Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN RESMI

PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI

BAB VIII

SENSITIFITAS DAN POTENSI ANTIBIOTIK

DI SUSUN OLEH :
DINAR ARUMSARI ( A1171007 )
KelompokIV :
1. Ade Irma Rikka F (A1171001)
2. Bella Apriliani (A1171005)
3. Dinar Arumsari (A1171007)
4. DiniAnggrahini (A1171008)
5. Nita oktavia sari (A1171018)

PROGRAM D3 FARMASI
AKADEMI FARMASI “NUSAPUTERA”
2018

I. TUJUAN
1. Mahasiswa mengetahui cara pengujian sensitivitas suatu antibiotic terhadap
bakteri.
2. Mahasiswa mengetahui potensi suatu antibiotika yang digunakan untuk
membunuh mikroba
3. Mahasiswa mengetahui cara-cara pengukuran dalam penentuan potensi
antibiotika.

II. DASAR TEORI

Uji sentifitas bakteri merupakan suatu metode untuk menentukan tingkat kerentanan
bakteri terhadap zat antibakteri dan untuk mengetahui senyawa murni yang memiliki aktivitas
antibakteri. Metode Uji sensitivitas bakteri adalah metode cara bagaimana mengetahui dan
mendapatkan produk alam yang berpotensi sebagai bahan anti bakteri serta mempunyai
kemampuan untuk menghambat pertumbuhan atau mematikan bakteri pada konsentrasi yang
rendah. Uji sentivitas bakteri merupakan suatu metode untuk menentukan tingkat kerentanan
bakteri terhadap zat antibakteri dan untuk mengetahui senyawa murni yang memiliki aktivitas
antibakteri. Seorang ilmuan dari perancis menyatakan bahwa metode difusi agar dari prosedur
Kirby-Bauer, sering digunakan untuk mengetahui sensitivitas bakteri. Prinsip dari metode ini
adalah penghambatan terhadap pertumbuhan mikroorganisme, yaitu zona hambatan akan terlihat
sebagai daerah jernih di sekitar cakram kertas yang mengandung zat antibakteri. Diameter zona
hambatan pertumbuhan bakteri menunjukkan sensitivitas bakteri terhadap zat antibakteri.
Selanjutnya dikatakan bahwa semakin lebar diameter zona hambatan yang terbentuk bakteri
tersebut semakin sensitif (Waluyo, 2008).
Sensitivitas adalah suatu keadaan dimana mikroba sangat peka terhadap antibiotik atau
sensitivitas adalah kepekaan suatu antibiotik yang masih baik untuk memberikan daya hambat
terhadap mikroba. Uji sensitivitas terhadap suatu antimikroba untuk dapat menunjukkan pada
kondisi yang sesuai dengan efek daya hambatnya terhadap mikroba. Suatu penurunan aktivitas
antimikroba akan dapat menunjukkan perubahan kecil yang tidak dapat ditunjukkan oleh metode
kimia, sehingga pengujian secara mikrobiologis dan biologi dilakukan. Biasanya metode
merupakan standar untuk mengatasi keraguan tentang kemungkinan hilangnya aktivitas
antimikroba (Djide, 2008).
Intermediet adalah suatu keadaan dimana terjadi pergeseran dari keadaan sensitif ke
keadaan yang resisten tetapi tidak resisten sepenuhnya. Sedangkan resisten adalah suatu keadaan
dimana mikroba sudah peka atau sudah kebal terhadap antibiotik (Djide, 2008).
Resisten adalah ketahan suatu mikroorganisme terhadap suatu anti mikroba atau
antibiotik tertentu. Resisten dapat berupa resisten alamiah, resisten karena adaya mutasi spontan
(resisten kromonal) dan resisten karena terjadinya pemindahan gen yang resisten (resistensi
ekstrakrosomal) atau dapat dikatakan bahwa suatu mikroorganisme dapat resisten terhadap obat-
obat antimikroba, karena mekanisme genetik atau non-genetik (Djide, 2008).
Penyebab terjadiya resisten terhadap mikroorganisme adalah penggunaan antibiotik yang
tidak tepat, misalnya penggunaan dengan dosis yang tidak memadai, pemakaian yang tidak
teratur, demikian juga waktu pengobatan yang tidak cukup lama, sehingga untuk mencegah atau
memperlambat terjadinya resisten tersebut, maka cara pemakaian antibiotik perlu diperhatikan
(Djide, 2008).
Zona Hambat merupakan tempat dimana bakteri terhambat pertumbuhannya akibat
antibakteri atau antimikroba. Zona hambat adalah daerah untuk menghambat pertumbuhan
mikroorrganisme pada media agar oleh antibiotik. Contohnya: Tetracycline, Erytromycin, dan
Streptomycin. Tetracycline merupakan antibiotik yang memiliki spektrum yang luas sehingga
dapat menghambat pertumbuhan bakteri secara luas (Djide, 2008).
► Medium BHIB Dan Medium MHA
a) Medium Mueller Hinton Agar (MHA)
Medium Mueller Hinton Agar (MHA) merupakan medium tempat hidup dan
berkembangbiaknya suatu bakteri. Adapun kandungan dari MHA adalah pepton (6 g),
kasein (17,5 g), pati (1,5 g) dan agar (10 g). Semua kandungan tersebut dilarutkan dalam 1
liter air (Fadhlan, 2010).
b) Medium Brain Heart Infusion Broth (BHIB)
Medium Brain Heart Infusion Broth (BHIB) adalah media penyubur yang berguna untuk
pertumbuhan berbagai macam bakteri baik bentuk cair maupun agar. Bahan utama terdiri
dari beberapa jaringan hewan ditambah pepton, Buffer posfat dan sedikit dekstrosa.
Penambahan karbohidrat memungkinkan bakteri dapat menggunakan langsung sebagai
sumber energi (Fadhlan, 2010).

► Antibiotik
Kegiatan antibiotik untuk pertama kalinya ditemukan oleh sarjana Inggris dr. Alexander
Flemming pada tahun 1928 (penisilin). Penemuan ini baru dikembangkan dan dipergunakan
dalam terapi di tahun 1941 oleh dr.Florey (Oxford) yang kemudian banyak zat lain dengan
khasiat antibiotik diisolir oleh penyelidik-penyelidik di seluruh dunia, akan tetapi berhubung
dengan sifat toksisnya hanya beberapa saja yang dapat digunakan sebagai obat (Suwandi, 2003).
Antibiotik merupakan zat kimia yang dihasilkan mikroorganisme yang dalam jumlah
amat kecil atau rendah bersifat merusak atau menghambat mikroorganisme lain. Antibiotik
mempunyai nilai ekonomi yang tinggi terutama di bidang kesehatan, karena kegunaanya dalam
mengobati berbagai penyakit infeksi. Adanya penemuan antibiotik-antibiotik baru sangat
dibutuhkan dalam bidang kedokteran karena banyak kuman yang telah resisten terhadap
antibiotik-antibiotik yang sudah ada. Untuk itu perlu dilakukan penelitian eksplorasi untuk
mendapatkan isolasi bakteri yang dapat menghasilkan antibiotik. Antibiotik banyak dihasilkan
oleh alga, lichen, tumbuhan tingkat tinggi, hewan tingkat rendah, vertebrata dan mikroorganisme
(Suwandi, 2003).
Antibiotik sering digunakan untuk mengobati berbagai penyakit infeksi bakterial. Dalam
melakukan terapi dengan menggunakan antibiotik guna penanggulangan penyakit infeksi
bakterial, kadang diperlukan pemeriksaan kepekaan (tes sensitivitas) kuman terhadap antibiotik
yang tersedia, karena pada masa kini telah banyak ditemukan kuman yang resisten terhadap
antibiotik (Waluyo, 2008).
Obat-obat antimikroba efektif dalam pengobatan infeksi karena toksisitas selektifnya.
Kemampuan obat tersebut membunuh mikroorganisme yang menginvasi pejamu tanpa merusak
sel. Pada kebanyakan kasus, toksisitas lebih relatif dari pada absolut, yang memerlukan kontrol
konsentrasi obat secara hati-hati untuk menyerang mikroorganisme sehingga dapat ditolerir oleh
tubuh. Terapi antimikroba selektif mempunyai keuntungan dengan adanya perbedaan biokimia
yang timbul antara mikroorganisme dan manusia (Suwandi, 2003).
Menurut Waluyo (2008), pemeriksaan kepekaan kuman terhadap antibiotika dilakukan
dengan :
a. Cara Cakram (Disc Method), menggunakan cakram kertas saring yang mengandung
antibiotika/bahan kimia lain dengan kadar tertentu yang diletakkan di atas lempeng agar yang
ditanami kuman yang akan diperiksa, kemudian di inkubasi. Apabila tampak adanya zona
hambatan pertumbuhan kuman di sekeliling cakram antibiotik, maka kuman yang diperiksa
sensitif terhadap antibiotik tersebut. Cara ini disebut juga cara difusi agar, yang lazim dilakukan
adalah cara Kirby-Bauer.
b. Cara Tabung (Tube Dilution Method), membuat penipisan antibiotik pada sederetan tabung
reaksi yang berisi perbenihan cair. Ke dalam tabung-tabung tersebut dimasukkan kuman yang
akan diperiksa dengan jumlah tertentu dan kemudian dieram. Dengan cara ini akan diketahui
konsentrasi terendah antibiotik yang menghambat pertumbuhan kuman yang disebut Konsentrasi
Hambat Minimal (KHM) atau Minimal Inhibitory Concentration (MIC).
c. Cara penipisan seri agar lempeng. Pada umumnya cara ini hampir sama dengan cara tabung atau
penipisan kaldu
d. pepton, perbedaannya terletak pada media yang digunakan yaitu pada cara ini menggunakan
media padat. Kelemahan cara ini adalah tidak dapat digunakan untuk semua jenis bakteri. Untuk
beberapa bakteri tertentu seperti bakteri yang membentuk koloni yang sangat halus dalam media
agar kaldu pepton (contoh : Streptococcus) atau bakteri yang akan menyebar pertumbuhannya
dalam media padat (contoh : Proteus)cara ini tidak dapat digunakan.
►Eschericia coli
Escherichia coli merupakan bakteri patogen utama infeksi pada pasien rawat jalan
maupun rawat inap. Sekitar 85% penyebab ISK (Infeksi Saluran Kemih) dan sekitar 50% infeksi
nosokomkial di masyarakat penyebabnya adalah Escherichia coli. Berdasarkan data pola kuman
dan resistensi dari isolat urin pada 3 tempat berbeda di Indonesia yaitu Jakarta (Bagian
Mikrobiologi & Bagian Patologi Klinik FKUI-RSCM), Bandung (Bagian Patologi Klinik Sub
Bagian Mikrobiologi RS Hasan Sadikin) dan Surabaya (Bagian Mikrobiologi RS Soetomo),
jumlah kuman yang didapat dari periode 2002-2004, infeksi oleh Escherichia coli merupakan
yang terbanyak ditemukan yaitu sebanyak 34,85% diikuti dengan Klebsiella sp (16,63%) dan
Pseudomonas sp (14,95%) (Alke, 2012).
►Staphylococcus aureus
Staphylococcus aureus adalah flora normal tubuh manusia yang habitatnya di hidung,
tenggorok dan kulit orang sehat. Infeksi S.aureus baik di rumah sakit maupun di komunitas
diduga terkait dengan adanya kolonisasi hitung koloni bakteri S.aureus pada tubuh penderita
sebagai sumber utama, sehingga dapat terjadi infeksi oportunistik pada diri penderita sendiri atau
terjadi transmisi pada penderita lain. Saat ini penanganan infeksi khususnya oleh bakteri S.
aureus masih menggunakan antibiotik pilihan jenis β-laktam, makrolida, cephalosporin dan
quinolon serta derivatnya. Akan tetapi bakteri S. aureus telah mampu memproduksi strain
resisten terhadap obat pilihan yang telah ada, yaitu strain Methicillin Resistant Staphylococcus
aureus (MRSA). Beberapa penyakit infeksi yang disebabkan oleh S. Aureus adalah bisul,
jerawat, impetigo dan infeksi luka. Infeksi yang lebih berat diantaranya pneumonia, mastitis,
plebitis, meningitis, infeksi saluran kemih, osteomielitis dan endokarditis (Dewi, dkk., 2011).

►Pencegahan
a) E. coli
Menurut Alke (2012), untuk menghindari supaya tidak tertular E. coli, cara pencegahan
yang dapat dilakukan yaitu :
1. Pemberian air susu ibu (ASI) secara ekslusif, sampai umur 4-6 bulan. Pemberian ASI mepunyai
banyak keuntungan bagi bayi atau ibunya. Bayi yang mendapat ASI lebih sedikit dan lebih
ringan episode diarenya dan lebih rendah risiko kematiannya jika disbanding bayi yang
mendapat ASI. ASI mengandung antibodi yang melindungi bayi terhadap infeksi terutama diare,
yang tidak terdapat pada susu sapi atau formula.
2. Perilaku bersih, memersihkan dapur, mencuci tangan setelah menyentuh daging mentah, serta
membedakan pisau untuk memotong buah dan sayuran dengan daging mentah seperti daging
ayam atau ikan.
3. Mencuci tangan, mencuci tangan merupakan hal penting yang harus dilakukan terutama setelah
menggunakan kamar mandi dan menyentuh binatang, serta sebelum menyiapkan makanan.
Membilas tangan dengan air dan menggunakan sabun antiseptik akan membantu mengurangi
infeksi bakteri.
b) S. aureus
Bahan pangan terutama dalam kondisi mentah jika dibiarkan dalam suhu kamar terlalu
lama dapat menyebabkan perkembangan S. aureus dengan menghasilkan toksin. Salah satu usaha
pencegahan adalah dengan menjaga kebersihan makanan baik selama proses pembuatan atau saat
mengkonsumsi, dengan pemasakan yang benar dan sampai matang dan selam proses
menggunakan alat-alat steril (Dewi, dkk., 2011).
►Pengobatan
a) E. coli
E. coli terjadi karena banyaknya bakteri yang terdapat pada usus besar sehingga
menyebabkan terjadinya infeksi pada saluran pencernaan (diare). Cara penanganan dapat
dilakukan dengan pemberian obat spectinomycin, neomycin, kanamycin, amikacin, dan
gentamicin (Alke, 2012).
b) S. aureus
S. aureus terjadi karena adanya gangguan dari faktor lingkungan dan akhirnya
menyebabkan infeksi pada kulit dan menyebabkan luka. Infeksi kulit ringan biasanya diobati
denagn salep antibiotik seperti campuran triple-nonprescription antibiotik. Dalam beberapa
kasus antibiotik oral dapat diberikan untuk infeksi kulit. Infeksi yang lebih serius dapat diobati
dengan antibiotik Intravena (Dewi, dkk., 2011).

III. ALAT DAN BAHAN


Sensitivitas
Alat : Cawan petri, Inkubator, Tabung reaksi, Pinset
Bahan : Media Brain Heart (BHI A) atau Tryptic Soya Agar (TSA), cakram
antibiotic (antibiotic disc), staphylococcus aureus, Micrococcus luteus
Potensi
Alat :Cawan Petri, Ose, Cakram kertas, Jangka sorong, Tabung reaksi.
Bahan :Antibiotik uju (kapsul amoksisilin trihidrat), Antibiotik standar
(amoksisilin), staphylococcus aureus, Media cair : kaldu BHI (Brain Heart
infusion), Medium padat : base layer(lapisan dasar) =medium 2, penssay seed agar
(lapisan perbenihan)=medium 1, agar miring ; bahan pembantu : buffer fosfat Ph
8,0 , NaCl fisiologis.

IV. SEKEMA KERJA


1. Sensitivitas

Suspensikan bakteri uji dengan aquadest steril.

Tuangkan pada media BHI/TSA yang telah


cair bersuhu 45⁰C.

Buat lempeng cawan petri, biarkan media


memadat.
Letakan cakram antibiotik diatas lempeng
media, inkubasi pada suhu 37⁰C.

Amati terbentuknya daerah hambatan di skitar


cakram antibiotic.

2. Potensi
a. Pembuatan Inokulum

Menyediakan biakan kuman dalam agar


miring pada 37⁰C selama 10-24 jam.

Menyiapkan 4 buah tabung reaksi secara


berderet dan dilabel 10⁹, 10⁸,10⁷dan 10⁶.

Mengisi tabung dengan NaCl fisiologis,


tabung 10⁹ 2ml, tabung 10⁸,10⁷ dan 10⁶
masing masing 9 ml
Mengisi tabung 10⁹ dengan suspense kuman
menggunakan ose sesuai dengan Farland III,
mengkocoknya sampai homogen.

Mengambil tabung 10⁹ dan masukan pada


tabung 10⁸ mengkocoknya sampai homogen.

Mengambil 1ml tabung 10⁸ dan masukan pada


tabung 10⁷ mengkocoknya sampai homogen.

Mengambil 1ml dari 10 ⁷ dan masukan pada


tabung 10⁸, mengkocoknya sampai homogen.
Sampai memperoleh pengenceran 10x, 100x,
1000x (setara dengan 10⁶ kuman/ml).

b. Pembuatan larutan stok amiksisilin standar

Menimbang 5, 47 mg amoksisilin standar


larutkan dengan buffer fosfat labu uku 25 ml.
Menyediakan 1 labu ukuran 50 ml dan 2 labu
ukuran 25 ml,ambil 4,5 ml larutan encerkan
dengan larutan buffer pH 8,0 sampai volume
25ml,sehinga didapat konsentrasi .
9µ/ml(larutan s1)

Menyaring larutan dengan filter bakteri lalu


ambil 3ml larutan mengencerkan dengan
larutan dapar fosfat Ph 8,0 sampai volume 2,5
ml di dapat konsentrasi 12µg/ml (larutan s2)

Menyaring larutan dengan filter bakteri ambil


4ml larutan encerkan dengan larutan dapar
fosfat pH8,0 sampai 25 ml didapat konsentrasi
16µg/ml (larutan s3)

Saring larutan dengan filter bakteri


c. Pembuatan stok amoksisilin uji

Menimbang sampel yang akan diuji 5,0 mg


lalu larutkan dengan dapar fosfat pH8,0
hingga volume 50 ml.

Mengambil 2,5 m larutan mengencerkan


dengan larutan dapar fosfat pH8,0 volumenya
50 ml konsentrasinya 9µg/ml (larutan U1)

Menyaring larutan dengan filter bakteri

Mengambil 3ml larutan mengencerkan dengan


larutan dapar fosfat pH8,0 sampai volumenya
25ml konsentrasi 12µg/ml (larutan U2)

Menyaring larutan dengan filter bakteri

Mengambil 4 ml larutan mengencerkan


dengan larutan dapar fosfat pH8,0 volumenya
25 ml konsentrasi 16µg/ml (larutan U3)
Menyaring larutan dengan filter bakteri
d. Pembuatan lapisan dasar (base layer)

Menyiapkan 6 cawan petri steril isi setiap


cawan dengan 10 ml lapisan dasar

Meratakan lapisan agar menutupi seluruh


permukaan atas cawan petri dengan cara
memutar cawan petri ke kanan dan kekiri
dengan hati-hati diatas bidang rata-rata.

Biarkan beberapa saat hingga membeku.

e. Pembuatan lapisan pembenihan (seed layer)

Menyiapkan 6 tabung reaksi steril isi masing-


Stelah suhu mencapai 45-60 ⁰C masukan 1 ml
masing 4 ml lapisan pembenih (medium
suspense kuman yang setara dengan 106
antibiotik)yang telah dicairkan.
kuman/ml.
Memfortex larutan hingga homogen stelah itu
dituangkan pada setiap cawan petri yang
sudah berisi lapisan dasar .

Meratakan pada seluruh permukaan lapisan


dasar dengan menggoyangkan cawan petri
kekanan dan kekiri beberapa kali secara hati-

Biarkan bebrapa saat hingga membeku

f. Meneteskan antibiotik standar (s) antibiotik uji (u) pada cakram kertas

Mengambil 6 buah cakram kertas secara


aseptik menyusun ke dalam cawan petri.
Meneteskan larutan U1 pada keenam cakram
kertas, masing-masing sebanyak 20µl
menggunakan pipet mikro (ependor)

Memindahkan cakram kertas kedalam seed


layer sesuai dengan pola yang telah dibuat lalu
ulangi langkah 1-3 untuk U1,U2,S1,S2 dan S3

Biarkan beberapa saat sampai cawan kertas


melekat sempurna pada seed layer, lalu
masukan ke 6 cawan kedalam inkubasi selama

V. DATA HASIL PERCOBAAN

VI. PEMBAHASAN

VII. KESIMPULAN
VIII. DAFTAR PUSTAKA
Alke Rumimpunu. 2012. Pola Bakteri Aerob Dan Uji Kepekaan Terhadap Antibiotika
Pada Penderita Otitis Media Di Poliklinik Tht-Kl Blu Rsup Prof. Dr. R. D. Kandou
Manado Periode Desember 2012 – Januari 2013. Universitas Sam Ratulangi. Manado.
(http://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/ ebiomedik/article/download/3860/3375). Diakses
pada hari Sabtu, tanggal 26 April 2014. Pukul 08:02 WITA.

Dewi, dkk,. 2011. Staphylococcus aureus pada Komunitas Lebih Resisten terhadap
Ampisilin dibandingkan Isolat Rumah Sakit. Universitas Brawijaya. Malang. (http://
www. jkb. ub. ac. id/ index. php/ jkb/ article/ download/ 385/ 360). Diakses pada hari
Selasa, tanggal 08 April 2014. Pukul 19:15 WITA.

Djide M, Natsir. 2008. Dasar-dasar Mikrobiologi. Universitas Hasanuddin.


Makassar.

Fadhlan. 2010. Mikrobiologi Farmasi. Salemba medika. Jakarta.

Sumadio, H. 2004. Biokimia dan Farmakologi Antibiotika, USU Press, Medan.

Suwandi, U. 2003. Perkembangan Antibiotik. Cermin Dunia Kedokteran No. 83.


Pusat Penelitian dan Pengembangan PT. Kalbe Farma, Jakarta.

Waluyo, Lud. 2008. Teknik dan Metode Dasar Dalam Mikrobiologi. Malang. UMM
Press.

IX. LAMPIRAN

Anda mungkin juga menyukai