Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN PENDAHULUAN

“HIPOGLIKEMIA DAN HEMATEMESIS”

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Profesi Ners Departemen Emergensi


Di RST Dr. Soepraoen Malang

Disusun Oleh :
Kenny Maharani
170070301111105

PROGRAM PROFESI NERS


ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2017
HIPOGLIKEMIA

A. DEFINISI
Diabetes Mellitus (DM) adalah penyakit metabolik yang kebanyakan herediter,
demham tanda-tanda hiperglikemia dan glukosuria, disertai dengan atau tidak adanya
gejala klinik akut ataupun kronik, sebagai akibat dari kuranganya insulin efektif di dalam
tubuh, gangguan primer terletak pada metabolisme karbohidrat yang biasanya disertai
juga gangguan metabolisme lemak dan protein. (Askandar, 2000).
Hipoglikemia adalah suatu keadaan abnormal dimana kadar glukosa dalam darah <
50/60 mg/dl (Standards of Medical Care in Diabetes, 2009; Cryer, 2005; Smeltzer & Bare,
2003).

B. ETIOLOGI
Menurut Sabatine (2004), hipoglikemia dapat terjadi pada penderita Diabetes dan
Non Diabetes dengan etiologi sebagai berikut :
1. Pada Diabetes:
 Overdose insulin
 Asupan makanan << (tertunda atau lupa, terlalu sedikit, output yang ber>>an
(muntah, diare), diit ber>>an)
 Aktivitas berlebihan
 Gagal ginjal
 Hipotiroid
2. Pada Non Diabetes
 Peningkatan produksi insulin
 Paska aktivitas
 Konsumsi makanan yang sedikit kalori
 Konsumsi alkohol
 Paska melahirkan
 Post gastrectomy
 Penggunaan obat-obatan dalam jumlah besar (co.: salisilat, sulfonamide)

C. KLASIFIKASI DAN MANIFESTASI KLINIS


Menurut Soemadji (2006) dan Rush & Louies (2004) klasifikasi dan manifestasi klinis
dari hipoglikemia sebagai berikut :
D. PATOFISIOLOGI (Terlampir)
E. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Menurut Soemadji (2006) dan Cryer (2005), karakteristik diagnostik hipoglikemia
ditentukan berdasarkan pada TRIAS WIPPLE sebagai berikut
1. Terdapat tanda-tanda hipoglikemi
2. Kadar glukosa darah kurang dari 50 mg%
3. Gejala akan hilang seiring dengan peningkatan kadar glukosa darah (paska koreksi)

F. PENATALAKSANAAN
Menurut PERKENI (2006) pedoman tatalaksana hipoglikemia sebagai berikut :
 Glukosa diarahkan pada kadar glukosa puasa yaitu 120 mg/dl.
 Bila diperlukan pemberian glukosa cepat (IV) satu flakon (25 cc) Dex 40% (10 gr
Dex) dapat menaikkan kadar glukosa kurang lebih 25-30 mg/dl.

Manajemen Hipoglikemi menurut Soemadji (2006); Rush & Louise (2004); Smeltzer &
Bare (2003) sebagai berikut :
1. Tergantung derajat hipoglikemi:
 Hipoglikemi ringan:
- Diberikan 150-200 ml teh manis atau jus buah atau 6-10 butir permen atau
2-3 sendok teh sirup atau madu
- Bila gejala tidak berkurang dalam 15 menit ulangi pemberiannya
- Tidak dianjurkan untuk mengkonsumsi makanan tinggi kalori coklat,
kue, donat, ice cream, cake
 Hipoglikemi berat:
- Tergantung pada tingkat kesadaran pasien
- Bila klien dalam keadaan tidak sadar jangan memberikan makanan atau
minuman ASPIRASI
2. Terapi hipoglikemi:
 GLUKOSA ORAL
 GLUKOSA INTRAVENA
 GLUKAGON 1 mg (SC/IM)
 THIAMINE 100 mg (IV/IM)  pada pasien ALKOHOLIC  WERNICKE
ENCEPHALOPHATY
 MONITORING

G. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN


1. PENGKAJIAN
a) Aktivitas / Istirahat
Gejala : lemah, letih, sulit bergerak/berjalan, kram otot, tonus otot menurun.
Tanda : penurunan kekuatan otot
b) Sirkulasi
Gejala : ulkus pada kaki, penyembuhan lama, kesemutan/kebas pada
ekstremitas. Tanda : kulit panas, kering dan kemerahan.
c) Integritas Ego
Gejala : tergantung pada orang lain. Tanda : ansietas, peka rangsang.

d) Eliminasi
Gejala : perubahan pola berkemih (poliuria), nakturia . Tanda : urine encer, pucat
kering, poliurine.
e) Makanan/cairan
Gejala : hilang nafsu makan, mual/muntah, tidak mengikuti diet, penurunan berat
badan.
Tanda : kulit kering/bersisik, turgor jelek.
f) Nyeri/ kenyamanan
Gejala : nyeri pada luka ulkus. Tanda : wajah meringis dengan palpitasi, tampak
sangat hati-hati.
g) Keamanan
Gejala : kulit kering, gatal, ulkus kulit. Tanda : demam, diaforesis, kulit rusak,
lesi/ulserasi
h) Penyuluhan / pembelajaran
Gejala : faktor risiko keluarga DM, penyakit jantung, stroke, hipertensi,
penyembuhan yang lamba. Penggunaan obatseperti steroid, diuretik (tiazid) :
diantin dan fenobarbital (dapat meningkatkan kadar glukosa darah).

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
a) Kekurangan volume cairan berhubungan dengan diuresis osmotik, kehilangan
gastrik, berlebihan diare, mual, muntah, masukan dibatasi, kacau mental.
b) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
ketidakcukupan insulin, penurunan masukan oral : anoreksia, mual, lambung
penuh, nyeri abdomen, perubahan kesadaran : status hipermetabolisme,
pelepasan hormon stress.
c) Risiko tinggi terjadi infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan
perifer, perubahan sirkulasi, kadar gula darah yang tinggi, prosedur invasif dan
kerusakan kulit.
d) Kelelahan berhubungan dengan penurunan produksi energi metabolik,
perubahan kimia darah, insufisiensi insulin, peningkatan kebutuhan energi,
status hipermetabolisme/infeksi.
e) Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan
berhubungan dengan salah interpretasi informasi / tidak mengenal sumber
informasi.
RENCANA KEPERAWATAN

DIANGOSA
NO
KEPERAWATAN DAN TUJUAN (NOC) INTERVENSI (NIC)
DX
KOLABORASI
1 Kekurangan volume NOC NIC
cairan berhubungan  Fluid Balance Electrolyte Monitoring
dengan diuresis osmotik,  Vital Sign 1. Identifikasi kemungkinan penyebab ketidakseimbangan
kehilangan gastric, Kriteria Hasil : elektrolit
berlebihan (diare, Pasien menunjukan adanya perbaikan 2. Monitor adanya kehilangan cairan dan elektrolit
muntah) masukan keseimbangan cairan, dengan kriteria: 3. Monitor adanya mual,muntah dan diare
dibatasi (mual, kacau - Pengeluaran urine yang adekuat
mental). (batas normal) Fluid Management
- Tanda-tanda vital stabil 4. Monitor status hidrasi ( membran mukus, tekanan ortostatik,
- Tekanan nadi perifer jelas keadekuatan denyut nadi )
- Turgor kulit baik 5. Monitor keakuratan intake dan output cairan
- Pengisian kapiler baik 6. Monitor vital signs

- Membran mukosa lembab atau 7. Monitor pemberian terapi IV

basah.
Vital Signs Monitoring
8. Monitor vital sign klien
2 Perubahan nutrisi NOC : NIC : Nutrition Management
kurang dari kebutuhan  Nutritional Status : food and 1. Kaji adanya alergi makanan
tubuh berhubungan Fluid Intake 2. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori
dengan ketidak cukupan  Weight control dan nutrisi yang dibutuhkan pasien.
insulin, penurunan Kriteria Hasil : 3. Anjurkan pasien untuk meningkatkan intake Fe
masukan oral :  Adanya peningkatan berat 4. Anjurkan pasien untuk meningkatkan protein dan vitamin C
anoreksia, mual, badan sesuai dengan tujuan 5. Berikan substansi gula
lambung penuh, nyeri  Beratbadan ideal sesuai dengan 6. Yakinkan diet yang dimakan mengandung tinggi serat untuk
abdomen, perubahan tinggi badan mencegah konstipasi
kesadaran : status  Mampumengidentifikasi 7. Berikan makanan yang terpilih ( sudah dikonsultasikan
hipermetabolisme, kebutuhan nutrisi dengan ahli gizi)
pelepasan hormon  Tidk ada tanda tanda malnutrisi 8. Ajarkan pasien bagaimana membuat catatan makanan
stress  Menunjukkan peningkatan harian.
fungsi pengecapan dari 9. Monitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori
menelan 10. Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi
 Tidak terjadi penurunan berat 11. Kaji kemampuan pasien untuk mendapatkan nutrisi yang
badan yang berarti dibutuhkan

Nutrition Monitoring
1. BB pasien dalam batas normal
2. Monitor adanya penurunan berat badan
3. Monitor tipe dan jumlah aktivitas yang biasa dilakukan
4. Monitor interaksi anak atau orangtua selama makan
5. Monitor lingkungan selama makan
6. Jadwalkan pengobatan dan tindakan tidak selama jam
makan
7. Monitor kulit kering dan perubahan pigmentasi
8. Monitor turgor kulit
9. Monitor kekeringan, rambut kusam, dan mudah patah
10. Monitor mual dan muntah
11. Monitor kadar albumin, total protein, Hb, dan kadar Ht
12. Monitor makanan kesukaan
13. Monitor pertumbuhan dan perkembangan
14. Monitor pucat, kemerahan, dan kekeringan jaringan
konjungtiva
15. Monitor kalori dan intake nuntrisi
16. Catat adanya edema, hiperemik, hipertonik papila lidah dan
cavitas oral.
17. Catat jika lidah berwarna magenta, scarlet
3 Risiko tinggi terjadi NOC : NIC : Infection Control
infeksi berhubungan  Risk Control 1. Bersihkan lingkungan setelah dipakai klien lain
dengan tidak  Self-Management : Diabetes 2. Instruksikan pengunjung untuk mencuci tangan saat
adekuatnya pertahanan  Risk Detection berkunjung dan setelah berkunjung
perifer, perubahan 3. Gunakan sabun anti mikroba untuk cuci tangan
sirkulasi, kadar gula Kriteria Hasil : 4. Cuci tangan sebelum dan sesudah tindakan keperawatan
darah yang rendah, - Mengindentifikasi faktor-faktor 5. Gunakan universal precaution dan gunakan sarung tangan
prosedur invasif dan risiko individu dan intervensi untuk selma kontak dengan kulit yang tidak utuh
kerusakan kulit mengurangi potensial infeksi. 6. Berikan terapi antibiotik bila perlu
- Pertahankan lingkungan aseptik 7. Observasi dan laporkan tanda dan gejal infeksi seperti
yang aman. kemerahan, panas, nyeri, tumor
8. Kaji temperatur tiap 4 jam
9. Catat dan laporkan hasil laboratorium, WBC
10. Kaji warna kulit, turgor dan tekstur, cuci kulit dengan hati-hati
11. Ajarkan keluarga bagaimana mencegah infeksi

Infection Protection (proteksi terhadap infeksi)


1. Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokal
2. Monitor hitung granulosit, WBC
3. Monitor kerentanan terhadap infeksi
4. Batasi pengunjung
5. Saring pengunjung terhadap penyakit menular
6. Partahankan teknik aspesis pada pasien yang beresiko
7. Pertahankan teknik isolasi k/p
8. Berikan perawatan kuliat pada area epidema
9. Inspeksi kulit dan membran mukosa terhadap kemerahan,
panas, drainase
10. Ispeksi kondisi luka / insisi bedah
11. Dorong masukkan nutrisi yang cukup
12. Dorong masukan cairan
13. Dorong istirahat
14. Instruksikan pasien untuk minum antibiotik sesuai resep
15. Ajarkan pasien dan keluarga tanda dan gejala infeksi
16. Ajarkan cara menghindari infeksi
17. Laporkan kecurigaan infeksi
18. Laporkan kultur positif
4 Kelelahan berhubungan NOC : NIC : Energy Management
dengan penurunan  Fatigue: Disruptive Effects 1. Kaji status fisiologis pasien yang menyebabkan kelelahan
produksi energi  Fatigue Level sesuai dengan konteks usia dan perkembangan
metabolik, perubahan 2. Monitor tanda tanda vital pasien
kimia darah, insufisiensi Kriteria Hasil : 3. Kolaborasi terapi baik secara farmakologis maupun non
insulin, peningkatan - Menyatakan mapu untuk farmakologis dengan tepat untuk mengurangi kelelahan
kebutuhan energi, status beristirahat dan peningkatan 4. Monitor intake nutrisi untuk mengetahui sumber energi yang
hipermetabolisme/infeksi tenaga. adekuat
- Mampu menunjukan faktor yang 5. Kaji adanya kelelahan emosional yang dialami pasien
berpengaruh terhadap kelelahan. 6. Monitor adanya ketidaknyamanan yang dialami pasien
- Menunjukan peningkatan 7. Tingkatkan tirah baring/pembatasan kegiatan
kemampuan dan berpartisipasi
dalam aktivitas. Anxiety Reduction
1. Dorong pasien untuk mengungkapkan perasaannya
2. Dorong keluarga untuk mendampingi pasien
3. Ciptakan atmosfer yang nya nyaman untuk meningkatkan
kepercayaan pasien
4. Identifikasi pada saat terjadi perubahan tingkat kecemasan
5. Bantu klien mengidentifikasi situasi yang memicu kecemasan
6. Kaji tanda verbal dan non verbal kecemasan pada pasien
7. Ajarkan teknik relaksasi atau terapi non farmakologi untuk
mengurangi kecemasan

5 Kurang pengetahuan NOC : NIC : Teaching: Disease Process


tentang kondisi, v Kowlwdge : disease process 1. Berikan penilaian tentang tingkat pengetahuan pasien tentang
prognosis dan v Kowledge : health Behavior proses penyakit yang spesifik
kebutuhan pengobatan 2. Jelaskan patofisiologi dari penyakit dan bagaimana hal ini
berhubungan dengan Kriteria Hasil : berhubungan dengan anatomi dan fisiologi
salah interpretasi v Pasien dan keluarga menyatakan 3. Gambarkan tanda dan gejala yang biasa muncul pada penyakit
informasi/tidak pemahaman tentang penyakit, kondisi, 4. Gambarkan proses penyakit
mengenal sumber prognosis dan program pengobatan 5. Identifikasi kemungkinan penyebab
informasi v Pasien dan keluarga mampu 6. Sediakan informasi pada pasien tentang kondisi
melaksanakan prosedur yang 7. Diskusikan perubahan gaya hidup yang mungkin diperlukan
dijelaskan secara benar untuk mencegah komplikasi di masa yang akan datang dan
v Pasien dan keluarga mampu atau proses pengontrolan penyakit
menjelaskan kembali apa yang 8. Diskusikan pilihan terapi atau penanganan
dijelaskan perawat/tim kesehatan 9. Dukung pasien untuk mengeksplorasi atau mendapatkan
lainnya second opinion dengan cara yang tepat atau diindikasikan
10. Eksplorasi kemungkinan sumber atau dukungan
11. Instruksikan pasien mengenai tanda dan gejala untuk
melaporkan pada pemberi perawatan kesehatan
HEMATEMESIS

A. DEFINISI
Perdarahan saluran cerna bagian atas (SCBA) yaitu perdarahan yang berasal dari
dalam lumen saluran cerna di atas (proksimal) ligamentum Treitz, mulai dari jejunum
proksimal, duodenum, gaster, dan esophagus(1). Hal tersebut mengakibatkan muntah
darah (hematemesis) dan berak darah berwarna hitam seperti aspal (melena)(2).
Hematemesis adalah dimuntahkannya darah dari mulut, darah bisa dalam bentuk
segar (bekuan/ gumpalan/ cairan warna merah cerah) atau berubah karena enzim dan
asam lambung menjadi kecoklatan dan berbentuk seperti butiran kopi(3)(4).

B. ETIOLOGI
Beberapa penyebab timbulnya perdarahan di saluran cerna atas yaitu :
1. Kelainan di esophagus
a. Pecahnya varises esophagus
Perdarahan varises secara khas terjadi mendadak dan masif, kehilangan
darah gastrointestinal kronik jarang ditemukan. Perdarahan varises esofagus
atau lambung biasanya disebabkan oleh hipertensi portal yang terjadi sekunder
akibat sirosis hepatis. Meskipun sirosis alkoholik merupakan penyebab varises
esofagus yang paling prevalen di Amerika Serikat, setiap keadaan yang
menimbulkan hipertensi portal dapat mengakibatkan perdarahan varises. Lebih
lanjut, kendati adanya varises berarti adanya hipertensi portal yang sudah
berlangsung lama, penyakit hepatitis akut atau infiltrasi lemak yang hebat pada
hepar kadang-kadang menimbulkan varises yang akan menghilang begitu
abnormalitas hepar disembuhkan. Meskipun perdarahan SMBA pada pasien
sirosis umumnya berasal dari varises sebagai sumber perdarahan, kurang lebih
separuh dari pasien ini dapat mengalami perdarahan yang berasal dari ulkus
peptikum atau gastropati hipertensi portal. Keadaan yang disebut terakhir ini
terjadi akibat penggembungan vena-vena mukosa lambung. Sebagai
konsekuensinya, sangat penting menentukan penyebab perdarahan agar
penanganan yang tepat dapat dikerjakan(2).
Angka kejadian pecahnya varises esophagus yang menyebabkan perdarahan
cukup tinggi yaitu 54,8%. Sifat perdarahan hematemesisnya mendadak dan
masif, tanpa didahului nyeri epigastrium. Darah berwarna kehitaman dan tidak
akan membeku karena sudah tercampur asam lambung. Setelah hematemesis
selalu disusul dengan melena(5).

b. Karsinoma esophagus
Karsinoma esophagus lebih sering menunjukkan keluhan melena daripada
hematemesis. Pasien juga mengeluh disfagia, badan mengurus dan anemis.
Hanya sesekali penderita muntah darah tidak masif. Pada panendoskopi jelas
terlihat gambaran karsinoma yang hampir menutup esophagus dan mudah
berdarah terletak di sepertiga bawah esophagus(5).
c. Sindrom Mallory-Weiss
Riwayat medis ditandai oleh gejala muntah tanpa isi (vomitus tanpa darah).
Muntah hebat mengakibatkan ruptur mukosa dan submukosa daerah kardia atau
esophagus bawah sehingga muncul perdarahan. Karena laserasi aktif disertai
ulserasi, maka timbul perdarahan. Laserasi muncul akibat terlalu sering muntah
sehingga tekanan intraabdominal naik menyebabkan pecahnya arteri di
submukosa esophagus/ kardia. Sifat perdarahan hematemesis tidak masif,
timbul setelah pasien berulangkali muntah hebat, lalu disusul rasa nyeri di
epigastrium. Misalnya pada hiperemesis gravidarum(5).
d. Esofagogastritis korosiva
Pernah ditemukan penderita wanita dan pria yang muntah darah setelah tidak
sengaja meminum air keras untuk patri. Air keras tersebut mengandung asam
sitrat dan asam HCl yang bersifat korosif untuk mukosa mulut, esophagus dan
lambung. Penderita juga mengeluh nyeri dan panas seperti terbakar di mulut,
dada dan epigastrium(5).
e. Esofagitis dan tukak esophagus
Esofagitis yang menimbulkan perdarahan lebih sering bersifat intermiten atau
kronis, biasanya ringan, sehingga lebih sering timbul melena daripada
hemetemesis. Tukak esophagus jarang menimbulkan perdarahan jika
(5)
dibandingkan dengan tukak lambung dan duodenum .

2. Kelainan di lambung
a. Gastritis erosiva hemoragika
Penyebab terbanyak adalah akibat obat-obatan yang mengiritasi mukosa
lambung atau obat yang merangsang timbulnya tukak (ulcerogenic drugs).
Misalnya obat-obat golongan salisilat seperti Aspirin, Ibuprofen, obat bintang
tujuh dan lainnya. Obat-obatan lain yang juga dapat menimbulkan hematemesis
yaitu : golongan kortikosteroid, butazolidin, reserpin, spironolakton dan lain-lain.
Golongan obat-obat tersebut menimbulkan hiperasiditas(2)(6).
Gastritis erosiva hemoragika merupakan urutan kedua penyebab
perdarahan saluran cerna atas. Pada endokopi tampak erosi di angulus, antrum
yang multipel, sebagian tampak bekas perdarahan atau masih terlihat
perdarahan aktif di tempat erosi. Di sekitar erosi umumnya hiperemis, tidak
terlihat varises di esophagus dan fundus lambung. Sifat hematemesis tidak masif
dan timbul setelah berulang kali minum obat-obatan tersebut, disertai nyeri dan
pedih di ulu hati(5).
b. Tukak lambung
Tukak lambung lebih sering menimbulkan perdarahan terutama di angulus
dan prepilorus bila dibandingkan dengan tukak duodeni. Tukak lambung akut
biasanya bersifat dangkal dan multipel yang dapat digolongkan sebagai erosi(5).
Biasanya sebelum hematemesis dan melena, pasien mengeluh nyeri dan
pedih di ulu hati selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun. Sesaat sebelum
hematemesis rasa nyeri dan pedih dirasakan bertambah hebat, namun setelah
muntah darah rasa nyeri dan pedih tersebut berkurang. Sifat hematemesis tidak
begitu masif, lalu disusul melena(5).
c. Karsinoma lambung
Insidensinya jarang, pasien umumnya berobat dalam fase lanjut dengan
keluhan rasa pedih dan nyeri di ulu hati, rasa cepat kenyang, badan lemah.
Jarang mengalami hematemesis, tetapi sering melena(5).

3. Kelainan di duodenum
a. Tukak duodeni
Tukak duodeni yang menyebabkan perdarahan panendoskopi terletak di
bulbus. Sebagian pasien mengeluhkan hematemesis dan melena, sedangkan
sebagian kecil mengeluh melena saja. Sebelum perdarahan, pasien mengeluh
nyeri dan pedih di perut atas agak ke kanan. Keluhan ini juga dirasakan waktu
tengah malam saat sedang tidur pulas sehingga terbangun. Untuk mengurangi
rasa nyeri dan pedih, pasien biasanya mengkonsumsi roti atau susu(5).
b. Karsinoma papilla Vateri
Karsinoma papilla Vateri merupakan penyebaran karsinoma di ampula
menyebabkan penyumbatan saluran empedu dan saluran pancreas yang
umumnya sudah dalam fase lanjut. Gejala yang timbul selain kolestatik
ekstrahepatal, juga dapat menimbulkan perdarahan tersembunyi (occult
bleeding), sangat jarang timbul hematemesis. Selain itu pasien juga mengeluh
badan lemah, mual dan muntah(5).

C. MANIFESTASI KINIS
Pada hematemesis, warna darah yang dimuntahkan tergantung dari asam
hidroklorida dalam lambung dan campurannya dengan darah. Jika vomitus terjadi
segera setelah perdarahan, muntahan akan tampak berwarna merah dan baru
beberapa waktu kemudian penampakannya menjadi merah gelap, coklat atau hitam.
Bekuan darah yang mengendap pada muntahan akan tampak seperti ampas kopi yang
khas. Hematemesis biasanya menunjukkan perdarahan di sebelah proksimal
ligamentum Treitz karena darah yang memasuki traktus gastrointestinal di bawah
duodenum jarang masuk ke dalam lambung(2).
Kehilangan darah 500 ml jarang memberikan tanda sistemik kecuali perdarahan
pada manula atau pasien anemia dengan jumlah kehilangan darah yang sedikit sudah
menimbulkan perubahan hemodinamika. Perdarahan yang banyak dan cepat
mengakibatkan penurunan venous return ke jantung, penurunan curah jantung (cardiac
output) dan peningkatan tahanan perifer akibat refleks vasokonstriksi. Hipotensi
ortostatik 10 mmHg (Tilt test) menandakan perdarahan minimal 20% dari volume total
darah. Gejala yang sering menyertai : sinkop, kepala terasa ringan, mual, perspirasi
(berkeringat), dan haus. Jika darah keluar ±40 % terjadi renjatan (syok) disertai takikardi
dan hipotensi. Gejala pucat menonjol dan kulit penderita teraba dingin(2).
Pasien muda dengan riwayat perdarahan saluran cerna atas singkat dan berulang
disertai kolaps hemodinamik dan endoskopi “normal”, dipertimbangkan lesi Dieulafoy
(adanya arteri submukosa dekat cardia yang menyebabkan perdarahan saluran cerna
intermiten yang banyak)(3).

D. PATOFISIOLOGI (Terlampir)
E. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. Anamnesis(9)
a. Sejak kapan terjadi perdarahan, perkiraan jumlah, durasi dan frekuensi
perdarahan
b. Riwayat perdarahan sebelumnya dan riwayat perdarahan dalam keluarga
c. Ada tidaknya perdarahan di bagian tubuh lain
d. Riwayat muntah berulang yang awalnya tidak berdarah (Sindrom Mallory-Weiss)
e. Konsumsi jamu dan obat (NSAID dan antikoagulan yang menyebabkan nyeri
atau pedih di epigastrium yang berhubungan dengan makanan)
f. Kebiasaan minum alkohol (gastritis, ulkus peptic, kadang varises)
g. Kemungkinan penyakit hati kronis, demam dengue, tifoid, gagal ginjal kronik,
diabetes mellitus, hipertensi, alergi obat
h. Riwayat tranfusi sebelumnya
2. Pemeriksaan fisik
Langkah awal adalah menentukan berat perdarahan dengan fokus pada status
hemodinamik, pemeriksaannya meliputi(9) :
a. Tekanan darah dan nadi posisi baring
b. Perubahan ortostatik tekanan darah dan nadi
c. Ada tidaknya vasokonstriksi perifer (akral dingin)
d. Kelayakan napas dan tingkat kesadaran
e. Produksi urin
Perdarahan akut dalam jumlah besar (> 20% volume intravaskuler)
mengakibatkan kondisi hemodinamik tidak stabil, dengan tanda(9) :
a. Hipotensi (<90/60 mmHg atau MAP <70 mmHg) dengan frekuensi nadi > 100
x/menit
b. Tekanan diastole ortostatik turun >10 mmHg, sistole turun >20 mmHg.
c. Frekuensi nadi ortostatik meningkat >15 x/menit
d. Akral dingin
e. Kesadaran turun
f. Anuria atau oligouria (produksi urin <30 ml/jam)
Selain itu pada perdarahan akut jumlah besar ditemukan hal-hal berikut(9):
a. Hematemesis
b. Hematokezia
c. Darah segar pada aspirasi nasogastrik, dengan lavase tidak segera jernih
d. Hipotensi persisten
e. Tranfusi darah > 800 – 1000 ml dalam 24 jam
Khusus untuk penilaian hemodinamik (keadaan sirkulasi) perlu dilakukan evaluasi
jumlah perdarahan, dengan criteria(10) :
Perdarahan Keadaan hemodinamik
(%)
<8 Hemodinamik stabil
8 – 15 Hipotensi ortostatik
15 – 25 Renjatan (syok)
25 – 40 Renjatan + penurunan kesadaran
>40 Moribund (physiology futility)

Selanjutnya pemeriksaan fisik yang perlu diperhatikan adalah(10) :


a. Stigmata penyakit hati kronis (ikterus, spider naevi, ascites, splenomegali,
eritema palmaris, edema tungkai)
b. Colok dubur karena warna feses memiliki nilai prognostik
c. Aspirat dari nasogastric tube (NGT) memiliki nilai prognostik mortalitas dengan
interpretasi :
1) Aspirat putih keruh : perdarahan tidak aktif
2) Aspirat merah marun : perdarahan masif (mungkin perdarahan arteri)
d. Suhu badan dan perdarahan di tempat lain
e. Tanda kulit dan mukosa penyakit sistemik yang bisa disertai perdarahan saluran
cerna (pigmentasi mukokutaneus pada sindrom Peutz-Jeghers)

3. Pemeriksaan Penunjang(8)
a. Tes darah : darah perifer lengkap, cross-match jika diperlukan tranfusi
b. Hemostasis lengkap untuk menyingkirkan kelainan faktor pembekuan primer atau
sekunder : CTBT, PT/PPT, APTT
c. Elektrolit : Na, K, Cl
d. Faal hati : cholinesterase, albumin/ globulin, SGOT/SGPT
e. EKG& foto thoraks: identifikasi penyakit jantung (iskemik), paru kronis
f. Endoskopi : gold standart untuk menegakkan diagnosis dan sebagai pengobatan
endoskopik awal. Selain itu juga memberikan informasi prognostik dengan
mengidentifikasi stigmata perdarahan(3)

F. PENATALAKSANAAN
1. Tatalaksana Umum
Tindakan umum terhadap pasien diutamakan airway-breathing-circulation (ABC).
Terhadap pasien yang stabil setelah pemeriksaan memadai, segera dirawat untuk
terapi lanjutan atau persiapan endoskopi.
Untuk pasien risiko tinggi perlu tindakan lebih agresif seperti :
a. Pemasangan iv-line minimal 2 dengan jarum (kateter) besar minimal no 18. Ini
penting untuk transfuse, dianjurkan pemasangan CVP
b. Oksigen sungkup/ kanula. Bila gangguan airway-breathing perlu ETT
c. Mencatat intake- output, harus dipasang kateter urine
d. Monitor tekanan darah, nadi, saturasi O2, keadaan lain sesuai komorbid
e. Melakukan bilas lambung agar mempermudah tindakan endoskopi

Dalam melaksanakan tindakan umum ini, pasien dapat diberikan terapi :


a. Transfusi untuk mempertahankan hematokrit > 25%
b. Pemberian vitamin K 3x1 amp
c. Obat penekan sintesa asam lambung (PPI)
d. Terapi lainnya sesuai dengan komorbid

2. Tatalaksana Khusus
a. Varises gastroesofageal(10)
1) Terapi medikamentosa dengan obat vasoaktif(9)
a) Glipressin (Vasopressin) : Menghentikan perdarahan lewat efek
vasokonstriksi pembuluh darah splanknik, menyebabkan aliran darah dan
tekanan vena porta menurun. Pemberian dengan mengencerkan
vasopressin 50 unit dalam 100 ml Dextrose 5%, diberikan 0,5–1
mg/menit/iv selama 20–60 menit dan dapat diulang tiap 3–6 jam; atau
setelah pemberian pertama dilanjutkan per infuse 0,1–0,5 U/menit
b) Somatostatin : Menurunkan aliran darah splanknik, lebih selektif daripada
vasopressin. Untuk perdarahan varises atau nonvarises. Dosis
pemberian awal dengan bolus 250 mcg/iv, lanjut per infus 250 mcg/jam
selama 12–24 jam atau sampai perdarahan berhenti.
2) Terapi mekanik dengan balon Sengstaken Blackmore atau Minesota
3) Terapi endoskopi(9)
a) Ligasi : Mulai distal mendekati cardia bergerak spiral setiap 1–2 cm.
Dilakukan pada varises yang sedang berdarah atau ditemukan tanda baru
saja mengalami perdarahan (bekuan darah melekat, bilur merah, noda
hematokistik). Efek samping sklerosan dapat dihindari, mengurangi
frekuensi ulserasi dan striktur.
b) Skleroterapi : alternatif bila ligasi sulit dilakukan karena perdarahan masif,
terus berlangsung atau teknik tidak memungkinkan. Yang digunakan
campuran yang sama banyak antara polidokanol 3%, NaCl 0,9% dan
alcohol absolute; dibuat sesaat sebelum skleroterapi. Penyuntikan dari
bagian paling distal mendekati cardia, lanjut ke proksimal bergerak spiral
sejauh 5cm.
4) Terapi radiologi(9) : pemasangan transjugular intrahepatic portosystemic
shunting (TIPS)& perkutaneus obliterasi spleno-porta.
5) Terapi pembedahan(10)
a) Shunting
b) Transeksi esofagus + devaskularisasi + splenektomi
c) Devaskularisasi + splenektomi
b. Tukak peptic(10)
1) Terapi medikamentosa
a) PPI (proton pump inhibitor)(9) : obat anti sekresi asam untuk mencegah
perdarahan ulang. Diawali dosis bolus Omeprazol 80 mg/iv lalu per infuse
8 mg/kgBB/jam selama 72 jam
Antasida, sukralfat, dan antagonis reseptor H2 masih boleh diberikan
untuk tujuan penyembuhan lesi mukosa perdarahan.
b) Obat vasoaktif
2) Terapi endoskopi(10)
a) Injeksi(9) : penyuntikan submukosa sekitar titik perdarahan dengan
adrenalin (1:10000) sebanyak 0,5–1 ml/suntik dengan batas 10 ml atau
alcohol absolute (98%) tidak melebihi 1 ml
b) Termal : koagulasi, heatprobe, laser
c) Mekanik : hemoklip, stapler
3) Terapi bedah

3. Memulangkan pasien(10)
Sebagian besar pasien umumnya pulang pada hari ke 1–4 perawatan.
Perdarahan ulang (komorbid) sering memperpanjang masa perawatan. Bila tidak ada
komplikasi, perdarahan telah berhenti, hemodinamik stabil serta risiko perdarahan
ulang rendah pasien dapat dipulangkan . Pasien biasanya pulang dalam keadaan
anemis, karena itu selain obat pencegah perdarahan ulang perlu ditambahkan
preparat Fe.

G. KOMPLIKASI
1. Syok hipovolemik
2. Aspirasi pneumonia
3. Gagal ginjal akut
4. Sindrom hepatorenal koma hepatikum
5. Anemia karena perdarahan

H. KONSEP DASAR KEPERAWATAN


1. Pengkajian
a) Identitas pasien, meliputi :
Nama, Umur (biasanya bisa usia muda maupun tua), Jenis kelamin (bisa laki-laki
maupun perempuan), Suku bangsa, Pekerjaan, Pendidikan, Alamat, Tanggal
MRS, dan Diagnosa medis
b) Keluhan utama
Biasanya keluhan utama kx adalah muntah darah atau berak darah yang datang
secara tiba-tiba.
c) Riwayat kesehatan
1) Riwayat kesehatan sekarang
Keluhan utama kx adalah muntah darah atau berak darah yang datang secara
tiba-tiba .
2) Riwayat kesehatan dahulu
Biasanya kx mempunyai riwayat penyakit hepatitis kronis, sirosis hepatitis,
hepatoma, ulkus peptikum, kanker saluran pencernaan bagian atas, riwayat
penyakit darah (misal : DM), riwayat penggunaan obatulserorgenik, kebiasaan /
gaya hidup (alkoholisme, gaya hidup / kebiasaan makan).
3) Riwayat kesehatan keluarga
Biasanya apabila salah satu anggota keluarganya mempunyai kebiasaan
makan yang dapat memicu terjadinya hematemesis melena, maka dapat
mempengaruhi anggota keluarga yang lain
d) Pola-pola fungsi kesehatan
1) Pola perspsi dan tata laksana hidup sehat
Biasanya klien mempunyai kebiasaan alkoholisme, pengunaan obat-obat
ulserogenik
2) Pola nutrisi dan metabolisme
Terjadi perubahan karena adanya keluhan pasien berupa mual, muntah,
kembung, dan nafsu makan menurun, dan intake nutrisi harus daam bentuk
makanan yang lunak yang mudah dicerna
3) Pola aktivitas dan latihan
Gangguan aktivitas atau kebutuhan istirahat, kekurangan protein (hydroprotein)
yang dapat menyebabkan keluhan subjektif pada pasien berupa kelemahan
otot dan kelelahan, sehingga aktivitas sehari-hari termasuk pekerjaan harus
dibatasi atau harus berhenti bekerja

4) Pola eliminasi
Pola eliminasi mengalami gangguan,baik BAK maupun BAB. Pda BAB terjadi
konstipasi atau diare. Perubahan warna feses menjadi hitam seperti petis,
konsistensi pekat. Sedangkan pada BAK, warna gelap dan konsistensi pekat.
5) Pola tidur dan istirahat
Terjadi perubahan tentang gambaran dirinya seperti badan menjadi kurus,
perut membesar karena ascites dan kulit mengering, bersisik agak kehitaman.
6) Pola hubungan peran
Dengan adanya perawatan yang lama makan akan terjadi hambatan dalam
menjalankan perannya seperti semula.
7) Pola reproduksi seksual
Akan terjadi perbahan karena ketidakseimbangan hormon, androgen dan
estrogen, bila terjadi pada lelaki (suami) dapat menyebabkan penurunan libido
dan impoten, bila terjadi pada wanita (istri) menyebabkan gangguan pada
siklus haid atau dapat terjadi aminore dan hal ini tentu saja mempengaruhi
pasien sebagai pasangan suami dan istri.
8) Pola penaggulangan stres
Biasanya kx dengan koping stres yang baik, maka dapat mengatasi
masalahnya namun sebaliknya bagi kx yang tidak bagus kopingnya maka kx
dapat destruktif lingkungan sekitarnya.
9) Pola tata nilai dan kepercayaan
Pada pola ini tidak terjadi gangguan pada pada klien.

e) Pemeriksaan Fisik
1) Keadaan umum
Keadaan umum klien Hematomesis melena akan terjadi ketidak seimbangan
nutrisi akibat anoreksia, intoleran terhadap makanan / tidak dapat mencerna,
mual, muntah, kembung.
2) Sistem respirasi
Akan terjadi sesak, takipnea, pernafasan dangkal, bunyi nafas tambahan
hipoksia, ascites.
3) Sistem kardiovaskuler
Riwayat perikarditis, penyakit jantung reumatik, kanker (malfungsi hati
menimbulkan gagal hati), distritnya, bunyi jantung (S3, S4).
4) Sistem gastrointestinal.
Nyeri tekan abdomen / nyeri kuadran kanan atas, pruritus, neuritus perifer.
5) Sistem persyaratan
Penurunan kesadaran, perubahan mental, bingung halusinasi, koma, bicara
lambat tak jelas.
6) Sistem geniturianaria / eliminasi
Terjadi flatus, distensi abdomen (hepatomegali, splenomegali. asites),
penurunan / tak adanya bising usus, feses warna tanah liat, melena, urin gelap
pekat, diare / konstipasi.
2. Diagnosa Keperawatan (Lynda Juall Carpenito)
a) Resiko terjadi syok hipovolemik berhubungan dengan perdarahan dilambung
b) Pola pernafasan tidak efektif berhubungan dengan penurunan ekspansi paru.
c) Perubahan nutrisi (kurang dari kebutuhan) berhubungan dengan ketidakmampuan
untuk memproses (mencerna) makanan.
d) Cemas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang perawatan
pennyakitnya.
e) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan
RENCANA KEPERAWATAN

DIANGOSA
NO
KEPERAWATAN DAN TUJUAN (NOC) INTERVENSI (NIC)
DX
KOLABORASI
1 Resiko terjadi syok NOC NIC
hipovolemik  Shock Severity: Hypovolemic Shock Management
berhubungan dengan  Blood Loss Severity 1. Observasi TTV dan tanda-tanda syok hipovolemik tiap 30
perdarahan dilambung menit
Kriteria Hasil : 2. Bila ada tanda-tanda syok hipovolemik beri posisi kepala lebih

- Perdarahan berkurang / berhenti rendah dari kaki.

- Nadi teratur dan pengisian kuat (60 3. Observasi intake dan out put cairan

– 100 x/mnt) 4. Observasi adanya perdarahan

- Tekanan darah menurun (110/70 – 5. Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian plasma

120/80 mmHg) expander

- Akral hangat
Shock Prevention
1. Perhatikan memar, petechiae dan kondisi selaput lendir.
2. Catatan warna, jumlah, dan frekuensi buang air besar, muntah
dan residu lambung.
3. Tes urine untuk menentukan adanya glukosa, darah
atau protein.
4. Pantau adanya nyeri perut dan ketebalan.
5. Pantau tanda dan gejala ascites.
6. Pantau respon awal terhadap kehilangan cairan: peningkatan
HR, tekanan darah menurun,hipotensi ortostatik, penurunan
output urin, tekanan nadi sempit, penurunan isi ulang kapiler,
kulit pucat dan dingin, dan diaphoresis.
7. Pantau tanda-tanda awal syok cardiogenik: jumlah output urine
dan cardiac output yang menurun, meningkatnya SVR dan
PCWP, crackles paru, S3 dan S4 suara jantung, takikardia.
8. Pantau tanda-tanda awal dari reaksi alergi: mengi, suara serak
(napas kasar suara dan terengah-engah), dyspnea, ruam,
angioedema, merasa tidak sehat pada saluran pencernaan,
kecemasan dan kegelisahan.
9. Pantau tanda-tanda awal syok septik: kulit hangat, kering,
mengkilap, peningkatan output dan suhu jantung.
10. Menjaga patensi jalan napas.
11. Berikan agen antiaritmia.
12. Berikan diuretik seperti yang diinstruksikan.
13. Berikan bronkodilator sesuai kebutuhan

2 Pola pernafasan tidak NOC : NIC :


efektif berhubungan  Respiratory status : Ventilation Airway Management
dengan penurunan  Respiratory status : Airway 1. Buka jalan nafas, guanakan teknik chin lift atau jaw thrust bila
ekspansi paru patency perlu
 Vital sign Status 2. Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi
3. Identifikasi pasien perlunya pemasangan alat jalan nafas
Kriteria Hasil : buatan
 Frekuensi pernafasan normal 4. Pasang mayo bila perlu
(RR 16 – 20 x/menit). 5. Lakukan fisioterapi dada jika perlu
 Tidak terdapat bunyi nafas 6. Keluarkan sekret dengan batuk atau suction
tambahan. 7. Auskultasi suara nafas, catat adanya suara tambahan
 Klien tidak hipoksia 8. Lakukan suction pada mayo
9. Berikan bronkodilator bila perlu
10. Berikan pelembab udara Kassa basah NaCl Lembab
11. Atur intake untuk cairan mengoptimalkan keseimbangan.
12. Monitor respirasi dan status O2

Terapi Oksigen
1. Bersihkan mulut, hidung dan secret trakea
2. Pertahankan jalan nafas yang paten
3. Atur peralatan oksigenasi
4. Monitor aliran oksigen
5. Pertahankan posisi pasien
6. Onservasi adanya tanda tanda hipoventilasi
7. Monitor adanya kecemasan pasien terhadap oksigenasi

Vital sign Monitoring


1. Monitor TD, nadi, suhu, dan RR
2. Catat adanya fluktuasi tekanan darah
3. Monitor VS saat pasien berbaring, duduk, atau berdiri
4. Auskultasi TD pada kedua lengan dan bandingkan
5. Monitor TD, nadi, RR, sebelum, selama, dan setelah aktivitas
6. Monitor kualitas dari nadi
7. Monitor frekuensi dan irama pernapasan
8. Monitor suara paru
9. Monitor pola pernapasan abnormal
10. Monitor suhu, warna, dan kelembaban kulit
11. Monitor sianosis perifer
12. Monitor adanya cushing triad (tekanan nadi yang melebar,
bradikardi, peningkatan sistolik)
13. Identifikasi penyebab dari perubahan vital sign

3 Perubahan nutrisi NOC : NIC :


(kurang dari kebutuhan)  Nutritional Status : food and Fluid Nutrition Management
berhubungan dengan Intake 1. Kaji adanya alergi makanan
ketidakmampuan untuk  Nausea & Vomiting Severity 2. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori
memproses (mencerna) dan nutrisi yang dibutuhkan pasien.
makanan. Kriteria Hasil : 3. Anjurkan pasien untuk meningkatkan intake Fe
- Mual / muntah berkurang 4. Anjurkan pasien untuk meningkatkan protein dan vitamin C
- BB meningkat 5. Berikan substansi gula
- Nafsu makan bertambah 6. Yakinkan diet yang dimakan mengandung tinggi serat untuk
mencegah konstipasi
7. Berikan makanan yang terpilih ( sudah dikonsultasikan dengan
ahli gizi)
8. Ajarkan pasien bagaimana membuat catatan makanan harian.
9. Monitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori
10. Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi
11. Kaji kemampuan pasien untuk mendapatkan nutrisi yang
dibutuhkan

Nutrition Monitoring
1. BB pasien dalam batas normal
2. Monitor adanya penurunan berat badan
3. Monitor tipe dan jumlah aktivitas yang biasa dilakukan
4. Monitor interaksi anak atau orangtua selama makan
5. Monitor lingkungan selama makan
6. Jadwalkan pengobatan dan tindakan tidak selama jam makan
7. Monitor kulit kering dan perubahan pigmentasi
8. Monitor turgor kulit
9. Monitor kekeringan, rambut kusam, dan mudah patah
10. Monitor mual dan muntah
11. Monitor kadar albumin, total protein, Hb, dan kadar Ht
12. Monitor makanan kesukaan
13. Monitor pertumbuhan dan perkembangan
14. Monitor pucat, kemerahan, dan kekeringan jaringan
konjungtiva
15. Monitor kalori dan intake nuntrisi
16. Catat adanya edema, hiperemik, hipertonik papila lidah dan
cavitas oral
DAFTAR PUSTAKA

(1) Astera, I W.M. & I D.N. Wibawa. Tata Laksana Perdarahan Saluran Makan Bagian
Atas : dalam Gawat Darurat di Bidang Penyakit Dalam. Jakarta : EGC. 1999 : 53 – 62.
(2) Richter, J.M. & K.J. Isselbacher. Perdarahan Saluran Makanan : dalam Harrison
(Prinsip Ilmu Penyakit Dalam) Jilid I. Jakarta : EGC. 1999 : 259 – 62.
(3) Davey, P. Hematemesis & Melena : dalam At a Glance Medicine. Jakarta : Erlangga.
2006 : 36 – 7.
(4) Hastings, G.E. Hematemesis & Melena : wichita.kumc.edu/hastings/hematemesis.pdf .
2005.
(5) Hadi, S. Perdarahan Saluran Makan : dalam Gastroenterologi. Bandung : PT Alumni.
2002 : 281 – 305.
(6) Ponijan, A.P. Perdarahan Saluran Cerna Bagian Atas :
repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/31735/4/Chapter%20II.pdf . 2012.
(7) Purwadianto, A. & Budi S. Hematemesis & Melena : dalam Kedaruratan Medik. Jakarta :
Binarupa Aksara. 2000 : 105 – 10.
(8) PB PAPDI. Standar Pelayanan Medik. Jakarta : PB PAPDI. 2005: 272 – 3.
(9) Adi, P. Pengelolaan Perdarahan Saluran Cerna Bagian Atas : Ilmu Penyakit Dalam Jilid
I. Jakarta : FKUI. 2006 : 289 – 97
(10) Djumhana, A. Perdarahan Akut Saluran Cerna Bagian Atas : pustaka.unpad.ac.id/wp-
content/uploads/2011/03/pendarahan_akut_saluran_cerna_bagian_atas.pdf . 2017