Anda di halaman 1dari 22

TUGAS KELOMPOK

KEPERAWATAN GAWAT DARURAT


“ Evidance Based Praktek Keperawatan Gadar”
Fasilitator : John Toding Padang, M.Kep.,Ns.,Sp.Kep.M.B

Disusun Oleh Kelompok IV :

Silpa Hulda Ubey 20170821024032


Mariati 20170821024003
Nuraisyah Simorangkir 20170821024034
Heni Rahmawati 20170821024037
Laura Marlina Sorontou 20170821024031
Sance Yunitha Sanggraangbano 20170821024011
Muhammad Ali Ravsanjani Loji 20170821024010
Natalia Sedan 20170821024012

KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI

UNIVERSITAS CENDERAWASIH
FAKULTAS KEDOKTERAN
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
TAHUN AKADEMIK 2017 / 2018
KATA PENGANTAR

Segala ucap syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan

hikmat-Nya beserta segala kemudahan, sehingga kelompok dapat menyelesaikan

makalah yang berjudul “Keperawatan Gawat Darurat II : Evidance Based Praktek

Keperawatan Gadar” dengan sebaik mungkin dan semoga bermanfaat bagi semua

pembaca.

Dalam proses penyelesaian makalah ini, kelompok banyak mendapatkan

dorongan serta bimbingan dari berbagai pihak, karenanya pada kesempatan ini

kelompok ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya :

1. John Toding Padang, M.Kep.,Ns.,Sp.Kep.MB

2. Semua pihak yang secara langsung maupun tidak langsung ikut membantu

penyusunan tugas ini

Dengan selesainya makalah sebagai salah satu tugas “KEPERAWATAN

GAWAT DARURAT II” ini, kelompok menyadari bahwa makalah penuh dengan

kekurangan, tak ada gading yang tak retak oleh karena itu saran dan kritik yang

membangun sangat kelompok harapkan untuk makalah yang lebih baik

kedepannya. Dan akhirnya dengan penuh harapan semoga karya kecil ini

bermanfaat juga menambah wawasan bagi pembaca.

Jayapura, 17 Mei 2018

Kelompok IV

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ......................................................................................... i

DAFTAR ISI ....................................................................................................... ii

BAB I

Latar Belakang ............................................................................................. 1

BAB II

A. Nursing Early Warning Score System ...................................................... 4

B. News Parameter Fisiologis Dan Sistem Scoring ..................................... 5

C. TABEL NEWS ......................................................................................... 8

D. Algoritme NEWS .................................................................................. 10

BAB III

PENUTUP.................................................................................................. 16

DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 18

LAMPIRAN ...................................................................................................... 19

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Beberapa tahun belakangan ini dalam dunia Riset kesehatan
khususnya keperawatan istilah Evidance Based Practice (EBP) banyak
didengar. munculnya berbagai penelitian terbaru berbasis fakta dalam
praktik keperawatan merupakan salah satu alasan keberadaan evidence
based. Dimana Evidance Based Practice (EBP) merupakan proses
penggunaan bukti-bukti terbaik yang jelas, tegas dan berkesinambungan
guna pembuatan keputusan klinik dalam merawat individu pasien.
(Nurhayati, 2015).
Evidance Based Nursing (EBN), nerupakan pendekatan yang dapat
digunakan dalam praktik perawatan kesehatan, yang berdasarkan evidence
atau fakta. (Safi Iman, 2012). Menurut Gerrish dan Clayton, (1998), “
Evidance Based menggunakan hasil penelitian yang diperoleh dari uji
RCT (random control trial) atau desain eksperimen lain untk menilai atau
mengaplikasikan intervensi”. dan menurut Goode dan Predaule, (1999).
Merupakan praktik klinis berdasarkan bukti melibatkan temuan pengetahuan
dan penelitian, review atau tinjauan kritis. Penggunaan bukti terbaik saat ini
dalam mengambil keputusan dalam memberikan perawatan kepada individu
pasien.
Peran perawat melayani penting dalam memastikan dan menyediakan
praktik berbasis fakta, mereka harus terus-menerus mengajukan pertanyaan
“apa fakta untuk intervensi ini?” atau “bagaimana kita memberikan praktik
terbaik?” dan apakah ini hasil terbaik yang dicapai untuk pasien, keluarga
dan perawat?. perawat juga posisi yang baik dengn anggota tim kesehatan
yang lain untuk mengidentifikasi masalah klinis dan menggunakan
bukti yang ada untuk meningkatkan praktik. Banyak kesempatan yang
ada bagi perawat untuk mempertanyakan praktik keperawatan saat itu dan
penggunaan bukti untuk melakukan perawatan lebih efektif.

1
PSIK 2017
KEPERAWATAN GADAR
Evidance Based Practice in Nursing Emergency Room merupakan
salah satu bukti penggunaan pelayanan berbasis bukti untuk keselamatan
pada pasien yang mengalami kondisi urgent dan kritis. Dalam pelayanan
keperawatan gawat darurat keperawatan dan tim medis lainnya dituntut
untuk memberikan pelayanan yang cepat karena waktu adalah nyawa
(Time saving is life saving). selain itu ada beberapa factor seperti
keterlamabatan penanganan kasus gawat daarurat antara lain karakter pasien,
penempatan staf, ketersediaan stretcher, petugas kesehatan, waktu ketibaan
pasien, pelaksanaan menejemen, strategi pemeriksaan dan penanganan yang
dipilih, merupakan pertimbangan untuk menentukan kosnep waktu tanggap
penanganan kasus dirumah sakit (Yoel et al dalam We Ode Nur 2012).
Karena kondisi kegawatdaruratan dapat terjadi dimana saja dan kapan saja,
kematian karena trauma dapat terjadi sesaat setelah kejadian, dalam perjalan
kerumah sakit maupun saat dirumah sakit (HIPGABI SULUT, 2014)
Angka kematian merupakan indikator hasil kinerja dari sebuah proses
pelayanan kesehatan, di rumah sakit ada kematian di bawah 48 jam dan ada
kematian di atas 48 jam, kematian yang terjadi di bawah 48 jam di
indikasikan jika terjadi adalah semata karena faktor tingkat kegawatan yang
berpihak atau berada pada pasien, artinya kondisi pasien lebih menentukan
kematiannya. Selanjutnya dapat dijelaskan bahwa peran proses pelayanan
kesehatan dengan berbagai sumber dayanya dalam kematian di bawah
48 jam belumlah selesai dilaksanakan (Rasmanto, 2011). Resiko kematian
yang terjadi di Rumah sakit di dunia 1:300 dibandingkan dengan angka
kecelakaan pesawat 1: 1.000.000. Di Indonesia belum ada data yang pasti
tentang angka kematian di seluruh rumah sakit namun kasus henti jantung
merupakan panggilan Code Blue di rumah sakit (Firmansyah,2013).
Henti jantung di rumah sakit biasanya didahului oleh tanda-tanda
yang dapat diamati, yang sering muncul 6 sampai 8 jam Sebelum henti
jantung terjadi. Keadaan perburukan pasien seperti halnya henti jantung
harus dideteksi dengan cepat guna untuk mencegah angka kematian. perawat
sebagai pelaksana dalam memberikan asuhan keperawatan harus melakukan

2
PSIK 2017
KEPERAWATAN GADAR
pengkajian secara terfokus dan mengobsevasi tanda vital agar dapat
menilai dan mengetahui resiko terjadinya perburukan pasien, mendeteksi
dan merespon dengan mengaktifkan emergency call (Duncan & McMullan,
2012).
Dorothe et all, (2011). Berargumen bahwa pelayanan cepat dan
pengobatan yang efektif merupakan awal meningkatkan kelangsungan
hidup pasien. Pasien sakit kritis harus diidentifikasi dengan cepat, sehingga
pengobatan yang relevan dapat dimulai tanpa penundaan. Sistem triase
berbeda telah divalidasi untuk digunakan di bagian gawat darurat dan unit
akut masuk.
Di dunia telah diperkenalkan sistem scoring pendeteksian dini atau
peringatan dini untuk mendeteksi adanya perburukan keadaan pasien dengan
penerapan Early Warning Scores. EWS telah diterapkan banyak Rumah sakit
di Inggris terutama National Health Service, Royal College of Physicians
yang telah merekomendasikan National Early Warning Score (NEWS)
sebagai standarisasi untuk penilaian penyakit akut, dan digunakan pada tim
multidsiplin (NHS Report,2012).

3
PSIK 2017
KEPERAWATAN GADAR
BAB II
PEMBAHASAN

A. NURSING EARLY WARNING SCORE SYSTEM


Early Warning Scoring System adalah sebuah sistem skoring
fisiologis yang umumnya digunakan di unit medikal bedah sebelum pasien
mengalami kondisi kegawatan. Skoring EWS disertai dengan algoritme
tindakan berdasarkan hasil skoring dari pengkajian pasien. (Duncan &
McMullan, 2012).
Early warning scores lebih berfokus kepada mendeteksi kegawatan
sebelum hal tersebut terjadi. Sehingga diharapkan dengan tatalaksana yang
lebih dini, kondisi yang mengancam jiwa dapat tertangani lebih cepat atau
bahkan dapat dihindari, sehingga output yang dihasilkan lebih baik
(Firmansyah, 2013).
Penggunaan Early Waring Scores sangat berkaitan erat dengan peran
perawat yang melakukan observasi harian tanda-tanda vital. Perawat
melaksanakan asuhan keperawatan, sebagai care giver memberikan
pelayanan dengan melakukan pengkajian harian serta memonitoring
keadaan pasien, ketika terjadi perburukan keadaaan, orang pertama yang
mengetahui adalah perawat oleh karena itu disebut Nursing Early Warning
Scores.
Sistem scoring sederhana digunakan untuk pengukuran fisiologis
ketika pasien tiba, atau yang sedang dipantau di rumah sakit. Enam
parameter fisiologis sederhana ini membentuk dasar dari sistem skor yaitu
Frekuensi pernafasan, saturasi oksigen, suhu, tekanan darah sistolik,
Frekuensi Nadi dan Level kesadaran (AVPU = Alert, Verbal, Pain,
Unrespone). Atau sering disebut dalam pemeriksaan Tanda-tanda Vital.

4
PSIK 2017
KEPERAWATAN GADAR
Tanda vital pasien (tekanan darah, denyut nadi, respirations dll) yang
rutin direkam di rumah sakitt. Dengan Nursing Early Warning Scores, setiap
tanda penting dialokasikan nilai numerik dari 0 sampai 3, dengan bagan
kode warna pengamatan (Skor 0 yang paling diinginkan dan Skor 3 adalah
paling tidak diinginkan). Nilai dari masing-masing score ditambahkan
bersama dan di jumlahkan. Hasil dari total score merupakan nilai peringatan
awal.

B. NEWS PARAMETER FISIOLOGIS DAN SISTEM SCORING


Enam Paramater Fisiologis dalam National Early Warning Scores
(NHS Report, 2012). Parameter fisiologis yang digunakan pada NEWS adalah
frekuensi pernafasan, saturasi oksigen, temperatur, tekanan darah sistolik,
frekuensi nadi, dan tungkat kesadaran. Selain keenam parameter tersebut,

5
PSIK 2017
KEPERAWATAN GADAR
NEWS juga memberikan nilai tambah 2, bila pasien menggunakan
suplementasi oksigen.

1. Frekuensi Pernapasan
Peningkatan laju pernapasan merupakan gejala yang menunjukan
adanya kondisi akut dan distress pernapasan. Hal ini dapat disebabkan
karena nyeri dan distress, infeksi paru, gangguan system saraf pusat
(CNS gangguan dan gangguan metabolik) seperti asidosi metabolik.
Penurunan laju pernapasan merupakan indikator penurunan kesadaran
atau adanya necrosis SSP.
2. Saturasi Oksigen
Pengukuran non-invasif dari saturasi oksigen dengan pulse
oximetry secara rutin digunakan dalam penilaian klinis. Sebagai
pengukuran rutin. Saturasi oksigen dianggap praktis untuk menjadi
sebuah parameter penting dalam NEWS. Saturasi Oksigen adalah alat
bantu yang kuat untuk penilaian terpadu fungsi jantung. Teknologi yang
diperlukan untuk pengukuran saturations oksigen yaitu pulse oxymetri,
sekarang tersedia secara luas, tersedia portable dan murah.
3. Suhu
Hipertermia ataupun hipotermia merupakan penanda yang sensitif
untuk menunjukan kondisi akut dan adanya gangguan fisiologi. Khusunya
pada anak-anak atau bayi /nenoantus. Perubahan suhu tubuh sangat
berpengaruh terhadap kondisi fisiologis. Terdapat 3 jenis data suhu tubuh:
a. Core temperature ( Suhu Inti Tubuh).
b. Yang dirasakan pasien.
c. Surface Tenperature (Suhu permukaan Tubuh).
Perawat harus mengidentifikasi data sesuai dengan kondisi klinis dan
penyakit pasien.
4. Tekanan darah sistolik

6
PSIK 2017
KEPERAWATAN GADAR
Hipotensi merupakan tanda yang penting dalam mengkaji
derajat keparahan dan kegawatan penyakit. Hipotensi menunjukan
adanya perubahan sirkulasi seperti : Syok sepsis atau Hipovolemi, gagal
jantung atau gangguan irama jantung. Depresi SSP dan efek obat
antihipertensi. Penting untuk dicatat bahwa beberapa orang memiliki
secara alamiah tekanan darah sistolik rendah (<100 mmHg) dan ini
mungkin dicurigai jika pasien dengan baik tanpa adanya keluhan dan
semua parameter fisiologis lain normal, Periksa parameter lainnya dan
kaji riwayat pemriksaan sebelumnnya. Hipertensi merupakan salah satu
faktor resiko penyakit Kardiovaskuler, Hipertensi tidak selalu
menunjukan kondisi akut yang menunjukan kegawatan. Hipertensi
berat, sistolik > 200 mmhg, dapat terjadi karena nyeri atau distress
lainnya. Sangat penting untuk memastikan apakah perburukan pasien
disebabkan oleh hipertensi atau diperburuk dengan hipertensi.
5. Frekuensi Nadi
Pengukuran frekuensi nadi merupakan indikator penting dari
kondisi klinis pasien. Takikardi mungkin menunjukkan gannguan
peredaran darah karena sepsis atau hipovolume, gagal jantung, pyrexia,
demam, nyeri dan distress. atau mungkin karena aritmia jantung,
gangguan metabolik, misalnya, hipertiroidismus atau dikarenakan
efek obat atau antikolinergik obat-obatan. Bradikardi juga merupakan
indikator fisiologis penting. Frekuensi nadi yang rendah mungkin normal
pada kondisi tertentu, atau sebagai akibat dari obat-obatan, misalnya
dengan beta-blockers. Namun, ia juga mungkin sebuah indikator penting
dari Hypotermia, depresi SSP, hipertiroidisme dan EKG dengan Heart
Block.
6. Level kesadaran
Tingkat kesadaran merupakan indikator penting dalam mendeteksi
perburukan pasien. Metode AVPU (Alert Verbel Pain Unrespon) + N
Penilaian ini dilakukan dalam urutan dan hanya satu hasil dilaporkan.

7
PSIK 2017
KEPERAWATAN GADAR
Misalnya, jika pasien menanggapi suara, tidak perlu untuk menilai
respon terhadap rasa sakit.
a. Alert: Terbangun atau sadar. Pasien dikatakan alert/sadar apabila
pasien dapat berorientasi terhadap tempat, waktu dan orang. Pasien
seperti itu akan membuka mata spontan, akan menanggapi.
b. Verbal: Respon terhadap suara. Pasien ini dalam keadaan
disorientasi namun masih dapat diajak bicara. Pasien membuat
beberapa respon ketika kita mengajak bicara, yang dapat dikaji dalam
tiga langkah-langkah komponen dengan mata suara, atau motorik –
misalnya buka mata pasien dengan menanyakan 'apakah anda baik-
baik saja?'. Respon ini dapat sebagai seperti mendengkur, suara
mengerang, atau sedikit, gerakan ekstermitas bila dikonfirmasi
dengan suara.
c. Pain: Respon terhadap nyeri. Paien hanya berespon terhadap
rangsangan nyeri. Pasien yang sadar, dan yang belum menjawab
untuk suara. Berikan stimulus nyeri dan kaji apakah pasien dapat
merespon.
d. Unresponse: Tidak sadar / tidak ada respon. ini juga sering
disebut sebagai 'tidak sadar'. Hasil ini dicatatkan jika pasien tidak
memberikan suara, mata atau respons motorik untuk rasa sakit atau
suara.
e. New Onset Confusion, penilaian kebingungan tidak membentuk
bagian dari penilaian AVPU. Namun demikian New Onset
Confusion atau kebingungan harus selalu konfirmasi kekhawatiran
tentang kemungkinan penyebab utama serius dan menjamin evaluasi
klinis.

C. TABEL NEWS
Early Warning Scores telah berkembang dan memfalisitas
pendeteksian dini terhadap penilaian perburukan keadaan pasien dengan
mengkategorikan keadaan pasien berdasarkan hasil score dari masing-

8
PSIK 2017
KEPERAWATAN GADAR
masing parameter. Banyak varian desain chart NEWS seperti Modified Early
Warning Scores (MEWS), Pediatric Ealry Warning Scores (PEWS), Modified
Obstetrick Warning Scores (MOEWS) dari South West Health Care dan
National Early Warning System (NEWS). Perbedaan dari masing-masing
sistem pengawasan adalah jumlah parameter fisiologis yang diawasi dan
jenis parameter fisiologis yang digunakan. Oleh karena itu, NHS (National
Health Service) dan Royal College of Physicians (RCP) dari pemerintahan
Inggris memutuskan untuk melakukan standarisasi EWS. Hasilnya adalah
National Early Warning Score. Selain sistem deteksi dini kondisi perburukan
pasien, NEWS juga menetapkan standarisasi dalam peningkatan perawatan
dan pengawasan pasien apabila kondisi pasien memburuk (Escalation
protocol).

Berikut ini adalah tabel NEWSS dewasa yang dipakai di RSCM. (Emergency
Summit, 2015).
NEWSS PASIEN DEWASA
SCORES 3 2 1 0 1 2 3
Frekuensi <8 8 9-17 18-20 21-29 >30
pernafasan
(x/Menit)
Frekuensi <40 40-50 51-100 101-110 111-129 >130
nadi
(x/Menit)
Tekanan <70 71-80 81-100 101-159 160-199 200-220 >220
darah
sistolik
(mmHg)
Tingkat Unrespon Respon Respon Alert/ Agitasion New
kesadaran pain Voice Compos or Onset of
(APVU) Mentis comfusion comfusion

9
PSIK 2017
KEPERAWATAN GADAR
Suhu <35°C 35,05- 36,05- 38,05- >38,5°C
tubuh (°C) 36°C 38,5°C 38,5°C

0–1 2–3 4–5  6

D. Algoritme NEWS
Masing-masing dari parameter fisiologis harus dialokasikan, skor
mencerminkan besarnya gangguan ke setiap parameter fisiologis. Ada tiga
tingkat pemicu untuk sebuah tanda klinis yang memerlukan penilaian Klinis
berdasarkan NEWS (NHS Report,2012).
1. Skor rendah: jumlah skor dari 0 dan 1-4
2. Skor menengah: jumlah skor dari 5-6, atau sebuah skor merah,
sebuah variasi ekstrim dalam parameter fisiologis individual (skor dari
3 dalam setiap satu parameter dengan code warna merah pada tabel
Observasi )
3. Skor tinggi: jumlah skor dari 7 atau lebih (NHS Report, 2012).
Nilai 0 dan 1-4 termasuk dalam risiko klinis rendah, memiliki
warna hijau. Pasien dengan nilai 0 akan terus diobservasi dengan
frekuensi monitoring pasien setiap 12 jam. Pasien dengan nilai 1-4 harus
dilaporkan kepada perawat penanggung jawab yang bertugas pada shift
hari itu, dan akan menentukan apakah hal tersebut perlu dilaporkan
kepada dokter jaga. Frekuensi monitoring yang dilakukan minimal
setiap 4-6 jam. Nilai 5-6 atau bila salah satu parameter miliki nilai 3,
termasuk dalam risiko klinis medium atau warna orange. Pasien yang
memiliki nilai 5-6 harus dilaporkan perawat kepada dokter jaga yang
bertugas. Dokter jaga yang bertugas akan menentukan terapi atau
tindakan klinis yang dapat dilakukan sesuai dengan kasus klinis pasien.

10
PSIK 2017
KEPERAWATAN GADAR
Hal ini bertujuan untuk mencegah perburukan pasien lebih lanjut.
Frekuensi monitoring yang dilakukan minimal setiap jam.
Nilai diatas 7 termasuk dalam risiko tinggi atau warna merah.
Pasien dengan nilai 7 harus dilaporkan dokter jaga kepada dokter
spesialis penanggung jawab pasien sehingga dapat dilakukan tindakan
yang sesuai dengan penyakit pasien. Pasien tersebut membutuhkan
monitoring terus-menerus, sehingga perlu diputuskan pemindahan
perawatan pasien ke ICU. Sebelum dipindahkan ke ICU, pasien harus
dilakukan tindakan stabilisasi sehingga saat transportasi pasien ke ICU,
pasien dalam kondisi sestabil mungkin.
Berikut adalah algoritme NEWS Dewasa menurut hasil warna skor
(Emergency Summit, 2015).
1. Hijau : Pasien dalam kondisi Stabil
2. Kuning: Pengkajian ulang harus dilakukan oleh Perawat Primer/
Penanggung jawab Shift. Jika skor pasien akurat maka perawat primer
atau PP harus menentukan tindakan terhadap kondisi pasien dan
melakukan pengkajian ulang setiap 2 jam oleh perawat pelaksana.
Pastikan kondisi pasien tercatat di catatan perkembangan pasien.
3. Oranye: Pengkajian ulang harus dilakukan oleh Perawat Primer/
Penanggung jawab Shift dan diketahui oleh dokter jaga residen. Dokter
jaga residen harus melaporkan ke Dokter penanggung jawab dan
memberikan instruksi tatalaksana pada pasien tersebut. Perawat pelaksana
harus memonitor tanda vital setiap jam
4. Merah: Aktifkan Code blue, tim medik reaksi cepat melakukan tata
laksana kegawatan pada pasien, dokter jaga dan Dokter penanggung
jawab diharuskan hadir disamping pasien dan berkolaborasi untuk
menentukan rencana perawatan pasien selanjutnya. Perawat pelaksana
harus memonitor tanda vital setiap jam atau setiap 15 menit – 30 menit
– 60 menit/ continous monitoring (Firmansyah, 2013).

11
PSIK 2017
KEPERAWATAN GADAR
5. Respon Klinis NEWS
Ketika pasien mengalami perburukan kondisi klinis sementara di rawat
dalam rumah sakit, NEWS harus digunakan untuk membantu menentukan
skala respons klinis yang diperlukan. Respons klinis NEWS terdiri dari
tiga elemen kunci diantaranya:
a. Urgensi dari tanggapan.
b. Seniority dan kompetensi klinis dari staf.
c. Seting yang akan dikirimkan perawatan klinis.
Pada tahun 2007, NICE guideline Acutely ill patients in hospital:
recognition of and response to acute illness in adults in hospital
menyarankan agar, sebuah strategi respons ditingkatkan untuk pasien-
pasien yang berada pada resiko perburukan klinis, harus direspon dan
ditindak lanjuti secara lokal ke perawatan yang intensife (NHS Report,
2013).
Respon terhadap setiap tingkat pemicu NEWS harus menentukan:
a. kecepatan/urgensi tanggapan - termasuk proses eskalasi untuk
memastikan bahwa respon selalu terjadi.
b. Who response (Siapa yang merespon), ie-seniority dan kompetensi
klinis dari responder.
c. Setelan atau setting klinis yang sesuai untuk pengobatan akut yang
sedang berlangsung.
d. Frekuensi berlanjut dari monitoring pasien.

6. Rekomendasi dan alur Pendeteksi dini


Menurut Royal College of Physicians dalam National Early
Warning Score (NEWS) Standardising assesment of acute-illness severity
in the NHS Report July 2012. Merekomendasikan agar penilaian klinis
NEWS rutin dari semua pasien dewasa (usia 16 tahun atau lebih),
digunakan untuk meningkatkan: penilaian dari penyakit akut , deteksi
perburukan klinis, tindakan reaksi tepat waktu dan respons klinis yang
kompeten. NEWS tidak boleh digunakan pada anak-anak ( berusia <16

12
PSIK 2017
KEPERAWATAN GADAR
tahun) atau perempuan yang sedang hamil. Karena respons fisiologis
untuk penyakit akut dapat dimodifikasi pada anak-anak dan ibu hamil.
Lebih jauh lagi, pada penyakit kronik secara fisiologi dari beberapa
penderita penyakit paru obstruktif (COPD) dapat mempengaruhi
kepekaan NEWS, yang harus diakui saat menafsirkan early warning
scores pada pasien tersebut. NEWS dapat digunakan sebagai bantuan
untuk penilaian atau pengkajian klinis dan bukan sebagai pengganti
klinis yang kompeten. NEWS harus digunakan untuk penilaian awal dari
penyakit akut dan untuk pemantauan secara terus-menerus.
Berikut ini adalah alur untuk mendeteksi perburukan pasien menurut
Firmansyah (2013).

Lakukan skoring dengan NEWS

Jumlahkan semua skor dan catat kategori


NEWS

Lakukan tatalaksanaan sesuai

Cek dan catat Algomental

13
PSIK 2017
KEPERAWATAN GADAR
Pelayanan keperawatan gawat darurat merupakan pelayanan
profesional keperawatan yang diberikan kepada pasien yang berada dalam
kondisi urgent dan kritis (Musliha, 2010). Penanganan yang cepat dan
tepat dapat meminimalisir akan kejadian kompikasi dan kematian.
Perawat sebagai pelaksana petugas yang pertama dalam respon time ‘in-
hospital’. Harus menghindari keterlambatan penanganan yang dapat
menyebabkan keterpurukan status kesehatan pada seseorang yang sakit
dengan keadaan kritis. “Time Saving is Life Saving (respon time
diusahakan sesingkat mungkin), The Right Patient, to The Right Place
at The Right Time, with The Right Care Provider.“
Menurut Dorothe et all (2011) : Pelayanan cepat dan
pengobatan yang efektif merupakan awal meningkatkan kelangsungan
hidup pasien. Pasien sakit kritis harus diidentifikasi dengan cepat,
sehingga pengobatan yang relevan dapat dimulai tanpa penundaan. Sistem
triase berbeda telah divalidasi untuk digunakan di bagian gawat darurat
dan unit akut masuk. Deteksi dini, ketepatan waktu dan kompetensi
dalam respon klinis merupakan triad faktor penentu dari Clinical
outcomes yang baik dalam pelayanan gawat darurat (Royal College
of Physicians,2012).
Pentingnya deteksi dini ini telah mengaktifkan respons medis di
rumah sakit, dan telah mendorong pelayanan kesehatan di Kanada,
Australia dan Inggris untuk menerapkan sistem Skor peringatan dini
(Early Warning Score). Gagasan Early warning Scores telah
dikembangkan dalam beberapa tahun belakangan ini, ada beberapa
macam variasi chart yang ada, diantaranya NEWS (National Early
Warning Scores), MEOWS (Modified Early Obstetric Warning Scores),
dan PEWS (pediatrick Warning Scores). Namun meskipun ada banyak
jenis sistem seperti itu, fungsi umum EWS sebagai alat samping tempat
tidur untuk menilai parameter fisiologis dasar dan untuk
mengidentifikasi pasien 'risiko' atau sakit kritis terkait dengan aktivasi

14
PSIK 2017
KEPERAWATAN GADAR
protokol tim medis atau team raksi cepat (Patterson et al dalam Adrian
dan Naomi 2015).
Dorothe et al. (2011) Berargumen bahwa sistem Skor peringatan
dini (Early Warning Scores) dapat mengidentifikasi pasien pada risiko
tinggi kerusakan bencana dan ini mungkin dapat digunakan untuk
triase gawat darurat. Berdasarkan penelitiannya dalam Nurse-
administered early warning score system can be used for emergency
departement triage. Di Departement Emergency Rumah sakit
Bispebjerg telah menerapkan BEWS (Bispebjerg Early Warning score).
Dengan hasil peneiltian BEWS ≥ 5 ini dikaitkan dengan risiko secara
signifikan terjadi peningkatan pasien masuk ICU dalam waktu 48 jam
kedatangan (RR relative risk) 4.1; 95% confidence interval (CI) 1.5 10.9)
dan kematian dalam waktu 48 jam kedatangan (RR 20,3; 95% CI 6.9-
60,1). Sensitivitas dari BEWS dalam mengidentifikasi pasien yang
dirawat ke ICU atau yang mati dalam waktu 48 jam kedatangan 63%.
Nilai prediktif positif BEWS adalah 16% dan negatif nilai prediktif
98% untuk identifikasi pasien yang dirawat ke ICU atau yang mati
dalam waktu 48 jam kedatangan.
DiIndonesia melalui RSCM sudah mengembangkan Nursing
Early Warning Scores pada semua perawat di awal tahun 2014. Hasil uji
coba 100% perawat merasa NEWS dapat digunakan dalam pelayanan, dan
75% perawat dapat melakukan analisis hasil TTV dengan NEWS. Dengan
parameter yang diukur adalah kemudahan penggunaan formulir NEWS.
Nursing Early warning scores lebih berfokus kepada mendeteksi
kegawatan sebelum hal tersebut terjadi. Sehingga diharapkan dengan
tatalaksana yang lebih dini, kondisi yang mengancam jiwa dapat
tertangani lebih cepat atau bahkan dapat dihindari, sehingga output yang
dihasilkan lebih baik (Firmansyah,2013).

15
PSIK 2017
KEPERAWATAN GADAR
PENUTUP

Evidance Based Practice (EBP) merupakan proses penggunaan bukti-


bukti terbaik yang jelas, tegas dan berkesinambungan guna pembuatan
keputusan klinik dalam merawat individu pasien. Penggunaan bukti terbaik saat
ini dalam mengambil keputusan dalam memberikan perawatan kepada individu
pasien. Pelayanan cepat dan pengobatan yang efektif merupakan awal
meningkatkan kelangsungan hidup pasien. Pasien sakit kritis harus diidentifikasi
dengan cepat, sehingga pengobatan yang relevan dapat dimulai tanpa
penundaan. Sistem triase berbeda telah divalidasi untuk digunakan di bagian
gawat darurat dan unit akut masuk (Dorothe et all, 2011)
Sistem scoring pendeteksian dini atau peringatan dini untuk mendeteksi
adanya perburukan keadaan pasien dengan penerapan Early Warning Scores.
EWS telah diterapkan banyak Rumah sakit di Inggris terutama National Health
Service, Royal College of Physicians yang telah merekomendasikan National
Early Warning Score (NEWS) sebagai standarisasi untuk penilaian penyakit
akut, dan digunakan pada tim multidsiplin (NHS Report, 2012). DiIndonesia
melalui RSCM sudah mengembangkan Nursing Early Warning Scores pada
semua perawat di awal tahun 2014. Hasil uji coba 100% perawat merasa NEWS
dapat digunakan dalam pelayanan, dan 75% perawat dapat melakukan analisis
hasil TTV dengan NEWS. Dengan parameter yang diukur adalah kemudahan
penggunaan formulir NEWS. Nursing Early warning scores lebih berfokus
kepada mendeteksi kegawatan sebelum hal tersebut terjadi. Sehingga
diharapkan dengan tatalaksana yang lebih dini, kondisi yang mengancam jiwa
dapat tertangani lebih cepat atau bahkan dapat dihindari, sehingga output yang
dihasilkan lebih baik
Nursing Early Warning Score merupakan suatu bentuk evidence based
khususnya untuk perawat ataupun tenaga kesehatan agar dapat menerapkan
suatu sistem pendeteksian dini terhadap kondisi pasien gawat darurat dan
monitoring misalnya menggunakan Nursing Early Warning Scores dan

16
PSIK 2017
KEPERAWATAN GADAR
rujukan dalam penanganan pasien gawat darurat. Walaupun Penerapan
Nursing Early Warning Score belum merata di seluruh rumah sakit diIndonesia
karena ada beberapa kendala seperti standart asuhan keperawatan (SAK) belum
sepenuhnya sama disetiap rumah sakit, namun diharapkan penggunaan NEWS
ini dapat diterapkan dirumah sakit dengan algoritma sesuai SAK demi
meningkatan mutu pelayanan kesehatan.

17
PSIK 2017
KEPERAWATAN GADAR
DAFTAR PUSTAKA

Nanna Martin jensen, Rikke Maale, Seren Steeman, Bo Belhage & Hans Perrid.
(2012). Nurse- administered Early Warning Score System Can Be Used
for Emergency Departemen Triage. Danish Medical Bulletin,
2014;58(6):A4221
Duncan, K., & McMullan, C. (2012). Early Warning System. Philadelphia:
Lippincott Williams & Wilkins.
Fox, A., & Elliott, N. (2015). Early Warning Scores: A Sign of Deterioration
in Patients and Systems. Nursing Management, 22 (1), 26-31. doi:
http://dx.doi.org/10.7748/nm.22.1.26.e1337 Di akses pada 16 Mei 2018
20:00 WIT
Firmansyah (2013), NEWSS: Nursing Early Warning Scoring System, TMRC
RSCM, (online), (https://www.scribd.com/doc/184093556/NEWSS-
Nursing-Early-Warning-Scoring- System diakses tanggal Di akses pada
16 Mei 2018 20:00 WIT
Hipgabi SULUT (2014), Materi Pelatihan Emergency Nursing Basic
Trauma Cardiac Life
Support. Manado : Penulis.
IGD RSCM, (2015), Buku Program Emergency Summit, National
preparedness for medical Emergency and disaster Where are we now?.
Jakarta : HIPGABI Indonesia.
Musliha, (2010), Keperawatan Gawat Darurat, Plus Contoh Askep Dengan
pendekatan NANDA NIC NOC, Yogyakarta: Nuha Medika
National Clinical Effectiveness Comitee, (2013), National Early Warning
Score, National clinical guideline No. 1, Ireland : RCP. ISSN 2009-6259
Royal College of Physicians.(2012), National Early Warning Score (NEWS):
Standardising the assessment of acuteillness severity in the NHS. Report
of a working party. London: RCP. ISBN 978-1-86016-471-2
Siboro Tomsal (2013), Hubungan Pelayanan Perawatan Dengan Tingkat Kepuasan
Pasien di Ruang Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Advent Bandung,
Universitas Advent Bandung; (http://docplayer.info/30872224-Hubungan-
pelayanan-perawatan-dengan-tingkat-kepuasan-pasien-di-ruang-unit-gawat-
darurat-rumah-sakit-advent-bandung.html diakses tanggal 17 Mei 2018 jam
02.12 WIT )
Wahyudi Payzar, Indiriati dan Bahyaki, (2014), Gambaran Skor Pediatric Early
Warnig Score (PEAWS) Pada Pola Rujukan Pasien Anak Di Instalasi
Gawat Darurat, Universitas Riau : JOM PSIK Vol.1.2 Oktober 2014

18
PSIK 2017
KEPERAWATAN GADAR
LAMPIRAN

19
PSIK 2017
KEPERAWATAN GADAR