Anda di halaman 1dari 4

BAYI TEWAS USAI MINUM SUSU

FORMULA ?

Banyuwangi, 1 April 2008.

Berita menggemparkan terjadi di Padang, Sumatera Barat. Kabar ini dimuat di

situs www.liputan6.com. Berikut berita selengkapnya :

Bayi berusia 20 hari tewas setelah minum susu formula. Diduga kuat bayi nahas ini

keracunan. Namun untuk memastikan, susu formula yang diduga sebagai penyebab

kematian bayi itu diteliti Badan Pengawas Obat dan Makanan setempat.

Menurut sang ibu, bayinya mengeluarkan busa di hidung dan mulut serta tubuhnya

membiru 30 menit setelah meminum susu formula yang diperolehnya dari rumah sakit

saat melahirkan. Windi memberi susu formula karena si bayi tak mau minum ASI. Dia

tak curiga dengan susu formula itu karena waktu kedaluwarsa November 2009.

Melihat ciri-ciri busa yang keluar dari hidung dan mulut, dokter Pusat Kesehatan Rawang

menduga bayi malang bernama Duta meninggal akibat keracunan. Selain membawa

contoh susu formula untuk diteliti Balai POM Padang, tim investigasi juga sudah

diturunkan. Begitu tulis situs berita tersebut.

Akhir-akhir ini masih hangat diingatan kita, hingar bingar susu formula berisi bakteri

sakazakii. Seakan tak mau kalah, berita ini beredar dengan anggapan awal keracunan

susu formula. Namun, menurut saya hal ini bukanlah kasus keracunan susu formula.

Saya menduga penyebabnya adalah si bayi tadi tersedak. Mungkin sang ibu salah

memberikan minum bayinya.

Analisa saya, si ibu tak sedang mengawasinya dengan seksama saat ia minum

susu dalam botol (mungkin karena asik nyambi menonton televisi), tiba-tiba si

bayi terbatuk-batuk, sulit bernapas, atau pucat hingga kebiruan (bagi anak

yang lebih besar, mereka biasanya memegang tenggorokan sambil berusaha

bernapas). Lebih berat lagi, mereka bisa tak sadarkan diri. Oksigen berkurang

ketika seseorang tersedak, wajahnya akan berubah merah dan tampak

berusaha untuk mengatur napas, pembuluh darah wajah juga akan terlihat

jelas. Biasanya ia akan memegangi tenggorokan (untuk anak yang lebih besar),
sementara kulitnya makin pucat, bibir dan ujung telinga serta hidung menjadi

kebiruan. Ini disebabkan jumlah oksigen yang dihirup berkurang. Tentang

cairan yang keluar dari mulut dan hidung, anggapan saya sebagai salah satu

usaha menyeluarkan susu yang tersedak tadi, namun kemudian susu masuk

kedalam saluran pernapasan yang akan juga mengakibatkan oksigen terhalangi

masuk, sampai akhirnya meninggal karena si ibu terlampau bingung sehingga

terlambat membawanya ke UGD.

Mengapa sampai terjadi tersedak?

Bisa jadi karena orang tua tak mengerti fisiologis bayi. Contoh, pemberian makanan tak

sebanding dengan kemampuan bayi untuk menelan. Hal ini biasanya terjadi pada bayi

yang mendapatkan susu botol dan ibu yang ASI-nya terlalu banyak serta memancar

deras. Biasanya ibu-ibu muda (bahkan tidak sedikit yang sudah berpengalaman

mengasuh bayi) berlomba-lomba memberikan susu sebanyak-banyaknya kepada bayi.

Dengan harapan agar berat badan si bayi meningkat dengan cepat. Namun mereka lupa

bahwa masing-masing bayi mempunyai kemampuan yang berbeda dalam hal minum.

Tersedak bisa juga terjadi karena cara pemberian makan (termasuk ASI dan susu botol)

yang salah, memasukkan makanan saat bayi sedang tertawa, menangis, atau malah

mengajak bayi bercanda saat sedang makan. Bisa juga karena menuangkan makanan ke

mulut bayi terlalu cepat atau bayi diberi makan dalam posisi salah; berbaring telentang,

misalnya. Selain itu, tersedak bisa saja terjadi karena si kecil sedang flu, kumat

asmanya (sesak napas), dan mengalami gangguan palatoschisis.

Yang pasti, bayi yang baru berumur sekitar 50 hari biasanya masih sering mengalami

tersedak pada waktu menyusu. Sebab, dia akan mengisap ASI dengan lahap setiap kali

disusui, sehingga ketika menarik napas, si kecil jadi tersedak.

Untuk menghindari bayi kita tersedak, ada baiknya kita simak beberapa tips berikut ini :

A. Tersedak ASI, karena:

 ASI berlimpah. Itu artinya ASI Anda harus ditampung dalam suatu wadah, baru

kemudian diberikan kepada si kecil dengan menggunakan sendok atau cangkir

makan (feeding cup). Dengan demikian, volume ASI yang masuk ke dalam mulut

si kecil dapat disesuaikan dengan kemampuannya menelan. Perlu diingat,


pemberian ASI tersebut jangan dilakukan sambil tiduran atau berbaring. Berikan

dengan posisi setengah duduk atau bersandar dengan sudut 45 derajat.

 ASI keluar terlalu deras. Hentikan dulu pemberian ASI kepada si kecil. Aliran ASI

Anda biasanya akan melambat, hingga akhirnya keluar dalam bentuk tetesan-

tetesan. Nah, pada saat ini, baru susui kembali si kecil.

 Salah posisi menyusui. Perhatikan posisi tubuh si kecil saat disusui. Perut si kecil

dan perut Anda harus saling bertemu, dan dagu si kecil harus menempel pada

payudara Anda. Dengan posisi menyusui seperti ini, sekalipun Anda menyusui

sambil berbaring, si kecil tidak akan tersedak.

B. Tersedak air putih atau cairan lain termasuk susu formula dalam botol, karena:

 Peralatan minum yang tidak tepat. Gunakan peralatan minum yang memang

khusus dirancang sesuai dengan perkembangan kemampuan makan/minun si

kecil.

 Sambil bercanda. Jangan memberikan minum kepada si kecil sambil

mengajaknya bercanda. Sebab, bila si kecil diberi minum sambil tertawa atau

bersuara, katup pada saluran pernapasannya akan terbuka.

 Minum dalam posisi berbaring atau tiduran. Berilah si kecil minum dengan posisi

tubuh dalam keadaan duduk tegak atau setengah duduk (dengan sudut 45

derajat).

 Volume cairan terlalu banyak. Aturlah agar volume cairan yang masuk ke dalam

mulut si kecil sesuai dengan kemampuannya menelan.

Bagaimana bila si kecil telanjur tersedak?

Segera baringkan tubuhnya dengan posisi miring atau tengkurap untuk mengeluarkan

cairan yang menyumbatnya. Jangan sekali-kali mengangkat atau menggendong si kecil,

karena justru akan membuka peluang cairan di dalam tenggorokannya masuk ke dalam

saluran paru-paru (mungkin usaha ini yang dilakukan ibu si bayi naas tadi, pada

saat kejadian).

Pada kasus tersedak karena makanan padat (hal ini tidak mungkin terjadi pada kasus

Padang), maka kita harus melakukan manuver Heimlich. Manuver Heimlich adalah

tindakan yang dikenal dapat menolong orang yang tersedak.

Manuver Heimlich untuk bayi kurang dari 1 tahun


1. Baringkan bayi dengan wajah menghadap ke bawah dan jari-jari tangan kanan
Anda menahannya di bahu dan leher bayi, dengan lengan bawah kiri sebagai

landasan.

2. Lalu berilah lima kali tepukan di punggungnya dengan tangan yang satunya.
3. Jika ini gagal, balikkan badannya hingga wajahnya menghadap Anda, lalu dengan
dua jari Anda, tekan sebanyak lima kali di tulang dada bagian bawah, kurang

lebih satu jari dari garis yang dibentuk oleh kedua puting susu bayi.

4. Periksa mulut dan ambil semua benda yang dapat Anda lihat.
5. Ulangi sesering mungkin jika diperlukan.
6. Bila bayi tidak sadar, mulailah resusitasi dan bawalah ke rumah sakit.
Manuver Heimlich untuk anak lebih dari 1 tahun dan dewasa

1. Berdiri di belakang anak, carilah bagian bawah iganya.


2. Letakkan telapak anda di perut anak di atas pusarnya dan buat kepalan. Bagian
jempol berada pada perut anak.

3. Letakkan telapak tangan sisi lain di atas kepalan.


4. Tekan perut ke arah atas sampai benda terpental ke luar. Perhatikan kekuatan
tekanan sesuai keadaan fisik anak