55 (hingga saat ini)

Energi)  Telah dilaksanakan Sertifikasi Manajer Energi: 55 (hingga saat ini) ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat

ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat

Energi)  Telah dilaksanakan Sertifikasi Manajer Energi: 55 (hingga saat ini) ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat
Program Keterangan 7. Kerjasama Internasional  ASEAN Energy Efficiency and Conservation Sub Sector Network
Program Keterangan 7. Kerjasama Internasional  ASEAN Energy Efficiency and Conservation Sub Sector Network
Program Keterangan 7. Kerjasama Internasional  ASEAN Energy Efficiency and Conservation Sub Sector Network

Program

Keterangan

7. Kerjasama Internasional

ASEAN Energy Efficiency and Conservation Sub Sector

Network (EE&C - SSN)

Bilateral Indonesia Denmark (DANIDA)

Kerjasama dengan 3 (tiga) output utama, antara lain:

Energy Efficiency and Conservation Clearing House

Energy Efficient : New large building are efficient

Sertifikasi Auditor dan Review Skema Insentif

Bilateral Indonesia-Netherland (NL Agency) :

Energy efficiency improvement in industrial sector through implementation of Energy Potential Scan (EPS)

Bilateral Indonesia-Japan (NEDO) :

Implementasi Smart Grid in Industrial Park

(EPS)  Bilateral Indonesia-Japan (NEDO) : Implementasi Smart Grid in Industrial Park ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat

ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat

(EPS)  Bilateral Indonesia-Japan (NEDO) : Implementasi Smart Grid in Industrial Park ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat
Program Keterangan 7. Kerjasama Internasional (lanjutan)  International Copper Association (ICA) :
Program Keterangan 7. Kerjasama Internasional (lanjutan)  International Copper Association (ICA) :
Program Keterangan 7. Kerjasama Internasional (lanjutan)  International Copper Association (ICA) :

Program

Keterangan

7. Kerjasama Internasional (lanjutan)

International Copper Association (ICA) :

Pelaksanaan Minimum Energy Performance Standards (MEPS) untuk Motor Listrik dan Air-Conditioning (AC)

 

Barrier Removal to the Cost-effective Development and Implementation of Energy Standards and Labeling Efficiency (BRESL) :

Proyek kerjasama dari 6 (enam) negara Asia (Bangladesh, China,

Indonesia, Pakistan, Thailand, and Vietnam) yang bersama-sama membuat harmonisasi standar dan label dari 7 (tujuh) produk rumah tangga (Air conditioners (AC), kipas angin, kulkas, ballas elektrik, motor elektrik, CFL dan rice cooker)

United Nations Industrial Development Organization (UNIDO) :

Mendukung proses pengembangan Standar Internasional Sistem

Manajemen Energi untuk ISO 50001

USAID untuk pengembang proyek Indonesia Clean Energy Development (ICED)

50001  USAID untuk pengembang proyek Indonesia Clean Energy Development (ICED) ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat

ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat

50001  USAID untuk pengembang proyek Indonesia Clean Energy Development (ICED) ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat
Program Keterangan 8. Standar dan Label  Labeling menyediakan informasi bagi konsumen mengenai level
Program Keterangan 8. Standar dan Label  Labeling menyediakan informasi bagi konsumen mengenai level
Program Keterangan 8. Standar dan Label  Labeling menyediakan informasi bagi konsumen mengenai level
Program Keterangan 8. Standar dan Label  Labeling menyediakan informasi bagi konsumen mengenai level

Program

Keterangan

8. Standar dan Label

Labeling menyediakan informasi bagi konsumen mengenai level efisiensi

peralatan listrik rumah tangga. “Makin banyak bintang, makin hemat”

(maksimum 4 bintang)

Untuk mendorong perusahan manufaktur meningkatkan kualitas produk khususnya dalam hal energi efisiensi

Label energi efisiensi energi untuk Lampu CFL adalah sebagai pioneer

labelisasi peralatan listrik rumah tangga (2011)

Diikuti dengan kulkas dan AC yang sedang dilaksanakan dan disusun peraturannya (2012-2013)

Minimum Energy Performance Standard (MEPS) akan segera diimplementasikan

9. Pilot Project

Penggunaan lampu hemat energi pada penerangan jalan umum (PJU)

10. Pengembangan Clearing House

Pusat Informasi tentang Konservasi dan Efisiensi Energi

Clearing House  Pusat Informasi tentang Konservasi dan Efisiensi Energi ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat

ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat

ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat
ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat
ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat
ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat
ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat

ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat

ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat
1. Menerapkan mandatori penyediaan EBT sebesar 17% pada tahun 2025. 2. Menyusun roadmap pengembangan EBT.
1. Menerapkan mandatori penyediaan EBT sebesar 17% pada tahun 2025. 2. Menyusun roadmap pengembangan EBT.

1.

Menerapkan mandatori penyediaan EBT sebesar 17% pada tahun 2025.

2.

Menyusun roadmap pengembangan EBT.

3.

Menetapkan harga energi berdasarkan keekonomiannya, mengurangi

subsidi energi secara bertahap.

4.

Meningkatkan pola public private partnership dalam pengusahaan EBT.

5.

Menerapkan prinsip-prinsip Good Governance (a.l transparansi,

akuntabilitas dan partisipasi) pada sektor publik (Pemerintah), khusunya

yang menyangkut perijinan dan pengadaan (proses tender) infrastruktur EBT.

6.

Melibatkan pemangku kepentingan dalam proses penyiapan kebijakan.

7.

Meningkatkan kemitraan dengan instansi terkait dan peran Pemerintah Daerah sesuai kewenangannya dalam penyediaan dan pemanfaatan EBT.

dan peran Pemerintah Daerah sesuai kewenangannya dalam penyediaan dan pemanfaatan EBT. ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat

ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat

dan peran Pemerintah Daerah sesuai kewenangannya dalam penyediaan dan pemanfaatan EBT. ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat
1. Menetapkan target elastisitas energi kurang dari 1% pada tahun 2025 dan mengurangi intensitas energi
1. Menetapkan target elastisitas energi kurang dari 1% pada tahun 2025 dan mengurangi intensitas energi
1. Menetapkan target elastisitas energi kurang dari 1% pada tahun 2025 dan mengurangi intensitas energi

1.

Menetapkan target elastisitas energi kurang dari 1% pada tahun 2025 dan mengurangi intensitas energi sebesar 1% per tahun.

2.

Menyusun Rencana Induk Konservasi Energi Nasional (RIKEN).

3.

Menyiapkan kebijakan yang kondusif untuk mendorong investasi di bidang konservasi dan efisiensi energi.

4.

Meningkatkan koordinasi lintas sektor.

5.

Meningkatkan kapasitas SDM.

6.

Meningkatkan kesadaran pengguna energi.

7.

Menerapkan sistem monitoring, evaluasi dan pengawasan.

pengguna energi. 7. Menerapkan sistem monitoring, evaluasi dan pengawasan. ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat

ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat

pengguna energi. 7. Menerapkan sistem monitoring, evaluasi dan pengawasan. ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat
ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat
ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat
ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat
ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat

ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat

ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat
 TANTANGAN 1. Biaya produksi energi terbarukan relatif lebih tinggi dibandingkan dengan biaya produksi energi
 TANTANGAN 1. Biaya produksi energi terbarukan relatif lebih tinggi dibandingkan dengan biaya produksi energi
 TANTANGAN 1. Biaya produksi energi terbarukan relatif lebih tinggi dibandingkan dengan biaya produksi energi

TANTANGAN

1.

Biaya produksi energi terbarukan relatif lebih tinggi dibandingkan dengan biaya produksi energi konvensional.

2.

Investasi untuk industri hulu dan hilir untuk teknologi EBT masih belum banyak dilakukan di dalam negeri.

3.

Sebagian Teknologi EBT masih diimport.

4.

Sebagian besar sumber daya kecil dan tersebar.

HAMBATAN

1.

Adanya peraturan dan perundangan yang terkait belum sinkron.

2.

Kuantitas maupun kualitas sumber daya manusia di bidang EBT

masih cukup terbatas. 3. Acceptance sebagian besar masyarakat akan EBT masih relatif rendah, karena masyarakat merasa lebih nyaman menggunakan energi konvensional.

relatif rendah, karena masyarakat merasa lebih nyaman menggunakan energi konvensional. ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat

ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat

relatif rendah, karena masyarakat merasa lebih nyaman menggunakan energi konvensional. ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat
 TANTANGAN 1. Harga energi relatif murah karena disubsidi. 2. Teknologi/peralatan hemat energi produksi
 TANTANGAN 1. Harga energi relatif murah karena disubsidi. 2. Teknologi/peralatan hemat energi produksi
 TANTANGAN 1. Harga energi relatif murah karena disubsidi. 2. Teknologi/peralatan hemat energi produksi

TANTANGAN

1.

Harga energi relatif murah karena disubsidi.

2.

Teknologi/peralatan hemat energi produksi dalam negeri masih terbatas.

3.

Teknologi/peralatan hemat energi masih mahal.

HAMBATAN

1. Kesadaran pengguna energi untuk berhemat masih rendah.

2. Swasta belum mengenal investasi di bidang konservasi energi dengan baik.

3. Subsidi energi menyebabkan industri kurang berniat untuk melakukan

penggantian peralatan yang tidak efisien.

4. Sulitnya koordinasi antar stakeholder bidang konservasi energi.

5. Kuantitas dan kualitas sumber daya manusia masih belum memadai.

6. Teknologi energi efisien belum sepenuhnya dikuasai dan diproduksi di dalam negeri.

6. Teknologi energi efisien belum sepenuhnya dikuasai dan diproduksi di dalam negeri. ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat

ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat

6. Teknologi energi efisien belum sepenuhnya dikuasai dan diproduksi di dalam negeri. ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat
ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat
ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat
ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat
ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat

ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat

ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat
1. PENYEMPURNAAN KEBIJAKAN DAN REGULASI Beberapa sub-sektor EBTKE masih belum diatur. Oleh karena itu, Pemerintah
1. PENYEMPURNAAN KEBIJAKAN DAN REGULASI Beberapa sub-sektor EBTKE masih belum diatur. Oleh karena itu, Pemerintah
1. PENYEMPURNAAN KEBIJAKAN DAN REGULASI Beberapa sub-sektor EBTKE masih belum diatur. Oleh karena itu, Pemerintah

1.

PENYEMPURNAAN KEBIJAKAN DAN REGULASI Beberapa sub-sektor EBTKE masih belum diatur. Oleh karena itu, Pemerintah terus menyempurnakan pengaturan pengembangan dan pemanfaatan EBTKE.

2.

PENCIPTAAN PASAR Diantaranya melalui kewajiban penyediaan dan pemanfaatan bahan bakar nabati/BBN, kewajiban PLN untuk membeli listrik,penerapan SNI, dan lain-lain.

3.

PEMBERIAN SUBSIDI Subsidi untuk BBN telah berjalan sejak 2009. Subsidi diberikan atas selisih harga BBM dengan harga BBN, dan disalurkan melalui Pertamina.

4.

PENETAPAN HARGA JUAL LISTRIK (FEED-IN TARIFF)

Ditetapkan melalui Peraturan Menteri ESDM yang mengatur harga jual listrik dari energi terbarukan yang dibeli oleh PLN. Tidak perlu ada negosiasi.

5.

PEMBERIAN INSENTIF DAN KEMUDAHAN Pengurangan pajak dan bea masuk, prosedur perijinan yang lebih sederhana.

Untuk pembangkit listrik sampai dengan 10 MW yang akan dijual ke PLN, tidak perlu

listrik sampai dengan 10 MW yang akan dijual ke PLN, tidak perlu melalui proses tender. ESDM

melalui proses tender.

ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat

.

listrik sampai dengan 10 MW yang akan dijual ke PLN, tidak perlu melalui proses tender. ESDM
6. PENYEDIAAN ANGGARAN DAN PENDUKUNG LAINNYA  Penyediaan anggaran khusus untuk peningkatan akses energi modern
6. PENYEDIAAN ANGGARAN DAN PENDUKUNG LAINNYA  Penyediaan anggaran khusus untuk peningkatan akses energi modern
6. PENYEDIAAN ANGGARAN DAN PENDUKUNG LAINNYA  Penyediaan anggaran khusus untuk peningkatan akses energi modern
6. PENYEDIAAN ANGGARAN DAN PENDUKUNG LAINNYA  Penyediaan anggaran khusus untuk peningkatan akses energi modern

6.

PENYEDIAAN ANGGARAN DAN PENDUKUNG LAINNYA

Penyediaan anggaran khusus untuk peningkatan akses energi modern di daerah- daerah terpencil dan terisolasi.

Penyediaan anggaran untuk teknologi yang siap dikomersialisasikan.

7.

PENINGKATAN KUALITAS DAN KUANTITAS SUMBER DAYA MANUSIA

Pendidikan dan pelatihan di bidang EBTKE.

Sosialisasi.

Peningkatan jejaring EBT, dukungan akan pembentukan organisasi (IKABI, METI).

8.

PENINGKATAN PENELITIAN DI BIDANG EBTKE

Peningkatan kerjasama penelitian.

Peningkatan jenis penelitian.

9.

PENINGKATAN KERJA SAMA DENGAN NEGARA LAIN DAN ORGANISASI INTERNASIONAL

Kerja sama untuk capacity building.

Kerja sama untuk alih teknologi.

Lesson learned untuk implementasi kebijakan dan program EBTKE.

10.

PENINGKATAN BIMBINGAN TEKNIS DAN SOSIALISASI EBTKE

ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat

dan program EBTKE. 10 . PENINGKATAN BIMBINGAN TEKNIS DAN SOSIALISASI EBTKE ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat
1. Indonesia sebagai negara kepulauan dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang relatif baik dan pertumbuhan penduduk
1. Indonesia sebagai negara kepulauan dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang relatif baik dan pertumbuhan penduduk
1. Indonesia sebagai negara kepulauan dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang relatif baik dan pertumbuhan penduduk

1. Indonesia sebagai negara kepulauan dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang relatif baik dan pertumbuhan penduduk yang relatif tinggi akan mengakibatkan total kebutuhan energi cukup besar dan pertumbuhan energi relatif tinggi.

2. Pemenuhan kebutuhan energi dari energi fosil harus dikurangi swecara bertahap mengingat cadangan yang semakin terbatas, harga semakin mahal dan menghasilkan gas rumah kaca.

3. Kondisi geografis Indonesia, menyebabkan banyak daerah, khususnya daerah perdesaan tidak mampu dicapai oleh jaringan PLN, sehingga akses

terhadap energi pada daerah-daerah tersebut dapat ditingkatkan melalui

pemanfaatan EBT yang tersedia setempat.

4. Penghematan dan penerapan teknologi/peralatan hemat energi harus dilakukan secara terus menerus.

dan penerapan teknologi/peralatan hemat energi harus dilakukan secara terus menerus. ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat

ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat

dan penerapan teknologi/peralatan hemat energi harus dilakukan secara terus menerus. ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat
KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL ENERGI BARU, TERBARUKAN, DAN KONSERVASI
KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL ENERGI BARU, TERBARUKAN, DAN KONSERVASI

KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA

DIREKTORAT JENDERAL ENERGI BARU, TERBARUKAN, DAN KONSERVASI ENERGI

Jalan Pegangsaan Timur No. 1A Cikini, Jakarta Pusat 10320; Telp/Faks : 021-31924540

No. 1A Cikini, Jakarta Pusat 10320; Telp/Faks : 021-31924540 w w w . e b t

www.ebtke.esdm.go.id

ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat

10320; Telp/Faks : 021-31924540 w w w . e b t k e . e s