Anda di halaman 1dari 8

UJIAN TENGAH SEMESTER

PELAKSANAAN PENGELOLAAN KEUANGAN NEGARA/DAERAH

Disusun untuk memenuhi Ujian Tengah Semester Mata Kuliah


Governance dan Sistem Pengelolaan Keuangan Negara
Dosen Pengampu: Prof. Drs. Djoko Suhardjanto, M.Com (Hons), Ph.D, Ak, CA

Disusun oleh:
NAMA NIM
KORNELIS K. BOLEN : S431708008

PROGRAM MAGISTER AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2018
PELAKSANAAN PENGELOLAAN KEUANGAN NEGARA/DAERAH

I. Pendahuluan
Sejak diberlakukannya Otonomi Daerah yang ditandai dengan diterbitkan
Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan beberapa kali perubahan terakhir diganti
dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua atas Undang-
Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, bahwa Otonomi Daerah
adalah hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus
sendiri Urusan Pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat dalam sistem
Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Hak dalam pengertian otonomi adalah adanya kebebasan pemerintah daerah
untuk mengatur rumah tangga, seperti dalam bidang kebijaksanaan, pembiayaan serta
perangkat pelaksanaannnya. Sedangkan kewajban harus mendorong pelaksanaan
pemerintah dan pembangunan nasional. Selanjutnya wewenang adalah adanya
kekuasaan pemerintah daerah untuk berinisiatif sendiri, menetapkan kebijaksanaan
sendiri, perencanaan sendiri serta mengelola keuangan sendiri.
Persoalan kebijakan otonomi daerah merupakan salah satu aspek yang mendapat
perhatian hingga kini dimana terjalin hubungan antara pemerintah pusat dan daerah
yang cukup berarti, sehingga diharapkan dengan adanya kebijakan ini dapat membantu
proses reformasi pada tingkat lokal dan memberi kebebasan dalam pengelolaan
keuangan daerah terutama pemanfaatan sumber-sumber daya daerah yang digunakan
untuk kepentingan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat.
Pemberian otonomi yang luas kepada pemerintah daerah diarahkan untuk
meningkatkan daya saing daerah, meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dan
mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui, pemberdayaan dan peran
serta masyarakat itu sendiri. Demokratisasi, transparansi, akuntabilitas publik dan
partisipasi masyarakat merupakan prinsip-prinsip otonomi daerah harus dipenuhi oleh
pemerintah daerah. Artinya, pemerintah daerah diberikan kewenangan secara luas,
nyata, bertanggung jawab dan proporsional dalam mengatur, membagi dan
memanfaatkan sumber daya nasional serta perimbangan keuangan pusat dan daerah.
Sesuai amanat Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara
bahwa kekuasaan atas pengelolaan keuangan negara digunakan untuk mencapai tujuan
bernegara. Untuk mewujudkan tujuan Negara tersebut maka syarat utama dan paling
penting adalah penyelenggaraan pemerintahan yang baik (good governance). Kunci
utama agar peyelenggaraan pemerintahan yang baik (good governance) dapat terwujud
adalah dengan memahami dan menerapkan prinsip-prinsip yang terkandung di
dalamnya yaitu: (1) Partisipasi Masyarakat (participation), (2) Tegaknya Supremasi
Hukum (rule of law), (3) Transparansi (tranparency), (4) Peduli pada
Stakeholder/Dunia Usaha, (5) Berorientasi pada Konsensus (concensus), (6) Kesetaraan
(equity), (7) Efektifitas dan Efisien (effectiveness and efficiency), Akuntabilitas
(accountability), dan (8) Visi Strategis (strategic vision). Berdasarkan prinsip-prinsip
good governance tersebut, maka Pemerintah Daerah dituntut untuk dapat mengelola
dan menggunakan sumber daya keuangan serta dapat mempertanggungjawabkannya
kepada publik.
Pengelolaan sumber daya keuangan merupakan hak daerah yang dijabarkan
dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang menjelaskan
kemampuan pemerintah daerah dalam membiayai kegiatan pelaksanaan tugas
pembangunan di daerah. APBD merupakan rencana kegiatan Pemerintah Daerah yang
dituangkan dalam bentuk angka dan batas maksimal untuk periode anggaran (Halim,
2002). APBD juga diartikan sebagai rencana keuangan tahunan Pemerintah Daerah
yang dibahas dan disetujui bersama oleh Pemerintah Daerah dan DPRD, dan ditetapkan
dengan Peraturan Daerah (PP No. 58 Tahun 2005). Sedangkan dalam PP No. 71 Tahun
2010, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah adalah rencana keuangan tahunan
Pemerintah Daerah di Indonesia yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.
Dokumen Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah memuat semua hak dan kewajiban
untuk penyelenggaraan pemerintahan daerah dimana diukur dengan uang termasuk
didalamnya segala bentuk kekayaan yang berhubungan dengan hak dan kewajiban
daerah dalam kurun waktu satu tahun. APBD merupakan alat/wadah untuk menampung
berbagai kepentingan publik yang diwujudkan melalui berbagai kegiatan dan program
dimana pada saat tertentu manfaatnya benar-benar dirasakan oleh publik. APBD juga
merupakan instrumen kebijakan yang digunakan sebagai alat untuk meningkatkan
pelayanan umum dan kesejahtaraan masyarakat di daerah.

II. Transparansi Pengelolaan Keuangan Negara/Daerah


Undang-undang No. 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang
Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme menyatakan bahwa transparansi
dan akuntabilitas merupakan dua dari beberapa asas yang harus dipenuhi oleh
pemerintah termasuk pemerintah daerah. Transparansi dan akuntabilitas tidak hanya
menjadi kewajiban pemerintah pusat tetapi juga pemerintah daerah sesuai dengan
amanat Undang-undang No. 32 Tahun 2004 mengenai pemerintah daerah (pemda).
Pemda melaksanakan transparansi dan akuntabilitas karena kewajiban dan adanya
tekanan yang kuat dari pemerintah pusat. Dipertegas oleh Peraturan Menteri Dalam
Negeri Nomor 59 Tahun 2007 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Dalam Negeri
Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, dijelaskan
untuk memenuhi asas tansparansi, kepala daerah wajib menginformasikan substansi
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) kepada masyarakat yang telah
diundangkan dalam Lembaran Daerah.
Menurut Grosso dan Gregg (2011) untuk mencapai kepuasan masyarakat, maka
salah satu cara yang dapat dilakukan oleh pemerintah adalah menerbitkan laporan
keuangan dan laporan kinerja pemerintah untuk menjaga akuntabilitas dan transparansi.
Apabila pemerintah tidak akuntabel dan transparan, maka akan menimbulkan dampak
negatif kepada masyarakat, seperti kurangnya kepercayaan masyarakat kepada
pemerintah serta timbulnya korupsi dan penyalahgunaan wewenang (Ridha dan
Basuki, 2012). Menurut Jones et al. (1985) dan Steccolini (2002) dalam Meliani, dkk.
ketidakmampuan laporan keuangan dalam melaksanakan akuntabilitas, tidak saja
disebabkan karena laporan keuangan yang tidak memuat semua informasi relevan
yang dibutuhkan para pengguna, tetapi juga karena laporan tersebut tidak dapat secara
langsung tersedia dan aksesibel kepada para pengguna potensial. Salah satu
prasyarat untuk dapat meningkatkan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan
keuangan negara (pusat dan daerah) adalah dengan melakukan reformasi dalam
penyajian laporan keuangan. Pemerintah harus mampu menyediakan semua informasi
keuangan relevan secara jujur dan terbuka kepada publik, karena kegiatan pemerintah
adalah dalam rangka melaksanakan amanat rakyat (Mulyana, 2006).
Salah satu bentuk transparansi atas pelaksanaan pengelolaan keuangan daerah
adalah pemerintah menyediakan layanan informasi kepada masyarakat lewat website.
Melalui website tersebut masyarakat dapat mengakses berbagai aktivitas pemerintah
dan perkembangan kegiatan pelaksanaan APBD (e-monev), layanan sistem pengadaan
barang yang dilakukan secara elektronik (e-procurement) melalui link LPSE serta
data-data penting lainnya yang sangat dibutuhkan oleh para pemangku kepentingan
(public-stakeholders) yakni: pejabat birokrasi, wakil rakyat/ DPRD, pengusaha, LSM,
akademisi, wartawan dan masyarakat lainnya.
III. Akuntabilitas Pengelolaan Keuangan Daerah
Terselenggaranya good governance merupakan persyaratan utama untuk
mewujudkan aspirasi masyarakat dalam mencapai tujuan dan cita-cita bangsa dan
Negara. Dalam rangka hal tersebut, diperlukan pengembangan dan penerapan sistem
pertanggungjawaban yang tepat, jelas, dan nyata sehingga penyelenggaraan pemerintah
dan pembangunan dapat berlangsung secara berdaya guna, berhasil guna, bersih dan
bertanggung jawab serta bebas KKN (Sedarmayanti, 2012).
Pengelolaan keuangan daerah adalah keseluruhan kegiatan yang meliputi
perencanaan, pelaksanaan, penatausahaan, pelaporan, pertanggungjawaban, dan
pengawasan keuangan daerah dimana aspek yang sangat penting dalam pengelolaan
keuangan daerah. Pengelolaan keuangan daerah merupakan suatu kegiatan yang akan
mempengaruhi peningkatan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat dan bangsa
Indonesia. Kewajiban seluruh instansi baik di pemerintah pusat dan daerah untuk
menyusun laporan keuangan sebagai wujud akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah.
Akuntabilitas dapat hidup dan berkembang dalam suasana yang transparan dan
demokratis serta adanya kebebasan dalam mengemukakan pendapat. Oleh karena itu,
pemerintah harus betul-betul menyadari bahwa pemerintahan dan pelayanan kepada
masyarakat adalah hal yang tidak dapat dipisahkan dari publik. Terwujudnya
akuntabilitas keuangan daerah akan menjadi landasan awal bagi tata kelola
pemerintahan yang lebih baik dan segala pertanggungjawaban keuangan yang berasal
dari dana masyarakat akan berjalan lancar seiring kepercayaan masyarakat terhadap
pemerintahan dalam bidang pengelolaan keuangan daerah.
Pemerintah dalam hal ini harus dapat meningkatkan akuntabilitas pengelolaan
keuangan negara (pusat dan daerah). Salah satu prasyarat untuk mewujudkan hal
tersebut adalah dengan melakukan reformasi dalam penyajian laporan keuangan, yakni
pemerintah harus mampu menyediakan semua informasi keuangan relevan secara
jujur dan terbuka kepada publik, karena kegiatan pemerintah adalah dalam rangka
melaksanakan amanat rakyat.

IV. Kredibilitas Pengelolaan Keuangan Daerah


Satuan kerja perangkat daerah (SKPD) merupakan bagian dari pemerintah daerah
yang melaksanakan fungsi pemerintahan daerah yang melaksanakan fungsi
pemerintahan dan pelayanan publik, baik secara langsung ataupun tidak langsung.
Untuk melaksanakan tugas pokok dan fungsi (tupoksi)nya tersebut, SKPD diberikan
alokasi dana (anggaran) dan barang/aset yang dibutuhkan. Oleh karena itu, kepala
SKPD disebut sebagai Pengguna Anggaran (PA) dan Pengguna Barang (PB). SKPD
selaku enitas akuntansi pada dasarnya menunjukkan bahwa SKPD melaksanakan proses
akuntansi untuk menyusun laporan keuangan yang akan disampaikan kepada kepala
daerah sebagai bentuk pertanggungjawaban pengelolaan keuangan daerah (yang
mencakup anggaran dan barang, diiringi dengan dana yang dikelola oleh bendahara
selaku pejabat fungsional.
Pada tingkat pemerintah daerah, satuan kerja yang bertanggungjawab
menyelenggarakan akuntansi adalah Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah
(SKPKD), satuan kerja ini dapat berupa Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD)
atau pada banyak pemerintah daerah berupa Dinas Pendapatan dan Pengelola Keuangan
dan Aset Daerah (DPPKAD). Pada SKPKD transaksi-transaksi akuntansi
diklasifikasikan menjadi dua yaitu: transaksi-transaksi sebagai satuan kerja dan
transaksi-transaksi sebagai pemerintah daerah. Dari kedua transaksi tersebut, SKPKD
menyusun laporan keuangan sebagai kantor pusat (home office). Pada akhir tahun
penyusunan laporan keuangan pemerintah daerah dilakukan dengan cara
mengkonsolidasikan laporan keuangan dari setiap SKPD dengan laporan keuangan
yang prosesnya dikerjakan oleh fungsi akuntansi SKPKD. Maka dari itu, penyusunan
laporan keuangan seperti ini disebutkan sebagai sistem desentralisasi.
Saat ini banyak daerah yang menyusun laporan keuangannya dalam format top
down sehingga kurang bisa menghasilkan laporan keuangan yang kredibel karena tidak
adanya konsolidasi yang ditandai dengan SKPD tidak menyerahkan laporan keuangan
atau terlambat menyerahkan atau bahkan belum bisa menyusun laporan keuangan
sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintah yang tertuang dalam PP 71 Tahun 2010.
Maka dari itu penyusunan secara bottom up memiliki peranan penting untuk
menghasilkan laporan yang kredibel dan akuntabel sehingga terwujudunya good
governance.
Permasalahan yang sering muncul dalam penyusunan laporan keuangan SKPD
adalah belum memahami sistem SAP berbasis akrual secara komprehensif, dalam hal
ini terkait dengan kemampuan SDM. Penatausahaan Keuangan Satuan Kerja Perangkat
Daerah (PPK-SKPD) merupakan SDM yang sangat wajib untuk memahami SAP
berbasis akrual. Walaupun terkadang background SDM dari penatausahaan keuangan
bukan berasal dari ekonomi/akuntansi akan tetapi kendala ini bisa diatasi dengan
adanya bimbingan teknis atau pelatihan-pelatihan sejenis. Jika Bimtek atau pelatihan
tidak efisien karena dilaksanakan dalam waktu yang singkat maka solusi lainnya adalah
dengan dihadirkannya konsultan/expertise yang memahami penatausahaan dan
pelaporan keuangan daerah sehingga terjadi transfer knowledge langsung kepada SKPD
yang terkait. ‘Practice makes perfects’ saat akhir tahun anggaran sampai bulan ke-3
batas pelaporan keuangan merupakan waktu yang paling crowded bagi SKPD. Dalam
durasi inilah, waktu yang paling tepat untuk terjun mendampingi SKPD dalam
melakukan penatusahaan dan pelaporan keuangan. Semua kendala yang dihadapi akan
muncul selama durasi tersebut. Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah (SKPKD)
harus bisa menyelesaikan laporan keuangan dengan tepat dan cepat. Maka, kesulitan ini
akan teratasi jika SKPD mendapatkan transfer knowledge langsung ketika dalam masa
penyusunan laporan keuangan. Akan lebih baik, setelahnya diberikan pendampingan
lanjutan terkait dengan penerapan secara teknikal penatausahaan laporan keuangan
daerah yang berlandaskan pada PP 71 Tahun 2010, SAP berbasis akrual, sehingga
kedepannya terjadi peningkatan kualitas laporan keuangan.

V. Kesimpulan
Sesuai amanat Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara
bahwa kekuasaan atas pengelolaan keuangan negara digunakan untuk mencapai tujuan
bernegara. Untuk mewujudkan tujuan Negara tersebut maka syarat utama dan paling
penting adalah penyelenggaraan pemerintahan yang baik (good governance).
Tiga hal yang harus dilakukan oleh pemerintah dalam pelaksanaan pengelolaan
keuangan daerah adalah: akuntabilitas, transparan dan kredibilitas. Namun dalam
proses ini terdapat beberapa kendala yang dihadapi diantaranya adalah Sumber Daya
Manusia yang terbatas juga kurangnya pemahaman akan penerapan peraturan tentang
pengelolaan keuangan yaitu PP 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi pemerintah.
Pemerintah mengambil langkah untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah
dilakukan Bimbingan Teknis dan pelatihan-pelatihan kepada aparatur pengelola
keuangan juga menghadirkan konsultan/expertise yang memahami penatausahaan dan
pelaporan keuangan untuk membantu proses penyusunan laporan keuangan.
DAFTAR PUSTAKA

Grosso, A. L., & Gregg, G. V. 2011. How Citizens View Governmen Performance Reporting.
Public Performance & Management Review, 35:235–250.

Halim, Abdul. 2002. Akuntansi Sektor Publik Akuntansi Keuangan Daerah. Yogyakarta:
ANDI.

Mulyana, Dedi. 2008. Ilmu Komunikasi, Suatu Pengantar. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Nurrizkiana, Baiq, dkk. 2017. Determinan Transparansi dan Akuntabilitas Pengelolaan


Keuangan Daerah dan Implikasinya terhadap Kepercayaan Public-Stakeholders.
Jurnal Akuntansi dan investasi. Vol. 18 No.1, Hlm: 28-47

Ridha dan Basuki. 2012. Pengaruh Tekanan Eksternal, Ketidakpastian Lingkungan, dan
Komitmen Organisasi terhadap Penerapan Transparansi Pelaporan Keuangan.
SNA Banjarmasin.

Sedarmayanti. 2012. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Refika Aditama Eresco.

Republik Indonesia. Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua atas
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah.

Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.

Undang-undang No. 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang


Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme.

PP No. 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan.

PP No. 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah.

Peran SKPD dalam Menghasilkan Laporan Keuangan Daerah yang Kredibel dan Akuntabel.
https://monitor.co.id/opini/peran-skpd-dalam-menghasilkan-laporan-keuangan-
daerah-yang-kredibel-dan-akuntabel/