Anda di halaman 1dari 4

Timbal

1.1 Definisi Timbal


Timbal (Pb) atau timah hitam (dalam Bahasa ilmiah dikenal dengan plumbum) merupakan
logam berat yang termasuk di dalam golongan IVA dalam Sistem Periodik Unsur kimia, memiliki
nomor atom 82 dengan berat atom 207,2, berbentuk padat pada suhu kamar, bertitik lebur / leleh
327,502˚c dan titik didih 1620˚c. Timbal memiliki berat jenis sebesar 11,4 / L. Pb jarang
ditemukan dalam keadaan bebas di alam, melainkan ditemukan dalam bentuk senyawa dengan
molekul lain, misalnya dalam bentuk PbBr2 dan PbCl2. Timbal berwarna biru keabu-abuan dengan
khas kilau logam sesaat setelah dipotong dan sejalan dengan pembentukan lapisan oksida pada
permukaannya, kilaunya akan segera hilang. Timbal juga sangat rapuh dan mengkerut pada
pendinginan, sulit larut dalam air dingin, air panas dan air asam. Timbal dapat larut dalam asam
nitrit, asam asetat dan asam sulfat pekat. Timbal mempunyai beberapa sifat dan kegunaannya (lihat
tabel 1).1,3,13

Tabel 1 Sifat dan Kegunaan Timbal14

Sifat dan Kegunaan Timbal


1. Titik lebur yang rendah sehingga mudah biaya dan mudah digunakan
2. Karena lunak, logam ini mudah dibentuk
3. Dapat digunakan sebagai pelapis logam untuk mencegah perkaratan karena mempunyai sifat
kimia yang aktif
4. Timbal dapat membentuk logam yang lebih bagus dari logam aslinya jika dicampur dengan
logam lain
5. Kepadatannya melebihi logam lainnya

Timbal paling banyak digunakan sebagai bahan produksi untuk aki (baterai pada kendaraan
bermotor). Biasanya, elektroda dari aki mengandung Pb 93% dan Sb (antimony) 7%. Timbal / Pb
sangat baik digunakan untuk merangsang arus listrik, yang dalam katoda ini berbentuk PbO2 dan
Pb logam. Logam-logam lainnya yang juga dalam produksinya mengandung timbal adalah
amunisi, kabel, dan solder.14

1.2 Timbal terhadap lingkungan


Pencemaran Pb dapat terjadi melalui udara, air, dan makanan. Timbal dapat masuk ke
dalam lingkungan dan tubuh manusia melalui berbagai macam sumber seperti bensin (petrol), daur
ulang atau pembuangan baterai mobil, mainan, cat, pipa, tanah, dan beberapa jenis kosmetik serta
obat tradisional dan berbagai sumber lainnya. Di negara berkembang, sumber utama dari timbal
dalam lingkungan berasal dari emisi kendaraan bermotor.2,5
Absorpsi timbal terutama terjadi melalui gastrointestinal (saluran cerna), saluran nafas, dan
kulit. Timbal dapat masuk melalui kulit disebabkan karena timbal dapat larut dalam minyak dan
lemak sehingga timbal dapat berpenetrasi masuk ke dalam tubuh manusia melalui kulit.14 Absorpsi
Pb yang dihirup berbeda-beda tergantung dari bentuk (uap atau partikel) dan kadar Pb.5 Toksisitas
pada Pb terjadi apabila dalam darah ditemukan kandungan Pb ≥ 0,08 g% atau dalam urin ≥ 0,15
mg/l.4
a. Terhadap Udara
Sebagian besar timbal (Pb) berasal dari asap kendaraan bermotor, maka dari itu
hampir 85% pencemaran timbal (Pb) pada manusia berlangsung dari udara.6 Dalam bahan bakar
mesin kendaraan, 70% Pb akan diemisikan ke udara.7 Udara yang tercemari timbal dapat berupa
partikel maupun gas. Timbal yang berupa partikel di udara biasanya berasal dari pabrik alkil Pb
dan Pb-oksida, pembakaran arang, dan lainnya.14 Diketahui bahwa timbal yang diserap melalui
saluran pernapasan mencapai 30-50% dengan waktu yang lebih cepat dibandingkan dengan
penyerapan melalui saluran cerna.11
b. Terhadap Air dan Makanan
Sumber pencemaran timbal lainnya adalah melalui makanan. Peralatan dapur yang
terbuat dari porselin yang digunakan untuk memasak dan menyajikan makanan juga merupakan
salah satu cara masuknya timbal ke dalam tubuh. Selain itu, air yang kita minum yang dialirkan
melalui pipa timbal juga akan memiliki kandungan timbal yang tinggi yang terlarut dalam air
tersebut.9 Menurut keputusan Dirjen POM, batas cemaran logam Pb dalam produk pangan olahan
adalah 0,25 ppm.10 Sedangkan kadar maksimum timbal (Pb) yang diperkenankan pada air menurut
Depkes (2002) adalah 0,005 mg/L.8 Timbal yang ada di air dapat masuk ke dalam tubuh manusia
jika air tersebut merupakan sumber air konsumsi masyarakat dan juga jika air tersebut digunakan
untuk menyiram tanaman maka akan menyebabkan masuknya timbal tersebut ke dalam tanaman.12
c. Terhadap Tanah
Timbal di dalam tanah dapat berasal dari emisi kendaraan bermotor yang terlepas
ke udara dan mengikuti gaya gravitasi turun ke tanah. Besarnya kandungan timbal di tanah
bergantung pada kepadatan lalu lintas, jarak dari jalan raya dan kondisi transportasi.12
Daftar Pustaka
1. Gusnita D. Pencemaran logam berat timbal (Pb) di udara dan upaya penghapusan bensin
bertimbal. Berita Dirgantara: Edisi September 2012; 13(3). Diunduh dari
http://jurnal.lapan.go.id/index.php/berita_dirgantara/article/download/1718/1553, 14
April 2017.
2. Suherni. Keracunan timbal di Indonesia. Australia: The LEAD Group; 2010. Diunduh dari
http://www.lead.org.au/Keracunan_Timbal_di_Indonesia_20100916.pdf, 14 April 2017.
3. Fernanda L. Studi kandungan logam berat timbal (Pb), nikel (Ni), kromium (Cr) dan
cadmium (Cd) pada kerang hijau (Perna viridis) dan sifat fraksionasinya pada sedimen laut
[Skripsi]. Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Departemen Kimia
Universitas Indonesia; 2012.
4. Ajeng Ab, Wesen P. Penyisihan logam berat timbal (Pb) dengan proses fitoremidiasi.
Jurnal Ilmiah Teknik Lingkungan: 5(2). Diunduh dari
http://eprints.upnjatim.ac.id/6805/1/1._Any_Bayu__dan_Putu_Wesen_.pdf, 14 April
2017.
5. Endrinaldi. Logam-logam berat pencemar lingkungan dan efek terhadap manusia. Jurnal
Kesehatan Masyarakat: Edisi September 2009 – Maret 2010; 4(1).
6. Dahlan R, Birawida AB, Ibrahim E. Faktor yang berhubungan dengan kandungan timbal
(Pb) dalam udara ambien di wilayah sekolah dasar di kawasan pesisir kota Makassar.
Makassar: Bagian Kesehatan Lingkungan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas
Hasanuddin; 2013.
7. Djalil SH, Sirajuddin S, Zakaria. Analisis kadar logam timbal (Pb) pada pangan jajanan di
SDN kompleks Larianbangi Kota Makassar. Makassar: Program Studi Ilmu Gizi Fakultas
Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin; 2014. Diunduh dari
http://repository.unhas.ac.id/bitstream/handle/123456789/10495/ST%20HARTINI%20D
JALIL%20K21110275.pdf?sequence=1, 14 April 2017.
8. Nuraini, Iqbal, Sabhan. Analisis logam berat dalam air minum isi ulang (AMIU) dengan
menggunakan spektrofotometri serapan atom (SSA). Gravitasi: Edisi Januari – Juni 2015;
14(1).
9. Agustina, Christin. Keamanan Mikrobiologis Makanan Jajanan dari tiga Kantin Sekolah di
Bogor. Bogor: Institut Pertanian Bogor; 2002.
10. Palar, H. Pencemaran dan Toksikologi Logam Berat. Jakarta: Rineka Cipta; 2004
11. Sunaryadi. Peredaman toksisitas timbal (Pb) dan stimulasi kinerja produksi ternak
ruminansia dengan suplemen mineral proteinat dan khitosan serta ektrak rumput laut
coklat. Bogor: Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor; 2006. Diunduh dari
http://repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/40763/9/2006sun.PDF, 14 April
2017.
12. Naria E. Mewaspadai dampak bahan pencemar timbal (Pb) di lingkungan terhadap
kesehatan. Jurnal Komunikasi Penelitian: Edisi 2015; 17(4).
13. Fauzi TM. Pengaruh pemberian timbal asetat dan vitamin c terhadap kadar
malondialdehyde dan kualitas spermatozoa di dalam sekresi epididymis mencit albino
(mus musculus L) strain BALB/C [skripsi]. Medan: Sekolah Pascasarjana Universitas
Sumatera Utara; 2008.
14. Albanna A. Penentuan kadar Pb (timbal) dalam rambut pekerja SPBU di Kabupaten
Klaten berdasarkan lokasi dan masa kerjanya secara spektrofotometri serapan atom
[skripsi]. Surakarta: Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta; 2007.
Diunduh dari http://eprints.ums.ac.id/16897/, 16 April 2017.