Anda di halaman 1dari 16

PEMERIKSAAN SEL-SEL IMUN GRANULOSIT DAN

AGRANULOSIT

==

Nama : Maria Pricilia Gita P.P.


NIM : B1A015068
Rombongan : II
Kelompok :5
Asisten : Dyah Retno Annisa

LAPORAN PRAKTIKUM IMUNOBIOLOGI

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2018
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sistem imun adalah semua mekanisme yang digunakan tubuh untuk


melindungi tubuh terhadap bahaya yang ditimbulkan berbagai bahan dalam
lingkungan hidup (Kresno, 2004). Pertahanan tubuh terhadap patogen terdiri dari
sistem imun alamiah atau nonspesifik yang sudah ada dalam tubuh, dan dapat
bekerja segera bila ada ancaman.Sedangkan sistem imun spesifik baru bekerja
setelah tubuh terpapar dengan mikroorgansime ke dua kali atau lebih. Sistem imun
nonspesifik terdiri dari faktor fisik seperti kulit, selaput lendir, silia, batuk dan
bersin, faktor larut yang terdiri dari faktor biokimia seperti lisozim (keringat),
sekresi sebaseus, asam lambung, laktoferin dan asam neuraminik, faktor humoral
sepeti komplemen, interferon dan CRP. Sedangkan faktor seluler seperti sel fagosit
(mono-dan polimorfonukliar), sel NK, sel mast dan sel basofil.Sistem imun spesifik
terdiri dari faktor humoral seperti berbagai antibodi yang diproduksi oleh sel B dan
faktor seluler sel T. Darah juga memiliki limfosit untuk mengenal konfigurasi asing.
Memori spesifitas dan pengenalan zat asing merupakan dasar dari respon imun.
Faktor lain yang juga mempengaruhi pembentukan respon imun adalah hormon
kortisol. Limfosit dan hormon kortisol akan meningkat jumlahnya seiring dengan
peningkatan jumlah konfigurasi protein asing dalam darah (Mardihasbullah et al.,
2013).
Resistensi dan pemulihan pada infeksi virus bergantung pada interaksiantara
virus dan inangnya.Pertahanan inang bekerja langsung pada virus atausecara tidak
langsung pada replikasi virus untuk merusak atau membunuh sel yang terinfeksi.
Fungsi pertahanan non spesifik inang pada awal infeksi untuk menghancurkan virus
adalah mencegah atau mengendalikan infeksi, kemudianadanya fungsi pertahanan
spesifik dari inang termasuk pada infeksi virus bervariasi bergantung pada virulensi
virus, dosis infeksi, dan jalur masuknya infeksi (Mayer2003).
Sistem imun pada ikan bekerja secara umum seperti sistem imun pada
mamalia.Stimulasi antigenik menginduksi respons imun yang dilakukan
sistemseluler secara bersama-sama diperankan oleh makrofag, limfosit B, dan
limfosit T.Makrofag memproses antigen dan menyerahkannya kepada limfosit.
Limfosit B,yang berperan sebagai mediator imunitas humoral, yang mengalami
transformasimenjadi sel plasma dan memproduksi antibodi. Limfosit T mengambil
peran padaimunitas seluler dan mengalami diferensiasi fungsi yang berbeda
sebagaisubpopulasi (Sharma, 1991).

B. Tujuan

Tujuan praktikum acara ini adalah :


1. Mengetahui sel-sel imun granulosit dan agranulosit beserta fungsi dan
bentuknya.
2. Mengetahui persentase sel-sel imun pada berbagai hewan.
II. MATERI DAN CARA KERJA

A. Materi

Bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah sampe darah (manusia,
mencit, ayam, ikan), pewarna Giemsa, methanol, anti koagulan, alkohol 70%,
akuades, dan minyak imersi.
Alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah object glass, mikroskop
cahaya, jarum injeksi, baki kecil, pipet tetes, dan tissue.

B. Metode

1. Darah diambil, lalu diteteskan ke object glass.


2. Darah diapuskan dengan sudut 45o.
3. Praparat apusan difiksasi dengan methanol selama 5 menit.
4. Diwarnai dengan pewarna Giemsa dan didiamkan selam 30 menit, lalu
dicucikeringanginkan.
5. Ditetesi dengan minyak imersi.
6. Diamati dibawah mikroskop dengan perbesaran 1000x dan dihitung 10
lapang pandang.
7. Persentase sel darah dihitung menggunkan rumus :
∑ sel terhitung
% sel darah = Jumlah total sel x 100%
III. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Tabel 3.1. Hasil Pengamatan Sel-Sel Imun Granulosit dan Agranulosit


Rombongan II

Limfosit Monosit Neutrofil (%) Eosinofil Basofil


Kelompok Preparat
(%) (%) Batang Segmen (%) (%)
1 Ikan 11.1 33.3 0 11.1 11.1 33.3
2 Manusia 66.67 11.11 0 16.67 5.56 0
3 Mencit 67.5 5 2.5 10 2.5 12.5
4 Ikan 85.71 14.28 0 0 0 0
5 Ayam 100 0 0 0 0 0

Perhitungan Kelompok 5 Rombongan II :

∑ sel terhitung
% sel darah = Jumlah total sel x 100%

9
% sel limfosit = 9 x 100% = 100%

Sel darah lainnya = 0%

Limfosit

Limfosit

Gambar 3.1. Hasil Pengamatan Gambar 3.2. Hasil Pengamatan


Sel Darah Ayam Pada Lapang Sel Darah Ayam Pada Lapang
Pandang 1 Pandang 2
Gambar 3.3. Hasil Pengamatan Gambar 3.4 Hasil Pengamatan
Sel Darah Ayam Pada Lapang Sel Darah Ayam Pada Lapang
Pandang 3 Pandang 4

Limfosit

Gambar 3.5. Hasil Pengamatan Gambar 3.6. Hasil Pengamatan


Sel Darah Ayam Pada Lapang Sel Darah Ayam Pada Lapang
Pandang 5 Pandang 6

Limfosit

Limfosit

Limfosit

Gambar 3.7. Hasil Pengamatan Gambar 3.8. Hasil Pengamatan


Sel Darah Ayam Pada Lapang Sel Darah Ayam Pada Lapang
Pandang 7 Pandang 8
Limfosit

Limfosit Limfosit

Gambar 3.9. Hasil Pengamatan Gambar 3.10. Hasil Pengamatan


Sel Darah Ayam Pada Lapang Sel Darah Ayam Pada Lapang
Pandang 9 Pandang 10
B. Pembahasan

Hasil perhitungan kelompok 5 rombongan II menunjukkan bahwa hanya


terdapat limfosit sebanyak 100%. Hasil yang diperoleh dari darah manusia yaitu
basofil 5%, eusinofil 9%, segmen 31%, batang 15%, limfosit 32%, monosit 8%. Hal
tersebut tidak sesuai dengan pernyataan Baratawidjaja (2009) untuk neutrofil segmen
dalam darah berkisar antara 50-70 %, nilai normal neutrofil batang adalah 2-6%,
nilai normal eosinofil antara 1-3%, nilai normal basofil antara 0-1 %, nilai normal
monosit berkisar antara 2-8 % dan nilai normal limfosit adalah sekitar 20-40%
karena didapatkan hasil untuk basofil mencapai 8. Menurut Tyastarini & Saraswati
(2017), rendahnya jumlah limfosit total (Total Lymphocyte Count atau TLC) sebagai
salah satu komponen pemeriksaan darah lengkap rutin memiliki kaitan dengan
malnutrisi sehingga jumlah limfosit dapat digunakan sebagai parameter status nutrisi
dan untuk memprediksi prognosis.
Leukosit memiliki fungsi sistem imun. Sistem imun berisi sel-sel(makrofag,
sel dendrit, sel NK, sel B dan T) dan komponen humoral (antibodi dansitokinin).
Sistem imun dapat mencegah kemajuan kanker dengan mengeliminasi atau menahan
infeksi firal oncogenik, mengubah mileu inflamatori induktif ke tumorgenesis dan
oleh imun mengawasi identifikasi dan merusak perubahan sel sebelummenjadi sel
jahat (Kotla, 2010). Leukosit adalah sel darah yang mengandung inti, disebut juga
sel darah putih.Rata-rata jumlah leukosit dalam darah manusia normal adalah 5000-
3 3
9000/mm , bila jumlahnya lebih dari 10.000/mm , keadaan ini disebut leukositosis,
3
bila kurang dari 5000/mm disebut leukopenia (Agoreyo, 2011).
Leukosit terdiri dari dua golongan utama, yaitu agranular dan granular.
Leukosit agranular mempunyai sitoplasma yang tampak homogen, dan intinya
berbentuk bulat atau berbentuk ginjal.Leukosit granular mengandung granula
spesifik (yang dalam keadaan hidup berupa tetesan setengah cair) dalam
sitoplasmanya dan mempunyai inti yang memperlihatkan banyak variasi dalam
bentuknya. Terdapat 2 jenis leukosit agranular yaitu: limfosit yang terdiri dari sel-sel
kecil dengan sitoplasma sedikit, dan monosit yang terdiri dari sel-sel yang agak
besar dan mengandung sitoplasma lebih banyak. Terdapat 3 jenis leukosit granular
yaitu neutrofil, basofil, dan asidofil (eosinofil) (Effendi, 2003).
Jenis-jenis sel leukosit menurut Hoffbrand (1996), adalah :
1. Granula
a. Neutrofil
Neutrofil (polimorf), sel ini berdiameter 12–15 μm memilliki inti yang khas
padat terdiri atas sitoplasma pucat di antara 2 hingga 5 lobus dengan rangka
tidak teratur dan mengandung banyak granula merah jambu (azuropilik) atau
merah lembayung. Granula terbagi menjadi granula primer yang muncul
pada stadium promielosit, dan sekunder yang muncul pada stadium mielosit
dan terbanyak pada neutrofil matang.Kedua granula berasal dari lisosom,
yang primer mengandung mieloperoksidase, fosfatase asam dan hidrolase
asam lain, yang sekunder mengandung fosfatase lindi dan lisosom
(Hoffbrand & Pettit, 1996). Fungsi utama neutrofil adalah fagositosis dan
mikrobiosidal. Menurut Guyton (1997), neutrofil merupakan salah satu tipe
dari sel darah putih yangberperan penting dalam melindungi tubuh dalam
melawan penyakit dan infeksilewat proses fagositosis. Menurut Dellmann &
Brown (1989), neutrofil merupakan garis pertahanan pertama yang mampu
keluar dari sirkulasi darah menuju jaringan tempat terjadinya peradangan
akibat infeksi bakteri atau agen penyakit lainnya.Fungsi neutrofil terjadi
secara efisien dalam jaringan danefektivitasnya dipengaruhi oleh defisiensi
beberapa komponen selular atau humoral, obat-obatan dan produk toksik
bakterial.
b. Eosinofil
Sel ini serupa dengan neutrofil kecuali granula sitoplasmanya lebih kasar dan
berwarna lebih merah gelap (karena mengandung protein basa) dan jarang
terdapat lebih dari tiga lobus inti. Mielosit eosinofil dapat dikenali tetapi
stadium sebelumnya tidak dapat dibedakan dari prekursor neutrophil Waktu
perjalanan dalam darah untuk eosinofil lebih lama daripada untuk neutropil.
Eosinofil memasuki eksudat peradangan dan nyata memainkan peranan
istimewa pada respon alergi, pada pertahanan melawan parasit dan dalam
pengeluaran fibrin yang terbentuk selama peradangan.(Hoffbrand & Pettit,
1996).
Eosinofil berperan aktif dalam pengaturan respon alergi dan peradanganakut,
infeksi parasit (cacing dan beberapa protozoa), proses koagulasi
danfibrinolisis, antigen-antibodi kompleks, mikoplasma dan ragi (Dellman &
Brown 1989). Menurut Tizard (1988), eosinofil mempunyai dua fungsi
istimewa.Pertama, menyerang dan menghancurkan kutikula larva cacing.
Kedua, dapat menetralkan faktor radang yang dilepaskan oleh sel mast dan
basofil dalam reaksi hipersensitifitas tipe 1. Menurut Raphael (1987),
eosinofil dalam reaksi alergi berperan sebagai pembawa histamin pada reaksi
pertahanan tubuh dimana eosinofil akan tertarik pada daerah radang oleh
faktor kemotaktik eosinofil. Pada jaringan yang mengalami reaksi alergi,
eosinofil cenderung untuk berkumpul. Hal ini menurut Guyton (1997)
disebabkan oleh induksi dari sel mast dan basofil yangikut serta berperan
dalam reaksi alergi dalam pelepasan faktor kemotaktik eosinofil sehingga
terjadi migrasi eosinofil ke jaringan alergik yang meradang.
c. Basofil
Basofil hanya terlihat kadang-kadang dalam darah tepi normal. Diameter
basofil lebih kecil dari neutrofil yaitu sekitar 9-10 μm. Jumlahnya 1% dari
total sel darah putih. Basofil memiliki banyak granula sitoplasma yang
menutupi inti dan mengandung heparin dan histamin. Dalam jaringan, basofil
menjadi “mast cells”.Basofil memiliki tempat-tempat perlekatan IgG dan
degranulasinya dikaitan dengan pelepasan histamin.Fungsinya berperan
dalam respon alergi.(Hoffbrand & Pettit, 1996).
Basofil menurut Tizard (1988) mempunyai fungsi yang menyerupai selmast,
yakni membangkitkan proses peradangan akut pada tempat deposisi
antigendengan melepaskan mediator seperti histamin, bradikinin dan
serotonin untukaktivitas peradangan dan alergi. Menurut Dellman & Brown
(1989), basofil juga ikut berperan dalam metabolisme trigliserida dan
memiliki reseptor untuk IgE dan IgG yang menyebabkan degranulasi melalui
eksositosis. Granula basofilmengandung heparin, histamin, asam hialuron,
kondroitin sulfat, serotonin danbeberapa faktor kemotakti. Heparin berfungsi
untuk mencegah pembekuan darahdan mempercepat pelepasan jaringan
lemak dari darah, sedangkan histamin berfungsi untuk menarik eosinofil
(Ganong, 1995).
2. Tidak Bergranula
a. Monosit
Rupa monosit bermacam-macam, dimana ia biasanya lebih besar daripada
leukosit darah tepi yaitu diameter 16-20 μm dan memiliki inti besar di tengah
oval atau berlekuk dengan kromatin mengelompok. Sitoplasma yang
melimpah berwarna biru pucat dan mengandung banyak vakuola halus
sehingga memberi rupa seperti kaca.Granula sitoplasma juga sering
ada.Prekursor monosit dalam sumsum tulang (monoblas dan promonosit)
sukar dibedakan dari mieloblas dan monosit. (Hoffbrand & Pettit, 1996) .
Monosit di dalam sirkulasi darah diienal sebagai sistem fagositik
mononuclear (mononuclear phagositic system MPS) terhadap infeksi yang
tidak terlalu akut.Monosit memiliki peran penting dalam reaksi imunologi
dengan membentukprotein darisuatu komplemen dan mengeluarkan
substansi yang mempengaruhiterjadiiya proses pemdangan kronis (Swenson
et a1., 1993). Menurut Guyton(1997), monosit di dalam sirkulasi darah
memiliki sedikit kemampuan dalam melawan bahan infeksius, kemudian
masuk ke dalam jaringan untuk menjadi makrofag jaringan. Selain itu,
monosit juga mensekresikan kolagenase, elastase,dan aktivator plasrninogen
yang berguna dalam proses penyembuhan luka dan fagositosis (Tizard,
1988).
b. Limfosit
Sebagian besar limfosit yang terdapat dalam darah tepi merupakan sel kecil
yang berdiameter kecil dari 10μm. Intinya yang gelap berbentuk bundar atau
agak berlekuk dengan kelompok kromatin kasar dan tidak berbatas tegas.
Nukleoli normal terlihat. Sitoplasmanya berwarna biru-langit dan dalam
kebanyakan sel, terlihat seperti bingkai halus sekitar inti. Kira-kira 10%
limfosit yang beredar merupakan sel yang lebih besar dengan diameter 12-16
μm dengan sitoplasma yang banyak yang mengandung sedikit granula
azuropilik. Bentuk yang lebih besar ini dipercaya telah dirangsang oleh
antigen, misalnya virus atau protein asing (Hoffbrand & Pettit, 1996).
Fungsi utama limfosit adalah memproduksi antibodi sebagai
responkekebalan spesifik atau sebagai sel efektor khusus dalam menanggapi
antigenyang melekat pada makrofag. Limfosit memiliki 2 jenis utama yakni,
limfosit Tdan lidosit B. Limfosit B jumlahnya lebih sedikit dibandingkan
limfosit T, hanya sekitar 1-12 % dan berperan dalam reaksi kekebalan
humoral yang akan tumbuh menjadi sel plasma untuk membentuk antibodi
(Tizard, 1988).
Perhitungan leukosit, dipersiapkan apusan darah, gunakan methanol dan
gunakan solusi May Grunwald-Giemsa. Leukosit pada apusan darah dikategorikan
menjadi limfosit, monosit, neutrofil,eosinofil (Akmirza, 2007). Menurut Lagler
(1977), jumlah leukosit dipengaruhi oleh kondisi tubuh, stress, kurang makan atau
disebabkan oleh faktor lain. Penurunan jumlah leukositdapat terjadi karena infeksi
usus, keracunan bakteri, septicoemia, kehamilan, danpartus. Hewan yang terinfeksi
akan mempunyai jumlah leukosit yang banyak,karena leukosit berfungsi melindungi
tubuh dari infeksi.
Fungsi sistem imun menurut Fatmah (2012):
1. Melindungi tubuh dari invasi penyebab penyakit; menghancurkan dan
menghilangkan mikroorganisme atau substansi asing (bakteri, parasit, jamur,
dan virus, serta tumor) yang masuk ke dalam tubuh.
2. Menghilangkan jaringan atau sel yang mati atau rusak (debris sel) untuk
perbaikan jaringan.
3. Mengenali dan menghilangkan sel yang abnormal.
Fungsi sistem imunitas tubuh (immunocompetence) menurun sesuai umur.
Kemampuan imunitas tubuhmelawan infeksi menurun termasuk kecepatan respon
imun dengan peningkatan usia. Hal ini bukan berartimanusia lebih sering terserang
penyakit, tetapi saat menginjak usia tua maka resiko kesakitan meningkat seperti
penyakit infeksi, kanker, kelainan autoimun,atau penyakit kronik. Hal ini
disebabkan oleh perjalanan alamiah penyakit yang berkembang secaralambat dan
gejala-gejalanya tidak terlihat sampai beberapa tahun kemudian. Di samping itu,
produksi imunoglobulin yang dihasilkan oleh tubuh orang tua juga berkurang
jumlahnya sehingga vaksinasi yang diberikan pada kelompok lansia kurang efektif
melawan penyakit. Masalah lain yang muncul adalah tubuh orang tua kehilangan
kemampuan untuk membedakan benda asing yang masuk ke dalam tubuh atau
memang benda itu bagian dari dalam tubuhnya sendiri (Fatmah, 2012).
Menurut Thomas (1983) sel darah putih pada mencit adalah 6,0-12,0 x
106/mm3 dengan rincian neutrofil 12-30%, eosinofil 0.2-4%, basofil 0.03%, limfosit
55- 5% dan monosit 1-12%. Leukosit tidak berwarna, dengan bentuk lonjong sampai
bulat (Lagler et al., 1977). Chinabut et al. (1991) mengelompokkan leukosit menjadi
dua golongan, yaitu agranulosit dan granulosit. Kelompok agranulosit tidak
memiliki butir sitoplasmik spesifik, dan ditandai dengan adanya inti berbentuk
lonjong, bulat dengan lekuk yang khas. Termasuk ke dalam kelompok agranulosit
yaitu limfosit dan monosit. Sedangkan yang termasuk ke dalam kelompok granulosit
yaitu basofil, eosinofil dan heterofil (Dellman & Brown, 1989). Komponen
granulosit pada ikan sama dengan komponen granulosit pada mamalia (Secombes,
1996). Rastogi (1977) melaporkan bahwa jumlah leukosit ikan berkisar antara
20.000-150.000 sel/mm3 darah.Leukosit pada ikan memiliki inti dengan satu, dua
atau lebih gelambir atau segmen (Gudkovs, 1988).
Sebuah studi menunjukkan, bahwa sel T antitumor dalam darah perifer
pasien melanoma dan memberikan strategi noninvasif baru untuk membedah,
mempelajari dan berpotensi memanfaatkan reaktivitas ini secara terapeutik. Seleksi
sel CD8 + PD-1 + T yang beredar, yang merupakan <5% dari semua CD8 + limfosit
darah perifer, mengungkap keberadaan limfosit CD8 + yang menargetkan mutan dan
/ atau berbagi antigen tumor pada semua pasien melanoma yang diteliti. Data ini
mendukung gagasan mengisolasi sel-sel CD8 + PD-1 + atau reseptor sel T
neoantigen spesifik dari populasi ini untuk pengembangan terapi berbasis sel T
personal. Selain itu, sel-sel ini mungkin ditargetkan oleh antibodi pemblokiran PD-
1, dan kontribusinya terhadap efikasi antitumor dari terapi antibodi spesifik PD-1
memerlukan penyelidikan lebih lanjut (Gros et al., 2016).
IV. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa :
1. Sel-sel granulosit terdiri dari sel neutrofil, eosinofil, dan basofil. Sedangkan
sel-sel agranulosit terdiri dari monosit dan linfosit. Sel granulosit dan
agranulosit berperan dalam sel imun non-spesifik.
2. Persentase sel limfosit darah ayam adalah 100%.
DAFTAR REFERENSI

Agoreyo F. O. & Asowata E. O., 2011. Assessment of Total Leukocyte Counts,


During Menstruation.International Journal of Medicine and Medical Sciences,
3(1), pp. 19-21.

Akmirza, A., 2007. Seasonal variation in some haematological parameters in


naturally infected and uninfected roach (Rutilus rutilus) with Cryptobia tincae.
Proc, 1, pp.61-65.

Baratawidjaja, K. G. & Rengganis, I., 2009. Imunologi Dasar edisi ke-8. Jakarta:
Fakultas Kedokteran UI.

Chinabut, S., Limsuwan, C. & Kiswatat, P., 1991. Histology of The Walking Catfish,
Clarias bathracus. Canada: IDRC..

Dellman, H. D. & Brown, E. M., 1989. Buku Teks Histologi Veteriner. Hartono
(Penerjemah). Jakarta: UI Press.

Effendi H. 2003.Telaah kualitas air. Jakarta : Penerbit Kanisius.

Fatmah, 2012. Respons Imunitas Yang Rendah pada Tubuh Manusia Usia Lanjut.
Makara Kesehatan, 10(1), pp.47-53.

Ganong, W. F., 2002. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC.

Gudkovs, N., 1988. Fish Immunology. Fish Disease Refresher Course for
Veterinarians. Proc, 106, pp.531-544.

Guyton, A. C. & Hall J. E., 1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC.

Kotla,V., 2009. Mechanism of action of lenalidomide in hematological


malignancies. Philadelphia: University of Pennsylvania.

Kresno, S. B., 2004. Imunologi: Diagnosis dan Prosedur Laboratorium.


Edisikeempat. Balai Penerbit Fakultas Kedokteran, Jakarta: Universitas
Indonesia.

Lagler, K. F., 1977. Ichtiology 2nd Edition. New York: John Willey and Sons.

Mardihasbullah, E., Idris, M. & Sabilu, K., 2013. Akumulasi Nikel (Ni) Dalam
Darah Ikan Bandeng (Chanos chanos forskal) yang Dibudidayakan di Sekitar
Area Tambang. Jurnal Mina Laut Indonesia, 1(1), pp.1-9.

Mayer, G., 2003. Essential of Animal Physiology. New Delhi: Willley Easterm
Limited.
Marieb, E., 1988. Essentials of Human Anatomy and Physiology.Ed ke-2. California:
The Benjamin/Cummings Pub.

Raphael, S. S., 1987. Lynch's Medical Laboratory Technology.4" Ed. Philadelphia :


W.B.Saunders Company.

Secombes, C. J., 1996. The Nonspecific Immune System: Cellular Defenses.


Dalam:Iwama, G and Nakanishi, T (Eds). San Diego: The Fish Immune
System. AcademicPress.

Sharma, J. M., 1991. Overview of Avian Immune System. Vet Immunol


andImmunopathol, 30, pp.13-17.

Sudoyo, A., 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: FKUI.

Swenson, M. J., 1984. Dukes Physiology of Domestic Animals. Ed-10. Ithaca and
London: Publishing Assciattes a Division of Conall University.

Thomas, V., 1983. Parasitologi perubatan.Ed ke-1. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa
Pustaka.

Tizard, I., 1988. Pengantar Imunologi Veteriner. Ed ke-3. Surabaya: Airlangga


University.