Anda di halaman 1dari 247

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.

id

ANALISIS TINGKAT KERAWANAN BANJIR DAN PERSEPSI


MASYARAKAT TERHADAP UPAYA PENGURANGAN DAMPAK
BANJIR DI KECAMATAN BAURENO KABUPATEN BOJONEGORO

(Implementasinya sebagai sumber belajar siswa kelas 7 SMPN 2 Baureno, pada


Topik: Keadaan alam dan aktifitas penduduk. Sub Topik: Bentuk mukabumi dan
aktifitas penduduk Indonesia)

TESIS
Disusun untuk memenuhi sebagian Persyaratan Mencapai Derajat Magister
Program Studi Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup (PKLH)
Minat Utama: Pendidikan Geografi

Oleh :
LILIK INDAWATI
S881308008

PROGRAM PASCASARJANA KEPENDIDIKAN


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
commit to user
2015
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

ii
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

iii
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

iv
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

MOTTO

“ Sesungguhnya bersama kesukaran itu ada keringanan.


Karena itu bila kau sudah selesai (mengerjakan yang lain),
dan berharaplah kepada Tuhanmu”.
(Q.S Al Insyirah : 6-8)

“Ada dua cara untuk memahami kehidupan.


Cara pertama dengan menyadari bahwa tidak ada hal yang mukjizat.
Yang kedua menyadari bahwa semua hal adalah mukjizat “
(Albert Einstein)

commit to user

v
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

PERSEMBAHAN

Karya tesis ini saya persembahkan


kepada:

Kedua orang tuaku yang selalu


mendoakanku untuk dapat meraih
kesuksesan dalam hidup, Suami
tercinta dan anak- anakku yang selalu
mendorong semangat kerja kerasku
dalam menyelesaikan tesis dan
studiku di PPs Kependidikan UNS ini.

commit to user

vi
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah puji syukur ku panjatkan Kehadirat-Mu Ya Allah atas


rahmat, nikmat dan ridlo – Mu, Tesis ini dapat terselesaikan. Tesis ini disusun
sebagai salah satu persyaratan dalam mencapai derajat Magister Program Studi
Pendidikan Kependudukan Dan Lingkungan Hidup (PKLH) Minat Utama:
Pendidikan Geografi, pada Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret
Surakarta.

Dalam penulisan tesis ini, penulis banyak mendapatkan dorongan,


bimbingan, bantuan,dan saran dari berbagai pihak sehingga tesis ini dapat selesai.
Perkenankanlah pada kesempatan ini penulis mengucapkan ucapan terima kasih
kepada:

1. Rektor Universitas Sebelas Maret yang telah memberikan kesempatan kepada


penulis untuk menggunakan segala fasilitas yang ada di lingkungan kampus.
2. Prof. Dr. M. Furqon H, M.Pd selaku Dekan FKIP UNS yang telah
memberikan ijin penyusunan tesis ini.
3. Ibu Prof. Dr. Chatarina Muryani, M.Si, selaku Ketua Program Studi PKLH
pada Program Pascasarjana Kependidikan Universitas Sebelas Maret
Surakarta.
4. Ibu Prof. Dr. Chatarina Muryani, M.Si, selaku Pembimbing I yang telah
bersedia meluangkan waktu serta dengan penuh kesabaran memberikan
bimbingan, petunjuk dan arahan sangat berharga, sehingga tesis ini dapat
terselesaikan.
5. Bapak Puguh Karyanto, S.Si, M.Si, Ph.D, selaku Pembimbing II yang telah
bersedia meluangkan waktu serta dengan penuh kesabaran memberikan
bimbingan, petunjuk dan arahan sangat berharga, sehingga tesis ini dapat
terselesaikan.
6. Para Dosen Program Studi PKLH pada Program Pascasarjana Kependidikan
Universitas Sebelas Maret Surakarta yang telah memberikan bekal Ilmu
Pengetahuan kepada penulis.
commit to user

vii
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

7. Karyawan kantor Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta


yang telah melayani administrasi dengan baik untuk keperluan penyusunan
tesis.
8. Rekan-rekan Program Pascasarjana (Program Studi PKLH, Minat utama
Pendidikan Geografi, angkatan Agustus 2013) serta adik – adik mahasiswa
Pendidikan Geografi (S-1: Zaenul M, Agil, Hanif, Hendrik, yang telah
membantu observasi lapangan) sehingga terselesainya tesis ini.
9. Camat, Kepala desa serta masyarakat didaerah Penelitian(Kecamatan
Baureno)yang telah memberikan waktu, tempat, dan ijin penelitian, sehingga
terselesainya tesis ini.
10. Keluarga tercinta, yang telah memberikan dukungan biaya, semangat, dan
doa restu nya sehingga penulisan tesis ini dapat terselesaikan
Semoga segala kebaikan dan ketulusan yang diberikan, mendapatkan
limpahan Rahmat dari Tuhan Yang Maha Esa.
Penulis menyadari penyusunan Tesis ini masih ada kekurangan, namun besar
harapan saran dan kritik penulis harapkan, sehingga tesis ini dapat bermanfaat
bagi yang memerlukannya. Amin.

Surakarta, 12 Pebruari 2015


Penulis

Lilik Indawati

commit to user

viii
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

Lilik Indawati, 2014. S881308008. Analisis Tingkat Kerawanan Banjir Dan


Persepsi Masyarakat Terhadap Upaya Pengurangan Dampak Banjir Di
Kecamatan Baureno Kabupaten Bojonegoro (Implementasinya sebagai sumber
belajar siswa kelas 7 SMPN 2 Baureno, pada Topik: Keadaan alam dan aktifitas
penduduk. Sub Topik: Bentuk muka bumi dan aktifitas penduduk Indonesia).
Tesis: Pembimbing I: Prof. Dr. Chatarina Muryani, M.Si, Pembimbing II: Puguh
Karyanto, S.Si, M.Si, Ph.D. Program Studi Pendidikan Kependudukan dan
Lingkungan Hidup, Minat Utama Pendidikan Geografi, Program Pascasarjana,
Universitas Sebelas Maret Surakarta.
ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah: (1) untuk mengetahui tingkat kerawanan


banjir di wilayah Kecamatan Baureno, (2) untuk mengetahui persepsi masyarakat
Kecamatan Baureno terhadap pengurangan dampak banjir dan (3) sebagai sumber
belajar siswa kelas 7 SMPN 2 Baureno pada Topik: Keadaan alam dan aktifitas
penduduk. Sub Topik: Bentuk muka bumi dan aktifitas penduduk Indonesia).
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif
dengan pendekatan survei. Populasi yang dimbil adalah seluruh wilayah
Kecamatan Baureno yang terdiri dari 25 desa dengan menggunakan 2 jenis sample
yaitu sample wilayah dan sample responden. Sample wilayah dengan
menggunakan unit analisis satuan medan dan sample responden yang diambil
sejumlah 131 orang. Teknik pengambilan sampling penelitian ini adalah
purposive sampling karena diyakini representative dalam penyusunan satuan
medan berdasarkan overlay peta kemiringan lereng dan peta ketinggian tempat.
Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dokumen, observasi dan
wawancara. Teknik analisis data untuk tingkat kerawanan banjir adalah scoring
dan persepsi terhadap pengurangan dampak banjir adalah deskriptif kualitatif.
Hasil penelitian ini adalah Kecamatan Baureno terdiri dari 24 satuan
medan yang terbagi menjadi 3 tingkat kerawanan bencana banjir yaitu: a). Tingkat
kerawanan kurang terdapat 8 satuan medan: B-F4-Tgl, C-F4-Ht, C-F4-Tgl, D-F4-
TK, D-S1-Tgl, E-S1-Tgl, F-S1-TK dan F-S1-Tgl, b). Tingkat kerawanan sedang
terdapat 11 satuan medan: A-F3-Pmk, A-F3-Sw, A-F3-Tgl, B-F3-Kb, B-F3-Pmk,
B-F3-Tgl, B-F4-Pmk, C-F3-Pmk, C-F3-Tgl, C-F4-Pmk dan D-F4-Pmk dan c).
Tingkat rawan terdapat 5 satuan medan: A- F1-Pmk, A-F1-Sw, A- F1-Tgl, A-F2-
Sw dan B-F1-Pmk. Persepsi masyarakat dikelompokkan menjadi: tingkat
pengetahuan termasuk kategori tinggi yaitu mencapai 91,9% sedangkan tingkat
sikap termasuk kategori tinggi yaitu mencapai 87,5% dan tingkat tindakan untuk
melakukan pengurangan banjir masyarakat masuk dalam kategori setuju mencapai
58,3%. Sehingga diketahui secara keseluruhan masyarakat memiliki persepsi
setuju dengan upaya penguranan dampak banjir. Kaitanya dengan implementasi
pembelajaran bidang IPS di kelas 7 SMPN 2 Baureno dilakukan dengan
pembuatan produk berupa SSP (Subject Specific Pedagogy).

Kata Kunci: Tingkat Kerawanan Banjir, Satuan Medan, Persepsi Masyarakat,


Implementasi Pembelajaran. commit to user

ix
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

Lilik Indawati, 2014. S881308008. Analysis of Flood Vulnerability Level and


Perception of Community on the Effort of Flood Effect Reduction in Baureno
Sub-district, Bojonegoro Regency (Its Implementation as a Learning Resource
for the Students in Grade 7 of State Junior Secondary School 2 of Baureno on
the Topic of Discussion of Natural Conditions and Activities of Population, and
the Sub-topic of Discussion of: Shape of Earth Surface and Activities of
Indonesian Population). Thesis: Advisor: Prof. Dr. Chatarina Muryani, M.Si,
Co-advisor: Puguh Karyanto, S.Si, M.Si, Ph.D. The Graduate Program in
Population and Environmental Science, the Core Interest of Geography
Education, Sebelas Maret University, Surakarta

ABSTRACT

The objectives of this research are to investigate: (1) the flood


vulnerability level in the region of Baureno sub-district; (2) the perception of the
community of Baureno sub-district on the flood effect reduction; and its
implementation as a learning resource for the students in Grade 7 of State Junior
Secondary School 2 of Baureno on the topic of discussion of the Topic of
Discussion of Natural Conditions and Activities of Population, and the Sub-topic
of Discussion of: Shape of Earth Surface and Activities of Indonesian Population.
This research used the descriptive qualitative method with the survey
approach. Its population included all of the regions of Baureno sub-district
consisting of 25 villages. The samples of research consisted of two types of
samples, namely: region samples and respondent samples. The former used the
analysis unit of domain unit. The latter consisted of 131 respondents. The
samples of research were taken by using purposive sampling technique as it was
thought to be representative for the arrangement of domain unit based on the
overlay of slope map and of altitude map. The data of research were gathered
through documents, observations, and indepth interviews,. The data anlysis on the
flood nulnerability level used the scoring model, and that on the perception on the
flood effect reduction used the descriptive qualitative one.
The results of research are as follows: Baureno sub-district consists of 24
domain units with three levels of flood disaster vulnerability, namely: (a) low
vulnerability level consisting of 8 domain units: B-F4-Tgl, C-F4-Ht, C-F4-Tgl, D-
F4-TK, D-S1-Tgl, E-S1-Tgl, F-S1-TK, and F-S1-Tgl; (b) moderate vulnerability
level consisting of 11 domain units: A-F3-Pmk, A-F3-Sw, A-F3-Tgl, B-F3-Kb, B-
F3-Pmk, B-F3-Tgl, B-F4-Pmk, C-F3-Pmk, C-F3-Tgl, C-F4-Pmk, and D-F4-Pmk;
and (c) high vulnerability level consisting of five domain units: A- F1-Pmk, A-F1-
Sw, A- F1-Tgl, A-F2-Sw, and B-F1-Pmk. The perception of community of Baureno
sub-district is grouped into high category of knowledge level (91.9%), high
category of attitude (87.5%), and community’s action level to reduce flood which
belongs to “agree” category (58.3%).Thus, the community thoroughly has a
perception of “agree” to the effort of flood effect reduction. Its relation to the
implementation of the Social Science learning of the students in Grade 7 of State
Junior Secondary School 2 of Baureno is done through the production of a
commit
product of Subject Specific Pedagogy to user
(SSP).

x
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

Keywords: Flood vulnerability leve, domain unit, community’s perception,


learnng implementation.

commit to user

xi
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL .............................................................................. i


HALAMAN PENGESAHAN PEMBIMBING ..................................... ii
HALAMAN PENGESAHAN TESIS .................................................... iii
PERNYATAAN ..................................................................................... iv
MOTTO ................................................................................................. v
PERSEMBAHAN .................................................................................. vi
KATA PENGANTAR ........................................................................... vii
ABSTRAK ............................................................................................. ix
ABSTRACT ........................................................................................... x
DAFTAR ISI .......................................................................................... xii
DAFTAR TABEL .................................................................................. xv
DAFTAR GAMBAR ............................................................................. xviii
DAFTAR LAMPIRAN .......................................................................... xix

BAB I PENDAHULUAN ...................................................................... 1


A. Latar Belakang ........................................................................... 1
B. Identifikasi Masalah ................................................................... 7
C. Batasan Masalah ......................................................................... 7
D. Rumusan Masalah ...................................................................... 8
E. Tujuan Penelitian ...................................................................... 8
F. Manfaat Penelitian ..................................................................... 9

BAB II LANDASAN TEORI ................................................................ 11


A. Tinjauan Pustaka ........................................................................ 11
1. Banjir .................................................................................... 11
2. Tingkat kerawanan terhadap bencana banjir ........................ 19
3. Daerah Rawan Banjir .......................................................... 24
commit to user
4. Satuan Medan ....................................................................... 25

xii
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

5. Pemetaan Daerah Rawan Banjir .......................................... 26


6. Persepsi masyarakat ............................................................. 27
7. Persepsi Terhadap Upaya Pengurangan Dampak Banjir ..... 31
8. Sumber Belajar ..................................................................... 32
9. Implementasi sebagai Sumber Belajar Geografi................... 36
B. Penelitian yang Relevan ............................................................. 39
C. Kerangka Pemikiran ................................................................... 44

BAB III METODE PENELITIAN ......................................................... 45


A. Tempat dan Waktu Penelitian ................................................... 45
1. Tempat Penelitian ................................................................. 45
2. Waktu penelitian .................................................................. 45
B. Jenis dan Pendekatan Penelitian.................................................. 46
1. Jenis penelitian ..................................................................... 46
2. Pendekatan penelitian ........................................................... 46
C. Populasi dan Sampel (Subyek Penelitian) ................................. 47
1. Populasi penelitian ............................................................... 47
2. Sampel Penelitian ................................................................. 47
D. Data dan Sumber Data ............................................................... 50
E. Teknik Pengambilan Sampel ...................................................... 51
F. Teknik Pengumpulan Data ......................................................... 52
G. Validitas Data ............................................................................. 54
H. Tenik Analisis Data..................................................................... 54
I. Prosedur Penelitian ..................................................................... 62

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ....................... 65


A. Deskripsi Wilayah Penelitian ..................................................... 65
1. Letak, Batas dan Luas Daerah Penelitian ............................. 65
2. Kondisi Iklim ........................................................................ 68
3. Hidrologi .............................................................................. 71
commit to user
4. Keadaan Penduduk ............................................................... 72

xiii
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

B. Hasil Penelitian .......................................................................... 77


1. Tingkat Kerawanan Banjir ................................................... 77
2. Persepsi Masyarakat Terhadap Upaya Pengurangan Dampak
Banjir..................................................................................... 107
3. Persepsi (Pengetahuan, Sikap, Tindakan) Masyarakat terhadap
Upaya Pengurangan Dampak Banjir di Kecamatan
Baureno ................................................................................ 110
C. Pembahasan ................................................................................ 135
1. Tingkat Kerawanan Banjir ................................................... 135
2. Persepsi Masyarakat terhadap Upaya Pengurangan Dampak
Banjir .................................................................................... 139
3. Hubungan antara Tingkat Kerawanan banjir dengan Persepsi
Masyarakat ........................................................................... 157
4. Implementasi Pembelajaran di Sekolah ............................... 160

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ................................................. 162


A. Kesimpulan ................................................................................ 162
B. Implikasi ..................................................................................... 163
C. Saran ........................................................................................... 164

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................ 166


LAMPIRAN .......................................................................................... 172

commit to user

xiv
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 1. Rincian Waktu Kegiatan Penelitian .......................................... 45


Tabel 2. Data Primer .............................................................................. 50
Tabel 3. Data Sekunder .......................................................................... 51
Tabel 4. Skoring Curah Hujan ............................................................... 55
Tabel 5. Skoring Tutupan lahan ............................................................. 56
Tabel 6. Skoring Genangan Air/ Potensi Banjir ..................................... 56
Tabel 7. Skoring Kemiringan Lereng .................................................... 56
Tabel 8 Skoring Kejadian Banjir ............................................................ 57
Tabel 9. Klasifikasi Kerawanan Banjir .................................................. 59
Tabel 10. Alternatif Jawaban dalam Skala Likert .................................. 60
Tabel 11. Tingkat Rasio Skor Pengetahuan ........................................... 60
Tabel 12. Tingkat Rasio Skor Sikap ...................................................... 60
Tabel 13. Pembagian Tipe Iklim Menurut Schmidt dan Ferguson ........ 69
Tabel 14. Jumlah Penduduk Kecamatan Baureno ................................. 72
Tabel 15. Komposisi Penduduk Berdasarkan Umur .............................. 73
Tabel 16. Komposisi Penduduk Menurut Mata Pencaharian ................. 74
Tabel 17. Komposisi Penduduk Menurut Pendidikan ............................ 75
Tabel 18. Ketinggian permukaan di Kecamatan Baureno ..................... 77
Tabel 19. Jenis Batuan Geologi di Kabupaten Bojonegoro ................... 79
Tabel 20. Jenis Tanah di Kabupaten Bojonegoro .................................. 84
Tabel 21. Jenis Tanah di Kecamatan Baureno ...................................... 85
Tabel 22. Tutupan lahan di Kecamatan Baureno ................................... 87
Tabel 23. Satuan Medan Kecamatan Baureno ....................................... 89
Tabel 24. Curah Hujan Kecamatan Baureno .......................................... 92
Tabel 25. Data Curah Hujan Kecamatan Baureno berdasarkan Satuan
Medan ..................................................................................................... 95
Tabel 26. Data Tutupan Lahan Kecamatan Baureno berdasarkan Satuan
commit to user
Medan ..................................................................................................... 96

xv
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

Tabel 27. Data Kemiringan Lereng Kecamatan Baureno berdasarkan


Satuan Medan ......................................................................................... 97
Tabel 28. Data Genangan Air Kecamatan Baureno berdasarkan
Satuan Medan ......................................................................................... 100
Tabel 29. Data Kejadian Banjir Kecamatan Baureno berdasarkan
Satuan Medan ......................................................................................... 102
Tabel 30. Overlay Tingkat Kerawanan Banjir Kecamatan Baureno
berdasarkan Satuan Medan .................................................................... 104
Tabel 31. Tingkat Kerawanan Banjir Kecamatan Baureno ................... 105
Tabel 32. Usia Responden ...................................................................... 107
Tabel 33. Jenis Kelamin Responden ...................................................... 108
Tabel 34. Tingkat Pendidikan Responden ............................................. 109
Tabel 35. Jenis Pekerjaan Responden .................................................... 109
Tabel 36. Pengetahuan tentang upaya pengurangan dampak banjir ...... 111
Tabel 37. Pemahaman tentang upaya pengurangan dampak banjir ....... 111
Tabel 38. Penerapan pengetahuan tentang upaya pengurangan dampak
banjir ...................................................................................................... 112
Tabel 39. Penjabaran tentang upaya pengurangan dampak banjir ......... 113
Tabel 40. Penyusunan (sintesis) usaha-usaha dalam pengurangan
dampak ................................................................................................... 114
Tabel 41. Penilaian (evaluasi) terhadap upaya pengurangan dampak banjir
................................................................................................................. 115
Tabel 42. Rentang skor Pengetahuan ..................................................... 116
Tabel 43. Data Responden Skor Pengetahuan ....................................... 117
Tabel 44. Tingkat pengetahuan masyarakat tentang upaya pengurangan
dampak banjir ......................................................................................... 119
Tabel 45. Pemahaman terhadap upaya pengurangan dampak banjir ..... 120
Tabel 46. Perasaan terhadap upaya pengurangan dampak banjir .......... 121
Tabel 47. Kecenderungan berbuat untuk melakukan upaya pengurangan
commit to user
dampak banjir ......................................................................................... 122

xvi
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

Tabel 48. Rentang skor sikap masyarakat terhadap upaya pengurangan


dampak banjir ......................................................................................... 123
Tabel 49. Data Responden Skor Sikap ................................................... 124
Tabel 50. Tingkat skala sikap masyarakat tentang upaya pengurangan
dampak banjir ......................................................................................... 127
Tabel 51. Upaya atau cara responden dalam menjaga kelestarian
Lingkungan ............................................................................................ 128
Tabel 52. Pelaksanaan dalam upaya pengurangan dampak banjir ......... 129
Tabel 53. Upaya Dalam Pengurangan Dampak Banjir .......................... 130
Tabel 54. Hubungan antara tingkat kerawanan dan persepsi
masyarakat .............................................................................................. 157

commit to user

xvii
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 1. Proses terjadinya persepsi .................................................... 28


Gambar 2. Pelaziman menurut Bandura ................................................ 33
Gambar 3. Kerangka Pemikiran Penelitian ............................................ 44
Gambar 4. Peta Administrasi Kecamatan Baureno ................................ 67
Gambar 5. Klasifikasi pembagian iklim Schmidt – Ferguson ............... 71
Gambar 6. Peta Ketinggian Permukaan Wilayah Kecamatan Baureno . 78
Gambar 7. Peta Geologi Kecamatan Baureno ........................................ 80
Gambar 8. Peta Bentuk Lahan Kecamatan Baureno .............................. 83
Gambar 9. Peta Tanah Kecamatan Baureno .......................................... 86
Gambar 10. Peta Tutupan Lahan Kecamatan Baureno .......................... 88
Gambar 11. Peta Satuan Medan Kecamatan Baureno ........................... 91
Gambar 12. Diagram Pembagian Iklim Koppen .................................... 94
Gambar 13. Peta Kemiringan Lereng Kecamatan Baureno ................... 99
Gambar 14. Kejadian Banjir Kecamatan Baureno Tahun 2014 ............. 103
Gambar 15. Peta Tingkat Kerawanan Banjir Kecamatan Baureno ........ 106

commit to user

xviii
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran: Halaman

1. Kuesioner ................................................................................... 173


2. Kisi-Kisi Instrumen Penelitian Pengetahuan Tentang Upaya
Pengurangan Dampak Banjir ..................................................... 181
3. Kisi-Kisi Instrument Penelitian Skala Sikap Tentang Upaya
Pengurangan Dampak Banjir ..................................................... 184
4. Kisi – Kisi Instrumen Penelitian Tindakan Masyarakat Terhadap
Upaya Penanggulangan Dampak Banjir .................................... 187
5. Lembar Observasi Lapangan ...................................................... 188
6. Foto observasi lapangan ............................................................. 200
7. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) ................................ 205
8. Ringkasan Materi ....................................................................... 213
9. Lembar Kerja Siswa (LKS) ........................................................ 223

commit to user

xix
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Salah satu upaya untuk meningkatkan kesadaran terhadap lingkungan

hidup adalah melalui pendidikan. Melalui pendidikan dapat ditanamkan etika

dan nilai untuk peduli lingkungan (Keraf, 2005). Pendidikan merupakan

fungsi terpenting dalam pengembangan pribadi seorang individu dan

pengembangan kebudayaan nasional. Perkembangan diri seorang individu

akan dipengaruhi oleh kualitas pendidikan dalam lingkungan individu dan

negara tersebut. Proses yang terjadi dalam pendidikan bermuara pada proses

belajar. Belajar merupakan usaha yang dilakukan untuk memperoleh

perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil

pengalamannya sendiri yang dilakukannya secara terus-menerus dalam

interaksi dengan lingkungannya (Slameto, 2003). Secara ideal, pendidikan

diarahkan bukan sekedar pada penguasaan konsep ilmiah saja, melainkan

juga pada aplikasi dari konsep tersebut agar pembelajaran lebih bermakna,

diantaranya siswa harus memiliki sikap positif terhadap lingkungan,dalam

menanggapi isu di masyarakat yang diakibatkan oleh dampak perkembangan

IPTEK. Pendidikan merupakan wahana yang strategis dalam upaya

menumbuh kembangkan sikap peduli lingkungan (Yanti, 2013). Hal tersebut

sejalan dengan teori belajar Ausubel (Trianto, 2010) yang menjelaskan

tentang proses dikaitkanya informasi baru pada konsep-konsep relevan yang


commit to user

1
perpustakaan.uns.ac.id 2
digilib.uns.ac.id

terdapat dalam struktur kognitif siswa untuk dapat memberikan penyelesaian

nyata dari permasalahan yang nyata. Konsep-konsep dalam Geografi erat

kaitannya dengan kehidupan sehari-hari, sehingga mengaitkan konsep

Geografi dengan kehidupan sehari-hari akan membuat pembelajaran lebih

bermakna dan bukan sekedar pembelajaran yang hafalan. Oleh karena itu,

kompetensi penting yang dimiliki guru adalah dalam mengembangkan

pembelajaran.

Dalam meningkatkan pemahaman siswa pada materi dengan topik:

Keadaan alam dan aktifitas penduduk, sub topik: Bentuk muka bumi dan

aktifitas penduduk Indonesia diperlukan pemilihan dan pemanfaatan sumber

belajar yang tepat, dengan harapan pembelajaran yang berlangsung lebih

bermakna dan menghasilkan perubahan perilaku peserta didik yang positif

terhadap lingkungan. Perilaku lingkungan yang positif salah satunya

ditentukan oleh ‘attitude’ lingkungan yang baik. ‘Attitude’ tersebut dapat

dibentuk secara kultural melalui pendidikan lingkungan terintegrasi sebagai

instrumen yang kuat dan efektif melalui komunikasi, difusi informasi,

penyadaran, pembiasaan dan pembelajaran menyangkut lingkungan hidup

(Sri Hastuti, 2009). Secara umum dapat dikatakan bahwa pendidikan

merupakan motor penggerak perubahan dan menjadi salah satu kunci bagi

pembentukan insan dan masyarakat yang arif terhadap lingkungan.

Salah satu unsur iklim yang sering dan menarik untuk dikaji di

Indonesia adalah curah hujan, karena tidak semua wilayah Indonesia

mempunyai curah hujan yang sama. Datangnya hujan memunculkan


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 3
digilib.uns.ac.id

kekhawatiran akan bencana banjir. Di Indonesia, banjir menimbulkan

kerusakan sebesar dua pertiga dari bencana alam yang pernah terjadi (Robert

J.Kodoatie, 2002). Bencana banjir termasuk bencana alam yang hampir pasti

terjadi pada setiap datangnya musim penghujan.

Bengawan Solo merupakan sungai terpanjang di Pulau Jawa, dengan

Daerah Aliran Sungai (DAS) terbesar yang dimiliki adalah DAS Bengawan

Solo. DAS Bengawan Solo memiliki beberapa Sub-DAS diantaranya adalah

Sub-DAS Bengawan Solo Hulu dengan wilayah admistratif: Wonogiri,

Karanganyar, Ponorogo, Boyolali, Sragen, dan Klaten. Sub-DAS Bengawan

Solo Tengah dengan wilayah administratif: Sukoharjo, Solo, Ngawi, Madiun,

Magetan, Blora, Cepu. Sub-DAS Bengawan Solo hilir dengan wilayah

administratif: Bojonegoro, Tuban, Lamongan, Gresik. Kondisi topografi yang

relatif datar berada di kawasan Sub-DAS Bengawan Solo hilir, dimana

sebagian besar daerahnya berada di dataran rendah. Sub-DAS Bengawan

Solo hilir, dengan panjang alur sungai ± 300 km dan luas ± 6.273 km2

membentuk alur sungai yang lebar dengan kemiringan landai, melalui dataran

aluvial dan menjadi daerah yang sering digenangi banjir.

Pada awal tahun 2008 merupakan tahun terjadinya banjir besar akibat

meluapnya Bengawan Solo, sebagian besar daerah yang dilintasi Bengawan

Solo daerahnya dilanda banjir, salah satunya adalah Kabupaten Bojonegoro.

Kabupaten Bojonegoro merupakan wilayah yang banyak dari daerahnya

berada dijalur Bengawan Solo bagian hilir, sehingga saat banjir besar maka

sebagian wilayah di Kabupaten Bojonegoro juga ikut terkena dampak luapan


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 4
digilib.uns.ac.id

Bengawan Solo. Salah satu daerah yang terkena banjir pada awal tahun 2008

adalah Kecamatan Baureno.

Kecamatan Baureno wilayahnya terdiri atas 25 desa merupakan salah

satu kecamatan dikabupaten Bojonegoro, termasuk kedalam Sub-DAS

Bengawan Solo hilir dan hampir seluruh wilayahnya sering dilanda banjir.

Banjir yang terjadi, disinyalir akibat intensitas hujan yang tinggi pada wilayah

itu sendiri dan juga berasal dari limpasan Sub-DAS Bengawan Solo di

bagian hilir.

Dalam setiap kejadian banjir di Kecamatan Baureno, maka

menyebabkan kerugian, baik fisik maupun materi. Tidak hanya di Kecamatan

Baureno saja, kecamatan – kecamatan yang berada di Kabupaten Bojonegoro

juga banyak mengalami kerugian baik fisik dan materi. Di Kecamatan

Baureno sendiri kejadian banjir merusak puluhan hektar sawah-sawah milik

warga. Hal tersebut berdampak pada perekonomian keluarga mereka, karena

sawah merupakan sumber perekonomian sebagian besar warga di Kecamatan

Baureno. Setiap tahunnya peristiwa tersebut harus terjadi saat memasuki

musim penghujan, dan warga harus kehilangan sumber penghasilan mereka

karena rusaknya sawah yang tergenang oleh air.

Saat ini persoalan banjir di wilayah Kecamatan Baureno, intensitasnya

semakin meningkat. Hal tersebut merupakan bentuk respon negatif dari

komponen-komponen beberapa Sub-DAS di wilayah Baureno terhadap

kondisi curah hujan. Kuat atau lemahnya respon sangat dipengaruhi oleh

karakteristik Sub-DAS baik secara fisik, maupun sosial ekonomi serta budaya
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 5
digilib.uns.ac.id

masyarakatnya. Karakteristik fisik Sub-DAS di wilayah Baureno merupakan

unsur utama yang menentukan proses hidrologi pada Sub-DAS, sedangkan

karakteristik sosial ekonomi dan budaya masyarakat disekitar Sub-DAS

adalah unsur pendorong yang mempengaruhi percepatan perubahan kondisi

hidrologi Sub-DAS yang ada.

Banjir di wilayah Baureno disinyalir karena meningkatnya ancaman

terhadap keberlanjutan daya dukung sumber daya air, baik air permukaan

maupun air tanah. Kerusakan lingkungan yang dilakukan oleh kegiatan

manusia seperti budaya masyarakat yang memposisikan sungai sebagai

tempat pembuangan (limbah industri rumah tangga dan sampah) juga

menyebabkan kondisi sungai kurang terpelihara, sehingga menyebabkan

penurunan daya dukung Sub-DAS dalam menahan dan menyimpan air hujan.

Disamping itu penurunan keandalan layanan jaringan irigasi, menurunnya

luas sawah produktif beririgasi karena alih fungsi lahan menjadi non-

pertanian (terutama untuk perumahan). Disisi lain lemahnya koordinasi,

kelembagaan, ketatalaksanaan, partisipasi masyarakat, sebagai salah satu

prasyarat terjaminnya keberlanjutan pola pengelolaan sumber daya air, masih

belum mencapai tingkat yang diharapkan karena masih terbatasnya

kesempatan dan kemampuan.

Selama ini informasi mengenai data lokasi banjir masih berupa data

dalam bentuk angka-angka atau tabel yang belum dipetakan oleh Dinas

Pekerjaan Umum. Data yang masih dalam bentuk angka dan tabel dalam

penyajiaannya memang cukup mudah dibaca oleh pembaca akan tetapi data
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 6
digilib.uns.ac.id

itu mempunyai kelemahan yaitu data tersebut tidak bisa memberikan

gambaran mengenai distribusi spasialnya. Peneliti akan mengolah data

tersebut ke dalam bentuk peta tingkat kerawanan bencana banjir, yang

nantinya akan lebih memudahkan pembaca dalam membaca dan memahami

hasil penelitian yang telah dilakukan.

Selain itu penyajian data tentang tingkat kerawanan banjir ke dalam

bentuk peta akan sangat membantu sebagai sumber belajar siswa, khususnya

pada topik: Keadaan alam dan aktifitas penduduk, sub topik: Bentuk muka

bumi dan aktifitas penduduk Indonesia, di kelas 7 SMPN 2 Baureno,

semester ganjil. Karena melalui peta tingkat kerawanan banjir tersebut, siswa

dapat dengan mudah memahami materi yang disampaikan dan menangkap ide

dari data dan informasi yang disajikan.

Dengan uraian seperti yang tertulis diatas, maka penulis terdorong

untuk melakukan penelitian dikecamatan Baureno tersebut dengan judul

“ANALISIS TINGKAT KERAWANAN BANJIR DAN PERSEPSI

MASYARAKAT TERHADAP UPAYA PENGURANGAN DAMPAK

BANJIR DI KECAMATAN BAURENO KABUPATEN

BOJONEGORO”.

(Implementasinya sebagai sumber belajar siswa kelas 7 SMPN 2

Baureno, pada topik : Keadaan alam dan aktifitas penduduk, sub topik :

Bentuk muka bumi dan aktifitas penduduk Indonesia )

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 7
digilib.uns.ac.id

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, dapat di identifikasi masalah sebagai

berikut:

1. Setiap tahun wilayah Kecamatan Baureno mengalami banjir yang

dalam hal ini dimaksud dengan bencana banjir.

2. Dampak banjir sangat merugikan masyarakat wilayah Kecamatan

Baureno, diantaranya rusaknya areal pertanian sehingga gagal panen.

3. Lemahnya koordinasi dan kelembagaan dalam penanganan banjir di

wilayah Kecamatan Baureno.

4. Kurangnya kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam menjaga

lingkungan.

5. Kurangnya sumber belajar bagi siswa dalam memahami materi

pembelajaran yang berkaitan dengan lingkungan hidup.

6. Persepsi yang salah masyarakat terhadap bahaya banjir.

7. Belum ada peta kerawanan banjir di Kecamatan Baureno.

C. Batasan Masalah

Penelitian harus memiliki arah yang jelas dan pasti, karena keterbatasan

waktu, dana dan tingkat pengetahuan peneliti, maka penelitian ini perlu

diberikan batasan masalah. Berdasarkan latar belakang masalah dan

identifikasi masalah, maka batasan masalah dalam penelitian ini adalah:

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 8
digilib.uns.ac.id

1. Menganalisis tingkat kerawanan banjir di wilayah Kecamatan Baureno.

2. Menganalisis persepsi masyarakat tentang pengurangan dampak banjir, di

wilayah Kecamatan Baureno.

3. Mengimplementasikan hasil penelitian sebagai sumber belajar siswa kelas

7 SMPN 2 Baureno pada topik : Keadaan alam dan aktifitas penduduk,

sub topik : Bentuk muka bumi dan aktifitas penduduk Indonesia.

D. Rumusan Masalah

Intensitas curah hujan yang tinggi di musim penghujan serta limpasan

air permukaan beberapa Sub DAS Bengawan Solo Hilir sering kali membawa

akibat banjir bagi daerah-daerah langganan banjir di Jawa Timur, salah

satunya adalah Kecamatan Baureno, Bojonegoro. Maka yang menjadi

pertanyaan dalam penelitian ini adalah :

1. Bagaimanakah tingkat kerawanan banjir diwilayah Kecamatan Baureno?

2. Bagaimanakah persepsi masyarakat terhadap pengurangan dampak banjir

di Kecamatan Baureno?

3. Bagaimanakah implementasinya pada topik: Keadaan alam dan aktifitas

penduduk, sub topik : Bentuk muka bumi dan aktifitas penduduk Indonesia

di pembelajaran IPS kelas 7 SMPN 2 Baureno?

E. Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah sebagaimana

diuraikan di atas, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 9
digilib.uns.ac.id

1. Untuk mengetahui tingkat kerawanan banjir di wilayah Kecamatan

Baureno.

2. Untuk mengetahui persepsi masyarakat Kecamatan Baureno terhadap

pengurangan dampak banjir.

3. Sebagai sumber belajar siswa kelas 7 SMPN 2 Baureno pada topik:

Keadaan alam dan aktifitas penduduk, sub topik : Bentuk muka bumi

dan aktifitas penduduk Indonesia.

F. Manfaat Penelitian

Segala sesuatu yang dimulai dengan suatu prosedur yang sistematik,

pasti mempunyai kegunaan. Demikian juga dalam penelitian ini, adapun

manfaat penelitian ini diharapkan adalah sebagai berikut :

1. Manfaat Teoritis

a. Bagi pemerintah, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai

informasi dalam melakukan mitigasi bencana banjir. Informasi yang

diperoleh dalam penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan dasar

dalam melakukan diagnosis bencana banjir secara cepat, obyektif,

tepat dan rasional. Selain itu hasil penelitian ini dapat membantu

pihak-pihak terkait yang menangani DAS di daerah penelitian dalam

upaya mengelola DAS secara terpadu dan berkelanjutan.

b. Sebagai masukan untuk pengembangan kajian ilmiah maupun studi

lanjutan tentang banjir pada suatu sungai dan upaya pengelolaan DAS.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 10
digilib.uns.ac.id

2. Manfaat Praktis

a. Meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat sekitar,

terkait dengan tingkat kerawanan banjir di daerah penelitian.

b. Hasil penelitian ini dapat memberikan informasi kepada masyarakat

di daerah penelitian, sehingga diharapkan akan memiliki kesadaran

dan dapat berpartisipasi aktif dalam melestarikan ekosistem DAS.

c. Dapat di gunakan sebagai sumber belajar siswa kelas 7 SMPN 2

Baureno.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka

Kecamatan Baureno Kabupaten Bojonegoro merupakan daerah langganan

banjir di musim penghujan. Untuk memahami fenomena banjir, tingkat

kerawanan, persepsi masyarakat terhadap upaya pengurangan dampak banjir, serta

implementasinya sebagai sumber belajar siswa maka perlu dipahami:

1. Banjir

Menurut W.M. Johnstone (2009) bahwa communities worldwide face

dangers due to floods induced by natural events or technical failures. These

vulnerabilities are increasing due to continued settlement along coastlines

and in floodplains, and may be exacerbated in future by climate change.

Masyarakat dunia sekarang sedang menghadapi bahaya bencana banjir yang

diakibatkan oleh aktivitas alam dan kesalahan teknis manusia. Bencana banjir

tersebut diperparah oleh meningkatnya permukaan air laut karena perubahan

iklim global.

Banjir dapat diartikan sebagai salah satu proses alam, yang dapat

menimbulkan dan menjadi ancaman serius terhadap penduduk, terutama

mereka yang menempati sempadan sungai-sungai besar dan atau tinggal di

daerah dataran rendah (ledokan), serta didaerah pesisir dekat muara sungai

(PSBA-UGM, 2000:3). Menurut Kodoatie dan Sugiyanto (2002:74), banjir

terdapat 2 peristiwa: pertama adalah peristiwa genangan yang terjadi pada


commit to user

11
perpustakaan.uns.ac.id 12
digilib.uns.ac.id

daerah yang biasanya tidak terjadi banjir, dan kedua adalah peristiwa banjir

terjadi karena limpasan air banjir dari sungai, karena debit banjir tidak

mampu dialirkan oleh alur sungai atau debit banjir lebih besar dari kapasitas

pengaliran sungai yang ada.

Banjir dan genangan adalah kedua peristiwa yang berbeda. Banjir

adalah genangan yang ditimbulkan oleh meluapnya aliran sungai, sedangkan

genangan adalah tertahannya aliran air permukaan akibat tidak berfungsinya

drainase (Agustinus, 2009:18). Banjir merupakan genangan air yang

menggenangi lahan, baik itu permukiman, sawah, perkebunan dan lahan

produktif lainnya yang dapat menimbulkan kerugian fisik dan materi.

Terjadinya bencana banjir memiki banyak faktor penyebab, sebagaimana

yang disampaikan oleh The National Flood Risk Advisory Group bahwa

floodplain shape, slope, storage, development, vegetation and flood controls,

both natural (gorges, ocean levels in tidal areas) and man made (roads and

structures), all have a significant influence on the routing of flood flows (i.e.

hydraulic processes) and therefore the derivation of flood behaviour from

hydrological analyses. These factors significantly influence flood hazard to

people and property. Dari pernyataan tersebut menunjukkan bahwa bentuk

dataran banjir, kemiringan, arus air, kondisi tanaman dan tanah erat

pengaruhnya dengan kekuatan luapan banjir. Selain itu campur tangan

manusia terhadap alam juga banyak memberikan andil terhadap bencana

banjir.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 13
digilib.uns.ac.id

Banjir menurut Prahananto (2009) terdiri dari Banjir Kiriman,

Banjir Genangan, Banjir Air Pasang (Banjir Rob). Banjir kiriman adalah

banjir yang disebabkan oleh melimpasnya air hujan dari suatu daerah yang

lebih tinggi menuju daerah yang lebih rendah atau daerah genangan. Dengan

adanya banjir kiriman ini maka akan terjadi penambahan jumlah air yang

harus ditampung oleh daerah rendah tersebut. Banjir genangan yaitu banjir

yang disebabkan adanya genangan air yang berasal dari air hujan lokal. Air

hujan lokal adalah air hujan yang terjadi pada daerah itu sendiri. Tetapi jika

curah hujan lokal ini cukup tinggi dan terjadi terus menerus, maka di daerah

tangkapan hujan dapat terjadi banjir. Banjir air pasang yaitu banjir yang

disebabkan adanya kenaikan muka air laut yang melebihi muka saluran,

sehingga saluran yang bermuara di pantai tersebut akan dimasuki air laut.

a. Parameter dan komponen yang terancam

Karakteristik daerah yang berpengaruh terhadap bagian air hujan

antara lain adalah topografi, sistem drainase, penggunaan lahan, penutup

lahan. Sedangkan parameter atau tolok ukur ancaman atau bahaya banjir

dapat ditentukan berdasarkan: a) Luas genangan (km2 atau ha), kedalaman

atau ketinggian banjir (m), Kecepatan aliran (m/detik atau km/jam), Material

yang dihanyutkan (batu, pohon, benda keras lainnya), tingkat kepekatan air

atau tebal endapan lumpur (m, cm), lamanya waktu genangan (jam, hari,

bulan), frekuensi kejadian (Anonim, 2007b, Koodoatie dan Syarif, 2008).

Bencana banjir mengakibatkan kerugian berupa korban manusia dan

harta benda, baik milik perorangan maupun milik umum yang dapat
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 14
digilib.uns.ac.id

mengganggu dan bahkan melumpuhkan kegiatan sosial-ekonomi penduduk.

Melihat berbagai macam kerugian dialami oleh korban bencana banjir,

masyarakat sering menganggap wilayah tersebut tergolong miskin.

Sebagaimana yang disampaikan oleh M.I. Rayhan (2010) bahwa: it can be

seen that the correlates of flood vulnerability are apparently similar to the

correlates of poverty (for significant variables), which is also the noteworthy

component for defining vulnerability. Bahwa banjir memiliki korelasi dengan

kemiskinan dan semua komponen yang mempengaruhi menjadi indikasi

wilayah dengan keuntungan yang rendah. Tidak bisa dipungkiri bahwa

wilayah yang menjadi langganan banjir sering mendapat stigma negatif

masyarakat dengan kemampuan yang rendah dan kebanyakan dianggap

miskin, kesadaran rendah, kumuh, dan berpendidikan yang rendah

b. Faktor- faktor penyebab bencana banjir

Menurut Akhmad Jufriadi, dkk (2012) bencana adalah peristiwa yang

mengancam dan mengganggu kehidupan masyarakat, disebabkan oleh faktor

alam maupun manusia, sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa dan

harta benda. Selama ini tindakan usaha penanggulangan bencana dilakukan

oleh Pemerintah untuk mengurangi resiko belum optimal. Akibatnya pada

saat terjadi bencana, masyarakat belum mampu untuk menangani sendiri.

Kenyataan ini dikarenakan masyarakat daerah rawan bencana tidak

mempunyai bekal pengetahuan terhadap penanganan bencana. Sehingga

faktor-faktor terjadinya bencana perlu diketahui untuk melakukan tindakan

preventif. Dalam hal ini banjir disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu faktor
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 15
digilib.uns.ac.id

hujan, faktor hancurnya retensi DAS, faktor kesalahan perencanaan

pembangunan alur sungai, faktor pendangkalan sungai dan faktor kesalahan

tata wilayah dan pembangunan sarana prasarana (Maryono, 2005).

Selain itu, menurut Seyhan (1977) bencana alam banjir yang terjadi

juga ditentukan oleh aspek yang lain, yaitu a) aspek meteorology-

klimatologis terutama karakteristik curah hujan yang mampu membentuk

badai atau hujan maksimum, b) Karakteristis DAS dari aspek bio-geofisikal

yang mampu memberikan cirri khas tipologi DAS tertentu, c) Aspek sosial

ekonomi masyarakat terutama karakteristik budaya yang mampu memicu

terjadinya kerusakan lahan DAS, sehingga wilayah DAS tersebut tidak

mampu lagi berfungsi sebagai penampung, penyimpan, dan penyalur air

hujan yang baik. Ketiga aspek tersebut secara garis besar yang dapat dipakai

sebagai dasar penentuan apakah wilayah DAS ataupun bagian DAS mana

(hulu, tengah, hilir) termasuk kritis berat ataupun potensial kritis. Dengan

kata lain, apakah wilayah DAS ataupun bagian DAS mana yang sudah

termasuk klasifikasi rawan atau sangat rawan banjir. Sehingga sebelum

terjadi bencana banjir di wilayah DAS atau SubDAS tersebut sudah diketahui

terlebih dahulu diwilayah DAS atau dibagian DAS mana yang rawan / sangat

rawan banjir atau kritis/ sangat kritis, dengan demikian ada waktu untuk

mengantisipasi ataupun berbuat sesuatu sebelum banjir itu datang , dan

menjadi bencana.

Menurut Suripin (2004:339) Penyebab banjir dapat dibedakan menjadi

3 macam, yaitu:
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 16
digilib.uns.ac.id

1) Banjir kiriman

Aliran banjir yang datangnya dari daerah hulu di luar kawasan yang

tergenang. Hal ini terjadi jika hujan yang terjadi di daerah hulu

menimbulkan aliran banjir yang melebihi kapasitas sungainya atau banjir

kanal yang ada, sehingga terjadi limpasan.

2) Banjir lokal

Genangan air yang timbul akibat hujan yang jatuh di daerah itu sendiri.

Hal inidapat terjadi kalau hujan yang terjadi melebihi kapasitas sistem

drainase yangada. Pada banjir lokal, ketinggian genangan air antara 0,2 –

0,7 m dan lamagenangan 1 – 8 jam. Terdapat pada daerah yang rendah.

3) Banjir rob

Banjir yang terjadi baik akibat aliran langsung air pasang dan/atau air balik

dari saluran drainase akibat terhambat oleh air pasang.

Banjir yang terjadi di Kecamatan Baureno merupakan banjir lokal dan

banjir kiriman, karena banjir lokal yang terjadi sebagai akibat hujan yang

jatuh di daerah itu sendiri yang disebabkan air hujan tidak tertampung oleh

saluran drainase sebab melebihi kapasitas sistem drainase yang ada.

Sedangkan Banjir kiriman terjadi di wilayah Baureno, akibat di daerah

lainterjadi hujan yang airnya mengalir menuju sungai bengawan solo,

kemudian Sungai Bengawan Solo volume airnya naik hingga meluap.

c. Dampak banjir

Banjir senantiasa membawa dampak, dampak tersebut yaitu dampak

positif, dan dampak negatif, untuk lebih rinci dapat diuraikan sebagai berikut:
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 17
digilib.uns.ac.id

1) Dampak positif (dampak yang baik).

Dari berbagai dampak negatif yang ditimbulkan, ternyata banjir

(banjir air skala kecil) juga dapat membawa banyak keuntungan, seperti

mengisi kembali air tanah, menyuburkan serta memberikan nutrisi kepada

tanah. Air banjir menyediakan air yang cukup di kawasan kering dan semi-

kering yang curah hujannya tidak menentu sepanjang tahun. Air banjir

memainkan peran penting dalam menyeimbangkan ekosistem di koridor

sungai dan merupakan faktor utama dalam penyeimbangan keragaman

makhluk hidup di dataran. Banjir menambahkan banyak nutrisi untuk

danau dan sungai yang semakin memajukan industri perikanan pada tahun-

tahun mendatang, selain itu juga karena kecocokan dataran banjir untuk

pengembangbiakan ikan.

2) Dampak negatif (dampak yang buruk)

Dampak negatif tersebut masih dibagi lagi menjadi tiga sub-

dampak, yaitu: a) dampak primer; b) dampak sekunder dan; c) dampak

tersier. Secara primer, yaitu kerusakan fisik pada segala sesuatu yang

dilalui oleh banjir. Banjir mampu merusak berbagai jenis infrastruktur

yang ada, termasuk jembatan, bangunan, sistem selokan bawah

tanah, jalan raya, dan kanal. Secara sekunder, yaitu efek yang terjadi

sebagai akibat dari dampak primer, seperti:

a) Persediaan air, yaitu banyak sumberair terkontaminasi, sehingga air

minum bersih mulai langka.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 18
digilib.uns.ac.id

b) Menyebabkan wabah Penyakit, karena kondisi lingkungan yang tidak

higienis, maka penyebaran penyakit bawaan air banjir semakin

merajalela.

c) Pertanian dan persediaan makanan merosot. Banjir yang menggenangi

lahan pertanian yang siap panen, berakibat kegagalan panen petani.

Berakibat kelangkaan hasil pertanian pula.

d) Mematikan organisme lain dalam ekosistem. Spesies tumbuhan

tertentu yang tidak sanggup bertahan dan akan mati karena tidak bisa

bernapas, tidak bisa berfotosintesa (karena busuk).

e) Lumpuhnya laju transportasi darat. Jalur transportasi rusak, sehingga

sulit mengirimkan bantuan darurat kepada orang-orang yang

membutuhkan. Sedangkan secara tersier, yaitu kerusakan yang

diakibatkan oleh banjir yang berlangsung dalam kurun waktu yang

lama atau jangka panjang, dampak tersier tersebut antara lain:

Kesulitan ekonomi karena kerusakan permukiman yang terjadi akibat

banjir; dalam sector pariwisata,maka terjadi penurunan minat

parawisatawan, masyarakat sekitar banjir kehilangan mata

pencahariannya, kelangkaan makanan yang mendorong kenaikan

harga, dll.

d. Banjir Limpasan (Banjir Kiriman)

Secara alamiah sebagian air hujan yang jatuh ke permukaan tanah

akan meresap ke dalam tanah dan selebihnya akan mengalir menjadi limpasan

permukaan. Kondisi daerah di tempat hujan itu turun, akan sangat


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 19
digilib.uns.ac.id

berpengaruh terhadap bagian dari air hujan yang akan meresap ke dalam

tanah dan akan membentuk limpasan permukaan. Limpasan permukaan

terjadi ketika jumlah curah hujan melampaui laju infiltrasi. Setelah laju

infiltrasi terpenuhi, air mulai mengisi cekungan atau depresi pada permukaan

tanah. Setelah pengisian selesai maka air akan mengalir dengan bebas di

permukaan tanah, bahkan mengalir ke daerah yang lebih rendah. Kejadian

banjir seperti ini lebih diartikan sebagai banjir limpasan (discharge overland

flow) atau dikalangan umum dikenal dengan istilah banjir kiriman, karena tipe

banjir ini berasal dari aliran limpasan permukaan yang merupakan bagian dari

hujan yang mengalir dipermukaan tanah sebelum masuk ke sistem sungai.

Banjir limpasan cirri-cirinya antara lain debit puncak yang tinggi dan

waktu datangnya banjir (time to peak) yang sangat cepat, sehingga tidak

memberikan kesempatan penduduk untuk persiapan mengungsi. Faktor-faktor

yang mempengaruhi banjir limpasan dibagi menjadi dua kelompok, yaitu

elemen meteorologi dan elemen sifat fisik daerah pengaliran (Sosrodarsono

dan Takeda, 1978:135). Elemen meteorologi meliputi jenis presipitasi,

intensitas hujan, durasi hujan, dan distribusi hujan dalam daerah pengaliran,

sedangkan elemen sifat fisik daerah pengaliran meliputi tata guna lahan (land

use), jenis tanah, dan kondisi topografi daerah pengaliran (catchment).

Elemen sifat fisik dapat dikategorikan sebagai aspek statis sedangkan elemen

meteorologi merupakan aspek dinamis yang dapat berubah terhadap waktu.

2. Tingkat kerawanan terhadap bencana banjir

a. Pemetaan
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 20
digilib.uns.ac.id

Menurut Sandy (1972:2) mengemukakan bahwa pemetaan merupakan

suatu usaha untuk menyampaikan, menganalisis dan mengklasifikasikan data

yang bersangkutan, serta menyampaikan ke dalam bentuk peta dengan

mudah, memberi gambaran yang jelas, rapi dan bersih. Peta yang

menggambarkan fenomena geografikal tidak hanya sekedar pengecilan suatu

fenomena saja, tetapi jika peta itu dibuat dan didesain dengan baik, maka

akan menjadi alat bantu yang baik untuk kepentingan melaporkan,

memperagakan, menganalisis dan secara umum untuk memahami suatu objek

atau kenampakan di muka bumi. Peta menggunakan simbol dua dimensi

untuk mencerminkan fenomena geografikal yang dilakukan secara sistematis

dan memerlukan kecakapan untuk membuat dan membacanya. Semua peta

mempunyai satu hal yang sifatnya umum yaitu menambah pengetahuan dan

pemahaman geografikal bagi si pengguna peta. Dalam memetakan daerah

rawan banjir di Kecamatan Baureno, hampir semua tahapan penelitian ini

memerlukan peta sebelum perencanaan tersebut dimulai. Hal ini sesuai

dengan fungsi peta dalam perencanaan suatu kegiatan seperti yang

dikemukakan oleh Sinaga (1995:7) adalah sebagai berikut:

1) Memberikan informasi pokok dari aspek keruangan tentang karakter

dari suatu daerah.

2) Sebagai alat untuk menjelaskan penemuan-penemuan penelitian yang

dilakukan.

3) Sebagai suatu alat menganalisis dalam mendapatkan suatu kesimpulan.

4) Sebagai alat untuk menjelaskan rencana-rencana yang diajukan.


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 21
digilib.uns.ac.id

Demikian pula dalam suatu kegiatan penelitian, peta berfungsi sebagai

berikut:

1) Alat bantu sebelum melakukan survei untuk mendapatkan gambaran

tentang daerah yang akan diteliti.

2) Sebagai alat yang digunakan selama penelitian, misalnya memasukkan

data yang ditemukan di lapangan.

3) Sebagai alat untuk melaporkan hasil penelitian.

b. Kerawanan

Kerawanan dan kerentanan merupakan dua hal yang berbeda.

Kerentanan adalah suatu kondisi dari suatu komunitas atau masyarakat yang

mengarah atau menyebabkan ketidakmampuan dalam menghadapi ancaman

bencana. Menurut Pelling dan Cutter (2003) dalam Kaisar (2013) membagi

kerentanan wilayah menjadi dua jenis yaitu kerentanan biofisik dan

kerentanan sosial. Kerentanan biofisik adalah kerentanan yang berkaitan

dengan ligkungan terbangun. Sedangkan kerentanan sosial adalah kerentanan

yang yang berkaitan dengan kondisi sosial, ekonomi dan politik yang

memengaruhi kejadian bencana. Kemudian devinisi kerawanan bencana

adalah kondisi atau karakteristik geologis, biologis, hidrologis, klimatologis,

geografis, sosial, budaya, politik, ekonomi, dan teknologi pada suatu wilayah

untuk jangka waktu tertentu, untuk mengurangi kemampuan, mencegah,

meredam, mencapai kesiapan untuk menanggapi dampak buruk bahaya

tertentu (BNPB, No: 2, 2012).

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 22
digilib.uns.ac.id

Kerawanan banjir adalah keadaan yang menggambarkan mudah atau

tidaknya suatu daerah terkena banjir di dasarkan pada faktor-faktor alam yang

mempengaruhi banjir, antara lain faktor meteorologi (intensitas curah hujan,

distribusi curah hujan, frekwensi dan lamanya hujan berlangsung) dan

karakteristik Daerah Aliran Hujan (DAS) seperti: kemiringan lereng,

ketinggian tempat, tekstur tanah, dan penggunaan lahan (Suherlan dalam

Suhardiman, 2012:3). Menurut Nata Miharja dkk, (2013:328) beberapa

parameter yang berpengaruh langsung terhadap analisis kerawanan banjir

yaitu:

1) Curah Hujan

Curah hujan merupakan faktor yang paling menentukan suatu

wilayah mengalami bencana banjir, selain didukung dengan faktor-faktor

yang lain yang tidak kalah penting. Karena sumber banjir paling besar

adalah curah hujan, baik penyebab banjir dari banjir lokal maupun banjir

kiriman. Semakin tinggi curah hujan disuatu wilayah, maka rawan bencana

banjir semakin tinggi, terutama saat musim hujan.

2) Tutupan Lahan

Tutupan lahan adalah tutupan biofisik pada permukaan bumi yang

dapat diamati, merupakan suatu hasil pengaturan, aktifitas, dan perlakuan

manusia yang dilakukan pada jenis penutup lahan tertentu untuk

melakukan kegiatan produksi, perubahan, ataupun perawatan pada

penutupan lahan tersebut (BSN, 2010:2). Tutupan lahan akan berpengaruh

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 23
digilib.uns.ac.id

pada kejadian banjir didaerah tersebut, karena mempengaruhi kecepatan

infiltrasi air kedalam tanah.

3) Kemiringan Lereng

Kemiringan lereng juga salah satu faktor penentu dalam bencana

banjir. Karena sebagian besar daerah yang terkena bencana banjir adalah

daerah yang berada pada kemiringan lereng yang landai.

4) Genangan Air

Daerah genangan air merupakan daerah yang berpotensi tergenang

air atau banjir saat terjadi hujan. Daerah genangan air permukaan dan

aliran sungai dipengaruhi oleh berbagai faktor, yaitu: faktor meteorology

dan sifat fisik daerah tersebut. Wilayah yang memiliki sub bentuk lahan

alluvial dengan fisiografi landai merupakan daerah yang sering tergenang

banjir (Nata Miharja dkk, 2013:383). Sehingga untuk mengetahui daerah

genangan air atau daerah yang berpotensi tergenang dilihat dari bentuk

lahan daerah tersebut.

5) Kejadian Banjir

Kejadian banjir dalam hal ini, adalah terjadinya bencana banjir

diwilayah tersebut dapat diambil dalam kurun waktu 1 sampai 10 tahun.

Jadi kondisi kejadian banjir juga merupakan penentu kejadian banjir,

karena rawan banjir selain dilihat dari faktor fisik, tetapi juga faktor

sejarah peristiwa.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 24
digilib.uns.ac.id

3. Daerah Rawan Banjir

Berdasarkan fenomena geomorfologi, setiap bentuk lahan bentukan

banjir dapat memberikan informasi tentang tingkat kerawanan banjir beserta

karakterisriknya (frekuensi, luas dan lama genangan bahkan mungkin sumber

penyebabnya). Dapat dikatakan bahwa, survei geomorfologi pada dataran

aluvial, dataran banjir dan dataran rendah lainnya dapat digunakan untuk

memperkirakan sejarah perkembangan daerah tersebut sebagai akibat

terjadinya banjir (Oya, 1973 dalam Suprapto, 1998).

Daerah rawan banjir adalah daerah yang sering atau berpotensi tinggi

mengalami bencana banjir (Paimin,dkk, 2006). Daerah rawan banjir ini dapat

dikaji berdasarkan parameter alami DAS, meliputi bentuk lahan, meandering/

pembelokan sungai, pembendungan oleh percabangan sungai, drainase,

lahan/kelerengan rata-rata DAS, serta parameter berupa manejemen yaitu ada

tidaknya bangunan air pengendali banjir. Sedangkan menurut (Masahiko

Oya,1976 dalam Suprapto 1984) daerah rawan banjir dapat diidentifikasi

dengan menggunakan pendekatan geomorfologi khususnya aspek

morfogenesa, karena kenampakan seperti teras sungai, tanggul alam, dataran

banjir, rawa belakang, kipas aluvial, dan delta yang merupakan bentukan

banjir yang berulang-ulang yang merupakan bentuk lahan detil yang

mempunyai topografi datar. Sedangkan menurut Dinas Pekerjaan Umum

(2012:2) daerah rawan banjir adalah kawasan yang potensial untuk dilanda

banjir yang mengindikasikan dengan frekwensi terjadinya banjir (dalam arti

pernah atau berulang kali).


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 25
digilib.uns.ac.id

Daerah rawan banjir memiliki cirri-ciri khas sebagai berikut: 1) Daerah

dengan topografi berupa cekungan dan/atau dataran landai, dimana elevasi

tanah mendekati atau dibawah muka air laut. 2) Daerah dataran banjir alami

seperti rawa dan bantaran sungai. 3) Daerah Aliran Sungai (DAS) yang

melampaui batas kritis, dengan ciri-ciri: tanah tandus, rasio debit maksimum

terhadap debit minimum sangat besar (sungai sangat kering di saat kemarau

dan sangat penuh disaat hujan). 4) Daerah dengan curah/ intensitas hujan

sangat tinggi. 5) Daerah dengan sistem saluran pembuangan air penuh dengan

sampah. 6) Daerah pantai yang rawan terhadap badai tropis. 7) Daerah pantai

yang rawan tsunami yang bisa diakibatkan oleh gempa tektonik dasar laut

maupun gempa akibat gunungapi aktif yang terletak didasar laut seperti

krakatau. 8) Daerah hilir dan terutama yang telah beroperasi cukup lama

(PROMISE INDONESIA, 2009)

4. Satuan Medan

Satuan medan adalah kelas medan yang menunjukkan suatu bentuk

lahan atau kompleks bentuk lahan yang sejenis dalam hubungannya dengan

karakteristik medan dan komponen – komponen medan yang utama (Van

Zuidam dalam Ardhetya, Dian. 2012:15). Dalam penelitian ini satuan medan

diperoleh dengan melakukan overlay (tumpang susun) parameter fisik, yaitu:

ketinggian tempat dan kemiringan lereng. Kemudian untuk memperoleh

tingkat kerawanan banjir, setiap satuan medan dilakukan pengenalan

karakteristik fisik dan sosial berdasarkan data primer dan data sekunder. Data

primer dan data sekunder tersebut,antara lain: curah hujan, tutupan


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 26
digilib.uns.ac.id

lahan,genangan air, kemiringan lereng, kejadian banjir, dan persepsi

masyarakat terhadap pengurangan dampak banjir.

5. Pemetaan Daerah Rawan Banjir

Pemetaan daerah rawan banjir merupakan usaha mempresentasikan

data yang berupa angka atau tulisan tentang distribusi banjir ke dalam bentuk

peta agar persebaran datanya dapat langsung diketahui dengan mudah dan

cepat. Pemetaan persebaran daerah banjir diketahui dengan melakukan

scoring dan overlay dari setiap parameter (Adhetya, 2012:28). Pemetaan

daerah rawan banjir ini dibuat dengan cara data-data yang sudah diperoleh

yaitu: curah hujan, tutupan lahan, kemiringan lereng, kejadian banjir, bentuk

lahan,genangan air sudah dilakukan pengharkatan (pengskoran). Untuk

pemberian harkat (skor) disesuaikan dengan pengaruh atau potensi terjadinya,

sehingga parameter yang memiliki potensi terjadinya banjir maka harkatnya

besar, sedangkan parameter yang memiliki potensi terjadinya banjir kecil

maka harkatnya kecil.

Untuk pembobotan setiap parameter penentu kerawanan banjir

diasumsikan sama. Artinya setiap parameter penentu banjir memiliki

pengaruh yang sama terhadap kerawanan banjir. Untuk mengetahui

klasifikasi tingkat kerawanan banjir, maka dilakukan penjumlahan pada setiap

parameter banjir: curah hujan, tutupan lahan, kemiringan lereng, kejadian

banjir,genangan air. Setelah diketahui hasil penjumlahannya, maka kemudian

dikelompokkan sesuai dengan klasifikasi tingkat kerawanannya. Overlay

dilakukan setelah masing-masing data sudah diskor dan diberi bobot. Hasil
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 27
digilib.uns.ac.id

dari overlay berupa peta rawan banjir. Untuk menyajikan data yang

menunjukkan distribusi keruangan atau lokasi dari sifat-sifat datanya, maka

hendaknya informasi ini ditunjukkan dalam bentuk peta (Bintarto, 1991:5).

6. Persepsi masyarakat

a. Pengertian Persepsi

Persepsi adalah proses dimana seseorang memperoleh informasi dari

lingkungan sekitar. Persepsi merupakan suatu hal yang aktif. Persepsi

memerlukan pertemuan nyata dengan suatu benda dan juga membutuhkan

proses, kognisi serta afeksi. Menurut Halim (2005) Persepsi membantu

individu untuk menggambarkan dan menjelaskan apa yang dilakukan oleh

individu.

Terkait dengan kondisi bermasyarakat, menurut Mahmud (1989)

persepsi adalah proses penilaian seseorang/ sekelompok orang terhadap

objek, peristiwa, atau stimulus dengan melibatkan pengalaman-pengalaman

yang berkaitan dengan objek tersebut, melalui proses kognisi dan afeksi untuk

membentuk objek tersebut. Persepsi sendiri merupakan proses internal yang

memungkinkan kita memilih, mengorganisasikan, dan menafsirkan

rangsangan dari lingkungan kita, dan proses tersebut mempengaruhi perilaku

kita. Persepsilah yang menentukan kita memilih suatu pesan dan

mengabaikan pesan yang lain. Dari penjelasan tersebut maka persepsi

masyarakat dapat didefinisikan sebagai rangkaian proses kognisi atau

pengenalan dan afeksi atau aktifitas evaluasi emosional (ketertarikan)

masyarakat terhadap suatu objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 28
digilib.uns.ac.id

diperoleh dengan cara menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan

tersebut dengan menggunakan media pendengaran, penglihatan, peraba dan

sebagainya.

b. Syarat terjadinya persepsi

Menurut Sunaryo (2004: 98) syarat-syarat terjadinya persepsi adalah

sebagai berikut: 1) Adanya objek yang dipersepsi; 2) Adanya perhatian yang

merupakan langkah pertama sebagai suatu persiapan dalam mengadakan

persepsi. 3) Adanya alat indera/ reseptor yaitu alat untuk menerima stimulus;

dan 4) Saraf sensoris sebagai alat untuk meneruskan stimulus ke otak, yang

kemudian sebagai alat untuk mengadakan respon.

c. Proses dan faktor yang mempengaruhi persepsi, proses terjadinya persepsi

secara umum dapat dilihat pada skema dibawah ini.

Proses fisik:
Proses di tangkapnya suatu stimulus oleh alat
indera manusia

Proses fisiologi:
Proses diteruskannya stimulus yang diterima oleh
reseptor (alat indera) melalui saraf-saraf sensorik

Proses psikologis:
Proses timbulnya kesadaran individu tentang
stimulus yang diterima reseptor

Proses persepsi:
Berupa tanggapan dan perilaku
Sumber: Data Olahan Dari Hamka(2002)

Gambar 1. Proses terjadinya persepsi


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 29
digilib.uns.ac.id

Keadaan mempersepsi yang terbentuk dalam proses tersebut akan terus

menerus dipengaruhi arus informasi baru dari lingkungannya, yang di

dalamnya menyangkut proses penginderaan yang perifeer terhadap sekitarnya

dan selanjutnya melahirkan suatu bentuk yang holistik dan dalam konstansi

tinggi, yang berlaku juga pada tempat dan obyek lain (Osgood dalam

Simanuhuruk, 2003).

Faktor yang mempengaruhi persepsi seseorang menurut (Miftah Toha,

2003: 154) adalah sebagai berikut :

1) Faktor internal: perasaan, sikap dan kepribadian individu, prasangka,

keinginan atau harapan, perhatian (fokus), proses belajar, keadaan fisik,

gangguan kejiwaan, nilai dan kebutuhan juga minat, dan motivasi.

2) Faktor eksternal: latar belakang keluarga, informasi yang diperoleh,

pengetahuan dan kebutuhan sekitar, intensitas, ukuran, keberlawanan,

pengulangan gerak, hal-hal baru dan familiar atau ketidak asingan suatu

objek.

Menurut (Bimo Walgito, 2004: 70) faktor-faktor yang berperan dalam

persepsi yaitu:

1) Objek yang dipersepsi.

Objek dalam hal ini maksudnya Objek menimbulkan stimulus yang

mengenai alat indera atau reseptor. Stimulus dapat datang dari luar

individu yang mempersepsi, tetapi juga dapat datang dari dalam diri

individu yang bersangkutan yang langsung mengenai syaraf penerima

yang bekerja sebagai reseptor.


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 30
digilib.uns.ac.id

2) Alat indera, syaraf dan susunan syaraf.

Alat indera atau reseptor merupakan alat untuk menerima stimulus, di

samping itu juga harus ada syaraf sensoris sebagai alat untuk meneruskan

stimulus yang diterima reseptor ke pusat susunan syaraf, yaitu otak

sebagai pusat kesadaran. Sebagai alat untuk mengadakan respon

diperlukan motoris yang dapat membentuk persepsi seseorang.

3) Perhatian

Untuk menyadari atau dalam mengadakan persepsi diperlukan adanya

perhatian, yaitu merupakan langkah utama sebagai suatu persiapan dalam

rangka mengadakan persepsi. Perhatian merupakan pemusatan atau

konsentrasi dari seluruh aktivitas individu yang ditujukan kepada sesuatu

sekumpulan objek.

Faktor-faktor tersebut menjadikan persepsi individu berbeda satu

sama lain dan akan berpengaruh pada individu dalam mempersepsi suatu

objek, stimulus, meskipun objek tersebut benar-benar sama. Persepsi

seseorang atau kelompok dapat jauh berbeda dengan persepsi orang atau

kelompok lain sekalipun situasinya sama. Perbedaan persepsi dapat

ditelusuri pada adanya perbedaan-perbedaan individu, perbedaan-

perbedaan dalam kepribadian, perbedaan dalam sikap atau perbedaan

dalam motivasi. Pada dasarnya proses terbentuknya persepsi ini terjadi

dalam diri seseorang, namun persepsi juga dipengaruhi oleh pengalaman,

proses belajar, dan pengetahuannya.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 31
digilib.uns.ac.id

7. Persepsi Terhadap Upaya Pengurangan Dampak Banjir

Pengurangan dan penanggulangan dampak banjir tidak akan selesai jika

hanya mengandalkan aspek fisik teknis saja tanpa mengikutsertakan manusia

didalamnya. Seperti yang disampaikan oleh Y.B. Katpatal (2010) bahwa

research related to human impacts on the fluvial system predominantly

including hydrological and geomorphic changes within a watershed is

urgently required for sustainable development. Setiap penelitian yang

membahas mengenai dampak bencana wajib memasukkan unsur manusia

dalam menunjang pembangunan yang berkelanjutan. Seperti halnya bencana

banjir yang ada di Kecamatan Baureno juga memasukkan unsur persepsi

masyarakat dalam mengurangi dampak bencana banjir.

Analisa persepsi masyarakat terhadap upaya pengurangan dampak

banjir, penting untuk melihat pandangan masyarakat terhadap permasalahan

banjir yang terjadi di kecamatan Baureno, kabupaten Bojonegoro. Keragaman

persepsi, menunjukan adanya keragaman pengetahuan dan pemahaman

masyarakat mengenai upaya pengurangan dampak banjir, bahkan juga terkait

dengan adanya perbedaan aktifitas masyarakat dalam kehidupannya sehari-

hari. Persepsi terhadap upaya pengurangan dampak banjir maksudnya adalah

bagaimana masyarakat mengartikan suatu usaha/ upaya pengurangan dampak

banjir di lingkungan sosialnya. Sikap yang diambil masyarakat dalam

menghadapi bencana secara umum merupakan upaya menuju penyesuaian

diri terhadap perubahan yang terjadi di lingkungannya. Rianto (2009) dalam

Febrianti (2010) mengungkap bahwa subjektivitas persepsi terhadap dampak


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 32
digilib.uns.ac.id

bencana dipengaruhi oleh pengetahuan mengenai bencana, pengalaman dalam

menghadapi bencana, dan kemampuan individu untuk mengatasi dampak

kejadian bencana.

8. Sumber Belajar

a. Definisi sumber belajar

Menurut (Association of Educational Communication Technology

/AECT,1997:60) sumber belajar adalah semua sumber yang dapat

memungkinkan orang belajar secara terpisah maupun secara terkombinasi dan

tercapainya suatu indikator dalam pembelajaran.

Menurut Warsita (2008:209) ”Sumber belajar adalah semua

komponen sistem instruksional baik yang secara khusus dirancang mampu

yang menurut sifatnya dapat dipakai untuk dimanfaatkan dalam kegiatan

pembelajaran”. Dengan demikian, sumber belajar merupakan segala sesuatu

baik yang didesain maupun menurut sifatnya dapat dipakai, dimanfaatkan

dalam kegiatan pembelajaran untuk memudahkan belajar siswa.

Berdasarkan Teori Kognitif Sosial Albert Bandura, menyatakan dalam

proses pembelajaran, terdapat pendekatan Determinasi resiprokal,merupakan

pendekatan yang menjelaskan tingkah laku manusia dalam bentuk interaksi

timbal-balik yang terus menerus antara determinan kognitif, behavioral, dan

lingkungan. Orang menentukan atau memengaruhi tingkah lakunya dengan

mengontrol kekuatan lingkungan, tetapi orang itu juga dikontrol oleh kekuatan

itu. Determinasi resiprokal adalah konsep penting dalam teori belajar sosial

Bandura yaitu menjadi pijakan Bandura dalam memahami tingkah laku. Konsep
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 33
digilib.uns.ac.id

Bandura menempatkan manusia sebagai pribadi yang dapat mengatur diri

sendiri, mempengaruhi tingkah laku dengan cara mengatur lingkungan,

menciptakan dukungan kognitif, mengadakan konsekuensi bagi tingkah lakunya

sendiri. Kemampuan berpikir simbolik menjadi sarana yang kuat untuk

menangani lingkungan, misalnya dengan menyimpan pengalaman (dalam

ingatan) dalam wujud verbal dan gambaran imajinasi untuk kepentingan tingkah

laku pada masa yang akan datang. Pengaturan berpikir juga menggambarkan

secara imajinatif hasil yang di inginkan pada masa yang akan datang dan

mengembangkan strategi tingkah laku yang membimbing kearah tujuan jangka

panjang.

P T

Pribadi (P), Lingkungan (L), Tingkah laku (T) ,Saling mempengaruhi


Gambar 2. Pelaziman menurut Bandura

b. Lingkungan sebagai sumber belajar

Peran guru sebagai fasilitator dalam pelaksanaan pendidikan harus

mampu memberikan kemudahan kepada peserta didik untuk mempelajari

berbagai hal yang terdapat dalam lingkungannya. Seperti kita ketahui bahwa

peserta didik memiliki rasa ingin tahu dan sikap antusias yang kuat terhadap

segala sesuatu serta memliki sikap berpetualang serta minat yang kuat untuk

mengobservasi lingkungan. commit


Ia memiliki
to user sikap petualang yang kuat.
perpustakaan.uns.ac.id 34
digilib.uns.ac.id

Pengenalan terhadap lingkungan di sekitarnya merupakan pengalaman yang

positif untuk mengimbangkan minat keilmuan peserta didik.

c. Pengertian Lingkungan Sebagai Sumber Belajar

Sebagai makhluk hidup, anak selain berinteraksi dengan orang atau

manusia lain juga berinteraksi dengan sejumlah makhluk hidup lainnya dan

benda-benda mati. Makhluk hidup tersebut antara lain adalah berbagai

tumbuhan dan hewan, sedangkan benda-benda mati antara lain udara, air, dan

tanah. Manusia merupakan salah satu anggota di dalam lingkungan hidup

yang berperan penting dalam kelangsungan jalinan hubungan yang terdapat

dalam sistem tersebut.

Dengan demikian bahwa lingkungan itu merupakan kesatuan ruang

dengan semuabenda dan keadaan makhluk hidup termasuk di dalamnya

manusia dan perilakunya serta makhluk hidup lainnya. Lingkungan itu terdiri

dari unsur-unsur biotik (makhluk hidup), abiotik (benda mati) dan budaya

manusia.

d. Nilai-Nilai Lingkungan sebagai Sumber Belajar

Lingkungan yang ada di sekitar anak merupakan salah satu sumber

belajar yang dapat dioptimalkan untuk pencapaian proses dan hasil

pendidikan yang berkualitas bagi peserta didik. Lingkungan menyediakan

berbagai hal yang dapat dipelajari peserta didik. Jumlah sumber belajar yang

tersedia di lingkungan ini tidaklah terbatas, sekalipun pada umumnya tidak

dirancang secara sengaja untuk kepentingan pendidikan. Sumber belajar

lingkungan ini akan semakin memperkaya wawasan dan pengetahuan peserta


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 35
digilib.uns.ac.id

didik karena mereka belajar tidak terbatas oleh empat dinding kelas. Selain

itu kebenarannya lebih akurat, sebab anak dapat mengalami secara langsung

dan dapat mengoptimalkan potensi panca inderanya untuk berkomunikasi

dengan lingkungan tersebut. Kelebihan dari penggunaan lingkungan sebagai

sumber belajar adalah:

1) Penggunaan lingkungan sebagai sumber belajar memungkinkan terjadinya

proses belajar yang lebih bermakna (meaningfull learning) sebab anak

dihadapkan dengan keadaan dan situasi yang sebenarnya. Hal ini akan

memenuhi prinsip kekonkritan dalam belajar sebagai salah satu prinsip

pendidikan.

2) Penggunaan lingkungan sebagai sumber belajar akan mendorong pada

penghayatan nilai-nilai atau aspek-aspek kehidupan yang ada di

lingkungannya. Kesadaran akan pentingnya lingkungan dalam kehidupan

bisa mulai ditanamkan pada anak sejak dini, sehingga setelah mereka

dewasa kesadaran tersebut bisa tetap terpelihara.

3) Penggunaan lingkungan sebagai sumber belajar dapat menarik bagi anak

Kegiatan belajar dimungkinkan akan lebih menarik bagi anak sebab

lingkungan menyediakan sumber belajar yang sangat beragam dan banyak

pilihan. Kegemaran belajar merupakan modal dasar yang sangat

diperlukan dalam rangka penyiapan masyarakat belajar (learning societes)

dan sumber daya manusia di masa mendatang. Pemanfaatan lingkungan

menumbuhkan aktivitas belajar anak (learning activities) yang lebih

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 36
digilib.uns.ac.id

meningkat. Penggunaan cara atau metode yang bervariasi ini merupakan

tuntutan dan kebutuhan yang harus dipenuhi dalam pendidikan.

Begitu banyaknya nilai dan kegunaan yang dapat diraih dari

lingkungan sebagai sumber belajar dalam pendidikan di sekolah, bahkan

hampir semua tema kegiatan dapat dipelajari dari lingkungan. Namun

demikian diperlukan adanya kreativitas dan jiwa inovatif dari para guru untuk

dapat memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar. Karena lingkungan

merupakan sumber belajar yang kaya dan menarik untuk anak-anak dan juga

lingkungan mana pun bisa menjadi tempat yang menyenangkan bagi anak-

anak.

9. Implementasi Lingkungan sebagai Sumber Belajar Geografi

Pada pembelajaran IPS dengan (Topik: Keadaan alam dan aktifitas

penduduk. Sub Topik: Bentuk muka bumi dan aktifitas penduduk Indonesia)

pada saat belajar di kelas anak diperkenalkan oleh guru mengenai contoh dari

bentuk permasalahan akibat interaksi manusia dengan lingkungan dan faktor

penyebabnya, maka dengan memanfaatkan lingkungan anak akan dapat

memperoleh pengalaman yang lebih banyak lagi. Dalam pemanfaatan

lingkungan tersebut guru dapat membawa kegiatan-kegiatan yang biasanya

dilakukan di dalam ruangan kelas ke alam terbuka dalam hal ini lingkungan.

Namun jika guru menceritakan kisah tersebut di dalam ruangan kelas, nuansa

yang terjadi di dalam kelas tidak akan sealamiah seperti halnya jika guru

mengajak anak untuk memanfaatkan lingkungan.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 37
digilib.uns.ac.id

Memanfaatkan lingkungan sekitar dengan membawa anak-anak untuk

mengamati lingkungan akan menambah keseimbangan dalam kegiatan

belajar. Artinya belajar tidak hanya terjadi di ruangan kelas namun juga di

luar ruangan kelas dalam hal ini lingkungan sebagai sumber belajar yang

sangat berpengaruh terhadap perkembangan fisik, keterampilan sosial, dan

budaya, perkembangan emosional serta intelektual.

Dampak pemanfaatan lingkungan terhadap aspek-aspek perkembangan

anak adalah:

a. Perkembangan Fisik

Lingkungan sangat berperan dalam merangsang pertumbuhan fisik

anak, untuk mengembangkan otot-ototnya. Anak memiliki kesempatan

yang alami untuk menggerakkan tubuhnya dengan cara-cara yang tidak

terbatas. Kegiatan ini sangat alami dan sangat bermanfaat dalam

mengembangkan aspek fisik anak.

b. Perkembangan aspek keterampilan sosial

Lingkungan secara alami mendorong anak untuk berinteraksi

dengan siswa yang lain. Pada saat anak mengamati objek-objek tertentu

yang ada di lingkungan pasti dia ingin menceritakan hasil penemuannya

dengan yang lain. Supaya penemuannya diketahui oleh teman-temnannya

anak tersebut mencoba mendekati anak yang lain sehinga terjadilah proses

interaksi/ hubungan yang harmonis. Anak-anak dapat membangun

keterampilan sosialnya ketika mereka membuat perjanjian dengan teman-

temannya untuk bergantian dalam menggunakan alat-alat tertentu pada


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 38
digilib.uns.ac.id

saat mereka mengamati objek-objek yang ada di lingkungan tertentu.

Melalui kegiatan sepeti ini anak berteman dan saling menikmati suasana

yang santai dan menyenangkan.

c. Perkembangan aspek emosi

Lingkungan pada umumnya memberikan tantangan untuk dilalui

oleh anak-anak. Pemanfaatannya akan memungkinkan anak untuk

mengembangkan rasa percaya diri yang positif. Misalnya siswa-siswa

diajak ke salah satu SubDAS yang sudah terindikasi rusak (terdapat

sedimentasi) dan memungkinkan untuk mereka turun dalam sungai

tersebut. Dengan berada dalam sungai tersebut, anak mengembangkan

aspek keberaniannya sebagai bagian dari pengembangan aspek emosinya.

Rasa percaya diri yang dimiliki oleh anak terhadap dirinya sendiri dan

orang lain dikembangkan melalui pengalaman hidup yang nyata.

Lingkungan sendiri menyediakan fasilitas bagi anak untuk mendapatkan

pengalaman hidup yang nyata.

d. Perkembangan intelektual

Anak-anak belajar melalui interaksi langsung dengan benda-benda

atau ide-ide. Lingkungan menawarkan kepada guru kesempatan untuk

menguatkan kembali konsep-konsep seperti sungai, penggunaan lahan,

ketinggian tempat, kemiringan lereng, system drainase, dan lain-lain.

Memanfaatkan lingkungan pada dasarnya adalah menjelaskan konsep-

konsep tertentu secara alami. Konsep kerusakan lingkungan yang

diketahui dan dipahami anak di dalam kelas tentunya akan semakin nyata
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 39
digilib.uns.ac.id

apabila guru mengarahkan anak-anak untuk melihat konsep kerusakan

lingkungan secara nyata yang ada pada lingkungan sekitar.

Demikian beberapa hal yang berkaitan dengan dampak pemanfaatan

lingkungan terhadap aspek-aspek perkembangan anak. Namun guru juga

harus memiliki pengetahuan, kemampuan, dan keterampilan dalam

mengembangkan pembelajaran anak dengan memanfaatkan lingkungan

sebagai sumber belajarnya.

B. Penelitian yang Relevan

Asriningrum dan Gunawan (1998), dalam penelitiannya yang berjudul “Zonasi

Tingkat Kerentanan Banjir Menggunakan Sistem Informasi Geografi (Studi Kasus

Daerah Istimewa Yogyakarta)”, mempelajari daerah rentan banjir dengan

menggunakan beberapa peta tematik. Metode yang digunakan adalah pengskoran,

pembobotan dan tumpangsusun yang digunakan untuk menentukan zonasi

kerentanan banjir di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menggunakan teknik

Sistem Informasi Geografi (SIG). Data yang digunakan adalah peta kemiringan

lereng, peta ketinggian, peta geologi, peta kepadatan penduduk, peta distribusi

curah hujan dan peta penggunaan lahan. Dari hasil penelitian, daerah penelitian

dikelompokkan menjadi lima tingkat kerentanan banjir, yaitu tidak rentan, kurang

rentan, cukup rentan, rentan dan sangat rentan. Daerah rentan banjir dijumpai di

daerah Wates dan Bantul bagian selatan. Daerah tersebut merupakan dataran

alluvial pantai. Hubungan antara daerah rentan dengan peta tematik yang

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 40
digilib.uns.ac.id

digunakan menunjukkan bahwa kemiringan lereng, ketinggian tempat dan kondisi

geologi mempunyai korelasi erat dengan daerah rentan banjir.

Widiastuti (2002), dalam penelitiannya yang berjudul “ Aplikasi Citra Satelit

Landsat Thematic Mapper dan Sistem Informasi Geografis Untuk Pemetaan

Daerah Rawan Banjir Di Sebagian Daerah Aliran Sungai Brantas Propinsi Jawa

Timur (Studi Kasus Di Kabupaten Temanggung). Tujuan penelitian ini adalah

memanfaatkan data citra satelit Landsat Thematic Mapper untuk interprestasi

parameter lahan yang digunakan untuk pemetaan daerah rawan banjir, dan

pemetaan zonasi daerah rawan banjir dengan bantuan teknik SIG. Metode yang

digunakan adalah pengskoran, pembobotan dan tumpangsusun (overlay). Hasil

penelitian menunjukkan bahwa data citra satelit sebagai sumber data utama dalam

penelitian ini baik digunakan untuk pemetaan daerah rawan banjir di Kabupaten

Tulungagung Jawa Timur. Dengan citra digital satelit Landsat TM dapat

digunakan dalam interprestasi penggunaan lahan dan dari citra hardcopy Landsat

TM dapat digunakan untuk interprestasi bentuklahannya. Kelas kerawanan banjir

di daerah penelitian dikelompokkan menjadi tiga kelas, yaitu kelas rawan banjir

seluas 12216,06 Ha, kelas cukup rawan seluas 32454,27 Ha dan kelas agak rawan

seluas 576,99 Ha.

Rahratmoko (2005) telah mengadakan penelitian mengenai pemetaan kerentanan

banjir pada kawasan permukiman di Kota Yogyakarta menggunakan citra ikonos-

2 dan sistem informasi geografis. Tujuan penelitian ini adalah menentukan tingkat

kerentanan banjir kota mendasarkan pada parameter fisik lahan yang berupa

kemiringan lereng, saluran drainase, penggunaan lahan kotayang diolah dengan


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 41
digilib.uns.ac.id

menggunakan Sistem Informasi Geografis. Teknik yang digunakan adalah

pengskoran melalui overlay dari peta lereng, peta keteraturan permukiman, peta

penggunaan lahan kota dan peta kerapatan saluran. Hasil dari penelitian adalah

Peta Kerentanan Banjir Kota hasil proses SIG didapatkan 5 klas kerentanan yaitu

tidak rentan dengan luas 0,76 km2 (2,35%), kurang rentan dengan luas 1,62 km2

(5,02%), rentan sedang dengan luas 66,32 km2 (19,57%), rentan dengan luas 8,92

km2 (27,62%), dan sangat rentan dengan luas 14,89 km2 (45,45%). Analisis

dilakukan dengan cara membandingkan Peta Kerentanan Banjir Kota dengan Peta

Sebaran Banjir Genangan dari Dinas Prasaranan Kota Yogyakarta, dan dengan

data hasil pengamatan lapangan. Analisis dilakukan untuk mendapatkan data

kerentanan banjir kota yang lebih akurat.

Persamaan penelitian ini dengan penelitian terdahulu terletak pada

kesamaan metode yang digunakan untuk persebaran daerah potensi banjir yaitu

pengskoran, pembobotan, dan overlay (tumpangsusun). Sedangkan perbedaannya,

penelitian ini mencoba menganalisis juga persepsi masyarakat daerah penelitian

terhadap upaya pengurangan dampak banjir, yang pada penelitian sebelumnya

belum pernah di lakukan.

C. Kerangka Pemikiran

Sebenarnya kita sering melupakan sumber belajar-mengajar yang terdapat

di lingkungan kita, baik disekitar sekolah maupun di luar lingkungan sekolah.

Betapapun kecil atau terpencil, suatu sekolah, sekurang-kurangnya mempunyai

empat jenis sumber belajar yang sangat kaya dan bermanfaat, yaitu :
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 42
digilib.uns.ac.id

1. Masyarakat desa atau kota di sekililing sekolah.

2. Lingkungan fisik di sekitar sekolah.

3. Bahan sisa yang tidak terpakai/barang bekas yang dapat menimbulkan

pencemaran lingkungan, namun kalau kita olah dapat bermanfaat sebagai

sumber dan alat bantu belajar-mengajar.

4. Peristiwa alam dan peristiwa yang terjadi di masyarakat cukup menarik

perhatian siswa. Ada peristiwa yang mungkin tidak dapat dipastikan akan

berulang kembali. Jangan lewatkan peristiwa itu tanpa ada catatan pada

buku atau alam pikiran siswa, karena siswa masuk sekolah membawa

pengalaman sendiri-sendiri.

Untuk mengakrabkan mereka dengan lingkunganya perlu ada usaha agar

mereka asyik dengan lingkungan. Usaha ini dapat ditempuh melalui proses

belajar-mengajar, baik di dalam kelas maupun di alam sekitar. Menjadikan

lingkungan sebagai sumber belajar merupakan awal tinggal landas untuk

mencapai cara belajar siswa aktif.

Pada saat musim penghujan datang, banjir besar banyak melanda kota-

kota di Indonesia. Jika disadari seolah-olah banjir sudah menjadi tradisi. Sebagai

contoh terjadinya bencana banjir dikecamatan Baureno, kabupaten Bojonegoro

yang sering mengalami banjir rutin tahunan. Akibat dari banjir tersebut banyak

sekali kerugian yang dirasakan oleh penduduk diberbagai bidang, seperti bidang

ekonomi, bidang sosial, budaya dan bidang politik. Banjir banyak disebabkan

karena peluapan air di suatu tempat akibat hujan besar, sistem drainase yang

commit tobendungan
buruk, limpasan air sungai, atau pecahnya user sungai.
perpustakaan.uns.ac.id 43
digilib.uns.ac.id

Data lokasi banjir masih dalam bentuk angka-angka dan tabel yang belum

dipetakan. Data yang masih dalam bentuk angka dan tabel dalam penyajiaannya

memang cukup mudah dibaca oleh pembaca akan tetapi data itu mempunyai

kelemahan yaitu data tersebut tidak bisa memberikan gambaran mengenai

distribusi spasialnya. Peneliti akan mengolah data tersebut ke dalam bentuk peta

yang nantinya akan lebih memudahkan pembaca dalam membaca dan memahami

hasil penelitian yang telah dilakukan. Penyajian data tentang persebaran lokasi

banjir ke dalam bentuk peta akan sangat membantu dalam perencanaan dan

pengambilan keputusan ataupun tindakan lebih lanjut terhadap masalah banjir

baik waktu sekarang maupun masa yang akan datang. Karena melalui peta si

pemakai peta dapat dengan mudah membaca dan menangkap ide dari data dan

informasi yang disajikan. Untuk mengetahui persebaran lokasi banjir di

kecamatan Baureno yaitu dengan menggunakan teknik overlay dari beberapa

peta, kemudian dilakukan pengskoran dan pemberian bobot terhadap parameter

yang berpengaruh terhadap banjir, semakin besar pengaruhnya terhadap banjir

maka akan diberi skor yang lebih besar. Setelah pengskoran dan pemberian bobot

kemudian melakukan overlay, hasil akhir yang didapatkan berupa peta tingkat

kerawanan banjir. Sedangkan untuk mengetahui persepsi masyarakat tentang

upaya pengurangan dampak banjir yaitu dengan melakukan analisis terhadap

pengetahuan, sikap dan tindakan masyarakat kecamatan Baureno. Berikut adalah

gambar diagram alur kerangka pemikiran dari penelitian ini:

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 44
digilib.uns.ac.id

Masalah Banjir
di Kecamatan Baureno

Bencana Banjir Masalah Persepsi Masyarakat

Curah Hujan Pengetahuan

Tutupan Lahan Sikap

Kemiringan Data Tindakan Upaya


Lereng Pengurangan
Dampak Banjir

Genangan Air

Kejadian Banjir

Kuesioner dan
Overlay, skoring Analisis deskriptif

Tingkat Kerawanan Persepsi Pengurangan


Banjir Hasil
Dampak Banjir
Kec. Baureno

Peta
Keterangan:
Implementasi : Garis relasi hubungan
Sumber Pembelajaran IPS di
Kelas 7 SMPN 2 : Garis kebergantungan -
Belajar
Baureno antara konsep
: Unsur proses dalam -
Gambar 3. Kerangka Pemikiran Penelitian penelitian
: Unsur penunjang dan
commit to user tahapan penelitian
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Tempat Dan Waktu Penelitian

1. Tempat Penelitian

Lokasi penelitian ini terdapat di Kecamatan Baureno yang merupakan

bagian dari Kabupaten Bojonegoro Propinsi Jawa Timur. Kecamatan Baureno

memiliki luas wilayah sebesar 7.221,99 hektar.

2. Waktu penelitian

Waktu yang direncanakan untuk penelitian ini adalah bulan Juli

sampai Desember 2014 selama 6 bulan. Dengan rincian waktu kegiatan

penelitian dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1.Rincian Waktu Kegiatan Penelitian


Tahun 2014
Jenis Kegiatan
Mei Juni Juli Agst Sept Okt Nop Des
Penyusunan
proposal
Penyusunan
Instrument
Seminar Proposal
Pengumpulan
Data
Analisis Data
Pembuatan/
penulisan Draf
Laporan
Seminar Laporan
Penyempurnaan
Laporan
Penggandaan
laporan penelitian
commit to user

45
perpustakaan.uns.ac.id 46
digilib.uns.ac.id

B. Jenis dan Pendekatan Penelitian

1. Jenis penelitian

Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Analisis deskriptif

digunakan untuk memberikan penjelasan kepada variabel yang diteliti sesuai

dengan kondisi yang sebenarnya (Arikunto, 2000:53). Dan untuk memperoleh

data digunakan teknik triangulasi, yaitu teknik pengumpulan data yang

bersifat menggabungkan dari berbagai teknik pengumpulan data dan sumber

data yang telah ada (Sugiyono, 2008:330). Penelitian ini akan menghasilkan

data secara deskriptif, dalam bentuk kata secara tertulis, gambar dan

sebagainya yang berasal dari naskah, wawancara, catatan dilapangan, foto dan

dokumen resmi. Selain itu data deskriptif yang dihasilkan, dimaksudkan untuk

mendapatkan gambaran tingkat kerawanan terhadap bencana banjir, kondisi

topografi, kondisi sosial ekonomi, tingkat pemahaman masyarakat terhadap

lingkungan, serta mengetahui persepsi masyarakat terhadap upaya

pengurangan dampak bencana banjir di Kecamatan Baureno Kabupaten

Bojonegoro.

2. Pendekatan penelitian

Pendekatan Penelitian yang digunakan adalah pendekatan survei.

Dalam penelitian pendekatan survey bertujuan untuk mengumpulkan sejumlah

besar data berupa variabel, unit, atau individu dalam waktu bersamaan

(Tika,1997: 9). Pada penelitian ini penggunaan pendekatan survey dilakukan

untuk memperoleh data-data yang merupakan factor penentu tingkat

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 47
digilib.uns.ac.id

kerawanan banjir, dengan cara pengamatan, pengukuran,serta pencatatan

obyek yang mempengaruhi banjir yang berkaitan dengan penelitian.

C. Populasi dan Sampel (Subyek Penelitian)

1. Populasi penelitian

Populasi adalah himpunan individu atau obyek yang banyaknya

terbatas atau tidak terbatas (Tika, 1997:32). Adapun populasi dalam penelitian

ini adalah kecamatan Baureno berdasarkan pertimbangan bahwa kecamatan

Baureno merupakan daerah yang mengalami dampak banjir terparah (BPBD

Kabupaten Bojonegoro,2008). Luasnya genangan yang terjadi, mengakibatkan

potensi yang dimiliki menjadi terhambat.

2. Sampel Penelitian

a. Sampel Wilayah

Penelitian ini menggunakan satuan medan sehingga seluruh satuan

medan di Kecamatan Baureno dijadikan sebagai sampel wilayah. Satuan

medan dihasilkan dari overlay peta tutupan lahan, bentuk lahan dan

ketinggian wilayah. Untuk mendetailkan ketinggian dilakukan koreksi

ketinggian dengan menggunakan metode grid, sehingga terdapat beberapa

titik yang dilakukan koreksi ketinggian yang tersebar diseluruh satuan

medan di Kecamatan Baureno

b. Sampel Responden

Seluruh masyarakat yang berada di 25 desa di Kecamatan Baureno

yang terkena banjir, dan siswa kelas 7 di SMPN 2 Baureno untuk

Implementasi hasil penelitian sebagai sumber belajar pada pada Topik:


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 48
digilib.uns.ac.id

Keadaan alam dan aktivitas penduduk. Sub Topik: bentuk muka bumi dan

aktifitas penduduk Indonesia.

Sampai saat ini tidak ada ketentuan khusus untuk menetapkan

jumlah sampel responden yang dapat mewakili populasi yang akan diteliti.

Walaupun demikian, dikatakan bahwa sampel terkecil yang dapat

mewakili distribusi normal adalah 30 (Roscoe dalam buku Research

Methods For Business, 1982: 253). Untuk mengetahui jumlah sampel

dalam penelitian ini digunakan Rumus Dixon dan B. Leach sebagai

berikut:


n=

Keterangan :

n = Jumlah Sampel

Z = Tingkat kepercayaan (confidence level) dinyatakan dalam persen

dan nilai conversinya dapat dicari dalam table statistik.

Misalnya, confidence level (Z) 99% luas Kurva Normal Standar

dapat diketahui nilai conversinya 2,57. Cara mencarinya yakni: dengan

membagi 2 nilai convidence level (99%), sehingga diperoleh 49,5% atau

0,4950.

Untuk memperoleh angka 2,57 , nilai desimal 0,4950 dicari dalam

table Kurva Normal Standar. Dari nilai decimal tersebut dibaca kesamping

kiri diperoleh angka 2,5 dan keatas diperoleh 0,07 , kemudian

ditambahkan sehingga angka menjadi 2,57.

V commit
= Variabilitas (dalam to user
persen) dihitung dengan rumus
perpustakaan.uns.ac.id 49
digilib.uns.ac.id

= ( − )
p = Persentasekarakteristiksampel yang dianggapbenar

=
× 100%
C = Batas kepercayaan (confidence limit) dalam persen (ditentukan
10% dari popuasi).
Untuk menghitung jumlah sampel yang sebenarnya, langkah

berikut adalah dibuat koreksi dengan rumus : n’ =


Keterangan :

n’ = jumlah sampel yang telah dikoreksi (dibetulkan)

n = jumlah sampel yang dihitung berdasarkan rumus (1)

N = jumlah populasi (Kepala Keluarga)

Jumlah sampel yang dapat diambil dalam penelitian ini, dapat

dihitung dengan terlebih dahulu menghitung persentase karakteristik

sampel yang dianggap benar (p):


p= ∑
× 100%

.
= .
× 100%

= 27,39

V= 100 −

= 27,39 (100 − 27,39)

= √1988,79

= 44,60

×
n=( )

, × , commit to user
=( )
perpustakaan.uns.ac.id 50
digilib.uns.ac.id

,
=( )

= (11,462)

= 131,38

n =

131,38
=
131,38
1 + 23098

131,38
=
1 + 0,0057
,
= ,
= 131

Jadi jumlah sample yang diambil adalah 131 responden

D. Data dan Sumber Data

1. Data primer

Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari responden atau

obyek yang diteliti, atau ada hubungannya dengan yang diteliti (Tika,

1997:67). Maka data primer merupakan data yang diperoleh secara langsung

dilapangan, dengan cara melakukan pengukuran dan pengamatan (observasi),

data primer dalam penelitian ini meliputi :

Tabel 2. Data Primer

No. Data Sumber Data


1. Kemiringan Lereng Data diperoleh melalui pengukuran di lapangan
2. Ketinggian Tempat Data diperoleh melalui plotting di lapangan
3. Tutupan Lahan Data diperoleh melalui pengamatan di lapangan
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 51
digilib.uns.ac.id

4. Kejadian Banjir Data diperoleh dari wawancara di lapangan


5. Bentuk lahan Data diperoleh dari pengamatan dilapangan

2. Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang telah lebih dahulu dikumpulkan dan

dilaporkan oleh orang atau instansi diluar dari peneliti (Tika, 1997:67). Maka

data sekunder dapat diperoleh melalui arsip pada instansi- instansi terkait.

Tabel 3. Data Sekunder


No. Data Sumber Data
1. Kemiringan Lereng & Data diperoleh melalui Peta
Ketinggian Tempat Rupa Bumi Indonesia .
2. Curah Hujan Data curah hujan diperoleh
melalui stasiun pemantauan
curah hujan dan BMKG
kabupaten Bojonegoro
3. Tutupan Lahan Datadiperoleh melalui
interpretasi citra ikonos dan
survey lapangan.
4. Genangan Air Data diperoleh melalui
interpretasi citra ikonos
berdasarkan kondisi
geomorfologinya.
5. Kejadian Banjir Data diperoleh dari Badan
Penanggulangan Bencana
Daerah Kabupaten Bojonegoro

E. Teknik Pengambilan Sampel

Teknik pengambilan daerah penelitian dilakukan secara sengaja

(purposive) berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu sesuai dengan

tujuan penelitian (Singarimbun dan Effendi, 1989). Penekanan teknik


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 52
digilib.uns.ac.id

pengambilan sampel penelitian purposive ini adalah pada karakter anggota sampel

yang karena pertimbangan mendalam dianggap/ diyakini oleh peneliti benar-benar

mewakili karakter populasi/ subpopulasi (Hadi Sabari, 2010:302). Penggunaan

purposive sampling diharapkan peneliti, dapat mewakili keseluruhan populasi

dalam hal ini adalah penggunaan satuan medan. Purposive sampling diyakini

representative karena dalam penyusunan satuan medan berdasarkan overlay peta

kemiringan lereng dan peta ketinggian tempat. Pada penelitian ini, apabila dalam

daerah penelitian terdapat satuan medan yang sama dilakukan pengambilan

sampel yang mewakili. Artinya hanya satu yang diambil tetapi dengan

pertimbangan - pertimbangan tertentu.

F. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah triangulasi.

Diartikan sebagai teknik pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari

berbagai teknik data dan sumber data yang telah ada.

1. Dokumen

Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah atau telah terjadi,

bisa berbentuk tulisan, gambar atau karya monumental dari seseorang hasil

penelitian dari observasi atau wawancara. Teknik dokumentasi adalah teknik

pengumpulan data yang dapat memberikan informasi secara pasti dan cukup

akurat untuk dipertanggungjawabkan. Hasil penelitian akan lebih kredibel/

dapat dipercaya kalau di dukung oleh dokumen yang mendukung. Adapun

data yang dikumpulkan berupa dokumen pada penelitian ini adalah data curah
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 53
digilib.uns.ac.id

hujan, tutupan lahan, ketinggian tempat, kemiringan lereng, kerapatan

drainase dan kejadian banjir.

2. Observasi

Observasi merupakan cara dan teknik pengumpulan data dengan

melakukan pengamatan dan pencatatan langsung secara sistematik terhadap

gejala atau fenomena yang terjadi di lapangan (Tika, 1997:67). Fenomena

yang di ukur dan diamati pada daerah penelitian ini antara lain adalah

ketinggian tempat, kemiringan lereng dan tutupan lahan.

3. Wawancara

Menurut Nasution dalam Tika (1997:75), wawancara (interview) adalah

suatu bentuk komunikasi verbal, jadi berupa percakapan yang bertujuan untuk

memperoleh informasi. Selanjutnya Moleong (2002:135), menjelaskan bahwa

wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan itu

dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewancara (intervieweer) yang mengajukan

pertanyaan dan yang diwawancarai (interviewee) yang memberikan jawaban

atas pertanyaan itu.

Teknik wawancara digunakan untuk memperoleh keterangan atau

informasi yang terinci dan mendalam dalam rangka pengumpulan data.

Kegiatan ini dilakukan dengan mengadakan tanya jawab secara lisan dengan

informan. Daftar pertanyaan disusun terlebih dahulu agar informasi yang

dibutuhkan dapat terjaring secara lengkap. Data wawancara pada penelitian

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 54
digilib.uns.ac.id

ini berupa data karakteristik banjir, kejadian banjir dan persepsi terhadap

banjir.

G. Validitas Data

Uji validitas data yang digunakan adalah metode Triangulasi. Sabari dan

Hadi (2010) menyatakan Metode Triangulasi adalah suatu metode untuk

mengumpulkan data dengan cara menggabungkan berbagai teknik data dengan

maksud untuk memperoleh tingkat kebenaran yang tinggi. Untuk memperoleh

kebenaran data sesuai dengan tujuan penelitian ini, maka dilakukan penggabungan

berbagai teknik pengumpulan data, antara lain: hasil observasi lapangan,

wawancara, dan dokumentasi. Kemudian dilakukan analisis untuk memperoleh

hasil sesuai dengan tujuan penelitian.

Validasi lapangan, meliputi kegiatan:

1. Pengecekan hasil analisis kerawanan banjir, dibandingkan dengan kondisi

faktual dilapangan secara langsung atau informasi darii Instansi terkait di

lokasi penelitian.

2. Pengukuran koordinasi sebagai kontrol dengan menggunakan Global

Positioning Sistem (GPS)

3. Pengumpulan data sekunder sebagai informasi penunjang.

Dari kegiatan validasi lapangan, akan dilakukan analisis ulang untuk

memperbaiki draf peta rawan banjir dan hasilnya sebagai “Peta Final”.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 55
digilib.uns.ac.id

H. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara

sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan dan

dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori,

menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola,

memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan

sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain (Sugiyono,

2013:89). Analisis penelitian ini (karena bersifat kualitatif), maka di lakukan sejak

sebelum memasuki lapangan, selama di lapangan, dan setelah selesai di lapangan

(berlangsung terus sampai penulisan hasil penelitian). Sehingga hasil dari

penelitian ini merupakan penjabaran dari logika yang sesuai dengan fakta-fakta

dilapangan.

1. Tingkat Kerawanan Banjir

Analisis terhadap tingkat kerawanan banjir, yaitu dengan cara scoring

(pengharkatan) pada tiap parameter kerawanan banjir dan overlay, dengan

menggunakan bantuan Sistem Informasi Geografi (SIG). Dinamisasi SIG

memungkinkan SIG dapat menerima dan memroses data dalam jumlah besar

dalam waktu relatif singkat serta memudahkan penyajian informasi. Adapun

parameter penentu kerawanan banjir antara lain: Curah Hujan, Tutupan Lahan,

Genangan Air, Kemiringan Lereng, dan Kejadian Banjir.

Hasil scoring (pengharkatan) pada tiap parameter di atas sebagai berikut:

a. Curah Hujan (Ch)


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 56
digilib.uns.ac.id

Tabel 4. Skoring Curah Hujan


No. Curah Hujan (mm/hari) Kriteria Skor
1 >300 mm Tinggi 5
2 201-300 mm Agak Tinggi 4
3 101-200 mm Sedang 3
4 51-100 mm Agak Rendah 2
5 <50 mm Rendah 1
(Sumber : BNPB dalam nata miharja modifikasi paimin dkk, 2006:25)

b. Tutupan Lahan (P)

Tabel 5. Skoring Tutupan Lahan


No. Tutupan Lahan Kriteria Skor
1 Pemukiman, Lahan Terbangun, Lahan 5
Bangunan Industry, & Jaringan Terbangun
Jalan
2 Sawah Irigasi & Sawah Tadah Pertanian 4
Hujan
3 Ladang, Perkebunan & Kebun Perkebunan 3
Campuran
4 Tanah Kosong & Semak Belukar Vegetasi 2
Hutan Lahan Kering Rendah
5 Primer/Sekunder, Hutan Bamboo, Bukan Pertanian 1
Hutan Campuran, Hutan Jati, Hutan
Pinus, & Hutan Sengon
(Sumber : BNPB dalam Nata Miharja modifikasi BSN, 2010:13)

c. Genangan Air/ Potensi Banjir (Ga)

Tabel 6. Skoring Genangan Air/ Potensi Banjir


No. Genangan Air/Potensi Banjir Kriteria Skor
1 Jalur Kelokan Sangat Berpotensi 5
2 Lembah Alluvial Berpotensi 4
3 Dataran Alluvial Sedang 3
4 Kipas dan Lahar Dataran Tidak Berpotensi 2
5 Pegunungan, Perbukitan Sangat Tidak Berpotensi 1
(Sumber : Paimin dkk, 2006:26)

d. Kemiringan Lereng (K)


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 57
digilib.uns.ac.id

Tabel 7. Skoring Kemiringan Lereng


No. Kemiringan Lereng (%) Kriteria Skor
1 0-3 Datar 5
2 4-6 Landai 4
3 7-9 Agak Curam 3
4 10-12 Curam 2
5 >12 Sangat Curam 1
(Sumber : bakorsurtanal dalam ardhetya, Dian. 2012:32)

e. Kejadian banjir

Tabel 8. Skoring Kejadian Banjir


No Kejadian banjir Kriteria Skor
1. Dalam setiap tahun lebih dari Sangat sering 5
4 kali
2. Dalam setiap tahun 3 – 4 kali Sering 4
3. Dalam setiap tahun 1 - 2 kali Cukup sering 3
4. Dalam setiap tahun belum Jarang 2
tentu banjir
5 Dalam setiap tahun tidak Tidak pernah 1
pernah banjir

Setiap parameter kerawanan banjir pada penelitian ini diasumsikan

memiliki pengaruh yang sama. Sehingga bobot pada parameter parameter

penelitian memiliki besar sama dalam pengaruhnya terhadap kerawanan

banjir. Nilai kerawanan banjir diperoleh dengan menjumlahkan skor

(harkat) pada tiap parameter. Masing masing parameter penentu

kerawanan banjir dianalisis berdasarkan tiap satuan medan. Rumus

menghitung kerawanan banjir menurut Nata Miharja, dkk (2013:385),

sebagai berikut :

Nkb = Ch + P +Ga + K + Kb ………………..(3.1.)

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 58
digilib.uns.ac.id

Untuk mengetahui tingkat kerawanan bajir dilakukan klasifikasi

pada skor kelas kerawanan banjir. Sebelum menentukan skor pada tiap

kelas kerawanan banjir, menentukan jumlah kelas kerawanan banjir

sebagai berikut :

1) Menetukan Kelas

Dalam menentukan jumlah kelas ini bebas, data bisa dibagi ke

dalam 5 kelas, 10 kelas atau berapa saja sesuai dengan kebutuhan dan

banyak sedikitnya penyebaran data (Subagyo, 1986:6). Menurut

Ardhetya, Dian (2012:34), jumlah kelas yang digunakan dalam

tingkatan kerawanan banjir aadalah 5 kelas dengan alasan untuk lebih

jelas dan memudahkan dalam melihat sebaran kerawanan banjir.

2) Menentukan Range

Range adalah jarak antara data terkecil sampai dengan data

terbesar, atau sama dengan selisih data terkecil dengan data terbesar

(Subagyo, 1986:8), rumus untuk mencari range menurut Subagyo

(1986:8), sebagai berikut :

R = Nilai terbesar – Nilai Terkecil…………. (3.2.)

R = 25 – 5

R = 20

3) Menentukan Interval Kelas

Untuk menghitung panjang kelas dapat dihitung dengan range

dibagi jumlah kelas (Subagyo, 1986:8). Rumusnya adalah :

Interval kelas = range


commit to user
kelas
perpustakaan.uns.ac.id 59
digilib.uns.ac.id

Interval kelas = 20
5
Interval Kelas = 4
Jadi, interval kelasnya adalah 4

Dengan demikian klasifikasi tingkat kerawanan banjir sebagai

berikut :

Tabel 9. Klasifikasi kerawanan banjir


No. Klasifikasi Skor Kerawanan Banjir
1 I >7 Tidak Rawan
2 II 8-12 Kurang Rawan
3 III 13-17 Rawan Sedang
4 IV 18-22 Rawan
5 V <23 Sangat Rawan
(Sumber : hasil perhitungan penulis)

Data yang berupa data primer dan data sekunder yang di gunakan

dalam penelitian ini, di berikan harkat pada masing-masing parameter,

dengan tujuan ketika di overlay hasilnya berupa data kerawanan banjir

secara kuantitatif dalam bentuk skor kerawanan banjir, disamping juga

data spasial kerawanan banjir dalam bentuk peta.

Unit analisis dalam penelitian ini diperoleh dari hasil overlay peta

penutup lahan dan peta kemiringan lereng, peta sebaran penduduk dalam

batas Sub-DAS. Fungsi unit analisis adalah sebagai acuan dalam

pengambilan sampel di lapangan serta sebagai dasar dari hasil proses

analisis kuantitatif parameter-parameter banjir.

2. Persepsi Masyarakat Terhadap Upaya Pengurangan Dampak Banjir

Analisis terhadap persepsi masyarakat dalam upaya pengurangan dampak

banjir dilakukan dengan menggunakan instrumen kuesioner. Instrument


commit to user
kuesioner memiliki banyak keuntungan, salah satunya yaitu mampu
perpustakaan.uns.ac.id 60
digilib.uns.ac.id

menangkap informasi dari responden dengan penuh mendalam dan sesuai

dengan tujuan yang diinginkan. Penyusunan butir kuesioner persepsi

masyarakat terdiri dari pengetahuan, sikap dan tindakan yang masing-masing

memiliki skala penilaian tertentu. Skala penilaian pengetahuan dan sikap

menggunakan skala likert dan tindakan untuk mengurangi dampak banjir

menggunakan essay berdasarkan pendapat responden secara murni. Untuk

lebih jelasnya skor yang digunakan dalam menjawab butir pertanyaan

pengetahuan dan sikap dapat dilihat alternatif jawaban sebagai berikut:

Tabel 10. Alternatif Jawaban dalam Skala Likert


NO Skor pengetahuan Skor Skor Sikap Skor
1. ST = Sangat Tahu 4 SS = Sangat Setuju 4
2. T = Tahu 3 S = Setuju 3
3. CT = Cukup Tahu 2 R = Ragu-ragu 2
4. TT = Tidak Tahu 1 TS = Tidak Setuju 1

Berdasarkan alternatif jawaban di atas, tiap butir soal dinilai berdasarkan

jawaban responden dan diberi skor. Skor tiap pertanyaan tersebut di total

sehingga akan tercipta nilai tertinggi dan terendah yang kemudian dibuat

rasio/ rentang. Rentang skor pengetahuan dapat dilihat sebagai berikut:

Tabel 11. Tingkat Rasio Skor Pengetahuan


No Rentang Skor Kategori
1. 17 - 29 Rendah / tidak tahu
2. 30 – 42 Cukup tinggi / cukup tahu
3. 43 – 55 Tinggi / tahu
4. 56 – 68 Sangat tinggi/ sangat tahu

Selain rentang skor pengetahuan, kategori yang perlu nilai berdasarkan skala

likert adalah skor sikap. Jumlah rentang tiap kategori harus sama yang dalam

commit
hal ini terbagi menjadi 4 tingkatan. to userskor sikap sebagai berikut:
Rentang
perpustakaan.uns.ac.id 61
digilib.uns.ac.id

Tabel 12. Tingkat Rasio Skor Sikap


No Rentang Skor Kategori
1. 20 – 35 Rendah / tidak setuju
2. 36 – 51 Cukup tinggi / cukup setuju
3. 52 – 67 Tinggi / setuju
4. 68 – 80 Sangat tinggi / sangat setuju

3. Implementasi dalam Pembelajaran

Implementasi hasil penelitian sebagai sumber belajar siswa disusun

berupa produk SSP (Subject Specific Pedagogy). Untuk lebih detilnya SSP

tersebut memiliki identifikasi cakupan materi sebagai berikut:

 Satuan Pendidikan : SMP Negeri 2 Baureno Bojonegoro


 Mata Pelajaran : IPS
 Kelas/ Semester : VIII/1
 Topik : Keadaan alam dan aktivitas penduduk
 Sub Topik : Bentuk Muka Bumi dan Aktivitas Penduduk
Indonesia
 Materi pokok : Permasalahan yang timbul akibat interaksi
manusia dengan lingkungan alam, sosial, dan ekonomi dan faktor
penyebab timbulnya permasalahan tersebut
 Alokasi Waktu : 4 x 40 Menit
Produk pembelajaran berupa SSP juga memiliki komponen yang

bermacam-macam, yaitu: Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, Media,

RPP, Materi Pembelajaran, Lembar Kerja Siswa, dan metode pembelajaran.

Hasil penelitian ini akan bermanfaat untuk menambah wacana keilmuan

materi pembelajaran Geografi yang baru dan mendasarkan pada scientific

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 62
digilib.uns.ac.id

approach. Produk pembelajaran ini akan di lengkapi pada bagian lampiran

sebagai ekses penelitian yang menggabungkan aspek fisik dan sosial.

I. Prosedur Penelitian

1. Tahap persiapan

Kegiatan pada tahap ini meliputi:

a. Studi literatur, yaitu mempelajari literatur, hasil-hasil penelitian sebelumnya,

laporan-laporan, majalah yang berkaitan dengan masalah penelitian.

b. Orientasi lapangan, yaitu mengetahui jenis dan kelengkapan data lainnya

yang diperlukan dalam penelitian, dengan jalan mendatangi atau

menghubungi instansi yang berkaitan dengan penelitian.

2. Penyusunan proposal Penelitian

Penyusunan proposal proposal yaitu semua rencana penelitian yang akan

dilakuka meliputi pendahuluan, landasan teori serta metodologi penelitian.

3. Penyusunan instrument penelitian

a. Membuat rancangan tabulasi tentang data yang berupa peta agar lebih

mudah dalam melakukan pencatatan atau penyalinan data yang diperlukan.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 63
digilib.uns.ac.id

b. Kuesioner untuk Persepsi masyarakat terhadap upaya pengurangan dampak

banjir dengan menggunakan Skala Likert (Summated Rating Scale). Skala

Likert mempunyai beberapa keuntungan diantaranya:

 Penyusunan angket tidak memerlukan banyak waktu.

 Memberikan kemungkinan menilai lebih teliti dengan adanya kategori

jawaban pilihan.

 Adanya pemberian skor untuk tiap alternatif jawaban dapat

mempermudah hubungan.

4. Tahap pengumpulan data

Kegiatan dalam tahap ini adalah mengumpulkan data di lapangan dan kantor

atau instansi pemerintah yang berkaitan dengan penelitian, dengan cara

mencatat, mengutip, memfotocopy arsip yang diperlukan.

a. Data Pokok

1) Peta Topografi

2) Peta tutupan lahan di kecamatan Baureno

3) Peta Tutupan Lahan di Kecamatan Baureno

4) Data kejadian banjir wilayah kecamatan Baureno dari BPBD

Kabupaten Bojonegoro.

b. Data Bantu

1) Peta Administrasi Kecamatan Baureno

2) Data monografi Kecamatan Baureno

3) Peta Rupa Bumi Kecamatan Baureno


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 64
digilib.uns.ac.id

5. Tahap pengolahan data

Pengolahan data merupakan pemrosesan data yang diperoleh untuk

diorganisasikan kedalam bentuk yang lebih sederhana agar lebih mudah

dibaca dan di interpretasikan. Kegiatan yang dilakukan adalah mengatur

urutan data serta mengorganisasikan ke dalam suatu pola dasar sehingga

mudah dilakukan penafsiran. Analisis data dilakukan dengan cara penafsiran

data untuk memperoleh suatu teori subtantif dengan metode tertentu. Analisis

yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis hidrologi, analisis

penginderaan jauh dan SIG (overlay dan 3D), analisis historis serta analisis

peta (yang dilakukan secara deskriptif kualitatif yaitu dengan menjelaskan,

menguraikan serta mencari kenampakan-kenampakan yang terdapat di dalam

peta).

6. Tahap penggambaran peta

Pada tahap penggambaran peta ini meliputi kegiatan mendesaian tata letak,

desain peta dasar dan desain isi peta berdasarkan pada kaidah-kaidah

kartografi.

7. Penulisan laporan

Merupakan tahap akhir setelah tahap-tahap terdahulu selesai dilakukan,

kemudian disusun dalam bentuk Tesis.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Wilayah Penelitian

Karakteristik geografis daerah penelitian digunakan sebagai dasar untuk

mengetahui karakteristik wilayah di Kecamatan Baureno. Kondisi geografis

penting artinya untuk mengetahui kondisi fisik dan sosial daerah penelitian.

1. Letak, Batas dan Luas Daerah Penelitian

Letak astronomis merupakan letak suatu daerah berdasarkan garis

lintang dan garis bujur. Kecamatan Baureno merupakan salah satu kecamatan

yang ada di Kabupaten Bojonegoro. Berdasarkan letak astronomis Kecamatan

Baureno terletak pada posisi 112°3'0"BT–112°9'0"BT dan 7°12'0"LS-

7°6'0"LS. Secara administratif, Kecamatan Baureno terletak di Kabupaten

Bojonegoro, yang memiliki luas wilayah 7.222 hektar, terbagi atas 25 desa

yaitu: Desa Gunungsari, Desa Kalisari, Desa Tanggungan, Desa Lebaksari,

Desa Kadungrejo, Desa Pucangarum, Desa Karangdayu, Desa Pomahan,

Desa Sembunglor, Desa Banjar Anyar, Desa Drajat, Desa Ngemplak, Desa

Sraturejo, Desa Blongsong, Desa Baureno, Desa Trojalu, Desa Tulungagung,

Desa Selorejo, Desa Tlogoagung, Desa Sumuragung, Desa Gajah, Desa

Kauman, Desa Bumiayu, Desa Banjaran dan Desa Pasinan.

Adapun batas – batas Kecamatan Baureno adalah sebagai berikut :

Sebelah Utara : berbatasan dengan Kecamatan Plumpang Kabupaten Tuban

commitKecamatan
Sebelah Timur : berbatasan dengan to user Babat Kabupaten Lamongan

65
perpustakaan.uns.ac.id 66
digilib.uns.ac.id

Sebelah Selatan : berbatasan dengan Kecamatan Kepohbaru

Sebelah Barat : berbatasan dengan Kecamatan Kanor

Kecamatan Baureno selalu menerima ancaman banjir setiap tahunnya.

Kecamatan ini merupakan kecamatan yang merasakan dampak terparah akibat

banjir, karena keseluruhan wilayahnya merupakan dataran rendah yang

berbatasan langsung dengan wilayah Sungai Bengawan Solo disebelah utara.

Hal inilah yang mengakibatkan luapan/ limpasan air mudah menggenang dan

mengakibatkan banjir. Kecamatan Baureno menarik untuk dikaji mengenai

daerah tingkat kerawanan banjir, karena memiliki keunikan yang berbeda

dengan wilayah lain. Salah satu keunikan Kecamatan Baureno adalah

wilayahnya didominasi dataran rendah, namun memiliki pegunungan

struktural berupa bukit karst. Perbukitan ini merupakan salah satu jajaran

pegunungan kapur utara yang sering disebut dengan Pegunungan Kendeng.

Untuk lebih jelasnya administrasi Kecamatan Baureno dapat dilihat pada peta

berikut ini:

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 67
digilib.uns.ac.id

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 68
digilib.uns.ac.id

2. Kondisi Iklim

Iklim adalah rata-rata keadaan cuaca dalam jangka waktu yang cukup

lama (minimal 30 tahun) yang sifatnya tetap, sedangkan cuaca adalah keadaan

atmosfer pada waktu tertentu yang sifatnya berubah setiap waktu

(Mistriantoro:27). Keadaan atmosfer pada suatu wilayah sangat dipengaruhi

oleh faktor curah hujan, suhu udara, kelembaban udara, penyinaran matahari

dan angin. Penentuan iklim pada suatu wilayah sangat penting terutama

berkaitan dengan bidang pertanian, perkebunan, dan sebagainya.

Iklim merupakan salah satu unsur lingkungan yang sangat besar

pengaruhnya terhadap kehidupan manusia. Unsur iklim yang sangat erat

kaitannya dalam menghasilkan tipe-tipe iklim untuk suatu daerah adalah curah

hujan. Ada beberapa klasifikasi iklim menurut para ahli, antara lain klasifikasi

menurut W. Koppen serta Schmidt dan Ferguson.

a) Klasifikasi iklim menurut Koppen

Koppen membagi iklim suatu daerah menjadi 5 iklim utama, antara

lain:

 Iklim Tipe A, iklim tipe ini merupakan iklim hujan trois degan

temperatur normal bulan terdingin lebih dari 18℃

 Iklim Tipe B, iklim ini merupakan iklim kering

 Iklim Tipe C, iklim ini merupakan ikiim sedang laut dengan

temperatur bulan terdingiin antara 3℃ - 18 ℃

 Iklim Tipe D, iklim ini merupakan iklim sedang dengan temperatur

terpanas diatas 10 C dan temperatur


commit to userbulan terdingin dibawah 3℃
perpustakaan.uns.ac.id 69
digilib.uns.ac.id

 Iklim Tipe E, iklim ini merupakan iklim salju dengan rata –rata

tempertur bulan terpanas dibawah 10℃

Berdasarkan data curah hujan Kecamatan Baureno Kabupaten

Bojonegoro, dapat diketahui bahwa rata-rata curah hujan selama 10 tahun

teakhir adalah sebesar 1834,20 mm, rata-rata bulan basah sebesar 7,00 dan

bulan kering sebesar 4,20 dan bulan lembab sebesar 0,80. Klasifikasi

Iklim menurut Koppen ditentukan berdasarkan Suhu udara dan Curah

hujan. Untuk menentukan klasifikasi Iklim kecamatan Baureno, di hitung

sebagai berikut:

b) Klasifikasi iklim menurut Schmidt dan Ferguson

Schmidt dan Ferguson dalam menentukan curah hujan didasarkan pada

perhitungan bulan basah serta bulaan kering. Kriteria penentuan bulan

basah dan bulan kering menurut schmidt dan Ferguson adalah sebagai

berikut:

 Bulan basah : apabila jumlah curah hujan > 100 mm

 Bulan kering : apabila jumlah curah hujan < 60 mm

 Bulan lembab: apabila jumlah curah hujan antara 60 mm – 100 mm

Schmidt dan Ferguson juga membagi iklim menjadi delapan tipe,

yaitu seperti yang tertuang dalam Tabel 13 berikut:

Tabel 13. Pembagian Tipe Iklim Menurut Schmidt dan Ferguson

Tipe iklim Karakteristik Nilai Q (%)


A Sangat Basah O < Q < 14,3
B Basah 14,3 < Q < 13,3
C Agak Basah 13,3 < Q < 60
commit to user
D Sedang 60 < Q < 100
perpustakaan.uns.ac.id 70
digilib.uns.ac.id

E Agak Kering 100 < Q < 167


F Kering 167 < Q < 300
G Sangat Kering 300 < Q < 700
H Kering Sekali >700
Sumber : Benyamin, 2002

Untuk menentukan jenis iklimnya, Schmidt dan Ferguson

menggunakan harga perbandingan Q yang dituangkan dalam bentuk rumus

seperti berikut:

Jumlah rata-rata bulan kering


Q= _________________________ X 100%
Jumlah rata-rata bulan basah

Berdasarkan data curah hujan Kecamatan Baureno (tabel 4.3) dapat

diketahui jumlah rata-rata bulan kering sebanyak 4,20 sedangkan jumlah

rata-rata bulan basah sebanyak 7,00 sehingga dapat di hitung tipe iklimnya

menurut Schmidt dan Ferguson:

sebagai berikut: Q = 4,20 x 100%


7,00
= 60
Berdasarkan hasil perhitungan Q tersebut dapat diketahui bahwa

Kecamatan Baureno termasuk iklim D dengan karakteristik sedang.

Adapun gambar klasifikasi iklim menurut Schmidt dan Ferguson adalah

sebagai berikut:

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 71
digilib.uns.ac.id

Gambar 5. Klasifikasi pembagian iklim Schmidt – Ferguson

Dengan iklim yang sedang tersebut berpengaruh pada kuantitas curah

hujan yang cukup tinggi. Sehingga rata-rata sawah yang ada di kecamatan

Baureno adalah sawah irigasi teknis maupun setengah teknis.

3. Hidrologi

Kabupaten Bojonegoro memiliki 17 buah sungai di luar Sungai

Bengawan Solo. Sungai-sungai yang ada mempunyai panjang antara 10 –

45km dan berdebit 20 – 266 mᶟ/ detik (BAPPEDA, 2013). Di wilayah

Kecamatan Baureno terdapat 4 buah sungai termasuk Sungai Bengawan Solo

yang mengalir melintasi 13 desa, Sungai Pundung Kembar, yang anak – anak

sungainya mengalir di 13 desa, Sungai Semar Mendem mengalir di 2 desa,

serta Sungai Kali Modo mengalir di 3 desa.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 72
digilib.uns.ac.id

Demikian juga secara geomorfologis, Bengawan Solo mengalir melalui

beberapa satuan geomorfologis, dari bentuk – bentuk permukaan bumi yang

bervariasi. Dimulai dari perbukitan gamping yang bertopografi karst di

pegunungan selatan, dilanjutkan ke wilayah dataran rendah (low land) dari

wilayah Solo, Sangiran, Trinil, Cepu, Bojonegoro, hingga dataran pantai

(coast plain) yang ada di Ujungpangkah Gresik Jawa Timur. (TIM

Pengembangan IPST UGM)

4. Keadaan Penduduk

a. Jumlah penduduk

Berdasarkan data administrasi Kecamatan Baureno tahun 2013,

jumlah penduduk tiap desa di Kecamatan Baureno terdapat pada tabel:

Tabel 14. Jumlah Penduduk Kecamatan Baureno

Juml. Jumlah
Juml. Juml. Pend
No Nama Desa Pend total
KK perempuan
laki-laki penduduk
1. Banjar anyar 708 1.319 1.365 2.684
2. Ngemplak 1284 2279 2195 4.474
3. Sraturejo 984 2393 2401 4.794
4. Blongsong 946 1848 1763 3.611
5. Baureno 1029 1969 2087 4.056
6. Trojalu 716 1226 1230 2.456
7. Tulungagung 769 1351 1385 2.736
8. Selorejo 699 1247 1237 2.484
9. Tlogo agung 790 1339 1360 2.699
10. Sumur agung 901 1736 1639 3.375
11. Gajah 956 1887 1965 3.852
12. Gunung sari 1167 2437 2460 4.897
13. Kalisari 832 1744 1632 3.376
14. Tanggungan 469 876 855 1.731
15. Lebak sari 603 1200 1175 2.375
commit to user
16. Bumiayu 622 1098 992 2.090
perpustakaan.uns.ac.id 73
digilib.uns.ac.id

17. Kauman 1197 2167 2048 4.215


18. Pasinan 939 1775 1688 3.463
19. Banjaran 1388 2239 2296 4.535
20. Drajat 890 1561 1681 3.242
21. Sembung lor 533 893 887 1.780
22. Pomahan 980 1627 1639 3.266
23. Karang dayu 1055 1942 1986 3.928
24. Kadung rejo 1131 2306 2247 4.553
25. Pucang arum 1023 1739 1805 3.544
Jumlah total 23.098 42.244 42.082 84.326
Sumber : Kecamatan Baureno 2013

b. Komposisi Penduduk

1) Komposisi penduduk menurut umur

Komposisi penduduk menurut umur dapat memberikan

gambaran tentang golongan penduduk yang produktif (15 – 64

tahun), golongan penduduk yang belum produktif (0 – 14 tahun)

dan golongan yang tidak produktif (65 tahun ke atas) (Soekamto,

1995). Selain itu komposisi penduduk menurut umur dapat

memberikan gambaran tentang sifat komposisi penduduk muda,

dewasa, dan tua. Untuk mengetahui secara lebih jelas mengenai

komposisi penduduk menurut umur dikecamatan Baureno maka

dapat dilihat pada Tabel 15 berikut:

Tabel 15. Komposisi Penduduk Berdasarkan Umur

No. Golongan Laki – Perempuan Jumlah Prosentase


Umur laki (Jiwa) (%)
(Tahun)
1. 0–4 1183 1178 2.361 2,8 %
2. 5–9 2408 2399 4.807 5,7 %
3. 10 – 14 3548 3535 7.083 8,4 %
4. 15 – 29 commit to
3886 user
3872 7.758 9,2 %
perpustakaan.uns.ac.id 74
digilib.uns.ac.id

5. 20 – 24 2155 2146 4301 5,1 %


6. 25 – 29 5407 5387 10.794 12,8 %
7. 30 – 34 4055 4040 8.095 9,6 %
8. 35 – 39 3206 3203 6409 7,6 %
9. 40 – 44 3422 3408 6830 8,1 %
10. 45 – 49 4900 4882 9782 11,6 %
11. 50 – 54 3718 3703 7421 8,8 %
12. 55 – 58 3216 3193 6409 7,6 %
13. > 59 1140 1136 2276 2,7%
Jumlah 42.244 42.082 84.326 100 %
Sumber : Kantor Kecamatan Baureno, 2013

2) Komposisi penduduk menurut mata pencaharian

Komposisi penduduk menurut jenis mata pencaharian

memberikan gambaran tentang penduduk yang menggantungkan

hidupnya pada masing-masing pekerjaan dan dapat mengetahui

bagaimana struktur ekonomi daerah penelitian. Tujuan lain adalah

untuk mengetahui jenis mata pencaharian yang dominan dan

perbandingan antara jumlah penduduk yang bekerja pada sektor

yang satu dengan sektor yang lain.

Tabel 16. Komposisi Penduduk Menurut Mata Pencaharian

No. Jenis Pekerjaan Jumlah Prosentase


(Jiwa) (%)
1. Petani
a. Petani Pemilik Sawah 8.643 29,5
b. Buruh Tani 11.430 39
2. Buruh industri 2.873 9,8
3. Buruh bangunan 540 0,18
4. Perdagangan 786 2,7
5. PNS/TNI/POLRI 739 2,5
6. Pensiun PNS/ABRI 321 1,1
7. Pengusaha industri rumah tangga 410 1,39
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 75
digilib.uns.ac.id

8. Peternak 3.222 10,98


9. Jasa perseorangan 117 0,39
10 Jasa angkutan 174 0,60
11. Lain-lain 83 0,28

Jumlah 29.338 100


Sumber: kantor kecamatan Baureno, 2013

3) Komposisi penduduk menurut pendidikan

Pendidikan (formal dan non formal) mempunyai peranan

yang penting dalam meningkatkan kemampuan individu, baik

dalam kegiatan berproduksi maupun pengelolaan usaha.

Pendidikan juga mempengaruhi seseorang dalam membuat suatu

keputusan terutama yang menyangkut kepentingan diri dan

keluarganya.

Pendidikan adalah salah satu hal yang terpenting dalam

memajukan tingkat Sumber Daya Manusia (SDM) yang dapat

berpengaruh dalam jangka panjang pada peningkatan

perekonomian. Dengan tingkat pendidikan yang tinggi maka akan

mendongkrak tingkat kecakapan masyarakat yang pada gilirannya

akan mendorong tumbuhnya keterampilan kewirausahaan dan

lapangan kerja yang baru, sehingga akan membantu program

pemerintah dalam mengentas kemiskinan dan pengangguran.

Tabel 17 berikut menunjukkan tingkat pendidikan penduduk

Kecamatan Baureno.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 76
digilib.uns.ac.id

Tabel 17. Komposisi Penduduk Menurut Pendidikan


Prosentase
No. Tingkat Pendidikan Frekuensi (f)
(%)
1. Belum sekolah 3.204 3,8 %
2. Tidak tamat SD 2.024 2,4%
3. Tamat SD / sederajat 48.909 58 %
4. Tamat SMP / sederajat 15.432 18,3%
5. Tamat SMA / sederajat 13.576 16,1 %
6. Tamat Perguruan Tinggi 1.181 1,4%
Jumlah 84.326 100 %
Sumber : Kantor Kecamatan Baureno (2013)

Dari data di atas menunjukkan bahwa mayoritas penduduk

Kecamatan Baureno hanya mampu menyelesaikan sekolah di

jenjang pendidikan wajib belajar sembilan tahun yaitu SD dan

SMP. Dalam hal kesediaan Sumber Daya Manusia atau SDM yang

memadahi dan mumpuni, keadaan ini merupakan tantangan

tersendiri. Rendahnya kualitas tingkat pendidikan di Kecamatan

Baureno, tidak terlepas dari masalah ekonomi dan pandangan

hidup masyarakat terhadap pendidikan yang sangat rendah.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 77
digilib.uns.ac.id

B. Hasil Penelitian

1. Tingkat Kerawanan Banjir

Sebelum melakukan analisis kerawanan banjir di Kecamatan Baureno

yang perlu dilakukan adalah membuat mapping unit atau satuan pemetaan.

Pada penelitian ini menggunakan satuan pemetaan berupa satuan medan.

Satuan medan diperoleh dari overlay 3 data keruangan berupa: data

ketinggian, data bentuk lahan dan data tutupan lahan. Satuan medan berfungsi

untuk memudahkan peneliti dalam survey lapangan dan pengambilan sampel.

Untuk lebih jelasnya dapat diperhatikan uraian komponen pembentuk satuan

medan sebagai berikut:

a. Ketinggian Permukaan

Ketinggian Kecamatan Baureno berdasarkan ketinggian mdpl (meter

diatas permukaan laut) disajikan dalam tabel berikut:

Tabel 18. Ketinggian permukaan di Kecamatan Baureno

No Ketinggian (mdpl) Luas (ha) Persentase (%)


1. 1 – 13 4022,55 55,7
2. 14 – 26 2466,32 34,15
3. 27 – 39 547,07 7,56
4. 40 – 52 131,1 1,82
5. 53 – 65 37,71 0,52
6. 66 – 78 17,24 0,25
Jumlah 7221,99 100
Sumber: Data primer

Wilayah Kecamatan Baureno memiliki ketinggian yaitu antara 1–78

mdpl, sehingga pada umumnya kecamatan ini termasuk ke dalam suatu daerah

yang berdataran rendah dan rawan terkena banjir. Untuk lebih jelasnya
commit
persebaran ketinggian permukaan to user Baureno dapat dilihat peta:
Kecamatan
perpustakaan.uns.ac.id 78
digilib.uns.ac.id

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 79
digilib.uns.ac.id

b. Kondisi Geologi

Letak geologi adalah kondisi suatu wilayah yang ditinjau dari keadaan

batuan yang menyusun wilayah tersebut, yang meliputi struktur dan

komposisinya. Jenis batuan yang ada dalam tubuh bumi akan berpengaruh

terhadap karakteristik lahan dan jenis tanah yang ada pada permukaan bumi.

Tiap – tiap jenis tanah mempunyai sifat fisik dan kimia yang berbeda –

beda,terutama kepekaan terhadap sifatnya yang dapat mengikat air dan

sifatnya dalam menyerap air. Secara umum kondisi Geologi Kabupaten

Bojonegoro memiliki beberapa macam jenis batuan, yaitu pada Tabel 16

sebagai berikut:

Tabel 19. Jenis Batuan Geologi di Kabupaten Bojonegoro


No Jenis batuan (geologi) Luas Persentase (%)
1. Alluvium 49.852 21,61
2. Pliosen Fasies Gamping 8.257 3,58
3. Pliosen Fasies Sedimen 59.187 25,65
4. Pleistosen Fasies Sedimen 89.984 39
5. Pleistosen Fasies lime Stone 4.165 1,8
6. Miosen Fasies Sedimen 15.566 6,75
7. Hasil Gunung Api 3.695 1,6
Jumlah 230.706 100,00
Sumber: Kantor BAPPEDA Bojonegoro 2013

Jenis Batuan yang paling banyak dikandung Wilayah Kabupaten

Bojonegoro yaitu Pleistosen Fesies Sedimen dengan luas 89.984 ha. Sedimen

tersebut erat kaitannya dengan endapan yang dibawa oleh air Sungai

Bengawan Solo. Wilayah Kecamatan Baureno merupakan salah satu wilayah

di Kabupaten Bojonegoro yang dilalui Sungai Bengawan Solo. Sehingga

susunan geologinya didominasi oleh Pleistosen Fasies Sedimen dan Alluvium.


commit to user
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar 7. Peta Geologi berikut:
perpustakaan.uns.ac.id 80
digilib.uns.ac.id

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 81
digilib.uns.ac.id

c. Kondisi Bentuk Lahan (Geomorfologi)

Geomorfologi merupakan ilmu yang mempelajari bentuk – bentuk

permukaan bumi termasuk proses dan evolusi pembentukannya (Indriyanto,

2006). Kondisi geomorfologi berkenaan dengan keadaan permukaan bumi/

relief suatu wilayah. Bentuk muka bumi atau relief ini berpengaruh terhadap

peristiwa – peristiwa alam seperti cuaca, iklim, erosi yang selanjutnya akan

mempengaruhi aktifitas manusia. Karakteristik relief yang beriklim tropis

basah sangat dipengaruhi oleh hujan deras dan temperatur yang tinggi,

sehingga pelapukan dan denudasi berlangsung cepat dan intensif. Hal ini

berakibat terjadinya erosi vertikal secara cepat pula.

Menurut Pannekock (dalam Mistiantoro, 2007:30). Pembagian zone

geomorfologi Jawa yang jelas terdapat di Jawa Timur yaitu dibagi menjadi 3

zone, antara lain sebagai berikut :

1) Zone selatan merupakan zone plato kapur yang miring ke selatan

berasal dari paneplain yang terangkat. Pada umumnya di bagian utara

dibatasi garis sesar.

2) Zone tengah merupakan depresi yang ditumbuhi vulkan – vulkan aktif.

3) Zone utara yang terdiri dari rantai pegunungan lipatan yang diselingi

perbukitan beberapa vulkan.

Kabupaten Bojonegoro mempunyai topografi berupa daerah perbukitan

dan daerah dataran rendah yaitu 81,29% berada pada ketinggian 25 mdpl, dan

18,71% berada pada ketinggian dibawah 25 mdpl. Dengan kemiringan kurang

dari 2%, areal seluas 127.109 ha di wilayah ini mengalami sedimentasi yang
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 82
digilib.uns.ac.id

tinggi di sepanjang Sungai Bengawan Solo. Kondisi geomorfologis

Kecamatan Baureno divisualisasikan dengan analisis bentuk lahan yang terdiri

dari overlay informasi ketinggian, tanah, litologi dan penggunaan lahan.

Bentuk lahan merupakan parameter yang baik untuk menilai dan mengetahui

karakteristik suatu lahan. Sehingga dengan demikian ciri fisik Kecamatan

Baureno diintepretasikan dengan peta bentuk lahan. Bentuk lahan di wilayah

Kecamatan Baureno adalah 12,5% berupa dataran banjir, 4,2% rawa belakang,

37,5% dataran alluvial, 29,1% teras fluvial atas, 16,7% teras fluvial bawah.

Beberapa bentuk geomorfologis wilayah Kecamatan Baureno Kabupaten

Bojonegoro dapat dilihat pada peta bentuk lahan sebagai berikut:

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 83
digilib.uns.ac.id

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 84
digilib.uns.ac.id

d. Jenis Tanah

Jenis tanah mempunyai pengertian yang berbeda-beda, tergantung sudut

pandang dan kepentingannya. Para ahli sepakat bahwa tanah merupakan sisa-

sisa atau hasil pelapukan batuan dan bahan organik (Sarief, 1986). Jenis tanah

di setiap tempat berbeda-beda karena perbedaan faktor-faktor pembentuk

tanah, seperti iklim, organisme, bahan induk, topografi dan waktu. Kabupaten

Bojonegoro tanahnya mengalami perkembangan yang lebih sempurna, seperti

tanah grumosol, mediterani,dan lainnya. Jenis-jenis tanah tersebut didapatkan

baik dalam suatu kompleks maupun berasosiasi dengan tanah lainnya.

Tabel 20. Jenis Tanah di Kabupaten Bojonegoro

Luas tanah Persentase


No. Jenis tanah
(Ha) (%)
1. Alluvial 46.357 20,10
2. Grumosol 88.944 38,55
3. Kompleks Mediteran/ Litosol 44.546 19,30
4. Kompleks Mediteran/ Rendsina 50.859 22,04
Jumlah 230.706 100,00
Sumber: Kantor BPN Bojonegoro 2013

Tanah di Bojonegoro terjadi dari endapan yang terbawa dari sungai

Bengawan Solo saat terjadi banjir maupun dari endapan letusan Gunung

berapi yang telah berproses sejak ratusan tahunan yang lalu. Dataran yang ada

disekitar sungai kebanyakan relatif landai, dengan endapan aluvial. Tanah

endapan aluvial sekitar Sungai Bengawan Solo berasal dari materi gamping

dan vulkanis. Endapan aluvial yang ada didataran banjir sekitar sungai

menjadi tanah pertanian subur. Tidak mengherankan jika sepanjang sekitar

sungai itu merupakan wilayah yang banyak dihuni penduduk sejak zaman
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 85
digilib.uns.ac.id

prasejarah. Sungai Bengawan Solo mengalir melalui Zone Solo dengan

endapan aluvial gamping bercampur vulkanis, diteruskan kearah timur laut

melalui endapan aluvial pasir, yang populer dikenal sebagai endapan pada

cekungan Randublatung. Randublatung merupakan nama sebuah desa yang

terletak disebelah barat kota Cepu. Namun cekungan Randublatung dimulai

dari wilayah Semarang ke arah timur hingga ke Selat Madura. Oleh karena itu

sedimentasi di laut dangkal biasanya banyak mengandung gas dan minyak

bumi, contohnya Pertambangan minyak dan gas Cepu dan Bojonegoro. (TIM

Pengembangan IPST UGM).

Wilayah Kecamatan Baureno, berdasarkan data Badan Pertanahan

Nasional Kabupaten Bojonegoro, jenis tanahnya terdapa pada Tabel 21

berikut:

Tabel 21. Jenis Tanah di Kecamatan Baureno

No Jenis tanah Luas tanah (ha) Persentase (%)


1. Alluvial (kelabu tua) 5105,8 70,70
2. Grumosol 1582,92 21,92
3. Kompleks Mediteran/ 533,27 7,38
Litosol
Jumlah 7221,99 100,00
Sumber: Kantor BPN Bojonegoro 20013

Berdasarkan data tabel di atas dapat diketahui bahwa wilayah

Kecamatan Baureno didominasi oleh jenis tanah alluvial kelabu tua yaitu

dekitar 70,70%. Sedangkan paling kecil adalah wilayah tanah dengan jenis

kompleks mediteran/ litosol yang mencapai 7,38%. Untuk lebih jelasnya

persebaran jenis tanah Kecamatan Baureno dapat dilihat pada peta sebagai

berikut: commit to user


perpustakaan.uns.ac.id 86
digilib.uns.ac.id

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 87
digilib.uns.ac.id

e. Tutupan lahan (land cover)

Tutupan lahan pada hakikatnya merupakan gambar ruang dari hasil

teknologi, jumlah manusia dan keadaan fisik daerah. Sehingga pada tutupan

lahan di suatu daerah dapat mencerminkan kegiatan yang berbeda di daerah

tersebut. tutupan lahan di Kecamatan Baureno adalah sebagai berikut:

Tabel 22. Tutupan lahan di Kecamatan Baureno


No Tutupan lahan Luas (ha) Persentase (%)
1. Lahan Sawah:
a. Berpengairan teknis 677 9,37
b. Berpengairan ½ teknis 194 2,67
c. Non teknis 1975 27,35
d. Tadah hujan 1352 18,72

2. Lahan kering:
a. Untuk bangunan/
Permukiman 1439 19,93
b. Tegal 1455 20,16
c. Lain-lain 130 1,8

Jumlah 7222 100


Sumber: Kantor Kecamatan Baureno 2013

Pada Tutupan lahan wilayah Kecamatan Baureno sejumlah 4.198 ha

atau 58,11% di gunakan sebagai lahan persawahan, hal ini di dukung karena

faktor kesuburan tanah dan sistem irigasi yang sangat baik dan memungkinkan

untuk kegiatan pertanian. Untuk lebih jelasnya dapat di lihat pada Gambar 10

yang mendeskripsikan peta tutupan lahan Kecamatan Baureno sebagai berikut:

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 88
digilib.uns.ac.id

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 89
digilib.uns.ac.id

Berdasarkan beberapa informasi di atas langkah terakhir untuk

mengetahui satuan medan adalah dengan cara overlay/ tumpang susun data

tersebut. Sehingga dapat diketahui bahwa Kecamatan Baureno terbagi menjadi

24 satuan medan. Satuan medan tersebut memiliki cakupan luas yang berbeda-

beda, yang paling dominan adalah satuan medan A-F3-Sw (24,74%)

sedangkan paling kecil adalah satuan medan F-S1-Tgl (0,06%).

Tabel 23. Satuan Medan Kecamatan Baureno


Luas
No. Satuan Medan
Ha %
1 A-F1-Pmk 168,93 2,34
2 A-F1-Sw 110,25 1,53
3 A-F1-Tgl 95,26 1,32
4 A-F2-Sw 478,17 6,62
5 A-F3-Pmk 92,03 1,27
6 A-F3-Sw 1786,46 24,74
7 A-F3-Tgl 1291,45 17,88
8 B-F1-Pmk 127,57 1,77
9 B-F3-Kb 22,99 0,32
10 B-F3-Pmk 699,64 9,69
11 B-F3-Tgl 1521,15 21,06
12 B-F4-Pmk 65,22 0,90
13 B-F4-Tgl 29,75 0,41
14 C-F3-Pmk 77,4 1,07
15 C-F3-Tgl 133,21 1,84
16 C-F4-Ht 37,57 0,52
17 C-F4-Pmk 192,37 2,66
18 C-F4-Tgl 106,52 1,47
19 D-F4-Pmk 15,55 0,22
20 D-F4-TK 20,42 0,28
21 D-S1-Tgl 95,13 1,32
22 E-S1-Tgl 37,71 0,52
23 F-S1-TK 12,68 0,18
24 F-S1-Tgl 4,56 0,06
7221,99 100,00
Sumber: Analisis data, tahun 2014
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 90
digilib.uns.ac.id

Berdasarkan data tabel di atas dapat diketahui jumlah total satuan

medan yang berada di Kecamatan Baureno. Setelah analisis data sekunder dan

disesuaikan dengan survey lapangan diketahui jumlah satuan medan

Keamatan Baureno adalah 24 satuan medan. Pengwilayahan tersebut tersebar

di seluruh desa yang ada di Kecamatan Baureno. Pada tabel diatas diketahui

setiap satuan medan di harkat untuk memudahkan dalam analisis kerawanan

banjir. Skoring atau pengharkatan merupakan hasil dari analisis data geografis

yang memiliki kesamaan dan perbedaaan sehingga menunjukkan suatu

karakteristik tertentu. Aplikasinya di lapangan adalah dengan cara melakukan

crosscheck apa yang tertulis dengan apa yang betul terjadi di lapangan. Data

yang perlu diambil di tiap sample satuan medan adalah tutupan lahan,

kemiringan lereng,bentuk lahan dan data wawancara terhadap responden.

Dengan demikian, maka data fisik dan data sosial dapat diperoleh secara

bersamaam dalam satu titik sample. Untuk lebih jelasnya Peta Satuan Medan

Kecamatan Baureno dapat dilihat pada peta berikut ini:

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 91
digilib.uns.ac.id

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 92
digilib.uns.ac.id

Setelah diketahui peta satuan medan Kecamatan Baureno di atas, langkah

selanjutnya adalah menentukan wilayah tingkat kerawanan bencana banjir.

Data tingkat kerawanan banjir diperoleh dengan menggunakan teknik

pengumpulan data melalui observasi lapangan dan pengukuran tiap satuan

medan. Analisis terhadap tingkat kerawanan banjir, yaitu dengan cara skoring

(pengharkatan) pada tiap parameter kerawanan banjir dan overlay dengan

menggunakan bantuan Sistem Informasi Geografi (SIG). Adapun parameter

penentu kerawanan banjir antara lain:

a. Curah hujan

Data curah hujan adalah salah satu cara untuk menentukan iklim suatu

daerah tertentu. Curah hujan(CH) di wilayah Kecamatan Baureno rata-

ratanya rendah, dilihat dari data dalam 10 tahun terakhir mulai tahun 2004

– 2013, rata-rata CH 18342 mm : 365 hari = 50,25 di bulatkan rata-rata

CH nya 50 mm (dalam 1 hari). Untuk lebih lengkapnya Kecamatan

Baureno memiliki data curah hujan sebagai berikut:

Tabel 24. Curah Hujan Kecamatan Baureno


Thn 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 Juml
Rata2
No CH
CH
Bln CH CH CH CH CH CH CH CH CH CH (mm)
290,00
1 Jan 404 291 278 200 198 196 452 126 349 406 2900

2 Feb 257 351 580 180 117 332 104 165 274 86 2446 244,60

290,90
3 Mar 235 346 358 199 142 299 439 423 246 222 2909
194,60
4 Apr 143 154 272 161 156 155 451 225 102 127 1946
152,80
5 Mei 125 134 393 81 4 241 157 255 97 41 1528

6 Juni 110 135 0 45 16 77 108 40 67 51 649 64,90

23,30
7 Juli 0 10 15 24 0 7 143 8 0 26 233

8 Agus 0 2 0 106 0 0 91 0 0 0 199 19,90

39,20
9 Sept 0 87 0 0 25 12 218 44 0 6 392

10 Okto 15 347 0 28 221 49 254 19 0 7 940 94,00


commit to user 148,00
11 Nov 190 232 166 139 242 25 157 249 0 80 1480
perpustakaan.uns.ac.id 93
digilib.uns.ac.id

272,00
12 Des 143 516 158 247 473 224 360 394 0 205 2720
Jumlah CH 1 1834,20
1622 2605 2220 1410 1594 1617 2934 1948 1135 1257 18342
Tahun
Bulan Basah 8 9 7 7 7 6 11 7 4 4 70 7,00

Bulan Lembab 0 1 0 1 0 1 1 0 2 2 8 0,80

4,2
Bulan Kering 4 2 5 4 5 5 0 5 6 6 42

Sumber: DPU Pengairan Wil. Sungai Bengawan Solo Kec. Baureno Kab. Bojonegoro

Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui rata-rata curah hujan di

Kecamatan Baureno adalah 1834,20 mm/ tahun. Sehingga, banyak terjadi

bulan basah pada 10 tahun terakhir dari tahun 2004 – 2013 yaitu rata-rata

7,00 mm / tahun. Suhu udara di Kecamatan Baureno ditentukan dengan

menggunakan rumus penurunan temperatur secara vertikal yang

didasarkan pada ketinggian suatu daerah dengan menggunakan rumus

sebagai berikut:

T = 26,3 ℃ - (0,6 100 ℎ)

Keterangan : T = temperatur dalam ℃


26,3 = rata rata suhu permukaan air laut
H = ketinggian tempat (Kec.Baureno 21 mdpl)
0,6 = penurunan suhu di Pulau Jawa setiap kenaikan
100

100m
sebesar 0,6˚C
(Mock dalam Budiyanto 1984)

Berdasarkan rumus tersebut dapat dihitung sebagai berikut :

T = 26,3 ℃ - ( 0,6 100 21)

= 26,174℃

Berdasarkan perhitungan diatas maka Kec. Baureno yang mempunyai

ketinggian < 100 mdpl maka memiliki


commit suhu udara sekitar 26,174℃.
to user
perpustakaan.uns.ac.id 94
digilib.uns.ac.id

 Curah hujan rata rata Kec. Baureno 1834,20 mm

 Jumlah curah hujan maksimal bulan kering (a) dapat dihitung dengan

menggunakan rumus sebagai berikut :

a = R / 60

Keterangan : a = jumlah maksimal bulan kering


R = rata rata curah hujan (1834,20mm)
60 = bilangan konstan
Berdasarkan rumus tersebut dapat dihitung sebagai berikut :

a = 1834,20 / 60
= 30,57 mm
Berdasarkan perhitungan tersebut dapat diketahui bahwa curah hujan

maksimal bulan kering Kec. Baureno adalah 30,57 mm. Data jumlah curah

hujan dan jumlah hujan bulan kering tersebut kemudian dituangkan ke

dalam diagram pembagian iklim menurut Koppen sebagai berikut:

Gambar 12. Diagram Pembagian Iklim Koppen

Berdasarkan pembagian iklim menurut Kopen tersebut, maka iklim

Kecamatan Baureno termasuk iklim Am atau iklim muson (musim kering

singkat). Implikasinya terhadap satuan medan sebagai satuan pemetaan


commitini:
dapat di perhatikan tabel berikut to user
perpustakaan.uns.ac.id 95
digilib.uns.ac.id

Tabel 25. Data Curah Hujan Kecamatan Baureno


berdasarkan Satuan Medan

NO Satuan Medan Kriteria Skor


1 A-F1-Pmk Rendah 1
2 A-F1-Sw Rendah 1
3 A-F1-Tgl Rendah 1
4 A-F2-Sw Rendah 1
5 A-F3-Pmk Rendah 1
6 A-F3-Sw Rendah 1
7 A-F3-Tgl Rendah 1
8 B-F1-Pmk Rendah 1
9 B-F3-Kb Rendah 1
10 B-F3-Pmk Rendah 1
11 B-F3-Tgl Rendah 1
12 B-F4-Pmk Rendah 1
13 B-F4-Tgl Rendah 1
14 C-F3-Pmk Rendah 1
15 C-F3-Tgl Rendah 1
16 C-F4-Ht Rendah 1
17 C-F4-Pmk Rendah 1
18 C-F4-Tgl Rendah 1
19 D-F4-Pmk Rendah 1
20 D-F4-TK Rendah 1
21 D-S1-Tgl Rendah 1
22 E-S1-Tgl Rendah 1
23 F-S1-TK Rendah 1
24 F-S1-Tgl Rendah 1
Sumber: Analisis data, tahun 2014

b. Tutupan lahan

Pada dasarnya tutupan lahan yang dimaksud adalah sesuai dengan

data yang digunakan untuk pembentukan satuan medan. Sehingga dapat

diketahui tutupan lahan di wilayah Kecamatan Baureno berupa 19,92%

permukiman, 32,89% sawah, 45,88% tegalan, 0,32% kebun, 0,52%

hutan, 0,47% tanah kosong. Namun kaitanya dengan satuan medan tutupan

commit karakteristik
Kecamatan Baureno memiliki to user yang bervariasi. Kriteria
perpustakaan.uns.ac.id 96
digilib.uns.ac.id

dominan adalah pada kelompok lahan terbangun yang berupa pemukiman,

lahan terbangun, bangunan industri, dan jaringan jalan. Selain itu wilayah

Kecamatan Baureno juga terdapat kategori tutupan lahan berupa pertanian,

perkebunan dan vegetasi rendah. Masing- masing kategori dilakukan

pengharkatan (skoring) lahan terbangun dengan poin 5, pertanian dengan

poin 4, perkebunan dengan poin 3, dan vegetasi rendah dengan poin 2.

Untuk lebih jelasnya dapat diperhatikan tabel berikut:

Tabel 26. Data Tutupan Lahan Kecamatan Baureno


berdasarkan Satuan Medan

NO Satuan Medan Kriteria Skoring


1 A-F1-Pmk Lahan terbangun 5
2 A-F1-Sw Pertanian 4
3 A-F1-Tgl Perkebunan 3
4 A-F2-Sw Pertanian 4
5 A-F3-Pmk Lahan terbangun 5
6 A-F3-Sw Pertanian 4
7 A-F3-Tgl Perkebunan 3
8 B-F1-Pmk Lahan terbangun 5
9 B-F3-Kb Perkebunan 3
10 B-F3-Pmk Lahan terbangun 5
11 B-F3-Tgl Pertanian 4
12 B-F4-Pmk Lahan terbangun 5
13 B-F4-Tgl Perkebunan 3
14 C-F3-Pmk Lahan terbangun 5
15 C-F3-Tgl Perkebunan 3
16 C-F4-Ht Vegetasi rendah 2
17 C-F4-Pmk Lahan terbangun 5
18 C-F4-Tgl Perkebunan 3
19 D-F4-Pmk Lahan terbangun 5
20 D-F4-TK Vegetasi rendah 2
21 D-S1-Tgl Perkebunan 3
22 E-S1-Tgl Perkebunan 3
23 F-S1-TK Vegetasi rendah 2
24 F-S1-Tgl Perkebunan 3
commit to user
Sumber: Analisis data, tahun 2014
perpustakaan.uns.ac.id 97
digilib.uns.ac.id

c. Kemiringan Lereng

Data kemiringan lereng wilayah Kecamatan Baureno Kabupaten

Bojonegoro dapat diklasifikasikan 3 yaitu: datar (0-3%), landai (4-6%) dan

agak curam (7-9%). Kemiringan lereng paling dominan terdapat pada

kriteria datar dengan skor nilai 5 sedangkan untuk kategori landai dan agak

curam mendapat kelompok kecil dengan skor masing- masing 4 dan 3.

Untuk lebih kongkritnya dapat dilihat data kemiringan lereng berikut:

Tabel 27. Data Kemiringan Lereng Kecamatan Baureno


berdasarkan Satuan Medan

NO Satuan Medan Kemiringan (%) Kriteria Skoring


1 A-F1-Pmk 0-3 Datar 5
2 A-F1-Sw 0-3 Datar 5
3 A-F1-Tgl 0-3 Datar 5
4 A-F2-Sw 0-3 Datar 5
5 A-F3-Pmk 0-3 Datar 5
6 A-F3-Sw 0-3 Datar 5
7 A-F3-Tgl 0-3 Datar 5
8 B-F1-Pmk 0-3 Datar 5
9 B-F3-Kb 0-3 Datar 5
10 B-F3-Pmk 0-3 Datar 5
11 B-F3-Tgl 0-3 Datar 5
12 B-F4-Pmk 0-3 Datar 5
13 B-F4-Tgl 0-3 Datar 5
14 C-F3-Pmk 0-3 Datar 5
15 C-F3-Tgl 0-3 Datar 5
16 C-F4-Ht 0-3 Datar 5
17 C-F4-Pmk 0-3 Datar 5
18 C-F4-Tgl 0-3 Datar 5
19 D-F4-Pmk 4-6 Landai 4
20 D-F4-TK 4-6 Landai 4
21 D-S1-Tgl 4-6 Landai 4
22 E-S1-Tgl 7-9 Agak Curam 3
23 F-S1-TK 7-9 Agak Curam 3
24 F-S1-Tgl 7-9 Agak Curam 3
commit to user Sumber: Analisis data, tahun 2014
perpustakaan.uns.ac.id 98
digilib.uns.ac.id

Tabel diatas menunjukkan bahwa kemiringan lereng pada wilayah

Kecamatan Baureno didominasi pada kelas kemiringan antara antara 0 –

3%, hal ini berarti bahwa lahan di Kecamatan Baureno relatif datar dan

tingkat kecuramannya rendah. Persebaran wilayah tingkat kemiringan

lereng Kecamatan Baureno cukup bervariatif. Untuk lebih jelasnya dapat

di lihat pada Gambar 13. Peta Kemiringan Lereng Kecamatan Baureno

berikut :

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 99
digilib.uns.ac.id

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 100
digilib.uns.ac.id

d. Genangan Air

Data genangan air Kecamatan Baureno diperoleh dengan cara

kompilasi data sekunder dan survey lapangan dengan wawancara kepada

responden. Data genangan Kecamatan Baureno cukup bervariasi yang

dalam pengelompokanya didasarkan pada bentuk lahan asal. Kriteria

dominan genangan air terdapat pada kelompok sedang dengan bentuk

lahan dataran alluvial dinilai dengan skor 3. Sedangkan kriteria paling

kecil adalah kelompok berpotensi dengan bentuk lahan lembah alluvial

yang dinilai dengan skor 4. Kriteria sangat berpotensi memiliki jenis

bentuk lahan berupa jalur kelokan dinilai dengan skor 5, kriteria tidak

berpotensi memiliki jenis bentuk lahan kipas dan lahar dataran dinilai

dengan skor 2, sedangkan kriteria sangat tidak berpotensi memiliki jenis

bentuk lahan pegunungan, perbukitan yang dinilai dengan skor 1. Untuk

lebih jelasnya persebaran genangan air di Kecamatan Baureno dapat

dilihat pada tabel berikut:

Tabel 28. Data Genangan Air Kecamatan Baureno


berdasarkan Satuan Medan

NO Satuan Medan Kriteria Skor


1 A-F1-Pmk Sangat Berpotensi 5
2 A-F1-Sw Sangat Berpotensi 5
3 A-F1-Tgl Sangat Berpotensi 5
4 A-F2-Sw Berpotensi 4
5 A-F3-Pmk Sedang 3
6 A-F3-Sw Sedang 3
7 A-F3-Tgl Sedang 3
8 B-F1-Pmk Sedang 3
9 B-F3-Kb Sedang 3
10 B-F3-Pmk commit to user
Sedang 3
perpustakaan.uns.ac.id 101
digilib.uns.ac.id

11 B-F3-Tgl Sedang 3
12 B-F4-Pmk Tidak Berpotensi 2
13 B-F4-Tgl Tidak Berpotensi 2
14 C-F3-Pmk Sedang 3
15 C-F3-Tgl Sedang 3
16 C-F4-Ht Tidak Berpotensi 2
17 C-F4-Pmk Tidak Berpotensi 2
18 C-F4-Tgl Tidak Berpotensi 2
19 D-F4-Pmk Tidak Berpotensi 2
20 D-F4-TK Tidak Berpotensi 2
21 D-S1-Tgl Sangat Tidak Berpotensi 1
22 E-S1-Tgl Sangat Tidak Berpotensi 1
23 F-S1-TK Sangat Tidak Berpotensi 1
24 F-S1-Tgl Sangat Tidak Berpotensi 1
Sumber: Analisis data, tahun 2014

e. Kejadian Banjir

Dalam setiap tahun ada 16,66% daerah diwilayah Kecamatan Bureno

yang terkena banjir lebih dari 3 kali (sawah/ permukiman penduduknya).

Kejadian banjir tersebut diperoleh dari data sekunder dan data primer.

Data sekunder didapat dari peta bencana banjir Kabupaten Bojonegoro

yang dikeluarkan oleh BNPB sedangkan untuk data primer diperoleh

dengan survey lapangan dengan menggunakan teknik wawancara dengan

masyarakat sekitar. Pembagian wilayah yang terdampak banjir

diklasifikasikan menjadi 5 yaitu: belum pernah, pernah, sedang, sering,

sangat sering. Seperti halnya kondisi fisiografi suatu lahan akan

berpengaruh pada dampak banjir. Wilayah yang berada pada ketinggian

tertentu akan memiliki dampak yang minimum dibandingkan pada wilayah

yang landai atau berdekatan dengan sumber air. Pembagian wilayah

kejadian banjir dapat dilihat pada tabel


commit berikut ini:
to user
perpustakaan.uns.ac.id 102
digilib.uns.ac.id

Tabel 29. Data Kejadian Banjir Kecamatan Baureno


berdasarkan Satuan Medan

NO Satuan Medan Kriteria Skor


1 A-F1-Pmk Sangat sering 5
2 A-F1-Sw Sangat sering 5
3 A-F1-Tgl Sangat sering 5
4 A-F2-Sw Sering 4
5 A-F3-Pmk Cukup sering 3
6 A-F3-Sw Sering 4
7 A-F3-Tgl Cukup sering 3
8 B-F1-Pmk Sangat sering 5
9 B-F3-Kb Jarang 2
10 B-F3-Pmk Jarang 2
11 B-F3-Tgl Jarang 2
12 B-F4-Pmk Tidak pernah 1
13 B-F4-Tgl Tidak pernah 1
14 C-F3-Pmk Tidak pernah 1
15 C-F3-Tgl Tidak pernah 1
16 C-F4-Ht Tidak pernah 1
17 C-F4-Pmk Tidak pernah 1
18 C-F4-Tgl Tidak pernah 1
19 D-F4-Pmk Tidak pernah 1
20 D-F4-TK Tidak pernah 1
21 D-S1-Tgl Tidak pernah 1
22 E-S1-Tgl Tidak pernah 1
23 F-S1-TK Tidak pernah 1
24 F-S1-Tgl Tidak pernah 1
Sumber: Analisis data, tahun 2014

Berdasarkan Peta Kejadian Banjir Kecamatan Baureno, wilayah

yang jarang atau bahkan tidak pernah terjadi banjir adalah Desa

Sumuragung, Gajah, Gunungsari, Baureno, Sraturejo, Banjaran, Pasinan

dan Blongsong. Sedangkan wilayah yang menjadi langganan bajir adalah

Desa Kalisari, Desa Tanggungan, Desa Lebaksari, Desa Kadungrejo dan

Desa Pucangarum. Untuk lebih jelasnya persebaran wilayah kejadian

banjir Kecamatan Baurenocommit to user


tahun 2014 adalah berikut:
perpustakaan.uns.ac.id 103
digilib.uns.ac.id

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 104
digilib.uns.ac.id

Setelah dilakukan pengharkatan (skoring) pada tiap- tiap komponen

di atas, langkah selanjutnya adalah melakuakan overlay semua data yang

ada. Data yang di-overlay adalah data curah hujan, data kemiringan lereng,

data tutupan lahan, data genangan air dan data kejadian banjir. Masing-

masing skor ditambahkan dan kemudian diklasifikasi sehingga akan

muncul kelas wilayah kerawanan banjir yang ada di Kecamatan Baureno.

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat tabel overlay berikut ini:

Tabel 30.
Overlay Tingkat Kerawanan Banjir Kecamatan Baureno
berdasarkan Satuan Medan
Skoring Kerawanan Banjir
Satuan Total
No Curah Tutupan Kemiringn Genangn Kejdian Klasifikasi Kelas
Medan Skor
Hujan Lahan Lereng air Banjir
1 A-F1-Pmk 1 5 5 5 5 21 Rawan 4
2 A-F1-Sw 1 4 5 5 5 20 Rawan 4
3 A-F1-Tgl 1 3 5 5 5 19 Rawan 4
4 A-F2-Sw 1 4 5 4 4 18 Rawan 4
5 A-F3-Pmk 1 5 5 3 3 17 Sedang 3
6 A-F3-Sw 1 4 5 3 4 17 Sedang 3
7 A-F3-Tgl 1 3 5 3 3 15 Sedang 3
8 B-F1-Pmk 1 5 5 3 5 19 Rawan 4
9 B-F3-Kb 1 3 5 3 2 14 Sedang 3
10 B-F3-Pmk 1 5 5 3 2 16 Sedang 3
11 B-F3-Tgl 1 4 5 3 2 15 Sedang 3
12 B-F4-Pmk 1 5 5 2 1 14 Sedang 3
13 B-F4-Tgl 1 3 5 2 1 12 Kurang 2
Rawan
14 C-F3-Pmk 1 5 5 3 1 15 Sedang 3
15 C-F3-Tgl 1 3 5 3 1 13 Sedang 3
16 C-F4-Ht 1 2 5 2 1 11 Kurang 2
Rawan
17 C-F4-Pmk 1 5 5 2 1 14 Sedang 3
18 C-F4-Tgl 1 3 5 2 1 12 Kurang 2
Rawan
19 D-F4-Pmk 1 5 4 2 1 13 Sedang 3
20 D-F4-TK 1 2 4 2 1 10 Kurang 2
Rawan
21 D-S1-Tgl 1 3 4 1 1 10 Kurang 2
Rawan
22 E-S1-Tgl 1 3 commit
3 to user
1 1 9 Kurang 2
Rawan
perpustakaan.uns.ac.id 105
digilib.uns.ac.id

23 F-S1-TK 1 2 3 1 1 8 Kurang 2
Rawan
24 F-S1-Tgl 1 3 3 1 1 9 Kurang 2
Rawan
Sumber: Analisis data, tahun 2014

Berdasarkan data tabel di atas, dapat diketahui bahwa persebaran

wilayah tingkat kerawanan bencana banjir di Kecamatan Baureno cukup

bervariatif. Setiap parameter dilakukan pengharkatan dengan poin 1- 5 dengan

asumsi dasar semakin banyak skor maka memiliki pengaruh yang besar dan

juga sebaliknya. Setelah dilakukan scoring, maka selajutnya adalah

melakukan analisis data dengan cara tabulasi dan menambah tiap hasil scoring

dalam tiap parameter. Hasil penambahan dalam tabulasi tersebut yang

dijadikan dasar dalam menentukan wilayah rawan bencana. Semakin besar

nilai skor maka memiliki arti bahwa tingkat kerawanannya semakin tinggi.

Sehingga hasil dari analisis tabulasi diperoleh hasil sebagai berikut:

Tabel 31. Tingkat Kerawanan Banjir Kecamatan Baureno


No Tingkat Kerawanan Jumlah satuan medan Kelas
1. Kurang Rawan 8 2
2. Sedang 11 3
3. Rawan 5 4

Tabel di atas menunjukkan bahwa tingkat kerawanan banjir di

Kecamatan Baureno terdiri dari 3 kategori yaitu: kurang rawan, sedang dan

rawan. Jika disesuaikan dengan jumlah satuan medan yang termasuk kategori

dominan adalah pada tingkat sedang karena terdapat 11 satuan medan.

Sedangkan tingkat kurang rawan terdapat di 8 satuan medan dan yang paling

kecil adalah tingkat rawan yang memiliki jumlah 5 satuan medan. Tingkat
commit
kerawanan tertinggi paling banyak to userdi wilayah sempadan sungai.
terdapat
perpustakaan.uns.ac.id 106
digilib.uns.ac.id

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 107
digilib.uns.ac.id

2. Persepsi Masyarakat Terhadap Upaya Pengurangan Dampak Banjir

Data hasil penelitian untuk mengetahui persepsi masyarakat terhadap

upaya pengurangan dampak banjir diperoleh dengan menggunakan teknik

wawancara atau kuesioner. Kuesioner untuk mengetahui Persepsi Masyarakat

terhadap Upaya Pengurangan Dampak banjir ini, kemudian diolah dengan

memeriksa jawaban dari respoden, setelah itu hasilnya di skorkan dan

difrekuensi dengan menggunakan teknik tabulasi. Data yang ada dalam

kuesioner meliputi antara lain: Identitas responden, pengetahuan tentang

upaya pengurangan dampak banjir, skala sikap tentang upaya pengurangan

dampak banjir dan tindakan terhadap upaya pengurangan dampak banjir.

Berikut merupakan deskripsi dari data hasil kuesioner:

a. Identitas Responden

1) Usia Responden

Identitas yang pertama dalam penelitian ini adalah usia responden.

Untuk usia responden dapat dilihat pada Tabel 32 dibawah ini:

Tabel 32. Usia Responden


Umur (tahun) Frekuensi Prosentase %
15- 19 2 1,53
20- 24 11 8,40
25- 29 10 7,63
30- 34 13 9,92
35- 39 4 3,05
40- 44 12 9,16
45- 49 27 20,61
50- 54 23 17,56
55- 59 24 18,32
60- 64 5 3,82
Total 131
commit to user 100,00%
Sumber: Kecamatan Baureno Dalam Angka Tahun 2013
perpustakaan.uns.ac.id 108
digilib.uns.ac.id

Berdasarkan tabel di atas, responden yang paling banyak yaitu

yang berumur 45– 49 tahun dengan frekuensi 27 orang dengan

persentase 20,61%. Pada rentangan usia ini penduduk masih dalam

usia produktif. Jadi responden lebih bisa berfikir rasional dan sesuai

dengan fakta dalam menjawab. Sedangkan responden yang paling

sedikit adalah pada usia 15- 19 dengan frekuensi 2 orang dan

prosentase 1,53%. Peneliti mengambil dari tingkat berbagai umur agar

mendapatkan data yang lebih bervariatif. Peneliti masih mengambil

responden pada usia diatas 60 tahun, karena dianggap mereka yang

lebih berpengalaman dan memiliki rekam jejak terkait dengan bencana

banjir yang ada di sekitar tempat tinggal mereka.

2) Jenis Kelamin

Jenis kelamin responden pada penelitian ini dapat dilihat pada

tabel 33 sebagai berikut :

Tabel 33. Jenis Kelamin Responden


Jenis Kelamin Frekuensi Persentase (%)
Laki - laki 61 46,9 %
Perempuan 70 53,1 %
Total 131 100
Sumber: Masyarakat Kecamatan Baureno

Dari tabel di atas dapat disimpulkan bahwa responden paling

banyak adalah dari jenis kelamin perempuan yaitu berjumlah 70 orang

dengan persentase 53,1%. Hal ini disebabkan karena peneliti banyak

menemukan responden perempuan dibandingkan responden laki-laki,

karena penduduk laki-laki masih banyak yang bekerja atau


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 109
digilib.uns.ac.id

melaksanakan aktifitas pada siang hari. Di samping itu peneliti ingin

mengetahui sejauh mana persepsi (pengetahuan) responden perempuan

dalam upaya pengurangan dampak banjir.

3) Pendidikan Responden

Pendidikan responden dalam penelitian ini adalah pendidikan

terakhir yang ditempuh oleh responden. Pendidikan responden dapat

di lihat pada tabel 34 berikut:

Tabel 34. Tingkat Pendidikan Responden


Tingkat Pendidikan Frekuensi Persentase (%)
SD 50 38,5
SMP 26 19,9
SMA 44 33,3
Perguruan Tinggi 11 8,3
Total 131 100
Sumber: Masyarakat Kecamatan Baureno

Dari tabel di atas dapat disimpulkan bahwa tingkat pendidikan

responden yang paling banyak adalah tingkat SD yaitu 50 orang

responden. Hal ini di karenakan responden yang kebetulan peneliti

temui pada umumnya adalah kaum perempuan (ibu rumah tangga)

yang hanya mengenyam pendidikan pada tingkat SD saja.

4) Pekerjaan

Pekerjaan pada penelitian ini terdiri dari petani, buruh tani, PNS,

wiraswasta, dan selain yang disebut di atas atau dalam angket disebut

lainnya. Pekerjaan responden dalam penelitian dapat dilihat pada tabel

35 berikut:

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 110
digilib.uns.ac.id

Tabel 35. Jenis Pekerjaan Responden


Jenis pekerjaan Frekuensi Persentase (%)
Petani / Peternak 41 31,2
Buruh tani 8 6,3
PNS 3 2,1
Wiraswasta 66 50
Lainnya 14 10,4
Total 131 100
Sumber: Masyarakat Kecamatan Baureno

Berdasarkan tabel di atas dapat disimpulkan bahwa jenis

pekerjaan yang paling banyak pada data responden adalah Wiraswasta

yaitu berjumlah 66 jiwa dengan persentase 50%. Para responden yang

mempunyai pekerjaan sebagai wiraswastawan ini umumnya juga

mempunyai pekerjaan sampingan beternak atau bertani. Pekerjaan

tersebut dilakukan guna menambah penghasilan keluarga.

b. Persepsi (pengetahuan, sikap, tindakan) Masyarakat terhadap Upaya

Pengurangan Dampak Banjir di Kecamatan Baureno

Persepsi masyarakat terhadap upaya pengurangan banjir di

Kecamatan Baureno ini meliputi:

1) Pengetahuan

Pengetahuan masyarakat Baureno terhadap upaya pengurangan

dampak banjir ini adalah tingkat pengetahuan masyarakat terhadap

upaya pengurangan dampak banjir, yang meliputi: a). Pengetahuan/

mengetahui, b). Pemahaman/ memahami, c). Penerapan/ menerapkan,

d). Penjabaran/ menjabarkan, e). Penyusunan/ menyusun, f). Penilaian/

menilai tentang pengetahuan terhadap upaya pengurangan dampak


commit to user
banjir di Kecamatan Baureno.
perpustakaan.uns.ac.id 111
digilib.uns.ac.id

a) Pengetahuan/ mengetahui

Tingkat pengetahuan ini diklasifikasikan atau dikategorikan

ke dalam empat tingkatan kategori yaitu: sangat tahu,tahu, cukup

tahu,dan tidak tahu. Frekuensi masing-masing kategori tersebut,

lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 36 berikut:

Tabel 36. Pengetahuan tentang upaya pengurangan dampak banjir


No Kategori Frekuensi Persentase (%)
1. Sangat tahu 36 27,1
2. Tahu 46 35,4
3. Cukup tahu 37 28,1
4. Tidak tahu 12 9,4
Jumlah 131 100
Sumber: Masyarakat Kecamatan Baureno

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa responden yang

berjumlah 46 jiwa dari 131 responden yang telah tahu tentang

upaya pengurangan dampak banjir dengan persentase berjumlah

35,4%. Pengetahuan tentang upaya pengurangan dampak banjir

serta merawat lingkungan sekitar tempat tinggal warga.

Pengetahuan tersebut telah didapatkan dari penyuluhan didesa

maupun di kecamatan. Penyuluhan tersebut biasanya berisi tentang

pengetahuan (informasi dan materi) tentang upaya pengurangan

dampak banjir serta upaya pelestarian lingkungan

b) Pemahaman tentang upaya pengurangan dampak banjir

Pemahaman ini merupakan tingkatan dimana seseorang

mampu menjelaskan dan menafsirkan dengan benar hal-hal yang

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 112
digilib.uns.ac.id

diketahuinya. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada tabel 37

berikut:

Tabel 37. Pemahaman tentang upaya pengurangan dampak banjir


No Kategori Frekuensi Persentase (%)
1. Sangat tahu 25 18,8
2. Tahu 52 39,6
3. Cukup tahu 44 33,3
4. Tidak tahu 11 8,3
5. Jumlah 131 100
Sumber: Masyarakat Kecamatan Baureno

Masyarakat paham tentang upaya pengurangan dampak

banjir, hal ini terlihat pada tabel diatas yaitu responden yang

berjumlah 52 jiwa atau 39,6% tahu dan paham. Responden

menganggap dirinya tahu tentang langkah dan teknik dalam upaya

pengurangan dampak banjir dengan mampu menyebutkan,

menjelaskan tentang upaya pelestarian lingkungan serta sebab dan

dampak dari adanya banjir.

c) Penerapan/ aplikasi dari pengetahuan tentang pelaksanaan

upaya pengurangan dampak banjir.

Penerapan merupakan kemampuan masyarakat untuk

menggunakan materi yang telah didapat dalam kehidupan sehari-

hari. Pertanyaan yang terdapat pada kuesioner, dalam hal

penerapan ini dapat menunjukkan kemampuan responden dalam

menggunakan atau mengaplikasikan pengetahuannya dalam bentuk

kegiatan terhadap upaya pengurangan dampak banjir. Lebih

jelasnya dapat dilihat pada to


commit tabel
user38 berikut:
perpustakaan.uns.ac.id 113
digilib.uns.ac.id

Tabel 38. Penerapan pengetahuan tentang upaya pengurangan


dampak banjir
No Kategori Frekuensi Persentase (%)
1. Sangat tahu 50 38,5
2. Tahu 57 43,8
3. Cukup tahu 14 10,4
4. Tidak tahu 10 7,3
5. Jumlah 131 100
Sumber: Masyarakat Kecamatan Baureno

Dari adanya penyuluhan-penyuluhan yang dilakukan didesa

maupun di kecamatan oleh pejabat yang berwewenang (dari BPBD

Kabupaten Bojonegoro), maka masyarakat antusias untuk segera

melakukan apa yang telah didapat dari penyuluhan tersebut. Ini

dibuktikan bahwa mereka telah menerapkan nya dalam kehidupan

sehari-hari yaitu cara pengurangan dampak banjir. Hampir

setengah dari jumlah seluruh responden, yaitu 57 orang tahu

tentang hal tersebut diatas dengan persentase 43,8%. Dari data di

atas yang berjumlah 50 orang atau 38,5% sudah sangat tahu

tentang cara pengaplikasian teknik-teknik dalam upaya

pengurangan dampak banjir.

d) Penjabaran/ analisis tentang upaya pengurangan dampak banjir

Penjabaran merupakan suatu kemampuan untuk menjabarkan

materi atau subyek dalam komponen-komonen. Komponen-

komponen yang dimaksud adalah usaha dalam upaya pengurangan

dampak banjir, lebih jelasnya bisa dilihat dalam tabel 39 berikut:

Tabel 39. Penjabaran tentang upaya pengurangan dampak banjir


No Kategori Frekuensi Persentase (%)
1. Sangat tahu 27 20,8
2. Tahu commit to user 44 33,4
perpustakaan.uns.ac.id 114
digilib.uns.ac.id

3. Cukup tahu 37 28,1


4. Tidak tahu 23 17,7
5. Jumlah 131 100
Sumber: Masyarakat Kecamatan Baureno
Berdasarkan tabel di atas dapat disimpulkan bahwa

masyarakat bisa menjabarkan tentang kondisi geografis desa,

termasuk didalamnya iklim (yaitu kondisi curah hujannya, jenis

tanah, struktur tanah, sungai yang menyebabkan banjir limpasan)

dan usaha pengurangan dampak banjir yang cocok dilakukan

menurut kondisi geografis desa tersebut, serta alat apa saja yang

harus disediakan untuk melakukan usaha pengurangan dampak

banjir. Dari 44 orang responden, mereka menjawab tahu tentang

hal tersebut diatas dengan persentase 33,4%.

e) Penyusunan (sintesis) usaha–usaha dalam upaya pengurangan

dampak banjir.

Sintesis menunjuk pada suatu kemampuan untuk meletakkan

atau menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk

keseluruhan yang baru yaitu dalam hal penyusunan. Masyarakat

mampu menyusun usaha-usaha dalam upaya mengurangi dampak

banjir. Untuk lebih jelasnya pada tabel 40 sebagai berikut:

Tabel 40. Penyusunan (sintesis) usaha-usaha dalam


pengurangan dampak
No Kategori Frekuensi Persentase (%)
1. Sangat tahu 19 14,6
2. Tahu 75 57,3
3. Cukup tahu 25 18,8
4. Tidak tahu 12 9,3
Jumlah 131 100
commit to user
Sumber: Masyarakat Kecamatan Baureno
perpustakaan.uns.ac.id 115
digilib.uns.ac.id

Berdasarkan tabel diatas dapat disimpulkan bahwa

masyarakat yang berjumlah 12 orang tidak tahu tentang bagaimana

menyusun teknik-teknik dalam upaya pengurangan dampak banjir,

sehingga persentse dari adanya kategori tersebut berjumlah 9,3%.

Hal ini juga dipengaruhi oleh kurang menyebar luasnya informasi

tentang upaya pengurangan dampak banjir terutama pada usaha

penyusunannya. Upaya tersebut seperti pendanaan untuk

membangun tanggul Sungai Bengawan Solo yang diberikan oleh

pemerintah Kabupaten Bojonegoro. Disisi lain masyarakat tahu

tentang hal tersebut diatas yaitu berjumlah 75 orang responden

dengan persentase 57,3%. Jadi, lebih dari separoh dari responden

tahu cara penyusunan teknik pengurangan dampak banjir.

f) Penilaian (evaluasi) terhadap upaya pengurangan dampak

banjir.

Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan

justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau obyek. Dalam

hal ini evaluasi dilakukan untuk menilai hasil dari upaya

pengurangan dampak banjir. Masyarakat selalu berupaya untuk

tidak rugi terlalu banyak jika banjir datang, maka mereka selalu

bekerja keras dan optimal untuk melakukan upaya pengurangan

dampak banjir agar hasilnya maksimal.

Tabel 41. Penilaian (evaluasi) terhadap upaya pengurangan


dampak banjir
No Kategori Frekuensi Persentase(%)
commit to user
1. Sangat tahu 36 27,1
perpustakaan.uns.ac.id 116
digilib.uns.ac.id

2. Tahu 56 42,7
3. Cukup tahu 19 14,6
4. Tidak tahu 20 15,6
Jumlah 131 100
Sumber: Masyarakat Kecamatan Baureno
Dari tabel di atas untuk kategori tahu, memiliki frekuensi 56

orang responden sehingga memiliki presentase 42,7%. Dari data

tersebut bahwa masyarakat tahu jika melakukan upaya

pengurangan dampak banjir tersebut akan berhasil jika dilakukan

dengan usaha yang optimal. Ini sama halnya seperti diatas bahwa

mereka tidak akan kehilangan harta benda dan nyawa jika tidak

melakukan langkah-langkah yang sudah ada.

Dari enam tingkatan pengetahuan tentang upaya pengurangan

dampak banjir di atas, dapat dibuat rentang skor dalam pengklasifikasian

pengetahuan. Dari adanya klasifikasi atau rentang skor tersebut dapat

diketahui tingkatan pengetahuan masyarakat tentang upaya pengurangan

dampak banjir. Lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 42 dibawah ini:

Tabel 42. Rentang skor Pengetahuan


No Rentang skor Kategori
1. 17 - 29 Rendah / tidak tahu
2. 30 – 42 Cukup tinggi / cukup tahu
3. 43 – 55 Tinggi / tahu
4. 56 – 68 Sangat tinggi/ sangat tahu

Pada tabel diatas menunjukkan klasifikasi dari tingkat pengetahuan

pada persepsi masyarakat tentang upaya pengurangan dampak banjir, yang

mana pada tabel tersebut diatas, responden dengan rentang skor 17 – 29

memiliki kategori rendah, perhitungan ini dimulai dari jumlah soal yaitu
commit to user
17 butir kuesioner pengetahuan. Dari 17 butir soal tersebut dikali skor
perpustakaan.uns.ac.id 117
digilib.uns.ac.id

tertinggi yaitu 4, dan didapatkan rentang skor, sehingga hasil rentang skor

tersebut diatas diperoleh 4 kategori. Skor 30- 42 termasuk kategori cukup

tinggi, skor 43- 55 termasuk kategori tinggi dan skor 56- 68 termasuk skor

sangat tinggi. Berdasarkan data kuesioner, pengetahuan masyarakat

terhadap banjir adalah berikut ini:

Tabel 43. Data Responden Skor Pengetahuan


Tingkat Total
NO Nama Responden Kategori
Kerawanan Banjir Skor
1. Sri Lestari Sedang 55 Tinggi/ Setuju
2. Agus Sugito Sedang 55 Tinggi/ Setuju
3. Erma Sedang 58 Tinggi/ Setuju
4. Yan Sedang 59 Tinggi/ Setuju
5. Petrus Susanto Rawan 45 Cukup Tinggi
6. Ani Rusilawati Rawan 47 Cukup Tinggi
7. Hasan Kurang Rawan 62 Tinggi/ Setuju
8. Abdul Hadat Kurang Rawan 58 Tinggi/ Setuju
9. Edi Kurang Rawan 58 Tinggi/ Setuju
10. Jaelani Sedang 58 Tinggi/ Setuju
11. Yusuf Sedang 55 Tinggi/ Setuju
12. Ahmadi Sedang 55 Tinggi/ Setuju
13. Abdul Salam Sedang 55 Tinggi/ Setuju
14. Isah Sedang 54 Tinggi/ Setuju
15. Sum Sedang 58 Tinggi/ Setuju
16. Suripni Sedang 59 Tinggi/ Setuju
17. Wariah Sedang 60 Tinggi/ Setuju
18. Waginem Kurang Rawan 56 Tinggi/ Setuju
19. Joko Saryano Kurang Rawan 39 Cukup Tinggi
20. Sutrisno Rawan 56 Tinggi/ Setuju
21. Musro Abdullah Rawan 58 Tinggi/ Setuju
22. Husein Rawan 59 Tinggi/ Setuju
23. Atun Sedang 55 Tinggi/ Setuju
24. Sumeidi Sedang 55 Tinggi/ Setuju
25. Sumini Sedang 55 Tinggi/ Setuju
26. Iswanto Sedang 60 Tinggi/ Setuju
27. Yuni Sedang 60 Tinggi/ Setuju
28. Arif Sedang 61 Tinggi/ Setuju
29. Anwar Sedang 66 Tinggi/ Setuju
30. Sumiyem Sedang 56 Tinggi/ Setuju
31. Parno Sedang 54 Tinggi/ Setuju
32. Selamet Widodo Sedang 60 Tinggi/ Setuju
33. Wuryanto Sedang 60 Tinggi/ Setuju
34. Sri Hartanti Sedang 60 Tinggi/ Setuju
35. Purwoko Sedang 61 Tinggi/ Setuju
36. Suminah Sedang 62 Tinggi/ Setuju
37. Sarpo Sedang 62 Tinggi/ Setuju
38. Yayuk Sedang 56 Tinggi/ Setuju
39. Tumino Rawan 43 Cukup Tinggi
40. Yanto Rawan 48 Cukup Tinggi
41. Widodo Rawan 61 Tinggi/ Setuju
42. Abdullah commit to user
Sedang 48 Cukup Tinggi
43. Hadi Purwanto Sedang 63 Tinggi/ Setuju
perpustakaan.uns.ac.id 118
digilib.uns.ac.id

44. Sri Rawan 64 Tinggi/ Setuju


45. Sulis Rawan 65 Tinggi/ Setuju
46. Sukamto Sedang 63 Tinggi/ Setuju
47. Sri Pujiati Sedang 60 Tinggi/ Setuju
48. Anik Winami Sedang 60 Tinggi/ Setuju
49. Nur Sedang 60 Tinggi/ Setuju
50. Aswiyah Sedang 61 Tinggi/ Setuju
51. Santi Sedang 57 Tinggi/ Setuju
52. Warsito Sedang 57 Tinggi/ Setuju
53. Sri Harjono Sedang 57 Tinggi/ Setuju
54. Narto Sedang 58 Tinggi/ Setuju
55. Suprapto Sedang 55 Tinggi/ Setuju
56. Sukadi Sedang 54 Tinggi/ Setuju
57. Katim Sedang 55 Tinggi/ Setuju
58. Maryani Sedang 55 Tinggi/ Setuju
59. Wahyudi Sedang 38 Cukup Tinggi
60. Maulana Sedang 55 Tinggi/ Setuju
61. Budi Purnomo Sedang 63 Tinggi/ Setuju
62. Waluyo Sedang 60 Tinggi/ Setuju
63. Sulung Kurang Rawan 61 Tinggi/ Setuju
64. Salim Kurang Rawan 61 Tinggi/ Setuju
65. Sri Lestari Sedang 64 Tinggi/ Setuju
66. Sri Mulyani Sedang 65 Tinggi/ Setuju
67. Nanik Sedang 64 Tinggi/ Setuju
68. Agus Sumarno Sedang 74 Sangat Tinggi
69. Agung Sedang 78 Sangat Tinggi
70. Parmin Sedang 67 Tinggi/ Setuju
71. Giatno Sedang 57 Tinggi/ Setuju
72. Mustofa Kurang Rawan 57 Tinggi/ Setuju
73. Sri Hastu Kurang Rawan 57 Tinggi/ Setuju
74. Latief Kurang Rawan 57 Tinggi/ Setuju
75. Sriyani Sedang 56 Tinggi/ Setuju
76. Ratna Helina Sedang 55 Tinggi/ Setuju
77. Zainal Abidin Sedang 58 Tinggi/ Setuju
78. Bagus Sukodri Sedang 57 Tinggi/ Setuju
79. Joko Pitoyo Sedang 60 Tinggi/ Setuju
80. Anastasia W Sedang 60 Tinggi/ Setuju
81. Gadsea Patora Pitoyo Sedang 62 Tinggi/ Setuju
82. Sixma Nasta Pitoyo Sedang 62 Tinggi/ Setuju
83. Sugiyono Sedang 63 Tinggi/ Setuju
84. Yuni Tasmiati Sedang 61 Tinggi/ Setuju
85. Yohanes Prabowo Sedang 40 Cukup Tinggi
86. Rochmad Sedang 60 Tinggi/ Setuju
87. Abdul Mufid Sedang 60 Tinggi/ Setuju
88. Aprilia Hapsari Sedang 60 Tinggi/ Setuju
89. Bayu Arya Sedang 63 Tinggi/ Setuju
90. Joko Susilo Sedang 63 Tinggi/ Setuju
91. Eno Prastyo Ramadhan Sedang 64 Tinggi/ Setuju
92. Januar Prasetyo Sedang 60 Tinggi/ Setuju
93. Gama Darmaputra Sedang 60 Tinggi/ Setuju
94. Supriadi Sedang 43 Cukup Tinggi
95. Suryo Hadi Sumitro Sedang 73 Sangat Tinggi
96. Ardhana Cahaya H. Kurang Rawan 55 Tinggi/ Setuju
97. Kasdiono Kurang Rawan 55 Tinggi/ Setuju
98. Wibi Setiawan Sedang 54 Tinggi/ Setuju
99. Ilham Budi R commit to user
Sedang 54 Tinggi/ Setuju
100. Wiyudha Betha Dinaragis Sedang 54 Tinggi/ Setuju
perpustakaan.uns.ac.id 119
digilib.uns.ac.id

101. Muh. Choiril Anwar Sedang 56 Tinggi/ Setuju


102. Hasyimi Rafsanjani Sedang 57 Tinggi/ Setuju
103. Yogiswara Manitis Aji Sedang 54 Tinggi/ Setuju
104. Aji Christian Sedang 62 Tinggi/ Setuju
105. Karsini Sedang 61 Tinggi/ Setuju
106. Erwan Nugroho Rawan 60 Tinggi/ Setuju
107. Nimas Nastiti Putri Sedang 48 Cukup Tinggi
108. Sri Sulastri Sedang 54 Tinggi/ Setuju
109. Fatoni Sedang 55 Tinggi/ Setuju
110. Anton Robani Sedang 54 Tinggi/ Setuju
111. Farah Rachmawati Sedang 55 Tinggi/ Setuju
112. Gandung Jayadi Sedang 59 Tinggi/ Setuju
113. Savitri Ayuningtyas Sedang 57 Tinggi/ Setuju
114. Riandika Argatya Rawan 56 Tinggi/ Setuju
115. Rifqi Galih Sedang 57 Tinggi/ Setuju
116. Tri Febriyanto Sedang 55 Tinggi/ Setuju
117. Dewi Ayu Pitaloka Sedang 56 Tinggi/ Setuju
118. M. Arief Fathurochman Sedang 57 Tinggi/ Setuju
119. Henrian Rizki P. Sedang 56 Tinggi/ Setuju
120. Cynthia Purnama Rawan 65 Tinggi/ Setuju
121. Radit putra Widi Sedang 61 Tinggi/ Setuju
122. Zuvita Nurul Sedang 50 Cukup Tinggi
123. Yohana Savitri Sedang 70 Sangat Tinggi
124. Darwito Sedang 46 Cukup Tinggi
125. Anggi Murtiningrum Sedang 55 Tinggi/ Setuju
126. Monita Silvia Anggraini Sedang 56 Tinggi/ Setuju
127. Rizky Fatmala Furi Sedang 59 Tinggi/ Setuju
128. Artika Windianarti Sedang 60 Tinggi/ Setuju
129. Sayekti Hadiati Sedang 60 Tinggi/ Setuju
130. Taufan Dwi J. Sedang 62 Tinggi/ Setuju
131. Nanik Galih Sedang 62 Tinggi/ Setuju
Sumber: Analisis data Tahun 2014

Data responden di atas kemudian dikelompokkan berdasarkan

frekuensi dan prosentase. Berdasarkan persebaran data skor pengetahuan

di atas akan diperoleh kriteria tingkat pengetahuan masyarakat terhadap

banjir. Data klasifikasi tingkat pengetahuan masyarakat terhadap upaya

pengurangan dampak banjir tersebut adalah sebagai berikut:

Tabel 44. Tingkat pengetahuan masyarakat tentang upaya


pengurangan dampak banjir
Tingkat Tingkat
No Frekuensi Persentase (%)
Kerawanan pengetahuan
1. Rawan Sangat tinggi 0 0,00
Tinggi 9 6,87
commit to user
Cukup tinggi 4 3,05
perpustakaan.uns.ac.id 120
digilib.uns.ac.id

2. Sedang Sangat tinggi 4 3,05


Tinggi 95 72,52
Cukup tinggi 7 5,34
3. Kurang Rawan Sangat tinggi 0 0,00
Tinggi 11 8,40
Cukup tinggi 1 0,76
Jumlah 131 100
Sumber: Masyarakat Kecamatan Baureno

Tabel di atas menunjukkan komparasi antara tingkat kerawanan

banjir dengan tingkat pengetahuan masyarakat terhadap upaya

penanggulangan banjir. Data di atas menunjukkan bahwa prosentase

paling besar terdapat pada wilayah kerawanan sedang dengan tingkat

pengetahuan tentang upaya pengurangan dampak banjir yang tinggi yaitu

sebesar 72,52%. Pada dasarnya tingkat kerawanan wilayah tidak ada

pengaruhnya dengan tingkat pengetahuan. Hal ini terbukti bahwa pada

wilayah tingkat “rawan” tingkat pengetahuan masyarakat masih tergolong

rendah yaitu hanya 6,87 %. Sedangkan untuk tingkat wilayah “kurang

rawan” tingkat pengetahuan masyarakat justru mencapai 8,40%. Kondisi

tersebut menunjukkan bahwa persebaran masyarakat yang dominan pada

wilayah kerawanan “sedang” mempengaruhi tingkat pemahaman

masyarakat yang tinggi. Sehingga dapat diketahui bahwa masyarakat

memiliki variasi yang beragam dan tidak melihat pada tingkat kerawanan

banjir. Kondisi ini dipengaruhi oleh latar belakang masyarakat, tingkat

pendidikan dan sosiokultur masyarakat.

2) Persepsi (sikap) masyarakat terhadap upaya pengurangan dampak

banjir
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 121
digilib.uns.ac.id

Sikap merupakan suatu respon terhadap stimulus sosial yang telah

terkondisikan. Dalam persepsi (tentang sikap ini) memiliki 3 indikator

yaitu: a). pemahaman terhadap pengurangan dampak banjir, b). perasaan

terhadap upaya pengurangan dampak banjir, c). kecenderungan berbuat

dalam upaya pengurangan dampak banjir.

a) Pemahaman terhadap upaya pengurangan dampak banjir

Pemahaman di bentuk dari adanya suatu kepercayaan terhadap

keadaan yang bisa dilihat maupun yang dialami. Berdasarkan apa

yang telah dilihat itu, kemudian terbentuk suatu ide dan gagasan

mengenai sifat dan karakteristik umum suatu obyek. Pemahaman

tentang upaya pengurangan dampak banjir lebih lengkapnya dapat

dilihat pada tabel 45 berikut:

Tabel 45. Pemahaman terhadap upaya pengurangan dampak banjir


No Kategori Frekuensi Persentase (%)
1. Sangat setuju 40 30,3
2. Setuju 74 56,2
3. Cukup setuju 11 8,3
4. Tidak setuju 7 5,2
Jumlah 131 100
Sumber : Masyarakat Kecamatan Baureno

Dari tabel di atas dapat disimpulkan bahwa masyarakat paham

akan adanya upaya pengurangan dampak banjir serta upaya dalam

menjaga kelestarian lingkungan. Bisa dibuktikan dalam pernyataan

responden yang lebih memilih setuju dengan frekuensi 74 orang

responden dengan persentase 56,2%. Sikap yang menunjukkan bahwa

masyarakat paham terhadap


commitupaya pengurangan dampak banjir adalah
to user
perpustakaan.uns.ac.id 122
digilib.uns.ac.id

dengan membangun tanggul sederhana yang terbuat dari tanah hasil

swadaya masyarakat desa. Tanggul tersebut di pertinggi agar bisa

menampung air Bengawan Solo jika meluap pada musim penghujan

dan melindungi permukiman penduduk sekitar DAS Bengawan Solo.

b) Perasaan terhadap upaya pengurangan dampak banjir

Perasaan merupakan masalah emosional subjektif seseorang

terhadap suatu obyek yaitu berupa sikap. Pada penelitian ini sikap

responden dapat diukur dengan menggunakan opsi seperti pada tabel

36 di atas. Hal ini berguna untuk mengetahui sejauh mana sikap dan

perasaan mereka setelah adanya banjir dan setelah melaksanakan

upaya pengurangan dampak banjir. Hal ini dapat dilihat pada tabel 46

berikut:

Tabel 46. Perasaan terhadap upaya pengurangan dampak banjir


No Kategori Frekuensi Persentase (%)
1. Sangat setuju 50 38,5
2. Setuju 66 50,1
3. Cukup setuju 11 8,3
4. Tidak setuju 4 3,1
Jumlah 131 100
Sumber: Masyarakat Kecamatan Baureno

Berdasarkan tabel diatas dapat di ketahui bahwa responden

setuju dengan adanya usaha pengurangan dampak banjir. Jumlah dari

responden yang menyatakan sutuju adalah 66 orang responden dengan

persentase 50,1%. Berarti setengah dari jumlah responden merasa

atau percaya jika dengan adanya penyuluhan atau penerapan teknik

dalam upaya pengurangan dampak


commit to userbanjir akan memberikan manfaat
perpustakaan.uns.ac.id 123
digilib.uns.ac.id

yang besar pada kehidupan warga. Upaya ini juga bisa

menyembuhkan rasa trauma warga terhadap bencana, seperti takut dan

gelisah, dapat juga sebagai terapi psikis untuk masyarakat korban

banjir yang masih terganggu kejiwaannya tersebut.

c) Kecenderungan berbuat untuk melakukan upaya pengurangan

dampak banjir.

Kecenderungan berbuat atau disebut dengan kecenderungan

berperilaku merupakan suatu sikap yang menunjukkan bagaimana

seseorang berperilaku berkaitan dengan obyek yang dihadapinya.

Untuk lebih jelasnya bisa dilihat dalam tabel 47 berikut:

Tabel 47. Kecenderungan berbuat untuk melakukan upaya


pengurangan dampak banjir
No Kategori Frekuensi Persentase (%)
1. Sangat setuju 19 14,6
2. Setuju 76 58,3
3. Cukup setuju 22 16,7
4. Tidak setuju 14 10,4
Jumlah 131 100
Sumber: Masyarakat Kecamatan Baureno
Pada tabel diatas responden yang berjumlah 76 orang dengan

persentase 58% menyatakan setuju dengan adanya usaha dalam

mengurangi dampak banjir. Mereka memiliki alasan bahwa upaya

tersebut membawa dampak yang baik untuk kehidupan mereka.

Dengan adanya upaya tersebut bisa merubah pemikiran masyarakat

yang masih bersikap pasrah dan yang masih mempertahankan nilai

kemasyarakatannya. Sisi lain responden ada yang menyatakan tidak

setuju yaitu berjumlah 14 orang responden dengan persentase 10,4%.


commit to user
Alasan beberapa responden memilih pernyataan tersebut karena warga
perpustakaan.uns.ac.id 124
digilib.uns.ac.id

merasa desa tempat tinggalnya memang langganan banjir setiap tahun

pada musim penghujan. Jadi tidak ada manfaat apapun juga jika

dilakukan upaya pengurangan dampak banjir, karena harta benda akan

tetap tenggelam dan dampaknya sama dengan tahun sebelumnya.

Pengukuran sikap masyarakat ini menggunakan pilihan atau

kategori sangat setuju, setuju, cukup setuju, dan tidak setuju. Rentang

skor pada masing-masing bentuk sikap masyarakat dapat dilihat pada

tabel 48 berikut:

Tabel 48. Rentang skor sikap masyarakat terhadap upaya


pengurangan dampak banjir
No Rentang skor / klasifikasi Kategori
1. 20 – 35 Rendah / tidak setuju
2. 36 – 51 Cukup tinggi / cukup setuju
3. 52 – 67 Tinggi / setuju
4. 68 – 80 Sangat tinggi / sangat setuju
Sumber: Hasil penghitungan Penulis

Berdasarkan tabel diatas menunjukkan klasifikasi dari tingkat

sikap responden terhadap upaya pengurangan dampak banjir, pada

tabel tersebut diatas responden dengan rentang skor 20- 35 memiliki

kategori rendah, perhitungan ini dimulai dari jumlah soal yaitu 20

butir kuesioner sikap. Dari 20 butir soal tersebut dikali skor tertinggi

yaitu 4 sehingga hasil rentang skor tersebut diperoleh 4 kategori.

Berdasarkan hasil penelitian dengan menggunakan instrumen

kuesioner tingkat skor sikap masyarakat terhadap dampak banjir

cukup bervariasi. Sebagian besar masyarakat tergolong pada tingkat

kategori tinggi atau setuju dengan adanya sikap untuk menekan

dampak banjir yang commit to user


ada diwilayahnya. Untuk lebih jelasnya data
perpustakaan.uns.ac.id 125
digilib.uns.ac.id

responden pada skor sikap masyarakat terhadap dampak banjir adalah

sebagai berikut:

Tabel 49. Data Responden Skor Sikap


Tingkat Total
NO Nama Responden Kategori
Kerawanan Banjir Skor
1. Sri Lestari Sedang 55 Tinggi/ Setuju
2. Agus Sugito Sedang 55 Tinggi/ Setuju
3. Erma Sedang 58 Tinggi/ Setuju
4. Yan Sedang 59 Tinggi/ Setuju
5. Petrus Susanto Rawan 45 Cukup Tinggi
6. Ani Rusilawati Rawan 47 Cukup Tinggi
7. Hasan Kurang Rawan 62 Tinggi/ Setuju
8. Abdul Hadat Kurang Rawan 58 Tinggi/ Setuju
9. Edi Kurang Rawan 58 Tinggi/ Setuju
10. Jaelani Sedang 58 Tinggi/ Setuju
11. Yusuf Sedang 55 Tinggi/ Setuju
12. Ahmadi Sedang 55 Tinggi/ Setuju
13. Abdul Salam Sedang 55 Tinggi/ Setuju
14. Isah Sedang 54 Tinggi/ Setuju
15. Sum Sedang 58 Tinggi/ Setuju
16. Suripni Sedang 59 Tinggi/ Setuju
17. Wariah Sedang 60 Tinggi/ Setuju
18. Waginem Kurang Rawan 56 Tinggi/ Setuju
19. Joko Saryano Kurang Rawan 39 Cukup Tinggi
20. Sutrisno Rawan 56 Tinggi/ Setuju
21. Musro Abdullah Rawan 58 Tinggi/ Setuju
22. Husein Rawan 59 Tinggi/ Setuju
23. Atun Rawan 69 Sangat Tinggi
24. Sumeidi Rawan 70 Sangat Tinggi
25. Sumini Rawan 70 Sangat Tinggi
26. Iswanto Rawan 75 Sangat Tinggi
27. Yuni Kurang Rawan 48 Cukup Tinggi
28. Arif Kurang Rawan 45 Cukup Tinggi
29. Anwar Sedang 66 Sangat Tinggi
30. Sumiyem Sedang 56 Sangat Tinggi
31. Parno Sedang 54 Tinggi/ Setuju
32. Selamet Widodo Sedang 60 Tinggi/ Setuju
33. Wuryanto Sedang 60 Tinggi/ Setuju
34. Sri Hartanti Sedang 60 Tinggi/ Setuju
35. Purwoko Sedang 61 Tinggi/ Setuju
36. Suminah Sedang 62 Tinggi/ Setuju
37. Sarpo Sedang 62 Tinggi/ Setuju
38. Yayuk Kurang Rawan 39 Cukup Tinggi
39. Tumino Rawan 43 Cukup Tinggi
40. Yanto Rawan 48 Cukup Tinggi
41. Widodo Rawan 61 Tinggi/ Setuju
42. Abdullah Sedang 48 Cukup Tinggi
43. Hadi Purwanto Sedang 63 Tinggi/ Setuju
44. Sri Rawan 64 Tinggi/ Setuju
45. Sulis Rawan 65 Tinggi/ Setuju
46.
47.
Sukamto
Sri Pujiati
commit to user
Sedang
Sedang
63
60
Sangat Tinggi
Sangat Tinggi
perpustakaan.uns.ac.id 126
digilib.uns.ac.id

48. Anik Winami Sedang 60 Sangat Tinggi


49. Nur Sedang 60 Tinggi/ Setuju
50. Aswiyah Sedang 61 Tinggi/ Setuju
51. Santi Sedang 57 Tinggi/ Setuju
52. Warsito Sedang 57 Tinggi/ Setuju
53. Sri Harjono Sedang 57 Tinggi/ Setuju
54. Narto Sedang 58 Tinggi/ Setuju
55. Suprapto Sedang 55 Tinggi/ Setuju
56. Sukadi Sedang 54 Tinggi/ Setuju
57. Katim Sedang 55 Tinggi/ Setuju
58. Maryani Sedang 55 Tinggi/ Setuju
59. Wahyudi Sedang 38 Cukup Tinggi
60. Maulana Sedang 55 Tinggi/ Setuju
61. Budi Purnomo Sedang 63 Tinggi/ Setuju
62. Waluyo Sedang 60 Tinggi/ Setuju
63. Sulung Kurang Rawan 61 Tinggi/ Setuju
64. Salim Kurang Rawan 61 Tinggi/ Setuju
65. Sri Lestari Sedang 64 Tinggi/ Setuju
66. Sri Mulyani Sedang 65 Tinggi/ Setuju
67. Nanik Sedang 64 Tinggi/ Setuju
68. Agus Sumarno Sedang 74 Sangat Tinggi
69. Agung Sedang 78 Sangat Tinggi
70. Parmin Kurang Rawan 76 Sangat Tinggi
71. Giatno Kurang Rawan 70 Sangat Tinggi
72. Mustofa Kurang Rawan 57 Tinggi/ Setuju
73. Sri Hastu Kurang Rawan 57 Tinggi/ Setuju
74. Latief Kurang Rawan 57 Tinggi/ Setuju
75. Sriyani Rawan 74 Sangat Tinggi
76. Ratna Helina Rawan 74 Sangat Tinggi
77. Zainal Abidin Sedang 58 Tinggi/ Setuju
78. Bagus Sukodri Sedang 57 Tinggi/ Setuju
79. Joko Pitoyo Sedang 60 Tinggi/ Setuju
80. Anastasia W Sedang 60 Tinggi/ Setuju
81. Gadsea Patora Pitoyo Sedang 62 Tinggi/ Setuju
82. Sixma Nasta Pitoyo Sedang 62 Tinggi/ Setuju
83. Sugiyono Sedang 63 Tinggi/ Setuju
84. Yuni Tasmiati Sedang 61 Tinggi/ Setuju
85. Yohanes Prabowo Sedang 40 Cukup Tinggi
86. Rochmad Rawan 75 Cukup Tinggi
87. Abdul Mufid Rawan 72 Cukup Tinggi
88. Aprilia Hapsari Rawan 70 Cukup Tinggi
89. Bayu Arya Sedang 63 Tinggi/ Setuju
90. Joko Susilo Sedang 63 Tinggi/ Setuju
91. Eno Prastyo Ramadhan Sedang 64 Tinggi/ Setuju
92. Januar Prasetyo Sedang 60 Tinggi/ Setuju
93. Gama Darmaputra Sedang 60 Tinggi/ Setuju
94. Supriadi Sedang 43 Cukup Tinggi
95. Suryo Hadi Sumitro Sedang 73 Sangat Tinggi
96. Ardhana Cahaya H. Kurang Rawan 55 Tinggi/ Setuju
97. Kasdiono Kurang Rawan 55 Tinggi/ Setuju
98. Wibi Setiawan Rawan 71 Sangat Tinggi
99. Ilham Budi R Rawan 71 Sangat Tinggi
100. Wiyudha Betha Dinaragis Kurang Rawan 68 Sangat Tinggi
101. Muh. Choiril Anwar Kurang Rawan 74 Sangat Tinggi
102. Hasyimi Rafsanjani Kurang Rawan 68 Sangat Tinggi
103. Yogiswara Manitiscommit
Aji to user
Sedang 54 Tinggi/ Setuju
104. Aji Christian Sedang 62 Tinggi/ Setuju
perpustakaan.uns.ac.id 127
digilib.uns.ac.id

105. Karsini Sedang 61 Tinggi/ Setuju


106. Erwan Nugroho Rawan 60 Tinggi/ Setuju
107. Nimas Nastiti Putri Sedang 48 Cukup Tinggi
108. Sri Sulastri Sedang 54 Tinggi/ Setuju
109. Fatoni Sedang 55 Tinggi/ Setuju
110. Anton Robani Sedang 54 Tinggi/ Setuju
111. Farah Rachmawati Sedang 55 Tinggi/ Setuju
112. Gandung Jayadi Sedang 59 Tinggi/ Setuju
113. Savitri Ayuningtyas Sedang 57 Tinggi/ Setuju
114. Riandika Argatya Rawan 56 Tinggi/ Setuju
115. Rifqi Galih Sedang 57 Tinggi/ Setuju
116. Tri Febriyanto Sedang 55 Tinggi/ Setuju
117. Dewi Ayu Pitaloka Sedang 56 Tinggi/ Setuju
118. M. Arief Fathurochman Sedang 57 Tinggi/ Setuju
119. Henrian Rizki P. Sedang 56 Tinggi/ Setuju
120. Cynthia Purnama Rawan 65 Tinggi/ Setuju
121. Radit putra Widi Sedang 61 Tinggi/ Setuju
122. Zuvita Nurul Sedang 50 Cukup Tinggi
123. Yohana Savitri Sedang 70 Sangat Tinggi
124. Darwito Sedang 46 Cukup Tinggi
125. Anggi Murtiningrum Sedang 55 Tinggi/ Setuju
126. Monita Silvia Anggraini Sedang 56 Tinggi/ Setuju
127. Rizky Fatmala Furi Sedang 59 Tinggi/ Setuju
128. Artika Windianarti Sedang 60 Tinggi/ Setuju
129. Sayekti Hadiati Rawan 70 Tinggi/ Setuju
130. Taufan Dwi J. Rawan 72 Tinggi/ Setuju
131. Nanik Galih Rawan 70 Tinggi/ Setuju
Sumber: Analisis data Tahun 2014

Berdasarkan data tabulasi kuesioner di atas, maka dapat

dihasilkan rentang tingkat sikap masyarakat terhadap upaya

pengurangan dampak banjir. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat tabel

tingkat skala sikap masyarakat terhadap upaya pengurangan dampak

banjir sebagai berikut:

Tabel 50. Tingkat skala sikap masyarakat tentang upaya


pengurangan dampak banjir
Tingkat Tingkat
No Frekuensi Persentase (%)
Kerawanan Sikap
1. Rawan Sangat tinggi 8 6,11
Tinggi 12 9,16
Cukup tinggi 7 5,34
2. Sedang Sangat tinggi 9 6,87
Tinggi 68 51,91
commit to user
Cukup tinggi 7 5,34
3. Kurang Sangat tinggi 5 3,82
perpustakaan.uns.ac.id 128
digilib.uns.ac.id

Rawan Tinggi 11 8,40


Cukup tinggi 4 3,05
Jumlah 131 100
Sumber: Masyarakat Kecamatan Baureno
Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa masyarakat

dengan tingkat kerawanan “sedang” memiliki tingkat sikap yang

tinggi terhadap upaya penaggulangan dampak banjir yaitu mencapai

51,91%. Hal ini berbeda dengan kondisi yang ada di tingkat

kerawanan “rawan” dan “kurang rawan” yang masing- masing

prosentase tertinggi adalah 9,61% dan 8,40%. Latar belakang

masyarakat yang bervariasi mempengaruhi tingkat pemahaman

masyarakat. Seperti halnya tingkat kerawanan terhadap bencana banjir

masyarakat yang idealnya semakin tinggi resiko bencana, maka sikap

masyarakat untuk penanggulanganya juga semakin tinggi. Masyarakat

Kecamatan Baureno pada umumnya memiliki sikap yang tinggi

terhadap potensi dan dampak banjir yang hampir terjadi sepanjang

tahun. Sehingga dikarenakan mayoritas masyarakat berada pada

wilayah dengan tingkat kerawanan “sedang” maka pada wilayah itulah

mereka memiliki tingkat sikap yang tinggi terhadap dampak bencana

banjir. Dari pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa masyarakat

memiliki sikap yang tinggi terhadap upaya pengurangan dampak

banjir, khususnya berada pada tingkat wilayah kerawanan “sedang”.

3) Tindakan Masyarakat Terhadap Upaya Pengurangan Dampak

Banjir

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 129
digilib.uns.ac.id

Tindakan masyarakat terhadap upaya pengurangan dampak banjir

bisa diketahui melalui beberapa tahapan yaitu: a). Usaha atau cara

responden dalam menjaga kelestarian lingkungan, b). Pelaksanaan upaya

pengurangan dampak banjir, c). Upaya – upaya dalam mengurangi dampak

banjir. Untuk lebih lengkapnya dapat di lihat pada penjelasan di bawah ini.

a) Usaha atau cara responden dalam menjaga kelestarian lingkungan

Usaha dalam menjaga kelestarian lingkungan merupakan upaya

yang sangat penting atau pokok dalam mengurangi dampak banjir.

Maka usaha-usaha apa saja yang dilakukan masyarakat daerah banjir

untuk menjaga kelestarian lingkungan dapat dilihat pada tabel 51

berikut:

Tabel 51. Upaya atau cara responden dalam menjaga kelestarian


lingkungan
Tingkat
No Jawaban Frekuensi
Kerawanan
1. Reboisasi / melaksanakan tanam 37 Sedang
seribu pohon
2. Tidak membuang sampah 39 Sedang
sembarangan
3. Tidak menebang pohon 22 Kurang
sembarangan / tebang pilih Rawan
4. Tanggulnya dipertinggi 10 Rawan
5. Membedakan sampah organik 1 Sedang
dengan non organik
6. Menumbuhkan kader-kader muda 1 Sedang
di lingkungan setempat (sebagai
penggerak kelestarian lingkungan
hidup).
7. Edukasi pada khalayak umum 1 Kurang
tentang bahaya banjir Rawan
8. Menjaga kebersihan 3 Rawan
9. Menanam tanaman di tanggul 8 Sedang
sungai
10. Menggali dasar commitsungai
to user agar 9 Kurang
semakin dalam dan tidak banjir. Rawan
perpustakaan.uns.ac.id 130
digilib.uns.ac.id

Jumlah 131
Sumber: Masyarakat Kecamatan Baureno

Berdasarkan tabel diatas dapat disimpulkan bahwa pengetahuan

tentang upaya pelestarian lingkungan sangat tinggi. Sebagai bukti

terdapat beberapa responden mampu menyebutkan berbagai macam

jawaban yang bervariasi yaitu dengan melaksanakan penanaman

seribu pohon (reboisasi) sampai pada menggali dasar sungai agar

semakin dalam dan tidak banjir. Masyarakat merasa jika usaha

tersebut membawa dampak bagi lingkungan tempat tinggal mereka

yaitu dapat menanggulangi banjir.

b) Pelaksanaan upaya pengurangan dampak banjir

Pengetahuan diatas merupakan usaha kognitif untuk mengetahui

jawaban tentang sejauh mana pengetahuan masyarakat tentang sebab

dan dampak yang timbul akibat banjir. Untuk kuesioner selanjutnya

adalah penerapan dari kuesioner sebelumnya yaitu kecenderungan

atau kemauan masyarakat untuk melakukan usaha pengurangan

dampak banjir, yaitu pada tabel 52 berikut:

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 131
digilib.uns.ac.id

Tabel 52. Pelaksanaan dalam upaya pengurangan dampak banjir

Tingkat
No Pilihan Jawaban Frekuensi
Kerawanan
1. Meninggikan pondasi rumah 31 Sedang
2. Penyuluhan petugas kesehatan 18 Sedang
sebelum dan sesudah banjir
3. Membuat rak dari bambu, 26 Kurang
mengungsi di sekolah- sekolah Rawan
terdekat, membuat atap dari cor
semen
4. Membuang sampah pada 3 Rawan
tempatnya dan melakukan
penghijauan disekitar rumah.
5. Membuat tanggul sederhana 3 Rawan
dipinggir sungai
6. Melakukan pelestarian lingkungan, 3 Rawan
seperti menjaga kebersihan
lingkungan sekitar dari sampah
organik maupun an- organik
Membayar uang untuk swadaya Sedang
7. pembangunan tanggul sungai
Membuat gubuk didepan rumah 15 Rawan
8. Membantu pemerintah dalam 10 Kurang
9. mengeruk dasar sungai (agar dalam 8 Rawan
dan tidak banjir)
Mengikuti penyuluhan, ini karena Sedang
10. kewajiban 15
Jumlah 131
Sumber: Masyarakat Kecamatan Baureno

Berdasarkan tabel di atas dapat dijelaskan bahwa sebagian besar

dari responden telah melakukan usaha dalam mengurangi dampak

banjir. Berbagai variasi jawaban telah dijabarkan responden. Upaya

dalam mengurangi dampak banjir


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 132
digilib.uns.ac.id

Kuesioner selanjutnya merupakan tindak lanjut dari kuesioner

sebelumnya yaitu kemauan dan kecenderungan masyarakat untuk

berbuat. Maka kuesioner ini menjelaskan tentang penerapan upaya

pengurangan dampak banjir yang dilakukan oleh masyarakat di

Kecamatan Baureno, dapat dilihat pada tabel 53 berikut:

Tabel 53. Upaya Dalam Pengurangan Dampak Banjir


Tingkat
No Pilihan Jawaban Frekuensi
Kerawanan
1. Penyuluhan kepada masyarakat 1 Sedang
2. Penghijauan 12 Sedang
3. Pembuatan rak 17 Sedang
4. Pembenahan atap rumah 11 Sedang
5. Meja ditumpuk- tumpuk 9 Rawan
6. Membuat perahu sederhana/ 24 Rawan
membuat gethekan (perahu) dari
bambu sederhana
7. Bersiap- siap menghadapi banjir 1 Sedang
8. Semakin tahu tentang upaya 1 Sedang
pengurangan dampak banjir
9. Mempertinggi tanggul sungai/ 3 Rawan
tangkis
10. Persiapan obat- obatan 13 Sedang
11. Memindahkan barang ke tempat 1 Rawan
yang lebih tinggi
12. Membuat gubuk untuk tempat 9 Kurang
berlindung Rawan
13. Pindah rumah lebih tinggi dari 5 Kurang
Bengawan Solo Rawan
14. Membuang sampah pada TPA 5 Rawan
(Tempat Pembuangan Akhir)
15. Menjaga kelestarian lingkungan 1 Sedang
16. Membuat saluran air/ membuat 1 Sedang
sumur resapan /membuat gorong-
gorong.
17. Melakukan pelatihan pengungsian. 8 Rawan
(upaya penyelamatan diri).
18. Membuat tanggul dari pasir 4 Rawan
ditempatkan di kantong yang terbuat
dari bahan plastik.
19. commit topenting
Menyimpan surat-surat user 3 Sedang
Sumber: Masyarakat Kecamatan Baureno
perpustakaan.uns.ac.id 133
digilib.uns.ac.id

Berdasarkan tabel di atas, dapat disimpulkan bahwa masyarakat

Kecamatan Baureno dalam melaksanakan upaya pengurangan dampak

banjir itu paling banyak melakukan pembuatan perahu sederhana yang

terbuat dari bambu. Hal ini memiliki fungsi sebagai sarana dalam

penyelamatan (mengungsi) jika banjir datang nantinya. Responden

yang menjawab tersebut yaitu berjumlah 131 orang. Upaya yang

kedua adalah pembuatan rak bertingkat yang juga terbuat dari bambu,

hal ini berfungsi untuk menyimpan barang (meletakkan ) lebih tinggi

agar tidak terkena/ terendam air banjir.

Temuan Penelitian

a) Pengetahuan masyarakat terhadap upaya pengurangan dampak

banjir

Pengetahuan masyarakat terhadap upaya pengurangan dampak

banjir itu tinggi, yakni masyarakat tidak hanya menjawab tahu saja

tetapi masyarakat mampu menguraikan dan menjabarkan beberapa

jawaban yang bervariasi yang berkaitan dengan jawaban kuesioner

serta menunjukkan bukti nyata jika mereka telah melakukan upaya

pengurangan dampak banjir. Masyarakat mendapatkan informasi

tentang upaya pengurangan dampak banjir tersebut dari penyuluhan

atau sosialisasi dari perangkat desa.

b) Sikap Masyarakat dalam Upaya Pengurangan Dampak Banjir

Adanya Pengetahuan yang tinggi dari masyarakat seimbang

dengan sikap masyarakat yang tinggi juga. Sikap tersebut terbukti


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 134
digilib.uns.ac.id

dari adanya variasi jawaban dalam wawancara yaitu responden banyak

yang memilih setuju dan juga memberikan alasan yang tepat dan

mendasar. Masyarakat juga aktif mengikuti penyuluhan yang diadakan

oleh perangkat desa. Masyarakat merasa atau percaya jika dengan

adanya penyuluhan dan penerapan teknik dalam upaya pengurangan

dampak banjir akan memberikan manfaat yang besar pada kehidupan

masyarakat, juga dapat menghilangkan sikap yang pasrah dan

menyembuhkan penyakit psikis dan mental pasca bencana.

c) Tindakan Masyarakat dalam Upaya Pengurangan dampak Banjir

Tindakan masyarakat terhadap upaya pengurangan dampak

banjir juga tinggi. Kecenderungan masyarakat untuk melakukan upaya

pengurangan dampak banjir karena didorong keinginan untuk

mendapatkan kehidupan yang layak dan bisa menekan kerugian dari

bencana banjir.

3. Implementasi Pembelajaran di Sekolah

Hasil penelitian mengenai wilayah tingkat kerawanan banjir dan

persepsi masyarakat terhadap upaya pengurangan dampak banjir nantinya

dibuat produk pembelajaran. Pengemasan komponen pembelajaran yang

disusun secara komprehensif yang dikenal sebagai Subject Specific

Pedagogy (SSP). Produk inilah yang akan dijadikan sebagai bahan ajar

kontekstual dan berbasis scientific approach. Namun dalam pengemasanya

tidak seluruhnya hasil penelitian ini dimuat dalam bahan ajar, namun diseleksi

terlebih dahulu agar sesuai dengan kapasitas anak didik kelas VII SMPN 2
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 135
digilib.uns.ac.id

Baureno. Untuk lebih jelasnya hasil penyusunan produk pembelajaran SSP

dapat dilihat pada lampiran 6, 7 dan 8 yang terletak paling belakang

penyusunan tesis ini.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 135
digilib.uns.ac.id

C. Pembahasan

1. Tingkat Kerawanan Banjir

Kecamatan Baureno mempunyai topografi berupa daerah perbukitan

dan daerah dataran rendah yaitu 89,85% berada pada ketinggian dibawah 26

mdpl dan 10,15% berada pada ketinggian datas 26 mdpl. Dengan kemiringan

antara 0 - 3% dengan areal seluas 5.416,5 ha di wilayah ini mengalami

sedimentasi yang tinggi di sepanjang Sungai Bengawan Solo karena kecepatan

aliran sungai yang rendah. Sungai utama yang melintasi Kecamatan Baureno

adalah Bengawan Solo. Sungai ini terutama dimanfaatkan airnya untuk

keperluan irigasi dan keperluan air bersih bagi penduduk di Kecamatan

Baureno. Selain itu sungai ini juga berfungsi sebagai drainase utama

Kecamatan Baureno. Permasalahan utamanya adalah luapan air pada saat

hujan. Seperti pada umumnya daerah di sekitar Bengawan Solo, Kecamatan

Baureno juga mengalami bencana banjir akibat meluapnya air sungai tersebut.

Pada pembahasan sebelumnya diketahui bahwa Kecamatan Baureno

memiliki 3 kategori kerawanan bencana banjir yang tersebar hampir di setiap

wilayahnya. Kategori tersebut adalah kurang rawan yang menguasai 8 satuan

medan, kategori sedang menguasai satuan medan sebanyak 11 sedangkan

kategori rawan menguasai sebanyak 5 satuan medan. Kategori wilayah rawan

bencana banjir diketahui dengan menggunakan metode scoring/ pengharkatan.

Termasuk kategori rawan apabila masuk kelas skor 4, kategori sedang apabila

masuk skor 3, sedangkan kategori kurang rawan menempati kelas skor 2.


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 136
digilib.uns.ac.id

Kategori tingkat kerawanan bencana banjir di Kecamatan Baureno

Kabupaten Bojonegoro secara detil dapat di jelaskan sebagai berikut:

a. Tingkat Kerawanan Kurang

Pada wilayah dengan tingkat kerawanan kurang rawan terdapat 8

karakter satuan medan yaitu: B-F4-Tgl, C-F4-Ht, C-F4-Tgl, D-F4-TK, D-

S1-Tgl, E-S1-Tgl, F-S1-TK dan F-S1-Tgl. Pada wilayah ini mencapai

tingkatan luas yang kecil yaitu sekitar 5% dari total wilayah Kecamatan

Baureno. Untuk menentukan tingkat kerawanan ini diperoleh dengan cara

pengharkatan dengan nilai skor 2. Pada wilayah ini didominasi pada

topografi yang cenderung lebih tinggi. Berdasarkan analisis satuan medan

dapat diketahui bahwa ketinggian pada wilayah ini cukup bervariasi yaitu

antara 14- 26 sampai 66- 78 mdpl. Walaupun ada beberapa yang berada di

ketinggian rendah namun wilayah dengan tingkat kerawanan kurang

didominasi oleh tingkat wilayah tinggi. Hal ini akan mempengaruhi bentuk

lahan berupa teras bawah dan teras atas yang menyebabkan wilayahnya

kurang berdampak dengan bencana banjir. Tutupan lahan yang ada di

wilayah ini didominasi oleh tegalan, hutan dan tanah kosong.

Dilihat dari sisi administratif wilayah dengan tingkat kerawanan

kurang berada di Desa Gunungsari, Desa Gajah bagian selatan, Desa

Sumuragung bagian utara, Desa Blongsong bagian utara, Desa Sraturejo

bagian utara, Desa Pasinan bagian selatan dan Desa Banjaran bagian

timur. Desa Gunungsari memiliki kenampakan yang unik, dikarenakan

memiliki bentuk lahan berupa perbukitan antiklinal yang tidak ditemukan


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 137
digilib.uns.ac.id

pada wilayah yang lain. Perbukitan antiklinal merupakan pegunungan

yang tersusun dari batuan plastis, terjadi atas unit-unit punggung lipatan.

Jenis batuan bentuklahan ini termasuk gamping yang memiliki tingkat

infiltasi tinggi terhadap air. Wilayah ini diduga merupakan satu kawasan

jajaran perbukitan kapur utara yang sering disebut Pebukitan Kendeng.

Dengan demikian wilayah ini termasuk kategori aman apabila terjadi

bencana banjir, karena karakteristik yang mudah meloloskan air dan

wilayahnya berada pada ketinggian yang cenderung lebih tinggi dan curam

dibandingkan dengan wilayah yang lain.

b. Tingkat Kerawanan Sedang

Pada tingkat kerawanan sedang wilayah Kecamatan Baureno cukup

mendominasi yaitu mencapai sekitar 87% dari total keseluruhan wilayah.

Berdasarkan kajian di tiap satuan medan Kecamatan Baureno memiliki

sebanyak 11 satuan medan yaitu: A-F3-Pmk, A-F3-Sw, A-F3-Tgl, B-F3-

Kb, B-F3-Pmk, B-F3-Tgl, B-F4-Pmk, C-F3-Pmk, C-F3-Tgl, C-F4-Pmk

dan D-F4-Pmk. Wilayah kerawanan sedang ini memiliki ketinggian yang

cukup bervariatif yaitu antara 1- 13 sampai 40- 52 mdpl. Ketinggian

menjadi indikator utama untuk menganalisis wilayah kerawanan, karena

berhubungan dengan laju karakteristik air yang berada di ketinggian

rendah. Bentuk lahan yang berada di wilayah kerawanan sedang adalah

dataran alluvial dan teras bawah. Bentuk lahan tersebut di simbolkan

dengan F3 dan F4, yang menujukkan wilayah dengan ketinggian yang

relatif sama datar. Selain itu karakteristik tutupan lahan pada wilayah
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 138
digilib.uns.ac.id

kerawanan sedang cukup bervariasi yaitu: pemukiman, sawah, tegalan dan

kebun. Namun tutupan lahan di wilayah ini didominasi dengan

pemukiman sehingga dampak bencana banjir cukup besar.

Secara administratif cakupan wilayah kerawanan tingkat sedang

cukup besar yaitu: Desa Drajat, Desa Banjaranyar, Desa Ngemplak, Desa

Blongsong bagian selatan, Desa Karangdayu, Desa Pomahan, Desa

Sembung Lor, Desa Kauman, Desa Balireno, Desa Tojalu, Desa Baureno,

Desa Bumiayu, Desa Tulungagung, Desa Selorejo, Desa Tlogoagung

bagian selatan, Desa Sumuragung bagian selatan dan Desa Gunungsari

bagian utara. Tingkat kerawanan sedang memiliki nilai skor 3, yang

digunakan untuk menentukan kelas kerawanan bencana banjir. Dalam

menarik garis tingkat kerawanan tidak bisa disesuaikan dengan

admnistrasi desa, karena variable tingkat kerawanan yang terdiri dari curah

hujan, penggunaan lahan, kemiringan lereng, genangan air dan kejadian

banjir. Sehingga tingkat kerawanan memiliki persebaran yang berbeda-

beda di tiap desa dengan berbagai karakteristik perlakuan yang berbeda

pula.

c. Tingkat Rawan

Tingkat kerawanan bencana banjir menggunakan mapping unit

berupa satuan medan, hal ini memudahkan untuk menganalisis

karakteristik medan terutama dalam pengambilan sample untuk data banjir

secara fisik, klimatologis dan sosial. Setelah dilakukan penelitian lapangan

satuan medan Kecamatan Baureno berjumlah 24. Dari total 24 satuan


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 139
digilib.uns.ac.id

medan tersebut yang dikategorikan daerah rawan banjir ada 5 satuan

medan yaitu A- F1-Pmk, A-F1-Sw, A- F1-Tgl, A-F2-Sw dan B-F1-Pmk.

Berdasarkan bentuk lahan tersebut dapat dipastikan bahwa kategori rawan

didominasi oleh bentuk lahan dataran banjir karena berasosiasi langsung

dengan sungai utama yang menjadi penyumbang luapan banjir. Sungai

tersebut adalah Bengawan Solo yang membawa dampak banjir tidak hanya

pada lahan permukiman namun juga pada lahan sawah dan tegalan.

Secara administratif wilayah yang masuk kategori rawan bencana

banjir adalah Desa Kalisari, Desa Tanggungan, Desa Lebaksari, Desa

Kadungsari dan Pucangarum bagian utara. Dilihat dari luas wilayahnya

daerah rawan bencana kurang lebih menempati 8 % dari luas wilayah yang

tersebar sepanjang Bengawan Solo. Kaitannya dengan jumlah kerugian

tergantung dengan besarnya jumlah debit air yang melalui sempadan

sungai. Sepanjang tahun wilayah ini dapat dipastikan menjadi langganan

banjir karena bentuk lahan yang menjadi rumahnya air.

2. Persepsi Masyarakat terhadap Upaya Pengurangan Dampak Banjir

a. Pengetahuan Masyarakat terhadap Upaya Pengurangan Dampak Banjir

Berdasarkan analisis data yang telah dilakukan dengan menggunakan

tabulasi dan analisis frekuensi, maka dapat diketahui bahwa secara umum

pengetahuan masyarakat Kecamatan Baureno tentang upaya pengurangan

dampak banjir itu tinggi. Pengetahuan masyarakat yang tinggi tersebut

tidak didukung oleh pendidikan yang tinggi, yakni banyak dari warga

hanya lulusan SD. Hal ini terbukti dari hasil presentase pada tingkat
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 140
digilib.uns.ac.id

pengetahuan masyarakat Kecamatan Baureno tentang usaha pengurangan

dampak banjir yaitu hampir 92% masyarakat memiliki kemampuan yang

tinggi.

Menurut Lakhar Bakornas PB (2007) Salah satu penyebab timbulnya

bencana di Indonesia adalah kurangnya pemahaman terhadap karakteristik

ancaman bencana. Hal ini dibuktikan dengan adanya usaha-usaha yang

telah msyarakat lakukan untuk mengurangi dampak banjir jika musim

penghujan tiba. Teknik yang masyarakat lakukan itu merupakan sebuah

bukti bahwa masyarakat tidak hanya tinggi dalam pengetahuan dan

pemahaman saja tentang pengurangan dampak banjir, tetapi juga

masyarakat mampu menerapkan pengetahuan serta pemahaman tersebut

dalam sebuah usaha nyata untuk kehidupan masyarakat sehari-hari.

Berdasarkan hasil wawancara, banyak informasi yang didapatkan

dari responden, baik masyarakat biasa, tokoh agama maupun perangkat

desa bahwa sebagian besar masyarakat desa mendapatkan pengetahuan

tentang pelestarian lingkungan serta upaya pengurangan dampak banjir itu

dari pengalaman masa lampau serta ditambah dengan adanya penyuluhan

dari perangkat desa. Dari adanya penyuluhan tersebut membuat

masyarakat desa semakin tahu dan paham tentang tata cara dan penerapan

dalam melaksanakan pelestarian lingkungan dan upaya pengurangan

dampak banjir.

Pengetahuan umum yang masyarakat peroleh dari pengalaman

sehari-hari serta adanya penyuluhan dari desa ini terkadang belum bisa
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 141
digilib.uns.ac.id

menghilangkan kepercayaan yang masih melekat pada pemikiran

masyarakat sendiri. Sebagai bukti contoh yaitu jika ada orang masuk desa

ini, percaya atau tidak wajib untuk berpamitan dengan “penghuni” desa

atau sungai tersebut (makhluk yang tidak kasat mata). Masyarakat percaya

dengan adanya hal-ha mistis seperti itu, jika setiap tempat itu memiliki

penunggunya dan wajib untuk tidak mengusik dan bahkan

menghormatinya. Masyarakat beranggapan bahwa didunia ini tidak hanya

manusia saja yang tinggal, ternyata ada makhluk lain yang tinggal di

sekeliling kita yang tinggal di dunia lain. Penghormatan tersebut dengan

cara membuang uang receh (logam) dengan nominal berapa saja ke sungai,

cara ini memiliki tujuan untuk meminta ijin kepada pemilik air Sungai

Bengawan Solo untuk datang ke tempat tersebut.

Menurut Azwar (1988) bahwa kebudayaan mempunyai pengaruh

besar terhadap pembentukan sikap. Kebudayaan telah menanamkan garis

pengarah sikap kita terhadap berbagai masalah dan kebudayaan juga telah

mewarnai sikap anggota masyarakatnya. Bencana banjir yang sering

datang dan menggenang wilayah kecamatan Baureno ini merupakan hal

yang sudah biasa bagi masyarakat desa. Musibah yang sering terjadi pada

musim penghujan ini, tidak membuat masyarakat untuk tetap pasrah dan

tidak berbuat apapun untuk menanggulanginya. Meskipun banjir ini sudah

tidak dapat di tanggulangi atau dicegah, tetapi setidaknya masih bisa

dikurangi dampaknya. Pernyataan tersebut terlontar dari sebagian

responden yang diwawancarai . Hal ini dikarenakan banjir yang datang


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 142
digilib.uns.ac.id

bukan merupakan banjir yang berakibat dari adanya kerusakan lingkungan

sekitar atau ulah masyarakat sekitar desa saja, tetapi banjir ini juga datang

karena merupakan banjir kiriman dari daerah hulu atau bisa juga air

kiriman dari Waduk Gajah Mungkur Wonogiri Jawa Tengah.

Masyarakat tahu dan paham tentang upaya pengurangan dampak

banjir yakni dengan menjaga kelestarian lingkungan, tetapi masyarakat

merasa usaha ini masih belum sepenuhnya bisa menanggulangi banjir,

melihat sendiri penyebab banjir tidak hanya karena adanya kerusakan

lingkungan saja tetapi karena curah hujan yang tinggi pada musim

penghujan. Didukung pula wilayah kecamatan Baureno ini merupakan

daerah hilir yang berdataran rendah sehingga rawan dampak (imbas) banjir

dari daerah hulu. Daerah hulu termasuk beberapa daerah sebelum

kabupaten Bojonegoro yaitu beberapa kabupaten di Jawa Tengah dan

beberapa kabupaten di Jawa Timur yang dilalui oleh sungai Bengawan

Solo (BPBD: 2008). Dari beberapa penyebab tersebut memunculkan

berbagai pendapat para responden, bahwa banjir ini tidak bisa

ditanggulangi dan dicegah keberadaannya, tetapi hanya dikurangi

dampaknya agar tidak banyak kerugian yang ditimbulkan dari bencana

banjir tersebut.

Bencana banjir terjadi pada bulan akhir dan awal tahun yaitu bulan

Desember, Januari serta Pebruari merupakan bulan yang memiliki curah

hujan tertinggi dalam kurun waktu 1 tahun. Masyarakat Kecamatan

Baureno juga sudah mengetahui sejak dulu jika pada bulan itu, mereka
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 143
digilib.uns.ac.id

mulai siap siaga jika air banjir tersebut datang dan akan merusak

permukiman serta lahan pertanian. Maka sebelumnya masyarakat telah

melakukan banyak cara antisipasi untuk tidak terlalu banyak kerugian

yang ditimbulkan dari bencana tersebut. Jika bencana banjr tersebut tidak

bisa dipungkiri datangnya, maka masyarakat hanya bersikap pasrah dan

terima akan nasib. Sikap seperti itu membuat masyarakat kadang tidak

yakin dengan adanya keberhasilan suatu usaha dalam mengurangi dampak

banjir.

Usaha pemerintah kecamatan dan perangkat desa dalam mengatasi

masalah tersebut adalah dengan melakukan penyuluhan yang bertempat

dibalai desa, juga datang ke rumah warga. Hal ini bertujuan untuk

memberikan informasi kepada masyarakat berupa pengetahuan serta

pemahaman tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan dalam

upaya pengurangan dampak banjir, bahkan sebagai motivator dalam

meyakinkan masyarakat yang masih terganggu psikis dan mentalnya

seperti trauma,takut, dan gelisah jika banjir datang lagi. Selain itu

masyarakat yang kurang tahu tentang bentuk usaha dalam mengatasi

kerugian dari dampak banjir seperti langkah sebelum datang banjir, waktu

banjir, dan sesudah banjir menjadi paham dan diharapkan bisa

menerapkannya dalam kehidupan.

Usaha yang dilakukan oleh pemerintah kecamatan dan perangkat

desa diatas merupakan sebagian kecil dari upaya pengurangan dampak

banjir, dan disini masyarakat sebagai subyek (pelakunya). Nampak bukti


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 144
digilib.uns.ac.id

dari keberhasilan tersebut yakni masyarakat yang memiliki pendidikan

rendah seperti SD juga memiliki pengetahuan yang tinggi tentang upaya

pengurangan dampak banjir, termasuk di dalamnya upaya dalam

pelestarian lingkungan dan teknik dalam menekan kerugian, baik secara

riil maupun finansial.

Pengetahuan yang masyarakat peroleh itu diaplikasikan melalui

suatu perubahan pada setiap tahunnya. Pada banjir awal tahun 2008

masyarakat kurang begitu siap menghadapi banjir, karena banjir datang

sangat besar dan hampir 10 tahun tidak terjadi banjir sebesar ini. Banjir

datang tiba-tiba pada dini hari ketika masyarakat tertidur lelap. Pada tahun

2009 masyarakat sudah mulai siap menghadapi banjir, karena masyarakat

bisa mengaplikasikan teori dari sosialisasi sehingga pada saat tanggap

darurat, langkah pertama yang masyarakat ambil adalah mengungsi ke

tempat yang lebih tinggi dan kedesa yang tidak terkena banjir. Untuk

tahun-tahun berikutnya masyarakat di wilayah kecamatan Baureno lebih

siap dalam menghadapi banjir, karena masyarakat sudah melakukan upaya

pengurangan dampak banjir sebelum banjir .

Masyarakat di Kecamatan Baureno tidak hanya menguasai atau

mengerti tentang upaya pengurangan dampak banjir, tetapi juga mengerti

dan paham tentang fungsi , manfaat,serta dampak positif dan negatif dari

adanya Bengawan Solo tersebut dalam kehidupan mereka. Seperti

manfaat dari sungai Bengawa Solo yaitu sebagai sarana transportasi air,

sebagai sarana irigasi untuk pengairan lahan sawah masyarakat, dan jika
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 145
digilib.uns.ac.id

air dalam skala kecil ini sangat bermanfaat dalam menunjang aktifitas

sehari-hari, tetapi jika air datang dalam skala besar dan banyak , maka ini

yang dapat menyebabkan bencana dan membawa kerugian dalam

kehidupan orang disekitar. Hal ini membuat semakin yakin bahwa

masyarakat di kecamatan Baureno memiliki pengetahuan dan pemahaman

yang mumpuni tentang daerah yang rawan akan bencana banjir.

b. Sikap Masyarakat terhadap Upaya Pengurangan Dampak Banjir

Berdasarkan analisis data yang telah dilakukan dengan menggunkan

tabulasi dan analisis frekuensi, maka dapat diketahui bahwa secara umum

sikap masyarakat Kecamatan Baureno terhadap upaya pengurangan

dampak dampak banjir itu tinggi. Sikap mereka yang tinggi terhadap

upaya pengurangan dampak banjir tersebut seperti halnya pada keterangan

pada sub pengetahuan diatas, yaitu sikap mereka yang tinggi tidak

didukung oleh pendidikan mereka yang tinggi yakni banyak dari mereka

hanya lulusan SD. Hal ini terbukti dari hasil persentase pada skala sikap

masyarakat desa terhadap usaha pengurangan dampak banjir yaitu hampir

88% masyarakat memiliki kemampuan yang tinggi.

Pengetahuan masyarakat yang tinggi seimbang dengan sikap yang

antusias terhadap upaya pengurangan dampak banjir yaitu dengan

mengikuti penyuluhan yang diadakan oleh pemerintah kabupaten melalui

BPBD dan pemerintah kecamatan serta dibantu perangkat desa.

Penyuluhan tersebut biasanya berisi tentang manajemen bencana yang

didalamnya berupa upaya dalam mengurangi dampak banjir.


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 146
digilib.uns.ac.id

Dari adanya penyuluhan tersebut membuat masyarakat semakin

yakin dengan melakukan usaha pengurangan dampak banjir akan sedikit

mengurangi kerugian yang diakibatkan dari banjir. Menurut Kothadapani

(dalam Middlebrook, 1974) bahwa sekali kepercayaan itu telah terbentuk,

maka akan menjadi dasar pengetahuan seseorang mengenai apa yang dapat

diharapkan dan apa yang tidak dapat diharapkan dari obyek tertentu.

Dengan demikian, interaksi serta prediksi akan pengalaman dimasa datang

akan lebih mempunyai arti dan keteraturan. Masyarakat juga banyak yang

antusias untuk datang mengikuti acara penyuluhan tersebut. Setelah

dilakukan wawancara kepada sebagian responden yaitu banyak diantara

mereka ingin menambah ilmu dan pengalaman. Tetapi sebagian kecil dari

masyarakat tidak antusias untuk mengikuti program dari desa tersebut,

dengan alasan yakni menyita waktu dalam bekerja dan bisa meminta

informasi atau bertanya kepada tetangga yang sudah mengikuti acara

tersebut.

Dari adanya upaya pengurangan dampak banjir itu membutuhkan

biaya yang tidak sedikit, yaitu untuk membangun tanggul secara

permanen. Disini Pemeritah Kabupaten setempat sebagai penyedia dana.

Masyarakat yang mampu juga tidak segan mengelurkan banyak biaya

untuk membantu program pemerintah tersebut. Sehingga, program itu

masih berjalan sampai sekarang yaitu pembangunan tanggul secara

permanen yaitu berbahan beton dengan memperbaiki tanggul sederhana

yang terbuat dari tanah. Masyarakat sekitar merupakan tenaga penggerak


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 147
digilib.uns.ac.id

yaitu dengan sukarela membantu proses pembangunan tanggul sungai

Bengawan Solo.

Sikap yang menunjukkan masyarakat begitu antusias nya terhadap

usaha melestarikan lingkungan desa adalah dengan melaksanakan

“minggu bersih”. Program desa ini dilakukan setiap hari minggu dalam 1

bulan sekali. Program yang dibuat ini merupakan salah satu upaya

pengurangan dampak banjir, ini merupakan hal yang penting untuk

dilakukan, selain untuk menjaga kelestarian lingkungan agar tetap bersih

juga tetap menjaga kekompakan antar warga desa , terutama pada warga

setiap dusun .

Tujuan utama dari adanya usaha pengurangan dampak banjir adalah

untuk mengurangi sikap masyarakat yang selalu pasrah dan percaya

terhadap adanya takdir. Terbukti sebelum adanya banjir besar pada tahun

2008 dulu sering terjadi banjir dalam skala kecil, warga tidak melakukan

upaya apapun untuk mengatasi hal tersebut dan hanya bersikap pasrah

bahwa bencana banjir yang terjadi ini merupakan takdir dari Tuhan yang

tidak bisa dielakkan atau dilawan lagi.

Menurut Kothadapani (dalam Midllebrook, 1974) bahwa komponen

afektif menyangkut masalah emosional subyektif seseorang (atau

merupakan sesuatu obyek sikap). Secara umum, komponen ini disamakan

dengan perasaan yang dimiliki seseorang terhadap sesuatu. Pada

umumnya, reaksi emosional yang merupakan komponen afektif ini,

banyak ditemukan oleh kepercayaan atau apa yang kita percayai sebagai
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 148
digilib.uns.ac.id

hal yang benar bagi obyek yang dimaksud. Dari adanya usaha ini

diharapkan masyarakat untuk tidak gelisah dan takut jika datang banjir,

karena masyarakat telah dibekali beberapa pengetahuan dan pengalaman

bagaimana mengatasi suatu bencana. Dari adanya persiapan tersebut

setidaknya masyarakat merasa lebih tenang dan siap dalam menghadapi

bencana yang akan datang nanti.

Program-program yang telah dibuat pemerintah kecamatan dan

perangkat desa ini merupakan suatu upaya untuk menghilangkan atau

merubah pemikiran masyarakat yang masih mempertahankan nilai

kemasyarakatannya yaitu masih percaya dengan adanya hal yang mistis

yaitu banjir ini datang karena Tuhan marah atau “penghuni” dari sungai

Bengawan Solo juga memberi pelajaran. Pemikiran ini diganti dengan

pembekalan pengalaman serta pengetahuan umum agar lebih rasional dan

logis dalam berfikir. Tidak hanya itu masyarakat yang kadang masih

mempertahankan nilai kemasyarakatannya yang lain, yaitu pada saat banjir

besar datang pada tahun 2008 tersebut, banyak warga yang tidak mau

mengungsi dan lebih memilih tinggal diatas atap rumah masing- masing.

Kelompok ini biasanya dari kaum laki – laki yang menjaga rumah mereka

dari penjarahan barang dan harta benda lain yang biasanya terjadi pada

malam hari. Selain di genting rumah, para kaum laki-laki ini lebih

memilih tinggal di atas tanggul untuk menjaga hewan ternak.

Adanya penyuluhan tersebut bertujuan untuk menghilangkan atau

merubah sikap masyarakat yang seperti diatas. Sebagai bukti pada tahun
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 149
digilib.uns.ac.id

2009 yaitu ketika terjadi banjir di musim penghujan, rata-rata dari mereka

lebih memilih mengungsi bersama anak istri dan keluarga yang lain . Jadi,

dengan adaya program pemerintah tersebut bisa membawa dampak atau

perubahan yang baik bagi masyarakat desa. Warga masyarakat juga

mengharap kepada pemerintah setempat (Kecamatan Baureno) untuk

semakin meningkatkan kemajuan teknologi untuk upaya peringatan

dini”early warning”atau “early alarming”, seperti jika banjir akan datang

secepatnya langsung diperingatkan melalui pesan singkat atau SMS (Short

Message Service) “gateway”. Warga tidak perlu report untuk memberikan

informasi melalui pengeras suara mushola atau masjid. Dengan adanya

early alarming diharapkan dapat membantu dalam proses peringatan dini

saat banjir akan datang, juga dapat mengurangi rasa takut, gelisah dan

panik warga yang akan bersiap untuk mengungsi jika datang bahaya

bencana. Selanjutnya hal ini akan berdampak baik bagi warga .

Peran Pemerintah dalam menanggulangi bencana adalah Kebijakan

Pemerintah Pusat dalam mengalokasikan dana untuk penanggulangan

banjir di Indonesia. Kebijakan Pemerintah Jawa Timur meliputi:

Penanganan Sungai Bengawan Solo secara menyeluruh, mulai dari

pengerukan endapan sungai, Pembangunan tangkis, hingga pembenahan

DAS. Kebijakan Pemerintah Kabupaten Gresik, Lamongan dan

Bojonegoro melakukan upaya penanggulangan banjir, dan kabupaten

Ngawi melakukan pengelolaan kawasan penyangga, sesuai Perda Nomor 2

tahun 1996 yang memfokuskan pada kawasan sekitar mata air dan pola
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 150
digilib.uns.ac.id

pemanfaatan tanaman kayu dan penerapan jasa lingkungan (Badan

Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Bojonegoro, 2011).

Termasuk didalamnya ada upaya dalam memberikan informasi tentang

adanya bahaya banjir. Melalui SMS ke perangkat desa dari Pemerintah

Kabupaten, sehingga disebarkan melalui sms dari perangkat desa kepada

warga terutama ketua RT pada setiap dusun.

c. Tindakan Masyarakat terhadap Upaya Pengurangan Dampak Banjir

Berdasarkan analisis data yang telah dilakukan dengan menggunakan

tabulasi dan analisis frekuensi, maka dapat diketahui bahwa secara umum

tindakan masyarakat Kecamatan Baureno terhadap upaya penguranagn

dampak banjir itu tinggi. Tindakan masyarakat yang tinggi terhadap upaya

pengurangan dampak tersebut seperti halnya pada keterangan pada

”pengetahuan” dan “sikap” diatas, yaitu sikap masyarakat yang tinggi

tidak didukung oleh pendidikan yang tinggi pula yakni banyak dari warga

hanya lulusan SD.

Tindakan masyarakat ini berupa upaya dalam pelestarian lingkungan

yakni beberapa upaya untuk mengurangi dampak banjir. Pengetahuan

tentang upaya yang dilakukan masyarakat tersebut dilakukan karena sudah

turun temurun (dari nenek moyang). Dari hasil wawancara terhadap

responden, bahwa masyarakat yang rumahnya dekat dengan Sungai

Bengawan Solo sudah sadar tentang cara memelihara dan menjaga

kelestarian lingkungan. Hal ini dilakukan dengan cara menanam rumput

atau tanaman di tepi tanggul sungai yang sederhana. Dikatakan sederhana


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 151
digilib.uns.ac.id

karena tanggul ini dibangun tidak menggunakan semen atau beton,

melainkan tanah biasa dan di tinggikan 2 – 3 m. Tanggul sederhana

tersebut dibuat hasil dari swadaya masyarakat desa.

Sejenis rumput dan tanaman kayu tertentu, ditanam ditepi tanggul

agar dapat mengikat tanah dan air, ini bertujuan agat tanah tersebut tidak

bergerak, tergerus dan rusak jika terkena tekanan air (air banjir). Maka

dari adanya pelestarian lingkungan tersebut bisa menanggulangi dua

bencana yaitu banjir dan longsor. Usaha pelestarian lingkungan yang lain,

seperti tidak membuang sampah pada sungai dan pengerukan dasar sungai

dirasa masyarakat belum ada pengaruh apapun terhadap lingkungan

sekitar, jika musim penghujan tiba tetap saja debit air Bengawan Solo

bertambah sehingga menenggelamkan lahan sawah dan permukiman

warga. Tetapi masyarakat sadar dan tahu tentang upaya pelestarian

tersebut wajib dilakukan tidak hanya pada desa tetapi juga pada daerah

perkotaan serta hulu sungai Bengawan Solo. Usaha tersebut meliputi

upaya penghijauan/ melaksanakan penanaman 1000 pohon (reboisasi),

membuang sampah pada tempatnya/ tidak membuang sampah

sembarangan, menjaga tanggul agar tidak longsor dengan menanami

pohon atau tanaman rumput ditepinya dan menjaga kebersihan rumah.

Dalam melaksanakan upaya pelestarian lingkungan tersebut

masyarakat paham dan tahu tentang kondisi geografis dari desa tempat

tinggalnya ini. Jadi masyarakat bisa melakukan upaya dalam menjaga

kelestarian lingkungan dengan menggunakan pedoman keadaan


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 152
digilib.uns.ac.id

lingkungan sekitar untuk penyesuaiannya. Dari hasil wawancara pada

responden, dapat disimpulkan bahwa masyarakat tahu dan paham tentang

ciri – ciri kondisi desa tempat tinggal mereka yang rawan terhadap banjir.

Bahkan responden juga menjawab jika desa tempat tinggalnya merupakan

desa yang terletak didaerah hillir, sehingga datarannya rendah. Maka tidak

dipungkiri jika banjir akan menggenang sepanjang musim penghujan pada

bulan Desember, Januari, dan Pebruari.

Kecamatan Baureno merupakan salah satu kecamatan di

Kabupaten Bojonegoro yang berada di sepanjang daerah aliran sungai

Bengawan Solo, yang merupakan daerah dataran rendah. Bengawan Solo

mengalir dari selatan, menjadi batas alam dari Propinsi Jawa Tengah,

kemudian mengalir ke arah timur, disepanjang wilayah utara kabupaten

Bojonegoro. Bagian utara merupakan daerah aliran Sungai Bengawan Solo

yang cukup subur dengan pertanian yang ekstensif. Kawasan pertanian

umumnya ditanami padi pada musim penghujan dan tembakau pada

musim kemarau (Bojonegoro Dalam Angka 2013).

Ciri-ciri selanjutnya yaitu tanah yang tidak bisa menyerap air atau

permeabilitasnya rendah (daya serap terhadap air rendah). Tanahnya

berjenis alluvial yaitu tanah ini sebagian besar merupakan hasil

pengendapan dari daerah lain. Terdapat pada topografi dataran basin,

aliran sungai, lembah dataran banjir, dan daerah kaki pegunungan. Bahan

induk tanah berasal dari daerah yang beraneka ragam materialnya.

Warnah tanah kelabu, tekstur nya liat, struktur gumpal, konsentrasi keras,
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 153
digilib.uns.ac.id

permeabilitas rendah, dan peka terhadap erosi. Jenis tanah yang kedua

yaitu tanah grumosol yaang mempunyai perkembangan profil, agak tebal,

tekstur lempung berat, struktur kersai (granular) dilapisan atas dan gumpal

hingga pejal dilapisan bawah. Konsistensi bila basah sangat lekat dan

platis bila kering, sanagt keras dan tanah retak – retak , umumnya bersifat

alkalis, kejenuhan basa dan kapasitas absorbs tinggi, permeabilitas lambat

dan peka erosi. Sehingga, tidak salah jika Bojonegoro ini dikatakan

dengan sebutan tanah bergerak karena ciri-ciri tanah yang terpapar diatas

selain itu juga berpotensi untuk longsor (Bojonegoro Dalam Angka, 2013).

Pemahaman dan penilaian suatu wilayah terutama bagi masyarakat

juga menjadi bagian penting dalam mengukur resiko yang diakibatkan

oleh banjir. Wilayah rawan banjir harus dapat dikaji dan dipetakan oleh

masyarakat agar masyarakat selalu siap siaga dalam mengurangi resiko

akibat banjir. Kemampuan masyarakat dalam mengumpulkan,

mengelompokkan dan mengkaji informasi dirinya sendiri tentang

pemetaan dan resiko banjir merupakan kekuatan sekaligus potensi yang

dimiliki oleh masyarakat dalam mengatasi banjir (Sea Defence Consultant:

2009). Beberapa karakteristik topografi atau kondisi fisik desa ini

merupakan penyebab utama banjir, pada saat musim penghujan. Selain itu

masyarakat sering gelisah jika musim penghujan tiba, karena takut tanggul

akan jebol dan banjir akan meluap menggenangi permukiman dan area

persawahan. Maka pada tahun 2010, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro

dibantu oleh Dinas atau Instansi terkait untuk membangun tanggul yang
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 154
digilib.uns.ac.id

terbuat dari beton. Pembangunan tanggul Sungai Bengawan Solo yang

permanen pada saat ini masih berlangsung dan baru sampai Desa Pucang

arum dan Desa Kadung Rejo.

Menurut Lakhar Bakornas PB (2007) Salah satu penyebab timbulnya

bencana di Indonesia adalah kurangnya pemahaman terhadap karakteristik

ancaman bencana. Sering kali seolah – olah bencana terjadi secara tiba-

tiba, sehingga masyarakat kurang siap menghadapi nya, akibatnya timbul

banyak kerugian bahkan korban jiwa. Dari penyebab banjir diatas

menimbulkan beberapa dampak yang cukup signifikan. Bahkan

menimbulkan beberapa perubahan baik segi fisik, sosial, ekonomi,

lingkungan desa maupun mental dari masyarakat desa sendiri.

Menurut Bakornas Penanganan Bencana (2007), dampak bencana

banjir akan terjadi pada beberapa aspek penduduk, aspek pemerintahan,

aspek ekonomi, aspek sarana prasarana dan aspek lingkungan. Setelah

dilakukan wawancara serta observasi lapangan diperoleh banyak informasi

tentang dampak dari adanya banjir yaitu dari segi fisik yaitu rusaknya

lahan sawah milik warga desa karena banjir menerjang habis lahan

persawahan dan menggenang selama hampir satu bulan pada awal tahun

2008 tersebut. Selain itu kerugian material seperti gagal panen karena

tanaman padi yang siap panen diterjang ludes oleh air banjir. Tidak hanya

itu, banyak infrastruktur desa yang rusak terutama kantor balai desa,

masjid, mushola, sekolah dan infrastruktur lain. Hal ini menyulitkan warga

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 155
digilib.uns.ac.id

nanti jika setelah banjir surut, karena harus membangun lagi dan ini

membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Dari segi ekonomi yaitu dari gagalnya panen tersebut masyarakat

desa yang sebagian besar bermata pencaharian petani tersebut merasa

merugi karena pada bulan tersebut seharusnya panen dan mendapatkan

hasil dari bekerja menggarap sawah selama 3 bulan, dan pada saat banjir

datang tanaman warga habis. Hal inilah yang membuat ekonomi warga

desa semakin terpuruk pasca banjir. Serta hilangnya harta benda karena

hanyut dibawa arus air banjir yang deras, dan pada saat itu pula banyak

sekali penjarahan barang yang terjadi pada setiap rumah yang ditinggal

mengungsi. Setelah masyarakat kembali kerumah masing – masing masih

saja direpotkan dengan membersihkan rumah yang kotor akibat genangan

banjir yang membawa material liat yang susah sekali dibersihkan.

Dampak kesehatan yang di akibatkan oleh banjir yaitu banyak

penyakit yang menyerang masyarakat pada saat di pengungsian seperti

diare, gatal- gatal, flu, bahkan herpes juga dapat menyerang korban banjir

di pengungsian. Tidak hanya itu meninggalnya seseorang juga diakibatkan

hanyut karena arus yang terlalu deras juga termasuk dalam dampak sosial.

Hingga saat ini masyarakat masih saja memiliki ketraumaan

terhadap bencana banjir, sehingga jika sudah tiba musim penghujan

masyarakat mulai gelisah. Maka mereka melakukan usaha antisipasi yaitu

dengan melakukan upaya pengurangan dampak jika banjir datang. Usaha

tersebut meliputi pembuatan rak bertingkat dengan bahan sederhana yaitu


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 156
digilib.uns.ac.id

bambu, dengan tujuan untuk bisa menyimpan atau meletakkan barang

yang jauh dari jangkauan air banjir. Ditambah lagi pembenahan atap

rumah dengan memperkuat lagi kayu penopang plavon (atap) atau genting

dengan menggantinya dengan kayu yang baru untuk menyimpan barang

yang ukurannya lebih besar. Jika banjir mendadak datang, maka hal yang

pertama dilakukan yaitu menumpuk meja untuk tempat penyimpanan

barang yang dinggap penting. Selanjutnya masyarakat diwajibkan untuk

mengungsi jika banjir sudah meninggi dan tentunya persiapan sudah

dilakukan sebelumnya yaitu menyediakan obat pribadi.

Ditambah alat untuk penyelamatan yaitu pelampung sederhana dari

ban karet bekas, serta tali tambang. Untuk usaha dalam skala besar yaitu

membuat perahu sederhana yang terbuat dari bambu “gethekan”, berfungsi

untuk melakukan upaya penyelamatan mengungsi ke desa sebelah dan

tempat yang lebih tinggi, seperti bangunan yang bertingkat seperti masjid

dan sekolah. Ada juga tempat yang lebih aman untuk menyelamatkan

hewan ternak yaitu di atas tanggul yang tidak tergenang air. Usaha

selanjutnya yaitu dengan membuat gubuk sederhana yang dibuat lebih

tinggi dari rumah, dibuat didepan rumah untuk dijadikan tempat

mengungsi bagi para bapak yang tidak mau mengungsi.

Usaha yang lebih nampak lagi yakni bagi masyarakat yang mampu

sekarang telah melakukan upaya pengurangan dampak banjir dengan skala

besar yaitu dengan membangun rumah yang berfondasi kokoh dan tinggi.

Tidak jarang pula warga yang memiliki ekonomi yang tinggi, membangun
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 157
digilib.uns.ac.id

rumah berlantai dua. Ini merupakan tahap perbaikan yang sekarang

dilakukan masyarakat desa. Setelah adanya bencana banjir besar pada

tahun 2008, tidak lantas membuat warga terkesan terpuruk dan pasrah,

tetapi malah membuat warga semakin giat untuk melaksanakan upaya

dalam menjaga kelestarian lingkungan dan menerapkan usaha

pengurangan dampak banjir dalam kehidupan sehari- hari.

Secara umum, masyarakat sekitar Sungai Bengawan Solo

mempunyai taraf kehidupan yang kurang sejahterah. Faktor pndidikan dan

pengahasilan masyarakat tampaknya menjadi hal yang paling penting

dalam menentukan status sosial ekonomi masyarakat sekitar sungai,

(Badan Penelitian dan Pengembangan ITS, 2009). Sebutan untuk

masyarakat di daerah pinggiran yang jauh dari ibu kota kecamatan yaitu

masyarakat yang terbelakang, gaptek dan miskin, nampaknya masih

berlaku untuk masyarakat desa di kecamatan Baureno pasca banjir. Tetapi

lambat laun masyarakat menepis anggapan itu dengan melakukan usaha

rekonstruksi pasca banjir.

Menurut Bakornas PBP yaitu usaha rekonstruksi berupa

pembangunan kembali sarana prasarana serta fasilitas umum yang rusak

dengan tujuan agar kehidupan masyarakat kembali berjalan normal.

Biasanya melibatkan semua masyarakat, perwakilan lembaga swadaya

masyarakat dan dunia usaha. Sasaran utama dari tahap ini adalah

terbangunnya kembali masyarakat dan kawasan permukiman

3. Hubungan antara Tingkat Kerawanan dengan Persepsi Masyarakat


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 158
digilib.uns.ac.id

Pada dasarnya tingkat kerawanan bencana banjir akan

mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap kejadian tersebut. Sehingga

terjadi hubungan yang signifikan antara bencana banjir terhadap

pengetahuan, sikap dan tindakan sebagai upaya untuk mengurangi dampak

banjir. Setelah dilakukan penelitian secara mendalam dengan

menggunakan teknik wawancara dapat diperoleh data mengenai persepsi

yang dihubungkan dengan wilayah tingkat kerawanan. Seperti halnya yang

sudah dibahas di atas, tingkat kerawanan dibagi menjadi 3 kategori dan

persepsi juga di kelompokkan menjadi 3 kategori seperti tabel berikut:

Tabel 54. Hubungan antara tingkat kerawanan dan persepsi masyarakat


Tingkat Persepsi Masyarakat
No
Kerawanan Pengetahuan Sikap Tindakan
1. Kurang Rawan Tahu Setuju Cukup setuju
2. Sedang Tahu Sangat setuju Setuju
3. Rawan Sangat tahu Setuju Setuju
Sumber: Hasil analisis penelitian, 2014

Berdasarkan tabel di atas dapat diperoleh informasi bahwa tiap

wilayah kerawanan memiliki perbedaan persepsi masyarakat yang akan

dijelaskan lebih detil sebagai berikut:

a. Wilayah kurang rawan

Pada wilayah ini persepsi masyarakat memiliki pengetahuan setuju

dan paham akan adanya upaya pengurangan dampak banjir serta upaya

dalam menjaga kelestarian lingkungan. Walaupun wilayah ini hampir

tidak pernah terkena dampak banjir namun pengetahuan masyarakat

commit to user
sudah paham betul pentingnya untuk menjaga lingkungan. Seperti
perpustakaan.uns.ac.id 159
digilib.uns.ac.id

halnya yang terjadi di Desa Gajah bagian selatan masyarakat disana

sudah memiliki pola kehidupan yang ramah dengan lingkungan

sekitar. Dalam kategori sikap masyarakat juga setuju, artinya sudah

mencerminkan karakteristik yang sadar terhadap dampak bencana

banjir. Karena disadari wilayah yang mereka tempati merupakan

daerah tangkapan dan penyimpanan air hujan, masyarakat bersikap

tidak menebang pohon sembarang.

Pada kategori tindakan untuk mengurangi dampak bencana

banjir masyarakat memiliki pemahaman yang cukup setuju. Hal ini

wajar karena wilayah mereka yang jarang terkena dampak banjir.

Persepsi muncul karena fakta empirik yang terjadi sehingga

masyarakat secara tidak langsung tergerak untuk melakukan upaya

untuk melakukan tindakan pencegahan dan pengurangan dampak.

Masyarakat memiliki tindakan biasa-biasa saja kaitanya dengan upaya

pengurangan dampak.

b. Wilayah kerawanan sedang

Luas wilayah kerawanan bencana banjir kategori ini merupakan

yang paling dominan. Pada wilayah ini diperoleh fakta bahwa persepsi

masyarakat kategori sikap adalah sangat setuju sedangkan kategori

pengetahuan dan tindakan adalah setuju untuk melakukan upaya

pencegahan terhadap dampak bencana banjir. Pada dasarnya terdapat

hubungan antara tiap kategori yaitu pemahaman yang baik akan

menentukan sikap yang baik dan sikap yang baik akan menentukan
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 160
digilib.uns.ac.id

tindakan yang baik pula. Namun pada tingkat kerawanan sedang justru

sikap yang sangat setuju kurang ada pengaruhnya dengan tindakan

yang hanya masuk kategori setuju. Berdasarkan hasil analisa peneliti,

masyarakat pada wilayah ini sangat sadar dengan dampak bencana

banjir namun kadang belum begitu tahu terkait dengan tindakan yang

yang bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya atau tepatnya adalah

apatis terhadap program-program pencegahan.

c. Wilayah rawan banjir

Berbeda dengan kondisi di wilayah rawan bencana, mereka

memiliki tingkat pengetahuan mengenai banjir yang tinggi (sangat

setuju) namun untuk tataran sikap dan tindakan hanya sebatas setuju.

Tidak dapat dipungkiri bahwa masyarakat wilayah rawan didominasi

berada di sempadan sungai yang nota bene memiliki akses jalan yang

cukup jauh menuju pusat aktivitas kecamatan. Namun pada intinya

masyarakat sangat setuju dengan program-program yang membantu

dalam pencegahan dampak bencana banjir yang lebih besar. Apalagi

kalau musim hujan tiba, masyarakat mulai was-was dengan debit

Bengawan Solo yang suatu saat bisa meluap dan mengenai areal

pemukiman dan persawahan. Maka dari itu salah satu rekomendasi

untuk menanggulangi dampak bencana banjir adalah dengan adanya

early warning system atau semacam sistem peringatan dini yang

berfungsi memberikan informasi terkait banjir yang akan terjadi.


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 161
digilib.uns.ac.id

Sistem ini bisa berbentuk sirine atau sms gateway yang mampu

memberikan informasi akurat terjadinya banjir, sehingga masyarakat

lebih waspada akan datangnya banjir. Informasi ini berfungsi untuk

meminimalisir dampak negatif banjir baik materiil maupun spirituil

kepada masyarakat.

4. Implementasi Pembelajaran di Sekolah

Subject Specific Pedagogy (SSP) adalah pengemasan seluruh komponen/

perangkat pembelajaran yang diperlukan guru ketika mengajar yang

komprehensif. Format dalam penyusunannya disesuaikan dengan Badan

Standar Nasional Pendidikan yang mencakup petikan silabus terkait dengan:

a. Standar Kompetensi (SK)

b. Kompetensi Dasar (KD)

c. Indikator pencapaian

d. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

e. Materi ajar (buku siswa)

f. Media

g. Lembar kerja siswa (LKS)

h. Lembar penilaian

Perangkat SSP (Subject Specific Pedagogy) ini sebentuk penerapan atau

implementasi dalam pembelajaran IPS terpadu khususnya dalam bidang

geografi. SSP menjadi sangat penting karena relevansinya terhadap

masyarakat sekitar dan benar-benar diambil dari permasalahan yang ada. Hasil
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 162
digilib.uns.ac.id

penelitian ini nantinya akan menjadi warna baru dalam pembelajaran di kelas

karena siswa mampu belajar dari fenomena sosial dan fenomena banjir dan

faktor penyebabnya. Perangkat pembelajaran SSP berdasarkan hasil penelitian

tingkat kerawanan dan persepsi masyarakat akan dipaparkan lebih lengkap

dibagian lampiran penelitian ini.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat disimpulkan

bahwa:

1. Tingkat kerawanan banjir Kecamatan Baureno menggunakan unit analisis

satuan medan. Wilayah penelitian ini terdapat 24 satuan medan yang

terbagi menjadi 3 tingkat kerawanan bencana banjir yaitu: a). Tingkat

kerawanan kurang terdiri dari 8 satuan medan: B-F4-Tgl, C-F4-Ht, C-F4-

Tgl, D-F4-TK, D-S1-Tgl, E-S1-Tgl, F-S1-TK dan F-S1-Tgl, b). Tingkat

kerawanan sedang terdiri dari 11 satuan medan: A-F3-Pmk, A-F3-Sw, A-

F3-Tgl, B-F3-Kb, B-F3-Pmk, B-F3-Tgl, B-F4-Pmk, C-F3-Pmk, C-F3-Tgl,

C-F4-Pmk dan D-F4-Pmk dan c). Tingkat rawan terdiri dari 5 satuan

medan: A- F1-Pmk, A-F1-Sw, A- F1-Tgl, A-F2-Sw dan B-F1-Pmk.

2. Persepsi masyarakat terhadap upaya pengurangan dampak banjir dianalisis

berdasarkan pengetahuan, sikap dan tindakan. Tingkat pengetahuan

masyarakat termasuk kategori tinggi yaitu mencapai angka 91,9%

sedangkan tingkat sikap masyarakat termasuk kategori tinggi yaitu

mencapai: 87,5% dan tingkat tindakan untuk melakukan upaya

pengurangan dampak banjir sudah terlaksana dan tercermin dari

kehidupan mereka sehari yaitu menjaga kelestarian lingkungan dan

tindakan yang mengarah pada upaya mengurangi dampak banjir. Sehingga


commit to user

162
perpustakaan.uns.ac.id 163
digilib.uns.ac.id

diketahui secara keseluruhan masyarakat memiliki persepsi setuju dengan

upaya pengurangan dampak banjir.

3. Implementasi pembelajaran IPS di kelas VII SMPN 2 Baureno dilakukan

dengan pembuatan produk berupa SSP (Subject Specific Pedagogy)

dengan cara sebagai berikut:

a. Penggunaan lingkungan sebagai sumber belajar akan mendorong pada

penghayatan nilai-nilai atau aspek-aspek kehidupan yang ada di

lingkungannya. Kesadaran akan pentingnya lingkungan dalam

kehidupan bisa mulai ditanamkan pada anak sejak dini, sehingga

setelah mereka dewasa kesadaran tersebut bisa tetap terpelihara.

b. Kegiatan belajar dimungkinkan akan lebih menarik bagi siswa, sebab

lingkungan menyediakan sumber belajar yang sangat beragam dan

banyak pilihan.

B. Implikasi

Berdasarkan kesimpulan di atas maka implikais yang dapat disampaikan

adalah sebagai berikut:

1. Peta tingkat kerawanan bencana banjir Kecamatan Baureno Kabupaten

Bojonegoro mampu menjadi dasar dalam penyusunan kebijakan

Pemerintah Kecamatan dalam membangun infrastruktur yang berorientasi

dengan dampak banjir. Peta tersebut berfungsi untuk mempertimbangkan

prioritas pembangunan wilayah dengan menggunakan dasar tingkat

kerawanan rendah, sedang dan tinggi. Selain itu penting pula dalam

perencanaan konservasi SDA, agar mampu meminimalisir dampak banjir.


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 164
digilib.uns.ac.id

2. Dengan adanya penelitian ini mampu memberikan pembelajaran kepada

masyarakat akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan sekitar.

Selain itu persepsi masyarakat dapat dijadikan sebagai pedoman untuk

menyusun peraturan agar kebiasaan masyarakat yang merusak lingkungan

bisa dikurangi dan diubah menjadi kebiasaan yang berwawasan

lingkungan. Wilayah dengan tingkat kerawanan banjir tertentu pastinya

berdampak dengan persepsi masyarakat terhadap upaya pengurangan

dampak banjir. Sehingga dengan data tersebut penting pula untuk

membuat peta evakuasi dan memberikan pembelajaran (simulasi)

penanganan pertama jika banjir terjadi tiba-tiba.

3. Hasil penelitian ini sudah nampak jelas mampu berkontribusi dalam proses

pembelajaran khususnya pelajaran IPS bidang Geografi SMP. Internalisasi

konsep pembelajaran akan lebih mudah karena didasari oleh fenomena

yang terjadi disekitar siswa. Selain itu materi hasil penelitian ini sebentuk

implementasi dari amanat kurikulum yang menggunakan scientific

approach. Produk SSP juga mampu memberika alternatif varian warna

bahan pembelajaran yang sekarang nampaknya sudah mencapai titik

jenuh.

C. Saran

Berdasarkan implikasi di atas maka penelitian ini memiliki saran sebagai

berikut:

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 165
digilib.uns.ac.id

1. Pemerintah seharusnya memperhatikan masyarakat yang tinggal di sekitar

DAS Bengawan Solo yang memiliki tingkat kerawan tinggi, seperti

memberikan dana bantuan serta membangun infrastruktur yang telah rusak

dan tidak layak, contoh membangun tanggul sungai secara permanen/dari

beton (konstruksinya kuat).

2. Masyarakat lebih meningkatkan kesiap-siagaan serta kewaspadaan

terhadap adanya bencana banjir pada saat musim penghujan.

3. Peran guru sebagai fasilitator dalam pelaksanaan pendidikan harus mampu

memberikan kemudahan kepada peserta didik untuk mempelajari berbagai

hal yang terdapat dalam lingkungannya, karena pengenalan terhadap

lingkungan disekitarnya merupakan pengalaman yang positif untuk

mengembangkan minat keilmuan peserta didik.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 166
digilib.uns.ac.id

DAFTAR PUSTAKA

Asriningrum dan Gunawan. 1998. Zonasi Tingkat Kerentanan Banjir


Menggunakan Sistem Informasi Geografi (Studi Kasus Daerah Istimewa
Yogyakarta). Skripsi. Fakultas Geografi UGM Yogyakarta.
Anonim. 2007b. Pedoman Penanggulangan Banjir. Bakornas PB. Jakarta.
Arif, Dian Ardhetya. 2012. Prioritas Penanganan Banjir di Kecamatan
Telanaipura Kota Jambi. Skripsi. Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan Universitas Sebelas Maret.
Arifin, Yayu Indriati dan Kasim, Muhhamad. 2012. Penentuan Zonasi Daerah
Tingkat Kerawanan Banjir di Kota Gorontalo Propinsi Gorontalo Untuk
Mitigasi Bencana. Gorontalo: Fakultas Matematika & IPA Universitas
Gorontalo.
Arikunto, Suharsimi, 2000, Manajemen Penelitian, Jakarta: Rineka Cipta.
Azwar, Syaiful. 1998. Tes Prestasi, Fungsi Dan Pengembangan Pengukuran
Prestasi Belajar. Yogyakarata: Pustaka Pelajar.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana. 2011. Indeks Rawan Bencana
Indonesia.
BNPB, 2012, Pedoman Umum Pengkajian Risiko Bencana, Peraturan Kepala
Badan Nasional Penanggulangan Bencana No.2 Tahun 2012
Badan Nasional Penanggulangan Bencana. 2013. Informasi Bulanan
Kebencanaan Teraktual.
Badan Standart Nasional. (2010). Klasifikasi Penutupan Lahan. Jakarta: BSN.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah. 2009. Rekapitulasi Pendataan Bencana
di Kabupaten Bojonegoro. Bojonegoro: Badan Penanggulangan Bencana
Daerah Bojonegoro.
Balai Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Bengawan Solo. Data
Curah Hujan Harian kecamatan Baureno. Bojonegoro: Dinas Pekerjaan
Umum Pengairan.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 167
digilib.uns.ac.id

Departemen Pekerjaan Umum. 2012. Pengendalian Pemanfaatan Ruang di


Kawasan Rawan Bencana Banjir.
Dibyosaputro, Suprapto.1984. Flood Susceptibility And Hazard Survey of The.
Kudus Prawata Welahan Area, Central Java Indonesia. Thesis.
Enschende: ITC – The Nederlands.
Febrianti, Diah. 2010. Good Corporate Governance sebagai Pilar Implementasi
Corporate Social Responsibility. Skripsi. Semarang: Fakultas Ekonomi
Universitas Diponegoro.
Halim, Abdul . 2005. Analisis Investasi. Jakarta: Salemba Empat.
Indriyanto. 2006. Ekologi Hutan. Jakarta: Penerbit PT Bumi Aksara.
Keraf, A. Sonny. 2005. Etika Lingkungan. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.
Kodoatie, Robert J. 2013. Rekayasa dan manajemen Banjir Kota. Yogyakarta:
Andi
Kodoatie, J.R. dan Sugiyanto. 2002. Banjir, Beberpa Masalah dan Metode.
Pengendaliannya Dalam Perspektif Lingkungan. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
Kodoatie, Robert J, dan Sjarief, Roestam. 2008. Pengelolaan Sumber Daya Air
Terpadu Edisi Revisi. Yogyakarta: Andi.
Mahmud, M. Dimyati. 1989. Psikologi Pendidikan, Yogjakarta: BPEF.
Maryono, A. 2005. Menangani Banjir, Kekeringan, dan Lingkungan. Yogyakarta:
Gajah Mada University Press.
Middlebrook, P. N. 1974. Social psychology and modern life. New York: Alfred
A. Knopf.
Miharja, Nata. Panjaitan, Seno D. Sumiyatinah. 2013. Analisis Kerawanandan
Pengurangan Resiko Banjir di Kalimantan Barat Berbasis Sistem
Informasi Geografi (SIG). Jurnal Teknik Sipil. Fakultas Teknik Sipil
Universitas Tanjungpura.
Moleong, L.J. 2002. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya.
Mulyana, Deddy. 2001. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung : PT. Remaja
Rosdakarya. commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 168
digilib.uns.ac.id

Paimin. Sukresno. Purwanto. (2006). Sidik Cepat Degradasi SUB Daerah Aliran
Sungai (SUB DAS). Bogor: Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutandan
Konservasi Alam.
Prahananto, Ardhian, Sugiyanto. 2013. Perencanaan Drainase Kawasan Puri
Anjasmoro Kota Semarang. Tugas Akhir: Universitas Diponegoro
Semarang.
Prasetyo, Agustinus Budi. 2009. Pemetaan Lokasi Rawandan Resiko Bencana
Banjir di Kota Surakarta. Skripsi. Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan Universitas Sebelas Maret.
PROMISE. 2009. Banjir dan Upaya Penanggulangannya. Bandung: Pusat
Mitigasi Bencana (PMB ITB).
Pusat Studi Bencana Alam-UGM. (2000). Panduan Mitigasi Bencana Alam
Banjir, Tanah Longsor, Kekeringan, dan Kebakaran Hutan. Yogyakarta:
BAKORSURTANAL dan PSBA UGM.
Roscoe, J.T. 1982. Fundamental Research Statistics for the Behavioural Sciences.
New York: Holt Rinehart & Winston.
Sandy, I Made. 1972. Esensi Kartografi. Jakarta : Direktorat Jenderal Agraria.
Sarief, E. S. 1986. Ilmu Tanah Pertanian. Bandung: Pustaka Buana.
Seyhan, Ersin. 1977. Dasar-dasar Hidrologi. Editor Soenardi Prawirohatmojo.
Yogyakarta: UGM Press.
Sinaga, Maruli S. 1995. Pengetahuan Peta. Jogjakarta : Fakultas Geografi
Universitas Gadjah Mada.
Singarimbun, Masri dan Effendi, Sofian . 1989. Metode Penelitian Survei.
Jakarta: LP3ES.
Simanuhuruk. 2003. Definisi Persepsi.
Winkel, W.S. & M.M, Sri Hastuti. 2009. Bimbingan Dan Konseling Di Institusi
Pendidikan. Yogjakarta : Media Abadi.
Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta:
Rineka Cipta.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 169
digilib.uns.ac.id

Soemantri, Lyli. (2008). Pemanfaatan Teknik Penginderaan Jauh Untuk


Mengidentifikasi Kerentanandan Resiko Banjir. Jurnal Gea. Jurusan
Pendidikan Geografi.
Soekamto, Teoti, Dkk. 1995. Teori Belajar dan Model-Model Pembelajaran.
Jakarta: Dirjen DIKTI Depdikbud.
Sosrodarsono, Suyono dan Takeda, Kensaku. 1978. Hidrologi untuk Pengairan.
Jakarta: PT. Pradnya Paramita.
Subagyo, Pangestu. 1985. Statistik Deskriptif. Yogyakarta : BPFE.
Suhardiman, Budi. 2012. Studi Pengembangan Kepala Sekolah Konsep dan
Aplikasi. Jakarta: Rineka Cipta.
Sugiyono. 2011. Statistika untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.
Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
Sugiyono. 2013. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta.
Sunaryo. 2004. Psikologi untuk Keperawatan. Jakarta: EGC.
Suripin. 2004. Sistem Drainase Perkotaan yang Berkelanjutan. Yogyakarta: Andi
Tika, Muh. Pambudu. 1997. Metode Penelitian Geografi. Jakarta: PT Gramedia
Pustaka Utama.
Thoha, Miftah. 2003, Kepemimpinan Dalam Manajemen. Jakarta: PT. Raja
Grafindo.
Trianto. 2010. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif Progresif. Jakarta:
Kencana.
Yunus, Hadi Sabari. 2010. Metode Penelitian Wilayah Kontemporer. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Walgito, Bimo. 2004. Pengantar Psikologi Umum. Jakarta: Penerbit Andi.
Warsita, Bambang. 2008. Teknologi Pembelajaran, Landasan dan Aplikasinya.
Jakarta: Rineka Cipta.
Widiastuti. 2002. Aplikasi Citra Satelit Landsat Thematic Mapper dan Sistem
Informasi Geografis Untuk Pemetaan Daerah Rawan Banjir Di Sebagian
Daerah Aliran Sungai Brantas Propinsi Jawa Timur (Studi Kasus Di
Kabupaten Temanggung). Skripsi. Fakultas Geografi UGM Yogyakarta.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 170
digilib.uns.ac.id

Journal:
L. Koivuma¨ki, P. Alho, E. Lotsari, J. Ka¨yhko¨, A. Saari and H. Hyyppa¨. 2010.
Uncertainties in flood risk mapping: a case study on estimating building
damages for a river flood in Finland. Journal of Flood Risk Management
No.3 (2010) 166–183.
Katpatal, Y.B. and Patil, S.A.. 2010. Spatial analysis on impacts of mining
activities leading to flood disaster in the Erai watershed, India. Journal of
Flood Risk Management No. 3 (2010) 80–87.
The National Flood Risk Advisory Group. 2008. Flood risk management in
Australia. The Australian Journal of Emergency Management, Vol. 23 No.
4, November 2008.
Johnstone, W.M. and Lence, B.J.. 2009. Assessing the value of mitigation
strategies in reducing the impacts of rapid-onset, catastrophic floods.
Journal of Flood Risk Management No. 2 (2009) 209–221.
Rayhan, M.I. 2010. Assessing poverty, risk and vulnerability: a study on flooded
households in rural Bangladesh. Journal of Flood Risk Management No. 3
(2010) 18–24.
Suryaningsih, Wakhidah Heny. Purnaweni, Hartuti, dan Izzati, Muniffatul. 2012.
Persepsi Masyarakat Dalam Pelestarian Hutan Rakyat di Desa
Karangrejo Kecamatan Loano Kabupaten Purworejo. Prosiding Seminar
Nasional Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan. Magister Ilmu
lingkungan Undip. Semarang, 11 September 2012.
Jufriadi, Akhmad dkk. 2012. Sosialisasi “Pengurangan Resiko Bencana” Di
Kecamatan Tempursari Kabupaten Lumajang Sebagai Upaya Pendidikan
Mitigasi Bencana. ERUDIO, Vol. 1, No. 1, Desember 2012. ISSN: 2302-
9021.
Astuti D, Siti Irene dan Sudaryono, S.U. 2010. Peran Sekolah dalam
Pembelajaran Mitigasi Bencana. Jurnal Dialog Penanggulangan Bencana.
Vol.1 No.1, Tahun 2010, hal 30-42.
Kaisar, Muhammad Chandra. 2013. Skenario Pengembangan Kota Pulau
commit
Berdasarkan Pertimbangan ResikotoBencana
user Banjir (Studi Kasus: Bencana
perpustakaan.uns.ac.id 171
digilib.uns.ac.id

Banjir di Kota Batam, Prov. Kepulauan Riau). Jurnal Perencanaan


Wilayah dan Kota A SAPPK V3N1 hal. 67- 96.
Sagala, Saut. Dodon dan Wimbardana, Ramanditya. 2014. Adaptasi Non
Struktural Penduduk Penghuni Permukiman Padat terhadap Bencana
Banjir: Studi Kasus Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung. Jurnal
Resilience Development Initiative, Bandung, Indonesia. WP No : 5.
Februari, 2014 ISSN : 2406-7865.

Internet:
http://www.aect.org/newsite/ tentang Association of Educational Communication
Technology /AECT, 1997:60 diakses pada tanggal 24 September 2014
http://bappeda.bojonegorokab.go.id diakses pada tanggal 24 September 2014
http://randd.defra.gov.uk/Document.aspx?Document=CaseStudy13TywynCoastal
DefenceProject-FD2635.pdf. Tentang Sea Defence Consultant tahun 2009
diakses pada tanggal 10 Desember 2014
http://bebasbanjir2015.wordpress.com/konsep–pemerintah/ditjen-penataan-ruang
dept-pu tentang Kawasan Rawan Bencana Banjir. Diakses pada tanggal
15 Mei 2014.
http://bojonegorokab.bps.go.id/?hal=publikasi_detil&id=1 tentang Bojonegoro
Dalam Angka 2013. Diakses pada tanggal 15 Mei 2014

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

LAMPIRAN

commit to user

172
perpustakaan.uns.ac.id 173
digilib.uns.ac.id

KUESIONER

PERSEPSI MASYARAKAT (PENGETAHUAN, SIKAP, DAN TINDAKAN)


TERHADAP UPAYA PENGURANGAN DAMPAK BANJIR DI
KECAMATAN BAURENO KABUPATEN BOJONEGORO

Oleh:
LILIK INDAWATI
Nim. S881308008

Dalam rangka penelitian yang saya lakukan, saya ingin mengajukan beberapa
pertanyaan kepada Bapak/Ibu sekaligus ingin mendapat keterangan lain guna
melengkapi data penelitian ini. Keterangan Bapak/Ibu semata-mata hanya untuk
keperluan studi dan akan kami jaga kerahasiaannya. Terima kasih atas bantuan
dan kerja sama dari Bapak/Ibu.

PROGRAM PASCA SARJANA KEPENDIDIKAN


FAKULTAS KEGURUAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA
PROGRAM STUDI PKLH(GEOGRAFI)
commit to user
2014
perpustakaan.uns.ac.id 174
digilib.uns.ac.id

Identitas Responden No.

1. Nama :
2. Umur :
3. Jenis Kelamin :
4. Pendidikan formal (sekolah) tertinggi yang pernah Anda selesaikan
adalah
a. Tidak tamat SD / SR
b. Tamat SD /SR
c. SMP / MTs / Paket B
d. SMA / MAN / Paket C
e. Perguruan Tinggi
5. Dusun :
6. Status perkawinan Anda adalah
a. Belum kawin
b. Kawin c.Janda / Duda
7. Susunan dari Anggota Keluarga :

Jenis Hubungan
No. Nama Umur Pendidikan dengan KK
kelamin
1. … … … … …
2. … … … … …
3. … … … … …
4. … … … … …
5. … … … … …
6. … … … … …
7. … … … … …

8. Luasan Rumah : ± …. m2
9. Kedudukan dalam masyarakat:
a. Anggota masyarakat biasa
b. Perangkat Desa : 1) Kepala Desa 2) Wakil Kepala Desa
3) Sekretaris Desa
commit to user
4) Lainnya … (Cantumkan)
perpustakaan.uns.ac.id 175
digilib.uns.ac.id

c. Tokoh masyarakat : 1) Tokoh adat 2) Tokoh agama


3) Lainnya (Cantumkan)
10. Pekerjaan Anda sekarang ini adalah
a. Petani / Peternak
b. Buruh Tani
c. Pegawai Negeri
d. Wiraswasta
e. Lain – lain …
(Cantumkan)

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 176
digilib.uns.ac.id

Kuesioner Pengetahuan tentang upaya pengurangan dampak Banjir

Sangat Cukup Tidak


No. Kuisioner tahu
tahu tahu tahu
1. Apakah bapak/ibu tahu tentang upaya
pengurangan dampak banjir?

2. Apakah bapak/ibu tahu penyelamatan harta


benda merupakan salah satu upaya pengurangan
dampak banjir?
3. Apakah bapak/ibu tahu tentang teknik – teknik
dalam upaya pengurangan dampak banjir?

4. Apakah bapak/ibu tahu pembuatan perahu


sederhana yang terbuat dari bambu itu
merupakan salah satu teknik dalam upaya
pengurangan dampak banjir?
5. Apakah bapak / ibu tahu bagaimana cara
melestarikan lingkungan ?

6. Apakah bapak/ ibu tahu pelestarian lingkungan


merupakan suatu upaya dalam penanggulangan
bencana banjir?

7 Apakah bapak/ibu tahu bagaimana


melaksanakan upaya pelestarian lingkungan?

8 Apakah bapak/ibu tahu dampak dari adanya


bencana banjir?

9 Apakah bapak/ibu tahu jika desa tempat tinggal


bapak/ibu ini merupakan desa yang berdataran
rendah?

10. Apakah bapak/ibu tahu jika curah hujan di


kabupaten Bojonegoro setiap bulan nopember
dan desember sangat tinggi?
11. Apakah bapak / ibu tahu jika sungai bengawan
solo ini merupakan sungai yang sering sekali
meluap pada musim penghujan?
12. Apakah bapak/ibu tahu jika didaerah ini
tanahnya bergerak dan daya resap terhadap air
rendah?

13. Apakah bapak/ibu tahu usaha-usaha


pengurangan dampak banjir apa yang sesuai
dengan geomorfologis desa? commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 177
digilib.uns.ac.id

14. Apakah bapak/ibu tahu apa saja yang


dibutuhkan dalam melakukan perencanaan
teknik pengurangan dampak banjir?
15. Apakah bapak/ibu tahu dalam teknik
pengurangan dampak banjir persebaran
informasi bahaya serta penanggulangan bencana
melalui media cetak, elektronik, maupun sms
gateway?

16. Apakah bapak/ ibu tahu apa saja yang di


butuhkan dalam melakukan penyusunan teknik
pengurangan dampak banjir?

17. Apakah bapak/ibu tahu jika usaha-usaha


pengurangan dampak banjir masih belum
berhasil, karena masih saja banyak kerugian jika
banjir datang?

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 178
digilib.uns.ac.id

Skala Sikap tentang upaya pengurangan dampak banjir

Sangat Cukup Tidak


No. Kuisioner Setuju
Setuju setuju Setuju
1. Penggundulan hutan secara besar-besaran bisa
menyebabkan banjir didaerah hilir
2. Penyebab banjir didaerah ini berasal dari air
kiriman waduk gajah mungkur Wonogiri.
3. Banjir di daerah ini disebabkan tidak hanya
karena meluapnya sungai bengawan solo, tapi
karena daerah tempat tinggl ini berdataran
rendah.
4. Pembuatan rak barang dan pembenahan atap
rumah untuk penyimpanan barang harus
segera dilaksanakan, karena setiap saat atau
setiap waktu banjir akan datang
5. Pembangunan tanggul sungai membutuhkan
biaya besar, ini kewajiban pemerintah bukan
kewajiban warga

6. Upaya penghijauan dan penanaman kembali


hutan yang gundul merupakan kewajiban
setiap orang untuk memperbesar kapasitas
peresapan air
7 Saya membuat perahu-perahu sederhana untuk
upaya penyelamatan jika banjir datang

8 Pengurangan dampak banjir memiliki fungsi


yang sangat penting dalam kehidupan
masyarakat desa.
9 Fungsi dari adanya upaya pengurangan
dampak banjir adalah bisa mengurangi sikap
pasrah dan selalu percaya takdir
10. Setelah adanya penyuluhan tentang upaya
pengurangan dampak banjir didesa, saya
semakin yakin bahwa hal ini akan membawa
commit to
perubahan dalam kehidupan saya. user
perpustakaan.uns.ac.id 179
digilib.uns.ac.id

11. Rasa takut dan gelisah akan adanya banjir


sedikit hilang, karena saya telah melakukan
banyak hal yang bisa mengurangi kerugian
sebagai dampak banjir.
12. Karena adanya teknik dalam upaya untuk
mengurangi dampak banjir, saya rasa jika
banjir datang tidak banyak kerugian yang
terjadi.
13. Harapan saya dari adanya teknologi yang
canggih (seperti media elektronik dan sms
gateway) bisa cepat mengetahui bahaya serta
berita tentang datangnya banjir.
14. Adanya penyuluhan pemerintah daerah dan
aparatur desa , diharapkan bisa merubah
pemikiran masyarakat yang selalu
mempertahankan nilai kemasyarakatannya.
15. Saya berharap suatu hari nanti pemerintah
akan memberikan imbalan kepada masyarakat
terhadap apa yang mereka lakukan untuk
mengurangi dampak banjir di desa mereka.
16. Saya harus membantu pemerintah dalam
membangun tanggul di bibir sungai bengawan
solo.
17. Jika ada penyuluhan di balai desa tentang
usaha-usaha pengurangan dampak banjir, saya
wajib ikut .
18. Saya berani menegur jika ada orang yang
memiliki niat untuk merusak lingkungan.
19. Jika saya membangun rumah maka
fondasinyaharus tinggi , kuat dan
kokoh(rumah tahan banjir).
20. Saya tetap harus menyediakan pelampung dan
tambang untuk usaha penyelamatan jika banjir
datang.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 180
digilib.uns.ac.id

Kuesioner Tindakan Masyarakat Terhadap Upaya Pengurangan Dampak


Banjir

1. Bagaimana cara Bapak / Ibu dalam menjaga kelestarian lingkungan?


a. …………………………………………………………………..
b. …………………………………………………………………..
c. …………………………………………………………………..
d. …………………………………………………………………..

2. Apa Bapak/ ibu telah melaksanakan upaya pengurangan dampak banjir?


Sudah / belum.
Alasannya:
a. ………………………………………………………………….
b. ………………………………………………………………….
c. ………………………………………………………………….
d. ………………………………………………………………….

3. Apa saja upaya yang Bapak / Ibu lakkukan untuk mengurangi dampak banjir?
Sebutkan
a. ……………………………………………………
b. ……………………………………………………
c. …………………………………………………....
d. ……………………………………………………

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 181
digilib.uns.ac.id

KISI-KISI INSTRUMEN PENELITIAN PENGETAHUAN TENTANG


UPAYA PENGURANGAN DAMPAK BANJIR

Jawaban
No Sub Variabel Indikator Pertanyaan
ST T CT TT

1. Pengetahuan dalam Pengetahuan 1.Apakah bapak/ibu tahu


pelaksanaan upaya dasar upaya tentang upaya pengurangan
penguragan dampak pengurangan dampak banjir
banjir dampak banjir
2.Apakah bapak/ibu tahu
tentang upaya Penyelamatan
harta benda mrp salah satu
upaya pengurangan dampak
banjir

Pengetahuan 3.Apakah bapak/ibu tahu


tentang teknik tentang Teknik-teknik dalam
dalam upaya upaya pengurangan dampak
pengurangan banjir?
dampak banjir
4.Apakah bapak/ibu tahu
tentang Pembuatan perahu
sederhana yang terbuat
dari bambu itu merupakan
salah satu teknik dalam
upaya pengurangan
dampak banjir?

2. Pemahaman tentang Pemahaman 5.Apakah bapak/ibu tahu


upaya pengurangan tentang upaya bagaiman acara melestarikan
dampak banjir pelestarian lingkungan?
lingkngan
6.Apakah bapak/ibu tahu
pelestarian lingkungan
merupakan suatu upaya
dalam penanggulangan
bencana banjir?

7. 7. Apakah bapak/ibu tahu


bagaimana melaksanakan
upaya pelestarian
lingkungan?

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 182
digilib.uns.ac.id

Pemahaman 8. Apakah bapak/ibu tahu


tentang dampak dari adanya
dampak banjir bencana banjir?

Penerapan(aplikasi)
1. Penerapan 9.Apakah bapak/ibu tahu jika
pengetahuan pengetahuan desa ini merupakan desa
tentang pelaksanaan dalam yang berdataran rendah
upaya pengurangan pelaksanaan
dampak banjir upaya
pengurangan
dampak banjir

4. Penjabaran tentang Penggambaran 10.Apakah bapak/ibu tahu


upaya pengurangan umum tentang jika curah hujan di kabupaten
dampak banjir. kondisi Bojonegoro setiap bulan
geomorfologis nopember dan desember
desa sangat tinggi?

11.Apakah bapak/ibu tahu


jika sungai bengawan solo
yang sering sekali meluap
pada musim penghujan?

12.Apakah bapak/ibu tahu


jika didaerah ini tanahnya
bergerak dan daya resap
terhadap air rendah?

Penjabaran 13.Apakah bapak/ibu tahu


tentang usaha- usaha-usaha pengurangan
usaha dampak banjir apa yang
pengurangan sesuai dengan geomorfologis
dampak banjir desa?
sesuai kondisi
geomorfologis
desa

5. Penyusunan usaha- Perencanaan 14.Apakah bapak/ibu tahu


usaha dalam teknik dalam apa saja yang dibutuhkan
pengurangan upaya dalam melakukan
dampak banjir pengurangan perencanaan
commit to user teknik
perpustakaan.uns.ac.id 183
digilib.uns.ac.id

dampak banjir pengurangan dampak banjir?

15Apakah bapak/ibu tahu


dalam teknik pengurangan
dampak banjir persebaran
informasi bahaya serta
penanggulangan bencana
melalui media cetak ,
elektronik, maupun sms
gateway?

Penyusunan 16.apakah bapak/ibu tahu apa


teknik dalam saja yang dibutuhkan dalam
upaya melakukan penyusunan
pengurangan teknik pengurangan dampak
dampak banjir banjir?

6. Penilaian terhadap Penilaian 17.Apakah bapak/ibu tahu


upaya pengurangan terhadap jika usaha-usaha
dampak banjir usaha-usaha pengurangan dampak banjir
dalam upaya masih belum berhasil, karena
penguranagn masih saja banyak kerugian
dampak banjir jika banjir datang?

Keterangan: ST = Sangat Tahu


T = Tahu
CT = Cukup Tahu
TT = Tidak Tahu

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 184
digilib.uns.ac.id

KISI-KISI INSTRUMENT PENELITIAN SKALA SIKAP TENTANG


UPAYA PENGURANGAN DAMPAK BANJIR

No Sub Indikator Pernyataan Jawaban


variabel SS S CS TS
1. Pemahaman Pemahaman 1.Penggundulan hutan secara
terhadap tentang sebab – besar-besaran bisa menyebabkan
pengurangan sebab banjir banjir didaerah hilir
banjir

2.Penyebab banjir didesa ini


berasal dari air kiriman waduk
gajah mungkur wonogiri

3.Banjir di desa ini disebabkan


tidak hanya karena meluapnya
sungai bengawan solo tapi karena
tempat tinggal ini berdataran
rendah.
Pemahaman 4. Pembuatan rak barang dan
tentang upaya pembenahan atap rumah untuk
pengurangan penyimpanan barang harus
dampak banjir segera dilaksanakan karena tiap
saat atau setiap waktu banjir
akan datang.

5. Pembangunan tanggul sungai


membutuhkan biaya besar, ini
kewajiban pemerintah bukan
kewajiban warga.

6. Upaya penghijauan dan


penanaman kembali hutan yang
gundul merupakan kewajiban
setiap orang untuk
memperbesar kapasitas
peresapan air.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 185
digilib.uns.ac.id

7. Saya membuat perahu-perahu


sederhana untuk upaya
penyelamatan jika banjir
datang.

Pemahaman 8. Pengurangan dampak banjir


tentang fungsi memiliki fungsi yg sangat
upaya penting dalam kehidupan
pengurangn masyarakat desa
dampak banjir 9. Fungsi dari adanya upaya
pengurangan dampak banjir
adalah bisa mengurangi sikap
pasrah dan selalu percaya
takdir.
10.Setelah adanya penyuluhan
tentang upaya pengurangan
dampak banjir di desa, saya
semakin yakin bahwa ini akan
membawa perubahan dalam
kehidupan saya.
2. Perasaan Harapan untuk 11.Rasa takut dan gelisah akan
terhadap merasakan adanya banjir sedikit hilang
upaya manfaat adanya karena saya telah melakukan
pengurangan upaya banyak hal yg bisa mengurangi
banjir pengurangan kerugiann sebagai dampak banjir.
dampak banjir 12.Karena adanya teknik dalam
upaya untuk mengurangi dampak
banjir, saya rasa jika banjir datang
tidak banyak kerugian yg terjadi.
13.harapan saya dari adanya
teknologi yang canggih seperti
media elektronik dan sms gateway
bisa cepat mengetahui bahaya
serta berita tentang datangnya
banjir.
Harapan dan 14. adanya penyuluhan
bimbingan alam pemerintah daerah dan aparatur
pelaksanaan desa diharapkan bisa merubah
upaya pemikiran masyarakat yang selalu
pengurangan mempertahankan nilai
dampak banjir kemasyarakatannya

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 186
digilib.uns.ac.id

15. Saya berharap suatu hari nanti


pemerintah akan memberikan
imbalan kepada masyarakat
terhadap apa yang mereka
lakukan untuk mengurangi
dampak banjir didesa mereka.
3. Kecenderunga Kemauan untuk 16. Saya harus membantu
n berbuat melakukan pemerintah dalam membanggun
upaya tanggul di bibir sungai bengawan
pengurangan solo
dampak banjir
17. Jika ada Penyuluhan di Balai
desa tentang usaha-usaha
pengurangan dampak banjir, saya
wajib ikut.

18. saya berani menegur, jika ada


orang yang memiliki niat untuk
merusak lingkungan

19. Jika saya membangun rumah,


maka fondasinya harus tinggi,
kuat dan kokoh(rumah tahan
banjir)

20. Saya tetap harus menyediakan


pelampung dan tambang untuk
usaha penyelamatan jika banjir
datang.

Ket: SS = Sangat Setuju


S = Setuju
CS= Cukup Setuju
TS = Tidak Setuju

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 187
digilib.uns.ac.id

KISI – KISI INSTRUMEN PENELITIAN TINDAKAN MASYARAKAT


TERHADAP UPAYA PENANGGULANGAN DAMPAK BANJIR

No Sub Variabel Indikator Kuesioner


1. Tingkat / taknik Tindakan – 1.Bagaimana cara Bapak / Ibu dalam
upaya tindakan dalam menjaga kelestarian lingkungan?
pengurangan upaya 2.apakah Bapak / Ibu telah
dampak banjir pengurangan melaksanakan upaya pngurangan
dampak banjir. dampak banjir? Sudah / Belum
3.Apa saja upaya yang Bapak / Ibu
lakukan untuk mengurangi dampak
banjir? Sebutkan !

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 188
digilib.uns.ac.id

LEMBAR OBSERVASI LAPANGAN


1. Satuan Medan/ No : 1 6. Lokasi :
2. Identitas Pengamat : a. Lintang : 9213921
a. Nama : Lilik ind b. Bujur :626959
b. Hari / Tanggal : Jumat, 24 okt 2014 c. Rt / RW :
3. Elevasi :25 d. Desa :
4. Kode GPS : e. Kecamatan :baureno
5. Nomor Foto :
No. Observasi
Parameter Klasifikasi Hasil / Ket
1 Tutupan lahan a. Hutan (Pimer/Sekunder) Permukiman
b. Tanah Kosong
c. Semak Belukar
d. Kebun
e. Kebun Campuran
f. Tegalan
g. Sawah Irigasi
h. Pemukiman
I. Industri
2 Kemiringan lereng a. Datar 0 - 3% Datar / 2%
b. Landai 4-6%
c. Agak Curam 7–9%
d.Curam 9 – 12 %
e. Sangat Curam > 12 %
3 Bentuk Lahan a. Dataran Banjir Dataran banjir
b. Rawa Belakang
c. Dataran Aluvial
d. Teras Fluvial Atas
e. Teras Fluvial Bawah

LEMBAR OBSERVASI LAPANGAN


1. Satuan Medan/ No : 2 6. Lokasi :
2. Identitas Pengamat : a. Lintang : 9214328
a. Nama : lilik ind b. Bujur :0624583
b. Hari / Tanggal : sabtu, 25 okt 2014 c. Rt / RW :
3. Elevasi :21 d. Desa :
4. Kode GPS : e. Kecamatan :
5. Nomor Foto :
No. Observasi
Parameter Klasifikasi Hasil / Ket
1 Tutupan lahan a. Hutan (Pimer/Sekunder) Sawah irigasi
b. Tanah Kosong
c. Semak Belukar
d. Kebun
e. Kebun Campuran
f. Tegalan
g. Sawah Irigasi
h. Pemukiman
I. Industri
2 Kemiringan lereng a. Datar 0 - 3% Datar / 1%
b. Landai 4-6%
c. Agak Curam 7–9%
d.Curam 9 – 12 %
e. Sangat Curam > 12 %
3 Bentuk Lahan a. Dataran Banjir Dataran banjir
b. Rawa Belakang
c. Dataran Aluvial
d. Teras Fluvial Atas
e. Teras Fluvial Bawah

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 189
digilib.uns.ac.id

LEMBAR OBSERVASI LAPANGAN


1. Satuan Medan/ No : 3 6. Lokasi :
2. Identitas Pengamat : a. Lintang : 9218268
a. Nama : Lilik ind b. Bujur : 0619553
b. Hari / Tanggal : sabtu, 25 okt 2014 c. Rt / RW :
3. Elevasi :17 d. Desa : pucang arum
4. Kode GPS : e. Kecamatan : baureno
5. Nomor Foto :
No. Observasi
Parameter Klasifikasi Hasil / Ket
1 Tutupan lahan a. Hutan (Pimer/Sekunder) Tegalan
b. Tanah Kosong
c. Semak Belukar
d. Kebun
e. Kebun Campuran
f. Tegalan
g. Sawah Irigasi
h. Pemukiman
I. Industri
2 Kemiringan lereng a. Datar 0 - 3% Datar 1%
b. Landai 4-6%
c. Agak Curam 7–9%
d.Curam 9 – 12 %
e. Sangat Curam > 12 %
3 Bentuk Lahan a. Dataran Banjir Dataran banjir
b. Rawa Belakang
c. Dataran Aluvial
d. Teras Fluvial Atas
e. Teras Fluvial Bawah

LEMBAR OBSERVASI LAPANGAN


1. Satuan Medan/ No : 4 6. Lokasi :
2. Identitas Pengamat : a. Lintang :9216028
a. Nama : lilik ind b. Bujur : 0622093
b. Hari / Tanggal : Sabtu 25 okt 2014 c. Rt / RW :
3. Elevasi :17 d. Desa :
4. Kode GPS : e. Kecamatan : baueno
5. Nomor Foto :
No. Observasi
Parameter Klasifikasi Hasil / Ket
1 Tutupan lahan a. Hutan (Pimer/Sekunder) Sawah irigasi
b. Tanah Kosong
c. Semak Belukar
d. Kebun
e. Kebun Campuran
f. Tegalan
g. Sawah Irigasi
h. Pemukiman
I. Industri
2 Kemiringan lereng a. Datar 0 - 3% Datar / 1%
b. Landai 4-6%
c. Agak Curam 7–9%
d.Curam 9 – 12 %
e. Sangat Curam > 12 %
3 Bentuk Lahan a. Dataran Banjir Rawa
b. Rawa Belakang
c. Dataran Aluvial belakang
d. Teras Fluvial Atas
commit to user
e. Teras Fluvial Bawah
perpustakaan.uns.ac.id 190
digilib.uns.ac.id

LEMBAR OBSERVASI LAPANGAN


1. Satuan Medan/ No : 5 6. Lokasi :
2. Identitas Pengamat : a. Lintang :9212850
a. Nama : b. Bujur :0616537
b. Hari / Tanggal : jumat,24 okt 2014 c. Rt / RW :
3. Elevasi :19 d. Desa :Sembung lor
4. Kode GPS : e. Kecamatan :Baureno
5. Nomor Foto :
No. Observasi
Parameter Klasifikasi Hasil / Ket
1 Tutupan lahan a. Hutan (Pimer/Sekunder) Permukiman
b. Tanah Kosong
c. Semak Belukar
d. Kebun
e. Kebun Campuran
f. Tegalan
g. Sawah Irigasi
h. Pemukiman
I. Industri
2 Kemiringan lereng a. Datar 0 - 3% Datar / 1%
b. Landai 4-6%
c. Agak Curam 7–9%
d.Curam 9 – 12 %
e. Sangat Curam > 12 %
3 Bentuk Lahan a. Dataran Banjir Dat. Alluvial
b. Rawa Belakang
c. Dataran Aluvial
d. Teras Fluvial Atas
e. Teras Fluvial Bawah

LEMBAR OBSERVASI LAPANGAN


1. Satuan Medan/ No : 6 6. Lokasi :
2. Identitas Pengamat : a. Lintang :9214235
a. Nama : lilik ind b. Bujur :0624619
b. Hari / Tanggal : sabtu, 25 okt 2014 c. Rt / RW :
3. Elevasi :20 d. Desa :
4. Kode GPS : e. Kecamatan :
5. Nomor Foto :
No. Observasi
Parameter Klasifikasi Hasil / Ket
1 Tutupan lahan a. Hutan (Pimer/Sekunder) Sawah irigasi
b. Tanah Kosong
c. Semak Belukar
d. Kebun
e. Kebun Campuran
f. Tegalan
g. Sawah Irigasi
h. Pemukiman
I. Industri
2 Kemiringan lereng a. Datar 0 - 3% Datar, 1%
b. Landai 4-6%
c. Agak Curam 7–9%
d.Curam 9 – 12 %
e. Sangat Curam > 12 %
3 Bentuk Lahan a. Dataran Banjir Dat. alluvial
b. Rawa Belakang
c. Dataran Aluvial
d. Teras Fluvial Atas
e. Teras Fluvial Bawah
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 191
digilib.uns.ac.id

LEMBAR OBSERVASI LAPANGAN


1. Satuan Medan/ No : 7 6. Lokasi :
2. Identitas Pengamat : a. Lintang :9214106
a. Nama : lilik ind b. Bujur :625366
b. Hari / Tanggal : c. Rt / RW :
3. Elevasi :23 d. Desa :
4. Kode GPS : e. Kecamatan :
5. Nomor Foto :
No. Observasi
Parameter Klasifikasi Hasil / Ket
1 Tutupan lahan a. Hutan (Pimer/Sekunder) Sawah irigasi
b. Tanah Kosong
c. Semak Belukar
d. Kebun
e. Kebun Campuran
f. Tegalan
g. Sawah Irigasi
h. Pemukiman
I. Industri
2 Kemiringan lereng a. Datar 0 - 3% Datar, 1%
b. Landai 4-6%
c. Agak Curam 7–9%
d.Curam 9 – 12 %
e. Sangat Curam > 12 %
3 Bentuk Lahan a. Dataran Banjir Dat. alluvial
b. Rawa Belakang
c. Dataran Aluvial
d. Teras Fluvial Atas
e. Teras Fluvial Bawah

LEMBAR OBSERVASI LAPANGAN


1. Satuan Medan/ No : 8 6. Lokasi :
2. Identitas Pengamat : a. Lintang : 9217603
a. Nama : lilik ind b. Bujur :0619562
b. Hari / Tanggal : sabtu, 25 okt 2014 c. Rt / RW :
3. Elevasi :22 d. Desa :
4. Kode GPS : e. Kecamatan :
5. Nomor Foto :
No. Observasi
Parameter Klasifikasi Hasil / Ket
1 Tutupan lahan a. Hutan (Pimer/Sekunder) Permukiman
b. Tanah Kosong
c. Semak Belukar
d. Kebun
e. Kebun Campuran
f. Tegalan
g. Sawah Irigasi
h. Pemukiman
I. Industri
2 Kemiringan lereng a. Datar 0 - 3% Datar,1%
b. Landai 4-6%
c. Agak Curam 7–9%
d.Curam 9 – 12 %
e. Sangat Curam > 12 %
3 Bentuk Lahan a. Dataran Banjir Dat. banjir
b. Rawa Belakang
c. Dataran Aluvial
d. Teras Fluvial Atas
e. Teras Fluvial Bawah

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 192
digilib.uns.ac.id

LEMBAR OBSERVASI LAPANGAN


1. Satuan Medan/ No : 9 6. Lokasi :
2. Identitas Pengamat : a. Lintang :9212064
a. Nama : lilik ind b. Bujur :0625303
b. Hari / Tanggal :sabtu,25 okt 2014 c. Rt / RW :
3. Elevasi : d. Desa : gunung sari
4. Kode GPS : e. Kecamatan :Baureno
5. Nomor Foto :
No. Observasi
Parameter Klasifikasi Hasil / Ket
1 Tutupan lahan a. Hutan (Pimer/Sekunder) Kebun
b. Tanah Kosong
c. Semak Belukar
d. Kebun
e. Kebun Campuran
f. Tegalan
g. Sawah Irigasi
h. Pemukiman
I. Industri
2 Kemiringan lereng a. Datar 0 - 3% Datar, 1%
b. Landai 4-6%
c. Agak Curam 7–9%
d.Curam 9 – 12 %
e. Sangat Curam > 12 %
3 Bentuk Lahan a. Dataran Banjir Dat. banjir
b. Rawa Belakang
c. Dataran Aluvial
d. Teras Fluvial Atas
e. Teras Fluvial Bawah

LEMBAR OBSERVASI LAPANGAN


1. Satuan Medan/ No : 10 6. Lokasi :
2. Identitas Pengamat : a. Lintang : 9209181
a. Nama : lilik ind b. Bujur :617188
b. Hari / Tanggal : Jumat, 24 okt 2014 c. Rt / RW :
3. Elevasi : 18 d. Desa : Ngemplak
4. Kode GPS : e. Kecamatan : Baureno
5. Nomor Foto :
No. Observasi
Parameter Klasifikasi Hasil / Ket
1 Tutupan lahan a. Hutan (Pimer/Sekunder) Permukiman
b. Tanah Kosong
c. Semak Belukar
d. Kebun
e. Kebun Campuran
f. Tegalan
g. Sawah Irigasi
h. Pemukiman
I. Industri
2 Kemiringan lereng a. Datar 0 - 3% Datar,1%
b. Landai 4-6%
c. Agak Curam 7–9%
d.Curam 9 – 12 %
e. Sangat Curam > 12 %
3 Bentuk Lahan a. Dataran Banjir Dat. banjir
b. Rawa Belakang
c. Dataran Aluvial
d. Teras Fluvial Atas
e. Teras Fluvial Bawah

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 193
digilib.uns.ac.id

LEMBAR OBSERVASI LAPANGAN


1. Satuan Medan/ No : 11 6. Lokasi :
2. Identitas Pengamat : a. Lintang :9209817
a. Nama : lilik ind b. Bujur :615766
b. Hari / Tanggal : Jumat, 24 okt 2014 c. Rt / RW :
3. Elevasi : 21 d. Desa :Drajat
4. Kode GPS : e. Kecamatan :Baureno
5. Nomor Foto :
No. Observasi
Parameter Klasifikasi Hasil / Ket
1 Tutupan lahan a. Hutan (Pimer/Sekunder) Tegalan
b. Tanah Kosong
c. Semak Belukar
d. Kebun
e. Kebun Campuran
f. Tegalan
g. Sawah Irigasi
h. Pemukiman
I. Industri
2 Kemiringan lereng a. Datar 0 - 3% Datar, 1%
b. Landai 4-6%
c. Agak Curam 7–9%
d.Curam 9 – 12 %
e. Sangat Curam > 12 %
3 Bentuk Lahan a. Dataran Banjir Dat,alluvial
b. Rawa Belakang
c. Dataran Aluvial
d. Teras Fluvial Atas
e. Teras Fluvial Bawah

LEMBAR OBSERVASI LAPANGAN


1. Satuan Medan/ No : 12 6. Lokasi :
2. Identitas Pengamat : a. Lintang :9212649
a. Nama :Lilik ind b. Bujur :0619852
b. Hari / Tanggal : Jumat,24 Okt 2014 c. Rt / RW :
3. Elevasi :49 d. Desa :Pasinan
4. Kode GPS : e. Kecamatan :Baureno
5. Nomor Foto :
No. Observasi
Parameter Klasifikasi Hasil / Ket
1 Tutupan lahan a. Hutan (Pimer/Sekunder) Tegalan
b. Tanah Kosong
c. Semak Belukar
d. Kebun
e. Kebun Campuran
f. Tegalan
g. Sawah Irigasi
h. Pemukiman
I. Industri
2 Kemiringan lereng a. Datar 0 - 3% Datar, 1%
b. Landai 4-6%
c. Agak Curam 7–9%
d.Curam 9 – 12 %
e. Sangat Curam > 12 %
3 Bentuk Lahan a. Dataran Banjir Dat, alluvial
b. Rawa Belakang
c. Dataran Aluvial
d. Teras Fluvial Atas
e. Teras Fluvial Bawah

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 194
digilib.uns.ac.id

LEMBAR OBSERVASI LAPANGAN


1. Satuan Medan/ No : 13 6. Lokasi :
2. Identitas Pengamat : a. Lintang : 9211002
a. Nama : Lilik ind b. Bujur :620299
b. Hari / Tanggal :Jumat, 24 okt 2014 c. Rt / RW :
3. Elevasi :25 d. Desa :Sratu rejo
4. Kode GPS : e. Kecamatan :Baureno
5. Nomor Foto :
No. Observasi
Parameter Klasifikasi Hasil / Ket
1 Tutupan lahan a. Hutan (Pimer/Sekunder) Permukiman
b. Tanah Kosong
c. Semak Belukar
d. Kebun
e. Kebun Campuran
f. Tegalan
g. Sawah Irigasi
h. Pemukiman
I. Industri
2 Kemiringan lereng a. Datar 0 - 3% Datar, 2%
b. Landai 4-6%
c. Agak Curam 7–9%
d.Curam 9 – 12 %
e. Sangat Curam > 12 %
3 Bentuk Lahan a. Dataran Banjir T. Fluvial
b. Rawa Belakang
c. Dataran Aluvial bawah
d. Teras Fluvial Atas
e. Teras Fluvial Bawah

LEMBAR OBSERVASI LAPANGAN


1. Satuan Medan/ No : 14 6. Lokasi :
2. Identitas Pengamat : a. Lintang :9211647
a. Nama : lilik ind b. Bujur :619811
b. Hari / Tanggal :Jumat, 24 okt 2014 c. Rt / RW :
3. Elevasi :24 d. Desa : Sratu rejo
4. Kode GPS : e. Kecamatan :
5. Nomor Foto :
No. Observasi
Parameter Klasifikasi Hasil / Ket
1 Tutupan lahan a. Hutan (Pimer/Sekunder) Tegalan
b. Tanah Kosong
c. Semak Belukar
d. Kebun
e. Kebun Campuran
f. Tegalan
g. Sawah Irigasi
h. Pemukiman
I. Industri
2 Kemiringan lereng a. Datar 0 - 3% 3,30%
b. Landai 4-6%
c. Agak Curam 7–9%
d.Curam 9 – 12 %
e. Sangat Curam > 12 %
3 Bentuk Lahan a. Dataran Banjir T. fluvial
b. Rawa Belakang
c. Dataran Aluvial bawah
d. Teras Fluvial Atas
e. Teras Fluvial Bawah

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 195
digilib.uns.ac.id

LEMBAR OBSERVASI LAPANGAN


1. Satuan Medan/ No : 15 6. Lokasi :
2. Identitas Pengamat : a. Lintang :9211676
a. Nama :Lilik ind b. Bujur :624684
b. Hari / Tanggal : Sabtu, 25 okt c. Rt / RW :
3. Elevasi : 22 d. Desa :Tulung agung
4. Kode GPS : e. Kecamatan :
5. Nomor Foto :
No. Observasi
Parameter Klasifikasi Hasil / Ket
1 Tutupan lahan a. Hutan (Pimer/Sekunder) Permukiman
b. Tanah Kosong
c. Semak Belukar
d. Kebun
e. Kebun Campuran
f. Tegalan
g. Sawah Irigasi
h. Pemukiman
I. Industri
2 Kemiringan lereng a. Datar 0 - 3% Datar,1,5%
b. Landai 4-6%
c. Agak Curam 7–9%
d.Curam 9 – 12 %
e. Sangat Curam > 12 %
3 Bentuk Lahan a. Dataran Banjir Dat. alluvial
b. Rawa Belakang
c. Dataran Aluvial
d. Teras Fluvial Atas
e. Teras Fluvial Bawah

LEMBAR OBSERVASI LAPANGAN


1. Satuan Medan/ No : 16 6. Lokasi :
2. Identitas Pengamat : a. Lintang :9210760
a. Nama : liik ind b. Bujur : 627732
b. Hari / Tanggal : Sabtu, 25 okt 2014 c. Rt / RW :
3. Elevasi :48 d. Desa :
4. Kode GPS : e. Kecamatan :
5. Nomor Foto :
No. Observasi
Parameter Klasifikasi Hasil / Ket
1 Tutupan lahan a. Hutan (Pimer/Sekunder) Tegalan
b. Tanah Kosong
c. Semak Belukar
d. Kebun
e. Kebun Campuran
f. Tegalan
g. Sawah Irigasi
h. Pemukiman
I. Industri
2 Kemiringan lereng a. Datar 0 - 3% Datar, 1%
b. Landai 4-6%
c. Agak Curam 7–9%
d.Curam 9 – 12 %
e. Sangat Curam > 12 %
3 Bentuk Lahan a. Dataran Banjir Dat. alluvial
b. Rawa Belakang
c. Dataran Aluvial
d. Teras Fluvial Atas
e. Teras Fluvial Bawah

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 196
digilib.uns.ac.id

LEMBAR OBSERVASI LAPANGAN


1. Satuan Medan/ No : 17 6. Lokasi :
2. Identitas Pengamat : a. Lintang : 9212039
a. Nama : Lilik ind b. Bujur : 0618121
b. Hari / Tanggal : jumat,24 okt 2014 c. Rt / RW :
3. Elevasi : 31 d. Desa : Banjaran
4. Kode GPS : e. Kecamatan :Baureno
5. Nomor Foto :
No. Observasi
Parameter Klasifikasi Hasil / Ket
1 Tutupan lahan a. Hutan (Pimer/Sekunder) Permukiman
b. Tanah Kosong
c. Semak Belukar
d. Kebun
e. Kebun Campuran
f. Tegalan
g. Sawah Irigasi
h. Pemukiman
I. Industri
2 Kemiringan lereng a. Datar 0 - 3% Datar,2%
b. Landai 4-6%
c. Agak Curam 7–9%
d.Curam 9 – 12 %
e. Sangat Curam > 12 %
3 Bentuk Lahan a. Dataran Banjir Dat.alluvial
b. Rawa Belakang
c. Dataran Aluvial
d. Teras Fluvial Atas
e. Teras Fluvial Bawah

LEMBAR OBSERVASI LAPANGAN


1. Satuan Medan/ No : 18 6. Lokasi :
2. Identitas Pengamat : a. Lintang :
a. Nama : lilik ind b. Bujur :
b. Hari / Tanggal : c. Rt / RW :
3. Elevasi :34 d. Desa :
4. Kode GPS : e. Kecamatan :
5. Nomor Foto :
No. Observasi
Parameter Klasifikasi Hasil / Ket
1 Tutupan lahan a. Hutan (Pimer/Sekunder) Hutan
b. Tanah Kosong
c. Semak Belukar
d. Kebun
e. Kebun Campuran
f. Tegalan
g. Sawah Irigasi
h. Pemukiman
I. Industri
2 Kemiringan lereng a. Datar 0 - 3% Datar, 3%
b. Landai 4-6%
c. Agak Curam 7–9%
d.Curam 9 – 12 %
e. Sangat Curam > 12 %
3 Bentuk Lahan a. Dataran Banjir Teras fluvial
b. Rawa Belakang
c. Dataran Aluvial bawah
d. Teras Fluvial Atas
e. Teras Fluvial Bawah

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 197
digilib.uns.ac.id

LEMBAR OBSERVASI LAPANGAN


1. Satuan Medan/ No : 19 6. Lokasi :
2. Identitas Pengamat : a. Lintang :9210851
a. Nama : lilik ind b. Bujur :627802
b. Hari / Tanggal :Sabtu, 25 okt c. Rt / RW :
3. Elevasi :55 d. Desa :
4. Kode GPS : e. Kecamatan :
5. Nomor Foto :
No. Observasi
Parameter Klasifikasi Hasil / Ket
1 Tutupan lahan a. Hutan (Pimer/Sekunder) Permukiman
b. Tanah Kosong
c. Semak Belukar
d. Kebun
e. Kebun Campuran
f. Tegalan
g. Sawah Irigasi
h. Pemukiman
I. Industri
2 Kemiringan lereng a. Datar 0 - 3% Datar, 1,5%
b. Landai 4-6%
c. Agak Curam 7–9%
d.Curam 9 – 12 %
e. Sangat Curam > 12 %
3 Bentuk Lahan a. Dataran Banjir Teras fluvial
b. Rawa Belakang
c. Dataran Aluvial bawah
d. Teras Fluvial Atas
e. Teras Fluvial Bawah

LEMBAR OBSERVASI LAPANGAN


1. Satuan Medan/ No : 20 6. Lokasi :
2. Identitas Pengamat : a. Lintang : 9211805
a. Nama : lilik ind b. Bujur :0626172
b. Hari / Tanggal : sabtu, 25 okt 2014 c. Rt / RW :
3. Elevasi :33 d. Desa :
4. Kode GPS : e. Kecamatan :
5. Nomor Foto :
No. Observasi
Parameter Klasifikasi Hasil / Ket
1 Tutupan lahan a. Hutan (Pimer/Sekunder) Hutan bambu,
b. Tanah Kosong jati
c. Semak Belukar
d. Kebun
e. Kebun Campuran
f. Tegalan
g. Sawah Irigasi
h. Pemukiman
I. Industri
2 Kemiringan lereng a. Datar 0 - 3% Curam, 10%
b. Landai 4-6%
c. Agak Curam 7–9%
d.Curam 9 – 12 %
e. Sangat Curam > 12 %
3 Bentuk Lahan a. Dataran Banjir Teras fluvial
b. Rawa Belakang
c. Dataran Aluvial bawah
d. Teras Fluvial Atas
e. Teras Fluvial Bawah

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 198
digilib.uns.ac.id

LEMBAR OBSERVASI LAPANGAN


1. Satuan Medan/ No : 21 6. Lokasi :
2. Identitas Pengamat : a. Lintang : 9211583
a. Nama : lilik ind b. Bujur :0621473
b. Hari / Tanggal : Jumat, 24 okt 2014 c. Rt / RW :
3. Elevasi : 19 d. Desa :
4. Kode GPS : e. Kecamatan :
5. Nomor Foto :
No. Observasi
Parameter Klasifikasi Hasil / Ket
1 Tutupan lahan a. Hutan (Pimer/Sekunder) Tegalan(bambu,
b. Tanah Kosong jagung, jati)
c. Semak Belukar
d. Kebun
e. Kebun Campuran
f. Tegalan
g. Sawah Irigasi
h. Pemukiman
I. Industri
2 Kemiringan lereng a. Datar 0 - 3% Datar 2,30%
b. Landai 4-6%
c. Agak Curam 7–9%
d.Curam 9 – 12 %
e. Sangat Curam > 12 %
3 Bentuk Lahan a. Dataran Banjir Teras fluvial
b. Rawa Belakang
c. Dataran Aluvial bawah
d. Teras Fluvial Atas
e. Teras Fluvial Bawah

LEMBAR OBSERVASI LAPANGAN


1. Satuan Medan/ No : 22 6. Lokasi :
2. Identitas Pengamat : a. Lintang :9211630
a. Nama : Llik ind b. Bujur :619714
b. Hari / Tanggal : Jumat, 24 okt 2014 c. Rt / RW :
3. Elevasi :26 d. Desa :Sratu rejo
4. Kode GPS : e. Kecamatan :
5. Nomor Foto :
No. Observasi
Parameter Klasifikasi Hasil / Ket
1 Tutupan lahan a. Hutan (Pimer/Sekunder) Tegalan
b. Tanah Kosong
c. Semak Belukar
d. Kebun
e. Kebun Campuran
f. Tegalan
g. Sawah Irigasi
h. Pemukiman
I. Industri
2 Kemiringan lereng a. Datar 0 - 3% Datar 2,3%
b. Landai 4-6%
c. Agak Curam 7–9%
d.Curam 9 – 12 %
e. Sangat Curam > 12 %
3 Bentuk Lahan a. Dataran Banjir Teras fluvial
b. Rawa Belakang
c. Dataran Aluvial bawah
d. Teras Fluvial Atas
e. Teras Fluvial Bawah

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 199
digilib.uns.ac.id

LEMBAR OBSERVASI LAPANGAN


1. Satuan Medan/ No :23 6. Lokasi :
2. Identitas Pengamat : a. Lintang : 9212136
a. Nama : b. Bujur :627623
b. Hari / Tanggal : c. Rt / RW :
3. Elevasi : 38 d. Desa :
4. Kode GPS : e. Kecamatan :
5. Nomor Foto :
No. Observasi
Parameter Klasifikasi Hasil / Ket
1 Tutupan lahan a. Hutan (Pimer/Sekunder) Tegalan(singkong,
b. Tanah Kosong mahoni)
c. Semak Belukar
d. Kebun
e. Kebun Campuran
f. Tegalan
g. Sawah Irigasi
h. Pemukiman
I. Industri
2 Kemiringan lereng a. Datar 0 - 3% Datar 2%
b. Landai 4-6%
c. Agak Curam 7–9%
d.Curam 9 – 12 %
e. Sangat Curam > 12 %
3 Bentuk Lahan a. Dataran Banjir Teras fluvial
b. Rawa Belakang
c. Dataran Aluvial bawah
d. Teras Fluvial Atas
e. Teras Fluvial Bawah

LEMBAR OBSERVASI LAPANGAN


1. Satuan Medan/ No : 24 6. Lokasi :
2. Identitas Pengamat : a. Lintang : 9211873
a. Nama : b. Bujur :628083
b. Hari / Tanggal : c. Rt / RW :
3. Elevasi : 52 d. Desa :
4. Kode GPS : e. Kecamatan :
5. Nomor Foto :
No. Observasi
Parameter Klasifikasi Hasil / Ket
1 Tutupan lahan a. Hutan (Pimer/Sekunder) Permukiman
b. Tanah Kosong
c. Semak Belukar
d. Kebun
e. Kebun Campuran
f. Tegalan
g. Sawah Irigasi
h. Pemukiman
I. Industri
2 Kemiringan lereng a. Datar 0 - 3% Datar 2%
b. Landai 4-6%
c. Agak Curam 7–9%
d.Curam 9 – 12 %
e. Sangat Curam > 12 %
3 Bentuk Lahan a. Dataran Banjir Teras fluvial
b. Rawa Belakang
c. Dataran Aluvial bawah
d. Teras Fluvial Atas
e. Teras Fluvial Bawah

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 200
digilib.uns.ac.id

Gambar: satuan medan 1 Gambar: satuan medan 2

Gambar: satuan medan 3 Gambar: satuan medan 4

Gambar: satuan medan 5 Gambar: satuan medan 6


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 201
digilib.uns.ac.id

Gambar: satuan medan 7 Gambar: satuan medan 8

Gambar: satuan medan 9 Gambar: satuan medan 10

Gambar: Satuan medan 11 commit to user


Gambar: satuan medan 12
perpustakaan.uns.ac.id 202
digilib.uns.ac.id

Gambar: satuan medan 13 Gambar: satuan medan 14

Gambar: satuan medan 15 Gambar : satuan medan 16

commit to user
Gambar: Satuan medan 17 Gambar: satuan medan 18
perpustakaan.uns.ac.id 203
digilib.uns.ac.id

Gambar: satuan medan 19 Gambar : satuan medan 20

Gambar : satuan medan 21 Gambar : satuan medan 22

commit to user
Gambar : satuan medan 23 Gambar : satuan medan 24
perpustakaan.uns.ac.id 204
digilib.uns.ac.id

Wawancara dengan responden

Wawancara dengan responden Wawancara dengan responden

Wawancara dengan responden

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 205
digilib.uns.ac.id

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Satuan Pendidikan : SMP Negeri 2 Baureno Bojonegoro


Mata Pelajaran : IPS
Kelas/ Semester : VII/1
Topik : Keadaan alam dan aktivitas penduduk
Sub Topik : Bentuk Muka Bumi dan Aktivitas
Penduduk Indonesia
Alokasi Waktu : 4 x 40 Menit

A. KOMPETENSI INTI

1. Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya

2. Menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab,

peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri, dalam berinteraksi

secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan

pergaulan dan keberadaannya

3. Memahami pengetahuan (faktual, konseptual, dan prosedural)berdasarkan

rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya

terkait fenomena dan kejadian tampak mata

4. Mencoba, mengolah, dan menyaji dalam ranah konkret (menggunakan,

mengurai, merangkai, memodifikasi, dan membuat) dan ranah abstrak

(menulis, membaca, menghitung, menggambar, dan mengarang) sesuai

dengan yang dipelajari di sekolah dan sumber lain yang sama dalam sudut

pandang/ teori.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 206
digilib.uns.ac.id

B. KOMPETENSI DASAR

1.3 Menghargai karunia tuhan yang maha Esa telah menciptakan manusia dan

lingkungannya.

2.1 Meniru perilaku jujur, disiplin, bertanggung jawab, peduli, santun, dan

percaya diri sebagaimana ditunjukkan oleh tokoh-tokoh pada masa

Hindu-Buddha dan Islam daam kehidupan sekarang.

3.2 Memahami aspek keruangan dan konektivitas antar ruang dan waktu

dalam lingkup regional serta perubahan dan keberlanjutan kehidupan

manusia (ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, dan politik).

Indikator :

a. Menjelaskan pengertian bentuk muka bumi dan aktivitas penduduk

b. Menjelaskan bentuk muka bumi dan aktivitas penduduk

c. Mejelaskan perbedaan aktifitas masyarakat di suatu wilayah yang

dipengaruhi oleh keadaan muka bumi

d. Menjelaskan berbagai resiko bencana alam yang dihadapi pada

berbagai bentuk muka bumi

4.3 Mengobservasi dan menyajikan bentuk-bentuk dinamika interaksi

manusia dengan lingkungan alam, sosial, budaya, dan ekonomi di

lingkungan masyarakat sekitar

Indikator :

a. Menyajikan bentuk-bentuk dinamika interaksi manusia dengan

lingkungan alam,sosial, budaya dan ekonomi dilingkungan masyarakat

sekitar
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 207
digilib.uns.ac.id

C. TUJUAN PEMBELAJARAN

Melalui diskusi siswa diharapkan dapat:

a. Menjelaskan pengertian bentuk muka bumi dan aktivitas penduduk

b. Menjelaskan bentuk muka bumi dan aktivitas penduduk

c. Mejelaskan perbedaan aktifitas masyarakat di suatu wilayah yang

dipengaruhi oleh keadaan muka bumi

d. Menjelaskan berbagai resiko bencana alam yang dihadapi pada

berbagai bentuk muka bumi

D. MATERI

1. Kondisi bentuk muka bumi dan aktivitas penduduk

2. Pengertian bentuk muka bumi dan aktivitaspenduduk

3. Perbedaan aktifitas masyarakat di suatu wilayah yang dipengaruhi oleh

keadaan muka bumi.

4. Berbagai resiko bencana alam yang dihadapi pada berbagai bentuk muka

bumi.

E. PENDEKATAN/ STRATEGI/ METODE PEMBELAJARAN

1. Pendekatan : Saintifik

2. Metode : Diskusi kelompok

F. MEDIA, ALAT, DAN SUMBER PEMBELAJARAN

1. Media : Komputer dan LCD

2. Alat dan Bahan:

 Peta fisiografi wilayah Indonesia

 Peta Administrasi kecamatan Baureno


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 208
digilib.uns.ac.id

 Peta Satuan Medan wilayah kecamatan Baureno

G. SUMBER BELAJAR

1. Buku IPS kelas VII Perbuk 2013

2. LKS IPS bentuk muka bumi

3. Buku-buku IPS yang relevan

4. Data Parameter banjir di kecamatan Baureno

5. Peta analisis tingkat kerawanan banjir di kecamatan Baureno

H. KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1 / 2 x 40 menit

Alokasi
Kegiatan Deskripsi Kegiatan
Waktu
Pendahuluan 1. Pelajaran dimulai dengan mengucapkan salam 3 menit
dan mengajak berdoa bersama, kemudian
menanyakan keadaan siswa serta mengecek
tingkat kehadirannya,
2. Tanya jawab tentang keadaan alam sekitar 3 menit
tempat tinggal siswa
3. Menginformasikan tujuan yang ingin dicapai 2 menit
dan menjelaskan metode pembelajaran yang
akan digunakan.
4. Memberi gambaran garis besar materi yang 7 menit
akan dipelajari
Kegiatan 1. Kelas dibagi dalam 8 kelompok ( Kelompok A 5 menit
Inti sd H) yang masing-masing kelompok
beranggotakan 4 siswa
2. Siswa dapat berperilaku jujur, disiplin,
bertanggung jawab, peduli, bekerja sama,
toleran dan percaya diri dalam melaksanakan
diskusi kelompok
3. Tanya jawab antara guru dan siswa untuk
membangun sikap dan persepsi positif 10 menit
terhadap pembelajaran.
4. commitdiskusi
Siswa melakukan to user kelompok. Dan guru
perpustakaan.uns.ac.id 209
digilib.uns.ac.id

Alokasi
Kegiatan Deskripsi Kegiatan
Waktu
membagikan kertas bahan diskusi. Setiap
kelompok diberikan Bahan diskusi yang sama
oleh guru.
5. Setiap kelompok di fasilitasi guru dengan
peta fisiografis Indonesia , peta administratif
kecamatan Baureno, serta peta satuan medan
wilayah kecamatan Baureno.
6. Siswa melakukan aktivitas kelompok. 15 menit
7. Guru melaksanakan aktifitas penilaian sikap
terhadap siswa (selama diskusi kelompok
berlangsung)
8. Presentasi hasil diskusi kelompok siswa
25 menit

Penutup 1. Guru dan siswa menyimpulkan materi dalam 3 menit


kegiatan pembejaran.
2. Siswa diajak untuk merenungkan manfaat dari 1 menit
kegiatan pembelajaran ini
3. Guru memberikan tes lisan kepada sisiwa , 4 menit
berkaitan dengan pembahasan hari itu.
4. Guru memberi tugas rumah , dibuku siswa 1 menit
halaman 19
5. Menutup pelajaran dengan berdoa sesuai 1 menit
dengan agama dan keyakinan masing-masing

I. PENILAIAN

1. Metode dan Bentuk Instrumen

Metode Bentuk Instrumen


1. Penilaian Sikap Lembar pengamatan Sikap dan Rubrik
2. Diskusi Tes pengamatan peta fisiografis Indonesia,
peta administrasi wilayah kecamatan Baureno,
peta satuan medan, peta kerawanan banjir di
kecamatan Baureno.
3. Tes lisan Tes Uraian

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 210
digilib.uns.ac.id

2. Instrumen

a. Rubrik Lembar pengamatan sikap

Perilaku
Tanggung
No. Nama Kedisiplinan Kerjasama Kejujuran Nilai Ket.
Jawab

1.
2.
3.
4.
Keterangan :

1) Kolom perilaku diisi dengan angka yang sesuai dengan kriteria


berikut:
1 = sangat kurang
2 = kurang
3 = sedang
4 = baik
5 = amat baik
2) Nilai merupakan jumlah dari skor-skor tiap indikator perilaku.
3) Keterangan diisi dengan kriteria berikut :
Nilai 18-20 = berarti amat baik
Nilai 14-17 = berarti baik
Nilai 10-13 = berarti sedang
Nilai 5-9 = berarti kurang
Nilai 0-4 = berarti sangat kurang
4) Konversi nilai

Skor total jawaban benar siswa


Konversi Nilai = ---------------------------------------- X 100
Skor maksimum perangkat tes

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 211
digilib.uns.ac.id

b. Rubrik Lembar pengamatan peta :

Aspek
Nama Ketrampilan Juml
NO Keteliti Kerja Keaktif Kedisi Nilai
Siswa membaca, Skor
an sama an plinan
analisis peta
1
2
3
4
Dst

Keterangan Skor : Kriteria Nilai


Baik sekali = 4 A = 80 – 100 : Baik Sekali
Baik = 3 B = 70 – 79 : Baik
Cukup = 2 C = 60 – 69 : Cukup
Kurang = 1 D = ‹ 60 : Kurang

Skor perolehan
Nilai = X 100
Skor Maksimal

3. Test lisan

a. Sebutkan bentuk muka bumi !

b. Jelaskan keragaman kondisi fisiografis atau bentuk muka bumi di wilayah

Indonesia pada umumnya dan wilayah Kecamatan Baureno pada

khususnya.

c. Mengapa penduduk cenderung terpusat di daerah dataran rendah?

d. Mengapa aktivitas ekonomi di daerah perbukitan sulit berkembang

menjadi sebuah pusat perekonomian?

e. Mengapa bencana alam di dataran rendah biasanya banjir?

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 212
digilib.uns.ac.id

4. Kunci :

No.
Jawaban Skor
Soal
Dataran rendah, bukit dan perbukitan, dataran tinggi dan
1. pegunungan 10

a. Dataran rendah dengan ketinggian 0 – 200 m dpal


b. Dataran tinggi dengan ketinggian 200< - 400 m dpal
c. Daerah bukit dan perbukitan dengan ketinggian 400< – 600
2. 30
m dpal
d. Daerah gunung dan pegunungan dengan ketinggian >600 m
dpal
a. Karena didaerah dataran rendah, penduduk mudah
melakukan mobilitas dari satu tempat ke tempat lainnya.
b. Didaerah dataran rendah banyak dijumpai lahan subur
3. karena biasanya berupa tanah aluvial atau hasil endapan 30
sungai yang subur.
c. Memudahkan penduduk untuk berhubungan dengan dunia
luar melalui jalur darat
Karena Di daerah perbukitan, mobilitas manusia tidak semudah
4 di daerah dataran rendah, sehingga pemusatan permukiman dan 15
industri relatif terbatas
Karena bentuk muka buminya yang rendah, sehingga
5 15
berpotensi menimbulkan genangan
Total 100

Bojonegoro, 10 Januari 2015

Mengetahui,
Kepala SMP Negeri 2 Baureno Guru Mata Pelajaran IPS

Drs. H. Sugiyanto Lilik indawati


19610417 198603 1010 19750330 200510 2006

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 213
digilib.uns.ac.id

RINGKASAN MATERI

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 214
digilib.uns.ac.id

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 215
digilib.uns.ac.id

Keadaan muka bumi Indonesia dan aktivitas penduduknya adalah sebagai

berikut:

1. Dataran Rendah

Dataran rendah adalah bagian dari permukaan bumi dengan letak

ketinggian 0-200 m di atas permukaan air laut (dpal). Di daerah dataran rendah,

aktivitas yang dominan adalah aktivitas permukiman dan pertanian. Di daerah ini

biasanya terjadi aktivitas pertanian dalam skala luas dan pemusatan penduduk

yang besar. Di Pulau Jawa, penduduk memanfaatkan lahan dataran rendah untuk

menanam berbagai macam jenis tanaman pangan( seperti: padi, jagung) sehingga

Jawa menjadi sentra penghasil tanaman panngan terbesar di Indonesia. Ada

beberapa alasan terjadinya aktivitas pertanian dan permukiman di daerah dataran

rendah, yaitu seperti berikut:

a. Di daerah dataran rendah, penduduk mudah melakukan pergerakan atau

mobilitas dari satu tempat ke tempat lainnya.

b. Di daerah dataran rendah, banyak dijumpai lahan subur karena biasanya

berupa tanah aluvialatau hasil endapan/sedimentasi sungai (yang sifatnya

subur.)

c. Dataran rendah dekat dengan pantai sehingga banyak penduduk yang bekerja

sebagai nelayan.

d. Memudahkan penduduk untuk berhubungan dengan dunia luar melalui jalur

laut.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 216
digilib.uns.ac.id

Dengan berbagai keuntungan tersebut, banyak penduduk bermukim di

dataran rendah. Pemusatan penduduk di dataran rendah kemudian berkembang

menjadi daerah perkotaan. Sebagian besar daerah perkotaan di Indonesia, bahkan

dunia, terdapat di dataran rendah. Aktivitas pertanian di dataran rendah umumnya

adalah aktivitas pertanian lahan basah. Aktivitas pertanian lahan basah dilakukan

di daerah yang sumber airnya cukup tersedia untuk mengairi lahan pertanian.

Lahan basah umumnya dimanfaatkan untuk tanaman padi yang dikenal dengan

pertanian sawah. Selain memiliki aktivitas penduduk tertentu yang dominan


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 217
digilib.uns.ac.id

berkembang, dataran rendah juga memiliki potensi bencana alam. Bencana alam

yang berpotensi terjadi di dataran rendah adalah banjir, tsunami, dan gempa.

Banjir di dataran rendah terjadi karena aliran air sungai yang tidak mampu

lagi ditampung oleh alur sungai. Tidak mampunya sungai menampung aliran air

dapat terjadi karena aliran air dari daerah hulu yang terlalu besar, pendangkalan

sungai, penyempitan alur sungai, atau banyaknya sampah di sungai yang

menghambat aliran sungai. Bencana banjir memiliki beberapa tanda yang dapat

kita lihat. Secara umum, tanda - tanda tersebut antara lain sebagai berikut.

a. Terjadinya hujan dengan intensitas curah hujan yang tinggi tanpa disertai

dengan proses infiltrasi/ penyerapan yang baik.

b. Air melebihi batas sempadan sungai sehingga meluap dan menggenangi

daerah sekitarnya.

c. Air yang jatuh ke permukaan tidak dapat mengalir dengan baik karena

saluran drainase yang ada tidak berfungsi dengan baik sehingga air

tersumbat dan tidak dapat mengalir dengan baik.

d. Air tidak menyerap ke dalam tanah karena berkurangnya vegetasi sebagai

penyerap atau penyimpan air.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 218
digilib.uns.ac.id

Apa yang sebaiknya dilakukan untuk menghindari banjir? Agar terhindar

dari bencana banjir, sebaiknya perhatikanlah hal-hal berikut ini.

a. Hindari tinggal di wilayah-wilayah rentan bahaya banjir, seperti di dataran

banjir atau dataran yang biasa terkena banjir.

b. Tinggikan bangunan tempat tinggal sehingga perabotan rumah dan

peralatan listrik aman dari genangan air.

c. Bersama-sama dengan anggota masyarakat lainnya membangun tanggul

untuk menghambat air masuk ke lingkungan tempat tinggal kita.

d. Menjaga kebersihan lingkungan dari sampah organik dan anorganik,serta

selalu melakukan kegiatan kelestarian lingkungan (penghijauan di

sepanjang DAS).

2. Dataran Tinggi

Dataran tinggi adalah adalah daerah datar yang memiliki ketinggian lebih

dari 400 meter dpal. Daerah ini memungkinkan mobilitas penduduk berlangsung

lancar seperti halnya di dataran rendah. Oleh karena itu, beberapa dataran tinggi di

Indonesia berkembang menjadi pemusatan ekonomi penduduk, contohnya

commit
Dataran Tinggi Bandung. Aktivitas to user
pertanian juga berkembang di dataran tinggi.
perpustakaan.uns.ac.id 219
digilib.uns.ac.id

Di daerah ini, sebagian penduduk menanam jenis tanaman bunga dan buah, serta

beberapa jenis sayuran. Suhu yang tidak terlalu panas memungkinkan penduduk

menanam beberapa jenis sayuran seperti tomat dan cabe. Sejumlah dataran tinggi

menjadi daerah tujuan wisata. Udaranya yang sejuk dan pemandangan alamnya

yang indah menjadi daya tarik penduduk untuk berwisata ke daerah dataran tinggi.

Beberapa dataran tinggi di Indonesia menjadi daerah tujuan wisata misalnya

Bandung dan Dieng. Potensi bencana alam di dataran tinggi biasanya adalah tanah

longsor.

3. Bukit dan perbukitan

Bukit adalah bagian dari permukaan bumi yang lebih tinggi dibandingkan

dengan daerah sekitarnya dengan ketinggian kurang dari 600 m dpal. Bukit tidak

tampak curam seperti halnya gunung. Perbukitan berarti kumpulan dari sejumlah

bukit pada suatu wilayah tertentu. Di daerah perbukitan, aktivitas permukiman

tidak seperti di dataran rendah. Permukiman tersebar pada daerah-daerah tertentu


commit to user
atau membentuk kelompok-kelompok kecil. Penduduk memanfaatkan lahan datar
perpustakaan.uns.ac.id 220
digilib.uns.ac.id

yang luasnya terbatas di antara perbukitan. Permukiman umumnya dibangun di

kaki atau lembah perbukitan karena biasanya di tempat tersebut ditemukan

sumber air berupa mata air atau sungai.

Aktivitas ekonomi, khususnya pertanian, dilakukan dengan memanfaatkan

lahan-lahan dengan kemiringan lereng tertentu. Untuk memudahkan penanaman,

penduduk menggunakan teknik sengkedan dengan memotong bagian lereng

tertentu agar menjadi datar. Teknik ini kemudian juga bermanfaat mengurangi

erosi atau pengikisan oleh air.

Di daerah perbukitan, pada umumnya aktivitas pertanian adalah pertanian

lahan kering. Pertanian lahan kering merupakan pertanian yang dilakukan di

wilayah yang pasokan airnya terbatas atau hanya mengandalkan air hujan. Istilah

pertanian lahan kering sama dengan ladang atau huma yang dilakukan secara

menetap maupun berpindah-pindah seperti di Kalimantan. Tanaman yang ditanam

umumnya adalah umbi-umbian atau palawija dan tanaman tahunan (kayu dan

buah-buahan). Pada bagian lereng yang masih landai dan lembah perbukitan,

sebagian penduduk juga memanfaatkan lahannya untuk tanaman padi.

Aktivitas ekonomi di daerah perbukitan sulit berkembang menjadi sebuah

pusat perekonomian. Di daerah perbukitan, mobilitas manusia tidak semudah di

daerah dataran sehingga pemusatan permukiman dan industri relatif terbatas.

Meskipun demikian, daerah perbukitan dapat dikembangkan menjadi daerah

pariwisata karena panorama alamnya yang indah dan suhu udaranya yang sejuk.

Aktivitas pariwisata yang dapat dikembangkan antara lain wisata alam yang

tujuannya menikmati pemandangan daerah perbukitan yang indah.


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 221
digilib.uns.ac.id

4. Pantai

Pantai merupakan bagian dari dataran rendah yang berbatasan dengan laut.

Di daerah pantai, aktifitas ekonomi masyarakat pada umumnya adalah nelayan.

Ancaman bencana yang mengancam penduduk adalah tsunami. Apa yang

sebaiknya dilakukan untuk menghindari bahaya tsunami? Kamu sebaiknya

menyiapkan diri terhadap kemungkinan terjadinya tsunami dengan

memperhatikan hal- hal berikut ini.

a. Jika kamu tinggal di daerah pantai dan merasakan adanya gempa kuat

yang disertai dengan suara ledakan di laut, sebaiknya kamu bersiap-siap

untuk menghadapi kemungkinan terjadinya tsunami. Segera tinggalkan

daratan pantai tempat kamu tinggal jika gempa kuat terjadi.

b. Jika kamu melihat air pantai mendadak surut sehingga dasar laut tampak

jelas, segera jauhi pantai karena hal itu merupakan peringatan alam bahwa

akan terjadi tsunami.

c. Tanda-tanda alam lainnya kadang terjadi seperti banyaknya ikan di pantai

dan tiba-tiba banyak terdapat burung terbang meninggalkan pantai.


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 222
digilib.uns.ac.id

d. Seringkali gelombang tsunami yang kecil disusul oleh gelombang raksasa

di belakangnya. Oleh karena itu, harus waspada.

e. Lembaga pemerintah yang berwenang biasanya selalu memantau

kemungkinan terjadinya tsunami. Oleh karena itu, jika belum ada

pernyataan “keadaan aman”, kamu sebaiknya tetap menjauhi pantai.

Potensi bencana yang juga mengancam daerah pantai adalah gempa.

Sebenarnya tidak semua wilayah pantai di Indonesia berpotensi gempa. Pantai

barat Sumatra, pantai selatan Jawa sampai Nusa tenggara berpotensi gempa.

Pantai di Pulau Kalimantan relatif aman dari gempa karena jauh dari pusat gempa.

Wilayah lainnya adalah Sulawesi, Maluku, Papua, dan sejumlah pulau lainnya.

Ancaman gempa juga dapat terjadi di daerah perbukitan dan pegunungan.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 223
digilib.uns.ac.id

LEMBAR KERJA SISWA (LKS)

Tugas Individu

1. Buatlah tulisan yang menggambarkan keterkaitan antara manusia dan

lingkungannya yang terjadi di daerah kalian !

2. Setiap individu membuat masing-masing 2 contoh keterkaitan atau saling

pengaruh antar komponen lingkungan tersebut !

Komponen Contoh Keterkaitan


Alam dan alam
Alam dan sosial
Alam dengan budaya/ binaan /buatan

Kunci Jawaban

1. Keterkaitan antara lingkungan alam

a. Terjadinya gunung meletus menyebabkan lingkungan, persawahan,

perkebunan, menjadi rusak.

b. Angin tornado menyebabkan lingkungan pemukiman, lingkungan

perkebunan rusak commit to user


perpustakaan.uns.ac.id 224
digilib.uns.ac.id

2. Antara alam dengan sosial:

a. Bencana banjir, angin topan, tsunami, gempa bumi, gunung meletus,

menyebabkan pemukian rusak. Banyak penduduk kehilangan tempat

tinggal dan pekerjaan.

b. Dengan kondisi tersebut dapat menurunkan kesejahteraan dan moralitas

yang akhirnya masyarakat dapat bertindak negatif.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 225
digilib.uns.ac.id

3. Antara alam dengan budaya:

a. Bencana banjir, menghasilkan budaya masyarakat antara lain :

1) Sistem ilmu pengetahuan dan teknologi. Contoh: Bendungan/

Waduk dan Jembatan.

b. Lingkungan pantai menghasilkan budaya masyarakat antara lain:

1) Sistem mata pencaharian hidup: Nelayan

2) Sistem IPTEK : Pandai membuat perahu

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 226
digilib.uns.ac.id

commit to user