Anda di halaman 1dari 22

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kesehatan jiwa merupakan bagian yang integral dari kesehatan.
Kesehatan jiwa bukan sekedar terbebas dari gangguan jiwa, akan tetapi
merupakan suatu hal yang di butuhkan oleh semua orang. Kesehatan jiwa
adalah perasaan sehat dan bahagia serta mampu mengatasi tantangan hidup,
dapat menerima orang lain sebagai mana adanya. Serta mempunyai sikap
positif terhadap diri sendiri dan orang lain. (Menkes, 2005)
Menurut Sekretaris Jendral Dapertemen Kesehatan (Sekjen Depkes), H.
Syafii Ahmad, kesehatan jiwa saat ini telah menjadi masalah kesehatan
global bagi setiap negara termasuk Indonesia. Proses globalisasi dan
pesatnya kemajuan teknologi informasi memberikan dampak terhadap nilai-
nilai sosial dan budaya pada masyarakat. Di sisi lain, tidak semua orang
mempunyai kemampuan yang sama untuk menyusuaikan dengan berbagai
perubahan, serta mengelola konflik dan stres tersebut. ( Diktorat Bina
Pelayanan Keperawatan dan Pelayanan Medik Dapertemen Kesehatan,
2007)
Setiap saat dapat terjadi 450 juta orang diseluruh dunia terkena dampak
permasalahan jiwa, syaraf maupun perilaku dan jumlahnya terus meningkat.
Pada study terbaru WHO di 14 negara menunjukkan bahwa pada negara-
negara berkembang, sekitar 76-85% kasus gangguan jiwa parah tidak dapat
pengobatan apapun pada tahun utama(Hardian, 2008). Masalah kesehatan
jiwa merupakan masalah kesehatan masyarakat yang demikian tinggi
dibandingkan dengan masalah kesehatan lain yang ada dimasyarakat.
Dari 150 juta populasi orang dewasa Indonesia, berdasarkan data
Departemen Kesehatan (Depkes), ada 1,74 juta orang mengalami gangguan
mental emosional. Sedangkan 4 % dari jumlah tersebut terlambat berobat
dan tidak tertangani akibat kurangnya layanan untuk penyakit kejiwaan ini.
Krisis ekonomi dunia yang semakin berat mendorong jumlah penderita

1
2

gangguan jiwa di dunia, dan Indonesia khususnya kian meningkat,


diperkirakan sekitar 50 juta atau 25% dari juta penduduk Indonesia
mengalami gangguan jiwa (Nurdwiyanti, 2008).
Halusinasi merupakan bentuk yang paling sering dari gangguan
persepsi.Bentukhalusinasi ini bisa berupa suara-suara yang bising atau
mendengung, tapi yang palingsering berupa kata-kata yang tersusun dalam
bentuk kalimat yang agak sempurna. Biasanya kalimat tadi membicarakan
mengenai keadaan pasien sedih atau yangdialamatkan pada pasien
itu.Akibatnya pasien bisa bertengkar atau bicara dengansuara halusinasi itu.
Bisa pula pasien terlihat seperti bersikap dalam mendengar ataubicara keras-
keras seperti bila ia menjawab pertanyaan seseorang atau bibirnyabergerak-
gerak. Kadang-kadang pasien menganggap halusinasi datang dari
setiaptubuh atau diluar tubuhnya.Halusinasi ini kadang-kadang
menyenangkan misalnyabersifat tiduran, ancaman dan lain-lain.
Persepsi merupakan respon dari reseptor sensoris terhadap stimulus
esksternal,juga pengenalan dan pemahaman terhadap sensoris yang
diinterpretasikan oleh stimulus yang diterima. Jika diliputi rasa kecemasan
yang berat maka kemampuanuntuk menilai realita dapat terganggu.Persepsi
mengacu pada respon reseptorsensoris terhadap stimulus. Persepsi juga
melibatkan kognitif dan pengertianemosional akan objek yang dirasakan.
Gangguan persepsi dapat terjadi pada prosessensori penglihatan,
pendengaran, penciuman, perabaan dan pengecapan. Berdasarkan hasil
pengkajian pada pasien dirumah sakit jiwa Medan ditemukan85% pasien
dengan kasus halusinasi.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang penulis ajukan yaitu:
1. Apa pengertian halusinasi?
2. Apa penyebab halusisnasi?
3. Bagaimana Manifestasi klinis pada kline yang mengalami gangguan
halusinasi?
4. Bagaimana intervensi keperawatan yang diberikan pada klien
halusianasi?

1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah:
1. Mengetahui pengertian halusinasi
2. Mengetahui penyebab halusinasi
3. Mengetahui manifestasi klinis klien halusiansi
4. Mengetahui intrvensi kepaerawatan yang diberikjan kepada klien
dengan gangguan halusinasi
4

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Masalah Utama


Halusinasi

2.2 Proses Terjadinya Masalah


A. Definisi
Halusinasi adalah persepsi terhadap suatu stimulus eksternal dimana
stimulus tersebut pada kenyataannya tidak ada (Rawlin, 1993)
Halusinasi adalah merupakan penginderaan tanpa sumber rangsang
eksternal. Hal ini di bedakan dari distorsi atau ilusi yang merupakan
tanggapan salah dari rangsang yang nyata ada. Pasien merasakan
halusinasi sebagai sesuatu yang amat nyata, paling tidak untuk suatu
saat tertentu. (Anna Keliat & Akemat, 2006)
Halusinasi adalah salah satu gejala gangguan jiwa pada individu yang
ditandai dengan perubahan sensori persepsi merasakan sensasi palsu
berupa suara, pengliahatan, pengecapan perabaan atau penghiduan.
Pasien merasakan stimulus yang sebenarnya tidak ada. (Anna keliat-
2012)
Dari semua definisi diatas dapat disimpulkan bahwa halusinasi adalah
suatu keadaan gangguan persepsi sensori pada seseorang baik secara
pendengaran, penglihatan, pengecapan, perabaan, serta penghiduan
yang pada realitanya itu tidak ada.

B. Penyebab
1. Predisposisi
a. Factor perkembangan
Tugas perkembangan klien yang terganggu misalnya rendahnya
control dan kehangatan keluarga menyebabkan klien tidak
mampu mandiri sejak kecil, mudah frustasi, hilang percaya diri
dan lebih rentan terhadap stress.
b. Factor sosiokultural
Seseorang yang merasa tidak diterima lingkungannya sejak bayi
(unwanted child) akan merasa disingkirkan, kesepian, dan tidak
percaya pada lingkungannya.
c. Factor biokimia
Mempunyai pengaruh terhadap terjadinya gangguan jiwa.
Adanya stress yang berlebihan dialami seseorang maka di dalam
tubh akan dihasilkan suatu zat yang dapat bersifat halusinogenik
neurokimia seperti buffofenon dan dimentytranferase (DMP).
Akibat stress berkepanjangan menyebabkan teraktivasinnya
neurotransmitter otak. Misalnya terjadi ketidakseimbangan
ocetylcholin dan dopamin.
d. Factor psikologis
Tipe kepribadian lemah dan tidak bertanggung jawab mudah
terjerumus pada penyalahgunaan zat akditif. Hal ini berpengaruh
pada ketidakmampuan klien dalam ,mengambil keputusan yang
tepat demi masa depannya. Klien lebih memilih kesenangan
sesaat dan lari dari alam nyata munuju awal hayal.
e. Factor genetic dan pola asuh
Peneliti menunjukan bahwa anak sehat yang diasuh oleh
orangtua skizofrenia cenderung mengalami skizifrenia. Hasil
studi menunjukan bahwa factor keluarga menunjukan hubungan
yang sangat berpengaruh pada penyakit ini.

2. Presipitasi
a. Perilaku
Respon klien terhadap halusinasi dapat berupa curiga, ketakutan,
perasaan tidak aman, gelisah, dan bingung, perilaku merusak
diri, kurang perhatian, tidak mampu mengambil keputusan serta
6

tidak dapat membedakan keadaan nyata dan tidak nyata.


Menurut Rawlins dan heacock, 1993 mencoba memecahkan
masalah halusinasi berlandaskan atas hakikat keberadaan
seorang indivindu sebagian makhluk yang di bangun atas dasar
unsur-unsur bio-psiko-sosio-spirittual sehingga halusinasi dapat
dilihat dari lima dimensi yaitu :
1) Dimensi fisik
Halusinasi dapat ditimbulkan oleh beberapa kondisi fisik
seperti kelelahan yang luar biasa, penggunaan obat-obatan,
demam hingga delirium, intiksikasi alcohol dan kesulitan
untuk tidur dalam waktu yang lama.
2) Dimensi emosional
Perasaan cemas yang berlebihan atas dasar problem yang
tidak dapat diatasi merupakan penyebab halusinasi itu terjadi.
Isi dari halusinasi dapat berupa perintah memaksa dan
menakutan. Klien tidak sanggup lagi menentang perintah
tersebut hingga dengan kondisi tersebut klien berbuat sesuatu
terhadap ketakutan tersebut.
3) Dimensi intelektual
Dalam dimensi intelektual ini menerangkan bahwa indivindu
dengan halusinasi akan memperlihatkan adanya penurunan
fungsi ego. Pada awalnya halusinasi merupakan usaha dari
ego sindiri untuk melawan impuls yang menekan, namun
merupakan suatu hal yang menimbulkan kewaspadaan yang
dapat mengambil seluruh perhatian klien dan tak jarang akan
mengontrol semua perilaku klien.
4) Dimensi social
Klien mengalami gangguan interaksi sosial dalam fase awal
dan comforting, klien menggangap bahwa hidup
bersosialisasi dialam nyata sangat membahayakan. Klien
asyik dengan halusinasinya, seolah-olah ia merupakan tempat
untuk memenuhi kebutuhan akan interaksi social, control diri
dan harga diri yang tidak didapatkan didunia nyata. Isi
halusinasi dijadikan sistem control oleh indivindu tersebut,
sehingga jika perintah halusinasi berupa ancaman, dirinya
atau orang lain individu cenderung untuk itu. Oleh karena itu,
aspek penting dalam melaksanakan intervensi keperwatan
klien dengan mengupayakan suatu proses interaksi yang
menimbulakn pengalaman interpersonal yang memuaskan,
serta mengusakan klien tidak menyediri sehingga klien selalu
berinteraksi dengan lingkunganya dan halusinasi tidak
berlangsung.
5) Dimensi spiritual
Secara spiritual klien halusinasi mulai dengan kehampaan
hidup, rutinitas bermakna hilangnya aktifitas ibadah dan
jarang berupaya secara spiritual untuk menyucikan diri.
Irama sirkardiannya terganggu, karena ia sering tidur larut
malam dan bangun sangat siang. Saat terbangun serasa
hampa dan tidak jelas tujuan hidupnya. Ia sering memaki
takdir tetapi lemah dalam upaya menjeput rejeki,
menyalahkan lingkungan dan orang lain yang menyebabkan
takdirnya memburuk.

3. Psikopatologi/psikodinamika
Halusinasi merupakan bentuk yang paling sering dari gangguan
persepsi.Bentuk halusinasi ini bisa berupa suara-suara yang bising
atau mendengung, tapi yang paling sering berupa kata-kata yang
tersusun dalambentuk kalimat yang agak sempurna. Biasanya
kalimat tadi membicarakan mengenai keadaan pasien sendiri atau
yang dialamatkan pada pasien itu,akibatnya pasien bisa bertengkar
atau bicara dengan suara halusinasi itu. Bisa pula pasien terlihat
seperti bersikap mendengar atau bicara-bicarasendiri atau bibirnya
8

bergerak-gerak. Psikopatologi dari halusinasi yang pasti belum


diketahui. Banyak teori yang diajukan yang menekankan
pentingnya faktor-faktor psikologik, fisiologik dan lain-lain. Ada
yang mengatakan bahwa dalam keadaan terjagayang normal otak
dibombardir oleh aliran stimulus yang yang datang daridalam tubuh
ataupun dari luar tubuh.Input ini akan menginhibisi persepsiyang
lebih dari munculnya ke alam sadar. Bila input ini dilemahkan
atautidak ada sama sekali seperti yang kita jumpai pada keadaan
normal ataupatologis,maka materi-materi yang ada dalam
unconsicisus atau preconsciousbisa dilepaskan dalam bentuk
halusinasi. Pendapat lain mengatakan bahwa halusinasi dimulai
dengan adanyakeinginan yang direpresi ke unconsicious dan
kemudian karena sudah retaknya kepribadian dan rusaknya daya
menilai realitas maka keinginan tadidiproyeksikan keluar dalam
bentuk stimulus eksterna.

2.3 Manifestasi Klinis


Klien dengan halusinasi cenderung menarik diri, sering didapatkan duduk
terpaku dengan pandangan mata pada satu arah tertentu, tersenyum atau
berbicara sendiri, secara tiba-tiba marah atau menyerang oranglain, gelisah,
melakukan gerakan seperti sedang menikmati sesuatu. Juga keterangan dari
klien sendiri tentang halusinasi yang dialaminya ( apa yangdilihat, didengar
atau dirasakan). Berikut ini merupakan gejala klinis berdasarkan halusinasi
(Budi Anna Keliat, 1999) :
1. Fase Pertama / comforting / menyenangkan
Pada fase ini klien mengalami kecemasan, stress, perasaan gelisah,
kesepian. Klien mungkin melamun atau memfokukan pikiran pada hal
yang menyenangkan untuk menghilangkan kecemasan dan stress.
Cara ini menolong untuk sementara. Klien masih mampu mengotrol
kesadarnnya dan mengenal pikirannya, namun intensitas persepsi
meningkat.
Perilaku klien : tersenyum atau tertawa yang tidak sesuai,
menggerakkan bibir tanpa bersuara, pergerakan mata cepat, respon
verbal yang lambat jika sedang asyik dengan halusinasinya dan suka
menyendiri.
2. Fase Kedua / comdemming
Kecemasan meningkat dan berhubungan dengan pengalaman internal
dan eksternal, klien berada pada tingkat “listening” pada halusinasi.
Pemikiran internal menjadi menonjol, gambaran suara dan sensasi
halusinasi dapat berupa bisikan yang tidak jelas klien takut apabila
orang lain mendengar dan klien merasa tak mampu mengontrolnya.
Klien membuat jarak antara dirinya dan halusinasi dengan
memproyeksikan seolah-olah halusinasi datang dari orang lain.
Perilaku klien : meningkatnya tanda-tanda sistem saraf otonom seperti
peningkatan denyut jantung dan tekanan darah. Klien asyik dengan
halusinasinya dan tidak bisa membedakan dengan realitas. Cemas dan
konsentrasi menurun
3. Fase Ketiga / controlling
Halusinasi lebih menonjol, menguasai dan mengontrol klien menjadi
terbiasa dan tak berdaya pada halusinasinya. Termasuk dalam
gangguan psikotik. Karakteristik : bisikan, suara, isi halusinasi
semakin menonjol, menguasai dan mengontrol klien. Klien menjadi
terbiasa dan tidak berdaya terhadap halusinasinya.
Perilaku klien : kemauan dikendalikan halusinasi, rentang perhatian
hanya beberapa menit atau detik. Tanda-tanda fisik berupa klien
berkeringat, tremor dan tidak mampu mematuhi perintah.
4. Fase Keempat / conquering/ panik
Klien merasa terpaku dan tak berdaya melepaskan diri dari kontrol
halusinasinya. Halusinasi yang sebelumnya menyenangkan berubah
menjadi mengancam, memerintah dan memarahi klien tidak dapat
berhubungan dengan orang lain karena terlalu sibuk dengan
halusinasinya klien berada dalam dunia yang menakutkan dalam
10

waktu singkat, beberapa jam atau selamanya. Proses ini menjadi


kronik jika tidak dilakukan intervensi.
Perilaku klien : perilaku teror akibat panik, potensi bunuh diri,
perilaku kekerasan, agitasi, menarik diri atau katatonik, tidak mampu
merespon terhadap perintah kompleks dan tidak mampu berespon
lebih dari satu orang.

2.4 Akibat
Klien yang mengalami halusinasi dapat kehilangan control dirinya sehingga
bisa membahayakan diri sendiri, orang lain maupun merusak lingkungan
(resiko mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan). Hal ini terjadi
jika halusinasi sudah sampai fase ke IV, dimana klien mengalami panic dan
perilakunya dikendalikan oleh isi halusinasinya. Klien benar-benar
kehilangan kemampuan penilaian realitas terhadap lingkungan. Dalam situasi
ini klien dapat melakukan bunuh diri, membunuh orang lain bahkan merusak
lingkungan. Tanda dan gejalanya adalah muka merah, pandangan tajam, otot
tegang, nada suara tinggi, berdebat dan sering pula tampak klien memaksakan
kehendak: merampas makanan, memukul jika tidak senang, memperlihatkan
permusuhan, mendekati orang lain dengan ancaman, memberikan kata-kata
ancaman dengan rencana melukai, menyentuh orang lain dengan cara yang
menakutkan dan mempunyai rencana untuk melukai.

2.5 Pohon Masalah


Menurut keliat (1999),pohon masalah pada halusinasi yaitu:
Resiko menciderai diri,orang lain atau lingkungan

perubahan persepsi sensori halusinasi pendengaran

Isolasi sosial:Menarik Diri

2.6 Masalah dan Data yang dikaji


Sebelum menentukan masalah kita harus melakukan dulu pengkajian yaitu:
 Jenis dan isi halusinasi
Jenis halusinasi Data objektif Data subjektif
Dengar/suara Bicara atau tertawa sendiri, Mendengar suara-suara atau
marah-marah tanpa sebab, kegaduhan, mendengar suara
mencondongkan telinga kearah yang bercakap-cakap,
tertentu, menutup telinga mendengar suara merintah
melakukan suatu yang
berbahaya.
Penglihatan Menunjuk-nunjuk kearah Melihat bayangan, sinar,
tertentu, ketakutan pada suatu bentuk geometris, bentuk
yang tidak jelas kartun, melihat hantu atau
monster.
Penghidu Tanpak seperti sedang mencium Mencium bau-bauan, sperti
bau-bauan tertentu bau darah, urien, peses,
Menutup hidung terkadang bau yang
menyenangkan.
Pengecapan Sering meludah Merasakan rasa seperti
Muntah darah, urien atau feses.
Perabaan Mengaruk-garuk permukaan Mengatakan ada serangga
kulit dipermukaan kulit
Merasa seperti tersengat
listrik
 Waktu, frekuensi dan situasi yang menyebabkan halusinasi
 Respons halusinasi

1. Masalah keperawatan
a. Risiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan
b. Perubahan sensori perseptual : halusinasi
c. Isolasi sosial : menarik diri
2. Data yang perlu dikaji
12

a. Risiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan


1). Data Subyektif :
 Klien mengatakan benci atau kesal pada seseorang.
 Klien suka membentak dan menyerang orang yang
mengusiknya jika sedang kesal atau marah.
 Riwayat perilaku kekerasan atau gangguan jiwa lainnya.
2). Data Objektif :
 Mata merah, wajah agak merah.
 Nada suara tinggi dan keras, bicara menguasai: berteriak,
menjerit, memukul diri sendiri/orang lain.
 Ekspresi marah saat membicarakan orang, pandangan
tajam.
 Merusak dan melempar barang-barang.
b. Perubahan sensori perseptual : halusinasi
1) Data Subjektif
a) Klien mengatakan mendengar bunyi yang tidak
berhubungan dengan stimulus nyata
b) Klien mengatakan melihat gambaran tanpa ada stimulus
yang nyata
c) Klien mengatakan mencium bau tanpa stimulus
d) Klien merasa makan sesuatu
e) Klien merasa ada sesuatu pada kulitnya
f) Klien takut pada suara/bunyi/gambar yang dilihat dan
didengar
g) Klien ingin memukul/melempar barang-barang
2) Data Objektif
a) Klien berbicar dan tertawa sendiri
b) Klien bersikap seperti mendengar/melihat sesuatu
c) Klien berhenti bicara ditengah kalimat untuk mendengarkan
sesuatu
d) Disorientasi
c. Isolasi sosial : menarik diri
1) Data Subyektif
Sukar didapat jika klien menolak komunikasi, kadang hanya
dijawab dengan singkat ”tidak”, ”ya”.
2) Data Obyektif
Apatis, ekspresi sedih, afek tumpul, menyendiri/menghindari
orang lain, berdiam diri di kamar, komunikasi kurang atau tidak
ada (banyak diam), kontak mata kurang, menolak berhubungan
dengan orang lain, perawatan diri kurang, posisi tidur seperti
janin (menekur)

3. Diagnosa Keperawatan
a. Risiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan berhubungan
dengan perubahan sensori perseptual : halusinasi
b. Perubahan sensori perseptual : halusinasi berhubungan dengan
menarik diri.

4. Rencana Tindakan Keperwatan


Diagnosa keperawatan 1 : Risiko mencederai diri, orang lain dan
lingkungan berhubungan dengan perubahan sensori perseptual :
halusinasi
Tujuan umum : Klien tidak mencederai diri sendiri, orang lain dan
lingkungan
Tujuan khusus :
a. Klien dapat membina hubungan saling percaya
Intervensi:
 Salam terapeutik – perkenalan diri – jelaskan tujuan –
ciptakan lingkungan yang tenag – buat kontrak yang jelas
(waktu, tempat, topik)
 Beri kesempatan mengungkapkan perasaan
 Empati
14

 Ajak membicarakan hal-hal yang ada di lingkungan


b. Klien dapat mengenal halusinasinya
Intervensi:
 Kontak sering dan singkat
 Observasi tingkah laku yang terkait dengan halusinasi (verbal
dan non verbal)
 Bantu mengenal halusinasinya dengan menanyakan apakah
ada suara yang didengar dan apa yang dikatakan oleh suara
itu. Katakan bahwa perawat percaya klien mendengar suara
itu, tetapi perawat tidak mendengarnya. Katakan bahwa
perawat akan membantu
 Diskusi tentang situasi yang menimbulkan halusinasi, waktu,
frekuensi terjadinya halusinasi serta apa yang dirasakan saat
terjadi halusinasi
 Dorong untuk mengungkapkan perasaan saat terjadi
halusinasi
c. Klien dapat mengontrol halusinasinya
Intervensi:
 Identifikasi bersama tentang cara tindakan jika terjadi
halusinasi
 Diskusikan manfaat cara yang digunakan klien dan cara baru
untuk mengontrol halusinasinya
 Bantu memilih dan melatih cara memutus halusinasi : bicara
dengan orang lain bila muncul halusinasi, melakukan
kegiatan, mengatakan pada suara tersebut “saya tidak mau
dengar”
 Tanyakan hasil upaya yang telah dipilih/dilakukan
 Beri kesempatan melakukan cara yang telah dipilih dan beri
pujian jika berhasil
 Libatkan klien dalam TAK : stimulasi persepsi
d. Klien dapat dukungan dari keluarga
Intervensi:
 Beri pendidikan kesehatan pada pertemuan keluarga tentang
gejala, cara, memutus halusinasi, cara merawat, informasi
waktu follow up atau kapan perlu mendapat bantuan
 Beri reinforcement positif atas keterlibatan keluarga
e. Klien dapat menggunakan obat dengan benar
Intervensi:
 Diskusikan tentang dosis, nama, frekuensi, efek dan efek
samping minum obat
 Bantu menggunakan obat dengan prinsip 5 benar (nama
pasien, obat, dosis, cara, waktu)
 Anjurkan membicarakan efek dan efek samping obat yang
dirasakan
 Beri reinforcement positif klien minum obat yang benar.

Diagnosa keperawatan 2 : Perubahan sensori perseptual :


halusinasi berhubungan dengan menarik diri.
Tujuan Umum : Klien dapat berinteraksi dengan orang lain
sehingga tidak terjadi halusinasi
Tujuan Khusus :
a. Klien dapat membina hubungan saling percaya
Intervensi:
 Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip
komunikasi terapeutik dengan cara :
 sapa klien dengan ramah baik verbal maupun non verbal
 perkenalkan diri dengan sopan
 tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang
disukai
 jelaskan tujuan pertemuan
 jujur dan menepati janji
16

 tunjukkan sikap empati dan menerima klien apa adanya


 berikan perhatian kepada klien dan perhatian kebutuhan
dasar klien
b. Klien dapat menyebutkan penyebab menarik diri
Intervensi:
 Kaji pengetahuan klien tentang perilaku menarik diri dan
tanda-tandanya
 Beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan
perasaan penyebab menarik diri atau mau bergaul
 Diskusikan bersama klien tentang perilaku menarik diri,
tanda-tanda serta penyebab yang muncul
 Berikan pujian terhadap kemampuan klien mengungkapkan
perasaannya
c. Klien dapat menyebutkan keuntungan berhubungan dengan
orang lain dan kerugian tidak berhubungan dengan orang lain.
Intervensi:
 Kaji pengetahuan klien tentang manfaat dan keuntungan
berhubungan dengan orang lain
 beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan
perasaan tentang keuntungan berhubungan dengan prang
lain
 diskusikan bersama klien tentang manfaat berhubungan
dengan orang lain
 beri reinforcement positif terhadap kemampuan
mengungkapkan perasaan tentang keuntungan berhubungan
dengan orang lain
d. Kaji pengetahuan klien tentang kerugian bila tidak berhubungan
dengan orang lain
Intervensi:
 beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan
perasaan dengan orang lain
 diskusikan bersama klien tentang kerugian tidak
berhubungan dengan orang lain
 beri reinforcement positif terhadap kemampuan
mengungkapkan perasaan tentang kerugian tidak
berhubungan dengan orang lain
e. Klien dapat melaksanakan hubungan sosial
Intervensi:
 kaji kemampuan klien membina hubungan dengan orang
lain
 dorong dan bantu kien untuk berhubungan dengan orang
lain melalui tahap :
- K–P
- K – P – P lain
- K – P – P lain – K lain
- K – Kel/Klp/Masy
 Beri reinforcement positif terhadap keberhasilan yang telah
dicapai
 Bantu klien untuk mengevaluasi manfaat berhubungan
 Diskusikan jadwal harian yang dilakukan bersama klien
dalam mengisi waktu
 Motivasi klien untuk mengikuti kegiatan ruangan
 Beri reinforcement positif atas kegiatan klien dalam
kegiatan ruangan
f. Klien dapat mengungkapkan perasaannya setelah berhubungan
dengan orang lain
Intervensi:
 Dorong klien untuk mengungkapkan perasaannya bila
berhubungan dengan orang lain
18

 Diskusikan dengan klien tentang perasaan masnfaat


berhubungan dengan orang lain
 Beri reinforcement positif atas kemampuan klien
mengungkapkan perasaan manfaat berhubungan dengan
orang lain.
g. Klien dapat memberdayakan sistem pendukung atau keluarga
Intervensi:
 Bina hubungan saling percaya dengan keluarga :
- salam, perkenalan diri
- jelaskan tujuan
- buat kontrak
- eksplorasi perasaan klien
 Diskusikan dengan anggota keluarga tentang :
- perilaku menarik diri
- penyebab perilaku menarik diri
- akibat yang terjadi jika perilaku menarik diri tidak
ditanggapi
- cara keluarga menghadapi klien menarik diri
 Dorong anggota keluarga untukmemberikan dukungan
kepada klien untuk berkomunikasi dengan orang lain
 Anjurkan anggota keluarga secara rutin dan bergantian
menjenguk klien minimal satu kali seminggu
 Beri reinforcement positif positif atas hal-hal yang telah
dicapai oleh keluarga
Strategi Pelaksanaan
No Kemapuan Tanggal

A Pasien
SP 1 pasien
1. Mengidentifikasi jenis halusinasi pasien
2. Mengidentifikasi isi halusinasi pasien
3. Mengidentifikasi waktu halusinasi pasien
4. Mengedentifikasi frekuensi halusinasi pasien
5. Mengidentifikasi situasi yang menimbulkan
halusinasi
6. Mengidentifikasi respon pasien terhadap
halusinasi
7. Mengajarkan pasien menghardik halusinasi
8. Menganjurkan pasien memasukkan cara
menghardik halusinasi dalam jadwal kegiatan
harian
SP 2 pasien
1. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien
2. Melatih pasien mengendalikan halusinasi dengan
cara bercakap-cakap dengan orang lain
3. Menganjurkan pasien memasukkan kegiatan
bercakap-cakap dengan orang lain dalam jadwal
kegiatan harian
SP 3 pasien
1. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien
2. Melatih pasien mengendalikan halusinasi dengan
melakukan kegiatan (kegiatan yang biasa
dilakukan pasien di rumah)
3. Menganjurkan pasien memasukkan kegiatan
kebiasaan di rumah ke dalam jadwal kegiatan
harian
SP 4 pasien
1. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien
2. Memberikkan pendidikan kesehatan mengenai
penggunaan obat secara teratur
20

3. Mengajurkan pasien memasukan penggunaan


obat secara teratur ke dalam jadwal kegiatan
harian
B Keluarga
SP 1 keluarga
1. Mendiskusikan masalah yang dirasakan oleh
keluarga dalam merawat pasien
2. Menjelaskan pengertian, tanda dan gejala
halusinasi, dan jenis proses terjadi halusinasi
yang dialami pasien
3. Menjelaskan cara-cara merawat pasien halusinasi
SP 2 keluarga
1. Melatih keluarga mempraktikkan cara merawat
pasien dengan halusinasi
2. Melatih keluarga melakukan cara merawat
langsung di hadapan pasien halusinasi
SP 3 keluarga
1. Membantu keluarga membuat jadwal aktivitas di
rumah termasuk minum obat (perencanaan
pulang)
2. Menjelaskan tindak lanjut pasien setelah pulang
Total nilai SP pasien + SP keluarga
Nilai rata-rata
BAB III

SIMPULAN DAN SARAN


3.1 Simpulan
Halusinasi adalah suatu keadaan gangguan persepsi sensori pada seseorang
baik secara pendengaran, penglihatan, pengecapan, perabaan, serta
penghiduan yang pada realitanya itu tidak ada. Penyebabnya tergantung pada
predisposisi dan presipitasi yang terjadi pada klien. Adapun tanda dan gejala
yang terlihat biasanya klien mendengar, melihat, merasakan, mencium dan
mengecap sesuatu hal yang pada nyatanya tidak ada. Adapun starategi
penatalaksanannya diberikan kepada klien da keluarga dengan tetap
menegakkan prinsip emapat car menghilangkan halusinasi yaitu dengan cara
menghardik, dengan cara bercakap-cakap dengan orang lain, melakukan
kegitan yang sudah terjadwal, dan yang ke empat minum obat dengan teratur.

3.2 Saran
Perawat sebagai provider pemberi asuhan keperawatan kiranya jangan
mengiyakan atau mentidakkan halusianasi yang mereka rasakan. Ada baiknya
perawat mencoba mengorientasikan lagi pada kenyataan bahwa apa yang
klien rasakan itu pada kenyataannya tidak ada.
22

I. Daftar Pustaka
Anna keliat, Budi, dkk. (2006). Model praktik keperawatan
profesional jiwa. Jakarta: EGC
Kaplan, Harlod I dan Benjamin J, Sadock, MD . (1998). Ilmu
Kedokteran Jiwa Darurat. Jakarta:Widya Medika
yosep, Iyus. (2009). Keperawatan Jiwa. Bandung : PT refika aditama,
http://lpkeperawatan.blogspot.com/2013/12/laporan-pendahuluan-
gangguan-persepsi.html#.VFuJJnat-KE