Anda di halaman 1dari 43

POLA KOGNITIF PERSEPSI

A. PERUBAHAN NORMAL SEIRING PENUAAN


1. KOGNISI
Kognisi merupakan proses penerimaan, penyimpanan, pembagian, dan
penggunaan informasi. Tugas-tugas intelektual seperti berpikir, mengingat,
merasakan, mengomunikasikan, menghitung, dan memecahkan masalah
merupakan contoh fungsi kognitif.
Matthews, Cauley, Yaffe, dan Zmuda (1999), menemukan bahwa pendidikan
formal melindungi lansia dari penurunan fungsi kognitif yang berkaitan dengan
penuaan, walaupun pendidikan yang mereka jalani telah berlangsung selama
beberapa tahun sebelumnya. Pendidikan formal juga diketahui menjadi prediktor
yang sangat kuat pada fungsi kognitif di usia tua.
Penurunan fungsi inteleketual telah diketahui terjadi lebih besar pada lansia
yang mengalami penyakit jantung arteriosklerotik daripada lansia yang sehat.
Selain itu emfisema, infeksi akut, nutrisi yang kurang, cedera, dan pembedahan,
dapat memengaruhi tingkat intelegensia lansia secara sementara atau menetap,
kurang terjadi aliran darah ke otak. Jadi penurunan kemampuan intelektual tidak
menurun tajam pada lansia sehat merupakan fenomena yang dikenal sebagai
“Penurunan Akhir”.
Ketakutan yang biasa terjadi pada seseorang yang beranjak tua dan keluhan
yang umum dialami lansia adalah harus menghadapi penurunan memori.
Age associated memory impairment (AMMI) merupakan istilah yang
digunakan untuk menggambarkan kondisi defisiensi dalam proses mengingat yang
terjadi seiring penuaan. Tenaga medis seperti perawat dapat sedikit menyakinkan
lansia bahwa AMMI, tidak seperti penyakit demensia, tidak terjadi secara
progresif atau bukanlah suatau bentuk ketidakmampuan. AMMI dapat dikenali
ketika sesorang berada di bawah tekanan. Saat seseorang sedang dalam keadaan
rileks, biasanya ia mampu mengingat infomasi yang telah dilupakan. Belum
ditemukan terapi untuk mengatasi kondisi AMMI. Dengan menggunakan
pengingat dan daftar dalam bentuk tulisan dan daftar, mengulangi informasi yang
diperlukan, serta menyediakan cukup waktu untuk mengingat informasi kembali
biasanya sangat membantu bagi lansia. Kehilangan memori akibat AMMI dapat
diatasi dengan tidak menganggu aktivitas sehari-hari. Saat aktivitas sehari-hari
terhambat akibat melupakan beberapa kejadian singkat dapat dilakukan
penyelidikan dan perhatian lebih lanjut.
2. PERUBAHAN SENSORIS PERSEPSI
Perubahan sistem sensoris yang tidak dapat dikompensasi seiring penuaan
memiliki dampak pada proses intelegensia, pembelajaran, dan memori. Semua
indra memberikan arti pada lansia saat berinteraksi dengan dan mengintergrasikan
dunia. Akibatnya penurunan kemampuan fungsional sering kali memiliki dampak
yang terlihat pada perilaku dan kualitas hidup yang dialami lansia.
Penurunan ketajaman penglihatan ringan yang disebut presbiopia, terjadi
seiring proses penuaan. Presbiopia disertai dengan kekurangan kemampuan
berfokus pada objek yang dekay dan mulai terjadi pada usia sekitar 40-an.
Disebabkan oleh kehilanagna elastisitas lensa, sehingga tidak dapat berfokus pada
benda yang dekat.
Lansia membutuhkan lebih banyak waktu untuk memfokuskan kembali saat
melihay dari satu jarak ke jarak yang lain karena kehilangan akomodasi mata serta
bertahap; kemampuan untuk membedakan semua detail juga menjadi lebih sulit.
Meningkatkan penerangan merupakan tindakan yang membantu lansia untuk
melihat ketika pencayahaan di ruangan kurang.
Lansia sangatlah rentan terhadap pantulan cahaya matahri ketika berada di luar
rumah, tetapi juga terhadap pantulan permukaan yang mengkilap seperti berasal
dari dinding dan lantai, serata cahaya yang menyilaukan dari lampu neon. Topi
dan penutup kepala lainnya, dapat membantu mengatasi lansia ini. Sensitifitas
terhadap cahay yang menyulaukan mengindiakasikan adanya katarak yang sedang
berkembang, terutama bila lansia mengalami gejala seperti pusing, kelelahan
mata, atau sensai terbakar pada mata. Para lansia harus didorong untuk menjalani
pemeriksaan mata secara teratur tiap 1 atau 2 tahun setelah 65 tahun, atau lebih
sering pada lansia dengan riwayat penyakti keluarga yang mempengaruhi mata
(Mayo Medical Essay, 1995).
Penurunan pendengaran dialami oleh lansia dengan rata-rata usia lebih dari 65
tahun. Lansia dengan keluhan pendengaran biasanya mengeluhkan kesulitan
memahami pembicaraan. Kesepian, depresi, dan atau kecenderungan paranoid
dapat terjadi jika seorang yang mengalami gangguan pendengaran menyadari
keterbatasan mereka dan menghindari situasi yang mengharuskan mereka
berinteraksi dengan orang lain.
Defisit pendengaran yang umumnya terjadi pada lansia disebut presbikusi,
yakni kehilangan pendengaran sesnsorineural, mulai dari penurunan mendengar
nada tinggi sampai kehilangan pendengaran total. Presbikusis terjadi secara
bertahap, presbikusis sensoris disebabkan karena atrofi organ Corti dan gangguan
pendengaran berfrekuensi tinggi. Presbikusis neural dikaitkan dengan degenaris
sel-sel rambut dan kerusakan saraf koklear.
Kehilangan pendengaran kondusi juga sering terjadi pada lansia, umumnya
melibatkan masalah mekanis memindahkan gelombang suara melewati telinga
bagian luar dan bagian tengah ke gendang telinga. Produksi serumen pada lansia
lebih sedikit, tetapi konsistensinya lebih padat karena jumlah keratin lebih banyak.
Bulu-bulu getar pada lansia semakin kasar dan kaku , serta kurang aktif dalam
mendorong residu ke meatus akustikus eksternalis.
Indra pengecap lansia yaitu lidah lebih halus daripada dewasa muda, sehingga
hanya sedikit cairan yang memasuki organ pengecap. Produk saliva menurun pada
lansia dan menjadi lebih kental, sehingga memengaruhi kemampuan untuk
mengecap makanan. (Ellipoulus, 1993). Pemaparan zat-zat toksik yang
berlangsung terlalu lama, seperti merokok, diketahui menurunkan pengecapan.
Faktor lain yaitu kemampuan merasakan suhu makanan, kebersihan mulut,
penggunaan gigi palsu yang sering pada lansia, dan keutuhan indra penciuman.
Indra penciuman sering mengalami masalah seiring penuaan dalam mengenali
dan menikmati makanan, dibandingkan indra pengecepan. Kemampuan indera
pengecapan dipengaruhi oleh pajanan yang berlangsung lama terhadap zat-zat
toksik seperti debu putik sari, dan asap. Penurunan indra penciuman juga
menyebabkan lansia memiliki resiko keselamatan, seperti bau berbahaya (gas,
asap rokok).
Kemampuan lansia dalam mengatur suhu tubuh juga menurun karena
berkurangnya jumlah pembuluh darah kecil yang menyuplai epidermis.
Pengurangan deposit lemak dan pengurangan produksi kelenjar keringat sebagai
kondisi; penyerta pada perubahan pembuluh darah, membuat lansia rentan
mengalami gangguan pengaturan suhu tubuh dan ketidakmampuan yang lebih
besar dalam menyesuaikan diri terhadap perbedaan suhu lingkungan yang besar
(Saxon & Etten, 1994).
B. KONFUSI KRONIK
Penyakit Alzheimer (PA) merupakan demensia tang paling umum terjadi pada
lansia; walaupun demikian, konfusi kronik merupakan karakteristik seseorang yang
menderita penyakit alzheimer dan gangguan yang berkaitan (PAGB). PAGB
mencakup penyakit Alzheimer itu sendiri dan sejumlah bentuk demensia lainnya,
seperti demensia multi-infark dan penyakit pick. Pada tahun 1997, PA dilaporkan
mengenai 2,32 juta orang di Amerika Serikat (berkisar antara 1,09 sampai 4,58 juta).
Jumlah ini diproyeksikan dapat meningkat empat kali lipat lebih banyak pada tahun
2050 (Brookmeyer, Gray, & Kawas, 1998).
Beberapa individu yang mengalami PAGB memperlihatkan konfusi kronik,
yang akan sangat mempersulit pemberian asuhan keperawatan kepada mereka.
perawatan bagi individu yang mengalami konfusi kronik biasanya dilakukan dirumah,
karena perawatan dirumah sakit hanya untuk jangka pendek dan untuk mereka yang
mengalami kondisi akut. Perawatan bagi individu yang mengalami konfusi kronik
merupakan tanggung jawab yang cukup sulit bagi keluarga. Pemberi asuhan biasanya
mendapatkan dukungan dan latihan yang tidak adekuat dan dapat mengalami stress
emosional, fisik, dan keuangan yang cukup berarti. Stress yang berhubungan dengan
pemberian asuhan pada individu yang mengalami PAGB berhubungan dengan criteria
hasil yang berlawanan, termasuk kondisi depresi.
1. Faktor Yang Berhubungan/Etiologi
Konfusi kronik yang berhubungan dengan degenerasi progresif korteks
serebral mengindikasikan kurangnya integrasi antara stimulus, persepsi, dan
memori dalam menentukan makna dan respons terhadap stimulus. Patologi yang
menyebabkan degenerasi korteks serebral sangatlah bervariasi. Walaupun
demikian, perilaku yang muncul masih relative sama dengan banyak penyakit
demensia lainnya.
PA mengenai beberapa komponen kimiawi sistem otak yang khusus atau
jaringan sel saraf dalam otak, yang menghasilkan neurotransmitter. Peneliti lain
telah memfokuskan penelitian mereka pada protein fibrosa abnormal yang
dikenal dengan amiloid, substansi yang terakumulasi dalam plak neuritik yang
merupakan karakteristik PA. Plak neuritik adalah focus penting suatu penelitian
karena plak ini berkumpul mendekati area komunikasi otak. Jumlah plak
diketahui secara pasti memiliki hubungan yang positif dengan gangguan fungsi
memori dan intelektual.
Faktor lingkungan juga berdampak pada insiden PA. Trauma otak secara
khusus telah dinyatakan sebagai faktor resiko utama PA. Trauma kepala
(terutama trauma yang menyebabkan penurunan kesadaran), anoreksia, atau
cedera lain pada otak (seperti alcohol) telah diperkirakan dapat menyebabkan
pembentukan sejumlah besar precursor amiloid dan perkembangan plak neuritik.
Sekitar 13% jenis penyakit demensia yang terakhir jarang ditemukan.
Sebagian kecil penyakit ini dapat disembuhkan. Penyakit pick merupakan
demensia progresif yang dikarakteristikkan dengan pembentukan sel pick,
terutama di lobus frontal dan temporal.
Penyakit creutzfeldt-jakob (Penyakit CJ) merupakan penyakit infeksius yang
diperkirakan disebabkan oleh virus lambat dan dikarakteristikkan dengan awitan
dan perkembangan yang cepat.
Normal Pressure Hydrocephalus (NPH) merupakan jenis demensia yang dapat
diatasi, dan dikarakteristikkan dengan awitan awal berupa afasia, inkontinensia,
dan ataksia.
Mengonsumsi zat toksin, seperti alcohol, barbiturate, opioid, kokain,
amfetamin, halusinogen, kafein, dan tembakau yang menyebabkan demensia.
Karbonmonoksida dan beberapa logam, seperti timah, juga dapat menyebabkan
demensia. Pada beberapa kasus, demensia dapat diatasi dengan mengurangi
penyalahgunaan zat.
Gangguan emosional seperti depresi sering disebut dengan “pseudodemensi”
karena memiliki gejala yang menyerupai demensia. Depresi merupakan gangguan
yang dapat diatasi.
Penyakit neurologis seperti Parkinson, ataksia friedreich, penyakit Wilson,
penyakit Huntington dapat menyebabkan kehilangan fungsi kognitif.
Tumor, hematoma subdural, trauma, dan kondisi yang menyebabkan
insufiensi oksigenasi dapat mempengaruhi struktur atau integritas otak.
Infeksi, jamur, bakteri, dan virus, termasuk tuberculosis, menginitis, dan
ensefalitis, dapat menyebabkan demensia. Penyakit autoimun seperti AIDS,
arthritis temporal, dan lupus dapat menyebabkan demensia.
Pada akhirnya, gangguan yang terjadi pada konfusi dapat disebabkan oleh
perubahan patofisiologis dalam susunan biologis. Semua gangguan ini masih
dapat pulih bila dilakukan perawatan dengan baik.
2. PENGKAJIAN
Pada tahun 1960-an gejala yang berkaitan dengan PAGB telah digolongkan
kedalam tiga kelompok kehilangan: kognitif, afektif, dan konatif atau fungsional.
Adanya beberapa gejala perilaku yang terdapat pada tiap-tiap kelompok
merupakan indikasi penyakit demensia.
Para peneliti telah memperlihatkan munculnya gejala lain, seperti konfusi,
agitasi, terbangun dimalam hari, keluyuran dan perilaku melawan, namun mereka
gagal untuk menyatukan semua gejala ini ke dalam kelompok gejala yang telah
ada atau membuat gejala kelompok baru.
Identifikasi pada pasien yang menderita penurunan kemampuan kognitif,
membantu perawat dalam menentukan pasien mana yang mendapatkan manfaat
dari lingkungan dan program yang dapat meningkatkan keamanan dan
memaksimalkan fungsi. (Rader & Doan, 1985).
Para perawat seringkali diharapkan memeberikan perawatan bagi pasien yang
mengalami penurunan kognitif ketika didiagnosis medis demensia belum
ditetapkan. Pada beberapa fasilitas perawatan gerontology, pengisian instrument
pengkajian kognitif dibutuhkan untuk tindakan penapisan dan pengembangan
rencana perawatan yang tepat.
Faktor lingkungan mempengaruhi penilaian perawat terhadap konfusi. Morgan
(1985) melaporkan bahwa karakteristik pasien dan fasilitas pelayanan
mempengaruhi persepsi perawat terhadao konfusi mental. Lansia yang berada di
fasilitas pelayanan yang besar kurang senang dikaji tentang konfusi yang mereka
alami dibandingkan lansia yang berada di fasilitas pelayanan yang kecil. Para
perawat lebih cenderung menganggap konfusi dan kesulitan dalam
berkomunikasi, bila subjek bergantung pada orang lain dlam melakukan
kegiatannya sehari-hari atau pasien lebih tua dari pada umur rata-rata pasien yang
berada di nursing home.
Konfusi Kronik (NANDA, 1999), adalah Gangguan interpretasi/berespons
terhadap stimulus; bukti klinis kerusakan organic; gangguan kognitif yang
lama/progresif; gangguan personalitas; kerusakan memori (jangka panjang dan
pendek); gangguan dalam bersosialisasi; tidak ada perubahan dalam tingkat
kesadaran.
a. Kehilangan kemampuan kognitif atau intelektual; kehilangan memori
b. Kehilangan afektif atau personalitas
c. Kehilangan kemampuan untuk merencanakan kegiatan
d. Amabang batas stress yang menurun secara progresif.
Penyakit Alzheimer; psikosis korsakoff; demensia multi-infark; cerebro
vascular accident; trauma kepala
a. Penyakit demensia yang ireversibel (degenerative kortaks serebral
progresif): Penyakit Alzheimer, Demensia vascular, Trauma kepala
b. Penyakit demensia reversible yang jarang/kadang-kadang terjadi:
Konsumsi zat racun, Gangguan emosional, Gangguan metabolic, Infeksi,
Penyakit autoimun
Literatur keperawatan medis dan tenaga kesehatan lainnya yang terkait
mengandung berbagai macam instrument dan pengkajian, yang dapat digunakan
untuk mengevaluasi kerusakan kognitif. Sebagian besar uji penyaringan yang
singkat bagi penderita demensia berfokus pada daya ingat dan orientasi.
Walaupun demikian clock drawing mengkaji fungsi kognitif spesifik sampai
aspek visuospasial, kemampaun konstruksional, dan berpikir abstrak (sunderland
et al, 1989).
Alzheimer’s disease assessment scale (ADAS) adalah instrumen yang telah
digunakan secara luas untuk mengkaji keparahan karakteristik disfungsi perilaku
kognitif dan nonkognitif pada individu yang menderita PA (Rosen, Mohs, &
Davis, 1984). Instrument pengkajian ini dan lainnya dapat digunakan oleh
perawat klinik dan para peneliti untuk menetukan tanda adanya kerusakan
kognitif pasien.
3. Pengkajian Di Rumah
Pengkajian yang dilakukan dirumah memberikan kesempatan untuk memantau
gejala yang muncul saat interaksi individu yang mengalami gangguan kognitif
berinteraksi dengan lingkungan. Riwayat perubahan status mental harus
didapatkan. Menentukan karakter kepribadian pasien sebelum mengalami
gangguan, seperti tingkat pendidikan, pekerjaan, hobi, hubungan dengan keluarga
sebelum mengalami penyakit, rutinitas harian, dan metode untuk mencari
relaksasi dapat membantu perawat dan staf dalam mengidentifikasi makna pola
perilaku dan respons yang muncul setelah rawat rumah sakit.
Awitan perubahan status mental dan beberapa kondisi medis atau psikiatri
yang dapat berperan terhadap semua perubahan yang terjadi seperti, riwayat
penyakit jantung, atau hipotiroidisme, dapat membantu dalam menentukan
kebutuhan terhadap evaluasi medis lebih lanjut sebelum masuk rumah sakit (Hall
& Buckwalter, 1991). Meskipun perubahan status mental adalah hal yang
penting, NANDA tidak berfokus pada kondisi sebelum mengalami perubahan
status mental.
Sebagai bagian dari proses pengkajian, perawat harus mendiskusikan bersama
dengan keluarga tentang karakteristik yang menjelaskan atau kumpulan gejala,
saat kebutuhan akan informasi tambahan teridentifikasi tambahan. Sebagai
contoh, banyak anggota keluarga yang mengganggap bahwa kehilangan memori
merupakan bagian yang normal dari prosen penuaan dan berkaitan dengan
munculnya gejala lainnya, seperti krtidakmampuan membatasi perilaku, dan
memiliki banyak kemauan. Dengan memberikan contoh perilaku keluarga,
perawat dapat mengembangkan pemahaman yang komprehensif mengnai gejala
yang dialami pasien dan perjalanan penyakit yang akan terjadi.
Pengkajian terhadap keluarga atau pemberi perawatan juga harus dilakukan.
Riwayat psikososial keluarga, bagaimana mereka mengatasi masalah pada masa
lalu, dan persepsi terhadap penempatan di panti werda akan mempengaruhi
perilaku pasien, dan kemudian berdampak pada asuhan keperawatan.
Pengkajian yang berkelanjutan dibutuhkan dalam pelayanan kesehatan
berbasis komunitas sama seperti pengkajian yang dilakukan pada seseorang yang
akan dirawat dalam fasilitas perawatan kronik.
4. Penyakit Alzheimer Dan Gangguan Yang Berkaitan
Pada tahun 1973, NANDA mengembangkan diagnosis keperawatan gangguan
proses fikir, yang dijelaskan sebagai “suatu kondisi individu mengalami
gangguan dalam proses dan aktivitas kognitif”.
Pada tahun1994, NANDA menambahkan konfusi kronik ke dalam daftar
diagnosis keperrawatan yang ditujukan secara khusus pada penderita PAGB.
Pengkajian berkelanjutan pada pelayanan kesehatan berhasil masyarakat dan
fasilitas.
a. Mengetahui orang yang mengalami gangguan.
b. Observasi perilaku nonverbal.
c. Pemahaman terhadap lingkungan.
d. Tingkat fungsional dan partisipasi sosial.
e. Status psikologis.
f. Perilaku yang berkaitan dengan stress.
g. Pengkajian lanjutan terhadap keluarga dan pemberi asuhan.
Tahapan konfusi kronik: penyakit Alzheimer dan gangguan yang berkait
a. Pelupa-klien
b. Konfusi-klien
c. Demensia ambulasi-kehilangan fungsional
d. Tahap akhir-klien
Perilaku cemas terjadi saat pasien mengalami stres. Pasien dapat mengeluh
mengalami perasaan yang tidak mudah. Biasanya tidak ada kontak mata, dan
terjadi peningkatan aktivitas psikomotorik yang tampak nyata saat pasien
mencoba untuk menghindari stimulus ysng mengancam. Sebagai contoh pasien
dapat mencoba untuk meninggalkan atau kembali ke kamar. Walaupun cemas,
pasien masih dapat berkomunikasi dengan staf dan keluarga.
Kejadian katastrofik merupakan perubahan perilaku yang tiba-tiba, yang di
karakteristikkan dengan kesulitan kongnitif dan sosial. Pasien tidak dapat
berkomunikasi efektif dengan orang lain dan tidak dapat menggunakan
lingkungan sesuai dengan fungsinya (Wolanin&Philips,1981). Sebagian besar
kejadian katastrofik dikarakteristikkan dengan ketakuitan, panik dan keinginan
berlebihan untuk menghindari stimulus yang mengancam(Krischling&Todd,
1986). Perilaku katastrofik lainnya adalah konfusi, perilaku keluyuran namun
bertujuan, terbangun di malam hari, “sun-downer’s syndrom, Agitasi, perilaku
menentang atau menarik diri tiba-tiba. Semua perilaku ini biasanya muncul tiba-
tiba dan berlangsung relatif singkat sehingga menjadikannya suatu tantangan
yang besar bagi pemberi asuhan.
Pemberi asuhan biasanya menyebutkan episode disfungsional atau katastrofik
sebagai sebuah alasan untuk menempatkan pasien di panti wreda atau fasilitas
perawatan jangka pendek. Pada sebuah survei yang ditunjukkan bagi lansia,
Aldrich dan Mendkoff(1963) mengidentifikasi peran stres dalam menimbulkan
perilaku disfungsi. Lawton dan Nahemow(1973) mengatakan bahwa perilaku
fungsional cenderung terjadi saat kebutuhan eksternal(stressor) pada lansia,di
sesuaikan pada tingkat saat seseorang dapat beradaptasi . penderita PAGB
membutuhkan lingkungan yang telah dimodifikasi sebagai potensi terhadap
penurunan kemampuan mereka dalam beradaptasi.
Verwoerdt(1980) menggambarkan perilaku katastofik sebagai kecemasan
primer yang dihasilkan dari stimulus eksternal dan internal yang
berlebihan.verwoerdt menjelaskan perilaku yang disebabkan kecemasan primer
sebagai”respon primetif terhadap kesenangan difus yang menyakitkan”. Kassu
ringan mencangkup kegelisahan, peningkatan tekanan, dan iribilitas. Kasus berat
dimanifestasikan dengan kemarahan yang meledak-meledak dan upaya defensif
untuk membatasi stimulus dengan melakukan perilaku menghindari seperti
represi, mengingkari, bnerfikir baib, dan memerankan sesuatu. Konsep tentang
tindakan yang berbahaya mengalami gangguan, mempengaruhi perintah yang
lebih kompleks seperti mengemudi, menjalankan mesin, dan membuat pasien
rentan terhadap biaya keuangan yang meningkat. Konsep Cannon “fight or fight”,
menyatakan bahwa situasi tersebut dapat diatasi sengan menyesuaikan dan
mengatur lingkungan bagi pasien sehingga hubungan spasiotemporal tetap
konstan dan penurunan rasa menguasai dapat diminimalkan.
NANDA (1999) mengidentifikasi “Gangguan interpretasi/berespon terhadap
stimulus” sebagai batasan karakteristik Konfusi Kronik. Dampak stresor sebagai
faktor penting dalam perencanaan perawatan masih belum teridentifikasi.
Adam dan Lidemann(1974) mengidentifikasi 4 mekanisme biologik yang di
butuhkan untuk mengatasi masalah konfusi kronik yaitu produksi energi,
kemampuan merasakan, integrasi serebral. Ketiga mekanisme pertama tersebut
gangguan yang normal dalam proses penuaan. Pada awalnya PAGB menggangu
keempat mekanisme tersebut. Ketika proses penyakit berkembvang, semua
mekanisme ini mengalami penurunan, menempatkan individu tersebut beresiko
tinggi mengalami koping fungsional. NANDA tidak menyebutkan koping
disfungsional berhubungan dengan konfusi kronis.
Seiring berkembangnya penyakit dan berkurangnya jumlah sel otak pasien
menjadi kurang mampu dalam menerima dan memproses stimulus dan informasi.
Kondisi kehilangan indra tertentu dan mobilitas melambatnya respon sinapsis,
dan berkurangnya hormon penghasil energi yang bekaitan dengan penambahan
usia normal dapat menggangu kemampuan pasien mejadi duakali lipat dalam
beradaptasi terhadap stzres dan stimulus. Penurunan progresif yang terjadi
bersamaan dengan ambang batas stres yang sangat bergantungan pada fungsi
sereberal yang utuh.
Individu yang menderita PAGB melaporkan peningkatkan tingkat stres yang
berhubungan dengan defisit dalam perencanaan intoleransi raehadap stimulus
yang banyak, dan peningkatan kelelahan saat memproses informasi dalam
lingkungan mereka. Hal ini memperberat potensial munculnya kecemasan,
perilaku menghindar, dan perilaku katastrofik(Hall&Buckwalter,1987). Berbagai
penelitian yang dilakukan sebelumnya, melakukan manipulasi lingkungan pasien
PAGB untuk meningkatkan sosialisasi atau respon lainnya yang
diharapkan(Hall,Krischlling&Todd, 1986) .
Penemuan Lawton sesuai dengan “Environmental Docility Hypothesis”
(Lawton &Simon, 1968), yang menyatakan bahwa faktor lingkungan eksternal
menjadi perilaku determinan yang semakin penting dan berdampak saat terjadi
penurunan kompetensi.
Prinsip model PLST(Hall&Buckwalter, 1987) Perawatan pasien yang
mengalami konfusi kronik :
a. Mekanisme tingkat fungsi keamanan dengan mendukung semua area yang
mengalami kehilangan, menggunakan cara buatan.
b. Berikan pasien perhatian yang tulus.
c. Gunaklan perilaku yang mengindikasikan kecemasan dan penghindaran
untuk menentukan batasan tingkat aktivitas dan stimulus.
Prinsip model PLST(Hall&Buckwalter, 1987) Perawatan pasien yang
mengalami konfusi kronik lanjutan :
a. Ajarkan pemberi asuhan untuk “ mendengarkan” pasien, mengevaluasi
respon verbal dan nonverbal.
b. Modifikasi lingkungan untuk mendukung kehilangan dan mempertahankan
keamanan.
c. Berikan penyuluhan dukungan, dan cara mengatasi masalah kepada
pemberi asuhan secara berkelanjuatn.
5. Manajemen Demensia
Manajemen demensia merupakan intervensi keperawatan utama bagi
seseorang yang mengalami konfusi kronik berhubungan dengan PAGB.
Manajemen Demensia merupakan “Peraturan Lingkungan yang telah di
modifikasi bagi pasien yang mengalami tingkat konsusi keronik”(Lowa
Intervention Project,2000). Kerangka kerja konseptual PLST untuk manajemen
Demensia berdasarkan pada prinsip berikut ini :
a. Memaksimalkan tingkat fungsi keamanan dengan mendukung semua area
yang mengalami kehilangan menggunakan cara buatan yaitu mengganti
yang telah hilang.
b. Memberi perhatian yang tulus.
c. Perilaku cemas diindikasikan sebagai aktivitas atau rangkaian kejadian
yang menimbulkan tekanan yang mengancam.
d. Ajarkan pemberian asuhan untuk mendengarkan pasien, mengevaluasi
respon verbal dan nonverbal pasien.
e. Modifikasi limgkungan untuk mendukung kehilangan dan meningkatkan
keamanan.
f. Berikan pendidikan,dukungan,asyuhan, dan cara mengatasi penyelesaian
masalah bagi pemberi asuhan secara berkelanjutan.
Semua prinsip kepetrawatan tersebut dapat di implementasikan oleh tenaga
kesehatanprofesional ataupun oleh pemberi asuhan keluarga dalam berbagai
tatanan yang bervariasi. Intervensi individu yang mengalami konfusi kronik
berdasarkan pada pengaturan lingkungan yang menbdukung, sehingga dapat
memaksimalkan tingkat fungsi keamanan danb kenyamanan mereka dalam
komunitas panti tanpa menggangu kebutuhan, hak dan kualitas hidup pasien yang
mengalami periode lucid. Hal ini meliputi meningkatkan kualitas kunjungan oleh
keluarga dan teman-teman melalui intervensi yang dapat meningkatkan
kewaspadaan, pemahgaman,kenyamanan. Peningkatan kenyamanan pengunjung
mengurangi stresor bagi pasien dan tenaga kesehatan.
Memaksimalkan tingkat fungsional dapat dicapai dengan mengurangi stres,
sehingga mencegah ketidakmampuan yang berlebihan. Ketidakmampuan yng
berlebih dapat didefinisikan sebagai suatu kondisi defisit yang reversibel, yang
merupakan kondisi yang lebih tidak mampu daripada kondisi primer.
Ketidakmampuan yang berlebihan akan muncul ketika gangguan dalam
melakukan aktivitas terjadi lebih besar daripada yang dapat muncul akibat
penyakit fisik utama patologi pada otak.
Tujuan memaksimalkan keamanan, kenyamanan, fungsi pasien serta
mencegah komplikasi yang diikatkan dengan penyakit kronis dan meningkatkan
imbilisasi, membutuhkan perhatian yang detail terhadap lingkungan pasien.
Untuk mengatasi hal ini, tenaga kesehatan harus membantu, pasien
mengompensasi kehilangan yang dialami bukan memberikan pendidikan
berulang atau rehabilitas akan kemamouan yang telah hilang karena akan
ningkatkan stres. Ketika tenaga kesehatan membantu pasien mengompensasi
kemampuan yang telah hilang, stres pasien akan berkurang peningkatan fungsi
yang tampak terjadi spontan. Peningkatan ini dapat memulihkan ketidakmampuan
yang berlebihan dengan mengurangi stres (dawson et al,1986).
Salah satu metode untuk mencapai pemenuhan tenaga kesehatan dan keluarga
terhadap ketidakmampuan yang berlebihan adalah analogika keadaan ini sebagai
kasus . pasien konfusi kronik alami penurunan fungsi korteks serebral yang
merusak kemampuan mereka untuk menginput sensori, menggunakan daya pikir
berespon terhadap lingkungan dengan cara yang normal. Ketika semua
kehilangan pasien akan mengalami frustasi,marah, dan emningkatkan kesiagaan
terhadap batasan yang dialaminya. Selama fase ini pasien bergantung pada alat
pengingat. Tujuan jangka pendek telah disusun untuk mengompensasi perilaku.
Selama fase konfusi , pasien mulai mengalami cemas, dan reaksi yang kadang
muncul. Oleh karena itu dalam perencanaan perawatan , perawat dapat
menimbang berapa banyak stimulus dabn seberapa banyak stres yang dapat
diatasi oelh pasien, dengan cara mendengarkan reaksi pasien dan mengawasi
perilaku yang berhubungan dengan cemas. Perilaku yang berhubungan dengan
cemas termasuk didalamnya dalah peningkatan aktivitas
psikomotorikpeningkatan atau penureunan kemampuan verbal, adanya kontak
mata, keluhan terhadap perilaku tidak nyaman atau gugup atau keinginan untuk
menghindari dari kondidi yang tidak menyenangkan (Nowakowski,1985).
Pasien berada dalam pengawasan selama 24 jam penuh. Asuhan tidak dapat
direncanakan atau dievaluasi berdasarkan pergantian dinas perawat setiap 8 jam.
Jika pasien mengalami masalah pada malam hari, beberapa perubahan perlu
dilakukan pada keesokan harinya. Pasien yang mengalami konfusi atau agitasi
tidak merasakan kenyamanan dan harus dinyatakan sedang dalam keadaan
ketakutan. Semua pasien berhak mendapatkan rasa nyaman. Semua perilaku
harus diketahui penyebabnya dan dianggap memiliki makna oleh karena itu,
semua perilaku katastropik dan yang berkaitan dengan stres pasti memiliki
penyebab. Ada beberapa fungsi perawatan dasar tertentu yang tidak selalu dapat
disediakan oleh institusi meskipun institusi ingin selalu yang terbaik bagi
pasien(Buckwalter&Hall,1987).
Semua perilaku katastropik dan yang berkaitan dengan stres pasti memiliki
penyebab. Pemberi asuhan harus merencanakan intervensi yang konsisten dengan
tingkat koping pasien. Istirahat yang teratur sangatlah penting dan kebiasaan
tersebut tidak menyebabkan pasien terjada di malam hari. Tanpa adanya upaya
mengurangi stres dan keletihan dapat diduga bahwa pasien akan mengalami
perilaku kecemasan dan akan timbul saling bergantian antara perilaku
disfungsional akan timbul saling bergantian antara perilaku disfungsional akan
timbul saling bergantian dengan kecemasan sepanjang hari.
Tingkat stres yang tinggi saat melakukan ADL pada pagi hari. Unttuk
menyeimbangkan situasi keletihan dan stres yang tinggi pasien akan lebih baik
dianjurkan untuk mengikuti suatu program atau kegiatan (oleh tenaga kesehatan
yang dapat diandalkan).
Model PLST memberikan kerangjka kerja pemberi asuhan formal dan
informal dalam memberikan asuhan yang individualistik.
6. Intervensi Bersama Anggota Keluarga
Pasien yang mengalami konfusi kronik sering tidak memberikan masukan
yang bermanfaat dalam pembuatan keputusan atau menolak pelayanan yang
dilakukan di rumah, penempatan di masyarakat atau menolak setiap bantuan dari
anggota keluarga atau tenaga kesehatan yang profesional. Beberapa keluarga
menemukan cara melakukan kunjungan yang lebih bermanfaat seperti
perencanaan awal aktivitas yang akan dilakukan selama kunjungan. Anggota
keluarg yang lain mungkin akan menghadiri pertemuan yang membahas
perencanaan asuhan.
Pelibatan keluarga dalam protokol perawatan telah dikembangkan guna
mempermudah melewati masa transisi ini. Meningkatkan hubungan yang
kooperatif antara anggota keluarga dengan tenaga kesehatan serta meningkatkan
kualitas ajukan pada pasien. Hal ini dapat dicapai dengan menawarkan peran
anggota keluarga memiliki proses penjelasan yang dipahami oleh anggota
keluarga(Maas, Buckwalter,1994).
7. Masalah-Masalah Khusus
Walaupun rencana keperawatan telah diidentifikasi pemberi asuhan
keperawatan dapat mengantisipasi masalah dan kebutuhan tambahan yang akan
muncul pada pasien yang mengalami konfusi kronik, seiring perkembangan
proses patofisiologik. Salah satu masalah yang sering muncul pada tatanan
perawatan jangkla panjang adalah reaksi melawan. Episode melawan berpotensi
menimbulkan cedera pada pasien, tenaga kesehatan, pasien lain serta pengunjung.
Berikut penyebab serangan melawan yang umum :
a. Umpan balik yang diberikan tenaga kesehatan, pasien serta pengunjung
negatif dan terbatas.
b. Restrein.
c. Kesalahan interpretasi stimulus lingkkungan, terutama yang berasal dari
televisi.
d. Ketakutan terhadap air atau menolak aktivitas seperti mandi.
Situasi melawan harus dikahji dan dikendalikan dengan cepat untuk mencegah
cedera dan meminimalkan jumlah intervensi yang dibutuhkan, seperti medikasi.
Pasien yang melawan harus secepatnya dipisahkan dari stimulus pemicu dengan
meminimalkan kontak fisik.
Pasien yang melawan harus dianggap sebagai seseorang yang mengalami
ketakutan dan intervensi harus ditunjukkan untuk menyingkirkan ketakutan.
Pasien yang melawan harus diberi kesempatan untuk mempertahankan rasa
pengendaliaan dirinya.dengan cara membatasi kelonggaran sosialnya.
C. KONFUSI AKUT
Konfusi akut di karakteristikan dengan gangguan kesadaran dan perubahan
dalam proses kognitif yang berkembang dalam waktu yang cukup singkat(biasanya
dari perjam hingga per hari), dan disertai oleh adanya fisiologis.(merican physchriatry
asosiation, 1994).
Konfusi akut dapat terjadi pada setiap kelompok usia atau setiap tatanan,tetapi
paling umum terjadi pada lansia yang berada di rumah sakit dan tatanan perawatan
jangka panjang. Walaupun kondisi ini dapat kembali seperti semula ketika penyebab
kebingungan telah di diagnosa dan telah berasil di atasi,konfusi akut merupakaan
tanda akan terjadinya kematian pada 25% kasus yang muncul (rabins & folstein,1982)
Konfusi akut dibedakan dari konfusi kronik( kerusakan kognitif kronik seperti
penyakit alzheimer) terutama awitannya yang bersifat cepat dan biasanya reversible,
umumnya berlangsung dari beberapa jam sampai tidak lebih dari satu bulan(
foreman,1993;lipowsky,1990)
1. Prevalensi
Laju prevalensi yang di perkirakan masuk rumah sakit berkisar 10,5% pasien
lansia di ruang medikal bedah di rumah sakit pendidikan(levkoff et al.,1992)
hingga 18% pada lansia yang lemah yang masuk ke unit pemakaian geriatrik kusus
lansia yang lemah ( rockwood,1993) hingga 47,5% pasien lansia di unit medis
umum(foreman,1990). Hanya sedikit penelitian yang telh mengkaji tentang
keadaan konfusi akut yang telah terjadi saat pasien pulng dari rumah sakit .
(levkoff et al . 1992) menemukan bahwa hnya 4% sampel pasien lansia medicl
bedah yang mereka ambil, mengalami perbaikan terhadap semua gejala baru
konfusi akut, terutama sebelum pulang dari rumah sakit, dan hanya sekitar 17%
dan 21% yang mengalami perbaikan terhadap semua gejala pada 3 dan 6 bulan
setelah pulang dari rumah sakit.
Diperkirakan sebanyak 45% penghuni pnti wreda mengalmi konfusi atau
disorientasi pada beberapa bangian kognitf(robert & lincoln,1988) meskipun
gambaran ini kemungkinan merupakan gambaran dari campuran antara konfusi
kronis dn akut. Walaupun demikian laporan yang diterima memiliki rentang yng
sangat jauh yaitu 5% (katz,parmelee & brubaker,1991) sampai 84% (teitelbaum
Gins, & hopkins,1991) pada penelitian yang baru baru ini dilakukan, terhadap 37
penghuni fasilitas veteran, laju prevalensi yang di temukan adalah sebanyak 40,5%
selama lebih dari 14 hari (culp et al., 1997).
2. Faktor Yang Berhubungan/ Etiologi
Umumnya konfusi akut merupakan fenomena yang terjadi pada lansia (
marcantonio et,.al 1994; rockwood, 1989;schor et al,. 1992). Walaupun dapat
terjadi pda kelompok usia berapapun tetapi faktanya adalah dua dari 3 faktor faktor
predisposisi yang ditentukan (usia 60 tahun atau lebih, keruskan otak, dan penyakit
otak kronis seperti alzheimer) sangat jelas relevan terhadap lansia (lipowski,1990)
Foreman (1993) menyimpulkan etiologi yang pling banyak diidentifikasi
dalam literaturt saat ini. Urutan etiologi yang paling sering adalah pengobatan,
infeksi (terutama infeksi saluran perkemihan dan pernafasan bagian atas),
ketidakseimbangan cairan dan elektrolit, gangguan metabolik(contohan ph dan
nutrisi). Masing masing etiologi mungkin dapat menyebabkan individu mengalami
konfusi akut melalui mekanisme fisiologi yang berbeda, namun hal tersebut tidsk
di bahas pada bab ini.
3. Faktor Resiko
Kemungkinan berkembangnya konfusi akut semakin meningkat jika faktor
predisposisi tertentu(pertambahan usia,demensia, kerusakann otak), dan faktor
yang memfasititasi(sensori yang berlebihan atau kurang, imobilisasi, deprevasi
tidur, stres psikologi) muncul (lipowski,1990). Factor resiko yang berhubungan
dengan peningkatan laju terjadinya konfusi akut terdapat dalam tabel 35-1.
Prevalensi konfusi akut enderung lebih tinggi di antar wanita,karena usia
harapan hidup yang lebih panjang. Walaupun demikian laki laki telah diketahui
memiliki faktor resiko pada sedikitnya satu penelitian (schor et al ., 1992)
Faktor resiko
a. Peningkatan usia
b. Pendidikan
c. Depresi
d. Jenis kelamin
e. Demensia atau kerusakan kognitif
f. Infeksi
g. Keseimbangan cairan elektrolit
h. Nyeri
i. Pengobatan(jumlah atau jenis)
j. Asupan alkohol
k. Defisit visual
4. Pengkajian
Beberapa perilaku yang di perlihatkan pada konfusi aku sama seperti perilaku
yang ditemukan pada lansia yang mengalami dimensia atau depresi. Lipowksi
(1983)mengidentifikasikan 3 varian konfusi akut brdasakar pada perilaku verbal
dan non verbal yang di perlihatkan oleh pasien. Semua varian ini di bedakan
dengan istilah hiperkinetik, hipokinetik, dan campuran.pasien dengn perilku
hiperkinetik memperlihtkan perilaku yang paling lazim dikenal dengan kofusi akut.
Hiperaktifikas psikomotor, eksitabilitas yang khas dn kecenderungan mengalami
halusinasi. Pasien dengan gngguan varian hipokinetik dapat perilaku leiargi,
somnolen dan apatis serta dapat mengarah pada penrunan aktifitas psikomotor,
pasien ini disebut dengan pasien”samar”yaitu pasien yang memiliki diagnosa
konfusi akut yang sering terabaikan. Varian ketiga perikalu campuran mencakup
perilaku berfluktuasi antara pasien hipokinetik dan hiperkinetik (liptzin&levkoff
1992).
a. Skala Pengkajian
Kombinasi antara pengkajian riwayat wal kesehatan dan fisik, pengkajian
status mental dan penggunaan alat baku penilian konfusi akut yang
berkelanjutan. Dapat membantu membdedakan konfusi akut dengan gangguan
kognitif yang lain. ( seperti depresi, tau dimensia). Walaupun demikian, kondisi
konfusi akut pad seseoran yang mengalami dimensia sangatlah sulit dideteksi,
kecuali perawat yang sudah mengetahui perilaku dasar pasien.
Penggunaan NEECHAM telah di rekomendasikan krena telah di uji secara
luas, mudah untuk di praktikan, dn memberikan nilai numerik yang dapat
digunakan untuk mempelajari konfusi yang di alami oleh pasien.NEECHAM
confusion scale telah di kembangkan untuk membedakan pemrosesan informasi
yang normal, petunjuk awal sebelum munculnya konfusi dan konfusi akut.nilai
korelasi NEECHAM terhdap reilabilitas antar penilai adalah 0.96, koefisien uji-
pascauji adalh 0.98, untuk koefisien internalnya adalah 0.86.( neelon,carlson,&
funk. 1996)
Intervensi Keperawatan dari Konfusi Akut:
1) Managemen belirium
2) Identifikasi an atasi etiologi
3) Pertahankan keamanan pasien
4) Berikan dukungan psikologis dan kenyamanan
5) Monitor/dukung status fisik
Gambaran khas delirium (konfusi akut), demensia dan depresi
1) Delirium
Tiba tiba, Berfluktuasi, Berkurang, Umumnya disorientasi, Gangguan
Visual, Peningkatan aktifitas, Inkoheren, lambat atau cepat
2) Dimensia
Insidious, Stabil, Jelas, Umumnya mengalami gangguan, Kadang kala
tidak ada, Kadang kala terganggu, Biasanya normal,tetapi mungkin
berkurang atau berpindah, Kesulitan menemukan kata kata.
3) Depresi
Berminggu minggu, Memburuk pada pagi hari, Masih dapat
berkomunikasi, Menarik diri, Melambat, Delusi, apatis, normal atau
melamban
5. Tujuan Khusus dan Kriteria Hasil Keperawatan
a. Tujuan Khusus Keperawatan
Hasil yang di harapkan pada individu yang mengalami konfusi akut
adalah(Zimberg & berenson 1990) :
1. Mengatasi gangguan fisiologis yang mendasarinya
2. Mengurngi atau mengatasi konfusi
3. Pernyataan anggota keluarga tentang pemahaman konfusi
4. Penceghan cedera
b. Presepsi
Presepsi merujuk pada proses menggali, mengintrepretasikan dan
mengintregrasikan informasi dengan cara yang sicnifikan (lipowski 1990).
Perhtian dperlukan saat memulai melakukan proses presepsi. kewaspaaan
sangat di butuhkan dalam memberikan perhatian, tetapi pasien yang sadar
mungkin tidak perlu melakukn hal ini. Kemampuan seseorang untuk
mempertahankan perhatianny harus di tetapkan sebelum fungsi komplek lain
di kaji (strub&black 1993)
c. Memori
Selain intelegensia, secara keseluruhan gangguan memori yang
berkaitan dengan usia juga telah di bahas secara luas, dibanding dengan
aspek kognisi lainya. Memori primer atau memori jangka pendek
(immediate memory, recent memory) adalah kemampuan yang
mempertahankan sedikit informasi selama periode waktu singkat. Memori
sekunder atau memori jangka panjang (remote memory) merupakan
penyimpann memori informasi yang jumlahnya tak terbatas selama periode
waktu teertentu.kedua tipe tersebt dapat mengalami gangguan konfusi akut
pada seseorang yang mengalami awal dimensia.
d. Berfikir
Kemampuan seperti memyelesaikn msalah, proses berfikir abstrak, dan
berhitung termasuk dalam fungsi berfikir atau funsi ingergratif kognitif yang
lebih tinggi kecuali sesaat sebelum kematian ( yang di sebut penurunan
akhir) kemampuan intelegensi cenderung stabil dalam rentang kehidupan
yang tidk disertai adanya penyakit.kurangnya motifasi dn apatis juga
merupakan kondisi yang di temui pada individu yangmenglmi konfusi akut
(lipowksy 1990). Tingkat pendiidikan perlu di pertimbngan dalam
pengkajian status mental karena sebagai alat pengukur subtitusi terhadap
status sosialekonomi dan perkerjan.(frisoni 1993)
Perubahan kognisi saat proses penuaan lebih sering menghubungkan
dengan perubahn anatomi danfisiologis otak. Karena indikaator penurunan
kognitif yang berhubungan dengan usia, sangat spesifk dan beberapa
kemampuan masih dapat dilakukan secara baik.
Perbandingan indikator hasil
Indikator kognisi Indikator NOC kognisi
PRESEPSI
Mampu berkonsentrasi Berkomunikasi dengan jelas dan sesuai dengan
Kemampuan untuk mengali informasi yan usia dan kemampuan
relevan Mendemonstrasikan pengendalian terhadap
kejadian dan situasi tertentu
MEMORI
Memori jangka pendek utuh Mampu berkonsentrasi
Memori jangka panjang utuh Orientasi
Memperlihatkan kemapuan immediate, recent,
remote memory
BERFIKIR
Mampu terlibat dalam, penyelesian Memproses informasi
masalah, befikir secara abstrak, melakuka Mempertimbangkan alternatif penyelesaian
perhitungan masalah saat membuat keputusan
6. Intervensi Keperawatan
Intervensi keperawtan yang sesuai drngn konfusi akut adalah memegement
delirium, yang maknanya adalah pemberian lngkungan yang nyaman dan
terapeutik agi pasien yang mengalami tingkt konfusi akut.(lowa intervention
project 2000).menegemen konfusi akutdilakukan pda dua tahap ; (1)
menyingkirkan atau mengatsi penyebab yang mendasarinya, dan 2) melakukan
tindakan yang mendukung dan sesua dengan gejala yang dialami(seperti istirahat
yang cukup, meningkatkan kenyamanan,dukungan dari lingkngan dan petunjuk
seperti pencahayan dn gambar keluarga.(lipowksi 1990).
Rabins (1991) menyarankan tiga tindakan yang dapat digunakan secara luas
untuk memperbaiki asuhan kepada pasien yang mengalam konfusi aku. Pertama
sdiakan lingkungan yang di harapkan dan di kenal.kedua pemakaian restrein fisik
harus di hindari sedapat mungkin dan digunakan untuk resiko cedera terhadap diri
sendiri karena perilaku pasien yang agitasi. Ketiga penetapan diagnosis konfusi
akut yaang tepat dapat digunakan untuk menjelaskan tingkah laku pada anggota
keluarga.
D. NYERI
1. Definisi
Nyeri adalah pengalman sensoris dan emosional yang tidak menyenangkan
dan berhubungan dengan kerusakan jaringan yang sifatnya aktual atau potensial
(International Association for the Study of Pain, 1986).
Manajemen nyeri pada lansia memiliki tantangan yang penting dan unik bagi
perawat. Nyeri merupakan keluhan paling umum yang dikeluhkan pada dokter,
gejala penyakit yanag paling umum dan salah satu diagnosis keperawatan yang
paling lazim digunakan dalam praktik keperawatan, dengan tidak mengindahkan
tempatnya. Lansia beresiko tinggi mengalami nyeri akut dan nyeri kronik yang
berdampak serius dalam aktivitas mereka sehari-hari dan kualitas hidup mereka
karena terjadi peningkatan insiden penyakit kronik, jatuh dan masalah kesehatan
lain yang berhubungan dengan proses penuaan.
Ruang lingkup dan kompleksitas pengalaman nyeri dijelaskan dalam
konseptualisasi nyeri yang dianjurkan oleh Ahles, Blanchard dan Ruckdeschel
(1983), dan dikembangkan oleh McGuire (1992). Cerminan nyeri sebagai
pengalaman individu yang multidimensi, subjektif dan unik, dijabarkan dalam
enam dimensi berikut: fisiologis, sensori, afektif, kognitif, perilaku dan
sosiokultural.
2. Prevalensi
Walaupun penyelidikan epidemiologi terbatas, penelitian berbasis populasi pada
lansia yang tinggal di masyarakat memperkirakan sebanyak sebanyak 25% sampai
86% lansia menderita nyeri (Brattberg, Mats & Anders, 1989). Pada tatanan
perawatan jangka panjang, telah diperkirakan bahwa sebanyak 49% sampai 83%
pasien lansia menderita nyeri (Brody & Kleban, 1983). Walaupun nyeri
merupakan pengalaman yang tidk dapat dihindari seiring proses penuaan, lansia
lebih beresiko mengalami bermacam gangguan yang berhubungan dengan nyeri.
Lebih dari 80% populasi geriatrik telah teridentifikasi menderita penyakit
sendidegeneratif yang berkaitan dengan nyeri yang signifikan (Davis, 1988), dan
sebanyak 60% dari semua jeniskanker terjadi pada kelompok usia ini (Silverman
& Temple, 1992). Nyeri yang signifikan juga dilaporkan oleh sepertiga pasien
yang menderita kanker dan duapetiga pasien yang menyandang penyakit lanjut
(Foley, 1987). Kondisi lain yang umum terjadi dan berhubungan dengan nyeri
pada lansia adalah penyakit vaskular perifer aterosklerotik, herpes zoster,
neuralgia trigeminal, neuropati diabetik, arteritis temporal, polimialgia reumatika,
osteoporosis dengan kompresi vertebral, dan stenosis spinal lumbal. Jatuh dan
fraktur pinggul merupakan cedera yang lebih umum terjadi pada populasi ini dan
dapat mengakibatkan nyeri akut dan kronik.
3. Faktor Yang Berhubungan
a. Agens Biologis
Sejumlah etiologi yang berhubungan dengan nyeri dapat diklasifikasikan
sebaai agens biologis, seperti inflamasi, neurologik, iskemia dan
muskuloskeletal.
1) Kondisi Inflamasi
Nyeri inflamasi berkaitan dengan kombinasi beberapa faktor yaitu
sensitisasi, tekanan, perubahan suhu dan zat kimiawi yang dilepaskan dari
sel yang mengalami cedera. Sebagai contoh, nyeri yang berkaitan dengan
srtritis reumatoid berasal dari proses inflamasi sendi yang terkena.
2) Kondisi Neurologis
Nyeri yang berasal dari neurologis ditemukan pada kondisi patologi
yang umum terjadi pada lansia, termasuk herpes zoster, neuralgia
trigeminal dan neuropati perifer seperti neuropati diabetik.
3) Kondisi Iskemik
Iskemia jaringan di akibatkan dari ketidakseimbangan antara suplai
dan kebutuhan oksigen. Nyeri iskemik di sebabkan oleh pembentukan
asam laktat dalam jaringan iskemik karena pelepasan zat kimia seperti
bradikinin histamin dari sel yang rusak karena iskemik nyeri iskemik
adalah iskemik miokardium menyebabkan angina dan penyakit vaskuler
perifer
4) Kondisi muskuloskeletal
Merupakan etiologi nyeri yang signifikan pada lansia yang terjadi
adalah osteoatritis dan nyeri punggung bawah . Osteoartritis merupakan
penyakit degeneratif sendi dikarakteristikan dengan deteriorasi kartilago
yang terdiri sebagai hasil dari akumulasi dan trauma sendi.
b. Agens Kimiawi
Bahan-bahan kimiawi yang diketahui dapat meningkatkan transmisi
nyeri adalah histamin, bradikinin, serotonin, kalium dan norepineprin. Serupa
dengan hal itu, prostaglandin, leukotrin dan zat P adalah zat-zat kimiawi yang
dapat meningkatkan sensitivitas reseptor nyeri (Bonica, 1990).
c. Agens Fisik
Berkurangnya persepsi sensoris dan kerusakan mobilitas membuat
beberapa lansia lebih rentan terhadap cedera, hasilnya adalah peningkatan
insiden cederayang berhubungan dengan trauma fisik.
d. Agens Psikologis
Walaupun semua nyeri yang dialami adalah nyata, biasanya faktor
fisiologis dan psikologis turut berperan dalam menimbulkan nyeri tanpa
memperhatikan penyebabnya. Nyeri murni yang berasa; dari psikologis atau
nyeri psikogenik, dapat didefinisikan sebagai sensasi nyeri terlokalisasi yang
hanya disebabkan oleh situasi mental, tanpa adanya keluhan fisik yang
memicu atau menyebabkan nyeri (McCaffery & Beebe, 1989).
4. Pengkajian
Proses pengkajian memberi kesempatan pada perawat mengidentifikasi
batasan karakteristik subjektif dan objektif yang mengindikasikan nyeri.
Mengumpulkan informasi verbal dari lansia mengenai nyeri yang mereka alami
dapat menjadi sulit. Sering kali lansia tidak mengungkapkan nyeri yang mereka
alami karena adanya asumsi yang tidak tepat bahwa lansia tidak boleh
mengungkapkan nyeri. Lansia berfikir bahwa nyeri hal yang wajar muncul saat
proses penuaan dan bahwa tidak ada yang dapat dilakukan untuk mengurangi
nyeri (Ferrel et al, 1990).
Karena pola respons nyeri masing-masing individu bersifat unik, tiap lansia
dapat mengalami tanda-tanda nyeri yang nyata, tetapi tidak tampak. Perawat harus
memantau dengan teliti dan mempertimbangkan perubahan dalam rutinitas
hariannya seperti penurunan aktivitas, penurunan interaksi sosial, kesulitan tidur,
agitasi. Ketika pasien tidak dapat mengungkapkan rasa nyerinya, ekspresi seperti
menangis, merintih, dan merengek dapat mengindikasikan adanya
ketidaknyamanan.
Banyak faktor yang mempersulit pengumpulan dan interprestasi data nyeri
pada populasi lansia, termasuk gangguan sensoris, gangguan kognitif, faktor
sosiokultural, dan polifarmasi.
5. Pengukuran Nyeri pada Lansia
Data yang didapatkan akurat menggunakan cara yang lebih terorganisasi dapat
memberikan gambaran lengkap tentang nyeri lansia. Kriteria dalam memilih alat
pengkajian, terdiri atas pernyataan verbal, fisik dan kemampuan kognitif lansia.
Single-Item Pain Scales, untuk mengumpulkan informasi tentang intensitas
nyeri, skala nyeri verbal dan nyeri yang cepat digunakan dan diinterpretasikan
merupakan skala yang lazim digunakan. Verbal Descriptor Scale (VDS) terdiri
atas satu set angka disertai kata-kata yang menunjukkan tingkat nyeri yang
berbeda, pasien memilih angka atau kata yang paling baik menunjukkan intensitas
nyeri. Numeric Rating Scale (NRS) menyediakan satu seri angka yang mewakili
tingkat nyeri dengan variasi dari 0 sampai 10 atau 0 sampai 100, lebih sensiti
terhadap perubahan karena adanya peningkatan tigkat skala (Downie et al., 1978).
Pengkajian lengkap harus berisi tentang informasi tentang kesehatan
fungsional pasien. Mengidentifikasi alat yang ditujukan pada komponen spesifik
yang terlibat pada kemampuan berfungsi secara keseluruhan merupakan hal yang
penting, karena intervensi sering kali ditujukan untuk meningkatkan kemampuan
bergerak / kemandirian. Walaupun skala yang digunakan untuk mengevaluasi.
ADL dasar dan ADL aktif dapat dimanfaatkan, tindakan lain yang lebih kompleks
atau tindakan pilihan merupakan keadaan yang lebih sensitif terhadap perubahan
rasa nyeri ( Turk & Melzack, 1992 ). Beberapa instrumen yang diarahkan pada
area fungsional spesifik mencakup Katz ADL scale ( Katz, Fprd Moskowitz.
Jackson, & Jaffe, 1963 ), Instrumental Activities of Daily Living scale (Lawton &
Brody, 1965 ) dan Barthel Index ( Mahoney & Barthel, 1965 ) dan lainnya.
Penggunaan bagan alur nyeri mungkin tidak bermanfaat dalam mengkaji dan
mengawasi status nyeri. Berbagai macam bagan alur nyeri terdapat dalam litelatur
( McCaffery & Beebe, 1989), tetapi salah satu bagian luar dapat dikembangkan
untuk memenuhi kebutuhan kelompok individu atau kebutuhan pasien. Selain
memberikan penilaian yang jelas terlihat dalam mengevaluasi respon pasien
terhadap intervensi, bagan alur nyeri juga dapat digunakan sebagai umpan balik
positif terhadap kemajuan pereda nyeri, dapat mengidentifikasi pola atau situasi
yang tidak umum terjadi dapat memperburuk rasa nyeri dan juga memfasilitasi
penyebaran indformasi yang berkaitan dengan masalah nyeri diantara pemberi
asuhan kesehatan.
6. Diagnosa Keperawatan
Karakteristik nyeri yang multidimensi memberikan panduan untuk
menggunakan 2 diagnosa kepderawatan yang diakui North Amercan Nursing
Diagnosis Association (NANDA)yang berhubungan dengan nyeri : nyeri dan
nyeri kronik (NANDA 1999). Kedua diagnosi ini mencerminkan perbedaan
mendasar tentang lamanya nyeri, batasan karakteristik dan faktor yang
berhubungan dengan nyeri. Sebagai gambaran dari nyeri aktu, Nyeri kronik
didefinisikan sebagai “ pengalaman sensoris dan emosional yang tidak
menyenangkan, muncul akibat kerusakan jaringan aktual / potensial, / dijelaskan
dalam pernhyatan beberapa kerusakan ( international asosiation fot the study of
paint, 1986 ) “ awitan tiba-tiba atau lambat dengan intensitas ringan sampai parah,
konstan atau berulang tanpa upaya peredaan yang diantisipasi atau diprediksi dan
memiliki durasi lebih dari 6 bulan “ ( Hlm. 123). Kedua diagnosa ini dihasilkan
dengan kaitan terhadap karakteristik yang menjelaskan dan faktornya
berhubungan dalam kotak 36 – 1.
Seperti yang telah dinyatakan oleh Simon, Nolan, dan Bauman (1995),
perawat harus mampu mendiagnosis nyeri dan membedakan antara nyeri akut dan
nhyeri kronik. Nyeri akut dan kronik dapat dibedakan berdasarkan tipe awitan,
durasi dan penyebab nyeri. Nyeri akut dikaitkan dengan awitan yang berlangsung
saat ini dan tiba-tiba serta durasi yang terbatas. Nyeri ini dikaitkan juga dengan
penyakit akut, prosedur perawatan atau pembedahan, atau adanya trauma. Nhyeri
akut biasanya mengalami penurunan saat proses penyembuhan berlangsung.
Sebaliknya, nyeri kronik disebabkan oleh proses patologik yang kronik difungsi
berkepanjangan dan biasanya menetap pada sistem syaraf perifer atau sistem
syaraf pusat, atau oleh keduanya. Dan juga, kebalikan dengan nyeri akut,
penyebab utama nhyeri kronik dapat merupakan mekanisme. Fisiologis dan / atau
faktor lingkungan ( bonika, 1990 ) karakteristik lain yang membedakan nhyeri
kronik adalah bahwa area nyeri sering kali sulit dibedakan, intensitas nyeri
menjadi lebih sulit dievaluasi, nyeri biasanya bertambah seiring waktu batasan,
karakteristiknya kurang terlihat, dan kecenderungan pemulihan total nyeri
berkurang ( Mcfarland & Mafarlane, 1997 ).
7. Hasil Yang Diharapkan
Evaluasi terhadap hasil yang diharapkan merupakan aspek penting dalam
ptoses keperwatan. Beberapa bentuk evaluasi nyeri harus digunakan untuk
mendapatkan data dasar, dilakukan sejak awal dan secara periodik, untuk
menentukan kefektifan intervensi manajemen nyeri. Perawat tidak harus
mengabaikan keterlibatak klien dalam mengevaluasi tindakan pereda nyeri,
menekankan keuntungan mentapkan tujuan bersama.
Penetapan waktu dan penggunaan bebderapa kriteria evaluasi adalah hal yang
penting untuk nilai keberhasilan atau kegagalan intervensi nyeri untuk nyeri akut,
evaluasi dapat dilakukan sangat cepat ( contoh dalam 10 – 30 menit ). Untuk nyeri
kronik penilaian saat masuk di RS pada saat pulang, 1 bulan, 3 bulan, dan 6 bulan
pasca kepulangan klien dari RS adalah tindakan yang biasa dilakukan ( Wielde,
1996 ). Mengkaji ulang status batasan karakteristik yang digunakan untuk
mdengidentifikasi nyeri sebagai sebuah masalah adalah pendekatan sederhana
untuk mengevaluasi hasil intervensi yang telah dilakukan.
8. Evaluasi
a. Subjektif
Intervensi yang berhasil seharusnya menghasilkan pengurangan
tindakan pereda nyeri selama percakapan dan berkurangnya keluhan nyeri
spesifikasi secara keseluruhan. Walaupun nyeri kemungkinan tidak dapat
disingkirkan seluruhnya perawat harus mendengarkan dengan cermat
penjelasan kualitatif yang mengindikasikan pengurangan intensitas nyeri.
Sebagai bagian proses perencanaan, lansia harus dikaji untuk menentukan
tingkat nyeri yang dapat diterima pasien. Sebagai contoh, skala nyeri 0 sampai
10 tingkat nyeri skala berapa yang membuat lansia dapat melakukan kegiatan
yang leluasa saat tujuan untuk meredakan nyeri telah tercapai, perawat dapat
mengevaluasi kembali untuk mengetahui apakah intervensi telah mencapai
tingkat nyeri yang dapat ditoleransi lansia. Selain itu sangat penting juga untuk
menentukan apakah lokasi dan kualitas nyeri sama atau berbeda, saat
perubahan yang terjadi dapat mencerminkan adanya gangguan pada etiologi
dan kebutuhan untuk evaluasi selanjutnya.
b. Objektif
Perawat harus melihat dan merasakan adanya rileksasi pada otot
skeletal, yang mengindikasikan penurunan ketegangan otot dan penurunan
perasaan takut dan cemas. Berkurangnya postur tubuh yang menunjukkan
nyeri, juga merupan indikasi penurunan rasa nyeri, yaitu lansia tidak lagi perlu
melindungi sendi atau tungkai dengan postur yang kaku. Saat otot rileks, harus
terdapat penurunan kekakuan postur yang disertai dengan peningkatan tingkat
aktivitas dan mobilitas. Peningkatan partisipasi dalam melakukan aktivitas,
seperti aktivitas rekreasional dan aktivitas menghibur, bekerja dan hubungan
seksual dapat juga mencerminkan penurunan rasa nyeri atau sedikitnya
peningkatan koping terhadap stres akibat nyeri. Pendekatan lain untuk
mengevaluasi hasil pasien yang berhubungan dengan nyeri asalah penggunaan
pengukuran terstandarisasi. Seperti yang telah di jelaskan sebelumnya dalam
bagian pengkajian, skala pengukuran saat ini memiliki rentang dari yang
sederhana yakni skala pengukuran intensitas nyeri. Pendekatan ketiga untuk
mengukur hasil panen adalah mengidentifikasi tujuan khusus keperawatan
pada pasien ( lowa Outcomes Project, 2000 ) yang memberikan metode
penyampaian hasil secara kuantitatif dengan cara yang memungkinkan
penyampaian hasil dalam tatanan keperawatan dan pelaksanaan individu yang
menggunakan hasil tersebut.
Pengendalian nyeri adalah “ tindakan seseorang untuk mengendalikan
nyeri “. Hasil tingkat nyeri secara khusus berguna untuk mengevaluasi
dampak intervensi terhadap nyeri Akut, karena sebagian besar batasan
karakteristikyang telah diidentifikasi oleh NANDA dimasukan kedalam
indikator hasil. Hasil tersebut dapat menjadi lebih inklusif jika expresi verbal
seperti berbicara dengan jelas menunjukan tanda merintih dan menangis dan
jika disertai mondar-mandir berfokus pada diri sendiri dan rentang perhatian
yang menyempit. Tujuan nyeri : Efek yang Mengganggu ( lowa Outcomes
Project, 2000 ), juga sangat penting dalam menangani klien yang menderita
nyeri kronik. Indikator tersebut secara jelas mengidentifikasi beberapa area
dalam kegiatan sehari-hari yang sering kali terganggu oleh adanya nyeri.
Pada akhirnya hasil tingkat Kenyamanan ( lowe Outcomes Project,
2000 ) memberikan indikator luas terhadap pengendalian nyeri dengan
mengarahkan perasaan menyeluruh tentang kenyamanan psikologis dan fisik
yang sering kali dipengaruhi oleh rasa nyeri, terutama nyeri kronik yang
benigna dan malgina.
9. Intervensi Keperawatan
Lansia dapat mengambil keuntungan yang sangat besar dari berbagai macam
inervensi dalam manajemen nyeri, terutama nyeri kronik. Perkembangan
konseptualisasi dan terapi nyeri mendukung penggunaan pendekatan multimodal,
mencakup intervensi farmakologi dan nonfarmakologi yang menekankan
dampaknya pada tingkat sistem perifer dan sistem saraf pusat yang berbeda (
Butler & Gastel, 1980; Ferrell & Ferrell, 1991; Haley & Dolce, 1986; Harkins,
Kwentus & Price, 1984; Jay & Miller, 1990 ). NIC menyajikan sejumlah vensi
umum dan spesifik yang kebanyakan menunjukan untuk seseorang yang
mengalami nyeri vensi utama manajemen Nyeri dijelaskan “ pengurangan atau
penurunan nyeri hingga mencapai tingkat kenyamanan yang dapat diterima pasien
“ ( lowa Intervention Project, 2000 ). Walaupun pengetahuan ilmiah tentang nyeri
terus dikembangkan, gate control theory, yang telah diajukan dan kemjudian
dimodifikasi oleh Melzack dan Wall ( 1965, 1982 ), merupakan salah satu teori
nyeri yang diterima secara luas dan memberikan pemberi asuhan keperawatan,
suatu fondasi teoritis dalam menggunakan intervensi manajemen nyeri secara
farmakologik dan non.
Mekanisme pintu gerbang dalam kordonalis kolumna spinal mengurangi dan
mengatur nyeri dalam 4 poin :
1. Bagian perifer nyeri.
2. Dalam korda spinal itu sendiri
3. Dalam batang otak
4. Dalam korteks serebral
10. Intervensi Farmakologi
Kurangnya pengetahuan dan keahlian dalam intervensi farmakologik
merupakan penghambat untuk mengoptimalkan manajemen nyeri pada lansia.
Saat digunakan strategi farmakologi ini sering kali kurang adekuat dalam
mengatasi nyeri yang diterima karena penetapan dosis dan pola pemberian yang
tidak efektif baik oleh dokter maupun perawat ( Ferrell et al., 1990; Roy &
Thomas 1986 )
Penggunaan obat anal gesik yang aman dan efektif pada lansi membutuhkan
pemahaman tentang perubahan yang berkaitan dengan usia yang berdampak pada
farmakokinetik dan farmakoninamik obat. Heterogenitas pada populasi lansia
akibat ketidaksesuaian proses penuaan kronologis, peningkatan insiden penyakit
kronik pada lansia, dapat berdampak pada efek obat dan tingkat oksisitas dan
memengaruhi proses manajemen farmakologi. Pemahaman tentang perubahan
umum fisiologis yang terjadi saat proses penuaan dapat membuat perawat lebih
waspada dalam mengantisipasi dampak negatif pemberian obat analgesik.
a. Opioid. Kodein mungkin merupakan opioid lemah yang paling penting dan
dapat digunakan dengan aman pada lansia dalam manajemen sedang.
Oksikodon, opoid sedang yang menagndung bahan analgesik yang baik, juga
relatif aman bagi lansia.
b. Morfin, opioid yang paling diharapkan sering digunakan untuk lansia,
merupakan pilihan untuk mengatasi nyeri hebat karena memiliki waktu paruh
yang singkat memasukan penyesuaian dan yang dibutuhkan secara cepat,
ketika dilakukan titrasi, untuk mendapatkan pengendalian nyeri yang efektif.
c. Obat analgetik yang harus dihindarkan saat terapi opioid kronik pada lansia
adalah memperindin ( Ferrell, 1996; Jacix et al; 1994 ). Walaupun opioid
digunakan secara luas untuk manajemen nyeri akut dan manajemen nyeri
maligna, namun penggunaan terapi opioid jangka lama untuk mengatasi nyeri
sedang kronik masih merupakan febomena yang kontroversi.
d. Propoksifen, walaupun digunakan secara luas tidak lebih efektif dari aspirin
dan asetaminofen tetap memiliki peningkatan resiko terhadap kebergantungan
dari efek samping pada sistem saraf pusat ( Ferrell, 1996; McCue, 1998;
Schnitzer, 1998 )
e. Non opioid. Analgesik nonopioid, termasuk asetaminofen dan obat-obatan
antiinflamasi non-steroid, sering dipilih untuk terapi nyeri akut atau nyeri
kronik pada lansia. Asetaminofen dalah obat yang lebih aman daripada obat
golongan NSAID dan harus dicoba terlebih dahulu, kemudian diikuti dengan
terapi NSAID saat manajemen nyeri tidak adekuat ( American Geriatriccs
Society Fanel on Cronic Pain In Older Persons, 1998 )
11. Intervensi Nonfarmakologi
Intervensi nonfarmakologi dapat digolongkan menjadi 2 kategori : Intervensi
Stimulasi fisik atau dan intervensi perilaku kognitif. Intervensi expulasi fisik dan
kutan melibatkan stimulasi pada kulit dan jaringan dibawahnya untuk menurunkan
dan meredskan nyeri. Intervens stimulasi kutan merupakan metode noninvasif
dalam mengatasi nyeri pada lansia. Salah satu keuntungan intervensi simulasi
kutan yang paling penting tetapi jarang digunakan adalah dapat dilakukan pada
bderagam area. Agen Termal sudah tersedia yaitu paket panas dan dingin,
hidroterapi ( seperti mandi rendam / mandi pancuran ) dan mandi parafin ( seperti
aplikasi sensasi panas pada area spesifik dengan cara berendam dalamparafin
hangat ). Sejumlah faktor yang berhubungan dengan proses penuaan memengaruhi
peningkatan resiko kasus cedera ternal :
a. Penurunan reaktivitas sistem termoregulasi
b. Penurunan respons otonomik dan vasomotor
c. Pengurangan sirkulasi dan kehilangan kelenjar keringat yang berkaitan dengan
atrofil kulit
d. Penurunan persepsi terhadap perubahan termal ( Kauffman 1987 )
12. Intervensi Perilaku Kognitif
Dilakukan dengan berbagai teknik yang efektif dalam manajemen nyeri pada
lansia. Intervensi tersebut adalah rileksasi otot progresif, rileksasi otot pasif,
latihan autogenik, meditasi, biofeedback, dan hipnosis dll. Umunya, iintervensi
perilaku kognitif meningkatkan rasa rileksasi dan pengendalian. Intervensi ini
khususnya berguna dalam manajemen nyeri. Menurut definisi nyeri kronik
merupakan pengalaman yang menimbulkan stress secara kronik yang mampu
merangsang respon autonomik dan atau respon otot yang berhubungan dengan
sensasi yang menyakitkan. Terdapat faktor yang harus dipertimbangkan yang
dapat mengganggu penggunaan intervensi ini, yaitu defisit kognitif, depresi berat,
dam ekpresi ketidak yakinan terhadap asal usul formulasi psikologik beberapa dari
intervensi ini ( misalnya teknik imajinasi )
Modifikasi dapat dilakukan saat menggunakan semua intervensi ini sehingga
memungkinkan mereka lebih mudah dipelajari dan digunakan. Keefe, Beaupre,
Weiner, dan Siegler 1996 ). Menyarankan sedikit perubahan dalam prosedur
pelatihan, yaitu meminta lansia tetap membuka matanya saat mendengarkan kaset
rileksasi untuk meminimalkan kesempatan tidur, mengurangi lamanya pertemuan
layihan sehingga mampu mengurangi keletihan, dan melakukan latihan pada saat
klien kurang cenderung mengalami keletihan.
E. GANGGUAN SENSORIS/PERSEPSI
1. Definisi
Persepsi merupakan proses menerima, mengintegrasikan, mengklasifikasikan,
membedakan, dan memberikan pemahaman terhadap stimulus yang datang
melalui reseptor sensoris lalu bertindak sebagai mekanisme umpan balik yang
bertujuan untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungan ( avant & helson, 1973 )
2. Faktor Yang Berhubungan / Etiologi
Menurut NANDA, 1999 ;
a. Gangguan persepsi sensori
b. Stimulus lingkungan yang berlebihan
c. Stress psikologis
d. Gangguan resepsi sensoris
e. Transmisi
f. Integrasi
g. Stimulus lingkungan yang tidak mencukupi
h. Ketidakseimbangan biokimiawi terhadap distorsi sensoris (seperti ilusi dan
halusinasi)
i. Ketidakseimbangan elektrolit
j. Perubahan propriosepsi
Terjadi pada lansia berkaitan dengan banyak penyebab. Proses penuaan
normal yang berhubungan dengan penurunan ketangkasan dan keterapilan otak
dapat dihindari dengan asupan nutrisi yang seimbang dan tetap aktif dlam
melakukan kegiatan. Terhambatnya aktifitas (ADL) dapat mengakibatkan
kehilangan fungsi aktual yang berkaitan dengan pusing, jatuh, atau penurunan
rentang pergerakan, disertai nyeri dan kekauan akibat penyakit sendi
a. Masalah Prioseptif : Merupakan salah satu atau kombinasi dari penyesuaian
terhadap berat badan atau ukuran alat bantu, perubahan status mental,
pengobatan (vasodilator, alcohol, penyalahgunaan obat, agen psikoaktif, atau
antihipertensi), penyakit kronik dan akibat pengaruh neuromuscular atau
skeletal (DM, hipertensi, penyakit kardiovaskuler, arthritis dan perubahan
pendengaran dan penglihatan).
b. Perubahan Penglihatan: Terjadi konjungtiva menipis dan menjadi berwarna
kuning, duktus lakrimalis mengalami penurunan kapasitas dalam
menghasilkan airmata dan melubrikasi mata, pupil mengecil dan
kemampuannya berkontriksi berkurang, lensa kaku dan menjadi lebih buram
c. Kehilangan Pendengaran : Kehilangan penndengaran pada lansia
disebabkan oleh pembentukan kartilago yang terus- menerus serta kehilangan
keelastisan kulit, kanalis ouditorius menyempit, terdapat penurunan
sensitivitas vestibular dan degenerasi sendi osikular, kelenjar serumen atrofi /
serumen cenderung mongering dan mengeras, memadat serta menutupi jalan
masuk.
d. Indra Penciuman: Sebagai bagian dari penurunan fungsi reseptor nervus
olfaktorius pada tahap awal penuaan. Bisa diakibatkan dari obat seperti
analgesic opioid, beberapa agen antitiroid, beberapa agen kardiovaskuler,
tetrasiklin, obat tetes atau semprotan hidung. Indra perasa sangat berkaitan
dengan penciuman, pada lansia mengalami penurunan jumlah saraf akhir,
papilla dan sensoris perasa serta penurunan kemampuan untuk membedakan
ke empat rasa utama ( pahit, manis, asam, dan asin )
e. Sensasi Taktil: Sensasi taktil / sentuhan saling berkaitan dengan semua indra
lain karena masing – masing fungsi dari sensasi yang lain dapat
mempengaruhi sensasi sentuhan, mengakibatkan lansia susah membedakan
suhu tubuh dan rasa nyeri.
3. PENGKAJIAN
a. Identitas pasien
b. Riwayat kesehatan pasien
c. Pemeriksaan fisik
d. Pemeriksaan penglihatan (sulit melihat benda kecil, sulit membedakan warna,
sulit memfokuskan penglihatan pada benda sehingga lansia mengalami
beberapa tingkat isolasi social yang akhirnya dapat berdampak pada
kemampuan persepsi sensoris)
e. Pemeriksaan pendengaran (adanya obstruksi mekanis pada kanalis auditorius ,
sulit mendengar dan sulit membedakan suara yang dibeda disekitar lansia
dapat mengubah persepsi sesorang terhadap pemangalamannya)
f. Pemeriksaan indra kinstesia (reflek pada otot mata dan leher menurun, tulang
dan persendian pada ekstremitas dala mempertahankan postur tubuh dalam
berjalan dan berdiri mangalami penurunan, keseimabngan tubuh lansia juga
menurun)
g. Pemeriksaan indra pengecap dan penghidung (kesulitan merasakan gula dan
garam, penurunan nafsu makan, kesulitan membedakan bau kopi bawang putih
cuka dll)
h. Pemeriksaan indra taktil (penurunan respon sentuhan dari lingkungan sekitar,
sulit membedakan suhu)
4. DIAGNOSA KEPERAWATAN
a. Gangguan sensoris / persepsi : defisit tidak terkompensasi
b. Gangguan sensoris / persepsi : kelebihan masukan ( kelebihan sensoris )
c. Gangguan sensoris / persepsi : defisit masukan
Batasan karakteristik :
a. Gangguan sensoris / persepsi ( spesifik : penglihatan, pendengaran,
kinesthesia, pengecapan, taktil, penghidung ) tidak mengalami perubahan
b. Tidak terorientasi dengan waktu, tempat atau dengan orang lain
c. Gangguan dalam membayangkan dan konseptualisasi
d. Perubahan kempuan dalam menyelesaikan masalah
Hasil yang diharapkan: Pengendalian kecemasan, citra tubuh, kemampuan
kognitif, pengendalian pola pikir yang distorsi dan pemulihan energi.
Keseimbangan cairan, istirahat dan tidur.
Intervensi keperawatan: Perawat dapat mengajarkan lansia berbagai teknik
untuk mengkompensasi gangguan yang mereka alami, Perawat dapat membahas
strategi lingkungan, mendorong lansia untuk menggunakan berbagai indra atau
mengganti penggunaan indra dan membantu mereka untuk berfokus pada petunjuk
lain yang berada dalam lingkungan.
Diagnosa Keperawatan Tujuan Keperawatan Intervensi Keperawatan
Gangguan sensoris/ 1. Konsentrasi 1. Pencapaian komunikasi : defisit
persepsi: pendengaran 2. Upaya memproses informasi pendengaran
3. Kemampuan komunikasi 2. Penyuluhan : kemampuan
4. Perilaku keamanan : diri sendiri psikomotorik
5. Pengetahuan: keamanan diri 3. Manajemen lingkungan :
sendiri keamanan
6. Citra tubuh 4. Pendidikan: keamanan diri sendiri
7. Pelibatan social 5. Peningkatan citra tubuh
8. Kesendirian 6. Peningkatan sosialisasi
9. Kualitas kehidupan
Gangguan sensoris/ 1. Kemampuan berkomunikasi 1. Peningkatan komunikasi : defisit
persepsi : penglihatan 2. Orientasi kognitif penglihatan
3. Perawatan diri sendiri : 2. Fasilitas proses pembelajaran
aktivitas Kehidupan sehari- 3. Penyuluhan : perawatan diri
hari ( ADL ) 4. Petunjuk antisipasi
4. Perawatan diri sendiri : 5. Pengurangan kecemasan
aktivitas kehidupan sehari- 6. Peningkatan olahraga
hari aktif ( IADL )
5. Pengendalian cemas
Gangguan sensoris/ 1. Tingkat mobilitas 1. Terapi olahraga : keseimbangan
persepsi : kinestesia 2. Perilaku aman : pencegahan 2. Peningkatan olahrga
jatuh 3. Pencegahan jatuh
3. Pengetahuan keamanan : diri – 4. Penyukuhan : keamanan diri
sendiri sendiri
4. Perawatan diri sendiri :
aktivitas
5. Kehidupan sehari- hari aktif
(ADL)
Gangguan sensoris/ 1. Kesejahteraan 1. Dukungan emosional
persepsi ; taktil 2. Perilaku keamana : diri – 2. Peningkatan keamanan sentuhan
sendiri 3. Manajemen lingkungan
3. Pengetahuan ; keamanan diri – 4. Penyuluhan : keamanan
sendiri
Gangguan sensoris/ 1. Perilaku keamanan : 1. Manajemen lingkungan
persepsi : penciuman lingkungan fisik rumah 2. Penyhan keamanan : diri – sendiri
2. Perilaku keamanan : diri – 3. Konseling nutrisi
sendiri 4. Manajemen nutrisi
3. Status nutrisi
Gangguan sensoris/ 1. Status nutrisi 1. Penyuluhan : modifikasi makanan
pesepsi : pengecapan 2. Kuallitas kehidupan 2. Peningkatan nafsu makan
3. Manajemen cairan
Intervensi manajemen lingkungan
a. Intervensi Penglihatan : Tujuan untuk mempertahankan interaksi social dan
mengoptimalkan fungsi fisik. Dengan demikian berbagai macam aktivitas
dapat pada kategori manajemen lingkungan. Penggunaan warna terang tidak
menyilaukan meningkatkan kontras warna dan membantu lansia
mengidentifikasi lingkungan tempat tinggal, suatu ruangan, dan tangga rumah.
b. Intervensi Pendengaran : berbagai tindakan keperawatan dapat dilaksanakan
untuk meningkatkan status pendengaran. Dalam berbagai interaksi dengan
lansia yang mengalami gangguan pendengaran, perawat perlu menarik
perhatian lansia melalui sentuhan sebelum memulai percakapan, berbicara
berlahan dengan lafal pengucapan kata- kata yang yang sangat hati – hati, dan
menurunkan nada suara, sementara itu tidak menambah nada suara.
c. Intervensi Pengecapan Dan Penghidu : pemasangan gigi palsu yang tepat
dan tetap menjaga kebersihannya dapat meningkatkan cita rasa pada makanan.
Lingkunga juga harus dikendalikan dalam meningkatkan cita rasa pada
makanan. Makanan yang disajikan dengan baik terlihat menarik, berbau sedap,
dan meningkatkan selera serta yang disajikan pada lingkungan yang
menyenangkan dan dimakan bersama-sama, dapat meningkatkan kenikmatan
makan malam, cita rasa dan nafsu makan.
d. Intervensi Kinestesia : untuk meyakinkan keamanan seseorang yang
mengalami defisit kinestesia, benda – benda berbahaya harus dijauhkan dari
lingkungan . individu juga harus dilindungi dari pemaparan yang berlebihan
terhadap panas dan dingin.
Intervensi Konseling
1. Intervensi Penglihatan Dan Pendengaran : merupakan bagian yang penting
pada proses rehabilitasi yang mencakup pendidikan dan konseling lansia serta
anggota keluarganya. Perawat harus memiliki petunjuk tentang perawatan dan
penggunaan yang tepat alat bantu penglihatan dan pendengaran yang adaptif.
2. Intervensi Pengecapan Dan Penghindu : instruksi dipilih dapat disarankan
bagi lansia sebagai cara untuk meningkatkan persepsi pengecapan mereka.
Mengatur warna, tekstur, dan suhu makanan juga dapat mmembantu
mempertahankan kenikmatan makanan,
3. Intervensi Kinestesia Dan Taktil : perawat dapat membantu dengan memberi
petunjuk pada lansia untuk meningkatkan kemampuan indra mereka yang lain,
misalnya penggunaan berbagai tekstur dalam lingkungan rumah dapat
meningkatkan pengenalan benda.
4. Intervensi Rujukan : peran perawat dalam perawatan lansia adalah merujuk
pada spesialis yang tepat, seperti audiologist, optalmogis, optometris, terapis
fisik untuk mendapatkan pengkajian yang lebih spesifik.
F. PENGABAIAN UNILATERAL
1. Definisi
Pengabaian unilateral adalah suatu kondisi yang berkaitan dengan persepsi
saat individu tidak menyadari dan tidak perhatian salah satu dari sisi tubuhnya
(Carrol Johnson, 1994). Kondisi ini disebabkan oleh cedera otak yang
mengganggu persepsi dan dapat dihubungi dengan masalah perseptual lainnya.
Lesi paling sering terjadi pada lobus parietal kanan, dengan perkiraan
perbandingan lesi di lobus kanan dengan lobus kiri yang terendah adalah 3:1, dan
yang tertinggi adalah 16:1 (Riddoch & Humphreys, 1983 ; Weinstein dan
Friedland, 1997). Oleh karena itu, Pengabaian Unilateral paling sering
dihubungkan dengan hemiplegia kiri karena CVA (Cerebrovascular Accident)
pada hemisfer kanan. Terkadang gejalanya cepat sekali dikenali setelah lesi terjadi
yang kemudian akan mereda, disertai dengan pemulihan fungsi lain. terdapat,
terbukti yang menyatakan bahwa pria lebih cenderung mengalami gejala dengan
jelas, yang mungkin berkaitan dengan fungsi-fungsi yang diatur secara kaku oleh
hemister pada pita, yaitu fungsi verbal pada hemisfer kiri dan fungsi spasial pada
hemisfer kanan. (Greshwind & Behan, 1952). Penyakit Alzheimer juga menjadi
penyebab terjadinya pengabaian unilateral (Bartolomeo et al, 1998)
Jika pengabaian unilateral pada lansia tidak di diagnosis dan tidak diatasi,
kemungkinan akan terjadi cedera pada sisi yang mengalami gangguan akibat
trauma atau lebih pengabaian terhadap faktor kebersihan
Teori-teori tentang defisit yang dapat menyebabkan pengabaian unilateral
adalah gangguan pada (1) input sensoris; (2) representasi interal tentang ruang;
dan (3) perhatian terhadap stimulus kontralateral dan lesi. Pengabaian unilateral
dipersulit oleh berbagai defisit yang menyertai atau memiliki beberapa dampak
seperti Anosognia, Hemianopsia, Pengabaian Hemispasial, Kurang Perhatian
Visual, Dan Penurunan Kemampuan Propiosepsi.
a. Anosognia berarti ketidaksadaran atau pengingkaran terhadap hemiplagia
(secara teknis berarti ketidaksadaran terhadap penyakit)
b. Hemianopsia adalah kehilangan setengah lapang pandang, biasanya pada sisi
yang mengalami gangguan. Kondisi ini umumnya terjadi pada lesi posterior di
kiasma optikum.
c. Pengabaian hemispasial adalah ketidakperhatian terhadap satu sisi tubuh
terhadap setengah sisi tubuh. Lansia yang menderita defisit ini akan
mengabaikan suara-suara atau objek pada sisi yang mengarah ganngguan.
d. Kurang perhatian visual, yang dapat menjadi bagian dari pengabaian
hemispasial , dapa menyebabkan lansia gagal membaca kata-kata pada sisi
yang mengalami gangguan. Namun, saat perhatian ditujukan pada kata-kata
yang mengabaikan, mereka dapat membaca tanpa mengubah arah pandang
atau menggerakkan kepala mereka. Karakteristik membedakan tidak perhatian
visual dan hemianopsia, yaitu kata-kata tidak terlihat jika kepala lansia tidak
diputar atau arah pandangan diubah untuk dapat menggunakan separuh fungsi
dari matanya.
e. Propiosepsi adalah kemampuan untuk mengetahui posisi tungkai melalui
input sensori, tanpa melihatnya atau merasakannya pada ekstremitas lain.
Defisit terkait yang perlu dibedakan dari pengabaian unilateral dan dapat
mempersulit perilaku pengabaian adalah agnosia dan apraksia. Agnosia adalah
kegagalan otak untuk mengenali input dari sensasi tunggal seperti penglihatan,
pendengaran propiosepsi, atau sentuhan. Apraksia adalah ketidakmampuan untuk
melaksanakan pergerakan volunter yang dipelajari atau merencanakan dan
melakukan pergerakan saat pemahaman dan kemampuan motorik masih utuh.
Beberapa defisit lain yang umum terjadi pada cedera hemisfer kanan adalah
kurangnya hambatan, ketidasesuaian sosial, dan lontaran kata yang berlebihan.
2. Faktor yang berhubungan/ etiologi
CVA mungkin menjadi penyebab paling umum pengabaian unilateral pada
lansia, tapi tiap lesi pada lobus perietal, terutama di hemisfer kanan, dapat
menyebabkan terjadinya pengabaian unilateral. Sesekali cedera pada bagian lain
di otak menyebabkan terjadinya pengabaian unilateral, tapi tidak konsisten seperti
cedera di lobus parietal kanan. (Heilman & Valenstien 1977)
3. Pengkajian
Indikator utama pengabaian unilateral adalah kurang perhatian yang konsisten
terhadap stimulus pada sisi yang mengalami gangguan. Hal ini biasanya
perawatan diri yang tidak adekuat pada sisi tubuh yang mengalami gangguan,
kurangnya pergantian posisi dan/atau tindakan kewaspadaan keamanan yang
berkaitan dengan sisi tubuh yang mengalami gangguan, dan pengabaian terhadap
makanan atau bahan bacaan pada sisi tubuh yang mengalami gangguan.
NANDA (Carrol-Johnson, 1994) Weitzel
FAKTOR YANG BERHUBUNGAN/ ETIOLOGI
Dampak gangguan Cedera otak: trauma, tumor, atau masalah serebrovaskular
kemampuan Gangguan input sensoris, representasi interlan akan ruang, perhatian
perseptual kebutaan terhadap stimulus yang kontralateral dengan sisi lesi
di satu sisi penyakit Keterbatasan atau tidak ada pergerakan pada ekstermitas yang
atau trauma mengalami gangguan
neurologis kehilangan setengah pandang, biasanya pada sisi yang mengalami
gangguan
Kehilangan kemampuan utuk mengetahui posisi anggota tubuh
melalui input sensoris, tanpa melihat atau menyentuhnya
Persepsi stimulus pada sisi yang mengalami gangguan, sebagai
stimulus yang datang dari sisi sebaliknya
Pada saat stimulus diberikan pada kedua ekstremitas, persepsi yang
ditangkap hanya pada stimulus yang berasal dari sisi yang tidak
mengalami gangguan
Tidak mengenali sisi yang mengalami gangguan sebagai bagian dari
tubuh
Tidak sadar terhadap keterbatasan fungsi
Tidak perhatian terhadap separuh bidang pandang dan juga terhadap
separuh bagian tubuhnya

BATASAN KARAKTERISTIK
Tidak perhatian secara konsisten Pengingkaran
terhadap stimulus-stimulus pada sisi Fungsi tidak mengalami perbaikan dengan meminta
yang mengalami gangguan perhatian pada sisi yang diabaikan
Perawatan diri tidak adekuat Tidak perhatian
Pemberian posisi dan/atau tindakan Gagal membaca kata-kata pada sisi halaman yang
kewaspadaan perlindungan pada sisi mengalami gangguan ; saat perhatian diminta pada
yang mengalami gangguan kalimat yang terlewatkan, mereka dapat membaca
kata tersebut tanpa mengubah arah pandangan atau
menggerakkan kepala
Tidak melihat pada sisi yang Indikator mayor
mengalami gangguan
Meninggalkan makanan di piring Tidak perhatian yang konsisten terhadap stimulus
pada sisi yang mengalami gangguan pada sisi yang mengalami gangguan
Perawatan diri tidak adekuat pada sisi yang
mengalami gangguan
Kurangnya pemberian posisi dan/atau tindakan
kewaspadaan keamanan pada sisi yang mengalami
gangguan
Tidak melihat ke arah sisi yang mengalami gangguan
Mengabaikan makanan atau mengurang materi
bacaan pada sisi yang mengalami gangguan
4. Diagnosis keperawatan
Pada tahun 1987 dalam konferensi ketujuh NANDA (NANDA,1999) .
Masalah pengabaian unilateral ditambahkan sebagai subdiagnosis Gangguan
Sensoris/Persepsi. Pengabaian unilateral didefinisikan sebagai “suatu kondisi
individu tidak menyadari dan tidak perhatian secara perseptual terhadap salah satu
sisi tubuhnya” (NANDA, 1999, hlm. 115). Pengabaian unilateral dibedakan dari
gangguan sensoris/persepsi pada lansia karena pengabaian unilateral desebabkan
oleh kondisi patologis, bukan suatu proses penuaan normal. Pengabaian unilateral
disebabkan oleh cedera pada jaringan otak dan bukan disebabkan oleh gangguan
pada lingkungan. Pengabaian unilateral dapat disebabkan oleh beberapa perilaku
seperti yang ditemukan pada gangguan persepsi sensoris lainnya, namun hanya
berhubungan dengan peresepsi terhadap separuh tubuhnya; hal ini biasanya
dihubungkan dengan hemiplagia , heminopsia atau defisit sensori lain ( Heilman
& Valenstien, 1977)
5. Intervensi Keperawatan
a. Intervensi Umum
1) Pengendalian Input Sesori
2) Dukungan Psikososial
3) Dukungan Keamanan
4) Keterlibatan Keluarga
b. Intervensi Spesifik untuk Perilaku Tidak Perhatian
1) Pemberian Isyarat
G. DEFISIT PENGETAHUAN
Defisit pengetahuan adalah diagnosis keperawatan yang paling sering digunakan
untuk orang dewasa pada semua tingkat usia dan penyuluhan adalah salah satu
tindakan keperawatan yang paling sering dilakukan. Defisit pengetahuan muncul saat
individu memiliki informasi kognitif yang tidak cukup atau memiliki keterampilan
psikomotor yang berkaitan dengan topik spesifik seperti kondisi tertentu atau rencana
terapi.
Kurang pengetahuan dapat menyebabkan kurangnya perilaku pencegahan primer
seperti aktivitas tidak adekuat, kurangnya pencegahan sekunder seperti kurangnya
perilaku pencegahan tersier pada penderita diabetes yang kurang mencegah kerusakan
kulit.
Tujuan umum intervensi keperawatan defisit pengetahuan pada lansia adalah
untuk meningkatkan pengetahuan. Peningkatan pengetahuan, justru dapat
berpengaruh terhadap peningkatan keterampilan perawatan diri dan manajemen diri.
Lansia adalah pasien yang paling sering mendapat penyuluhan karena defisit
pengetahuan biasanya diikuti dengan diagnosa lain, tapi penyuluhan dapat menjadi
tindakan yang sesuai untuk beberapa diagnosis lain tersebut. (Carpenito, 1995)
1. Faktor Yang Berhubungan
a. Penyakit penyerta, seperti diabetes
b. Terapi baru yang dianjurkan
c. Tidak berpengalaman dalam keterampilan psikomotor
d. Kurangnya paparan dengan informasi
e. Kesalahan dalam interpretasi informasi
f. Adanya permasalahan dalam penglihatan
g. Keterbatasan kognitif
2. Pengkajian
Pengkajian lansia yang mengalami defisit pengetahuan harus ditunjukan untuk
mengetahui apa saja yang sudah klien ketahui. Pengkajian yang sering dilakukan
adalah memantau ketrampilan pasien dan pertanyaan verbal tentang pengetahuan
pasien. Pengkajia juga harus ditujukan pada kesiapan untuk belajar. Kesiapan
untuk belajar dipengaruhi oleh suatu rangkain faktor-faktor yang kompleks.
Lansia memiliki kesulitan dalam belajar mengenai medikasi selama
hospitalisasi. Gangguan terkait memori yang beragam umumnya terjadi pada
lansia, meskipun masalah memori yang dilaporkan sendiri oleh lansia tidak
berkolerasi baik dengna kesulitan yang ditemukan. (Davis, 1992)
3. Intervensi Keperawatan
Penyuluhan kepada pasein adalah intervensi utama defisiensi pengetahuan.
Tujuan pemberian pendidikan adalah meningkatkan pengetahuan; perawat sering
memberikan penyuluhan, untuk meningkatkan pengetahuan (Lorig, 1996).
Penyuluhan mendukung untuk berfungsi secara psikososial, memfasilitas
perubahan perilaku gaya hidup, dan dimulai sebagai respons terhadap diagnosis
keperawatan Defisit Pengetahuan.
4. Prinsip Penyuluhan dan Pembelajaran
Banyak prinsip penyuluhan pasien sesuai untuk lansia, karena tingkat
kecemasan tinggi dapat diatasi dengan teknik relaksasi atau dengan intervensi lain
agar orises belajar dapat dilaksanakan didukung dengan lingkungan yang
kondusif. Umpan balik mengenai pembelajaran memberikan informasi kepada
klien.
a. Penuhi kebutuhan pasien yang tidak terpenuhi
b. Ciptakan lingkungan yang kondusif
c. Kecepatan pemberian materi penyuluhan
d. Struktur pendidikan
e. Lakukan pengulangan untuk mencapai pembelajaran
f. Kaitkan pengetahuan yang baru dengan pengetahuan sebelumnya
g. Pemberian informasi pada hal yang penting
h. Ajarkan informasi yang penting terlebih dahulu dan dari yang sederhana
i. Berikan umpan balik
j. Beri pujian
k. Gunakan berbagai kanal multisensori
l. Gunakan berbagai sumber edukasi
m. Dorong interaksi antara peserta didik dan pemberi materi
5. Intervensi Keperawatan Pada Lansia
Penyuluhan pada lansia membutuhkan individualisasi proses pembelajaran
untuk mengompensasi setiap gangguan yang mungkin dialami lansia. Hubungan
interpersonal antara perawat dengan klien harus tetap menjunjung rasa hormat,
penerimaan, dan kesabaran. Penyuluhan kepada lansia harus disampaikan dengan
sikap optimis terhadap lansia.
Penyajian materi pada penyuluhan terhadap lansia harus menggunakan
berbagai indera, penggunan huruf yang besar dengan warna kontras yang tidak
menyilaukan mata dan didukung dengan pencahayaan yang cukup dapat
membantu lansia memahami materi yang disampaikan. Berbicara dengan perlahan
dan jelas dapat meningkatkan komunikasi kepada lansia yang mengalami
gangguan pendengaran. Kemudian dengan bertatap muka dengan lansia, dapat
membuat lansia lebih memahami materi penyuluhan yang disampaikan.
Hambatan yang didapatkan ketika melakukan penyuluhan pada lansia
beragam, misal pada lansia dengan gangguan penglihatan yaitu penurunan
ketajaman mata dan penggunaan kacamata yang kurang baik, lansia dengan
gangguan pendengaran adalah adanya presbikusis. Kemudian lansia dengan
masalah kognitif seperti masalah memori, penurunan konsentrasi, dan
melambatnya kemampuan memproses informasi.
Strategi yang harus dilakukan ketika menghadapi hambatan seperti di atas,
yaitu:
a. Gunakan materi dengan visual yang tidak membutuhkan kegiatan
membaca
b. Gunakan kata yang paling umum digunakan
c. Gunakan kalimat pendek
d. Gunakan contoh secara bebas dan nyata
e. Libatkan orang terdekat dalam pengalaman belajar
Dengan pemberian motivasi kepada lansia diharapkan lansia dapat lebih
berpikir secara terbuka, dengan memberikan pertanyaan sesering mungkin pada
lansia akan memberikan gambaran yang lebih luas terhadap lansia dengan
gangguan memori.
Adanya kesulitan pembelajaran mengakibatkan motivasi belajar pada lansia
menjadi turun, seperti (Doak et.al: 1996):
a. Kesulitan memproses gambar dan simbol
b. Kecenderungan untuk mengartikan penjelasan secara harfiah
c. Kecenderungan berpikir tentang hal yang spesifik dan kesulitan berpikir
secara konsep
d. Keterbatasan kosa kata
e. Ketakutan untuk mengajukan pertanyaan
f. Kesulitan membaca grafik
6. Strategi Berbeda Pada Pembelajaran Lansia
a. Penggunaan teknologi untuk menyediakan pembelajaran yang menarik
b. Komputer adalah guru yang sabar dan tidak mengenal lelah
c. Penggunan grafik untuk meningkatkan stimulasi visual, pembelajaran melalui
pertanyaan dan memberikan umpan balik.
d. Penggunaan media video dapat meningkatkan minat pembelajaran

Anda mungkin juga menyukai