Anda di halaman 1dari 2

Tindakan Masyarakat Dalam Mengatasi DBD

Terdapat beberapa strategi pengendalian demam berdarah seperti yang pertama membudayakan
gerakan pemberantasan sarang nyamuk di lingkungan masyarakat. Kedua, meningkatkan peran
kelompok kerja dalam memobilisasi dan memberdayakan masyarakat. Ketiga, meningkatkan komitmen
dan peran aktif dari pimpinan daerah, tokoh agama, tokoh masyarakat. Keempat, meningkatkan
pengetahuan dan keterampilan dari petugas kesehatan, kader kesehatan dalam daerah tersebut dan
masyarakat yang menempati wilayah tersebut. Dan kelima, komunikasi informasi dan edukasi (KIE)
kepada masyarakat tentang bagaimana upaya pengendalian demam berdarah yang benar dan tepat
secara berkesinambungan.

Penanganan demam berdarah telah digalakkan dengan berbagai cara, baik upaya promotif, preventif,
maupun kuratif seperti melakukan upaya pemberantasan sarang nyamuk (PSN) sebagai vector dari
demam berdarah, pemantauan jentik nyamuk (Jumantik) dan tindakan 3 M (menguras, menutup, dan
mengubur), serta penyemprotan (fogging) dengan insektisida.

Penggunaan insektisida merupakan salah satu upaya dalam pengendalian vektor DBD di daerah endemis
DBD. Pada sebagian daerah endemis DBD, insektisida digunakan secara selektif karena adanya
keterbatasan anggaran yang tersedia dari dana APBD, namun beberapa daerah menggunakan
insektisida untuk pengendalian vektor DBD karena kebutuhan program. Bahkan di beberapa daerah juga
ditemukan pemberantasan sarang nyamuk dengan melakukan fogging menggunakan insektisida tanpa
koordinasi dengan dinas kesehatan setempat, tanpa memikirkan dampak yang akan diakibatkannya.

Biasanya penduduk dengan dana swadaya (ekonomi cukup) berusaha melakukan tindakan pengendalian
vektor DBD secara mandiri dengan menggunakan insektisida rumah tangga. Kenyataan tersebut terbukti
karena ditemukan demikian banyak jenis insektisida yang digunakan untuk pengendalian Aedes aegypti,
belum lagi insektisida rumah tangga yang digunakan oleh masyarakat sehari-hari seperti obat nyamuk
bakar, ada juga dengan penggunaan aerosol/spray, serta penggunaan jenis obat nyamuk oles.

Maka dari itu, upaya penanganan perlu dilakukan secara komprehensif dengan melibatkan upaya
pencegahan dan penanggulangan secara efektif, efisien, terarah dan terpadu dari berbagai sektor
pelayanan kesehatan yang terlibat termasuk pemerintah daerah dan masyarakat tersebut yang
berbentuk kemitraan dan dilakukan pembinaan secara rutin. Membina peran serta masyarakat perlu
dilakukan dengan membentuk dan mengoptimalkan sumber daya serta kekompakan masyarakat
setempat.

Masyarakat dapat berperan sebagai informan, yaitu menyebarluaskan informasi dalam pengendalian
demam berdarah. Selain itu seorang tokoh dalam suatu masyarakat mempunyai pengaruh yang besar
dalam menggerakkan masyarakat luas, karena masyarakat umum lebih mudah menerima dan menuruti
apa yang dijelaskan oleh tokoh panutannya. Supaya terwujudnya kondisi tersebut, tokoh masyarakat
perlu memiliki pengetahuan yang lebih dan sikap positif dalam pengendalian demam berdarah.

Pengetahuan merupakan faktor yang dapat mempengaruhi perilaku seseorang terhadap suatu objek,
sehingga pembahasan tentang pengetahuan dalam pengendalian demam berdarah tidak bisa lepas dari
proses terbentuknya perilaku. Pengetahuan akan memberikan penguatan terhadap individu dalam
berperilaku dan dalam setiap mengambil keputusan. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain
yang sangat penting dalam proses pembentukan suatu perilaku. Perilaku yang didasari pengetahuan,
sifatnya akan lebih bagus dibanding dengan yang tidak didasari oleh pengetahuan.