Anda di halaman 1dari 4

NAMA : ETHA FITRI OKTAVIANI

NIM : D1091161012

PRODI : PERENCANAAN WILAYAH KOTA

MATA KULIAH : PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN

HARI/TANGGAL : 30 MEI 2018

PERMASALAHAN PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN DI INDONESIA SERTA


STRATEGI KEBIJAKAN PEMERINTAH DALAM MENGATASINYA

Pengembangan permukiman baik di perkotaan maupun pedesaan pada hakekatnya untuk


mewujudkan kondisi perkotaan dan pedesaan yang layak huni (livible), aman, nyaman, damai dan
sejahtera serta berkelanjutan. Perumahan sebagai salah satu kebutuhan dasar, sampai dengan saat ini
sebagian besar disediakan secara mandiri oleh masyarakat baik membangun sendiri maupun sewa
kepada pihak lain. Kendala utama yang dihadapi masyarakat pada umumnya keterjangkauan
pembiayaan rumah. Di lain pihak, kredit pemilikan rumah dari perbankan memerlukan berbagai
persyaratan yang tidak setiap pihak dapat memperolehnya dengan mudah serta suku bunga yang tidak
murah.
Persoalan perumahan dan permukiman di Indonesia sesungguhnya tidak terlepas dari dinamika yang
terjadi dalam kehidupan masyarakat maupun kebijakan pemerintah di dalam mengelola perumahan dan
permukiman. Penyusunan arahan untuk penyelenggaraan perumahan dan permukiman, sesungguhnya
secara lebih komprehensif telah dilakukan sejak Pelita V dalam bentuk Kebijaksanaan dan Strategi
Nasional Perumahan, namun penekanannya masih terbatas kepada aspek perumahan saja. Dalam
perjalanannya, acuan tersebut dirasakan kurang sesuai lagi dengan berbagai perkembangan
permasalahan yang semakin kompleks, sehingga diperlukan pengaturan dan penanganan perumahan
dan permukiman yang lebih terintegrasi.
Menurut hasil sensus yang dilakukan pada tahun 1980, tercatat bahwa kira-kira 28 juta dari rumah
yang ada, 5,8% merupakan rumah-rumah yang belum memenuhi syarat, baik itu yang ditinjau dari
luasan rumahnya maupun kepadatan huniannya. Kebutuhan akan hunian yang selalu meningkat dan
juga disertai oleh faktor keterbatasan masyarakat dalam pemenuhannya, sehingga hal ini telah
menyebabkan kecenderungan sarana hunian masyarakat menjadi pemukiman kumuh yang tidak mudah
untuk dikendalikan. Hal lain yang juga masih berhubungan dengan permasalahan ini adalah faktor
sebaran penduduk Indonesia yang masih belum merata.
Ketika kita mencoba untuk membandingkan bagaimana sebenarnya perbedaan antara permukiman
di Indonesia dengan negara-negara eropa yang notabene nyaris semua negaranya telah menjadi negara
maju, mendorong kita untuk berpikir bahwa masih banyak yang harus dibenahi dan diperbaiki dari
negara Indonesia. Sulit untuk membuat suatu permukiman yang tertata rapi layaknya negara-negara di
eropa untuk diterapkan di Indonesia. Kita dapat melihat hal itu secara konkrit dari ibukota negara kita
sendiri yakni Jakarta, yang sampai saat ini permukiman masih menjadi salah satu masalah yang
kompleks yang masih sulit terselesaikan.

Namun yang juga harus menjadi perhatian bahwa dalam membangun permukiman yang baik bukan
hanya tanggung jawab dan peranan dari pemerintah seorang, namun semua elemen masyarakat harus
turut terlibat aktif dalam mewujudkan permukiman yang layak guna. Perlu juga adanya sebuah sistem
yang sistematis dan terstrukur dalam pembangunan permukiman tersebut.

Jika kita mencoba untuk mengkaji apa-apa saja yang menjadi permasalahan yang mengakibatkan
permukiman Indonesia masih permasalahan, maka sebenarnya secara sederhana adalah karena tidak
sesuainya jumlah hunian yang tersedia jika dibandingkan dengan kebutuhan dan jumlah masyarakat
yang akan menempatinya. Pokok-pokok permasalahan dalam perumahan dan pemukiman ini
sebenarnya adalah (Rumah Untuk Seluruh Rakyat, Ir. Siswono Yudohusodo,..., Jakarta, 1991):

1. Kependudukan Tataruang
2. Pengembangan wilayah
3. Pertanahan dan Prasarana
4. Pembiayaan.
5. Teknologi, Industri Bahan Bangunan dan Industri Jasa Konstruksi
6. Kelembagaan
7. Peranserta Masyarakat
8. Peraturan Perundang-undangan
9. Permasalahan lainnya

Secara garis besar hal-hal tersebut diatas merupakan isu-isu utama yang menyebabkan munculnya
permasalahan perumahan dan permukiman di indonesia walaupun apabila ditinjau lebih cermat lagi,
permasalahan perumahan dan permukiman yang terdapat di Indonesia bukanlah hal-hal tersebut diatas
saja. Apabila dilihat dalam kacamata yang lebih sederhana, sebenarnya inti dari permasalahan
perumahan dan permukiman yang dihadapi oleh negara kita dewasa ini adalah fenomena pertumbuhan
penduduk yang sangat pesat yang disertai dengan laju pertumbuhan ekonomi yang cukup signifikan
yang menyebabkan terus bertambahnya kebutuhan akan perumahan dan permukiman tersebut.

Sebenarnya pemerintah telah memngambil langkah sejak lama untuk mengatasi maupun mengurangi
dampak dari isu-isu permasalahan perumahan dan permukiman seperti diatas. Ada 3 (tiga) kebijakan
dan strategi nasional perumahan dan permukiman yang dituangkan dalam S.K. Menteri
Kimpraswil Nomor 217/2002 tentang Kebijaksanaan dan Strategi Nasional Perumahan dan
Permukiman (KSNPP), yaitu:

1. Melembagakan sistem penyelenggaraan perumahan dan permukiman dengan melibatkan


masyarakat (partisipatif) sebagai pelaku utama, melalui strategi:
o Penyusunan, pengembangan dan sosialisasi berbagai produk peraturan perundangundangan
dalam penyelenggaraan perumahan dan permukiman.
o Pemantapan kelembagaan perumahan dan permukiman yang handal dan responsif.
o Pengawasan konstruksi dan keselamatan bangunan gedung dan lingkungan.
2. Mewujudkan pemenuhan kebutuhan perumahan bagi seluruh lapisan masyarakat, melalui
strategi:
o Pengembangan sistem pembiayaan dan pemberdayaan pasar perumahan (primer dan sekunder),
meliputi :(a) Peningkatan kualitas pasar primer melalui penyederhanaan perijinan, sertifikasi hak
atas tanah, standarisasi penilaian kredit, dokumentasi kredit, dan pengkajian ulang peraturan
terkait; (b) Pelembagaan pasar sekunder melalui SMF (Secondary Mortgage Facilities), biro
kedit, asuransi kredit, lembaga pelayanan dokumentasi kredit; dan lembaga sita jaminan.
o Pengembangan pembangunan perumahan yang bertumpu keswadayaan masyarakat, meliputi :
(a) Pelembagaan pembangunan perumahan bertumpu pada kelompok
masyarakat (P2BPK); (b) Pengembangan dan pendayagunaan potensi keswadayaan
masyarakat; (c) Pemberdayaan para pelaku kunci perumahan swadaya; serta (d) Pengembangan
akses pembiayaan perumahan swadaya.
o Pengembangan berbagai jenis dan mekanisme subsidi perumahan, dapat berbentuk subsidi
pembiayaan; subsidi prasarana dan sarana dasar lingkungan perumahan dan permukiman;
ataupun kombinasi kedua subsidi tersebut.
o Pemberdayaan usaha ekonomi masyarakat miskin, meliputi : (a) Pemberdayaan masyarakat
untuk mengembangkan kemampuan usaha dan hidup produktif; (b) Penyediaan kemudahan
akses kepada sumber daya serta prasarana dan sarana usaha bagi keluarga miskin, serta (c)
Pelatihan teknologi tepat guna, pengembangan kewirausahaan, serta keterampilan lainnya.
o Pemenuhan kebutuhan perumahan dan permukiman akibat dampak bencana alam dan kerusuhan
sosial, meliputi : (a) Penanganan tanggap darurat; (b) Rekonstruksi dan rehabilitasi bangunan,
prasarana dan sarana dasar perumahan dan permukiman;
o Pemukiman kembali pengungsi. Penanganan tanggap darurat merupakan upaya yang harus
dilakukan dalam rangka penanganan pengungsi, penyelamatan korban dampak bencana alam
atau kerusuhan sosial, sebelum proses lebih lanjut seperti pemulangan, pemberdayaan, dan
pengalihan (relokasi).
o Pengelolaan bangunan gedung dan rumah negara, melalui pembinaan teknis penyelenggaraan
dan pengelolaan aset bangunan gedung dan rumah negara.
3. Mewujudkan permukiman yang sehat, aman, harmonis dan berkelanjutan guna mendukung
pengembangan jatidiri, kemandirian, dan produktivitas masyarakat, melalui strategi:
o Peningkatan kualitas lingkungan permukiman, dengan prioritas kawasan permukiman kumuh di
perkotaan dan pesisir, meliputi : (a) Penataan dan rehabilitasi kawasan permukiman kumuh; (b)
Perbaikan prasarana dan sarana dasar permukiman; serta (c) Pengembangan rumah sewa,
termasuk rumah susun sederhana sewa (rusunawa).
o Pengembangan penyediaan prasarana dan sarana dasar permukiman, meliputi : (a)
Pengembangan kawasan siap bangun (Kasiba) dan lingkungan siap bangun (Lisiba); dan (b)
Pengembangan lingkungan siap bangun yang berdiri sendiri, yang berdasarkan RTRW
Kabupaten atau Kota, dan Rencana Pembangunan dan Pengembangan Perumahan dan
Permukiman di Daerah (RP4D) yang telah ditetapkan melalui peraturan daerah. Kasiba dan
Lisiba tersebut dimaksudkan untuk mengembangkan kawasan permukiman skala besar secara
terencana dan terpadu dalam manajemen kawasan yang efektif. Dalam pengembangan Kasiba
dan Lisiba serta kaitannya dengan pengelolaan tata guna tanah, juga perlu dipertimbangkan
pengembangan Bank Tanah untuk lebih mengendalikan harga tanah.
o Penerapan tata lingkungan permukiman, meliputi : (a) Pelembagaan RP4D, yang merupakan
pedoman perencanaan, pemrograman, pembangunan dan pengendalian pembangunan jangka
menengah dan panjang secara sinergi melibatkan kemitraan pemerintah, dunia usaha dan
masyarakat; (b) Pelestarian bangunan bersejarah dan lingkungan permukiman tradisional; (c)
Revitalisasi lingkungan permukiman strategis; serta (d) Pengembangan penataan dan
pemantapan standar pelayanan minimal lingkungan permukiman untuk mencegah perubahan
fungsi lahan, menghindari upaya penggusuran, mengembangkan pola hunian berimbang,
menganalisis dampak lingkungan melalui Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL),
Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL), Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL), serta Upaya
Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) secara konsisten.

Daftar pustaka

S.K. Menteri Kimpraswil Nomor 217/2002 tentang Kebijaksanaan dan Strategi Nasional Perumahan
dan Permukiman (KSNPP)

De-Arch. 2008. Pembangunan Perumahan dan Permukiman.

http://de-arch.blogspot.co.id/2008/09/pembangunan-perumahan-dan-pemukiman.html