Anda di halaman 1dari 40

MINI PROJECT

Gambaran Status Mental Masyarakat RW 13 Kelurahan


Ganjar Agung

Disusun oleh:
dr.Willy Yahya
dr.Annisa Jihan

PUSKESMAS GANJAR AGUNG


METRO
2018

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, atas limpahan rahmat dan karunia-Nya,
sehingga penulis dapat merampungkan mini project dengan judul: Gambaran
Status Mental Masyarakat RW 13 Kelurahan Ganjar Agung. Tujuan penulisan
mini project ini untuk memenuhi persyaratan dalam tercapainya program internsip
dokter Indonesia di Puskesmas.
Penghargaan dan terima kasih penulis berikan kepada dr. Melly Kemerdasari
K. N. selaku pembimbing yang telah membantu penulisan mini project ini.
Ucapan terima kasih juga diberikan kepada :

1. Bapak Eddi Sriwidodo, S. IP. selaku Lurah Ganjar Agung


2. Ibu Eka Fesliria, SKM selaku Kepala Puskesmas Ganjar Agung
3. Bapak Dwi selaku Ketua RW 13 Kelurahan Ganjar Agung
4. Ibu Asmara Dewi S.KM dan Bapak Soleh S.KM yang telah
membantu mini project ini.
5. Ibu-ibu Kader RW 13 Kelurahan Ganjar Agung
6. Masyarakat RW 13 Kelurahan Ganjar Agung
7. Teman-teman yang turut membantu kegiatan mini project ini
Akhir kata penulis menyadari bahwa dalam penulisan mini project ini masih
jauh dari kesempurnaan. Karena itu, penulis memohon saran dan kritik yang
sifatnya membangun demi kesempurnaannya dan semoga bermanfaat bagi kita
semua.

Metro, 4 Juni 2018

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .......................................................................................................... i


DAFTAR ISI………………........……………………………...…………………………ii
DAFTAR TABEL……………………….………………………………………………..iv
BAB I PENDAHULUAN…………………………………………………………………1
1.1 Latar Belakang………………………………………………………………………..1
1.2 Rumusan Masalah……………………………………………………………………..3
1.3 Tujuan Penelitian……...………………………………………………………………3
1.4 Manfaat Penelitian……………………………….……………………………………3
1.4.1 Manfaat Akademis…………………………………………..........…………….3
1.4.2 Manfaat Praktis……………………...……………………………...........……...3
1.5 Landasan Teori.............................................................................................................. 4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA……………..……………………………………………5
2.1 Deskripsi Wilayah………......…………………………………………………………5
2.1.1 Kondisi Geografis dan Demografis Kota Metro………...........………………….5
2.1.2 Profil Puskesmas...................................................................................................6
2.2 Pengertian Mental……………………………………….…………………………….7
2.3 Gangguan Jiwa………………………..........………………………………………….7
2.3.1 Pengertian Gangguan Jiwa…………………………………………....………….8
2.3.2 Faktor yang Menyebabkan Gangguan Jiwa…………………………….......……9
2.3.3 Jenis-Jenis Gangguan Jiwa………………………………………………..…….10
2.3.3.1 Gangguan Kesehatan Jiwa Umum (Depresi dan Kecemasan)..................10
2.3.3.2 Kebiasaan Buruk………………………………………………………...11
2.3.3.3 Gangguan Kejiwaan Berat(Psikosis)…………………………………….11
2.3.3.4 Gangguan Kesehatan Jiwa Pada Orang Tua…………………………….12
2.3.4 Tanda dan Gejala Gangguan Jiwa………………………….......……………….12
2.4 Kuesioner……………………………….......………………………………………..14
2.4.1 Self Reporting Questioner……………....………………………………………14
2.4.2 Mini International Neuropshyciatri Interview…...………………………...…...15
BAB III METODOLOGI PENELITIAN…………………..…………………………….16
3.1 Desain Penelitian……………………………………………………………………..16
3.2 Teknik Pengumpulan Data……………………………….…………………………..16

ii
3.2.1 Instrumen Penelitian……………………………………………………………16
3.2.2 Populasi dan Sampel Penelitian …………………………………......…………16
3.3 Teknik Sampling……………………………………….....………………….………17
3.4 Definisi Operasional……………………….....………………………………………17
3.5 Metode Analisis……………….……………………………………………………..19
3.6 Tempat dan Waktu Penelitian…………………………………….....................…….19
BAB IV Hasil dan Pembahasan………………………………………….......…………..20
4.1 Pengumpulan Data……………………………………………….....………………..20
4.2 Gambaran Hasil Kuesioner…………………………………….....…………………20
BAB V Simpulan dan Saran……………………………………………………………..25
5.1 Simpulan……………………………….…………………………………………….25
5.2 Saran………………………………………………………………………………….25
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................................... .28
LAMPIRAN..................................................................................................................... .32

iii
DAFTAR TABEL

Tabel 4.1 Gambaran Hasil Deteksi Dini RW 13 Kelurahan Ganjar Agung April
2018 ........................................................................................................ 20
Tabel 4.2 Gambaran Hasil MINI RW13 Kelurahan Ganjar Agung April 2018
................................................................................................................ 21
Tabel 4.3 Gambaran Distribusi SRQ ≥6 Berdasarkan Jenis Kelamin RW13 Kelurahan
Ganjar Agung April 2018…… ................................................................23
Tabel 4.4 Gambaran Distribusi SRQ ≥6 Berdasarkan Usia RW 13 Kelurahan Ganjar
Agung April 2018 ................................................................................... 23
Tabel 4.5 Gambaran Distribusi SRQ ≥6 Berdasarkan Pendidikan RW13 Kelurahan
Ganjar Agung April 2018 ....................................................................... 24

iv
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Gangguan mental merupakan salah satu penyebab utama beban kesehatan di
seluruh dunia. Organisasi Kesehatan Dunia menyatakan bahwa satu dari empat
orang di dunia akan terkena gangguan mental atau neurologi pada satu titik
kehidupan mereka (WHO, 2001). Di Amerika Serikat, satu dari enam orang
dewasa hidup dengan gangguan mental (44,7 juta pada tahun 2016) (NIH,
2017).
Sekitar 300 juta orang di dunia mengalami depresi dan sekitar 60 juta orang
mengalami gangguan afek bipolar. Gangguan mental berat seperti skizofrenia
dialami oleh sekitar 21 juta orang di dunia. Gangguan fungsi kognitif seperti
demensia dialami oleh 47,5 juta orang. Beban karena gangguan mental ini terus
bertumbuh dengan dampak yang nyata pada kesehatan, sosial, hak-hak
manusia serta ekonomi di semua negara di dunia (WHO, 2017).
Indonesia juga tidak lepas dari permasalahan ini. Menurut Riset Kesehatan
Dasar (Riskesdas) tahun 2013, prevalensi gangguan jiwa berat di Indonesia
sebesar 1,7‰ atau sekitar 400.000 orang. Hal ini menimbulkan beban yang
besar bagi pemerintah karena menghabiskan biaya pelayanan kesehatan yang
banyak. Di sisi lain, produktivitas pasien menurun dan menimbulkan beban
biaya yang besar bagi pasien dan keluarga. Selain itu, 6% penduduk Indonesia,
sekitar 14 juta orang, mengalami gangguan mental emosional yang bila tidak
diatasi sedini mungkin dapat berkembang menjadi gangguan jiwa yang lebih
serius. Provinsi dengan prevalensi psikosis tertinggi berada di DI Yogyakarta
dan Aceh, yakni masing-masing sebesar 2,7‰, sedangkan Sulawesi Tengah
menempati peringkat tertinggi prevalensi gangguan mental emosional, yakni
sebesar 11,6%. Provinsi Lampung memiliki prevalensi gangguan jiwa sebesar
0,8‰ serta gangguan mental emosional sebesar 1,2% (Kemenkes, 2013). Di

1
wilayah kerja Puskesmas Ganjar Agung Metro terdapat 36 orang yang
mengalami gangguan jiwa. Orang dengan gangguan jiwa di Kelurahan Ganjar
Agung ada sebanyak 12 orang dan di Kelurahan Ganjar Asri ada 24 orang.
Ada banyak faktor yang memengaruhi kondisi kesehatan jiwa seseorang.
Berbagai faktor sosial, psikologi, dan biologi menentukan tingkat kesehatan
mental seseorang. Sebagai contoh, kekerasan dan tekanan sosio-ekonomi yang
persisten diketahui menjadi faktor risiko terhadap kesehatan jiwa. Bukti paling
nyata berhubungan dengan kekerasan seksual. Rendahnya kesehatan jiwa juga
berhubungan dengan perubahan sosial yang cepat, kondisi kerja yang penuh
tekanan, diskriminasi gender, ekslusi sosial, gaya hidup tidak sehat, fisik yang
sakit serta pelanggaran hak azasi manusia. Ada faktor-faktor spesifik psikologi
dan kepribadian yang menyebabkan orang rentan terhadap permasalahan
kesehatan jiwa. Risiko biologi termasuk faktor genetik juga turut ambil andil
(WHO, 2018).
Permasalahan lain di Indonesia adalah pemasungan serta perlakuan yang
salah pada pasien gangguan jiwa berat karena pengobatan dan akses ke
pelayanan kesehatan jiwa belum memadai (Kemenkes, 2013). Distribusi tenaga
layanan kesehatan jiwa yang terbatas dan tidak merata juga menjadi kendala
penuntasan masalah ini. Hal ini juga diperburuk dengan kurangnya peminat
dan lokasi tugas para tenaga kesehatan jiwa yang berpindah-pindah
menyebabkan putusnya rantai akses perawatan dan pengobatan ODGJ yang
memerlukan terapi jangka panjang (Kemenkes, 2016).
Penanganan masalah jiwa dimulai dari promosi kesehatan jiwa termasuk
aksi yang meningkatkan kesejahteraan psikologis. Dalam konteks usaha
nasional untuk mengembangkan dan mengimplementasikan aturan mengenai
kesehatan mental, penting untuk tidak hanya melindungi dan mempromosikan
kesehatan jiwa masyarakat, namun juga menyediakan kebutuhan orang-orang
yang didiagnosis gangguan jiwa. Selain itu, perlu alat ukur yang dapat
digunakan untuk mencegah bunuh diri, pencegahan dan tatalaksana gangguan
mental pada anak, pencegahan dan tatalaksana demensia, dan tatalaksana
gangguan pengguna zat (WHO, 2018).

2
Sebagai langkah awal dalam menyikapi permasalahan tersebut, peneliti
tertarik untuk meneliti tentang gambaran status mental masyarakat RW 13
Kelurahan Ganjar Agung dimana wilayah ini ditempati oleh ODGJ terbanyak,
yakni 6 orang, yang terdapat di dalam ruang lingkup kerja Puskesmas Ganjar
Agung kota Metro.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan uraian latar belakang di atas, rumusan masalah dalam
penelitian ini adalah bagaimana gambaran status mental warga RW 13
Kelurahan Ganjar Agung.

1.3 Tujuan Penelitian


- Untuk mengetahui gambaran status mental warga RW 13 Kelurahan Ganjar
Agung Kota Metro berdasarkan usia, jenis kelamin dan tingkat pendidikan.
- Untuk memenuhi persyaratan dalam tercapainya program internsip dokter
Indonesia di Puskesmas

1.4 Manfaat Penelitian


1.4.1 Manfaat Akademis
Menambah wawasan mengenai status mental warga RW 13 Kelurahan
Ganjar Agung Kota Metro

1.4.2 Manfaat Praktis


- Bagi peneliti
Menambah wawasan serta pengetahuan dalam mempelajari gambaran status
mental warga RW 13 Kelurahan Ganjar Agung Kota Metro.

- Bagi Pemerintah dan Puskesmas


Adanya penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran realita status
mental warga RW 13 Kelurahan Ganjar Agung sehingga pemerintah maupun

3
Puskesmas dapat memakai penelitian ini sebagai dasar dalam menangani dan
menindaklanjuti masalah kesehatan jiwa di masyarakat.

- Bagi masyarakat
Untuk menambah wawasan dan peran aktif masyarakat untuk menangani
permasalahan jiwa, baik berupa dukungan moral, penerimaan, deteksi serta
pelaporan dini gangguan jiwa.

1.5 Landasan Teori


Kepadatan penduduk yang tinggi merupakan suatu stresor lingkungan yang
memberikan dampak bagi manusia baik secara fisik, sosial, maupun psikis.
Dampak psikis meliputi perasaan negatif, cemas, stres, menarik diri dan
perilaku agresif. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013
menunjukan prevalensi gangguan jiwa berat di Indonesia sebesar 1,7 per mil
penduduk, sedangkan gangguan mental emosional berupa ansietas dan depresi
yaitu 6.0% penduduk. (Kemenkes, 2013).
Gangguan mental emosional banyak diderita kaum perempuan, yaitu dua
kali lebih banyak dibanding laki-laki. Sedangkan gangguan jiwa berat pada
perempuan lebih ringan dibanding laki-laki. Gangguan jiwa banyak dialami
oleh penduduk yang berusia lebih dari 15 tahun karena pada usia tersebut
memiliki pola psikis yang labil kemudian dilanjutkan dengan beban psikis yang
lebih banyak. Berdasarkan penelitian cohort selama 27 tahun di Swedia
menemukan pendidikan yang lebih tinggi dikaitkan dengan tekanan mental
yang lebih sedikit (Brannlund & Hammarstrom, 2014).
Penelitian yang akan dilakukan ingin mengetahui gambaran status mental
masyarakat RW 13 Kelurahan Ganjar Agung Kota Metro berdasarkan usia,
jenis kelamin dan tingkat pendidikan.

4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Deskripsi Wilayah


2.1.1 Kondisi Geografis dan Demografis Kota Metro
Kota Metro terletak di provinsi Lampung yang berjarak 45 km dari ibukota
Bandar Lampung. Kota ini memiliki luas wilayah 68,74 Km² (6.874 ha),
dengan jumlah penduduk 150.950 jiwa. Wilayah Kota Metro relatif di atas
dengan ketinggian antara 30-60 m diatas permukaan laut. Batas wilayah kota
Metro terdiri dari :
a. Sebelah Utara dengan Kecamatan Punggur, Kabupaten Lampung
Tengah, dan Kecamatan Pekalongan, Kabupaten Lampung Timur.
b. Sebelah Selatan dengan Kecamatan Metro Kibang, Kabupaten Lampung
Timur.
c. Sebelah Barat dengan Kecamatan Trimurjo, Kabupaten Lampung
Tengah.
d. Sebelah Timur dengan Kecamatan Pekalongan dan Kecamatan
Batanghari, Kabupaten Lampung Timur (Dinas Komunikasi dan
Informatika, 2017).
Luas daratan Kota Metro terbagi atas 5 kecamatan dan 22 kelurahan yang
terdiri dari :
a) Kecamatan Metro Barat, terdiri dari :
1) Kelurahan Ganjar Agung
2) Kelurahan Ganjar Asri
3) Kelurahan Mulyojati
4) Kelurahan Mulyosari
b) Kecamatan Metro Pusat, terdiri dari :
1) Kelurahan Metro
2) Kelurahan Imopuro

5
3) Kelurahan Hadimulyo Barat
4) Kelurahan Hadimulyo Timur
5) Kelurahan Yosomulyo
c) Kecamatan Metro Selatan, terdiri atas :
1) Kelurahan Margodadi
2) Kelurahan Margorejo
3) Kelurahan Sumbersari
4) Kelurahan Rejomulyo
d) Kecamatan Metro Timur, terdiri atas:
1) Kelurahan Iringmulyo
2) Kelurahan Yosodadi
3) Kelurahan Yosorejo
4) Kelurahan Tejoagung
5) Kelurahan Tejosari
e) Kecamatan Metro Utara, terdiri atas :
1) Kelurahan Banjarsari
2) Kelurahan Purwosari
3) Kelurahan Purwoasri
4) Kelurahan Karangrejo (Badan Pusat Statistik Kota Metro, 2015)

2.1.2 Profil Puskesmas Ganjar Agung

Puskesmas Ganjar Agung merupakan salah satu puskesmas yang ada di


Kecamatan Metro Barat Kota Metro, terletak di sebelah Barat Kota kurang
lebih berjarak ± 3 km tepatnya berada di jalan Jend.Sudirman kelurahan Ganjar
Agung. Jumlah wilayah kerjanya meliputi 2 kelurahan yaitu kelurahan Ganjar
Agung dan kelurahan Ganjar Asri, dengan batas-batas sebagai berikut :
- Sebelah Utara berbatasan dengan kecamatan Metro Pusat
- Sebelah Barat berbatasan dengan kecamatan Trimurjo Lampung Tengah
- Sebelah Selatan berbatasan dengan kecamatan Trimurjo Lampung Tengah

6
- Sebelah Timur berbatasan dengan kelurahan Mulyojati kecamatan Metro
Barat

Luas wilayah kelurahan Ganjar Agung 2,88 km2 dan Kelurahan Ganjar Asri
2,42 km2 dengan total wilayah seluas 5,30 km2. Jumlah penduduk wilayah
kerja Puskesmas Ganjar Agung sebesar 16.172 jiwa, dengan rincian jumlah
penduduk kelurahan Ganjar Agung sebesar 7.067 jiwa sedangkan kelurahan
Ganjar Asri sebesar 9.105 (Puskesmas Ganjar Agung, 2017).

2.2 Pengertian Mental


Pengertian “mental” secara definitif belum ada kepastian definisi yang jelas
dari para ahli kejiwaan. Secara etimologi kata “mental” berasal dari bahasa
Yunani, yang mempunyai pengertian sama dengan pengertian psyche, artinya
psikis, jiwa atau kejiwaan (Notosoedirjo, 2001).
James Draver memaknai mental yaitu “revering to the mind” sebagai
sesuatu yang berhubungan dengan pikiran atau pikiran itu sendiri. Menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia, mental dapat dipahami sebagai sesuatu yang
berhubungan dengan batin dan watak atau karakter, tidak bersifat jasmani
(Draver, 1952; Tim Penyusun Pusat Pembinaan Pengembangan Bahasa, 1994).
Kondisi mental tersebut bisa digolongkan dalam dua bentuk yaitu kondisi
mental yang sehat dan kondisi mental yang tidak sehat. Kondisi mental yang
sehat akan melahirkan pribadi-pribadi yang normal. Pribadi yang normal ialah
bentuk tingkah laku individu yang tidak menyimpang dari tingkah laku pada
umumnya dimana seorang individu itu tinggal, dan pribadi yang normal akan
menunjukkan tingkah laku yang serasi dan tepat (adekuat) dan bisa diterima
oleh masyarakat secara umum, dimana sikap hidupnya sesuai dengan norma
dan pola hidup lingkungannya. Secara sederhana individu tersebut mampu
beradaptasi secara wajar. Jadi pribadi yang normal dan mental yang sehat ini
bisa dirasakan pada kondisi diri kita atau kondisi perasaan kita yang cenderung
stabil, tidak banyak memendam konflik internal, suasana hati yang tenang, dan
kondisi jasmani yang selalu merasa selalu sehat (Draver, 1952).

7
Sementara itu yang perlu mendapatkan perhatian dan perlu diwaspadai oleh
setiap individu ialah kondisi mental yang tidak sehat, karena kondisi mental
yang tidak sehat itu akan membentuk suatu kepribadian yang tidak sehat pula
(abnormal). Pribadi yang tidak sehat (abnormal) ialah adanya tingkah laku
seseorang atau individu yang sangat mencolok dan sangat berbeda dengan
tingkah laku umum yang ada di lingkungannya, atau disebut juga dengan
perilaku-perilaku yang menyimpang (abnormal) (Draver, 1952).
Dengan demikian mental ialah hal-hal yang berada dalam diri seseorang
atau individu yang terkait dengan psikis atau kejiwaan yang dapat mendorong
terjadinya tingkah laku dan membentuk kepribadian, begitu juga sebaliknya
mental yang sehat akan melahirkan tingkah laku maupun kepribadian yang
sehat pula (Draver, 1952).

2.3 Gangguan Jiwa


2.3.1 Pengertian Gangguan Jiwa
Gangguan jiwa adalah kumpulan gejala dari gangguan pikiran, gangguan
perasaan dan gangguan tingkah laku yang menimbulkan penderitaan dan
terganggunya fungsi sehari-hari dari orang tersebut (KEMENKES RI, 2015).
Gangguan jiwa menurut American Psychiatric Association adalah kondisi
kesehatan yang melibatkan perubahan pikiran atau pola pikir, emosional atau
tingkah laku (atau salah satu kombinasi dari itu). Gangguan jiwa dikaitkan
dengan kesulitan dan atau masalah fungsional dalam bersosialisasi, pekerjaan
ataupun aktivitas keluarga (APA, 2015).
Gangguan jiwa menurut Depkes RI (2000) adalah suatu perubahan pada
fungsi jiwa yang menyebabkan adanya gangguan pada fungsi jiwa, yang
menimbulkan penderitaan pada individu dan atau hambatan dalam
melaksanakan peran sosial.
Konsep gangguan jiwa dari PPDGJ II yang merujuk ke DSM-III adalah
sindrom ataupola perilaku, atau psikologi seseorang, yang secara klinik cukup
bermakna, dan yang secarakhas berkaitan dengan suatu gejala penderitaan

8
(distress) atau hendaya (impairment/disability)di dalamsatu atau lebih fungsi
yang penting dari manusia (Maslim, 2002).

2.3.2 Faktor Yang Menyebabkan Gangguan Jiwa


Gangguan jiwa dapat disebabkan oleh satu atau lebih dari tiga bidang yaitu
badaniah, psikologik dan sosial, yang terus menerus saling memengaruhi. Oleh
karena manusia bereaksi secara holistik, maka terdapat kecenderungan untuk
membuat diagnosis multidimensional yang berusaha mencakup bidang-bidang
tersebut (Suliswati, 2005). Ketiga faktor tersebut dijelaskan sebagai berikut:

1. Bidang Badaniah
Setiap faktor yang menggaggu perkembangan fisik dapat mengganggu
perkembangan mental. Faktor-faktor ini mungkin dari keturunan atau dari
lingkungan (kelainan kromosom, konstitusi, cacat kongenital, gangguan
otak). Pernikahan dengan saudara sepupu (seperti biasa pada beberapa
suku di indonesia) melipatgandakan kemungkinan lahirnya anak cacat atau
anak lahir mati (Heath, 1995).
2. Bidang Psikologik
Perkembangan psikologik yang salah mungkin disebabkan oleh berbagai
jenis deprivasi dini, pola keluarga yang patogenik dan masa remaja yang
dilalui secara tidak baik.
3. Bidang Sosiologik
Bidang ini pun tidak kecil peranannya dalam perkembangan yang salah,
umpamanya adat istiadat dan kebudayaan yang kaku ataupun perubahan-
perubahan yang cepat dalam dunia modern ini, sehingga menimbulkan
stress yang besar pada individu (Heath, 1995). Selain itu, suatu
masyarakat pun, seperti seorang individu, dapat juga berkembang kearah
yang tidak baik yang dipengaruhi oleh lingkungan atau keadaan sosial
masyarakat itu sendiri.
Dengan demikian, diambil suatu kesimpulan bahwa manusia pada
prinsipnya bereaksi secara keseluruhan, secara holistik, atau dapat dikatakan

9
juga, secara somato-psiko-sosial. Baik dalam mencari penyebab gangguan
jiwa, maupun dalam rangka proses penyembuhan (therapeutics).

2.3.3 Jenis-Jenis Gangguan Jiwa


2.3.3.1 Gangguan Kesehatan Jiwa Umum (Depresi dan Kecemasan)

Depresi berarti merasa rendah diri, sedih, marah atau sengsara. Ini
merupakan suatu emosi dimana hampir setiap orang pernah mengalaminya
seumur hidup (Patel) Tanda-tanda khas depresi :

 Fisik: Lelah dan perasaan lemah dan tidak bertenaga, sakit dan nyeri
diseluruh tubuh yang tidak jelas sebabnya.

 Perasaan: Perasaan sedih dan sengsara, hilang rasa ketertarikan dalam


hidup, interaksi sosial, pekerjaan, merasa bersalah.

 Pikiran: Tidak punya harapan akan masa depan, sulit mengambil keputusan,
merasa dirinya tidak sebaik orang lain (tidak percaya diri), merasa bahwa
mungkin lebih baik jika ia tidak hidup, keinginan dan rencana untuk bunuh
diri, sulit berkonsentrasi.
Kecemasan merupakan sensasi perasaan takut dan gelisah, seperti seorang
aktor sebelum naik panggung akan merasa gelisah. Tanda-tanda khas
kecemasan, diantaranya:
 Fisik: Jantung berdetak cepat (Palpitasi), merasa tercekik, pusing, gemetar
seluruh tubuh, sakit kepala, pins and needles-- seperti ditusuk jarum-(atau
sensasi seperti digigit semut-semut) pada ekstremitas atau wajah.
 Perasaan: Merasa seolah-olah sesuatu mengerikan akan menimpanya,
merasa takut.
 Pikiran: Terlalu khawatir akan masalahnya atau kesehatanya, pikiran
seolah-olah akan mati, kehilangan kontrol atau jadi gila, terus menerus
memikirkan hal-hal yang membuatnya tertekan lagi dan lagi meskipun
sudah berusaha untuk menghentikanya.
 Perilaku: Menghindari situasi yang dapat membuatnya ketakutan seperti
pasar atau kendaraan umum dan kurang tidur (Patel).

10
2.3.3.2 Kebiasaan Buruk
Seseorang mengalami ketergantungan terhadap alkohol atau obat-obatan ketika
penggunaanya telah membahayakan kesehatan fisik, mental dan sosial seseorang.
Tingkat ketergantungan menyebabkan kerusakan yang hebat terhadap penderita,
keluarga dan terutama terhadap masyarakat. Tanda-tanda khas ketergantungan
terhadap alkohol:
 Fisik: Gangguan lambung, seperti gastritis dan tukak, penyakit hati dan
ikterus, muntah darah, muntah atau sakit pada pagi hari, kecelakaan dan
luka- luka, reaksi putus obat seperti kejang-kejang (fits), berkeringat,
bingung.
 Perasaan: Merasa tidak tertolong dan di luar kontrol, merasa bersalah akan
kebiasaan minumnya.
 Pikiran: Keinginan yang kuat terhadap alkohol, pikiran terus-menerus
tentang bagaimana mendapatkan minuman, keinginan untuk bunuh diri.
 Perilaku: Sulit tidur, ingin minum pada siang hari, ingin minum pada pagi
hari untuk menghilangkan rasa tidak nyaman secara fisik (Patel).

2.3.3.3 Gangguan Kejiwaan Berat (Psikosis)


Gangguan kejiwaan ini terdiri dari Skizofrenia dan psikosis akut.
Penjelasanya sebagai berikut:
1) Tanda-Tanda Khas Skizofrenia
 Fisik: Keluhan aneh, seperti sensasi bahwa binatang atau benda-benda
yang tidak biasa ada didalam tubuhnya
 Perasaan: Depresi, hilangnya minat dan motifasi, terhadap kegiatan sehari-
hari.
 Pikiran: Sulit berpikir dengan jelas, pikiran yang aneh, seperti percaya
bahwa orang-orang sedang mencoba untuk mencekalnya atau pikiranya
sedang dikelilingi oleh tekanan dari luar (pikiran-pikiran seperti ini
disebut ‘delusi’(waham)’.
 Perilaku: Menarik diri dari aktivitas-aktivitas yang biasa dilakukan,

11
gelisah, tidak bisa diam, perilaku agresif, perilaku aneh, kurang merawat
diri dan menjaga kebersihan diri, menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan
jawaban yang tidak berhubungan.
 Khayalan: Mendengar suara-suara yang membicarakan dirinya, terutama
suara-suara kasar (halusinasi), melihat hal-hal yang tidak dapat dilihat
orang lain.

2) Tanda-Tanda Khas Psikosis atau Psikosis Singkat

Gejala-gejalanya sama dengan skizofrenia dan mania, gejala-gejala psikosis


akut muncul secara tiba-tiba dan sembuh dalam waktu kurang dari sebulan
 Gangguan tingkah laku berat seperti gelisah dan agresif
 Mendengar suara-suara atau melihat hal-hal yang tidak dapat dilihat oleh
orang lain
 Kepercayaan yang aneh
 Berbicara omong kosong
 Tingkah emosional yang menakutkan atau emosi berubah dengan cepat
(dari menangis sampai tertawa) (Patel)

2.3.3.4 Gangguan Kesehatan Jiwa Pada Orang Tua


Orang tua menderita dua jenis penyakit kejiwaan yang utama, yang pertama
adalah depresi, yang sering disertai dengan rasa kesepian, sakit secara fisik,
ketidak mampuan, dan kemiskinan. Gangguan kesehatan jiwa lain pada orang
tua adalah demensia (pikun), demensia ini khusus diderita oleh orang tua
(Patel).

2.3.4 Tanda dan Gejala Gangguan Jiwa


Terdapat sejumlah hal yang menjadi karakteristik, individu tersebut
mengalami gangguan jiwa atau tidak, yaitu perubahan yang berulang dalam
pikiran, daya ingat, persepsi dan daya tilikan yang bermanifestasi sebagai
kelainan bicara dan perilaku. Perubahan ini menyebabkan tekanan batin, dan
penderitaan pada individu dan orang lain di lingkungannya. Perubahan

12
perilaku, akibat dari penderitaan ini menyebabkan gangguan dalam kegiatan
sehari-hari, efisiensi kerja, dan gangguan dalam bidang sosial dan pekerjaan
(Suliswati, 2005).
Tanda dan gejala gangguan jiwa secara umum menurut Yosep adalah
sebagai berikut (Yosep, 2009) :
a. Ketegangan (tension),
Rasa putus asa dan murung, gelisah, cemas, perbuatan-perbuatan yang
terpaksa (konpulsif), histeria, rasa lemah, tidak mampu mencapai tujuan, takut,
pikiran-pikiran buruk.
b. Gangguan Kognisi
Merasa mendengar (mempersepsikan) sesuatu bisikan yang menyuruh
membunuh, melempar, naik genteng, membakar rumah, padahal orang
disekitarnya tidak mendengarnya dan suara tersebut sebenarnya tidak ada,
hanya muncul dari dalam individu sebagai bentuk kecemasan yang sangat berat
dia rasakan. Hal ini sering disebut halusinasi, individu bisa mendengar sesuatu,
melihat sesuatu atau merasakan sesuatu yang sebenarnya tidak ada menurut
orang lain.
c. Gangguan Kemauan
Individu memiliki kemauan yang lemah (abulia) susah membuat keputusan
atau memulai tingkah laku, susah bangun pagi, mandi, merawat diri sendiri
sehingga terlihat kotor, bau, dan acak-acakan.
d. Gangguan Emosi
Individu merasa senang, gembira yang berlebihan tetapi dilain waktu ia bisa
merasa sangat sedih, menangis, tak berdaya (depresi) samapai ada ide ingin
mengakhiri hidupnya.
e. Gangguan Psikomotor
Hiperaktivitas, individu melakukan pergerakan yang berlebihan naik keatas
genteng berlari, berjalan maju mundur, meloncat-loncat, melakukan apa-apa
yang tidak disuruh atau menentang apa yang disuruh, diam lama tidak bergerak
atau melakukan gerakan aneh. (Yosep, 2009)

13
Menurut Yosep, dalam keadaan fisik dapat dilihat pada anggota tubuh
seseorang yang menderita gangguan jiwa, diantaranya sebagai berikut :
a. Suhu badan berubah
Orang normal rata-rata mempunyai suhu badan sekitar 37 derajat Celcius.
Pada orang yang sedang mengalami gangguan mental meskipun secara
fisik tidak terkena penyakit kadangkala mengalami perubahan suhu.
b. Denyut nadi menjadi cepat
Denyut nadi berirama, terjadi sepanjang hidup. Ketika menghadapi
keadaan yang tidak menyenangkan, seseorang dapat mengalami denyut
nadi semakin cepat.
c. Nafsu makan berkurang
Seseorang yang sedang terganggu kesehatan mentalnya akan
mempengaruhi pula dalam nafsu makan.

2.4 Kuesioner
2.4.1 Self Reporting Questionnaire
Self Reporting Questionnaire (SRQ-20) merupakan 20 poin alat deteksi dini
kesehatan mental yang dikembangkan oleh World Health Organization
(WHO). Atribut-atribut alat ini sangat bermanfaat di layanan primer dan
keadaan gawat darurat yang menunjukkan seberapa jauh intervensi yang
dibutuhkan. Hal ini dikarenakan format singkat dan jawaban dikotomi dalam
SRQ-20 yang sesuai dengan layanan primer yang sibuk. Selain itu, kuesioner
ini juga bermanfaat pada kondisi sumber daya yang kurang dimana perlu untuk
mengalokasikan sumber daya yang terbatas pada individu dengan stres berat
(Westhuizen, Wyatt, Williams, Stein, & Sorsdahl, 2015).
Validasi data kuesioner bervariasi pada masing-masing negara dengan
melihat pada konsistensi internal dan faktor struktur. Selain itu, poin batas nilai
ideal untuk mengidentifikasi gangguan mental tergantung dari keadaan di
lapangan. Di India, ivestigator merekomendasikan batas nilai 11/12 atau 12/13,
sedangkan pada wanita Vietnam rural, batas nilai sebesar 7/8 (Westhuizen, et
al., 2015). Di Indonesia, Kemenkes mengambil batas nilai sebesar 6/7 yang

14
mengindikasikan gangguan mental. Kendati demikian, SRQ memiliki
keterbatasan hanya menunjukkan status emosional individu sesaat dalam kurun
waktu 30 hari serta tidak dirancang untuk menegakkan diagnosis gangguan
jiwa secara spesifik (Kemenkes, 2013).

2.4.2 Mini International Neuropsychiatric Interview


Mini International Neuropsychiatric Interview (M.I.N.I.) adalah wawancara
diagnostik terstruktur singkat yang dikembangkan oleh psikiater dan klinisi di
Amerika Serikat dan Eropa, dengan berdasarkan pada kelainan psikiatri DSM-
IV dan ICD -10. Dengan waktu perlakuan sekitar 15 menit, wawancara ini
dirancang untuk memenuhi kebutuhan dalam waktu singkat tetapi akurat untuk
penelitian klinis multisenter dan penelitian epidemiologi serta digunakan
sebagai langkah awal untuk memantau hasil pada kondisi bukan penelitian
(Sheehan, et al., 1998).
MINI terdiri dari 130 pertanyaan dan menyaring 16 gangguan aksis I DSM-
IV dan 1 gangguan kepribadian. MINI disusun dalam bentuk modul diagnostik.
Seperti kebanyakan modul, 2 dari 4 pertanyaan penyaring digunakan untuk
menyingkirkan diagnosis bila dijawab negatif. Jawaban positif pada pertanyaan
penyaring ditelusuri lebih lanjut dengan kriteria diagnostik lainnya (Otsubo, et
al., 2005).

15
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian


Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif untuk mendapatkan gambaran
status mental masyarakat di RW 13 Kelurahan Ganjar Agung. Rancangan
penelitian yang digunakan adalah cross sectional yaitu observasi atau
pengukuran variabel dilakukan pada satu saat. Metode penelitian yang
digunakan adalah survei dengan pengisian Self Reporting Questionnaire
(SRQ). Bila hasil SRQ ≥6, maka akan dilanjutkan dengan wawancara
menggunakan Mini International Neuropsychiatric Interview (MINI).

3.2 Teknik Pengumpulan Data


Data didapatkan dengan mengumpulkan peserta di TPA RW 13 Kelurahan
Ganjar Agung pada tanggal 24-25 April 2018. Peserta diminta untuk mengisi
kuesioner yang dibagikan. Bila ada peserta yang kesulitan untuk membaca
kuesioner tersebut, maka pengisian kuesioner akan dibantu dengan
membacakan kuesioner tersebut. Setelah pengisian selesai, kuesioner
dikumpulkan dan dianalisis.

3.2.1 Instrumen Penelitian


Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini berupa Self
Reporting Questionnaire (SRQ) dan Mini International Neuropsychiatric
Interview (MINI).

3.2.2 Populasi dan Sampel Penelitian


Populasi penelitian ini adalah masyarakat RW 13 Kelurahan Ganjar Agung
berusia 15 tahun hingga 60 tahun pada bulan April 2018. Populasi penelitian

16
berjumlah 292 orang. Jumlah populasi diambil berdasarkan kriteria inklusi dan
eksklusi sebagai berikut:

 Kriteria inklusi:
o Masyarakat berusia 15-60 tahun
o Bersedia dengan sukarela menjadi subjek penelitian
 Kriteria eksklusi:
o Pasien mengalami kesulitan berkomunikasi

Jumlah sampel dihitung berdasarkan rumus sebagai berikut:


𝑛 = 𝑁 ∗ 𝑋/(𝑋 + 𝑁 − 1) , dimana 𝑋 = 𝑍𝑎/22 ∗ 𝑝 ∗ (1 − 𝑝)/𝑀𝑂𝐸 2
𝑍𝑎/22 adalah poin kritis distribusi normal pada α/2, MOE adalah margin of
error, p adalah proporsi sampel, dan N adalah besar populasi. (Select Statistical
Services Ltd, 2018) Bila kita menentukan margin of error sebesar 5%,
confidence level sebesar 95%, besar populasi sebesar 292 orang dan proporsi
sampel sebesar 75%, maka didapatkan jumlah sampel sebesar 146 orang.

3.3 Teknik Sampling


Teknik sampling yang digunakan adalah accidental sampling yaitu
pengambilan sampel dengan mengambil kasus atau responden yang kebetulan
ada atau tersedia di suatu tempat sesuai dengan konteks penelitian
(Notoatmodjo, 2010). Pada penelitian ini, sampel diambil dari RW 13 dimana
terdapat ODGJ terbanyak di kelurahan Ganjar Agung berdasarkan data per
Maret 2018 dari Puskemas Ganjar Agung.

3.4 Definisi Operasional


 Gangguan mental emosional adalah istilah yang sama dengan tekanan
psikologis. Kondisi ini adalah keadaan yang mengindikasikan seseorang
sedang mengalami perubahan status mental dan ditandai dengan SRQ ≥6
(Kemenkes, 2013).

17
 Gangguan cemas menyeluruh adalah gangguan yang ditandai dengan
khawatir berlebihan atau cemas perihal 2 atau lebih masalah hidup sehari-
hari (misalnya keuangan, kesehatan anak, nasib buruk) selama 6 bulan
terakhir. Lebih daripada orang lain. Kekhawatiran muncul hampir setiap
hari. Orang lain menilai kekhawatiran ini berlebihan (Lecrubier, et al.,
1998).
 Gangguan depresi adalah gangguan yang dialami selama 2 minggu terakhir
yang ditandai dengan minimal 2 keluhan sebagai berikut :
o Secara terus menerus merasa sedih, depresif atau murung, hampir
sepanjang hari, hampir setiap hari.
o Sepanjang waktu kurang berminat terhadap banyak hal atau kurang bisa
menikmati hal-hal yang biasanya dinikmati.
o Merasa lelah atau tidak bertenaga hampir sepanjang waktu (Lecrubier, et
al., 1998).
 Gangguan psikotik adalah gangguan perihal pengalaman yang tidak lazim
yang dialami seseorang yang ditandai minimal salah satu tanda sebagai
berikut:
o Keluarga atau teman pernah mengganggap adanya keyakinan aneh atau
tidak lazim
o Percaya bahwa seseorang sedang memata-matainya, atau bahwa
seseorang sedang berkomplot melawannya, atau mencoba mencederainya
o Percaya bahwa seseorang sedang membaca atau bisa mendengar apa
yang sedang dipikirkannya
o Percaya bahwa seseorang atau suatu kekuatan di luar dirinya
memasukkan buah pikiran ke dalam pikirannya, atau menyebabkan dia
bertindak sedemikian rupa yang bukan lazimnya
o Percaya bahwa dia sedang dikirimi pesan khusus melalui TV, radio atau
koran, atau bahwa seseorang yang tidak dikenal secara pribadi tertarik
padanya
o Mendapat penampakan atau melihat hal-hal yang tidak dapat dilihat oleh
orang lain

18
o Mendengar sesuatu yang tidak dapat didengar oleh orang lain, seperti
suara-suara (Lecrubier, et al., 1998)

3.5 Metode Analisis


Setelah data terkumpul, peneliti melakukan analisis data dalam bentuk tabel
dengan menghitung persentase dan menyusun laporan hasil penelitian.

3.6 Tempat dan Waktu Penelitian


Penelitian dilakukan di RW 13 kelurahan Ganjar Agung kota Metro pada
tanggal 24-25 April 2018.

19
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Pengumpulan Data


Jumlah peserta usia 15-60 tahun yang mengisi kuesioner SRQ di RW 13
Kelurahan Ganjar Agung adalah sebanyak 174 orang dari total populasi
sebanyak 292 orang. Hal ini sudah memenuhi jumlah sampel populasi sebesar
146 orang. Dari 174 orang yang mengisi kuesioner SRQ, didapatkan 11 orang
yang diwawancarai dengan MINI. Pengumpulan data ini memiliki keterbatasan
karena kurangnya sumber daya manusia untuk pelaksanaan serta banyaknya
masyarakat yang bekerja pada siang hari.

4.2 Gambaran Hasil Kuesioner


Tabel 4.1 Gambaran Hasil Deteksi Dini RW 13 Kelurahan Ganjar Agung
April 2018
SRQ Jumlah Persentase (%)
<6 163 93,68
≥6 11 6,32
Total 174 100

Dari hasil penelitian ini didapatkan bahwa dari total 174 orang pasien usia
15-60 tahun yang mengisi kuesioner SRQ, terdapat 11 orang yang memiliki
hasil SRQ ≥6, yakni 6,32% dari total sampel. Hasil ini menunjukkan adanya
kecenderungan peserta mengalami tekanan psikologis namun tidak spesifik
(Westhuizen, et al., 2015).
Hasil ini sejalan dengan prevalensi nasional gangguan mental emosional
sebesar 6%, namun lebih besar daripada prevalensi Provinsi Lampung sebesar
1,2% (Kemenkes, 2013). Penelitian lain di Desa Ranjeng dan Cilopang

20
Kabupaten Sumedang, menunjukkan prevalensi gangguan mental emosional
berupa depresi dan cemas mencapai 11,6% (Sutini & Hidayati, 2017).
Untuk penyelidikan lebih lanjut, peserta dengan hasil SRQ ≥6 diwawancarai
dengan MINI. Hasil yang didapatkan adalah sebagai berikut.

Tabel 4.2 Gambaran Hasil MINI RW 13 Kelurahan Ganjar Agung April


2018
MINI Jumlah Persentase (%)
Gangguan Cemas
3 27,27
Menyeluruh
Episode Psikotik Tunggal 1 9,10
Tidak memenuhi kriteria
7 63,63
diagnosis
Total 11 100

Wawancara peserta dengan MINI menunjukkan peserta mengalami


gangguan cemas menyeluruh sejumlah 3 orang dengan prevalensi 27,27%, 1
orang mengalami episode psikotik tunggal dengan prevalensi 9,10%, serta 7
orang tidak memenuhi kriteria diagnosis dengan prevalensi 63,63%.
Kelainan yang paling umum didapat adalah gangguan cemas menyeluruh.
Hal ini sejalan dengan penelitian di Rumah Sakit Dustira Cimahi
memperlihatkan sekitar 80% pasien yang ditangani mengalami masalah
kecemasan terutama gangguan cemas menyeluruh. Penelitian lebih lanjut
dengan kuesioner State-Trait Anxiety Inventory (STAI) menunjukkan skor
derajat cemas trait anxiety dengan kategori sedang sebesar 69,23% dan rendah
sebesar 30,77%, sedangkan skor derajat cemas state anxiety dengan kategori
sedang sebesar 64,1% dan tinggi sebesar 35,9% (Dewi, et al., 2015). Penelitian
lain oleh Wittchen mengemukakan gangguan cemas menyeluruh paling sering
terjadi di layanan kesehatan primer, yakni 22% dari pasien layanan primer
yang mengalami gangguan cemas. Gangguan cemas menyeluruh dikaitkan
dengan beban ekonomi yang signifikan yang menyebabkan turunnya

21
produktivitas kerja dan meningkatnya penggunaan layanan kesehatan, secara
khusus layanan primer (Wittchen, 2002).
Peserta yang mengalami episode psikotik tunggal pada penelitian ini,
mengaku dapat melihat dan mendengar hal-hal yang tidak bisa dilihat dan
didengar oleh orang lain. Hal ini perlu penelusuran lebih lanjut mengenai
riwayat hidup peserta serta gangguan yang dialami untuk diagnosis yang tepat.
Adanya penemuan kasus ini patut diberi perhatian khusus. Sebuah penelitian
deskriptif di Banjarmasin tahun 2011 menunjukkan 33% dari penderita
gangguan jiwa adalah gangguan psikosis (Mubarta, et al., 2011). Penelitian lain
di RSJ Prof. Dr. HB. Sa’anin Padang tahun 2010-2011 menunjukkan adanya
peningkatan jumlah pasien gangguan afektif dengan gejala psikotik pada
pasien rawat inap (Syafwan, et al., 2014). Disamping itu, pasien yang
mengalami gejala psikotik dengan riwayat NAPZA di Rumah Sakit
Ketergantungan Obat Jakarta tahun 2011-2012 juga memiliki prevalensi ynng
tinggi, yakni 73,3% dari 131 pasien yang dirawat (Pahlasari, et al., 2013).
Peserta yang tidak memenuhi kriteria diagnosis terbagi menjadi kelompok
yang mengarah kepada gangguan cemas menyeluruh sebanyak 4 orang dan
kelompok yang tidak memenuhi semua kriteria diagnosis sebanyak 3 orang.
Kelompok yang mengarah kepada gangguan cemas menyeluruh tidak
memenuhi kriteria waktu minimal 6 bulan gangguan cemas menyeluruh,
namun menunjukkan gejala kecemasan, seperti denyut jantung tak teratur,
cepat atau berdebar keras, berkeringat, gemetar atau bergetar, dan lain- lain.
Mengenai kelompok lain yang tidak memenuhi semua kriteria diagnosis,
kita perlu melihat kembali bahwa SRQ bukan sebuah alat diagnosis dan
analisis berdasarkan batas nilai menyediakan informasi umum, yang tidak
cukup untuk menegakkan profil kesehatan jiwa populasi tertentu pada waktu
tertentu dan menentukan rencana intervensi yang potensial (Barreto do Carmo,
et al., 2018). Aspek yang harus dipertimbangkan ketika menginterpretasi data
adalah bias informasi yang mungkin memengaruhi respon pada kuesioner,
secara khusus mengenai gejala depresi, karena status sosioekonomi rendah
(Barreto, et al., 2006). Penelitian lain melaporkan individu dengan edukasi

22
rendah cenderung melaporkan secara berlebihan keluhan mental pada evaluasi
kesehatan mental, bahkan ketika tidak ada kondisi mental yang teridentifikasi
pada wawancara standar psikiatri (Mari, 1987).

Tabel 4.3 Gambaran Distribusi SRQ ≥6 Berdasarkan Jenis Kelamin RW 13


Kelurahan Ganjar Agung April 2018
Jenis Kelamin Jumlah Persentase (%)
Laki-laki 5 45,45
Perempuan 6 54,55
Total 11 100

Dari hasil penelitian yang dilakukan di RW 13 Kelurahan Ganjar Agung


tanggal 24-25 April 2018 didapatkan perempuan berjumlah 6 orang dengan
persentase 54,55% sedangkan laki-laki berjumlah 5 orang dengan persentase
45,54%. Hal ini sejalan dengan penelitian di Belarus, Kazakhstan, Russia, dan
Ukraine, yang memiliki tingkat stres tinggi, melaporkan bahwa perempuan
menanggung beban tekanan mental lebih berat dibanding laki-laki
(Cockerham, et al., 2006).

Tabel 4.4 Gambaran Distribusi SRQ ≥6 Berdasarkan Usia RW 13 Kelurahan


Ganjar Agung April 2018
Usia(tahun) Jumlah Persentase (%)
15-30 7 63,63
31-45 1 9,10
46-60 3 27,27
Total 11 100

Dari 11 peserta dengan SRQ ≥6 didapatkan jumlah terbanyak pada rentang


usia 15-30 tahun yakni 7 orang dengan persentase 63,63%, diikuti rentang usia
46-60 tahun berjumlah 3 orang dengan persentase 27,27% dan rentang usia 31-
45 berjumlah 1 orang dengan persentase 9,10 %. Temuan ini sejalan dengan

23
penelitian oleh Jorm, AF., dkk. yang melaporkan secara umum tekanan mental
menurun seiring bertambahnya umur dalam rentang 20-64 tahun. Beberapa
penyebab dikaitkan dengan faktor-faktor risiko seperti krisis yang dialami di
tempat kerja dan hubungan sosial negatif dengan keluarga dan teman (Jorm, et
al., 2005).

Tabel 4.5 Gambaran Distribusi SRQ ≥6 Berdasarkan Pendidikan RW 13


Kelurahan Ganjar Agung April 2018
Pendidikan Jumlah Persentase (%)
SD 5 45,45
SMP 0 0
SMA 5 45,45
S1 1 9,10
Total 11 100

Dari hasil penelitian didapatkan pendidikan terakhir 5 orang peserta adalah


SD dengan persentase 45,45%, 5 orang lain adalah SMA dengan persentase
45,45%, serta 1 orang S1 dengan persentase 9,10%. Hal ini sejalan dengan
penelitian cohort selama 27 tahun di Swedia yang menemukan pendidikan
yang lebih tinggi dikaitkan dengan tekanan mental yang lebih sedikit dan
kaitan ini dipahami melalui mekanisme sosial dan sumber daya tenaga kerja
pasar (labour-market resources) (Brannlund & Hammarstrom, 2014).

24
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan
Hasil penelitian mengenai gambaran status mental warga RW 13 Kelurahan
Ganjar Agung berdasarkan kuesioner SRQ dan hasil wawancara MINI pada
tanggal 24-25 April 2018 menunjukkan bahwa :
- Dari total 174 orang pasien usia 15-60 tahun yang mengisi kuesioner
SRQ, terdapat 11 orang yang memiliki hasil SRQ ≥6, yakni 6,32% dari
total sampel
- Dari 11 orang yang memiliki hasil SRQ ≥6 didapatkan perempuan
berjumlah 6 orang dengan persentase 54,55% sedangkan laki-laki
berjumlah 5 orang dengan persentase 45,54%..
- Dari 11 peserta dengan SRQ ≥6 didapatkan jumlah terbanyak pada
rentang usia 15-30 tahun yakni 7 orang dengan persentase 63,63%, diikuti
rentang usia 46-60 tahun berjumlah 3 orang dengan persentase 27,27% dan
rentang usia 31-45 berjumlah 1 orang dengan persentase 9,10 %.
- Dari hasil penelitian didapatkan pendidikan terakhir 5 orang peserta
adalah SD dengan persentase 45,45%, 5 orang lain adalah SMA dengan
persentase 45,45%, serta 1 orang S1 dengan persentase 9,10%.
- Wawancara peserta dengan MINI menunjukkan kelainan yang paling
umum adalah gangguan cemas menyeluruh sebanyak 3 orang dengan
presentase 27,27%.

5.2 Saran
- Saran untuk Puskesmas Ganjar Agung agar menindaklanjuti hasil dari
penelitian ini dan untuk ke depan dapat menyelanggarakan kegiatan posyandu
jiwa untuk menangani orang-orang dengan masalah kejiwaan.
- Saran untuk Dinas Kesehatan Metro untuk menangani dan mencegah
timbulnya gangguan jiwa baru pada masyarakat, sebaiknya dinas kesehatan

25
meningkatkan kualitas tenaga kesehatan dengan mengadakan pelatihan-
pelatihan yang berhubungan dengan kesehatan jiwa masyarakat
- Saran untuk pemerintah diharapkan membentuk kerja sama lintas sektor baik
dari sisi kesehatan,agama dan sosial agar dapat membina orang-orang dengan
masalah kejiwaan untuk meningkatkan kualitas hidup mereka.
- Saran untuk masyarakat agar membentuk kader jiwa yang fokus untuk
menjaring orang dengan masalah kejiwaan untuk mendapatkan penanganan
secara dini.

26
DAFTAR PUSTAKA
APA. (2015). What is Mental Illness? Dipetik 2018, dari psychiatry:
https://www.psychiatry.org/patients-families/what-is-mental-illness

Badan Pusat Statistik Kota Metro. (2015). Banyaknya Kelurahan, Rukun Warga,
Rukun Tetangga Menurut Kecamatan di Kota Metro. Dipetik 2018, dari Badan
Pusat Statistik Kota Metro:
https://metrokota.bps.go.id/statictable/2016/08/30/99/banyaknya-kelurahan-
rukun-warga-rukun-tetangga-menurut-kecamatan-di-kota-metro-2015.html

Barreto do Carmo, M. B., dos Santos, L. M., Feitosa, C. A., Fiaccone, R. L., da
Silva, N. B., dos Santos, D. N., et al. (2018). Screening for common mental
disorders using the SRQ-20 in Brazil: what are the alternative strategies for
analysis? Brazilian Journal of Psychiatry , 115-122.

Barreto, M. L., Cunha, S. S., Alcantara-Neves, N., Carvalho, L. P., Cruz, A. A.,
Stein, R. T., et al. (2006). Risk factors and immunological pathways for asthma
and other allergic diseases in children: background and methodology of a
longitudinal study in a large urban center in Northeastern Brazil (Salvador-
SCAALA study). BMC Pulmonary Medicine .

Brannlund, A., & Hammarstrom, A. (2014). Higher education and psychological


distress: a 27-year prospective cohort study in Sweden. Scandinavian Journal of
Public Health .

Budiman. (2010). Jumlah Gangguan Jiwa. Dipetik 2018, dari Suara Bandung:
www.suarabandung.com

Cockerham, W. C., Hinote, B. P., & Abbott, P. (2006). Psychological distress,


gender, and health lifestyles in Belarus, Kazakhstan, Russia, and Ukraine. Social
Science & Medicine , 2381-2394.

27
Dewi, A. P., Prathama, A. G., & Iskandarsyah, A. (2015). Gambaran Derajat
Cemas Pasien Gangguan Cemas Menyeluruh di Rumah Sakit Dustira Cimahi.
Universitas Padjajaran .

Dinas Komunikasi dan Informatika. (2017). Metro Selayang Pandang. Dipetik


2018, dari Portal Kota Metro: http://info.metrokota.go.id/selayang-pandang/

Draver, j. (1952). A Dictionary of Psychology. New York: Pengin Books.

Heath, W. S. (1995). Psikologi yang Sebenarnya. Yogyakarta: Yayasan Andi.

Jorm, A. F., Windsor, T. D., Dear, K. B., Anstey, K. J., Christensen, H., &
Rodgers, B. (2005). Age group differences in psychological distress: the role of
psychosocial risk factors that vary with age. Psychological Medicine .

Keliat, B. A. (2009). Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta: EGC.

Kemenkes. (2016). Peran keluarga dukung kesehatan jiwa masyarakat. Dipetik


2018, dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia: http://www.depkes.go.id/
article/print/16100700005/peran-keluarga-dukung-kesehatan-jiwa-
masyarakat.html

KEMENKES RI. (2015). Peran Keluarga Dukung Kesehatan Jiwa Masyarakat.


Dipetik 2018, dari depkes: http://www.depkes.go.id/article/view/16100700005/
peran-keluarga-dukung-kesehatan-jiwa-masyarakat.html

Kemenkes. (2013). Riset Kesehatan Dasar 2013. Dipetik 2018, dari Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia: http://www.depkes.go.id/resources/download/
general/Hasil%20Riskesdas%202013.pdf

Lecrubier, Y., Sheehan, D., Weiller, E., Amorium, P., Hergueta, T., Bonora, L. I.,
et al. (1998). Mini International Neuropsychiatric Interview. Mini International
Neuropsychiatric Interview . Yayasan Depresi Indonesia.

Maramis, W. F. (2010). Ilmu Kedokteran Jiwa . Surabaya: Erlangga University


Press.

28
Mari, J. J. (1987). Psychiatric morbidity in three primary medical care clinics in
the city of Sao Paulo. Issues on the mental health of the urban poor. Social
Psychiatry .

Maslim, R. (2002). Diagnosis Gangguan Jiwa PPDGJ-III. Jakarta: bagian ilmu


kedokteran jiwa FK-Unika Atmajaya.

Mubarta, A. F., Husin, A. N., & Arifin, S. (2011). GAMBARAN DISTRIBUSI


PENDERITA GANGGUAN JIWA. Jurnal Berkala Kedokteran Unlam , 199-209.

NIH. (2017, November). Mental Illness. Dipetik 2018, dari National Institute of
Mental Health: https://www.nimh.nih.gov/health/statistics/mental-illness.shtml

Notoatmodjo. (2010). Metodologi Penelitian Kesehatan (4th edition ed.). Jakarta:


PT.Rineka Cipta.

Notosoedirjo, M. (2001). Kesehatan Mental: Konsep dan Penerapan. Malang:


Universitas Muhammadiyah.

Otsubo, T., Tanaka, K., Koda, R., Shinoda, J., Sano, N., Tanaka, S., et al. (2005).
Reliability and validity of Japanese version of the Mini-International
Neuropsychiatric Interview . Psychiatry and Clinical Neurosciences , 517-526.

Pahlasari, R., Nurhidayat, A. W., & Zaki, A. (2013). PREVALENSI PASIEN


YANG MENGALAMI GEJALA PSIKOTIK DENGAN RIWAYAT
PENGGUNAAN NAPZA DI RSKO JAKARTA TAHUN 2011-2012. Jurnal
Online UIN Syarif Hidayatullah Jakarta .

Patel, V. Ketika Tidak Ada Psikiater, Buku Panduan Pelayanan Kesehatan Jiwa.
International Medical Corps Indonesia Programmer.

Puskesmas Ganjar Agung. (2017). Profil Puskesmas Ganjar Agung. Metro:


Puskesmas Ganjar Agung.

29
Select Statistical Services Ltd. (2018). Population Proportion - Sample Size.
Dipetik 2018, dari Select-statistics: https://select-
statistics.co.uk/calculators/sample-size-calculator-population-proportion/

Sheehan, D. V., Lecrubier, Y., Sheehan, H., Amorim, P., Janavs, J., Weiller, E., et
al. (1998). Psychiatrist. Diambil kembali dari Psychiatrist:
http://www.psychiatrist.com/jcp/article/Pages/1998/v59s20/v59s2005.aspx

Suliswati, S. (2005). Konsep Dasar Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta: EGC.

Sutini, T., & Hidayati, N. O. (2017). Gambaran Deteksi Dini Kesehatan Jiwa di
Desa Ranjeng dan Cilopang Kabupaten Sumedang. Jurnal Keperawatan BSI , 5
(1).

Syafwan, A. F., Sedjahtera, K., & Asterina. (2014). Gambaran Peningkatan


Angka Kejadian Gangguan Afektif. Jurnal Kesehatan Andalas , 106-109.

Tim Penyusun Pusat Pembinaan Pengembangan Bahasa. (1994). Kamus Besar


Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Westhuizen, C. v., Wyatt, G., Williams, J. K., Stein, D. J., & Sorsdahl, K. (2015).
Validation of the Self Reporting Questionnaire 20-Item (SRQ-20) for Use in a
Low- and Middle-Income Country Emergency Centre Setting. NCBI .

WHO. (2017). Mental Disorders. Dipetik 2018, dari World Health Organization:
http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs396/en/

WHO. (2018). mental health: strengthening our response. Dipetik 2018, dari
World Health Organization: http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs220/en/

WHO. (2001). World Health Report. Dipetik 2018, dari World Health
Organization: http://www.who.int/whr/2001/media_centre/press_release/en/

Wittchen, H. U. (2002). Generalized anxiety disorder: prevalence, burden, and


cost to society. Depression Anxiety .

Yosep, I. (2009). Keperawatan Jiwa. Bandung: Refika Aditama.

30
LAMPIRAN
SELF REPORTING QUESTIONNAIRE

1. Apakah selama 30 hari terakhir ini 12. Apakah selama 30 hari terakhir
anda sering menderita sakit ini anda sulit untuk mengambil
kepala? Ya/ Tidak keputusan? Ya/ Tidak

2. Apakah anda selama 30 hari ini 13. Apakah selama 30 hari terakhir
tidak nafsu makan? Ya/ Tidak ini pekerjaan sehari-hari anda
terganggu? Ya/ Tidak
3. Apakah selama 30 hari terakhir ini
anda sulit tidur? Ya/ Tidak 14. Apakah selama 30 hari terakhir
ini tidak mampu melakukan hal-
4. Apakah selama 30 hari terakhir ini hal yang bermanfaat dalam
anda mudah takut? Ya/ Tidak hidup? Ya/ Tidak

5. Apakah selama 30 hari terakhir ini 15. Apakah selama 30 hari terakhir
anda merasa tegang, cemas atau ini anda kehilangan minat pada
kuatir? Ya/ Tidak berbagai hal? Ya/ Tidak

6. Apakah selama 30 hari terakhir ini 16. Apakah selama 30 hari terakhir
tangan anda gemetar? Ya/ Tidak ini anda merasa tidak berharga?
Ya/ Tidak
7. Apakah selama 30 hari terakhir ini
pencernaan anda terganggu/ 17. Apakah selama 30 hari terakhir
buruk? Ya/ Tidak ini anda mempunyai pikiran
untuk mengakhiri hidup? Ya/
8. Apakah selama 30 hari terakhir ini Tidak
anda sulit untuk berpikir jernih?
Ya/ Tidak 18. Apakah anda merasa lelah
sepanjang waktu? Ya/ Tidak
9. Apakah selama 30 hari terakhir ini
anda merasa tidak bahagia? Ya/ 19. Apakah selama 30 hari terakhir
Tidak anda mengalami rasa tidak enak
di perut? Ya/ Tidak
10. Apakah selama 30 hari terakhir
ini anda menangis lebih sering? 20. Apakah selama 30 hari terakhir
Ya/ Tidak anda mudah lelah? Ya/ Tidak

11. Apakah selama 30 hari terakhir


ini anda merasa sulit untuk
menikmati kegiatan sehari-hari?
Ya/ Tidak

31
MINI
Mini International Neuropsychiatric Interview

Version ICD-10

Mini Versi ICD-10 dirancang sebagai suatu wawancara terstruktur yang sangat singkat
untuk mendiagnosis gangguan psikiatrik utama dari International Classification of
Diseases (World Health Organization, 1993). Setelah suatu sesi pelatihan singkat,
wawancara ini dapat digunakan oleh para klinisi, baik yang mengambil spesialisasi dalam
bidang psikiatri maupun yang tidak.

Y. Lecrubier, E. Weiller, P. Amorium, T. Hergueta, L.I. Bonora, J.P. Lépine

Inserm U302 – Hôpital de la Pitié-Salpétrière – Paris – France

D. Sheehan, J. Janavs, E. Knapp, M. Sheehan, R. Baker, K.H. Sheehan

University of South Florida – Tampa – USA

All right reserved.

No part of this document may be reproduced in any form, in whol or in part, without

the prior written consent of the authors.

Hak cipta dilindungi undang-undang

Dilarang memperbanyak dokumen ini dalam bentuk apa pun, seluruhnya maupun
sebagian, tanpa ijin tertulis dari pembuat

32
33
34
35