Anda di halaman 1dari 26

Menelaah Peran dan Fungsi Keluarga

A. Pengertian keluarga

Keluarga adalah lembaga sosial dasar dari mana semua lembaga atau pranata sosial lainnya berkembang. Di
masyarakat mana pun di dunia, keluarga merupakan kebutuhan manusia yang universal dan menjadi pusat terpenting
dari kegiatan dalam kehidupan individu” (Narwoko dan Suyanto, 2004).

Menurut Sigmund Freud, keluarga itu terbentuk karena adanya perkawinan pria dan wanita. Bahwa menurut beliau
keluarga merupakan manifestasi dari pada dorongan seksual sehingga landasan keluarga itu adalah kehidupan seksual
suami isteri.

Keluarga dapat dibedakan menjadi dua, yakni keluarga batih atau keluarga inti (conjugal family) dan keluarga kerabat
(consanguine family). Conjugal Family atau keluarga batih didasarkan atas ikatan perkawinan dan terdiri dari
seorang suami, istri, dan anak-anak mereka yang belum kawin. Consanguine family tidak didasarkan pada pertalian
kehidupan suami istri, melainkan pada pertalian darah atau ikatan keturunan dari sejumlah orang kerabat. Keluarga
kerabat terdiri dari hubungan darah dari beberapa generasi yang mungkin berdiam pada satu rumah atau mungkin
pula berdiam pada tempat lain yang berjauhan. “Kesatuan keluarga consanguine ini disebut juga sebagai extended
family atau “keluarga luas. (Narwoko dan Suyanto, 2004, p. 14).

Keluarga merupakan benih akal penyusunan kematangan individu dan struktur kepribadian. Anak-anak mengikuti
orang tua dan berbagai kebiasaan dan perilaku dengan demikian keluarga adalah elemen pendidikan lain yang paling
nyata, tepat dan amat besar. Keluarga adalah salah satu elemen pokok pembangunan entitas-entitas pendidikan,
menciptakan proses naturalisasi social, membentuk kepribadian-kepribadian serta memberi berbagai kebiasaan baik
pada anak-anak yang akan terus bertahan lama.

Keluarga memiliki dampak yang besar dalam pembentukan perilaku individu serta pembentukan vitalitas dan
ketenangan dalam benak anak-anak karena melalui keluarga anak-anak mendapatkan bahasa, nilai-nilai, serta
kecenderungan mereka.

Keluarga bertanggungjawab mendidik anak-anak dengan benar dalam kriteria yang benar, jauh dari penyimpangan.
Untuk itu dalam keluarga memiliki sejumlah tugas dan tanggungjawab. Tugas dan kewajiban keluarga adalah
bertanggungjawab menyelamatkan faktor-faktor cinta kasih serta kedamaian dalam rumah, menghilangkan kekerasan,
keluarga harus mengawasi proses-proses pendidikan, orang tua harus menerapkan langkah-langkah sebagai tugas
mereka.

Menurut Fuad Ihsan fungsi lembaga pendidikan keluarga, yaitu keluarga merupakan pengalaman pertama bagi anak-
anak, pendidikan di lingkungan keluarga dapat menjamin kehidupan emosional anak untuk tumbuh dan berkembang
di lingkungan keluarga akan tumbuh sikap tolong menolong, tenggang rasa sehingga tumbuhlah kehidupan keluarga
yang damai dan sejahtera, keluarga berperan dalam meletakkan dasar pendidikan agama dan sosial. (Fuad Ihsan, 2001
: 18)
Orang tua harus bisa menciptakan suasana keluarga yang damai dan tentram dan mencurahkan kasih sayang yang
penuh terhadap anak-anaknya, meluangkan waktunya untuk sering berkumpul dengan keluarga, mengawasi proses-
proses pendidikan anak dan melakukan tugas masing-masing ayah dan ibu.

Agar keluarga itu bisa dikatakan sehat dan bahagia, harus memiliki enam kriteria yang amat penting bagi
pertumbuhan seorang anak, yaitu Kehidupan beragama dalam keluarga, mempunyai waktu untuk bersama,
mempunyai pola konsumsi yang baik bagi sesama anggota keluarga, saling menghargai satu dengan yang lainnya,
masing-masing anggota merasa terikat dalam ikatan keluarga sebagai kelompok bila terjadi sesuatu permasalahan
dalam keluarga mampu menyelesaikan secara positif konstruktif. (Dadang Hawari, 1997 : 215)

B. Keluarga sebagai wadah pendidikan pertama

Keluarga sebagai institusi terkecil dalam masyarakat memiliki peran sentral dan tanggung jawab besar terhadap
pertumbuhan dan perkembangan jiwa anak/remaja. Seperti, ibu, ayah, kakak, dan sebagainya unsur di dalam
keluarga. Orang tua sebagai sub sistem di dalam keluarga, oleh remaja di jadikan tempat utama yang tepat untuk
mengadu (curhat), termasuk kebutuhan remaja akan. pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi. Supaya tidak
terjadi kesenjangan perlu juga keluarga terutama orang tua di bekali informasi serta pemahaman tentang kesehatan
reproduksi, sehingga dapat disampaikan kembali secara jujur dan benar kepada anak remajanya. Karena peran orang
tua sangat penting terutama saat anak anda masih belita, peran orang tua disini yaitu mengarahkannya pada kebaikan
karena saat – saat itu lah kita membentuk kepribadian pada anak kita, berikut ini tips untuk para orang tua pada anak
anda saat balita.

25 Poin Penting bagi Para Orang Tua

1. Penuhi Harapannya. Sempatkan setidaknya 1-2 jam dalam seminggu untuk mengerjakan apa saja yang anak ingin
lakukan, tanpa interupsi dari siapa pun atau gangguan dalam bentuk apa pun. Termasuk bila ia ingin bermain game
yang tak Anda sukai, atau permainan yang Anda anggap sia-sia seperti membangun balok bertingkat lalu
merobohkannya lagi.

2. Say I Love You! Biasakanlah memulai dan mengakhiri hari yang dilalui dengan mengucapkan "I love you."
Sebagai orang tua Anda mungkin sering berpikir, menunjukkan kasih sayang cukup lewat tindakan. Nyatanya? Anak
membutuhkan, bahkan mendambakan ucapan tulus untuk benar-benar disayangi orangtuanya.

3. Prioritaskan Keamanan. Jangan lengah mengantisipasi, apa yang kira-kira akan dilakukan anak lalu segera
pasang pengaman. Bila Si Kecil berusia 9 bulan dan sudah mulai belajar berdiri, artinya sudah saatnya untuk selalu
menutup pagar, memasang bantalan khusus di sudut-sudut meja yang lancip, dan menyingkirkan panci-panci panas
dari atas kompor ke tempat aman yang tak mudah diraihnya.

4. Pujilah Pasangan. Jangan pernah mengakhiri hari tanpa mengakui peran pasangan dalam kehidupan buah hati
Anda. Lakukan setidaknya sekali dalam satu hari.

5. Pilih TPA (Tempat Penitipan Anak) Yang Baik. Jangan pernah ragu untuk menghabiskan waktu mendatangi
sekaligus mengamati bagaimana anak-anak menghabiskan waktunya di TPA untuk bermain dan beraktivitas. Jangan
segan-segan pula menggali informasi sebanyak-banyaknya dari pimpinan maupun staf pengasuh TPA mengenai
fasilitas yang tersedia. Pendek kata, bersikaplah cermat sebelum menentukan pilihan, tak ubahnya seperti Anda
hendak membeli mobil baru yang mahal harganya.

6. Tinggalkan Arena. Bila Si Kecil sudah mampu "mencairkan" susana dengan lingkungan yang baru dimasukinya,
segeralah menjauh. Terlalu banyak interaksi langsung berupa tatap muka hanya akan memperbesar situasi penuh
konflik.
7. Jangan Langsung Menghukum. Ibaratnya, setiap anak memiliki sebuah cangkir yang perlu diisi dan diisi lagi
dengan cinta, perhatian, limpahan kasih sayang, dan penghargaan. Hari-hari yang menyebalkan, dunia yang kasar dan
mendatangkan frustrasi akan langsung membuat cangkirnya kosong.
Jika Si kecil berulah, peluklah ia, dengarkan apa yang dikatakannya, dan habiskan waktu bersamanya. Selepas itu ia
akan menunjukkan sikap kooperatif, sehingga Anda berdua jadi semakin akrab.

8. Jangan Asal Meninggalkan. Jika Anda sedang memandikan Si Kecil, jangan pernah sekalipun mengangkat
telepon yang berdering atau melakukan pekerjaan sambilan lainnya. Tanpa pengawasan Anda, kecelakaan sangat
mungkin terjadi hanya dalam hitungan detik!

9. Lihat Perspektif Lain. Sekali dalam seminggu cobalah abaikan pelanggaran-pelanggaran kecil yang dilakukan
anak seperti tatakrama di meja makan, lupa membersihkan ceceran makan, dan lainnya. Ingat, Anda juga bukan
pribadi yang sempurna, kan?

10. Sempatkan Istirahat. Bila ngotot ingin mematuhi jadwal tidur, Anda akan mudah terjaga dan ini akan membuat
mental rapuh, yang ujung-ujungnya berpeluang menyebabkan depresi pascamelahirkan, lho! Jadi, sempatkan tidur
dan istirahatlah ketika bayi Anda tertidur pulas.

11. Jangan Panik! Tak perlu kelewat panik bila Si Kecil hanya mau makanan yang itu-itu saja. Anak tak akan
kelaparan, kok. Jadi, jangan bosan menawarkan makanan yang beragam dalam porsi kecil tapi sering. Yang jelas, beri
contoh dan biarlah ia melihat sendiri betapa Anda menyukai sayur mayur yang selama ini tak disukainya.

12. Lakukan Sekarang, Bicarakan Nanti. Tegurlah langsung dan tunjukkan respons Anda sesegera mungkin ketika
anak berperilaku menyimpang. Membahas secara panjang lebar soal insiden itu bisa menyusul, di mana Anda juga
perlu menegaskan lagi sejumlah aturan dan apa yang Anda harapkan dari Si Kecil.

13. Jadilah Mainan Favorit Si Kecil. Daripada sibuk mencarikan Si Kecil mainan mahal, mengapa Anda tidak
menghiburnya sendiri? Anda bisa bergerak sesukanya, menirukan bebunyian, menari, menyanyi, melakukannya
bergantian, dan menanggapi apa yang diperbuatnya. Anda justru akan tampil hangat, penuh kelembutan, sekaligus
menjadi mainan yang dijamin aman bagi Si Kecil.

14. Amankah Mobil Anda? Pastikan berulang kali kondisi jok mobil Anda benar-benar aman bagi Si Kecil. Jok
khusus anak yang disetel tidak semestinya sering menjadi penyebab kecelakaan. Kapanpun Anda mengajak anak
berkendara, pastikan segalanya sudah pada tempat yang semestinya, ya!

15. Bersikaplah Romantis. Sempatkanlah bersenang-senang berdua bersama pasangan. Tunjukkan kemesraan
suami-istri, misalnya dengan mencium Si Dia di depan anak, dan biarkan anak mendengar Anda membisikkan "I love
you" pada pasangan dengan mesra.

16. Bawa P3K Di Tas. Jangan lupa, bawalah selalu penawar mual/ muntah di dalam tas tangan Anda. Di rumah
mungkin selalu tersedia, tapi siapa tahu Anda pun membutuhkannya saat di perjalanan. Terlebih bila dokter
menyarankan demikian.

17. Susunlah Album Foto. Paling tidak sisihkan selama 2 jam dalam sebulan untuk menyusun foto-foto agar
menjadi kenangan yang tak terlupakan bagi seluruh anggota keluarga. Selagi mengumpulkan foto-foto dan barang-
barang suvenir, bukankah Anda jadi punya waktu mereflkesikan kembali hal-hal berharga dalam hidup?

18. Rawatlah Kulit Si Kecil. Sediakan selalu baby oil atau krim pelembut dalam kemasan jumbo di meja kamar
bayi. Pijatlah kedua kakinya secara bergantian sambil mengoleskan krim pelembut setiap kali mengganti popok atau
baju.
19. Sah Saja Memberi Julukan. Panggilah Si Kecil dengan sebutan khusus yang mencerminkan uniknya hubungan
Anda dengannya. Seorang anak yang punya banyak nama panggilan merupakan anak yang senantiasa disayangi
dengan berbagai cara.

20. Cermati Label Kemasan Makanan. Bacalah label di setiap kemasan makanan untuk anak yang Anda beli.
Pastikan Anda tahu persis apa yang dimakan Si Kecil, terutama bila ia mengidap alergi terhadap jenis bahan pangan
tertentu.

21. Kompak Di Depan Anak. Sekalipun Anda dan pasangan berbeda pendapat mengenai strategi mengatasi
kenakalan anak, tetaplah bicarakan dan baca berbagai sumber mengenai hal itu sampai Anda berdua mencapai
kesepakatan atau menemukan kompromi dan solusi terbaik.

22. Jangan Lewatkan Ritual Keluarga. Seminggu sekali lakukan aktivitas bersama, seperti membaca buku dengan
suara keras, berjalan-jalan, menjelajahi hutan, atau menikmati sarapan hari Minggu di kedai makan yang sama.
Percayalah, pengalaman khusus ini akan meninggalkan kesan mendalam di ingatan anak-anak.

23. Cegah Tindak Kekerasan Sejak Awal. Jangan pernah biarkan anak memukul atau menendang Anda, sekalipun
saat itu ia begitu marah atau frustrasi. Segera tahan tangan atau kakinya cukup kuat, sehingga ia tak bisa melancarkan
aksinya. Katakan dengan tegas dan suara lantang, "Kamu tidak boleh memukul Ibu."

24. Asah Kepekaan Seninya. Ajari Si Kecil nyanyian-nyanyian sederhana atau puisi khusus untuk anak-anak.
Melantunkan lagu dan puisi sungguh menyenangkan sekaligus mengasah keterampilan Si Kecil dalam mengatur
intonasi yang kelak dibutuhkannya dalam membaca.

25. Jangan Langsung Menggendongnya. Ketika bayi terbangun, jangan langsung menggendongnya.
Membiarkannya belajar menenangkan diri sendiri merupakan kunci penting agar ia tak rewel di saat tidur malam. Tak
perlu resah bila ia langsung tertidur pulas saat Anda menyusuinya atau memberinya susu botol sebelum waktu tidur.
Sengaja mengganti popok biasanya merupakan cara ampuh untuk membuatnya terbangun.

Perkembangan anak pada usia antara tiga-enam tahun adalah perkembangan sikap sosialnya. Konsep perkembangan
sosial mengacu pada perilaku anak dalam hubungannya dengan lingkungan sosial untuk mandiri dan dapat
berinteraksi atau untuk menjadi manusia sosial. Interaksi adalah komunikasi dengan manusia lain, suatu hubungan
yang menimbulkan perasaan sosial yang mengikatkan individu dengan sesama manusia, perasaan hidup
bermasyarakat seperti tolong menolong, saling memberi dan menerima, simpati dan empati, rasa setia kawan dan
sebagainya.

Melalui proses interaksi sosial tersebutlah seorang anak akan memperoleh pengetahuan, nilai-nilai, sikap dan
perilaku-perilaku penting yang diperlukan dalam partisipasinya di masyarakat kelak; dikenal juga dengan sosialisasi.
Hal ini sejalan dengan yang dikatakan Zanden (1986) bahwa kita terlahir bukan sebagai manusia, dan baru akan
menjadi manusia hanya jika melalui proses interaksi dengan orang lain. Artinya, sosialisasi merupakan suatu cara
untuk membuat seseorang menjadi manusia (human) atau untuk menjadi mahluk sosial yang sesungguhnya (social
human being).

Pengaruh paling besar selama perkembangan anak pada lima tahun pertama kehidupannya terjadi dalam keluarga.
Orangtua, khususnya ibu mempunyai peranan penting dalam pembentukan kepribadian anak, walaupun kualitas
kodrati dan kemauan anak akan ikut menentukan proses perkembangannya. Sedang kepribadian orangtua sangat
besar pengaruhnya pada pembentukan pribadi anak.

C. Hubungan Keluarga dengan anak


Keluarga dalam hubungannya dengan anak diidentikan sebagai tempat atau lembaga pengasuhan yang paling dapat
memberi kasih sayang, kegiatan menyusui, efektif dan ekonomis. Di dalam keluargalah kali pertama anak-anak
mendapat pengalaman dini langsung yang akan digunakan sebagai bekal hidupnya dikemudian hari melalui latihan
fisik, sosial, mental, emosional dan spritual.

Fungsi keluarga adalah bertanggung jawab dalam menjaga dan menumbuh kembangkan anggota-anggotanya.
Pemenuhan kebutuhan para anggota sangat penting, agar mereka dapat mempertahankan kehidupannya, yang
berupa :

1) Pemenuhan kebutuhan pangan, sandang, papan dan kesehatan untuk pengembangan fisik dan sosial,
2) Kebutuhan akan pendidikan formal, informal dan nonformal dalam rangka mengembangakan intelektual, sosial,
mental, emosional dan spritual.

D. Peran dan Fungsi Ibu


Peran dan fungsi seorang ibu adalah sebagai “tiang rumah tangga” amatlah penting bagi terselenggaranya rumah
tangga yang sakinah yaitu keluarga yang sehat dan bahagia, karena di atas yang mengatur, membuat rumah tangga
menjadi surga bagi anggota keluarga, menjadi mitra sejajar yang saling menyayangi bagi suaminya. Untuk mencapai
ketentraman dan kebahagian dalam keluarga dibutuhkan isteri yang shaleh, yang dapat menjaga suami dan anak-
anaknya, serta dapat mengatur keadaan rumah sehingga tempat rapih, menyenangkan, memikat hati seluruh anggota
keluarga.

Menurut Baqir Sharif al-Qarashi (2003 : 64), bahwa para ibu merupakan sekolah-sekolah paling utama dalam
pembentukan kepribadian anak, serta saran, untuk memenuhi mereka dengan berbagai sifat mulia, sebagaimana sabda
Nabi Muhammad SAW. yang artinya: “Surga di bawah telapak kaki ibu”, menggambarkan tanggung jawab ibu
terhadap masa depan anaknya. (Zakiyah Daradjat, 1995 : 50)
Dari segi kejiwaan dan kependidikan, sabda Nabi di atas ditunjukan kepada para orang tua khususnya para ibu, harus
bekerja keras mendidik anak dan mengawasi tingkah laku mereka dengan menanamkan dalam benak mereka
berbagai perilaku terpuji serta tujuan-tujuan mulia, adapun tugas-tugas para ibu mendidik anak-anaknya yaitu :

 Para ibu harus membiasakan perbuatan-perbuatan terpuji pada anak,


 Para ibu harus memperingatkan anak-anak mereka akan segala kejahatan dan kebiasaan buruk, perilaku yang
tidak sesuai dengan kebiasaan sosial dan agama,
 Para ibu harus memiliki kesucian dan moralitas sebagai jalan pendidikan untuk putra-putri mereka,
 Para ibu jangan berlebihan dalam memanjakan anak,
 Para ibu harus menanamkan pada anak rasa hormat pada ayah mereka,
 Para ibu jangan pernah menentang suami, sebab akan menciptakan aspek kebencian dengan kedengkian satu
sama lain,
 Para ibu harus memberi tahukan pada kepala keluarga setiap penyelewengan tingkah laku anak-anak mereka,
 Para ibu harus melindungi anak dari hal-hal buruk menggoda serta dorongan-dorongan perilaku anti sosial,
 Para ibu harus menghilangkan segala ajaran atau metode yang dapat mencederai kesucian serta kemurnian
atau meruntuhkan moral dan etika seperti buku-buku porno novel,
 Para ibu harus memelihara kesucian dan perilaku terpuji. (Baqir Sharif al-Qarashi, 2003 : 66)
 Para ibu bertanggungjawab menyusun wilayah-wilayah mental serta sosial dalam pencapaian kesempurnaan
serta pertumbuhan anak yang benar. Sejumlah kegagalan yang terjadi diakibatkan oleh pemisahan wanita dari
fungsi-fungsi dasar mereka.
 Ibu-ibu yang sering berada di luar rumah yang hanya menyisakan sedikit waktu untuk suami serta anak-anak
telah menghilangkan kebahagian anak, menghalangi anak dari merasakan nikmatnya kasih sayang ibu, sebab
mereka menjalankan berbagai pekerjaan di luar serta meninggalkan anak disebagian besar waktunya.

Fungsi keluarga Menurut beberapa sumber :

a. Menurut Narwoko dan Suyanto :


1. Fungsi Pengaturan Keturunan
Fungsi Reproduksi ini merupakan hakikat untuk kelangsungan hidup manusia dan sebagai dasar kehidpan sosial
manusia dan bukan hanya sekedar kebutuhan Biologis saja. Fungsi ini di dasarkan atas pertimbangan-pertimbangan
sosial, misalnya dapat melanjutkan keturunan, dapat mewariskan harta kekayaan, serta pemeliharaan pada hari
tuanya.

2. Fungsi Sosialisasi atau Pendidikan


Fungsi ini untuk mendidik anak mulai dari awal sampai pertumbuhan anak hingga terbentuk personality-nya. Anak-
anak lahir tanpa bekal sosial, agar si anak dapat berpartisipasi maka harus disosialisasi oleh orang tuanya tentang
nilai-nilai yang ada dalam masyarakat. Jadi, dengan kata lain, anak-anak harus belajar norma-norma mengenai apa
yang senyatanya baik dan tidak layak dalam masyarakat.
Berdasarkan hal ini, maka anak-anak harus memperoleh standar tentang nilai-nilai apa yang diperbolehkan dan tidak,
apa yang baik, yang indah, yang patut, dsb. Mereka harus dapat berkomunikasi dengan anggota masyarakat lainnya
dengan menguasai sarana-sarananya.

Dalam keluarga, anak-anak mendapatkan segi-segi utama dari kepribadiannya, tingkah lakunya, tingkah pekertinya,
sikapnya, dan reaksi emosionalnya. Karena itulah keluarga merupakan perantara antara masyarakat luas dan individu.
Perlu diketahui bahwa kepribadian seseorang itu diletakkan pada waktu yang sangat muda dan yang berpengaruh
besar sekali terhadap kepribadian seseorang adalah keluarga,khususnya seorang ibu.

3. Fungsi Ekonomi atau Unit Produksi

Urusan-urusan pokok untuk mendapatkan suatu kehidupan dilaksanakan keluarga sebagai unit-unit produksi yang
seringkali dengan mengadakan pembagian kerja di antara anggota-anggotanya.

Jadi, keluarga bertindak sebagai unit yang terkoordinir dalam produksi ekonomi. Ini dapat menimbulkan adanya
industri-industri rumah dimana semua anggota keluarga terlibat di dalam kegiatan pekerjaan atau mata pencaharian
yang sama. Dengan adanya fungsi ekonomi maka hubungan di antara anggota keluarga bukan hanya sekadar
hubungan yang dilandasi kepentingan untuk melanjutkan keturunan, akan tetapi juga memandang keluarga sebagai
sistem hubungan kerja.
Suami tidak hanya sebagai kepala rumah tangga, tetapi juga sebagai kepala dalam bekerja. Jadi, hubungan suami-istri
dan anak-anak dapat dipandang sebagai teman sekerja yang sedikit banyak juga dipengaruhi oleh kepentingan-
kepentingan dalam kerja sama. Fungsi ini jarang sekali terlihat pada keluarga di kota dan bahkan fungsi ini dapat
dikatakan berkurang atau hilang sama sekali.

4.Fungsi Pelindung
Fungsi ini adalah melindungi seluruh anggota keluarga dari berbagai bahaya yang dialami oleh suatu keluarga.
Dengan adanya negara, maka fungsi ini banyak diambil alih oleh instansi negara. Seorang kepala rumah tangga wajib
untuk melindungi keluarganya.

5. Fungsi Penentuan Status


Jika dalam masyarakat terdapat perbedaan status yang besar, maka keluarga akan mewariskan statusnya pada tiap-tiap
anggota atau individu sehingga tiap-tiap anggota keluarga mempunyai hak-hak istimewa. Perubahan status ini
biasanya melalui perkawinan. Hak-hak istimewa keluarga, misalnya menggunakan hak milik tertentu, dan lain
sebagainya.

Cara memperoleh status :


Assign Status adalah status sosial yang diperoleh seseorang di dalam lingkungan masyarakat yang bukan didapat
sejak lahir tetapi diberikan karena usaha dan kepercayaan masyarakat. Contohnya : Seseorang yang dijadikan kepala
suku, ketua adat, sesepuh, dsb.
Ascribed Status adalah tipe status yang didapat sejak lahir. Seperti jenis kelamin, ras, kasta, keturunan, suku, usia,
dan lain sebagainya.
6. Fungsi Pemeliharaan
Keluarga pada dasarnya berkewajiban untuk memelihara anggotanya yang sakit, menderita, dan tua. Fungsi
pemeliharaan ini pada setiap masyarakat berbeda-beda, tetapi sebagian masyarakat membebani keluarga dengan
pertanggungjawaban khusus terhadap anggotanya bila mereka tergantung pada masyarakat.
Seiring dengan perkembangan masyarakat yang makin modern dan kompleks, sebagian dari pelaksanaan fungsi
pemeliharaan ini mulai banyak diambil alih dan dilayani oleh lembaga-lembaga masyarakat, misalnya rumah sakit,
rumah-rumah yang khusus melayani orang-orang jompo.

7. Fungsi Afeksi
Salah satu kebutuhan dasar manusia adalah kebutuhan kasih sayang atau rasa dicintai. Sejumlah studi telah
menunjukkan bahwa kenakalan yang serius adalah salah satu ciri khas dari anak yang sama sekali tidak pernah
mendapatkan perhatian atau merasakan kasih sayang. Di sisi lain, ketiadaan afeksi juga akan menggerogoti
kemampuan seorang bayi untuk bertahan hidup.

(http://organisasi.org/jenis-jenis-macam-mac am-status-sosialstratifikasi-sosial-dalam-masyarakat-sosiologi).

Fungsi Keluarga Menurut Effendi (1998)


1.Fungsi Biologis

 Untuk meneruskan keturunan


 Memelihara dan membesarkan anak
 Memenuhi kebutuhan gizi keluarga
 Memelihara dan merawat anggota keluarga

2. Fungsi psikologis
 Memberikan kasih sayang dan rasa aman
 Memberikan perhatian diantara anggota keluarga
 Membina pendewasaan kepribadian anggota keluarga
 Memberikan indentitas keluarga

3. Fungsi Sosialisasi
 Membina sosialisasi pada anak
 Membentuk norma-norma tingkah laku sesuai dengan tingkat perkembangan anak
 Meneruskan nilai-nilai budaya

4. Fungsi Ekonomi
 Mencari sumber-sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga
 Pengaturan penggunaan penghasilan keluarga untuk memenuhi kebutuhan keluarga
 Menabung untuk memenuhi kebutuhan keluarga dimasa yang akan datang, misalnya pendidikan anak-anak,
jaminan hari tua dsb.

5. Fungsi Pendidikan
 Menyekolahkan anak untuk memberikan pengetahuan, keterampilan, dan membentuk pilaku anak sesuai
dengan bakat dan minat yang di milikinya.
 Mempersiapkan anak untuk kehidupan dewasa yang akan datang dalam memnuhio peranannya sebagai orang
dewasa.
 Mendidik anak sesuai dengan tingkat-tingkat perkembangan

Fungsi keluarga dalam dunia pendidikan :


Fungsi Edukasi
Fungsi edukasi terkait dengan pendidikan anak secara khusus dan pembinaan anggota keluarga pada umumnya. Ki
Hajar Dewantara menyebutkan bahwa “keluarga adalah pusat pendidikan yang utama dan pertama bagi anak”. Fungsi
pendidikan amat fundamental untuk menanamkan nilai-nilai dan sistem perilaku manusia dalam keluarga.

Fungsi Sosialisasi
Fungsi sosialisasi bertujuan untuk mempersiapkan anak menjadi anggota masyarakat. Anak adalah pribadi yang
memiliki sifat kemanusiaan sebagai makhluk individu dan juga sebagai makhluk sosial. Menarik untuk memaknai
pendapat Karl Mannheim yang dikutip oleh MI Soelaeman (1994), bahwa “anak tidak didik dalam ruang dan keadaan
yang abstrak, melainkan selalu di dalam dan diarahkan kepada kehidupan masyarakat tertentu.”. Dengan demikian
anak memiliki prinsip sosialitas, disamping prinsip individualitas. Prinsip sosialitas, mengharuskan anak dibawa dan
diarahkan untuk mengenali nilai-nilai sosial lingkungannya oleh orang tuanya.

Fungsi Proteksi
Tujuan dari fungsi proteksi yaitu untuk melindungi anak bukan saja secara fisik, melainkan pula secara psikis. Secara
fisik fungsi perlindungan ditujukan untuk menjaga pertumbuhan biologisnya sehingga dapat mejalankan tugas secara
proporsional. Disamping itu fungsi proteksi psikis dan spiritual yaitu dengan mengendalikan anak dari pergaulan
negatif dan sikap lingkungan yang cenderung menekan perkembangan psikologinya.
Fungsi Afeksi
Fungsi ini terkait dengan emosional anak. Anak akan merasa nyaman apabila mampu melakukan komuniasi dengan
keluarganya dengan totalitas seluruh kepribadiannya. Kasih sayang yang dicurahkan kepada anak akan memberi
kekuatan, dukungan atas kehiduapn emosionalnya yang berpengaruh pada kualitas hidupnya di masa depan.

Fungsi Religius
Yang dimaksud adalah fungsi keluarga untuk mengarahkan anak ke arah pemerolehan keyakinan keberagamaannya
yang benar. Keluarga menjadi kendali utama yang dapat menunjukkan arah menjadi Islam yang kaffah atau sekuler.

Fungsi Ekonomis
Fungsi ini berkaitan dengan pemenuhan selayaknya kebutuhan yang bersifat materi. Secara normatif anak harus
dipersiapkan agar kelak memikul tanggung jawab ekonomi keluarga, membangun kepribadian yang mandiri bukan
menjadi objek pemaksaan orang tua.

Fungsi Rekreasi
Memberikan wahana dan situasi yang memungkinkan terjadinya kehangatan, keakraban, kebersamaan dan
kebahagiaan bersama seluruh anggota keluarga.

Fungsi Biologis
Faktor biologis adalah faktor alamiyah manusia. Faktor ini meliputi perlindungan kesehatan, termasuk juga
memperhatikan pertumbuhan biologisnya seta perlindungan terhadap hubungan seksualnya.

Fungsi Keluarga menuju terbentuknya sumberdaya pembangunan yang handal dengan ketahanan keluarga yang kuat
dan mandiri, yaitu:
1) Fungsi Keagamaan
Dalam keluarga dan anggotanya fungsi ini perlu didorong dan dikembangkan agar kehidupan keluarga sebagai
wahana persemaian nilai-nilai luhur budaya bangsa untuk menjadi insan agamis yang penuh iman dan takwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa.
2) Fungsi Sosial Budaya
Fungsi ini memberikan kesempatan kepada keluarga dan seluruh anggotanya untuk mengembangkan kekayaan
budaya bangsa yang beraneka ragam dalam satu kesatuan, sehingga dalam hal ini diharapkan ayah dan ibu untuk
dapat mengajarkan dan meneruskan tradisi, kebudayaan dan sistem nilai moral kepada anaknya.
3) Fungsi Cinta kasih
Hal ini berguna untuk memberikan landasan yang kokoh terhadap hubungan anak dengan anak, suami dengan istri,
orang tua dengan anaknya serta hubungan kekerabatan antar generasi, sehingga keluarga menjadi wadah utama
bersemainya kehidupan yang penuh cinta kasih lahir dan batin. Cinta menjadi pengarah dari perbuatan-perbuatan dan
sikap-sikap yang bijaksana.
4) Fungsi Melindungi
Fungsi ini dimaksudkan untuk menambahkan rasa aman dan kehangatan pada setiap anggota keluarga.
5) Fungsi Reproduksi
Fungsi yang merupakan mekanisme untuk melanjutkan keturunan yang direncanakan dapat menunjang terciptanya
kesejahteraan manusia di dunia yang penuh iman dan takwa.
6) Fungsi Sosialisasi dan Pendidikan
Fungsi yang memberikan peran kepada keluarga untuk mendidik keturunan agar bisa melakukan penyesuaian dengan
alam kehidupannya di masa yang akan datang.
7) Fungsi Ekonomi
Sebagai unsur pendukung kemandirian dan ketahanan keluarga.
8) Fungsi Pembinaan Lingkungan
Memberikan kepada setiap keluarga kemampuan menempatkan diri secara serasi, selaras, seimbang sesuai dengan
daya dukung alam dan lingkungan yang berubah secara dinamis.

Menurut Friedman (1988) struktur keluarga terdiri atas::



 Pola dan proses komunikasi
 Struktur peran
 Struktur kekuatan 
 Nilai-nilai keluarga

Fungsi Keluarga secara umum :


1. Fungsi Pendidikan. Dalam hal ini tugas keluarga adalah mendidik dan menyekolahkan anak untuk mempersiapkan
kedewasaan dan masa depan anak bila kelak dewasa.
2. Fungsi Sosialisasi anak. Tugas keluarga dalam menjalankan fungsi ini adalah bagaimana keluarga mempersiapkan
anak menjadi anggota masyarakat yang baik.
3. Fungsi Perlindungan. Tugas keluarga dalam hal ini adalah melindungi anak dari tindakan-tindakan yang tidak baik
sehingga anggota keluarga merasa terlindung dan merasa aman.
4. Fungsi Perasaan. Tugas keluarga dalam hal ini adalah menjaga secara instuitif merasakan perasaan dan suasana
anak dan anggota yang lain dalam berkomunikasi dan berinteraksi antar sesama anggota keluarga. Sehingga saling
pengertian satu sama lain dalam menumbuhkan keharmonisan dalam keluarga.
5. Fungsi Religius. Tugas keluarga dalam fungsi ini adalah memperkenalkan dan mengajak anak dan anggota
keluarga yang lain dalam kehidupan beragama, dan tugas kepala keluarga untuk menanamkan keyakinan bahwa ada
keyakinan lain yang mengatur kehidupan ini dan ada kehidupan lain setelah di dunia ini.
6. Fungsi Ekonomis. Tugas kepala keluarga dalam hal ini adalah mencari sumber-sumber kehidupan dalam
memenuhi fungsi-fungsi keluarga yang lain, kepala keluarga bekerja untuk mencari penghasilan, mengatur
penghasilan itu, sedemikian rupa sehingga dapat memenuhi rkebutuhan-kebutuhan keluarga.
7. Fungsi Rekreatif. Tugas keluarga dalam fungsi rekreasi ini tidak harus selalu pergi ke tempat rekreasi, tetapi yang
penting bagaimana menciptakan suasana yang menyenangkan dalam keluarga sehingga dapat dilakukan di rumah
dengan cara nonton TV bersama, bercerita tentang pengalaman masing-masing, dsb.
8. Fungsi Biologis. Tugas keluarga yang utama dalam hal ini adalah untuk meneruskan keturunan sebagai generasi
penerus.

Fungsi Keluarga Menurut Drs. Soewaryo Wangsanegara :


a. Pembentukkan kepribadian; dalam lingkungan keluarga, para orang tua meletakkan dasar-dasar kepribadiankepada
anak-anaknya, dengan tujuan untuk memproduksikan serta melestarikan kepribadian mereka kepada anak cucu dan
keturunannya.
b. Erat kaitannya dengan butir, keluarga juga berfungsi sebagai alat reproduksi kepribadian - kepribadian yang
berakar dari etika, estetika, moral, keagamaan, dan kebudayaan yang berkorelasi fungsional dengan sebuah struktur
masyarakat tertentu.
c. Keluarga merupakan eksponen dari kebudayaan masyarakat, karena menempati posisi kunci. Keluarga adalah
sebagai jenjang dan perantara pertama dalam transmisi kebudayaan.
d. Keluarga berfungsi sebagai lembaga perkumpulan perekonomian, Pada kelompok -keliompok masyarakat modern
perkonomian berkembang sangat pesat. Namun ikatan-ikatan kekeluargaan masih terjalin kuat dan sering
memengaruhi atau menguasai bidang perekonomian mereka.
e. Keluarga berfungsi sebagai pusat pengasuhan dan pendidikan.

D. Kesimpulan
Dari beberapa paparan tersebut dapat di ambil kesimpulan bahwa pendidikan dalam keluarga merupakan pendidikan
awal bagi anak karena pertama kalinya mereka mengenal dunia terlahir dalam lingkungan keluarga dan dididik oleh
orang tua. Sehingga pengalaman masa anak-anak merupakan faktor yang sangat penting bagi perkembangan
selanjutnya, keteladanan orang tua dalam tindakan sehari-hari akan menjadi wahana pendidikan moral bagi anak,
membentuk anak sebagai makhluk sosial, religius, untuk menciptakan kondisi yang dapat menumbuh kembangkan
inisiatif dan kreativitas anak.

Referensi:
http://id.shvoong.com/social-sciences/sociology/2050236-definisi-jenis-dan-fungsi-keluarga/
http://ichwanmuis.wordpress.com/2010/07/30/definisi-bentukfungsi-serta-pendekatan-keluarga/
http://www.scribd.com/doc/4857129/KONSEP-KELUARGA
http://ichwanmuis.com/?p=176
KELUARGA DISFUNGSI DAN DAMPAKNYA TERHADAP PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN ANAK

Mata Kuliah: Penulisan Karya Ilmiah


Dosen Pengampu: Dra. Sri Tutur Marthaningsih, M. Pd.
Disusun Oleh:
Nama : Masayu Ninda Arum T. F. N. P.
NIM : 09001053

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN
YOGYAKARTA
2011

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Setiap manusia di bumi ini pada umumnya berfitrah untuk melestarikan keturunan, mempunyai dan mewujudkan
lingkungan kondusif yang tentram dan sejahtera. Secara umum lingkungan itu dinamakan keluarga.
Lingkungan keluarga ibarat organisasi yang di dalamnya terdapat sistem. Dalam sistem tersebut akan ada peraturan
dan hukum yang disepakati demi mencapai tujuan bersama dalam rangka keutuhan keluarga. Adapun di dalam
keluarga terdiri dari satu orang ayah sebagai pemimpin atau imam, satu orang ibu sebagai pendamping pemimpin
keluarga; yaitu ayah. Ketika ayah tidak ada di rumah, maka ibu yang berhak dan wajib menggantikan posisi ayah
sebagai pemimpin. Anak yang nantinya mungkin berjumlah lebih dari satu merupakan penerus darah daging ayah dan
ibu.
Setiap anggota dalam keluarga memiliki tugas masing-masing yang harus dijalankan demi tercapainya tujuan
bersama dalam keutuhan keluarga. Keselarasan tugas yang berjalan bersama dan beriringan ini tentunya akan
memiliki pengaruh yang kuat terhadap keadaan emosi masing-masing.
Keharmonisan akan terwujud apabila tiap-tiap anggota keluarga memiliki kesadaran penuh dalam menjalankan hak
dan kewajibannya di dalam rumah. Hirarki kebutuhan yang salah satunya ialah membutuhkan cinta, kasih sayang dan
rasa aman tidak dapat dijauhkan dari alasan seseorang dalam mewujudkan keinginannya memiliki keluarga
harmonis.

B. Manfaat dan Tujuan


1. Sebagai mahasiswa yang nantinya pasti akan atau sudah berkeluarga dapat mengetahui dan memahami makna dari
keluarga, khususnya hubungan antar anggota keluarga secara sehat
2. Sebagai mahasiswa calon konselor dapat mengetahui sejauh mana peran keluarga terhadap perkembangan
kepribadian peserta didik
3. Dapat menjadi petunjuk agar bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari
4. Dapat mengetahui perbandingan antara keluarga yang sehat/ harmonis dengan keluarga disfungsi

C. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan keluarga disfungsi?
2. Sejauh mana dampak keluarga disfungsi terhadap pembentukan kepribadian anak?
3. Upaya apa saja yang dapat dilakukan dalam rangka menangani anak yang korban keluarga disfungsi?

BAB II
LANDASAN TEORI
A. Pengertian Keluarga
Keluarga merupakan suatu sistem sosial terkecil dalam masyarakat. Kaluarga merupakan sistem karena di dalamnya
setiap anggota keluarga saling berinteraksi dengan anggota keluarga yang lain untuk suatu keutuhan. Sebagai sebuah
sistem keluarga memiliki ciri-ciri salaing ketergantungan (interdependence), keutuhan (wholeness), tata cara dan
peraturan diri (patterns and self regulation), serta keterbukaan (openness) (Addler & Rodman, 1991).
“Keluarga adalah lembaga sosial dasar dari mana semua lembaga atau pranata sosial lainnya berkembang. Di
masyarakat mana pun di dunia, keluarga merupakan kebutuhan manusia yang universal dan menjadi pusat terpenting
dari kegiatan dalam kehidupan individu” (Narwoko dan Suyanto, 2004).

B. Pengertian Keluarga Disfungsi


Sebagai sebuah sistem, keluarga dapat terpecah apabila salah satu atau lebih anggota keluarga tidak menjalankan
tugas dan fungsinya dalam keluarga hingga menyebabkan terjadinya keluarga disfungsi. Hal ini tentu akan
mempengaruhi keutuhan keluarga sebagai sebuah sistem. Disfungsi diartikan sebagai tidak dapat berfungsi dengan
normal sebagaimana mestinya.
Keluarga disfungsi dapat diartikan sebagai sebuah sistem sosial terkecil dalam masyarakat dimana anggota-
anggotanya tidak atau telah gagal manjalankan fungsi-fungsi secara normal sebagaimana mestinya.
Keluarga disfungsi; hubungan yang terjalin di dalamnya tidak berjalan dengan harmonis, seperti fungsi masing-
masing anggota keluarga tidak jelas atau ikatan emosi antar anggota keluarga kurang terjalin dengan baik (Siswanto,
2007).

C. Fungsi-fungsi Keluarga
Beberapa fungsi keluarga adalah (Narwoko dan Suyanto, 2004):
1. Fungsi Pengaturan Keturunan
Dalam masyarakat orang telah terbiasa dengan fakta bahwa kebutuhan seks dapat dipuaskan tanpa adanya prekreasi
(mendapatkan anak) dengan berbagai cara, misalnya kontrasepsi, abortus, dan teknik lainnya. Meskipun sebagian
masyarakat tidak membatasi kehidupan seks pada situasi perkawinan, tetapi semua masyarakat setuju bahwa keluarga
akan menjamin reproduksi. Karena fungsi reproduksi ini merupakan hakikat untuk kelangsungan hidup manusia dan
sebagai dasar kehidupan sosial manusia dan bukan hanya sekadar kebutuhan biologis saja. Fungsi ini didasarkan atas
pertimbangan-pertimbangan sosial, misalnya dapat melanjutkan keturunan, dapat mewariskan harta kekayaan, serta
pemeliharaan pada hari tuanya. Pada umumnya masyarakat mengatakan bahwa perkawinan tanpa menghasilkan anak
merupakan suatu kemalangan karena dapat menimbulkan hal-hal yang negatif.
2. Fungsi Sosialisasi atau Pendidikan
Fungsi ini untuk mendidik anak mulai dari awal sampai pertumbuhan anak hingga terbentuk kepribadian. Anak lahir
tanpa bekal sosial, agar anak dapat berpartisipasi maka harus disosialisasi oleh orang tuanya tentang nilai-nilai yang
ada dalam masyarakat. Dengan kata lain, anak-anak harus belajar norma-norma mengenai apa yang layak dan tidak
layak dalam masyarakat. Berdasarkan hal ini, maka anak-anak harus memperoleh standar tentang nilai-nilai apa yang
diperbolehkan dan tidak, apa yang baik, yang indah, yang pantas dan sebagainya. Mereka harus dapat berkomunikasi
dengan anggota masyarakat lainnya dengan menguasai sarana-sarananya.
Dalam keluarga, anak-anak mendapatkan segi-segi utama dari kepribadiannya, tingkah lakunya, budi pekertinya,
sikapnya, dan reaksi emosionalnya. Karena itulah keluarga merupakan perantara antara masyarakat luas dan individu.
Perlu diketahui bahwa kepribadian seseorang itu diletakkan pada waktu yang sangat muda dan yang berpengaruh
besar terhadap kepribadian seseorang adalah keluarga, khususnya peran seorang ibu.
3. Fungsi Ekonomi atau Unit Produksi
Urusan-urusan pokok untuk mendapatkan suatu kehidupan dilaksanakan keluarga sebagai unit-unit produksi yang
seringkali dengan mengadakan pembagian kerja di antara anggota-anggotanya.
Jadi, keluarga bertindak sebagai unit yang terkoordinir dalam produksi ekonomi. Ini dapat menimbulkan adanya
industri-industri rumah dimana semua anggota keluarga terlibat di dalam kegiatan pekerjaan atau mata pencaharian
yang sama. Dengan adanya fungsi ekonomi maka hubungan di antara anggota keluarga bukan hanya sekedar
hubungan yang dilandasi kepentingan untuk melanjutkan keturunan, akan tetapi juga memandang keluarga sebagai
sistem hubungan kerja. Suami tidak hanya sebagai kepala rumah tangga, tetapi juga sebagai kepala dalam bekerja.
Jadi, hubungan suami-istri dan anak-anak dapat dipandang sebagai teman sekerja yang sedikit banyak juga
dipengaruhi oleh kepentingan-kepentingan dalam kerja sama. Fungsi ini jarang sekali terlihat pada keluarga di daerah
perkotaan dan bahkan fungsi ini dapat dikatakan berkurang atau hilang sama sekali.
4. Fungsi Pelindung
Fungsi ini adalah melindungi seluruh anggota keluarga dari berbagai bahaya yang dialami oleh suatu keluarga.
Dengan adanya negara, maka fungsi ini banyak diambil alih oleh instansi negara.
5. Fungsi Penentuan Status
Jika dalam masyarakat terdapat perbedaan status yang besar, maka keluarga akan mewariskan statusnya pada tiap-tiap
anggota atau individu sehingga tiap-tiap anggota keluarga mempunyai hak-hak istimewa. Perubahan status ini
biasanya melalui perkawinan. Hak-hak istimewa keluarga, misalnya menggunakan hak milik tertentu, dan lain
sebagainya. Jadi, status dapat diperoleh melalui assign status maupun ascribed status. Assign Status adalah status
sosial yang diperoleh seseorang di dalam lingkungan masyarakat yang bukan didapat sejak lahir tetapi diberikan
karena usaha dan kepercayaan masyarakat. Contohnya seseorang yang dijadikan kepala suku, ketua adat, sesepuh,
dan sebagainya. Sedangkan Ascribed Status adalah tipe status yang didapat sejak lahir seperti jenis kelamin, ras,
kasta, keturunan, suku, usia, dan lain sebagainya.
6. Fungsi Pemeliharaan
Keluarga pada dasarnya berkewajiban untuk memelihara anggotanya yang sakit, menderita, dan tua. Fungsi
pemeliharaan ini pada setiap masyarakat berbeda-beda, tetapi sebagian masyarakat membebani keluarga dengan
pertanggungjawaban khusus terhadap anggotanya bila mereka tergantung pada masyarakat. Seiring dengan
perkembangan masyarakat yang makin modern dan kompleks, sebagian dari pelaksanaan fungsi pemeliharaan ini
mulai banyak diambil alih dan dilayani oleh lembaga-lembaga masyarakat, misalnya rumah sakit, rumah-rumah yang
khusus melayani orang-orang jompo.
6. Fungsi Afeksi
Salah satu kebutuhan dasar manusia adalah kebutuhan kasih sayang atau rasa dicintai. Sejumlah studi telah
menunjukkan bahwa kenakalan yang serius adalah salah satu ciri khas dari anak yang sama sekali tidak pernah
mendapatkan perhatian atau merasakan kasih sayang. Di sisi lain, ketiadaan afeksi juga akan menggerogoti
kemampuan seorang bayi untuk bertahan hidup (Horton dan Hunt, 1987 dalam Narwoko dan Suyanto, 2004).

BAB III
PEMBAHASAN

A. Faktor Penyebab Keluarga Disfungsi


1. Kurangnya Persiapan antara Suami dan Istri Ketika Hendak Membina Rumah Tangga
Adanya pernikahan yang didorong oleh emosi hanya akan menimbulkan adanya disfungsi keluarga. Hal ini dapat
terlihat dari suami/istri yang tidak dapat menerima kekurangan yang ada. Ketika nanti terjadi suatu kesalahpahaman,
emosi masing-masing terlalu mudah meningkat hingga berujung pada perdebatan mempertahankan ego masing-
masing. Perdebatan yang terlalu sering terjadi ini bahkan menyebabkan pertengkaran. Apabila pertengkaran yang
sering terjadi ini pada suami dan istri yang belum mempunyai anak, tidak akan menjadi masalah yang berakibat pada
orang lain. Namun, akan berdampak fatal apabila pertengkaran yang sering terjadi ini di hadapan anak secara
langsung.
2. Salah Satu atau Kedua Orang tua Terlalu Sibuk
Target-target untuk memenuhi kebutuhan hidup terkadang membuat seseorang lalai akan kewajiban lain yang
seharusnya dilaksanakan. Apabila salah satu diantara ayah/ibu yang terlalu divorsir menggunakan waktunya untuk
bekerja, maka anak akan sangat kurang mendapatkan waktu senggang untuk berkumpul dengan kedua orang tua.
Bahkan apabila kedua orang tua mampu untuk menyediakan pembantu rumah tangga, tidak menutup kemungkinan
bagi anak untuk justru lebih dekat dengan pembantu rumah tangganya.

3. Komunikasi yang Tidak Efektif


Komunikasi di sini tidak semata-mata percakapan dengan bahasa biasa antara anggota keluarga. Apabila kedua orang
tua di dalam rumah terlalu sering bertengkar di hadapan anak secara langsung, anak akan menumpuk rasa marah
karena merasa tidak nyaman dengan suara-suara yang keras itu. Anak akan beranggapan bahwa dalam kehidupan
sehari-hari berbicara dengan suara keras adalah hal biasa. Bahkan mungkin termasuk kata-kata yang sering digunakan
merupakan kata-kata yang kasar dan terkesan tidak sopan bagi masyarakat pada umumnya. Nantinya ketika rasa
marah ini memuncak, anak akan berusaha mencari berbagai cara yang dianggapnya dapat melampiaskan amarahnya.
Anak akan berada pada posisi tidak mampu lagi membedakan mana yang baik dan buruk serta mana yang benar dan
salah. Nilai-nilai hidup bermasyarakat yang seharusnya dimiliki pun perlahan luntur karena tuntutan ego nya untuk
melampiaskan amarah.
4. Ketidakmampuan Kedua Orang tua dalam Menyatukan Dua Budaya yang Berbeda
Kedua orang tua yang berasal dari budaya berbeda apabila tidak terbiasa mampu menyesuaikan diri dan saling
mengerti akan sering terjadi kesalahpahaman ketika proses komunikasi berlangsung. Salah paham ini mengarah pada
perdebatan samapi pada pertengkaran. Masing-masing akan merasa bahwa dirinya sudah benar, tidak terima akan
kritik dan masukan yang diberikan. Sekalipun masukan itu bermaksud baik, namun bila yang ada hanya
kesalahpahaman maka semua itu hanya akan menjadi penyebab pertengkaran kedua orang tua.

B. Dampak-dampak Keluarga Disfungsi terhadap Pembentukan Kepribadian Anak


1. Adanya Kebimbangan pada Anak dalam Menentukan Jati Diri
Self concept yang sudah terbentuk pada diri anak kelak akan terwujud menjadi sebuah kepribadian dan jati diri bagi
anak. Namun apabila kedua orang tuanya tidak mampu menjadi sebuah teladan dan pegangan bagi anak, maka pada
diri anak hanya akan terjadi kebimbangan harus mengikuti yang mana.
Demikian hal nya ketika fungsi-fungsi dalam keluarga itu tidak terasa manfaatnya bagi anak, maka anak akan
kehilangan pedoman dan arah tujuan yang seharusnya merupakan sesuatu yang utuh, yang menjadi tujuan bersama
dalam suatu keluarga.
2. Depresi
Ayub Sani Ibrahim (2007:12) menyatakan menurut ilmu kesehatan jiwa (psikiatri), depresi merupakan penyakit yang
bagian-bagiannya terdiri dari sindroma klinik. Sindroma klinik berkaitan dengan gangguan alam perasaan, alam pikir
dan tingkah laku motoriknya yang menurun (berkurang).
Pada keadaan depresi, anak akan merasa bahwa dirinya tidak hanya sedih, perasaannya menjadi tidak senang dan
murung. Merasa kasihan terhadap dirinya sendiri.
Depresi pada anak akan muncul dalam berbagai sikap dan perilaku. Antara lain:
a. Terlalu mudah menangis
b. Terlalu mudah tersinggung
c. Sulit tidur
d. Jam tidur berlebih
e. Sering membicarakan kesedihannya
f. Terlalu menutup diri, hingga sulit bergaul dengan teman
3. Kesulitan dalam Menyesuaikan Diri
Akibat dari sikap yang terlalu tertutup dan sangat sensitif, maka anak akan merasa nyaman dengan melakukan segala
sesuatunya sendiri. Apabila ada penolakan dalam dirinya, anak akan cenderung memilih untuk diam dan tidak
berdaya untuk menyampaikan maksudnya kepada orang lain. Baik dengan alasan merasa malu atau pun takut salah.
Rasa takut salah akan muncul jika sejak kecil anak sudah terbiasa dipersalahkan orang tuanya. Segala sesuatu yang
dilakukan selalu dianggap dan dikatakan salah. Anak akan merasa kesulitan menerima keberadaan orang lain di
lingkungan baru. Sesuatu yang baru jika dirasa tidak sesuai dengan kemauannya maka anak akan lebih memilih untuk
melakukan segala sesuatunya sendirian tanpa mempedulikan keberadaan orang lain di sekitarnya.
4. Munculnya Kenakalan pada Anak
Kenakalan merupakan segala sesuatu yang apabila dilakukan oleh anak dapat menimbulkan keresahan pada orang
tua, cenderung merupakan perilaku yang mengganggu kenyamanan orang lain dan bertentangan dengan nilai-nilai
baik dan benar.
Singgih D. Gunarsa (2004:23) menyatakan beberapa bentuk kenakalan anak antara lain:
b. Berbohong/ dusta
1) Cerita-cerita khayal
2) Bohong/ dusta sebagai hasil peniruan
3) Berbohong sebagai pertahanan diri
4) Berbohong untuk menarik perhatian
5) Berbohong untuk mengimbangi suatu kekurangan
c. Pergi tanpa izin/ kabur
d. Mencuri (bentuk kenakalan melanggar hak milik)

C. Upaya Menangani Anak yang Menjadi Korban Keluarga Disfungsi


1. Upaya Preventif
a. Terhadap Peserta didik
Konselor dapat sedini mungkin mengadakan pengisian cumulative record, sehingga secara mandiri peserta didik
dapat mengenali keadaan keluarganya. Keadaan kedua orang tua, saudara kandung, anggota keluarga lain yang
tinggal satu rumah dengannya. Pengenalan identitas diri dan keluarga sediri secara mandiri setidaknya sebagai upaya
agar anak mampu mengetahui keadaan keluarganya, posisi diri sendiri dalam keluarga, potensi dan konsep diri yang
dimilikinya.
b. Terhadap Orang tua
Konselor dapat menyelenggarakan pengisian angket orang tua. Di dalamnya akan terlihat sejauh mana orang tua
memahami keadaan anaknya. Upaya apa saja yang dilakukan orang tua dalam rangka membimbing anak belajar di
rumah. Apa saja harapan orang tua terhadap proses perkembangan kepribadian anak khususnya secara psikis (kognisi
dan afeksi). Dari sini dapat diketahui sejak dini seberapa kondusif lingkungan keluarga dalam mendukung prestasi
anak.
2. Upaya Kuratif
Terhadap Peserta didik dan Orang tua
Konselor dapat menyelenggarakan bimbingan/ konseling individual. Anak bermasalah (keluarga) cenderung introvert
ketika diupayakan dengan pendekatan bimbingan kelompok. Perasaannya sangat sensitif dengan lingkungan sekitar,
termasuk terhadap teman dan guru di sekolah.
Adapun konseling individual ini juga ditujukan kepada orang tua/ anggota keluarga lain yang sekiranya tinggal satu
rumah dengan anak yang bersangkutan dalam kehidupan sehari-hari.

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Keharmonisan akan terwujud apabila tiap-tiap anggota keluarga memiliki kesadaran penuh dalam menjalankan hak
dan kewajibannya di dalam rumah. Hirarki kebutuhan yang salah satunya ialah membutuhkan cinta, kasih sayang dan
rasa aman tidak dapat dijauhkan dari alasan seseorang dalam mewujudkan keinginannya memiliki keluarga
harmonis.
Sebagai sebuah sistem, keluarga dapat terpecah apabila salah satu atau lebih anggota keluarga tidak menjalankan
tugas dan fungsinya dalam keluarga hingga menyebabkan terjadinya keluarga disfungsi. Hal ini tentu akan
mempengaruhi keutuhan keluarga sebagai sebuah sistem. Disfungsi diartikan sebagai tidak dapat berfungsi dengan
normal sebagaimana mestinya.
Dampak-dampak keluarga disfungsi terhadap pembentukan kepribadian anak, antara lain:
• Adanya kebimbangan pada anak dalam menentukan jati diri
• Kesulitan dalam menyesuaikan diri
• Depresi
• Munculnya kenakalan pada anak

B. Saran
1. Keluarga adalah lingkungan terdekat individu, merupakan tempat pertama untuk belajar mengenal identitas diri
dan orang lain. Proses pengenalan ini akan berlangsung dengan baik apabila tiap-tiap anggota keluarga sadar akan
tugasnya
2. Proses belajar ini tidak akan terlepas dari peran bahasa sebagai instrumen komunikasi, baik verbal maupun non
verbal dan keluarga yang sehat tentu akan berkomunikasi dengan cara yang sehat pula (tidak mengutamakan emosi)
3. Anak merupakan anugerah yang berhak mendapat bimbingan melalui pendidikan yang diberikan kedua orang tua.
Sudah sewajarnya jika kedua orang tua mengupayakan semaksimal mungkin terbentuknya kepribadian anak yang
sehat, melalui sikap dan perilaku sehari-hari yang dapat dijadikan contoh sehingga anak tidak kehilangan jati dirinya
4. Seperti apapun permasalahan yang terjadi antara kedua orang tua, ketika terjadi pertengkaran hendaknya tidak
dengan sengaja di hadapan anak secara langsung. Hal ini akan membuat anak merasa kehilangan rasa nyaman dan
dilindungi

DAFTAR PUSTAKA

Gunarsa, Singgih D. (2004). Psikologi Anak Bermasalah. Jakarta: Gunung Mulia.

Ibrahim, Ayub Sani. (2007). Depresi Aku Ingin Mati (Sepi sendiri di tempat yang ramai). Jakarta: Dua As-As.

Siswanto. (2007). Kesehatan Mental (Konsep, Cakupan dan Perkembangannya). Yogyakarta: C.V. Andi.

Musnamar, Thohari dkk. (1992). Dasar-dasar Konseptual Bimbingan dan Konseling Islami. Yogyakarta: UII Press.

__________(2008). Terapi Keluarga (Jiwa). www.informasi-kesehatan40.blogspot.com. Dikutip pada 17 Juli 2011.

Universitas Kristen Petra. (2008). Fungsi-fungsi Keluarga. www.diglib.petra.ac.id. Diakses pada 17 Juli 2011.
DISFUNGSI KELUARGA DAN PENGARUHNYA TERHADAP PERKEMBANGAN ANAK.

Dadang Hawari (dalam Marwisni Hasan, 2006:26) mengemukakan bahwa keluarga adalah organisasi bio-
psikososial, di mana pada anggotanya terikat dengan satu ikatan khusus untuk hidup bersama, bukan suatu ikatan
yang sifatnya statis (beku) dan membelenggu, namun suatu ikatan dinamis (bergerak) yang memungkinkan para
anggota keluarga itu berkembang dan tumbuh.
Kelahiran anak-anak awalnya positif bagi keluarga yang tidak berfungsi (disfungsional). Karena membawa
kebanggaan dan sukacita. Seolah-olah problem mereka selama ini menjadi berkurang dengan hadirnya anak. Mereka
menjadi lupa pada problem mereka. Namun setelah anak besar dan keluar rumah, problem mereka muncul kembali.
Jadi hanya terjadi pengalihan sementara.
Di sisi lain anak bisa membawa angin tak segar. Sebab anak menuntut perhatian orang tua. Namun kalau orang
tuanya masih bersifat anak-anak sulit sulit mengasuh anak dengan baik. Malah sebaliknya si ayah dan ibu yang jadi
anak dan butuh perhatian.
Karena ketidakmampuan mengasuh anak banyak orang tua memberikan pengasuhan anaknya pada baby sitter.
Ironisnya anak yang dibesarkan baby sitter cenderung punya perasaan juragan, sebab ia biasa memerintah di rumah.
Setelah anak itu besar dan menikah ia pun cenderung jadi juragan bagi pasangannya, sehingga menjadi sumber
masalah nantinya.
Waktu bersama anak bagai berlian yang hilang di era kita. Apa peran orang tua bagi anak?
1) Membantu anak menghadapi satu lingkungan yang membosankan, penuh kekerasan dan makin egois.
2) Mengajarkan anak bagaimana berkata-kata dan bertindak dalam situasi tertentu. Misalnya bagaimana menghadapi
temannya yang suka kasar dan mengejek.
3) Mengajar anak bagaimana dan kapan mengungkapkan emosinya secara asertif. Kita harus jadi contoh dalam hal
marah.
4) Beri anak kesempatan untuk marah atau menangis, dan ambil ambil waktu bicara dengan dia pribadi sesudah dia
mengungkapkan emosinya.
Adanya anak tidak jarang akhirnya menambah pro-blem, meskipun ada di antara orang tua yang berkata, “Saya hidup
ini hanya demi anak saya saja.” Namun sebenarnya itu disebabkan mereka sebagai suami dan istri sudah tidak dapat
hidup satu sama lain. Akhirnya mereka berharap anaklah yang membahagiakan mereka. Akibatnya mereka sangat
menuntut anak, supaya baik, taat, pintar, berprestasi dan sebagainya. Ini sangat keliru. Seharusnya anak bertugas
sebagai anak, bukan sebagai pembahagia orang tua. Sebagian orang tua menginvestasikan hidupnya pada anak.
Bekerja keras demi anak. Namun harapannya salah. Mereka berharap dengan kerja keras, anak bisa belajar di sekolah
yang mahal. Uang tidak masalah (ini dimanfaatkan sebagian sekolah). Tujuannya adalah agar si anak bisa kuliah di
tempat yang baik, kerja dapat gaji tinggi, dan bisa menguntungkan orang tua. Kalau prestasi anak tidak seperti
harapan orang tua, ayah atau ibu tentu akan sangat kecewa. Harapan ini sangat kuat dalam banyak orangtua zaman ini

Sumber:
Julianto Simanjubtak. 2009. “Keluarga yang Disfungsi”. Yayasan Peduli Konseling Nusantara.
Marwisni Hasan. 2006. Bimbingan Konseling Keluarga. Padang: BK FIP UNP
http://counselingcare.blogspot.com/2012/06/bimbingan-dan-konseling-keluarga.html
Memahami Fungsi Keluarga

Secara sosiologis keluarga dituntut berperan dan berfungsi untuk mencapai suatu masyarakat sejahtera yang dihuni
oleh individu (anggota keluarga) yang bahagia dan sejahtera. Fungsi keluarga perlu diamati sebagai tugas yang harus
diperankan oleh keluarga sebagai lembaga sosial terkecil. Berdasarkan pendekatan budaya dan sosiologis, fungsi
keluarga adalah sebagai berikut :
1.) Fungsi Biologis
Bagi pasangan suami istri, fungsi ini untuk memenuhi kebutuhan seksual dan mendapatkan keturunan. Fungsi ini
memberi kesempatan hidup bagi setiap anggotanya. Keluarga disini menjadi tempat untuk memenuhi kebutuhan
dasar seperti pangan, sandang, dan papan dengan syarat-syarat tertentu.
2.) Fungsi Pendidikan
Fungsi pendidikan mengharuskan setiap orang tua untuk mengkondisikan kehidupan keluarga menjadi situasi
pendidikan, sehingga terdapat proses saling belajar di antara anggota keluarga. Dalam situasi ini orang tua menjadi
pemegang peran utama dalam proses pembelajaran anak-anaknya, terutama di kala mereka belum dewasa.
Kegiatannya antara lain melalui asuhan, bimbingan, dan teladan.
3.) Fungsi Beragama
Fungsi beragama berkaitan dengan kewajiban orang tua untuk mengenalkan, membimbing, memberi teladan dan
melibatkan anak serta anggota keluarga lainnya mengenai kaidah-kaidah agama dan perilaku keagamaan. Fungsi ini
mengharuskan orang tua, sebagai seorang tokoh inti dan panutan dalam keluarga, untuk menciptakan iklim
keagamaan dalam kehidupan keluarganya.
4.) Fungsi Perlindungan
Fungsi perlindungan dalam keluarga ialah untuk menjaga dan memelihara anak dan anggota keluarga lainnya dari
tindakan negatif yang mungkin timbul. Baik dari dalam maupun dari luar kehidupan keluarga.
5.) Fungsi Sosialisasi Anak
Fungsi sosialisasi berkaitan dengan mempersiapkan anak untuk menjadi anggota masyarakat yang baik. Dalam
melaksanakan fungsi ini, keluarga berperan sebagai penghubung antara kehidupan anak dengan kehidupan sosial dan
norma-norma sosial, sehingga kehidupan di sekitarnya dapat dimengerti oleh anak, sehingga pada gilirannya anak
berpikir dan berbuat positif di dalam dan terhadap lingkungannya.
6.) Fungsi Kasih Sayang
Keluarga harus dapat menjalankan tugasnya menjadi lembaga interaksi dalam ikatan batin yang kuat antara
anggotanya, sesuai dengan status dan peranan sosial masing-masing dalam kehidupan keluarga itu. Ikatan batin yang
dalam dan kuat ini, harus dapat dirasakan oleh setiap anggota keluarga sebagai bentuk kasih sayang. Dalam suasana
yang penuh kerukunan, keakraban, kerjasama dalam menghadapi berbagai masalah dan persoalan hidup.
7.) Fungsi Ekonomis
Fungsi ini menunjukkan bahwa keluarga merupakan kesatuan ekonomis. Aktivitas dalam fungsi ekonomis berkaitan
dengan pencarian nafkah, pembinaan usaha, dan perencanaan anggaran biaya, baik penerimaan maupun pengeluaran
biaya keluarga.
8.) Fungsi Rekreatif
Suasana Rekreatif akan dialami oleh anak dan anggota keluarga lainnya apabila dalam kehidupan keluarga itu
terdapat perasaan damai, jauh dari ketegangan batin, dan pada saat-saat tertentu merasakan kehidupan bebas dari
kesibukan sehari-hari.
9.) Fungsi Status Keluarga
Fungsi ini dapat dicapai apabila keluarga telah menjalankan fungsinya yang lain. Fungsi keluarga ini menunjuk pada
kadar kedudukan (status) keluarga dibandingkan dengan keluarga lainnya.
http://www.orangtua.org/2011/12/03/memahami-fungsi-keluarga/
BAB I . KELUARGA

A. Pengertian Keluarga

Ki Hajar Dewantara sebagai tokoh pendidikan berpendapat bahwa keluarga adalah kumpulan beberapa orang yang
karena terikat oleh satu turunan lalu mengerti dan merasa berdiri sebagai satu gabungan yang hakiki, esensial, enak
dan berkehendak bersama-sama memperteguh gabungan itu untuk memuliakan masing-masing anggotanya.
Sigmund Freud keluarga itu terbentuk karena adanya perkawinan pria dan wanita. Bahwa menurut beliau keluarga
merupakan manifestasi daripada doronganseksual sehingga landasan keluarga itu adalah kehidupan seksual suami
isteri.
Dhurkeim berpendapat bahwa keluarga adalah lembaga sosial sebagai hasil faktor-faktor politik, ekonomi dan
lingkungan.

Keluarga adalah unit satuan masyarakat yang terkecil yang sekaligus merupakan suatu kelompok kecil dalam
masyarakat. Sehingga keluarga itu terbagi menjadi dua, yaitu:

a. Keluarga Kecil atau “Nuclear Family”

Keluarga inti adalah unit keluarga yang terdiri dari suami, isteri, dan anak-anak mereka; yang kadang-kadang disebut
juga sebagai “conjugal”-family.

b. Keluarga Besar “Extended Family”

Keluarga besar didasarkan pada hubungan darah dari sejumlah besar orang, yang meliputi orang tua, anak, kakek-
nenek, paman, bibi, kemenekan, dan seterusnya. Unit keluarga ini sering disebut sebagai ‘conguine family’
(berdasarkan pertalian darah).
BAB II . FUNGSI KELUARGA
B. Fungsi – fungsi Keluarga
1. Pengertian Fungsi Keluarga
Fungsi keluarga adalah suatu pekerjaan- pekerjaan atau tugas-tugas yang harus dilaksanakan di dalam atau oleh
keluarga itu.
2. Macam-macam Fungsi Keluarga

Pekerjaan – pekerjaan yang harus dilaksanakan oleh keluarga itu dapat digolongkan/ dirinci ke dalam beberapa
fungsi, yaitu:
a. Fungsi Biologis
Persiapan perkawinan yang perlu dilakukan oleh orang-orang tua bagi anak anaknya dapat berbentuk antara lain
pengetahuan tentang kehidupan sex bagi suami isteri, pengetahuan untuk mengurus rumah tangga bagi ang isteri,
tugas dan kewajiban bagi suami, memelihara pendidikan bagi anak-anak dan lain-lain. Setiap manusia pada
hakiaktnya terdapat semacam tuntutan biologis bagi kelangsungan hidup keturunannya, melalui perkawinan.
b. Fungsi Pemeliharaan
Keluarga diwajibkan untuk berusaha agar setiap anggotanya dapat terlindung dari gangguan-gangguan.
c. Fungsi Ekonomi
Keluarga berusaha menyelenggarakan kebutuhan pokok manusia, yaitu:
1. Kebutuhan makan dan minum
2. Kebutuhan pakaian untuk menutup tubuhnya
3. Kebutuhan tempat tinggal.
Berhubungan dengan fungsi penyelenggaraan kebutuhan pokok ini maka orang tua diwajibkan untuk berusaha keras
agar supaya setiap anggota keluarga dapat cukup makan dan minum, cukup pakaian serta tempat tinggal.

d. Fungsi Keagamaan
Keluarga diwajibkan untuk menjalani dan mendalami serta mengamalkan ajaran-ajaran agama dalam pelakunya
sebagai manusia yang taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
e. Fungsi Sosial
Dengan fungsi ini kebudayaan yang diwariskan itu adalah kebudayaan yang telah dimiliki oleh generasi tua, yaitu
ayah dan ibu, diwariskan kepada anak-anaknya dalam bentuk antara lain sopan santun, bahasa, cara bertingkah laku,
ukuran tentang baik burukna perbuatan dan lain-lain.
Dengan fungsi ini keluarga berusaha untuk mempersiapkan anak-anaknya bekal-bekal selengkapnya dengan
memperkenalkan nilai-nilai dan sikap-sikap yang dianut oleh masyarakat serta mempelajari peranan-perananyang
diharapkan akan mereka jalankan keak bila dewasa. Dengan demikian terjadi apa yang disebut dengan istilah
sosialisasi.

Dalam buku Ilmu Sosial Dasar karangan Drs. Soewaryo Wangsanegara, dikatakan bahwa fungsi-fungsi keluarga
meliputi beberapa hal sebagai berikut:
a. Pembentukan kepribadian;
b. Sebagai alat reproduksi;
c. Keluarga merupakan eksponen dari kebudayaan masyarakat
d. Sebagai lembaga perkumpulan perekonomian.
e. Keluarga berfungsi sebagai pusat pengasuhan dan pendidikan

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu, H. 2003. Ilmu Sosial Dasar. Jakarta: Rineka Cipta.


Cohen, J. Bruce. 1992. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rineka Cipta.
Hartono, dkk. 2001. MKDU Ilmu Sosial Dasar. Jakarta: Bumi Aksara
Sunarto, Kamanto. 1993. Pengantar Sosiologi. Jakarta: Lembaga Penerbit
Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Kesejahteraan 02.1 Tanda-tanda keluarga yang Disfungsi

BELAJAR BERTUMBUH DISFUNGSI EMOSI KELUARGA KEPUASAN


HIDUP KESEJAHTERAAN PEMBAHARUAN PEMULIHANPENGALAMAN PENGHARAPAN PERTUMBUH
AN SYARAT TANDA

A Pemahaman tentang keluarga yang disfungsi


Keluarga yang disfungsi adalah sedang tidak maksimal, atau bahkan gagal, dalam menjalankan peran, fungsi dan
tanggung jawabnya sesuai dengan kehendak Allah. Mereka sedang berfungsi dengan tidak sehat dalam melakukan
apa yang menjadi rencana dan kehendak Tuhan keluarga. Keluarga yang disfungsi akan memiliki kecenderungan
umum seperti ini:
Pertama, memiliki satu atau lebih anggota keluarga yang memiliki masalah dengan dirinya sendiri. Disfungsi seara
pribadi ini kemudian menular karena anggota keluarga yang lain harus melakukan metode atau peran tertentu untuk
menggantikan peran yang gagal tadi. Disfungsi pribadi tersebut bisa berupa masalah dalam kecanduan, kedewasaan
pribadi ataupun sakit-penyakit.
Kedua, biasanya keluarga ini akan bergantung pada suatu metode dan strategi yang tidak sehat. Metode dan strategi
ini sebenarnya tidak efektif, tidak benar, atau bahkan cenderung merusak, yang dibutuhkan pada satu masa. Namun
kemudian metode ini diteruskan dan menjadi pola, bahkan diulangi terus sehingga menjadi suatu system yang tidak
sehat. Dan setelah beberapa lama, fungsi dari system tersebut dianggap sebagai hal yang benar, dan menjadi lebih
penting daripada kualitasnya.
Ketiga, Kemudian hubungan antara anggota keluarga pun cenderung tegang, dan ada kesulitan untuk
mengembangkan komunikasi dan hubungan yang intim antar anggota keluarga.
Keempat, dalam banyak kasus, keluarga yang disfungsi akan memainkan peran untuk memperlihatkan citra sebagai
keluarga yang sehat. Dalam hal ini, sering ada banyak rahasia ataupun kelemahan-kelemahan yang harus ditutupi
ataupun dicari kompensasinya dalam bentuk yang lain.
Karena masing-masing angota belum pernah mengalami kehidupan keluarga yang normal, seringkali anggota-
anggota keluarga yang disfungsi menganggap keluarga mereka normal atau ”biasa”, dan tidak tahu atau tidak
memiliki pengalaman bagaimana berada dalam keluarga yang cenderung sehat.
Contoh kasus:
Misalkan ada seorang kepala keluarga, yang karena satu hal mengalami PHK, dan untuk sementara kemudian
perekonomian keluarga ditanggung oleh ibu. Namun karena ada ketidakdewasaan dalam diri ayah, kemudian kondisi
ini berlanjut terus. Ayah mungkin sudah mencari kerja namun tidak puas atau kemudian dikeluarkan. Tanggungjawab
ibu kemudian semakin berkembang untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Kemudian ibu menjadi sangat dominan
dalam banyak aspek keluarga yang lain.
Dalam keluarga yang disfungsi ini, satu atau beberapa aspek dalam keluarga akan menjadi terganggu, yaitu aspek:
keintiman: bagaimana menyatakan kasih
komunikasi: bagaimana cara berinteraksi
peran: bagaimana anggota keluarga berfungsi
aturan: apa yang boleh dan tidak boleh dalam keluarga
prioritas: apa yang menjadi hal yang berharga
pemecahan masalah: bagaimana mengelola konflik dan mengambil keputusan
B Aspek-aspek yang biasanya akan disfungsi dalam sebuah keluarga
Ada 6 aspek penting yang seharusnya berfungsi dengan baik dalam sebuah keluarga.
1. Keintiman: Bagaimana menyatakan Kasih
• Seberapa besar kasih di dalam keluarga
• Bagaimana menyatakan kasih
• Bagaimana mempertahankan keintiman
Dalam sebuah keluarga yang disfungsi, cara-cara menyatakan kasih dan mempertahankan keintiman akan dilakukan
dengan tidak sehat. Orang tua sangat mengasihi anak, namun dilakukan dengan cara yang sangat menuntut, bersyarat,
atau bahkan cenderung manipulative. Dalam keluarga disfungsi yang lain, kasih tidak pernah dinyatakan, hubungan
satu sama lain cenderung dingin atau penuh konflik.
2. Komunikasi: Bagaimana cara berinteraksi
• Bagaimana cara menyatakan pendapat
• Bagaimana cara mendengarkan dan memperhatikan
• Bagaimana mengelola emosi
Keluarga yang disfungsi cenderung kaku dalam cara-car berkomunikasi. Sering komunikasi berlangsung satu arah.
Pendapat anggota keluarga tidak diperhatikan. Emosi dan kemarahan diekspresikan dengan cara yang manipulative
atau menakutkan. Komunikasi tidak terjalin dengan baik.
3. Peran: Bagaimana anggota berfungsi untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan bersama
• Bagaimana cara menempatkan diri dalam keluarga: secara budaya, emosi, atau alkitabiah
• Apa hak dan tanggung jawab masing-masing anggota keluarga
Anggota keluarga tidak melakukan perannya dengan maksimal. Mungkin ayah tidak berlaku seperti ayah. Ibu tidak
berlaku seperti ibu. Anakpun tidak berlaku seperti anak. Ada anggota keluarga yang tidak bertanggung jawab. Atau
ada anggota keluarga yang lain yang diberi tanggung jawab yang berlebihan.
4. Aturan: Bagaimana membatasi apa yang boleh dan tidak
• Apa saja aturannya: nyata dan tersembunyi
• Seberapa keras diterapkan
• Seberapa fleksibel: bisa berubah ketika situasi berubah
• Hukuman dan hadiah: apa yang diberikan ketika taat/tidak taat
Keluarga yang disfungsi cenderung kaku dalam memberikan aturan. Juga sering tidak jelas dan tidak konsisten dalam
memberi aturan. Dalam keluarga yang lain cenderung permisif, dan tidak ada aturan jelas sama sekali. Yang sering
terjadi juga pemberian hukuman atau hadiah yang sering ekstrim.
5. Prioritas: Bagaimana mengurutkan hal-hal yang penting
• Tujuan-tujuan keluarga
• Apa yang dicari oleh tiap anggota
• Nilai-nilai inti keluarga
• Apa yang berharga bagi tiap anggota
Keluarga yang disfungsi biasanya hanya menghargai tujuan yang diterapkan satu anggota keluarga dan mengabaikan
kebutuhan-kebutuhan yang anggota keluarga yang lain. Mereka memiliki nilai-nilai yang cenderung mengabaikan
kebenaran Tuhan, walaupun bisa dibungkus dengan bahasa-bahasa yang kedengaran rohani. Keluarga tidak memiliki
tujuan bersama yang mengikat seluruh anggota keluarga dan member keuntungan bagi seluruh keluarga. Sering ada
perbedaan antara nilai yang dikatakan dan tindakan yang dilakukan.
6. Pemecahan Masalah/Pengambilan Keputusan
• Apa yang dilakukan ketika terjadi konflik, krisis ataupun mengalami masalah
• Bagaimana cara keluarga mengambil keputusan: Dominasi/Kontrol?, Otoriter?, Permisif?, demokratis?
• Adakah yang menjadi kambing hitam?
Keluarga yang disfungsi cenderung kaku dalam memecahkan masalah. Mungkin mereka memiliki system yang
pernah dianggap berhasil, dan kemudian diteruskan walaupun itu merusak. Sering ada anggota keluarga yang akan
dianggap sebagai kambing hitam. Ketika mengambil keputusan sering dilakukan dengan cara-cara yang tidak sehat,
atau menyakitkan anggota keluarga yang lain.
Kesejahteraan 02.2 Penyebab keluarga menjadi disfungsi

BELAJAR BERTUMBUH DISFUNGSI EMOSI KELUARGA KEPUASAN


HIDUP KESEJAHTERAAN PEMBAHARUAN PEMULIHANPENGALAMAN PENGHARAPAN PERTUMBUH
AN SYARAT

Minggu lalu kita sudah berbicara tentang keluarga disfungsi, dan tanda-tanda sebuah keluarga yang sedang disfungsi.
Keluarga yang disfungsi adalah keluarga yang sedang tidak maksimal, atau bahkan gagal, dalam menjalankan peran, fungsi dan
tanggung jawabnya, sesuai dengan kehendak Allah. Mereka sedang berfungsi dengan tidak sehat, dalam melakukan apa yang
menjadi rencana dan kehendak Tuhan bagi keluarga. Minggu ini kita akan belajar beberapa hal yang menyebabkan sebuah
keluarga mengalami disfungsi.

Beberapa hal yang bisa menjadi sumber disfungsi dalam sebuah keluarga adalah:

 Ketidakdewasaan orang tua, baik secara psikologis maupun emosionil


 Kontrol, yaitu kecenderunan mengendalikan yang tidak sehat dan manipulasi

 Sakit penyakit, bisa secara fisik ataupun mental

 Konflik, baik yang bersifat terbuka ataupun yang tertutup

 Kecanduan, yaitu keterikatan akan hal tertentu seperti narkoba, judi dll.

 Pelecehan, baik secara verbal, emosional, fisik maupun seksual

A Ketidakdewasaan

Ketidakdewasaan, baik secara psikologis maupun emosi, yang dimiliki oleh orang tua, akan mengganggu
perkembangan sebuah keluarga dan mengakibatkan disfungsi. Orang yang tidak dewasa akan mengakibatkan banyak
sakit hati, baik bagi pasangannya, anak-anak, dan orang-orang lain disekitarnya. Ketidakdewasaan yang dilakukan
oleh orang tua juga akan mempengaruhi perkembangan jiwa anak, karena sering anaklah yang kemudian dipaksa
menjadi “orang tua”. Anak-anak sejak usia muda harus menjaga keseimbangan emosi orang tua, karena jika tidak,
mereka akan menerima konsekuensi yang berat. Anak-anak terpaksa menjadi perawat bagi orang tua, dan akibatnya
mereka belajar untuk mengabaikan kebutuhan emosi mereka sendiri. Kemudian anak-anak ini pun akan mengalami
ketidakdewasaan mereka sendiri, atau mereka bertumbuh menjadi orang yang merasa tidak berharga atau penuh
dengan rasa bersalah.

Banyak hal yang bisa membuat orang tua tidak menjadi dewasa. Mungkin mereka sendiri dibesarkan dalam suasana
keluarga yang disfungsi. Mungkin mereka memiliki orang tua yang bermasalah. Sering pernikahan dini yang tidak
diinginkan (seperti pada kasus menikah karena hamil) akan mengakibatkan ketidakdewasaan dalam keluarga.
Campur tangan keluarga besar juga sering memperparah kondisi ketidakdewasaan ini, yang kemudian akan
diteruskan pada generasi berikutnya.

B Kontrol dan Manipulasi


Apabila dalam keluarga banyak dilakukan pengendalian dan manipulasi yang tidak sehat, maka kemungkinan besar
anak akan bertumbuh dengan tidak sehat. Orang tua yang terlalu mengontrol adalah orang tua yang gagal menjadikan
anak-anak mandiri dan bertanggung jawab. Sering yang menjadi penyebab adalah ketakutan orang tua dan
keengganan untuk melihat anak menjadi mandiri, yang mengakibatkan terjadinya dominasi dan over-proteksi.

Kontrol dan manipulasi ini sering dijumpai dalam banyak cara. Orang tua sering melakukannya dengan cara:
• menakut-nakuti dengan alasan yang tidak benar (“Kalau kamu tidak mau makan, kamu akan disuntik oleh
dokter”)
• menakut-nakuti dengan alasan agamawi (“Kalau kamu berbohong, kamu akan masuk neraka dan dibakar
selamanya”)
• menakut-nakuti dengan rasa bersalah (“kalau kamu nakal terus, mama pasti akan cepat mati”)
• memarahi atau menghukum di luar batas

C Sakit Penyakit
Jika ada satu anggota keluarga yang sakit parah, apakah itu sakit secara fisik ataupun mental, sering terjadi disfungsi
dalam status dan peran di dalam keluarga. Misalnya ayah menderita sakit penyakit yang menyebabkan ia tidak bisa
berperan penuh, yang kemudian perannya digantikan oleh istri atau anak. Dalam kasus penyakit kejiwaan, sering
krisis yang ditimbulkan menyebabkan disfungsi yang cukup parah dalam keluarga, karena orang yang mengalami
masalah kejiwaan sering tidak memiliki kemampuan untuk mengendalikan emosi, dan melampiaskannya pada orang-
orang terdekat. Sering terjadi ada rasa malu yang harus ditangung keluarga, dan juga kebutuhan untuk kompensasi
dengan melakukan hal-hal yang dianggap bisa menghapus aib keluarga.

D Konflik

Konflik yang berkepanjangan dalam satu keluarga, atau satu keluarga besar sering mengakibatkan disfungsi dalam
keluarga tersebut. Dalam suatu keluarga yang tidak harmonis, di mana sering terjadi letupan emosi, histeria ataupun
pertikaian, sampai perkelahian fisik, anak akan tumbuh besar dengan masalah yang berhubungan dengan kehidupan
agresif, ketakutan, rasa tidak aman sampai mengisolasi diri. Kadang-kadang konflik tidak terjadi secara agresif, tapi
suasana keluarga menjadi dingin dan tidak terjadi komunikasi yang sehat. Atau ada anggota keluarga yang cenderung
melarikan diri (atau mengancam akan pergi) jika terjadi konflik dalam keluarga. Sering juga anak diharuskan untuk
menjaga nama baik keluarga dengan harus berdiam diri dan tidak boleh bercerita kepada orang lain. Atau salah satu
orang tua akan menjelek-jelekkan pasangan yang lain dan berharap bahwa anak akan berpihak kepadanya. Kondisi
penuh konflik, apakah itu secara dingin atau agresif, terbuka atau rahasia, akan mengakibatkan disfungsi dalam
keluarga, karena yang terganggu kemudian adalah pola komunikasi, keintiman dan peran-peran keluarga.

E Kecanduan
Keluarga yang memiliki anggota keluarga yang kecanduan berat umumnya akan menjadi keluarga yang kacau dan
sulit untuk diprediksi, karena sering ada krisis yang ditimbulkan oleh kecanduan ini yang harus ditanggulangi oleh
keluarga. Misalnya dalam keluarga dengan pemabuk, harus bersiap-siap ketika orang tersebut pulang dalam keadaan
mabuk dan mengacaukan keluarga. Atau jika ada pecandu narkotik, yang sering menghabiskan barang keluarga yang
harus dijual untuk menutupi kebutuhannya. Atau penjudi berat yang menghabiskan uang dan harta keluarga. Dalam
keadaan seperti ini aturan yang sehat sulit untuk diterapkan. Sering terjadi bahwa masalah kecanduan tersebut harus
dirahasiakan, yang mengakibatkan anggota keluarga harus mempertahankan nama keluarga.

F Pelecehan
Pelecehan yang dilakukan dalam sebuah keluarga bisa bermacam-macam. Bisa secara kata-kata (verbal), emosional,
fisik maupun seksual. Ketika ini terjadi, orang yang mengalami pelecehan ini akan merasa kotor, tidak berharga
maupun tidak layak. Dan perasaan ini bisa terus terbawa. Pelecehan secara kata-kata, emosi dan fisik biasanya
dilakukan secara terbuka, dan sering ada alasan mengapa pelecehan itu perlu dilakukan, misalnya sebagai cara
pendisiplinan. Namun sebenarnya yang terjadi adalah ada orang yang memiliki kebutuhan emosi (misalnya ayah
sedang marah) dan melampiaskannya pada orang lain (misalnya anak).
Pelecehan seksual biasanya terjadi secara tertutup (rahasia), walau dalam beberapa kasus terjadi juga pelecehan yang
diketahui oleh orang-orang lain, yang kemudian harus menutup rahasia. Pelecehan seksual, apalagi bila dilakukan
oleh orang terdekat, sangat merusak kejiwaan seseorang. Mereka sering kehilangan kemampuan untuk menghargai
diri sendiri, untuk percaya pada orang, ataupun untuk menjalin hubungan yang intim dengan orang lain. Jika
pelecehan seksual terjadi pada satu rumah tangga, biasanya itu merupakan tanda disfungsi yang parah dalam sistem
keluarga.
Disfungsi dalam keluarga biasanya dimulai dari pribadi-pribadi yang mengalami disfungsi terlebih dahulu. Ketika
berkeluarga, disfungsi yang dimiliki suami dan istri akan melukai satu sama lain, dan bahkan sering makin
diperbesar. Ketika memiliki anak, pola yang disfungsi inipun biasanya diturunkan dan kemudian menjadi sistem
keluarga yang disfungsi, yang kemudian ditularkan dalam komunitas dan generasi selanjutnya. Adalah kehendak
Allah agar keluarga menjadi komunitas anak-anak Allah yang maksimal, yang menjalankan fungsi dan rencana Allah,
menjadi berkat bagi bangsa-bangsa dan generasi kemudian.

Kesejahteraan 02.3 Peran dan aturan dalam keluarga yang disfungsi

ATURAN DISFUNGSI PERAN ROLE ROLE PLAYING TANGGUNG JAWAB

Seperti telah dikatakan sebelumnya, anggota-anggota keluarga yang disfungsi biasanya pintar untuk bermain peran.
Artinya ada pola-pola tertentu yang dilakukan secra berulang-ulang oleh anggota keluarga ini, yang lama kelamaan
menjadi suatu ciri, atau bahkan identitas dari orang tersebut.
Beberapa peran dominan yang dilakukan oleh anggota keluarga adalah dengan menjadi orang yang: bergantung,
memfasilitasi, pahlawan dll.

Peran-peran yang sering dilakukan oleh keluarga yang disfungsi…


 The ”Dependent” – yang bergantung pada orang lain. Ia adalah anggota keluarga yang masalahnya cukup
serius sehingga mempengaruhi anggota keluarga yang lain. Ingat bahwa disfungsi pada satu anggota keluarga akan
mengakibatkan disfungsi dalam anggota keluarga yang lain.
 The”Enabler”, yang memfasilitasi sehingga sistem yang disfungsi ini terpelihara. Sering melakukannya agar
keluarga tetap utuh dan berfungsi. Cenderung melindungi orang yang bermasalah itu sehingga (1) masalahnya tidak
diketahui orang lain (2) tidak mengalami konsekuensi atau tindakan-tindakan yang menyakitkan. Sering istri
memainkan peran ini.
 The ”Hero”, sang pahlawan. seringkali peran ini dimainkan oleh anak yang paling sulung atau anak yang
paling pintar. Ia berusaha bekerja keras supaya ia berhasil dan berprestasi. Fungsinya dalam konteks keluarga adalah
untuk menentramkan hati keluarga dengan membuktikan bahwa mereka ”baik-baik saja”. Banyak orang cenderung
memuji anak tersebut,tetapi ia sendiri cenderung stres dan sering merasa bersalah karena ia tahu dalam hatinya bahwa
semua usahanya tidak bisa membahagiakan keluarganya.
 The ”Little Prince/Princess”, yang menjadi pangeran dan putri kesayangan. Menjadi anak yang favorit bagi
salah satu orang tuanya. Sering mengalami penganiayaan secara emosional karena harus menggantikan peran orang
tua yang lain (misalnya pengganti suami dalam hidupnya supaya kebutuhan emosionalnya terpenuhi). Peran yang dia
mainkan tidak wajar. Ia sendiri dituntut hidup bukan sebagai seorang anak.
 The”Doer”, si pekerja keras. Ia bekerja keras untuk mencari nafkah bagi keluarganya. Ia cenderung memikul
tamggung jawab yang terlalu berat baginya tetapi ia merasa bersalah dan merasa bahwa usahanya tidak cukup. Sering
kali ia merasa bahwa pekerjaannya yang makan semua waktu dan tenaga tidak dihargai oleh anggota keluarga yang
lain. Ia merasa kecil hati dan kosong.
 The”Scapegoat” si kambing hitam. Sering sekali anak kedua dalam keluarga yang disfungsi memainkan peran
ini. Supaya orang tidak merasa bersalah akibat kondisi keluarganya. Anak ini seolah-olah menjadi penyebab
keluarganya menjadi disfungsi. Dalam situasi-situasi tertentu dia marah karena perhatian keluarganya diberikan
kepada anak yang masalahnya cukup serius atau anak yang paling pintar. Anak yang seperti ini cenderung lari ke
narkoba, alkohol, seks bebas dll.
 The ”Lost Child” (anak yang tersesat). Anak tersebut cenderung menjadi pemalu dan mengisolasi dirinya . Ia
merasa seperti orang asing dalam konteks keluarganya, terabaikan oleh orang tua dan saudara-saudaranya. Ia
cenderung memisahkan diri dari semua kekacauan keluarga. Akibatnya sering masuk ke dunia fantasi dan dia
mendapatkan kenyamanan disana. Dalam kasus lain ia sering mencari perhatian seperti kesakitan, alergi, ngompol dll
 The”Mascot”. Sering kali anak bungsu dalam keluarga tidak berfungsi memainkan peran ini. Ia mencari
perhatian semua anggota keluarga,dan berusaha untuk memghibur meraka dengan humor dan jok-jokenya . Anggota
keluarga yang lain cenderung melindungi anak ini dari masalah dan tantangan hidup.Namun didalam hatinya sendiri
ia penuh ketakutan dan kecemasan.
Akibat fatal yang bisa terjadi adalah lama-kelamaan mereka menikmati peran yang disfungsi ini yang kemudian
meluas ke dalam banyak aspek kehidupan orang tersebut. Misalnya si pekerja keras, yang ketika keluar rumah pun
kemudian bersikap sebagai pekerja keras.
Selain adanya peran di atas, keluarga yang disfungsi juga akan memiliki sistem yang tidak sehat, yang biasanya
ditandai dengan adanya aturan-aturan tertentu yang kaku dan cenderung memanipulatif. Aturan ini belum tentu
dirumuskan dalam kalimat-kalimat di bawah, namun dalam kenyataannya menjadi panduan dalam mengambil
keputusan atau bertingkah laku dalam keluarga dan masyarakat.
Beberapa “peraturan” dalam keluarga yang disfungsi
Aturan berkomunikasi:
 Jangan membicarakan masalah-masalah khusus dalam keluarga
 Jangan mengungkapkan perasaan anda secara terbuka dan jujur dihadapan orang lain
 Jangan berkomunikasi dengan langsung kepada orang lain. Lebih baik secara tidak langsung, misalnya dengan
berdim,memisahkan diri dari orang lain, atau melalui pihak ketiga.
 Jangan membahas mengenai seksualitas atau hal-hal yang lain yang dianggap tabu
Aturan menyelesaikan masalah:
 Jangan hadapi besarnya masalah yang dialami oleh “The Dependen” (masalahnya sangat besar yang
mempengaruhi semua anggota keluarga) sehingga anda mempunyai pengharapan-pengharapan yang tidak realistis
mengai apa yang akan dilakukan olehnya bagi anda.
 Jangan berusaha mengubah situasi keluarga anda
 Jangan mempertanyakan keyakinan ataupun prinsip-prinsip orang tua anda, baik aturan yang kelihatan rohani
maupun non-rohani
Aturan dalam hubungan:
 Jangan “egois “berarti anda harus mengutamakan orang lain (berarti anda tidak boleh menetapkan batas-batas
tertentu dengan keluarga lain)
 Jangan meneladani orangtua anda. Lebih baik melakukan apa yang mereka katakan dari pada apa yang
mereka lakukan.
 Jangan menikmati diri sendiri (“Don’t have fun”)
Karakteristik yang tidak sehat yang sering kita ketemu dalam kehidupan orang yang berasal dari keluarga yang
disfungsi
 Mereka hanya bisa menerka apa yang normal dan sehat dalam konteks hubungan mereka dengan orang lain
 Mereka sering kali mengalami kesulitan dalam mengerjakan suatu proyek dari awal sampai akhir.
 Mereka cenderung menipu dan membohongi orang bahkan dalam situasi-situasi dimana mereka bisa
menjawab dengan benar.
 Mereka cenderung menghakimi diri sendiri tanpa belas kasihan
 Mereka cenderung tidak dapat bersenang-senang
 Mereka cenderung menganggap diri sangat serius
 Mereka cenderung mengalami kesulitan dalam pembentukan hubungan yang dekat dan intim
 Mereka cenderung bereaksi besar terhadap perubahan besar diluar kontrol mereka
 Mereka mencari terus penerimaan dan pujian dari orang lain
 Mereka merasa bahwa mereka berbeda dengan orang lain
 Mereka cenderung menjadi terlalu bertanggungjawab (dengan cara yang over dan tidak sehat) atau sama
sekali tidak bertanggung jawab
 Mereka cenderung sangat loyal, bahkan setelah terbukti bahwa orang lain itu tidak layak menerima keloyalan
mereka
 Mereka cenderung impulsif tidak mempertimbangkan konsekuensi tindakannya.