Anda di halaman 1dari 9

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi dan Insidensi

Electrical injury atau luka akibat arus listrik adalah kerusakan jaringan tubuh

yang disebabkan oleh arus listrik yang melintasi tubuh. Dapat berupa kulit yang

terbakar, kerusakan organ internal dan jaringan. Mempengaruhi jantung berupa

arrhythmias, dan berhentinya pernapasan. Luka elektrik ringan dapat ditimbulkan

peralatan dirumah misalnya menyentuh peralatan yang dialiri arus listrik sering

dialami secara kebetulan dalam rumah. Paparan yang lebih berat sering menimbulkan

kematian bahkan di AS sebagai penyebab 400 kematian dalam setahun.3,4

Luka yang disebabkan arus listrik yang fatal pada umumnya bersifat

kecelakaan, dimana jenis arus listrik bolak-balik (AC) lebih sering sebagai penyebab

kecelakaan, sedangkan kecelakaan karena arus listrik searah (DC), lebih jarang dan

pada umumnya terjadi di pabrik-pabrik, seperti pabrik pemurnian logam dan

penyepuhan.5

Manusia lebih sensitif, yaitu sekitar 4-6 kali terhadap arus listrik bolak-balik

bila dibandingkan dengan arus listrik yang searah. Bila seseorang terkena arus listrik

bolak-balik dengan intensitas 80 mA, ia dapat mati; akan tetapi dengan arus listrik

searah yang intensitasnya 250 mA tidak akan berakibat kematian.

2
Pada eksperimen: manusia yang terkena arus listrik (AC) dengan intensitas

dibawah 25 mA atau arus listrik (DC) sekitar 25 – 80 mA, tidak akan menimbulkan

efek apa-apa. Bila terkena arus listrik (AC) dengan intensitas 25 – 80 mA atau arus

listrik (DC) sekitar 80 – 300 mA akan terjadi gangguan keasadaran dan gangguan

denyut jantung (fibrilasi ventrikel). Bila kekuatan arus listrik melebihi 3 ampere,

maka akan terjadi penghentian denyut jantung (cardiac arrest).5

B. Faktor yang Berperang pada Electrical Shock 5,6

Bila seseorang terkena arus listrik, maka kelainan yang ditimbulkan akibat

arus listrik tersebut tergantung dari lima faktor, yaitu :

1. Intensitas (I)

2. Tegangan atau voltase (V)

Voltase yang rendah, yaitu sekitar 1000 volt lebih sering menyebabkan

kematian bila dibandingkan dengan voltase yang lebih tinggi; misalnya 10.000 volt

malah tidak mematikan. Peralatan rumah tangga yang menggunakan listrik sebagai

sumber energi, aman bila voltase dari peralatan tersebut maksimal sebesar 42 volt.

Perbedaan Kematian orang yang terkena listrik yang bertegangan rendah disebabkan

karena terjadinya fibrilasi ventrikel sedangkan mereka yang terkena arus listrik

bertegangan tinggi kematian biasanya karena luka bakar / panas.

3. Tahanan (R) 5

Besarnya tahanan pada manusia tergantung dari banyak sedikitnya air yang

terdapat pada bagian tubuh. Tahanan yang paling besar adalah kulit, kemudian tulang,

3
lemak, saraf, otot, darah, dan yang paling rendah adalah cairan tubuh. Dengan

demikian dapat dimengerti mengapa orang yang terkena arus listrik dalam bak mandi

berisi air, tanda electric mark bisa tidak ditemukan.

4. Arah aliran 5,6

Manusia dapat mati bila terkena arus listrik dengan aliran arus listrik tersebut

melintasi otak atau jantung; misalnya arah aliran dari kepala ke kaki atau dari lengan

ke lengan. Hal tersebut dimanfaatkan pada pelaksanaan hukuman mati di atas kursi

listrik.

5. Waktu 5

Waktu lamanya seseorang kontak dengan benda yang beraliran listrik

menentukan kecepatan datangnya kematian. Misalnya bila intensitas 70 – 300 mA

kematian terjadi dalam waktu 5 detik, sedangkan pada intensitas 200 – 700 mA

kematian akan terjadi dalam waktu 1 detik.

C. Manifestasi Klinis

Pasien dengan electrical shock dapat menimbulkan gejala dan tanda seperti

redness, swelling, pain, peeling skin, white or charred skin pada bagian tubuh yang

terkena listrik secara langsung maupun tidak langsung. Dan gejala shock lain seperti

pale, clammy skin, weakness, bluish lips and finger nail.2,11

Manifestasi klinis pada pasien elektrical shock dapat berupa luka bakar. Luka

bakar adalah cedera pada jaringan tubuh akibat panas, bahan kimia maupun arus

listrik. Biasanya bagian tubuh yang terbakar adalah kulit, tetapi luka bakar juga bisa

4
terjadi pada jaringan di bawah kulit, bahkan organ dalam pun bisa mengalami luka

bakar meskipun kulit tidak terbakar.10 Luka bakar yang dimaksud disini dibatasi pada

efek lokal yang ditimbulkan oleh panas yang kering (dry heat), “dry heat” disini

misalnya akibat api, elemen logam yang panas yang beraliran listrik dan kontak

dengan metal atau gelas yang panas.5 Akibat luka bakar umumnya berupa kematian,

kontraktur, atau akibat lain.2

Aliran listrik akan merangsang jaringan atau organ yang dilalui, yaitu otot

dimana akan terjadi kontraksi: telapak tangan tidak melepaskan kabel, diafragma

akan lumpuh sehingga berhenti bernafas bila berkepanjangan akan terjadi hipoksia.

Organ kedua yaitu jantung akan terjadi fibrilasi sampai cardiac arrest dan asidosis

yang jadi penyebab resusitasi pasien luka bakar listrik harus diberikan Natrium

Bikarbonat. Organ ketiga yaitu tulang, tulang akan menjadi panas dan otot sekitarnya

akan ‘terbakar’. Mioglobin akan keluar melalui urin dan urin berwarna coklat hitam.2

1. Electric Mark 5,7

Electric mark adalah kelainan yang dapat dijumpai pada tempat dimana arus

listrik masuk kedalam tubuh, dengan tegangan listriknya rendah sampai sedang.

Electric mark berbentuk bundar atau oval, dengan bagian yang datar dan rendah

ditengah, yang dikelilingi oleh kulit yang menimbul. Bagian tengah tersebut biasanya

pucat dan kulit diluar electric mark akan menunjukkan pelebaran pembuluh darah /

hiperemis bentuk serta ukuran electric mark tergantung bentuk dan ukuran benda

berarus listrik yang mengenai tubuh.

5
2. Joule Burn 5,7

Joule burn atau endogenous burn dapat terjadi bilamana kontak antara tubuh

dengan benda yang mengandung arus listrik cukup lama, dengan demikian bagian

tengah yang dangkal dan pucat pada electric mark dapat menjadi hitam hangus

terbakar.

3. Extragenous Burn 3,5

Luka akibat arus listrik yang disebut exogenous burn dapat terjadi bila tubuh

manusia terkena benda yang berarus listrik dengan tegangan tinggi, yang memang

sudah mengandung panas; misalnya diatas 330 Volt. Tubuh korban akan hangus

terbakar dengan kerusakan yang sangat berat, yang tidak jarang disertai dengan

patahnya tulang-tulang.

D. Luka Bakar dan Klasifikasi

1. Derajat 1 (First-degree burn)

Kerusakan terbatas pada lapisan epidermis. Ditandai dengan kemerahan dan

setelah 24 jam timbul gelembung yang kemudian mengelupas. Kulit sembuh tanpa

cacat.2,11

2. Derajat 2 (Second degree burn)

Terjadi kerusakan sebagian dermis. Ditandai dengan timbulnya bula. Dalam fase

penyembuhan akan tampak daerah bintik-bintik biru dari kelenjar sebacea dan akar

rambut.2 Derajat 2 dibagi menjadi 2A dan 2B, yaitu: 2A atau superfisial yang akan

sembuh dalam 2 minggu. 2B atau dalam; penyembuhan melalui jaringan granulasi

6
tipis dan sempit akan ditutupi oleh epitel yang berasal dari dasar luka selain dari

tepi luka.

3. Derajat 3 (Third degree burn)

Kerusakan seluruh lapisan dermis atau lebih dalam. Tampak epitel terkelupas dan,

daerah putih karena koagulasi protein dermis. Dermis yang terbakar kemudian

mengering dan menciut, disebut eskar. Bila eskar melingkar akan menekan arteri,

vena dan saraf perifer, yang pertama tertekan biasanya saraf dengan gejala rasa

kesemutan. Sayatan longitudinal lapisan dermis dan tanpa memotong vena akan

membebaskan penekanan dan tanpa perdarahan yang berarti.13

Setelah minggu kedua eskar mulai lepas karena lesi diperbatasan dengan jaringan

sehat kenudian tampak jaringan granulasi dan memerlukan penutupan dengan

“skin graft”. Bila granulasi dibiarkan, akan menebal dan berakhir dengan jaringan

parut yang tebal menyempit. Keadaan ini disebut kontraktur.13

Tabel 2.1 Perbedaan Luka Bakar Derajat 2 dan Derajat 3 2


No Perbedaan Derajat 2 Derajat 3
1 Penyebab Suhu dan lama Suhu lebih tinggi atau
kontak sedang kontak lebih lama
2 Bila epitel lepas, warna kulit Merah Putih pucat
3 Rasa sakit + Tidak sakit
4 Penyerapan warna + +++
5 Penyembuhan Superfisial 2-3 mgg Melalui jaringan
Dalam 3-4 mgg granulasi

Perhitungan luas luka bakar berdasarkan ‘rule of nines’ dari Wallace: Kepala

& leher (9%), lengan tangan (2 x 9%), paha, betis, kaki bagian depan dan belakang (4

x 9%), dada, perut, punggung, bokong bagian depan dan belakang (4 x 9%), genitalia

7
(1%). Terdapat perbedaan pada anak karena ukuran tubuh anak yang berbeda dari

orang dewasa, perbedaan persentase luka bakar dapat dilihat pada gambar.2

Gambar 2.1 Luas Luka Bakar Pada Orang Dewasa dan Anak

E. Manajemen

1. Prehospital

Pertama, penyelamat harus melihat keadaan dan keamanan dan yakinkan

kalau tidak ada ancaman kepada orang sekitar dalam usaha untuk melepaskan korban

dari sumber listrik. Pada kejadian voltase tinggi, sumber listrik harus dimatikan

sebelum penyelamat memasuki area kejadian.12

8
Setelah meyakinkan keadaan sekitar aman, penyelamat harus menanggap

korban luka bakar listrik sebagai pasien trauma dan jantung. Pasien memerlukan

cardiac life support dasar bahkan lanjutan dan spinal pasien harus diimobilisasi.12

Trauma listrik dapat menjadi aritmia ventrikel atau paralisis otot nafas, CPR

yang agresif harus dilakukan di lapangan untuk semua pasien trauma listrik.12

2. IGD

Stabilisasi pasien dan amankan airway dan sirkulasi sesuai protokol

ACLS/ATLS. Lindungi airway dan sediakan oksigen pada semua pasien dengan

hipoksia berat, luka bakar di wajah/oral, kehilangan kesadaran untuk memproteksi

airway, atau distress nafas. Diperlukan imobilisasi vertebra servikal dengan atau

tanpa imobilisasi spinal. Survey primer harus dilakukan untuk mengetahui apakah

adanya trauma seperti pneumotoraks, peritonitis, atau fraktur pelvis.12

Setelah asesmen primer, mulai resusitasi cairan dan titrasi urin menjadi 0,5-1

ml/kg/jam pada semua pasien dengan luka bakar yang signifikan. Pertimbangkan

pemberian furosemid atau manitol untuk diuresis myoglobin. Pemberian Natrium

Bikarbonat sampai pH 7,5 dapat sebagai alkalinisasi urin meningkatkan clearance

myoglobin. Infus pasien untuk resusitasi cairan, baik secara sentral maupun perifer.

Monitor kelistrikan jantung untuk semua pasien trauma listrik.12

Penanganan luka bakar harus mencakup pemberian imunisasi tetanus,

perawatan luka, lihat tanda-tanda adanya sindrom kompartemen yang mungkin

memerlukan fasiotomi segera. Ekstremitas dengan luka bakar hebat harus dibidai

sesuai posisi fungsional setelah pemeriksaan neurologis.12


9
Pasien dengan trauma listrik voltase rendah yang asimptomatik dengan

pemeriksaan fisik yang normal dapat dipulangkan dari IGD. Pasien dengan EKG

yang normal, trauma listrik voltase rendah, tidak ada kehilangan kesadaran, luka

bakar minor atau gejala ringan dapat diobservasi selama beberapa jam saja di IGD

dan dipulangkan jika gejala berhenti dan tidak ada bukti peningkatan myoglobin.12

F. Komplikasi 10

Komplikasi dari electrical injury antara lain perdarahan gastrointestinal tract

(GIT) hingga menyebabkan stress ulcer. Kerusakan otot dan tubuli ginjal yang

ditandai dengan myoglobinuria juga dapat menyebabkan komplikasi lain seperti gagal

ginjal.

G. Pencegahan 4,9,12

 Meletakkan tali listrik dan output listrik di luar jangkauan anak-anak

 Ajar anak-anak tentang bahaya listrik

 Hindari resiko elektrik di rumah dan di tempat kerja. Selalu mengikuti instruksi

keselamatan pabrik ketika penggunaan peralatan elektrik

 Hindari penggunaan alat listrik pada kondisi basah.

 Jangan pernah menyentuh peralatan elektrik saat menyentuh kran atau pipa air

dingin.

10