Anda di halaman 1dari 24

PENGARUH KEPEMILIKAN MANAJERIAL DAN KEPEMILIKAN

PUBLIK TERHADAP INTERNET FINANCIAL REPORTING

Proposal Skripsi

Disusun Oleh :
Cahyo Dwi Anggoro
NIM 14.0102.0068

PROGRAM STUDI AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS MUHAMADIYAH MAGELANG
TAHUN 2018
1

1. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Salah satu perkembangan terbesar di bidang teknologi informasi
dan komunikasi dalam kurun waktu setengah abad ini adalah
perkembangan internet. Internet merupakan sebuah teknologi yang
mempunyai kekuatan untuk mengubah laporan eksternal secara besar-
besaran (Xiao et al., 2005). Internet merupakan suatu media yang tepat
untuk digunakan sebagai sarana mengakomodasi perubahan yang
dibutuhan dalam pelaporan perusahaan. Internet mempunyai beberapa
karakteristik dan keunggulan seperti mudah menyebar (pervasiveness),
tidak mengenal batas (borderless-ness), real-time, berbiaya rendah (low
cost), dan mempunyai interaksi yang tinggi (high interaction) (Ashbaugh
et al., 1999).
Abdelsalam et al.,(2007) menjelaskan bahwa internet menawarkan
suatu bentuk unik pengungkapan yang menjadi media bagi perusahaan
dalam menyediakan informasi kepada masyarakat luas sesegera mungkin.
Atas dasar itulah muncul suatu media tambahan dalam penyajian laporan
keuangan melalui internet atau website yang lazim disebut Internet
Financial Reporting (IFR).
Yap et al., (2011) menyimpulkan terdapat tiga motivasi utama
perusahaan menerapkan IFR antara lain perusahaan ingin lebih transparan
dalam menyebarluaskan informasi perusahaan, perusahaan menggunakan
internet untuk mempromosikan produk dan layanan mereka untuk
membuat nama merek yang baik di industri, dan perusahaan-perusahaan
yang menggunakan internet untuk menyebarkan informasi merupakan
kepercayaan yang kuat bahwa tata kelola perusahaan yang baik adalah
praktek terbaik dalam mempromosikan transparansi yang lebih besar.
Praktik IFR telah diterapkan di berbagai negara. Survei terhadap
1000 perusahaan besar di Eropa menunjukkan bahwa 67% perusahaan
telah memiliki website dan 80% dari perusahaan yang memiliki website
tersebut mengungkapkan laporan keuangan di Internet (Khan, 2006)
Hingga tahun 2006, lebih dari 70% perusahaan besar di dunia menerapkan
IFR (Khan, 2006).
2

Praktik Internet Financial Reporting (IFR) sudah diwajibkan oleh


pemerintah Indonesia sejak tahun 2012. Melalui Keputusan Kepala
Otoritas Jasa Keuangan nomor 43/BL/2012 yang kemudian berganti
menjadi Peraturan Otoritas Jasa Keuangan nomor 29/POJK.04/2016
tentang Laporan Tahunan Emiten atau Perusahaan Publik, dimana seluruh
perusahaan publik di Indonesia diwajibkan untuk memuat laporan tahunan
dalam situs web. Namun pada kenyataanya, praktik IFR di Indonesia
masih belum maksimal. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Virgiawan
dan Vera (2015) menunjukkan bahwa rata-rata nilai indeks IFR hanya
sebesar 39,5%.
Penelitian mengenai internet financial reporting telah banyak
dilakukan. Boubaker et al. (2012) melakukan penelitian mengenai faktor-
faktor yang mempengaruhi pelaporan perusahaan berbasis web. Penelitian
tersebut menunjukkan bahwa ukuran perusahaan, ownership dispersion,
ukuran auditor, tipe industri,dan equity offering berpengaruh positif
terhadap Internet Corporate Reporting. Sedangkan profitabilitas, cross
listing,dan leverage tidak berpengaruh terhadap Internet Corporate
Reporting
Rahadhian dan Septiani (2014) melakukan penelitian mengenai
pengaruh mekanisme corporate governance terhadap internet corporate
reporting. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa jumlah komaris
independen berpengaruh positif terhadap tingkat pengungkapan internet
corporate reporting, sedangkan variabel lain seperti tingkat kepemilikan
manajerial, kepemilikan publik, frekuensi pertemuan audit, dan
kompetensi pertemuan audit tidak berpengaruh terhadap tingkat
pengungkapan internet financial reporting.
Elias (2017) melakukan penelitian mengenai pengaruh corporate
governance terhadap internet corporate reporting. Penelitian tersebut
menunjukkan bahwa hak kepemilikan saham dan komisaris independen
berpengaruh positif terhadap internet corporate reporting. Sedangkan
variabel lain seperti kepemilikan manajerial dan kepemilikan blok
berpengaruh negatif terhadap internet financial reporting.
3

Penelitian ini mengacu pada penelitian yang dilakukan oleh


Rahadhian dan Septiani, (2014) mengenai pengaruh mekanisme corporate
governance terhadap internet financial reporting. Namun, yang
membedakan dengan penelitian tersebut adalah dalam penelitian ini
varibel independen yang digunakan adalah kepemilikan manajerial dan
kepemilikan publik. Terdapat alasan yang mengenai penggunaan kedua
variabel tersebut. Pertama, adanya kepemilikan manajerial akan
mensejajarkan kepentingan antara manajemen dan pemegang saham,
sehingga manajer akan merasakan langsung manfaat maupun kerugian dari
keputusan yang diambil. Hal ini memberikan kepercayaan kepada
pemangku kepentingan terhadap manajemen terhadap pengungkapan
sukarela berkurang termasuk IFR (Rahadhian dan Septiani, 2014). Kedua,
adanya kepemilikan publik mendorong pemilik untuk mendesak adanya
pengungkapan lebih dari perusahaan untuk mengawasi perilaku
oportunistik manajemen dibandingkan dengan perusahaan yang memiliki
struktur kepemilikan terkonsentrasi (Alsaeed, 2006).
Sampel dalam penelitian ini menggunakan perusahaan perbankan.
Pemilihan sampel perusahaan perbankan karena Perbankan merupakan
salah satu institusi keuangan yang paling dekat dengan masyarakat.
Perbankan berfungsi menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkan
kembali melalui berbagai media pembiayaan. Oleh karena itu, perbankan
memiliki tanggung jawab moral yang lebih dalam melaporkan kinerja
keuangannya ke masyarakat luas.

B. Rumusan Masalah

Bagaimana pengaruh kepemilikan manajerial dan kepemilikan publik


terhadap internet financial reporting?
C. Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui pengaruh kepemilikan manajerial dan kepemilikan
publik terhadap internet financial reporting?

2. TINJAUAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS


A. Telaah Teori
4

1) Teori Keagenan (Agency Theory)


Teori agensi merupakan salah satu teori yang mendasari penelitian
mengenai luas pengungkapan sukarela. Jensen dan Meckling (1976)
mendefinisikan hubungan keagenan sebagai hubungan kontrak antara
seorang atau lebih (principal) dengan orang lain (agent). Dimana agen
memberikan beberapa pelayanan atas nama prinsipal, dalam hal ini
prinsipal menyediakan fasilitas dana untuk menjalankan perusahaan.
Sedangkan pihak manajemen sebagai agen mempunyai kewajiban untuk
mengelola apa yang diamanahkan pemegang saham kepadanya serta
bertanggung jawab secara moral untuk mengoptimalkan keuntungan para
prinsipal dengan memperoleh kompensasi sesuai kontrak. Prinsipal
mengajak agen untuk melayani kepentingan prinsipal dan mendelegasikan
wewenang kepada agen untuk mengambil keputusan.
Salah satu asumsi dasar manusia adalah self interest yang artinya
mementingkan diri sendiri dan tidak mau berkorban untuk orang lain.
Pemilik modal sebagai pihak yang memberikan wewenang kepada
manajemen untuk mengelola kekayaan, mempunyai kepentingan
meningkatkan kesejahteraan dirinya melalui pembagian dividen.
Sementara di sisi lain pihak manajemen sebagai pihak yang diberi
tanggung jawab untuk mengelola perusahaan juga mempunyai
kepentingan untuk meningkatkan kekayaan dirinya melalui kompensasi.
Kondisi ini menyebabkan para manajer untuk tidak memberikan informasi
yang berpengaruh negatif terhadap kepentingan tersebut.
Laporan keuangan merupakan suatu alat untuk mengurangi konflik
agensi walaupun ada bentuk mekanisme lain seperti pasar efesien untuk
pengendalian perusahaan, peraturan dan program kepemilikan saham oleh
manajerial. Chariri dan Ghozali, (2007) menyatakan bahwa laporan
keuangan menyediakan informasi tentang bagaimana manajemen
perusahaan mempertanggungjawabkan pengelolaan kepada pemilik
(pemegang saham) atas sumber ekonomi yang dipercayakan kepadanya.

2) Internet Financial Reporting


5

Lai et al., (2002) menyatakan bahwa internet financial reporting


adalah pencantuman informasi keuangan perusahaan melalui internet atau
website. Berbagai format yang dapat digunakan dalam mempresentasikan
laporan keuangan melalui internet yakni:
a. Portable Document Format (PDF)
Merupakan sebuah format file yang dikembangkan oleh Adobe
Corporation untuk membuat dokumen-dokumen yang dibutuhkan
untuk mewakili dokumen yang asli. Semua elemen dalam dokumen asli
disimpan sebagai gambaran elektronik.
b. Hypertext Markup Language (HTML)
HTML merupakan standar yang biasa digunakan untuk
mempresentasikan informasi melalui internet.
c. Graphics Interchange Format (GIF)
GIF adalah sebuah format file berbentuk grafik, dengan meringkas
mengenai gambaran informasi tanpa mengurangi informasi tersebut,
yang dapat dibaca oleh kebanyakan pengguna.
d. Joint Photographic Expert Group (JPEG)
Sebuah format grafik yang digunakan untuk meringkas foto agar
memiliki ukuran yang dapat digunakan dalam website.
e. Microsoft Excel Spreadsheet
Sebuah aplikasi komputer yang berupa spreadsheet dengan menyimpan,
memperlihatkan, dan memanipulasi data yang disusun dalam kolom dan
lajur.
f. Microsoft Word
Ms. Word merupakan aplikasi program komputer yang paling banyak
digunakan dalam IFR.
g. Zip Files
WinZip adalah program windows yang mengizinkan para pengguna
untuk menyimpan dan meringkas dokumen informasi sehingga mereka
dapat menyimpan dan mendistribusikan informasi tersebut dengan lebih
efisien.

h. Macromedia Flash Softwatre


Merupakan standar untuk mengirim informasi dengan cepat.
i. Real Networks
Real Player Software Format yang menggunakan efek video.
j. Macromedia Shockwave
Software Shockwave merupakan bagian dari multimedia player.
Fitriana, (2009) menjelaskan Internet Financial Reporting
memiliki beberapa keuntungan antara lain :
6

a. Menawarkan solusi biaya rendah (bagi kedua belah pihak). Bagi


investor, memberikan kemudahan dalam mengakses informasi
perusahaan. Sedangkan bagi perusahaan, dapat mengurangi biaya untuk
mencetak serta mengirim informasi perusahaan kepada investor
Menawarkan ketepatan waktu dalam penyebaran serta akses informasi
sehingga informasi lebih relevan karena tepat waktu.
b. Sebagai media komunikasi massa untuk laporan perusahaan. Informasi
dapat diakses oleh pengguna yang lebih luas daripada media
komunikasi yang lama. Tidak ada batasan wilayah sehingga dapat
mengembangkan jumlah investor potensial.
c. Menawarkan informasi keuangan dalam berbagi format yang
memudahkan dan bisa didownload.
d. Memungkinkan pemakai berinteraksi dengan perusahaan untuk
bertanya atau memesan informasi tertentu dengan cara yang jauh lebih
mudah dan murah disbanding mengirim surat atau telepon ke
perusahaan.
Selain memberikan beberapa keuntungan, pengungkapan informasi
keuangan melalui website perusahaan juga memiliki beberapa kekurangan,
antar lain:
i. Belum adanya standar khusus yang mengatur pengungkapan
informasi keuangan dalam website perusahaan (Seetharaman et al.,
2005)
ii. Biaya untuk membangun serta merawat website terkadang melebihi
atas manfaat yang didapat (Ashbaugh et al.,1999).
iii. Sehubungan dengan market competition, dengan diungkapkannya
informasi secara luas, perusahaan akan berpotensi kehilangan
keunggulan kompetitifnya (Ashbaugh et al.,1999).
3) Kepemilikan Manajerial
Kepemilikan manajerial adalah besar proporsi saham perusahaan
yang dimiliki oleh manajemen suatu perusahaan. Eng dan Mak, (2003)
menyatakan bahwa kepemilikan manajerial rendah, maka potensi
timbulnya masalah agensi akan semakin besar. Kepemilikan manajerial
dapat menurunkan biaya agensi karena konflik agensi antara prinsipal dan
agen semakin berkurang dengan adanya kepemilikan saham oleh
manajemen perusahaan (Jensen dan Meckling, 1976). Semakin tinggi
tingkat kepemilikan manajerial maka semakin besar kemauan manajer
7

untuk bertindak demi kepentingan terbaik dari pemegang saham. Barros et


al. (2013) menyatakan para manajer akan mengungkapan lebih banyak
informasi untuk mengurangi biaya agensi yaitu biaya pengawasan yang
ditanggung oleh pemegang saham untuk mencegah terjadinya masalah
agensi.
4) Kepemilikan Publik
Kepemilikan publik (dispersi) merupakan kepemilikan saham
tersebar yang dimiliki oleh investor individu. Investor individu meliputi
investor di luar manajemen, selain pemerintah, institusi, dan kalangan
keluarga (Alsaeed, 2006). Na’im dan Rachman, (2000) mengatakan bahwa
semakin banyak saham dimiliki oleh investor individu, maka akan
semakin banyak informasi yang diungkapkan, karena investor ingin
memperoleh informasi seluas-luasnya tentang perusahaan tempat ia
berinvestasi serta dapat mengawasi kegiatan manajemen. Semakin banyak
proporsi kepemilikan publik ini dapat mempengaruhi tawar menawar yang
seimbang dengan manajemen akan tuntutan informasi perusahaan tersebut.
Kepemilikan dispersi diukur dengan membandingkan jumlah saham yang
dimiliki oleh investor individu dengan jumlah saham yang beredar
(Alsaeed, 2006)

B. Penelitian Terdahulu

No Peneliti Judul Variabel Hasil Penelitian


1. Elias, (2017) Impact of Variabel a. Hak pemilik saham dan
Corporate Independen:Hak komisaris independen
Governance on kepemilikan berpengaruh positif
Internet Financial saham, terhadap internet financial
Reporting in a kepemilikan reporting.
Growing Economy manajerial, b.Kepemilikan manajerial
: The Case Of kepemilikan blok, dan kepemilikan blok
Nigeria dan komisaris berpengaruh negatif
independen terhadap internet financial
reporting.
Variabel Dependen:
Internet Financial
Reporting
2. Abdillah, Pengaruh Variabel a. Kepemilikan Manajerial
(2015) Kepemilikan Independen: dan Kepemilikan
8

Saham dan Kinerja kepemilkan Blockholder berpengaruh


Keuangan manajerial, positif terhadap
Terhadap kepemilikan Pengungkapan Internet
Pengungkapan blockholder, dan Financial Reporting
Internet Financial Kinerja Keuangan b.Kinerja Keuangan tidak
Reporting (IFR) berpengaruh terhadap
Variabel Dependen: pengungkapan Internet
Pengungkapan financial Reporting
Internet Financial
Reporting (IFR)
3. Rahadhian Pengaruh Variabel a. Jumlah komaris
dan Septiani, Mekanisme Independen: independen berpengaruh
(2014) Corporate kepemilikan positif terhadap tingkat
Governance manajerial, pengungkapan internet
terhadap Internet kepemilikan corporate reporting
Corporate publik, frekuensi b.Tingkat kepemilikan
Reporting pertemuan audit, manajerial, kepemilikan
kompetensi audit, publik, frekuensi
dan jumlah komaris pertemuan audit, dan
independen. kompetensi pertemuan
audit tidak berpengaruh
Variabel Dependen: terhadap internet financial
Internet Corporate reporting.
Reporting
4. Handoko dan Anteseden Dan Variabel a. ukuran perusahaan,
Fuad (2013) Konsekuensi Independen: ukuran likuiditas, tipe perusahaan,
Tingkat perusahaan, sebaran
Pengungkapan likuiditas, leverage, kepemilikan umum, umur
Informasi efisiensi, tipe listing dan earning per
Keuangan perusahaan, share berpengaruh positif
Berbasis Internet: internasionalisasi, dan signifikan terhadap
Peran Moderasi sebaran tingkat pengungkapan
Kinerja Keuangan kepemilikan IFR.
umum, reputasi b.Kinerja keuangan
auditor, umur memoderasi hubungan
listing, wilayah antara ukuran perusahaan,
geografis, dan likuiditas, leverage,
pengambilan efisiensi perusahaan, tipe
keputusan bagi perusahaan, sebaran
investor kepemilikan umum, umur
listing, wilayah geografis
Variabel Moderasi: dan earning per share
kinerja keuangan terhadap tingkat
pengungkapan IFR.
Variabel Dependen:
Tingkat
pengungkapan
informasi keuangan
berbasis internet
5. Boubaker, et The determinants Variabel a. Ukuran perusahaan,
al. 2012) of web-based Independen: ukuran ownership dispersion,
corporate perusahaan, ukuran auditor, tipe
reporting in ownership industri,dan equity
France dispersion,
offering berpengaruh
profitabilitas, cross
positif terhadap Internet
listing, ukuran
auditor, leverage, Corporate Reporting
tipe industri, serta b. Profitabilitas, cross listing
equity offering dan leverage tidak
9

berpengaruh terhadap
Variabel Dependen: Internet Corporate
Internet Corporate Reporting
Reporting

C. Perumusan Hipotesis
1) Pengaruh Kepemilikan Manajerial terhadap Internet Financial
Reporting
Kepemilikan manajerial merupakan representasi dari proporsi
kepemilikan saham perusahaan yang dimiliki oleh manajemen perusahaan
(Puspitaningrum dan Atmini, 2012). Ho dan Wong, (2001) menyatakan
peran kepemilikan manajerial terbagi menjadi dua yaitu sebagai pelengkap
(complementary) dan sebagai pengganti (substitutive). Bersifat melengkapi
jika kepemilikan manajerial bersifat menguatkan pengendalian internal
dan menjadikan kecenderungan terjadinya asimetri informasi menurun,
serta adanya peningkatan dari sisi pengungkapan dan kualitas laporan
perusahaan. Di sisi lain, bersifat sebagai pengganti saat kepemilikan
manajerial menurunkan asimetri informasi dan kebiasaan oportunitis
manajemen, namun mengakibatkan terjadinya penurunan terhadap
kebutuhan pengungkapan dan monitoring dari pemangku kepentingan.
Adanya kepemilikan manajerial akan mensejajarkan kepentingan
antara manajemen dan pemegang saham, sehingga manajer akan
merasakan langsung manfaat maupun kerugian dari keputusan yang
diambil. Hal ini memberikan kepercayaan kepada pemangku kepentingan
terhadap manajemen sehingga permintaan terhadap pengungkapan
sukarela termasuk IFR menjadi berkurang. Dalam hal ini, kepemilikan
manajerial bersifat pengganti (substitutive) yang berarti semakin banyak
proporsi kepemilikan oleh manajer akan mengakibatkan permintaan
terhadap pengungkapan informasi menjadi semakin kecil. Hasil penelitian
yang dilakukan oleh Elias (2017) menunjukkan bahwa kepemilikan
manajerial berpengaruh negatif terhadap pengungkapan internet financial
reporting.
H1: Kepemilikan Manajerial berpengaruh negatif terhadap
Pengungkapan Internet Financial Reporting
2) Pengaruh Kepemilikan Publik terhadap Internet Financial Reporting
10

Diatmika dan Yadnyana (2017) menyatakan bahwa kepemilikan


publik merupakan persentase kepemilikan saham yang dimiliki oleh publik
terhadap jumlah keseluruhan saham perusahaan. Kepemilikan publik yang
lebih besar akan memicu pengungkapan yang lebih luas, termasuk
pengungkapan melalui media internet.
Teori agensi menerangkan bahwa perusahaan dengan kepemilikan
publik yang tinggi akan melakukan pengungkapan yang tinggi pula akibat
adanya permintaan publik serta dapat mengurangi asimetri informasi
antara manajemen dengan pemegang saham (Jensen dan Meckling, 1976).
Pengungkapan informasi perusahaan oleh manajemen dianggap sebagai
mekanisme yang tepat untuk mengurangi asimetri informasi antara pihak
manajemen dengan pemegang saham. Agboola dan Salawu, (2012)
menegaskan bahwa perusahaan dengan kepemilikan secara terbuka lebih
cenderung menerapkan IFR dibandingkan dengan perusahaan dengan
kepemilikan tertutup dan terkonsentrasi.
Penelitian yang dilakukan oleh Handoko dan Fuad (2013) dan
Boubaker et al. (2012) menunjukkan bahwa kepemilikan publik
berpengaruh positif terhadap pengungkapan internet financial reporting.
Jadi, semakin tinggi kepemilikan publik dalam sebuah perusahaan maka
semakin banyak pula pelaporan keuangan melalui website yang dilakukan.
H2: Kepemilikan Publik berpengaruh positif terhadap Pengungkapan
Internet Financial Reporting
D. Model Penelitian

Kepemilikan
Manajerial

Kepemilikan
Internet Financial
Publik
Ukuran Reporting
Perusahaan
Profitabilitas
11

3. METODOLOGI PENELITIAN
A. Populasi dan Sampel
Populasi adalah wilayah keseluruhan yang terdiri atas obyek atau
subyek yang memiliki kualitas dan karakter tertentu yang diinginkan dan
ditetapkan oleh penulis untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan
(Sugiyono, 2013) Pemilihan sampel penelitian didasarkan pada metode
purposive sampling. Purposive sampling yaitu pemilihan sampel dari
suatu populasi tertentu dengan kriteria sampel tertentu sesuai dengan yang
dikehendaki oleh peneliti. Adapun sampel yang dipilih dalam penelitian ini
dengan kriteria sebagai berikut
1) Perusahaan telah terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2017.
2) Perusahaan mempunyai website yang dapat diakses atau non-error pada
periode pengamatan.
3) Website perusahaan tidak dalam perbaikan (under construction) selama
periode pengamatan.
4) Perusahaan mempunyai semua data yang dibutuhkan dalam penelitian
ini.
B. Data Penelitian
1) Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data
sekunder. Data sekunder merupakan data yang diperoleh secara tidak
langsung melalui media perantara (pihak lain) dan data tersebut
diperoleh melalui lembaga atau keterangan serta melalui studi pustaka
yang ada hubungannya dengan masalah yang dihadapi dan dianalisis
(Sugiyono, 2013). Jenis data sekunder dalam penelitian ini adalah
12

laporan tahunan perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek


Indonesia tahun 2017. Sumber data dalam penelitian ini diperoleh dari
website resmi Bursa Efek Indonesia, yakni www.idx.ac.id.
2) Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini
adalah dokumentasi, yaitu dengan cata mengumpulkan, mencatat, dan
mengkasi data sekunder yang berupa laporan tahunan dari perusahaan
real estate yang listing melalui Indonesian Capital Market Directory
(ICMD) dan website Bursa Efek Indonesia.
C. Variabel Penelitian dan Pengukuran Penelitian
1) Variabel Dependen
a. Internet Financial Reporting
Penelitian mengenai indeks pelaporan keuangan berbasis internet
dilakukan dengan elemen pengukuran yang berbeda-beda karena belum
ada peraturan yang mengatur. Penelitian ini menggunakan indeks
Internet Financial Reporting yang dikembangkan oleh (Almilia dan
Sasongko, 2008). Indeks ini terdiri dari 4 komponen dan masing-
masing diberi bobot yaitu content sebesar 40%, timeliness sebesar 20%,
technology sebesar 20%, dan user support sebesar 20%.
Adapun penjelasan untuk masing-masing komponen adalah
sebagai berikut.
i. Content.
Dalam kategori ini meliputi komponen informasi keuangan seperti
laporan neraca, rugi laba, arus kas, perubahan posisi keuangan serta
laporan keberlanjutan perusahaan. Informasi keuangan yang
diungkapkan dalam bentuk html memiliki skor yang tinggi
dibandingkan dalam format pdf, karena informasi dalam bentuk html
lebih memudahkan pengguna informasi untuk mengakses informasi
keuangan.
ii. Timeliness.
Ketika website perusahaan dapat menyajikan informasi yang tepat
waktu, maka semakin tinggi indeksnya.
iii. Technology.
Komponen ini terkait dengan pemanfaatan teknologi yang tidak
dapat disediakan oleh media laporan cetak serta penggunaan teknologi
multimedia, analysis tools seperti Excel’s Pivot Table, dan fitur-fitur
lanjutan seperti implementasi “Intelligent Agent” atau XBRL.
iv. User Support.
13

Indeks website perusahaan semakin tinggi jika perusahaan


mengimplementasikan secara optimal semua sarana dalam website
perusahaan seperti media pencarian dan navigation tools (FAQ, links to
homepage, site map, site search).
2) Variabel Independen
a. Kepemilikan Manajerial
Dalam penelitian ini variabel kepemilikan manajerial
dilambangkan dengan MOWN. Kepemilikan manajerial diukur
dengan persentase jumlah saham yang dimiliki oleh manajer,
komisaris terafiliasi, dan direksi untuk jumlah seluruh saham yang
beredar (Haristito, 2014).
b. Kepemilikan Publik
Dalam penelitian ini variabel kepemilikan publik
dilambangkan dengan POWN. Variabel kepemilikan publik diukur
dengan presentase saham yang dimiliki publik terhadap seluruh
saham yang beredar (Rahadhian dan Septiani, 2014).
3) Variabel Kontrol
a. Ukuran Perusahaan
Variabel ukuran perusahaan diukur dengan menggunakan
natural logarithm dari total aset yang dimiliki perusahaan
(Puspitaningrum dan Atmini, 2012).
b. Profitabilitas
Variabel profitabilitas diukur dengan menggunakan ROA
(laba bersih setelah pajak dibagi dengan total aktiva).
D. Metode Analisis Data
1) Statistik Deskriptif
Statistik deskriptif memberikan gambaran atau deskriptif suatu
data yang dilihat dari nilai rata-rata (mean), standar deviasi, varian,
minimum, maksimum, sum, range, kurtosis, dan skewness (Ghozali,
2013). Analisis dilakukan dengan menggunakan statistik deskriptif yang
menghasilkan nilai rata-rata, maksimum, minimum, dan standar deviasi
untuk mendeksripsikan variabel penelitian sehingga mudah dimengerti.

2) Uji Asumsi Klasik


Uji asumsi klasik terhadap model regresi yang digunakan dalam
penelitian dilakukan menguji model regresi tersebut baik atau tidak.
Dalam penelitian ini, uji asumsi klasik yang digunakan adalah uji
14

normalitas, uji multikolineritas, uji heteroskedastisitas, dan uji


autokorelasi.
a) Uji Normalitas
Uji normalitas digunakan untuk melihat normal probability
plot atau melihat apakah data terdistribusi normal atau tidak
(Ghozali, 2013). Data yang dimiliki distribusi normal akan
membentuk satu garis lurus yang diagonal, dan plotting data
residual akan dibandingkan dengan garis diagonal. Ghozali, (2013)
menyatakan bahwa apabila distribusi data normal, maka garis yang
menggambarkan data sesungguhnya akan mengikuti garis
diagonalnya.
Dalam penelitian ini, pengujian normalitas data
menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov. Uji digunakan ini untuk
memberikan angka-angka yang lebih mendetail terkait normalitas
data-data yang digunakan. Data dapat dikatakan normal apabila
hasil uji Kolmogorov-Smirnov lebih besar 0,05 (Ghozali, 2013).
b) Uji Multikolinearitas
Uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah
model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas
(independent). Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi
korelasi diantara variabel independen. Uji mulitkolinearitas dalam
penelitian ini dilakukan dengan melihat nilai tolerance dan variance
inflation factor (VIF). Data dikatakan bebas multikolinearitas apabila
nilai tolerance > 0,10 dan VIF < 10 (Ghozali, 2013).
c) Uji Heteroskedastitas
Uji heteroskedastistas menguji apakah dalam regresi terjadi
ketidaksamaan variance dari residual satu pengamat ke pengamatan
yang lain. Jika variance dari residual satu pengfamatan ke
pengamatan lain tetap maka disebut homoskedastistitas dan jika
berbeda disebut heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah
yang homoskedastisitas atau tidak terjadi heteroskedastisitas. Ada
beberapa cara untuk mendeteksi ada atau tidaknya
heteroskedasitisitas, salah satunya dengan uji Glejser (Ghozali,
2013).
Penelitian ini menggunakan uji glesjer dengan
meregresikan nilai ablosute residual terhadap variabel independen.
15

Jika nilai signifikan hitung lebih besar dari alpha = 5%, maka tidak
ada masalah heteroskedasitas. Namun, jika nilai signifikan hitung
kurang dari alpha 5%, maka dapat disimpulkan bahwa model regresi
terjadi heteroskedastisitas.
d) Uji Autokorelasi.
Uji Autokorelasi dilakukan untuk mengujia apakah dalam
suatu model linier ada korelasi antara kesalahan pengganggu periode
t dengan periode t-1. Jika terjadi korelasi, maka dinamakan problem
autokorelas. Autokorelasi muncul karena observasi yang berurutan
sepanjang waktu berkaitan satu sama lainnya.
Model regresi yang baik adalah yang bebasi dari
autokorelasi. Uji Durbin Watson (DW) merupakan salah satu cara
untuk mendeteksi adanya autokorelasi. Adapun dalam pengambilan
keputusan ada atau tidaknya autokorelasi:

Hipotesis Nol Keputusan Jika


Tidak ada autokorelasi positif Tolak 0 < d< dl
Tidak ada autokorelasi positif No decision dl ≤ d ≤ du
Tidak ada autokorelasi negatif Tolak 0 < d< dl
Tidak ada autokorelasi negatif No decision 4 - du ≤ d ≤ du
Tidak ada autokorelasi, positif, Tidak ditolak du<4<4-du
atau negatif
Sumber: Ghozali (2013)
3) Pengujian Hipotesis
Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan
analisis berganda (Multiple Regression Analysis). Persamaan regresi
berdasarkan model yang digunakan untuk menguji hubungan antar
variabel penelitian dirumuskan sebagai berikut:

Y= α + β1MOWN + β2POWN +β3Size+ β4ROA+e

Dimana:
= Internet Financial Reporting
α = Konstanta
β1 MOWN = Kepemilikan Manajerial
β2 POWN = Kepemilikan Publik
β3Size = Ukuran Perusahaan
β4ROA= Return On Assets
e = Standar Error
a) Koefisien Determinasi (R2)
16

Pengujian koefisien determinasi akan mengukur terkait


dengan kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel
dependen. Nilai koefisien determinasi adalah antara noh hingga
satu. (Ghozali, 2013) menyatakan nilai koefisien korelasi yang
mendekati 1 berarti bahwa variabel independen telah memberikan
(hampir) semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi
variasi variabel dependen. Pengujian koefisien determinasi dalam
penelitian ini menggunakan uji Adjusted R Square.
b) Uji Statistik F
Uji statistik F menurut (Ghozali, 2013) bertujuan untuk
menunjukkan apakah variabel independen mampu menjelaskan
variabel dependen secara baik atau menguji kelayakan model
(goodness of fit). Pengujian F tabel dalam penelitian ini digunakan
tingkat signifikansi 5%, dan pengujian dilakukan dengan kriteria:
1) Jika F hitung > F tabel, atau p value < α = 0,05, maka Ho
ditolak dan Ha diterima, artinya model yang digunakan bagus
atau (fit).
2) Jika F hitung < F tabel, atau p value > α = 0,05, maka Ho
diterima dan Ha tidak diterima, artinya model yang digunakan
tidak bagus (Ghozali, 2013)

Penerimaan Uji F
c) Uji Koefisien Regresi Parsial (Uji-t)
Pengujian koefisien regresi parsial dilakukan guna
mengetahui pengaruh masing-masing variabel independen secara
parsial terhadap variabel dependen. Hasil dikatakan signifikan
apabila < 0,05, yang berarti bahwa variabel independen secara
parsial berpengaruh terhadap variabel dependen. Pengujian
dilakukan dengan kriteria:
1) Jika t hitung < t tabel, atau p value > α = 0,05, maka Ho ditolak
dan Ha diterima, artinya secara statistik data yang ada dapat
membuktikan bahwa variabel independen berpengaruh
terhadap variabel dependen.
17

2) Jika t hitung > t tabel, atau p value < α = 0,05, maka Ho


diterima dapat membuktikan bahwa variabel independen
berpengaruh terhadap variabel dependen (Ghozali, 2013)

Ho Tidak ditolak

Daftar Pustaka
Abdelsalam, O. H., Bryant, S. M., & Donna, L. S. (2007). An Examination of the
Comprehensiveness of Corporate Internet Reporting Provided by London‐
Listed Companies. hJournal of International Accounting Researc, 6(2), 1–33.
https://doi.org/10.2308/jiar.2007.6.2.1
Abdillah, M. R. (2015). Pengaruh Kepemilikan Saham dan Kinerja Keuangan
Terhadap Pengungkapan Internet Financial Reporting (IFR). DINAMIKA
EKONOMI, 8(2), 20–39.
Agboola, A. A., & Salawu, M. K. (2012). The Determinants of Internet Financial
Reporting- Empirical Evidence from Nigeria. Research Journal of Finance
and Accounting, 3(11).
Almilia, L. S., & Sasongko, B. (2008). Corporate Internet Reporting of Banking
Industry and LQ45 Firms: An Indonesia Example.
Alsaeed, K. (2006). The Association between Firm-Specifics Characteristics and
Disclosure. Managerial Auditing Journal, 21(5), 476–396.
Ashbaugh, H., Johnstone, K. M., & Warfield, T. D. (1999). Corporate reporting on
the Internet. Accounting Horizons, 241–257.
Barros, C. P., Boubaker, S., & Hamrouni, A. (2013). Corporate Governance and
Voluntary Disclosure in France. The Journal of Applied Business Research,
29.
Boubaker, S., Lakhal, F., & Nekhili, M. (2012). The determinants of web-based
corporate reporting in France. Managerial Auditing Journal, 27(2), 126–155.
https://doi.org/10.1108/02686901211189835
Chariri, A., & Ghozali, I. (2007). Teori Akuntansi. Yogyakarta: Andi.
18

Diatmika, I. G. P. A., & Yadnyana, I. K. (2017). Pengungkapan Pelaporan


Keuangan Melalui Website dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi. E-Jurnal
Akuntansi Universitas Udayana, 21(1), 330–357.
Elias, I. (2017). Impact of Corporate Governance on Internet Financial Reporting
in a Growing Economy : The Case Of Nigeria. Archives of Business
Research, 5(2), 180–202.
Eng, L. L., & Mak, Y. T. (2003). Corporate Governance and Voluntary Disclosure.
Journal of Accounting and Public Policy, 325–345.
Fitriana, M. R. (2009). Analisis Pengaruh Kompetisi dan Karaktristik perusahaan
terhadap Luas Pengungkapan Informasi Keuangan dalam website
Perusahaan. Diponegoro.
Ghozali, I. (2013). Aplikasi Multivariate dengan Program SPSS. Semarang:
Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
Handoko, M., & Fuad. (2013). Anteseden dan Konsekuensi Tingkat
Pengungkapan Informasi Keuangan Berbasis Internet : Peran Moderasi
Kinerja Keuangan. Diponegoro Journal Of Accounting, 2(2), 1–15.
Haristito. (2014). Pengaruh corporate governance terhadap internet financial
reporting pada perusahaan perbankan di indonesia.
Ho, S., & Wong, K. S. (2001). A Study of the Relationship Between Corporate
Governance Structure and the Extent of Voluntary Disclosure. Journal of
International Accounting, Auditing, and Taxation, 10, 139–156.
Jensen, M. C., & Meckling, W. (1976). Theory of the Firm, Managerial Behavior,
Agency, and Ownership Structure. Journal of Financial Economics, 3(4),
305–360.
Khan, T. (2006). Financial Reporting Disclosure On The Internet:An International
Perspective.
Lai, S.-C., Lin Cecilia, L., Hung-Chih, W., & H, F. (2002). An Empirical Study Of
The Impact Of Internet Financial Reporting On Stock Prices. The
International Journal of Digital Accounting Research, 10, 1–26.
Na’im, A., & Rachman, F. (2000). Analisis Hubungan antara Kelengkapan
Pengungkapan Laporan Keuangan dengan Struktur Modal dan Tipe
Kepemilikan Perusahaan. Jurnal Ekonomi Dan Bisnis Indonesia, 15(1), 70–
82.
Oyelere, P., Laswad, F., & Fisher, R. (2003). Determinants of internet financial
reporting by New Zealand companies. Journal of International Financial
Management and Accounting, 14(1), 26–63.
Puspitaningrum, D., & Atmini, S. (2012). Corporate governance mechanism and
the level of internet financial reporting : Evidence from Indonesian
companies. Procedia Economics and Finance, 2(Af), 157–166.
https://doi.org/10.1016/S2212-5671(12)00075-5
Rahadhian, A., & Septiani, A. (2014). Analisis Pengaruh Mekanisme Corporate
Governance Terhadap Tingkat Pengungkapan Internet Corporate Reporting
19

(Studi Empiris pada Perusahaan Sektor Manufaktur yang Listing di Bursa


Efek Indonesia ( BEI ) pada Tahun 2013 ). DIPONEGORO JOURNAL OF
ACCOUNTING, 3(4), 1–12.
Seetharaman, A., Subramanian, R., & Seow, Y. . (2005). Internet Financial
Reporting: Problems dan Prospects. Corporate Finance Review, 10(1), 29–
35.
Sugiyono. (2013). Statistik Untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.
Virgiawan, I. P. Y., & Vera, D. (2015). Pengaruh Konsentrasi Kepemilikan
Keluarha dan Internet Financial Reporting (IFR) Terhadap Asimetri
Informasi. Jurnal Akuntansi Dan Keuangan Indonesia, 12(2), 123–146.
Xiao, J. Z., Jones, M, J., & Lymer, A. (2005). A Conceptual Framework
ForInvestigating The Impact Of The Internet On Corporate Financial
Reporting. International Digital Account, 5(10), 131–169.
Yap, K.-H., Saleh, Z., & Abessi, M. (2011). Internet Financial Reporting and
Corporate Governance in Malaysia. Australian Journal of Basic and Applied
Sciences, 5(10), 1273–1289.

Lampiran
a. Content (40%)
20
21
22

b. Timeliness (20%)
23

c. Technology (20 %)

d. User Support (20 %)