Anda di halaman 1dari 3

Nama : Fikrie Fauzan

NIM : B1A015086
Kelas : Bioetik B

Deskripsi Isu Etik


Studi kasus yang dibahas pada analisa isu etik melibatkan penggunaan teknik meta kloning
pada bidang pangan, yaitu kloning pada ayam konsumsi. Kloning dilakukan dengan menginduksi
sel dari ayam bulu hitam kedalam telur ayam putih, induksi tersebut dilakukan karena ayam bulu
hitam mewakili unggas yang baik, karena dapat tumbuh cepat dan tepat guna namun tidak dapat
bertelur banyak, sementara ayam putih digunakan karena mewakili ayam petelur. Keberhasilan
induksi ditentukan oleh ayam yang menetas, semakin hitam bulu ayam maka semakin banyak
daging yang diproduksi.

Prinsip
Interest Group
Well Being Autonomy Justice
Mendapatkan
Peningkatan kuantitas Kebebasan mengatur
perlindungan hukum
dan kualitas produksi peternakan
Peternak dan izin pembiakan
Ya Tidak Abstain
Tidak dilakukan
Perawatan Hewan -
pelabelan GMO
Ayam ternak
Abstain - Tidak
Peningkatan kualitas Kebebasan memilih Mendapatkan
pangan bahan pangan jaminan kesehatan
Konsumen
Ya Ya Ya
Mendapat izin
Peningkatan Kebebasan memilih perdagangan dan
pendapatan bahan baku produksi pengawasan mutu
Pengusaha kuliner
serta keamanan
Ya Ya Ya
Argumentasi pilihan.

Berdasarkan isu etik diatas, ditinjau dari sudut pandang kesejahteraan, induksi sel ayam
bulu hitam ke telur ayam petelur dapat meningkatkan kesejahteraan bagi peternak, dikarenakan
produksi ayam pedaging dapat diperoleh secara cepat dengan kuantitas yang banyak, dengan
demikian peternak ayam dapat memperoleh ayam pedaging yang baik tanpa terkendala waktu dan
biaya perawatan. Berdasarkan jaminan kesehatan, masih menjadi garis abu, dikarenakan masih
sedikitnya riset yang dilakukan terhadap kondisi genetik hewan tersebut, karena setiap individu
memiliki laju mutasi individu yang berbeda bahkan pada kembar identik sekalipun. Sedangkan
bagi konsumen rekayasa genetik dapat menjadi dua mata pisau yang berlawanan, disatu sisi
rekayasa genetika pada ayam pedaging dapat meningkatkan daya konsumsi karena hasil rekayasa
genetika bisa diproduksi dan didapatkan dengan mudah, tanpa dibatasi oleh rendahnya produksi
telur ayam bulu hitam, sedangkan dari sudut pandang pengusaha kuliner dapat menguntungkan
dan meningkatkan pendapatan karena menurunkan biaya produksi disertai peningkatan kualitas
produk.
Ditinjau dari aspek kebebasan untuk memilih (freedom of choice) peternak harus
dikendalikan baik melalui peraturan pemerintah ataupun peraturan lainnya agar kesalahan manusia
terkait dengan Genetically Modified Organism dapat diminimalisir. Berdasarkan sudut pandang
konsumen, konsumen berhak menentukan dan memilih bahan pangan apa yang baik dan aman
menurutnya. Serupa dengan kebebasan konsumen untuk memilih bahan pangan, hal tersebut juga
berlaku bagi pengusaha kuliner dimana berhak memilih bahan apa yang cocok untuk produknya.
Aspek Justice atau keadilan pada dasarnya meliputi perbuatan, perlakuan yang tidak berat
sebelah, tidak sewenang-wenang, dan hal terkait lainnya. Dasar keadilan di Indonesia setiap warga
negara memiliki kedudukan yang sama dimata hukum, tetapi pada kasus ini bagi peternak agar
memiliki perlindungan hukum atas usahanya harus dengan syarat berupa persetujuan dari dinas
terkait, baik Dinas Kesehatan, Dinas Peternakan dan Perikanan, maupun dinas terkait lainnya.
Permasalahan yang bisa muncul yaitu permasalahan mengenai analisis dampak lingkungan
(AMDAL) dimana peternak kurang memperhatikan proses pengolahan limbah kotoran dan sisa
pakan dari peternakan itu sendiri, sehingga merugikan warga dan lingkungan sekitar. Selain itu,
dari interest group ayam ternak sebaiknya tetap dilakukan pelabelan GMO. Karena pada dasarnya
modifikasi secara genetik pada ayam tersebut dilakukan atas kebutuhan manusia, sehingga
manusia berhak tau mengenai segala informasi mengenai rekayasa genetik tersebut. Selain itu,
konsumen juga mendapat jaminan kesehatan atas produk rekayasa genetik yang dikonsumsi.
Sedangkan bagi pengusaha kuliner berhak mendapatkan izin untuk menjual produk rekayasa
genetik tersebut dengan pengawasan dan penjaminan dari Balai Pengawasan Obat dan Makanan
serta memberikan informasi kepada konsumen mengenai produknya.

Rekomendasi dan Kesimpulan.


Berdasarkan isu etik dan argumentasi diatas, dapat disimpulkan bahwa setiap rekayasa
genetik pada bidang pangan dapat memunculkan resiko bagi kesehatan. Hal tersebut dapat
diminimalisir dengan memperketat pengawasan dan perlindungan dari peternak, produsen, hingga
konsumen. Selain itu resiko dapat diminimalisir dengan memberikan edukasi atau pendidikan
mengenai produk tersebut pada segala sektor terkait, baik bagi peternak, produsen kuliner maupun
konsumen.