Anda di halaman 1dari 7

RINCIAN KEWENANGAN KLINIS

SMF ANESTESIOLOGI & TERAPI INTENSIF

Nama : Dr.Junaidi Baharuddin Sp.An


Tempat/Tanggal Lahir: Kota Bumi , 22 Juni 1958
Pendidikan / Jabatan : Spesialis Anestesi

KETERANGAN :
 Kategori Kewenangan.
KEWENANGAN klinis diberikan untuk memberikan pelayanan pengelolaan bidang Anestesi
berdasarkan apa yang dibutuhkan pasien, baik di bidang diagnostic maupun terapiutik
( medikamentosa maupun prosedur intervensi )

Kategori I.
Penyakit atau masalah kesehatan yang sederhana, tanpa penyulit, risiko rendah.
Kategori II – Termasuk KEWENANGAN Klinis Kategori I.
Penyakit/ masalah kesehatan/ prosedur yang kompleks namun tidak mengancam nyawa.
Kategori III – Termasuk KEWENANGAN Klinis Kategori I dan II.
Penyakit/ masalah kesehatan/ prosedur yang kompleks dan potensial mengancam nyawa. Dokter
telah menyelesaikan pelatihan dan pendidikan khusus serta memiliki pengalaman untuk prosedur
dan tindakan spesifik dari institusi yang diakui.
Kategori IV – Termasuk KEWENANGAN Klinis Kategori I, II, dan III.
Penyakit/ masalah kesehatan/ prosedur yang khusus yang kompleks atau kondisi kritis yang
mengancam nyawa. Dokter telah menyelesaikan pelatihan dan pendidikan formal yang spesifik
dari institusi yang diakui dan telah memiliki pengalaman yang cukup

 Kewenangan Klinis yang diberikan :


1. Kompeten sepenuhnya
2. Kompeten sebagian
3. Memerlukan supervisi
4. Tidak dimintakan kewenangannya karena diluar kompetensi
5. Tidak dimintakan kewenangannya karena fasilitas tidak tersedia

Kewenangan Klinis Diminta Rekomendasi

Kewenangan Klinis Umum


1. Resusitasi Jantung Paru Dasar (Basic Life Support = BLS)
2. Resusitasi Jantung Paru lanjut (Advanced Life Support = ALS)
3. Tindakan Intubasi Endotrakeal (Oral dan Nasal)
4. Tindakan Anestesia Umum
5. Inhalasi dan Intravena
6. Anestesia Bedah Digestif
7. Anestesia Bedah Urologi
8. Anestesia Bedah Ortopedi
9. Anestesia Bedah Kebidanan / Ginekologi
10. Anestesia Bedah THT
11. Anestesia Bedah Mata
12. Anestesia Bedah Gigi/Mulut

Form Kewenangan Klinis


13. Anestesia Pediatri umur >1 tahun
14. Anestesia untuk prosedur diagnostik endoskopi, MRI, CT Scan
15. Blok subaraknoid dengan/tanpa kateter
16. Blok epidural lumbal-thorakal dengan / atau tanpa kateter
17. Blok kombinasi spinal-epidural
18. Blok kaudal dengan / atau tanpa kateter
19. Penanggulangan Nyeri Paska Bedah
20. Anestesia Bedah Syaraf
21. Anestesia Bedah Non Jantung dengan kelainan Jantung
22. Anestesia dengan Tehnik Khusus (misalnya Teknik Hipotensi)
23. Anestesia Intra Vena Total
24. Blok saraf perifer ekstremitas atas (blok pleksus brakhialis dan
cabang-cabangnya)
25. Blok saraf perifer ekstremitas bawah (blok pleksus lumbal dan
pleksus sacral beserta cabang-cabangnya)
26. Blok saraf perifer untuk batang tubuh (misal:blok paravertebral,
blok ilioinguinaliliohipogastrik, blok transverses abdominal
plane, blok re-ktus abdominis)
27. Blok saraf wajah dan kepala (misal:blok scalp, blok saraf tepi
cabang Ganglion Gasseri)
28. Blok servikal superficial
29. Blok mata (misal : periorbital, retroorbital, subtenon)
30. Perioperative medicine pada pasien dengan comorbid,
coexisting disease dan pada pasien dengan penyakit kritis
(critically ill patients)
31. Intubasi dengan pipa double lumen (Endobrochial Intubation)
32. Difficult airway management, baik dengan menggunakan ETT,
bebagai tipe LMA, videolaringoskopi, bronkoskopi, Percutaneus
Dilatation Tracheostomi, retrograde intubation, fibreoptic
intubation, cricothyrotomi, dan penguasaan airway device yang
lain
33. Pemasangan Kateter Vena Sentral (CVC)
34. Menentukan indikasi masuk pasien ICU
35. Melakukan pengelolaan dasar awal pasien-pasien ICU
36. Tindakan Anestesia Umum Elektif dan Darurat pada pasien ASA
≥3
37. Resusitasi jantung Paru Lanjut (Advanced Life Support = ALS,
Advanced Cardiac Life Support = ACLS)
38. Penanggulangan Awal Gagal Nafas
39. Penanggulangan Awal Gagal Sirkulasi
40. Penanggulangan Awal Gagal Ginjal

41. Penanggulangan Awal Gagal – Metabolik, Asam Basa


42. Penanggulangan Awal Gagal Otak
43. Pemberian Nutrisi Enternal dan Parenteral
44. Pemasangan monitor invasive (Tekanan Vena Sentral dan
Tekanan Arteri)
45. Penggunaan Ventilasi Mekanik (Dasar)
46. Penggunaan Bronkoskop (Bronchial Toilet)
47. Anestesia Kombinasi Lumbal dan Epidural

Form Kewenangan Klinis


48. Anestesia Epidural Torakal
49. Penanggulangan Nyeri Akut Paska
50. Bedah (tehnik intravena, tehnik epidural)
51. Anestesia Bedah Torak (Bedah Paru, tumor mediastinum,
ventilasi satu paru, trauma torak, mlasthenia gravis, sindrom
vena cava superior)
A.
1. Memiliki kemampuan melakukan Advance Cardiac Life
Support, termasuk manajemen pada pasien dengan aritma
2. Mampu melakukan manajemen perioperatif pada pasien dengan
berbagai kelainan jantung, baik untuk pembedahan kardiak
maupun nonkardiak, elektif maupun emergensi
3. Mampu melakukan anestesia pada bedah jantung tertutup
maupun terbuka, baik pada pasien dewasa maupun pediatric,
elektif maupun emergensi
4. Mampu melakukan anestesia untuk kasus-kasus kelainan
koroner, katup jantung, penyakit jantung bawaan, serta kelainan-
kelainan pembuluh darah besar, baik untuk pembedahan kardiak
maupun non kardiak
5. Mampu melakukan pemasangan alat pemantauan hemodinamik
invasive
6. Mampu melakukan pemantauan dan pengelolaan hemodinamik,
baik invasive maupun tidak
7. Mempunyai dasar kemampuan ekokardiografi, baik transtorakal
maupun transesofageal.
8. Memahami secara mendalam semua aspek terkait penggunaan
teknologi sirkulasi ekstrakorporeal, termasuk mesin pintas
jantung-paru
9. Mampu menggunakan dengan tepat obat-obat kardiovaskular
10. Mampu melakukan manajemen kelainan asam-basa dan
elektrolit serta kelainan metabolism lain selama pembedahan
berlangsung
11. Mempunyai kemampuan paripurna penanganan pasien
pascabedah jantung
B.
1. Blok epidural servikal
2. Blok saraf/pleksus saraf/saraf otonom untuk manajemen nyeri
kronik dengan analgetik local dengan/tanpa steroid
3. Blok saraf/pleksus saraf/saraf otonom untuk manajemen nyeri
kronik dengan obat neurolitik
4. Blok saraf/pleksus saraf/saraf otonom untuk manajemen nyeri
kronik dengan teknik radio-frekuensi ablasi (RFA)
5. Blok nyeri musculoskeletal
6. Implantasi kateter subaraknoid/epidural untuk manajemen nyeri
kronik
7. Stimulasi medula spinal (spinal cord stimulation)
C.
1. Hipotermi terapeutik
2. Instilasi surfaktan
3. Tehnik hipotensi intraoperatif
4. Sirkulasi ekstrakorporel
5. Pemasangan CVC
6. Ekokardiografi

Form Kewenangan Klinis


7. Bronkhoskopi
8. Pengelolaan IABP
9. Pemantauan tekanan intracerebral
10. CRRT
11. Pembedahan transplant
12. Pembedahan conjoined twin
13. Neonatus premature
14. Kelainan bawaan gastroschizis, Omphalocele, Kelainan-
kelainan bawaan lain
15. Perioperatif neonatal and pediatric intensive care
16. Anestesia regional pada anak di bawah 1 tahun
D.
1. Pengelolaan Pasien ICU secara tuntas (Gagal nafas, Gagal
Ginjal, Gagal Sirkulasi, Gagal Otak, Gangguan Asam Basa,
Elektrolit Dan Metabolik, Gagal multiorgan, Sepsis, Nutrisi
Enternal dan Parenteral) pada kasus medic, surgical, trauma
2. Prosedur trakeostomi perkutan
3. Continuous renal replacement therapy (CRRT)
4. Ventilasi Mekanik Lanjut
5. Goal Directed Hemodynamic Monitoring
6. Bronkoskopi
7. USG pasien kritis
8. Perioperatif intensive care
9. Penanggulangan nyeri pada pasien kritis
E.
Mampu menangani kasus neuroanestesia dan neuro-critical care
pasien dewasa dan pediatric pada periode perioperatif (prabedah,
selama pembedahan, dan pascabedah di PACU & ICU), pada
pasien:
1. Tumor supratentorial advance (meningioma, tumor hipofise
secara open atau transphenoidal, craniopharingioma, tumor otak
lainnya baik primer atau metastase)
2. Tumor infratentorial (fossa posterior)
3. Anestesia pada awake craniotomy
4. Anestesia pada kasus neurologi dengan posisi duduk
5. Mampu menangani Neuro ICU advance: monitoring neuro (ICP,
SJO2, NIRS, Microdialisis, Evoked potential)
F.
1. Kemampuan untuk melakukan anamnesa, pemeriksaan fisik,
pemeriksaan penunjang dan menegakkan diagnosis pada pasien
dengan nyeri akut, kronik non-cancer dan nyeri kanker secara
holistik
2. Kemampuan untuk melakukan penanganan nyeri akut, kronik
non-cancer dan nyeri kanker dengan menggunakan pendekatan
farmakologi analgesia
3. Kemampuan melakukan penanganan nyeri akut pasca bedah
maupun nyeri akut lainnya dengan melakukan teknik Patient
Controlled Analgesia dan insersi kateter kontinyu (Intravenous,
neuraksial epidural dan intrathecal, dan blok saraf perifer)
4. Kemampuan melakukan tindakan-tindakan intervensi pada
penanganan nyeri akut, nyeri kronik non-cancer dan nyeri
kanker dengan penuntun ultrasound dan C-arm fluoroskopi,
meliputi a.l. berbagai injeksi/blok saraf perifer/ganglion,

Form Kewenangan Klinis


radiofrekuensi ablation saraf dan ganglion, IDET, TENS, dll
5. Kemampuan melakukan penanganan nyeri kronik non-cancer
dan nyeri kanker dengan pendekatan non-farmakologik dan
psikologi terutama pada kasus paliatif
6. Mampu mengelola suatu Acute Pain Service

Diketahui Oleh
Yang Bersangkutan Ketua Departemen/SMF Anestesiologi dan Terapi Intensif
FK.USU/RSUP. H. Adam Malik Medan

Bagian III. Rekomendasi Mitra Bestari


Disetujui Disetujui dengan Catatan Tidak disetujui

Form Kewenangan Klinis


Tanggal :

Catatan :

Daftar Mitra Bestari


No Nama Spesialisasi Tanda Tangan

Bagian IV. Komite Medis / Sub-Komite Kredensial


Disetujui Disetujui dengan Catatan Tidak disetujui

Form Kewenangan Klinis


Tanggal :

Catatan :

Ketua Komite Medis Ketua Sub-Komite Kredensial

(............................................) (................................................)

Form Kewenangan Klinis