Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Bayi baru lahir atau neonatus meliputi umur 0 – 28 hari. Kehidupan pada
masa neonatus ini sangat rawan oleh karena memerlukan penyesuaian fisiologik
agar bayi di luar kandungan dapat hidup sebaik-baiknya. Hal ini dapat dilihat dari
tingginya angka kesakitan dan angka kematian neonatus. Diperkirakan 2/3
kematian bayi di bawah umur satu tahun terjadi pada masa neonatus. Peralihan
dari kehidupan intrauterin ke ekstrauterin memerlukan berbagai perubahan
biokimia dan faali. Dengan terpisahnya bayi dari ibu, maka terjadilah awal proses
fisiologik.
Banyak masalah pada bayi baru lahir yang berhubungan dengan gangguan
atau kegagalan penyesuaian biokimia dan faali yang disebabkan oleh
prematuritas, kelainan anatomik, dan lingkungan yang kurang baik dalam
kandungan, pada persalinan maupun sesudah lahir, salah satunya adaalah BBLR.
Angka kejadian BBLR diperkirakan 15% dari seluruh kelahiran di dunia
dengan batasan 3,3%-38% dan lebih sering terjadi di negara-negara berkembang
atau sosio-ekonomi rendah. Secara statistik menunjukkan 90% kejadian BBLR
didapatkan di negara berkembang dan angka kematiannya 35 kali lebih tinggi
dibanding pada bayi dengan berat lahir lebih dari 2500 gram. BBLR termasuk
faktor utama dalam peningkatan mortalitas, morbiditas dan disabilitas neonatus,
bayi dan anak serta memberikan dampak jangka panjang terhadap kehidupannya
dimasa depan.
Angka kejadian di Indonesia sangat bervariasi antara satu daerah dengan
daerah lain, yaitu berkisar antara 9%-30%, hasil studi di 7 daerah multicenter
diperoleh angka BBLR dengan rentang 2.1%-17,2 %. Secara nasional berdasarkan
analisa lanjut SDKI, angka BBLR sekitar 7,5 %. Angka ini lebih besar dari target
BBLR yang ditetapkan pada sasaran program perbaikan gizi menuju Indonesia
Sehat 2010 yakni maksimal 7%.

1
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan BBLR?
2. Apa penyebab BBLR?
3. Apa saja komplikasi yang dapat terjadi pada kasus BBLR?
4. Bagaimana cara menegakkan diagnosis pada BBLR?
5. Bagaimana penatalaksanaan pada BBLR?
6. Bagaiaman pemantauan pada BBLR?
7. Apa saja upaya pencegahan BBLR?

C. Tujuan Makalah
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan BBLR.
2. Untuk mengetahui penyebab BBLR.
3. Untuk mengetahui komplikasi yang dapat terjadi pada kasus BBLR.
4. Untuk mengetahui cara menegakkan diagnosis pada BBLR.
5. Untuk mengetahui penatalaksanaan pada BBLR.
6. Untuk mengetahui pemantauan pada BBLR.
7. Untuk mengetahui upaya pencegahan BBLR.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi
Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah bayi yang lahir dengan berat badan
kurang dari 2500 gram. Penyebab terjadinya BBLR antara lain karena ibu hamil
anemia, kurang suplai gizi waktu dalam kandungan, ataupun lahir kurang bulan.
Bayi yang lahir dengan berat badan rendah perlu penanganan yang serius, karena
pada kondisi tersebut bayi mudah sekali mengalami hipotermi yang biasanya akan
menadi penyebab kematian. (Depkes RI, 2006)
BBLR ialah bayi baru lahir yang berat badannya saat lahir kurang dari 2500
gram (sampai 2.499 gram). (Prawirohardjo, 2006)
Berat badan lahir rendah Adalah bayi baru lahir dengan berat badan kurang
dari 2500 gram tanpa memandang masa kehamilan. (Atikah Proverawati, dkk.
2009). BBLR di bedakan dalam :
a. Bayi berat lahir sangat rendah (BBLSR), berat lahir 1000- 1500 gram
b. Bayi berat lahir ekstrim rendah (BBLASR), berat lahir < 1000 gram
Bayi dengan BBLR dibedakan menjadi 2 golongan, yaitu :
a. Prematuritas Murni
Neonatus dengan usia kehamilan kurang dari 37 minggu dan mempunyai
berat badan sesuai dengan berat untuk masa kehamilan, atau disebut bayi
kurang bulan sesuai masa kehamilan (BKB/SMK)
b. Dismaturitas
Dismaturitas adalah bayi baru lahir dengan berat badan kurang dari berat
badan seharusnya untuk masa kehamilan atau bisa disebut bayi cukup
bulan kecil masa kehamilan (BCB/KMK). ( Wiknjosastro, H. 2007 )

3
B. Etiologi
Penyebab terbanyak terjadinya BBLR adalah kelahiran prematur. Faktor ibu
yang lain adalah umur, paritas, dan lain-lain. Faktor plasenta seperti penyakit
vaskuler, kehamilan kembar/ganda, serta faktor janin juga merupakan penyebab
terjadinya BBLR.
a. Faktor ibu
 Penyakit
Seperti malaria, anaemia, sipilis, infeksi TORCH, dan lain-lain
 Komplikasi pada kehamilan.
Komplikasi yang tejadi pada kehamilan ibu seperti perdarahan
antepartum, pre-eklamsia berat, eklamsia, dan kelahiran preterm.
 Usia Ibu dan paritas
Angka kejadian BBLR tertinggi ditemukan pada bayi yang dilahirkan
oleh ibu-ibu dengan usia <16 tahun dan >35 tahun.
 Faktor kebiasaan ibu
Faktor kebiasaan ibu juga berpengaruh seperti ibu perokok, ibu
pecandu alkohol dan ibu pengguna narkotika.
b. Faktor Janin
Prematur, hidramion, kehamilan kembar/ganda (gemeli), kelainan
kromosom.
c. Faktor Lingkungan
Yang dapat berpengaruh antara lain; tempat tinggal di daratan tinggi,
radiasi, sosio-ekonomi dan paparan zat-zat racun.

C. Manifestasi Klinis
Gejala klinis sebelum bayi dilahirkan :
a. Pada anamnesa sering dijumpai adanya riwayat abortus partus prematurus
dan lahir mati.
b. Pembesaran uterus tidak sesuai tuanya kehamilan.
c. Pergerakan janin yang pertama (quikening) terjadi lebih lambat, gerakan
janin lebih lambat, walaupun kehamilannya sudah agak lanjut.

4
d. Pertambahan berat badan ibu lambat dan tidak sesuai menurut seharusnya.
e. Sering dijumpai kehamilan dengan oligohidramnion atau bisa pula
hidramnion, hiperemesis gravidarum dan pada hamil lanjut dengan
toxemia gravidarum.
Setelah bayi lahir dibedakan antara bayi dengan retardasi pertumbuhan
intrauterin, bayi prematur, bayi prematur dan bayi KMK
a. Bayi premature
 Vernik kaseosa sedikit/tidak ada
 Jaringan lemak bawah kulit sedikit
 Tulang tengkorak lunak mudah bergerak
 Menangis lemah
 Kulit tipis, merah dan stranparan
 Tonus otot hipotoni
b. Bayi dengan retardasi pertumbuhan intrauterin
 Tengkorak kepala keras, gerakan bayi terbatas
 Kulit tipis, kering, berlipat-lipat mudah di angkat
 Abdomen cekung atau rata
 Tali pusat tipis, lembek dan berwarna kehijauan
 Bayi dengan retardasi pertumbuhan intrauterin sama dengan bayi
KMK. (Mochtar, 1998)

D. Komplikasi
Karena kurang sempurnanya alat- alat dalam tubuh baik anatomik maupun
fisiologik maka mudah timbul beberapa kelainan sebagai berkut :
a. Gangguan pengaturan suhu tubuh
Suhu tubuh yang tidak stabil oleh karena kesulitan mempertahankan suhu
tubuh yang disebabkan oleh penguapan yang bertambah akibat dari
kurangnya jaringan lemak dibawah kulit,permukaan tubuh relatif lebih
luas dibandingkan dengan berat badan, otot yang tidak aktif, produksi
panas yang berkurang oleh karena lemak coklat yang belum cukup serta
pusat pengaturan yang belum berfungsi secara sempurna.

5
b. Gangguan saluran pernapasan
Gangguan pernapasan sering menimbulkan penyakit berat pada BBLR.
Hal ini disebabkan karena kurangnya surfaktan, pertumbuhan dan
perkembangan paru yang belum sempurna, otot pernapasan yang masih
lemah dan tulang iga yang mudah melengkung. Penyakit gangguan
pernapasan yang sering diderita bayi prematur adalah penyakit membran
hialin dan aspirasi pneumonia. Disamping itu sering timbul pernapasan
periodik dan apnea yang disebabkan oleh pernapasan di medulla belum
matur
c. Gangguan alat pencernaan dan problem nutrisi
Distensi abdomen akibat dari motilitas usus berkurang, volume lambung
bertambah, daya untuk mencernakan dan mengabsorsi lemak laktosa dan
vitamin yang larut dalam lemak dan beberapa mineral tertentu berkurang,
kerja dari spinter cardio oesofagus yang belum sempurna dan mudah
terjadi aspirasi.
d. Immatur hati memudahkan terjadinya hiperbilirubinemia dan defisiensi
vitamin K.
e. Ginjal yang immatur baik secara anatonis maupun fungsinya
Produksi urine yang sedikit, urea clearance yang rendah, tidak sanggup
mengurangi kelebihan air tubuh dan elektrolit dari badan dengan akibat
mudahnya terjadi edema dan asidosis metabolik.
f. Perdarahan mudah terjadi karena pembuluh darah yang rapuh, kekurangan
faktor pembekuan seperti protrombin.
g. Gangguan imunologik
Daya tahan tubuh terhadap infeksi berkurang karena rendahnya kadar IgG
gamma globulin. Bayi prematur relative belum sanggup membentuk anti
bodi dan daya fagositosis serta reaksi terhadap peradangan masih belum
baik.
h. Perdarahan intraventrikuler
Hal ini disebabkan oleh karena bayi prematur sering menderita apnea,
asfiksia berat dan syndrome gangguan pernapasan.Akibatnya bayi menjadi

6
hipoksia, hipertensi dan hiperkapnea. Keadaan ini menyebabkan aliran
darah keotak bertambah. Penambahan aliran darah keotak akan lebih
banyak lagi karena tidak adanya otoregulasi serebral pada bayi prematur,
sehingga mudah terjadi perdarahan dari pembuluh darah kapiler yang
rapuh dan iskemia dilapisan germinal yang terletak didasar ventrikel
lateralis antara nukleus kaudatus dan ependim. Luasnya perdarahan
intraventrikuler ini dapat di diagnosis dengan ultrasonografi atau CT scan.
i. Retrolental fibroplasias
Keadaan ini disebabkan oleh penggunaan oksigen dengan konsentrasi
tinggi ( Pa O2 lebih dari 115 mmHg = 15 k Pa ). Untuk menghindari
retrolental fibroplasias maka oksigen yang diberikan pada bayi prematur
tidak lebih dari 40% atau dengan kecepatan 2 liter/ menit. (Sarwono
Prawirohardjo, 2007 )

E. Diagnosis
Menegakkan diagnosis BBLR adalah dengan mengukur berat lahir bayi
dalam jangka waktu, ini dapat diketahui dengan dilakukan anamesis, pemeriksaan
fisik dan pemeriksaan penunjang.
a. Anamnesis
Riwayat yang perlu ditanyakan pada ibu dalam anamesis untuk
menegakkan mencari etiologi dan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap
terjadinya BBLR:
 Umur ibu
 Riwayat hari pertama haid terakir
 Riwayat persalinan sebelumnya
 Paritas, jarak kelahiran sebelumnya
 Kenaikan berat badan selama hamil
 Aktivitas
 Penyakit yang diderita selama hamil
 Obat-obatan yang diminum selama hamil

7
b. Pemeriksaan Fisik
Yang dapat dijumpai saat pemeriksaan fisik pada bayi BBLR antara lain:
 Berat badan kurang dari 2500 gram
 Tanda-tanda prematuritas (pada bayi kurang bulan)
 Tanda bayi cukup bulan atau lebih bulan (bila bayi kecil untuk masa
kehamilan).
c. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan antara lain:
 Pemeriksaan skor ballard
 Tes kocok (shake test), dianjur untuk bayi kurang bulan
 Darah rutin, glukosa darah, kalau perlu dan tersedia fasilitas diperiksa
kadar elektrolit dan analisa gas darah.
 Foto dada ataupun babygram diperlukan pada bayi baru lahir dengan
umur kehamilan kurang bulan dimulai pada umur 8 jam atau
didapat/diperkirakan akan terjadi sindrom gawat nafas.
 USG kepala terutama pada bayi dengan umur kehamilan < 37 minggu.

F. Penatalaksanaan/ terapi
a. Pengaturan suhu badan bayi dengan berat lahir rendah
BBLR mudah mengalami hipotermia, oleh sebab itu suhu tubuhnya harus
dipertahankan dengan ketat. (Sarwono, Pelayanan kesehatan maternal dan
neonatal 2006: 377)
Menurut (Buku panduan manajemen masalah bayi baru lahir untuk Dokter,
Bidan, dan Perawat, di Rumah sakit), cara menghangatkan dan
mempertahankan suhu tubuh ada lima cara yaitu:
 Kontak kulit dengan kulit
Penggunaannya yaitu :
- Untuk semua bayi
- Untuk menghangatkan bayi dalam waktu singkat, atau
menghangatkan bayi hipotermi (32-36,4oC).

8
 Kangaroo Mother Care (KMC) atau perawatan bayi lekat (PBL)
Kangaroo mother care (KMC) adalah kontak kulit diantara ibu dan
bayi secara dini, terus menerus dan dikombinasi dengan pemberian
ASI eksklusif. Tujuannya agar bayi kecil tetap hangat. Dapat dimulai
segera setelah lahir atau setelah bayi stabil. KMC dapat dilakukan di
rumah sakit atau di rumah setelah bayi pulang. Bayi tetap bisa dirawat
dengan KMC meskipun belum bisa menyusu, berikan ASI peras
dengan menggunakan salah satu alternative cara pemberian minum.
 Pemancar panas
 Inkubator.
Merupakan cara memberikan perawatan pada bayi dengan
dimasukkan kedalam alat yang berfungsi membantu terciptanya suatu
lingkungan yang cukup dengan suhu yang normal. (Pengantar ilmu
Keperawatan anak 1, Hidayat A, 2009: hal 191)
b. Medikamentosa
Pemberian vitamin K1:
 Injeksi 1 mg IM sekali pemberian, atau
 Per oral 2 mg sekali pemberian atau 1 mg 3 kali pemberian (saat lahir,
umur 3-10 hari, dan umur 4-6 minggu)
c. Diatetik
Bayi prematur atau BBLR mempunyai masalah menyusui karena
refleks menghisapnya masih lemah. Untuk bayi demikian sebaiknya ASI
dikeluarkan dengan pompa atau diperas dan diberikan pada bayi dengan
pipa lambung atau pipet. Dengan memegang kepala dan menahan bawah
dagu, bayi dapat dilatih untuk menghisap sementara ASI yang telah
dikeluarkan yang diberikan dengan pipet atau selang kecil yang menempel
pada puting. ASI merupakan pilihan utama:
 Apabila bayi mendapat ASI, pastikan bayi menerima jumlah yang
cukup dengan cara apapun, perhatikan cara pemberian ASI dan nilai
kemampuan bayi menghisap paling kurang sehari sekali.

9
 Apabila bayi sudah tidak mendapatkan cairan IV dan beratnya naik 20
g/hari selama 3 hari berturut-turut, timbang bayi 2 kali seminggu.

Pemberian minum bayi berat lahir rendah (BBLR) menurut berat


badan lahir dan keadaan bayi adalah sebagai berikut:
1. Berat lahir 1750 – 2500 gram
Bayi Sehat
o Biarkan bayi menyusu pada ibu semau bayi. Ingat bahwa bayi kecil
lebih mudah merasa letih dan malas minum, anjurkan bayi
menyusu lebih sering (contoh; setiap 2 jam) bila perlu.
o Pantau pemberian minum dan kenaikan berat badan untuk menilai
efektifitas menyusui. Apabila bayi kurang dapat menghisap,
tambahkan ASI peras dengan menggunakan salah satu alternatif
cara pemberian minum.
Bayi Sakit
o Apabila bayi dapat minum per oral dan tidak memerlukan cairan
IV, berikan minum seperti pada bayi sehat.
o Apabila bayi memerlukan cairan intravena
- Berikan cairan intravena hanya selama 24 jam pertama
- Mulai berikan minum per oral pada hari ke-2 atau segera setelah
bayi stabil. Anjurkan pemberian ASI apabila ibu ada dan bayi
menunjukkan tanda-tanda siap untuk menyusu.
o Apabila masalah sakitnya menghalangi proses menyusui (contoh;
gangguan nafas, kejang), berikan ASI peras melalui pipa
lambung:
- Berikan cairan IV dan ASI menurut umur
- Berikan minum 8 kali dalam 24 jam (contoh; 3 jam sekali).
Apabila bayi telah mendapat minum 160 ml/kgBB per hari
tetapi masih tampak lapar berikan tambahan ASI setiap kali
minum. Biarkan bayi menyusu apabila keadaan bayi sudah stabil

10
dan bayi menunjukkan keinginan untuk menyusu dan dapat
menyusu tanpa terbatuk atau tersedak.
2. Berat lahir 1500-1749 gram
Bayi Sehat
o Berikan ASI peras dengan cangkir/sendok. Bila jumlah yang
dibutuhkan tidak dapat diberikan menggunakan cangkir/sendok
atau ada resiko terjadi aspirasi ke dalam paru (batuk atau tersedak),
berikan minum dengan pipa lambung. Lanjutkan dengan pemberian
menggunakan cangkir/ sendok apabila bayi dapat menelan tanpa
batuk atau tersedak (ini dapat berlangsung setela 1-2 hari namun
ada kalanya memakan waktu lebih dari 1 minggu)
o Berikan minum 8 kali dalam 24 jam (misal setiap 3 jam). Apabila
bayi telah mendapatkan minum 160/kgBB per hari tetapi masih
tampak lapar, beri tambahan ASI setiap kali minum.
o Apabila bayi telah mendapatkan minum baik menggunakan
cangkir/ sendok, coba untuk menyusui langsung.
Bayi Sakit
o Berikan cairan intravena hanya selama 24 jam pertama
o Beri ASI peras dengan pipa lambung mulai hari ke-2 dan kurangi
jumlah cairan IV secara perlahan.
o Berikan minum 8 kali dalam 24 jam (contoh; tiap 3 jam). Apabila
bayi telah mendapatkan minum 160/kgBB per hari tetapi masih
tampak lapar, beri tambahan ASI setiap kali minum.
o Lanjutkan pemberian minum menggunakan cangkir/ sendok
apabila kondisi bayi sudah stabil dan bayi dapat menelan tanpa
batuk atau tersedak
o Apabila bayi telah mendapatkan minum baik menggunakan
cangkir/ sendok, coba untuk menyusui langsung.
3. Berat lahir 1250-1499 gram
Bayi Sehat
o Beri ASI peras melalui pipa lambung

11
o Beri minum 8 kali dalam 24 jam (contoh; setiap 3 jam). Apabila
bayi telah mendapatkan minum 160 ml/kgBB per hari tetapi masih
tampak lapar, beri tambahan ASI setiap kali minum
o Lanjutkan pemberian minum menggunakan cangkir/ sendok.
o Apabila bayi telah mendapatkan minum baik menggunakan
cangkir/ sendok, coba untuk menyusui langsung.
Bayi Sakit
o Beri cairan intravena hanya selama 24 jam pertama.
o Beri ASI peras melalui pipa lambung mulai hari ke-2 dan kurangi
jumlah cairan intravena secara perlahan.
o Beri minum 8 kali dalam 24 jam (setiap 3 jam). Apabila bayi telah
mendapatkan minum 160 ml/kgBB per hari tetapi masih tampak
lapar, beri tambahan ASI setiap kali minum
o Lanjutkan pemberian minum menggunakan cangkir/ sendok.
o Apabila bayi telah mendapatkan minum baik menggunakan
cangkir/ sendok, coba untuk menyusui langsung.
4. Berat lahir (tidak tergantung kondisi)
o Berikan cairan intravena hanya selama 48 jam pertama
o Berikan ASI melalui pipa lambung mulai pada hari ke-3 dan
kurangi pemberian cairan intravena secara perlahan.
o Berikan minum 12 kali dalam 24 jam (setiap 2 jam). Apabila bayi
telah mendapatkan minum 160 ml/kgBB per hari tetapi masih
tampak lapar, beri tambahan ASI setiap kali minum
o Lanjutkan pemberian minum menggunakan cangkir/ sendok.
o Apabila bayi telah mendapatkan minum baik menggunakan
cangkir/ sendok, coba untuk menyusui langsung.

12
G. Pemantauan (Monitoring)
Pemantauan saat dirawat
a. Terapi
 Bila diperlukan terapi untuk penyulit tetap diberikan
 Preparat besi sebagai suplemen mulai diberikan pada usia 2 minggu
b. Tumbuh kembang
 Pantau berat badan bayi secara periodik
 Bayi akan kehilangan berat badan selama 7-10 hari pertama (sampai
10% untuk bayi dengan berat lahir ≥1500 gram dan 15% untuk bayi
dengan berat lahir <1500>
 Bila bayi sudah mendapatkan ASI secara penuh (pada semua kategori
berat lahir) dan telah berusia lebih dari 7 hari:
- Tingkatkan jumlah ASI denga 20 ml/kg/hari sampai tercapai jumlah
180 ml/kg/hari
- Tingkatkan jumlah ASI sesuai dengan peningkatan berat badan bayi
agar jumlah pemberian ASI tetap 180 ml/kg/hari
- Apabila kenaikan berat badan tidak adekuat, tingkatkan jumlah
pemberian ASI hingga 200 ml/kg/hari
- Ukur berat badan setiap hari, panjang badan dan lingkar kepala setiap
minggu.
Pemantauan setelah pulang
Diperlukan pemantauan setelah pulang untuk mengetahui perkembangan bayi
dan mencegah/ mengurangi kemungkinan untuk terjadinya komplikasi setelah
pulang sebagai berikut:
a. Sesudah pulang hari ke-2, ke-10, ke-20, ke-30, dilanjutkan setiap bulan.
b. Hitung umur koreksi
c. Pertumbuhan; berat badan, panjang badan dan lingkar kepala.
d. Tes perkembangan, Denver development screening test (DDST)
e. Awasi adanya kelainan bawaan

13
H. Pencegahan
Pada kasus bayi berat lahir rendah (BBLR) pencegahan/ preventif adalah
langkah yang penting. Hal-hal yang dapat dilakukan:
a. Meningkatkan pemeriksaan kehamilan secara berkala minimal 4 kali
selama kurun kehamilan dan dimulai sejak umur kehamilan muda. Ibu
hamil yang diduga berisiko, terutama faktor risiko yang mengarah
melahirkan bayi BBLR harus cepat dilaporkan, dipantau dan dirujuk
pada institusi pelayanan kesehatan yang lebih mampu
b. Penyuluhan kesehatan tentang pertumbuhan dan perkembangan janin
dalam rahim, tanda tanda bahaya selama kehamilan dan perawatan diri
selama kehamilan agar mereka dapat menjaga kesehatannya dan janin
yang dikandung dengan baik
c. Hendaknya ibu dapat merencanakan persalinannya pada kurun umur
reproduksi sehat (20-34 tahun)
d. Perlu dukungan sektor lain yang terkait untuk turut berperan dalam
meningkatkan pendidikan ibu dan status ekonomi keluarga agar mereka
dapat meningkatkan akses terhadap pemanfaatan pelayanan antenatal dan
status gizi ibu selama hamil

14
BAB III

MANAJEMEN ASUHAN KESEHATAN PADA BAYI Ny”S” DENGAN


BBLR (BERAT BADAN LAHIR RENDAH) DI RUANGAN
PERINATOLOGI RSUD Dr. RASIDIN PADANG, TANGGAL 11
NOVEMBER 2012
Tanggal : 11 November 2012 No.MR : 000505
Pukul : 21.00 WIB
1. Pengumpulan Data
A. Identitas / Biodata
Nama Bayi : Bayi Ny “S”
Umur Bayi : 18 Jam
Tanggal/ jam lahir : 11 November 2012, Pukul 03.00 WIB
Jenis kelamin : Perempuan
Berat badan : 900 gram
Panjang badan : 35 cm

Nama Ibu : Ny ” S”
Umur : 22 tahun
Suku/Bangsa : Minang / Indonesia
Agama : Islam
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : IRT
Alamat : JL. Parak Jambu Tunggul Hitam RT 2, RW 3

Nama Suami : Tn “ I ”
Umur : 23 tahun
Suku/Bangsa : Minang / Indonesia
Agama : Islam
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Wiraswasta
Alamat : JL. Parak Jambu Tunggul Hitam RT 2, RW 3

15
B. Keadaan Sosial Ekonomi :
a. Penghasilan perbulan : Rp. 1.000.000
b. Jumlah anggota keluarga yang ditanggung : 2 orang
c. Penghasilan perkapita : Rp. 500.000

C. DATA SUBJEKTIF
Pada tanggal : 11 November 2012
Pukul : 21.00 WIB
Kronologi : pasien maasuk ke IGD pukul 10.00 WIB, langung lakukan
perawatan dalam inkubtor dengan oksigen, kemudian beri pasien therapy IVFD
dekstrose 10%. Kemudian bayi di kirim ke bangsal anak pukul 11.00 WIB, bayi
dirawat diruang terpisah yaitu perinatologi, dan lanjutkan terapi sesuai order
dokter.
1. Riwayat penyakit kehamilan
 Pasien mengatakan pernah mengalami perdarahan ketika usia kandungan 2
bulan, pasien perdarahan selama 1 bulan, jumlah darah kurang dari 1 duk
perhari. pasien berobat ke dokter dan di anjurkan istirahat berbaring
dirumahnya selama 1 bulan.
 Pasien juga mengatakan ini kahemilannya yang pertama.
2. Kebiasaan waktu hamil
a. Makanan : 1 piring nasi ukuran sedang, 1
potong lauk ukuran sedang, 1 mangkok sayur
b. Obat – obatan : Tidak ada
c. Merokok : Tidak ada
d. Lain – lain : Tidak ada
3. Riwayat persalinan sekarang
a. Jenis persalinan : Spontan
b. Ditolong oleh : Bidan
c. Usia kehamilan : 28-29 minggu
d. Komplikasi : tidak ada
4. Keadaan bayi baru lahir :

16
Apgar Score : 6/8

Tanda 0 1 2 Jumlah
Frekuensi ( ) tidak ada ( √ ) < 100 ( ) > 100
Jantung
Usaha nafas ( ) tidak ada (√ ) lambat tidak ( ) menangis
Tonus otot ( ) lumpuh teratur kuat
reflek ( ) tidak (√ ) eks fleksi ( ) gerakan
I 6
Warna bereaksi sedikit aktif
( ) biru / ( √ ) gerakan sedikit ( ) menangis
pucat ( ) tubuh (√ ) kemerahan
kemerahan
tangan dan kaki biru
Frekuensi ( ) tidak ada ( ) < 100 (√ ) > 100
Jantung
Usaha ( ) tidak ada (√ ) lambat tidak ( ) menangis
bernafas ( ) lumpuh teratur kuat
Tonus otot ( ) tidak ( ) eks fleksi (√ ) gerakan
II 8
reflek bereaksi sedikit aktif
Warna ( ) biru / ( √ ) gerakan sedikit ( ) menangis
pucat ( ) tubuh (√ ) kemerahan
kemerahan
tangan dan kaki biru

5. Resusitasi
1). Penghisapan lendir : ya
2). Ambu : Tidak dilakukan
3). Masage jantung : Tidak dilakukan
4). Intubasi endotracheal : Tidak dilakukan
5). Oksigen : ya
6). Therapi : Tidak dilakukan

17
D. PEMERIKSAAN FISIK
- Keadaan umum : jelek
- Suhu : 36ºC
- Pernafasan : 50x/i
- Jantung : 126 x/i
- Berat badan : 900gram
- Panjang badan : 35 cm
- Pemeriksaan fisik secara sistematis
- Ubun-ubun : Tidak ada caput / cepal hematoma
- Muka : Tidak oedema
- Telinga : Simetris kiri dan kanan, daun dan lobang telinga ada
- Mulut : Tidak ada labio palato skizis
- Hidung : Septum ada
- Dada : Simetris kiri dan kanan, tidak ada kelainan
- Perut : Agak membuncit
- Tali pusat : Lembab, tidak ada perdarahan
- Punggung : Tidak ada kelainan
- Ekstremitas : Tidak ada oedema
- Genitalia : Labia mayora belum menutupi labia minora
- Anus : Ada
- Reflek
- Reflek morrow : (+) lemah
- Reflek rooting : (+) lemah
- Reflek sucking : (+) lemah
- Reflek tonic neck : (+) lemah

- Eliminasi
- Miksi : sudah ada
- Mekonium : sudah ada

18
PEMERAN

RISKY WAHYUNI SEBAGAI BIDAN PONED

RISKY FISKALIA SEBAGAI SUAMI IBU ANI

SAFRIANI SEBAGAI IBU ANI

SITI KHADIJA PRATIWI SEBAGAI BIDAN

Pada tanggal 22 November 2015 seorang wanita datang ke Klinik bersalin


bidan Khadija untuk melahirkan. Proses persalinan berlangsung normal namun
saat menimbang berat badan bayi diketahui bayi memiliki berat badan kurang dari
2500 gram. Bayi harus dimasukkan ke dalam inkubator karena bayi rawan
mengalami hipotermi, namun klinik bidan Khadija belum memiliki peralatan yang
memadai. Bidan kemudian merujuk ibu dan bayinya ke PUSKESMAS mampu
PONED

Suami : assalamualaikum bidan, bidan, tolong biddan, istri saya mau


melahirkan

Siti khadija : walaikumsalam iya pak, mari silahkan masuk, ibu silahkan baring
disini bu, saya periksa dulu.

Beberapa jam kemudian ibu melahirkan bayi berjenis kelamin perempuan dengan
berat badan 2000 gram dan panjang badan 40 cm. Bayi merupakan BBLR.

Siti khadija : Alhamdulillah, selamat bu, pak anaknya sudah lahir. Jenis
kelamin perempuan. Sebentar ya, bu, anaknya saya bersihkan dan
saya timbang dulu berat badannya.

Safriani : baik bidan.

Bidan : pak, bu, anaknya sudah saya timbang dan ukur panjang
badaannya, tapi..

19
Suami : Tapi apa bidan?

Bidan : ini pak, bu, berat badan bayi ibu dan bapak kurang dari normal.
Berat badannya 2000 gram dan panjang badannya 49 cm.

Suami : normalnya berapa bidan?

Bidan : normalnya 2500-4000 gram pak.

Ibu Ani : jadi bagaimana bidan? Apakah itu berbahaya bagi bayi saya?

Bidan : iya, ini akan berbahaya jika tidak ditangani secara cepat dan
dengan baik bu. Saran saya sebaiknya bayi ibu secepatnya kita
rujuk ke puskesmas yang mempunyai alat yang lebih lengkap.

Suami : apa tidak bisa ditangani disini saja bidan?

Bidan : begini pak, karena bayi ibu dan bapak berat badannya kurang
rentan sekali untuk keedinginan dan terkena penyakit lainnya bu.
Bayi ibu ini harus dimasukkan ke dalam inkubator untuk
menstabilkan suhu badannya dan menghindari keedinginan. Bayi
ibu juga harus dipantau nutrisinya agar mencapai berat badan yang
normal. Karena kurangnya peralatan di klinik kami, jadi saya
sarankan untuk dirujuk ke puskesmas agar mendapatkan
penanganan yang tepat.

Ibu : oh begitu bu bidan, lalu apa yang harus saya lakukan?

Bidan : saya akan membuatkan surat rujukan dan ibu juga harus
menandatangani surat persetujuan. Ibu tenang saja, saya akan ikut
mengantar ibu ke puskesmas.

Suami : apa ada lagi yang harus kami siapkan bu bidan?

Bidan : saya kira itu saja bu, silahkan berkemas dan kami akan
menyiapkan kendaraannya. Oh iya bu, bayinya silahkan disusui
dulu sebelum kita berangkat.

20
Beberapa saat kemudian ibu Ani telah menyusui bayinya dan menandatangani
surat rujukan. Suami ibu ani juga telah mengurus beberapa keperluan administrasi
di BPM, bidan kemudian mendampingin keluarga ibu ani menuju PUSKESMAS
mampu PONED. Sesampainya di PUSKESMAS mampu PONED petugas segera
memasukkan bayi ibu Ani kedalam inkubator dan mengatur suhu agar bayi tetap
hangat. Petugas puskesmas juga

21
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Masa neonatus dan beberapa minggu sesudahnya masih merupakan masa
yang rawan karena disamping kekebalan yang masih kurang juga gejala penyakit
spesifik. Pada periode-periode tersebut tidak dapat dibedakan/sulit dibedakan
dengan penyakit lain sehingga sulit dideteksi pada usia minggu-minggu pertama
kelainanyang timbul banyak yang berkaitan dengan masa kehamilan/proses
persalinan sehingga perlu penanganan segera dan khusus.
Bayi lahir dengan bayi berat lahir rendah (BBLR) merupakan salah satu
factor resiko yang mempunyai kontribusi terhadap kematian bayi khususnya pada
masa perinatal. Selain itu bayi berat lahir rendah dapat mengalami gangguan
mental dan fisik pada usia tumbuh kembang selanjutnya, sehingga membutahkan
biaya perawatan yang tinggi.

B. Saran
1. Meningkatkan pengawasan pada bayi baru lahir dengan BBLR.
2. Menambah informasi dan pengetahuan tentang asuhan kebidanan pada
bayi baru lahir dengan BBLR.
3. Meningkatkan pelayanan pada bayi baru lahir dengan BBLR.

22