Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PENDAHULUAN SOFT TISSUE TUMOR

A. PENGERTIAN

Tumor adalah benjolan atau pembengkakan abnormal dalam tubuh, tetapi


dalam artian khusus tumor adalah benjolan yang disebabkan oleh neoplasma.
Secara klinis, tumor dibedakan atas golongan neoplasma dan nonneoplasma
misalnya kista, akibat reaksi radang atau hipertrofi.

Neoplasma dapat bersifat ganas atau jinak. Neoplasma ganas atau kanker
terjadi karena timbul dan berkembang biaknya sel secara tidak terkendali
sehingga sel-sel ini tumbuh terus merusak bentuk dan fungsi organ tempat
tumbuhnya. Kanker, karsinoma, atau sarkoma tumbuh menyusup (infiltrative)
ke jaringan sekitarnya sambil merusaknya (destruktif), dapat menyebar ke
bagian lain tubuh, dan umumnya fatal jika dibiarkan.

Neoplasma jinak tumbuh dengan batas tegas dan tidak menyusup, tidak
merusak, tetapi membesar dan menekan jaringan sekitarnya (ekspansif), dan
umumnya tidak bermetastasis, misalnya lipoma. Klasifikasi patologik tumor
dibuat berdasarkan hasil pemeriksaan mikroskopik pada jaringan dan sel
tumor. Dari pemeriksaan mikroskopik ini tampak gambaran keganasan yang
sangat bervariasi, mulai dari yang relatif jinak sampai ke yang paling ganas.
Pada satu organ dapat timbul satu atau lebih neoplasma yang sifatnya
berlainan.

Sel tumor ialah sel tubuh yang mengalami transformasi dan tumbuh secara
autonom lepas dari kendali pertumbuhan sel normal sehingga sel ini berbeda
dari sel normal dalam bentuk dan strukturnya. Perbedaan sifat sel tumor
bergantung pada besarnya penyimpangan dalam pertumbuhan, dan
kemampuannya mengadakan infiltrasi danmenyebabkan metastasis.

Bila kulit diatas benjolan masih baik dan tidak ada luka berupa borok,
kemungkinan benjolan tersebut berasal dari bawah kulit yaitu dari jaringan
lunak yang ada dibawah kulit atau bisa juga dari tulang iga, namun
kemungkinan paling besar adalah dari jaringan lunak bila pembesarannya
relatif cepat dalam waktu yang singkat. Jaringan lunak adalah bagian dari
tubuh yang terletak antara kulit dan tulang serta organ tubuh bagian dalam.
Yang tergolong jaringan lunak antara lain adalah otot, tendon, jaringan ikat,
lemak dan jaringan synovial (jaringan di sekitar persendian) Tumor jaringan
lunak dapat terjadi diseluruh bagian tubuh mulai dari ujung kepala sampai
ujung kaki. Tumor jaringan lunak ini ada yang jinak dan ada yang ganas.
Tumor ganas atau kanker pada jaringan lunak dikenal sebagai sarcoma
jaringan lunak atau Soft Tissue Sarcoma (STS) .

Soft Tissue Tumor (STT) adalah benjolan atau pembengkakan abnormal


yang disebabkan oleh neoplasma dan nonneoplasma.

Soft Tissue Tumor (STT) adalah pertumbuhan sel baru, abnormal,


progresif, dimana sel-selnya tidak tumbuh seperti kanker.

Jadi kesimpulannya, Soft Tissue Tumor (STT) adalah suatu benjolan atau
pembengkakan abnormal yang disebabkan pertumbuhan sel baru.

B. ETIOLOGI
a) Kondisi Genetik
Ada bukti tertentu pembentuk gen dan mutasi gen adalah faktor
predisposisi untuk beberapa tumaoi jarinan lunak. Dalam daftar laporan
gen yang abnormal, bahwa gen memiliki peran penting dalam menentukan
diagnosis.
b) Radiasi
Mekanisme yang patogenik adalah munculnya mutasi gen radiasi-induksi
yang mendorong transformasi neoplastik.
c) Infeksi
Infeksi firus epstein-bar bagi orang yang memiliki kekebalan tubuh yang
lemah ini juga akan meningkatkan kemungkinan terkenanya STT.
d) Trauma
Hubungan antara trauma dengan STT mungkin hanya kebetulan saja.
Trauma mungkin menarik perhatian medis ke pra-luka yang ada.

C. MANISFESTASI KLINIS
Tanda dan gejala STT tidak spesifik. Tergantung dimana letak tumor atau
benjolan tersebut berada. Awal mulanya gejala berupa adanya suatu benjolan
dibawah kulit yang tidak terasa sakit. Hanya sedikit penderita yang
merasaakan sakit.
Pada tahap awal, STT biasanya tidak menimbulkan gejala karena jaringan
lunak yang relatif elastis, tumor atau benjolan tersebut dapat bertambah besar,
sebelum sipenderita merasakan adanya tumor yang dideritanya.

D. PATOFISIOLOGIS

Kondisi genetik, Radiasi, Infeksi, Trauma

Terbentuknya benjolan (tumor) dibawah kulit

Soft Tissue Tumor (STT)

Pre Operasi Post Operasi

Adanya Inflamasi
Menstimulasi respon nyeri
Adanya luka bekas operasi
Perubahan Fisik Merangsang BPH
Peradangan pada kulit
Anatomi kulit yang abnormal Saraf Afferen
Bercak-bercak merah
Kurangnya pengetahuan Medulla Spinalis
KERUSAKAN Thalamus
INTEGRITAS KULIT
CEMAS /
ANSIETAS Korteks Serebri
E. PEMERIKSAAAN PENUNJANG

Saraf Efferen

NYERI

E. PEMERIKSAAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan Laboraturium
2. Radiologi
3. EKG
4. USG
F. PENATALKSANAAN

Secara umum, pengobatan untuk jaringan lunak tumor tergantung pada


tahap dari tumor. Tahap tumor yang didasarkan pada ukuran dan tingkatan
dari tumor. Pengobatan pilihan untuk jaringan lunak tumors termasuk operasi,
terapi radiasi, dan kemoterapi.

1. Terapi Pembedahan (Surgical Therapy)

Bedah adalah yang paling umum untuk perawatan jaringan lunak


tumors. Jika memungkinkan, dokter akan menghapus kanker dan
margin yang aman dari jaringan sehat di sekitarnya. Penting untuk
mendapatkan margin bebas tumor untuk mengurangi kemungkinan
kambuh lokal dan memberikan yang terbaik bagi pembasmian dari
tumor. Tergantung pada ukuran dan lokasi dari tumor, mungkin, jarang
sekali, diperlukan untuk menghapus semua atau bagian dari lengan
atau kaki.

2. Terapi radiasi

Terapi radiasi dapat digunakan untuk operasi baik sebelum atau


setelah shrink Tumor operasi apapun untuk membunuh sel kanker
yang mungkin tertinggal. Dalam beberapa kasus, dapat digunakan
untuk merawat tumor yang tidak dapat dilakukan pembedahan. Dalam
beberapa studi, terapi radiasi telah ditemukan untuk memperbaiki
tingkat lokal, tetapi belum ada yang berpengaruh pada keseluruhan
hidup.

3. Kemoterapi

Kemoterapi dapat digunakan dengan terapi radiasi, baik sebelum atau


sesudah operasi untuk mencoba bersembunyi di setiap tumor atau
membunuh sel kanker yang tersisa. Penggunaan kemoterapi untuk
mencegah penyebaran jaringan lunak tumors belum membuktikan
untuk lebih efektif. Jika kanker telah menyebar ke area lain dari tubuh,
kemoterapi dapat digunakan untuk Shrink Tumors dan mengurangi
rasa sakit dan menyebabkan kegelisahan mereka, tetapi tidak mungkin
untuk membasmi penyakit.

G. Preoperatif

Keperawatan preoperatif merupakan tahapan awal dari keperawatan


perioperatif. Kesuksesan tindakan pembedahan secara keseluruhan sangat
tergantung pada fase ini. Hal ini disebabkan fase ini merupakan awalan yang
menjadi landasan untuk kesuksesan tahapan-tahapan berikutnya. Kesalahan
yang dilakukan pada tahap ini akan berakibat fatal pada tahap berikutnya.
Pengakajian secara integral dari fungsi pasien meliputi fungsi fisik biologis
dan psikologis sangat diperlukan untuk keberhasilan dan kesuksesan suatu
operasi.

a) Riwayat Keperawatan Bedah

Pembedahan merupakan cara dokter untuk mengobati


kondisi yang sulit atau tidak mungkin disembuhkan hanya dengan
obat – obatan sederhana. Pada awalnya dokter bedah hanya
memiliki sedikit pengetahuan tentang prinsip – prinsip aseptik dan
teknik anastesi masih sangat primitif serta tidak aman bagi klien.

Perkembangan juga terjadi pada pengaturan tempat untuk


dilaksanakannya prosedur operasi. Bedah sehari (ambulatory
surgery) atau pembedahan tanpa rawat inap (outpatient surgery)
merupakan pelayanan asuhan kesehatan yang berkembang cepat
baik dari segi jumlah maupun jens prosedur yang dilakukan. Bedah
sehari adalah prosedur bedah yang telah dijadwalkan untuk klien
yang tidak perlu menginap di rumah sakit seperti biopsi, bedah
kosmetik, dan ekstraksi katarak. Selain itu, ada juga program bedah
pada hari yang sama (same-day surgery) yaitu klien datang pada
pagi hari, menjalani prosedur pembedahan dan menginap satu
malam selama pemulihan sebelum klien pulang.

Program bedah sehari (ambulatory surgery) dan bedah pada


hari yang sama (same-day surgery), memberikan tantangan
tersendiri bagi perawat bedah. Sebelum pembedahan, perawat
harus menemukan cara yang kreatif untuk memberikan penyuluhan
pada klien dan anggota keluarga karena waktu persiapan jauh lebih
singkat sehingga perawat harus melakukan pengkajian lengkap
secara efisien.

b) Klasifikasi Pembedahan

Klasifikasi pembedahan dikelompokkan berdasarkan


beberapa tingkat, yaitu berdasarkan tingkat keseriusan,
tingkat urgensi dan tujuan pembedahan. Tiga kelompok
tersebut dapat digolongkan seperti tabel dibawah ini :

Tingkat Jenis Deskripsi Contoh


Keseriusan Mayor Melibatkan rekonstruksi atau Bypass arteri koroner,
perubahan yang luas pada reseksi kolon,
bagian tubuh; menimbulkan pengangkatan laring,
risiko yang tinggi bagi reseksi lobus paru.
kesehatan
Minor Melibatkan perubahan yang Ekstraksi katarak,
kecil pada bagian tubuh; sering operasi plastik wajah,
dilakukan untuk memperbaiki ekstraksi gigi.
deformitas; mengandung risiko
yang lebih rendah
dibandingkan dengan prosedur
mayor.
Elektif Dilakukan berdasarkan pada Bunionektomi, operasi
pilihan klien; tidak penting dan plastik wajah, perbaikan
tidak dibutuhkan kesehatan hernia, rekonstruksi
payudara
Gawat Perlu untuk kesehatan klien, Eksisi tumor ganas,
dapat mencegah timbulnya pengangkatan batu
masalah tambahan (misal : kandung empedu,
Urgensi destriksi jaringan atau fungsi perbaikan vaskular
organ yang terganggu); tidak akibat obstruksi arteri
harus selau bersifat darurat (misal : bypass arteri
koroner)
Darurat Harus dilakukan segera untuk Memperbaiki perforasi
menyelamatkan jiwa atau appendiks; amputasi
mempertahankan fungsi bagian traumatik, mengontrol
tubuh perdarahan internal
Diagnostik Bedah eksplorasi untuk Laparotomi eksplorasi
memperkuat diagnosis dokter; (insisi rongga peritoneal
termasuk pengangkatan untuk menginspeksi
jaringan untuk pemeriksaan organ abdomen), biopsi
diagnostik yang lebih lanjut massa payudara
Ablatif Eksisi atau pengangkatan Amputasi, pengangkatan
bagian tubuh yang menderita appendiks,
penyakit kolesistekomi
Paliatif Menghilangkan atau Kolostomi, debridemen
mengurangi intensitas gejala jaringan nekrotik,
penyakit; tidak akan reseksi serabut saraf
meyembuhkan penyakit
Tujuan
Rekonstruktif Mengembalikan fungsi atau Fiksasi internal pada
penampilan jaringan yang fraktur, perbaikan
mengalami trauma atau jaringan parut
malfungsi
Transplantasi Dilakukan untuk mengganti Transplantasi ginjal,
organ atau struktur yang kornea, atau hati;
mengalami malfungsi penggantian pinggul
total
Konstruktif Mengembalikan fungsi yang Memperbaiki bibir
hilang atau berkurang akibat sumbing, penutupan
anomali kongenital defek katup atrium
jantung
c) Fase Pembedahan Preoperatif

1. Persiapan Fisik

Berbagai persiapan fisik yang harus dilakukan terhadap pasien


sebelum operasi antara lain :

a. Status kesehatan fisik secara umum

Pemeriksaan status kesehatan secara umum meliputi


identitas klien, riwayat penyakit, riwayat kesehatan
keluarga, pemeriksaan fisik lengkap; antara lain status
hemodinamika, status kardiovaskuler, status
pernafasan, fungsi ginjal dan hepatik, fungsi endokrin
dan fungsi imunologi. Selain itu pasien harus istirahat
yang cukup karena pasien tidak akan mengalami stres
fisik dan tubuh lebih rileks sehingga bagi pasien yang
memiliki riwayat hipertensi, tekanan darah pasien dapat
stabil serta bagi pasien wanita tidak akan memicu
terjadinya haid lebih awal.

b. Status Nutrisi

Kebutuhan nutrisi ditentukan dengan mengukur tinggi


badan dan berat badan, lipat kulit trisep, lingkar lengan
atas, kadar protein darah (albumin dan globulin) dan
keseimbangan nitrogen. Segala bentuk defisiensi nutrisi
harus dikoreksi sebelum pembedahan untuk
memberikan protein yang cukup bagi perbaikan
jaringan. Segala bentuk defisiensi nutrisi harus
dikoreks sebelum pembedahan untuk memberikan
protein yang cukup untuk perbaikan.

Protein sangat penting untuk mengganti massa otot


tubuh selama fase katabolik setelah pembedahan,
memulihkan volume darah dan protein plasma yang
hilang, dan untuk memenuhi kebutuhan yang
meningkat untuk perbaikan jaringan dan daya tahan
terhadao infeksi.

Kondisi gizi buruk dapat mengakibatkan pasien


mengalami berbagai komplikasi pasca operasi dan
mengakibatkan pasien menjadi lebih lama dirawat di
rumah sakit. Komplikasi yang paling sering terjadi
adalah infeksi pasca operasi, dehisiensi (terlepasnya
jahitan sehingga luka tidak bisa menyatu), demam dan
penyembuhan luka yang lama. Pada kondisi yang serius
pasien dapat mengalami sepsis yang bisa
mengakibatkan kematian.

c. Keseimbangan cairan dan elektrolit

Keseimbangan cairan dan elektrolit perlu diperhatikan


dalam kaitannya dengan input dan output cairan.
Demikian juga kadar elektrolit serum harus berada
dalam rentang normal. Kadar elektrolit yang biasanya
diperiksa adalah kadar natrium serum (normal : 135 –
145 mmol/l), kadar kalium serum (normal : 3,5 – 5
mmol/l) dan kadar kreatinin serum (0,70 – 1,50 mg/dl).
Keseimbangan cairan dan elektrolit berkaitan erat
dengan fungsi ginjal. Ginjal berfungsi mengatur
mekanisme asam basa dan ekskresi metabolit obat-
obatan anastesi. Jika fungsi ginjal baik maka operasi
dapat dilakukan dengan baik. Namun jika ginjal
mengalami gangguan seperti oliguri atau anuria,
insufisiensi renal akut, nefritis akut maka operasi harus
ditunda menunggu perbaikan fungsi ginjal, kecuali
pada kasus-kasus yang mengancam jiwa.

d. Kebersihan lambung dan kolon

Lambung dan kolon harus dibersihkan terlebih dahulu.


Intervensi keperawatan yang bisa diberikan diantaranya
adalah pasien dipuasakan dan dilakukan tindakan
pengosongan lambung dan kolon dengan tindakan
enema atau lavement. Lamanya puasa berkisar antara 7
– 8 jam. Tujuan pengosongan lambung dan kolon
adalah untuk menghindari aspirasi (masuknya cairan
lambung ke paru-paru) dan menghindari kontaminasi
feses ke area pembedahan sehingga menghindarkan
terjadi infeksi pasca pembedahan. Khusus pada pasien
yang menbutuhkan operasi CITO (segera) seperti pada
pasien kecelakaan lalu lintas, pengosongan lambung
dapat dilakukan dengan cara pemasangan NGT (naso
gastric tube).

e. Personal Hygine

Kebersihan tubuh pasien sangat penting untuk


persiapan operasi karena tubuh yang kotor dapat
menjadi sumber kuman dan mengakibatkan infeksi
pada daerah yang dioperasi. Pada pasien yang kondisi
fisiknya kuat diajurkan untuk mandi sendiri dan
membersihkan daerah operasi dengan lebih seksama.
Sebaliknya, jika pasien tidak mampu memenuhi
kebutuhan personal hygiene secara mandiri maka
perawat akan memberikan bantuan pemenuhan
kebutuhan personal hygiene.

f. Pengosongan kandung kemih

Pengosongan kandung kemih dilakukan dengan


melakukan pemasangan kateter. Selain untuk
pengosongan isi bladder tindakan kateterisasi juga
diperlukan untuk mengobservasi keseimbangan cairan.

g. Latihan Fisik

Berbagai latihan sangat diperlukan pada pasien


sebelum operasi, hal ini sangat penting sebagai
persiapan pasien dalam menghadapi kondisi
pascaoperasi, seperti nyeri daerah operasi, batuk dan
banyak lendir pada tenggorokan. Latihan yang
diberikan pada pasien sebelum operasi antara lain
latihan nafas dalam, latihan batuk efektif dan latihan
gerak sendi.

h. Perubahan posisi dan gerakan tubuh aktif

Tujuannya adalah untuk memperbaiki sirkulasi,


mencegah statis vena, dan menunjang fungsi
pernafasan yang optimal. Pasien ditunjukkan
bagaimana cara untuk berbalik dari satu sisi ke sisi
lainnya dan cara untuk mengambil posisi lateral.
Latihan ekstremitas meliputi ekstensi dan fleksi lutut
dan sendi panggul, telapak kaki diputar seperti
membuat lingkaran sebesar mungkin menggunakan ibu
jari kaki. Siku dan bahu dilatih untuk ROM.

i. Kontrol dan medikasi nyeri


Medikasi praanestesi akan diberikan untuk
meningkatkan relaksasi. Pada pascaoperatif, medikasi
akan diberikan untuk mengurangi nyeri dan
mempertahankan rasa nyaman.

j. Latihan nafas dalam dan batuk

Salah satu tujuan dari asuhan keperawatan praoperatif


adalah untuk mengajarkan pada pasien mengenai cara
untuk meningkatkan ventilasi paru dan oksigenasi
darah setelah anastesi umum.

k. Pernafasan Diafragmatik

Pernafasan diafragmatik mengacu pada pendataran


diafragma selama inspirasi dengan mengakibatkan
pembesaran abdomen bagian atas sejalan dengan
desakan udara masuk. selam ekspirasi otot abdomen
berkontraksi.

l. Kontrol kognitif

Bermanfaat untuk menghilangkan ketegangan dan


ansietas yang berlebihan. Kontrol kognitif tersebut
seperti : imajinasi dan distraksi. Pada kontrol kognitif
imajinasi, pasien dianjurkan untuk berkonsentrasi pada
pengalaman yang menyenangkan. Sedangkan kontrol
kognitif distraksi, pasien dianjurkan untuk memikirkan
cerita yang dapat dinikmati.

2. Persiapan Penunjang
Persiapan penunjang merupakan bagian yang tidak dapat
dipisahkan dari tindakan pembedahan. Tanpa adanya hasil
pemeriksaan penunjang, maka dokter bedah tidak mungkin
bisa menentukan tindakan operasi yang harus dilakukan pada
pasien.

Pemeriksaan penunjang yang dimaksud adalah berbagai


pemeriksaan radiologi, laboratorium maupun pemeriksaan lain
seperti ECG. Sebelum dokter mengambil keputusan untuk
melakukan operasi pada pasien, dokter melakukan berbagai
pemeriksaan terkait dengan keluhan penyakit pasien sehingga
dokter bisa menyimpulkan penyakit yang diderita pasien.
Setelah dokter bedah memutuskan untuk dilakukan operasi
maka dokter anastesi berperan menentukan apakah kondisi
pasien layak menjalani operasi. Untuk itu dokter anastesi juga
memerlukan berbagai macam pemeriksaan laboratorium
terutama pemeriksaan masa perdarahan (bledding time) dan
masa pembekuan (clotting time) darah pasien, elektrolit serum,
hemoglobin, protein darah, dan hasil pemeriksaan radiologi
berupa foto thoraks dan ECG.

Pemeriksaan penunjang antara lain :

1. Pemeriksaan Radiologi dan diagnostik, seperti : Foto


thoraks, abdomen, foto tulang (daerah fraktur), USG
(Ultra Sono Grafi), CT scan (Computerized Tomography
Scan), MRI (Magnrtic Resonance Imagine), BNO-IVP,
Renogram, Cystoscopy, Mammografi, CIL (Colon in
Loop), ECG (Electro Cardio Graphy), ECHO, EEG
(Electro Enchephalo Graphy), dll.
2. Pemeriksaan Laboratorium berupa pemeriksan darah :
hemoglobin, angka leukosit, limfosit, LED (laju endap
darah), jumlah trombosit, protein total (albumin dan
globulin), elektrolit (kalium, natrium, dan chlorida), CT
BT, ureum kretinin, BUN, dll. Bisa juga dilakukan
pemeriksaan pada sumsun tulang jika penyakit terkait
dengan kelainan darah.

3. Biopsi, yaitu tindakan sebelum operasi berupa


pengambilan bahan jaringan tubuh untuk memastikan
penyakit pasien sebelum operasi. Biopsi biasanya
dilakukan untuk memastikan apakah ada tumor
ganas/jinak atau hanya berupa infeksi kronis saja.

4. Pemeriksaan Kadar Gula Darah (KGD), untuk mengetahui


apakah kadar gula darah pasien dalan rentang normal atau
tidak. Uji KGD biasanya dilakukan dengan puasa 10 jam
(puasa jam 10 malam dan diambil darah jam 8 pagi) dan
juga dilakukan pemeriksaan KGD 2 jam PP (ppst
prandial).

3. Persiapan Psikis (Mental)

Persiapan mental merupakan hal yang tidak kalah pentingnya


dalam proses persiapan operasi karena mental pasien yang
tidak siap atau labil dapat berpengaruh terhadap kondisi
fisiknya.

Tindakan pembedahan merupakan ancaman potensial maupun


aktual pada integritas seseorang yang dapat membangkitkan
reaksi stres fisiologis maupun psikologis (Barbara C. Long).
Contoh perubahan fisiologis yang muncul akibat
kecemasan/ketakutan antara lain, pasien dengan riwayat
hipertensi jika mengalami kecemasan sebelum operasi dapat
mengakibatkan pasien sulit tidur dan tekanan darahnya akan
meningkat sehingga operasi bisa dibatalkan.
Setiap orang mempunyai pandangan yang berbeda dalam
menghadapi pengalaman operasi sehingga akan memberikan
respon yang berbeda pula. Akan tetapi, sesungguhnya perasaan
takut dan cemas selalu dialami setiap orang dalam menghadapi
pembedahan. Berbagai alasan yang dapat menyebabkan
ketakutan/kecemasan pasien dalam menghadapi pembedahan
antara lain :

1. Takut nyeri setelah pembedahan


2. Takut terjadi perubahan fisik, menjadi buruk rupa
dan tidak berfungsi normal (body image)
3. Takut keganasan (bila diagnosa yang ditegakkan
belum pasti)
4. Takut/cemas mengalami kondisi yang dama dengan
orang lan yang mempunyai penyakit yang sama.
5. Takut/ngeri menghadapi ruang operasi, peralatan
pembedahan dan petugas.
6. Takut mati saat dibius/tidak sadar lagi.
7. Takut operasi gagal.

Persiapan mental yang kurang memadai dapat mempengaruhi


pengambilan keputusan pasien dan keluarga, sehingga tidak
jarang pasien menolak operasi yang sebelumnya telah disetujui
dan biasanya pasien pulang tanpa operasi dan beberapa hari
kemudian datang lagi ke rumah sakit setalah merasa sudah
siap. Hal ini berarti telah menunda operasi yang mestinya
sudah dilakukan beberapa hari/minggu yang lalu.

Oleh karena itu persiapan mental pasien menjadi hal yang


penting untuk diperhatikan dan didukung oleh keluarga/orang
terdekat pasien. Persiapan mental dapat dilakukan dengan
bantuan keluarga dan perawat. Kehadiran dan keterlibatan
keluarga sangat mendukung persiapan mental pasien. Keluarga
hanya perlu mendampingi pasien sebelum operasi,
memberikan doa dan dukungan pasien dengan kata-kata yang
menenangkan hati pasien dan meneguhkan keputusan pasien
untuk menjalani operasi.

ASUHAN KEPERAWATAN SOFT TISSUE TUMOR ( STT )

A. PENGKAJIAN
1. Data klien
2. Riwayat penyakit
3. Faktor resiko
4. Pemeriksaan fisik dan lab
5. Pola hidup sehari hari :
- Kebutuhan nutrisi
- Eliminasi
- Personal hyiegene

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
a. Pre operasi
Cemas berhubungan dengan kurang pengetahuan dan hospitalisasi
b. Post operasi
Nyeri akut berhubungan dengan agens injuri fisik
Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan factor mekanik

C. PERENCANAAN
a. Pre operasi
Cemas berhubungan dengan kurang pengetahuan dan hospitalisasi

Kecemasan NOC : NIC :


berhubungan - Kontrol kecemasan Anxiety Reduction
dengan - Koping (penurunan
Faktor keturunan, Krisis Setelah dilakukan asuhan kecemasan)
situasional, Stress, selama ……………klien · Gunakan pendekatan yang
perubahan kecemasan teratasi dgn menenangkan
status kesehatan, kriteria hasil: · Nyatakan dengan jelas
ancaman  Klien mampu harapan
kematian, perubahan mengidentifikasi dan terhadap pelaku pasien
konsep mengungkapkan gejala · Jelaskan semua prosedur
diri, kurang pengetahuan cemas dan apa
dan  Mengidentifikasi, yang dirasakan selama
hospitalisasi mengungkapkan dan prosedur
DO/DS: menunjukkan tehnik · Temani pasien untuk
- Insomnia untuk mengontol memberikan
- Kontak mata kurang cemas keamanan dan mengurangi
- Kurang istirahat  Vital sign dalam batas takut
- Berfokus pada diri normal · Berikan informasi faktual
sendiri  Postur tubuh, ekspresi mengenai
- Iritabilitas wajah, bahasa tubuh diagnosis, tindakan prognosis
- Takut dan tingkat aktivitas · Libatkan keluarga untuk
- Nyeri perut menunjukkan mendampingi klien
- Penurunan TD dan berkurangnya · Instruksikan pada pasien
denyut kecemasan untuk
nadi menggunakan tehnik relaksasi
- Diare, mual, kelelahan · Dengarkan dengan penuh
- Gangguan tidur perhatian
- Gemetar · Identifikasi tingkat
- Anoreksia, mulut kering kecemasan
- Peningkatan TD, denyut · Bantu pasien mengenal
nadi, RR situasi yang
- Kesulitan bernafas menimbulkan kecemasan
- Bingung · Dorong pasien untuk
- Bloking dalam mengungkapkan perasaan,
pembicaraan ketakutan,
- Sulit berkonsentrasi persepsi
· Kelola pemberian obat anti
cemas:........
Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan factor mekanik
Kerusakan integritas NOC : NIC : Pressure
kulit Tissue Integrity : Skin Management
berhubungan dengan : and  Anjurkan pasien untuk
Eksternal : Mucous Membranes menggunakan
- Hipertermia atau Hemodyalis akses pakaian yang longgar
hipotermia Setelah dilakukan Hindari kerutan pada
- Substansi kimia tindakan tempat tidur
- Kelembaban keperawatan selama…..  Jaga kebersihan kulit
- Faktor mekanik kerusakan integritas kulit agar tetap bersih
(misalnya : pasien teratasi dengan dan kering
alat yang dapat kriteria hasil: Mobilisasi pasien (ubah
menimbulkan luka,  Integritas posisi pasien)
tekanan, restraint) kulit yang baik bisa setiap dua jam sekali
- Immobilitas fisik dipertahankan Monitor kulit akan
- Radiasi (sensasi, elastisitas, adanya kemerahan
- Usia yang ekstrim temperatur, hidrasi, Oleskan lotion atau
- Kelembaban kulit pigmentasi) minyak/baby oil pada
- Obat-obatan  Tidak ada derah yang tertekan
Internal : luka/lesi pada kulit Monitor aktivitas dan
- Perubahan status  Perfusi mobilisasi pasien
metabolik jaringan baik Monitor status nutrisi
- Tonjolan tulang  Menunjukka pasien
- Defisit imunologi n pemahaman dalam Memandikan pasien
- Berhubungan dengan proses perbaikan kulit dengan sabun dan air
dengan perkembangan dan mencegah Hangat
- Perubahan sensasi terjadinya sedera Insision site care
- Perubahan status nutrisi berulang  Kaji lingkungan dan
(obesitas, kekurusan)  Mampu peralatan yang
- Perubahan status cairan melindungi kulit dan menyebabkan tekanan
- Perubahan pigmentasi mempertahankan Observasi luka : lokasi,
- Perubahan sirkulasi kelembaban kulit dan dimensi,
- Perubahan turgor perawatan alami kedalaman luka,
(elastisitas kulit)  Menunjukka karakteristik,warna
DO: n terjadinya proses cairan, granulasi, jaringan
- Gangguan pada bagian penyembuhan luka nekrotik, tandatanda
tubuh infeksi lokal, formasi
- Kerusakan lapisa kulit traktus
(dermis)  Ajarkan pada keluarga
- Gangguan permukaan tentang luka dan
kulit perawatan luka
(epidermis)  Kolaburasi ahli gizi
pemberian diae TKTP,
vitamin
Cegah kontaminasi
feses dan urin
 Lakukan tehnik
perawatan luka dengan
steril
 Berikan posisi yang
mengurangi tekanan
pada luka

DAFTAR PUSTAKA

Closkey ,Joane C. Mc, Gloria M. Bulechek.(1996). Nursing Interventions


Classification (NIC). St. Louis :Mosby Year-Book
Johnson,Marion, dkk. (2000). Nursing Outcome Classifications (NOC). St.
Louis :Mosby Year-Book

Herdman, T.Heather. (2012). Nanda Internasional Diagnosa Keperawatan Definisi


dan Klasifikasi. Jakarta.EGC.

Kamazu,Dhevo.(2011).Soft Tissue Tumor.


(https://doktermaya.wordpress.com/2011/12/10/soft-tissu-tumor/) diakses
melalui internet tanggal 4 Desember 2014

Sari,Dwita. (2014) Asuhan Keperawatan pada Pasien Soft Tissu Tumor.


(http://dwitasari37.blogspot.com/2014/05/asuhan-kerawatan-dan-akep-
kelolaan-pada.html) diakses melalui internet tanggal 4 Desember 2014

Anda mungkin juga menyukai