Anda di halaman 1dari 10

BAB II

TINJAUAN TEORI

2.1.1 Definisi Promosi Kesehatan

Promosi kesehatan adalah upaya untuk meningkatkan kemampuan masyarakat

melalui pembelajaran dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat, agar mereka dapat

menolong diri sendiri, serta mengembangkan kegiatan yang bersumber daya

masyarakat, sesuai sosial budaya setempat dan didukung kebijakan publik yang

berwawasan kesehatan. (Kemenkes RI, 2011)

2.1.2 Visi Misi Promosi Kesehatan

2.1.2.1 Visi Promosi Kesehatan

Visi Pembangunan Kesehatan Indonesia (UU Kesehatan No. 23 Tahun

1992) yaitu “Meningkatnya kemampuan masyarakat u/ memelihara &

meningkatkan derajad kesehatannya baik fisik,mental & sosial sehingga

produktif secara ekonomi maupun sosial “. (Mubarak dkk, 2007)

Empat Kata Kunci Visi Promosi Kesehatan :

1. Willingnes ( Mau )

2. Ability ( Mampu )

3. Memelihara Kesehatan : mau & mampu mencegah penyakit, melindungi

diri & mencari pertolongan pengobatan yg profesional bila sakit.


4. Meningkatkan Kesehatan : mau & mampu mencegah penyakit, kesehatan

perlu ditingkatkan yang bersifat dinamis.

2.1.2.2 Misi Promosi Kesehatan

1.Advokat (advocate)

Ditujukan kepada para pengambil keputusan atau pembuat kebijakan

2.Menjembatani (mediate)

Menjalin kemitraan dengan berbagai program dan sektor yang terkait dengan

kesehatan.

3.Memampukan (enable)

Agar masyarakat mampu memelihara dan meningkatkan kesehatan secara

mandiri.

(Notoatmodjo, 2007)

2.1.3 Sasaran promosi kesehatan (Kemenkes, 2011)

a. Sasaran Primer

Sesuai misi pemberdayaan. Misal : kepala keluarga, ibu hamil/menyusui, anak

sekolah.

b. Sasaran Sekunder

Sesuai misi dukungan sosial. Misal: Tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh

agama.

c. Sasaran Tersier
Sesuai misi advokasi. Misal : Pembuat kebijakan mulai dari pusat sampai ke

daerah

2.1.4 Strategi Promosi Kesehatan

2.1.4.1 Strategi Promosi Kesehatan (WHO, 1984)

1.Advokasi (advocacy)

Agar pembuat kebijakan mengeluarkan peraturan yang menguntungkan

kesehatan.

2.Dukungan Sosial (social support)

Agar kegiatan promosi kesehatan mendapat dukungan dari tokoh masyarakat.

3.Pemberdayaan Masyarakat (empowerment)

Agar masyarakat mempunyai kemampuan untuk meningkatkan kesehatannya.

(Kemenkes, 2011)

2.1.4.2. Strategi Promkes (Piagam Ottawa, 1986)

1.Kebijakan Berwawasan Kesehatan

2.Lingkungan yang Mendukung

3.Reorientasi Pelayanan Kesehatan

4.Keterampilan Individu

5.Gerakan Masyarakat

(Kemenkes, 2011)
2.1.5 Ruang Lingkup Promosi Kesehatan

2.1.5.1 Ilmu dicakup Promkes dikelompokkan 2 bidang :

1.Ilmu Perilaku: Dasar membentuk Perilaku Manusia

2.Ilmu-Ilmu yg diperlukan untuk Intervensi Perilaku

(Notoatmodjo, 2007)

2.1.5.2 Ruang Lingkup Promkes didasarkan pada 2 Dimensi, yaitu :

1.Dimensi Aspek Sasaran Pelayanan Kesehatan

2.Dimensi Tempat Pelaksanaan Promosi Kesehatan atau Tatanan ( Setting )

(Notoatmodjo, 2007)

2.1.5.3 Dimensi Aspek Sasaran Pelayanan Kesehatan, yaitu :

1.Promkes pd Tingkat Promotif

2.Promkes pd Tingkat Preventif

3.Promkes pd Tingkat Kuratif

4.Promkes pd Tingkat Rehabilitatif

(Notoatmodjo, 2007)

2.1.6 Indikator Promosi Kesehatan Puskesmas Simpur

1. Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan

2. Bayi diberi asi ekslusif

3. Menimbang bayi dan balita setiap bulan

4. Menggunakan air bersih

5. Mencuci tangan dengan air bersih


6. Menggunakan jamban yang sehat

7. Memberantas jentik nyamuk dirumah

8. Makan sayur dan buah setiap hari

9. Melakukan aktifitas fisik setiap hari

10. Tidak merokok didalam ruangan

2.2 Asi Eksklusif

2.2.1 Definisi Asi Eksklusif

ASI eksklusif adalah pemberian ASI (air susu ibu) sedini mungkin

setelah persalinan. Diberikan tanpa jadwal dan tidak diberi makanan lain.

Walaupun hanya air putih, sampai bayi berumur 6 bulan. Setelah 6 bulan bayi baru

diperkenalkan dengan makanan lain dan tetap diberikan ASI sampai bayi berusia

2 tahun (Purwanti,2004). Sedangkan ASI eksklusif menurut Prasetyono (2009)

adalah pemberian ASI kepada bayi selama 6 bulan tanpa tambahan cairan lain,

seperti susu formula, jeruk, madu, air teh, dan air putih, serta tanpa tambahan

makanan padat, misalnya pisang, bubur susu, biskuit, bubur nasi, dan nasi tim,

kecuali vitamin, mineral, dan obat.

ASI eksklusif atau lebih tepat pemberian ASI secara eksklusif adalah bayi

hanya diberi ASI saja, tanpa tambahan cairan lain seperti susu formula, jeruk, madu,

air teh, air putih dan tanpa tambahan makanan padat seperti pisang, pepaya, bubur

susu, biskuit, bubur nasi dan tim (Roesli,2005).


2.2.2 Komposisi

Komposisi ASI ternyata tidak konstan dan tidak sama dari waktu ke waktu.

Faktor-faktor yang mempengaruhi komposisi ASI adalah: stadium laktasi, ras, keadaan

nutrisi, diet ibu. ASI mengandung sebagian besar air sebanyak 87,5% oleh karena itu

bayi yang mendapat cukup ASI tidak perlu mendapat tambahan air walaupun

berada ditempat yang mempunyai suhu udara panas. Kekentalan ASI sesuai dengan

saluran cerna bayi sedangkan susu formula lebih kental dibandingkan ASI, hal tersebut

yang menyebabkan diare pada bayi yang di berikan susu formula Komposisi ASI

diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Protein

ASI mengandung protein lebih rendah dari susu sapi tetapi protein dalam ASI

mempunyai nilai nutrisi yang tinggi dan mudah dicerna. ASI mengandung asam amino

esensial taurin yang tinggi yang penting untuk pertumbuhan retina dan konjugasi

bilirubin. ASI juga mengandung sistin yang tinggi dan merupakan asam amino yang

sangat penting untuk pertumbuhan otak bayi.

2. Karbohidrat

ASI mengandung karbohidrat yang relatif lebih tinggi dari pada susu sapi.

Karbohidrat yang utama terdapat pada ASI adalah laktosa. Kadar laktosa yang tinggi

ini sangat menguntungkan karena laktosa ini akan difermentasi menjadi asam laktat

yang akan memberikan kondisi asam dalam usus bayi. Kadar laktosa ditemukan

pada susu sapi atau susu formula, namun angka kejadian diare yang disebabkan

karena tidak dapat mencerna laktosa jarang ditemukan pada bayi yang mendapat ASI,
hal ini karena penyerapan ASI lebih baik dibanding laktosa susu sapi atau susu

formula. Selain laktosa, juga terdapat glokosa, galaktosa, dan glukosamin.

Galaktosa penting untuk pertumbuhan otak dan medula spinalis. Glukosamin

merupakan bifidus faktor disamping laktosa, yang dapat memacu pertumbuhan

lactobacilus bifidus yang sangat menguntungkan bayi (IDAI,2008).

3. Lemak

Kadar lemak dalam ASI relatif lebih tinggi dibandingkan dengan susu sapi atau

susu formula. Kadar lemak yang tinggi dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan

otak yang cepat selama masa bayi. ASI mengandung asam lemak jenuh dan tak jenuh

yang seimbang dibanding susu sapi yang lebih banyak mengandung asam

lemak jenuh (IDAI,2008)

4. Mineral

Kadar mineral dalam ASI tidak begitu dipengaruhi oleh makanan yang

dikonsumsi ibu dan tidak dipengaruhi oleh status gizi ibu. Mineral didalam ASI

mempunyai kualitas yang lebih baik dan lebih mudah diserap dibandingkan dengan

mineral yang terdapat pada susu sapi. ASI mengandung mineral yang lengkap,

walaupun kadarnya relatif rendah tetapi cukup untuk bayi sampai berumur 6 bulan

Mineral utama yang terdapat dalam ASI adalah kalsium. Kadar kalsium ASI lebih

rendah dari susu sapi namun tingkat penyerapanya lebih besar. Bayi yang

mendapatkan ASI mempunyai resiko lebih kecil kekurangan zat besi, karena zat besi

yang berasal dari ASI lebih mudah diserap. Zink dibutuhkan karena banyak membantu

berbagai proses metabolisme tubuh. Selenium sangat di butuhkan pada saat


pertumbuhan anak cepat (IDAI,2008).

5. Vitamin

ASI cukup mengandung vitamin yang diperlukan bayi. Vitamin K berfungsi

sebagai katalisator pada proses pembekuan darah terdapat dalam ASI dalam jumlah

yang cukup dan mudah diserap. ASI banyak mengandung vitamin E, terutama di

kolostrum. Dalam ASI terdapat vitamin A dimana berfungsi untuk mendukung

pembelahan sel, kekebalan tubuh, dan pertumbuhan dan ASI juga mengandung

vitamin D meskipun hanya sedikit (Suradi,2004).

6. Kalori

Jumlah kalori dalam ASI relatif rendah, yaitu hanya 77 kal/100 ml ASI. Sekitar

10% berasal dari protein (Suradi,2004).

7. Unsur-unsur lainnya

Unsur-unsur lainnya yang terkandung dalam ASI laktorom, kreatinin,urea,

xanthin, amonia, dan asam sitrat (Soetdjiningsih,2012).

2.2.3 Masalah Ibu menyusui

1. Kelelahan berlebihan

Menyusui memang melelahkan. Diperkirakan kegiatan menyusui

membutuhkan kalori hingga sepertiga dari seluruh kalori. Memberikan ASI eksklusif

berarti harus memberikan ASI on demand (setiap saat pada waktu bayi

mengginginkan). Termasuk dijam-jam istirahat, seperti tengah malam hingga

menjelang subuh, pulang kantor atau setelah beraktifitas berat. Oleh sebab itu selain
membutuhkan pendampingan dari suami dan orang-orang terdekat, serta harus

mempunyai strategi untuk mengatasi kondisi ini.

2. Ibu menderita sakit tertentu

Meskipun ASI keluar dari tubuh ibu yang menderita sakit, tidak semua

penyakit mudah menular. Batuk, pilek, flu, diare bukan penyakit yang bisa menular

lewat ASI. Meskipun ibu sakit bayi tetap berhak mendapatkan ASI.

3. Anemia

Anemia bisa terjadi karena pola makan yang salah, kemampuan pengadaan

makanan, serta ketidaktahuan ibu sejak semasa hamil. Cara mengatasi harus lewat

perbaikan asupan gizi yang terus menerus selama menyusui.

4. Mual Muntah

Mual muntah bisa menyerang ibu menyusui. Mual muntah biasanya karena ibu

sudah ada kelainan pada lambung sebelumnya. Meskipun tidak berkaitan langsung

dengan kualitas ASI yang diproduksi. Keluhan tersebut harus segera diatasi sehingga

tidak mengganggu pada saat pemberian ASI.

5. Perut kembung

Perut kembung terjadi karena ada perubahan ukuran perut dari besar ke kecil.

Hal tersebut disebabkan adanya kontraksi untuk mengeluarkan sisa-sisa jaringan

yang mungkin masih tertinggal didalam perut.

6. Konstipasi

Keluhan yang umumnya muncul diawal masa menyusui. Hal tersebut

merupakan gangguan psikis berupa ketakutan akan merasa sakit pada saat harus BAB
pasca melahirkan, padahal menahan untuk tidak BAB akan menyebabkan konstipasi.

7. Wasir

Keluhan ini sebetulnya tidak ada hubunganya dengan menyusui. Karena

menyusui tidak menyebabkan wasir begitupun sebaliknya. Wasir merupakan

pelebaran pembuluh darah yang terjadi pada saat hamil namun pada saat kehamilan

berakhir keluhan ini akan berkurang.

8. Kaki Bengkak

Keluhan ini juga sering muncul pada ibu menyusui sebagai bagian dari

rangkaian panjang proses kehamilan.

9. Kurang Mendapat Dukungan Keluarga (Rosita,2008).