Anda di halaman 1dari 23

Referat

KATARAK DAN BEDAH REFRAKTIF

Oleh:
Alni Diniati, S.Ked
Elmira Rachma Putri, S.Ked
Muhammad Noor Fadillah, S.Ked
Nurul Hidayati, S.Ked
Rizky Annisa M, S.Ked
Sindy Oktaviani, S.Ked
Yoppy Agung Cahyadi, S.Ked

Pembimbing :
Dr. Efhandi Nukman, Sp.M

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR


BAGIAN ILMU KESEHATAN MATA
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS RIAU
RSUD ARIFIN ACHMAD PROVINSI RIAU
2017
BAB I

PENDAHULUAN

Salah satu masalah yang serius terhadap kesehatan masyarakat bagi setiap
negara khususnya negara berkembang adalah kebutaan.1 Indonesia yang merupakan
negara berkembang juga mengalami masalah kebutaan. Dalam catatan WHO,
Indonesia merupakan urutan ketiga dalam masalah kebutaan sebesar 1,5%.

Kebutaan yang terjadi di seluruh dunia yang terbanyak disebabkan oleh


gangguan refraksi yang tidak terkoreksi, katarak, dan glaukoma.2 Indonesia sebagai
negara berkembang juga banyak mengalami masalah kesehatan mata. Perkiraan
insiden katarak adalah 0,1% pertahun di antara 1.000 orang. Penduduk Indonesia juga
memiliki kecenderungan menderita katarak 15 tahun lebih cepat dibandingkan
penduduk di daerah subtropis, sekitar 16 - 22% penderita katarak yang dioperasi
berusia di bawah 55 tahun.3 Sedangkan prevalensi katarak di provinsi Riau sebesar
1,9 persen.4
Katarak adalah suatu kekeruhan pada lensa yang dapat terjadi akibat hidrasi
(penambahan cairan) lensa, denaturasi protein lensa, atau terjadi akibat kedua-
duanya. Katarak bisa dialami pada semua umur bergantung pada faktor pencetusnya.
Secara umum, penyebab katarak dapat dibagi menjadi kongenital dan didapat.
Sebagian katarak yang ditemukan adalah yang didapat, dengan sebagian besar
berhubungan dengan penuaan.5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 KATARAK
2.1.1 DEFENISI
Katarak merupakan abnormalitas pada lensa mata berupa kekeruhan
lensa yang menyebabkan tajam penglihatan penderita berkurang. Katarak
lebih sering dijumpai pada orang tua, dan merupakan penyebab kebutaan
nomor 1 di seluruh dunia. Penuaan merupakan penyebab katarak yang
terbanyak, tetapi banyak juga factor lain yang mungkin terlibat, antara lain :
trauma, toksin, penyakit sistemik (mis; diabetes), merokok, dan herediter.
Katarak sendiri sebenarnya merupakan kekeruhan pada lensa akibat hidrasi,
denaturasi protein, dan proses penuaan.sehingga memberikan gambaran area
berawan atau putih.5,6
2.1.2 EPIDEMIOLOGI
Prevalensi katarak di Amerika Serikat didapatkan sekitar 20,5 juta
orang dengan usia >40 tahun menderita katarak pada satu maupun kedua
matanya. Perkiraan insiden katarak adalah 0,1% pertahun di antara 1.000
orang. Penduduk Indonesia juga memiliki kecenderungan menderita katarak
15 tahun lebih cepat dibandingkan penduduk di daerah subtropis, sekitar 16 -
22% penderita katarak yang dioperasi berusia di bawah 55 tahun.7,8
Sedangkan prevalensi katarak di provinsi Riau sebesar 1,9 persen.
prevalensi tertinggi terlihat di Indragiri Hilir (3,1%) diikuti oleh Pelalawan
(3,0%) dan Kuantan Singingi (2,7%). Prevalensi katarak terendah ditemukan
di Indragiri Hulu (0,9%) diikuti Rokan Hulu dan Rokan Hilir (masing-masing
1,1%).9

2.1.3 ETIOLOGI
Penyebab tersering dari katarak adalah proses degenerasi, yang
menyebabkan lensamata menjadi keras dan keruh. Selain itu katarak juga
dapat terjadi akibat kelainan kongenital akibat adanya infeksi pada seorang
wanita ketika hamil.5 Penyakit intraokular lainnya yang dapat mengakibatkan
katarak yaitu seperti glaukoma, ablasi, uveitis, dan retinitis pigmentosa.
Katarak dapat disebabkan oleh berbagai faktor yaitu :5

a. Usia
b. Fisik
c. Kimia
d. Penyakit predisposisi
e. Genetik dan gangguan perkembangan
f. Infeksi virus pada masa pertumbuhan janin
2.1.4 KLASIFIKASI
Klasifikasi katarak diklasifikasikan berdasarkan beberapa kriteria berbeda,
yaitu :

a. Klasifikasi Morfologik:10
1) Katarak Kapsular
2) Katarak Subkapsular
3) Katarak Nuclear
4) Katarak Kortikal
5) Katarak Lamellar
6) Katarak Sutural
b. Klasifikasi berdasarkan etiologinya:10,11
1) Katarak yang berhubungan dengan usia
2) Trauma
a) Pembedahan Intraoculer sebelumnya seperti Vitrectomy pars plana,
pembedahan glukoma (trabeculoctomy atau iridotomy).
3) Kondisi lainnya : Diabetes mellitus, dermatitis atopik, miopia tinggi,
uveitis anterior, galaktosemia, toksik pada obat-obatan (steroid,
amiodarone, statin, tamoxifen, phenothiazine).
c. Klasifikasi berdasarkan kejadian :10,11
1) Kongenital
2) Didapat seperti :
a) Katarak juvenile
b) Katarak presenil
c) Katarak senil
d. Berdasarkan kekeruhan pada lensa, dibedakan menjadi 4 stadium, yaitu:10
1) Katarak insipien
2) Katarak imatur
3) Katarak matur
4) Katarak hipermatur

Gambar 1. Klasifikasi katarak.10

2.1.4 PATOFISIOLOGI
Pengaruh usia terhadap lensa meningkatkan massa dan ketebalan serta
penurunan kekuatan akomodasi.12 Lensa terdiri dari protein khusus yang
disebut crystallin. Crystallin dapat berfungsi mengabsorpsi energi radiasi
(cahaya tampak gelombang pendek, ultraviolet dan infrared) dari waktu ke
waktu tanpa mengubah kualitas optikal umumnya. Ini memberikan fungsi
pelindung yang cukup besar untuk aktivitas berbagai enzim metabolisme
karbohidrat. Pada penuaan, terjadi stres oksidatif yang mencerminkan
ketidakseimbangan antara manifestasi sistemik oksigen reaktif dan
kemampuan sistem biologi untuk detoksifikasi reaktif intermediet atau untuk
memperbaiki kerusakan yang dihasilkan. Hal ini secara luas diakui bahwa
stres oksidatif adalah faktor yang signifikan dalam genesis katarak senilis.
Proses oksidatif meningkat dengan pertambahan usia di lensa manusia, dan
konsentrasi protein yang ditemukan secara signifikan lebih tinggi di lensa
yang buram. Hal ini menyebabkan pemecahan dan agregasi protein, dan
berpuncak pada kerusakan membran sel serat. 13
Perubahan kimia dan pemecahan protein crystallin menghasilkan
pembentukan agregat protein. Agregat dapat semakin membesar dan
menyebabkan fluktuasi di indeks refraktif lokal pada lensa yang dengan
demikian cahaya menyebar dan penurunan transparansi. Perubahan kimia inti
protein lensa juga meningkatkan opasitas lensa, lensa menjadi kuning atau
coklat dengan pertambahan usia.12

2.1.5 MANISFESTASI KLINIS 14

a. Penurunan ketajaman visus: gangguan visus jarak dekat (katarak subkapsular


posterior), gangguan ketajaman warna (katarak unilateral atau asimetris)
b. Peningkatan sensitivitas terhadap cahaya dan kontras
c. Perubahan miopik: akibat peningkatan kekuatan dioptri lensa
d. Diplopia monokular atau poliopia, akibat timbulnya perubahan nukleus yang
terbatas pada lapisan dalam lensa nukleus dan menciptakan beberapa area
refraktil pada pusat lensa
e. Penurunan fungsi penglihatan, penilaian dilakukan menggunakan Skala
Penglihatan Aktivitas Harian (ADVS), Indeks Fungsi Penglihatan (VF-14),
Kuesioner Fungsi Penglihatan Institut Mata Nasional (NEI-FVQ) dan Penilaian
Disabilitas Visual (VDA)
2.1.6 DIAGNOSIS15
a. Anamnesis :
1) Keluhan pasien biasanya datang dengan penglihatan yang menurun
secara perlahan seperti tertutup asap atau kabut.
2) Keluhan juga disertai ukuran kacamata semakin bertambah
3) Silau dan sulit membaca.
4) Terdapat faktor-faktor resiko seperti usia lebih dari 40 tahun, riwayat
penyakit sistemik seperti diabetes mellitus, riwayat pemakaian obat
tetes mata steroid secara rutin serta kebiasaan merokok dan pajanan
sinar matahari.

b. Pemeriksaan fisik :

1) Penurunan visus yang tidak membaik dengan pemberian pinhole


2) Pemeriksaan shadow tes (+)
3) Terdapat kekeruhan lensa yang dapat dilihat jelas pada pemeriksaan
oftalmoskop sehingga didapatkan media yang keruh pada pupil

c. Pemeriksaan penunjang :
Tidak diperlukan
2.1.7 TATALAKSANA
a. Indikasi
Indikasi penatalaksanaan bedah katarak meliputi perbaikan visus, medis dan
kosmetik.16

1. Perbaikan visus merupakan indikasi paling umum untuk ekstraksi katarak,


indikasi ini berbedar-beda pada tiap individu.
2. Indikasi medis ialah dimana adanya katarak yang mengganggu penglihatan
pasien, seperti glaukoma dan perawatan retinopati diabetik yang terhambat
oleh katarak.
3. Indikasi kosmetik dimana katarak matur dilakukan ekstraksi untuk
mengembalikan visus.
b. Lensa intraokular
Lensa intraokular memiliki banyak jenis, sebagian besar desain terdiri
atas sebuah optik bikonveks di sentral dan dua buah kaki atau haptik untuk
mempertahankan optik diposisinya. Posisi yang optimal adalah didalam
kantung kapsular setelah dilakukannya prosedur ekstrakapsular, hal ini
berhubungan dengan rendahnya insiden komplikasi pasca operasi seperti
keratopati bulosa psedofakik, glaukoma, kerusakan iris, hifema dan desentasi
lensa. Lensa bilik mata belakang terbuat dari bahan yang lentur seperti silikon
dan polimer akrilik, sehingga ukuran insisi dapat dibuat kecil. Desain lensa
yang menggabungkan optik multifokal bertujuan untuk memberikan
penglihatan dekat maupun jauh yang baik. Setelah pembedahan intrakapsular,
lensa intraokular dapat ditempatkan dibilik mata depan atau bisa difiksasi di
sulkus siliaris. Apabila lensa intraokular tidak dapat ditempatkan dengan
aman atau dikontraindikasikan, koreksi refraksi pascaoperasi umumnya
memerlukan sebuah lensa kontak atau kacamata afakia.17
c. Teknik Bedah
Metode operasi yang umum dipilih untuk katarak dewasa atau anak-
remaja adalah meninggalkan bagian posterior kapsul lensa dikenal sebagai
ekstarksi katarak ekstrakapsular. Bagian dari prosedur ini adalah dengan
menanam lensa intraokular. Insisi dibuat pada limbus superior, bagian anterior
kapsul dipotong dan diangkat lalu bagian nukleus diekstraksi dan korteks
lensa dibuang dari mata dengan irigasi atau tanpa aspirasi sehingga
menyisakan kapsul posterior (gambar 2), sedangkan ekstraksi katarak
intrakapsular merupakan suatu tindakan mengangkat lensa berikut kapsulnya
(in toto) melalui insisi limbus superior 140 hingga 160 derajat. Tindakan ini
jarang dilakukan.17,18
Gambar 2. Ekstraksi katarak ekstrakapsular16

Fakoemulsifikasi adalah teknik ekstraksi katarak ekstrakapsular yang


paling sering digunakan. Teknik ini menggunakan vibrator ultrasonik untuk
menghancurkan nukleus yang keras hingga substansi nukleus dan korteks
dapat diaspirasi melalui suatu insisi berukuran 3 mm untuk memasukkan lensa
intraokular yang dilipat (foldable intraocular lens), jika digunakan lensa yang
kaku insisi dilebarkan menjadi 5 mm. Keuntungan dari tindakan bedah insisi
bedah kecil ialah kondisi intraoperasi lebih terkendali, menghindari
penjahitan, perbaikan luka lebih cepat dengan derajat distorsi kornea lebih
rendah dan mengurangi peradangan intraokular pasca operasi. Teknik
fakoemulsifikasi menimbulkan risiko yang lebih tinggi terhadap terjadinya
pergeseran materi nukleus ke posterior melalui suatu robekan kapsul
posterior, hal ini membutuhkan tindakan bedah vitreoretina yang kompleks.
Setelah tindakan bedah katarak ekstrakapsular, dapat terjadi kekeruhan
sekunder pada kapsul posteriordan memerlukan disisi dengan menggunakan
laser YAG:neodymium. Ekstraksi lensa melalui pars plana selama prosedur
vitrektomi posterior yang disebut lensektomi pars plana atau fakofragmentasi.
Metode ini dilakukan bersamaan dengan pengangkatan vitreus yang opak atau
berparut (Gambar 3).17

Gambar 3. Fakoemulsifikasi16
d. Perawatan pascaoperasi
Masa penyembuhan pascaoperasi pada teknik insisi kecil biasanya
lebih pendek, umumnya pasien boleh pulang pada hari operasi, tetapi
dianjurkan untuk berhati-hati dalam melakukan aktivitas selama satu bulan,
perlindungan mata saat malam hari dapat menggunakan pelindung logam
hingga beberapa hari pascaoperasi. Kacamata sementara dapat digunakan
beberapa hari setelah pascaoperasi tetapi kebanyakan pasien dapat melihat
cukup baik melalui lensa intraokular sambil menunggu kacamata permanen,
biasanya disediakan 4-8 minggu setelah operasi.17
2.2 BEDAH REFRAKTIF
2.2.1 DEFENISI
2.2.2 INDIKASI BEDAH REFRAKTIF19
a. Indikasi kosmetik.
b. intoleransi lensa kontak. Misalnya, kacamata dengan koreksi tinggi berat
dan menghasilkan distorsi citra perifer.
c. Perbaikan kesalahan refraksi sekunder akibat operasi mata sebelumnya
(seperti operasi katarak)

2.2.3 JENIS-JENIS BEDAH REFRAKSI


a. LASIK
Lasik adalah salah satu operasi refraksi untuk memperbaiki kelainan
refraksi pada mata seperti miopia, hipermetropia dan astigmatisma. Lasik
merupakan jenis yang paling sering digunakan dan paling terkenal
dibandingkan operasi dengan bantuan laser (laserassisted) lainnya, seperti
PRK (photorefractive keratectomy) atau yang lebih dikenal dengan Lasek
(laser-assisted sub-ephitelial keratectomy). Jenis ini umumnya tergolong aman
dan menghasilkan penanganan yang lebih efektif untuk jenis kelainan
pengelihatan yang lebih besar. Secara spesifik, LASIK melibatkan fungsi dan
kemampuan dari laser untuk merubah bentuk kornea secara permanen. LASIK
telah memperbaiki secara total kelainan pada mata dan mengurangi
ketergantungan pada kacamata dan lensa kontak (contact lenses). 20
LASIK merubah secara permanen bentuk dari bagian sentral anterior
pada kornea dengan memanfaatkan laser jenis excimer untuk mengablate
(mengikis suatu bagian dari jaringan hidup dengan penguapan) sebagian kecil
dari lapisan jaringan stroma kornea yang berada di bagian depan mata, tepat
dibawah lapisan jaringan epitelium kornea. Agar tidak terjadi kesalahan
operasi dan untuk menambah ketelitian hingga satuan mikrometer, saat
operasi sedang berlangsung, sistem komputer melacak pergerakan mata pasien
60 hingga 4000 kali perdetik, tergantung dari sistem yang digunakan,
kemudian menepatkan posisi laser pada peletakan yang presisi. Sistem
modern saat ini bahkan secara otomatis langsung memfokuskan berkas laser
tepat pada posisi visual axis pada mata pasien, dan akan berhenti dengan
sendirinya apabila pergerakan mata diluar jangkauan kemampuan sistem, dan
akan lanjut dengan sendirinya apabila mata pasien telah berada di posisi yang
tepat. 20
Bagian lapisan luar dari kornea atau epitelium, merupakan jaringan
yang lunak, hidup, terus memperbarui diri (regenerasi), dan dapat pulih secara
sempurna apabila terjadi iritasi atau disayat untuk keperluan operasi mata
tanpa kehilangan kejernihannya dari keadaan semula. Bagian lapisan yang
lebih dalam disebut stroma kornea, terbentuk sebelum epitelium, dan
memiliki kemampuan regenerasi jauh lebih lambat dan terbatas dibanding
lapisan epitelium. Bagian ini, merupakan bagian yang diubah pada tindakan
operasi mata dengan LASIK maupun PRK/LASEK. Apabila bagian ini
dibentuk ulang oleh tindakan diatas menggunakan laser atau mikrokeratome
(sayatan halus), maka bagian ini akan mempertahankan bentuk tersebut tanpa
terjadi perubahan bentuk semula. 21
b. Photorefractive Keratektomi (PRK)22
Photorefractive Keratectomy (PRK) yaitu suatu tindakan laser excimer
membuat pemotongan kornea yang akurat, mengurangi daya refraksi
permukaan kornea anterior. Ini digunakan terutama untuk mengobati miopia
dan juga bisa digunakan untuk mengobati astigmatisme. Indikasi yang
disarankan saat ini untuk PRK adalah miopia kurang dari 6 D dengan
astigmatisme kecil (<1,5 D). Hasil pengobatan kurang dapat diprediksi untuk
tingkat miopia yang lebih tinggi. Komplikasi PRK meliputi rasa sakit, opasitas
kornea, penglihatan kabur, silau, penglihatan malam yang terganggu, dan
astigmatisme. Dengan tingkat miopia yang lebih tinggi, ada risiko jaringan
parut kornea yang lebih besar, penglihatan kabur, ametropia dan regresi.
Teknik dan prosedur bedah untuk PRK mirip dengan LASIK, kecuali
pembuangan epitel di PRK diganti dengan pembuatan flap di LASIK. Teknik
asli pembuangan epitel adalah gesekan mekanis dengan menggunakan pisau
tumpul atau pisau bedah. Larutan etanol 18% sampai 20% dapat diterapkan
untuk memudahkan debridemen dengan spatula atau mikroskop.

Gambar 4. Prosedur Photorefractive Keratectomy (PRK).22


c. Lasek Epithelial Keratomileusis (LASEK)
LASEK adalah operasi mata yang menggabungkan keuntungan dari
operasi LASIK dan PRK. Operasi LASEK merupakan prosedur untuk
mengobati astigmatisma, nearsightedness, atau farsightedness. Operasi
LASEK memeliki keuntungan berupa komplikasi perlekatan kornea dapat
dihindari dan kejadian mata kering akibat operasi lebih rendah dibandingkan
operasi LASIK.23
Terdapat teknik yang berbeda untuk prosedur ini, namun pada
dasarnya menghasilkan ablasi epitel dengan larutan encer alkohol (18-20%).
Setelah larutan alkohol dibilas, epitelium dilepaskan dan lipatan dilipat
membentuk engsel hidung atau superior. Kemudian, ablasi laser dilakukan
dan epitel pada stroma diganti untuk menghindari komplikasi. Terakhir,
dioleskan steroid topikal dan antibiotik serta menempatkan lensa kontak
lunak. Lensa kontak lunak harus dilepas setelah reepitelisasi lengkap (3 atau 4
hari).24
Gambar 5. Prosedur Lasek Epithelial Keratomileusi24
d. Refraktif Lense Exchange (RLE)25,26
Prosedur bedah minimal invasif dalam penggantian lensa kristalina
untuk mencapai hasil refraksi paskaoperasi yang terbaik.
1) Indikasi
a) Anatomi mata yang abnormal, tanpa katarak
b) Kesalahan refraksi yang tinggi
c) Koreksi presbiopia dan agar tidak bergantung pada kacamata
pada lansia
2) Teknik operasi
a) Lakukan insisi mikro kedap air sebesar 2,2 mm (atau kurang)
pada kornea, baiknya 1 mm dari limbus, yang terletak pada
garis tengah kornea paling curam
b) Fiksasi PC-IOL yang sesuai pada kantung kapsul dengan
induksi rendah opasifikasi kapsul posterior (PCO)
c) Perhatian khusus pada mata dengan:
 Miopia aksial tinggi: gunakan material viskoelastis yang
menyebar (berat)
 Panjang aksial berlebihan: tingginya risiko perforasi saat
injeksi retrobulbar
 Mata hiperopik pendek: peningkatan risiko efusi koroid dan
edema macula
d) Teknik MICS = pendekatan RLE dengan insisi kurang dari 1,8
mm menggunakan prinsip cairan, bimanualitas dan penurunan
penggunaan kekuatan fakoemulsi
e) Pengukuran panjang aksial dan kekuatan lensa: Teknik
biometri ultrasound optik dan imersi dengan rumus Holladay 2.

Gambar 6. Prosedur Refraktif Lense Exchang26

e. EPI-LASIK(agung)

f. Presbyopia Lense Exchange27,28


PRELEX (Presbyopic Refractive Lens Exchange) merupakan suatu tindakan
untuk mengoreksi visus dengan cara menggantikan lensa alami dengan lensa
intraokular multifokal. Timdakan ini dilakukan untuk memperbaiki jarak pandang
yang pendek, miopia dan presbiopia. Tindakan ini juga dapat dilakukan pada pasien
yang memiliki kornea tipis untuk operaasi laser, tidak ingin menggunakan kacamata,
dan menunjukkan tanda gejala katarak.

Operasi dilakukan dengan menggunakan anestesi lokal dan diperlukan waktu


sekitar 15 menit. Insisi kecil dilakukan di sisi kornea lalu memasukkan probe yang
terhubung ke pakomulsifer yang akan memancarkan getaran ultrasonik sehingga
lensa alami hancur kemudian di saction. Lensa alami digantikan oleh lensa
intraokuler multifokal yang dapat dilipat lalu dimasukkan pada insisi kecil. Setelah
lensa intraokuler multifokal masuk, lensa akan terbentang pada posisi yang benar.
Sayatan tidak perlu dijahit karena ukuran sayatan kecil (Gambar 7).

Gambar 7. Prosedur Presbyopic Refractive Lens Exchange278

g. INTACS(kiky)
h. Implan Lense Intraocular Phakic (fadi)

i. AK atau LRI (Astigmatic Keratotomy)


Keratotomi astigmatik digunakan untuk mengobati berbagai gangguan
refraksi, termasuk astigmatisme bawaan, astigmatisme kornea residual pada
saat atau setelah operasi katarak, astigmatisme pasca trauma, dan
astigmatisme setelah transplantasi kornea.29
Dalam beberapa tahun terakhir, banyak pertimbangan telah diberikan
pada varian prosedur evolusioner, limbal relaxing incision (LRI). Dengan
menggerakkan sayatan lebih jauh ke bagian tepi, ahli bedah katarak dapat
dengan aman dan diduga dapat memulihkan jumlah penderita astigmatisme
pada saat operasi katarak dengan melakukan teknik insisi ini, baik dengan
tangan atau dengan penerapan teknologi laser femtosecond.30 Laser
femtosecond menawarkan beberapa keuntungan potensial daripada insisi
manual, termasuk parameter insisi yang dapat disesuaikan dan dapat
direproduksi, serta peningkatan keamanan dan titrasi efek melalui ablasi
intrastromal.29
Untuk menghasilkan sayatan yang akurat, penggunaan topograf kornea
dan atau tomograph kornea sangat penting saat memvisualisasikan lanskap
kornea. Peta elevasi dapat mengidentifikasi astigmatisme regular dan iregular,
besarnya astigmatisme, dan hubungannya dengan keseluruhan kontur
permukaan kornea anterior.31
Pasien dengan astigmatisme tinggi karena degenerasi Terrien, ulkus
Mooren, atau penyakit atau distrofi yang menyebabkan kornea menipis tidak
harus menjalani keratotomi astigmatik/insisi LRI karena risiko progresif
penipisan kornea dan perkembangan astigmatisme, yang berpotensi
menyebabkan perforasi.32 Pasien dengan diabetes kronis, luka bakar kimia,
atau penyebab penyakit permukaan okular lainnya harus didekati dengan hati-
hati, karena masalah re-epitelisasi setelah operasi kornea terjadi.29,32
Prosedur Astigmatic Keratotomy:29,33

1) Pasien diberikan anestesi topikal ke mata pra operasi dan, tandai lokasi
pukul 6 dan pukul 12 dengan gentian violet.
2) Pasien kemudian berbaring di bawah mikroskop.
3) Ujung pachymeter ultrasonik harus dibersihkan dengan alas alkohol
lalu ukur dan catat ketebalan kornea di area penempatan insisi.
4) Untuk menentukan kedalaman blade mikrometer, ambil bacaan
pachymetry tertipis di daerah di mana insisi keratotomi astigmatik
pertama akan ditempatkan dan kurangi 0,02 mm dari pengukuran itu.
Catat nilai ini pada rencana bedah dan atur kedalaman pisau di bawah
mikroskop operasi.
5) Penggaris Thornton astigmatic 360 ° digunakan untuk menandai
kornea.
6) Sejajarkan dengan marker jam 6 dan jam 12 jam yang telah dibuat
sebelumnya dan tekan perlahan penggaris ke kornea.
7) Identifikasi zona optik yang benar dari nomogram dan cari titik awal
insisi dengan menggunakan tanda 10 ° pada kornea.. Perlahan
memotong bagian yang diinginkan dan waspada terhadap pooling,
yang mungkin mengindikasikan perforasi yang tidak disengaja.
8) Jika terjadi perforasi, lepaskan pisau segera . Jika terjadi perforasi
makro, hentikan prosedur dan pertimbangkan jahitan insisi jika
diperlukan.
9) Lakukan sayatan lebih jauh sampai pasien sembuh total dan stabilitas
bias tercapai.

Gambar 8. Penggaris Thornton astigmatic 360 °.33

Gambar 9. Keratotomi astigmatis. Keratotomi astigmatik sisi nasal. Daerah di sekitar


luka terwarnai dengan fluorescein.33
j. Radikal Keratotomy (RK) 34,35
Radial keratotomi adalah operasi untuk memperbaiki miopia. Radial
keratomi yaitu membuat potongan kecil pada kornea agar lebih datar, dengan
demikian akan meningkatkan jarak penglihatan. Indikasi dari tindakan radial
keratotomi adalah :

1) Pasien dengan miopia ringan dengan 1.00-1.50 dioptri


2) Usia. Pasien usia dibawah 21 tahun tidak harus melakukan operasi
karena media refraksi yang masih belum stabil.

Sedangkan kontra indikasi pada tindakan ini adalah :

1) Miopia patologi, yang menyebabkan gangguan penglihatan yang


cepat.
2) Miopia tinggi
3) Kelainan kornea
4) Kelainan jaringan penghubung yang dapat mempengaruhi
penyembuhan kornea
5) Keratokonus
6) Glaukoma
7) Herpes simpleks keratitis
8) Kehamilan
DAFTAR PUSTAKA

1. Pascolini D, Mariotti SP. Global estimates of visual impairment:2010. BRJ


Ophtalmology. 2011

2. World Health Organization 2013.Blindness: Vision 2020- the global initiative


for the elimination of avoidable blindness. Available at
http://www.who.int/mediacentre/fact sheet/fs213/en/. [Diakses pada 01
Januari 2017]

3. Riskesdas. 2013. Laporan Nasional Riset Kesehatan Dasar. Situasi gangguan


penglihatan dan kebutaan. Jakarta: Badan penelitian dan pengembangan
kesehatan Departermen Kesehatan Republik Indonesia.

4. Riskesdas. 2013. Laporan hasil Riskesdas Prov. Riau 2013.


http://www.pusat2.litbang. depkes.go.id/2015/02/Pokok-Pokok-Hasil-
Riskesdas- Prov-Riau. [Diakses pada 01 Januari 2017]

5. Ilyas S., 2010. Ilmu Penyakit Mata. 3 ed. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. hal:200-2

6. Vaughan DG, Asbury T, Riordan Eva P. Oftalmologi Umum. Edisi 14.


Jakarta: Widya Medika, 2000.

7. CDC. Vision Health Initiative (VHI). United States: 2015.


https://www.cdc.gov/visionhealth/data/national.htm. [Diakses pada 02 Januari
2017]

8. Riskesdas. 2013. Laporan Nasional Riset Kesehatan Dasar. Situasi gangguan


penglihatan dan kebutaan. Jakarta: Badan penelitian dan pengembangan
kesehatan Departermen Kesehatan Republik Indonesia.

9. Riskesdas. 2013. Laporan hasil Riskesdas Prov. Riau 2013.


http://www.pusat2.litbang. depkes.go.id/2015/02/Pokok-Pokok-Hasil-
Riskesdas- Prov-Riau. [Diakses pada 01 Januari 2017]

10. Shock JP, Harper RA. Lensa In: Vaughan DG, Asbury T, Riordan-Eva P.
Oftalmologi Umum Edisi XIV. Jakarta: Widya Medika, 2000. P.175-83
11. Lang GK. Ophthalmology a short textbook. New York: Thieme; 2000.p.170-
89

12. Cantor LB, Rapuano CJ, Cioffi GA. Lens and cataract. Basic and clinical
science course. American academy of ophtalmology. San Francisco:2016-
2017.

13. Nartey A. The Pathophysiology of cataract and major interventions to


retarding its progression: a mini review. Adv Ophthalmol Vis Syst 2017, 6(3):
00178.

14. Cantor LB, Rapuano CJ, Cioffi GA. Lens and cataract. Basic and clinical
science course. American academy of ophtalmology. San Francisco:2016-
2017.

15. Ikatan Dokter Indonesia. Katarak pada dewasa. Buku panduan praktis klinis
bagi dokter di fasilitas pelayanan kesehatan primer. Edisi revisi tahun 2014:
Jakarta : IDI ; 2014. Hal.184-6.

16. Kanski JJ. Clinical opthalmology. 3rd ed. Wallington: Butterworth


Heinemann; 1994. h. 294-6.

17. Harper RA, Shock JP. Lensa. Dalam: Riordan P, Whitcher JP, penyunting.
Oftalmologi umum. Edisi ke-17. Jakarta: EGC; 2009. h. 275-6.

18. Ilyas S, Yulianti SR. Ilmu penyakit mata. Edisi ke-5. Jakarta: FKUI; 2014. h.
221-2.

19. Seiler T, Mc Donnell PJ. Excimer laser photorefractive keratectomy. Surv


Ophthalmol 1995;40:89-118.

20. Reinstein DZ, Archer TJ, Gobbe M. The history of LASIK. Journal of
Refractive Surgery. 2012; 28(4): 291-98.

21. Binder PS, Lindstrom RL, Stulting RD ,et al. Keratoconus and Corneal
Ectasia After LASIK. Journal of Refractive Surgery .2005; 21: 749-753

22. David A Infeld, John G O'She. Excimer laser ophthalmic surgery: evaluation
of a new technology. Postgrad MedJa 1998;74:524-528.

23. Wachler BSB. Lasek eye surgery dalam https://www.webmd.com/eye-


health/eye-health-lasek-laser-eye-surgery#1 (online). Diakses tanggal 2
januari 2018. Pemutakhiran data terakhir tanggal 24 Januari 2016.
24. Benatti CA. LASEK dalam http://eyewiki.aao.org/LASEK (online). Diakses
tanggal 2 januari 2018. Pemutakhiran data terakhir tanggal 28 November
2017.
25. Alio J, Grzybowski A, Romaniuk D. Refractive lens exchange in modren
practice: When and when not to do? Biomed central. 2014;10(1)2-13.

26. Alio JL, Grzybowski A, El Aswad A, Romaniuk D. Refractive lens exchange.


Survey of Ophthalmology. 2014;

27. Sydney eye clinic. PRELEX. 2017. [cited Jan 2018]. Available in:
http://www.eye.net.au/procedurs/lens-surgery/prelex/

28. Khanna R. Prelex surgey can restore clear vision cused by presbyopia. 2017.
[cited Jan 2018]. Available in: http://expertbeacon.com/prelex-surgery-can-
restore-clear-vision-caused-presbyopia#.Wk4xl9CyRnE

29. Kumar NL, Kaiserman I, Shehadeh-Mashor R, Sansanayudh W, Ritenour R,


Rootman DS. IntraLase-enabled astigmatic keratotomy for post-keratoplasty
astigmatism: on-axis vector analysis. Ophthalmology. 2010 Jun. 117(6):1228-
1235.

30. Nichamin LD. Astigmatism management for modern phaco surgery. Int
Ophthalmol Clin. 2003. 43(3):53-63.

31. Nordan LT. Quantifiable astigmatism correction: concepts and suggestions,


1986. J Cataract Refract Surg. 1986 Sep. 12(5):507-18.

32. Rubenstein JB. Today’s peripheral corneal relaxing incisions. Cataract &
Refractive Surgery Today. May 2014. 26-28.
33. James Hays. Astigmatic keratotomy for the correction of astigmatism
treatment and management. Medscape Ophthalmology. Available
at http://medscape.com/viewarticle/723864. Accessed: Jan 3, 2018.
34. Romito K, Husney A, Rudnisky CJ. Radial keratotomy for nearsightedness
dalam https://www.webmd.com/eye-health/radial-keratotomy-rk-for-
nearsightedness (online). Diakses tanggal 2 januari 2018. Pemutakhiran data
terakhir tanggal 21 Agustus 2015.

35. Bashour M, Law SK, Probst LE, Taravella M, Durrie DS, Benchimol M.
Radialkeratotomy for myopia correction dalam
https://emedicine.medscape.com/article/1222168-overview#a8 (online).
Diakses tanggal 2 januari 2018. Pemutakhiran data terakhir tanggal 18 April
2017.