Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PENDAHULUAN

I. Masalah Utama
Isolasi Sosial : Menarik Diri

II. Proses terjadinya masalah


A. Definisi
Menurut Rawlins,R.P. and Heacock, P.E. (1988:423) Isolasi
social menarik diri merupakan usaha menghindari dari interaksi dan
berhubungan dengan orang lain, individu meras kehilangan hubungan
akrab, tidak mempunyai kesempatan dalam berpikir, berperasaan,
berprestasi, atau selalu dalam kegagalan
Isolasi social adalah merupakan upaya klien untuk menghindari
interaksi dengan orang lain, menghindari hubungan dengan orang
lainmaupun komunikasi dengan orang lain. ( Kellat, 1998).
Isolasi social adalah suatu gangguan interpersonal yang terjadi
akibat adanya kepribadian yang tidak fleksibel yang menimbulkan
perilaku maladaptive dan mengganggu fungsi seseorang dalam
hubungan social. (Depkes, RI 2000).
B. Penyebab
1. Faktor predisposisi
Beberapa faktor pendukung terjadinya gangguan dalam hubungan
sosial adalah :
a. Faktor tumbuh kembang
Pada masa tumbuh kembang individu, ada tugas
perkembangan yang hasrus dipengaruhi agar tidak terjadi
ganggauan dalam hubungan social. Tugas perkembangan ini
pada masing-masing tahap tumbuh kembang mempunyai
spesifik tersendiri. Bila tugas-tugas dalam perkembangan ini
tidak terpenuhi akan menghambat perkembangan selanjutnya
misalnya dalam fase oral apabila tugas perkembangan dalam
membentuk rasa saling percaya tidak terpenuhi dapat
mengakibatkan individu tersebut tidak percaya kepada dirinya
dan orang lain (curiga).
b. Faktor komunikasi dalam keluarga
Gangguan komunikasi dalam keluarga, merupakan faktor
pendukung untuk terjadinya gangguan dalam hubungan social.
Dalam teori ini termasuk komunikasi yang tidak jelas (Doble
Blind) dimana seorang anggota keluarga menerima pesan yang
saling bertentangan dalam waktu bersamaan ekspresi emosi
yang tinggi dalam keluarga, membatasi untuk berhubungan
diluar lingkungan keluarga (pingit)
c. Faktor Sosial budaya
Isolasi social atau mengasingkan diri dari lingkungan social
merupakan suatu faktor pendukung untuk terjadinya gangguan
dalam hubungan social. Hal ini disebabkan oleh norma-norma
yang dianut oleh keluarga yang salah, dimana setiap anggota
keluarga yang tidak produktif diasingkan dari orang lain
(lingkungan sosialnya) misalnya pada usia lanjut, penyakit
kronis dan penyandang cacat harapan yang tidak realistis
dengan orang lain merupakan faktor pendukung terjadinya
gangguan hubungan sosial.
d. Faktor biologis
Faktor keturunan juga merupakan faktor prndukung terjadinya
gangguan dalam gangguan hubungan social. Struktur otak
yang abnormal seperti : atropi otak, menurunkan berat otak
secara drastis, perubahan ukuran dan bentuk sel-sel dalam
limbikdan daerah kortikal, biasanya ditemukan pada pasien
skizofrenia.
2. Faktor presipitasi
Stressor presipitasi terjadinya gangguan dalam hubungan social
dapat ditimbulkan oleh faktor internal dn eksternal meliputi :
a. Stressor social budaya
Stress yang ditimbulkan oleh faktor social budaya ini antara
lain keluarga yang labil, berpisah dengan orang yang terdekat /
berarti misalnya dirawat dirumah sakit akibat penyakit kronik.
b. Faktor hormonal
Gangguan dari fungsi kelenjar bawah otak (gland pituitary)
menyebbkan turunya hormone FSH dan LH. Kondisi ini
terdapat pada pasien skizofrenia.
c. Hipotesa virus
Virus HIV dapat menyebabkan tingkah laku pisikotik.
d. Model biologika lingkungan social
Tubuh akan menggambarkan ambang toleransi seseorang
terhadap stress, pada saat terjadinya interaksi dengan stressor
dilingkungan social.
e. Stressor pisikologi
Yang lebih nyata adalah adanya kecemasan yang
berkepanjangan yang cukup berat dengan terbatasnya
kemampuan individu dalam menyelesaikan masalah tersebut
akan menyebabkan gangguan hubungan sosial.
3. Psikopatologi, psikodinamika
C. Manifestasi Klinik
Gejala subjektif :
1. Klien menceritakan perasaan kesepian atau ditolak oleh orang lain
2. Klien merasa tidak aman berada dengan orang lain
3. Respon verbal kuarang dan sangat singkat
4. Klien mengatakan hubungan yang tidak berarti dengan oaring lain
5. Klien merasa bosan dan lambat menghabiskan waktu
6. Klien tidak mampu berkonsentrasi dan membuat kep utusan
7. Klien merasa tidak berguna\Klien tidak yakin dapat
melangsungkan hidup
8. Klien merasa ditolak
Gejala objektif :
1. Klien banyak diam dan tidak mau bicara
2. Tidak mengikuti kegiatan
3. Banyak berdiam diri di kamar
4. Klien menyendiri dan tidak mau berinteraksi dengan orang yang
terdekat
5. Klien tampak sedih, ekspresi datar dan dangkal
6. Kontak mata kurang
7. Kurang spontan
8. Apatis ( acuh terhadap lingkungan)
9. Ekspresi wajah kurang berseri
10. Tidak merawat diri dan tidak memperhatikan kebersihan diri
11. Mengisolasi diri
12. Tidak atau kurang sadar terhadap lingkungan sekitar nya
13. Masukan makanan dan minuman terganggu
14. Retensi urin dan feses
15. Aktivitas menurun
16. Kurang energy (tenaga)
17. Rendah diri
18. Postur tubuh berubah misalnya fetus/janin ( khusus nya pada posisi
tidur )
D. Akibat
Prilaku isolasi social : menarik diri dapat beresiko terjadi
perubahan persepsi sensori halsinasi Townsend, M.C. (1998:156).
Perubahan persepsi sensori halusinasi adalah persepsi sensori yang
salah (misalnya tnpa stimulus eksternal) atau persepsi stimulus yang
tidak sesuai dengan realita / kenyataan seperti melihat bayangan atau
mendengar suara-suara yang sebenarnya tidak ada (Johnson, B.S. 1995
: 421). Menurut Maramis (1998 : 119), halusinasi adalah pencerapan
tanpa adanya rangsangan apapun dari pancaindra, diman orang tersebut
sadar dan dalam keadaan terbangun yang dapat disebabkan oleh
psikotik, gangguan fungsional, organic, histerik.
Halusinasi merupakan pengalaman memeresepsikan yang terjadi
tanpa adanya stimulus sensori eksternal yang meliputi lima perasaan
(penglihatan, pendengaran, pengecapan, penciuman, perabaan) akan
tetapi yang paling umum adalah halusinasi penglihatan dan halusinasi
pendengaran (Boyd, M.A. an Nihart, M.A., 1998 : 303; Rawlins, R.P
dan Heacock, P., 1988 : 198). Menurut Carpenito, I.J. (1998 : 363),
perubahan sensori halusinasi merupakan keadaan dimana individu dan
kelompok mengalami atau berisiko mengalami suatu perubahan dalam
jumlah, pola atau interprestasi stimulus yang datang. Sementara itu,
menurut pendapat lain halusinasi merupakan presepsi sensori yang
palsu yang terjadi tanpa adannya stimulus eksternal, yang dibedakan
dari distresi dan ilusi yang merupakan kekeliruan persepsi terhadap
stimulus yang nyata dan pasien menganggap halusinasi sebagai suatu
yang nyata dan pasien menganggap halusinasi suatu yang nyata
(Kusuma, W., 1997 : 284).
Menurut Carpenito, L.J. (1998 :363); Townsand, M.C. (1998 :
156); dan stuart, G.W dan sundeen, S.J (1998 : 328-329) perubahan
persepsi sensori halusinasi sering ditandai dengan adanya hal-hal
berikut .
Data subjektif :
1. Tidak mampu mengenal waktu, orang dan tempat
2. Tidak mampu memecahkan masalah
3. Mengungkapkan adanya halusinsi (misalnya mendengar suara-
suara atau melihat bayangan)
4. Mengeluh cemas dan khawatir
Data objektif :
1. Apatis dan cenderung menarik diri
2. Tampak gelisah, perubahan prilaku dan pola komunikasi, kadang
berhenti berbicara seolah-olah mendengahrkan sesuatu
3. Menggerakan bibirnya tanpa menimbulkan suara
4. Menyeringai dan tertawa yang tidak sesuai
5. Gerakan mata yang cepat
6. Pikiran yang berubah-ubah dan konsentrasi rendah
7. Respon-respon yang tidak sesuai (tidak mampu merespon terhadap
petunjuk yang kompleks

III. Pohon Masalah


Resiko gangguan sensori persepsi halusinasi

Isolasi Sosial Defisit Perawatan Diri

Mekanisme koping tidak efektif

Gangguan konsep diri : Harga Diri Rendah


(Sumber Keliat, 2006)

IV. Masalah dan data yang harus dikaji


1. Tidak tahan terhadap kontak yang lama
2. Tidak konsentrasi dan pikiran mudah beralih saat bicara
3. Tidak ada kontak mata
4. Ekspresi wajah murung, sedih
5. Tampak larut dalam pikiran dan ingatannya sendiri
6. Kurang aktivitas
7. Tidak komunikatf
8. Merusak dirisendiri
9. Ekspresi malu
10. Menarik diri dari hubungan social
11. Tidak mau makan dan tidak mau tidur

V. Diagnosa Keperawatan
1. Isolasi sosial
2. Harga diri rendah kronis
3. Perubahan persepsi sensori: halusinasi
4. Koping keluarga tidak efektif
5. Koping individu tidak efektif
6. Intoleransi aktifitas
7. Deficit perawatan diri
8. Resiko tinggi mencederai diri, orang lain dan lingkungan

VI. Rencana Intervensi (NCP)


1. Membina hubungan saling percaya
Untuk membina hubungan percaya pada pasien isos kadang kadang
perlu waktu yang tidak singkat. Perawat harus konsisten bersifat
terapeutik kepada pasien. Selalu penuhi janji adalah salah satu upaya
yang bias dilakukan. Pendekatan yang konsisten akan membuahkan
hasil. Bila klien sudah percaya maka apapun yang akan di programkan,
klien akan mengikutinya. Tindakan yang harus dilakukan dalam
membina hubungan saling percaya adalah :
a. Mengucapkan salam setiap kali berinteraksi dengan pasien
b. Berkenalan dengan pasien : perkenalan nama dan nama panggilan
yang saudara sukai, serta tanyakan nama dan nama panggilan klien
c. Menanyakan perasaan dan keluahn klien saat ini
d. Buat kontrak asuhan : apa yang akan dilakukan bersama klien,
berapa lama akan dikerjakan dan tempat nya dimana
e. Jelaskan bahwa perawat akan merahasiakan informasi yang
diperoleh untuk kepentingan terapi
f. Setiap saat tunjukan sikap empati terhadap klien
g. Penuhi kebutuhan dasar klien saat berinteraksi
2. Membantu klien menyadari perilaku isolasi social
Mungkin perilaku isos yang dialami klien dianggap sebagai perilaku
yang normal. Agar klien menyadari bahwa perilaku tersebut perlu
diatasi maka hal yang pertama dilakukan adalah menyadarkan klien
bahwa isos merupakan masalah dan perlu diatasi. Hal tersebut dapat
digali dengan menanyakan :
a. Pendapat klien tentang kebiasaan berinteraksi dengan orang lain
b. Menanyakan apa yang menyebabkan klien tidak ingin berinteraksi
dengan orang lain
c. Diskusikan keuntungan bila klien memiliki banyak teman dan
bergaul akrab dengan mereka
d. Diskusikan kerugian bila klien hanya mengurung diri dan tidak
bergaul dengan orang lain
e. Jelaskan pengaruh isos terhadap kesehatan fisik klien
3. Melatih klien cara cara berinteraksi dengan orang lain secara bertahap
a. Jelaskan kepada klien cara berinteraksi dengan orang lain\
b. Berikan contoh cara berbicara dengan orang lain
c. Beri kesempatan klien mempraktikan cara berinteraksi dengan
orang lain yang dilakukan dihadapan perawat
d. Mulailah bantu klien berinteraksi dengan satu orang teman /
anggota keluarga
e. Bila klien sudah menunjukan kemajuan , tingkatkan jumlah
interaksi dengan dua, tiga, empat orang dan seterusnya
f. Beri pujian untuk setiap kemajuan interaksi yang telah dilakukan
oleh klien
g. Siap mendengarkan ekspresi perasaan klien setelah berinteraksi
dengan orang lain. Mungkin klien akan mengungkapkan
keberhasilan atau kegagalan nya. Beri dorongan terus menerus agar
klien tetap semangat meningkatkan interaksi nya.
4. Diskusikan dengan klien tentang kekurangan dan kelebihan yang
dimiliki
5. Inventarisir kelebihan klien yang dapat dijadikan motivasi untuk
membangun kepercayaan diri klien dalam pergaulan
6. Ajarkan kepada klien koping yang konstruktif
7. Libatkan klien dalam interaksi dan terapi kelompok secara bertahap
8. Diskusikan dengan keluarga pentingnya interaksi klien yang dimulai
dengan keluarga terdekat.
9. Eksplorasi keyakinan agama klien dalam menumbuhkan sikap penting
nya sosialisasi dengan lingkungan sekitar.

VII. Daftar Pustaka


1. April Ariani, Tutu S. Kp., M. Kes. 2012. Sistem Neurobehavior. Jakarta
: Salemba Medika.
2. Yosep, Iyus S. Kp., M. Si. 2009. Keperawatan Jiwa Edisi Revisi.
Bandung : PT. Refika Aditama.
3. http://lpkeperawatan.blogspot.com/2013/12/laporan-pendahuluan-
isolasi-sosial-.html?m=1 (6 November 2014).