Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pada zaman sekarang ini perkembangan peralatan diagnostik


sangat pesat khususnya dalam bidang radiologi. Radiologi sendiri
berkonsetrasi pada pemeriksaan yang dilakukan dengan modalitas seperti
x-ray konvensional, fluoroscopy, CT scan, USG, PET, dan MRI.
Modalitas-modalitas tersebut memiliki fungsi masing-masing yang dapat
memenuhi kebutuhan diagnostik. Modalitas seperti x-ray dan CT scan
dapat menghasilkan sebuah gambaran organ tubuh manusia dengan cara
memancarkan sinar radiasi, yang kemudian akan diterima oleh sebuah
detektor dan akan menghasilkan sebuah gambaran tubuh manusia dan
dapat diamati berbagai kelainan yang mengenainya.

Pencitraan (imaging) khususnya untuk trakrus urogenital


merupakan pemeriksaan yang essential dalam proses diagnose dan terapi
penyakit urologi. Dengan pemeriksaan ini didapatkan informasi tentang
anatomi,fungsi dan fisiologi traktus urinarius. Pencitraan traktu
urinarius konvensional salah satunya adalah pemeriksaan APG.

APG adalah pencitraan ureter dengan jalan memasukkan kontras


melalui kateter nephrostomi. APG sendiri merupakan pemeriksaan
kontras yang sudah lama namun keberadaanya masih sangat dibutuhkan
untuk penunjang diagnostik. Di Instalasi Radiologi IGD RSUD dr.
Soetomo Surabaya masih sering dilakukan pemeriksaan ini dengan
menggunakan fluoroscopy.

Dari masih seringnya dilakukan pemeriksaan ini menimbulkan rasa


ingin tahu yang tinggi bagi penulis untuk mengkaji kasus tentang APG
dengan klinis Uropati Obstruktif dengan batu ureter dextra maupun
sinistra di Unit Radiologi Instalasi Gawat Darurat RSUD dr.Soetomo
Surabaya.

1
1.2 Rumusan Masalah

1.2.1 Bagaimana teknik pemeriksaan APG (Antegrade Pyelography)


pada kasus Uropati Obstruktif dengan batu ureter dextra maupun
sinistra di Instalasi Radiologi IGD RSUD dr. Soetomo Surabaya?
1.2.2 Apakah peranan pemeriksaan APG (Antegrade Pyelography) pada
kasus batu urethra di Instalasi Radiologi IGD RSUD dr. Soetomo
Surabaya?
1.3 Tujuan Penulisan
1.3.1 Untuk mengetahui pemeriksaan APG (Antegrade Pyelography)
pada kasus Uropati Obstruktif dengan batu ureter dextra maupun
sinistra di Instalasi Radiologi IGD RSUD dr. Soetomo Surabaya?
1.3.2 Untuk mengeahui peranan pemeriksaan APG (Antegrade
Pyelography) pada kasus Uropati Obstruktif dengan batu ureter
dextra maupun sinistra di Instalasi Radiologi IGD RSUD dr.
Soetomo Surabaya?
1.4 Metode Pengumpulan Data

Dalam penulisan laporan kasus ini, memiliki manfaat sebagai


berikut :
1.4.1 Dapat menambah pengetahuan tentang pemeriksaan APG
(Antegrade Pyelography) pada kasus Uropati Obstruktif dengan
batu ureter dextra maupun sinistra di Instalasi Radiologi IGD
RSUD dr. Soetomo Surabaya
1.4.2 1.4.2 Dapat melakukan teknik pemeriksaan pemeriksaan APG
(Antegrade Pyelography) pada kasus Uropati Obstruktif dengan
batu ureter dextra maupun sinistra di Instalasi Radiologi IGD
RSUD dr. Soetomo Surabaya dengan tepat sehingga dapat
membantu diagnostik dokter.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2
2.1 Anatomi Male Ureter

Ureter merupakan dua saluran dengan panjang sekitar 25 sampai 30


cm, terbentang dari ginjal sampai vesika urinaria. Ureter merupakan
saluran muskuler silindris urine yang mentranspor urin dari ginjal menuju
vesica urinaria. Merupakan organ retroperitoneal. ( Roger Watson, 2002 )
Ureter memiliki tiga penyempitan pertama ada pada perbatasan
pelvis renalis ureter yang kedua ada pada peralihan ureter pars
abdominalis ke pars pelvina dan yang ketiga ada disaat masuk ke dalam
vesica urinaria, penyempitan ini barperan sebagai lokasi stasis atau
tersangkutnya batu pada saluran kemih.
Untuk kepetingan pembedahan ureter dibagi menjadi 2 bagian :
1. Ureter pars abdominalis : yang berada dari pelvis renalis sampai
menyilang vasa iliaka
2. ureter pars pelvika : mulai dari persilangan dengan vasa iliaka sampai
masuk ke kandung kemih
Untuk kepentingan radiology, dibagi 3 bagian :
1. 1/3 proksimal : dimulai dari pelvis renalis sampai batas atas sacrum
2. 1/3 medial : dimulai dari batas atas sacrum sampai batas bawah sacrum
3. 1/3 distal : dimulai dar batas bawah sacrum sampai masuk ke kandung
kemih
Sedangkan lapisan dinding ueter terdiri dari dinding luar jaringan
ikat (fibrosa), lapisan tengah lapisan otot polos, dan lapisan sebelah dalam
lapisan mukosa. Lapisan dinding ureter menimbulkan gerakan-gerakan
peristaltic yang mendorong urin masuk ke dalam kandung kemih.
Dibawah ini tampak anatomi dari ureter. Berbeda antara pria & wanita
pada perjalanannya, dimana:
Pada wanita berjalan dorsal ovarium  dalam lig.cardinale  1-2
cm lateral cervix uteri & ventral dari batas lateral vagina. Sedangkan pada
pria berjalan ventral dari cranial vesicula seminalis & lateral dari ductus
deferens.

3
Gambar 2.1 Ureter Pria (Netter, 2011)

Gambar 2.2 Ureter Wanita (Netter, 2011)

4
2.2 Patologi Batu Ureter

Obstruksi uropati adalah sumbatan secara anatomi maupun fungsi


dari saluran kemih untuk mengalirkan urin pada semua level dari saluran
kemih. Apabila sumbatan menyebabkan penurunan fungsi ginjal disebut
obstruksi nefropati. Sumbatan aliran urin mengakibatkan peningkatan
tekanan pada proksimal dari sumbatan, hidronefrosis,kerusakan progresif
nefron, hingga gagal ginjal terminal. Durasi dan derajat obstruksi
berpengaruh secara signifikan terhadap pemulihan fungsi ginjal. Pada
obstruksi komplet yang dilakukan release obstruksi segera, akan terjadi
pemulihan total dari fungsi ginjal, semakin lama obstruksi terjadi, akan
terjadi penurunan fungsi ginjal semakin berat. saluran kemih adalah
adanya batu di traktus urinarius. (ginjal, ureter, atau kandung kemih,
uretra) yang membentuk kristal; kalsium, oksalat, fosfat, kalsium urat,
asam urat dan magnesium.(Brunner & Suddath,2002).

Sedangkan batu saluran kemih atau Urolithiasis adalah adanya


batu di dalam saluran kemih. (Luckman dan Sorensen). Dari dua definisi
tersebut diatas saya mengambil kesimpulan bahwa batu saluran kemih
adalah adanya batu di dalam saluran perkemihan yang meliputi
ginjal,ureter,kandung kemih dan uretra.

2.3 .APG (Antegrade Pyelography)


2.3.1. Pengertian
Teknik pemeriksaan khusus radiografi dari tractus urinarius dengan
cara memasukkan kontras media melalui kateter yang telah dipasang oleh
ahli urologi dengan cara nefrostomy percutan (pembedahan langsung).
2.3.2. Indikasi
1. Untuk mengevaluasi sumbatan pada ginjal atau ureter yang
disebabkan oleh striktur batu, gumpalan darah atau tumor.
2. Untuk mengevaluasi hidronefrosis.
3. Untuk memeriksa kondisi ginjal atau ureter sebelum atau setelah
pembedahan.
4. Trauma akut tractus urinarius.
5. Kelainan congenital Kelainan bawaan dari lahir, hal ini jarang
terjadi.

5
6. Fistule merupaka saluran abnormal yang terbentuk antara dua buah
organ yang seharusnya tidak berhubung.
7. tumor adalah lesi padat yang terbentuk akibat pertumbuhan sel
yang tidak normal.
8. Berasal dari batu ginjal atau batu uretra yang turun ke kandung
kencing kemudian masuk uretra.
2.3.3. Kontra Indikasi
1. Alergi terhadap media kontras
2. Urethritis akut atau pradangan akut pada saluran kemih.
3. Terjadi gangguan perdarahan pada saluran kemih
2.3.4. Persiapan Alat dan Bahan
1. Pesawat sinar x
2. Kaset dan film ukuran 24 x 30 cm beserta marker
3. Media kontras APG (Antegrade Pyelography)
4. Gliserin
5. Kateter
6. Spuit
7. Kassa steril
8. Bengkok atau mangkuk steril
9. Kapas alcohol
10. Plester
11. Baju pasien
12. Handscoon
2.3.5. Persiapan Pasien
1. Penjelasan tindakan yang akan dilaksanakan dan penandatanganan
inform consent
2. Tanyakan riwayat alergi terhadap iodium maupun barium.
3. Tanyakan apakah pasien mengkonsumsi obat-obatan saat ini.
4. Apabila pasien wanita dalam usia produktif, tanyakan apakah
pasien sedang hamil atau tidak.
5. Hasil ureum dan creatinin normal
6. Satu hari sebelum pemeriksaan, pasien makan makanan yang
lunak/rendah serat, misalnya bubur kecap.
7. 12 jam sebelum pemeriksaan pasien minum obat pencahar.
8. Selanjutnya pasien puasa sehingga pemeriksaan selesai dilakukan.
9. Selama puasa pasien dinjurkan untuk tidak merokok, dan banyak
bicara untuk meminimalisasi udara dalam usus.
10. Melepaskan benda-benda logam yang dapat mengganggu gambaran
pemeriksaan.
11. Sebelum pemeriksaan dimulai pasien buang air kecil untuk
mengosongkan blass
2.3.6. Prosedur Pemeriksaan

6
1. Kateter yang telah terpasang diklem kemudian selang yang
terhubung dengan urine dicabut
2. Kontras medis disiapkan dengan mencampur media kontras dan
NaCl dengan perbandingan 1 : 3
3. Sebelum pemasukan media kontras dilakukan, lakukan plain foto
dengan kaset 30 x 40 orientasi ginjal
4. Masukkan media kontras yang sudah diencerkan melalui kateter
yang langsung terhubung dengan pelviocalyces
5. Terdapat 3 seri pemotretan dengan menggunakan film 30 x 40 dan
1 foto terakhir :
- Foto 1 fokus pada renogram dan sistem Pelviocalyceal.
- Foto 2 fokus pada ureter bagian proximal dan sistem
Pelviocalyceal.
- Foto 3 fokus pada ureter distal dan Vesica Urinaria.
- Foto terakhir dibuat untuk melihat sekresi ginjal.
2.4. Teknik Radiografi APG (Antegrade Pyelography)
2.4.1. Plain Foto
Dilakukan dengan foto pelvis tampak ureter dengan proyeksi AP.
Tujuan plain foto :
- Ketepatan positioning
- Koreksi faktor eksposi
- Melihat kemungkinan adanya patologi lain pada ureter
1. Posisi pasien
Pasien tidur telentang di atas meja pemeriksaan

Gambar 2.2 Posisi pasien plain foto posisi AP (Bontrager, 2014)


2. Posisi objek
a. MSP tubuh di tengah meja pemeriksaan
b. Kedua tangan diletakkan di samping tubuh
c. Daerah pelvis dan urethra ditempatkan persis di pertengahan
meja pemeriksaan serta kedua kaki direnggangkan
d. Batas bawah : tampak urethra
3. Pengaturan sinar dan eksposi
a. Arah sinar/central ray (CR) : vertikal tegak lurus kaset
b. Titik bidik/central pint (CP) : 5 cm diatas symphysis pubis
c. Focus Film Distance (FFD) : 100 cm
d. Film dan kaset khusus fluoroscopy dengan ukuran24 x 30 cm

7
e. Eksposi : ekspirasi tahan napas
4. Kriteria radiograf
Tampak gambaran tulang pelvis, kandung kemih,ureter, dan
urethra.
2.4.2. Proyeksi AP
1. Posisi pasien
Pasien tidur telentang di atas meja pemeriksaan

Gambar 2.3 Posisi pasien proyeksi AP (Merrill’s, 2010)


2. Posisi objek
a. MSP tubuh di tengah meja pemeriksaan
b. Pasien diposisikan supine di atas meja pemeriksaan.
c. MSP sejajar dengan pertengahan bucky.
d. Kedua tangan pasien diletakkan di samping tubuh.
3. Pengaturan sinar dan eksposi
a. Arah sinar/central ray (CR) : tegak lurus terhadap kaset
b. Titik bidik/central pint (CP) : Crista Illiaca
c. Focus Film Distance (FFD) : 100 cm
d. Film dan kaset khusus fluoroscopy dengan ukuran24 x 30 cm
e. Eksposi : ekspirasi tahan napas

Gambar 2.4 Hasil radiograf posisi AP (Merrill’s, 2010)


4. Kriteria radiograf
Tampak gambaran tulang pelvis (ilium, ischium, sacrum dan
symphisis pubis).Tampak rongga pelvis, tampak kandung kemih
dan urethra yang terisi media kontras dengan kandung kemih tidak
superposisi dengan symphisis pubis.
2.4.3. Proyeksi Oblik (RPO)
1. Posisi pasien

8
Pasien tidur telentang di atas meja pemeriksaan dan daerah panggul
dimiringkan 35 – 40o.

Gambar 2.5 Posisi pasien RPO (Merrill’s, 2010)


2. Posisi objek
a. Daerah panggul diatur miring kira-kira 35 – 40oke kanan
dengan kaki kiri ditekuk sebagai tumpuan namun tidak
menutupi gambaran.
b. Daerah pelvis dan urethra ditempatkan persis di pertengahan
meja pemeriksaan.
3. Pengaturan sinar dan eksposi
a. Arah sinar/central ray (CR) : vertical tegak lurus kaset
b. Titik bidik/central pint (CP) : 5 cm di atas symphysis
pubis dan 5 cm ke arah medial dari SIAS
c. Focus Film Distance (FFD) : 100 cm
d. Film dan kaset khusus fluoroscopy dengan ukuran 24 x 30 cm
e. Eksposi : ekspirasi tahan napas

Gambar 2.6 Hasil radiograf proyeksi RPO (Merrill’s, 2010)


4. Kriteria radiograf
Tampak kontras mengisi urethra (Pars cavernosa, Pars
membranecea, pars prostatica).
2.4.4. Proyeksi Lateral (Optional)
1. Posisi pasien
Pasien tidur miring di salah satu sisi

9
Gambar 2.7 Posisi pasien lateral kiri (Optional) (Bontrager, 2014)
2. Posisi objek
a. Kedua lutut ditekuk sebagai fiksasi dan kedua lutut diberi
bantalan
b. Daerah pelvis berada tepat pada pertengahan meja pemeriksaan
3. Pengaturan sinar dan eksposi
a. Arah sinar/central ray (CR) : vertikal tegak lurus kaset
b. Titik bidik/central pint (CP) : 5 cm diatas menuju ke belakang
symphysis pubis
c. Focus Film Distance (FFD) : 100 cm
d. Ukuran film dan kaset khusus fluoroscopy ukuran 24 x 30 cm
e. Eksposi : ekspirasi tahan napas

Gambar 2.8 Hasil radiograf proyeksi lateral (Merrill’s, 2010)


4. Kriteria radiograf
a. Hip joint dan femur superposisi
b. Tampak vesica urinaria terisi dengan kontras

2.5. Proteksi Radiasi


2.5.1. Proteksi bagi pasien
1. Pemeriksaan dengan sinar-x hanya dilakukan atas permintaan
dokter
2. Mengatur luas lapangan pemeriksaan sesuai dengan kebutuhan
3. Waktu penyinaran sesingkat mungkin
2.5.2. Proteksi bagi petugas

10
1. Tidak menggunakan berkas sinar–x yang mengarah ke petugas
2. Berlindung dibalik tabir saat melakukan eksposi
3. Menggunakan alat monitoring radiasi secara continue selama
bertugas
2.5.3. Proteksi bagi masyarakat umum
1. Pintu pemeriksaan tertutup rapat
2. Tidak mengarahkan sinar sumber sinar – x keruangan umum
3. Bagi yang tidak berkepentingan dilarang masuk ke ruang
pemeriksaan

11
BAB III
PROFIL KASUS DAN PEMBAHASAN

3.1. Identitas Pasien


Nama : Ny. F
Jenis Kelamin : Perempuan
Usia : 38 tahun
No. RM : 126742**
Dokter Pengirim : Dokter bedah urologi
Waktu Pemeriksaan : 30 Mei 2018 pukul
Permintaan Pemeriksaan : APG (Antegrade Pyelography)
Keterangan Klinis : Uropati Obstruktif dengan batu ureter
dextra maupun sinistra

3.2. Riwayat Pasien


Pada hari rabu tanggal 30 Mei 2018 seorang pasien ibu-ibu
mendatangi instalasi UGD RSUD dr.Soetomo untuk melakukan pemeriksaan
karena beliau mengalami kelainan. Pasien merasa sakit saat ingin kencing
atau buang air kecil, dan merasa nyeri hebat pada bagian perut. Pada kasus ini
untuk menegakkan diagnostik, maka dokter beda urologi meminta untuk
melakukan pemeriksaan APG.
3.3. Prosedur Pemeriksaan
3.3.1. Persiapan Alat dan Bahan
1. Pesawat Sinar-X yang dilengkapi dengan fluoroscopy
2. Film dan kaset khususfluoroscopy ukuran 24 x 30 cm
3. Nacl
4. Media kontras Iopamidol (50cc)
5. underped
6. Needle ukuran 18
7. Infus set
8. Handscoon
9. Syringe
10. Kassa steril
11. Canul

3.3.2. Persiapan Pasien


1. Keluarga pasien serta pasien (jika sadar) diberikan penjelasan
tentang pemeriksaan yang akan dilaksanakan, terutama tujuan

12
dari pemeriksaan tersebut, dan dilakukan penandatanganan
inform consent
2. Tidak ada persiapan khusus karena dalam keadaan Gawat Darurat

3.3.3. Teknik Pemeriksaan


3.3.3.1. Plain Foto Proyeksi AP
1. Posisi pasien
Pasien tidur telentang di atas meja pemeriksaan
2. Posisi objek
a. MSP tubuh di tengah meja pemeriksaan
b. Kedua tangan diletakkan di samping tubuh
c. Daerah pelvis dan urethra ditempatkan persis di
pertengahan meja pemeriksaan serta kedua kaki
direnggangkan
d. Batas bawah : tampak urethra
3. Pengaturan sinar dan eksposi
a. Arah sinar/central ray (CR) : vertikal tegak lurus
b. Titik bidik/central pint (CP) : symphysis pubis
c. Focus Film Distance (FFD) : 100 cm
d. Film dan kaset khusus fluoroscopy dengan ukuran24
x 30 cm
e. Faktor Eksposi : 78 kV dan 25 mAs
4. Kriteria radiograf
Tampak gambaran tulang pelvis, kandung kemih dan
urethra.

3.3.3.2. Urethrography Proyeksi RPO (Right Posterior Oblique)


1. Posisi pasien
Pasien tidur telentang di atas meja pemeriksaan dan daerah
panggul dimiringkan 35 – 40o.
2. Posisi objek
a. Daerah panggul diatur miring kira-kira 35 – 40oke
kanan dengan kaki kiri ditekuk sebagai tumpuan
namun tidak menutupi gambaran.
b. Pasien diinstruksikan untuk menarik saluran urethra
3. Pengaturan sinar dan eksposi
a. Arah sinar/central ray (CR) : vertikal tegak lurus
b. Titik bidik/central pint (CP) : ditujukan ke
pertengahan urethra
c. Focus Film Distance (FFD) : 100 cm
d. Film dan kaset khusus fluoroscopy ukuran24 x 30 cm

13
Gambar 3.1 Hasil radiograf Urethrography Tn.H posisi RAO
4. Kriteria radiograf
a. Tampak gambaran tulang pubis dalam posisi oblik.
b. Tampak gambaran urethra yang terisi media kontras.
c. Tampak terjadinya penyempitan pada urethra

3.4 Hasil Pembacaan Radiograf


Berikut hasil pembacaan radiograf dengan ahli konsulen Trijono
KSP,Prof.DR.dr.SpRad-K;
X-Foto polos pelvis :
Alignement baik, Trabekulasi tulang normal, Scroiliac dan hip joint kiri baik,
Shanton’s line kiri simetris
Urethrography :
Tampak single bayangan radiopaque bentuk amorf berukuran +/- 1 x 0,8 cm
yang terproyeksi setinggi ramus os pubis

14
KESAN :
Batu urethra pars membrano-prostatica ukuran +/- 1 x 0,8 cm yang
menyebabkan obstruksi parsial dan curiga leakage kontras pada urethra pars
bulbosa.

3.5 Pembahasan Kasus


Batu saluran kemih adalah adanya batu di traktus urinarius. (ginjal,
ureter, atau kandung kemih, uretra) yang membentuk kristal; kalsium,
oksalat, fosfat, kalsium urat, asam urat dan magnesium.

Batu urethra yang dialami pasien Tn. H menyebabkan ia mengalami red


urine dan mengalami keluhan sakit saat akan berkemih .Untuk menegakkan
diagnostic maka dilakukan pemeriksaan radiologi yakni
urethrography.Pemeriksaan ini menggunakan jenis pesawat
fluoroscopy.Digunakannya jenis pesawat fluoroscopy yakni agar dapat
mengamati gambaran struktur organ dan gerakan organ secara dinamik (real
time imaging).

Pada IGD RSUD Dr. Soetomo Surabaya menggunakan media kontras


iopamidol 370mg/ml yang dicampur dengan aquabides dengan perbandingan
1:3 dalam syringe 50cc (15cc kontras, 45cc aquabides).

Setelah semua persiapan selesai dilakukan plain foto pelvis .Kemudian ,


radiolog memposisikan urethra dengan kasa steril. Setelah posisi dirasa baik
mulai dilakukan injeksi kontras secara retrograde pada urethra dengan
menggunakan syiringe dan canul yang terpasang .

Pemeriksaan a yang dilakukan adalah urethrography untuk melihat


adanya kelainan atau gangguan yang menghalangi urine dari kandung kemih
menuju urethra, sehingga jika kontras media hanya dimasukkan melalui
urethra kemungkinan besar kontras media tidak akan sampai masuk ke
kandung kemih.

Pada pemasukkan media kontras secara retrograde pada urethrography,


pasien diinstruksikan untuk menarik urethra agar utrethra yang memiliki

15
struktur melengkung menjadi lurus sehingga dapat dinilai penyempitannya.
Instruksi ini dilakukan pada saat proyeksi AP dan RAO.Proyeksi AP
dilakukan untuk melihat dimana letak penyempintannya.Proyeksi RAO
dilakukan agar urethra tidak superposisi dengan softissue yang ada di
sekitarnya.

Secara keseluruhan, pemeriksaan uretocgraphy Tn.H sudah dapat


menunjukkan kelainan pada urethra yang menyebabkan Tn.H mengalami red
urine dan keluhan nyeri saat berkemih.Dari pemeriksaan ini, dokter urologi
dapat mengetahui panjang penyempitan dan lokasi penyempitan sehingga
mampu untuk mengambil keputusan bagaimana tindakan selanjutnya.

16
BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

1. Pemeriksaan urethrographytidak memerlukan persiapan pasien secara


khusus, hanya mengosongkan vesika urinaria.
2. Pemeriksaan urethrography terhadap Tn.Hdi Instalasi Radiologi IGD
RSUD Dr. Soetomo menggunakan pemasukkan media kontras secara
retrograde dengan menggunakan syringe dan canul .
3. Pemeriksaan uretrography di Instalasi Radiologi IGD RSUD Dr.
Soetomomenggunakan pesawat fluoroscopy.
4. Pemeriksaan urethrography terhadap Tn.H dengan kasus batu urethra
mempunyai peranan yang penting yaitu dapat menunjukkan lokasi batu ,
ukuran striktur dan total striktur sehingga mampu memberikan informasi
diagnostik bagi dokter urologi untuk melakukan penanganan selanjutnya
terhadap kasus ini.
4.2 Saran
1. Radiografer perlu memberikan penjelasan secara jelas pada pasien agar
pasien mengerti dan dapat bekerja sama saat dilakukannya
pemeriksaan.
2. Memposisikan objek tepat pada daerah lapangan penyinaran sehingga
dapat meminimalisasi waktu pemeriksaan dan mengurangi dosis
radiasi yang diterima pasien.

17
DAFTAR PUSTAKA

Ballinger, P. W. 2003. Merrill’s Atlas of Radiographic Positioning and


Procedures, Volume Two, Tenth Edition. St. Louis : CV Mosby Company

Bontrager, Kenneth L. 2014. Textbook of Radiographic Positioning and Related


Anatomy, Eighth Edition.St. Louis : Mosby Elsevier

Brunner and Suddarth. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, edisi

8 volume 2. Jakarta : EGC

Luckman and Sorensen. S. (2000), Medikal surgical nersing: a.psychophysiologic

approch 4 th Ed , Philadelpia, W.B. Sauders Company

Netter, Frank H. 2011.Atlas of Human Anatomy, Fifth Edition.Philadelphia :


Saunders Elsevier

Pearce, Evelyn C. 1999. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis.Jakarta : PT.


Gramedia Pustaka Utama

http://siavent.blogspot.com/2010/02/antegrade-pyelography-apg.html

http://terasradiologi.blogspot.com/2012/06/apg-antegrade-pyelografi.html

18

Anda mungkin juga menyukai