Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PEDAHULUAN
A. Latar Belakang
Anak adalah seseorang yang berusia sampai 18 tahun, termasuk anak yang masih
dalam kandungan (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2014). Dalam undang –
undang pokok kesehatan no. 9 tahun 1960 pasal 3 ayat (1) disebutkan bahwa
“Pertumbuhan anak yang sempurna dalam lingkungan hidup yang sehat adalah penting
untuk mencapai generasi yang sehat dan bangsa yang kuat.” Derajat kesehatan anak
mencerminkan derajat kesehatan bangsa, sebab anak sebagai generasi penerus bangsa
memiliki kemampuan yang dapat dikembangkan dalam meneruskan pembangunan bangsa
(Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2014). Berdasarkan alasan tersebut, maka
masalah kesehatan anak diprioritaskan dalam perencanaan atau penataan pembangunan
bangsa, salah satunya adalah dengan meningkatkan pemantauan tumbuh kembang anak
untuk menghindari gangguan yang menghambat perkembangan dan pertumbuhan anak
(Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2014).
Pertumbuhan dan perkembangan mengalami peningkatan yang pesat pada usia dini,
yaitu dari 0 sampai 5 tahun. Masa ini sering juga disebut sebagai fase ”Golden Age”.
Golden age merupakan masa yang sangat penting untuk memperhatikan tumbuh kembang
anak secara cermat agar sedini mungkin dapat terdeteksi apabila terjadi kelainan. Selain
itu, penanganan kelainan yang sesuai pada masa golden age dapat meminimalisir kelainan
pertumbuhan dan perkembangan anak sehingga kelaianan yang bersifat permanen dapat
dicegah. Pemantauan tumbuh kembang anak meliputi pemantauan dari aspek fisik,
psikologi, dan sosial. Pemantauan tersebut harus dilakukan secara teratur dan
berkesinambungan serta sedini mungkin (Soetjiningsih, 1998, 2003). Salah satu
keterampilan motorik yang paling jelas menandai kemandirian anak adalah berjalan,
dimana anak dapat bergerak kemana saja tanpa bantuan orang lain, umumnya aktivitas ini
pada anak usia 12 bulan. Bila anak tidak dapat berjalan pada waktunya atau gaya
berjalannya tidak normal, maka dapat diperkirakan bahwa anak tersebut mengalami
gangguan tumbuh kembang (Soetjiningsih, 2003).
Salah satu cara deteksi dini adalah gait analisis yaitu analisis cara berjalan.
Kelainan pada cara berjalan merefleksikan adanya penyakit dalam tubuh anak yaitu
gangguan tumbuh kembang diantaranya adalah gangguan petumbuhan fisik dan gangguan
perkembangan motorik. Analisis tentang cara berjalan ini dapat mendiagnosa penyakit
dan selanjutnya membantu rehabilitasi anak agar dapat kembali normal. Selain itu,

1
analisis gait juga dapat digunakan untuk olah ragawan professional dalam melakukan
latihan untuk meningkatkan performanya (Narendra, 2003).
Analisis gait pada umumnya dilakukan pada penderita dewasa atau orang tua yang
mengalami gangguan neurologis. Analisis gait pada anak belum umum dilakukan sehingga
manfaat analisis gait pada deteksi dini perlu dibahas secara lebih mendalam untuk dapat
dipahami serta dibudayakan dalam melakukan deteksi dini kelainan tumbuh kembang
pada anak.
Dari uraian di atas maka penulis tertarik untuk membahas manfaat analisis gait
dalam deteksi dini gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak.

B. Permasalahan
Mengingat analisis gait belum banyak dilakukan untuk deteksi dini gangguan
pertumbuhan dan perkembngan pada anak, maka tinjauan – tinjauan teori mengenai hal ini
masih belum banyak ditemukan. Mengingat masalah ini maka penulis merasa perlu
mengkaji hal ini. Dengan demikian maka dapat diidentifikasi permasalahan sebagai
berikut :
1. Bagaimanakah gambaran mengenai pertumbuhan dan perkembangan anak serta
gangguannya?
2. Bagaimanakah gambaran mengenai analisis gait?
3. Apakah manfaat analisis gait untuk deteksi dini pertumbuhan dan perkembangan anak?

C. Tujuan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah :
1. Untuk menjelaskan mengenai pertumbuhan dan perkembangan anak serta gangguannya
2. Untuk menjelaskan mengenai analisis gait
3. Untuk mengidentifikasi manfaat analisis gait dalam deteksi dini pertumbuhan dan
perkembangan anak

D. Manfaat
Adapun manfaat dari penulisan makalah ini adalah :
1. Memenuhi tugas Mata Ajaran Ilmu Pengetahuan Gerak pada Program Studi Fisioterapi
di Institut Ilmu Kesehatan Medika Persada Bali.
2. Makalah ini dapat dijadikan acuan dalam memahami Pertumbuhan dan Perkembangan
Anak serta Gait Analisis

2
BAB II
PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN ANAK

Dalam bab ini akan dijelaskan mengenai pengertian pertumbuhan dan perkembangan
anak serta gangguan – gangguan yang dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan
anak.
A. Pengertian Pertumbuhan Anak Perkembangan Anak
Istilah tumbuh kembang terdiri atas dua peristiwa yang sifatnya berbeda tetapi
saling berkaitan dan sulit untuk dipisahkan, yaitu pertumbuhan dan perkembangan.
Pertumbuhan adalah bertambahnya ukuran dan jumlah sel serta jaringan interselular,
berarti bertambahnya ukuran fisik dan struktur tubuh sebagian atau keseluruhan, sehingga
dapat diukur dengan satuan panjang dan berat. Perkembangan adalah bertambahnya
struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam kemampuan gerak kasar, gerak
halus, bicara dan bahasa serta sosialisasi dan kemandirian.
Pertumbuhan (growth) berkaitan dengan masalah perubahan ukuran, besar,
jumlah atau dimensi pada tingkat sel, organ maupun individu. Pertumbuhan bersifat
kuantitatif sehingga dapat diukur dengan satuan berat (gram, kilogram), satuan panjang
(cm,m), umur tulang, dan keseimbangan metabolic (retensi kalsium dan nitrogen dalam
tubuh). Perkembangan (development) adalah pertambahan kemampuan struktur dan fungsi
tubuh yang lebih kompleks. Perkembangan menyangkut adanya proses diferensiasi sel-sel,
jaringan, organ, dan sistem organ yang berkembang sedemikian rupa sehingga masing-
masing dapat memenuhi fungsinya.
Pertumbuhan mempunyai ciri-ciri khusus, yaitu perubahan ukuran, perubahan
proporsi, hilangnya ciri-ciri lama, serta munculnya ciri-ciri baru. Keunikan pertumbuhan
adalah mempunyai kecepatan yang berbeda-beda di setiap kelompok umur dan masing –
masing organ juga mempunyai pola pertumbuhan yang berbeda.
Terdapat 3 periode pertumbuhan cepat, yaitu masa janin, masa bayi 0 – 1 tahun, dan
masa pubertas. Proses perkembangan terjadi secara simultan dengan pertumbuhan,
sehingga setiap pertumbuhan disertai dengan perubahan fungsi. Perkembangan merupakan
hasil interaksi kematangan susunan saraf pusat dengan organ yang dipengaruhinya.
Perkembangan fase awal meliputi beberapa aspek kemampuan fungsional, yaitu kognitif,
motorik, emosi, sosial, dan bahasa. Perkembangan pada fase awal ini akan menentukan
perkembangan fase selanjutnya. Kekurangan pada salah satu aspek perkembangan dapat
mempengaruhi aspek lainnya.

3
B. Tahapan Pertumbuhan dan Perkembangan Anak
Tumbuh kembang anak berlangsung secara teratur, saling berkaitan, dan
berkesinambungan dimulai sejak pembuahan sampai dewasa. Walaupun terdapat variasi,
namun setiap anak akan melewati suatu pola tertentu. Tanuwijaya (2003)
memaparkan tentang tahapan tumbuh kembang anak yang terbagi menjadi dua, yaitu masa
pranatal dan masa postnatal. Setiap masa tersebut memiliki ciri khas dan perbedaan
dalam anatomi, fisiologi, biokimia, dan karakternya.
Masa pranatal adalah masa kehidupan janin di dalam kandungan. Masa ini
dibagi menjadi dua periode, yaitu masa embrio dan masa fetus. Masa embrio adalah masa
sejak konsepsi sampai umur kehamilan 8 minggu, sedangkan masa fetus adalah sejak
umur 9 minggu sampai kelahiran.
Masa postnatal atau masa setelah lahir terdiri dari lima periode. Periode
pertama adalah masa neonatal dimana bayi berusia 0 - 28 hari dilanjutkan masa bayi
yaitu sampai usia 2 tahun.
Masa prasekolah adalah masa anak berusia 2 – 6 tahun. Sampai dengan masa
ini, anak laki-laki dan perempuan belum terdapat perbedaan, namun ketika masuk dalam
masa selanjutnya yaitu masa sekolah atau masa pubertas, perempuan berusia 6 – 10 tahun,
sedangkan laki-laki berusia 8 – 12 tahun. Anak perempuan memasuki masa adolensensi
atau masa remaja lebih awal dibanding anak laki-laki, yaitu pada usia 10 tahun dan
berakhir lebih cepat pada usia 18 tahun. Anak laki-laki memulai masa pubertas pada usia
12 tahun dan berakhir pada usia 20 tahun.
Pertumbuhan organ-organ tubuh mengikuti 4 pola, yaitu pola umum, neural, limfoid,
serta reproduksi. Organ-organ yang mengikuti pola umum adalah tulang panjang, otot
skelet, sistem pencernaan, pernafasan, peredaran darah, volume darah. Perkembangan otak
bersama tulang-tulang yang melindunginya, mata, dan telinga berlangsung lebih dini. Otak
bayi yang baru dilahirkan telah mempunyai berat 25% berat otak dewasa, 75% berat otak
dewasa pada umur 2 tahun, dan pada umur 10 tahun telah mencapai 95% berat otak
dewasa. Pertumbuhan jaringan limfoid agak berbeda dengan dari bagian tubuh lainnya,
pertumbuhan mencapai maksimum sebelum remaja kemudian menurun hingga mencapai
ukuran dewasa. Sedangkan organ-organ reproduksi tumbuh mengikuti pola tersendiri,
yaitu pertumbuhan lambat pada usia pra remaja, kemudian disusul pacu tumbuh pesat pada
usia remaja.
Usia dini merupakan fase awal perkembangan anak yang akan menentukan
perkembangan pada fase selanjutnya. Perkembangan anak pada fase awal terbagi menjadi

4
4 aspek kemampuan fungsional, yaitu motorik kasar, motorik halus dan penglihatan,
berbicara dan bahasa, serta sosial emosi dan perilaku. Jika terjadi kekurangan pada salah
satu aspek kemampuan tersebut dapat mempengaruhi perkembangan aspek yang lain.
Kemajuan perkembangan anak mengikuti suatu pola yang teratur dan mempunyai variasi
pola batas pencapaian dan kecepatan. Batasan usia menunjukkan bahwa suatu patokan
kemampuan harus dicapai pada usia tertentu. Batas ini menjadi penting dalam penilaian
perkembangan, apabila anak gagal mencapai dapat memberikan petunjuk untuk segera
melakukan penilaian yang lebih terperinci dan intervensi yang tepat.

C. Gangguan Tumbuh Kembang Anak


Masalah yang sering timbul dalam pertumbuhan dan perkembangan anak
meliputi gangguan pertumbuhan fisik, perkembangan motorik, bahasa, emosi, dan
perilaku.

1. Gangguan Pertumbuhan Fisik


Gangguan pertumbuhan fisik meliputi gangguan pertumbuhan di atas
normal dan gangguan pertumbuhan di bawah normal. Pemantauan berat badan
menggunakan KMS (Kartu Menuju Sehat) dapat dilakukan secara mudah
untuk mengetahui pola pertumbuhan anak. Bila grafik berat badan anak lebih dari
120% kemungkinan anak mengalami obesitas atau kelainan hormonal. Sedangkan,
apabila grafik berat badan di bawah normal kemungkinan anak mengalami kurang
gizi, menderita penyakit kronis, atau kelainan hormonal.
Lingkar kepala juga menjadi salah satu parameter yang penting dalam
mendeteksi gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak. Ukuran lingkar
kepala menggambarkan isi kepala termasuk otak dan cairan serebrospinal. Lingkar
kepala yang lebih dari normal dapat dijumpai pada anak yang menderita
hidrosefalus, megaensefali, tumor otak ataupun hanya merupakan variasi normal.
Sedangkan apabila lingkar kepala kurang dari normal dapat diduga anak menderita
retardasi mental, malnutrisi kronis ataupun hanya merupakan variasi normal.
Deteksi dini gangguan penglihatan dan gangguan pendengaran juga perlu
dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya gangguan yang lebih berat. Jenis gangguan
penglihatan yang dapat diderita oleh anak antara lain adalah maturitas visual
yang terlambat, gangguan refraksi, juling, nistagmus, ambliopia, buta warna, dan
kebutaan akibat katarak, neuritis optik, glaukoma, dan lain sebagainya.

5
Sedangkan ketulian pada anak dapat dibedakan menjadi tuli konduksi dan
tuli sensorineural. Tuli pada anak dapat disebabkan karena faktor prenatal dan
postnatal. Faktor prenatal antara lain adalah genetik dan infeksi TORCH yang
terjadi selama kehamilan. Sedangkan faktor postnatal yang sering mengakibatkan
ketulian adalah infeksi bakteri atau virus yang terkait dengan otitis media.

2. Gangguan perkembangan motorik


Perkembangan motorik yang lambat dapat disebabkan oleh beberapa hal.
Salah satu penyebab gangguan perkembangan motorik adalah kelainan tonus otot
atau penyakit neuromuskular. Anak dengan serebral palsi dapat mengalami
keterbatasan perkembangan motorik sebagai akibat spastisitas, athetosis, ataksia,
atau hipotonia. Kelainan sumsum tulang belakang seperti spina bifida juga
dapat menyebabkan keterlambatan perkembangan motorik. Penyakit neuromuscular
sepeti muscular distrofi memperlihatkan keterlambatan dalam kemampuan berjalan.
Namun, tidak selamanya gangguan perkembangan motorik selalu didasari
adanya penyakit tersebut. Faktor lingkungan serta kepribadian anak juga dapat
mempengaruhi keterlambatan dalam perkembangan motorik. Anak yang tidak
mempunyai kesempatan untuk belajar seperti sering digendong atau diletakkan di
baby walker dapat mengalami keterlambatan dalam mencapai kemampuan motorik.

3. Gangguan perkembangan bahasa


Kemampuan bahasa merupakan kombinasi seluruh system perkembangan
anak. Kemampuan berbahasa melibatkan kemapuan motorik, psikologis, emosional,
dan perilaku. Gangguan perkembangan bahasa pada anak dapat diakibatkan berbagai
faktor, yaitu adanya faktor genetik, gangguan pendengaran, intelegensia rendah,
kurangnya interaksi anak dengan lingkungan, maturasi yang terlambat, dan faktor
keluarga. Selain itu, gangguan bicara juga dapat disebabkan karena adanya kelainan
fisik seperti bibir sumbing dan serebral palsi. Gagap juga termasuk salah satu gangguan
perkembangan bahasa yang dapat disebabkan karena adanya tekanan dari orang tua
agar anak bicara jelas.

4. Gangguan Emosi dan Perilaku


Selama tahap perkembangan, anak juga dapat mengalami berbagai gangguan
yang terkait dengan psikiatri. Kecemasan adalah salah satu gangguan yang muncul

6
pada anak dan memerlukan suatu intervensi khusus apabila mempengaruh interaksi
sosial dan perkembangan anak. Contoh kecemasan yang dapat dialami anak adalah
fobia sekolah, kecemasan berpisah, fobia sosial, dan kecemasan setelah mengalami
trauma. Gangguan perkembangan pervasif pada anak meliputi autisme serta gangguan
perilaku dan interaksi sosial. Autisme adalah kelainan neurobiologis yang menunjukkan
gangguan komunikasi, interaksi, dan perilaku. Autisme ditandai dengan terhambatnya
perkembangan bahasa, munculnya gerakan-gerakan aneh seperti berputar-putar,
melompat-lompat, atau mengamuk tanpa sebab.

D. Faktor – faktor yang Mempengaruhi Gangguan Pertumbuhan dan Perkembangan


Anak
Banyak faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak.
Secara garis besar faktor-faktor tersebut dapat dibagi menjadi 2 golongan, yaitu
faktor dalam (internal) dan faktor luar (eksternal/lingkungan). Pertumbuhan dan
perkembangan merupakan hasil interaksi dua faktor tersebut. Faktor internal terdiri dari
perbedaan ras/etnik atau bangsa, keluarga, umur, jenis kelamin, kelainan genetik,
dan kelainan kromosom. Anak yang terlahir dari suatu ras tertentu, misalnya ras Eropa
mempunyai ukuran tungkai yang lebih panjang daripada ras Mongol. Wanita lebih
cepat dewasa dibanding laki-laki. Pada masa pubertas wanita umumnya lebih cepat
daripada laki-laki, kemudian setelah melewati masa pubertas sebaliknya laki-laki akan
tumbuh lebih cepat. Adanya suatu kelainan genetik dan kromosom dapat mempengaruhi
pertumbuhan dan perkembangan anak, seperti yang terlihat pada anak yang menderita
Sindroma Down.
Selain faktor internal, faktor eksternal/lingkungan juga mempengaruhi pertumbuhan
dan perkembangan anak. Contoh faktor lingkungan yang banyak mempengaruhi
pertumbuhan dan perkembangan anak adalah gizi, stimulasi, psikologis, dan sosial
ekonomi. Gizi merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap proses tumbuh
kembang anak. Sebelum lahir, anak tergantung pada zat gizi yang terdapat dalam darah
ibu. Setelah lahir, anak tergantung pada tersedianya bahan makanan dan kemampuan
saluran cerna. Hasil penelitian tentang pertumbuhan anak Indonesia menunjukkan bahwa
kegagalan pertumbuhan paling gawat terjadi pada usia 6-18 bulan. Penyebab gagal
tumbuh tersebut adalah keadaan gizi ibu selama hamil, pola makan bayi yang salah, dan
penyakit infeksi.

7
Perkembangan anak juga dipengaruhi oleh stimulasi dan psikologis.
Rangsangan/stimulasi khususnya dalam keluarga, misalnya dengan penyediaan alat
mainan, sosialisasi anak, keterlibatan ibu dan anggota keluarga lain akan mempengaruhi
anak dalam mencapai perkembangan yang optimal. Seorang anak yang keberadaannya
tidak dikehendaki oleh orang tua atau yang selalu merasa tertekan akan mengalami
hambatan di dalam pertumbuhan dan perkembangan.
Faktor lain yang tidak dapat dilepaskan dari pertumbuhan dan perkembangan anak
adalah faktor sosial ekonomi. Kemiskinan selalu berkaitan dengan kekurangan makanan,
kesehatan lingkungan yang jelek, serta kurangnya pengetahuan.

8
BAB III
GAIT ANALISIS

A. Gait atau Gaya Berjalan


Salah satu gerak tubuh yang dilakukan manusia setiap harinya adalah berjalan.
Berjalan merupakan gerak lokomosi yang melibatkan dua kaki, untuk mendukung
propulsi dengan salah satu kaki kontak atau bersentuhan dengan tanah. Berjalan
meskipun terlihat sederhana namun melibatkan berbagai mekanisme yang bisa
menimbulan gerak kompleks. Gaya berjalan merupakan hasil integrasi antara tulang,
sistem saraf (sistem saraf pusat dan perifer), otot, dan factor lingkungan (sepatu,
permukaan tempat pijakan). Secara mekanis, gaya berjalan atau gait membutuhkan
kerjasama antara ekstremitas atas dan bawah pada kedua sisi. Ketika satu kaki
menyentuh tanah sebagai penahan, pendukung gerak, dan pendorong, kaki lainnya
mengayun untuk membuat satu langkah. Hal tersebut menimbulkan gait/gaya berjalan
sebagai gerakan bergantian yang ritmis antara kaki, lengan dan badan untuk membuat
gerak maju. Syarat terbentuknya suatu gait adalah balance (keseimbangan), weight
bearing, dan forward propultion (dorongan kedepan).
Gait atau gaya berjalan merupakan suatu fenomena siklik yang bisa dibagi dalam
segmen atau fase. Berdasarkan terminologi tradisional, gait digambarkan sebagai proses
heelstrike, heel rise, dan toe off. Sedangkan menurut terminologi Rancho Los Amogis
(RLA) yang populer di awal 1990-an, lebih menekankan pada lamanya segmen atau
proses, seperti loading response, terminal stance, dan pre-swing.
Saat berjalan salah satu ekstremitas akan berperan memberikan support bagi
ekstremitas lainnya yang berpindah maju / berganti gerakan. Ekstremitas akan bergerak
bergantian hingga seseorang mencapai tempat yang dituju. Urutan tunggal fungsi tersebut
oleh satu ekstremitas disebut gait cycle yang diatur menjadi gerakan secara ritmik tejadi
secara berurutan oleh sistem reticulospinal.
Siklus gait dimulai dari salah satu kaki bersentuhan tanah hingga diakhiri kontak
lantai/tanah berikutnya oleh kaki yang sama.
Berjalan adalah berpindahnya tubuh dari satu titik ke titik berikutnya dengan cara
menggunakan kedua tungkai (bipedal : posisi tubuh selalu tegak selama proses
berlangsung). Pola repetisi daripada penumpuan berat badan dari satu tungkai ke tungkai
yang lain dengan heel-toe striding adalah fenomena yang membedakan manusia dengan
hominids yang lebih primitif.

9
Berjalan merupakan suatu rangkaian dari gait cycle, dimana satu gait cycle dikenal
dengan sebutan langkah (stride). Single gait cycle adalah suatu periode dimana salah satu
kaki mengenai landasan (ground), mengayun dan kaki tersebut kembali mengenai
landasan.
Siklus gait terdiri dari dua bagian, yaitu berdiri (stance) dimana kaki mengenai
landasan dan bagian mengayun (swing) dimana kaki tidak mengenai landasan. Tahapan
fase yang terjadi pada gait cycle adalah initial contact, loading response, midstance,
terminal stance, pre swing, initial swing, mid swing, dan terminal swing.
Gait cycle terdiri dari 2 periode, yaitu periode berdiri (stance) dimana anggota badan
(kaki) mengenai landasan, dan periode mengayun (swing) dimana anggota badan tidak
mengenai landasan. Gait cycle dibagi kedalam delapan fase yang memiliki tiga tugas
fungsional anggota tubuh tersebut : weight acceptance (WA), single limb support (SLS),
dan limb advancement (LA).
Weight acceptance yaitu tugas fungsional anggota badan dalam menerima beban
badan keseluruhan pada saat berjalan, melakukan penyerapan goncangan saat berjalan dari
gaya jatuh bebas tubuh, stabilisasi awal dalam periode berdiri dan memelihara momentum
forward progression. Tugas tersebut terdiri dari 2 fase pada gait cycle, yaitu initial
contact/heel strike (HS) dan loading response/foot flat(FF).
Periode berdiri diikuti dengan pendukung anggota tubuh tunggal (single limb
support/SLS), terdiri dari fase midstance dan fase terminal stance. Selama melakukan
tugas weight acceptance, anggota badan berdiri dengan tanggung jawab total untuk
menahan berat tubuh sementara anggota tubuh lainnya berada pada periode mengayun.
Tugas fungsional ketiga yaitu limb advancement, dimana terdapat empat fase yang
berperan pada limb advancement: terminal stance, preswing, initial swing, midswing,dan
terminal swing. LA dimulai pada akhir periode berdiri, dimana selama fase tersebut
anggota badan melakukan advancement untuk mempersiapkan fase berikutnya.
Fasepreswing melakukan sekaligus dua tugas, yaitu tugas fungsional sigle limb support
danlimb advancement.
Cara berjalan manusia merupakan penggambaran dari pendekatan top-down. Pada
awal terjadinya proses gait, sebagai syaraf impalas yang terjadi didalam central nervous
system (SSP) diakhiri dengan pembangkitan ground reaction forces (GRF) (anggota tibuh
bagian bawah yaitu kaki). Karakteristik dari pendekatan tersebut berdasarkan pada sebab
akibat, dimana ketika otot-otot diaktifkan akan membangkitkan gaya – gaya dan momen-
momen yang saling berkaitan untuk mengeksekusi perintah system syaraf pusat, gaya-

10
gaya dan momen yang terjadi mengakibatkan munculnya GRF pada kaki. Gaya gabungan
dan momen-momen menyebabkan rigid link segment (paha, betis, kaki, dan lainnya)
memindahkan dan menghasilkan gaya pada lingkungan luar (Chambers & Sutherland,
2002).
Berikut adalah interaksi antar urutan gait cycle dalam berjalan, yaitu :
1. Registrasi dan aktivasi perintah berjalan oleh system syaraf pusat (central nervous
system)
2. Perpindahan sinyal berjalan system syaraf tubuh (peripheral nervous system)
3. Kontraksi otot-otot yang dapat menghasilkan denyut tubuh (tension)
4. Pembangkitan gaya dan momen dalam synovial joints
5. Pengaturan gaya dan momen gabungan oleh rigid link segment berdasarkan
antropometri tubuh
6. Perpindahan (gerakan) dari segmen-segmen untuk mengenalinya sebagai fungsi dari
berjalan
7. Pembangktan ground reaction forces (GRF)

Gambar berikut menunjukkan fase dari siklus gait :

B. Gait Analysis
Gerak tubuh manusia merupakan gerak yang sangat komplek yang dihasilkan
melalui sebuah sistem yang tersusun dari tulang, otot, sendi dan saraf. Satu gerak

11
manusia saja sudah cukup kompleks untuk dianalisis dan menyangkut berbagai
aspek, misalnya berjalan.
Gait analysis merupakan bagian dari studi gerak tubuh manusia yang secara spesifik
untuk mempelajari gerakan berjalan manusia. Analisa gait ini salah satunya dapat
digunakan dalam bidang keamanan untuk mengenali gaya berjalan manusia (gait
recognition).
Proses ekstraksi gaya berjalan manusia dilakukan dalam beberapa tahapan yang
dilakukan secara otomatis. Tahapan diawali dengan mengestimasi gerakan dalam jumlah
banyak yang diakumulasikan kedalam satu area dan menerapkan batasan – batasan
anatomis dalam mode hirarki untuk mengekstraksi parameter – parameter bagian tubuh
yang tetap. Kemudian periode gaya berjalan diperkirakan dengan menggunakan analisis
ketajaman tepi pada representasi daerah kaki.
Pengukuran gait meliputi 2 bagian, yaitu pengukuran pergerakan tubuh yang disebut
sebagai pengukuran kinematic dan pengukuran gaya yang bekerja selama tubuh
bergerak yang disebut dengan pengukuran secara kinetik. Pengukuran secara kinematik
meliputi beberapa sistem dan metode, diantaranya :
1. Photography, yang merupakan metode paling dasar untuk merekam pergerakan tubuh
dan frekuensi cahaya kamera digunakan untuk membantu analisa gait pada sebuah
gambar.
2. Video recording, yang menggunakan satu atau beberapa kamera dapat
digunakan untuk mengukur sudut dan kecepatan pergerakan tubuh. Metode ini
telah dibantu dengan penggunaan software untuk menganalisa gait sehingga sistem
ini menjadi sangat simpel dan efisien. Bahkan dengan metode ini dapat
digunakan untuk menganalisa 3 dimensi.
3. Passive marker systems, dengan menggunakan marker yang memantulkan cahaya
dapat menghasilkan pengukuran yang akurat dengan menggunakan sedikitnya 8
kamera. Kamera mengirimkan sinyal infra red yang mendeteksi marker pada tubuh.
Gait dapat dianalisa berdasarkan sudut dan waktu delay yang dihasilkan antara sinyal
infra red sesungguhnya dan sinyal infra red hasil pantulan dari marker.
4. Active marker systems, hampir sama dengan passive marker hanya saja yang
digunakan adalah active marker. Marker ini dapat memancarkan sinyal infra red
dari dirinya sendiri. Sinyal ini kemudian ditangkap oleh kamera dan digunakan
untuk analisa gait. Keunggulan dari sistem ini adalah, active marker memiliki
frekuensi sendiri sehingga dia punya identitas sendiri, sehingga tidak perlu adanya

12
proses penentuan marker dan sistem ini mengurangi ketidak-terdeteksinya marker yang
terjadi pada sistem passive marker. Oleh karena itu, modern laboratorium untuk
analisa gait terdiri dari beberapa kamera yang diletakkan mengelilingi lintasan
treadmill yang terhubung ke komputer. Pasien diberi marker pada titik anatomi,
pasien berjalan sesuai lintasan atau berjalan pada treadmill dan komputer
mengkalkulasi lintasan dari tiap markernya.
Pengukuran secara kinetik, biasanya dilakukan pada laboratorium yang
memiliki lantai dengan transducer beban (load transducers), atau lebih dikenal
dengan force-plates, yang mengukur gaya aksi reaksi terhadap ground. Sebagai
tambahan, untuk mengetahui gaya dinamik pada setiap bagian tubuh, maka dapat
digunakan persamaan hukum Newton sehingga komputer dapat mengkalkulasi gaya
aksi reaksi pada setiap bagian otot dan total moment gaya pada setiap gait cycle
(Chambers & Sutherland, 2002).

C. Manfaat Gait Analisis untuk Deteksi Dini Gangguan Tumbuh Kembang Anak
Kelainan pada cara berjalan merefleksikan adanya penyakit dalam tubuh anak
yaitu gangguan tumbuh kembang diantaranya adalah gangguan petumbuhan fisik dan
gangguan perkembangan motorik. Analisis tentang cara berjalan ini dapat
mendiagnosa penyakit dan selanjutnya membantu rehabilitasi anak agar dapat kembali
normal. Selain itu, analisis gait juga dapat digunakan untuk olah ragawan professional
dalam melakukan latihan untuk meningkatkan performanya.
Gait saat ini juga digunakan sebagai alat identifikasi secara biometrik, yang dilihat
dari pengukuran pergerakan tubuh yang disebut sebagai pengukuran kinematik parameter
yang digunakan yaitu panjang langkah, lebar langkah, kecepatan berjalan, dan juga
kinematik tubuh seperti perputaran sendi, rata-rata sudut pada lutut, dan lain sebagainya.
Ada korelasi yang tinggi antara panjang langkah dan tinggi badan seseorang. Sedangkan
jika dilihat dari pengukuran secara kinetik, maka didapatkan pengukuran gaya dan juga
moment yang bekerja selama tubuh bergerak.

13
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari makalah ini adalah :
1. Pertumbuhan dan perkembangan anak sangat penting untuk dipantau dan diawasi demi
terciptanya generasi muda yang sehat dan produktif
2. Gangguan pertumbuhan dan perkembangan meliputi gangguan pertumbuhan fisik,
gangguan perkembangan motorik, gangguan perkembangan bahasa serta gangguan
emosi dan prilaku
3. Analisis gait atau analisis cara berjalan dapat dipergunakan sebagai deteksi dini adanya
gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak
B. Saran
Adapun saran – saran yang dapat disampaikan adalah :
1. Mahasiswa Fisioterapi harus memahami gambaran pertumbuhan dan pekembangan
anak, gangguannya, serta analisis gait sebagai deteksi dini adanya gangguan.
2. Mahasiswa Fisioterapi untuk selanjutnya sebaiknya memahami siklus gait normal serta
dapat melakukan analisis gait sebagai deteksi dini gangguan tumbuh kembang.

14
Daftar Pustaka

Chambers, H. G., & Sutherland, D. H. (2002). A Practical Guide to Gait Analysis. Journal of
the American Academy of Orthopaedic Surgeons.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2014). Peraturan Kementerian Kesehatan


Republik Indonesia Nomor 66 Tahun 2014 tentang Pemantauan Petumbuhan,
Perkembangan Anak dan Gangguan Tumbuh Kembang Anak Jakarta: Kemenkes RI.

Narendra, M. B. (2003). Penilaian Pertumbuhan dan Perkembangan Anak. Jakarta: ECG.

Soetjiningsih. (1998). Tumbuh Kembang Anak. Jakarta: ECG.

Soetjiningsih. (2003). Perkembangan Anak dan Permasalahannya. Jakarta: ECG.

15

Anda mungkin juga menyukai