Anda di halaman 1dari 8

ARTIKEL

NASIONALISME DI KALANGAN PEMUDA


INDONESIA SAAT INI

Disusun oleh
Nama : Aji Bagus Saputro
No : 01
Kelas : XI IPS 2

SMA NEGERI 1 WERU


TAHUN PELAJARAN 2017/2018
Nasionalisme merupakan pandangan tentang rasa cinta yang wajar
terhadap bangsa dan negara, dan sekaligus menghormati bangsa lain.
Penyebab semakin memudarnya sikap Nasionalisme di kalangan pemuda
dikarenakan oleh faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal seperti
kekecewaan pemuda terhadap kinerja pemerintah, dan sebagainya, sedangkan
faktor eksternal seperti arus globalisasi yang membawa pengaruh negatif.
Sedangkan untuk menumbuhkan kembali sikap Nasionalisme di kalangan
pemuda dibutuhkan peran keluarga, peran pendidikan, serta peran dari
pemerintah.

Pemuda Indonesia dalam sejarahnya cukup memainkan perannya dalam


mendesain setiap peristiwa besar perubahan bangsa ini, bahkan sekaligus
menjadi aktor utama dalam peristiwa perubahan tersebut. Dalam hal ini bisa
katakan bahwa pemuda telah memiliki daya yang tinggi dalam menerjemahkan
semangat zamannya masing-masing. Namun di sisi lain, kenyataan memilukan
yang juga sering mengemuka di setiap panggung sejarah perubahan adalah
bahwa kaum muda seperti kurang memiliki energi untuk mengarahkan
perubahan serta kurang memiliki kesiapan kompetensi untuk mengisi
perubahan tersebut.

Masalah pembangunan Nasionalisme di Indonesia saat ini tengah


menghadapi tantangan yang berat, maka perlu dimulai upaya-upaya
untuk kembali mengangkat tema tentang pembangunan
Nasionalisme. Apalagi di sisi lain, pembahasan atau diskusi tentang
Nasionalisme di Indonesia justru kurang berkembang atau mungkin
memang kurang dikembangkan.

Berhubungan dengan Nasionalisme, refleksi kisah perjuangan telah terbukti


betapa tinginya semangat perjuangan Bangsa Indonesia untuk mengusir dan
melawan penjajah sejak awal penjajahan Belanda sampai dengan tercapai
Kemerdekaan RI. Adalah sebuah kewajiban yang Universal, dimana generasi
yang lebih tua agar mewariskan tidak hanya pengetahuan tentang tonggak
sejarah atas kejadian yang terjadi di masa lalu namun juga terutama tentang
semangat Nasionalisme yang berpengaruh atas perjalanan hidup dalam
berbangsa dan bernegara. Karena dengan demikian akan tercipta suatu
hubungan emosional secara timbal-balik diantaranya dalam kaitan semangat
Nasionalisme. Hal ini menjadi sebuah tuntutan yang layak, agar generasi
muda dapat menghargai jasa-jasa Pejuang dan Pahlawannya sehingga mereka
menempatkan para Pejuang dan Pahlawan yang terhormat.

Nasionalisme telah mengilhami pemuda, hingga mereka mampu menjadi


pilar penting dan berada pada garda terdepan dalam merintis perjuangan
kemerdekan bangsa Indonesia. Menarik untuk mempertanyakan bagaimana
pula dengan semangat nasionalisme dan kepeloporan pemuda hari ini.
Pertanyaan ini acap kali muncul di tengah keprihatinan berbagai kalangan yang
mengkhawatirkan semakin lemahnya eksistensi dan posisi politik pemuda
masa kini, terutama dalam mengemban misi kebangsaan.
Nasionalisme merupakan suatu kehendak untuk bersatu sebagai bangsa.
Kehendak ini tumbuh karena didorong kesadaran akan adanya riwayat atau
pengalaman hidup yang sama dan dijalani bersama.
(http://zaidbio.blogspot.co.id/2012/12/nasionalisme-pemuda.html)

Peristiwa kongres pemuda tanggal 28 Oktober 1928 yang kemudian kita


peringati sebagai Sumpah Pemuda adalah manifestasi tumbuhnya kesadaran
nasional (Nasionalisme) dalam perjuangan menghadapi kolonialisme dan
imperialisme Belanda waktu itu.

Langkah ini menjadi semacam titik balik dari pola perlawanan sebelumnya
yang lebih bersifat lokal. Tidak bisa dipungkiri bahwa tumbuhnya kesadaran
tersebut secara nasional tidak bisa dilepaskan dari kontribusi pemuda pada
masa tersebut dengan idealisme dan paradigma barunya. (Aman. 2009:20)

Demikianlah seterusnya, sejarah panjang bangsa ini mencatat konstribusi yang


diberikan kaum muda di setiap persimpangan sejarah. Hingga wajar jika
banyak pengamat sejarah yang menyatakan bahwa sejarah suatu bangsa
sesungguhnya adalah sejarah kaum muda. Pemuda hadir pada titik
persimpangan sejarah dan memberi arah bagi perjalanan bangsa ini. Sekadar
menjadi catatan, perjuangan kaum muda di panggung sejarah juga terjadi di
hampir seluruh belahan dunia.

Sejarah mereka adalah sejarah perlawanan dan pembelaan. Seperti ada


benang merah bahwa gerakan pemuda biasanya lahir dari kondisi yang
dihadapi masyarakat yang sudah tidak sesuai lagi dengan cita-cita negara dan
harapan masyarakatnya. Mereka merespons berbagai situasi dan kondisi
tersebut atas dasar kesadaran moral, tanggung jawab intelektual, pengabdian
sosial, dan kepedulian politik. Tidak jarang pula ditemukan bahwa situasi global
sering menjadi faktor yang memicu dan mematangkan kekuatan aksi mereka.

Penyebab Semakin Memudarnya Sikap Nasionalisme di Kalangan Pemuda


Faktor internal antara lain: pemerintahan pada zaman reformasi yang jauh dari
harapan para pemuda, sehingga membuat mereka kecewa pada kinerja
pemerintah saat ini.

Terkuaknya kasus-kasus korupsi, penggelapan uang negara, dan


penyalahgunaan kekuasaan oleh para pejabat negara membuat para pemuda
enggan untuk memerhatikan lagi pemerintahan. Sikap keluarga dan lingkungan
sekitar yang tidak mencerminkan rasa nasionalisme, sehingga para pemuda
meniru sikap tersebut. Para pemuda merupakan peniru yang baik terhadap
lingkungan sekitarnya.

Demokratisasi yang melewati batas etika dan sopan santun dan maraknya
unjuk rasa, telah menimbulkan frustasi di kalangan pemuda dan hilangnya
optimisme, sehingga yang ada hanya sifat malas, egois dan, emosional.
Tertinggalnya Indonesia dengan negara-negara lain dalam segala aspek
kehidupan, membuat para pemuda tidak bangga lagi menjadi bangsa
Indonesia.
Zaman mungkin boleh berubah, semangat zaman yang menyertainya pun
mungkin saja berbeda. Tetapi sekali lagi, akan selalu ada cahaya di ujung
lorong yang gelap jika tetap ada sekelompok pemuda di setiap zaman yang
tidak kehilangan sensitivitas dan kepeduliannya. Dua hal ini merupakan
substansi dari nasionalisme yang dapat dipakai sebagai syarat minimal guna
menakar nasionalisme kaum muda di setiap zaman.

Dalam catatan sejarah, peran serta pemuda selalu hadir dalam setiap fase-fase
perjuangan. Pada saat kebangkitan nasionalisme Indonesia misalnya, muncul
gerakan Boedi Oetomo tahun 1908. Meskipun gerakan ini hanya mencakup
masyarakat Jawa saja, namun gebrakannya tetap menjadi inspirasi bagi
tumbuhnya rasa kebangsaan.

Dalam gerakan ini, sejumlah mahasiswa kedokteran Stovia, Jakarta, yang


sudah muak terhadap para penjajah, bangkit membentuk organisasi yang
membela kaum papa, dengan memberikan pelayanan kesehatan bagi rakyat
yang hidupnya menderita.

Pada tahun 1928, sekali lagi pelajar-pelajar Indonesia yang tengah menimba
ilmu di dalam maupun luar negeri seperti Soepomo, Hatta, Sutan Syahrir dan
Soekarno terus aktif menyuarakan tuntutan kemerdekaan bagi negerinya, lewat
organisasi-organisasi yang tumbuh di awal abad 20. Karena gerakannya itu,
mereka menjadi penghuni langganan penjara-penjara pemerintah kolonial.

Demikian pula pada saat berjuang merebut kemerdekaan, peran nyata para
pemuda pelajar dan mahasiswa sungguh luar biasa keberaniannya. Sehingga
Indonesia mencapai pintu gerbang kemerdekaan. Sebuah momentum yang
sangat dicita-citakan oleh seluruh bangsa Indonesia. Bahkan setelah merdeka,
Indonesia sekali lagi dihadapkan pada sebuah konflik para elit yang cenderung
memecah belah kesatuan nasional, tahun 1966.

Pada saat yang genting seperti ini, kembali pemuda pelajar dan mahasiswa
turun ke jalan menuntut TNI bertindak tegas terhadap anasir-anasir yang
merusak tatanan kehidupan bernegara. Sehingga terjadilah pengalihan
pemerintahan dari Orde Lama ke Orde Baru.

Generasi muda sekarang hidup dalam kondisi yang kondusif, aman dan tidak
ada peperangan lagi. Karena itulah generasi muda sekarang umumnya hanya
santai-santai menikmati hidup, dengan berbagai fasilitas yang sudah tersedia.
Demikian pula dalam bidang pendidikan, kesempatannya sangat besar dan
terbuka lebar. meskipun tidak semuanya memanfaatkan kesempatan ini
dengan sungguh-sungguh, bahkan sedikit sekali. Akibatnya fasilitas dan
kesempatan yang disediakan dengan baik itu jadi mubazir.

Ada juga generasi muda yang masih gemar tawuran dengan sesama. Pemuda
dengan pemuda, pelajar dengan pelajar, mahasiswa dengan mahasiswa atau
kombinasi antar ketiganya. Mahasiswa dengan masyarakat, pelajar dengan
mahasiswa dan seterusnya.

Tindakan ini bukan saja membahayakan keselamatan umum, tapi juga dapat
menimbulkan disintegrasi bangsa, pembelah rasa kebangsaan. Inilah potret
buram generasi muda Indonesia masa kini yang terus terjadi hingga sekarang.
Namun demikian, kita tahu, tidak semuanya buram seperti itu, masih ada
sebagian generasi muda Indonesia yang benar-benar cemerlang.

Mereka adalah orang-orang yang pandai memanfaatkan dengan baik fasilitas


dan kesempatan yang dimilikinya. Sehingga tumbuh menjadi pemuda yang
berprestasi. Merekalah pemuda Indonesia yang mampu bicara di pentas dunia,
baik dalam bidang olah raga, kesenian dan bahkan dalam bidang ilmu
pengetahuan. Mereka layak disebut sebagai patriot bangsa masa kini, yang
kerap mengharumkan nama bangsa di dunia internasional.

Disamping itu, ada juga generasi muda Indonesia yang berprestasi dalam
berbagai bidang, namun sepi dari perhatian publik. Mereka adalah pelajar-
pelajar yang aktif di organisasi-organisasi sekolah, PMR, Pramuka, Paskibra
dan sejumlah kegiatan lainnya. Mereka juga patut dicatat sebagai patriot-patriot
bangsa yang mampu mengisi kemerdekaan dengan karya nyata yang positif
guna kemakmuran bersama.

Jadi, setiap pemuda, pelajar dan mahasiswa dengan segala kelebihan dan
keistimewaannya sangat diharapkan dapat mewujudkan cita-cita nasional
menuju bangsa yang bermartabat dan berdaulat. Tentunya pemuda yang
dimaksud adalah mereka-mereka yang mempunyai jiwa Nasionalisme
didukung dengan komitmen moral dan karya nyata.

Semangat sumpah pemuda yang pernah dideklarasikan oleh pemuda masa


lalu mestinya bisa kembali diterapkan sekarang ini. Karena tidak dapat
dipungkiri bahwa masalah pembangunan dan kedaulatan Indonesia tidak
terlepas dari campur tangan para pemudanya. Karena itu sosok pemuda
diharapkan dapat berperan aktif dalam pembangunan karakter bangsa dan
negara, tidak jauh dari sosok para pemuda pendahulunya. Hanya saja konteks
peran aktif itu mungkin bisa menjadi berbeda dan lebih beragam di zaman
sekarang.

NILAI MORAL
Setiap perubahan perlu energi besar yang lahir daari jiwa yang senantiasa
menggelora khas anak muda, cerminan dari hati yang bersih serta nurani yang
senantiasa berkobar. Jadi bukan munculnya generasi nongkrong yang jadi
persoalan. Namun, intinya adalah ketika sensitivitas krisis dari generasi muda
terus melemah serta kepeduliannya terhadap persoalan-persoalan besar telah
terkikis, maka tunggulah saat dimana pemuda akan semakin menepi dan
terpinggirkan dari panggung sejarah peradaban.

Di situlah letak tantangan yang harus dihadapi oleh kaum muda saat ini
dihadapkan pada berbagai persoalan, baik di tingkat lokal seperti korupsi,
kemiskinan, pengangguran, kemandirian dan lain-lain maupun di tingkat global
seperti isu-isu lingkungan hidup, pemanasan global, terorisme, dan
sebagainya. Itu semua tentu saja tidak bisa bernostalgia dan beromantisan
mengenang masa yang telah berlalu.
ARTIKEL
SEJARAH PERLAWANAN
KESULTANAN TERNATE DAN TIDORE

Disusun oleh
Nama : Aji Bagus Saputro
No : 01
Kelas : XI IPS 2

SMA NEGERI 1 WERU


TAHUN PELAJARAN 2017/2018
SEJARAH PERLAWANAN KESULTANAN TERNATE DAN TIDORE,

1. Perlawanan Kesultanan Ternate dan Tidore


Setelah merebut Malaka pada tahun 1511, Portugis melanjutkan pelayarannya
ke Maluku. Pada tahun 1513, Portugis berhasil menguasai Ternate dan Tidore.
Pada waktu itu, Ternate dan Tidore sedang bermusuhan. Kedua kesultanan
tersebut saling bersaing agar bisa menguasai kawasan Maluku.

Untuk memperoleh kekuatan baru sehingga dapat mengalahkan lawan


maka Ternate bersekutu dan menerima dengan baik kedatangan Portugis.
Bahkan orang-orang Portugis diperbolehkan mendirikan benteng di Ternate.
Dengan bantuan Portugis, Akhirnya Tidore dapat dikalahkan.

Pada tahun 1521, datanglah kapal Spanyol. Armada ini adalah sebagian
dari armada Magelhaens. Kedatangan kapal Spanyol tersebut dianggap sebagai
musuh dan saingan oleh Portugis. Pada tahun 1524, Spanyol datang lagi ke
Maluku. Kedatangan Spanyol diterima dengan baik oleh Kesultanan Tidore.

Pada waktu itulah di Maluku berkembang persaingan tajam antara


Ternate yang bersekutu dengan Portugis dan Tidore yang bersekutu dengan
Spanyol. Akhirnya, pecahlah perang antara Terjate dan Tidore. Pda tahun 1529,
Portugis bersama Ternate menyerang Tidore. Dalam peperangan ini, pasukan
Portugis dan Ternate mengalahkan pasukan Tidore yang didukung Spanyol.

Pada tahun 1534, diadakan perjanjian antara Spanyol dan Portugis untuk
membagi daerah operasi. Perjanjian ini dikenal dengan nama Perjanjian
Tordesillas. Sejak saat itu, kapal-kapal Spnayol tidak lagi berlayar di perairan
Maluku. Dengan demikian, orang-orang Portugis bebas mengembangkan
kekuasaan dan memonopoli perdagangan di Maluku.

Sikap kasar dan motif penyeberangan agama dari orang portugis


menimbulkan rasa tidak senang dikalangan rakyat Maluku. Ternate yang semula
bersekutu dengan Portugis akhirnya memusuhi Portugis. Dala suatu
pertempuran, rakyat Ternate berhasil membakar benteng Portugis. Perlawanan
terhadap Portugis juga datang dari rakyat Tidore. Puncak pertempuran terjadi
setelah diketahui bahwa Sultan Hairun dibunuh oleh Portugis.

Sultan Hairun dibunuh dalam suatu jamuan makan yang


diadakanPortugis pada tahun 1570. Akibat dari peristiwa tersebut, maka di
bawah pimpinan Sultan Baabullah (putra Sultan Hirun), rakyat Maluku
menuntut balas dengan menyerang Portugis. Rakyat Maluku berhasil mengusir
Portugis dari perairan Maluku Utara setelah berperang selama lima tahun
(1570-1575).

Kemenangan Sultan Sultan Baabullah tersebut membawa arti penting


bagi masyarakat Maluku. Secara perlahan-lahan sistem monopoli perdagangan
dihilangkan. Orang-orang Portugis terpaksa pindah ke pulau lain di Ambon
sampai 1605. Secara perlahan, Kedudukan bangsa Portugis di Maluku terdesak
oleh Belanda. Akhirnya, orang-orang Portugis meninggalkan Maluku. Mereka
menetap di Pulau Timor bagian timur (Timor Timur).