Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dengan kehidupan yang maju banyak sekali permaslahan-permasalahan


muncul dari kehidupan masyarakat yang semuanya bersumber dari kondisi
ekonomi dan sosial, seperti halnya tingkat kriminalitas yang semakin tinggi dan
berbagai jenis pelanggaran yang dilakukan beberapa manusia demi kelangsungan
hidup mereka. Segala macam cara dilakukandan dapat bersaing mengkikuti
perkembangan jaman dari cara yang baik juga cara yang melanggar hukum dan
merugikan orang lain. Begitu juga dalam hal pemenuhan kebutuhan listrik, sangat
diakui bahwa listrik merupakan bagian penting bagi kehidupan masyarakat. Maka
dari itu PLN sebagai perusahan satu-satunya yang mengurusi ketenagalistrikan
berusaha memberi pelayanan sebaik mungkin untuk memenuhi kebutuhan listrik
para konsumennya.
Oleh karenanya sebagai pihak penyedia jasa kelistrikan nasional, PLN
mencoba untuk dapat memenuhi kebutuhan tersebut secara maksimal demi
memuaskan konsumen dan memenuhi hak konsumen. Namum PLN juga
menyadari akan banyaknya permasalahan terkait dengan penyediaan listrik di
masyarakat. Salah satu penyebab permasalahan tersebut adalah tingginya tingkat
kehilangan daya baik karena faktor teknis maupun non teknis. Salah satu
penyumbang tingginya losses (kehilangan daya) adalah tindakan tidak jujur yang
dilakukan oleh sebagian konsumen listrik yang memiliki maksud tidak baik
terhadap penggunaan listrik. Oleh karena itu dalam rangka menekan losses dari
faktor non-teknis ini, PLN mengeluarkan kebijakan berupa program Penertiban
Pemakaian Tenaga Listrik atau disebut P2TL. Namun pada pelaksanaannya P2TL
di lapangan muncul permasalahan dalam berbagai jenis pelanggaran baik dari
dalam masyarakat sendiri ataupun dari pihak pelaksana P2TL.
Dasar utama PLN (persero) mengeluarkan kebijakan P2TL (Penertiban
Pemakaian Tenaga Listrik) sebenarnya merupakan antisipasi atas kerugian
kehilangan atau susut daya listrik yang diakibatkan oleh faktor yang sifatnya non-
teknis. Disamping itu kebijkan P2TL ini secara tidak langsung dimaksukan untuk
memenuhi kewajian PLN dalam memberikan pelayanan ketenaga listrikan seperti
di atur dalam Undang-undang No. 3 tahun 2005 tentang Ketenagalistrikan.
Kebijakan penerpan P2TL itu sendiri dilaksanakan berdasarkan pada Surat
Keputusan Direksi PT PLN (Persero) No.68.K/010/DIR/2000 tentang Penertiban
Pemakaian Tenaga Listrik, Tagihan susulan dan Pemutusan sambungan Tenaga
Listrik. PT PLN (Persero) merupakan badan usaha milik negara yang diberi tugas
untuk pemerintah sebagai operator tunggal perindustrian listrik kepada pelanggan.
Produk kebijakan P2TL sendiri sebenarnya merupakan turunan dari ketentuan dan
perundang-undangan yang mengatur masalah kelistrikan yang berlaku saat ini,
antara lain :
Undang-undang No.20 tahun 2002 tentang Ketenagalistrikan, Peraturan
Pemerintah No.3

1
tahun 2005 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Tenaga Listrik juga Undang-
undang No.8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Serta Peraturan
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 45 tahun 2005 tentang Instalasi
Ketenagalistrikan sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Energi dan
Sumber Daya Mineral Nomor 46 tahun 2006 Menurut SK yang dikeluarkan oleh
Direktur PT PLN (Persero) yaitu SK No.234.K/DIR/2008 tentang P2TL enertiban
Pemakaian Tenaga Listrik. P2TL merupakanproduk kebijakan atau program yang
secara umum mengatur mengenai hal-hal teknis penyelenggaraan kegiatan
penertiban pemakaian tenaga listrik secara rutin oleh masing-masing PLN
Rating/Rayon, PLN Cabang, PLN Wilayah/Distribusi secara struktural sesuai
dengan uraian tugas pokok dan organisasi masing-masing.
Adapun pelaksanaan P2TL sendiri meliputi hal-hal, antara lain :
a.Melakukan pemeriksaan terhadap jaringan tenaga listrik, sambungan tenaga
listrik, APP(alat pembatas dan pengukur) dan perlengkapan APP serta instalasi
pelanggan dalam rangka menertibakan pemakaian tenaga listrik oleh pelanggan.
b.Melakukan pemutusan sementara untuk pelanggan yang harus dikenakan
tindakan pemutusan sementara.
c.Melakukan pemutusan sambungan langsung.
d.Melakukan pengambil alihan peralatan/alat yang digunakan untuk sambungan
langsung.
e.Melakukan penganbilan segel atau tanda terayang tidak sesuai dengan aslinya
untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.
f.Melakukan pengambilan APP (alat pembatas dan pengukur) yang kedapatan
rusak atau diduga tidak berfungsi sebagaimana mestinya untuk dilakukan
pemeriksaan lebih lanjut.
g.Mencatat kejadian-kejadian yang kedapatan pada waktu dilakukan P2TL
menurut jenis kejadian.
h.Menyusun laporan dan berita acara mengenai pelaksanaan P2TL sesuai dengan
bidang tugas dan wewenangnya.
Kegiatan P2TL dilaksanakan berdasarkan pada informasi yang dihimpun melalui
beberapa cara, yaitu :
a.Pemantauan terhadap pemakaian listrik pelanggan yang tidak wajar selama 3
bulan berturut-turut.
b.Informasi/lapporan masyarakat, petugas pencatat meteran/pegawai, PLN
terhadap kelainan alat pembatas dan alat pengukur pelanggan, sambungan liar,
pencurian listrik dll.
c.Kegiatan rutin yang dilakukan oleh unit PLN. Dari sisi praktek dilapangan P2TL
ini berfungsi sebagai peraturan yang bersifat teknis dan menjadi acuan petugas
P2TL dilapangan. Karena keterbatasan sumber daya manusia yang ada di PLN
sendiri sehingga sosialisasi tentang P2TL ini belum begitu membuming di
masyarakat. Serta tingkat pendidikan dan pengetahuan masyarakat yang masih
kurang mengakibatkan masyarakat belum dapat menangkap dan memahami arti
pentingnya pelaksanaan Penertiban Pemakaian Tenaga Listri (P2TL). Dalam
implementasi P2TL dilapangan seringkali banyak terjadi komunikasi yang kurang
baik antara petugas pelaksana P2TL dengan masyarakat bersangkutan itu sendiri
sehingga kerap kali memunjulkan berbagai pelanggaran dalam pelaksanaan P2TL.
Karena kondisi masyarakat yang kurang begitu

2
bersahabat, kurang perduli, juga kurang begitu mengerti dengan adanya
pemeriksaan atau sebagainya. Cukup mempersulit petugas P2TL dalam
melaksanakan tugas mereka. Ketetapan hukum, sosialisasi mendalam
(komunikasi) mungkin akan menjadi salah satu cara terbaik dalam implementasi
P2TL agar berjalan dengan baik sesuai dengan tujuan dan berhasil dalam
pelaksanaannya di lapangan.
1.2 Rumusan Masalah
1. Effort apa yang didapat ketika melakukan P2TL dilapangan?

2. Bagaimana cara melakukan P2TL dilapangan dengan baik?

3. Berapa Effort kWh dan Rupiah pada saat pelaksanaan P2TL di

lapangan pada tahun 2017?

1.3 Batasan Masalah

1. Hanya membahas P2TL pada tahun 2017

2. Tidak membahas peralatan pada GTT

1.4 Tujuan

1. Mendapatkan hasil apakah trafo layak atau tidak untuk di relokasi.

2. Mengetahui analisa kinerja dan kemampuan trafo berdasrkan SPLN D3 :

002-1 : 2007 tentang spesifikasi Transformator distribusi dan 17 A: 1972

dan IEC 354 – 1972 tentang pembebanan trafo Dari segi :

a. Pembebanan

b. Ketidakseimbangan

c. Perbaikan Ketidakseimbangan

d. Effisiensi

3. Mengetahui analisa pertumbuhan beban pada trafo D0097, D0137, dan

D0174 hingga tahun 2020 dengan metode Regresi Linear

4. Mengetahui lama trafo dapat dibebani dengan kapasitas trafo yang telah

direlokasi sesuai dengan peramalan beban mendatang

3
5. Memunculkan rekomendasi terhadap analisa kinerja trafo tersebut dengan

meramalkan kebutuhan beban 5 tahun mendatang

1.5 Sistematika Pembahasan

Laporan Akhir ini dibagi menjadi 5 bab pembahasan yang meliputi

1. BAB I

Berisi tentang pemaparan latar belakang, rumusan masalah, batasan

masalah, tujuan penulis, dan sistematika pembahasan.

2. BAB II

Berisi tentang teori dasar atau tinjauan pusataka yang merupakan

penjelasan secara umum dari sistem ketenagalistrikan yang didapatkan

dari buku-buku referensi, literature, studi lapangan, serta pengarahan

dari pembimbing.

3. BAB III

Berisi tentang metodologi pelaksanaan penelitian, data-data hasil

observasi, serta diagram alir metode penyelesaian masalah.

4. BAB IV

Berisi tentang analisa dan pembahasan P2TL di PT. PLN (Persero)

Distribusi Lampung

5. BAB V

Berisi tentang kesimpulan dari hasil analisa dan pembahasan yang

telah dilakukan serta berisi saran tentang rekomendasi relokasi trafo di

Rayon Batu agar hasil laporan akhir ini dapat bermanfaat bagi pihak

PT.PLN (Persero)

4
5
BAB III
PELAKSANAAN OJT

3.1 Maksud dan Tujuan Aspek Hukum Pelaksanaan P2TL

Penertiban Pemakaian Tenaga Listrik (P2TL) adalah penertiban pengguna


tenaga listrik yang tidak sesuai dengan standar pemasangan dan SPJBTL.
Sedangkan tujuannya adalah untuk menurunkan susut secara non teknis adalah
susut yang bukan berasal dari material PLN, sehingga mampu diatasi dengan
dilakukannya penertiban. Dengan diadakannya P2TL, seluruh kerugian dapat
diminimalisir sekecil mungkin. Sehingga yang tersisa hanya susut teknis yang
secara alami tidak dapat dihilangkan, namun bisa diminimalisir.
Selain itu juga tujuan P2TL lainnya yaitu :
a. Menekan susut kWh.
b. Menertibkan para pemakai tenaga listrik baik pelanggan maupun non pelanggan.
c. Meningkatkan mutu dan keandalan jaringan.
d. Terciptanya keselamatan umum.
e. Menyelamatkan pemakaian kWh dan daya yang tidak tertagih.
f. Meningkatkan citra PLN.

Adapun aspek hukum dari pelaksana P2TL tersebut terdapat pada


SK DIR No. 1486/2011 tentang P2TL.
Segala sesuatunya harus dipersiapkan dengan baik. Begitupun dengan
target pelaksanaan P2TL. Daftar Target Operasi P2TL didapat dari :
1. Pemakaian tidak wajar selama 3 bulan berturut-turut / Daftar Langganan Perlu
Diperhatikan (DLPD).
2. Informasi cater serta masyarakat.
3. Kegiatan rutin P2TL.

3.2 Tata Cara (SOP) dan Ketentuan Pelaksanaan P2TL

Perlengkapan yang dibawa :

6
 Kelengkapan administrasi, meliputi kartu pengenal, surat tugas, formulir-formulir
seperti BA, serta berseragam resmi PLN.
 Peralatan kerja, meliputi tang ampere, AVO meter, stop watch, tang kW, tang
segel timah atau plastic, medan putar, phasa detector, kaca pembesar, kamera
Polaroid, kalkulator, tool kit (tang obeng, tespen dan lain-lain) dan lakban.

Kewajiban Petugas P2TL :


 Sopan, tertib dalam memasuki persil dan ungkapkan maksud dan tujuan
kedatangan.
 Menanyakan identitas/kapasitas yang menyaksikan P2TL.
 Memperhatikan keamanan instalasi dan keselamatan umum dalam mengambil APP
yang rusak atau diduga tidak semestinya.

Pemeriksaan Teknis (dengan disaksikan pelanggan atau penghuni) :


 Meminjam rekening terakhir.
 Mencatat data administrasi.
 Periksa secara visual APP pelanggan, SMP, dan SLP, serta raba secara merata
APP pelanggan.
 Mencatat data APP.
 Periksa penyadapan di SMP dengan cara menurunkan alat pembatas, kemudian cek
stop kontak dan saklar apakah masih ada tegangan atau tidak.
 Periksa kapasitas pembatas dengan cara menyalakan seluruh lampu dan alat
elektronik lainnya hingga trip.

Hasil temuan harus dibuat dalam Berita Acara (BA), Terdiri dari :
 BA ditandatangani PLN, pelanggan/penghuni dan 2 orang saksi (Bila diperlukan ).
 BA dibuat dalam 2 rangkap ( Pelanggan PLN).
 Bila pelanggan keberatan, ditanda-tangani oleh 2 orang saksi dan petugas.
 Barang bukti dimasukan dalam kotak/kantong yang tertutup rapat
(dikunci/disimpan) ditempat yang aman dan tertib dan dibuat BA.

Bukti pelaksanaan P2TL :

7
 BA jelas dan tidak meragukan.
 Semua dokumen pemasangan APP (barang bukti) disimpan Baik.
 Mencatat setiap kejadian dilapangan.
 Petugas PLN siap menjadi saksi.

3.3 Jenis dan Penggolongan Pelanggaran dan kelainan pada P2TL.


3.3.1 jenis pelanggaran.
Pelanggaran 1 (P1)
Pelanggaran (P1) adalah pelanggaran yang mempengaruhi batas daya tetapi
tidak mempengaruhi pengukuran energy. Berada disisi pembatas APP. Contohnya
kWh tanpa pembatas (MCB), MCB di loss watt, Menghapus tulisan daya MCB.
Pelanggaran 2 (P2)
Pelanggaran yang mempengaruhi pengukuran energi tetapi tidak
mempengaruhi batas daya. Berada disisi pengukuran APP. Contohnya
membalikan pengawatan fasa dan netral PLN, menyatukan phasa PLN dan
instalasi, klem tegangan dilepas, mengotak-atik piringan, jumper, melubangkan
body terminal dan kWh sehingga terjadi hal tersebut diatas.

Pelanggaran 3 (P3)
Gabungan dari P1 dan P2, mempengaruhi batas daya serta pengukuran
energy. Contohnya sadapan langsung dari HL, netral PLN tidak difungsikan.
Pelanggaran 4 (P4)
Pelanggaran yang dilakukan oleh non konsumen PLN (NK).

3.3.2 jenis kelainan


Kelainan 1 (K1)
Kelainan adalah bukan kesalahan pelanggan. Terjadi apabila pemakaian
tenaga listrik tidak sesuai dengan peruntukan sesuai SPJBTL pelanggan tersebut.
Contohnya kekurangan daya pada MCB, tarif rumah namun dipakai untuk
industry.
Kelainan 2 (K2)

8
Terjadi kelainan APP dan perlengkapannya akibat kondisi alam diluar
wewenang pelanggan maupun PLN. Contohnya kWh rusak, salah pengawatan
bukan dari pelanggan, kesalahan faktor kali kWh, dan kelebihan daya pembatas.
Kelainan 3 (K3)
Terjadi kelainan APP dan perlengkapannya akibat kondisi alam diluar
wewenang pelanggan maupun PLN. Contohnya APP/kelengkapan APP serta
segel tera APP belum terpasang atau rusak karena korosi, serta sambungan
levering.

Selain itu juga pengawasan terhadap PJU legal serta illegal. Dilakukan
dengan cara checklist PJU.

3.4 Prioritas Sasaran Operasi


 Pelanggan Industri TM hasil analisa AMR.
 Pelanggan Industri (sisi TR).
 Hotel,Diskotik,kafe dan tarif bisnis lainnya.
 Pelanggan Rumah Tangga.
 Pelanggan Liar (non konsumen).
 PJU Liar.