Anda di halaman 1dari 2

Transaksi e-commerce sebagai Potensi Penerimaan Pajak di Indonesia

Teknologi sampai detik ini berkembang sangat pesat dan akan bertambah pesat untuk
kedepannya. Hingga saat ini baik itu penjual maupun pembeli yang memanfaatkan fasilitas
internet untuk kegiatan jual-beli di Indonesia bisa mencapai omset milyaran rupiah hingga
triliunan rupiah. Hal ini tentu saja menjadi potensi pajak e-commerce yang positif bagi
pemerintah.
Pajak e-commerce merupakan pajak yang dibebankan kepada semua pelaku jual-beli
yang menggunakan fasilitas internet baik itu situs marketplace, toko online, kegiatan jual-beli
di akun sosial media, kegiatan promosi, ads, dan apapun itu selama berkaitan dengan proses
perdagangan.

Bukan suatu hal yang negatif jika pajak e-commerce dibebankan terhadap pebisnis
online, karena dengan demikian kesejahteraan masyarakat akan lebih meningkat.
Infrastruktur dibangun, fasilitas dilengkapi, kesejahteraan masyarakat terjamin,
ketimpangan / gap antara tingkat kesejahteraan masyarakat semakin rendah.

Menurut Harian Surabaya Post (2013), realisasi penerimaan pajak pada tahun 2012
hanya mencapai 980,1 trilyun rupiah atau 3,6% di bawah target sebesar 1.016,2 trilyun
rupiah. Meskipun realisasi penerimaan negara dari sektor pajak masih di bawah dari yang
telah dianggarkan, namun transaksi e-commerce dan jumlah wajib pajak selalu meningkat
setiap tahunnya. Transaksi e-commerce yang nilainya cukup besar dan selalu meningkat
menjadi potensi penerimaan pajak di Indonesia.
Berikut merupakan pajak yang dikenakan pada transaksi e-commerce
1. Pajak Pertambahan Nilai (PPN)
Pajak Pertambahan Nilai (PPN) adalah pajak yang dibebankan ke pembeli yang akan
menambah harga untuk barang yang di belinya. Pada 1 januari 2014 aturan mengenai
pengusaha yang wajib membayar pajak ditetapkan oleh pemerintah. Pengusaha yang
kena pajak adalah yang omsetnya mencapai Rp 4,8 miliar per tahun. Jadi dengan
peraturan pemeruntah yang sudah ditetapkan tersebut maka pajak e-commerce
berlaku untuk pengusaha online dengan omset tersebut diatas wajib memungut PPN
untuk setiap transaksinya.
2. Pajak Penghasilan (PPh)
Pajak e-commerce juga berlaku untuk PPh (pajak penghasilan) yang dibebankan ke
pengusaha dan badan usaha. Sebenarnya sampai saat ini belum ada peraturan pajak
khusus bagi usaha online. Namun pemerintah mengeluarkan peraturan (PP Nomor 46
tahun 2013) untuk pengusaha e-commerce dengan penghasilan / omset kotor tidak
melebihi Rp 4,8 miliar dikenakan pajak yang sama dengan UMKM yaitu sebesar 1%
dari omset.

Berkaca pada negara lain, salah satu cara yang dapat dilakukan oleh Direktorat
Jenderal Pajak adalah dengan mulai meninjau transaksi e-commerce atau perdagangan
elektronik yang sedang berkembang di Indonesia. Indonesia merupakan salah satu negara
yang transaksi e-commerce-nya sedang berkembang. Oleh karena itu, Direktorat Jenderal
Pajak perlu adanya untuk mulai mempertimbangkan transaksi ini sebagai salah satu
penerimaan pajak di Indonesia, karena nilainya sangat besar dan selalu meningkat tiap
tahunnya.

NN. 2017. Pengertian Pajak E-Commerce Juga Jenis Dan Manfaatnya Bagi Perekonomia,
[online]. (https://thidiweb.com/pengertian-pajak-e-commerce/) diakses pada tanggal 8
Maret 2018
Utomo, Eviera. 2013. Transaksi E-Commerce Sebagai Potensi Penerimaan Pajak Di
Indonesia. Diambil dari: http://jurnalmahasiswa.unesa.ac.id/article/8927/57/article.pdf
diakses pada tanggal 8 Maret 2018