Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH

HARGA DIRI RENDAH

OLEH

KELOMPOK 2

SAFARINAH

ADRAWATI

LUH NETHA HARDINIA

MELBIN KRISTIAN KENDE

ANUAR

1
DAFTAR ISI

2
BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Di dalam hidup di masyarakat manusia harus dapat mengembangkan dan
melaksanakan hubungan yang harmonis baik dengan individu lain maupun
lingkungan sosialnya. Tapi dalam kenyataannya individu sering
mengalami hambatan bahkan kegagalan yang menyebabkan individu
tersebut sulit mempertahankan kestabilan dan identitas diri, sehingga
konsep diri menjadi negatif. Jika individu sering mengalami kegagalan
maka gangguan jiwa yang sering muncul adalah gangguan konsep diri
misal harga diri rendah.
Faktor psikososial merupakan faktor utama yang berpengaruh dalam
kehidupan seseorang (anak, remaja, dan dewasa). Yang mana akan
menyebabkan perubahan dalam kehidupan sehingga memaksakan untuk
mengikuti dan mengadakan adaptasi untuk menanggulangi stressor yang
timbul. Ketidakmampuan menanggulangi stressor itulah yang akan
memunculkan gangguan kejiwaan.
Salah satu gangguan jiwa yang ditemukan adalah gangguan konsep harga
diri rendah, yang mana harga diri rendah digambarkan sebagai perasaan
yang negatif terhadap diri sendiri, termasuk hilangnya percaya diri dan
harga diri, merasa gagal mencapai keinginan (Keliat, 1999). Perawat akan
mengetahui jika perilaku seperti ini tidak segera ditanggulangi, sudah tentu
berdampak pada gangguan jiwa yang lebih berat. Beberapa tanda-tanda
harga diri rendah adalah rasa bersalah terhadap diri sendiri, merendahkan
martabat sendiri, merasa tidak mampu, gangguan hubungan sosial seperti
menarik diri, percaya diri kurang, kadang sampai mencederai diri
(Townsend, 1998).
Peristiwa traumatic, seperti kehilangan pekerjaan, harta benda, dan orang
yang dicintai dapat meninggalkan dampak yang serius. Dampak
kehilangan tersebut sangat mempengaruhi persepsi individu akan
kemampuan dirinya sehingga mengganggu harga diri seseorang.
Banyak dari individu-individu yang setelah mengalami suatu kejadian
yang buruk dalam hidupnya, lalu akan berlanjut mengalami kehilangan
kepercayaan dirinya. Dia merasa bahwa dirinya tidak dapat melakukan
apa-apa lagi, semua yang telah dikerjakannya salah, merasa dirinya tidak
berguna, dan masih banyak prasangka-prasangka negative seorang
individu kepada dirinya sendiri. Untuk itu, dibutuhkan bantuan dan
dukungan dari berbagai pihak agar rasa percaya diri dalam individu itu
dapat muncul kembali. Termasuk bantuan dari seorang perawat. Perawat

3
harus dapat menangani pasien yang mengalami diagnosis keperawatan
harga diri rendah, baik menggunakan pendekatan secara individual
maupun kelompok.

2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, kami dapat mengambil rumusan


masalah sebagai berikut :
1) Apa yang dimaksud dengan harga diri rendah?
2) Apa saja etiologi dari harga diri rendah?
3) Apa manifestasi klinis klien dengan harga diri rendah?
4) Bagaimana proses terjadinya masalah?
5) Bagaimana rentang respon klien dengan harga diri rendah?
6) Bagaimana pohon masalah dari harga diri rendah?
7) Apa saja masalah keperawatan yang mungkin muncul pada klien dengan
harga diri rendah?
8) Bagaimana asuhan keperawatan pada klien dengan harga diri rendah?

3. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah diatas, kami dapat mengambil tujuan
sebagai berikut :
3.1 Menjelaskan definisi dari harga diri rendah.
3.2 Menjelaskan etiologi dari harga diri rendah
3.3 Menjelaskan manifestasi klinis klien dengan harga diri rendah
3.4 Menjelaskan proses terjadinya masalah
3.5 Menjelaskan rentang respon klien dengan harga diri rendah
3.6 Menjelaskan pohon masalah dari harga diri rendah
3.7 Menjelaskan masalah keperawatan yang mungkin muncul pada klien
dengan harga diri rendah
3.8 Menjelaskan asuhan keperawatan klien dengan harga dirir rendah.

4
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

1) Definisi
Harga diri rendah merupakan perasaan negative terhadap diri sendiri
termasuk kehilangan rasa percaya diri, tidak berharga, tidak berguna, tidak
berdaya, pesimis, tidak ada harapan dan putus asa (Depkes RI,2000).
Gangguan harga diri adalah perasaan tidak berharga, tidak berarti dan
rendah diri yang berkepanjangan akibat evaluasi negative terhadap diri sendiri
dan kemampuan diri (Keliat).
Gangguan harga diri yang disebut harga diri rendah dapat terjadi secara :
1.1 Situasional, yaitu terjadi trauma yang tiba-tiba, misalnya harus operasi,
kecelakaan, dicerai suami, putus sekolah, putus hubungan kerja, perasaan
malu karena sesuatu ( korban perkosaan, ditubuh KKN, dipenjara tiba-tiba
). Pada klien yang dirawat dapat terjadi harga diri rendah karena :
1.1.1 Privacy yang kurang diperhatikan, misalnya : pemeriksaan fisik
yang sembarangan, pemasangan alat yang tidak sopan ( pencukuran
pubis, pemasangan kateter, pemeriksaan perineal ).
Harapan akan struktur, bentuk dan fungsi tubuh yang tidak tercapai
karena dirawat/sakit/penyakit.
1.1.2 Perlakuan petugas kesehatan yang tidak menghargai, misalnya
berbagai pemeriksaan dilakukan tanpa penjelasan, persetujuan.
Kondisi ini banyak ditemukan pada klien gangguan fisik.
1.2 Kronik, yaitu perasaan negative terhadap diri telah berlangsung lama,
yaitu sebelum sakit atau dirawat. Klien mempunyai cara berfikir yang
negative terhadap dirinya. Kondisi ini mengakibatkan respon yang mal
adaptif. Kondisi ini dapat ditemukan pada klien gangguan fisik yang
kronis atau pada klien gangguan jiwa.

5
2. Etiologi
Berbagai faktor menunjang terjadinya perubahan dalam konsep diri
seseoranng.
Faktor Predisposisi
Ada beberapa faktor predisposisi yang menyebabkan harga diri rendah yaitu :
2.1 Perkembangan individu yang meliputi :
2.1.1 Adanya penolakan diri orang tua, sehingga anak merasa tidak
dicintai kemudian dampaknya anak gagal mencintai dirinya dan akan
gagal pula untuk mencintai orang lain.
2.1.2 Kurangnya pujian dan kurangnya pengakuan dari orang-orang
tuanya atau orang tua yang penting/dekat dengan individu yang
bersangkutan.
2.1.3 Sikap orang tua over protecting, anak merasa tidak berguna,
orang tua atau orang terdekat sering mengkritik serta merevidasikan
individu yang bersangkutan.
2.1.3 Anak menjadi frustasi, putus asa, merasa tidak berguna dan
merasa redah diri.
2.2 Ideal diri
2.2.1 Individu selalu dituntut untuk berhasil.
2.2.2 Tidak mempunyai hak untuk gagal dan berbuat salah.
2.2.3 Anak dapat menghakimi dirinya sendiri dan hilangnya rasa
percaya diri.

Faktor Presipitasi

Faktor presipitasi atau stressor pencetus dari munculnya harga diri rendah
mungkin ditimbulkan dari sumber internal dan eksternal seperti :

1. Gangguan fisik dan mental salah satu anggota keluarga sehingga keluarga
merasa malu dan rendah diri.

6
2. Pengalaman traumatic berulang seperti penganiayaan seksual dan
psikologis atau menyaksikan kejadian yang mengancam kehidupan, aniaya
fisik, kecelakaan, bencana alam dan perampokan. Respon terhadap trauma
pada umumnya akan mengubah arti trauma tersebut dan kopingnya adalah
represi dan denial.

Perilaku

1. Dalam melakukan pengkajian, perawat dapat memulai dengan


mengobservasi penampilan klien, misalnya kebersihan, dandanan, pakaian.
Kemudian perawat mendiskusikannya dengan klien untuk mendapatkan
pandangan klien tentang gambaran dirinya. Ganggua perilaku pada
gangguan konsep diri dapat dibagi sebagai berikut :
2. Perilaku berhubungan dengan harga diri rendah. Harga diri yang rendah
merupakan masalah bagi banyak orang dan diekspresikan melalui tingkat
kecemasan yang sedang sampai berat. Umumnya disertai oleh evaluasi diri
yang negative membenci diri sendiri dan menolak diri sendiri.

3. Manifestasi Klinis
Menurut Keliat tanda dan gejala yang dapat muncul pada pasien harga diri
rendah adalah :
3.1 Perasaan malu terhadap diri sendiri, individu mempunyai perasaan
kurang percaya diri.
3.2 Rasa bersalah terhadap diri sendiri, individu yang selalu mearsa gagal
dalam meraih sesuatu.
3.3 Merendahkan martabat diri sendiri, menganggap dirinya berada
dibawah orang lain.
3.4 Gangguan berhubungan sosial seperti menarik diri, lebih suka
menyendiri dan tidak ingin bertemu orang lain.
3.5 Rasa percaya diri kurang, merasa tidak percaya dengan kemampuan
yang dimiliki.
3.6 Sukar mengambil keputusan, cenderung bingung dan ragu-ragu dalam
memilih sesuatu.

7
3.7 Menciderai diri sendiri akibat harga diri yang rendah disertai harapan
yang suram sehingga memungkinkan untuk mengakhiri kehidupan.
3.8 Mudah tersinggung atau marah yang berlebihan.
3.9 Perasaan negative mengenai tubuhnya sendiri.
3.10 Kurang memperhatikan perawatan diri, berpakian tidak rapi, selera
makan menurun, tidak berani menatap lawan bicara, lebih banyak
menunjuk, dan bicara lambat dengan nada lemah.
3.11 Penyalahgunaan zat.

Penatalaksanaan
Terapi yang dapat diberikan antara lain :
1. Psikoterapi
Terapi kerja baik sekali untuk mendorong penderita bergaul lagi dengan
orang lain, penderita lain, perawat dan dokter. Maksudnya supaya ia tidak
mengasingkan diri lagi karena bila ia menarik diri ia dapat membentuk
kebiasaan yang kurang baik. Dianjurkan untuk mengadakan permainan
atau latihan bersama.
2. Therapy aktivitas kelompok dibagi empat, yaitu therapy aktivitas
kelompok stimulus kognitif/persepsi, therapy aktivitas kelompok stimulasi
sensori, therapy aktivitas kelompok stimulasi realita dan therapy aktivitas
kelompok sosialisasi. Dari empat jenis therapy aktivitas kelompok diatas
yang paling relavan dilakukan pada individu dengan gangguan konsep diri
harga diri rendah adalah therapy aktivitas kelompok stimulasi persepsi.
Therapy aktivitas kelompok stimulasi persepsi adalah therapy yang
menggunakan aktivitas sebagai stimulasi dan terkait dengan pengalaman
atau kehidupan untuk didiskusikan dlam kelompok, hasil diskusi
kelompok dapat berupa kesepakatan persepsi atau alternative penyelesaian
masalah.

8
4. Rentang Respon

Respon Adaptif Respon Maladaptif

Aktualisasi Konsep diri Harga diri Kerancuan


depersonalisasi positif rendah indentitas
diri

Rentang Respon Harga Diri Rendah Kronik

Sumber : (Keliat, 1999)

Harga diri rendah merupakan komponen episode depresi mayor,


dimana aktifitas merupakan bentuk hukuman atau punishment (Stuart&
Laraia, 2005). Depresi adalah emosi normal manusia, tapi secara klinis dapat
bermakna patologik apabila menggangu perilaku sehari-hari, menjadi pervasif
dan muncul bersama penyakit lain.

Menurut NANDA (2005) tanda dan gejala yang dimunculkan sebagai


perilaku telah dipertahankan dalam waktu yang lama atau kronik yang
meliputi mengatakan hal yang negatid tentang diri sendiri dalam waktu lama
dan terus menerus, mengespresikan sikap malu/minder/rasa bersalah, kontak
mata kurang/tidak ada, selalu mengatakan ketidakmampuan/kesulitan untuk
mencoba sesuatu, bergantung pada orang lain, tidak asertif, pasif dan
hipoaktif, bimbang dan ragu-ragu serta menolak umpan balik positif dan
membesarkan umpan balik negatif mengenai dirinnya.

9
Mekanisme koping jangka pendek yang biasa dilakukan klien harga
diri rendah adalah kegiatan yang dilakukan untuk lari sementara dari krisis,
misalnya pemakaian obat-obatan, kerja keras, nonton TV, terus menerus.
Kegiatan mengganti identitas sementara, misalnya ikut sekelompok sosial,
keagamaan dan politik. Kegiatan yang memberi dukungan sementara, seperti
mengikuti suatu kompetisi atau kontes popularitas. Kegiatan mencoba
menghilangkan anti identitas sementara, seperti penyalagunaan obat-obatan.

Jika mekanisme koping jangka pendek tidak memberi hasil yang


diharapkan individu dan mengembangkan mekanisme koping jangka panjang,
antara lain adalah menutup identitas, dimana klien terlalu cepat mengadopsi
identitas yang disenangi dari orang-orang yang berarti tanpa mengindahkan
hasrat, aspirasi atau potensi diri sendiri. Identitas negatif, dimana asumsi yang
bertentangan dengan nilai dan harapan masyarakat. Sedangkan mekanisme
pertahanan ego yang sering digunakan adalah fantasi, regresi, disasosiasi,
isolasi, proyeksi, mengalihkan marah berbalik pada diri rendah kronis juga
dipengaruhi beberapa faktor predisposisi seperti faktor biologis, psikologis,
sosial dan kultural.

Faktor biologis biasanya karena ada kondisi sakit fisik secara yang
dapat mempengaruhi kerja hormon secara umum, yang dapat pula berdampak
pada keseimbangan neurotransmitter di otak, contoh kadar serotin yang
menurun dapat mengakibatkan klien mengalami depresi dan pada pasein
depresi kecenderungan harga diri rendah kronis semakin besar karena lebih
dikuasai oleh pikiran-pikiran negatif dan tidak berdaya.

Struktur otak yang mungkin mengalami gangguan pada kasus harga


diri rendah kronis adalah

1) System Limbic yaitu pusat emosi, dilihat dari emosi pada klien dengan
harga diri rendah yang kadang berubah seperti sedih, dan terus merasa
tidak berguna atau gagal terus menerus.
2) Hipothalamus yang juga mengatur mood dan motivasi, karena melihat
kondisi klien dengan harga diri rendah yang membutuhkan lebih banyak

10
motivasi dan dukungan dari perawat dalam melaksanakan tindakan yang
sudah dijadwalkan bersama-sama dengan perawat padahal klien
mengatakan bahwa membutuhkan latihan yang telah dijadwalkan tersebut.
3) Thalamus, sistem pintu gerbang atau menyaring fungsi untuk mengatur
arus informasi sensori yang berhubungan dengan perasaan untuk
mencegah berlebihan di korteks. Kemungkinan pada klien dengan harga
diri rendah apabila ada kerusakan pada thalamus ini maka arus informasi
sensori yang masuk tidak dapat dicegah atau dipilah sehingga menjadi
berlebihan yang mengakibatkan perasaan negatif yang ada selalu
mendominasi pikiran dari klien.
4) Amigdala yang berfungsi untuk emosi
Adapun jenis alat untuk mengetahui gangguan struktur otak yang dapat
digunakan adalah:
1) Electroencephalogram (EEG), suatu pemeriksaan yang bertujuan
memberikan informasi penting tentang kerja dan fungsi otak.
2) CT Scan, untuk mendapatkan gambaran otak tiga dimensi
3) Singel Photom Emission Computed Tomography (SPECT), melihat
wilayah otak dan tanda-tanda abnormalitas pada otak dan
menggambarkan perubahan-perubahan aliran darah yang terjadi.
4) Magnetic Resonance Imaging (MRI), suatu tehnik radiologi dengan
menggunakan magnet, gelombang radio dan komputer untuk
mendapatkan gambaran sruktur tubuh atau otak dan dapat mendeteksi
perubahan yang kecil sekalipun dalam stuktur atau otak. Beberapa
prosedur menggunakan kontras gadolinium untuk meningkatkan
akurasi gambar.
Selain gangguan pada struktur otak, apabila dilakukan pemeriksaan
lebih lanjut dengan alat-alat tertentu kemungkinan akan ditemukan
ketidakseimbangan neurotransmitter di otak seperti:
1) Acetylcholine (Ach), untuk pengaturan atensi dan mood, mengalami
penurunan.
2) Norepinephrine, mengatur fungsi kesiagaan, pusat perhatian dan
orientasi; mengatur “fight-flight” dan proses pembelajaran dan

11
memori, mengalami penurunan yang mengakibatkan kelemahan dan
depresi.
3) Serotoniun, mengatur status mood, mengalami penuruan yang
mengakibatkan penurunan yang mengakibatkan klien lebih dikuasai
oleh pikiran-pikiran negatif dan tidak berdaya.
4) Glutamat, mengalami penurunan, terlihat dari kondisi klien yang
kurang energi, selalu terlihat mengantuk. Selain itu berdasarkan
diagnosa medis klien yaitu skizofrenia yang sering mengindikasikan
adanya penurunan glutamat.
Adapun jenis alat untuk pengukuran neurotransmitter yang dapat
digunakan adalah :
1) PositronEmisssion Tomography (PET), mengukur emisi/ pancaran dari
bahan kimia radioaktif yang diberikan label dan telah disuntikan ke
dalam aliran darah untuk menghasilkan gambaran dua atau tiga dimensi
melalui distribusi dari bahan kimia tersebut didalam tubuh dan otak.
PET dapat memperlihatkan gambaran aliran darah, oksigen,
metabolisme glukosa dan kosentrasi obat dalam jaringan otak. Yang
merefleksikan aktifitas otak sehingga dapat dipelajari lebih lanjut
tentang fisiologi dan neuro-kimiawi otak.
2) Transcranial Magnetic Stimulations (TMS) dikombinasikan dengan
MRI, para ahli dapat melihat dan mengetahui fungsi spesifik dari otak.
TMS dapat menghubungkan antara kimiawi dan struktur otak dengan
perilaku manusia dan hubungannya dengan gangguan jiwa.
Berdasarkan faktor fisiologis, harga diri rendah kronis sangat
berhubungan dengan pola asuh dan kemampuan individu menjalankan peran
dan fungsi. Hal-hal yang dapat menakibatkan individu mengalami harga diri
rendah kronis meliputi penolakan orang tua, harapan orang tua yang tidak
realistis, orang tua yang tidak percaya pada anak, tekanan teman sebaya, peran
yang tidak sesuai dengan jenis kelamin dan peran dalam pekerjaan.
Faktor sosial: secara sosial status ekonomi sangat mempengaruhi
proses terjadinya harga diri rendah kronis, antara lain kemiskinan, tempat

12
tinggal didaerah kumuh dan rawan, kultur sosial yang berubah misal ukuran
keberhasilan individu.
Faktor kultur: tuntunan peran sesuai kebudayaan sering meningkatkan
kejadian harga diri rendah kronis antara lain : wanita sudah harus menikah jika
umur mencapai duapuluh, perubahan kultur kearah gaya hidup individualisme.
Akumualasi faktor presdiposisi ini baru menimbulkan kasus harga diri
rendah kronis setelah adanya faktor presdiposisi. Faktor presipitasi dapat
disebabkan dari dalam diri sendiri ataupun dari luar, antara lain ketegangan
peran, konflik peran, peran yang tidak jelas, peran berlebihan, perkembangan
transisi, situasi trasnsisi peran dan transisi peran sehat-sakit.

5. Masalah Yang Lazim Muncul


5.1 Kerusakan interaksi sosial : menarik diri berhubungan dengan harga diri
rendah
5.2 Resiko perubahan persepsi sensori : halusinasi berhubungan dengan
menarik diri
5.3 Harga diri rendah situasional
5.4 Ketidakefektifan koping
5.5 Isolasi sosial

6. Discharge Planning
6.1 Kenali faktor yang menyebabkan HDR dan konsultasikan pemecahan
masalah yang dihadapi.
6.2 Berikan dukungan untuk dapat mengenali kelebihan yang dimiliki dan
mengoreksi kekurangan pada diri dan mencari solusi secara bersama-sama.
6.3 Ciptakan lingkungan yang dapat menciptakan kepercayaan diri pada
penderita.
6.4 Berikan apresiasi terhadap apa yang telah diperoleh atau keberhasilan
yang didapat.
6.5 Konsultasikan selalu jika terdapat hambatan dalam perawatan dan
penanganan.

13
6.6 Bombing dan damping untuk melakukan aktivitas dengan orang
lain/kelompok yang diharapkan dapat menimbulkan rasa percaya diri dan
kemampuan dalam bersosilisasi.

7. Patofisiologi

14
BAB III

KONSEP DASAR KEPERAWATAN

1. Pengkajian

1.1 Faktor Predisposisi


1.1.1 Faktor yang mempengaruhi harga diri, termasuk penolakan orang
tua, harapan orang tua yang tidak realistic.
1.1.2 Faktor yang mempengaruhi penampilan peran, yaitu peran yang
sesuai dengan jenis kelamin, peran dalam pekerjaan dan peran yang
sesuai dengan kebudayaan.
1.1.3 Faktor yang mempengaruhi identitas diri, yaitu orang sebaya dan
kultur sosial yang berubah
1.2 Faktor Presipitasi
1.2.1 Faktor presipitasi dapat disebabkan oleh faktor dari dalam atau
faktor dari luar individu (internal or eksternal sources), yang dibagi 5
kategori:
1) Ketegangan peran, adalah stress yang berhubungan dengan frustasi
yang dialami individu dalam peran atau posisi yang diharapkan
seperti konsep berikut ini:
2) Konflik peran: ketidaksesuaian peran antar yang dijalankan dengan
yang diinginkan.
3) Peran yang tidak jelas: kurangnya pengetahuan individu tentang
peran yang dilakukannya.
4) Peran berlebihan: kurang sumber yang adekuat untuk
menampilakan seperangkat peran yang kompleks.
5) Perkembangan transisi, yaitu perubahan norma yang berkaitan
dengan nilai untuk menyesuaikan diri.
1.2.2 Situasi transisi peran, adalah bertambah atau berkurangnya orang
penting dalam kehidupan individu melalui kelahiran atau kematian
orang yang berarti.

15
1.2.3 Transisi peran sehat – sakit, yaitu peran yang diakibatkan oleh
keadaan sehat atau keadaan sakit. Transisi ini dapat disebabkan:
1) Kehilangan bagian tubuh.
2) Perubahan ukuran dan bentuk, penampilan atau fungsi tubuh.
3) Perubahan fisik yang berkaitan dengan pertumbuhan dan
perkembangan.
4) Prosedur pengobatan dan perawatan.
1.2.4 Ancaman fisik seperti pemakaian oksigen, kelelahan,
ketidakseimbangan bio-kimia, gangguan penggunaan obat, alkohol dan
zat.
1.3 Mekanisme Koping
Jangka Pendek Jangka Panjang
1.3.1 Kegiatan yang dilakukan Menutup Identitas:
untuk lari sementara dari krisis: Terlalu cepat mengadopsi identitas
pemakaian obat – obatan, kerja yang disenangi dari orang – orang
keras, nonton TV terus menerus. yang berarti, tanpa mengindahkan
hasrat, aspirasi atau potensi diri
sendiri.
1.3.2 Kegiatan menggantikan Identitas Negatif:
identitas sementara: (ikut Asumsi yang bertentangan dengan
kelompok sosial, keagamaan, nilai dan harapan masyarakat.
politik).
1.3.3 Kegiatan yang memberi
dukungan sementara:
(kompetisi olahraga kontes
popularitas)
1.3.4 Kegiatan mencoba
menghilangkan anti identitas
sementara: (penyelenggaraan
obat – obat)

16
Mekanisme pertahanan ego yang sering digunakan adalah: fantasi,
disasosiasi, isolasi, proyeksi, mengalihakan marah berbalik pada diri
sendiri dan orang lain.

2. Diagnosa Keperawatan
1) Harga diri rendah situasional
2) Ketidakefektifan koping
3) Isolasi sosial
3. Rencana Keperawatan
1) Harga Diri Rendah Situasional
Definisi: Perkembangan persepsi negatif tentang harga diri sebagai respon
terhadap situasi saat ini.
Tujuan:
NOC
-Peningkatan harga diri
-peningkatan koping

Kriteria hasil:
Penerimaan terhadap keterbatasan diri
(1) Mempertahankan kontak mata
(2) Komunikasi terbuka
(3) Tingkat kepercayan diri

Intervensi (NIC):

Peningkatan harga diri

1) Dukung pasien mengidentifikasi kekuatan


2) Dukung (melakukan) kontak mata pada saat berkomunikasi pada
orang lain
3) Bantu pasien untuk megidentifikasi respon positif dari orang lain
4) Dukung pasien mengevaluasi perilaknya sendiri
5) Berikn hadiah atau pujian terkait dengan kemajuan psien dalam
mencapai tujuan

17
6) Fasilitasi lingkungan dan aktifitas-aktifitas yang akan meningkatkan
harga dri

Peningkatan koping
1) Dukung hubungan (pasien) dengan orang yang memiliki ketertarikan
dan tujuan yang sama
2) Berikan penilaian (kemampuan) penyesuaian pasien terhadap
perubahan-perubahan citra tubuh, sesuai dengan indikasi
3) Bantu pasien untuk mengidentifikasi informasi yang dia paling tertarik
untuk dapatkan
4) Dukung aktivitas-aktivitas sosial dan komunitas (agar bisa dilakukan)
5) Bantu pasien dalam mengidentifikasi respon positif dari orang lain
6) Dukung keterlibatan keluarga, dengan cara yang tepat

2 Ketidakefektifan Koping
Definisi: Ketidakmampuan untuk membentuk penilaian valid tentang
stressorketidakadekuatan pilihan respon yang dilakukan dan/atau
ketidakmampuan untuk menggunakan sumber daya yang tersedia.
Tujuan:
NOC:
- Decision making
- Role inhasment
- Sosial support

Kriteria hasil:

1) Mengidentifikasi pola koping yang efektif.


2) Mengungkapkan secara verbal tentang koping yang efektif.
3) Mengatakan penurunan stres.
4) Klien mengatakan telah menerima tentang keadaannya

18
5) Mampu mengidentifikasi strategi tentang koping

Intervensi:

NOC

Dicision making

1) Menginformasikan pasien alternatif atau solusi lain penanganan.


2) Memfasilitasi pasien untuk membuat keputusan.
3) Bantu pasien mengidentifikasi keuntungan, kerugian dari keadaan.

Role inhancement

4) Bantu pasien untuk identifikasi bermacam – macam nilai kehidupan.


5) Bantu pasien identifikasi strategi positif untuk mengatur pola nilai
yang dimiliki.

Copping enhancement

6) Anjurkan pasien untuk mengidentifikasikan gambar perubahan peran


yang realistis.
7) Gunakan pendekatan tenang dan meyakinkan.
8) Hindari pengambilan keputusan pada saat pasien berada dalam stress
berat.
9) Berikan informasi actual yang terkait dengan diagnosa, terapi dan
prognosis.

3. Isolasi sosial
Definisi: kesepian yang dialami oleh individu dan dirasakan saat didorong
oleh keberadaan orang lain dan sebagai pertanyaan negative atau
mengancam.
Tujuan:
NOC:

19
-Peningkatan sosialisasi
-Terapi aktivitas

Kriteria hasil:

1) Berinteraksi dengan teman dekat


2) Berinteraksi dengan tetangga
3) Berinteraksi dengan keluarga
4) Berinteraksi dengan anggota kelompok kerja
5) Berparisipasi dalam aktivitas yang terorganisir

Intervensi:

NIC:

Peningkatan sosialisasi

1) Anjurkan kesabaran dalam pengembangan hubungan


2) Tingkatkan hubungan dengan orang yang memiliki minat dan tujuan
yang sama
3) Tingkatkan keterlibatan dalam minat yang sama sekali baru
4) Anjurkan penghormatan terhadap hak-hak orang lain
5) Lakukan bermain peran dalam rangka berlatih meningkatkan
keterampilan dan teknik komunikasi
6) Berikan umpan balik positif saat pasien bersedia mnjangkau orang lain

Terapi aktivitas
1) Bantu pasien untuk tetap fokus pada kekuatan yang dimiliki
dibandingkan dengan kelemahan yang dimilikinya
2) Dorong keterlibatan dalam aktivitas kelompok maupun terapi
3) Instruksikan keluarga untuk memberikan pujian positif karena
keterlibatannya dalam kelompok

20
Daftar Pustaka

Kusumawati, Farida dan Yudi Hartono. 2010. Buku Ajar Keperawatan Jiwa.
Salemba Medika: Jakarta.

Direja, Ade Herman Surya. 2011. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Nuha Medika:
Yogyakarta.

Dermawan, Dede & Rusdi. 2013. KEPERAWATAN JIWA KONSEP DAN


KERANGKA KERJA ASUHAN KEPERAWATAN JIWA. Gosyeng
Publishing: Yogyakarta.

Wilkinson, Judith M. 2011. BUKU SAKU DIAGNOSIS KEPERAWATAN EDISI


9. Penerbit Buku Kedokteran. Jakarta: EGC.

Nurarif, Amin Huda & Hardhi Kusuma. 2015. APLIKASI ASUHAN KEPERATAN
BERDASARKAN DIAGNOSA MEDIS DAN NANDA NIC-NOC EDISI
REVISI JILID 2. Mediaction: Yogyakarta.

21