Anda di halaman 1dari 18

BAB I

STATUS PASIEN

A. IDENTITAS PASIEN
 No. RM : 855805
 Nama : An. R
 Jenis Kelamin : Perempuan
 Usia : 2 tahun
 Alamat : Bekri
 Nama Orang Tua : Tn. M
 Tanggal Masuk RS : 21 Desember 2017
 Jam Masuk RS : 16.50

B. ANAMNESIS
Alloanamnesis tanggal 21 Desember 2017, jam 16.50 WIB
 Keluhan Utama
Bintik merah berisi cairan sejak 3 hari SMRS.

 Keluhan Tambahan
Gatal, demam, sulit menelan.

 Riwayat Penyakit Sekarang


Bintik merah sejak 3 hari SMRS, bintik berisi cairan dan terasa sangat gatal, bintik
muncul awal di punggung dan menjalar ke muka, kepala, tangan, dan kaki. Demam
sejak 2 hari SMRS, demam mendadak dan langsung tinggi, sakit kepala (+) mata
merah (+) sariawan (+) sulit menelan (+) BAB baik, nafsu makan berkurang.

 Riwayat Penyakit Dahulu


Belum pernah mengalami gejala yang sama.

 Riwayat Pengobatan
Anak belum minum ibat apapun hanya diberi lotion. Os tidak sedang mengkonsumsi
obat jangka panjang

 Riwayat Penyakit Keluarga


Tidak terdapat anggota keluarga yang mengalami keluhan yang sama tetapi sepupu Os
sedang sakit cacar.

 Riwayat Kehamilan dan Persalinan


Ibu rutin melakukan ANC di bidan selama masa kehamilan. Selama hamil ibu tidak
sakit. Anak lahir cukup bulan, kehamilan tunggal, spontan di bidan tanpa penyulit
kehamilan. Langsung menangis setelah lahir dengan BB 3000 gram dan PB 50 cm.

 Pola Makan Anak


Anak diberikan ASI sampai usia 6 bulan, setelah itu diganti susu formula. Diberikan
makanan pendamping asia sejak usia 6 bulan, anak makan teratur 3x/hari dan
mengkonsumsi sayuran tetapi jarang mengkonsumsi buah.

 Riwayat Imunisasi

Kesan : Imunisasi dasar lengkap

 Riwayat Tumbuh Kembang


Anak sudah dapat berjalan,berlari dan melompat, anak sudah dapat berbicara dan
menyebutkan 4 gambar, sudah dapat memakai baju

 Riwayat Alergi
Riwayat alergi obat-obatan, makanan, dan cuaca pada Os disangkal.

C. PEMERIKSAAN FISIK
 Keadaran Umum : Tampak Sakit Ringan
 Kesadaran : CM

 Tanda-Tanda Vital
Suhu : 36.8 °C
Nadi : 98 kali/menit
Napas : 25 kali/menit
Tekanan Darah : Tidak dilakukan

 Antropometri
Berat Badan : 15 kg
Tinggi Badan : 85 cm
Lingkar Kepala : 46 cm (Normal)
LILA : 18 cm (Gizi baik)

 Status Gizi
BB/U : 15 / 18,6 x 100% = 80% (Gizi Baik)
TB/U : 85 / 86 x 100% = 98% (Gizi Baik)
BB/TB : 15 / 12,8 x 100% = 117% (Gizi Lebih)
Kesan : Gizi Baik

D. STATUS GENERALIS
 Kepala

Kepala Normocephal
Ubun-ubun kecil Menutup Sempurna, ubun-ubun cekung (-)
Mata Konjungtiva anemis - -
Sclera icterus - -
Edema palpebra - -
Mata cekung - -
Mata merah dan berair - -
Hidung Pernapasan cuping hidung -
Deviasi septum -
Sekret -/-
Perdarahan -/-
Telinga Normotia + +
Sekret - -
Mulut Mukosa bibir kering
Sianosis -
Lidah kering/kotor/tremor -
Stomatitis +
Faring hiperemis +
Tonsil T1/T1

 Kulit : Sianosis (-), kulit terlihat pucat (-)

 Leher

Pembesaran KGB - -
Pembesaran kelenjar thyroid - -

 Thorax
Inspeksi Normochest, gerak dada simetris, retraksi dada (-/-)
Perkusi Sonor/Sonor
Palpasi Vokal fremitus simetris, nyeri tekan (-/-)
Auskultasi Bunyi paru vesikular (+/+), ronkhi (-/-), wheezing (-/-)
Bunyi jantung I dan II murni, regular, murmur (-), gallop
(-)

 Axilla : Pembesaran KGB (-/-)


 Abdomen

Inspeksi Supel, Distensi (-), Scar (-)


Auskultasi BU (+)
Perkusi Tymphani pada seluruh kuadran abdomen, pekak hati (+)
Palpasi Nyeri tekan (-) di seluruh kuadran abdomen
Turgor Kulit Baik, kembali dalam waktu < 2 detik

 Inguinal : Pembesaran KGB inguinal (-/-)

 Ekstremitas

Superior Akral Hangat Hangat


Edema - -
Sianosis - -
< 2 detik < 2 detik
RCT
Inferior Akral Hangat Hangat
Edema - -
Sianosis - -
< 2 detik < 2 detik
RCT

E. STATUS DERMATOLOGIS
 Regio : muka, punggung, tangan, dan kaki.
 Efloresesi: tampak vesikel dengan dasar eritematosa, diameter ± 0,5 cm.

F. STATUS NEUROLOGIS
 Tanda rangsal meningeal : Kaku kuduk (negative)
Brudzinski I (negative)
Brudzinski II (negative)
Kernig Sign (negative)
 Paralisis tidak ada
 Refleks fisiologis : Biseps (+) triseps (+) patella (+) achilles (+)
 Refleks patologis : Babinski (-) oppenheim (-)

Kesan : Status Neurologis dalam batas normal

G. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan Hasil Nilai Normal

Hemoglobin 12,9 g/dl 11,8 – 15,0 g/dl

Hematokrit 37% 40 – 52 %

Leukosit 8400 / ul 4.500 – 13.500 ribu/ul

Trombosit 157.000 / ul 156.000 – 408.000 / ul

Eritrosit 4,98 4.40 – 5.90

H. RESUME
An.R usia 2 tahun datang dengan keluhan bintik merah sejak 3 hari SMRS, bintik
berisi cairan dan terasa sangat gatal, bintik muncul awal di punggung dan menjalar ke
muka, kepala, tangan, dan kaki. Demam sejak 2 hari SMRS, demam mendadak dan
langsung tinggi, sakit kepala (+) mata merah (+) stomatitis (+) sulit menelan (+) nafsu
makan berkurang (+).

Pemeriksaan fisik: bibir kering(+), faring hiperemis (+), stomatitis(+), terdapat vesikel
dengan dasar eritematosa diameter ± 0,5 cm.

I. ASSESMENT
 Varicella
 Febris hari ke-2
 Stomatitis

J. DIAGNOSIS
 Diagnosis Klinis : Varicella
 Status Gizi : Gizi baik
 Status Imunisasi : Imunisasi dasar lengkap
 Status Tumbuh Kembang : Tumbuh kembang sesuai dengan usia

K. TATA LAKSANA
 IVFD RL 8 tpm makro
 Paracetamol syrp 3 x 1½ cth
 Histrine drop 2 x 0,4cc
 Puyer 4 x 1 bks:
 Acyclovir 75mg
 CTM 3,75mg
 Acyclovir salp 3 x 1 à untuk bula belum pecah
 Garamycin salp 3 x 1 à untuk bula yang pecah

L. FOLLOW UP RUANGAN

Tanggal S O A P
22/12/17 Demam(+) Kesadaran CM Varicella IVFD RL 8 tpm makro
S : 37,2°C
Pusing(+) PCT syrp 3 x 1½ cth
N : 110 x/mnt
lesi di kulit (+)
R : 22 x/mnt Histrine drop 2 x 0,4cc
sudah mulai
Puyer 4 x 1 bks:
Mukosa bibir
berkurang,
Acyclovir 75mg
kering (+)
mongering dan CTM 3,75mg
Vesikel (+)
pecah
napsu makan baik Acyclovir salp 3 x 1 à u/

BAK(+) bula belum pecah


BAB (-) Garamycin salp 3 x 1 à
u/ bula yang pecah
o
23/12/17 Demam (-) S : 36,6 C Varicella Hentikan antipiretik,
Lesi dikulit (+) N : 85 x / mnt pasien boleh rawat jalan
sudah mulai RR : 20x / mnt Terapi lain lanjutkan
berkurang, Vesikel (+)
mengering, dan
pecah
Pusing (-)
Lemas (-)
BAB (+) 1x
BAK (+)
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1. Definisi
Varicella (cacar air) adalah penyakit infeksi yang biasanya terjadi pada anak-anak
dan merupakan akibat dari infeksi primer Virus Varicella Zooster. Varicella pada
anak, mempunyai tanda yang khas berupa masa prodormal yang pendek bahkan tidak
ada dan dengan adanya bercak gatal disertai dengan papul, vesikel, pustula dan pada
akhirnya krusta walaupun banyak juga lesi kulit yang tidak berkembang sampai
vesikel.

2. Epidemiologi
Di negara barat kejadian varisela terutama meningkat pada musim dingin dan awal
musim semi, sedangkan di Indonesia virus menyerang pada musim peralihan antara
musim panas ke musim hujan atau sebaliknya Namun varisela dapat menjadi
penyakit musiman jika terjadi penularan dari seorang penderita yang tinggal di
populasi padat, ataupun menyebar di dalam satu sekolah.
Varisela terutama menyerang anak-anak dibawah 10 tahun terbanyak usia 5-9 tahun.
Varisela merupakan penyakit yang sangat menular, 75 % anak terjangkit setelah
terjadi penularan. Varisela menular melalui sekret saluran pernapasan, percikan ludah,
terjadi kontak dengan lesi cairan vesikel, pustula, dan secara transplasental. Individu
dengan zoster juga dapat menyebarkan varisela. Masa inkubasi 11-21 hari. Pasien
menjadi sangat infektif sekitar 24 – 48 jam sebelum lesi kulit timbul sampai lesi
menjadi krusta biasanya sekitar 5 hari.

3. Etiologi
Varisela disebabkan oleh Varicella Zoster Virus (VZV). yang termasuk dalam
kelompok Herpes Virus tipe ;. Virus ini berkapsul dengan diameter kira-kira 150-200
nm. Inti virus disebut capsid yang berebntuk ikosahedral, terdiri dari protein dan
DNA berantai ganda. Berbentuk suatu garis dengan berat molekul 100 juta dan
disusun dari 162 isomer. Lapisan ini bersifat infeksius.

VZV dapat ditemukan dalam cairan vesikel dan dalam darah penderita. Virus ini dapat
diinokulasikan dengan menggunakan biakan dari fibroblas paru embrio manusia
kemudian dilihat dibawah mikroskop elektron. Di dalam sel yang terinfeksi akan
tampak adanya sel raksasa berinti banyak (multinucleated giant cell) dan adanya
badan inklusi eosinofilik jernih (intranuclear eosinophilic inclusion bodies).

VZV menyebabkan penyakit varisela dan Herpes Zoster. Kedua penyakit ini memiliki
manifestasi klinis yang berbeda. Pada kontak pertama dengan manusia menyebabkan
penyakit varisela atau cacar air, karena itu varisela dikatakan sebagai infeksi akut
primer. Penderita dapat sembuh, atau penderita sembuh dengan virus yang menjadi
laten (tanpa manifestasi klinis) dalam ganglia sensoris dorsalis, jika kemudian terjadi
reaktivasi maka virus akan menyebabkan penyakit Herpes zoster.

4. Patofisiologi
Setelah VZV masuk melaui saluran pernapasan atas, atau setelah penderita berkontak
dengan lesi kulit, selama masa inkubasinya terjadi viremia primer. Infeksi mula-mula
terjadi pada selaput lendir saluran pernapasan atas kemudian menyebar dan terjadi
viremia primer. Pada Viremia primer ini virus menyebar melalui peredaran darah dan
system limfa ke hepar, dan berkumpul dalam monosit/makrofag, disana virus
bereplikasi, pada kebanyakan kasus virus dapat mengatasi pertahanan non-spesifik
sehingga terjadi viremia sekunder. Pada viremia sekunder virus berkumpul di dalam
Limfosit T, kemudian virus menyebar ke kulit dan mukosa dan bereplikasi di
epidermis memberi gambaran sesuai dengan lesi varisela. Permulaan bentuk lesi
mungkin infeksi dari kaliper endotel pada lapisan papil dermis menyebar ke sel epitel
dermis, folikel kulit dan glandula sebasea, saat ini timbul demam dan malaise

5. Manifestasi Klinis
Manifestasi Klinis varisela terdiri atas 2 stadium yaitu stadium prodormal, stadium
erupsi.
a. Stadium Prodormal
Stadium ini timbul 10-21 hari, setelah masa inkubasi selesai. Individu akan
merasakan demam yang tidak terlalu tinggi selama 1-3 hari, mengigil, nyeri
kepala anoreksia, dan malaise.

b. Stadium erupsi
Stadium ini 1-2 hari kemudian timbul ruam-ruam kulit “ dew drops on rose
petals” tersebar pada wajah, leher, kulit kepala dan secara cepat akan terdapat
badan dan ekstremitas. Ruam lebih jelas pada bagian badan yang tertutup, jarang
pada telapak tangan dan telapak kaki. Penyebarannya bersifat sentrifugal (dari
pusat). Total lesi yang ditemukan dapat mencapai 50-500 buah. Makula kemudian
berubah menjadi papulla, vesikel, pustula, dan krusta. Erupsi ini disertai rasa
gatal. Perubahan ini hanya berlangsung dalam 8-12 jam, sehingga varisella secara
khas dalam perjalanan penyakitnya didapatkan bentuk papula, vesikel, dan krusta
dalam waktu yang bersamaan, ini disebut polimorf. Vesikel akan berada pada
lapisan sel dibawah kulit dan membentuk atap pada stratum korneum dan
lusidum, sedangkan dasarnya adalah lapisan yang lebih dalam Gambaran vesikel
khas, bulat, berdinding tipis, tidak umbilicated, menonjol dari permukaan kulit,
dasar eritematous, terlihat seperti tetesan air mata/embun “tear drops”. Cairan
dalam vesikel kecil mula-mula jernih, kemudian vesikel berubah menjadi besar
dan keruh akibat sebukan sel radang polimorfonuklear lalu menjadi pustula.
Kemudian terjadi absorpsi dari cairan dan lesi mulai mengering dimulai dari
bagian tengah dan akhirnya terbentuk krusta. Krusta akan lepas dalam 1-3
minggu tergantung pada dalamnya kelainan kulit. Bekasnya akan membentuk
cekungan dangkal berwarna merah muda, dapat terasa nyeri, kemudian
berangsur-angsur hilang. Lesi-lesi pada membran mukosa (hidung, faring, laring,
trakea, saluran cerna, saluran kemih, vagina dan konjungtiva) tidak langsung
membentuk krusta, vesikel-vesikel akan pecah dan membentuk luka yang
terbuka, kemudian sembuh dengan cepat. Karena lesi kulit terbatas terjadi pada
jaringan epidermis dan tidak menembus membran basalis, maka penyembuhan
kira-kira 7-10 hari terjadi tanpa meninggalkan jaringan parut, walaupun lesi
hyper-hipo pigmentasi mungkin menetap sampai beberapa bulan. Penyulit berupa
infeksi sekunder dapat terjadi ditandai dengan demam yang berlanjut dengan
suhu badan yang tinggi (39-40,5˚C) mungkin akan terbentuk jaringan parut.

Sekitar 17 % anak yang dilahirkan dari wanita yang mendapat varisela pada 20
minggu pertama kehamilannya akan menderita kelainan bawaan berupa bekas
luka dikulit (cutaneous scarr), mikrosefali, berat badan lahir rendah, hipoplasia
tungkai, kelumpuhan, atrofi tungkai, kejang, retardasi mental, korioretinitis,
mikropthalmia, atrofi kortikal, katarak dan defisit neurologis lainnya. Defisit
neurologis yang mengenai system persarafan autonom dapat menimbulkan
kelainan kontrol sphingter, obstruksi intestinal, Horner sindrom. Jika wanita
hamil mendapatkan varisela dalam waktu 21 hari sebelum ia melahirkan, maka
25% dari neonatus yang dilahirkan akan memperliharkan gejala varisela
kongenital pada waktu dilahirkan sampai berumur 5 hari, biasanya varisela ringan
sebab antibodi ibu yang sempat dihantarkan transplasental dalam bentuk IgG
spesifik masih ada dalam tubuh neonatus sehingga jarang mengakibatkan
kematian. Bila seorang wanita hamil mendapatkan varisela pada 4-5 hari sebelum
ia melahirkan, maka neonatusnya akan memperliharkan gejala verisela kongenital
pada umur 5-19 hari Disini perjalanan varisela sering berat dan menyebabkan
kematian pada 25-30 % karena mereka mendapatkan virus dalam jumlah yang
banyak tanpa sempat mendapatkan antibodi yang dikirimkan transplasental.
Wanita hamil dengan varisela pneumonia dapat menderita hipoksia dan gagal
nafas yang dapat berakibat fatal bagi ibu maupun fetus.

Seorang anak yang ibunya mendapat varisella selama masa kehamilan, atau bayi
yang terkena varisela selama bulan awal kelahirannya mempunyai kemungkinan
lebih besar untuk menderita herpes zoster dibawah 2 tahun.

Varisela neonatal dapat merupakan penyakit serius, hal ini bergantung pada saat ibu terkena
varisela dan persalinan.

1. Bila ibu hamil terinfeksi varisela 5 hari sebelum partus atau 2 hari setelah partus,
berarti bayi tersebut terinfeksi saat viremia kedua dari ibu, bayi terinfeksi transplasental,
tetapi tidak memperoleh kekebalan dari ibu karena belum cukupnya waktu ibu untuk
memproduksi antibodi. Pada keadaan ini bayi yang dilahirkan akan memgalami varisela
berat dan menyebar. Perlu diberikan profilaksis atau pengobatan dengan varicella zoster
immune globulin (VZIG) dan asiklovir. Bila tidak diobati dengan adekuat, angka
kematian sebesar 30%. Penyebab kematian utama akibat pneumonia berat dan hepatitis
fulminan.
2. Bila ibu terinfeksi varisela lebih dari 5 hari antepartum, sehingga ibu mempunyai
waktu yang cukup untuk memproduksi antibodi dan dapat diteruskan kepada bayi. Bayi
cukup bulan akan menderita varisela ringan karena pelemahan oleh antibodi
transplasental dari ibu. Pengobatan dengan VZIG tidak perlu, tetapi asiklovir dapat
dipertimbangkan pemakaiannnya, bergantung pada keadaan bayi.
3. Sindrom Varisela Kongenital

Varisela kongenital dijumpai pada bayi dengan ibu yang menderita varisela pada umur
kehamilan trimester I atau II dengan insidens 2%. Manifestasi klinik dapat berupa retardasi
pertumbuhan intrauterine, mikrosefali, atrofi kortikalis, hipoplasia ekstremitas, mikroftalmia,
katarak, korioretinitis, dan scarring pada kulit. Beratnya gejala pada bayi tidak berhubungan
dengan beratnya penyakit pada ibu. Ibu hamil dengan zoster tidak berhubungan dengan
kelainan pada bayi.

1. Zoster Infantil

Penyakit ini sering muncul dalam umur bayi satu tahun pertama, hal ini disebabkan karena
infeksi varisela maternal setelah masa gestasi ke-20. Penyakit ini sering menyerang pada
saraf dermatom thoracis (Robbins, 1995).

Indikasi rawat di ICU/NICU antara lain:


- Penurunan kesadaran
- Kejang
- Sulit jalan
- Gangguan pernapasan
- Sianosis
- Saturasi oksigen menurun
- Semua neonatus lahir dari ibu yang menderita varisela kurang dari 5 hari sebelum
melahirkan atau 2 hari setelah melahirkan
6. Pemeriksaan Kulit
 Lokasi: terutama pada badan dan sedikit pada wajah dan ekstremitas.
Mungkin juga timbul pada mulut, palatum mole dan faring.
 Effloresensi : vesikel berukuran miliar sampai lentikular, di sekitarnya
terdapat daerah eritematosa. Dapat ditemukan beberapa stadium
perkembangan vesikel mulai dari eritema, vesikula, pustule, skuama hingga
sikatriks (polimorf).

7. Pemeriksaan Laboratorium
Untuk pemeriksaan virus varicella zoster (VZV) dapat dilakukan beberapa test yaitu:
a. Tzanck Smear
- Preparat diambil dari scraping dasar vesikel yang masih baru, kemudian diwarnai
dengan pewarnaan yaitu hematoxylin-eosin, giemsa, wright’s, toluidine blue atau
Papanicolaou’s. Dengan menggunakan mikroskop akan dijumpai multinucleated
giant cells.
- Pemeriksaan ini tingkat sensitivitasnya 84%
- Test ini tidak dapat membedakan antara virus varicella zoster dengan herpes
simpleks virus
b. Direct Fluorescent Assay (DFA)
- Preparat diambil dari scraping dasar vesikel tetapi apabila sudah berbentuk crusta
pemeriksaan ini kurang sensitive.
- Hasil pemeriksaan ini cepat
- Membutuhkan mikroskop fluorescene
- Tes ini dapat menemukan antigen virus varicella zoster
- Pemeriksaan ini dapat membedakan antara virus varicella zoster dengan herpes
simpleks virus.
c. Polymerase Chain Reaction (PCR)
- Pemeriksaan dengan metode ini cepat dan sangat sensitive
- Dengan metode ini dapat digunakan berbagai jenis preparat seperti scraping dasar
vesikel dan apabila sudah berbentuk crusta dapat juga digunakan sebagai
preparat, dan CSF.
- Tes ini dapat menemukan nucleic acid dari virus varicella zoster.
d. Biopsi Kulit
Hasil pemeriksaan histopatologis: tampak vesikel intraepidermal dengan degenerasi
sel epidermal dan acantholysis. Pada dermis bagian atas dijumpai adanya
lymphocytic infiltrate.

8. Diagnosis Banding
Varisela Herpes Zoster
Sinonim Cacar air Cacar ular
Epidemiologi Terutama anak-anak Dewasa
Subklinis Reaktivasi virus setelah varisela
Lokasi Badan à menyebar sentrifugal Thorakal (sering) à unilateral dan
dermatomal
Gejala Prodromal Prodromal baik sistemik atau local
Lesi Vesikel tear drops, polimorf, Monomorf, nyeri
gatal
Masa 17-21 hari 7-12 hari
inkubasi
Masa aktif Beberapa jam 1 minggu
Masa resolusi 2-3 minggu 1-2 minggu
Sensori - Hiperestesi

9. Pencegahan
Imunisasi tersedia bagi anak-anak yang berusia lebih dari 12 bulan. Imunisasi ini
dianjurkan bagi orang di atas usia 12 tahun yang tidak mempunyai kekebalan.Penyakit ini
erat kaitannya dengan kekebalan tubuh.

a. Vaksinasi
Vaksin varicella berisi virus varisela strain hidup yang dilemahkan. Vaksin ini aman
dan bersifat immunogenik. Vaksin ini efektif bila diberikan pada saat atau setelah usia
1 tahun. Pemberian vaksin secara subkutan sebanyak 0,5 ml.
b. Varicella zoster imunoglobulin(VZIG )
Diberikan pada individu yang beresiko tinggi , segera setelah terpapar . Serum
ini dapat memberi efek,perlindungan sekitar tiga minggu. Pemberian varicella-zooster
immuno globulin (VZIG) diberikan kurang dari 96 jam setelah terpapar, yaitu pada :
 Anak dengan gangguan sistem pertahanan tubuh
 Bayi baru lahir dengan ibu tertular varicella dalam 5 hari sebelum melahirkan
atau 48 jam setelah melahirkan.
 Bayi prematur usia 28 minggu atau lebih muda dengan orangtua tanpa riwayat
cacar air sebelumnya.
c. Pencegahan lainnya:
 Menjaga kebersihan badan, pakaian dan lingkungan. Pakaian dan lingkungan
kotor merupakan sumber dari penyakit. Badan yang kotor akan mudah
terinfeksi oleh kuman penyakit.
 Mengkonsumsi makanan bergizi makanan bergizi membuat tubuh sehat dan
berstamina kuat sehingga dapat menangkal serangan infeksi kuman penyakit
 Menghindari sumber penularan penyakit cacar air.

10. Penatalaksanaan
Varicella ini sebenarnya dapat sembuh dengan sendirinya. Akan tetapi tidak menutup
kemungkinan adanya serangan berulang saat individu tersebut mengalami panurunan
daya tahan tubuh. Biasanya pengobatan simptomatik, yaitu analgetik dan antipiretik.
Local dapat diberikan bedak kering yang mengandung salisil 2% dan menthol 2%. Kalau
terdapat infeksi sekunder berikan antibiotic.

Terapi varisela :
 Imunokompeten :
o Anak-anak : asiklovir 20 mg/kgBB selama 7 hari
o Dewasa : asiklovir 5x800 mg/hr selama 7 hari, valasiklovir 3x1000 mg/hr
selama 7 hari, famsiklovir 3x200 mg/hr selama 7 hari.
 Immunocompromised : asiklovir 5x800 mg/hr selama 7 hari
 Penyakit berat/wanita hamil : asiklovir IV 10 mg/kgBB tiap 8 jam selama 7 hari

Setelah masa penyembuhan varisela, dapat dilanjutkan dengan perawatan bekas luka
yang ditimbulkan dengan banyak mengkonsumsi air mineral untuk menetralisir ginjal
setelah mengkonsumsi obat. Konsumsi vitamin C plasebo ataupun yang langsung dari
buah-buahan segar seperti juice jambu biji, juice tomat dan anggur. Vitamin E untuk
kelembaban kulit bisa didapat dari plasebo, minuman dari lidah buaya, ataupun
rumput laut. Penggunaan lotion yang mengandung pelembab ekstra saat luka sudah
benar- benar sembuh diperlukan untuk menghindari iritasi lebih lanjut
Karantina
Selama 5 hari setelah ruam mulai muncul dan sampai semua lepuh telah berkeropeng.
Selama masa karantina sebaiknya penderita tetap mandi seperti biasa, karena kuman
yang berada pada kulit akan dapat menginfeksi kulit yang sedang terkena cacar air.
Untuk menghindari timbulnya bekas luka yang sulit hilang sebaiknya menghindari
pecahnya lenting cacar air. Ketika mengeringkan tubuh sesudah mandi sebaiknya
tidak menggosoknya dengan handuk terlalu keras. Untuk menghindari gatal,
sebaiknya diberikan bedak talk yang mengandung menthol sehingga mengurangi
gesekan yang terjadi pada kulit dan kulit tidak banyak teriritasi. Untuk yang memiliki
kulit sensitif dapat juga menggunakan bedak talk salycil yang tidak mengandung
mentol. Konsumsi makanan bergizi untuk mempercepat proses penyembuhan
penyakit itu sendiri. Konsumsi buah- buahan yang mengandung vitamin C seperti
jambu biji dan tomat merah yang dapat dibuat juice.
Edukasi penderita;

 Mengganti baju penderita setiap hari


 Menaburkan bedak antigatal pada bagian tubuh yang terkena cacar air untuk
mengurangi rasa gatal dan agar ruam menjadi lebih cepat kering.
 Memisahkan penderita dengan orang yang sehat agar cacar air tidak menular pada
yang lain.
 Mandi, mandinya dengan air bersih (tidak terkontaminasi oleh bakteri) karena mandi
akan membuat bagian-bagian vesicle yang sudah mati akan lepas. Jika air yang
digunakan untuk mandi tidak bersih, bisa menimbulkan infeksi sekunder. yang
menyebabkan kemungkinan terjadinya scar atau bekas lebih banyak.”
 Memotong kuku agar tidak menggaruk ruam-ruam pada kulit, sehingga tidak timbul
infeksi baru.
 Memberikan kondisi nyaman pada penderita agar dapat beristirahat dengan nyaman
dan mempercepat proses kesembuhan

11. Komplikasi
Komplikasi Varisela Beberapa komplikasi dapat terjadi pada infeksi varisela, infeksi yang
dapat terjadi diantaranya adalah:
a. Infeksi sekunder dengan bakteri
Infeksi bakteri sekunder biasanya terjadi akibat stafilokokus. Stafilokokus dapat
muncul sebagai impetigo, selulitis, fasiitis, erisipelas furunkel, abses, scarlet fever,
atau sepsis.
b. Varisela Pneumonia
Varisela Pneumonia terutama terjadi pada penderita immunokompromis, dan
kehamilan. Ditandai dengan panas tinggi, Batuk, sesak napas, takipneu, Ronki basah,
sianosis, dan hemoptoe terjadi beberapa hari setelah timbulnya ruam. Pada
pemeriksaan radiologi didapatkan gambaran noduler yang radio-opak pada kedua
paru.
c. Reye sindrom letargi, mual, muntah menetap, anak tampak bingung dan perubahan
sensoris menandakan terjadinya Reye sindrom atau ensefalitis. Reye sindrom
terutama terjadi pada pasien yang menggunakan salisilat, sehingga pada varisela
penggunaan varisela harus dihindari. Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan
peningkatan SGOT, SGPT serta amonia.
d. Ensefalitis
Komplikasi ini tersering karena adanya gangguan imunitas. Dijumpai 1 pada 1000
kasus varisela dan memberikan gejala ataksia serebelar, biasanya timbul pada hari 3-8
setelah timbulnya ruam. Maguire (1985) melaporkan 1 kasus pada anak berusia 3
tahun dengan komplikasi ensefalitis menunjukkan gejala susah tidur, nafsu makan
menurun, hiperaktif, iritabel dan sakit kepala. 19 hari setelah ruam timbul, gerakan
korea atetoid lengan dan tungkai. Penderita meninggal setelah 35 hari perawatan.
e. Hemorrargis varisela
Terutama disebabkan oleh autoimun trombositopenia, tetapi hemorrargis varisela
dapat menyebabkan idiopatik koagulasi intravaskuler diseminata (purpura fulminan).
f. Hepatitis
g. Komplikasi lain
Komplikasi yang dapat ditemukan namun jarang terjadi diantaranya adalah neuritis
optic, myelitis tranversa, orkitis dan arthritis.

12. Prognosa
 Prognosa baik pada penderita yang non immunocompromized, dan
memperhatikan personal hygien serta perawatan yang teliti.
 Pada penderita dengan gangguan sistem kekebalan tubuh memiliki resiko
penyakit yang berat dan kematian.
 Pada cacar air neonatus yang jarak infeksi pada ibunya dengan persalinan
kurang dari 1 minggu , akan menimbulkan gejala yang sangat berat pada
neonatusdan bisa menimbulkan kematian. Hampir 30 % varisella pada
neonatus menimbulkan kematian

DAFTAR PUSTAKA

 Adji prof. Dr. dr., Djuanda. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Universitas Indonesia
Ed.IV.2005. Balai Penerbit FK UI .Jakarta.
 Marwali,Harahap Prof.Dr. Ilmu penyakit kulit.2000.EGC.Jakarta.
 Siregar R.S, Prof, Dr, Sp.KK. Saripati Penyakit Kulit.2004.Jakarta. hal. 88
 Harper J. Herpes zoster. In : Textbook of Pediatric Dermatology, volume 1, Blackwell
Science, 2000: 339
 Sugito T L. Infeksi Virus Varicella- Zoster pada bayi dan anak. Dalam:Boediardja S.A
editor. Infeksi Kulit Pada Bayi dan Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia,
Jakarta, 2003: 17-33.