Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

Mikroba adalah organisme berukuran mikroskopis yang antara lain terdiri dari
bakteri, fungi dan virus. Bakteri merupakan mikroba prokariotik yang rata-rata
selnya berukuran 0,5-1 x 2-5 µm, berbentuk elips, bola, batang atau spiral. Menurut Gandjar
(2006), fungi adalah organisme eukariotik, bersifat heterotrof, dinding selnya
mengandung kitin, tidak berfotosintesis, mensekresikan enzim ekstraseluler ke
lingkungan dan memperoleh nutrien dengan cara absorpsi. Berdasarkan
penampakannya, fungi dikelompokkan ke dalam kapang (mold), khamir (yeast), dan
cendawan (mushroom). Cendawan merupakan fungi yang berukuran makroskopis,
sedangkan kapang dan yeast adalah fungi yang berukuran mikroskopis. Menurut
Rachmawan (2001), rata-rata sel kapang berukuran 1-5 x 5-30 µm dan yeast berukuran
1-5 x 1-10 µm. Kapang adalah fungi multiseluler berfilamen dengan susunan hifa yang
menyerupai benang (Brock et al., 2006). Yeast merupakan fungi uniselular. Pada yeast
tertentu yang bersifat patogenik seperti Candida sp., mengalami dua fase (dimorfisme)
dalam siklus hidupnya, yaitu fase yeast (membentuk sel tunggal) dan fase miselium
untuk penetrasi ke jaringan inangnya. Selain berinteraksi intraspesies, mikroba tersebut
juga berinteraksi secara interspesies dengan manusia, tumbuhan, dan hewan. Dalam
interaksinya dengan manusia, mikroba tersebut ada yang bersifat menguntungkan dan
merugikan. Contohnya bakteri patogen Escherichia coli dan kelompok bakteri Coliform
dapat menyebabkan diare, kolera, dan penyakit saluran pencernaan lainnya. Kapang dan
khamir menyebabkan penyakit karena menghasilkan racun (mikotoksin) dan
menginfeksi permukaan tubuh seperti kulit, kuku, dan rambut (mikosis superfisial),
serta menyerang jaringan dalam tubuh melalui peredaran darah (mikosis sistemik).
Salah satu upaya untuk melawan mikroba tersebut adalah dengan menggunakan
mikroba lain yang mempunyai sifat antagonis (antimikroba) sebagai pengganggu atau
penghambat metabolisme mikroba lainnya. Mikroba antagonis yang memiliki
kemampuan antimikroba tersebut dapat menghasilkan senyawa antimikroba.
BAB II
ANTIMIKROBA
I. Pengertian
Antimikroba adalah bahan-bahan atau obat-obat yang digunakan untuk
memberantas/membasmi infeksi mikroba, khususnya yang merugikan manusia,terbatas
yang bukan parasit diantaranya antibiotika, antiseptika, khemoterapeutika, preservative.
Antibiotika adalah suatu senyawa kimia yang dihasilkan oleh mikroorganisme, yang
dalam konsentrasi kecil mempunyai kemampuan menghambat atau membunuh
mikroorganisme lain.

II∙ Penggolongan antimikroba


1. Berdasarkan mekanisme kerjanya
1. 1. Bersifat sebagai antimetabolit/ penghambatan metabolisme sel.
Koenzim asam folat di perlukan untuk sintesis purin dan pirimidin (prekursor
DNA dan RNA) dan senyawa-senyawa lain yang dipelukan untuk
pertumbuhan seluler dan replikasi. Untuk banyak mikroorganisme, asam p-amino
benzoate (PABA) merupakan metabolit utama. Antimikroba seperti sulfonamide
secara struktur mirip dengan PABA, asam folat, dan akan berkompetisi dengan
PABA untuk membentuk asam folat, Jika senyawa antimikroba yang menang
bersaing dengan PABA maka akan terbentuk asam folat non fungsional yang akan
mengganggu kehidupan mikroorganisme. Contoh obat: Sulfonamid, trimetoprim,
asam p-aminosalisilat

1. 2. Penghambatan sintesis dinding sel


Antimikroba golongan ini dapat menghambat biosintesis
peptidoglikan, sisntesis mukopeptida atau menghambat sintesis peptide dinding sel ,
sehingga dinding sel menjadi lemah dank arena tekanan turgor dari dalam, dinding
sel akan pecah atau lisis sehingga bakteri akan mati. Contoh obat: penisilin,
sefalosforin, sikloserin, vankomisin, basitrasin, dan antifungi gol. Azol.
1.3. Penghambatan fungsi permeabilitas membrane sel
Antimikroba bekeja secara langsung pada membrane sel yang
mempengarui permeabilitas dan menyebabkan keluarnya senyawa intraseluler
mikroorganisme, sehingga sel mengalami kerusakan bahkan mati. Contoh Obat :
polimiksin, nistatin, dan amfoteresin B

1. 4. Penghambatan sintesis protein yang reversible


Mempengaruhi fungsi sub unit 50S dan 30S. Antimikroba akan menghambat
reaksi transfer antara donor dengan aseptor atau menghambat translokasi t-RNA
peptidil dari situs aseptor kesitus donor yang menyebabkan sitesis protein terhenti.
Contoh obat : kloramfenikol, gol. Tetrasiklin, eritromisin, klindamisin, dan
pristinamisin

1. 5. Pengubahan sintesis protein


Berikatan dengan subunit ribosom 30S dan mengubah sintesis protein,
yang pada akhirnya akan mengakibatkan kematian sel. Contoh obat : aminoglikosida

1. 6. Penghambatan asam nukleat


Antimikroba mempengaruhi metabolis asam nukleat bakteri, contoh obat : gol.
Rifamisin, yang menghambat RNA polimerase , dan yang menghambat
topoisomerase. Contoh obat : golongan kuinolon

1. 7. seny. Antivirus yang terdiri beberapa gol :


a. Analog asam nukleat, secara selektif menghambat DNA polimerase
virus (asiklovir ), menghambat transkriptase balik (zidovudin)
b. Inhibitor transkriptase balik non-nukleosida (nevirapin)
c. Inhibitor enzim2 esensial virus lainnya, mis.inhibitor protease HIV atau
neuranidase influenza.
Cat :
Mekanisme kerja pasti beberapa seny. Antimikroba masih belum diketahui.
2. Berdasarkan spektrumnya
2.1 Antibiotik dengan spektrum luas, efektif baik terhadap gram positif maupun gram
negatif. Contoh obat: tetrasiklin, amfenikol, aminoglikosida, makrolida, rifampisin,
turunan penisilin (ampisilin, amoksisilin, bakampisilin, karbanesilin, hetasilin,
pivampisilin, sulbenisilin, dan tirkasilin), dan sebagian besar turunan sefalosporin

2.2 Antibiotik yang aktivitasnya lebih dominan terhadap gram positif


Contoh obat: basitrasin, eritromisin, sebagian besar turunan penisilin sprt
benzilpenisilin, penisilin G prokain, penisilin V, fenetilisin K, metisilin Na, turunan
linkosamida, asam fusidat, dan beberapa turunan sefalosporin.

2.3 Antibiotik yang aktivitasnya lebih dominan terhadap bakteri gram negatif
Contoh obat: kolkistin, polimiksin B sulfat, dan sulfomisin

2.4 Antibiotik yang aktivitasnya lebih dominan thdp Mycobacteriae (antituberkulosis)


Contoh obat: streptomisin, kanamisin, sikloserin, rifampisin, viomisin, dan
Kapreomisin

2.5 Antibiotik yang aktif terhadap jamur (antijamur),


Contoh obat: griseofulvin, dan antibiotik polien seperti nistatin, amfoterisin B, dan
kandisidin

2.6 Antibiotik yang aktif terhadap neoplasma (antikanker)


Contoh obat: aktinomisin, bleomisin, daunorubisin, mitomisin, dan mitramisin

3. Berdasarkan Struktur kimianya


3.1 Antibiotik -laktamβ
3.2 Turunan amfnikol
3.3 Turunan tetrasklin
3.4 Aminoglikosida
3.5 Makrolida
3.6 Polipeptida
3.7 Linkosamida
3.8 Polien
3.9 Ansamisin
3.10 Antrasiklin

4. Berdasarkan Aksi utamanya


4.1 Bakteriostatik : menghambat pertumbuhan mikroba
Contoh obat : Penisilin, Aminoglikosid, Sefalosporin, Kotrimoksasol, Isoniasid,
Eritromisin (kadar tinggi), Vankomisin

4.2 Bakterisida : membunuh / memusnahkan mikroba


Contoh obat : Tetrasiklin, Asam fusidat, Kloramfenikol, PAS, Linkomisin,
Eritromisin kadar rendah), klindamisin

5. Berdasarkan Tempat kerjanya


5.1 Dinding sel, menghambat biosintesis peptidoglikan, Contoh obat:
penisilin, sefalosporin, basitrasin, vankomisin, sikloserin.
5.2 Membran sel, fungsi dan integritas membran sel, Contoh obat:
nistatin, amfoteresin, polimiksin B.
5.3 Asam nukleat, menghambat biosintesis DNA, mRNA, biosintesis DNA dan
mRNA. Contoh obat: mitomisin C, rifampisin, griseofilvin
5.4 Ribosom, menghambat biosintesis protein (subunit 30S prokariotik
contoh: aminosiklitol, tetrasiklin, subunit 50S prokariotik contoh: amfenicol,
makrolida, linkosamida.

III. Resistensi Antimikroba


Resistensi sel mikroba adalah suatu sifat tidak terganggunya kehidupan sel mikroba
oleh antimikroba. Sifat ini merupakan suatu mekanisme alamiah untuk bertahan hidup.
A. Pembagian resistensi :
a. Resistensi genetic
1. Mutasi spontan
- gen mikroba berubah karena pengaruh AM
- terjadi seleksi, galur resisten bermultiplikasi, yang peka terbasmi, tersisa populasi
resisten
2. Resistensi dipindahkan
- Transformasi
- Transduksi
- Konjugasi
b. Resistensi silang
Keadaan resistensi terhadap Antimikroba tertentu yang juga memperlihatkan resistensi
terhadap Antimikroba yang lain

Terjadi :
- antara Antimikroba dengan struktur kimia yang mirip
- antara Antimikroba beda struktur tapi mekanisme kerja mirip
B. Mekanisme resistensi
1. Perubahan tempat kerja (target site) obat antimikroba
2. Mikroba menurunkan permeabilitasnya sehingga obat sulit masuk kedalam sel
3. Inaktivasi obat oleh mikroba
4. Mikroba membentuk jalan pintas untuk menghindari tahap yang dihambat oleh
mikroba
5. Meningkatkan produksi enzim yang dihambat oleh antimikroba
C. Pencegahan Resistensi
cukup
pada jenis
jenis antimikroba tertentu
IV. Efek samping penggunaan Antimikroba
1. Reaksi Alergi ; reaksi ini dapat ditimbukan oleh semua antibiotic dengan melibatkan
system
imun tubuh hospes.
2. Reaksi idiosinkrasi ; gejala ini merupakan reaksi abnormal yang diturunkan secara
genetic
terhadap pemberian antimikroba tertentu.
3. Reaksi toksik; AM pada umumnya bersifat toksik – selektif, tetapi sifat ini relative.
Selain itu
yang turut menentukan terjadinya reaksi toksik yaitu fungsi organ/system tertentu
sehubungan
dengan biotransformasi dan eksresi obat.
4. Perubahan biologic dan metabolik ; penggunaan AM, terutama yang bersepektrum
luas dapat mengganggu keseimbangan ekologik mikroflora sehingga jenis mikroba yang
meningkat jumlah populasinya dapat menjadi patogen. Gangguan keseimbangan ekologik
mikroflora normal tubuh dapat terjadi di saluran cerna, nafas kulit dan kelamin.

DAFTAR PUSTAKA
1. http://digilib.its.ac.id/public/ITS-Undergraduate-17615-Chapter1-747566.pdf
2. http://farmasiiqbal.blogspot.com/2012/05/antimikroba.html
3. http://biologyeastborneo.com/wp-content/uploads/2011/07/ANTIMIKROBA.ppt
4. "Antimicrobial - Definition from the Merriam-Webster Online Dictionary". Archived
from the original on 24 April 2009. Retrieved 2009-05-02.
5. Levy SB (ed) (1994) Drug Resistance: The New Apocalypse (special issue) Trends
Microbiol 2: 341–425

Antimikroba

Antimikroba adalah obat pembasmi mikroba, khususnya mikroba yang merugikan manusia.
Antibiotik adalah zat yang dihasilkan oleh suatu mikroba, terutama fungi, yang dapat
menghambat atau dapat mikroba jenis lain. Obat yang digunakan untuk membasmi mikroba,
penyebab infeksi pada manusia, ditentukan harus memiliki sifat toksisitas selektif setinggi
mungkin. Artinya obat tersebut haruslah bersifat sangat toksik untuk mikroba , tetapi relatif
tidak toksik untuk hospes. Sifat toksisitas selektif absolut belum atau mungkin tidak akan
diperoleh. Pembahasan · Aktifitas dan spektrum Berdasarkan sifat toksik selektif, ada
antimikroba yang bersifat menghambat pertumbuhan mikroba, dikenal sebagai aktifitas
bakteriostatik; dan ada yang bersifat membunuh mikroba, dikenal sebagai aktifitas bakterisid.
Kadar hambatan minimal(KHM) dan kadar bunuh minimal (KBM). Antimikroba tertentu
aktifitasnya dapat meningkat dari bakteriostatik menjadi bakterisid bila kadar antimikrobanya
ditingkatkan melebihi KHM. · Mekanisme kerja Berdasarkan mekanisme kerja, antimikroba
dibagi menjadi 5 kelompok
1. ANTIMIKROBAYANG MENGHAMBAT METABOLISME SEL MIKROBA. Yang termasuk
dalam kelompok ini adalah sulfonamid, trimetoprim, asam p-aminosalisilat (PAS) dan sulfon. Dengan
mekanisme kerja ini diperoleh efek bakteriostatik.

2. ANTIMIKROBA YANG MENGHAMBAT SINTESIS DINDING SEL MIKROBA. Obat yang


termasuk dalam kelompok ini ialah penisilin,sefalosporin, basitrasin, vankomisin, dan sikloserin.
Dinding sel bakteri, terdiri dari polipeptidoglikan.

3. ANTIMIKROBA YANG MENGGANGGU KEUTUHAN MEMBRAN SEL MIKROBA. Obat


yang termasuk dalam kelompok ini ialah polimiksin, golongan polien, serta berbagai antimikroba
kemoterapeutik umpamanya antiseptik surface active agents. Polimiksin sebagai senyawa amonium-
kuartener dapat merusak membran sel setelah bereaksi dengan fosfat pada fospolipidmembran sel
mikroba.

4. ANTIMIKROBA YANG MENGHAMBAT SINTESIS PROTEIN SEL MIKROBA Obat yang


termasuk dalam kelompok ini ialah golongan aminooglikosid makrolit, linkomisin,tetrasklin dan
kloramfenikol. Untuk kehidupannya, sel mikroba perlu mensisntesis berbagai protein. Sintesis protein
berlangsung di ribosom dengan bantuan mRNA dan tRNA. Pada bakteri, ribosom terdiri atas 2 sub
unit, yang berdasarkan konstanta sedimentasi dinyatakan sebagai ribosom 3OS dan 5OS. Untuk
berfungsi pada sintesis protein, kedua komponen ini akan bersatu pada pangkal rantai mRNA menjadi
ribosom 7OS. Penghambatan sintesis protein terjadi dengan berbagai cara.

5. ANTIMIKROBA YANG MENGGANGGU KEUTUHAN MEMBRAN SEL MIKROBA Obat


yang termasuk dalam golongan ini adalah rifamfisin, dan golongan kuinolon. Yang lainnya walaupun
bersifat antimikroba, karena sifat sitotoksisitasnya, pada umumnya hanya digunakan sebagai obat
antikanker; tetapi beberapa obat dalam kelompok terakhir ini dapat pula digunakan sebagai antivirus.
Yang akan dikemukakan di sini hanya kerja obat yang berguna sebagai antimikroba, yaitu rifampisin
dan golongan kuinolon. · Resistensi Secara garis besar kuman dapat menjadi resisten terhadap
suatu AM melalui 3 mekanisme : a) Obat tidak dapat mencapai tempat kerjanya didalam sel
mikroba. b) Inaktifasi obat. c) Mikroba mengubah tempat ikatan (binding site) AM. · Efek
samping v REAKSI ALERGI Reaksi alergi dapat ditimbulkan oleh semua antibiotik dengan
melibatkan sistem imun tubuh hospes.terjadinya tidak bergantung pada besarnya dosis obat .
Manifestasi gejala dan derajat beratnya reaksi dapat bervariasi. v REAKSI IDIOSINKRASI Gejala
ini merupakan reaksi abnormal yang diturunkan secara genetik terhadap pemberian antimikroba
tertentu. Sebagai contoh 10% pria berkulit hitam akan mengalami anemia hemolitik berat bila
mendapat primakulin. Ini disebabkan mereka kekurangan enzim G6PD. v REAKSI TOKSIK AM
pada umumnya bersifat toksik-selektif , tetapi sifat ini relatif. Efek toksik pada hospes ditimbulkan
oleh semua jenis antimikroba. v PERUBAHAN BIOLOGIK DAN METABOLIK Pada tubuh
hospes, baik yang sehat maupun yang menderita infeksi, terdapat populasi mikroflora normal. ·
Faktor yang mempengaruhi farmakodinamik dan farmakokinetik a. Umur b. Kehamilan c.
Genetik d. Keadaan patologik tubuh hospes · Sebab kegagalan terapi 1) Dosis yang kurang
2) Masa terapi kurang 3) Adanya faktor mekanik 4) Kesalahan dalam menetapkan etiologi. 5)
Faktor farmakokinetik 6) Pilihan antimikroba yang kurang tepat. · Kombinasi antimikroba
Kombinasi AM yang digunakan menurut indikasi yang tepat dapat memberi mannfaat klinik yang
besar. Terapi kombinasi AM yang tidak terarah akan meningkatkan biaya dan efek samping, akan
menseleksi galur kuman yang resisten terhadap banyak antimikroba, dan tidak meningkatkan efek
aktifitas terapi. Daftar pustaka Farmakologi dan terapi halaman 585-598 Diposkan oleh dwi
handayani di 00.36
Antimikroba
a. Definisi
Antimikroba (AM ) ialah obat pembasmi mikroba, khusunya mikroba yang merugikan
manusia. Dan yang dimaksud dengan mikroba disini ialah mikoroba yang terdapat pada jasad
renik yang tidak termasuk dalam kelompok parasit.

Antibiotik ialah suatu zat yang dihasilkan oleh suatu mikroba, terutama fungi, yang dapat
menghambat atau membasmi mikroba jenis lain.

Obat yang digunakan untk membasmi mikroba, penyebab infeksi pada manusia, ditentukan
harus memiliki sifat toksisitas selektif setinggi mungkin, yang artinya obat tersebut haruslah
bersifat songat toksik untuk mikroba.

karna berdasarkan sifat toksisitas selektif, ada antimikroba yang bersifat menghambat
pertumbuhan mikroba yang dikenal sebagai aktifitas bakteriostatik. Dan ada pula yang
bersifat membunuh mikroba , dikeal dengan sebagai aktifitas bakterisid.
Kadar minimal yang diperlukan untuk menghambat pertumbuhan atau membunuh mikroba
dikenal sebagai kadar hambat minimal (kbm) dan kadar bunuh minimal (KBM).

Antimikroba tertentu aktifitasnya dapat meningkat dari bakteriostatik menjadi bakterisid


apabila kadar antimikropobanya di tingkatkan melebihi KHM. Karna sifat antimikroba dapat
berbeda satu dengan yang lainnya.

b. Mekanisme kerja antimikroba


Berdasarkan mekanisme kerjanya, antimikroba dibagi dalam 5 kelompok:
1. Yang menghambat metabolisme sel mikroba
Adalah antimikroba yang termasuk kedalam kelompok ini salah satunya adalah sulfonamid ,
dengan mekanisme kerja yang diperoleh efek bakteriostatik.
Mikroba membutuhkan asam folat untuk kelangsungan hidupnya. Berbeda dengan
mamalia yang mendapatkan asam folat dari luar tubuhnya, dimna kuman patogen harus
mensintesis sendiri

2. Yang menghambat sintesis dinding antimikroba


Anti mikroba yang menghambat sintesis dinding sel mikroba obat yang
termasuk dalam kelompok ini ialah penicillin, sefalosporin, basitrasin, famkomisin,
dan sikloserin. Sikloserin menghambat reaksi yang paling dinidalam
proses sintesisdindingsel,diikutiberturut-turutolehbasitrasin,famkomisin,dandiakhoirioleh
penicillin yang menghambat reaksi terakhir dalam rangkaian reaksi tsb.

3. Yang mengganggu permeabilitas membran sel mikroba


Obat yang termasuk kedalam kelompok ini salah satunya adalah polimiksin. Polimiksin
merapakan senyawa yang dapat merusak membran sel setelaah bereaksi dengan fosfat pada
fospolipid membran sel mikroba. Kerusakan membran sel dapatmenyebabkan berbagai
komponen penting dari dal sel mikroba yaitu protein, asam nukleat,dan lain-lain yang dapat
mengganggu serta merusak sel permeabilitas selektif dari membran sel mikroba.
4. Yang menghambat sintesis protein sel mikroba

5. Yang menghambat sintesis atau merusak asam nukleat sel mikroba


Antimikroba yang termasuk dalam kelompok ini adalah rifampisin, dan golongan kuinolon.
Yang lainnya walaupun bersifat antimikroba, karena sitotoksisitasnya, pada umumnya hanaya
digunakan sebagai obat anti kanker, tapi beberapa obat dalam kelompok terakhir ini dapat
pula digunakan antivirus.
Yang akan dikemukakan di sini hanya mekanisme kerjan obat yang berguna sebagai
antimikroba, yaitu rifampisin dan guinolon.

Rimfavisin, salah satu darivat rimfamisin, berikatan dengan enzim polimerase-RNA


sehingga menghambat sintesis RNA dan DNA oleh enzim tsb. Golongan kuinolon
menghambat enzim DNA girase pada kuman yang fungsinya menata kromosom yang sangat
panjang menjadi bntuk spiral hingga bisa muat dalam sel kuman yang kecil.

Efek samping
Efek samping penggunaan antimikroba dapat dikelompokkan menurut reaksi alergi,
reaksi idiosintrasi,reaksi toksis serta perubahan biologic dan metabolik.
Reaksi alergi
Reaksi alergi dapat ditimbulkan oleh semua anti biotik dengan melibatkan sistem
imun tubuh,terjadinya tidak bergantung pada besarnya dosis obat. Manifestasi gejala dan
derajat beratnya dapat bervariasi.
Orang yang pernah mengalami reaksi alergi, umpamanya dengan penggunaan
penicillin, tidak selalu mengalami reaksi itu kembali ketika diberikan obat yang sama.
Sebaliknya orang tanpa riwayat alergi pada penggunaan penicillin.
Reaksi alergi pada kulit akibat pengunaan penicillin dapat menghilang sendiri,
walaupun terapinya diteruskan, peristiwa ini mungkin berdasarkan pada disensitisasi.
a. Reaksi idionsintrasi
Gejala ini merupakan reaksi abnormal yang diturunkan secara genetikterhadap
pemberian anti mikroba tertentu
b. Reaksi toksik
Antimikroba pada umumnya bersifat toksik-selektiv tetapi sifaat ini realitf. Yang
mungkin dapat dianggap relative tidak toksik sampai kini adalah golongan penicillin.
Disamping factor jenis obat, berrbagao factor dalam tubuh turut menentukan terjadinya
reaksin toksik: antara lain fungsi organ atau sisitem tertentu sehubungan dengan
biotransformasi dan eksresi obat
GOL OBAT

Sedangkan resistensinya yang terjadi karena adanya mutasi gen


kromosom bakteri disebut chromosomal origin.
a.A.PENISILIN
Sejak pertama kali diteliti oleh Fleming pada tahun 1929 melalui
koloni stafilokokus yang terkontaminasi Penisilium, penisilin menjadi
antibiotika pertama yang digunakan dalam klinik secara luas. Batas antara
dosis terapi dan dosis toksik sangat lebar, sehingga relatif aman dibanding
antibiotika yang lain. Penisilin kurang poten terhadap bakteri gram negatif,
dan sebagian besar dirusak oleh beta-laktamase (penisilinase). Beta-laktamase
biasanya dihasilkan oleh Stafilokokus aureus, beberapa E. coli, Proteus
mirabilis, dan Pseudomonas aeruginosa.
Secara umum penisilin didistribusikan dengan baik ke seluruh bagian
tubuh, mencapai kadar terapetik di pleura, peritoneal, abses, dan cairan
sinovial. Distribusi ke mata dan otak relatif sedikit, sedangkan kadarnya di
urin cukup tinggi. Kadar penisilin di cairan serebrospinal kurang dari 1% dari
nilai plasma pada kondisi meninges yang tidak inflamasi, dan kadar ini
meningkat hinggga 5% kadar dalam plasma, selama proses inflamasi.
Farmakokinetika
Sebagian besar penisilin hanya dapat diberikan per parenteral karena
dirusak oleh asam lambung, kecuali penisilin V, amoksisilin, ampisilin, dan
flukloksasilin yang dapat diberikan per oral. Ampisilin sebaiknya diberikan
pada saat perut kosong atau di antara 2 makan, karena absorpsinya terganggu
oleh adanya makanan dalam lambung.
Di dalam tubuh, penisilin terdistribusi secara luas ke seluruh jaringan
dan cairan tubuh, dengan penetrasi ke persendian, pleura, dan mata, terutama
jika terjadi radang (inflamasi). Seperti halnya antibiotika pada umumnya,
konsentrasi penisilin di dalam cairan serebrospinal (CSS) dan penetrasinya ke
jaringan tergantung pada ikatan obat pada protein serum. Sebagai contoh
protein binding dari oksasilin dan nafsilin relatif tinggi (>90%), dengan
penetrasi ke CSS yang buruk. Sedangkan protein binding dari ampisilin (±
30%) relatif rendah, dan penetrasi ke CSS jauh lebih baik.
Penisilin termasuk very low dose-related toxicity (efek toksik obat
karena penambahan dosis, relatif kecil). Dengan demikian, penambahan dosis
untuk meningkatkan konsentrasinya dalam jaringan yang inflamsi jarang
menimbulkan efek samping.
Sebagian besar penisilin mengalami sirkulasi enterohepatik (setelah
ekskresi bilier, diabsorpsi di usus halus dan diekskresi melalui ginjal).
Dengan demikian kadarnya di kandung empedu relatif tinggi, kecuali jika
terjadi obstruksi bilier. Ekskresi penisilin melalui sekresi tubular dapat
dihambat oleh probenesid. Dengan menambahkan probenesid 1 gr tiap 12
jam, kadar penisilin di dalam darah dapat dipertahankan tetap tinggi, dan
ekskresinya di tunda. Keadaan ini menguntungkan untuk mengatasi infeksi
yang memerlukan kadar antibiotika yang tetap tinggi dalam satu periode
waktu.
Efek samping
Hampir semua penisilin dapat memberi risiko efek samping alergi
atau hipersensitivitas, mulai dari yang tipe cepat (dimediasi oleh IgE) seperti
urtikaria, wheezing, dan anafilaksi, hingga yang tipe lambat seperti ruam kulit
dan sindroma serum sickness. Efek samping yang lain dapat berupa nefritis
interstitial, anemia hemolitik, netropenia, pansitopenia, eosinofilia, drug
fever, dan vaskulitis.
Riwayat alergi sebelumnya terhadap penisilin dan derivatnya harus
selalu ditanyakan ke pasien sebelum memberikan terapi dengan penisilin
untuk menghindari risiko efek samping tersebut.
Penisilin G dan V
Penisilin G tidak stabil dalam kondisi asam dan secara cepat
terhidrolisis di dalam lambung yang berisi makanan. Penisilin yang tidak dapat terabsorpsi ini
akan dirusak oleh bakteri dalam colon. Oleh sebab itu
penisilin G hanya dapat diberikan per parenteral. Sebaliknya, penisilin V
tahan dalam suasana asam dan diabsorpsi dengan baik di lambung, meskipun
terdapat makanan di dalamnya.
Setelah pemberian injeksi i.m, kadar puncak penisilin-G dicapai
dalam waktu 15-30 menit tetapi segera turun karena obat secara cepat
dieliminasi melalui ginjal. Waktu paruh (t 1/2 ) sekitar 30 menit. Penisilin-
prokain merupakan campuran equimolar antara penisilin dengan prokain.
Dalam bentuk ini kadar puncak tertunda hingga 1-3 jam.
Kadar penisilin-G dalam serum dan jaringan masih tetap ada hingga
12 jam pada pemberian 300.000 unit dan hingga bebeerapa hari pada
pemberian 2,4 juta unit. Benzatin penisilin merupakan kombinasi antara 1
mol penisilin dan 2 mol basa amonium, yang kadarnya masih tetap dapat
terdeteksi dalam plasma hingga 15-30 hari. Penisilin G didistribusikan secara
luas ke seluruh tubuh dengan volume distribusi yang ekuivalen dengan yang
terdapat dalam cairan ekstraseluler. Sekitar 10% dari penisilin-G dieliminasi
melalui filtrasi glomeruler sedangkan yang 90% via sekresi tubuler. Ekskresi
penisilin dapat dicegah oleh adanya probenesid, sehingga dapat
memperpanjang waktu paruhnya. Eliminasi renal penisilin
a.B.SEFALOSPORIN (CEPHALOSPORIN)
Sefalosporin merupakan antibiotika yang bersifat bakterisid yang aksi
utamanya mirip dengan penisilin. Sefalosporin bekerja dengan menghambat
pembentukan dinding sel bakteri pada fase akhir dengan terikat pada satu atau
lebih Penicillin Binding Proteins (PBPs) yang terdapat pada membrana
sitoplasma di bawah dinding sel bakteri.
Sebagian besar sefalosporin tersedia dalam bentuk parenteral.
Meskipun distribusinya cukup luas di seluruh tubuh, hanya beberapa yang
dapat menembus CSS dan mencapai kadar terapetik di otak pada kondisi
meningitis. Semua sefalopsorin, termasuk yang eliminasi utamanya melalui
mekanisme hepatal, memberikan konsentrasi yang cukup di dalam urin untuk

terapi infeksi saluran kencing. Kadar sefalosporin di dalam kandung empedu

dapat lebih tinggi dibandingkan dengan kadarnya dalam plasma. Sefalosporin


aminothiazolyl dapat menembus humor aqueous sehingga bermanfaat untuk
terapi infeksi pada mata. Dalam Tabel 3 dipresentasikan parameter farmako-
kinetika sefalosporin generasi I s/d III.
Sefalosporin umumnya dieliminasi melalui mekanisme renal dengan
berbagai tingkat sekresi tubuler dan filtrasi glomeruler. Tidak demikian
halnya dengan sefoperazon dan seftriakson yang sebagian besar diekskresi
melalui rute bilier (empedu).
Sefalosporin diklasifikasikan menurut generasi berdasarkan aktivitas
antimikrobanya. Sefalosporin Generasi I terutama aktif terhadap kuman Gram
positif dan sedikit Gram negatif, menghambat E. coli, P. mirabilis, dan K.
pneumoniae. Beberapa sefalosporin Generasi II, aktivitasnya meningkat
terhadap Haemophilus dan menghambat lebih banyak kuman Gram negatif.
Dibandingkan dengan Generasi I, aktivitasnya lebih lemah untuk
stafilokokus.
Sefalosporin Generasi III makin lemah efeknya terhadap stafilokokus,
tetapi lebih aktif terhadap streptokokus, Enterobacteriaceae, Nisseria, dan
Heamophilus sp. Seftasidim dan sefoperazone juga menghambat P.
aeruginosa.
Efek samping
Efek samping hampir sama dengan penisilin, tetapi relatif lebih jarang.
Insidensi syok anafilaksi juga rendah. Sekitar 5% individu yang pernah
mengalami reaksi anafilaksi dengan penisilin akan memiliki risiko reaksi
anafilaksi pada pemberian sefalosporin. Sefalosporin sebaiknya tidak
diberikan kepada penderita yang pernah mengalami reaksi hipersensitivitas
tipe cepat dan berat setelah pemberian penisilin.
Sekitar 1% penderita yang diterapi dengan sefaklor mengalami demam nyeri sendi, dan
oedema lokal.
Sefoperazon dan moksalaktam dapat menyebabkan terjadinya reaksi
disulfiram jika pasien mengkonsumsi alkohol dan dapat juga
menyebabkan hipoprotrombinemia. Meskipun jarang, nefritis interstisialis bisa saja terjadi.

a.D.ERITROMISIN
Merupakan antibiotika golongan makrolida yang didapat dari
Streptomyces erythereus. Terutama efektif untuk bakteri Gram +/-,
mikoplasma, klamidia, dan treponema. Eritromisin menjadi DOC untuk C.
diphtheriae, Mycoplasma pneumoniae, E. hystolitica, dan Chlamydia.
Farmakokinetika
Eritromisin tersedia dalam bentuk estolat, stearat, etilsuksinat, dan
basa. Absorpsinya melalui traktus gastrointestinal baik, sehingga dapat
diberikan per oral. Eliminasi eritromisin terjadi melalui metabolisme hepatal.
Penetrasi ke dalam jaringan cukup baik dan kadarnya dalam CSS pada
keadaan inflamasi sekitar 25% dari kadarnya dalam darah.
Waktu paruh eritromisin sekitar 1 – 2 jam, dan kadarnya dalam
darah dipertahankan tetap hingga 6 jam. Mengingat ekskresi utamanya
adalah melalui hepar maka penggunaannya pada penderita periodontal
hepar sebaiknya dihindarkan atau jika harus diberikan harus ekstra hati-
hati.
Pada anak, eritromisin estolat diabsorpsi lebih baik, jarang
menyebabkan hepatitis, dan lebih ditoleransi dibanding sediaan yang lain.
Pada pasien dewasa, eritromisin estolat tidak lagi dianjurkan karena
menyebabkan hepatitis kholestatik.
Dosis oral pada penderita dewasa adalah 4 x 250 – 500 mg per hari,
sedang pada anak 30– 50 mg/kgBB/hari dibagi dalam 4 kali pemberian.
Dosis yang lebih besar akan meningkatkan efek iritasi lambung dari
eritromisin. Karena efek iritasinya terhadap lambung, maka sebaiknya
diberikan sesudah makan. Pemberian per parenteral dianjurkan secara i.v, pada vena yang

relatif besar, melalui cairan infus untuk mencegah risiko tromboflebitis,


dengan dosis 1 – 4 g/hari (dewasa) atau 50 mg/kgBB/hari (anak). Eritromisin
meningkatkan efek & toksisitas antikoagulan oral, karbamazepin, dan
digoksin. Oleh sebab itu pemberian bersama obat-obat tersebut perlu
dihindari.
Efek samping
Efek samping yang sering terjadi adalah GI upset (iritasi lambung).
Hepatitis kolestatik, rash, demam, dan eosinofilia jarang terjadi.

a.G. TETRASIKLIN
Tetrasiklin berasal dari spesies streptomises. Sejak diperkenalkannya
antibiotika ini penggunaannya sangat luas, terutama karena harganya yang
murah, spektrumnya luas (broad spectrum), dan absorpsinya dalam traktus
gastrointestinal baik.
Tetrasiklin bersifat bakteriostatik, terutama efektif untuk Gram (+)
aerob koken, kecuali beberapa stafilokokus, streptokokus, & pneumokokus,
resisten untuk Gram (-) aerob, kecuali pseudomonas & enterobacteriaceae.
Juga efektif untuk riketsia, klaidia, dan treponema.
Farmakokinetika
Absorpsi melalui GI tract umumnya tidak sempurna (± 70%), kecuali
doksisiklin dan minosiklin (± 90%). Pemberian per oral sebaiknya antara 2
makan. Absorpsi dalam lambung memburuk dengan adanya susu atau
antasida dan membentuk khelat inaktif (tetrasiklin + logam). Waktu paruh
antara tetrasiklin yang satu dengan yang lain berbeda, sebagai contoh waktu
paruh tetrasiklin dan oksitetrasiklin adalah 8 jam, sedangkan minosiklin 12
jam, dan doksisiklin sekitar 18 jam.
Setelah pemberian per oral, tetrasiklin akan didistribusi secara luas
dalam tubuh, terutama di gigi dan tulang yang sedang berkembang.
Akibatnya jika diberikan pada anak umur kurang dari 8 tahun dapat
menimbulkan diskolorisasi gigi dan hipoplasi enamel serta menghambat
pertumbuhan tulang-tulang panjang.
Penetrasi ke jaringan cukup baik, meskipun tidak terdapat inflamasi,
namun tidak dianjurkan untuk meningitis karena kadarnya di CSS hanya
sekitar 10% dibanding kadarnya dalam darah. Setelah pemberian per oral,
kadarnya di dalam tulang dan gigi cukup tinggi dan mampu mengikat
kalsium. Oleh karena itu tetrasiklin tidak dianjurkan pada anak kurang dari 8
tahun.
Efek samping
Efek samping tetrasiklin meliputi iritasi gastrointestinal (nausa,
vomitus), dan stomatitis. Penekanan pertumbuhan tulang (sementara),
dikolorisasi gigi, dan hipoplasia enamel terutama terjadi pada bayi dan anak <
8 tahun. Diskolorisasi gigi hanya terjadi jika tetrasiklin diberikan pada
periode mineralisasi pembentukan gigi permanen. Mengingat bahwa
tetrasiklin juga dapat menembus plasenta dan mencapai sirkulasi janin, maka
pemberiannya setelah trimester I kehamilan harus dihindari.

a.H. KLORAMFENIKOL (CHLORAMPHENICOL)


Sejak diperkenalkan pertama kali pada tahun 1947, kloramfenikol
yang berasal dari spesies streptomises telah digunakan secara luas, karena
spektrum antibakterinya yang luas. Namun dalam perkembangannya,
penggunaannya menjadi terbatas karena ternyata menginduksi terjadinya
aplasia sumsum tulang, yang insidensinya diperkirakan sekitar 1 di antara
40.000 – 60.000 pengguna.
Efek samping
Penekanan sumsum tulang (dose-related bone marrow supression)
terutama terjadi pada kelompok risiko tinggi, yaitu (1) pemberian pada
dosis tinggi (> 4kg/hari); (2) terapi jangka panjang; (3) kadar
kloramfenikol bebas dalam darah > 20-25 ug/ml; (4) neonatus &
penderita penyakit liver.
Untuk menghindari terjadinya penekanan sumsum tulang perlu
dilakukan monitoring terhadap setiap penderita yang mendapat
kloramfenikol. Pemeriksaan darah tepi setiap 2-3 hari sangat dianjurkan.
Jika dalam monitoring ditemukan tanda-tanda penekanan sumsum tulang,
dosisi dikurangi atau obat dihentikan sama sekali. Meskipun jarang yaitu 1
diantara 25.000, dapat pula terjadi anemia aplastika setelah minum
kloramfenikol selama beberapa waktu.
Gray baby syndrome dapat terjadi pada bayi prematur atau umur
kurang dari 2 bulan karena (1) hepar belum matur, aktivitas glukoronil
transferase untuk mengkonjugasi kloramfenikol belum adekuat dan (2)
ekskresi obat yang tidak terkonjugasi melalui ginjal belum sempurna
sehingga obat terakumulasi dalam darah. Gray baby syndorme ditandai
dengan vomitus, respirasi tidak normal, sianosis, distensi abdomen, diikuti
kolaps vasmotor, hipotermia, dan bayi menjadi keabu-abuan akhirnya 40%
diantaranya meninggal.
a.I. METRONIDAZOL
Merupakan antibiotik yang bakterisid untuk Trichomonas vaginalis,
Giardia lamblia, dan Entamoeba hystolitia. Metronidazol aktif terhadap
bakteri anaerob seperti B. fragilis, Bacteroides sp, dan Clostridium. Absorpsi setelah
pemberian oral baik dan tidak dipengaruhi oleh

adanya makanan dalam lambung. Obat mencapai cairan tubuh, pleura, vagina,
dan CSS (dengan inflasi) dn air susu dimetabolisme di hepar dan ekskresi utama melalui
ginjal.
Efek samping
- Alcohol intolerance, erjadi jika selama minum obat penderita mengkonsumsi
alkohol. Ditandai dengan nausea, vomitus, kejang abdomen, dan nyeri kepala.
- Gejala gastrointestinal juga sering timbul (nausea, vomitus), oleh sebab itu dianjurkan
diminum sesudah makan
- Neuropati perifer dapat terjdi pada pemberian dosis yang tinggi.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Sebagian besar antimikroba yang digunakan pada saat ini diproduksi
melalui sintesis kimiawi, oleh sebab itu biasa disebut sebagai antibiotika sintetik.
Dengan demikiian maka perbedaan arti antara antibiotika dan antimikroba pada
saat ini sudah tidak diperdebatkan lagi, karena yang dimaksud adalah substansi
kimiawi yang dapat digunakan untuk mengatasi infeksi bakterial. Dalam tulisan
ini akan dibahas mekanisme utama, sifat-sifat farmakologi, hingga penggunaan
antibiotika atau antimikroba dalam praktek.
Antibiotika adalah suatu substansi kimia yang dihasilkan oleh
mikroorganisma secara alamiah. Fungsi utamanya adalah melawan pertumbuhan
atau kehidupan mikroorganisma yang lain, contoh: penisilin, kloramfenikol,
tetrasiklin. Antimikroba adalah semua bahan kemoterapetik yang digunakan untuk
melawan efek mikroorganisma. Sulfonamida, isoniazid, dan kuinin termasuk
dalam kelompok antimikroba.
B. Saran
Demikianlah yang dapat penulis paparkan mengenai materi yang menjadi
pokok bahasan dalam makalah ini, tentunya masih banyak kekurangan dan
kelemahan,karena terbatasnya pengetahuan da kurangnya rujukan atau referensi
yang ada. Penulis banyak berharap para pembaca yang budiman dusi memberikan
kritik dan saran yang membangun kepada penulis demi kesempurnaan makalah
ini. Semoga makalah ini berguna, bagi penulis khususnya dan juga para pembaca
yang budiman pada umumnya.