Anda di halaman 1dari 10

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Karakteristik Orang dengan Gangguan Jiwa

Dari 54 orang yang terdata di puskesmas, sebanyak 26 orang yang rutin

mengambil obat di Puskesmas Ganjar Agung, sebanyak 4 orang yang mengambil

obat di puskesmas lain atau RSJ Kemiling, dan sebanyak 6 orang yang tidak

pernah berobat sama sekali. Dari 54 orang dengan gangguan jiwa yang ada

berdasarkan data di Puskesmas Ganjar Agung, tetapi yang dilakukan wawancara

hanya sebanyak 36 orang. Hal ini dikarenakan keterbatasan alamat, nomor telepon

genggam yang aktif dan dapat dihubungi serta kurangnya pembaharuan data

mengenai orang dengan gangguan jiwa yang berobat ke Puskesmas Ganjar Agung

sehingga banyak juga orang dengan gangguan jiwa yang di wilayah kerja

Puskesmas Ganjar Agung yang tidak termasuk ke dalam data ternyata sudah lama

menderita gangguan jiwa. Beberapa alasan orang dengan gangguan jiwa yang

tidak datang berobat ke Puskesmas Ganjar Agung adalah keterbatasan biaya, tidak

mengetahui bahwa gangguan jiwa dapat ditangani di Puskesmas Ganjar Agung

dan tidak mengetahui bahwa ada obat gangguan jiwa yang dapat diambil setiap

sebulan sekali di Puskesmas Ganjar Agung.

Oleh karena keterbatasan inilah, maka peneliti mengambil subjek

penelitian sebesar 36 orang. Distribusi karakteristik orang dengan gangguan jiwa

di wilayah kerja Puskesmas Ganjar Agung dapat dilihat melalui tabel berikut di

bawah ini, yaitu :

33
Tabel 4.1 Distribusi Karakteristik Orang dengan Gangguan Jiwa di
Wilayah Kerja Puskesmas Ganjar Agung Tahun 2018

Karakteristik Frekuensi Persentase (%)


Jenis Kelamin
Pria 21 orang 58
Wanita 15 orang 42
Jumlah 36 orang 100
Usia
<18 tahun 0 orang 0
18-25 tahun 6 orang 16
26-60 tahun 25 orang 70
>60 tahun 5 orang 14
Jumlah 36 orang 100
Pendidikan
SD 10 orang 28
SMP 3 orang 8
SMA 17 orang 48
PT 3 orang 8
Tidak Sekolah 3 orang 8
Jumlah 36 orang 100
Pekerjaan
Bekerja 7 orang 19
Tidak Bekerja 29 orang 81
Jumlah 36 orang 100
Status Pernikahan
Belum Menikah 7 orang 19
Menikah 11 orang 31
Duda/Janda 18 orang 50
Jumlah 36 orang 100
Lama Sakit
Kurang dari 1 tahun 0 orang 0
1 sampai 5 tahun 12 orang 33
Lebih dari 5 tahun 24 orang 67
Jumlah 36 orang 100

Berdasarkan tabel 4.1 di atas dapat dilihat bahwa rata-rata jenis kelamin

orang dengan gangguan jiwa di wilayah kerja Puskesmas Ganjar Agung adalah

pria yaitu sebanyak 21 orang (58%). Rata-rata usia orang dengan gangguan jiwa

adalah 26-60 tahun yaitu sebanyak 25 orang (70%), untuk pendidikan terakhir

34
rata-rata orang dengan gangguan jiwa adalah SMA yaitu sebanyak 17 orang

(48%), untuk pekerjaan orang dengan gangguan jiwa adalah rata-rata tidak bekerja

yaitu sebanyak 29 orang (81%) dan status pernikahan rata-rata adalah duda/janda

yaitu sebanyak 18 orang (50%). Rata-rata lama sakit responden yang telah

mengalami gangguan jiwa adalah lebih dari 5 tahun yaitu sebanyak 24 orang

(67%).

Berdasarkan data dari hasil penelitian di wilayah kerja Puskesmas Ganjar

Agung dapat dilihat bahwa jenis kelamin pria lebih banyak orang yang menderita

gangguan jiwa dibandingkan dengan wanita. Hal ini mungkin dapat terjadi karena

peran pria sebagai tulang punggung keluarga yang membuat pria menerima

stresor yang lebih kuat daripada wanita.

Usia yang lebih tinggi menderita gangguan jiwa tergolong kepada usia

produktif yaitu usia 26-60 tahun. Hal ini dikarenakan orang dengan gangguan jiwa

dengan usia produktif cenderung lebih rentan terhadap gangguan kejiwaan.

Stresor yang semakin meningkat seiring dengan bertambahnya usia, dan tanggung

jawab dapat menjadi faktor resiko tercetusnya gangguan kejiwaan pada usia

produktif (Yuandika, 2013).

Berdasarkan NIH (2016) didapatkan bahwa gangguan jiwa merupakan

penyakit yang banyak ditemui di Amerika Serikat. Satu dari enam orang dewasa

di Amerika menderita gangguan jiwa (jumlah penderita 44,7 juta orang pada tahun

2016). Rata-rata penderita gangguan jiwa lebih sering terjadi pada usia 18-25

tahun (22,1%) dibandingkan dengan dewasa berusia 26-49 tahun (21,1%) dan

35
berusia lebih dari 50 tahun (14,5%). Prevalensi penderita gangguan jiwa pada

wanita (21,7%) dibandingkan dengan pria (14,5%).

Berdasarkan National Survey of Mental Health and Wellbeing di Australia

(2007) didapatkan bahwa 3% penduduk Australia mengalami gangguan jiwa

seperti skizofrenia dan gangguan afektif bipolar. Sekitar satu dari 100 orang

Australia akan mengalami skizofrenia. Jenis kelamin lebih banyak mengalami

skizofrenia adalah pria dibandingkan dengan wanita. Wanita cenderung

mengalami late onset, lebih sedikit mengalami periode gangguan jiwa dan lebih

baik penyembuhannya.

Penelitian dari NIH (2016) ini berbeda dibandingkan dengan hasil

penelitian yang didapatkan di wilayah kerja Puskesmas Ganjar Agung yang

menunjukkan bahwa orang dengan gangguan jiwa lebih banyak pada pria (58%)

dibandingkan dengan wanita (42%) tetapi sejalan dengan penelitian National

Survey of Mental Health and Wellbeing di Australia (2007).

Berdasarkan hasil penelitian Rio Yanuar (2012) dapat diketahui bahwa

mayoritas pasien memiliki riwayat pendidikan dasar (SD dan SMP), yaitu

sebanyak 22 orang dari 30 orang responden (73%). Walaupun demikian masih

ditemukan pasien yang tidak menyelesaikan pendidikan dasar. Hasil penelitian

dengan menggunakan uji korelasi Chi-square menunjukkan tidak ada hubungan

antara faktor sosiokultural (pendidikan) dengan kejadian gangguan jiwa (p =

0,941). Nilai p tersebut memiliki makna bahwa faktor sosiokultural khususnya

tingkat pendidikan tidak mempunyai pengaruh terhadap kejadian gangguan jiwa

di desa Paringan.

36
Hal ini berbeda dibandingkan dengan hasil penelitian yang didapatkan di

wilayah kerja Puskesmas Ganjar Agung yang menunjukkan bahwa orang dengan

gangguan jiwa lebih banyak pada tingkat pendidikan SMA yaitu sebanyak 17

orang (48%) dibandingkan dengan yang lain yaitu SD 10 orang (28%), SMP 3

orang (8%), Perguruan Tinggi 3 orang (8%) dan tidak sekolah 3 orang (8%). Hal

ini mungkin disebabkan karena untuk data tingkat pendidikan di wilayah kerja

Puskesmas Ganjar Agung, yaitu kelurahan Ganjar Agung dan kelurahan Ganjar

Asri rata-rata adalah tingkat SMA yaitu sebesar 19,08%.

Pendidikan erat kaitannya dengan pengetahuan. Semakin tinggi

pendidikan seseorang semakin banyak pula pengetahuan yang didapat. Tingkat

pendidikan sangat berpengaruh terhadap pengetahuan, sikap, perilaku hidup.

Dalam hal kesehatan seseorang dengan tingkat pendidikan tinggi akan memiliki

pengetahuan dan sikap yang baik tentang kesehatan yang akan mempengaruhi

perilaku hidupnya. Namun hal tersebut tidaklah mutlak, tingkat pendidikan yang

tinggi tidak menjamin seseorang untuk hidup sehat. Mayoritas masyarakat desa

mempunyai tingkat pendidikan dasar, penderita gangguan jiwa hanya sebagian

kecil dari masyarakat desa yang menyelesaikan pendidikannya sampai tingkat

dasar. Namun yang menjadi pembeda adalah cara yang dilakukan masing-masing

individu dalam menyelesaikan masalah, menyesuaikan diri dengan perubahan,

respon terhadap situasi yang mengancam (koping). Meskipun tingkat

pendidikannya sama (sampai tingkat dasar), bukan berarti koping individu mereka

sama (Yanuar, 2012).

37
Berdasarkan penelitian dari Handayani (2015) terhadap pasien rawat inap

di RSJ Grhasia DIY yang berjumlah 79 orang, terdapat sebesar 61 orang (68%)

dengan gangguan jiwa tidak memiliki pekerjaan sedangkan yang bekerja sebanyak

39 orang (32%). Variabel status pekerjaan didapatkan nilai P value 0,502, artinya

tidak ada hubungan antara status pekerjaan dengan kejadian skizofrenia pasien

rawat inap di Rumah Sakit Jiwa Grhasia DIY. Nilai RP 1,068 dengan CI 95%

0,890-1,281 (mencakup angka 1), artinya orang yang tidak bekerja bukan

merupakan faktor risiko terjadinya skizofrenia (Sastroasmoro, 2011).

Strauss dan Seyle, dalam Isnaini (2009) mengatakan bahwa bekerja

merupakan salah satu kebutuhan manusia. Dengan bekerja manusia dapat

memenuhi kebutuhannya, yaitu pertama kebutuhan fisik dan rasa aman yang

diartikan sebagai pemuasan terhadap rasa lapar, haus, tempat tinggal dan perasaan

aman dalam menikmati semua hal tersebut, kedua kebutuhan sosial, yang

menunjukkan ketergantungan satu sama lain sehingga beberapa kebutuhan dapat

terpuaskan karena ditolong orang lain, dan ketiga kebutuhan ego yang

berhubungan dengan keinginan untuk bebas mengerjakan sesuatu sendiri dan

merasa puas bila berhasil menyelesaikannya. Ketiga kebutuhan diatas menjadi

kebutuhan pokok yang bisa didapat dengan bekerja. Jenis pekerjaan memang tidak

mempengaruhi kejadian gangguan jiwa, tapi permasalahan dalam pemenuhan

terhadap kebutuhannya dan koping individu untuk menghadapi permasalahan

diduga menjadi penyebab terjadinya gangguan jiwa.

Status ekonomi rendah sangat mempengaruhi kehidupan seseorang.

Beberaapa ahli tidak mempertimbangkan kemiskinan (status ekonomi rendah)

38
sebagai faktor risiko, tetapi faktor yang menyertai bertanggungjawab atas

timbulnya gangguan kesehatan. Menurut Graham (1989), keluarga adalah faktor

perantara yang paling penting. Ketika kehidupan keluarga dipengaruhi oleh

penyebab lingkungan (rumah yang kecil, tidak adanya waktu dan rasa aman)

maka hal ini merupakan beban bagi orangtua yang akibatnya akan mempengaruhi

kesehatan anak. Kemiskinan ditandai dengan sedikitnya dukungan, keselamatan,

tidak adanya ruang sehingga terlalu sesak, tidak adanya kebebasan pribadi,

ketidakpastian dalam masalah ekonomi yang akhirnya mungkin menimbulkan

risiko kesehatan bagi keluarga (Erlina dkk, 2010).

4.2 Tingkat Kemandirian Orang dengan Gangguan Jiwa

Jumlah peserta yang diwawancarai dengan menggunakan indeks Barthel

adalah 36 orang dari 54 orang dari data yang ada di Kelurahan Ganjar Agung dan

Ganjar Asri. Skor dari Indeks Barthel adalah untuk skor 20 dikategorikan mandiri,

skor 12-19 dikategorikan ketergantungan ringan, skor 9-11 dikategorikan

ketergantungan sedang, 5-8 dikategorikan ketergantungan berat dan skor 0-4

dikategorikan ketergantungan total. Tabel berikut menunjukkan tingkat

kemandirian orang dengan gangguan jiwa di Kelurahan Ganjar Agung dan Ganjar

Asri.

Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Orang dengan Gangguan Jiwa di


Puskesmas Ganjar Agung Tahun 2018

Tingkat kemandirian Frekuensi Persentase

39
Mandiri 25 orang 70
Ketergantungan Ringan 10 orang 28
Ketergantungan Sedang 1 orang 2
Ketergantungan Berat 0 orang 0
Ketergantungan Total 0 orang 0
Jumlah 36 orang 100

Berdasarkan tabel 4.3 di atas dapat dilihat bahwa orang dengan gangguan

jiwa di Kelurahan Ganjar Agung dan Ganjar Asri dengan tingkat kemandirian

yang bersifat mandiri ada sebanyak 25 orang (70%), ketergantungan ringan ada

sebanyak 10 orang (28%), ketergantungan sedang ada sebanyak 1 orang (2%),

sedangkan untuk ketergantungan berat dan total ada sebanyak 0 orang (0%). Hal

ini mungkin disebabkan karena responden yang telah lama menderita gangguan

jiwa rutin mengambil obat sehingga mampu meningkatkan kembali kemandirian

dalam melakukan aktivitas sehari-hari.

Berdasarkan hasil penelitian Ramdani, dkk (2016) pada 43 orang sampel

yang dilakukan di Poli Rawat Jalan RSJ Banda Aceh menunjukkan bahwa

mayoritas responden mengalami ketergantungan sedang sebanyak 27 orang

(62,8%), diikuti oleh ketergantungan berat sebanyak 10 orang (23,2%) dan

ketergantungan ringan sebanyak 6 orang (14%).

Berdasarkan hasil penelitian Trihardini (2015) mengenai perawatan diri

yang terdiri dari makan, mandi, toiletting, dan kebersihan diri didapatkan

sebanyak 38% pasien skizofrenia berada dalam ketergantungan ringan, 28%

dalam ketergantungan sedang, 13% dalam ketergantungan total dan 3% dalam

kategori mandiri.

Penurunan kemandirian dalam perawatan diri yang terjadi pada pasien

dengan gangguan jiwa sejalan dengan teori yang menyatakan bahwa pada pasien

40
gangguan jiwa akan mengalami penurunan kemandirian dalam perawatan diri

akibat dari adanya perubahan proses pikir sehingga kemampuan untuk melakukan

aktivitas sehari-hari menurun (Keliat, 2012). Teori lain yang sejalan adalah teori

Hawari (2007) yang menyatakan bahwa pada pasien gangguan jiwa akan

mengalami perubahan proses pikir yang menyebabkan kemunduran dalam

menjalani kehidupan sehari-hari, hal ini ditandai dengan hilangnya motivasi dan

tanggung jawab. Selain itu pasien cenderung apatis, menghindari kegiatan dan

mengalami gangguan dalam penampilan. Perubahan proses pikir ini juga akan

menimbulkan penurunan kemampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari

seperti perawatan diri yang akhirnya akan berdampak pada ketidakmampuan

berfungsi secara optimal baik di rumah, di sekolah, di kampus, di tempat kerja

maupun di lingkungan sosialnya. Penurunan kemandirian dalam perawatan diri

pada pasien gangguan jiwa juga dapat terjadi karena adanya kerusakan

hipotalamus yang membuat seseorang kehilangan mood dan motivasi sehingga

pasien akan malas melakukan sesuatu (Stuart & Laraia, 2005). Kurangnya

kemampuan dalam melakukan ADL (activity daily living) adalah akibat dari

penurunan kemampuan realitas yang menyebabkan ketidakpedulian terhadap diri

dan lingkungannya. Selain itu, kurangnya dukungan keluarga dalam hal pelatihan

ADL kepada anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa juga merupakan

faktor penyebab kurangnya ADL, seringkali keluarga menyerahkan pengobatan

sepenuhnya kepada pihak rumah sakit (Depkes RI, 2006).

Kedua penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian di Kelurahan Ganjar

Agung dan Ganjar Asri Kota Metro yang menunjukkan bahwa tingkat

41
kemandirian pada kategori mandiri lebih banyak yaitu sebanyak 25 orang (70%)

diikuti dengan ketergantungan ringan sebanyak 10 orang (28%) dan

ketergantungan sedang 1 orang (2%).

42