Anda di halaman 1dari 11

ANALISA BIODIESEL MINYAK BIJI KARET SEBAGAI BAHAN

BAKAR ALTERNATIF MINYAK DIESEL


(THE UTILIZATION OF BIODIESEL FROM RUBBER SEED OIL AS
AN ALTERNATIVE FUEL DIESEL ENGINE)

Proposal Ini Disusun Untuk Memenuhi Persyaratan Laporan Akhir Jurusan


Teknik Kimia Program Studi D-IV Teknik Energi Politeknik Negeri
Sriwijaya

Oleh :
Joko Prasetio
061440411728

PROGRAM STUDI TEKNIK STUDI TEKNIK ENERGI


JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
PALEMBANG
2017
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan, jika
sebuah negara masih mengandalkan energi fosil maka akan memasuki era krisis
energi. Sebab, jenis sumber daya yang berasal dari fosil ini semakin lama akan
semakin menipisb bahkan bukan tidak mungkin jika kita tetap mengandalkan
energi fosil kita akan mengalami krisis energi. Berdasarkan data dari Kementrian
ESDM RI, konsumsi energi Indonesia yang cukup tinggi hampir 95% dari bahan
bakar fosil. Dari total tersebut, hampir 50%nya merupakan Bahan Bakar Minyak
(BBM). Jadi tidak heran jika konsumsi energi di sektor Transportasi juga
cenderung semakin meningkat beberapa tahun belakangan ini.
Cadangan minyak bumi Indonesia hanya cukup untuk kebutuhan selama 20
tahun, dengan asumsi tingkat eksploitasi sama dengan tahun 2006 (produksi 310
juta barel). Dengan demikian stok minyak mentah yang berasal dari fosil terus
menurun sedangkan jumlah konsumsinya terus meningkat setiap tahunnya,
sehingga perlu dicari alternatif bahan bakar lain, terutama dari bahan yang
terbarukan (Ningtyas, Budhiyanti, & Sahubawa, 2013).
Menghadapi tantangan cadangan energi yang semakin menipis, menghemat
energi merupakan langkah cerdas. Namun, peningkatan konsumsi energi sebagai
indikator kemajuan ekonomi Indonesia tetap harus difasilitasi dengan keberadaan
sumber energi yang mendukung. Menghadapi tantangan tersebut, negara kita perlu
memperluas pemanfaatan sumber energi lain untuk menggantikan pemakaian
energi minyak dan fosil.
Biodiesel merupakan salah satu sumber energi alternatif yang memiliki potensi
besar jika diterapkan di Indonesia. Hal ini dikarenakan indonesia merupakan negara
Agraris. Biodiesel merupakan bahan bakar yang terdiri dari campuran mono--alkyl
ester dari rantai panjang asam lemak, yang dipakai sebagai alternatif bagi bahan
bakar dari mesin diesel dan terbuat dari sumber terbaharui seperti minyak sayur atau
lemak hewan.
Salah satu bahan baku dari biodiesel adalah minyak biji karet. Biji karet
mengandung minyak sebesar 40-50%, dengan komposisi asam palmitat 13,11%,
asam stearate 12,66%, asam arachidat 0,54%, asam oleat 39,45%, asam linoleat
33,12% dan sisanya adalah asam lemak lain (Setyawardhani dkk, 2009). Asam
oleat, linoleat dan linolenat sangat bermanfaat bagi kesehatan, sebagai sumber
asam lemak omega 3 , 6 dan 9, sedangkan asam palmitat dan stearat berpotensi
untuk dijadikan bahan bakar biodiesel berkualitas baik. Asam-asam lemak dalam
biji karet dapat diperoleh dengan hidrolisis terhadap minyaknya. Asam-asam lemak
jenuh (palmitat, stearat dan arachidat) dapat dipisahkan dari asam lemak tak
jenuhnya (oleat dan linoleat) dengan chilling (Setyawardhani dkk, 2007).

Biji karet bukan merupakan bahan komoditas yang di konsumsi untuk


masyarakat maupun yang dimanfaatkan minyaknya untuk makanan (edible oil), jadi
biasa digolongkan limbah hasil pertanian perkebunan karet, dari penjelasan di atas
dapat disimpulkan biji karet dapat dijadikan sumber energy alternatif. Luas
perkebunan karet di indoneseia mulai tahun 2006 hingga tahun 2013 mencapai
528.600 Ha, dengan begitu potensi biji karet untuk dijadikan biodiesel bisa
diandalkan sebagai sumber energy alternative yang renewable. (Badan Pusat
Statistik)

1.2 Rumusan Masalah


Dengan memperhatikan latar belakang diatas, maka dapat dibuat rumusan
masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana potensi biodiesel dari minyak biji karet sebagai bahan bakar
alternatif pada mesin diesel?
2. Metode apa saja yang dibutuhkan untuk mendapatkan kualitas yang baik dari
biodiesel?
3. Bagaimana kualitas biodiesel jika digunakan sebagai bahan bakar pada mesin
diesel?
1.3 Tujuan Penelitian
Penelitian ini memiliki tujuan sebagai berikut:
1. Mengetahui potensi biodiesel dari minyak biji karet sebagai bahan bakar
alternatif pada mesin diesel.
2. Mengetahui metode yang tepat untuk membuat biodiesel dengan kualitas
baik.
3. Mengetahui kualitas dari biodiesel dari minyak biji karet jika digunakan
sebagai bahan bakar pada mesin diesel.
1.4 Manfaat Penelitian
Dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
1. Dapat menjadi alternatif yang bisa digunakan guna mengurangi penggunaan
energi fosil.
2. Dapat memanfaatkan biji karet sehingga dapat bernilai ekonomis
1.5 Relevansi
Pada hasil penelitian ini sangat berkaitan dalam bidang ilmu Teknik Kimia pada
umumnya dan bidang keahlian atau kajian program studi pada khusus nya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Transesterifikasi

Reaksi antara minyak (trigliserida) dan alkohol adalah merupakan reaksi


transesterifikasi (Galisman, 2013). Transesterifikasi adalah suatu reaksi yang
menghasilkan ester dimana salah satu pereaksinya juga merupakan senyawa ester.
Jadi disini terjadi pemecahan senyawa trigliserida dan migrasi gugus alkil antara
senyawa ester. Ester yang dihasilkan dari reaksi transesterifikasi ini disebut fatty
acid alkyl ester. R’ adalah gugus alkil dan R1 – R3 merupakan gugus asam lemak
jenuh dan tak jenuh rantai panjang.

Gambar 2.1 Reaksi Tranesterifikasi minyak dengan alkohol menggunakan katalis

Reaksi transesterifikasi merupakan reaksi bolak balik yang relatif lambat.


Untuk mempercepat jalannya reaksi dan meningkatkan hasil, proses dilakukan
dengan pengaduka yang baik, penambahan katalis dan pemberian reaktan berlebih
agar reaksi bergeser ke kanan. Pemilihan katalis dilakukan berdasarkan kemudahan
penanganan dan pemisahannya dari produk. Untuk itu dapat digunakan katalis
asam, basa dan penukar ion (Galisman, 2013).
Faktor-faktor yang berpengaruh pada reaksi transesterifikasi antara lain :
1. Waktu Reaksi
Semakin lama waktu reaksi, maka kemungkinan kontak antar zat semakin besar,
sehingga akan menghasilkan konversi yang besar. Jika kesetimbangan reaksi
sudah tercapai, maka dengan bertambahnya waktu reaksi tidak akan
menguntungkan, karena tidak memperbesar hasil.
2. Pengadukan
Pengadukan akan menambah frekuensi tumbukan antar molekul zat pereaksi,
sehingga mempercepat tercapainya kesetimbangan atau dapat menambah
konversi reaksi. Sesuai dengan persamaan Arrhenius :
k = A e(-Ea/RT)
dimana,
T = Suhu absolut ( ºC)
R = Konstanta gas umum (kal/gmol ºK)
Ea = Energi aktivasi (kal/gmol)
A = Faktor tumbukan (t-1)
k = Konstanta kecepatan reaksi (t-1)
Semakin besar frekuensi tumbukan, maka semakin besar pula harga konstanta
kecepatan reaksi. Sehingga dalam hal ini pengadukan sangat penting, mengingat
campuran reaktan dan katalis merupakan larutan yang immiscible.
3. Katalisator
Katalisator berfungsi untuk mengurangi energi aktivasi pada suatu reaksi, jika
jumlah katalis dinaikkan, energi aktivasi akan menurun, sehingga konstanta laju
reaksi akan semakin besar dan kesetimbangan reaksi akan cepat tercapai, maka
konversi reaksi maksimal akan cepat tercapai.
4. Suhu Reaksi
Semakin tinggi suhu yang dioperasikan maka akan semakin besar nilai
konstanta reaksi, hal ini sesuai dengan persamaan Archenius. Jika nilai konstant
reaksi meningkat, maka reaksi akan berjalan semakin cepat, namun demikian
suhu reaksi harus dipertimbangkan berdasarkan titik didih salah satu reaktan.
Disarankan bahwa suhu itu harus dibawah titik didih salah satu reaktan yang
titik didihnya paling rendah.
5. Konsentrasi reaksi
Menurut Le Chatelier, kesetimbangan suatu reaksi kimia akan berubah bila
adanya perubahan konsentrasi, temperature, volume dan tekanan. Semakin
tinggi konsentrasi reaktan maka kesetimbangan reaksi akan bergerak ke kanan
yang menyebabkan poduk yang dihasilkan lebih banyak.
2.2 Minyak Biji Karet
Berdasarkan sistematika tumbuhan, karet dapat diklasifikasikan sebagai
berikut (Setiawan dan Angsono, 2005) :

Divisi : Spermatophyta

Sub divisi : Angiospermae

Kelas : Dicotyledonae

Keluarga : Euphorbiaceae

Genus : Havea

Spesies : Havea Brasiliensis

Karet merupakan kormofita berbiji yakni tumbuhan yang menggunakan


biji sebagai pembiakan generatif. Biji karet tertutup, tidak dapat dilihat dari luar,
biji karet tersebut terbungkus oleh buah karet. Tiap buah karet terdapat tiga biji
karet. Biji karet berwarna putih pada waktu muda dan berwarna kecoklatan
diselingi putih setelah tua. Bagian dalam biji berwarna putih dan berbelah dua
(Yusuf dan Sulaiman, 1982).
Biji karet dan kacang tanah mengandung asam – asam lemak yang bermanfaat
bagi kesehatan. Kandungan asam lemak dalam biji karet dan kacang tanah
disajikan dalam Tabel 2.1. berikut
Tabel 2.1. Komposisi asam lemak biji karet dan kacang tanah
(Swern, 1964).

Komposisi (%)
Jenis asam Biji Karet Kacang Tanah
Palmitat ( CH3(CH2)14COOH) 9 – 12 6–9
Stearat ( CH3(CH2)16COOH) 5 – 12 3–6
Arachidat ( CH3(CH2)18COOH) 1 2–4
Oleat (cis-9-octadecenoic acid) 17 - 21 23 – 71
Linoleat (omega 6) 35 – 38 13 - 27
Linolenat (omega 3) 21 – 24 -

Tabel 2.2. Komposisi kimia biji karet (bungkil) tiap 100 g bydd (Nio,
1992).
Keterangan Komposisi
Bydd 100 %
Energi 374 kalori / 1474 kJ
Air 12 g
Protein 29,3 g
Lemak 3,3 g
Karbohidrat 50 g
Mineral 5,4 g
Kalsium 102 mg
Fosfor 660 mg
Besi 12 mg
Aktivasi Retinol 0 mg
Thiamine 0,1 mg
Asam askorbat 0 mg
2.3 Katalis
Katalis ditemukan oleh J.J. Berzelius pada tahun 1836 sebagai komponen
yang dapat meningkatkan laju reaksi kimia, namun tidak ikut bereaksi. Definisi
katalisator adalah suatu substansi yang dapat meningkatkan kecepatan, sehingga
reaksi kimia dapat mencapai kesetimbangan, tanpa terlibat di dalam reaksi secara
permanen. Dengan demikian pada akhir reaksi katalis tidak tergabung dengan
senyawa produk reaksi. Adanya katalis dapat mempengaruhi faktor-faktor kinetika
suatu reaksi seperti laju reaksi, energi aktivasi, sifat dasar keadaan transisi dan lain-
lain. Karakteristik katalis adalah:
1. Berinteraksi dengan reaktan tetapi tidak berubah pada akhir reaksi.
2. Mempercepat kinetika reaksi dengan memberikan jalur molekul yang lebih
rumit.
Kemampuan katalis untuk meningkatkan kecepatan reaksi terjadi dalam
beberapa langkah, sehingga mengakibatkan penurunan energi aktivasi reaksi.
Reaksi katalitis meliputi adsorbsi, pembentukan dan pemutusan activated complex,
dan desorbsi (Richardson, 1989).
Katalis dalam reaksi (misal esterifikasi atau transesterifikasi) merupakan
suatu bahan (misal basa, asam atau enzim) yang berfungsi untuk mempercepat
reaksi dengan jalan menurunkan energi aktivasi (activation energy, Ea) dan tidak
mengubah kesetimbangan reaksi, serta bersifat sangat spesifik. Sebenarnya proses
produksi bisa berlangsung tanpa katalis akan tetapi reaksi akan berlangsung sangat
lambat, membutuhkan suhu yang tinggi dan tekanan yang tinggi pula.
Umumnya untuk mencapai hasil (yields) ester yang memuaskan dalam
kondisi reaksi yang sedang, produksi biodiesel dilakukan dengan keberadaan katalis
yang meliputi katalis basa (alkali), asam termasuk katalis bahan transisi logam, dan
katalis enzim (Richardson, 1989).
Menurut perbedaan fase dengan reaktan, katalis dapat dibagi menjadi katalis
homogen yang memiliki fase yang sama dengan reaktannya dan katalis heterogen
yang berbeda fase dengan reaktannya (contohnya, katalis padat pada campuran
reaktan cair). Katalis heterogen menyediakan permukaan luas untuk tempat reaksi
kimia terjadi. Agar reaksi terjadi, satu atau lebih reaktan harus tersebar pada
permukaan katalis dan teradsorb ke dalamnya. Setelah reaksi selesai, produk
menjauh dari permukaan katalis padat. Seringkali, perpindahan reaktan dan produk
dari satu fase ke fase lainnya ini berperan dalam menurunkan energi aktivasi
(Mittelbach dan Remschmidt, 2004).
Pemilihan katalis atau pengembangan katalis perlu pertimbangan untuk
mendapatkan efektivitas dalam penggunaannya. Beberapa pertimbangan dalam
pemilihan katalis adalah:
1. Umur panjang, sehingga menghemat pembelian katalis baru.
2. Harga katalisator murah, sehingga menghemat investasi.
3. Mudah atau tidaknya diregenerasi, jika tidak merusak aktivitas dapat
menghemat pembelian katalis baru.
4. Tahan terhadap racun, sehingga umur katalis panjang (Richardson, 1989).
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Waktu dan Tempat Penelitian


Penelitian ini akan di lakukan di laboratorium Teknik Kimia Politeknik
Negeri Sriwijaya, Palembang pada periode bulan Desember 2017 hingga April
2018.