Anda di halaman 1dari 14

1.

Prinsip Pengolahan Limbah Cair Organik

Limbah cair organik yang dihasilkan dari industri dialirkan dengan pipa menuju tangki
penampung melalui proses penyaringan, setelah dari tangki penampung kemudian limbah
cair dimasukkan kedalam reaktor anaerobik berisi media penyangga atau support material
berupa potongan bambu untuk tempat melekat bakteri. Didalam reaktor anaerobik terjadi
proses degradasi bahan organik yang dilakukan oleh bakteri sehingga kandungan bahan
organiknya turun. Proses anaerobik dengan menggunakan reaktor tipe Fixed Bed dilakukan
dengan waktu tinggal 3 hari menghasilkan gas bio yang ditampung dalam gas holder. Bila
proses pembenihan dan aklimatisasi berjalan dengan dengan baik, selanjutnya efluen yang
berasal dari proses anaerobik dialirkan menuju ke tempat pengolahan secara aerobik
menggunakan Trickling Filter, proses ini dilakukan agar limbah cair yang masih
mengandung bahan organik di degradasi oleh mikroorganisme yang ada pada potongan
bambu, sehingga bila dibuang ke badan air tidak mencemari perairan sekitarnya.

2. Proses yang terjadi

L.imbah cair industri tahu adalah limbah cair yang mempunyai kandungan bahan organik
yang cukup tinggi sekitar 15.798 mg/L sehingga pengolahan yang tepat adalah pengolahan
secara biologi dengan sistem anaerobik menggunakan reaktor tipe Fixed Bed dengan support
material berupa potongan bambu. Unit Pengolah Limbah Cair yang dibangun dengan sistem
secara biologi yaitu proses yang menggunakan kemampuan mikroba untuk mendegradasi
bahan-bahan polutan organik. Adapun proses dilakukan secara anaerob yaitu pengolahan
biologi yang memanfaatkan mikroorganisme dalam mendegradasi bahan organik dalam
kondisi tidak didapatkan atau sangat sedikit oksigen terlarut. Keuntungan dan kerugian
pengolahan anaerob2) adalah dalam prosesnya menghasilkan energi dalam bentuk biogas,
lumpur yang dihasilkan sedikit, tidak memerlukan lahan yang besar dan tidak membutuhkan
energi untuk aerasi. Degradasi senyawa organik secara anaerobik.

Pada proses anaerob, penguraian senyawa organik berlangsung secara bertahap dan pada
setiap tahapan ada aktivitas jenis bakteri tertentu yang dominan, dan setiap jenis bakteri
mempunyai kondisi lingkungan optimum yang menjadi salah satu parameter penting1).
Tahapan-tahapan yang terjadi dalam proses degradasi anaerobik melalui tiga tahapan yang
saling terkait. Proses pertama adalah hidrolisis yaitu proses dimana aktivitas kelompok
bakteri Saprofilik menguraikan bahan organik kompleks. Aktivitas terjadi karena bahan
organik tidak larut sepeti polisakarida, lemak, protein dan karbohidrat akan dikonsumsi
bakteri Saprofilik, dimana enzim ekstraseluler akan mengubahnya menjadi bahan organik
yang larut dalam air. Selanjutnya proses asidogenesis, pada proses ini bahan organik terlarut
akan diubah menjadi asam organik rantai pendek seperti asam butirat, asam propionat, asam
amino, asam asetat dan asam-asam lainnya oleh bakteri Asidogenik. Salah satu bakteri yang
hidup dalam kelompok Asidogenik adalah bakteri pembentukan asam asetat yaitu bakteri
Asetogenik, bakteri ini yang berperan dalam tahap perombakan asam propionat, asam amino,
asam butirat, maupun asam rantai panjang lainnya menjadi asam organik yang mudah
menguap/volatil seperti asam asetat. Proses terakhir adalah proses dimana bakteri
Metanogenik akan mengkonversi asam organik volatil menjadi gas metan (CH4) dan
karbondioksida (CO2), proses ini dinamakan metanogenesis. Pada proses pembentukan gas
metana sekitar 70% metana yang dihasilkan dalam penguraian berasal dari asam asetat.
Reaksi yang terjadi adalah dekarboksilase.

CH3COOH + H2O à CH4 + H2CO3

Pengubahan asam asetat menjadi metana adalah yang utama dalam penelitian ini, paling tidak
dikarenakan asam asetat adalah hasil produk antara yang dominan dalam fermentasi
penguraian senyawa organic secara anaerobic untuk bahan-bahan alam.

Hasil degradasi komponen utama buangan air limbah cair organic mempunyai kandungan
metana9) sebagai berikut :

Karbohidrat 50 % CH4

Lemak 68 % CH4

Protein 70 % CH4

Umumnya 85 – 95 % COD dari air buangan limbah organic dapat didegradasi secara
anaerobik. Seperti terlihat di Gambar ..bahwa lebih dari 80% jumlah karbon dikonversi
menjadi gas bio dan hanya 5 – 10 % menjadi biomasa.

Degradasi senyawa organik secara anaerobik, pada proses anaerob penguraian senyawa
organik berlangsung secara bertahap dan pada setiap tahapan ada aktivitas jenis bakteri
tertentu yang dominan, dan setiap jenis bakteri mempunyai kondisi lingkungan optimum
yang menjadi salah satu parameter penting5).

Dalam proses anaerob degradasi 1 kg COD (Chemical Oxygen demand) menghasilkan 0,35
m3 gas metana. Jumlah gas metana dan karbon dioksida dalam gas bio tergantung pada
komposisi kimia substrat yang didegradasi.

1.3 Gambaran Umum Reaktor Pengolahan Limbah

Proses degradasi limbah cair organik dapat dilakukan pada bioreaktor tanpa atau dengan
support material yang dapat diperinci sebagai berikut :

1) Reaktor tanpa support material adalah jenis reaktor yang mempunyai tempat untuk
menempel bakteri, yang termasuk jenis ini adalah

(a) reaktor tanpa pengaduk,

(b) reaktor dengan pengaduk dan

(c) Reaktor tipe sludge bed.

2) Reaktor dengan support material adalah jenis reaktor yang mempunyai tempat untuk
menempel bakteri, yang termasuk jenis reaktor ini adalah

(a) reaktor tipe fixed bed,


(b) reaktor tipe fluidized bed.

Pada percontohan ini reaktor yang digunakan adalah tipe Fixed Bed Reactor yaitu reaktor
yang terdiri tangki berisi bahan pembantu berupa support material. Fungsi dari support
material adalah sebagai tempat menempel mikroba, sehingga mikroba tidak ikut terbawa oleh
cairan sisa buangan atau efluen yang keluar dari reaktor

Keuntungan lain menggunakan support material adalah jumlah mikroorganisme tidak


dipengaruhi oleh jumlah beban atau banyaknya substrat yang dimasukkan atau laju beban
yang tinggi, karena mikroba telah menempel dengan baik di support material. Reaktor ini
dapat dioperasikan secara : up flow dan down flow dengan dan tanpa sirkulasi efluen
Mubyarto, 1984 (Gambar 4.5 ) Reaktor dengan system up flow, substrat umpan masuk
melalui dasar reaktor yang kemudian didistribusikan diantara support material dan keluar
melalui bagian atas. Pada system up flow terjadi akumulasi mikroba, sedangkan reaktor
dengan system down flow substrat masuk melalui bagian atas reaktor yang kemudian
terdistribusi diantara support material dan keluar melalui bagian bawah.

Faktor lain yang mempengaruhi untuk kerja reaktor adalah tipe jenis support material yang
digunakan untuk tempat menempel biomassa mikroba. Support material dapat dibuat dari
berbagai macam bahan yang tidak terdegradasi, misalnya keramik, tanah liat, batu apung atau
bahan alam lainnya. Ukuran dan bentuk support material yang digunakan dapat berbentuk
tidak beraturan yang dibuat dari sejenis plastik dengan bentuk geometri tertentu yaitu Hi flow
90, Plasdek C.10, Flocor R dan potongan bambu dengan ukuran tertentu.

4.2.5 Support Material

Support material didalam bio reaktor dapat berfungsi memperbanyak jumlah mikroba
didalam reaktor (Nawawi, H, 1995). Pengembangan perbanyakan mikroba yang menempel
pada support material dipengaruhi oleh efektifitas support material itu sendiri. Pada proses
pengolahan limbah cair pabrik tahu dilakukan secara anaerobik yang menggunakan reaktor
tipe Fixed Bed dengan potongan bambu sebagai support material.

II. Referensi

1. Anonymus : Deutsche Einheit Verfahren zur Wasser, Abwasser und Schlamm –


Untersuchung. Ed : Fachgruppe Wasserchemie in der Gesellschaft mit dem
Nomenausschuss wasserwesen (NAW) im DIN Deutsches Institut fuer Normung e.V = VCH,
Weinheim, New York, 1966

2. Sahm, H: Anaerobic Waste Water Treatment Advance Biochem Eng/Biotecnol, 29,


83, 1984

3. Buswell, A.M; Mueller, H.F : Mechanism of methane Fermentation, Ind.Eng.


Chem, 44, 550, 1958

4. Franson, M.A.W : Standard Methods for the Examination of Water and Waste
Water 17 th Ed. APHA, AWWH, WPCF USA, 1993.
Stronach, S. M; Ruud, T; Lester, J. N : Anaerobic Digestion Process in Industrial Waste
Water Treatment, Biotechnology Monographs Springer – Verlag, Berlin Heidelberg, 19

PENGOLAHAN LIMBAH CAIR


(Lengkap)
June 29, 2012 | Yusriadi Tauhid
Metode dan tahapan proses pengolahan limbah cair yang telah dikembangkan sangat
beragam. Limbah cair dengan kandungan polutan yang berbeda kemungkinan akan
membutuhkan proses pengolahan yang berbeda pula. Proses- proses pengolahan tersebut
dapat diaplikasikan secara keseluruhan, berupa kombinasi beberapa proses atau hanya salah
satu. Proses pengolahan tersebut juga dapat dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan atau faktor
finansial.

1. Pengolahan Primer (Primary Treatment)


Tahap pengolahan primer limbah cair sebagian besar adalah berupa proses pengolahan secara
fisika.
A. Penyaringa (Screening)
Pertama, limbah yang mengalir melalui saluran pembuangan disaring menggunakan jeruji
saring. Metode ini disebut penyaringan. Metode penyaringan merupakan cara yang efisien
dan murah untuk menyisihkan bahan-bahan padat berukuran besar dari air limbah.
B. Pengolahan Awal (Pretreatment)
Kedua, limbah yang telah disaring kemudian disalurkan kesuatu tangki atau bak yang
berfungsi untuk memisahkan pasir dan partikel padat teruspensi lain yang berukuran relatif
besar. Tangki ini dalam bahasa inggris disebut grit chamber dan cara kerjanya adalah dengan
memperlambat aliran limbah sehingga partikel – partikel pasir jatuh ke dasar tangki
sementara air limbah terus dialirkan untuk proses selanjutnya.
C. Pengendapan
Setelah melalui tahap pengolahan awal, limbah cair akan dialirkan ke tangki atau bak
pengendapan. Metode pengendapan adalah metode pengolahan utama dan yang paling
banyak digunakan pada proses pengolahan primer limbah cair. Di tangki pengendapan,
limbah cair didiamkan agar partikel – partikel padat yang tersuspensi dalam air limbah dapat
mengendap ke dasar tangki. Enadapn partikel tersebut akan membentuk lumpur yang
kemudian akan dipisahkan dari air limbah ke saluran lain untuk diolah lebih lanjut. Selain
metode pengendapan, dikenal juga metode pengapungan (Floation).
D. Pengapungan (Floation)
Metode ini efektif digunakan untuk menyingkirkan polutan berupa minyak atau lemak.
Proses pengapungan dilakukan dengan menggunakan alat yang dapat menghasilkan
gelembung- gelembung udara berukuran kecil (± 30 – 120 mikron). Gelembung udara
tersebut akan membawa partikel –partikel minyak dan lemak ke permukaan air limbah
sehingga kemudian dapat disingkirkan.

Bila limbah cair hanya mengandung polutan yang telah dapat disingkirkan melalui proses
pengolahan primer, maka limbah cair yang telah mengalami proses pengolahan primer
tersebut dapat langsung dibuang kelingkungan (perairan). Namun, bila limbah tersebut juga
mengandung polutan yang lain yang sulit dihilangkan melalui proses tersebut, misalnya agen
penyebab penyakit atau senyawa organik dan anorganik terlarut, maka limbah tersebut perlu
disalurkan ke proses pengolahan selanjutnya.
2. Pengolahan Sekunder (Secondary Treatment)
Tahap pengolahan sekunder merupakan proses pengolahan secara biologis, yaitu dengan
melibatkan mikroorganisme yang dapat mengurai/ mendegradasi bahan organik.
Mikroorganisme yang digunakan umumnya adalah bakteri aerob.
Terdapat tiga metode pengolahan secara biologis yang umum digunakan yaitu metode
penyaringan dengan tetesan (trickling filter), metode lumpur aktif (activated sludge), dan
metode kolam perlakuan (treatment ponds / lagoons) .

a. Metode Trickling Filter


Pada metode ini, bakteri aerob yang digunakan untuk mendegradasi bahan organik melekat
dan tumbuh pada suatu lapisan media kasar, biasanya berupa serpihan batu atau plastik,
dengan dengan ketebalan ± 1 – 3 m. limbah cair kemudian disemprotkan ke permukaan
media dan dibiarkan merembes melewati media tersebut. Selama proses perembesan, bahan
organik yang terkandung dalam limbah akan didegradasi oleh bakteri aerob. Setelah
merembes sampai ke dasar lapisan media, limbah akan menetes ke suatu wadah penampung
dan kemudian disalurkan ke tangki pengendapan.
Dalam tangki pengendapan, limbah kembali mengalami proses pengendapan untuk
memisahkan partikel padat tersuspensi dan mikroorganisme dari air limbah. Endapan yang
terbentuk akan mengalami proses pengolahan limbah lebih lanjut, sedangkan air limbah akan
dibuang ke lingkungan atau disalurkan ke proses pengolahan selanjutnya jika masih
diperlukan
b. Metode Activated Sludge
Pada metode activated sludge atau lumpur aktif, limbah cair disalurkan ke sebuah tangki dan
didalamnya limbah dicampur dengan lumpur yang kaya akan bakteri aerob. Proses degradasi
berlangsung didalam tangki tersebut selama beberapa jam, dibantu dengan pemberian
gelembung udara aerasi (pemberian oksigen). Aerasi dapat mempercepat kerja bakteri dalam
mendegradasi limbah. Selanjutnya, limbah disalurkan ke tangki pengendapan untuk
mengalami proses pengendapan, sementara lumpur yang mengandung bakteri disalurkan
kembali ke tangki aerasi. Seperti pada metode trickling filter, limbah yang telah melalui
proses ini dapat dibuang ke lingkungan atau diproses lebih lanjut jika masih dperlukan.
c. Metode Treatment ponds/ Lagoons
Metode treatment ponds/lagoons atau kolam perlakuan merupakan metode yang murah
namun prosesnya berlangsung relatif lambat. Pada metode ini, limbah cair ditempatkan dalam
kolam-kolam terbuka. Algae yang tumbuh dipermukaan kolam akan berfotosintesis
menghasilkan oksigen. Oksigen tersebut kemudian digunakan oleh bakteri aero untuk proses
penguraian/degradasi bahan organik dalam limbah. Pada metode ini, terkadang kolam juga
diaerasi. Selama proses degradasi di kolam, limbah juga akan mengalami proses
pengendapan. Setelah limbah terdegradasi dan terbentuk endapan didasar kolam, air limbah
dapat disalurka untuk dibuang ke lingkungan atau diolah lebih lanjut.
3. Pengolahan Tersier (Tertiary Treatment)
Pengolahan tersier dilakukan jika setelah pengolahan primer dan sekunder masih terdapat zat
tertentu dalam limbah cair yang dapat berbahaya bagi lingkungan atau masyarakat.
Pengolahan tersier bersifat khusus, artinya pengolahan ini disesuaikan dengan kandungan zat
yang tersisa dalam limbah cair / air limbah. Umunya zat yang tidak dapat dihilangkan
sepenuhnya melalui proses pengolahan primer maupun sekunder adalah zat-zat anorganik
terlarut, seperti nitrat, fosfat, dan garam- garaman.
Pengolahan tersier sering disebut juga pengolahan lanjutan (advanced treatment). Pengolahan
ini meliputi berbagai rangkaian proses kimia dan fisika. Contoh metode pengolahan tersier
yang dapat digunakan adalah metode saringan pasir, saringan multimedia, precoal filter,
microstaining, vacum filter, penyerapan dengan karbon aktif, pengurangan besi dan mangan,
dan osmosis bolak-balik.
Metode pengolahan tersier jarang diaplikasikan pada fasilitas pengolahan limbah. Hal ini
disebabkan biaya yang diperlukan untuk melakukan proses pengolahan tersier cenderung
tinggi sehingga tidak ekonomis.
4. Desinfeksi (Desinfection)
Desinfeksi atau pembunuhan kuman bertujuan untuk membunuh atau mengurangi
mikroorganisme patogen yang ada dalam limbah cair. Meknisme desinfeksi dapat secara
kimia, yaitu dengan menambahkan senyawa/zat tertentu, atau dengan perlakuan fisik. Dalam
menentukan senyawa untuk membunuh mikroorganisme, terdapat beberapa hal yang perlu
diperhatikan, yaitu :
• Daya racun zat
• Waktu kontak yang diperlukan
• Efektivitas zat
• Kadar dosis yang digunakan
• Tidak boleh bersifat toksik terhadap manusia dan hewan
• Tahan terhadap air
• Biayanya murah
Contoh mekanisme desinfeksi pada limbah cair adalah penambahan klorin (klorinasi),
penyinaran dengan ultraviolet(UV), atau dengan ozon (Oз).
Proses desinfeksi pada limbah cair biasanya dilakukan setelah proses pengolahan limbah
selesai, yaitu setelah pengolahan primer, sekunder atau tersier, sebelum limbah dibuang ke
lingkungan.
5. Pengolahan Lumpur (Slude Treatment)
Setiap tahap pengolahan limbah cair, baik primer, sekunder, maupun tersier, akan
menghasilkan endapan polutan berupa lumpur. Lumpur tersebut tidak dapat dibuang secara
langsung, melainkan pelu diolah lebih lanjut. Endapan lumpur hasil pengolahan limbah
biasanya akan diolah dengan cara diurai/dicerna secara aerob (anaerob digestion), kemudian
disalurkan ke beberapa alternatif, yaitu dibuang ke laut atau ke lahan pembuangan (landfill),
dijadikan pupuk kompos, atau dibakar (incinerated).

Air limbah adalah air yang bercampur zat padat (dissolved dan suspended) yang berasal dari
kegiatan rumah tangga, pertanian, perdagangan dan industri. Oleh karena itu, dipastikan
bahwa air buangan atau air limbah industri bisa menjadi salah satu penyebab air tercemar jika
tidak diolah sebelum dibuang ke badan air.

Komposisi air limbah sebagian besar terdiri dari air (99,9 %) dan sisanya terdiri dari partikel-
partikel padat terlarut (dissolved solid) dan tersuspensi (suspended solid) sebesar 0,1 %.
Partikel-partikel padat terdir dari zat organik (± 70 %) dan zat anorganik (± 30 %), zat-zat
organik terdiri dari protein (± 65 %), karbohidrat (± 25 %) dan lemak (± 10 %).

Zat-zat organik tersebut sebagian besar mudah terurai (biodegradable) yang merupakan
sumber makanan dan media yang baik bagi bakteri dan mikroorganisme lain. Adapun zat-zat
anorganik terdiri dari grit, salts dan metals (logam berat) yang merupakan bahan pencemar
yang penting. Solids (dissolved dan suspended) sangat cocok untuk menempel dan
bersembunyinya mikroorganisme baik yang bersifat saprophit mau pun pathogen (Djabu at
al., 1990).

Terdapat beberapa parameter yang umum digunakan sebagai indikator kualitas air limbah
diantaranya adalah (Alaerts dan Santika, 1987) :

COD (Chemical Oxygen Demand)

COD adalah jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi zat-zat organik yang
terdapat dalam limbah cair dengan memanfaatkan oksidator kalium dikromat sebagai sumber
oksigen. Angka COD merupakan ukuran bagi pencemaran air oleh zat organik yang secara
alamiah dapat dioksidasi melalui proses biologis dan dapat menyebabkan berkurangnya
oksigen terlarut dalam air.

BOD (Biological Oxygen Demand)

BOD merupakan parameter pengukuran jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh bekteri untuk
mengurai hampir semua zat organik yang terlarut dan tersuspensi dalam air buangan,
dinyatakan dengan BOD5 hari pada suhu 20 °C dalam mg/liter atau ppm. Pemeriksaan BOD5
diperlukan untuk menentukan beban pencemaran terhadap air buangan domestik atau industri
juga untuk mendesain sistem pengolahan limbah biologis bagi air tercemar. Penguraian zat
organik adalah peristiwa alamiah, jika suatu badan air tercemar oleh zat organik maka bakteri
akan dapat menghabiskan oksigen terlarut dalam air selama proses biodegradable
berlangsung, sehingga dapat mengakibatkan kematian pada biota air dan keadaan pada badan
air dapat menjadi anaerobik yang ditandai dengan timbulnya bau busuk.

COD (Chemical Oxygen Demand)

COD adalah jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi zat-zat organik yang
terdapat dalam limbah cair dengan memanfaatkan oksidator kalium dikromat sebagai sumber
oksigen. Angka COD merupakan ukuran bagi pencemaran air oleh zat organik yang secara
alamiah dapat dioksidasi melalui proses biologis dan dapat menyebabkan berkurangnya
oksigen terlarut dalam air.

TSS (Total Susppended Solid)

Zat yang tersuspensi biasanya terdiri dari zat organik dan anorganik yang melayang-layang
dalam air, secara fisika zat ini sebagai penyebab kekeruhan pada air. Limbah cair yang
mempunyai kandungan zat tersuspensi tinggi tidak boleh dibuang langsung ke badan air
karena disamping dapat menyebabkan pendangkalan juga dapat menghalangi sinar matahari
masuk kedalam dasar air sehingga proses fotosintesa mikroorganisme tidak dapat
berlangsung.
https://produksibersih.wordpress.com/2011/07/27/pengolahan-limbah-cair-organik/
http://blog.ub.ac.id/yusriadiblog/2012/06/29/pengolahan-limbah-cair-lengkap/
http://www.indonesian-publichealth.com/2013/01/pengertian-bod-cod-tss-pada-air-
limbah.html

https://atpw.files.wordpress.com/2013/03/f1-sugito.pdf

Jl.Kandangan Surabaya berpotensi


ISBN No. 978-979-18342-0-9 menghasilkan limbah cair yang berbahaya.
F Berdasarkan Kep.MenKes
- No.1204/MenKes/SK/IX/2004, tentang
1 persyratan
APLIKASI INSTALASI PENGOLAHAN kesehatan lingkungan rumah sakit, maka
AIR LIMBAH BIOFILTER UNTUK efluen yang dibuang harus memenuhi
MENURUNKAN KANDUNGAN standar yang ditetapkan. Oleh karena itu
PENCEMAR BOD, COD DAN TSS DI limbah cair rumah sakit harus diolah
RUMAH SAKIT BUNDA SURABAYA terlebih dahulu sebelum dibuang ke badan
Drs. Sugito, ST., MT. air penerima.Sistem pengolahan
Program Studi Teknik Lingkungan limbah cair rumah sakit Bunda Surabaya
Universitas PGRI Adi Buana Surabaya menggunakan IPAL Biofilter, yaitu
Email: suatu bioreaktor yang dikembangkan
soegito_tl_unipa@yahoo.co.id dengan prinsip mikroba tumbuh dan
ABSTRAK berkembang pada suatu media filter dan
Rumah sakit menghasilkan limbah cair membentuk lapisan koloni biofilm
medis yang berbahaya dan beracun serta dengan suplai udara.
dapat menyebabkan gangguan kesehatan Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
bagi masyarakat disekitarnya. besarnya efisiensi kinerja IPAL
Sumber-sumber limbah cair rumah sakit Biofilter dalam mereduksi kandungan
berasal dari aktivitas pelayanan BOD,COD, dan TSS limbah cair rumah
kesehatan khususnya dari kegiatan sakit Bunda Surabaya. Sampel limbah cair
poliklinik ( umum dan gigi ), ruang dalam penelitian ini diambil secara
perawatan, laboratorium, ruang bersalin, grab sampling.Titik Sampling terletak
ruang bedah/operasi, instalasi pada saluran inlet sebelum bak
hemodialisis, instalasi farmasi, dapur dan pengumpul untuk mengetahui kandungan
loundry.Limbah cair rumah sakit pencemar sebelum proses, dan pada
mengandung pencemar zat organik terlarut saluran outlet bak clarifier untuk
(BOD dan COD), zat padat mengetahui kandungan pencemar sesudah
tersuspensi (TSS), nutrient ( nitrogen dan pengolahan dengan Biofilter.
phosfor ), minyak dan lemak, Hasil penelitian menunjukkan bahwa
deterjent, logam berat, racun organik, zat pengolahan limbah cair rumah sakit Bunda
warna, dan kekeruhan.Bahan-bahan Surabaya dengan Biofilter dapat
tersebut dapat mempengaruhi kualitas air. menurunkan kandungan BOD sebesar
Rumah Sakit Umum Bunda merupakan 51,17%,
rumah sakit tipe C yang terletak di
COD sebesar 43,5%, dan TSS sebesar kesehatan di Surabaya, oleh karena itu
49,54%, dengan tingkat konsentrasi yang diperlukan penanganan dan perhatian
sudah memenuhi baku mutu efluen limbah yang seksama karena rumah sakit
cair rumah sakit. sebagai sarana pelayanan kesehatan
Berdasarkan hasil penelitian tersebut maka dimana tempat berkumpulnya orang
agar instalasi IPAL Biofilter dapat sakit maupun orang sehat, atau dapat
mereduksi kandungan BOD,COD, dan menjadi tempat penularan penyakit
TSS yang lebih optimal, maka perlu serta memungkinkan terjadinya
dilakukan pemeliharaan instalasi secara pencemaran lingkungan dan gangguan
rutin dan operasi blower secara [4].
kontinue selama proses pengolahan.Hal ini Rumah Sakit Umum Bunda merupakan
akan meningkatkan proses degradasi rumah sakit tipe C yang terletak di
bahan organik oleh mikroba dalam air Jalan Raya Kandangan Surabaya dengan
limbah. Selain itu pembersihan saluran fasilitas kamar rawat inap, ruang OK,
perpipaan akibat kandungan lemak, ICU, NICU, kamar bersalin, UGD dan
minyak, dan TSS harus secara rutin VK,
dilakukan agar dapat memperlancar aliran berpotensi menghasilkan limbah cair.
air limbah. Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL)
Kata kunci Rumah Sakit Bunda di bangun pada
: tahun 2002. Selama 6 tahun IPAL Rumah
IPAL Biofilter; limbah cair rumah sakit, Sakit Bunda belum pernah dilakukan
pencemaran BOD,COD, penelitian mengenai efektifitas kinerja
dan TSS. IPAL Rumah Sakit tersebut. Oleh karena
Sugito itu peneliti tertarik untuk melakukan
ISBN No. 978-979-18342-0-9 penelitian tentang efektifitas kinerja
F Instalasi Pengolahan Air Limbah rumah
- sakit tersebut.
2 Pencemaran lingkungan yang
1. ditimbulkan dari kegiatan rumah sakit
PENDAHULUAN adalah berupa limbah cair rumah sakit
Upaya penyehatan lingkungan rumah yang berupa limbah cair medis dan non
sakit merupakan upaya menyehatkan medis serta limbah padat (sampah)
dan memelihara lingkungan rumah sakit medis, namun rumah sakit lebih banyak
dan pengaruhnya terhadap manusia [4]. menghasilkan limbah cair medis. Limbah
Demi terwujudnya derajat kesehatan Cair adalah limbah dalam wujud cair
yang setinggi – tingginya di seluruh yang dihasilkan dalam kegiatan industri
lapisan masyarakat sebagaimana yang atau kegiatan usaha lainnya yang
termaksud dalam tujuan pembangunan dibuang ke lingkungan dan diduga dapat
nasional, diperlukan upaya peningkatan menurunkan kualitas lingkungan [3].
kesehatan yang meliputi upaya Limbah cair Rumah Sakit (medis) adalah
peningkatan kesehatan (promotif), limbah cair yang dihasilkan dari aktifitas
pencegahan penyakit (kuratif) dan pelayanan kesehatan khususnya yang
pemulihan kesehatan (rehabilitatif) yang bersumber dari kegiatan poliklinik
harus dilaksanakan secara menyeluruh, (umum dan gigi), ruang perawatan,
terpadu dan berkesinambungan. laboratorium (medis), ruang bersalin,
Rumah sakit, termasuk Rumah Sakit ruang bedah, instalasi hemodialisis dan
Umun Bunda Surabaya yang terletak di instalasi farmasi [2]
jalan Raya Kandangan Surabaya, Berikut diagram alir penanganan limbah
merupakan bagian yang tidak cair di rumah sakit yang dimulai dari
terpisahkan dari system pelayanan sumbernya sampai dengan tahap
pembuangan akhir. berlaku
Gambar 1 SUMBER LIMBAH CAIR RUMAH
. Diagram Alir Penanganan SAKIT
Limbah Cair Di Rumah Sakit [10] Kamar mandi
Limbah cair rumah sakit sangat Karyawan
tergantung dari jenis dan proses serta Kamar mandi
aktivitas dari rumah sakit tersebut, Pasien
tetapi secara kualitatif limbah cair Kamar mandi
terdiri dari: zat organik terlarut, zat Poliklinik
padat tersuspensi, nutrient (N dan P), Aktifitas
minyak dan lemak, logam berat, racun Dapur
organik, warna dan kekeruhan yang Aktifitas
mempengaruhi kualitas air [9]. Untuk Loundry
menghindari dampak lingkungan Laboratorium
tersebut, maka rumah sakit mempunyai Penangkap
kewajiban untuk melaksanakan upaya lemak
pelestarian lingkungan hidup dalam hal Penanganan
ini pengelolaan limbah cair dengan Awal
menyediakan Instalasi Pengolahan Air Penanganan
Limbah (IPAL) yang memadai. awal
Pengolahan limbah cair dapat dilakukan Sumur
dengan memanfaatkan mikroorganisme Pengumpul
secara aerob maupun anaerob atau Unit pengolah
Kamar mandi biologis
Karyawan Chlorinator
Kamar mandi Dibuang ke
Pasien badan air
Kamar mandi penerima
Poliklinik sesuai dengan
Aktifitas standart yang
Dapur berlaku
Aktifitas SUMBER LIMBAH CAIR RUMAH
Loundry SAKIT
Laboratorium Aplikasi Instalasi Pengolahan Air Limbah
Penangkap Biofilter untuk Menurunkan Kandungan
lemak Pencemar BOD, COD
Penanganan Dan TSS Di Rumah Sakit Bunda Surabaya
Awal ISBN No. 978-979-18342-0-9
Penanganan F
awal -
Sumur 3
Pengumpul kombinasi aerob dan anaerob [5],
Unit pengolah demikian halnya dengan limbah cair
biologis rumah sakit
Chlorinator .
Dibuang ke Salah satu proses
badan air pengolahan limbah cair rumah sakit
penerima dengan memanfaatkan mikroorganisme
sesuai dengan secara aerob atau dikenal dengan proses
standart yang biologis adalah biofilter aerobik, seperti
yang digunakan lapisan paling dalam adalah bakteri,
pada Rumah Sakit Umum jamur dan algae [8].
Bunda Surabaya. Biofilter aerobik adalah Beberapa keunggulan proses pengolahan
suatu istilah dari reaktor yang air limbah dengan biofilter anaerb-aerob
dikembangkan dengan prinsip mikroba antara lain yaitu: pengelolaannya sangat
tumbuh dan berkembang pada suatu mudah, biaya operasinya rendah;
media filter dan membentuk lapisan dibandingkan dengan proses lumpur
biofilm ( aktif, lumpur yang dihasilkan relatif
attached growth sedikit; dapat menghilangkan nitrogen
) dengan suplay dan phospor yang dapat menyebabkan
oksigen [8]. euthropikasi; suplai udara untuk aerasi
Proses biologis dalam reaktor biofilter relatif kecil; dapat digunakan untuk air
sebagian besar berhubungan dengan limbah dengan beban BOD yang cukup
komposisi lapisan slime atau biofilm, besar; dapat menghilangan padatan
yang menempel pada permukaan media. tersuspensi (SS) dengan baik [7].
Proses pembentukan dan kolonisasi Sementara itu Richard & Reynold
biofilm diawali dengan produksi slime menggambarkan mekanisme biofilm
dan kapsul bakteri yang menempel pada dalam biofilter sebagai berikut:
permukaan media. Penempelan Gambar 2
kemungkinan pada awalnya terjadi . Mekanisme proses dalam
karena adanya ikatan kimia dan gaya biofilter [6]
Van Der Walls. Proses penempelan Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
berlangsung sangat cepat dan bakteri mengetahui efektifitas kinerja Instalasi
Z Pengolahan Air Limbah (IPAL) sistem
ramigera biofilter aerobik pada Rumah Sakit
adalah seringkali sebagai Umum Bunda Surabaya yang terletak di
pembentuk koloni awal. Pembentukan Jalan Raya Kandangan Surabaya untuk
koloni oleh bakteri heterotrop lain menurunkan kandungan BOD, COD dan
seperti TSS.
pseudomonas, flavobacterium Biologycal Oxygen Demand (BOD) adalah
dan jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh
alcaligenes mikroorganisme untuk menguraikan
juga berjalan cepat. bahan organik yang ada dalam air
Setelah lima hari, komposisi bakteri limbah. Mikroorganisme dapat
pada biofilm akan terdiri dari mengoksidasi baik senyawa – senyawa
bermacam-macam kumpulan bakteri. yang mengandung karbon dan senyawa–
Setelah periode waktu lebih dari satu senyawa nitrogen. Pemeriksaan BOD
minggu, akan ditumbuhi sedikit jamur diperlukan untuk menentukan beban
seperti pencemar akibat air buangan dari
fusarium, geotrichum Puskesmas rumah sakit dan industri.
dan Chemical oxygen Demand (COD) atau
sporotrichwn kebutuhan oksigen kimia (KOK) adalah
yang akan ikut berperan jumlah oksigen (mg O
dalam penurunan kandungan BOD dalam 2
air. Lapisan biofilm yang sudah matang ) yang dibutuhkan
atau terbentuk sempurna akan tersusun untuk mengoksidasi zat – zat organis
dalam tiga lapisan kelompok bakteri, yang ada dalam 1 liter sample air,
yaitu: lapisan paling luar adalah dimana pengoksidasi K
sebagian besar berupa jamur; lapisan 2
tengah adalah jamur dan algae; dan Cr
2 diameter 0,6 meter tinnggi 1
O meter
2 ‹
digunakan K2 : ruang alat, yang terdiri dari:
sebagai sumber oksigen (oxidizing agent) o
TSS adalah parameter yang tergumpal, Pompa : Untuk memompa air
sebab jumlah dan distribusi ukuran limbah dari pit
Biofilm o
Air Limbah Blower : Untuk maensuplai
Senyawa organik udara ke reaktor
Oksigen Terlarut o
Produk akhir Dosing pump : Untuk mengatur
Media injeksi disinfektan
Anaerobik o
Aerobik Panel control : Untuk
Biofilm mengontrol
Air Limbah pengoperasian
Senyawa organik pompa dan blower.
Oksigen Terlarut o
Produk akhir Level control : Untuk
Media mengatur level air.
Anaerobik ‹
Aerobik K3 : Bak penampung, untuk
Sugito penampung, homogenisasi dan
ISBN No. 978-979-18342-0-9 sludge storage. Bak
F penampung mempunyai
- volume 20 m
4 3
partikel yang ada tidak diketahui. TSS dengan panjang
menjadi salah satu yang digunakan 4 meter, lebar 2 meter dan
sebagai standart untuk mengetahui tinggi 2,5 meter, yang terbagi
kinerja dan control proses sebuah atas empat ruang, lubang
Instalasi Pengolahan Limbah Cair. dinding untuk aliran gas
2. berdiameter 2 inci, berada
METODOLOGI pada bagian sisi atas, lubang
Penelitian ini dilakukan untuk dinding untuk aliran limbah
menggambarkan kinerja instalasi berdiameter 4 inci posisi
pengolahan limbah cair Rumah Sakit sesuai gambar sedangkan
Bunda, dimana gambar IPAL Rumah Sakit ukuran manhole 60 x 60 cm.
Umum Bunda adalah sebagai berikut: ‹
Gambar 3 K4 : Bak Reaktor, Bak Reaktor
. IPAL Rumah Sakit Bunda Biofilter untuk reduksi
Surabaya BOD/COD dan polutan lain
Keseluruhan bangunan IPAL dapat dilihat ‹
pada gambar diatas dengan penjelasan K5 : Separator Biofilter, untuk
sebagai berikut : memisahkan solid yang terikat
‹ setelah keluar reaktor
K1 : PIT, Sebagai bak pemompa ‹
IPAL dan SCREEN, bentuk K6 : Kolam ikan, untuk deteksi
tabung/silinder dengan mutu effluent.
‹ 2.
K7 : Pipa defoaming, untuk Dari bak saringan air limbah masuk
mencairkan busa sehingga ke bak berikutnya yang disebut
tidak beterbangan ke udara sebagai pump pit (ruang pompa).
‹ Pada pump pit ini karena lantainya
K8 : Pipa over flow, untuk lebih rendah dari lantai bak
mengalirkan limpahan air penampung maka air limbah dengan
limbah dari bak penampung ke mudah mengalir ke dalam bak ini
pit. secara gravitasi. Pada pump pit ini
‹ terdapat 1 buah mesin pompa yang
K9 : Pipa drain, untuk drain lumpur dapat bekerja secara otomatis
pada reaktor dan sparator K1
Adapun tahapan proses pengolahan air K2
limbah sebagai berikut : K3 K4
1. K5
Air limbah dikumpulkan di K6
septic K7
tank K8
yang ada di setiap tempat K9
pelayanan atau fasilitas penunjang K1
rumah sakit, dari septic tank K2
dialirkan ke bak saringan atau K3 K4
grease trap K5
dengan maksud agar K6
padatan yang masih mengambang di K7
permukaan air limbah tertahan pada K8
bak ini sehingga tidak ikut masuk ke K9
tahap pengolahan selanjutnya.