Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI TUMBUHAN

FENOLOGI

OLEH:
HAFIZAH
F1071151003
KELOMPOK 2

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN IPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2017

1
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Fenologi mempelajari penampakan aktivitas tumbuhan yang terjadi secara berkala


pada waktu-waktu tertentu dalam satu tahun. Fenologi sebagai ilmu pengetahuan hingga saat
ini masih berdasar pada hasil observasi tentang tahapan perkembangan tumbuhan
(phenophase) eksternal yang tampak, seperti perkecambahan biji, pembungaan, perubahan
warna daun, gugur daun dan semi daun. Pengamatan fenologis akan lebih baik jika dapat
dilengkapi dengan data deferensiasi anatomis maupun aktifitas biokimia pada tumbuhan. Data
fenologis dapat memberikan informasi yang bernilai ekologis misalnya tentang karakter
spesies pada suatu daerah dan pengaruh perubahan musim terhadap aktifitas tumbuhan.

Proses pertumbuhan menunjukkan pertambahan ukuran dan berat kering yang tidak
dapat balik (irreversibel) yang mencerminkan pertambahan protoplasma mungkin karena
ukuran dan jumlahnya bertambah. Pertambahan protoplasma melalui reaksi di mana air, CO2,
dan garam-garam anorganik dirubah menjadi vahan hidup yang mencakup pembentukan
karbohidrat (proses fotosintesis), pengisapan dan gerakan air dan hara (proses absorbs dan
translokasi), penyusunan perombakan protein dan lemak dari elemen C dari persenyawaan
organik (proses metabolisme) dan tenaga kimia yang dibutuhkan didapat dari respirasi. Tiga
fase utama yang mudah dikenali yaitu fase logaritmik, fase linier, fase penuaan
(Salisbury,1992).

B. Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan fenologi?

2. Mengapa menggunakan kacang hijau?

3. Apa saja fase dalam pertumbuhan kacang hijau?

4. Apa perbedaan hasil pengamatan di naungan dengan di lapangan?

5. Faktor apa saja yang dapat mempengaruhi perbedaan hasil pengamatan tersebut?

6. Bagaimana perkembangan kacang hijau dari germinasi sampai pengamatan terakhir?


2
C. Tujuan

Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengamati perkembangan kacang hijau
(Phaseolus radiatus) dari germinasi hingga berusia 7-8 minggu.

BAB II

DASAR TEORI

Fenologi tumbuhan adalah kalender dari peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah


kehidupan tumbuh-tumbuhan seperti waktu pertunasan, waktu pertumbuhan daun baru, waktu
pengguran daun, waktu berbuah, waktu berbunga serta waktu pertumbuhan diameter batang.
Fenologi dan laju perkembangan suatu tanaman dipengaruhi oleh berbagai penyusun faktor
iklim seperti suhu, panjang hari dan persediaan air. Fenologi pada daerah tropik memiliki
sejumlah ciri-ciri yang khas jika dibandingkan dengan daerah temperat. Sifat-sifat fenologi
yang menentukan kerangka sementara dimana bahan tersebut mengalami pertumbuhan
(Odum, 1998).

Fenologi adalah ilmu tentang periode fase-fase yang terjadi secara alami pada
tumbuhan. Berlangsungnya fasefase tersebut sangat dipengaruhi oleh keadaan lingkungan
sekitar, seperti lamanya penyinaran, suhu dan kelembaban udara (Fewless, 2006). Seperti
fenologi perbungaan pada beberapa jenis anggrek agar bunganya segera mekar, harus
mendapatkan stimulasi udara panas dan atau dingin, tergantung jenis anggrek tersebut
(Dressler, 1981).

Fenologi diduga merupakan sebuah respon dari tanaman terhadap faktor-faktor


lingkungan pada suatu daerah yang mana merupakan manifestasi dari interkasi komponen
struktur dan fungsi tanaman terhadap lingkungannya. Perbedaan dalam fenologi antara daerah
setempat dengan daerah geografi lainnya mungkin disebabkan perbedaan faktor genetik,
produksi, rantai makanan, dekomposisi, toleransi tanaman dan respon terhadap gangguan.
Fenologi seharusnya merupakan bagian dari studi produktifitas sejak adanya hubungan aliran
energi. Dalam hal ini ada factor yang sangat berpenguh dalam fenologi tumbuhan, yaitu factor
iklim. Faktor iklim sangat menentukan pertumbuhan dan produksi tanaman. Apabila tanaman
ditanam di luar daerah iklimnya, maka produktivitasnya sering kali tidak sesuai dengan yang
diharapkan.Menurut Sutarno at all (1997) Studi tentang perilaku kejadian tiap organisme atau
tumbuhan dalam hubungannya dengan perubahan-perubahan iklim disebut dengan fenologi.
Untuk faktor iklim yang dipergunakan dalam penelitian fenologi pada umumnya adalah curah
3
hujan hal ini adalah karena curah hujan secara langsung atau tidak langsung penting untuk
pengaturan waktu dan ruang dalam pembentukan bunga dan buah pada tumbuhan tropis.

Dalam fenologi terdapat fase vegetatif dan fase reproduktif. Fase vegetatif tampak
dari perkembangan akar, batang, dan daun. Fase ini berhubunga dengan pembelahan sel,
pemanjangan sel, dn tahap pertama diferensiasi. Dalam proses pembalahan sel diperlukan
karbohidrat dalam jumlah yang besar karena dinding sel terbentuk dari selulosa dan
protoplasmanya dari gula. Pembelahan sel terjadi dalam jaringan meristematis pada titik
tumbuh batang daun, ujung akar, dan kambium.

Menurut Ashari (2006) sedikitnya ada 2 unsur yang mempengaruhi hal tersebut, yaitu:

1. Curah hujan dan distribusi hujan

2. Tinggi tempat dari permukaan laut.

Selain unsur iklim di atas, menurut Guslim (2007) Produksi tanaman juga dipengaruhi
oleh Radiasi Matahari dan Suhu. Pertumbuhan tanaman dapat dipengaruhi dalam berbagai
cara oleh lingkungan. Kondisi lingkungan yang sesuai selama pertumbuhan akan merangsang
tanaman untuk berbunga dan menghasilkan benih. Kebanyakan speises tidak akan memasuki
masa reproduktif jika pertumbuhan vegetatifnya belum selesai dan belum mencapai tahapan
yang matang untuk berbunga, sehubungan dengan ini terdapat dua rangsangan. Yang
menyebabkan perubahan itu terjadi, yaitu suhu dan panjang hari (Mugnisjah dan Setiawan,
1995).

Proses pertumbuhan menunjukkan pertambahan ukuran dan berat kering yang tidak
dapat balik (irreversibel) yang mencerminkan pertambahan protoplasma mungkin karena
ukuran dan jumlahnya bertambah. Pertambahan protoplasma melalui reaksi di mana air, CO2,
dan garam-garam anorganik dirubah menjadi vahan hidup yang mencakup pembentukan
karbohidrat (proses fotosintesis), pengisapan dan gerakan air dan hara (proses absorbs dan
translokasi), penyusunan perombakan protein dan lemak dari elemen C dari persenyawaan
organik (proses metabolisme) dan tenaga kimia yang dibutuhkan didapat dari respirasi. Tiga
fase utama yang mudah dikenali yaitu fase logaritmik, fase linier, fase penuaan.

Fase logaritmik, ukuran bertambah secara eksponsial sejalan dengan waktu. Ini berarti
laju pertumbuhan lambat pada awalnya tetapi kemudian meningkat terus laju berbanding lurus
dengan ukuran organisme, semakin besar organisme semakin cepat ia tumbuh. Fase linear,
4
pertambahan ukuran berlangsung secara konstan, biasanya pada laju maksimum selama
beberapa waktu lamanya. Pada batang tak bercabang fase linear disebabkan oleh aktivitas
yang konstan dari meristem apikal. Fase penuaan, laju pertumbuhan yang menurun saat
pertumbuhan sudah mencapai kematangan dan mulai menua (Salisbury,1992).

Fase logaritmik,ukuran bertambah secara eksponsial sejalan dengan waktu. Ini berarti
laju pertumbuhan lambat pada awalnya tetapi kemudian meningkat terus laju berbanding lurus
dengan ukuran organisme, semakin besar organisme semakin cepat ia tumbuh.

1. Fase linear, pertambahan ukuran berlangsung secara konstan, biasanya pada laju maksimum
selama beberapa waktu lamanya. Pada batang tak bercabang fase linear disebabkan oleh
aktivitas yang konstan dari meristem apikal.
2. Fase penuaan, laju pertumbuhan yang menurun saat pertumbuhan sudah mencapai
kematangan dan mulai menua.
Dalam fenologi terdapat fase vegetatif dan fase reproduktif. Fase vegetatif tampak
dari perkembangan akar, batang, dan daun. Fase ini berhubunga dengan pembelahan sel,
pemanjangan sel, dn tahap pertama diferensiasi. Dalam proses pembalahan sel diperlukan
karbohidrat dalam jumlah yang besar karena dinding sel terbentuk dari selulosa dan
protoplasmanya dari gula. Pembelahan sel terjadi dalam jaringan meristematis pada titik
tumbuh batang daun, ujung akar, dan kambium.
Keseimbangan air adalah faktor iklim utama yang mempengaruhi tumbuhan.
Ketersediaan air menentukan musim-musim pertumbuhan yang mungkin ada. Walaupun
demikian suhu dapat berpengaruh besar terhadap laju pertumbuhan daun dan laju
perkembanga tanaman di daerah tropik. Fenologi dan laju perkembangan suatu tanaman
tergantung faktor iklim seperti suhu, hara, dan persediaan hara. Sifat-sifat khas fenologi
menentukan kerangka sementara dimana bahan kering didistribusikan keberbagai bagian
tanaman. Titik-titik kardinal fenologi jagung yang diakui secara luas adalah perkecambahan,
inisiasi bunga, pembuangan (antesis dan perambuatan), dan kemasakkan fisiologi. Untuk
jagung-jagung didaerah tropik, penanaman sampai pemasakan biji ditentukan oleh ; suhu,
ketersedian lengas, pengiliran tanaman, dan kebutuhan ketersdian pangan yang tepat waktu.
Laju perkecambahan akan menurun dengan menurunnya potensial lengas tanah. Suhu tanah
26 – 300 C adalah optimun pada waktu perkecambahan semai awal (Dirjen Dikti, 1987).

BAB III
METODELOGI
A. Waktu dan Tempat
Hari/ tanggal : 22 Oktober 2017-19 November 2017
5
Waktu Pelaksanaan : 13.00 WIB
Tempat : Laboratorium Pendidikan Biologi FKIP Untan
B. Alat dan Bahan
Alat : Pot, Sekop, Wadah plastic untuk merendam biji kacang hijau, Ember/gayung, ATK,
Benang, Penggaris, Weather station, Evaporimeter, Termometer, Dry & Wet, Hygrometer.
Bahan : Tanah, Pasir, Air, Pupuk, Kertas label, Plastic.
C. Cara Kerja
1. Siapkan 10 pot yang telah berisi 10 biji kacang hijau.
2. Lakukan penyiraman setiap hari dengan jumlah air yang sama.
3. Tempatkan 5 pot di lapangan terbuka, dan 5 pot lainnya di bawah naungan.
4. Pengukuran tinggi tanaman dilakukan setiap hari dan hitunglah pertambahan
pertumbuhan tinggi tanaman tiap minggu (tiap tinggi mingguan).
5. Catat perkembangan sejak tahap germinasi, saat kotiledon mulai tampak, saat daun
pertama muncul, saat pertumbuhan daun masa vegetative, saat mulai reproduktif. Hint :
agar tidak kehilangan perioda tersebut, pengamatan sebaiknya dilakukan setiap hari.
6. Catat data temperature tanah dan udara, presipitasi, kelembaban dan cahaya setiap hari.
Catat hal yang mungkin terjadi.
7. Data dianalisa dan dibuat grafiknya.
8. Bandingkan fenologi tanaman kacang hijau di kedua tempat.

6
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Pengamatan
Tabel 2 Pengamatan Daun
No Hari ke- Pengamatan Lapangan Pengamatan Naungan

1 1 - -

2 2 - -

3 3 - -

4 4 Kotiledon mulai nampak Kotiledon mulai nampak

5 5 Daun pertama muncul Daun pertama muncul

6 6 Daun pertama muncul Daun pertama muncul

7 7 Pertumbuhan daun masa vegetatif Pertumbuhan daun masa vegetatif

8 8 Pertumbuhan daun masa vegetatif Pertumbuhan daun masa vegetatif

9 9 Pertumbuhan daun masa vegetatif Pertumbuhan daun masa vegetatif

10 10 Pertumbuhan daun masa vegetatif Pertumbuhan daun masa vegetatif

11 11 Pertumbuhan daun masa vegetatif Pertumbuhan daun masa vegetatif

12 12 Pertumbuhan daun masa vegetatif Pertumbuhan daun masa vegetatif

13 13 Pertumbuhan daun masa vegetatif Pertumbuhan daun masa vegetatif

14 14 Pertumbuhan daun masa vegetatif Pertumbuhan daun masa vegetatif

15 15 Pertumbuhan daun masa vegetatif Pertumbuhan daun masa vegetatif

16 16 Pertumbuhan daun masa vegetatif Pertumbuhan daun masa vegetatif

17 17 Pertumbuhan daun masa vegetatif Pertumbuhan daun masa vegetatif

18 18 Pertumbuhan daun masa vegetatif Pertumbuhan daun masa vegetatif

19 19 Pertumbuhan daun masa vegetatif Pertumbuhan daun masa vegetatif

20 20 Pertumbuhan daun masa vegetatif Pertumbuhan daun masa vegetatif

21 21 Pertumbuhan daun masa vegetatif Pertumbuhan daun masa vegetatif

22 22 Pertumbuhan daun masa vegetatif Pertumbuhan daun masa vegetatif

23 23 Pertumbuhan daun masa vegetatif Pertumbuhan daun masa vegetatif

24 24 Pertumbuhan daun masa vegetatif Pertumbuhan daun masa vegetatif

25 25 Pertumbuhan daun masa vegetatif Pertumbuhan daun masa vegetatif

26 26 Pertumbuhan daun masa vegetatif Pertumbuhan daun masa vegetatif

7
27 27 Pertumbuhan daun masa vegetatif Pertumbuhan daun masa vegetatif

28 28 Pertumbuhan daun masa vegetatif Pertumbuhan daun masa vegetatif

29 29 Pertumbuhan daun masa vegetatif Pertumbuhan daun masa vegetatif

30 30 Pertumbuhan daun masa vegetatif Pertumbuhan daun masa vegetatif

Tabel 2 Pengamatan Jumlah Daun

Minggu ke-

Pot 1 2 3 4

L N L N L N L N

1 2 2 4 - 3 - - -

2 2 2 5 2 6 6 6 -

3 2 2 3 3 3 - - -

4 2 2 4 2 12 - 14 -

5 2 2 4 2 11 - 12 -

Rata-rata 2 2 4 1,8 7 1,2 6,4 -

B. Pembahasan
Pada praktikum mengenai fenologi ini, digunakan Phaseolus radiates (Kacang hijau)
sebagai tanaman yang akan diamati proses pertumbuhan dan fase-fasenya. Digunakan
tanaman ini karena cepat tumbuh dan fasenya mudah untuk diamati. Untuk pengamatan,
dibuat perbandingan antara pertumbuhan tanman pada tempat pertumbuhan yang tertutupi
naungan dan di lapangan.
Percobaan ini dilakukan untuk mengetahui fenologi dari kacang hijau (Phaseolus
radiatus) yang dimulai dari fase pertunasan, munculnya daun baru, pengguguran daun, waktu
berbunga dan berbuah di tempat ternaung dan lapangan. Fenologi tumbuhan adalah kalender
dari peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah kehidupan tumbuh-tumbuhan seperti waktu
pertunasan, waktu pertumbuhan daun baru, waktu pengguran daun, waktu berbuah, waktu
berbunga sertawaktu pertumbuhan diameter batang. Pengertial lain fenologi adalah ilmu
tentang periode fase-fase yang terjadi secara alami pada tumbuhan. Berlangsungnya fase-fase
tersebut sangat dipengaruhi oleh keadaan lingkungan sekitar, seperti lamanya penyinaran,
suhu dan kelembaban udara (Fitter, 1991).

8
Fenologi tumbuhan adalah kalender dari peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah
kehidupan tumbuh-tumbuhan seperti waktu pertunasan, waktu pertumbuhan daun baru, waktu
pengguran daun, waktu berbuah, waktu berbunga serta waktu pertumbuhan diameter batang.
Fenologi dan laju perkembangan suatu tanaman dipengaruhi oleh berbagai penyusun faktor
iklim seperti suhu, panjang hari dan persediaan air. Fenologi pada daerah tropik memiliki
sejumlah ciri-ciri yang khas jika dibandingkan dengan daerah temperat. Sifat-sifat fenologi
yang menentukan kerangka sementara dimana bahan tersebut mengalami pertumbuhan
(Odum, 1998).

Digunakan kacang hijau (Phaseolus radiatus karena mudah didapat, harganya


ekonomis jika diperlukan pengulangan, pertumbuhannya cepat dan fase-fasenya mudah untuk
diamati. Untuk pengamatan, dibuat 2 perlakuan yaitu diletakkan pada tempat yang tertutupi
(naungan) dan di lapangan.
Pengamatan mengenai tanaman kecambah ini diawali dari mulai perkecambahan.
Perkecambahan tergantung pada imbibisi yaitu penyerapan air akibat potensi air yang rendah
pada biji yang kering. Air yang berimbibisi menyebabakan biji kacang hijau mngembang dan
memecahkan kulit dan memicu perubahan metabolic pada embrionya yang menyebabkan biji
tersebut melanjutkan pertumbuhan. Enzim akan mulai mencerna bahan yang disimpan pada
kotiledon dan nutriennya berpindah ke bagian embrio yang sedang tumbuh adapun organ
yang muncul dari biji berkecambah adalah radikula yaitu akar embrionik. Epikotil
menyebabkan helai daun pertama melebar dan bewarna hijau dan mampu berfotosintesis.
Tiga fase utama yang mudah dikenali yaitu fase logaritmik, fase linier, fase penuaan.
Fase logaritmik,ukuran bertambah secara eksponsial sejalan dengan waktu. Ini berarti laju
pertumbuhan lambat pada awalnya tetapi kemudian meningkat terus laju berbanding lurus
dengan ukuran organisme, semakin besar organisme semakin cepat ia tumbuh.Fase linear,
pertambahan ukuran berlangsung secara konstan, biasanya pada laju maksimum selama
beberapa waktu lamanya. Pada batang tak bercabang fase linear disebabkan oleh aktivitas
yang konstan dari meristem apikal.Fase penuaan, laju pertumbuhan yang menurun saat
pertumbuhan sudah mencapai kematangan dan mulai menua.

Dalam fenologi terdapat fase vegetatif dan fase reproduktif. Fase vegetatif tampak
dari perkembangan akar, batang, dan daun. Fase ini berhubunga dengan pembelahan sel,
pemanjangan sel, dan tahap pertama diferensiasi. Dalam proses pembalahan sel diperlukan
karbohidrat dalam jumlah yang besar karena dinding sel terbentuk dari selulosa dan
protoplasmanya dari gula. Pembelahan sel terjadi dalam jaringan meristematis pada titik
tumbuhbatang daun, ujung akar, dan kambium.
9
Berdasarkan data hasil pengamatan, kotiledon kecambah kacang hijau pada naungan
maupun lapangan munculnya sama-sama pada hari ke-4 sejak pertama kali ditanam. Pada
hari ke-5 daun pertama muncul dan pada hari ke 7 mulai pertumbuhan daun masa vegetatif
dengan jumlah daunnya 2 pada semua pot dinaungan maupun di lapangan jumlahnya sama.
Pada minggu ke 2 rata-rata jumlah daun pada naungan hanya 1,8 sedangkan rata-rata jumlah
daun pada kacang hijau di lapangan yaitu 4. Jumlah daun tiap pot di lapangan lebih banyak
dibandingkan jumlah daun dinaungan. Begitu pula dengan minggu ke tiga rata-rata jumlah
daun di naungan hanya 1,2 sedangkan pada lapangan 7. Hal ini dikarenakan pada kacang
hijau di naungan banyak yang sudah tidak berdaun lagi karena daunnya dimakan ulat. Selain
itu batang kacang hijau yang berada di naungan lebih kecil dan tidak tegak sehingga tanaman
kacang hijau di naungan tumbang, tidak lurus, dan tidak berdiridengan tegak. Pada minggu ke
empat kacang hijau yang berada di naungan semuanya sudah mati karena habis dimakan oleh
ulat. Sedangkan rata-rata jumlah daun pada lapangan 6,4.
Untuk fase germinasi hingga munculnya troploid pertama pada tanaman yang berada
di naungan maupun di lapangan, waktunya relative sama, yang membedakan hanya tinggi dan
jumlah daun tanaman padakedua tempat. Sampai minggu kedua, pertumbuhan tinggi tanaman
lebih cepat pada tanaman yang berada di tempat naungan, tetapi jumlah daun lebih banyak
pada tanaman yang berada di lapangan. Hal ini mungkin dikarenakan cahaya matahari yang
didapat, sehingga mempengaruhi pertumbuhan tinggi dan daun.Begitu pula dengan minggu
ketiga dan keempat tanaman kacang hijau pada lapangan mempunyai daun yang lebih bnyak
dan lebih tinggi dibandingkan kacang hijau yang berada di naungan.
Pada percobaan ini terdapat perbedaan pertumbuhan yang berada di naungan dan
lapangan. Pada naungan, tumbuhan lebih cepat layu dibandingkan tempat terbuka (lapangan)
yang mengakibatkan pertumbuhan kacang hijau di tempat ternaung tidak semaksimal
pertumbuhan kacang hijau di lapangan. Hal ini dikarenakan kondisi lingkungan pada tempat
naungan yang tidak tembus oleh sinar matahari, sehingga tanaman yang berada di naungan
tidak dapat mengalami atau melakukan proses fotosintesis dengan sempurna dibandingkan
dengan tanaman yang berada dilapangan. Sedangkan pada tanaman yang diletakkan
dilapangan, kondisi lingkungannya sesuai, dari factor cahaya, curah hujan dan lain-lain yang
sesuai selama pertumbuhan akan merangsang tanaman untuk berbunga dan menghasilkan
benih. Kebanyakan speises tidak akan memasuki masa reproduktif jika pertumbuhan
vegetatifnya belum selesai dan belum mencapai tahapan yang matang untuk berbunga,
sehubungan dengan ini terdapat dua rangsangan yang menyebabkan perubahan itu terjadi,
yaitu suhu dan panjang hari.

10
Berdasarkan uraian diatas, ada beberapa faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan
adalah keseimbangan air adalah faktor iklim utama yang mempengaruhi
tumbuhan. Ketersediaan air menentukan musim-musim pertumbuhan yang mungkin ada.
Walaupun demikian suhu dapat berpengaruh besar terhadap laju pertumbuhan daun dan laju
perkembanga tanaman di daerah tropik. Fenologi dan laju perkembangan suatu tanaman
tergantung faktor iklim seperti suhu, hara, dan persediaan hara. Sifat-sifat khas fenologi
menentukan kerangka sementara dimanabahan kering didistribusikan keberbagai bagian
tanaman. Untuk tanaman didaerah tropik, penanaman sampai pemasakan biji ditentukan
oleh ; suhu, ketersedian lengas, pengiliran tanaman, dan kebutuhan ketersdian pangan yang
tepat waktu. Laju perkecambahan akan menurun dengan menurunnya potensial lengas tanah.
Suhu tanah 26 – 300 C adalah optimun pada waktu perkecambahan semai awal (Dirjen Dikti,
1987).

BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Fenologi tumbuhan adalah kalender dari peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah
kehidupan tumbuh-tumbuhan seperti waktu pertunasan, waktu pertumbuhan daun baru,
waktu pengguran daun, waktu berbuah, waktu berbunga sertawaktu pertumbuhan
diameter batang.
2. Fenologi dari kacang hijau (Phaseolus radiatus) dimulai dari fase pertunasan, munculnya
daun baru, pengguguran daun, waktu berbunga dan berbuah di tempat ternaung dan
lapangan.
3. Digunakan kacang hijau karena mudah didapat, harga ekonomis, pertumbuhannya cepat
dan fase-fasenya mudah untuk diamati.
4. Pengamatan dibuat dalam 2 perlakuan yaitu tempat yang tertutupi (naungan) dan di
lapangan.
5. Tiga fase utama yang mudah dikenali yaitu fase logaritmik, fase linier, fase penuaan.
Dalam fenologi terdapat fase vegetatif dan fase reproduktif.
6. Fase germinasi hingga munculnya troploid pertama pada tanaman yang berada di
naungan maupun di lapangan, waktunya relative sama, yang membedakan hanya tinggi
dan jumlah daun tanaman pada kedua tempat. Sampai minggu kedua, pertumbuhan tinggi
tanaman lebih cepat pada tanaman yang berada di tempat naungan, tetapi jumlah daun
lebih banyak pada tanaman yang berada di lapangan.
7. Perbedaan pertumbuhan yang berada di naungan dan lapangan. Pada naungan, tumbuhan
lebih cepat layu dibandingkan tempat terbuka (lapangan) yang mengakibatkan
pertumbuhan kacang hijau di tempat ternaung tidak semaksimal pertumbuhan kacang
hijau di lapangan. Hal ini dikarenakan kondisi lingkungan pada tempat naungan yang
11
tidak tembus oleh sinar matahari, sehingga tanaman yang berada di naungan tidak dapat
mengalami atau melakukan proses fotosintesis dengan sempurna dibandingkan dengan
tanaman yang berada dilapangan.
8. Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan kacang hijau yaitu ketersediaan air, suhu
lingkungan yaitu suhu udara dan suhu tanah, curah hujan, kelembaban, pH tanah, angin
dan cahaya matahari.

B. Saran

Sebaiknya untuk praktikan harus lebih teliti lagi dalam mengukur kecambah agar di
peroleh data hasil pengamatan yang valid dan menjaga komunikasi antara praktikan dan
asisten sehingga pengamatan yang dihasilkan murni dari pengamatan yang dilakukan.

DAFTAR PUSTAKA

Dirjen Dikti. 1987. Fisiologi Tanaman Budidaya Tropik. Yogyakarta: UGM Press.

Dressler, R.L. 1981. The Orchids Natural History and Classification. Cambridge : Harvard

University Press.
Fitter dan Hay. 1991. Fisiologi Lingkungan Tanaman. Yogyakarta : Gajah Mada
University Press.

Michael, P. 1997. Metode Ekologi Untuk Penyelidikan Ladang dan Laboratorium. Jakarta :UI
Press.

Mukherji, S. and Glosh, A.K., 2002. Plant Fisiology. Tata Mc-Graw Hill. New Delhi
Odum, E. P. 1998. Dasar-dasar Ekologi. Yogyakarta : UGM Press.

Salisbury, Frank B. dan Ross, Cleon W. 1995. Fisiologi Tumbuhan Jilid 2. Bandung: Penerbit
ITB.

Sitompul, S.M. dan B. Guritno. 1995. Analisis Pertumbuhan Tanaman. Yogyakarta: Gajah

Mada University Press.

12