Anda di halaman 1dari 2

PENDAHULUAN

Demam adalah suatu gejala yang menyertai berbagai penyakit, yang

merupakan respon normal terhadap infeksi mikroorganisme maupun kondisi

lingkungan. Demam pada dasarnya adalah salah satu mekanisme pertahanan

tubuh terhadap infeksi oleh zat asing. Deman juga merupakan suatu gejala dan

bukan merupakan penyakit tersendiri. Dan demam juga ditandai dengan kenaikan

suhu tubuh diatas suhu tubuh normal, dimana limfosit dan makrofag menjadi

lebih aktif (1).

Indonesia adalah salah satu Negara tropis yang kaya akan tanaman obat

dan sangat potensial untuk dikembangkan, namun belum dikelola secara

maksimal. Kekayaan alam tumbuhan di Indonesia meliputi tiga puluh ribu jenis

tumbuhan dan total empat puluh ribu jenis tumbuhan di dunia, sembilan ratus

empat puluh jenis di antaranya merupakan tumbuhan berkhasiat sebagai obat (2).

Tanaman yang berkhasiat untuk pengobatan salah satunya adalah tanaman

kelakai (Stenochlaena palustris (Burm.F) Bedd) yang sangat dikenal oleh

masyarakat Kalimantan Tengah. Kelakai banyak digunakan oleh masyarakat di

sana sebagai tanaman obat karena tanaman tersebut mudah didapat dan memiliki

banyak manfaat seperti penambah darah, menunda penuaan, antidiare, dan

sayuran yang lezat (3).

Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan dengan salah satu

masyarakat Suku Dayak Seruyan, diketahui bahwa kelakai dipergunakan dalam

sehari-hari oleh masyarakat Suku Dayak Seruyan untuk mencegah kekurangan

1
2

darah (pencegah anemia), menstruasi teratur dan anti diare serta berkhasiat

sebagai pereda demam, dan juga mengobati sakit kulit (3).

Dalam penelitian Khair (2012) juga menyebutkan daun kelakai dapat

digunakan sebagai obat tradisional karena mengandung golongan senyawa

flavonoid dan tanin yang diantaranya berfungsi sebagai anti diare, meningkatkan

ASI, dan dapat mengobati kanker.

Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti tertarik untuk melakukan

pengujian efek antipiritek ekstrak etanol daun kelakai (Stenochlaena palustris

(Burm.F) Bedd) pada tikus jantan.

Pada penelitian ini bertujuan untuk memastikan secara ilmiah daun kelakai

(Stenochlaena palustris (Burm.F) Bedd) memiliki efek antipiretik.

Hasil penelitian ini dapat bisa menjadikan informasi kepada masyarakat

pada umumnya maupun akademisi mengenai tanaman kelakai (Stenochlaena

palustris (Burm.F) Bedd) yang secara empiris oleh beberapa masyarakat di

Kalimantan Tengah yang diketahui bermanfaat sebagai antipiretik. Dan selain itu

bisa juga sebagai uji pendahuluan untuk penelitian-penelitian selanjutnya

mengenai tanaman kelakai (Stenochlaena palustris (Burm.F) Bedd) sebagai salah

satu tanaman tradisional yang berkhasiat untuk pengobatan. Dan untuk penelitian

ini juga bisa digunakan sebagai penambah wawasan dan untuk mengaplikasikan

ilmu pengetahuan yang telah didapat.