Anda di halaman 1dari 9

SATUAN ACARA PENYULUHAN

POKOK BAHASAN : Peran Keluarga Dalam Mengatasi Perilaku


Kekerasan (Marah) Pada Pasien Gangguan Jiwa
SASARAN : Pengunjung Poliklinik RSJ Bandung
LOKASI : Poliklinik RSJ Bandung
WAKTU : Selasa, 18 juni 2013
Pukul 08. 00 – 08.30 WIB

I. Tujuan Instruksional Umum


Setelah mendapatkan penyuluhan kesehatan selama 30 menit,
pengunjung Poliklinik RSJ terutama keluarga dapat memberikan dukungan
yang baik kepada anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa.

II. Tujuan Instruksional Khusus


Setelah mendapatkan penyuluhan kesehatan selama 30 menit,
pengunjung Poliklinik RSJ Bandung akan dapat :
1. Menyebutkan pengertian perilaku kekerasan dengan benar.
2. Menyebutkan penyebab dari marah dengan benar
3. Menyebutkan tanda-tanda marah dengan benar.
4. Keluarga mengetahui cara mengatasi perilaku kekerasan (marah).

III. Analisa Tugas


1. Know
a. Mengetahui perilaku kekerasan dengan benar.
b. Mengetahui penyebab dari marah dengan benar
c. Mengatahui tanda-tanda marah dengan benar.
d. Keluarga mengetahui cara mengatasi perilaku kekerasan (marah).
2. Do :
Memberikan tanggapan/pertanyaan pada saat brainstorming dan
penyuluhan berlangsung.
3. Show :
Mendengarkan dengan penuh perhatian saat penyuluhan berlangsung

IV. Materi
1. Pengertian perilaku kekerasan
2. Penyebab perilaku kekerasan
3. Tanda dan gejala perilaku kekerasan (marah).
4. Peran Keluarga dalam mengatasi perilaku kekerasan (marah).

V. Metode
1. Diskusi
2. Ceramah

VI. Media
1. Leaflet dan
2. Plipchart

VII. Struktur Organisasi


1. Moderator : Darmawan
2. Presenter : Nyoman Suweco
Yaya Hasgur
3. Fasilitator : Nirna Julaeha
Mellyriyanta
Yovita Gatiningsih
4. Perlengkapan: Imran Lakue
Muhmmad Firdal P
Yunita P
Syahrullah Karim

VIII. Kegiatan
NO KEGIATAN/ PEMBERI MATERI/ PESERTA
WAKTU PENYULUH
1. Pembukaan  Mengucapkan Salam  Menjawab salam
5 menit  Memperkenalkan diri
 Menjelaskan tujuan penyuluhan  Mendengarkan penjelasan
2. Isi  Memberikan penjelasan awal  Memperhatikan dan
15 menit tentang perilaku kekerasan menyimak penjelasan yang
 Menjelaskan tentang penyebab disampaikan
perilaku kekerasan (marah)
 Menjelaskan tanda dan gejala  Peserta berperan serta aktif
perilaku kekerasan dalam mengungkapkan
 Menjelaskan peran keluarga pengalaman saat menangani
dalam mengatasi perilaku pasien dirumah
kekerasan (marah)  Peserta menyimak penjelasan
yang diberikan oleh penyuluh
 Peserta mengajukan
pertanyaan dan menyimak
tanggapan terhadap
pertanyaan
3. Penutup  Menyimpulkan materi, peran  Mendengarkan dan
10 menit penting keluarga dalam menyimak kesimpulan yang
mengatasi perilaku kekerasan disampaikan oleh penyuluh
(marah)
 Menanyakan tentang pengertian  Menjawab pertanyaan yang
gangguan jiwa, mengenal tanda- diajukan oleh penyuluh
tanda gangguan jiwa, tugas dan
peran keluarga
 Mengucapkan terima kasih atas
kerjasama dan perhatiaannya
 Mengucapkan salam penutup  Menjawab salam

IX. Evaluasi
1. Prosedur :
Penyuluh memberikan pertanyaan langsung kepada peserta
2. Bentuk : lisan
3. Jenis :
a. Sebutkan pengertian perilaku kekerasan dengan benar.. ?
b. sebutkan penyebab dari marah dengan benar.. ?
c. sebutkan tanda-tanda marah dengan benar..?
d. Jelaskan cara mengatasi perilaku kekerasan (marah)..?

X. Sumber Bacaan

Anonim (2012) Mental Disorder ToolkitDiaksesdihttp:


//www.relatedminds.com /wp-content /uploads /
2011/06/mdtoolkit.pdf pada 15 juni 2013
Anonim (2012). When a Family Member has Mental Illness Diakses di
http://wcmhar.org/familymembers.htm pada 15 juni 2013
Marsh., D. & Schenk, S. & Cook., A (2012) Families and Mental Illness .
Diadaptasi oleh National Alliance on Mental Illness / NAMI.Diakses
di : www.namigc.org/content/fact_sheet/familyinfo/familiesweb.htm
pada 15 juni 2013
Hunter Institute Of Mental Health / HIMH (2012) Mental illness and
Suicide www.responseability.org/site/index.cfm?display=134913
Diakses pada 15 juni 2013
Knitzer, J., Steinberg, Z., & Fleisch, B. (1993). At the Schoolhouse Door:
An Examination of Programs and Policies for Children with
Behavioral and Emotional Problems. New York: Bank Street College
of Education.
Action of Mental Ilness (AMI) .(tanpa tahun) Role of the Family. Diakses di
: www.amiquebec.org/RoleoftheFamily.htm . Diakses pada : Juni
2013.
MATERI PENYULUHAN

A. Pengertian Resiko perilaku kekerasan


perilaku kekerasan atau agresif merupakan suatu bentuk perilaku
yang bertujuan untuk melukai seseorang secara fisik maupun psikologis
(Berkowitz, 1993)
Berdasarkan defenisi ini maka perilaku kekerasan dapat dibagi dua
menjadi perilaku kekerasan scara verbal dan fisik (Keltner et al, 1995).
Sedangkan marah tidak harus memiliki tujuan khusus. Marah lebih
menunjuk kepada suatu perangkat perasaan-perasaan tertentu yang
biasanya disebut dengan perasaan marah (Berkowitz, 1993)
Kemarahan adalah perasaan jengkel yang timbul sebagai respons
terhadap kecemasan yang dirasakan sebagai ancaman (Keliat, 1996)

B. Penyebab Resiko Perilaku Kekerasan


Menurut Stearen kemarahan adalah kombinasi dari segala sesuatu
yang tidak enak, cemas, tegang, dendam, sakit hati, dan frustasi. Beberapa
faktor yang mempengaruhi terjadinya kemarahan yaitu frustasi, hilangnya
harga diri, kebutuhan akan status dan prestise yang tidak terpenuhi.
1. Frustasi,
Sesorang yang mengalami hambatan dalam mencapai
tujuan/keinginan yang diharapkannya menyebabkan ia menjadi
frustasi. Ia merasa terancam dan cemas. Jika ia tidak mampu
menghadapi rasa frustasi itu dengan cara lain tanpa mengendalikan
orang lain dan keadaan sekitarnya misalnya dengan kekerasan.
2. Hilangnya harga diri
Pada dasarnya manusia itu mempunyai kebutuhan yang sama
untuk dihargai. Jika kebutuhan ini tidak terpenuhi akibatnya individu
tersebut mungkin akan merasa rendah diri, tidak berani bertindak,
lekas tersinggung, lekas marah, dan sebagainya.
3. Kebutuhan akan status dan prestise
Manusia pada umumnya mempunyai keinginan untuk
mengaktualisasikan dirinya, ingin dihargai dan diakui statusnya.

C. Proses Marah
Stress, cemas, marah merupakan bagian kehidupan sehari-hari
yang harus dihadapi oleh setiap individu. Stress dapat menyebabkan
kecemasan yang menimbulkan perasaan tidak menyenangkan dan
terancam. Kecemasan dapat menimbulkan kemarahan.

D. Gejala Marah
Pada pengkajian awal dapat diketahui alasan utama klien dibawa
ke rumah sakit adalah perilaku kekerasan di rumah. Menurut Boyd dan
Nihart ( 1998 ), klien dengan perilaku kekerasan sering menunjukkan
adanya tanda dan gejala sebagi berikut:
1. gejala yang dapat diliht :
a. Muka merah
b. Mata melotot/pandangan tajam
c. Tangan mengepal
d. Rahang mengatup
e. Wajah memerah
f. Postur tubuh kaku
g. Mendekati orang lain dengan ancaman
h. Memberikan kata-kata ancaman dengan rencana melukai seperti :
Mengumpat dengan kata-kata kotor, Suara keras
2. Gejala lain
a. Menyerang orang
b. Melukai diri sendiri/orang lain
c. Merusak lingkungan
d. Amuk/agresif
e. Mempunyai rencana untuk melukai

Sedangkan menurut (Budiana Keliat, 1999) tanda dan gejala


perilaku kekerasan dapat berupa:
1. Perasaan malu terhadap diri sendiri akibat penyakit dan tindakan
terhadap penyakit (rambut botak karena terapi)
2. Rasa bersalah terhadap diri sendiri (mengkritik/menyalahkan diri
sendiri)
3. Gangguan hubungan sosial (menarik diri)
4. Percaya diri kurang (sukar mengambil keputusan)
5. Mencederai diri (akibat dari harga diri yang rendah disertai harapan
yang suram, mungkin klien akan mengakiri kehidupannya )..
E. Cara Mengatasi Marah (Peran Serta Keluarga Dalam Merawat Klien
Yang Melakukan Perilaku Kekerasan)
1. Cara umum dapat diarahkan pada berbagai aspek :
a. Fisik : menyalurkan marah melalui kegiatan fisik seperti lari pagi,
angkat berat, menari, jalan-jalan,olah raga,relaksasi otot
b. Emosi : mengurangi sumber yang menimbulkan marah, misalnya
ruangan yang terang,sikap keluarga yang lembut
C. TANDA DAN GEJALA
c. Intelektual : mendorong ungkapan marah, melatih terbuka terhadap
erasaan marah, melindungi dan melaporkan jika amuk
Bicara, senyum dan tertawa sendiri
d. Sosial : mendorong klien yang melakukan cara marah yang
konstruktif (yg telah dilatih di rs)pada lingkungan
Menarik diri dan menghindar dari orang lain
e. Spritual :bantu menjelaskan keyakinan tentang marah, meingkatkan
Tidak dapat membedakan antara keadaan nyata ibadah
kegiatan dan
tidak nyata
2. Cara khusus yang dapat dilakukan keluarga pada kondisi khusus :
Tidak dapat memusatkan perhatian
a. Berteriak menjerit, memukul
b. Terima marah klien, diam sebentar
Curiga, bermusuhan, merusak (diri sendiri,
c. Arahkan klien untuk memukul barang yang tidak mudah rusak (bantal,
orang lain dan lingkungannya), takut
kasur)
d. Setelah
Ekspresi muka tegang, mudah tenang diskusikan cara umum yang sesuai
tersinggung
e. Bantu klien latihan relaksasi (latihan fisik, olah raga)
PROSES TERJADI HALUSINASI
f. Latihan pernafasan 2 kali/hari, tiap kali sepuluh kali tarikan dan
hembusan nafas
Halusinasi berkembang melalui 4 fase:
g. Berikan obat sesuai dengan aturan pakai
Fase pertama : Klien h.mengalami
Jika carastress,
satu dan dua tidak berhasil, bawa klien konsultasi ke
cemas, perasa-an perpisahan, pelayanan kesehatan jiwa puskesmas, unit psikiatri RSU, RS. Jiwa)
kesepian yang
i. Sedapat
memun-cak dan tidak dapat mungkin anggota keluarga yang melakukan perilaku
diselesaikan.
kekerasan sedapat
Klien mulai melamun dan memikirkan hal- mungkin jangan diikat atau dikurung.
hal yang menyenangkan. Cara ini hanya
menolong sementara.

Fase kedua : Kecemasan meningkat,


melamun dan berpikir sendiri jadi dominan.
F. Tugas Keluarga bisa sbb :
Tugas keluarga biasanya memenuhi kebutuhan harian yang tidak bisa
dipenuhi pasien secara mandiri. Khususnya untuk pasien gangguan jiwa yang
dirawat di rumah sakit, jika secara fisik tidak mengalami gangguan maka
ketergantungan terhadap orang lain biasanya minimal sehingga jarang pasien
gangguan jiwa ditunggui oleh keluarga.
1. Merawat penderita
2. Memberikan support
3. Memastikan keberlangsungan pendampingan oleh keluarga
4. Melaporkan gejala atau perubahan perilaku yang tidak normal, di setiap
shift .
5. Memastikan obat diminum
6. Melaporkan penolakan pasien terhadap pengobatan
7. Memenuhi kebutuhan dasar penderita
8. Membangun komunikasi dengan pihak rumah sakit
Secara singkat menurut Marsh et all (2012) tugas dan peran keluarga
dalam menangani anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa sbb:
1. Pendampingan pengobatan
2. Fahami dan normalkan pengalaman penderita
3. Pusatkan pada kelebihan-kelebihan dan kekuatan penderita
4. Pelajari tentang sakit jiwa dan sumber-sumber yang berkaitan
5. Ciptakan lingkungan yang mendukung penderita
6. Tingkatkan kemampuan memecahkan masalah
7. Bantu memulihkan perasaan sedih dan kehilangan penderita
8. Kembangkan harapan yang realistis
PENYULUHAN TENTANG PERAN KELUARGA DALAM MENGATASI
PERILAKUKEKERASAN (MARAH) PADA PASIEN GANGGUAN JIWA
DI RUMAH SAKIT JIWA CIMAHI PROV JAWA BARAT

Disusun oleh:
KELOMPOK I
MAHASISWA PROFESI NERS ANG.IV

NYOMAN SUWECO
DARMAWAN
YAYA HASGUR
MUH. FIRDAL. P
IMRAN LAKUE
YUNITA P
SYAHRULLAH KARIM

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


STIKES RAJAWALI BANDUNG
2013