Anda di halaman 1dari 22

REFERAT

Skizofrenia Katatonik

Pembimbing

dr. Endang Septiningsih, SpKJ

Disusun Oleh

Marintha Tiffani Ndun

112016355

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN JIWA

PERIODE 14 Agustus 2017 – 16 September 2017

FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA

SMF ILMU KEDOKTERAN JIWA

RSJD AMINO GONDOHUTOMO, SEMARANG

2017

1
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Skizofrenia merupakan gangguan psikotik yang paling sering. Hampir 1 %

penduduk di dunia menderita skizofrenia selama hidup mereka. Gejala skizofrenia

biasanya muncul pada usia remaja akhir atau dewasa muda. Awitan pada laki-laki

biasanya antara 15-25 tahun. Prognosis biasanya lebih buruk pada laki-laki bila

dibandingkan dengan perempuan. Awitan setelah umur 40 tahun jarang terjadi.1

Skizofrenia merupakan penyakit kronik. Sebagian kecil dari kehidupan

mereka berada dalam kondisi akut dan sebagian besar penderita berada lebih lama

dalam fase residual yaitu fase yang memperlihatkan gambaran penyakit yang ringan.

Selama periode residual, pasien lebih menarik diri atau mengisolasi diri, dan aneh.

Gejala-gejala penyakit biasanya terlihat jelas oleh orang lain.1

Skizofrenia suatu deskripsi sindrom dengan variasi penyebab (banyak belum

diketahui) dan perjalanan penyakit (tak selalu bersifat kronis atau deteriorating)

yang luas, serta sejumlah akibat yang tergantung pada perimbangan pengaruh

genetik, fisik, dan sosial budaya. Pada umumnya ditandai oleh penyimpangan yang

fundamental dan karakteristik dari pikiran dan persepsi, serta oleh afek yang tidak

wajar (inappropriate) atau tumpul (blunded). Kesadaran yang jernih (clear

consciousness) dan kemampuan intelektual biasanya tetap terpelihara, walaupun

kemunduran kognitif tertentu dapat berkembang kemudian.2

Skizofrenia adalah sama-sama prevalensinya antara laki-laki dan wanita.

Tetapi, dua jenis kelamin tersebut menunjukkan perbedaan dalam onset dan

2
perjalanan penyakit. Laki-laki mempunyai onset lebih awal daripada wanita. Usia

puncak onset untuk laki-laki adalah 15 sampai 25 tahun; untuk wanita usia puncak

adalah 25 sampai 35 tahun. Onset skizofrenia sebelum usia 10 tahun atau sesudah 50

tahun adalah sangat jarang.3

3
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 DEFINISI

Skizofrenia suatu deskripsi sindrom dengan variasi penyebab (banyak belum

diketahui) dan perjalanan penyakit (tak selalu bersifat kronis atau deteriorating)

yang luas, serta sejumlah akibat yang tergantung pada perimbangan pengaruh

genetik, fisik, dan sosial budaya.2

2.2 EPIDEMIOLOGI

Penelitian insiden pada gangguan yang relatif jarang terjadi, seperti

skizofrenia, sulit dilakukan. Survei telah dilakukan di berbagai negara, namun dan

hampir semua hasil menunjukkan tingkat insiden per tahun skizofrenia pada orang

dewasa dalam rentang yang sempit berkisar antara 0,1 dan 0,4 per 1000 penduduk.

Ini merupakan temuan utama dari penelitian di 10-negara yang dilakukan oleh

WHO. Untuk prevalensi atau insiden skizofrenia di Indonesia belum ditentukan

sampai sekarang, begitu juga untuk tiap-tiap subtipe skizofrenia.4

Prevalensinya antara laki-laki dan perempuan sama, namun menunjukkan

perbedaan dalam onset dan perjalanan penyakit. Laki-laki mempunyai onset yang

lebih awal daripada perempuan. Usia puncak onset untuk laki-laki adalah 15 sampai

25 tahun, sedangkan perempuan 25 sampai 35 tahun. Beberapa penelitian telah

menyatakan bahwa laki-laki adalah lebih mungkin daripada wanita untuk terganggu

oleh gejala negatif dan wanita lebih mungkin memiliki fungsi sosial yang lebih baik

daripada laki-laki. Pada umumnya, hasil akhir untuk pasien skizofrenik wanita

4
adalah lebih baik daripada hasil akhir untuk pasien skizofrenia laki-laki. Skizofrenia

tidak terdistribusi rata secara geografis di seluruh dunia. Secara historis, prevalensi

skizofrenia di Timur Laut dan Barat Amerika Serikat adalah lebih tinggi dari daerah

lainnya.3

2.3 ETIOLOGI

Penyebab skizofrenia sampai sekarang belum diketahui secara pasti. Namun

berbagai teori telah berkembang seperti model diastesis-stres dan hipotesis dopamin.

Model diastesis stres merupakan satu model yang mengintegrasikan faktor biologis,

psikososial dan lingkungan. Model ini mendalilkan bahwa seseorang yang mungkin

memiliki suatu kerentanan spesifik (diastesis) yang jika dikenai oleh suatu pengaruh

lingkungan yang menimbulkan stres, memungkinkan perkembangan gejala

skizofrenia. Komponen lingkungan dapat biologis (seperti infeksi) atau psikologis

(seperti situasi keluarga yang penuh ketegangan).3

Hipotesis dopamin menyatakan bahwa skizofrenia disebabkan oleh terlalu

banyaknya aktivitas dopaminergik. Teori tersebut muncul dari dua pengamatan.

Pertama, kecuali untuk klozapin, khasiat dan potensi antipsikotik berhubungan

dengan kemampuannya untuk bertindak sebagai antagonis reseptor dopaminergik

tipe 2. Kedua, obat-obatan yang meningkatkan aktivitas dopaminergik (seperti

amfetamin) merupakan salah satu psikotomimetik. Namun belum jelas apakah

hiperaktivitas dopamin ini karena terlalu banyaknya pelepasan dopamin atau terlalu

banyaknya reseptor dopamin atau kombinasi kedua mekanisme tersebut. Namun ada

dua masalah mengenai hipotesa ini, dimana hiperaktivitas dopamin adalah tidak

khas untuk skizofrenia karena antagonis dopamin efektif dalam mengobati hampir

5
semua pasien psikotik dan pasien teragitasi berat. Kedua, beberapa data

elektrofisiologis menyatakan bahwa neuron dopaminergik mungkin meningkatkan

kecepatan pembakarannya sebagai respon dari pemaparan jangka panjang dengan

obat antipsikotik. Data tersebut menyatakan bahwa abnormalitas awal pada pasien

skizofrenia mungkin melibatkan keadaan hipodopaminergik.3

Skizofrenia berdasarkan teori dopamin terdiri dari empat jalur dopamin

yaitu:

1. Mesolimbik dopamin pathways: merupakan hipotesis terjadinya gejala

positif pada penderita skizofrenia. Mesolimbik dopamin pathways

memproyeksikan badan sel dopaminergik ke bagian ventral tegmentum area

(VTA) di batang otak kemudian ke nukleus akumbens di daerah limbik. Jalur

ini berperan penting pada emosional, perilaku khususnya halusinasi

pendengaran, waham dan gangguan pikiran. Antipsikotik bekerja melalui

blokade reseptor dopamin ksususnya reseptor dopamin D2. Hipotesis

hiperaktif mesolimbik dopamin pathways menyebabkan gejala positif

meningkat.

2. Mesokortikal dopamin pathways: jalur ini dimulai dari daerah VTA ke

daerah serebral korteks khususnya korteks limbik. Peranan mesokortikal

dopamin pathways adalah sebagai mediasi dari gejala negatif dan kognitif

pada penderita skizofrenia. Gejala negatif dan kognitif disebabkan terjadinya

penurunan dopamin di jalur mesokortikal terutama pada daerah dorsolateral

prefrontal korteks. Penurunan dopamin di mesokortikal dopamin pathways

dapat terjadi secara primer dan sekunder. Penurunan sekunder terjadi melalui

inhibisi dopamin yang berlebihan pada jalur ini atau melalui blokade

6
antipsikotik terhadap reseptor D2. Peningkatan dopamin pada mesokortikal

dapat memperbaiki gejala negatif atau mungkin gejala kognitif.

3. Nigostriatal dopamin pathways: berjalan dari daerah substansia nigra pada

batang otak ke daerah basal ganglia atau striatum. Jalur ini merupakan bagian

dari sistem saraf ekstrapiramidal. Penurunan dopamin di nigostriatal

dopamin pathways dapat menyebabkan gangguan pergerakan seperti yang

ditemukan pada penyakit parkinson yaitu rigiditas, bradikinesia dan tremor.

Namun hiperaktif atau peningkatan dopamin di jalur ini yang mendasari

terjadinya gangguan pergerakan hiperkinetik seperti korea, diskinesia atau

tik.

4. Tuberoinfundibular dopamin pathways: jalur ini dimulai dari daerah

hipotalamus ke hipofisis anterior. Dalam keadaan normal tuberoinfundibular

dopamin pathways mempengaruhi oleh inhibisi dan penglepasan aktif

prolaktin, dimana dopamin berfungsi melepaskan inhibitor pelepasan

prolaktin. Sehingga jika ada gangguan dari jalur ini akibat lesi atau

penggunaan obat antipsikotik, maka akan terjadi peningkatan prolaktin yang

dilepas sehingga menimbulkan galaktorea, amenorea atau disfungsi seksual.4

Selain dopamin, neurotransmiter lainnya juga tidak ketinggalan diteliti

mengenai hubungannya dengan skizofrenia. Serotonin contohnya, karena obat

antipsikotik atipikal mempunyai aktivitas dengan serotonin. Selain itu, beberapa

peneliti melaporkan pemberian antipsikotik jangka panjang menurunkan aktivitas

noradrenergik.5

7
2.4 PEDOMAN DIAGNOSTIK

Menurut PPDGJ III yang merupakan pedoman diagnostik untuk Skizofrenia :

 Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas (dan biasanya

dua gejala atau lebih bila gejala-gejala itu kurang tajam atau kurang jelas):

(a) - Thought echo : isi pikiran diri sendiri yang berulang atau bergema

dalam kepalanya (tidak keras), dan isi pikiran ulangan, walaupun

isinya sama, namun kualitasnya berbeda; atau

- Thought insertion or withdrawal : isi pikiran yang asing dari luar

masuk ke dalam pikirannya (insertion) atau isi pikirannya diambil

keluar oleh sesuatu dari luar dirinya (withdrawal); dan

- Thought broadcasting : isi pikirannya tersiar keluar sehingga orang

lain atau umum mengetahuinya.

(b) - Delusion of control : waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu

kekuatan tertentu dari luar; atau

- Delusion of influence : waham tentang dirinya dipengaruhi oleh

suatu kekuatan tertentu dari luar; atau

- Delusion of passivity : waham tentang dirinya tidak berdaya dan

pasrah terhadap sesuatu kekuatan dari luar.

- Delusional perception : pengalaman inderawi yang tidak wajar,

yang bermakna sangat khas bagi dirinya, biasanya bersifat mistik

atau mukjizat.

(c) Halusinasi auditorik:

- suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus terhadap

perilaku pasien, atau

8
- mendiskusikan perihal pasien diantara mereka sendiri (diantara

berbagai suara yang berbicara).

- jenis suara halusinasi lain yang berasal dari salah satu bagi tubuh

(d) Waham - waham menetap jenis lainnya, yang menurut budaya

setempat dianggap tidak wajar dan sesuatu yang mustahil, misalnya

perihal keyakinan agama atau politik tertentu, atau kekuatan dam

kemampuan diatas manusia biasa (misalnya mampu mengendalikan

cuaca, atau komunikasi dengan makhluk asing dari dunia lain).

 Atau paling sedikit dua gejala dibawah ini yang harus selalu ada secara

jelas:

(a) halusinasi yang menetap dari panca-indera apa saja, apabila disertai

baik oleh waham yang mengambang maupun setengah berbentuk tanpa

kandungan afektif yang jelas, ataupun disertai ide-ide berlebihan (over-

valued ideas) yang menetap, atau apabila terjadi setiap hari selama

berminggu-minggu atau berbulan-bulan terus berulang.

(b) Arus pikiran yang terputus (break) atau mengalami sisipan

(interpolation), yang berakibat inkoherensi atau pembicaraan yang

tidak relevan, atau neologisme;

(c) Perilaku katatonik, seperti keadaan gaduh gelisah (excitement), posisi

tubuh tertentu (posturing), atau fleksibilitas cerea, negativisme,

mutisme, dan stupor;

(d) Gejala-gejala "negatif", seperti sikap sangat apatis, bicara yang jarang,

dan respon emosional yang menumpul atau tidak wajar, biasanya yang

mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan sosial dan menurunnya

9
kinerja sosial; tetapi harus jelas bahwa semua hal tersebut tidak

disebabkan oleh depresi atau medikasi neuroleptika;

 Adanya gejala-gejala khas tersebut diatas telah berlangsung selama kurun

waktu satu bulan atau lebih.

 Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu

keseluruhan (overall quality) dari beberapa aspek kehidupan perilaku pribadi

(personal behaviour),bermanifestasi sebagai hilangnya minat, hidup tak

bertujuan,tidak berbuat sesuatu, sikap larut dalam diri sendir (self absorbed

atitude), dan penarikan diri secara sosial.2

Pada referat ini yang akan dibahas lebih lanjut tentang skizofrenia katatonik,

adapun pedoman diagnostiknya sebagai berikut :

 Memenuhi kriteria umum untuk diagnosis skizofrenia.

 Satu atau lebih dari perilaku berikut ini harus mendominasi gambaran

klinisnya :

(a) Stupor (amat berkurangnya dalam reaktivitas terhadap lingkungan dan

dalam gerakan serta aktivitas spontan) atau mutisme (tidak berbicara)

(b) Gaduh gelisah (tampak jelas aktivitas motorik yang tak bertujuan, yang

tidak dipengaruhi oleh stimuli eksternal )

(c) Menampilkan posisi tubuh tertentu (secara sukarela mengambil dan

mempertahankan posisi tubuh tertentu yang tidak wajar atau aneh)

(d) Negativisme (tampak jelas perlawanan yang tidak bermotif terhadap

semua perintah atau upaya untuk menggerakkan, atau pergerakan kearah

yang berlawanan)

10
(e) Rigiditas ( mempertahankan posisi tubuh yang kaku untuk melawan upaya

menggerakkan dirinya)

(f) Fleksibilitas cerea/ “waxy flexibility” ( mempertahankan anggota gerak

dan tubuh dalam posisi yang dapat dibentuk dari luar), dan

(g) Gejala-gejala lain seperti “command automatism” (kepatuhan secara

otomatis terhadap perintah), dan pengulangan kata-kata serta kalimat-

kalimat.

 Pada pasien yang tidak komunikatif dengan manifestasi perilaku dari

gangguan katatonik, diagnosis skizofrenia mungkin harus ditunda sampai

diperoleh bukti yang memadai tentang adanya gejala-gejala lain. Penting

untuk diperhatikan bahwa gejala-gejala katatonik bukan petunjuk diagnostik

untuk skizofrenia. Gejala katatonik dapat dicetuskan oleh penyakit otak,

gangguan metabolik, atau alkohol dan obat-obatan, serta dapat juga terjadi

gangguan afektif.2

2.5 DIAGNOSIS BANDING

1. Skizofrenia residual

Skizofrenia residual merupakan salah satu diagnosa banding dari

skizofrenia katatonik. PPDGJ-III memberikan pedoman diagnostik untuk

skizofrenia residual yakni harus memenuhi semua kriteria dibawah ini untuk

suatu diagnosis yang meyakinkan:

a. Gejala “negatif” dari skizofrenia yang menonjol, misalnya perlambatan

psikomotorik, aktivitas menurun, afek yang menumpul, sikap pasif dan

ketiadaan inisiatif, kemiskinan dalam kuantitas atau isi pembicaraan,

11
komunikasi non-verbal yang buruk seperti dalam ekspresi muka, kontak

mata, modulasi suara, dan posisi tubuh, perawatan diri dan kinerja sosial

yang buruk.

b. Sedikitnya ada riwayat satu episode psikotik yang jelas dimasa lampau

yang memenuhi kriteria untuk diagnosis skizofrenia.

c. Sedikitnya sudah melampaui kurun waktu satu tahun dimana intensitas

dan frekuensi gejala yang nyata seperti waham dan halusinasi telah sangat

berkurang (minimal) dan telah timbul sindrom negatif dari skizofrenia.2

2. Gangguan katatonik organik

Untuk menegakkan diagnosis gangguan katatonik organik ( F06.1) ini, harus

mengetahui sebelumnya pedoman diagnostik untuk Gangguan mental lainnya

akibat kerusakan dan disfungsi otak dan penyakit fisik (F06) yaitu,

 Adanya penyakit, kerusakan atau disfungsi otak, atau penyakit fisik sistemik

yang diketahui berhubungan dengan salah satu sindrom mental yang

tercantum

 Adanya hubungan waktu (dalam beberapa minggu atau bulan ) antara

perkembangan penyakit yang mendasari dengan timbulnya sindrom mental

 Kesembuhan dari gangguan mental setelah perbaikan atau dihilangkannya

penyebab yang mendasarinya

 Tidak adanya bukti yang mengarah pada penyebab alternatif dari sindrom

mental ini ( seperti pengaruh yang kuat dari riwayat keluarga atau pengaruh

stres sebagai pencetus )

Sedangkan pedoman diagnostik untuk gangguan katatonik organik menurut

PPDGJ-III sebagai berikut,

12
 Kriteria umum tersebut diatas (F06)

 Disertai salah satu dibawah ini :

(a) Stupor (berkurang atau hilang sama sekali gerakan spontan dengan

mutisme parisal atau total, negativisme, dan posisi tubuh yang kaku)

(b) Gaduh gelisah (hipermotilitas yang kasar dengan atau tanpa

kecenderungan untuk menyerang)

(c) Kedua-duanya (silih-berganti secara cepat dan tak terduga dari hipo- ke

hiper-aktivitas). 2

2.6 PENATALAKSANAAN

a. Psikofarmaka

Antipsikosis :

Obat-obatan antipsikosis terbagi menjadi 2 kelompok utama yaitu

Antipsikosis tipikal dan atipikal. Mekanisme obat antipsikosis tipikal adalah

memblokade Dopamin pada reseptor pasca sinaps neuron di otak, khususnya di

sistem limbik dan ekstrapiramidal (Dopamine D2 receptor antagonist),

sehingga efektif untuk gejala positif. Sedangkan obat antipsikosis atipikal di

samping berafinitas terhadap Dopamine D2 Receptors, juga terhadap Serotonin

5 HT2 Receptors (Serotonin-dopamine antagonist) sehingga efektif juga untuk

gejala negative.3,6

Golongan obat anti-psikosis tipikal terbagi menjadi Phenothiazine

(Chlorpromazine,Trifluoperazine,Thiooridazine), Butyrophenone (Haloperidol),

dan Diphenyl-butyl-piperidine ( Pimozide ), sedangkan untuk golongan atipikal

terdiri dari Benzamide (Sulpiride), Dibenzodiazepine

13
(Clozapin,Olanzapin,Quetiapine) dan Benzisoxazole (Risperidon, Aripiprazole).

Haloperidol sering menimbulkan sindroma parkinson, mengatasinya dengan

tablet trihexyphenidyl 3-4x2 mg/hari, SA 0,5-0,75 mg/hari.8

NO NAMA GENERIK SEDIAAN DOSIS ANJURAN

1 Clorpromazine Tablet 25 dan 100 mg, 150 - 600 mg/hari

injeksi 50 mg/ml

2 Haloperidol Tablet 0,5 mg, 1,5 mg,5 mg 5 - 15 mg/hari

Injeksi 5 mg/ml

3 Perfenazin Tablet 2, 4, 8 mg 12 - 24 mg/hari

4 Flufenazin Tablet 2,5 mg, 5 mg 10 - 15 mg/hari

5 Risperidon Tablet 1, 2, 3 mg 2 - 6 mg/hari

6 Pimozid Tablet 1 dan 4 mg 1 - 4 mg/hari

7 Sulpirid Tablet 200 mg 300 - 600 mg/hari

Injeksi 50 mg/ml 1-

4 mg/hari

8 Tioridazin Tablet 50 dan 100 mg 150 - 600 mg/hari

9 Trifluperazin Tablet 1 mg dan 5 mg 10 - 15 mg/hari

10 Levomeprazin Tablet 25 mg 25 - 50 mg/hari

Injeksi 25 mg/ml

11 Flufenazin Inj 25 mg/ml 25 mg/2-4 minggu

dekanoat

Tabel 1:Daftar nama obat generik,sediaan serta dosis anjurannya.(dikutip dari

kepustakaan 7)

14
Pemilihan obat antipsikosis didasarkan atas beberapa pertimbangan yaitu :

- Pada dasarnya semua obat antipsikosis mempunyai efek primer yang sama

pada dosis ekivalen. Perbedaan terutama pada efek sekunder (efek samping :

sedasi, otonomik dan ekstrapiramidal)

- Pemilihan jenis obat mempertimbangkan gejala psikosis yang dominan dan

efek samping obat. Pergantian obat disesuaikan dengan dosis ekivalen.

- Apabila dalam riwayat penggunaan obat antipsikosis sebelumnya, jenis obat

tertentu sudah terbukti efektif dan dapat ditolelir dengan baik, efek

sampingnya, dapat dipilih kembali untuk pemakaian sekarang.

- Apabila gejala negatif lebih menonjol dari pada gejala positif, pilihan

antipsikosis atipikal perlu dipertimbangkan.

Dalam pengaturan dosis perlu mempertimbangkan :

- Onset efek primer (klinis) sekitar 2-4 minggu dan efek sekunder sekitar 2-6

jam

- Waktu paruh 12-14 jam (pemberian obat 1-2x/hari)

- Dosis pagi dan malam dapat berbeda untuk mengurangi dampak efek samping

(dosis pagi kecil, dosis malam lebih besar) sehingga tidak begitu mengganggu

kualitas hidup pasien.

b. Psikoterapi suportif

- Psikoventilasi: Pasien dibimbing untuk menceritakan segala

permasalahannya, apa yang menjadi kekhawatiran pasien kepada therapist,

sehingga therapist dapat memberikan problem solving yang baik dan

mengetahui antisipasi pasien dari faktor faktor pencetus.

15
- Persuasi: Membujuk pasien agar memastikan diri untuk selalu kontrol dan

minum obat dengan rutin.

- Sugesti: Membangkitkan kepercayaan diri pasien bahwa dia dapat sembuh

(penyakit terkontrol).

- Desensitisasi: Pasien dilatih bekerja dan terbiasa berada di dalam lingkungan

kerja untuk meningkatkan kepercayaan diri.6

c. Sosioterapi

Memberikan penjelasan kepada keluarga dan orang-orang sekitarnya sehingga

tercipta dukungan sosial dengan lingkungan yang kondusif untuk membantu

proses penyembuhan pasien serta melakukan kunjungan berkala.6

16
2.7 PROGNOSIS

Prognosis tidak berhubungan dengan tipe apa yang dialami seseorang.

Perbedaan prognosis paling baik dilakukan dengan melihat pada prediktor

prognosis spesifik di tabel berikut3

Prognosis Baik Prognosis Buruk

Onset lambat Onset muda

Faktor pencetus yang jelas Tidak ada faktor pencetus

Onset akut Onset tidak jelas

Riwayat seksual, sosial dan pekerjaan Riwayat seksual , sosial dan

pramorbid yang baik pekerjaan pramorbid yang buruk

Gejala gangguan mood (terutama Perilaku menarik diri, autistik

gangguan depresi

Gejala positif Gejala negatif

Riwayat keluarga gangguan mood Riwayat keluarga skizofrenia

Sistem pendukung yang baik Sistem pendukung yang buruk

Tanda dan gejala neurologis

Riwayat trauma prenatal

Tidak ada remisi dalam 3 tahun

Banyak relaps

Riwayat penyerangan

Table 2. Prediktor Prognosis Spesifik

17
BAB III

KESIMPULAN

3.1 KESIMPULAN

Menurut PPDGJ III yang merupakan pedoman diagnostik untuk Skizofrenia :

 Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas (dan biasanya

dua gejala atau lebih bila gejala-gejala itu kurang tajam atau kurang jelas):

(a) - Thought echo : isi pikiran diri sendiri yang berulang atau bergema

dalam kepalanya (tidak keras), dan isi pikiran ulangan, walaupun

isinya sama, namun kualitasnya berbeda; atau

- Thought insertion or withdrawal : isi pikiran yang asing dari luar

masuk ke dalam pikirannya (insertion) atau isi pikirannya diambil

keluar oleh sesuatu dari luar dirinya (withdrawal); dan

- Thought broadcasting : isi pikirannya tersiar keluar sehingga orang

lain atau umum mengetahuinya.

(b) - Delusion of control : waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu

kekuatan tertentu dari luar; atau

- Delusion of influence : waham tentang dirinya dipengaruhi oleh suatu

kekuatan tertentu dari luar; atau

- Delusion of passivity : waham tentang dirinya tidak berdaya dan pasrah

terhadap sesuatu kekuatan dari luar.

- Delusional perception : pengalaman inderawi yang tidak wajar, yang

bermakna sangat khas bagi dirinya, biasanya bersifat mistik atau

mukjizat.

18
(c) Halusinasi auditorik:

- suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus terhadap

perilaku pasien, atau

- mendiskusikan perihal pasien diantara mereka sendiri (diantara

berbagai suara yang berbicara).

- jenis suara halusinasi lain yang berasal dari salah satu bagi tubuh

(d) Waham - waham menetap jenis lainnya, yang menurut budaya setempat

dianggap tidak wajar dan sesuatu yang mustahil, misalnya perihal

keyakinan agama atau politik tertentu, atau kekuatan dam kemampuan

diatas manusia biasa (misalnya mampu mengendalikan cuaca, atau

komunikasi dengan makhluk asing dari dunia lain).

 Atau paling sedikit dua gejala dibawah ini yang harus selalu ada secara jelas:

(a) halusinasi yang menetap dari panca-indera apa saja, apabila disertai baik

oleh waham yang mengambang maupun setengah berbentuk tanpa

kandungan afektif yang jelas, ataupun disertai ide-ide berlebihan (over-

valued ideas) yang menetap, atau apabila terjadi setiap hari selama

berminggu-minggu atau berbulan-bulan terus berulang.

(b) Arus pikiran yang terputus (break) atau mengalami sisipan

(interpolation), yang berakibat inkoherensi atau pembicaraan yang tidak

relevan, atau neologisme;

(c) Perilaku katatonik, seperti keadaan gaduh gelisah (excitement), posisi

tubuh tertentu (posturing), atau fleksibilitas cerea, negativisme, mutisme,

dan stupor;

19
(d) Gejala-gejala "negatif", seperti sikap sangat apatis, bicara yang jarang,

dan respon emosional yang menumpul atau tidak wajar, biasanya yang

mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan sosial dan menurunnya

kinerja sosial; tetapi harus jelas bahwa semua hal tersebut tidak

disebabkan oleh depresi atau medikasi neuroleptika;

 Adanya gejala-gejala khas tersebut diatas telah berlangsung selama kurun

waktu satu bulan atau lebih.

Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu

keseluruhan (overall quality) dari beberapa aspek kehidupan perilaku pribadi

(personal behaviour),bermanifestasi sebagai hilangnya minat, hidup tak

bertujuan,tidak berbuat sesuatu, sikap larut dalam diri sendir (self absorbed atitude),

dan penarikan diri secara sosial.2

Untuk menegakkan diagnosis skizofrenia katatonik ( F20.2), pedoman

diagnostiknya sebagai berikut :

 Memenuhi kriteria umum untuk diagnosis skizofrenia.

 Satu atau lebih dari perilaku berikut ini harus mendominasi gambaran

klinisnya :

(a) Stupor (amat berkurangnya dalam reaktivitas terhadap lingkungan dan

dalam gerakan serta aktivitas spontan) atau mutisme (tidak berbicara)

(b) Gaduh gelisah (tampak jelas aktivitas motorik yang tak bertujuan, yang

tidak dipengaruhi oleh stimuli eksternal )

(c) Menampilkan posisi tubuh tertentu (secara sukarela mengambil dan

mempertahankan posisi tubuh tertentu yang tidak wajar atau aneh)

20
(d) Negativisme (tampak jelas perlawanan yang tidak bermotif terhadap

semua perintah atau upaya untuk menggerakkan, atau pergerakan kearah

yang berlawanan)

(e) Rigiditas ( mempertahankan posisi tubuh yang kaku untuk melawan

upaya menggerakkan dirinya)

(f) Fleksibilitas cerea/ “waxy flexibility” ( mempertahankan anggota gerak

dan tubuh dalam posisi yang dapat dibentuk dari luar), dan

(g) Gejala-gejala lain seperti “command automatism” (kepatuhan secara

otomatis terhadap perintah), dan pengulangan kata-kata serta kalimat-

kalimat.

 Pada pasien yang tidak komunikatif dengan manifestasi perilaku dari

gangguan katatonik, diagnosis skizofrenia mungkin harus ditunda sampai

diperoleh bukti yang memadai tentang adanya gejala-gejala lain. Penting

untuk diperhatikan bahwa gejala-gejala katatonik bukan petunjuk diagnostik

untuk skizofrenia. Gejala katatonik dapat dicetuskan oleh penyakit otak,

gangguan metabolik, atau alkohol dan obat-obatan, serta dapat juga terjadi

gangguan afektif.2

21
DAFTAR PUSTAKA

1. Amir N. Skizofrenia. In : Elvira S.D, Hadisukanto G Editors. Buku Ajar


Psikiatri. Jakarta; Badan Penerbit FKUI. 2010. p. 170-176.
2. Maslim R. Skizofrenia, Gangguan Skizotipal dan Gangguan Waham. In:
Maslim R Editor. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas
dari PPDGJ-III. Jakarta;Nuh Jaya. 2001. p. 46-57.
3. Kaplan, Sadock, Grebb. Sinopsis Psikiatri Ilmu Pengetahuan Prilaku Psikiatri
Klinis Jilid Satu 7th ed. Jakarta; Binarupa Aksara, 1997. p.699-702,706-
713,720-727,737-740
4. Case Report Session: Skizofrenia Paranoid. Available from URL:
http://www.scribd.com/document_downloads/direct/48786174?extension=do
cx&ft=1338453194&lt=1338456804&uahk=2pl3leYp/vL922aKbpuI1s7VQ
SQ
5. Suhestri T. Skizofrenia Paranoid dan Gangguan Delusional. Available from
url:
http://www.scribd.com/document_downloads/direct/55081569?extension=do
cx&ft=1338453536&lt=1338457146&uahk=Z5DkI9d1JayMU5agsTMYLzv
cAsI
6. Ritonga S.R. Terapi Efektif untuk Skizofrenia Paranoid. Available from url :
http://www.fkumyecase.net/wiki/index.php?page=Terapi+Efektif+untuk+Ski
zofrenia+Paranoid
7. Irwan M,dkk. Penatalaksanaan skizofrenia. Available from url :
(Http://yayanakhyar.wordpress.com)
8. Maslim R. Penggunaan Klinis Obat Psikotropik 3rd Ed. Jakarta; Nuh Jaya.
2007. p. 10-22.

22