Anda di halaman 1dari 21

PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA

Identifikasi permasalahan pengembangan wilayah di


Kabupaten Banyuasin

Diusun oleh :

Agust Marando V. Sagala


Alhamidi
Amalia Sevira
Dini Septi Wulandari
Ghufran Aditya Ramadhan T.
Syafira Ken Candra Ar-rahmi

PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA

JURUSAN INFRASTRUKTUR KEWILAYAHAN

INSTITUT TEKNOLOGI SUMATERA

2018

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat, taufiq, dan
hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang
membahas tentang identifikasi permasalahan perencanaan wilayah dengan
judul “Identifikasi permasalahan pengembangan wilayah di Kabupaten
Banyuasin” dengan lancar.

Selama proses penulisan penulis banyak mendapatkan bantuan dari pihak-


pihak lain sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan optimal. Pada
kesempatan ini penulis ingin menyampaikan banyak terima kasih kepada
semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian paper ini yaitu:

1. Ir. Tommy Firman, M.Sc., Ph.D., Ir. Tubagus Furqon Sofhani, MSc.,
Ph.D., Ir. Wilmar Salim, MRegDev, Ph.D., Asirin, S.T., M.T., dan
Isye Susana Nurhasanah, S.T., M.Si. (Han) selaku dosen pengampu
mata kuliah Perencanaan Wilayah (PL3261).
2. Orang tua, berkat doa restu, dukungan, semangat, motivasi, dan
kesempatan yang diberikan sehingga kami bisa belajar dan berkarya
dalam menyelesaikan makalah ini.
3. Teman-teman yang telah banyak membantu dalam diskusi sehingga
kelancaran penyusunan makalah ini.

Sekian, semoga makalah ini dapat bermanfaat secara luas. Penulis


menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu
kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penulis harapkan.

Lampung Selatan, 14 Mei 2018

Tim Penulis

2
1 BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pengembangan wilayah digambarkan sebagai upaya membangun dan
mengembangkan suatu wilayah berdasarkan pendekatan keruangan (spasial)
dengan mempertimbangkan aspek sosial budaya, ekonomi, lingkungan fisik,
dan kelembagaan dalam suatu kerangka perencanaan. Seluruh alokasi
pemanfaatan ruang tersebar sesuai dengan potensi dan nilai relatif lokasi
yang mendukungnya. Perkembangan suatu daerah akan terus terjadi sejalan
dengan perkembangan jumlah penduduk, kegiatan sosial ekonomi, dan
infrastruktur yang menyertainya. Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW)
merupakan wujud dari upaya pemerintah untuk menyelaraskan aspek fisik
lahan dengan aspek sosial ekonomi. Namun demikian, kompleksitas
permasalahan sosial ekonomi masyarakat dan upaya meningkatan Pendapat
Asli Daerah (PAD) seringkali melahirkan kebijakan-kebijakan baru yang
kurang memperhatikan aspek fisik lahan sehingga dapat mengganggu
keseimbangan ekosistem. Hal ini dapat mengakibatkan timbulnya bencana
seperti degradasi lahan, banjir, tanah longsor dan sebagainya yang dapat
merugikan generasi sekarang maupun yang akan datang.

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2007 tentang


Penataan Ruang Pasal 3 menyatakan bahwa penyelenggaraan penataan
ruang bertujuan untuk mewujudkan ruang wilayah nasional yang aman,
nyaman, produktif dan berkelanjutan berdasarkan Wawasan Nusantara dan
Ketahanan Nasional. Upaya untuk mencapai tujuan ruang yang aman,
nyaman, produktif dan berkelanjutan dirasakan masih cukup mendapatkan
tantangan yang berat. Hal ini dapat dilihat dari masih banyaknya
permasalahan yang harus tetap diupayakan pemecahannya.

Ruang adalah tempat untuk melangsungkan pengembangan wilayah melalui


upaya penataan ruang yang mempertimbangkan berbagai aspek kehidupan.

3
Sebagai konsekuensi dari pengembangan wilayah, tidak dapat dihindari
adanya penyimpangan pemanfaatan ruang akibat kurangnya kesadaran dan
pengetahuan atau juga penegakan hukum yang tidak tegas, sehingga
berkontribusi terhadap kerusakan lingkungan. Pada situasi terakhir,
semangat untuk pengembangan wilayah seringkali mengabaikan pentingnya
faktor lingkungan. Banyak contoh pembangunan infrastruktur yang
dipaksakan untuk dilaksanakan dengan alasan membuka keterisolasian
daerah ataupun memangkas ekonomi biaya tinggi. Sebut saja mega proyek
Ladia Galaska (Lautan Hindia, Gayo Alas, Selat Malaka) yang ruasnya
membelah kawasan ekosistem leuser, yang diluncurkan oleh Pemerintah
Aceh. Pembangunan yang tidak mempertimbangkan resiko terhadap
penurunan kualitas lingkungan pasca direalisasikannya sebuah pembukaan
ruang baru sudah pasti berakibat pada kerusakan ekosistem yang berdampak
pada masyarakat lokal dan keanekaragaman hayati yang ada.

Sumberdaya alam sebagai karunia dan amanah Tuhan Yang Maha Esa yang
dianugerahkan kepada Bangsa Indonesia merupakan kekayaan alam yang
tak ternilai harganya dan wajib disyukuri. Karunia yang diberikan-Nya
dipandang sebagai amanah, sehingga harus diurus dan dimanfaatkan dengan
akhlak yang mulia dalam rangka beribadah sebagai perwujudan rasa syukur
kepada-Nya. Perilaku manusia dalam pembangunan yang melakukan
eksploitasi sumberdaya alam dengan tidak memperhatikan aspek lingkungan
menyebabkan ruang/wilayah terfragmentasi dan tidak saling mendukung. Di
sisi lain, dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk akan semakin
meningkatkan tekanan terhadap sumberdaya alam yang menjadi wadah
untuk melakukan berbagai aktivitas dalam rangka memenuhi kebutuhan
hidup, salah satunya adalah dengan melakukan perubahan fungsi atau
konversi lahan. Konversi lahan umumnya dilakukan berdasarkan
pertimbangan aspek fisik lahan dan aspek sosial ekonomi. Aspek fisik lahan
(jenis tanah, ketinggian, kelerengan, iklim, geologi, dan lain-lain)
merupakan aspek dasar yang sangat penting karena menyangkut kualitas
lahan. Aspek sosial ekonomi (pertumbuhan penduduk, pergeseran mata
pencaharian, tingkat pendidikan, ketersediaan sarana dan prasarana)

4
merupakan aspek penting lainnya yang menentukan terjadinya konversi
lahan.

Pertimbangan-pertimbangan aspek fisik lahan dan aspek sosial ekonomi


seringkali memiliki prespektif kepentingan yang berbeda. Aspek fisik lahan
lebih mengarah pada kepentingan kelestarian alam sedangkan aspek sosial
ekonomi lebih mengarah pada kesejahteraan sosial masyarakat. Namun
demikian, dalam melakukan konversi lahan kedua kepentingan tersebut
perlu diselaraskan guna dapat memberikan manfaat yang
berkesinambungan.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa Peran dan Fungsi Wilayah dalam Konstelasi Regional?
2. Apa saja isu-isu strategis dalam pengembangan wilayah di
Kabupaten Banyuasin?
3. Bagaimana usulan konsep pengembangan wilayah di Kabupaten
Banyuasin?

1.3 Tujuan dan Manfaat Penulisan


1. Mengetahui Peran dan Fungsi Wilayah dalam Konstelasi Regional.
2. Mengetahui isu-isu strategis dalam pengembangan wilayah di
Kabupaten Banyuasin.
3. Memahami usulan konsep pengembangan wilayah di Kabupaten
Banyuasin.

1.4 Sistematika Penulisan


BAB I PENDAHULUAN
Dalam bab ini akan menguraikan tentang latar belakang, rumusan masalah,
tujuan dan manfaat penulisan dan sistematika penulisan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

5
Pada bab ini berisikan tentang teori-teori yang berkaitan dengan topik atau
masalah penelitian berupa definisi-definisi yang digunakan untuk menjawab
masalah penelitian.

BAB III GAMBARAN UMUM


Bab ini menjelaskan gambaran umum wilayah, potensi pengembangan
wilayah, isu-isu strategis pembangunan atau pengembangan wilayah,
permasalahan pengembangan wilayah dan konstelasi Kabupaten Banyuasin
terhadap WPS dan Provinsi Sumatera Selatan.

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN


Dalam bab ini menjelaskan mengenai Konsep Pengembangan wilayah di
Kabupaten BanyuAsin

BAB V PENUTUP
Pada bab ini akan dijelaskan mengenai kesimpulan dan rekomendasi.

6
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1. Konsep Pengembangan Wilayah

Konsep pengembangan wilayah dimaksudkan untuk


memperkecil kesenjangan pertumbuhan dan ketimpangan
kesejahteraan antar wilayah. Untuk itu pengertian wilayah menjadi
penting dalampembahasan ini. Menurut PPRI No. 47/1997 yang
dimaksudkan dengan wilayah adalah ruang yang merupakan
kesatuan geografis beserta segenap unsur yang terkait padanya yang
batas dan sistemnyaditentukan berdasarkan aspek administratif
dan/atau aspek fungsional tertentu.
Jadi pengembangan wilayah merupakan usaha
memberdayakan pihak terkait (stakeholders) di suatu wilayah dalam
memanfaatkan sumberdaya dengan teknologi untuk memberi nilai
tambah (added value) atas apa yang dimiliki oleh wilayah
administratif/wilayah fungsional dalam rangka meningkatkan
kualitas hidup rakyat di wilayah tersebut. Dengan demikian dalam
jangka panjangnya pengembangan wilayah mempunyai target untuk
pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Cara mencapainya bersandar pada kemampuan sumberdaya manusia
dalam memanfaatkan lingkungan sekitar dan daya tampungnya serta
kemampuan memanfaatkan peralatan pendukung(instrument) yang
ada. Dengan target tersebut dirancang skenario-skenario
tertentu agar kekurangan-kekurangan yang dihadapi dapat
diupayakan melalui pemanfaatan sumberdaya. Apabila konsep
tersebut diterapkan di Indonesia, masih muncul persoalan berupa
kekurangan teknologi untukmengolah sumberdaya yang
ketersediaannya cukup melimpah.
Konsep Marshal Plan yang berhasil menuntun pembangunan
Eropa setelah Perang Dunia II telah mendorong banyak negara

7
berkembang (developing countries) untuk berkiblat dan menerapkan
konsep tersebut. Padahal kenyataan menunjukkan bahwa konsep
tersebut membawa kegagalan dalam menciptakan pembangunan
secara merata antar daerah. Secara geografis misalnya beberapa
pusat pertumbuhan maju secara dramatis, sementara beberapa pusat
pertumbuhan lainnyamasih jauh tertinggal atau jauh dari
kemampuan berkembang.
Kajian pengembangan wilayah di Indonesia selama ini selalu
didekati dari aspek sektoral dan aspek spasial. Pada kajian aspek
sektoral lebih menyatakan ukuran dari aktivitas masyarakat suatu
wilayah dalam mengelola sumberdaya alam yang dimilikinya.
Sementara itu, kajian aspek spasial/keruangan lebih menunjukkan
arah dari kegiatan sektoral atau dimana lokasi serta dimana
sebaiknya lokasi kegiatan sektoral tersebut. Pada aspek inilah Sistem
Informasi Geografi (SIG) mempunyai peran yang cukup strategis,
dikarenakan SIG mampu menyajikan aspekkeruangan/spasial dari
fenomena/fakta yang dikaji (Susilo, K., 2000).

2. Konsep Kawasan Agropolitan

Pendekatan pembangunan ekonomi wilayah yang


mendasarkan pada kebijakan ekonomi lokal dengan salah satu
pendekatannya melalui pengembangan rintisan kawasan agropolitan.
Menurut Friedman dan Douglas (1975) dalam Iqbal dan Anugrah
(2009), Agropolitan berasal kata‘agro’ (pertanian) dan ‘politan’
(kota) diartikan sebagai kota pertanian atau kota di wilayah pertanian
atau pertanian di kawasan kota. Lengkapnya agropolitan adalah kota
pertanian di kawasan kota pertanian yang tumbuh dan berkembang
seiring berjalannya sistem dan usaha agribisnis yang mampu
melayani, mendorong, menarik dan menghela kegiatan
pembangunan pertanian (agribisnis) wilayah sekitarnya. Tujuan
pengembangan kawasan agropolitan adalah untuk meningkatkan

8
pendapatan dan kesejahteraan masyarakat melalui percepatan
pembangunan wilayah dengan meningkatkan keterkaitan desa
dengan kota. Wujudnya yaitu dengan mendorong berkembangnya
sistem dan usaha agribisnis yang berdaya saing, berbasis kerakyatan,
berkelanjutan (tidak merusak lingkungan) dan terdesentralisasi
(wewenang berada pada pemerintah daerah dan masyarakat)
(Deptan, 2002).
Kawasan agropolitan yang dikembangkan merupakan bagian
dari potensi wilayah kabupaten. Pengembangan kawasan melalui
penguatan sentra-sentra produksi pertanian berbasis potensi lokal.
Dengan demikian, kawasan agropolitan mampu memainkan peran
sebagai kawasan
pertumbuhan ekonomi yang berdaya kompetensi
interregional maupun intraregional. Pengembangan juga berorientasi
pada kekuatan pasar yang dilaksanakan melalui pemberdayaan usaha
budidaya dan kegiatan agribisnis hulu sampai dengan hilir.
Pengembangan kawasan ini diharapkan dapat memberikan
kemudahan sistem agribisnis yang utuh dan terintegrasi dengan
penyediaan infrastruktur (sarana dan prasarana) seperti peningkatan
jalan usaha tani, Stasiun Terminal Agribisnis (STA), dan
pembangunan lainnya
yang memadai serta mendukung pengembangan Agribisnis
(Direktorat Jenderal Cipta Karya, 2012).
Karakteristik agropolitan menurut (Nasution, 1998) terdiri
atas lima
kriteria sebagai berikut
1. Agropolitan meliputi kota-kota berukuran kecil
sampai sedang berpenduduk paling banyak 600 ribu jiwa dengan
luas wilayah maksimum 30 hektar.
2. Agropolitan memiliki wilayah belakang (hinterland)
pedesaan penghasil komoditas utama atau unggulan dan beberapa

9
komoditas penunjang sesuai kebutuhan yang selanjutnya
dikembangkan berdasarkan konsep pewilayahan komoditas.
3. Agropolitan memiliki wilayah inti (central land)
tempat dibangunnya agroindustri pengolahan komoditas yang
dihasilkan wilayah pedesaan yang pengembangannya disesuaikan
dengan kondisi alamiah produksi komoditas utama (unggulan).
4. Agropolitan memiliki pusat pertumbuhan yang harus
dapat memperoleh manfaat ekonomi internal bagi perusahaan serta
sekaligus memberikan manfaat eksternal bagi pengembangan
agroindustri secara keseluruhan.
5. Agropolitan mendorong wilayah pedesaan untuk
membentuk satuansatuan usaha secara optimal melalui kebijakan
sistem insentif ekonomi yang rasional.
Pada kawasan agropolitan, masyarakat diharapkan berperan
aktif, sementara fungsi pemerintah adalah sebagai penyedia fasilitas
(fasilitator) dengan fokus pemberdayaan. Pemberdayaan dimaksud
mengandung empat prinsip yaitu :
1. Prinsip kerakyatan – pembangunan diutamakan
sebesar-besarnya bagi kesejahteraan rakyat banyak.
2. Prinsip swadaya – bimbingan dan dukungan
kemudahan fasilitas yang diberikan harus mampu menumbuhkan
sikap keswadayaan dan kemandirian (bukan menciptakan
ketergantungan).
3. Prinsip kemitraan – para pelaku agribisnis
diperlakukan sebagai mitra kerja pembangunan yang berpartisipasi
dalam proses pengambilan keputusan, sehingga dapat menjadikan
mereka sebagai pelaku dan mitra kerja yang aktif dalam kegiatan
pembangunan.
4. Prinsip bertahap dan berkelanjutan – pembangunan
dilaksanakan sesuai dengan potensi dan kemampuan dengan
memperhatikan kelestarian lingkungan.

10
2 BAB III
GAMBARAN UMUM WILAYAH

2.1 Gambaran Umum Wilayah Kab. Banyuasin


Kabupaten Banyuasin adalah salah satu kabupaten di
Provinsi Sumatera Selatan. Kabupaten ini merupakan
pemekaran dari Kabupaten Musi Banyuasin yang terbentuk
berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 6
Tahun 2002.

Kabupaten Banyuasin selain secara geografis mempunyai letak


yang strategis yaitu terletak di jalur lalu lintas antar provinsi juga
mempunyai sumber daya alam yang melimpah. Kabupaten
Banyuasin memiliki luas sekitar 1.183.299 Ha atau sekitar 12,18
% Luas Provinsi Sumatera Selatan dan terbagi menjadi 19
kecamatan. Kecamatan terluas yaitu Kecamatan Banyuasin II
dengan wilayah seluas 3.632,4 Km² atau sekitar 30,70 % dari
luas wilayah Kabupaten Banyuasin. Kecamatan dengan luas
terkecil adalah Kecamatan Sumber Marga Telang dengan
wilayah seluas 174,89 Km² atau sekitar 1,48 % dari luas wilayah
Kabupaten Banyuasin. Secara geografis terletak antara 1°
37’32.12” Sampai 3° 09’15.03”LS dan 104° 02’21.79” Sampai
105°33’38.5”BT dengan batas-batas sebagai berikut Secara
administratif, Kabupaten Banyuasin mempunyai batas-batas
wilayah sebagai berikut :

2.2 Potensi Pengembangan Wilayah


Potensi Ekonomi Wilayah.

PDRB di Kabupaten Banyuasin dengan migas atas dasar harga berlaku


tahun 2008 yaitu sebesar 9.878.661 juta rupiah dan terus mengalami
peningkatan menjadi 11.921.775 juta rupiah ditahun 2010, sehingga

11
pertumbuhan ekonomi Banyuasin dengan migas tahun 2010 sebesar 15%.
Sementara itu pertumbuhan ekonomi Kabupaten Banyuasin melalui nilai
PDRB tanpa migas hingga tahun 2010 tumbuh sebesar 12% dengan jumlah
6.742.686 juta rupiah di tahun 2008 dan meningkat menjadi 8.596.949 juta
rupiah di tahun 2010.

Sektor pertanian merupakan pemberi kontribusi terbesar terhadap PDRB


Kabupaten Banyuasin jika dilihat menurut lapangan usaha atas dasar harga
berlaku yaitu sebesar 30%. Selanjutnya adalah lapangan usaha industri
pengolahan sebesar 27%. Sedangkan lapangan usaha dengan kontribusi
terkecil yaitu pada listrik dan air bersih. Pada tahun 2010, sektor pertanian
memberikan kontribusi sebesar 3.635.805 juta rupiah terhadap PDRB yang
kemudian disusul sektor industri pengolahan (migas dan non migas) yaitu
sebesar 3.229.598 juta rupiah. Sedangkan sektor yang memberikan
kontribusi terkecil adalah sektor listrik, gas dan air bersih yaitu sebesar
4.984 juta rupiah.

2.3 Pemasalahan Pengembangan Wilayah


Kabupaten Banyuasin memiliki beberapa permasalahan dalam
pengembangan wilayah. Berikut adalah permasalahan yang dihadapi oleh
Kab. Banyuasin dalam pengembangan wilayahnya.

1. Permasalahan lingkungan serta sanitasi yang buruk dan air minum.


Belum memadainya tingkat perekonomian masyarakat dan
pemerintah kabupaten menyebabkan prasarana dan sarana sanitasi
belum dapat terpenuhi sehingga mengakibatkan kondisi kesehatan
dan lingkungan dan berdampak pada tingkat produktivitas
masyarakat.
2. Kawasan Kumuh
Kabupaten Banyuasin berdasarkan Peraturan Bupati Banyuasin
tentang Kawasan permukiman kumuh menyatakan bahwa Kawasan
permukiman kumuh di Kab. Banyuasin terdapat sebanyak 11 lokasi
di 7 desa/kelurahan, 6 kecamatan dengan luas total Kawasan
permukiman kumuh sebesar 161,89 Ha. Sehingga perekonomian dan

12
tingkat Pendidikan masyarakat rendah di Kawasan kumuh ini.
Menyebabkan program-program yang revitalisasi dan relokasi
dilakukan tetapi tetap masyarakat tinggal di situ tidak mau pindah.

2.4 Peran dan Fungsi Secara Konstelasi Kab. Banyuasin


Terhadap Wilayah Pengembangan Strategis 6
Wilayah pengembangan strategis merupakan sebuah upaya pembangunan
infrastruktur secara terpadu dengan pendekatan kewilayahan.
Pengembangan infrastruktur terpadu pada wilayah pengembangan strategis
6 ini diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Provinsi
Banten, Provinsi Lampung, dan Provinsi Sumatera Selatan.
Kawasan/koridor MBBPT meliputi 14 Kabupaten/Kota dengan 121
Kecamatan. Dimana luas wilayah dari koridor tersebut seluas 21.449,87
km2. Backbone dari kawasn MBBPT adalah Jalan Toll Trans Sumatera itu
sendiri sebagai aksesibilitas transportasi mulai dari Bakauheni-Terbanggi
Besar-Kayu Agung-Betung-Indralaya-Palembang-Tanjung Api-Api
sepanjang 529,41 km dengan lebar 15 km di kiri dan kanan jalan tol
tersebut. Dari 121 kecamatan yang ada terdapat 17 kabupaten/kota termasuk
dalam koridor tersebut, salah satunya Kabupaten Banyuasin dengan jumlah
penduduk tertinggi ke-6 dari kabupaten lain yang ada di WPS 6 sebesar
811.501 jiwa dan luas wilayah terluas dalam koridor WPS 6. Selain itu,
peringkat ke-7 tertinggi pendapatan domestik regional bruto harga konstan
tahun 2015 dibandingkan dengan kabupaten lainnya yang ada di koridor
wilayah pengembangan strategis 6.

Di dalam sebaran komoditas unggulan pada wilayah pengembangan


strategis 6 tersebut yakni kelapa sawit, karet, tebu, industri dan pariwisata.
Untuk mendukung terwujudnya tujuan dari wilayah pengembangan strategis
6, Kabupaten Banyuasin mendukung dari sisi komoditas unggulan Padi,
Sawit, Karet dan Perikanan. Dalam pengembangan kedepan ditetapkan Kab.
Banyuasin sebagai Kawasan potensial dan strategis dimana dibangunnya
Kawasan ekonomi khusus yaitu Kawasan Tanjung Api-Api. Selain itu, akan
dibangun rusunawa oleh PUPR dan SPAM tersebar di IKK Sembawa, IKK

13
Betung, IKK Talang Kelapa, IKK Mariana, IKK Sei Pinang, IKK Tanjung
Kerang, dan IKK Sri Mulyo dari Cipta Karya PUPR.

Gambar 2.1 Peran dan Fungsi Kab. Banyuasin Dalam WPS 6


Sumber: PUPR, 2018

2.5 Peran dan Fungsi Secara Konstelasi Kab. Banyuasin


Terhadap Provinsi Sumatera Selatan
Dalam Rencana Tata Ruang Provinsi Sumatera Selatan tahun 2010-2030
secara struktur ruang ditetapkan Kabupaten Banyuasin di Kecamatan
Sungsang sebagai Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) dimana memiliki peran
dan fungsi sebagai pusat pemerintahan Kab. Banyuasin yang memiliki
cakupan pelayanan skala kabupaten dan/atau lebih luas lagi. Sedangkan
Kecamatan Pangkal Balai dan Bayung Lencir sebagai Pusat Kegiatan Lokal
(PKL), sebagai pusat perdagangan dan jasa sebagai salah satu jantung
perekonomian di Provinsi Sumatera Selatan yang dekat dengan Kota
Palembang membuat Kab. Banyuasin memiliki peran yang besar dalam
iklim ekonomi yang kondusif. Selain itu, sebagai pusat pengembangan
perikanan dan kelautan, Kab. Banyuasin yang berbatasan langsung dengan
Laut dan dilintasi oleh sungai besar yakni Sungai Musi menyebabkan
potensi perikanan dan salah satu pemasok ikan terbesar di Provinsi
Sumatera Selatan. Kemudian sebagai pusat Transportasi skala

14
nasional/regional, dimana terdapat Kawasan ekonomi khusus yang langsung
terintegrasi dengan pelabuhan yang skala pelayanan pelabuhan hub
nasional. Setelah itu, pusat permukiman dan pelayanan umum serta pusat
industri dimana pusat industri tersebut sebagai faktor kunci pergerakan
ekonomi kedepan sehingga akan ada penambahan nilai pada barang yang
diolah. Sebab barang mentah seperti karet, sawit, padi dan sebagainya
diolah terlebih dahulu di KEK Tanjung Api-Api, lalu setelah menjadi
barang jadi dilakukan pendistribusian baik itu skala nasional maupun
internasional melalui Pelabuhan Tanjung Api-Api ataupun jalur darat
melalui Jalan Tol Trans Sumatera.

Gambar 2.2 Peran dan Fungsi Kab. Banyuasin Dalam Provinsi


Sumatera Selatan
Sumber: Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, 2011

Secara pola ruang Provinsi Sumatera Selatan, Kabupaten Banyuasin


terdapat kawasan hutan lindung seluas 86.056,33 Ha, suaka margasatwa
Padang Sugihan dan Bentayan, Taman Nasional Sembilang dan Hutan Raya
Kemampo sebagai prioritas Nasional, Hutan Produksi Tetap seluas 281.621,

15
30 Ha, Hutan Produksi Terbatas seluas 4.041,53 Ha, Hutan Produksi
Konversi seluas 66.976,81 Ha. Yang harus menjadi perhatian yakni pada
Kawasan lindung harus dijaga sehingga tidak terjadi degradasi Kawasan
lindung di pesisir laut yang menjadi lokasi strategis pengembangan KEK
Tanjung Api-Api dan Pelabuhan Tanjung Carat yang dapat menimbulkan
eksternalitas negative terhadap Kawasan sekitarnya.

16
3 BAB IV
Usulan Konsep Pengembangan

Pada Bab ini menjelaskan tentang konsep apa saja yang dapat digunakan
untuk melakukan pengembangan wilayah di Kabupaten Banyuasin sesuai
dengan hasil analisis potensi yang dimiliki Kabupaten Banyuasin

4.1 Usulan Konsep Pengembangan Wilayah Kabupaten Banyuasin

Perpaduan konsep pengembangan wilayah dengan Konsep Agropolitan dan


Industri di Kabupaten Banyuasin. Hal ini dilihat dari potensi Kabupaten
Banyuasin yang memiliki Agropolitan dan Industri yang sangat berpotensi
untuk membangun perekonomian Kabupaten Banyuasin, sehingga dapat
meningkatkan perekonomian masyarakat dan dapat mengentaskan
kemiskinan dan permukiman kumuh.

3.2 Potensi pendukung pengembangan wilayah


Kabupten Banyuasin memiliki berbagai macam potensi yang dapat di
kembangkan untuk menjadikan wilayah tersebut menjadi kawasan strategis
di Belajasumba . Potensi tersebut seperti pertanian yang memiliki lahan
persawahan seluas 89.389 ha dan perkebunan karet 258.185 ha, kelapa
sawit 142.339 ha dan hutan produksi 350.440 ha. Dari potensi-potensi
pertanian dan perkebunan tersebut Kabupaten Banyuasin bisa
dikembangkan menjadi Wilayah Agropolitian.

Selain Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Banyuasin juga memiliki


potensi sumber daya alam yang besar seperti potensi pertambangan seperti
minyak bumi (83.871,60 MSTB), gas bumi (1.563,01 BSCF), batubara (1,2
milyar ton), emas (10 juta ton), perak (7,5 juta ton), biji besi (800.000
metric ton) yang dapat dimanfaatkan untuk dijadikan modal dasar
membangun pondasi masa depan Banyuasin. Hal tersebut dapat
mengembangkan Kabupaten Banyuasin menjadi kawasan Industri yang
dapat menjadikan wilayah ini menjadi strategis di Belajasumba.

17
3.3 Tahap Pelaksanaan Konsep
Dari hasil analisis potensi Kabupaten Banyuasin memiliki potensi untuk
menjadi kawasna agropolitan dan industry namun untuk pengembangannya
lebih mengarah ke Agropolitan dikarenakan lebih suistanable untuk
kedepannya dibandingkan memanfaatkan potensi sunber daya alam yang
akan habis kedepannya, untuk melaksanakan pengembangan wilayah
tersebut maka dibutuhkan beberapa tahapan-tahapan untuk melaksanakan
konsep tersebut seperti berikut:

1. Data dan Analisis


Pengumpulan data terhadap sektor yang memiliki potensi dalam
pengembangan wilayah yaitu daerah yang memiliki potensi
Agropolitan/
2. Analisis Sosial -Ekonomi
Analisis Sosial-Ekonomi guna mengembangakan potensi Ekonomi
yang sesuai dengan keadaan sosial masyrakat (potensi pertanian
agropolitan)

3. Perencanaan Pembangunan dan membuat rencana aksi


Perencanaan yang mampu menciptakan iklim atau lingkungan
yang kondusif bagi pengembangan usaha, dan menciptakan
struktur perekonomian yang stabil
4. Membuat Program Aksi
Program dimana pemerintah sebagai fasilitator dalam menjalankan
kegiatan pengembangan wilayah
5. Implementasi Aksi
Menjalankan kegiatan pengembangan wilayah dengan
Pemanfataan SD secara optimal.

18
19
4 BAB V
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Kabupaten Banyuasin memiliki beberapa potensi seperti pertanian yang
memiliki lahan persawahan seluas 89.389 ha dan perkebunan karet 258.185
ha, kelapa sawit 142.339 ha dan hutan produksi 350.440 ha, pertambangan,
perikanan, dan lain-lain. Dari potensi serta isu-isu strategis tersebut maka
Kabupaten Banyuasin perlu ditetapkan sebagai kawasan agropolitan. Tetapi
arah pengembangan Kabupaten Banyuasin sendiri masih kearah
pertambangan.

4.2 Rekomendasi
Sebaiknya untuk arah pengembangan Kabupaten Banyuasin sebaiknya
kearah agropolitan karena sudah didukung dengan luasan wilayah pertanian
yang cukup serta dilihat dari penyumbang PDRB tertinggi Kabupaten
Banyuasin sendiri masih ditempati oleh sector pertanian.

20
5 DAFTAR PUSTAKA

Kementerian PUPR. 2018. Ringkasan Profil Wilayah Pengembangan


Strategis 6 (Merak-Bakauheni-Bandar Lampung-Palembang-Tanjung
Api-Api). Jakarta: Pusat Pengembangan Kawasan Strategis PUPR.

Pemerintah Kabupaten Banyuasin. 2016. Rencana Pencegahan dan


Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KPKP)
Kab, Banyuasin. Sungsang: PT. Holistika Primagrahita.

Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan. 2011. Dokumen Rencana Tata


Ruang Provinsi Sumatera Selatan 2010-2030. Palembang: Bappeda
Provinsi Sumatera Selatan.

Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan. 2015. Seri Analisis Pembangunan


Wilayah Provinsi Sumatera Selatan 2015. Palembang: BPS Provinsi
Sumatera Selatan.

21

Anda mungkin juga menyukai