Anda di halaman 1dari 24

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.

id

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN METODE PENGAMATAN

A. Tinjauan Pustaka

1. Pengertian Prosedur
Prosedur berasal dari bahasa Inggris “procedure” yang bisa diartikan
sebagai cara atau tata cara. Akan tetapi kata procedure lazim digunakan dalam
kosakata Bahasa Indonesia yang dikenal dengan kata prosedur. Dalam Kamus
Manajemen, prosedur berarti tata cara melakukan pekerjaan yang telah
dirumuskan dan diwajibkan. Biasanya prosedur meliputi bagaimana, bilamana
dan oleh siapa, tugas harus diselesaikan.
Menurut Ida Nuraida (2008:35), “Prosedur adalah urutan langkah-langkah
(atau pelaksanaan-pelaksanaan pekerjaan), di mana pekerjaan tersebut dilakukan,
berhubungan dengan apa yang dilakukan, bagaimana melakukannya, bilamana
melakukannya, di mana melakukannya, dan siapa yang melakukannya.”

Dari pengertian prosedur di atas dapat disimpulkan bahwa dalam sebuah


prosedur pastinya akan tercantum cara bagaimana setiap tugas dilakukan,
berhubungan dengan apa, bilamana tugas tersebut dilakukan dan oleh siapa saja
tugas harus diselesaikan. Hal ini tentu sangat wajar dilakukan karena sebuah
prosedur yang dibuat memiliki tujuan untuk mempermudah kita dalam
melaksanakan suatu kegiatan.
Pengertian Prosedur menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)
diartikan sebagai berikut:
a. Tahap kegiatan untuk menyelesaikan suatu aktivitas.
b. Metode langkah demi langkah secara pasti dalam memecahkan suatu
masalah.
Dalam hal ini prosedur merupakan suatu tahapan dalam menyelesaikan suatu
aktivitas yang dapat memecahkan suatu masalah. Misalnya, dalam suatu
perusahaan terdapat banyak dokumen yang berbeda jenis dan manfaatnya, untuk
menata dokumen tersebut agar terlihat rapi dan mudah ditemukan maka kita harus
commit to user
bisa memilah dokumen sesuai jenis dan manfaatnya yang kemudian difilekan ke

6
perpustakaan.uns.ac.id 7
digilib.uns.ac.id

box yang sudah tersedia. Dengan demikian, sangat diperlukan sebuah prosedur
yang baik dan benar untuk diterapkan pada perusahaan.
Menurut Mulyadi (2001:5) yang dimaksud dengan prosedur adalah “suatu
urutan kegiatan klerikal, biasanya melibatkan beberapa orang dalam satu
departemen atau lebih, yang dibuat untuk menjamin penanganan secara seragam
transaksi perusahaan yang terjadi berulang-ulang.” Selain itu Zaki Baridwan
(2002:3), menjelaskan bahwa prosedur adalah “suatu urut-urutan pekerjaan kerani
(clerical), biasanya melibatkan beberapa orang dalam satu bagian atau lebih,
disusun untuk menjamin adanya perlakuan yang seragam terhadap transaksi-
transaksi perusahaan yang sering terjadi.” Dari kedua pengertian tersebut dapat
disimpulkan bahwa prosedur adalah suatu urutan yang tersusun dan biasanya
melibatkan beberapa orang dalam suatu bagian departemen atau lebih, serta
disusun untuk menjamin penanganan secara seragam transaksi-transaksi
perusahaan yang terjadi secara berulang-ulang.
Menurut Ig. Wursanto (1987:19) yang dimaksud dengan prosedur
merupakan rencana, karena bersangkutan paut dengan pemilihan suatu cara
bertindak dan berlaku untuk kegiatan-kegiatan di waktu yang akan datang.
Prosedur-prosedur bukan hanya merupakan pedoman untuk berfikir, tetapi juga
untuk bertindak dan melaksanakan cara yang tepat guna menjalankan suatu
kegiatan tertentu. Seperti halnya dengan kebijaksanaan, prosedur juga mempunyai
urutan kepentingan. Adapun pengertian prosedur menurut Ida Nuraida (2008:35),
prosedur merupakan:
a. Metode-metode yang dibutuhkan untuk menangani aktivitas-aktivitas yang
akan datang.
b. Urutan aktivitas untuk mencapai tujuan tertentu.
c. Pedoman untuk bertindak.

Pengertian prosedur di atas dijelaskan dengan pengertian metode menurut Ida


Nuraida (2008:35), yang menyatakan bahwa : “metode menunjukkan cara
pelaksanaan pekerjaan dari suatu tugas yang terdiri atas satu atau lebih kegiatan
yang bersifat tulis-menulis oleh seorang pegawai sehingga serangkaian metode
yang disatukan akan membentuk suatu prosedur.”
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 8
digilib.uns.ac.id

Pendapat Ida Nuraida yang dikemukakan di atas jika dipahami, bahwa


prosedur adalah suatu cara, dimana pembuatan cara tersebut dipersiapkan untuk
jangka waktu mendatang dan bisa jadi akan digunakan secara terus menerus jika
cara tersebut dapat dipergunakan secara efektif dan efisien. Suatu cara di atas
berisikan aturan atau pedoman untuk melakukan aktivitas-aktivitas pekerjaan
dalam rangka untuk mencapai suatu tujuan organisasi.
Menurut A.S. Moenir (1982:110), “Prosedur adalah suatu rangkaian
tindakan, langkah atau perbuatan yang harus dilakukan oleh seseorang untuk
dapat mencapai suatu tahap tertentu dalam hubungan pencapaian tujuan akhir.” Di
dalam sebuah pencapaian tujuan akhir yang kita inginkan kita harus mempunyai
pandangan tentang apa yang seharusnya kita lakukan, tahapan yang bagaimana
yang nantinya dapat membantu kita dalam mencapai tujuan akhir.
Pengertian prosedur menurut MC Maryati (2008:43) adalah “serangkaian
dari tahapan-tahapan atau urut-urutan dari langkah-langkah yang saling terkait
dalam menyelesaikan suatu pekerjaan. Untuk mengendalikan pelaksanaan kerja
agar efisiensi perusahaan tercapai dengan baik dibutuhkan sebuah petunjuk
tentang prosedur kerja.” Dalam sebuah prosedur terdapat langkah-langkah yang
saling berkaitan satu sama lain, langkah-langkah ini akan menjadi petunjuk dalam
menyelesaikan permasalahan pada suatu pekerjaan. Di dalam perusahaan tentunya
akan membutuhkan sebuah petunjuk tentang prosedur kerja yang terdiri dari
tahapan-tahapan suatu pekerjaan, karena hal ini dapat menunjang tercapainya
efisiensi perusahaan dengan baik.
Prosedur adalah faktor yang sangat penting dalam pelaksanaan tugas atau
pekerjaan, kerjaan perkantoran. Prosedur kerja dibuat untuk memperlancar setiap
pekerjaan yang dilaksanakan oleh instansi atau perusahaan tersebut dalam rangka
mencapai tujuan dan sasarannya. Prosedur-prosedur berkaitan dengan suatu
langkah yang bertahap dan berkaitan satu sama lain yang digunakan oleh suatu
organisasi dalam menyelesaikan pekerjaannya.
Dari beberapa pendapat-pendapat yang telah diuraikan di atas, maka penulis
dapat mengambil kesimpulan bahwa prosedur adalah suatu urutan langkah-
commit
langkah, dari serangkaian tahapan yangto user
saling berhubungan satu sama lain
perpustakaan.uns.ac.id 9
digilib.uns.ac.id

sebagai suatu cara atau metode dalam melaksanakan ataupun menjalankan suatu
aktivitas sesuai dengan aturan yang berlaku untuk mencapai tujuan akhir.
Prosedur yang ada biasanya melibatkan beberapa orang dalam suatu bagian atau
lebih, untuk menjamin penanganan secara seragam transaksi perusahaan yang
terjadi berulang-ulang dan prosedur juga bisa berlaku untuk kegiatan-kegiatan di
waktu yang akan datang.
Adapun sifat-sifat dan ciri-ciri prosedur menurut Moekijat (1989:194)
sebagai berikut:
a. Sifat Prosedur
1) Prosedur terdapat dalam tiap bagian perusahaan; prosedur
merupakan salah satu macam rencana yang penting.
2) Prosedur biasanya dipandang sebagai penerapan pekerjaan yang
sifatnya berulang.
3) Diberikan batas-batas waktu pada setiap langkah prosedur guna
menjamin agar hasil akhir dicapai seperti yang diinginkan.
b. Ciri Prosedur
1) Prosedur harus didasarkan atas fakta-fakta yang cukup mengenai
situasi tertentu, tidak didasarkan atas dugaan-dugaan atau keinginan-
keinginan.
2) Suatu prosedur harus memiliki stabilitas, akan tetapi masih memiliki
fleksibilitas.
3) Prosedur harus mengikuti zaman (up-to-date).
Pentingnya suatu prosedur dikemukakan oleh MC Maryati (2008:43) bahwa
“Prosedur kerja membuat pekerjaan kantor dapat dilaksanakan lebih lancar.
Sehingga waktu penyelesaian lebih cepat. Prosedur kerja juga memberikan
pengawasan lebih baik tentang apa dan bagaimana suatu pekerjaan telah
dilakukan. Prosedur kerja menjadikan setiap bagian berkoordinasi dengan bagian
yang lain. Dengan adanya prosedur kerja maka pekerjaan dapat dikendalikan
dengan baik, dan tentu saja hal tersebut akan membuat penghematan yang besar
bagi perusahaan.”

Dengan demikian, prosedur kerja dibuat dan disusun agar setiap pekerjaan
dapat diselesaikan dengan mudah, lancar dan baik, dengan tahapan-tahapan yang
commit to user
teratur, urut pada akhirnya suatu pekerjaan dapat diselesaikan menurut target atau
perpustakaan.uns.ac.id 10
digilib.uns.ac.id

urutan waktu yang telah ditentukan sebelumnya, sehingga akan lebih menghemat
pembiayaan dalam proses kerja. Untuk itu dalam penyusunan prosedur hendaknya
disesuaikan dengan prinsip-prinsip penyusunan prosedur yang ada. Prinsip-prinsip
prosedur menurut MC Maryati (2008:44) sebagai berikut:
a. Sebuah prosedur kerja yang baik prinsipnya adalah sederhana, tidak terlalu
rumit dan berbelit-belit.
b. Prosedur kerja yang baik, akan mengurangi beban pengawasan karena
penyelesaian pekerjaan telah mengikuti langkah-langkah yang ditetapkan.
c. Prosedur kerja yang ditetapkan telah teruji bahwa prosedur tersebut
mencegah penulisan, gerakan, dan usaha yang tidak perlu (menghemat
gerakan atau tenaga).
d. Pembuatan prosedur kerja harus memperhatikan pada arus pekerjaan.
e. Prosedur kerja dibuat fleksibel, artinya suatu prosedur bisa dilakukan
perubahan jika terjadi hal-hal yang sifatnya mendesak.
f. Memperhatikan penggunaan alat-alat untuk menunjang terlaksananya
suatu prosedur dan sebaiknya digunakan sesuai kebutuhan.
g. Sebuah prosedur kerja harus menunjang pencapaian tujuan.

Dari pendapat di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa suatu prosedur
terdapat semua aktivitas yang harus dilakukan. Prosedur yang dibuat hendaknya
baik, tidak berbeli-belit dan tidak rumit agar yang berkepentingan dapat
menggunakan fungsinya secara efektif dan efisien. Prosedur tersebut hendaknya
telah teruji dan tidak menguras banyak tenaga, karena apabila terlalu menguras
tenaga orang yang berkepentingan cenderung akan melanggar aturan dan merasa
bosan dengan prosedur yang diterapkan. Prosedur yang dibuat hendaknya
memiliki fleksibilitas agar pada situasi-situasi tertentu yang mendesak prosedur
yang semula tidak dapat dijalankan karena suatu hal, prosedur tersebut dapat
dilakukan perubahan tanpa harus menghentikan fungsi awalnya. Serta dalam
pembuatan prosedur harus memperhatikan tingkat pencapaian tujuan, dengan
prosedur yang baik dan tujuan yang hendak dicapai harus memiliki target serta
tindakan-tindakan apa yang harus dilakukan.
Prosedur menurut A.S. Moenir (1982:117) dibagi menjadi dua yaitu:
a. Prosedur umum, yaitu prosedur-prosedur yang menyangkut bidang
pekerjaan yang bersifat umum (general) dan berlaku secara nasional yang
menjadi tanggung jawab Manajer atas. Prosedur umum ini kadang-kadang
commit to user
demikian luas berlakunya sehingga melampaui batas-batas nasional.
perpustakaan.uns.ac.id 11
digilib.uns.ac.id

b. Prosedur khusus (lokal), yaitu prosedur yang dibuat dan hanya berlaku
secara lokal artinya untuk lingkungan tertentu, yang menjadi tanggung
jawab manajer di tempat itu (atas, menengah atau bawah, tergantung luas
lingkup prosedur itu).
Berkaitan dengan macam prosedur di atas, pada suatu perusahaan pasti akan
menggunakan prosedur khusus (lokal), karena terlihat jelas bahwa prosedur ini
dibuat dan hanya berlaku secara lokal, sehingga untuk semua aktivitas di
perusahaan yang meliputi prosedur akan menjadi tanggung jawab manajer sesuai
dengan lingkup prosedur yang ada di perusahaan tersebut.
Prosedur kerja selain disajikan secara tertulis bisa juga ditampilkan dalam
bentuk bagan atau diagram. Menurut MC Maryati (2008:44-48), ada 3 bagan
dalam prosedur, yaitu:
a. Bagan aliran kerja atau bagan proses (Work-flow Chart)
1) Bagan proses adalah bagan yang menunjukkan secara rinci langkah-
langkah dalam suatu proses pekerjaan.
2) Langkah-langkah ditunjukkan dalam bentuk simbol dan disusun
secara vertikal.
b. Bagan gerak atau bagan layout kerja (Work-layout Chart)
Bagan layout menggambarkan gerakan pekerjaan dalam suatu ruangan.
Bagan digambarkan pada sebuah layout kantor, sehingga gerakan diukur
dalam hubungannya dengan faktor fisik (energi). Alur kegiatan atau
pekerjaan digambarkan dengan garis yang menghubungkan dengan
beberapa unit kerja yang harus dilalui.
c. Bagan arus
Bagan ini menggambarkan aliran atau arus kegiatan dalam menyelesaikan
sebuah pekerjaan. Perjalanan dari dokumen-dokumen serta tembusannya
dari suatu tempat bagian ke bagian lainnya sangat jelas digambarkan
dalam bagan ini.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 12
digilib.uns.ac.id

2. Pengertian Penjualan
Penjualan merupakan salah satu sumber pendapatan suatu perusahaan.
Semakin meningkat aktivitas penjualan di suatu perusahaan, maka akan semakin
besar pula keuntungan yang akan didapatkan oleh perusahaan tersebut.
Sebenarnya pengertian penjualan sangat luas, beberapa para ahli mengemukakan
tentang definisi penjualan antara lain:
Definisi penjualan menurut Mulyadi (2008:202), ”Penjualan merupakan
kegiatan yang dilakukan oleh penjual dalam menjual barang atau jasa dengan
harapan akan memperoleh laba dari adanya transaksi-transaksi tersebut dan
penjualan dapat diartikan sebagai pengalihan atau pemindahan hak kepemilikan
atas barang atau jasa dari pihak penjual ke pembeli.” Selain itu pengertian
penjualan menurut Prof. Dr. Winardi (1991:3), Penjualan (Selling) diartikan
sebagai “proses di mana sang penjual memastikan, mengaktivasi dan memuaskan
kebutuhan atau keinginan sang pembeli agar dicapai manfaat, baik bagi sang
penjual maupun bagi sang pembeli yang berkelanjutan dan yang menguntungkan
kedua belah pihak.”

Dari pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa adanya penjualan


dapat tercipta suatu proses pertukaran barang atau jasa antara penjual dengan
pembeli dengan tujuan untuk memperoleh laba dari adanya transaksi tersebut,
pihak penjual juga ingin memuaskan kebutuhan sang pembeli. Di dalam
perekonomian kita (ekonomi uang), seseorang yang menjual sesuatu akan
mendapatkan imbalan berupa uang. Dengan alat penukar berupa uang, orang akan
lebih mudah memenuhi segala keinginannya dan penjualan menjadi lebih mudah
dilakukan. Jarak yang jauh tidak menjadi masalah bagi penjual. Secara sederhana,
transaksi penjualan yang dilakukan oleh penjual dan pembeli dapat dilihat sebagai
berikut:
Gambar 1. Proses Pertukaran (Basu Swastha, 1989:9)

Barang atau Jasa


Penjual Pembeli

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 13
digilib.uns.ac.id

Semakin pandai seseorang untuk menjual akan semakin cepat pula


mencapai sukses dalam melaksanakan tugas-tugasnya, sehingga tujuan yang
diinginkan akan segera terlaksana. Dalam segala bidang dan tingkatan, taktik
penjualan harus digunakan agar pelayanan yang diberikan kepada orang lain dapat
memberikan kepuasan. Dengan kepuasan ini diharapkan mereka dapat menjadi
langganan atau sahabat yang baik.
Ada definisi lain tentang penjualan yang dikemukakan oleh William G.
Nickels (Basu Swastha, 1989:10) yang menyebutnya dalam istilah penjualan tatap
muka (personal selling) sebagai berikut, “Penjualan tatap muka adalah interaksi
antar individu, saling bertemu muka yang ditujukan untuk menciptakan,
memperbaiki, menguasai atau mempertahankan hubungan pertukaran yang saling
menguntungkan dengan pihak lain.”
Jadi, penjualan tatap muka merupakan komunikasi orang secara individual
yang dapat dilakukan untuk mencapai tujuan seluruh usaha pemasaran pada
umumnya, yaitu meningkatkan penjualan yang dapat menghasilkan laba dengan
menawarkan kebutuhan yang memuaskan kepada pasar dalam jangka panjang.
Dalam hal ini, perusahaan memerlukan tenaga-tenaga penjualan atau wiraniaga
untuk melakukannya. Tugas-tugas yang mereka lakukan cukup luwes karena
secara langsung dapat mengetahui keinginan, motivasi dan perilaku konsumen;
dan sekaligus dapat melihat reaksi konsumen sehingga mereka langsung dapat
mengadakan penyesuaian seperlunya.
Bagi perusahaan, pada umumnya mempunyai tiga tujuan umum dalam
penjualannya, yaitu:
a. Mencapai volume penjualan tertentu
b. Mendapatkan laba tertentu
c. Menunjang pertumbuhan perusahaan. (Basu Swastha, 1989:80)
Usaha-usaha untuk mencapai ketiga tujuan tersebut tidak sepenuhnya hanya
dilakukan oleh pelaksana penjualan atau para penjual. Dalam hal ini perlu adanya
kerja sama yang rapi di antara fungsionaris dalam perusahaan. Namun demikian
semua ini tetap menjadi tanggung jawab dari pimpinan (top manager), dan dialah
commit
yang harus mengukur seberapa besar to user
sukses atau kegagalan yang dihadapinya.
perpustakaan.uns.ac.id 14
digilib.uns.ac.id

Untuk maksud tersebut pimpinan harus mengkoordinir semua fungsi dengan baik
termasuk fungsi penjualan.
Adapun tahap-tahap penjualan menurut Basu Swastha (1989:121-124)
sebagai berikut:
Salah satu aspek yang ada dalam penjualan adalah penjualan dengan bertemu
muka seperti yang telah dibahas sebelumnya. Dalam hal ini tahap-tahap yang
perlu ditempuh oleh pihak penjual meliputi:

Gambar 2. Tahap-tahap Penjualan

Penentuan Kegiatan
Persiapan Lokasi Penjualan Purna
Pembeli Jual

Penentuan
Calon
Pembeli

 Perhatian
 Minat
 Keinginan
 Tindakan

Dari beberapa tahap-tahap penjualan di atas maka dapat dijelaskan sebagai


berikut:
a. Persiapan Sebelum Penjualan adalah mempersiapkan tenaga penjualan
dengan memberikan pengertian tentang barang yang dijualnya, pasar yang
dituju dan teknik-teknik penjualan yang harus dilakukan. Selain itu,
mereka juga lebih dulu harus mengetahui kemungkinan tentang motivasi
dan perilaku dalam segmen pasar yang dituju.

b. Penentuan Lokasi Pembeli Potensial adalah dengan menggunakan data


commit to user
pembeli yang lalu maupun sekarang, penjual dapat menentukan
perpustakaan.uns.ac.id 15
digilib.uns.ac.id

karakteristik calon pembeli atau pembeli potensialnya. Termasuk faktor


lokasi yang menjadi sasaran kunjungan bagi wiraniaga.
c. Pendekatan Pendahuluan adalah sebelum melakukan penjualan, penjual
harus mempelajari semua masalah tentang individu atau perusahaan yang
dapat diharapkan sebagai pembelinya.
d. Melakukan Penjualan adalah penjualan yang dilakukan bermula dari suatu
usaha untuk memikat perhatian calon konsumen, kemudian diusahakan
untuk mengetahui daya tarik atau minat mereka.
e. Pelayanan Purna Jual adalah sebenarnya kegiatan penjualan tidak berakhir
pada saat pesanan dari pembeli telah dipenuhi, tetapi masih perlu
dilanjutkan dengan memberikan pelayanan atau servis kepada mereka.
Beberapa pelayanan yang diberikan oleh penjual sesudah penjualan
dilakukan seperti: pemberian garansi, pemberian jasa reparasi, latihan
tenaga-tenaga operasional dan cara penggunaannya, penghantaran barang
ke rumah.
Dalam tahap terakhir ini penjual harus berusaha mengatasi berbagai macam
keluhan atau tanggapan yang kurang baik dari pembeli. Pelayanan lain yang juga
perlu diberikan sesudah penjualan adalah memberikan jaminan kepada pembeli
bahwa keputusan yang diambilnya tepat, barang yang dibelinya betul-betul
bermanfaat dan hasil kerja produk tersebut memuaskan.

3. Pengertian Prosedur Penjualan


Dari pengertian prosedur dan penjualan di atas maka dapat dijelaskan lebih
rinci lagi tentang pengertian keduanya secara garis besar, yaitu prosedur penjualan
adalah suatu urutan langkah-langkah yang saling berhubungan satu sama lain dan
didalamnya terdapat kegiatan penjualan yang terkait dengan proses pertukaran
barang atau jasa serta transaksi yang terjadi berulang-ulang agar mencapai tujuan
akhir yang efektif dan efisien.
Pengertian Prosedur Penjualan menurut Dr. Zaki Baridwan (1991:109)
adalah:
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 16
digilib.uns.ac.id

“Urutan kegiatan sejak diterimanya pesanan dari pembeli, pengiriman barang,


pembuatan faktur (penagihan), dan pencatatan penjualan. Dalam prosedur
penjualan kredit, sulit dipisahkan antara prosedur penjualan dan piutang, karena
keduanya berkaitan erat.”
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa prosedur penjualan adalah
urutan kegiatan sejak diterimanya pesanan dari pembeli, pengiriman barang,
pembuatan faktur (penagihan) dan pencatatan penjualan yang melibatkan
beberapa orang dalam satu departemen atau lebih, yang dibuat untuk menjamin
penanganan secara seragam transaksi perusahaan yang terjadi berulang-ulang.
Prosedur penjualan agar dapat berjalan dengan optimal tentunya akan
bergantung pada beberapa bagian, salah satunya yaitu bagian Administrasi.
Menurut hasil wawancara dengan Eko Pujo Leksono dan Minanto selaku Staff
Sales Administration, secara garis besar tugas administrasi penjualan adalah
menyiapkan dan menyediakan segala keperluan kegiatan penjualan secara
administratif sesuai dengan SOP (Standart Operational Procedur) yang berlaku
pada setiap perusahaan dan dapat diuraikan sebagai berikut:
a. Mengolah dokumen penjualan menjadi data yang meliputi Surat Pesanan
Kendaraan (SPK), Purchase Order (PO), Bukti Penyerahan Kendaraan
(BPK), kuitansi, invoice, faktur).
b. Mencari barang yang diinginkan customer apabila stok tidak ada, serta
bisa memesankan barang dengan cara nginden terlebih dahulu.
c. Menginput data dari faktur kendaraan bermotor ke dalam sistem komputer.
d. Mengajukan permohonan faktur guna pembuatan kelengkapan kendaraan
(BPKB, STNK, dan Plat Nomor).
e. Melakukan input BPKB guna menyimpan data-data atau informasi
customer dan kendaraan yang ada pada BPKB ke dalam sistem komputer.
f. Mengarsipkan dan mengefilekan dokumen-dokumen atau catatan-catatan
yang diperlukan di bagian penjualan.
g. Membuat laporan bulanan yang berupa laporan penjualan, laporan jumlah
unit yang ada di PDS, dan laporan penjualan dari sales atau sales counter
selama satu bulan.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 17
digilib.uns.ac.id

Bukti transaksi merupakan suatu dokumen yang menandai bahwa transaksi


yang sah telah terjadi. Setiap perusahaan mempunyai bukti transaksi yang
berbeda-beda, tergantung pada jenis dan besarnya perusahaan. Bukti transaksi
dapat berupa kuitansi, cek, faktur penjualan dan pembelian, tanda terima barang,
daftar gaji, tanda setoran ban, surat keputusan direktur atau komisaris, nota
pengiriman barang, dan sebagainya (Rahman Pura, 2013:19).
Berdasarkan hasil wawancara dengan Eko Pujo Leksono dan Minanto
selaku Staff Sales Administration, di dalam kegiatan penjualan ada beberapa hal
yang harus dilakukan dan dicatat sebagai bahan acuan guna mengevaluasi hasil
penjualan dan sebagai alat ukur laba atau rugi dari transaksi yang dilakukan. Bukti
transaksi dari adanya penjualan di perusahaan, antara lain:
a. Laporan Persediaan Barang
Laporan yang menyajikan data tentang barang masuk dan keluar, berkaitan
dengan jenis barang, tanggal pembelian dan penjualan yang berkaitan
dengan nota debet atau surat pesanan kendaraan agar mudah untuk
mengawasi barang apabila terjadi kerusakan, kehilangan, serta kehabisan
persediaan.
b. Stok Barang
Aplikasi daftar persediaan barang yang berisi tentang identitas dan lokasi
barang yang masih tersedia.
c. Surat Pesanan Kendaraan (SPK)
Surat yang isinya berupa identitas customer, jenis dan harga barang
pesanan yang diberikan kepada sales atau sales counter setelah adanya
persetujuan dari kedua belah pihak.
d. Purchase Order (PO)
Surat pesanan dari penjualan kredit yang berisi kesepakatan dari customer
terkait dengan rincian harga dan tahapan pembayaran, serta dapat
dijadikan sebagai bukti pengiriman barang.
e. Kuitansi
Bukti penerimaan uang dengan jumlah tertentu yang telah ditandatangani
oleh bagian kasir kemudiancommit to user
diberikan ke customer.
perpustakaan.uns.ac.id 18
digilib.uns.ac.id

f. Invoice
Invoice atau faktur penjualan yang merupakan bukti pencatatan adanya
kegiatan penjualan, biasanya berisi informasi barang yang dibeli dan
jumlah harga barang.
g. Faktur Kendaraan Bermotor (FKB)
Faktur ini berbeda dengan invoice, faktur kendaraan bermotor merupakan
bukti pencatatan yang berfungsi sebagai permohonan penerbitan BPKB
dan STNK, serta dijadikan bukti untuk dealer dan pemilik.
h. Laporan Penjualan
Laporan yang berisi tentang data barang yang terjual selama periode
tertentu dalam bentuk sistem komputer, yang meliputi identitas barang
yang terjual, harga jual, diskon, customer dan sales yang direkap agar
mengetahui sejauh mana kegiatan penjualan berkembang dengan optimal.

Berdasarkan penjelasan di atas, sudah nampak jelas bahwa dalam penjualan,


khususnya penjualan barang merupakan kegiatan menjual barang yang diproduksi
sendiri atau dibeli dari pihak lain untuk dijual kembali kepada customer baik
secara tunai maupun kredit. Jadi, secara umum kegiatan penjualan terdiri dari
transaksi penjualan barang atau jasa, yang pada dasarnya terdiri dari dua jenis
yaitu penjualan tunai dan penjualan kredit. Berikut beberapa penjelasan dari para
ahli terkait dengan penjualan tunai dan penjualan kredit:

4. Pengertian Penjualan Tunai


Menurut Mulyadi (2008:455), “Penjualan tunai dilaksanakan oleh
perusahaan dengan cara mewajibkan pembeli melakukan pembayaran harga
barang lebih dahulu sebelum barang diserahkan oleh perusahaan kepada pembeli.
Setelah uang diterima oleh perusahaan, barang kemudian diserahkan kepada
pembeli dan transaksi penjualan tunai kemudian dicatat oleh perusahaan.”

Menurut Yadiati dan Wahyu (2006:129), “Penjualan tunai adalah pembeli


langsung menyerahkan sejumlah uang tunai yang dicatat oleh penjual melalui
register kas.”
Jadi, dapat disimpulkan bahwa penjualan tunai adalah penjualan yang
commit to user
transaksi pembayaran dan pemindahan hak atas barangnya langsung melalui
perpustakaan.uns.ac.id 19
digilib.uns.ac.id

register kas atau bagian kassa, sehingga tidak perlu ada prosedur pencatatan
piutang pada perusahaan penjual.
Dalam penjualan tunai melibatkan beberapa bagian dalam perusahaan
dimaksudkan agar penjualan dapat diawasi dan berjalan dengan baik. Fungsi yang
terkait dalam penjualan tunai menurut Mulyadi (2001:462) adalah:
a. Fungsi Penjualan
Fungsi ini bertanggung jawab untuk menerima order dari pembeli, mengisi
faktur penjualan tunai, dan menyerahkan faktur tersebut kepada pembeli
untuk kepentingan pembayaran harga barang ke fungsi kas.
b. Fungsi Kas
Fungsi ini bertanggung jawab sebagai penerima kas dari pembeli.
c. Fungsi Gudang
Fungsi ini bertanggung jawab untuk menyiapkan barang yang dipesan oleh
pembeli, serta menyerahkan barang tersebut ke fungsi pengiriman.
d. Fungsi Pengiriman
Fungsi ini bertanggung jawab untuk membungkus barang dan
menyerahkan barang yang telah dibayar harganya kepada pembeli.

Dalam penjualan tidak pernah terlepas dari bukti-bukti yang menguatkan


atas terjadinya proses transaksi antara kedua belah pihak. Salah satu bukti bahwa
terjadinya suatu perjanjian transaksi adalah dokumen. Menurut Mulyadi
(2001:463) dokumen yang digunakan dalam penjualan tunai adalah:
a. Faktur Penjualan Tunai
Dokumen ini digunakan untuk merekam berbagai informasi yang
diperlukan oleh manajemen mengenai transaksi penjualan tunai. Faktur
penjualan tunai diisi oleh fungsi penjualan yang berfungsi sebagai
pengantar pembayaran oleh pembeli kepada fungsi kas.
b. Pita Register Kas (Cash Register Tape)
Dokumen ini dihasilkan oleh fungsi kas dengan cara mengoperasikan
mesin register kas (cash register). Pita register kas ini merupakan bukti
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 20
digilib.uns.ac.id

penerimaan kas yang dikeluarkan oleh fungsi kas dan merupakan dokumen
pendukung faktur penjualan tunai yang dicatat dalam jurnal penjualan.
c. Credit Card Sales Slip
Dokumen ini dicetak oleh credit card center bank yang menerbitkan kartu
kredit dan diserahkan kepada perusahaan (disebut merchant) yang menjadi
anggota kartu kredit.
d. Bill of Lading
Dokumen ini merupakan bukti penyerahan barang dari perusahaan
penjualan barang kepada perusahaan angkutan umum. Dokumen ini
digunakan oleh fungsi pengiriman dalam penjualan COD yang penyerahan
barangnya dilakukan oleh perusahaan angkutan umum.
e. Faktur Penjualan COD
Dokumen ini digunakan untuk merekam penjualan COD. Tembusan faktur
penjualan COD diserahkan kepada pelanggan melalui bagian angkutan
perusahaan, kantor pos, atau perusahaan angkutan umum dan dimintakan
tanda tangan penerimaan barang dari pelanggan sebagai bukti telah
diterimanya barang oleh pelanggan.
f. Bukti Setor Bank
Dokumen ini dibuat oleh fungsi kas sebagai bukti penyetoran kas ke bank.
Bukti setor dibuat 3 lembar dan diserahkan oleh fungsi kas ke bank,
bersamaan dengan penyetoran kas dari hasil penjualan tunai ke bank.

5. Pengertian Penjualan Kredit


Menurut Mulyadi (2001:210) “Penjualan kredit dilaksanakan oleh
perusahaan dengan cara mengirimkan barang sesuai dengan order yang diterima
dari pembeli dan untuk jangka waktu tertentu perusahaan mempunyai tagihan
kepada pembeli tersebut.”

Menurut Soemarso (2009:160) yaitu “Penjualan kredit adalah transaksi


antara perusahaan dengan pembeli untuk menyerahkan barang atau jasa yang
berakibat timbulnya piutang, kas aktiva.”
Dari kedua definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa penjualan kredit
commit to user
adalah suatu transaksi antara perusahaan dengan pembeli, mengirimkan barang
perpustakaan.uns.ac.id 21
digilib.uns.ac.id

sesuai dengan order serta perusahaan mempunyai tagihan kepada pembeli untuk
jangka waktu tertentu yang mengakibatkan timbulnya suatu piutang dan kas
aktiva.
Untuk menghindari tidak tertagihnya piutang, setiap penjualan kredit kepada
pembeli selalu didahului dengan analisis terhadap dapat atau tidaknya pembeli
tersebut diberi kredit. Fungsi yang terkait dalam penjualan kredit menurut
Mulyadi (2001:211-213) adalah:
a. Fungsi Penjualan
Dalam transaksi penjualan kredit, fungsi ini bertanggung jawab untuk
menerima surat order dari pembeli, mengedit order dari pelanggan untuk
menambahkan informasi yang belum ada pada surat order tersebut. Fungsi
ini juga bertanggung jawab untuk membuat “back order” pada saat
diketahui tidak tersedianya persediaan untuk memenuhi order dari
pelanggan.
b. Fungsi Kredit
Fungsi ini berada di bawah fungsi keuangan yang dalam transaksi
penjualan kredit, bertanggung jawab untuk meneliti status kredit
pelanggan dan memberikan otorisasi pemberian kredit kepada pelanggan.
c. Fungsi Gudang
Fungsi ini bertanggung jawab untuk menyimpan barang dan menyiapkan
barang yang dipesan oleh pelanggan, serta menyerahkan barang ke fungsi
pengiriman.
d. Fungsi Pengiriman
Fungsi ini bertanggung jawab untuk menyerahkan barang atas dasar surat
order pengiriman yang diterimanya dari fungsi penjualan. Fungsi ini
bertanggung jawab untuk menjamin bahwa tidak ada barang yang keluar
dari perusahaan tanpa ada otorisasi dari yang berwenang.

Menurut Mulyadi (2001:214-216) dokumen yang digunakan dalam


penjualan kredit adalah surat order pengiriman dan tembusannya. Surat order
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 22
digilib.uns.ac.id

pengiriman merupakan dokumen pokok untuk memproses penjualan kredit


kepada pelanggan. Berbagai tembusan surat order pengiriman terdiri dari:
1) Surat Order Pengiriman
Dokumen ini merupakan lembar pertama surat order pengiriman yang
memberikan otorisasi kepada fungsi pengiriman untuk mengirimkan
jenis barang dengan jumlah dan spesifikasi.
2) Tembusan Kredit (Credit Copy)
Dokumen ini digunakan untuk memperoleh status kredit pelanggan
dan untuk mendapatkan otorisasi penjualan kredit dari fungsi kredit.
3) Surat Pengakuan (Acknowledgement Copy)
Dokumen ini dikirimkan oleh fungsi penjualan kepada pelanggan
untuk memberitahu bahwa ordernya telah diterima dan dalam proses
pengiriman.
4) Surat Muat (Bill of Lading)
Tembusan surat muat ini merupakan dokumen yang digunakan
sebagai bukti penyerahan barang dari perusahaan kepada perusahaan
angkut umum.
5) Slip Pembungkus (Packing Slip)
Dokumen ini ditempelkan pada pembungkus barang untuk
memudahkan fungsi penerimaan di perusahaan pelanggan dalam
mengidentifikasi barang-barang yang diterimanya.
6) Tembusan Gudang (Warehouse Copy)
Merupakan tembusan surat order pengiriman yang dikirim ke fungsi
gudang untuk menyiapkan jenis barang dengan jumlah agar
menyerahkan barang tersebut ke fungsi pengiriman.

7) Arsip Pengendalian Pengiriman (Sales Order Follow-up Copy)


Merupakan tembusan surat order pengiriman yang diarsipkan oleh
fungsi penjualan menurut tanggal pengiriman yang dijanjikan.
8) Arsip Index Silang (Cross-index File Copy)
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 23
digilib.uns.ac.id

Merupakan tembusan surat order pengiriman yang diarsipkan secara


alfabetik menurut nama pelanggan untuk memudahkan menjawab
pertanyaan-pertanyaan dari pelanggan mengenai status pesanannya.

6. Pengertian Evaluasi Prosedur


Pengertian Evaluasi Prosedur menurut MC Maryati (2008:49) adalah:
“Perbaikan atau penyederhanaan dalam pelaksanaan pekerjaan perkantoran harus
selalu dilakukan untuk menemukan prosedur yang terbaik. Baik metode atau
prosedur harus selalu dilakukan perbaikan setelah melakukan evaluasi terlebih
dahulu.”

Bagan Evaluasi Prosedur dalam MC Maryati (2008:50)


Gambar 3. Evaluasi Prosedur

Prosedur

Evaluasi Waktu, tenaga, uang

EFISIEN atau INEFISIEN ?

Dipertahankan, diperbaiki atau disederhanakan

Dasar yang digunakan sebagai pertimbangan dalam evaluasi adalah efisiensi


dalam hal waktu, usaha dan biaya. Jika berdasarkan hasil evaluasi dinyatakan
tidak efisien maka selanjutnya perlu tindakan. Namun bisa juga perubahan
prosedur dilakukan karena adanya keluhan dari karyawan atau pelanggan.
Selanjutnya dari hasil evaluasi prosedur menghasilkan simpulan 3 hal yaitu:
a. Prosedur dipertahankan
commit to user
b. Prosedur disederhanakan
perpustakaan.uns.ac.id 24
digilib.uns.ac.id

c. Prosedur diperbaiki

Menurut MC Maryati (2008:50-51) menjelaskan tentang Penyederhanaan


merupakan:
“Sebuah prosedur atau metode kerja yang selama ini sudah dianggap baik, namun
perlu sekiranya dipelajari atau diamati lagi masih mungkinkah dilakukan
penyederhanaan. Berdasarkan pengalaman beberapa perusahaan yang mencoba
melakukan penyederhanaan pekerjaan (work simplification) mereka akan
tercengang dengan hasilnya. Karena tidak menyangka bisa melakukan efisiensi
yang nilainya sangat tinggi. Sebuah perusahaan penerbitan dengan melakukan
penyederhanaan prosedur dapat menghemat ratusan juta dalam satu tahun.
Penyederhanaan prosedur meliputi memperpendek tahapan, mempermudah
pelaksanaan, mengurangi sebagian dari tahapan yang biasanya dilakukan.”

Pengertian Perbaikan Prosedur menurut MC Maryati (2008:51-52) adalah:


“Prosedur yang telah ada seringkali perlu dilakukan perbaikan secara terus
menerus. Karena manajer kantor harus selalu mencari metode atau prosedur kerja
terbaik, agar efisiensi tercapai.”
Langkah-langkah perbaikan prosedur:
a. Temukan permasalahannya, misalnya boros, atau banyak keluhan.
b. Kumpulkan data-data pendukung, yang menguatkan alasan bahwa
prosedur harus diperbaiki.
c. Temukan prosedur yang lebih baik, dengan melihat mana yang harus
dihilangkan, ditambah, dikombinasikan, atau diubah.
d. Lakukan uji coba untuk prosedur baru tersebut.
e. Evaluasilah apakah prosedur baru tersebut benar-benar lebih baik.
f. Jika sudah baik lalu bakukan (standarisasi).

Jika perlu semua bagian yang terkait dilibatkan dalam perbaikan prosedur
tersebut. Cara ini sangat bagus untuk membangun suasana kerja yang baik. Setiap
karyawan yang terlibat dalam perbaikan akan merasa ikut menetapkan prosedur
baru tersebut, sehingga ketika harus menjalankan prosedur baru akan merasa lebih
ringan dan nyaman.
Dari uraian di atas untuk menjawab rumusan masalah yang telah ditentukan
sebelumnya, penulis akan menjelaskan dengan tinjauan pustaka mengenai
prosedur penjualan mobil. Adapun unsur yang diuraikan penulis untuk
mendeskripsikan tentang prosedur penjualan mobil di PT. Nasmoco Abadi Motor
commit to user
Karanganyar terdiri dari :
perpustakaan.uns.ac.id 25
digilib.uns.ac.id

1. Prinsip-prinsip prosedur penjualan mobil


2. Tujuan yang ingin dicapai perusahaan dalam prosedur penjualan mobil
3. Tahap-tahap penjualan mobil di dalam perusahaan
4. Dokumen yang terkait dalam penjualan tunai dan kredit
5. Fungsi atau bagian yang terkait dalam penjualan tunai dan kredit
6. Alur penjualan unit mobil di PT. Nasmoco Abadi Motor Karanganyar
7. Evaluasi prosedur penjualan mobil di PT. Nasmoco Abadi Motor
Karanganyar.
Selain itu, penulis juga akan memaparkan masalah-masalah yang timbul
selama prosedur penjualan mobil berlangsung di PT. Nasmoco Abadi Motor
Karanganyar. Beberapa unsur tersebut nantinya yang akan digunakan untuk
menjawab rumusan masalah yang telah ditentukan oleh penulis.

B. Metode Pengamatan

1. Lokasi Pengamatan
Lokasi yang dijadikan tempat pengamatan adalah PT. Nasmoco Abadi
Motor Karanganyar yang beralamat di Jalan Ring Road Utara Km 9 Jaten,
Karanganyar. Pengamat ditempatkan di bagian administrasi untuk membantu
kegiatan yang berkaitan dengan penjualan. Dari beberapa kegiatan yang dilakukan
selama di PT. Nasmoco Abadi Motor Karanganyar, maka pengamat tertarik pada
prosedur penjualan unit mobil yang dilakukan di perusahaan tersebut dengan
pertimbangan sebagaimana :
a. Dimungkinkan adanya pengumpulan data sebagai bahan pembuatan
laporan dengan judul Prosedur Penjualan Mobil pada PT. Nasmoco Abadi
Motor Karanganyar. Perusahaan ini merupakan salah satu perusahaan yang
berada di Karanganyar dengan tujuan untuk memberikan pelayanan
kepada pelanggan (customer) sekitar, salah satunya melakukan penjualan
mobil baru dengan varian yang beranekamacam. Maka prosedur sangat
diperlukan untuk meningkatkan kualitas penjualan agar tujuan yang
commit to user
diharapkan perusahaan tercapai.
perpustakaan.uns.ac.id 26
digilib.uns.ac.id

b. Dapat melakukan pengamatan di tempat tersebut sehingga penulis akan


memperoleh data, informasi dan referensi yang dibutuhkan untuk
membuat suatu laporan.

2. Jenis Pengamatan
Dalam pengamatan ini, pengamat menggunakan metode deskriptif yang
dilakukan dengan pengamatan secara langsung tentang suatu aktivitas yang ingin
diamati untuk nantinya dapat menghasilkan suatu data. Dengan menggunakan
metode pengamatan ini maka penulis ingin mengetahui dan memperoleh
informasi berkaitan dengan prosedur penjualan mobil di PT. Nasmoco Abadi
Motor Karanganyar dengan mendapat pengarahan dari pihak yang diamati
sehingga penulis nantinya dapat memaparkan dan mendeskripsikan secara rinci
dan jelas mengenai prosedur penjualan mobil yang diterapkan di perusahaan
tersebut.

3. Sumber Data
Dalam pengamatan ini, sumber data yang digunakan adalah sebagai berikut:
a. Narasumber (informan)
Dalam pengamatan deskriptif posisi sumber data manusia
(narasumber) sangat penting peranannya sebagai individu yang memiliki
informasi dan data dari informan ini diperoleh dengan wawancara secara
langsung pada informan, yang menjadi narasumber (informan) dalam
pengamatan ini adalah:
1) Bapak Rizky Firmansyah selaku Kepala Bagian Administrasi (ADH)
di PT. Nasmoco Abadi Motor Karanganyar.
2) Mas Eko Pujo Leksono dan Mas Minanto selaku Staff Administrasi
Penjualan (admin sales 1 dan 2).
3) Mbak Dian Ayu Purbondani selaku Sales Counter di PT. Nasmoco
Abadi Motor Karanganyar.
Pengamat dalam memilih narasumber (informan) yang akan dijadikan
commit to dengan
sumber data harus memperhatikan user baik agar data dan informasi
perpustakaan.uns.ac.id 27
digilib.uns.ac.id

yang diperoleh dari informan akurat dan valid sehingga data tersebut dapat
digunakan untuk penulisan laporan secara lengkap.
b. Hasil Pengamatan
Dalam tahap ini pengamat melakukan pengamatan pada bagian
administrasi di PT. Nasmoco Abadi Motor Karanganyar, dengan tujuan
untuk mengetahui kondisi dan kelengkapan alat atau benda di lokasi.
Tempat ini merupakan bagian dari kehidupan di dalam perusahaan yang
berperan penting pada administrasi yang digunakan selama penjualan
berlangsung. Dari pengamatan tersebut, maka pengamat bisa memperoleh
informasi yang berkaitan dengan perilaku atau peristiwa yang terjadi,
bahkan sangat berkaitan dengan sikap dan pandangan para karyawannya.
c. Beragam gambar dan rekaman
Beragam gambar yang ada dan berkaitan dengan aktivitas serta
kondisinya bisa dimanfaatkan sebagai sumber data. Sumber lain yang
cukup penting posisinya berupa rekaman yang bersifat audio maupun yang
visual. Gambar dan rekaman yang diperoleh secara langsung melalui
beberapa karyawan di PT. Nasmoco Abadi Motor Karanganyar, maka
dapat dijadikan sumber kelengkapan data dalam suatu laporan.
d. Dokumen
Dokumen merupakan suatu data yang tertulis dan tersimpan sesuai
dengan peristiwa dan aktivitas yang terjadi, selain data yang tertulis
dokumen juga harus memiliki beberapa jenis untuk membedakan dokumen
satu dengan dokumen lain. Diharapkan dokumen yang disimpan dan
ditulis ada keterangan yang jelas sehingga mudah untuk dipahami jenis
dan fungsi dokumen tersebut.
Dokumen yang mendukung dalam Tugas Akhir ini antara lain:
1) Dokumen-dokumen tentang prosedur penjualan unit mobil di PT.
Nasmoco Abadi Motor Karanganyar.
2) Dokumen-dokumen yang menunjang dapat berupa surat-surat,
brosur, laporan, struktur organisasi dan susunan tata kerja di PT.
Nasmoco Abadi Motor commit to user
Karanganyar.
perpustakaan.uns.ac.id 28
digilib.uns.ac.id

4. Teknik Pengumpulan Data


a. Wawancara
Dalam melakukan wawancara penulis mendapat informasi langsung
dari beberapa bagian yang terkait dengan adaaya transaksi penjualan di
PT. Nasmoco Abadi Motor Karanganyar. Hal ini dilakukan guna menggali
pandangan subjek yang diamati tentang banyak hal yang sangat
bermanfaat untuk menjadi dasar bagi penggalian informasi secara lebih
jauh dan mendalam. Oleh karena itu, pada subjek yang diamati posisinya
lebih berperan sebagai informan. Wawancara ini dapat dilakukan pada
waktu dan kondisi yang dianggap paling tepat guna mendapatkan data
yang valid, rinci, dan jujur. Untuk itu pengamat dalam melakukan
wawancara tidak hanya satu kali, karena pengamat butuh kejelasan dan
kemantapan pada masalah yang sedang amati.
b. Observasi
Dalam pengamatan ini, pengamat menggunakan observasi langsung
dengan mengamati kejadian-kejadian atau peristiwa-peristiwa nyata
mengenai masalah yang terjadi pada bagian administrasi khususnya pada
penjualan unit di PT. Nasmoco Abadi Motor Karanganyar, sehingga
pengamat berkesempatan mengumpulkan data yang benar-benar valid
untuk dilaporkan. Teknik observasi digunakan untuk menggali data dari
sumber yang berupa peristiwa, tempat atau lokasi, dan benda, serta
rekaman gambar.

c. Pengambilan gambar dan perekaman


Pada saat melakukan wawancara pengamat dapat mengambil foto
atau gambar dan merekam hal-hal yang berkaitan dengan masalah yang
akan ditanyakan. Sebelum wawancara dimulai pengamat meminta ijin
terlebih dahulu kepada narasumber karena selama wawancara berlangsung
commit oleh
pembicaraannya akan direkam to user
pengamat. Baik gambar maupun
perpustakaan.uns.ac.id 29
digilib.uns.ac.id

rekaman yang diperoleh selama pengamatan dapat membantu di dalam


pengumpulan data, terutama untuk memperjelas deskripsi berbagai situasi
dan perilaku subjek yang diteliti agar mendapatkan data yang lebih kuat,
jujur, dan mendalam.
d. Mengkaji Dokumentasi
Dokumentasi yang dilakukan pengamat dengan cara membaca dan
mempelajari surat-surat, brosur, laporan, peralatan-peralatan, susunan
organisasi dan tata kerja yang berhubungan dengan transaksi penjualan.
Sebab dalam pengolahan data pengamat banyak menggunakan
dokumentasi yang ada. Dokumen yang pengamat peroleh hanya untuk
memperkuat penulis dalam mengolah data sehingga ada keterkaitan di
dalam sebuah laporan.

5. Teknik Analisis Data


Analisis data yang digunakan penulis untuk acuan adalah analisis secara
deskriptif, yaitu analisis dengan cara menggambarkan kondisi yang sebenarnya
baik berupa, dokumen, tulisan, gambar maupun rekaman untuk ditayangkan
kembali ke dalam karya tulis secara jelas. Analisis ini dilakukan dengan
membandingkan teori-teori yang ada dengan kenyataan yang terjadi di perusahaan
berdasarkan data-data yang diperoleh, karena masalah ini tidak membuktikan
suatu hipotesa tetapi memberikan gambaran tentang prosedur penjualan mobil
pada PT. Nasmoco Abadi Motor Karanganyar.

commit to user