Anda di halaman 1dari 24

KONSEP TEORI

A. PENGERTIAN

Anemia adalah suatu kondisi dimana terjadi penurunan kadar hemoglobin

(Hb) atau sel darah merah (eritrosit) sehingga menyebabkan penurunan kapasitas

sel darah merah dalam membawa oksigen (BPOM, 2011).

Anemia adalah penyakit kurang darah, yang ditandai dengan kadar

hemoglobin (Hb) dan sel darah merah (eritrosit) lebih rendah dibandingkan normal.

Jika kadar hemoglobin kurang dari 14 g/dl dan eritrosit kurang dari 41% pada pria,

maka pria tersebut dikatakan anemia. Demikian pula pada wanita, wanita yang

memiliki kadar hemoglobin kurang dari 12 g/dl dan eritrosit kurang dari 37%, maka

wanita itu dikatakan anemia. Anemia bukan merupakan penyakit, melainkan

merupakan pencerminan keadaan suatu penyakit atau akibat gangguan fungsi

tubuh. Secara fisiologis anemia terjadi apabila terdapat kekurangan jumlah

hemoglobin untuk mengangkut oksigen ke jaringan.

Anemia didefinisikan sebagai penurunan volume eritrosit atau kadar Hb

sampai di bawah rentang nilai yang berlaku untuk orang sehat. Anemia adalah

gejala dari kondisi yang mendasari, seperti kehilangan komponen darah, elemen

tidak adekuat atau kurang nutrisi yang dibutuhkan untuk pembentukan sel darah,

yang mengakibatkan penurunan kapasitas pengangkut oksigen darah dan ada

banyak tipe anemia dengan beragam penyebabnya (Doenges, Jakarta, 2002).

Anemia adalah keadaan dimana jumlah sel darah merah atau konsentrasi

hemoglobin turun dibawah normal (Wong, 2003).


B. KLASIFIKASI ANEMIA

Klasifikasi berdasarkan pendekatan fisiologis:

1. Anemia hipoproliferatif, yaitu anemia defisiensi jumlah sel darah merah

disebabkan oleh defek produksi sel darah merah, meliputi:

a) Anemia aplastik

Penyebab:

 Agen neoplastik/sitoplastik
 Terapi radiasi
 Antibiotic tertentu
 Obat anti konvulsan, tyroid, senyawa emas, fenilbutason
 Benzene
 Infeksi virus (khususnya hepatitis)

Penurunan jumlah sel eritropoitin (sel induk) di sumsum tulang

Kelainan sel induk (gangguan pembelahan, replikasi, deferensiasi)

Hambatan humoral/seluler

Gangguan sel induk di sumsum tulang

Jumlah sel darah merah yang dihasilkan tak memadai

Pansitopenia

Anemia aplastik

Gejala-gejala:

 Gejala anemia secara umum (pucat, lemah, dll)


 Defisiensi trombosit: ekimosis, petekia, epitaksis, perdarahan saluran cerna,

perdarahan saluran kemih, perdarahan susunan saraf pusat.

 Morfologis: anemia normositik normokromik

b) Anemia pada penyakit ginjal

Gejala-gejala:

 Nitrogen urea darah (BUN) lebih dari 10 mg/dl

 Hematokrit turun 20-30%

 Sel darah merah tampak normal pada asupan darah tepi

Penyebabnya adalah menurunnya ketahanan hidup sel darah merah maupun

defisiensi eritopoitin

c) Anemia pada penyakit kronis

Berbagai penyakit inflamasi kronis yang berhubungan dengan anemia jenis

normositik normokromik (sel darah merah dengan ukuran dan warna yang normal).

Kelainan ini meliputi artristis rematoid, abses paru, osteomilitis, tuberkolosis dan

berbagai keganasan

d) Anemia defisiensi besi

Penyebab:

 Asupan besi tidak adekuat, kebutuhan meningkat selama hamil, menstruasi


 Gangguan absorbsi (post gastrektomi)
 Kehilangan darah yang menetap (neoplasma, polip, gastritis, varises

oesophagus, hemoroid, dll.)

gangguan eritropoesis

Absorbsi besi dari usus kurang


sel darah merah sedikit (jumlah kurang)

sel darah merah miskin hemoglobin

Anemia defisiensi besi

Gejala-gejalanya:

 Atropi papilla lidah

 Lidah pucat, merah, meradang

 Stomatitis angularis, sakit di sudut mulut

 Morfologi: anemia mikrositik hipokromik

e) Anemia megaloblastik

Penyebab:

 Defisiensi defisiensi vitamin B12 dan defisiensi asam folat

 Malnutrisi, malabsorbsi, penurunan intrinsik faktor

 Infeksi parasit, penyakit usus dan keganasan, agen kemoterapeutik, infeksi

cacing pita, makan ikan segar yang terinfeksi, pecandu alkohol.


Sintesis DNA terganggu

Gangguan maturasi inti sel darah merah

Megaloblas (eritroblas yang besar)

Eritrosit immatur dan hipofungsi

2. Anemia hemolitika, yaitu anemia defisiensi jumlah sel darah merah

disebabkan oleh destruksi sel darah merah:

 Pengaruh obat-obatan tertentu


 Penyakit Hookin, limfosarkoma, mieloma multiple, leukemia limfositik kronik
 Defisiensi glukosa 6 fosfat dihidrigenase
 Proses autoimun
 Reaksi transfusi
 Malaria


Mutasi sel eritrosit/perubahan pada sel eritrosit

Antigesn pada eritrosit berubah

Dianggap benda asing oleh tubuh

sel darah merah dihancurkan oleh limposit

Anemia hemolisis

Pembagian derajat anemia menurut WHO dan NCI (National Cancer Institute)

DERAJAT WHO NCI


Derajat 0 (nilai normal) > 11.0 g/dL Perempuan 12.0 - 16.0

g/dL

Derajat 1 (ringan) 9.5 - 10.9 g/dL Laki-laki 14.0 - 18.0 g/dL

Derajat 2 (sedang) 8.0 - 9.4 g/dL 10.0 g/dL - nilai normal

Derajat 3 (berat) 6.5 - 7.9 g/dL 8.0 - 10.0 g/dL

Derajat 4 (mengancam < 6.5 g/Dl 6.5 - 7.9 g/dL

jiwa) < 6.5 g/Dl

C. ETIOLOGI:

1. Hemolisis (eritrosit mudah pecah)

2. Perdarahan

3. Penekanan sumsum tulang (misalnya oleh kanker)

4. Defisiensi nutrient (nutrisional anemia), meliputi defisiensi besi, folic acid,

piridoksin, vitamin C dan copper.

Menurut BPOM (2011), Penyebab anemia yaitu:


1. Kurang mengkonsumsi makanan yang mengandung zat besi, vitamin B12,

asam folat, vitamin C, dan unsur-unsur yang diperlukan untuk pembentukan

sel darah merah.

2. Darah menstruasi yang berlebihan. Wanita yang sedang menstruasi rawan

terkena anemia karena kekurangan zat besi bila darah menstruasinya banyak

dan dia tidak memiliki cukup persediaan zat besi.

3. Kehamilan. Wanita yang hamil rawan terkena anemia karena janin menyerap

zat besi dan vitamin untuk pertumbuhannya.

4. Penyakit tertentu. Penyakit yang menyebabkan perdarahan terus-menerus di

saluran pencernaan seperti gastritis dan radang usus buntu dapat

menyebabkan anemia.

5. Obat-obatan tertentu. Beberapa jenis obat dapat menyebabkan perdarahan

lambung (aspirin, anti infl amasi, dll). Obat lainnya dapat menyebabkan

masalah dalam penyerapan zat besi dan vitamin (antasid, pil KB, antiarthritis,

dll).

6. Operasi pengambilan sebagian atau seluruh lambung (gastrektomi). Ini dapat

menyebabkan anemia karena tubuh kurang menyerap zat besi dan vitamin

B12.

D. PATOFISIOLOGI

Adanya suatu anemia mencerminkan adanya suatu kegagalan sumsum atau

kehilangan sel darah merah berlebihan atau keduanya. Kegagalan sumsum

(misalnya berkurangnya eritropoesis) dapat terjadi akibat kekurangan nutrisi,

pajanan toksik, invasi tumor atau penyebab lain yang belum diketahui. Sel darah

merah dapat hilang melalui perdarahan atau hemolisis (destruksi).


Lisis sel darah merah (disolusi) terjadi terutama dalam sel fagositik atau dalam

system retikuloendotelial, terutama dalam hati dan limpa. Hasil samping proses ini

adalah bilirubin yang akan memasuki aliran darah. Setiap kenaikan destruksi sel

darah merah (hemolisis) segera direfleksikan dengan peningkatan bilirubin plasma

(konsentrasi normal ≤ 1 mg/dl, kadar diatas 1,5 mg/dl mengakibatkan ikterik pada

sclera).

Apabila sel darah merah mengalami penghancuran dalam sirkulasi, (pada

kelainan hemplitik) maka hemoglobin akan muncul dalam plasma

(hemoglobinemia). Apabila konsentrasi plasmanya melebihi kapasitas haptoglobin

plasma (protein pengikat untuk hemoglobin bebas) untuk mengikat semuanya,

hemoglobin akan berdifusi dalam glomerulus ginjal dan kedalam urin

(hemoglobinuria).

Kesimpulan mengenai apakah suatu anemia pada pasien disebabkan oleh

penghancuran sel darah merah atau produksi sel darah merah yang tidak

mencukupi biasanya dapat diperoleh dengan dasar:1. hitung retikulosit dalam

sirkulasi darah; 2. derajat proliferasi sel darah merah muda dalam sumsum tulang

dan cara pematangannya, seperti yang terlihat dalam biopsi; dan ada tidaknya

hiperbilirubinemia dan hemoglobinemia.

Anemia

viskositas darah menurun

resistensi aliran darah perifer

penurunan transport O2 ke jaringan

hipoksia, pucat, lemah

beban jantung meningkat

kerja jantung meningkat

payah jantung
TANDA DAN GEJALA

1. Lemah, letih, lesu dan lelah

2. Sering mengeluh pusing dan mata berkunang-kunang

3. Gejala lanjut berupa kelopak mata, bibir, lidah, kulit dan telapak tangan menjadi

pucat. Pucat oleh karena kekurangan volume darah dan Hb, vasokontriksi

4. Takikardi dan bising jantung (peningkatan kecepatan aliran darah) Angina (sakit

dada)

5. Dispnea, nafas pendek, cepat capek saat aktifitas (pengiriman O2 berkurang)

6. Sakit kepala, kelemahan, tinitus (telinga berdengung) menggambarkan berkurangnya

oksigenasi pada SSP

7. Anemia berat gangguan GI (anoreksia, nausea, konstipasi atau diare)

G. PEMERIKSAAN KHUSUS DAN PENUNJANG

1. Pemeriksaan laboratorium

Pemeriksaan Darah:

1. Jumlah darah lengkap (JDL) : hemoglobin dan hematokrit menurun.


2. Jumlah eritrosit : menurun, menurun berat (aplastik); MCV (molume korpuskular

rerata) dan MCH (hemoglobin korpuskular rerata) menurun dan mikrositik

dengan eritrosit hipokronik, peningkatan. Pansitopenia (aplastik).


3. Jumlah retikulosit : bervariasi, misal : menurun, meningkat (respons sumsum

tulang terhadap kehilangan darah/hemolisis).


4. Pewarna sel darah merah : mendeteksi perubahan warna dan bentuk (dapat

mengindikasikan tipe khusus anemia).


5. LED : Peningkatan menunjukkan adanya reaksi inflamasi, misal : peningkatan

kerusakan sel darah merah : atau penyakit malignasi.


6. Masa hidup sel darah merah : berguna dalam membedakan diagnosa anemia,

misal : pada tipe anemia tertentu, sel darah merah mempunyai waktu hidup lebih

pendek.
7. Tes kerapuhan eritrosit : menurun.
8. SDP : jumlah sel total sama dengan sel darah merah (diferensial) mungkin

meningkat (hemolitik) atau menurun (aplastik).


9. Jumlah trombosit : menurun caplastik; meningkat; normal atau tinggi (hemolitik)
10. Hemoglobin elektroforesis : mengidentifikasi tipe struktur hemoglobin.
11. Bilirubin serum (tak terkonjugasi): meningkat (hemolitik).

Folat serum dan vitamin B12 membantu mendiagnosa anemia sehubungan

dengan defisiensi masukan/absorpsi, Besi serum : tak ada; tinggi (hemolitik),

TBC serum : meningkat, Feritin serum : meningkat, Masa perdarahan :

memanjang (aplastik), LDH serum : menurun


12. Aspirasi sumsum tulang/pemeriksaan/biopsi : sel mungkin tampak berubah

dalam jumlah, ukuran, dan bentuk, membentuk, membedakan tipe anemia,

misal: peningkatan megaloblas, lemak sumsum dengan penurunan sel darah

(aplastik).

Pemeriksaan Urine: Tes schilling : penurunan eksresi vitamin B12 urine

Pemeriksaan Feses:
Analisa gaster : penurunan sekresi dengan peningkatan pH dan tak adanya asam

hidroklorik bebas.
2. Pemeriksaan Endoskopik dan Radiografik :
memeriksa sisi perdarahan : perdarahan GI (Doenges, 1999).

H. PENATALAKSANAAN

Penatalaksanaan Farmakologi

1. Anemia aplastik:

 Transplantasi sumsum tulang


 Pemberian terapi imunosupresif dengan globolin antitimosit(ATG)

2. Anemia pada penyakit ginjal

 Pada paien dialisis harus ditangani denganpemberian besi dan asam folat
 Ketersediaan eritropoetin rekombinan

3. Anemia pada penyakit kronis

Kebanyakan pasien tidak menunjukkan gejala dan tidak memerlukan penanganan

untuk aneminya, dengan keberhasilan penanganan kelainan yang mendasarinya, besi

sumsum tulang dipergunakan untuk membuat darah, sehingga Hb meningkat.

4. Anemia pada defisiensi besi

 Dicari penyebab defisiensi besi


 Menggunakan preparat besi oral: sulfat feros, glukonat ferosus dan fumarat

ferosus.

5. Anemia megaloblastik

 Defisiensi vitamin B12 ditangani dengan pemberian vitamin B12, bila difisiensi

disebabkan oleh defekabsorbsi atau tidak tersedianya faktor intrinsik dapat

diberikan vitamin B12 dengan injeksi IM.


 Untuk mencegah kekambuhan anemia terapi vitamin B12 harus diteruskan

selama hidup pasien yang menderita anemia pernisiosa atau malabsorbsi yang

tidak dapat dikoreksi.


 Anemia defisiensi asam folat penanganannya dengan diet dan penambahan asam

folat 1 mg/hari, secara IM pada pasien dengan gangguan absorbsi.

Penatalaksanaan Non Farmakologi

[1] Terapi Non Farmakologi Penyakit Anemia dengan Sayuran

Jika Anda mengalami penyakit anemia usahakan memperbanyak konsumsi

makanan yang banyak mengandung zat besi seperti yang terdapat pada sayuran.
Zat besi yang tinggi akan merangsang pembentukan hemoglobin yang tinggi pula,

contoh sayuran yang banyak mengandung zat besi adalah misal bayam, seledri,

kubis, kol, kangkung, kentang manis. Konsumsilah sayuran tersebut disetiap menu

hidangan makanan Anda setiap hari.

[2] Terapi Non Farmakologi Penyakit Anemia dengan Buah-buahan

Selain Anda memperbanyak konsumsi sayuran untuk meningkatkan kadar zat besi,

Anda juga harus menutrisi tubuh Anda menggunakan buah-buahan. Karena buah

mengandung banyak sekali vitamin, mineral dan berbagai antioksidan yang

berguna untuk meningkatkan hemoglobin dalam darah. buah-buahan yang baik

untuk penderita penyakit anemia adalah buah seperti apel, anggur, semangka,

aprikot, kismis dan buah pulm.

[3] Terapi Non Farmakologi Penyakit Anemia dengan Daging dan Seafood

Orang yang menderita pnyakit anemia sangat memerlukan asupan vitamin B12 dan

asam folat. Karena kedua zat tersebut mampu meningkatkan stamina ataupun sel

darah merah dalam tubuh penderita terebut. Vitamin B12 dan asam folat banyak

terdapat pada daging dan seafood. Sehingga selain Anda mengkonsumsi sayur

dan buah tambahkan juga daging ataupun seafood.

[4] Terapi Non Farmakologi Penyakit Anemia dengan Daun Bawang Merah

Terapi non farmakologi yang terakhir adalah dengan menggunakan daun bawang

merah. Daun ini juga mampu meningkatkan produksi sel darah merah atau

hemoglobin (Hb) dalam darah kita. jika Anda tidak suka memakan daun bawang

secara langsung maka campurkan daun bawang merah tersebut dengan telur

kemudian Anda goreng dan hidangkan sebagai lauk yang lezat.


F. KOMPLIKASI YANG MUNCUL

Komplikasi umum akibat anemia adalah:

1. gagal jantung,

2. kejang.

3. Perkembangan otot buruk ( jangka panjang )

4. Daya konsentrasi menurun

5. Kemampuan mengolah informasi yang didengar menurun

A. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian Keperawatan
a. Identitas

Jenis kelamin: berdasarkan hasil Riskesdas (2013), prevalensi anemia terbesar

18,4% pada laki-laki dan 23,9% pada perempuan.

Umur : Prevalensi tertinggi terdapat pada anak pra sekolah sebesar

47,4%, , anak sekolah 25,4%, wanita hamil 41,8%, wanita tidak

hamil 30,2%, lansia 23,9%, dan terendah pada pria dewasa

sebesar 12,7% (WHO, 2008).

b. Keluhan utama
Pada umumnya keluhan utama yang sering muncul pada kasus anemia yaitu

lemah, letih, lesu, lelah, lalai. Kalau muncul 5 gejala ini, bisa dipastikan

seseorang terkena anemia.


c. Riwayat kesehatan

1.1 Riwayat Kesehatan Dahulu

 Klien pernah mendapatkan atau menggunakan obat-obatan yang

mempengaruhi sumsum tulang dan metabolisme asam folat.


 Riwayat kehilangan darah kronis mis: perdarahan GI kronis, menstruasi

berat(DB), angina, CHF (akibat kerja jantung berlebihan)

 Riwayat endokarditis infektif kronis.

 Riwayat pielonefritis, gagal ginjal.

 Riwayat TB, abses paru.

 Riwayat pekerjaan terpajan terhadap bahan kimia, mis: benzene, insektisida,

fenil butazon, naftalen.

 Riwayat terpajan pada radiasi baik sebagai pengobatan atau kecelakaan.

 Riwayat kanker, terapi kanker.

 Riwayat penyakit hati, ginjal, masalah hematologi, penyakit malabsorbsi, lan

spt: enteritis regional, manifestasi caciong pita, poliendokrinopati, masalah

autoimun.

 Penggunaan anti konvulsan masa lalu / sekarang, antibiotic, agen kemoterapi,

aspirin, obat antiinflamasi, atau anti koagulan.

 Adanya / berulangnya episode perdarahan aktif (DB)

 Pembedahan sebelumnya: splenektomi, eksisi tumor, penggantian katup

prostetik, eksisi bedah duodenum, reseksi gaster, gastrektomi parsial / total.

I.2 Riwayat Kesehatan Sekarang

 Keletihan, kelemahan, malaise umum

 Kebutuhan untuk tidur dan istirahat lebih banyak.

 klien mengatakan bahwa Ia Depresi

 Sakit kepala

 Nyeri mulut & lidah


 Kesulitan menelan

 Dyspepsia, anoreksia

 Klien mengatakan BB menurun

 Nyeri kepala,berdenyut, sulit berkonsentrasi

 Penurunan penglihatan

 Kemampuan untuk beraktifitas menurun

I.3 Riwayat Kesehatan Keluarga

 Kecendrungan keluarga untuk anemia.

 Adanya anggota keluarga yang mendapat penyakit anemia congenital.

 Keluarga adalah vegetarian berat.

 Social ekonomi keluarga yang rendah.

d. Pola ADL
a. Aktivitas / Istirahat
Gejala : Keletihan, kelemahan, malaise umum. Kehilangan produktivitas ;
penurunan semangat untuk bekerja. Toleransi terhadap latihan

rendah. Kebutuhan untuk tidur dan istirahat lebih banyak.


Tanda : Takikardia/ takipnae ; dispnea pada waktu bekerja atau istirahat.

Letargi, menarik diri, apatis, lesu, dan kurang tertarik pada

sekitarnya. Kelemahan otot, dan penurunan kekuatan. Ataksia,

tubuh tidak tegak. Bahu menurun, postur lunglai, berjalan lambat,

dan tanda-tanda lain yang menunujukkan keletihan.


b. Sirkulasi
Gejala : Riwayat kehilangan darah kronik, misalnya perdarahan GI kronis,
menstruasi berat, angina, CHF (akibat kerja jantung berlebihan).

Riwayat endokarditis infektif kronis. Palpitasi (takikardia

kompensasi).
Tanda : TD : peningkatan sistolik dengan diastolik stabil dan tekanan nadi

melebar, hipotensi postural. Disritmia : abnormalitas EKG, depresi

segmen ST dan pendataran atau depresi gelombang T; takikardia.

Bunyi jantung : murmur sistolik. Ekstremitas (warna) : pucat pada

kulit dan membrane mukosa (konjuntiva, mulut, faring, bibir) dan

dasar kuku. (catatan: pada pasien kulit hitam, pucat dapat tampak

sebagai keabu-abuan). Kulit seperti berlilin, pucat (aplastik) atau

kuning lemon terang. Sklera : biru atau putih seperti mutiara.

Pengisian kapiler melambat (penurunan aliran darah ke kapiler dan

vasokontriksi kompensasi) kuku : mudah patah, berbentuk seperti

sendok (koilonikia). Rambut : kering, mudah putus, menipis,

tumbuh uban secara premature.


c. Integritas Ego
Gejala : Keyakinanan agama/budaya mempengaruhi pilihan pengobatan,
misalnya penolakan transfusi darah.
Tanda : Depresi.
d. Eleminasi
Gejala : Riwayat pielonefritis, gagal ginjal. Flatulen, sindrom malabsorpsi.

Hematemesis, feses dengan darah segar, melena. Diare atau

konstipasi. Penurunan haluaran urine.


Tanda : Distensi abdomen.
e. Makanan / Cairan
Gejala : Penurunan masukan diet, masukan diet protein hewani

rendah/masukan produk sereal tinggi. Nyeri mulut atau lidah,

kesulitan menelan (ulkus pada faring). Mual/muntah, dyspepsia,

anoreksia. Adanya penurunan berat badan. Tidak pernah puas

mengunyah atau peka terhadap es, kotoran, tepung jagung, cat,

tanah liat, dan sebagainya.


Tanda : Lidah tampak merah daging/halus (defisiensi asam folat dan

vitamin B12). Membrane mukosa kering, pucat. Turgor kulit : buruk,

kering, tampak kisut/hilang elastisitas. Stomatitis dan glositis

(status defisiensi). Bibir : selitis, misalnya inflamasi bibir dengan

sudut mulut pecah.


f. Neurosensori
Gejala : Sakit kepala, berdenyut, pusing, vertigo, tinnitus, ketidak

mampuan berkonsentrasi. Insomnia, penurunan penglihatan, dan

bayangan pada mata. Kelemahan, keseimbangan buruk, kaki

goyah ; parestesia tangan/kaki klau dikasi sensasi manjadi dingin.


Tanda : Peka rangsang, gelisah, depresi cenderung tidur, apatis. Mental :

tak mampu berespons, lambat dan dangkal. Oftalmik : hemoragis

retina (aplastik). Epitaksis : perdarahan dari lubang-lubang

(aplastik). Gangguan koordinasi, ataksia, penurunan rasa getar,

dan posisi, tanda Romberg positif, paralysis.


g. Nyeri / Kenyamanan
Gejala : Nyeri abdomen samara : sakit kepala.
Tanda : Takipnea, ortopnea, dan dispnea.

h. Keamanan
Gejala : Riwayat pekerjaan terpajan terhadap bahan kimia,. Riwayat

terpajan pada radiasi; baik terhadap pengobatan atau kecelekaan.

Riwayat kanker, terapi kanker. Tidak toleran terhadap dingin dan

panas. Transfusi darah sebelumnya. Gangguan penglihatan,

penyembuhan luka buruk, sering infeksi.


Tanda : Demam rendah, menggigil, berkeringat malam, limfadenopati

umum. Ptekie dan ekimosis (aplastik).


i. Seksualitas
Gejala : Perubahan aliran menstruasi, misalnya menoragia atau amenore.

Hilang libido (pria dan wanita). Imppoten.


Tanda : Serviks dan dinding vagina pucat
e. Pemeriksaan fisik
1. Pernafasan
o Takipnea, orthopnea, dispnea.
2. Kardiologi

o Kardiomegali , Hepatomegali

o Edema perifer

o Takikardi, palpitasi,

3. Sirkulasi
o TD: peningkatan sistolik dengan diastolic stabil & tekanan nadi melebar,

hipotensi postural.
o Bunyi jantung murmur sistolik (DB)
o Ekstremitas: pucat pada kulit, dasar kuku, dan membrane mukosa,
o Sclera biru atau putih seperti mutiara.
o Pengisisan darah kapiler melambat
o Kuku mudah patah dan berbentuk seperti sendok (koilonika) Rambut kering,

mudah putus, menipis, tumbuh uban secara premature

4 Gastrointestinal

o Diare, muntah,

o glositis (peradanagan lidah)

o melena/ hematemesis

5 Neurologi

o Parastesia

o Ataksia

o Koordinasi buruk

o Bingung

6 Integuman
o Mukosa pucat,kering

o Kulit kering

2. Diagnosa Keperawatan
a. Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer b.d penurunan konsentrasi Hb dan

darah yang ditandai dengan nadi lemah, perubahan fungsi motorik,

perubahan karakteristik kulit (warna, elastisitas, rambut, kelembaban, kuku,

sensasi, suhu), perubahan tekanan darah diektremitas, warna tidak kembali

ke tungkai saat tungkai diturunkan, kelambatan penyembuhan luka perifer,

penurunan nadi, edema, nyeri ekstremitas, parastesia, warna kulit pucat saat

elevasi
b. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d anoreksia yang

ditandai dengan kram abdomen, nyeri abdomen, menghindari makanan, BB

20 % atau lebih dibawah BB ideal berikut kerapuhan kapiler, diare, kehilangan

rambut berlebihan, bising usus hiperakif, kurang makan, kurang informasi,

kurang minat pada makanan, penurunan berat badan dengan asupan

makanan adekuat, kesalahan konsepsi, kesalahan informasi, membran

mukosa pucat, ketidakmampuan mencerna makanan, tonus otot menurun,

mengeluh sensasi rasa, mengeluh asupan makanan kurang dari RDA

(Rekomendet Daily Allouance), cepat kenyang setelah mencerna makanan,

sariawan rongga mulut, steatorea, kelemahan otot yang diperlukan, menelan

dan mengunyah
c. Intoleransi aktivitas b.d ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan

oksigen ditandai dengan respons tekanan darah abnormal terhadap

aktivitas,respons frekuensi jantung abnormal terhadap aktivitas, perubahan

EKG yang mencerminkan aritmia, perubahan EKG yang mencerminkan


iekemia, ketidaknyamanan setelah beraktivitas, dyspnea setelah beraktivitas,

menyatakan merasa letih, menyatakan merasa lemah


d. Nyeri akut b.d agens cedera (mis.biologis, fisik, zat kimia, psikologis) yang

ditandai dengan perubahan selera makan, perubahan tekanan darah,

perubahan frekuensi jantung, perubahan frekuensi pernapasan, laporan

isyarat, diaphoresis, perilaku distraksi (mis berjalan mondar-mandir,mencari

orang lain dan atau aktivitas lain,aktivitas yang berulang) mengekpresikan

perilaku (mis gelisah,merengek,menangis, waspada, iritabilitas, mendesah)

perilaku berjaga-jaga melindungi area nyeri, perubahan posisi untuk

menghindari nyeri, sikap tubuh melindungi,focus pada diri sendiri,gangguan

tidur
3. Perencanaan Keperawatan
Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer b.d penurunan konsentrasi Hb dan

darah yang ditandai dengan nadi lemah, perubahan fungsi motorik,

perubahan karakteristik kulit (warna, elastisitas, rambut, kelembaban, kuku,

sensasi, suhu), perubahan tekanan darah diektremitas, warna tidak kembali

ke tungkai saat tungkai diturunkan, kelambatan penyembuhan luka perifer,

penurunan nadi, edema, nyeri ekstremitas, parastesia, warna kulit pucat saat

elevasi.
Goal: Anakakan mempertahankan keefektifan perfusi jaringan perifer selama

dalam perawatan
Objective: Konsentrasi Hb dan darah meningkat dalam batasan normal

selama dalam perawatan


Outcomes: Dalam waktu 1x24 jam anak akan menunjukkan tanda-tanda:
 Nadi tidak lemah (N 70-110 x/mnt)
 Tidak terjadi perubahan fungsi motorik
 Tidak terjadi perubahan karakteristik kulit
 Tidak terjadi perubahan tekanan darah diektremitas (TD normal 70-100

mmHg)
 Tidak edema
 Tidak nyeri (tidak mengeluh nyeri, skala nyeri 0-1 (0-5), tidak meringis,

tidak gelisah)
 Warna kulit tidak pucat
Intervensi
1. jelaskan pada Klien dan keluarga mengenai kondisi penyakit yang

diaalami Klien
R/ Pengetahuan yang cukup dapat membantu dalam kelancaran

pelaksanaan intervensi yang diberikan.


2. Awasi tanda vital, kaji pengisian kapiler, warna kulit/ membran mukosa,

dasar kuku
R/ memberi informasi tentang derajat keadekuatan perfusi jaringan perfusi

jaringan dan membantu menetukan kebutuhan intervensi


3. Catat keluhan rasa dingin, pertahanan suhu lingkungan dan tubuh hangat

sesuai indikasi
R/ vasokontriksi menurunkan sirkulasi perifer,pemberian rasa hangat

harus seimbang dengan kebutuhan pasien


4. Observasi upaya pernafasan
R/ memberi informasi tentang kemampuan pasien bernafas, menentukan

adanya dispneu
5. Berkolaborasi dalam pemberian transfusi,pemeriksaan Hb/Ht, pemberian

oksigen sesuai indikasi


R/ meningkatkan jumlah sel pembawa oksigen agar transport O2 ke

jaringan dapat maksimal.


4. Implementasi Keperawatan
Tindakan keperawatan dilakukan dengan mengacu pada intervensi

keperawatan yang telah dibuat dan disesuaikan dengan kondisi klien.


5. Evaluasi Keperawatan.
Evaluasi keperawatan dilakukan untuk menilai apakah masalah keperawatan

telah teratasi, tidak teratasi atau teratasi sebagian denngan mengacu pada criteria

evaluasi.

DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth. 2002. Buku Ajar keperawtan medikal bedah, edisi 8 vol 3.

Jakarta: EGC.
Carpenito, L.J. 2000. Diagnosa Keperawatan, Aplikasi pada Praktik Klinis, edisi 6.

Jakarta: EGC.

Johnson, M., et all. 2000. Nursing Outcomes Classification (NOC) Second Edition New

Jersey Upper Saddle River

Marlyn E. Doenges, 2002. Rencana Asuhan Keperawatan, Jakarta, EGC.

Patrick Davay, 2002, At A Glance Medicine, Jakarta, EMS.

Santosa, Budi. 2007. Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA 2005-2006. Jakarta:

Prima Medika.

Smeltzer & Bare. 2002. Keperawatan Medikal Bedah II. Jakarta: EGC.

Wilkinson, Judith M. 2006. Buku Saku Diagnosis Keperawatan, edisi 7. EGC : Jakarta.

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN ANEMIA


EMANUEL WATORASAK

PROGRAM PROFESI NURSE

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN CITRA HUSADA MANDIRI

KUPANG

2018