Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN KASUS

SKIZOFRENIA YTT ( F20.9 )

IDENTITAS PASIEN

Nama : Tn.F

Umur: : 30 tahun

Agama : Islam

Suku : : Makassar

Status Perkawinan : Menikah

Pendidikan : SMP

Pekerjaan : Tidak ada

Alamat : Sudiang, Blok J 2 no.3

Tanggal masuk RS : 10 mei 2012

ALLOANAMNESIS

Nama : Hj. S

Umur: : 54 tahun

Hubungan dg pasien : Ibu kandung pasien

RIWAYAT PSIKIATRI

1. RIWAYAT PENYAKIT

a. Keluhan Utama : Mengamuk

b. Riwayat Gangguan Sekarang

 Keluhan dan gejala


Keluhan mengamuk ini dialami sejak 3 bulan yang lalu,tidak terus-menerus,biasanya
apabila ada permintaan pasien yang tidak dikabulkan, seperti membeli rokok. Pasien jika
mengamuk, suka memecahkan barang-barang, namun pasien tidak pernah sampai memukul

1
orang, sebelumnya 4 bulan yang lalu, pasien sering bicara sendiri, dan tidak jelas apa yang
dibicarakan. Hal ini dialami ketika bercerai dengan istrinya 4 bulan yang lalu. Pasien juga
sering mendengar suara-suara bisikan. Suara yang sering mengajak bicara pasien,sehingga
pasien sering mengatakan suara itu suka mengganggunya selama bertahun-tahun, tidak
diketahui jelas yang dibicarakan.

 Hendaya/disfungsi
- Hendaya sosial (+)
- Hendaya pekerjaan (+)
- Hendaya waktu senggang (+)

 Faktor stressor psikososial


Pasien mengalami perubahan prilaku sejak 13 tahun yang lalu,saat itu Bapaknya meninggal
kurang lebih 13 tahun yang lalu, kemudian 4 bulan yang lalu pasien bercerai dengan istrinya
(faktor pencetus).

 Hubungan gangguan sekarang dengan riwayat penyakit fisik dan psikis sebelumnya
ada

c. Riwayat gangguan sebelumnya


Riwayat gangguan jiwa sejak 13 tahun yang lalu, pernah dirawat inap di Klinik
WARAS enam kali, dengan keluhan utama sering bicara sendiri.Terakhir tahun 2009,dirawat
selama 1 bulan kemudian pasien sembuh dan diizinkan pulang oleh dokter yang merawat,
setelah keluar diberikan obat tetapi keluarga tidak mengingat nama dan warna obatnya. hal
ini dialami semenjak bapaknya meninggal.sehingga pasien sering diam dan menyendiri.saat
ini,pasien sudah tidak minum obat dalam 2 tahun terakhir.karena tidak diperhatikan sama ibu
dan istrinya.

Riwayat Trauma (-), Alkohol (-), Merokok (+) 2 bks/hari , Infeksi (-), NAPZA (-),
Kejang (+) sejak usia 6 bulan sering kejang demam,sering berulang sampai usia 5
tahun,setelah usia 5 tahun kejang berhenti.

2
d. Riwayat kehidupan pribadi
 Riwayat Prenatal dan perinatal
Lahir normal, cukup bulan, ditolong oleh dokter. Selama hamil ibunya tidak pernah
sakit dan mengkonsumsi obat ataupun jamu-jamuan.
 Riwayat masa kanak awal ( 1-3 tahun )
Pertumbuhan dan perkembangan normal,sesuai usia.
 Riwayat masa kanak pertengahan dan remaja ( 4-11 tahun )
Pasien masuk SD saat umur 6 tahun.Selama bersekolah pasien dapat mengikuti
pelajaran dengan baik.
- Riwayat masa kanak akhir & remaja ( 12-18 tahun )
Pasien penurut dan mudah bergaul.
Pendidikan terakhir SMP,kemudian berhenti karena pasien lebih memilih membantu
orang tua untuk membuka usaha textile.
- Riwayat masa dewasa
 Riwayat pekerjaan : Pasien setelah tamat SMP,tidak melanjutkan ke jenjang
lebih tinggi karena pasien lebih memilih membantu orang tua untuk membuka
usaha textile.tetapi sejak 10 tahun yang lalu,pasien tidak bekerja,oleh karena
gangguan jiwanya.
 Riwayat perkawinan : Pasien sudah menikah namun kemudian bercerai.

e. Riwayat kehidupan keluarga


 Anak ke 2 dari 4 bersaudara (♂,♂,♂,♀),
 Riwayat keluarga dengan keluhan yang sama tidak ada

f. Situasi sekarang
Saat ini pasien tinggal bersama ibu kandungnya.

g. Persepsi pasien tentang diri sendiri dan lingkungannya.


Pasien merasa dirinya tidak sakit

3
AUTOANAMNESIS

DM : Assalammualaikum pak, perkenalkan nama saya Yuni, Dokter Muda yang bertugas
disini.boleh tahu siapa nama bapak ?
P : Ical
DM : Bagaimana keadaan bapak hari ini ?
P : Baik-baik saja
DM : Umur pak Ical berapa ?
P : 30 tahun
DM : Lahir tahun berapa ?
P : Lupa
DM : Bapak disini sudah berapa lama ?
P : Lupa
DM : Bapak datang kesini,dengan siapa ?
P : Sama golongan saya
DM : Golongan apa maksudnya,pak ?
P : Golongan,saya punya golongan besar, kamu punya pulpen & kertas ? saya mau
kasih golongan,kamu dapat golongan 2 saja.
DM : Untuk apa bapak bagi golongan ?
P : Supaya mudah saja,supaya gampang karena golongan saya besar sekali
DM : berapa Golongan yang bapak buat dan seperti apa ?
P : Banyak,golongan 2 itu saya & istri saya,yang tidak bagus itu golongan bawah.Sudah
tidak usah bertanya,saya mau kertas bikin golongan.
DM : Iya,sebentar saya berikan,tapi coba dulu ceritakan ada kejadian apa sampai bapak
dibawa kemari ?
P : Ada remote di tenggorokan saya,remote itu mengontrol usus saya,saya dibawah
kesini untuk kasih keluar remote itu.
DM : Bapak yakin ada yang kasih masuk remote dilehernya ?
P : Iya,saya yakin.
DM : Apa yang membuat bapak yakin kalau ada remote dilehernya ?
P : Karena saya lihat ada yang kasih masuk,semua ini rekayasa spek,saya diperangkap.
DM : Perangkap apa maksudnya pak ?
P : Rekayasa spek,remote ini perangkap.
DM : Kata bapak ada remote di tenggorokannya bapak,bagaimana remotenya bisa masuk ?
4
P : dikasih masuk saja
DM : Apa yang bapak rasakan,saat remotenya dikasih masuk ?
P : Remotenya bicara terus.
DM : Apa yang dibicarakan sama remotenya ?
P : Tidak jelas,seperti radio rusak,itu rekayasa semua.
DM : Pak,pernah dengar tidak ada suara-suara yang berbisik atau berbicara sama bapak ?
P : Iya,ada
DM : Apa yang dibisikan pak ?
P : Cuma ajak bicara saja,tidak ada lagi
DM : Apa bapak lihat orangnya,yang berbicara sama bapak?
P : Tidak ada
DM : Bapak sebelumnya kerja apa atau aktivitas apa yang dilakukan ?
P : Saya pelihara kelinci,sayang binatang
DM : Jadi bapak beternak ?
DM : Iya,tapi saya kasih orang semua,kan saya playboy,begitu saja.tidak usah lagi
dibahas.
DM : Terakhir sekolah masih ingat,dimana ?
P : Saya berburu domba,saya jambore
DM : Jadi sekolah terakhir apa ?
DM ; Tidak pernah sekolah
DM : Ada informasi katanya bapak sering keluar rumah & memukul ?
P : Saya tidak mau bahas itu,itu masa lalu, saya baik sama kamu
DM : Menurut pak Ical,apa itu panjang tangan ?
P : Itu,panjang tangan, itu pencuri kan.
DM : Kalau tong kosong nyaring bunyinya ?
P : (menunduk kemudian menulis sambil bergumam tidak jelas)
DM : Pak Ical,kalau tong kosong nyaring bunyinya, apa artinya ?
P : Bicara terus baru tidak ada artinya
DM : Pak,kalau ketemu dompet dijalan apa yang akan bapak lakukan ?
P : Kasih polisi, tidak usah susah-susah
DM : Pak Ical,kalau 100 – 7, berapa ?
P : 100 – 7, 93
DM : Kalau 93 – 7, berapa ?
P : lupa
5
DM : Pak Ical,masih ingat nama saya ?
P : (menulis sambil bicara sendiri)
DM : Pak Ical,masih ingat nama saya ?
P : Lupa
Tolong saya ditinggalkan,saya mau menulis golongan
DM : Iya pak,bisa sebentar saya Tanya lagi ?
P : Sudah tidak usah lagi,keluar saja
DM : Iya pak Ical,terima kasih ya
P : Sama-sama.

II. PEMERIKSAAN STATUS MENTAL


a. Deskripsi Umum
1. Penampilan
Tampak seorang pria,wajah sesuai umur,perawakan gemuk, pendek, kulit sawo matang,
memakai kaos lengan panjang, celana selutut, perawatan diri cukup.
2. Kesadaran : Berubah
3. Prilaku dan aktivitas motorik : Autistik, menulis sendiri, bergumam
4. Pembicaraan : Lancar, spontan, intonasi biasa.
5. Sikap terhadap pemeriksa : kurang Kooperatif

b. Keadaan Afektif

1. mood : sulit dinilai


2. Afek : inappropriate
3. Empati : tidak dapat dirabarasakan

C. Fungsi intelektual

1. Taraf pendidikan, pengetahuan umum dan kecerdasan : sesuai taraf pendidikan


2. Daya konsentrasi : cukup
3. Orientasi (waktu,tempat,orang ) : cukup
4. Daya ingat (jangka panjang, jangka pendek, segera ) : cukup
5. Pikiran abstrak : baik
6. Bakat kreatif : tidak ada
7. Kemampuan menolong diri sendiri : kurang

6
d. gangguan persepsi

1. Halusinasi : auditorik (+) mendengar suara – suara bisikan yang tidak jelas.
2. Ilusi : tidak ada
3. Depersonalisasi : tidak ada
4. Derealisasi : tidak ada

e. Proses berpikir

1. Arus pikiran
- Produktivitas : cukup
- Kontinuitas : kadang irelevan,kadang ada asosiasi longgar
- Hendaya berbahasa : tidak ada
2. Isi pikiran
 Preokupasi : sering menyebut spek (spekulasi)/ rekayasa dan suka menulis
golongan.
 Gangguan isi pikiran :

waham bizare : pasien yakin ususnya dikontrol melalui remote kontrol yang
dipasang dilehernya.

f. Pengendalian impuls : terganggu

g. daya nilai
 norma sosial : terganggu
 Uji daya nilai : terganggu
 penilaian realitas : terganggu

h. Tilikan (insight) : derajad 1 (penyangkalan penuh bahwa dirinya sakit)

i. taraf dapat dipercaya : dapat dipercaya

III. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK LANJUT


a. Status internus : TD=110/60 mmhg, N=86x/menit, S=36,6 P=20x/menit

7
b. Status neurologis :
 GCS 15 (E4 M6 V5)
 Tanda rangsang menings : kaku kuduk (-), kernig’s sign (-)
 Pupil bulat, isokor, 2,5 mm
 Refleks cahaya langsung dan tidak langsung dalam batas normal
 Tidak ditemukan reflex patologis
 Sistem saraf otonom dalam batas normal

IV. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA


laki-laki,30 tahun,di bawa ke RSKD Dadi oleh ibunya dengan keluhan mengamuk.
Dialami sejak 3 bulan yang lalu,tidak terus-menerus,biasanya apabila ada permintaan pasien
yang tidak dikabulkan,seperti membeli rokok.sebelumnya 4 bulan yang lalu,pasien sering
bicara sendiri,dan tidak jelas apa yang dibicarakan.hal ini dialami ketika bercerai dengan
istrinya 4 bulan yang lalu. pasien juga sering mendengar suara-suara bisikan. Suara yang
sering mengajak bicara pasien,sehingga pasien sering mengatakan suara itu suka
mengganggunya selama bertahun-tahun, tidak diketahui jelas yang dibicarakan.

Riwayat gangguan jiwa sejak 13 tahun yang lalu. pernah dirawat inap di klinik
WARAS enam kali,dengan keluhan utama sering bicara sendiri.Terakhir tahun 2009,dirawat
selama 1 bulan kemudian pasien sembuh dan diizinkan pulang oleh dokter yang merawat,
setelah keluar diberikan obat tetapi keluarga tidak mengingat nama dan warna. Hal ini
dialami semenjak bapaknya meninggal. pasien sudah tidak minum obat dalam 2 tahun
terakhir, karena tidak diperhatikan sama ibu dan istrinya.

Pada pemeriksaan status mental didapatkan tampak seorang pria,wajah sesuai


umur,perawakan gemuk, pendek, kulit sawo matang, memakai kaos lengan panjang, celana
selutut, perawatan diri cukup, mood sulit dinilai, afek inappropriate dan empati tidak dapat
dirabarasakan.daya nilai,norma sosial dan penilaian realitas terganggu, pasien dalam tilikan
1(merasa dirinya tidak sakit).pengetahuan umum dan kecerdasan sesuai dengan taraf
pendidikan. Orientasi waktu, tempat, dan orang cukup, kemampuan menolong diri sendiri
kurang.

Terdapat halusinasi auditorik berupa sering mendengar suara-suara bisikan dan Suara
yang sering mengajak bicara pasien. Pada proses berfikir, produktivitas cukup, kontinuitas
kadang irelevan, kadang asosiasi longgar. Didapatkan gangguan isi pikir berupa preokupasi

8
yakni sering menyebut spek (spekulasi)/ rekayasa dan suka menulis golongan serta waham
bizard yakni pasien yakin ususnya dikontrol melalui remote kontrol yang dipasang
dilehernya. Pengendalian impuls terganggu, uji daya nilai terganggu dan penilaian realitas
terganggu. Pasien merasa dirinya tidak sakit dan keseluruhan dapat dipercaya.

V. EVALUASI MULTIAKSIAL
a. Aksis I
Berdasarkan alloanamnesa dan autoanamnesa, didapatkan gejala klinik bermakna yaitu
sering bicara sendiri. Keadaan ini menimbulkan penderitaan (distress) dan disability bagi
pasien dan keluarganya sehingga disimpulkan sebagai Gangguan Jiwa. Pada pasien
didapatkan adanya hendaya berat dalam menilai realita berupa halusinasi dan waham
sehingga di golongkan ke dalam Gangguan Psikotik. Pada pemeriksaan status interna dan
status neurologis tidak ditemukan adanya kelainan yang mengindikasikan gangguan medis
umum yang menimbulkan gangguan fungsi otak sehingga penyebab organik dapat
disingkirkan sehingga digolongkan sebagai Gangguan Psikotik non organik.

Pada pasien ditemukan adanya halusinasi auditorik dan gangguan isi pikir berupa
waham bizare yang perlangsungannya lebih dari 1 bulan serta arus pikiran yang irelevan dan
adanya asosiasi longgar sehingga berdasarkan PPDGJ III, pasien ini didiagnosis sebagai
Skizofrenia (F.20). Pada pasien ini telah memenuhi gejala skizofrenia,tetapi tidak dapat
memenuhi kriteria dari beberapa jenis skizofrenia,sehingga didiagnosis dengan Skizofrenia
YTT (F20.9).

b. Aksis II
Ciri kepribadian tidak khas

c. Aksis III
Tidak ada diagnosa

d. Aksis IV
Stressor psikososial yaitu kematian ayahnya dan diperberat oleh perceraian dengan istrinya.

e. Aksis V
GAF scale 50 – 41 ( gejala berat,disability berat )
9
VI. DAFTAR MASALAH
a. Organobiologik : Tidak ditemukan kelainan fisik yang bermakna tetapi diduga ada
ketidakseimbangan neurotransmitter sehingga pasien memerlukan psikofarmaka.

b. Psikologik : Ditemukan hendaya berat dalam menilai realita berupa adanya


halusinasi auditorik,dan tidak mengaku kalau dirinya sakit, sehingga pasien memerlukan
psikoterapi.

c. Sosiologik : Ditemukan adanya hendaya dalam pekerjaan,sosial dan waktu


senggang sehingga memerlukan sosioterapi.

VII. PROGNOSIS
Malam

Faktor pendukung :
 Tidak adanya kelainan organik
 Tidak ada riwayat keluarga dengan keluhan yang sama.

Faktor Penghambat :
 Onset usia muda
 Perlangsungan kronik
 Pasien berobat tidak teratur
 Dukungan keluarga yang kurang

VIII. RENCANA TERAPI

 Psikofarmakoterapi : Haloperidol 5 mg 3 x 1/2

 Psikoterapi suportif
- Konseling : Memberi penjelasan dan pengertian kepada psien sehingga pasien
memahami penyakitnya
- Ventilasi : Memberi pasien kesempatan untuk menceritakan keluhan serta isi hati
pasien.

10
 Sosioterapi : memberikan penjelasan kepada keluarga & orang sekitarnya sehingga
tercipta dukungan social dengan lingkungan yang kondusif untuk membantu proses
penyembuhan pasien serta melakukan kunjungan berkala.

IX. FOLLOW UP
Memantau keadaan umum pasien dan perkembangan penyakitnya secara multi-aksial
serta menilai efektifitas pengobatan serta kemungkinan timbulnya efek samping dari obat
yang diberikan.

X. PEMBAHASAN/TINJAUAN PUSTAKA

Skizofrenia merupakan salah satu dari kelompok psikotik yang di karakteristikkan


dengan gejala positif dan negative dan sering dihubungkan dengan kemunduran penderita
dalam menjalankan fungsinya sehari-hari. Skizofrenia merupakan suatu gangguan jiwa yang
berat yang membebani masyarakat sepanjang hidup penderita, dikarakteristikkan dengan
disorganisasi pikiran, perasaan dan perilaku.

Berdasarkan PPDGJ-III, pedoman diagnostik untuk skizofrenia ditegakkan


berdasarkan: Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas (dan biasanya dua
gejala atau lebih bila gejala-gejala itu kurang tajam atau kurang jelas.

1. “Thought Echo” isi pikiran dirinya sendiri yang berulang atau bergema dalam
kepalanya (tidak keras), dan isi pikiran ulangan, walaupun isinya sama, namun
kualitasnya berbeda.
 “thought insertion or withdrawal” isi pikiran yang asing dari luar masuk kedalam
pikirannya (insertion) atau isi pikirannya diambil keluar oleh sesuatu dari luar dirinya
(withdrawal).
 “Thought broadcasting” isi pikirannya tersiar keluar sehingga orang lain atau umum
mengetahuinya.
2. “Delucion of control” waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu kekuatan tertentu
dari luar.
 “Delucion of influence” waham tentang dirinya tidak berdaya dan pasrah terhadap
suatu kekuatan dari luar.

11
 “Delucion Perception” pengalaman inderawi yang tak wajar, yang bermakna sangat
khas bagi dirinya, biasanya bersifat mistik atau mukjizat.
3. Halusinasi auditorik :
 Suatu halusinasi yang berkomentar secara terus-menerus terhadap perilaku pasien atau
 Mendiskusikan perihal pasien diantara mereka sendiri (diantara berbagai suara yang
berbicara) atau
 Jenis suara halusinasi lain yang berasal dari salah satu bagian tubuh.

4. Waham-waham menetap jenis lainnya, yang menurut budaya setempat dianggap tidak
wajar dan sesuatu yang mustahil, misalnya perihalnya keyakinan agama atau politik tertentu
atau kekuatan dan kemampuan diatas manusia biasa (misalnya mampu mengendalikan cuaca,
atau berkomunikasi dengan makhluk asing dari dunia lain).

Atau paling sedikit 2 gejala ini secara jelas :


5. Halusinasi menetap disertai waham mengambang maupun yang setengah berbentuk
tanpa kandungan efektif yang jelas atau disertai oleh over-valued ideas yang menetap, atau
apabila terjadi setiap hari selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan terus-menerus.
6. Arus pikiran yang terputus (break) atau yang mengalami sisipan (interpolation), yang
berakibat inkoherensi atau pembicaraan yang tidak relevan, atau neologisme;
7. Perilaku katatonik, seperti keadaan gaduh-gelisah (excitement), posisi tubuh tertentu
(posturing), atau fleksibilitas cerea,negativisme, mutisme, dan stupor;
8. Gejala-gejala “negative”, seperti sikap sangat apatis, bicara yang jarang, dan respon
emosional yang menumpul atau tidak wajar, biasanya yang mengakibatkan penarikan diri
dari pergaulan sosial dan menurunnya kinerja social; tetapi harus jelas bahwa semua hal
tersebut tidak disebabkan oleh depresi atau medikasi neuroleptika;

Adanya gejala khas tersebut diatas telah berlangsung selama kurun waktu 1 bulan atau
lebih (tidak berlaku untuk setiap fase nonpsikotik prodromal). ). Harus ada sesuatu perubahan
yang konsisten dan bermakna dalam mutu keseluruhan (overail quality) dari beberapa aspek
perilaku pribadi (personal behavior) dan bermanifestasi sebagai hilangnya minat hidup, hidup
tak bertujuan,tidak berbuat sesuatu, sikap larut dalam diri sendiri (self absorbed attitude) dan
penarikan diri secara sosial.

12
Pasien ini didiagnosis dengan skizofrenia YTT karena ditemukan adanya gejala-gejala
skizofrenia akan tetapi tidak dapat memenuhi kriteria dari beberapa jenis skizofrenia.

Pasien ini juga di diferential diagnosis dengan skizofrenia Hebefrenik oleh karena onset
gangguan jiwa (skizofrenia) terjadi pada umur muda yakni 17 tahun dan ditemukan adanya
afek tidak wajar (inappropriate),senyum sendiri,serta proses pikir mengalami disorganisasi
serta kadang terdapat inkoheren.

Berdasarkan PPDGJ-III,diagnosis Skizofrenia Hebefrenik apabila telah :

 memenuhi kriteria umum untuk diagnosis skizofrenia.


 Diagnosis hebefrenia untuk pertama kali hanya ditegakan pada usia remaja atau dewasa
muda (onset biasanya mulai 15-25 tahun).
 Kepribadian premorbid menunjukan ciri khas : pemalu dan senang menyendiri
(solitary), namun tidak harus demikian untuk menentukan diagnosis.
 Untuk diagnosis hebefrenia yang meyakinkan umumnya diperlukan pengamatan
kontinu selama 2 atau 3 bulan lamanya, untuk memastikan bahwa gambaran yang khas
berikut ini memang bebar bertahan :
- Perilaku yang tidak bertanggung-jawab dan tak dapat diramalkan, serta mannerisme;
ada kecenderungan untuk selalu menyendiri (solitary), dan perilaku menunjukan hampa
tujuan dan hampa perasaan;
- Afek pasien dangkal (shallow) dan tidak wajar (inappropriate), sering disertai oleh
cekikikan (giggling), atau perasaan puas diri (self-satisfied), senyum sendiri (self-
absorbed smiling), atau oleh sikap, tinggi hati (lefty manner), tertawa menyeringai
(grimaces), mannerism, mengibuli secara bersenda gurau (pranks), keluhan
hipokondriakal, dan ungkapan kata yang diluang-ulang (reiterated phrases);
- Proses pikir mengalami disorganisasi dan pembicaraan tak menentu (rambling) serta
inkoheren.
 Gangguan afektif dan dorongan kehendak, serta gangguan proses piker umumnya
menonjol. Halusinasi dan waham mungkin ada tetapi biasanya tidak menonjol (fleeting
and fragmentary delusions and hallucinations). Dorongan kehendak (drive) dan yang
bertujuan (determination) hilang serta sasaran ditinggalkan, sehingga perilaku penderita
memperlihatkan ciri khas, yaitu perilaku tanpa tujuan (aimless) dan tanpa maksud

13
(empty of puspose). Adanya suatu preokupasi yang dangkal dan bersifat dibuat-buat
terhadap agama, filsafat dan tema abstrak lainnya, makin mempersukar orang
memahami jalan pikiran pasien.

Farmakoterapi yang diberikan pada pasien ini adalah Haloperidol 5 mg 3 x ½ sebagai


anti psikosis. Antipsikosis secara umum dibagi menjadi 2 yakni Antipsikosis typical yang
hanya bekerja pada 1 reseptor dan antipsikosis Atypikal yang bekerja pada multi reseptor.
Haloperidol merupakan anti-psikosis tipikal golongan Butyrophenone yang mekanisme
kerjanya adalah memblokade Dopamine pada reseptor pasca-sinaptik neuron di otak,
khususnya di system limbic dan system ekstrapiramidal (dopamine D2 receptor antagonist).

14