Anda di halaman 1dari 6

HORMON TIROID

Tiroid merupakan kelenjar endokrin yang terbesar dalam tubuh terletak di leher bagian depan
terbagi menjadi 2 bagian lobus (lobus kanan dan lobus kiri). Kelenjar tiroid menghasilkan tiga
jenis hormon yaitu T3,T4 dan sedikit Tirokalsitonin. Pembentukan hormone tiroid dipengaruhi
hormone TSH. Hormon T3 dan T4 dihasilkan oleh folikel sedangkan tirokalsitonin dihasilkan oleh
parafolikuler. Bahan dasar pembentukkan hormon tiroid adalah Iodium yang diperoleh dari
makanan dan minuman. Adapun penjelasan sintesis dan sekresi hormon tiroid yaitu (Mycek,
2001):
1. Pengaturan sintesis: Fungsi tiroid diatur oleh hormon tropik, hormon yang merangsang
tirotropin (TSH, tirotropin), suatu glikoprotein yang disintesis oleh hipofisis anterior.
Pembentukkan TSH diatur oleh hormon pelepas tirotropin dari hipotalamus (TRH).
Pengaruh TSH diperantarai oleh cAMP dan menyebabkan terjadi stimulasi pengambilan
yodium. Oksidasi yodium (I2) oleh peroksidase diikuti oleh iodinasi tirosin pada
tiroglobulin. Kondensasi dua diodotirosin memberikan peningkatan T4 atau T3 yang masih
terikat pada protein. Hormon-hormon ini dilepaskan setelah pencarian proteolitik oleh
tiroglobulin (Mycek, 2001).
2. Pengaturan sekresi: Sekresi TSH oleh hipofisis anterior dipacu TRH hipotalamus. Inhibisi
balik dari sekresi TRH dan TSH terjadi dengan kadar tinggi hormon tiroid atau yodium
yang beredar. Sebagaian besar hormon (T3 dan T4) terikat dengan globulin pengikat
tiroksin dalam plasma (Mycek, 2001).
3. Farmakokinetik: T4 dan T3 diabsorpsi setelah pemberian peroral. T4 diubah menjadi T3
oleh dua jenis deiodinase berbeda, tergantung pada jaringannya. T3 bergabung dengan
reseptor untuk memacu sintesis protein lanjutan yang diperlukan untuk metabolisme
normal. Hormon ini kemudian dimetabolisme melalui sistem P450. Obat-obat seperti
fenitoin, rifampin, fenobarbital, yang memacu enzimP450 mempercepat metabolisme
hormon tiroid (Mycek, 2001).
Gambar 1.1 Sintesis hormon T3 dan T4 dari Iodium

Gambar 1.2 Mekanisme Sekresi Hormon Tiroid


 Hipertiroid

Merupakan gangguan tiroid yang disebabkan oleh produksi hormone tiroid yang berlebihan. Pada
penderita hipertiroid terjadi peningkatan T3 dan T4 sedangkan TSH mengalami penurunan.
Hipertiroidisme dapat menyebabkan takikardia, aritmia jantung, kurus, gelisah, tremor dan
produksi panas berlebihan dapat terjadi (Mycek, 2001).

Penyakit Graves‟ merupakan penyakit autoimun yang ditandai dengan produksi antibodi terhadap
reseptor TSH pada folikel tiroid sehingga merangsang kelenjar tiroid untuk membentuk hormon
tiroid secara terus menerus dan menyebabkan terjadinya hipertiroid.

 Terapi Farmakologi Hipertiroid

Tujuan terapi pada hipertiroidism adalah untuk menormalkan produksi hormon tiroid, mengurangi
gejala dan komplikasi, memberikan terapi individual berdasar tipe dan keparahan penyakit, usia
pasien, jenis kelamin, adanya kondisi non-tiroid, dan respon terhadap terapi sebelumnya. Prinsip
pengobatan hipertiroidisme adalah dengan pemberian obat antitiroid, surgical (thyroidectomy),
dan radioaktif iodium (RAI).

1. Thiourea (Thionamide)
- Contoh obat : Propylthiouracyl (PTU), Metimazol
- Mekanisme Kerja: PTU dan Metimazol dapat menghambat sintesis hormon tiroid
dengan menghambat terbentuknya monoiodotyrosine (MIT) dan diiodotyrosine (DIT)
untuk membentuk T4 dan T3. PTU juga dapat menghambat perubahan perifer T4 ke
T3.
- Dosis dan Cara Pakai
 PTU :
Dosis awal 300 – 600 mg perhari (biasanya dalam 3 atau 4 dosis terbagi) selama 4
- 8 minggu. Kemudian dilanjutkan dengan dosis pemeliharaan 50 – 300 mg perhari.
Kemudian lanjutkan terapi selama 12 – 24 bulan.
 Metimazol :
Dosis awal 30 - 60 mg perhari yang diberikan dalam 3 dosis terbagi selama 4 - 8
minggu. Kemudian dilanjutkan dengan dosis pemeliharaan 5 - 30 mg perhari.
Kemudian lanjutkan terapi selama 12- 24 bulan.
- Efek Samping : Mual, demam, leukopenia, agranulositosis (demam, malaise, radang
gusi, infeksi osofaring, dan jumlah granulosit <250/mm3), anemia aplastik, sindrom
seperti lupus, intoleransi intravena, hepatotoksik, dan hipoprotrombinemia.
- Kontra Indikasi : Hipersensitif terhadap PTU dan metimazol, ibu hamil dan menyusui.
- Kondisi Khusus :
 Pasien dengan penyakit hati (PTU menyebabkan hepatotoksik)
 Pasien lebih dari 40 tahun harus lebih hati-hati dalam penggunaanya karena PTU
dapat menyebabkan hipoprotrombinemia dan pendarahan.
 Ibu hamil kecuali selama trimester pertama kehamilan beresiko mengalami
hepatotoksik. (PTU trisemester pertama, ganti MMI trisemester 2)
2. Iodida
- Mekanisme Kerja
Menghambat pelepasan hormon tiroid, menghambat biosintesis hormon tiroid dengan
mengganggu penggunaan iodida intratiroid, dan menurunkan ukuran dan vaskularitas
kelenjar. Iodida sering digunakan sebagai terapi tambahan untuk mempersiapkan
pasien dengan penyakit Graves sebelum menjalani operasi, untuk menghambat
pelepasan hormon tiroid dan dengan cepat mencapai keadaan eutiroid pada pasien
tirotoksik dengan dekompensasi jantung, atau untuk menghambat pelepasan hormon
tiroid setelah terapi RAI.
- Dosis dan Cara Pakai
Kalium iodida tersedia sebagai larutan jenuh (SSKI, 38 mg iodida per tetes) atau
sebagai larutan Lugol mengandung 6,3 mg iodida per tetes. Dosis awal SSKI adalah 3
- 10 tetes perhari (120-400 mg) dalam air atau jus. Penggunaan iodida untuk pasien
yang akan dioperasi, harus diberikan 7 - 14 hari sebelum operasi. Sebagai tambahan
untuk RAI, SSKI tidak boleh digunakan sebelumnya, melainkan 3 - 7 hari setelah
pengobatan RAI sehingga RAI dapat terkumpul di tiroid.
- Efek Samping
Hipersensitivitas (kulit kemerahan, rhinitis), pembengkakan kelenjar air liur, iodisme
(rasa logam, mulut dan tenggorokan terbakar, nyeri pada gigi dan gusi, gangguan perut
dan diare) dan ginekomasti.
- Kontra Indikasi : Hipersensitivitas yodium, dermatitis herpetiformis duhring, TBC,
nephrosis, pioderma.
- Kondisi Khusus
 Pada Ibu hamil dapat menyebabkan penghambatan pada fungsi tiroid (gipotireozu)
dan meningkatkan ukuran janin dan pada ibu menyusui menyebabkan munculnya
ruam dan penurunan fungsi tiroid pada bayi baru lahir (pada dosis lebih besar dari
300 mikrogram yodium yang menyusui hari harus dihentikan).
3. Adrenergik Blocker (β-Blocker)
β blocker digunakan untuk memperbaiki gejala tirotoksik seperti palpitasi, kegelisahan,
tremor, dan intoleransi panas. β-blocker adalah terapi utama untuk tirotoksikosis yang
terkait dengan tiroiditis (pembengkakan tiroid).
- Mekanisme Kerja : Propranolol dan nadolol secara parsial memblokir konversi T4 ke
T3, namun kontribusi terhadap keseluruhan efek nya kecil.
- Dosis dan Cara Pakai
Dosis awal 20 - 40 mg secara oral 4 kali sehari efektif untuk kebanyakan pasien (denyut
jantung <90 denyut / menit). Pasien yang lebih muda atau dalam kondisi lebih toxic
mungkin memerlukan 240 - 480 mg / hari.
- Efek Samping : Mual, muntah, kegelisahan, insomnia, lightheadedness, bradikardia
dan gangguan hematologi.
- Kontra Indikasi
Pasien dengan gagal jantung kongestif, kecuali jika disebabkan oleh takikardia (curah
jantung), pasien dengan hipoglikemia spontan, pasien yang melakukan terapi
bersamaan dengan inhibitor monoamin oxidase atau antidepresan trisiklik.
- Kondisi Khusus : -
4. Radioaktif Iodin (RAI)
- Mekanisme Kerja
Natrium iodida-131 (131I) bekerja mengganggu sintesis hormon dengan masuk ke
dalam hormon tiroid dan tiroglobulin. Selama beberapa minggu, folikel yang telah
diambil RAI dan folikel sekitarnya mengalami nekrosis seluler dan fibrosis jaringan
interstisial.
- Dosis dan Cara Pakai
Dosis tunggal 4000 - 8000 rad menghasilkan kondisi eutiroid pada 60% pasien setelah
6 bulan terapi atau kurang. Dosis kedua RAI harus diberikan 6 bulan setelah
pengobatan RAI pertama jika pasien tetap hipertiroid.
- Efek Samping
Terapi jangka pendek memberikan efek samping pelunakan tiroid ringan dan dysphagia
(kesulitan menelan), sedangkan terapi lanjutan jangka panjang belum terbukti
meningkatkan resiko terbentuknya karsinoma tiroid, leukimia, atau defek kongenital.
- Kontra Indikasi : Ibu hamil
- Kondisi Khusus
 Pasien dengan penyakit jantung dan pasien lanjut usia sering diobati dengan
thionamides sebelum RAI ablation (pengangkatan jaringan) karena kadar hormon
tiroid meningkat setelah pengobatan RAI karena pelepasan preformed hormon
tiroid.
 Obat antitiroid sebaiknya tidak rutin digunakan setelah RAI, karena
penggunaannya dikaitkan dengan kejadian kambuhan setelah perawatan yang lebih
tinggi atau hipertiroidisme yang persisten.