Anda di halaman 1dari 25

Perbandingan Pelaksanaan Sistem

Pemerintahan Negara Indonesia dengan


Negara Lain
May 5, 2014 · by yoshuamoentari · Bookmark the permalink. ·

Sistem Pemerintahan adalah sistem yang dimiliki suatu negara dalam mengatur
pemerintahannya.

Sesuai dengan kondisi negara masing-masing, sistem ini dibedakan menjadi:

1. Presidensial
2. Parlementer
3. Semipresidensial
4. Komunis
5. Demokrasi liberal
6. Liberal

Sistem pemerintahan mempunyai sistem dan tujuan untuk menjaga suatu kestabilan negara
itu. Namun di beberapa negara sering terjadi tindakan separatisme karena sistem
pemerintahan yang dianggap memberatkan rakyat ataupun merugikan rakyat. Sistem
pemerintahan mempunyai fondasi yang kuat dimana tidak bisa diubah dan menjadi statis.
Jika suatu pemerintahan mempunya sistem pemerintahan yang statis, absolut maka hal itu
akan berlangsung selama-lamanya hingga adanya desakan kaum minoritas untuk memprotes
hal tersebut.

Secara luas berarti sistem pemerintahan itu menjaga kestabilan masyarakat, menjaga tingkah
laku kaum mayoritas maupun minoritas, menjaga fondasi pemerintahan, menjaga kekuatan
politik, pertahanan, ekonomi, keamanan sehingga menjadi sistem pemerintahan yang kontinu
dan demokrasi dimana seharusnya masyarakat bisa ikut turut andil dalam pembangunan
sistem pemerintahan tersebut.Hingga saat ini hanya sedikit negara yang bisa mempraktikkan
sistem pemerintahan itu secara menyeluruh.

Secara sempit,Sistem pemerintahan hanya sebagai sarana kelompok untuk menjalankan roda
pemerintahan guna menjaga kestabilan negara dalam waktu relatif lama dan mencegah
adanya perilaku reaksioner maupun radikal dari rakyatnya itu sendiri.

Sistem pemerintahan negara Republik Indonesia berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945


adalah sistem presidensial kabinet. Dengan sistem pemerintahan tersebut, baik para
penyelenggara negara maupun rakyat dan bangsa Indonesia telah merasa sesuai. Sejalan
dengan perkembangan dan dinamika politik masyarakat, penyelenggaraan negara dengan
sistem presidensial kabinet telah mengalami perubahan dan penyempurnaan hingga sekarang
ini.

Berikut ini akan dilihat bagaimana pelaksanaan sistem pemerintahan di negara


Indonesia dan perbandingannya dengan negara-negara lain baik yang menerapkan
sistem pemerintahan presidensial maupun parlementer.
1. Inggris

 Kepala negara dipegang oleh Raja/Ratu yang bersifat simbolis dan tidak dapat
diganggu gugat.
 Peraturan perundangan dalam penyelenggaraan negara lebih banyak bersifat konvensi
(peraturan tidak tertulis).
 Kekuasaan pemerintahan berada di tangan Perdana Menteri yang memimpin menteri
atau sering disebut Cabinet Government (pemerintahan kabinet). Perdana Menteri
mempunyai kekua-saan cukup besar, antara lain : a) memimpin kabinet yang
anggotanya telah dipilihnya sendiri, b) membimbing Majelis Rendah, c) menjadi
penghubung dengan raja, dan d) memimpin partai mayoritas.
 Kabinet yang tidak memperoleh kepercayaan dari badan legislatif harus segera
meletakkan jabatan.
 Perdana Menteri sewaktu-waktu dapat mengada-kan pemilihan umum sebelum masa
jabatan Parlemen yang lamanya lima tahun berakhir.
 Hanya ada dua partai besar (Partai Konservatif dan Partai Buruh) sehingga yang
menang pemilu (posisi) memperoleh dukungan mayoritas, sedangkan yang kalah
menjadi oposisi.

2. India

 Badan eksekutif terdiri dari seorang presiden sebagai kepala negara dan menteri-
menteri yang dipimpin oleh seorang perdana menteri.
 Presiden dipilih untuk masa jabatan lima tahun oleh anggota-anggota badan legislatif
baik di pusat maupun di negara-negara bagian.
 Dalam penyelenggaraan pemerintahan, sangat mirip dengan Inggris dengan model
Cabinet Government.
 Pemerintah dapat menyatakan “keadaan darurat” dan pembatasan-pembatasan
kegiatan bagi para pelaku politik dan kegiatan media masa agar tidak mengganggu
usaha pembangunannya.

3. Amerika Serikat

 Badan eksekutif, terdiri dari presiden beserta menteri-menteri yang merupakan


pembantunya.
 Presiden dinamakan “Chief Executif” dengan masa jabatan selama 4 (empat) tahun
dan dapat diperpanjang menjadi 8 (delapan) tahun.
 Presiden sama sekali terpisah dari badan legislatif dan tidak mempengaruhi organisasi
dan penye-lenggaraan pekerjaan Konggres.
 Presiden tidak dapat membubarkan Konggres dan sebaliknya Konggres juga tidak
dapat membubar-kan Presiden.
 Mayoritas undang-undang disiapkan pemerintah dan diajukan dalam Konggres
dengan perantaraan anggota separtai dalam Konggres.
 Presiden memiliki wewenang untuk mem-veto suatu rancangan undang-undang yang
telah diteri-ma baik oleh Konggres. Tapi jika rancangan tersebut diterima dengan
mayoritas 2/3 dalam setiap majelis, maka veto presiden dianggap batal.
 Dalam rangka checks and balance, maka presiden di samping boleh memilih
menterinya sendiri, tetapi untuk jabatan Hakim Agung dan Duta Besar harus disetujui
oleh Senat. Demikian pula untuk setiap perjanjian internasional yang sudah ditan-
dangani presiden, harus pula disetujui oleh Senat.
4. Pakistan

 Badan eksekutif terdiri dari presiden yang beragama Islam beserta menteri-
menterinya.
 Perdana menteri adalah pembantunya yang tidak boleh merangkap anggota legislatif.
 Presiden mempunyai wewenang mem-veto rancangan undang-uindang yang telah
diterima oleh badan legislatif. Namun veto dapat dibatalkan, jika rancangan undang-
undang tersebut diterima oleh mayoritas 2/3 suara.
 Presiden juga berwenang membubarkan badan legislatif, namun demikian presiden
juga harus mengundurkan diri dalam waktu 4 (empat) bulan dan mengadakan
pemilihan umum baru.
 Dalam keadaan darurat, presiden berhak mengeluarkan ordinances yang diajukan
kepada legislatif dalam masa paling lama 6 (enam) bulan.
 Presiden dapat dipecat (impeach) oleh badan legislatif kalau melanggar undang-
undang atau berkelakuan buruk dengan ¾ jumlah suara badan legislatif.
 Catatan : Sistem presidensial di Pakistan hanya berlangsung berdasarkan UUD 1962 –
1969, dan sekarang kembali ke sistem parlementer kabinet.
PERBANDINGAN PELAKSANAAN SISTEM PEMERINTAHAN
INDONESIA DENGAN NEGARA LAIN

1. Pengaruh suatu sistem pemerintahan yang dianut suatu negara terhadap negara
lain

Salah satu kegunaan penting sistem pemerintahan suatu negara adalah menjadi bahan
perbandingan bagi negara lain sehingga negara-negara lain pun dapat mencari dan
menemukan beberapa persamaan dan perbedaan antara sistem pemerintahannya. Tujuannya
adalah negara yang bersangkutan dapat mengembangakn suatu sistem pemerintahan yang
dianggap lebih baik dari yang sebelumnya setelah melakukan perbandingan.
Sistem pemerintahan presidensial dan parlementer merupakan dua model sistem
pemerintahan yang dijadikan acuhan oleh banyak negara. Meskipun menggunakan sistem
Presidensial atau Parlementer, terdapat variasi yang disesuaikan dengan perkembangan
ketatanegaraan suatu negara.

Secara umum, faktor-faktor yang memengaruhi sistem pemerintahan suatu negara adalah
sebagai berikut :

1. Faktor Sejarah

Proses terbentuknya suatu negara antara lain :

1. Cessie (penyerahan atau mandat), bahwa negara terjadi ketika suatu wilayah
diserahkan kepada salah satu negara yang kalah pada Perang Dunia I berdasarkan
suatu perjanjian tertentu.
2. Anexatie/Kolonial (pencaplokan/penguasaan), bahwa suatu negara terjadi ketika
berada di suatu wilayah yang dikuasai bangsa tanpa reaksi berarti.
3. Separatie (Pemisahan), bahwa suatu negara terjadi ketika ada suatu wilayah negara
yang memisahkan diri dari negara yang semula menguasainya, kemudian menyatakan
kemerdekaannya.

2. Faktor Ideologi

Ideologi adalah produk kebudayaan suatu masyarakat. Sebagai produk kebudayaan,


ideologi merupakan satu pilihan jelas dalam membawa komitmen untuk mewujudkannya.
Salah satu fungsi ideologi adalah sebagai kekuatan yang mampu menyemangati dan
mendorong seseorang untuk menjalankan kegiatan dan mencapai tujuan.
Sejarah perkembangan ideologi suatu negara dan pengaruhnya terhadap sistem
pemerintahan di negara lain adalah sebagai berikut :

1. Fasisme, tujuan negara dalam sistem pemerintahan fasis adalah imperium dunia, yaitu
mempersatukan seluruh bangsa di dunia menjadi satu tenaga atau kekuatan bersama.
2. Individualisme/Liberalisme, tujuan negara dalam sistem pemerintahan ini adalah
menjaga keamanan dan ketertiban individu serta menjamin kebebasan seluas-luasnya
dalam memperjuangkan hidupnya segai penjaga malam.
3. Komunisme, aliran partai komunis menjelaskan bahwa sejarah manusia merupakan
sejarah perjuangan kelas melawan kelas. Sejarah terakhir adalah perjuangan kelas
antara kaum borjuis melawan kelas proleariat (miskin).

2.Perbandingan sistem pemerintahan negara Indonesia dengan negara lain

Berikut ini perbandingan sistem pemerintahan negara Indonesia dengan negara lain, baik
yang menerapkan sistem pemerintahan presidensial maupun parlementer.

1. Perbandingan sistem pemerintahan Indonesia dengan negara kawasan Asia

No. Ketegori Indonesia India China

1 Bentuk negara Kesatuan dengan otonomi Federal dengan 26 Kesatuan dengan


luas. negara dan 7 23 provinsi.
kesatuan teritorial.
2 Bentuk Republik. Republik. Republik.
Pemerintahan

3 Sistem Presidensial untuk masa Parlementer untuk Parlementer.


Pemerintahan jabatan 5 tahun. masa jabatan 5 tahun.

4 Eksekutif Presiden sebagai kepala Presiden sebagai Presiden sebagai


negara dan kepala kepala negara dan kepala negara.
pemerintahan. Dipilih perdana menteri Presiden dan wakil
langsung oleh rakyat. sebagai kepala dipilih oleh
pemerintahan. Kongres Rakyat
Presiden dipilih oleh Nasional.
anggota perlemen.
Perdana Menteri
dipilih oleh
mayoritas anggota
parlemen.

5 Legislatif atau Bikameral, yaitu DPR dan Bikameral, yaitu Unikameral, yaitu
Parlemen DPD. Anggota DPR dan Dewan Negara Nasional People's
DPD menjadi anggota (Rajya Sabha) dan Congress atau Qu
MPR. Majelis Rakyat (Lok Anguo Ranim
Sabha). Daibiao Dahuo
untuk masa 5
tahun.

6 Yudikatif Mahkamah Agung, badan Supre Court. Supre Court, Local


peradilan dibawahnya, dan People Courts,
Mahkamah Konstitusi. Special Court.

2. Perbandingan Sistem Pemerintahan Indonesia dengan Malaysia

Sistem pemerintahan negara Indonesia berdasarkan UUD 1945 adalah sistem


presidensial. Sementara itu, sistem pemerintahan kerajaan Malaysia adalah parlementer.
Letak perbedaan kedua sistem pemerintahan tersebut antara lain :

1. Badan Eksekutif
1. Badan eksekutif Kerajaan Malaysia terletak pada perdana menteri yang
memeng kuasa pengatur dan sebagai penggerak pemerintahan negara.
2. Badan eksekutif negara Indonesia terletak pada presiden yang mempunyai dua
kedudukan sekaligus, yaitu sebagai kepala negara dan sebagai kepala
pemerintahan.
2. Badan Legisilatif atau Badan Perundangan
1. Di Malaysia terdapat dua dewan utama dalam badan perundangan, yaitu
Dewan Negara dan Dewan rakyat. Kedua Dewan ini mempunyai peranan
untuk membuat undang-undang.
2. Di Indonesia badan legislatif berada di tangan DPR (Dewan Perwakilan
Rakyat). Badan mempunyai peranan untuk membuat undang-undang dengan
persetujuan presiden.
3. Perbandingan Sistem Pemerintahan Indonesia dengan negara kawasan Afrika

No. Kategori Indonesia Afrika Selatan Mesir

1 Bentuk negara Kesatuan dengan otonomi Kesatuan dengan 9 Kesatuan.


luas. provinsi.

2 Bentuk Republik. Republik. Republik.


Pemerintahan

3 Sistem Presidensial untuk masa Presidensial untuk Presidensial untuk


Pemerintahan jabatan 5 tahun. masa jabatan 5 tahun. masa jabatan 6
tahun.

4 Eksekutif Presiden sebagai kepala Presiden sebagai Presiden sebagai


negara dan kepala kepala negara dan Kepala Negara.
pemerintahan. Dipilih kepala pemerintahan. Perdana Menteri
langsung oleh rakyat. Dipilih oleh Majelis sebagai kepala
Nasional. pemerintahan.
Presiden diajukan
oleh Majelis
Rakyat yang
dikuatkan oleh
referendum
Perdana Menteri
ditunjuk oleh
Presiden.

5 Legislatif atau Bikameral, yaitu DPR dan Bikameral terdiri dari Bikameral terdiri
Parlemen DPD. Anggota DPR dan Majelis Nasional dan atas Majelis Rakyat
DPD menjadi anggota Dewan Nasional (Majelis Alsha'b)
MPR. Provinsi. dan Dewan
Penasehat (Majelis
Al-Shura).
6 Yudikatif Mahkamah Agung, badan Constitutional Court Upreme
peradilan dibawahnya, dan dan Spreme Court. Consitutional
Mahkamah Konstitusi . Court.

Perbandingan Sistem Pemerintahan Indonesia dengan negara kawasan Eropa

No. Kategori Indonesia Inggris Prancis

1 Bentuk negara Kesatuan dengan otonomi Kesatuan. Kesatuan dengan 23


luas. daerah (region).

2 Bentuk Republik. Monarki Republik.


Pemerintahan Konstitisional.

3 Sistem Presidensial untuk masa Parlementer untuk Demokrasi


Pemerintahan jabatan 5 tahun. masa jabatan 5 presidensial untuk
tahun. masa jabatan 5 tahun.

4 Eksekutif Presiden sebagai kepala Ratu/Raja sebagai Presiden sebagai


negara dan kepala kepala negara dan kepala negara dipilih
pemerintahan. Dipilih perdana menteri langsung oleh rakyat
langsung oleh rakyat. sebagai kepala sedangkan perdana
pemerintahan. menteri diusulkan
mayoritas Majelis
Nasional dan
diangkat presiden.

5 Legislatif atau Bikameral, yaitu DPR dan Bikameral terdiri Bikameral terdiri atas
Parlemen DPD. Anggota DPR dan atas Majelis Majelis Rakyat
DPD menjadi anggota Nasional dan (Majelis Al
MPR. Dewan Nasional Asembly).
Provinsi.

6 Yudikatif Mahkamah Agung, badan Supreme Court of Supreme Court of


peradilan dibawahnya, dan England, Wales, Appeal's dan
Mahkamah Konstitusi. and Northern Constitutional of
Ireland, Scotland's State.
Court of Session,
and Court of The
Justiciary.
4. Perbandingan Sistem Pemerintahan Indonesia dengan negara kawasan
Amerika

No. Kategori Indonesia Amerika Serikat Brazil

1 Bentuk negara Kesatuan dengan otonomi Federal dengan 50 Federal dengan 26


luas. negara bagian dan 1 negara bagian dan 1
distrik. distrik federal.

2 Bentuk Republik. Republik. Republik.


Pemerintahan

3 Sistem Presidensial untuk masa Presidensial untuk Presidensial untuk


Pemerintahan jabatan 5 tahun. masa jabatan 4 masa jabatan 5 tahun.
tahun

4 Eksekutif Presiden sebagai kepala Presiden sebagai Presiden sebagai


negara dan kepala kepala negara dan kepala negara dan
pemerintahan. Dipilih kepala kepala pemerintahan.
langsung oleh rakyat. pemerintahan. Dipilih langsung oleh
Dipilih langsung rakyat.
oleh rakyat.

5 Legislatif atau Bikameral, yaitu DPR dan Bikameral yaitu Bikameral yaitu
Parlemen DPD. Anggota DPR dan Kongres terdiri atas Kongres Nasional
DPD menjadi anggota Senat dan The terdiri atas federal
MPR. House of Senat dan The
Representative. Chamber of
Deputies.

6 Yudikatif Mahkamah Agung, badan Supreme Court Supreme Federal


peradilan dibawahnya, dan United States Court Tribunal Higher
Mahkamah Konstitusi. of Appeal Unite Tribunal or Justice.
States District Reginal Federal
Country Court. Tribunal.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Sistem Pemerintahan

Istilah sistem pemerintahan berasal dari gabungan dua kata system dan pemerintahan.
Kata sistem merupakan terjemahan dari kata system (bahasa Inggris) yang berarti susunan,
tatanan, jaringan, atau cara. Sedangkan Pemerintahan berasal dari kata pemerintah, dan yang
berasal dari kata perintah. Dan dalam Kamus Bahasa Indonesia, kata-kata itu berarti:

a. Perintah adalah perkataan yang bermakna menyuruh melakukan sesuatau


b. Pemerintah adalah kekuasaan yang memerintah suatu wilayah, daerah, atau, Negara.
c. Pemerintahan adalaha perbuatan, cara, hal, urusan dalam memerintah

Maka dalam arti yang luas, pemerintahan adalah perbuatan memerintah yang
dilakukan oleh badan-badan legislative, eksekutif, dan yudikatif di suatu Negara dalam
rangka mencapai tujuan penyelenggaraan negara. Dalam arti yang sempit, pemerintaha
adalah perbuatan memerintah yang dilakukan oleh badan eksekutif beserta jajarannya dalam
rangka mencapai tujuan penyelenggaraan negara. Sistem pemerintaha diartikan sebagai suatu
tatanan utuh yang terdiri atas berbagai komponen pemerintahan yang bekerja saling
bergantungan dan memengaruhi dalam mencapaian tujuan dan fungsi
pemerintahan. Kekuasaan dalam suatu Negara menurut Montesquieu diklasifikasikan
menjadi tiga, yaitu Kekuasaan Eksekutif yang berarti kekuasaan menjalankan undang-undang
atau kekuasaan menjalankan pemerintahan; Kekuasaan Legislatif yang berate kekuasaan
membentuk undang-undang; Dan Kekuasaan Yudiskatif yang berate kekuasaan mengadili
terhadap pelanggaran atas undang-undang. Komponen-komponen tersebut secara garis besar
meliputi lembaga eksekutif, legislative dan yudikatif. Jadi, system pemerintaha negara
menggambarkan adanya lembaga-lembaga negara, hubungan antarlembaga negara, dan
bekerjanya lembaga negara dalam mencapai tujuan pemerintahan negara yang bersangkutan.

Tujuan pemerintahan negara pada umumnya didasarkan pada cita-cita atau tujuan
negara. Misalnya, tujuan pemerintahan negara Indonesia adalah melindungi segenap bangsa
Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, serta
ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan
keadilan social. Lembaga-lembaga yang berada dalam satu system pemerintahan Indonesia
bekerja secara bersama dan saling menunjang untuk terwujudnya tujuan dari pemerintahan di
negara Indonesia.

Dalam suatu negara yang bentuk pemerintahannya republik, presiden adalah kepala
negaranya dan berkewajiban membentuk departemen-departemen yang akan melaksakan
kekuasaan eksekutif dan melaksakan undang-undang. Setiap departemen akan dipimpin oleh
seorang menteri. Apabila semua menteri yang ada tersebut dikoordinir oleh seorang perdana
menteri maka dapat disebut dewan menteri/cabinet. Kabinet dapat berbentuk presidensial,
dan kabinet ministrial.

a. Kabinet Presidensial

Kabinet presidensial adalah suatu kabinet dimana pertanggungjawaban atas


kebijaksanaan pemerintah dipegang oleh presiden. Presiden merangkap jabatan sebagai
perdana menteri sehingga para menteri tidak bertanggung jawab kepada perlemen/DPR
melainkan kepada presiden. Contoh negara yang menggunakan sistem kabinet presidensial
adalah Amarika Serikat dan Indonesia

b. Kabinet Ministrial

Kabinet ministrial adalah suatu kabinet yang dalam menjalankan kebijaksaan


pemerintan, baik seorang menteri secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama seluruh
anggota kebinet bertanggung jawab kepada parlemen/DPR. Contoh negara yang
menggunakan sistem kabinet ini adalah negara-negara di Eropa Barat.

Apabila dilihat dari cara pembentukannya, cabinet ministrial dapat dibagi menjadi
dua, yaitu cabinet parlementer dan cabinet ekstraparlementer.

- Kabinet parlementer adalah suatu kabinet yang dibentuk dengan memperhatikan dan
memperhitungkan suara-suara yang ada didalam parlemen. Jika dilihat dari komposisi
(susunan keanggotaannya), cabinet parlementer dibagi menjadi tiga, yaitu kabinet koalisi,
kabinet nasional, dan kabinet partai.
- Kabinet Ekstraparlementer adalah kebinet yang pembentukannya tidak memperhatikan dan
memperhitungkan suara-suara serta keadaan dalam parlemen/DPR.
Sistem Pemerintahan Parlementer Dan Presidensial

Sistem pemerintahan negara dibagi menjadi dua klasifikasi besar, yaitu:

1. sistem pemerintahan presidensial;


2. sistem pemerintahan parlementer.

Pada umumnya, negara-negara didunia menganut salah satu dari sistem pemerintahan
tersebut. Adanya sistem pemerintahan lain dianggap sebagai variasi atau kombinasi dari dua
sistem pemerintahan diatas. Negara Inggris dianggap sebagai tipe ideal dari negara yang
menganut sistem pemerintahan parlemen. Bhakan, Inggris disebut sebagai Mother of
Parliaments (induk parlemen), sedangkan Amerika Serikat merupakan tipe ideal dari negara
dengan sistem pemerintahan presidensial.
Kedua negara tersebut disebut sebagai tipe ideal karena menerapkan ciri-ciri yang
dijalankannya. Inggris adalah negara pertama yang menjalankan model pemerintahan
parlementer. Amerika Serikat juga sebagai pelopor dalam sistem pemerintahan presidensial.
Kedua negara tersebut sampai sekarang tetap konsisten dalam menjalankan prinsip-prinsip
dari sistem pemerintahannya. Dari dua negara tersebut, kemudian sistem pemerintahan
diadopsi oleh negara-negara lain dibelahan dunia.

Klasifikasi sistem pemerintahan presidensial dan parlementer didasarkan pada


hubungan antara kekuasaan eksekutif dan legislatif. Sistem pemerintahan disebut parlementer
apabila badan eksekutif sebagai pelaksana kekuasaan eksekutif mendapat pengawasan
langsung dari badan legislatif. Sistem pemerintahan disebut presidensial apabila badan
eksekutif berada di luar pengawasan langsung badan legislatif.

Untuk lebih jelasnya, berikut ini ciri-ciri dari sistem pemerintahan parlementer secara
singkat.

Sistem
Parlementer Presidensial
pemerintahan

Kepala negara dan Terpisah,kepala negara adalah


Jadi satu dipegang oleh
kepala raja,ratu,sultan atau presiden.kepala
presiden
pemerintahan pemerintahan adalah perdana mentri

Masa jabatan kepala


Tergantung dukungan parlemen Sudah ditentukan (fix term)
pemerintahan

Perdana mentri dipilih oleh Parlemen


Pemilihan kepala
berdasarkan kekuatan politik di Presiden dipilih oleh rakyat
pemerintahan
Parlemen

Bertanggung jawab kepada


Kabinet Bertanggung jawab kepada parlemen
presiden

Pengaruh Sistem Pemerintahan Satu Negara Terhadap Negara-negara Lain.

Sistem pemerintahan negara-negara didunia ini berbeda-beda sesuai dengan keinginan


dari negara yang bersangkutan dan disesuaikan dengan keadaan bangsa dan negaranya.
Sebagaimana dikemukakan sebelumnya, sistem pemerintahan presidensial dan sistem
pemerintahan parlementer merupakan dua model sistem pemerintahan yang dijadikan acuan
oleh banyak negara. Amerika Serikat dan Inggris masing-masing dianggap pelopor dari
sistem pemerintahan presidensial dan sistem pemerintahan parlementer. Dari dua model
tersebut, kemudian dicontoh oleh negara-negar lainnya.

Contoh negara yang menggunakan sistem pemerintahan presidensial: Amerika


Serikat, Filipina, Brasil, Mesir, dan Argentina. Dan contoh negara yang menggunakan sistem
pemerintahan parlemen: Inggris, India, Malaysia, Jepang, dan Australia.

Meskipun sama-sama menggunakan sistem presidensial atau parlementer, terdapat


variasi-variasi disesuaikan dengan perkembangan ketatanegaraan negara yang bersangkutan.
Misalnya, Indonesia yang menganut sistem pemerintahan presidensial tidak akan sama persis
dengan sistem pemerintahan presidensial yang berjalan di Amerika Serikat. Bahkan, negara-
negara tertentu memakai sistem campuran antara presidensial dan parlementer (mixed
parliamentary presidential system). Contohnya, negara Prancis sekarang ini. Negara tersebut
memiliki presiden sebagai kepala negara yang memiliki kekuasaan besar, tetapi juga terdapat
perdana menteri yang diangkat oleh presiden untuk menjalankan pemerintahan sehari-hari.

Sistem pemerintahan suatu negara berguna bagi negara lain. Salah satu kegunaan penting
sistem pemerintahan adalah sistem pemerintahan suatu negara menjadi dapat mengadakan
perbandingan oleh negara lain. Suatu negara dapat mengadakan perbandingan sistem
pemerintahan yang dijalankan dengan sistem pemerintahan yang dilaksakan negara lain.
Negara-negara dapat mencari dan menemukan beberapa persamaan dan perbedaan antar
sistem pemerintahan. Tujuan selanjutnya adalah negara dapat mengembangkan suatu sistem
pemerintahan yang dianggap lebih baik dari sebelumnya setelah melakukan perbandingan
dengan negara-negara lain. Mereka bisa pula mengadopsi sistem pemerintahan negara lain
sebagai sistem pemerintahan negara yang bersangkutan.

Para pejabat negara, politisi, dan para anggota parlemen negara sering mengadakan
kunjungan ke luar negeri atau antarnegara. Mereka melakukan pengamatan, pengkajian,
perbandingan sistem pemerintahan negara yang dikunjungi dengan sistem pemerintahan
negaranya. Seusai kunjungan para anggota parlemen tersebut memiliki pengetahuan dan
wawasan yang semakin luas untuk dapat mengembangkan sistem pemerintahan negaranya.

Pembangunan sistem pemerintahan di Indonesia juga tidak lepas dari hasil


mengadakan perbandingan sistem pemerintahan antarnegara. Sebagai negara dengan sistem
presidensial, Indonesia banyak mengadopsi praktik-praktik pemerintahan di Amerika Serikat.
Misalnya, pemilihan presiden langsung dan mekanisme cheks and balance. Konvensi Partai
Golkar menjelang pemilu tahun 2004 juga mencontoh praktik konvensi di Amerika
Serikat. Namun, tidak semua praktik pemerintahan di Indonesia bersifat tiruan semata dari
sistem pemerintahan Amerika Serikat. Contohnya, Indonesia mengenal adanya lembaga
Majelis Permusyawaratan Rakyat, sedangkan di Amerika Serikat tidak ada lembaga semacam
itu.

Dengan demikian, sistem pemerintahan suatu negara dapat dijadikan sebagai bahan
perbandingan atau model yang dapat diadopsi menjadi bagian dari sistem pemerintahan
negara lain. Amerika Serikat dan Inggris masing-masing telah mampu membuktikan diri
sebagai negara yang menganut sistem pemerintahan presidensial dan parlementer seara ideal.
Sistem pemerintahan dari kedua negara tersebut selanjutnya banyak ditiru oleh negara-negara
lain di dunia yang tentunya disesuaikan dengan negara yang bersangkutan.

B. Sistem Pemerintahan Indonesia

Indonesia menjalankan pemerintahan republik presidensial multipartai yang


demokratis. Seperti juga di negara-negara demokrasi lainnya, sistem politik di Indonesia
didasarkan pada Trias Politika yaitu kekuasaan legislatif, eksekutif dan yudikatif. Kekuasaan
legislatif dipegang oleh sebuah lembaga bernama Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR).
MPR pernah menjadi lembaga tertinggi negara unikameral, namun setelah
amandemen ke-4 MPR bukanlah lembaga tertinggi lagi, dan komposisi keanggotaannya juga
berubah. MPR setelah amandemen UUD 1945, yaitu sejak 2004 menjelma menjadi lembaga
bikameral yang terdiri dari 560 anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang merupakan
wakil rakyat melalui Partai Politik, ditambah dengan 132 anggota Dewan Perwakilan Daerah
(DPD) yang merupakan wakil provinsi dari jalur independen. Anggota DPR dan DPD dipilih
melalui pemilu dan dilantik untuk masa jabatan lima tahun. Sebelumnya, anggota MPR
adalah seluruh anggota DPR ditambah utusan golongan dan TNI/Polri. MPR saat ini diketuai
oleh Sidarto Danusubroto, menggantikan almarhum Taufiq Kiemas. DPR saat ini diketuai
oleh Marzuki Alie, sedangkan DPD saat ini diketuai oleh Irman Gusman.
Lembaga eksekutif berpusat pada presiden, wakil presiden, dan kabinet. Kabinet di
Indonesia adalah Kabinet Presidensial sehingga para menteri bertanggung jawab kepada
presiden dan tidak mewakili partai politik yang ada di parlemen. Meskipun demikian,
Presiden saat ini yakni Susilo Bambang Yudhoyono yang diusung oleh Partai Demokrat juga
menunjuk sejumlah pemimpin Partai Politik untuk duduk di kabinetnya. Tujuannya untuk
menjaga stabilitas pemerintahan mengingat kuatnya posisi lembaga legislatif di Indonesia.
Lembaga Yudikatif sejak masa reformasi dan adanya amandemen UUD 1945
dijalankan oleh Mahkamah Agung, Komisi Yudisial, dan Mahkamah Konstitusi, termasuk
pengaturan administrasi para hakim. Meskipun demikian keberadaan Menteri Hukum dan
Hak Asasi Manusia tetap dipertahankan.
Untuk lebih jelasnya, berikut ini ciri-ciri, kelebihan serta kekurangan dari sistem
pemerintahan presidensial.

Ciri-ciri dari sistem pemerintahan presidensial adalah sebagai berikut.

1. Penyelenggara negara berada ditangan presiden. Presiden adalah kepala negara


sekaligus kepala pemerintahan. Presiden tidak dipilih oleh parlemen, tetapi dipilih
langsung oleh rakyat atau suatu dewan majelis.
2. Kabinet (dewan menteri) dibentuk oleh presiden. Kabinet bertangungjawab kepada
presiden dan tidak bertanggung jawab kepada parlemen atau legislatif.
3. Presiden tidak bertanggungjawab kepada parlemen. Hal itu dikarenakan presiden
tidak dipilih oleh parlemen.
4. Presiden tidak dapat membubarkan parlemen seperti dalam sistem parlementer.
5. Parlemen memiliki kekuasaan legislatif dan sebagai lembaga perwakilan. Anggota
parlemen dipilih oleh rakyat.
6. Presiden tidak berada dibawah pengawasan langsung parlemen.

Kelebihan Sistem Pemerintahan Presidensial:

a. Badan eksekutif lebih stabil kedudukannya karena tidak tergantung pada parlemen.
b. Masa jabatan badan eksekutif lebih jelas dengan jangka waktu tertentu. Misalnya,
masa jabatan Presiden Amerika Serikat adalah empat tahun, Presiden Indonesia
adalah lima tahun.
c. Penyusun program kerja kabinet mudah disesuaikan dengan jangka waktu masa
jabatannya.
d. Legislatif bukan tempat kaderisasi untuk jabatan-jabatan eksekutif karena dapat diisi
oleh orang luar termasuk anggota parlemen sendiri.
Kekurangan Sistem Pemerintahan Presidensial:

a. Kekuasaan eksekutif diluar pengawasan langsung legislatif sehingga dapat


menciptakan kekuasaan mutlak.
b. Sistem pertanggungjawaban kurang jelas.
c. Pembuatan keputusan atau kebijakan publik umumnya hasil tawar-menawar antara
eksekutif dan legislatif sehingga dapat terjadi keputusan tidak tegas dan memakan
waktu yang lama.

Berikut sistem pemerintahan Indonesia berdasarkan UUD sebelum dan sesudah


diamandemen :

a. Sistem Pemerintahan Negara Indonesia Berdasarkan UUD 1945 Sebelum


Diamandemen.

Pokok-pokok sistem pemerintahan negara Indonesia berdasarkan UUD 1945 sebelum


diamandemen tertuang dalam Penjelasan UUD 1945 tentang tujuh kunci pokok sistem
pemerintahan negara tersebut sebagai berikut.

1. Indonesia adalah negara yang berdasarkan atas hukum (rechtsstaat).

2. Sistem Konstitusional.

3. Kekuasaan negara yang tertinggi di tangan Majelis Permusyawaratan Rakyat.

4. Presiden adalah penyelenggara pemerintah negara yang tertinggi dibawah Majelis


Permusyawaratan Rakyat.

5. Presiden tidak bertanggung jawab kepada Dewan Perwakilan Rakyat.

6. Menteri negara ialah pembantu presiden, menteri negara tidak bertanggungjawab kepada
Dewan Perwakilan Rakyat.

7. Kekuasaan kepala negara tidak tak terbatas.

Berdasarkan tujuh kunci pokok sistem pemerintahan, sistem pemerintahan Indonesia


menurut UUD 1945 menganut sistem pemerintahan presidensial. Sistem pemerintahan ini
dijalankan semasa pemerintahan Orde Baru di bawah kepemimpinan Presiden Suharto. Ciri
dari sistem pemerintahan masa itu adalah adanya kekuasaan yang amat besar pada lembaga
kepresidenan. Hamper semua kewenangan presiden yang di atur menurut UUD 1945 tersebut
dilakukan tanpa melibatkan pertimbangan atau persetujuan DPR sebagai wakil rakyat.
Karena itui tidak adanya pengawasan dan tanpa persetujuan DPR, maka kekuasaan presiden
sangat besar dan cenderung dapat disalahgunakan. Mekipun adanya kelemahan, kekuasaan
yang besar pada presiden juga ada dampak positifnya yaitu presiden dapat mengendalikan
seluruh penyelenggaraan pemerintahan sehingga mampu menciptakan pemerintahan yang
kompak dan solid. Sistem pemerintahan lebih stabil, tidak mudah jatuh atau berganti. Konflik
dan pertentangan antarpejabat negara dapat dihindari. Namun, dalam praktik perjalanan
sistem pemerintahan di Indonesia ternyata kekuasaan yang besar dalam diri presiden lebih
banyak merugikan bangsa dan negara daripada keuntungan yang didapatkanya.

Memasuki masa Reformasi ini, bangsa Indonesia bertekad untuk menciptakan sistem
pemerintahan yang demokratis. Untuk itu, perlu disusun pemerintahan yang konstitusional
atau pemerintahan yang berdasarkan pada konstitusi. Pemerintah konstitusional bercirikan
bahwa konstitusi negara itu berisi

1. adanya pembatasan kekuasaan pemerintahan atau eksekutif,

2. jaminan atas hak asasi manusia dan hak-hak warga negara.

Berdasarkan hal itu, Reformasi yang harus dilakukan adalah melakukan perubahan
atau amandemen atas UUD 1945. dengan mengamandemen UUD 1945 menjadi konstitusi
yang bersifat konstitusional, diharapkan dapat terbentuk sistem pemerintahan yang lebih baik
dari yang sebelumnya. Amandemen atas UUD 1945 telah dilakukan oleh MPR sebanyak
empat kali, yaitu pada tahun 1999, 2000, 2001, dan 2002. berdasarkan UUD 1945 yang telah
diamandemen itulah menjadi pedoman bagi sistem pemerintaha Indonesia sekarang ini.

b. Sistem pemerintahan Negara Indonesia Berdasarkan UUD 1945 Setelah


Diamandemen

Sekarang ini sistem pemerintahan di Indonesia masih dalam masa transisi. Sebelum
diberlakukannya sistem pemerintahan baru berdasarkan UUD 1945 hasil amandemen
keempat tahun 2002, sistem pemerintahan Indonesia masih mendasarkan pada UUD 1945
dengan beberapa perubahan seiring dengan adanya transisi menuju sistem pemerintahan yang
baru. Sistem pemerintahan baru diharapkan berjalan mulai tahun 2004 setelah dilakukannya
Pemilu 2004.

Pokok-pokok sistem pemerintahan Indonesia adalah sebagai berikut.


1. Bentuk negara kesatuan dengan prinsip otonomi daerah yang luas. Wilayah negara
terbagi dalam beberapa provinsi.
2. Bentuk pemerintahan adalah republik, sedangkan sistem pemerintahan presidensial.
3. Presiden adalah kepala negara dan sekaligus kepala pemerintahan. Presiden dan wakil
presiden dipilih dan diangkat oleh MPR untuk masa jabatan lima tahun. Untuk masa
jabatan 2004-2009, presiden dan wakil presiden akan dipilih secara langsung oleh
rakyat dalam satu paket.
4. Kabinet atau menteri diangkat oleh presiden dan bertanggung jawab kepada presiden.
5. Parlemen terdiri atas dua bagian (bikameral), Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan
Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Para anggota dewan merupakan anggota MPR.
DPR memiliki kekuasaan legislatif dan kekuasaan mengawasi jalannya pemerintahan.
6. Kekuasaan yudikatif dijalankan oleh Makamah Agung dan badan peradilan
dibawahnya.

Sistem pemerintahan ini juga mengambil unsur-unsur dari sistem pemerintahan


parlementer dan melakukan pembaharuan untuk menghilangkan kelemahan-kelemahan yang
ada dalam sistem presidensial. Beberapa variasi dari sistem pemerintahan presidensial di
Indonesia adalah sebagai berikut.

1. Presiden sewaktu-waktu dapat diberhentikan oleh MPR atas usul dari DPR. Jadi, DPR
tetap memiliki kekuasaan megawasi presiden meskipun secara tidak langsung.
2. Presiden dalam mengangkat penjabat negara perlu pertimbangan atau persetujuan dari
DPR.
3. Presiden dalam mengeluarkan kebijakan tertentu perlu pertimbangan atau persetujuan
dari DPR.
4. Parlemen diberi kekuasaan yang lebih besar dalam hal membentuk undang-undang
dan hak budget (anggaran)

Dengan demikian, ada perubahan-perubahan baru dalam sistem pemerintahan Indonesia.


Hal itu diperuntukan dalam memperbaiki sistem presidensial yang lama. Perubahan baru
tersebut, antara lain adanya pemilihan secara langsung, sistem bikameral, mekanisme cheks
and balance, dan pemberian kekuasaan yang lebih besar kepada parlemen untuk melakukan
pengawasan dan fungsi anggaran.
C. Sistem Pemerintahan Malaysia
Malaysia adalah sebuah federasi dari 13 negara bagian dan 3 wilayah federal.
Federasi merupakan bagian dari bentuk-bentuk pemerintahan yang membagi negaranya
menjadi beberapa negara bagian yang saling bekerja sama dan membentuk negara kesatuan.
Sistem pemerintahan yang dianut oleh Malaysia adalah sistem parlementer. Sistem
pemerintahan di Malaysia erat model sistem Westminster parlementer, warisan dari
pemerintahan kolonial Inggris.

Untuk lebih jelasnya, berikut ini ciri-ciri, kelebihan serta kekurangan dari sistem
pemerintahan parlementer.

Ciri-ciri dari sistem pemerintahan parlementer adalah sebagai berikut:

1. Badan legislatif atau parlemen adalah satu-satunya badan yang anggotanya dipilih
langsung oleh rakyat melalui pemilihan umum. Parlemen memiliki kekuasaan besar
sebagai badan perwakilan dan lembaga legislatif.
2. Anggota parlemen terdiri atas orang-orang dari partai politik yang memenangkan
pemiihan umum. Partai politik yang menang dalam pemilihan umum memiliki
peluang besar menjadi mayoritas dan memiliki kekuasaan besar di parlemen.
3. Pemerintah atau kabinet terdiri dari atas para menteri dan perdana menteri sebagai
pemimpin kabinet. Perdana menteri dipilih oleh parlemen untuk melaksakan
kekuasaan eksekutif. Dalam sistem ini, kekuasaan eksekutif berada pada perdana
menteri sebagai kepala pemerintahan.Anggota kabinet umumnya berasal dari
parlemen.
4. Kabinet bertanggung jawab kepada parlemen dan dapat bertahan sepanjang mendapat
dukungan mayoritas anggota parlemen. Hal ini berarti bahwa sewaktu-waktu
parlemen dapat menjatuhkan kabinet jika mayoritas anggota parlemen
menyampaikan mosi tidak percayakepada kabinet.
5. Kepala negara tidak sekaligus sebagai kepala pemerintahan. Kepala pemerintahan
adalah perdana menteri, sedangkan kepala negara adalah presiden dalam negara
republik atau raja/sultan dalam negara monarki. Kepala negara tidak memiliki
kekuasaan pemerintahan. Ia hanya berperan sebgai symbol kedaulatan dan keutuhan
negara.
6. Sebagai imbangan parlemen dapat menjatuhkan kabinet maka presiden atau raja atas
saran dari perdana menteri dapat membubarkan parlemen. Selanjutnya, diadakan
pemilihan umum lagi untuk membentukan parlemen baru.
Kelebihan Sistem Pemerintahan Parlementer:

a. Pembuat kebijakan dapat ditangani secara cepat karena mudah terjadi penyesuaian
pendapat antara eksekutif dan legislatif. Hal ini karena kekuasaan eksekutif dan
legislatif berada pada satu partai atau koalisi partai.
b. Garis tanggung jawab dalam pembuatan dan pelaksanaan kebijakan public jelas.
c. Adanya pengawasan yang kuat dari parlemen terhadap kabinet sehingga kabinet
menjadi barhati-hati dalam menjalankan pemerintahan.

Kekurangan Sistem Pemerintahan Parlementer:

a. Kedudukan badan eksekutif/kabinet sangat tergantung pada mayoritas dukungan


parlemen sehingga sewaktu-waktu kabinet dapat dijatuhkan oleh parlemen.
b. Kelangsungan kedudukan badan eksekutif atau kabinet tidak bias ditentukan berakhir
sesuai dengan masa jabatannya karena sewaktu-waktu kabinet dapat bubar.
c. Kabinet dapat mengendalikan parlemen. Hal itu terjadi apabila para anggota kabinet
adalah anggota parlemen dan berasal dari partai meyoritas. Karena pengaruh mereka
yang besar diparlemen dan partai, anggota kabinet dapat mengusai parlemen.
d. Parlemen menjadi tempat kaderisasi bagi jabatan-jabatan eksekutif. Pengalaman
mereka menjadi anggota parlemen dimanfaatkan dan manjadi bekal penting untuk
menjadi menteri atau jabatan eksekutif lainnya.

Setiap Negara bagian memiliki majelis, dan pemerintah negara bagian dipimpin oleh
kepala menteri (chief minister) dimana kepala menteri di tiap negara bagian diangkat oleh
majelis negara bagian. Bentuk pemerintahan Malaysia adalah monarki konstitusional, yaitu
berupa Negara kerajaan yang diatur oleh konstitusional. Dimana kepala negaranya
merupakan seorang raja yang disebut dengan Yang di-Pertuan Agong (Raja Malaysia). Yang
di-Pertuan Agong dipilih dari dan oleh sembilan Sultan Negeri-Negeri Malaya, untuk
menjabat selama lima tahun secara bergiliran; empat pemimpin negeri lainnya, yang bergelar
Gubernur, tidak turut serta di dalam pemilihan.
Sistem pemerintahan yang dianut oleh Malaysia adalah sistem parlementer. Sistem
parlementer yang dipakai oleh Malaysia bermodelkan sistem parlementer Westminster, yang
merupakan warisan Penguasa Kolonial Britania. Tetapi apabila melihat prakteknya ,
kekuasaan lebih terpusat di eksekutif daripada di legislatif, dan yudikatif diperlemah oleh
tekanan berkelanjutan dari pemerintah selama zaman Mahathir, kekuasaan yudikatif itu
dibagikan antara pemerintah persekutuan dan pemerintah negara bagian. Dalam system
pemerintahan Malaysia yang menjadi kepala pemerintahan adalah seorang perdana menteri.
Sistem politik Malaysia dapat dikatakan demokrasi, hal ini dapat dilihat dari
adanya pembagian kekuasaan dan adanya pelaksanaan pemilu meskipun kalau dilihat lebih
dalam tidak begitu demokratis karena tidak jurdil. Di Malaysia, seperti kebanyakan Negara
lainnya kekuasaan Negara terdiri dari badan eksekutif, legislatif dan yudikatif.
1.a Kekuasaan eksekutif
a. Perdana menteri sebagai kepala pemerintahan
b. Raja/ Sultan Yang di-Pertuan Agung sebagai kepala Negara
c. Perdana menteri merupakan anggota dewan rendah (Dewan
Rakyat), yang direstui Yang di-Pertuan Agong dan mendapat dukungan mayoritas parlemen
d. Kabinet dipilih dari anggota Dewan rakyat dan Dewan Negara yang merupakan anggota
parlemen

1.b Kekuasaan legislatif


a. menggunakan sistem bikameral yang terdiri dari senat (Dewan Negara) dan House of
Representatives (Dewan Rakyat).
b. Parlemen di tingkatan persekutuan, masing-masing negara bagian memiliki dewan
legislatif unikameral (Dewan Undangan Negeri) yang para anggotanya dipilih dari daerah-
daerah pemilihan beranggota-tunggal.
c. Senat ditunjuk oleh pemimpin tertinggi sementara 26 lainnya ditunjuk oleh badan
pembuat UU di negara bagian.
d. Anggota HoR dipilih melalui popular vote untuk masa jabatan selama 5 tahun.

1.c Kekuasaan Yudikatif


a. Hakim pengadilan Federal ditunjuk oleh pemimpin tertinggi dengan
nasehat perdana menteri.
b. Hakim adalah orang yang paling penting yang memiliki kekuasaan
untuk menyatakan tindakan parlemen adalah inkonstitusional dan
ultra vires sesuai dengan kewajiban Konstitusi dan pemahaman
mereka tentang hukum.

D. Perbedaan Sistem Pemerintah Monarki & Republik


Perbedaan di antara penguasa monarki dengan presiden sebagai kepala negara adalah
penguasa monarki menjadi kepala negara sepanjang hayatnya, sedangkan presiden biasanya
memegang jabatan ini untuk jangka waktu tertentu. Namun dalam negara-negara federasi
seperti Malaysia, penguasa monarki atau Yang dipertuan Agung hanya berkuasa selama 5
tahun dan akan digantikan dengan penguasa monarki dari negeri lain dalam persekutuan.
Pada zaman sekarang, konsep monarki mutlak hampir tidak ada lagi dan kebanyakannya
adalah monarki konstitusional, yaitu penguasa monarki yang dibatasi kekuasaannya oleh
konstitusi.
Bagi kebanyakan negara, penguasa monarki merupakan simbol kesinambungan serta
kedaulatan negara tersebut. Selain itu, penguasa monarki biasanya ketua agama serta
panglima besar angkatan bersenjata sebuah negara. Contohnya saja di Malaysia, Yang
dipertuan Agung merupakan ketua agama Islam.
Berdasarkan survei data dari id.wikipedia.org, Negara yang menggunakan sistem
pemerintahan republik merupakan negara yang lebih berkembang dibandingkan dengan
negara yang sistem pemerintahannya monarki. Tetapi tidak menjamin bahwa pasti akan
menjadi negara maju. Karena sistem pemerintahan monarki juga masih ada yang tergolong
negara berkembang. Begitu pula dengan sistem pemerintahan republik, bahkan bagi negara-
negara yang mengannut sistem republik lebih banyak yang tergolong negara berkembang-nya
dari pada negara maju.

Gambar 1. Persentase Negara Republik dan Negara Monarki


Penggolongan negara maju dan negara berkembang sendiri tidak hanya dilakukan
dalam satu tahun, namun juga dilakukan survei dan analisa dalam segala aspek di negara
tersebut. Jadi tidak hanya dilihat dari satu sisi saja. Misalnya hanya dilihat dari sisi militer,
teknologi, atau ekonomi. Pada awalnya yang menjadi patokan adalah pendapatan per-kapita
dari negara tersebut karena pendapatan per-kapita menjadi dasar dari kemampuan finansial
dari setiap penduduk di negara tersebut. Misalnya, meningkatnya pendapatan per-kapita
masyarakatnya menyebabkan berkurangnya tingkat kemiskinan yang akan berakibat pula
pada berkurangnya angka kriminalitas dan meningkatnya taraf hidup masyarakatnya tersebut.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengruh Sistem Pemerintahan Terhadap Negara Lain
Menemukan pengaruh sistem pemerintahan satu negara terhadap negara lain bisa disebabkan
situasi dan kondisi suatu negara, termasuk perbedaan latar belakang selarah politik yang di
alami oleh negara masing-masing. Misalnya sistem parlementer timbul dari bentuk negara
monarki yang kemudian mendapat pengaruh dari pertanggung jawab menteri. Selain itu,
fungsi dari raja merupakan faktor stabilisasi jika terjadi perselisihan antara eksekutif dan
legislatif. Dalam trias polotika terdapat sistem check dan balance.
Kedua sistem pemerintahan yaitu parlementer dan presidensial mempunyai keuntungan dan
kelemahan. Keuntungan dari sistem parlementer yaitu bahwa penyesuaian antara pihak
eksekutif dan legislatif dapat di capai dengan mudah. Namun sebaliknya, pertentangan antara
keduanya itu bisa sewaktu-waktu terjadi menyebabkan kabinet harus mengundurkan diri dan
akibatnya pemerintahan tidak stabil. Hal ini sering terjadi di Prancis dimana suatu kabinet itu
mempunyai umur yang pendek. Hal serupa juga perhnah dialami oleh negara Indonesia,
dimana Indonesia saat itu menerapkan sistem Demokrasi Liberal dengan menggunakan
Undang-Undang Dasar Serikat (UUDS 1950).
UUDS 1950 menetapkan sistem pemerintahan parlementer. Dalam sistem ini, kekuasaan
pemerintahan tertinggi dipegang oleh Perdana Menteri. Perdana Menteri dan para menteri
bertanggung jawab kepada DPR. Apabila kebijaksanaan pemerintah tidak mendapatkan
kepercayaan DPR, kabinet itu akan jatuh dan di bubarkan, kemuadian di bentuk kabinet baru
lagi. Dengan kata lain, pada masa Demokrasi Liberal, pergantian kabinet sering terjadi atau
kabinet tidak berumur panjang dan pemerintahan tidak stabil. Contoh kabinet pada masa
Demokrasi Liberal sebagai berikut :
1. Kabinet Natsir (7 September 1950-21 Maret 1951)
2. Kabinet Sukiman yang meneruskan Program Kabinet Natsir (27 April 1951-3 April 1952).
3. Kabinet Wiloko (3 April 1952-3Juni 1953)
4. Kabinet Ali Sastroamidjojo I (31 Juli 1953-12 Agustus 1955)
5. Kabinet Burhanuddin Harahap (12 Agustus 1955-3 Maret 1956)
6. Kabinet Ali Sastroamidjojo II (12 Maret 1956-14 Maret 1957)
7. Kabinet Djuanda (9 April 1957-5 Juli 1959)

Pergantian kabinet yang sering terjadi tersebut mengakibatkan program kabinet tidak
terlaksana. Akhirnya, setelah Dekrit Presidan 5 Juli 1959, sistem pemerintahan Indonasia
berganti dengan sistem Demokrasi Terpimpin. Dalam sistem Demokrasi Terpimpin,
kekuasaan berada ditangan Presiden yang langsung memimpin kabinet. Kekuasaan Presiden
memimpin kabinet ini sesuai dengan UUD 1945 yang menyatakan bahwa “Presiden adalah
kepala pemerintahan, berhak mengangkat, dan memberhantikan menteri-menteri negara.”
Itulah sekilas tentang keuntungan dan kelemahan sistem pemerintahan parlementer.
Sementara itu, keuntungan dari sistem presidensial yaitu pemerintahan untuk jangka waktu
yang ditentukan itu stabil. Adapun kelemahannya yaitu ada kemungkinan terjadinya
perbedaan tujuan negara yang ditekadkan oleh eksekutif dengan pendapat legislatif.
Penyelenggaraan pemilu untuk memilih wakil rakyat dan presiden serta masa jabatannnya
pun tidak sama, sehingga perbedaan pendapat yang timbul dari para pemilih dapat
mempengaruhi sikap dan keadaan lembaga itu menjadi berlainan. Misalnya, kebijaksanaan
politik yang ditempuh oleh presiden Nixon bertentangan dengan pendapat congress mengenai
perang Vietnam, itulah salah satu contoh diantara sekian banyak peristiwa yang terjadi.
Selain keuntungan dan kelemahan sistem pemerintahan parlementer serta presidensial di atas,
masih ada keuntungan dan kelemahan dari kedua sistem pemerintahan tersebut. Sistem
pemerintahan merupakan unsur pokok yang dimiliki oleh negara. Dengan adanya sistem
pemerintahan, maka arah kebijakan pemerintah suatu negara menjadi lebih jelas, terarah,
efektif dan efisien. Dalam sistem pemerintahan negara dimuat aturan-aturan penyelenggaraan
negara, termasuk prosedur birokrasi oleh pemerintah pusat dan penyelenggara-penyelenggara
lainnya. Setiap negara mempunyai kewajiban untuk menghormati sistem pemerintahan
negara lain. Hal ini berkaitan dengan adanya hak pengakuan dari negara lain atas kedaulatan
suatu negara. Penerapan sistem pemerintahan satu negara mempunyai pengaruh terjahadap
negara-negara lain. Hal ini dapat kamu pelajari dari kisah berikut.
Di lingkungan negara-negara kerajaan yang menganut sistem Demokrasi Parlementer, selalu
diadakan pemisahan antara jabatan kepala negara dan kepala pemerintahan. Misalnya
pemisahan antara jabatan kepala negara yang dipegang oleh raja (laki-laki) atau ratu
(perempuan) dan jabatan kepala pemerintahan yang dipegang oleg perdana menteri (Prime
Minister) atau dengan sebutan lain. Di Inggris ada ratu Elisabeth dan ada perdana menteri
Tony Blaire, di Malaysia ada sultan serta Perdana Menteri, begitu juga di Jerman, Belanda,
Belgia, Spanyol, dan Jepang. Berbeda dari negara negara tersebut,setelah terjadinya revolusi
besar- besaran,negara prancis tidak memiliki raja.Kepala negara Prancis disebut
Presiden,tetapi kepala pemerintahan dipegang oleh perdana menteri.Karena itu, Prancis
disebut menganut sistem campuran antara presidensial dan Parlementer.Sistem
pemerintahannya di sebut presidensial karena mempunyai Presiden, tetapi juga menganut
sistem Parlementer karena mempunyai perdana menteri yang bertanggung jawab kepada
parlemen. Atas pengruh kerajaan Inggris dan Prancis yang memiliki Wilayah jajahan yang
luas,kedua model pemerintahan Inggris serta Prancis tersebut banyak di tiru dan dicontoh di
hampir seluruh sunia.Negera-negara Asi dan Afrika, banyak sekali yang mencontoh modal
Inggris atau Prancis itu. Karene pengaruhnya yang luas di benua Afrika, kebanyakan negara-
negara Afrika m,encontoh model Prancis, sedangkan di Asia lebih banyak yang mencontoh
model Inggris.
Namun, berbeda dari model Inggris dan Prancis tersebut, Amerika serikat dapat dikatakan
berhasil mengembangkan model tersendiri. Inilah yang kemudian dikenal dengan sebutan
negara presidensial murni. Dalam sistem ini, kedudukan kepala negara dan kepala
pemerintahan diorganisasikan kedalam satu tangan dengan sebutan presiden. Tetapi,
kewenangannya dibatasi sesuai dengan prinsip demokrasi yang berdasar atas hukum
(constutional democracye). Kerangka pemikiran yang mendasri penerapan sistem
pemerintahan presidensial ini dapat dikikatakan berkembang paling terkemudian. Pada tahap
kedua, sistem kekuasaan yang terpusat ditangan raja didekonsentrasikan ketangan mereka
yang tidak aberdarah biru yang kedudukannya disebut perdana mentri. Sejarah
memperkenalkan beberapa konsep ketatanegaraan seperti “Constutional Monarchy”.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa sebuah negara mangandung sistem
pemerintahan dapat dipengaruhi oleh berbagai hal yaitu :
1. Nilai-nilai yang dijadiakn dasar negara atau (idiologi) negara yang bersangkutan.
2. Latar belakang sejarah yang dialami oleh negara yang bersangkutan.
3. Pengaruh dari sistem pemerintahan negara lain yang dianggap sesuai dengan keadaan dan
kondisi negara yang bersangkutan.
4. Situasi dan kondisi negara yang bersangkutan.
5. Dengan adanya sistem pemerintahan maka ada kebijakan pemerintahan suatu negara
menjadi jelas, terarah, efektif dan efisien.
6. Setiap negara mempunyai kewajiban untuk menghormati sistem pemerintahan negara lain.