Anda di halaman 1dari 7

E.

Teori Relativitas Einstein


Pada tahun 1905, Albert Einstein mempublikasikan beberapa makalahnya yang salah
satunya berjudul,“On the Electrodynamics of Moving Bodies (Elektrodinamika Benda
Bergerak)”. Makalah tersebut menyajikan teori relativitas khusus berdasarkan dua
postulatnya:
1. Postulat Relativitas: Hukum-hukum fisika berlaku sama untuk setiap pengamat di
dalam kerangka acuan yang inersial.
2. Postulat Kelajuan Cahaya: Kelajuan cahaya dinyatakan dengan c yang bernilai
tetap pada semua kerangka acuan.

Hadirnya kedua postulat tersebut memunculkan teori-teori baru. Seperti pada


postulat pertamanya dikatakan bahwa jika hukum-hukum itu dibedakan, maka
perbedaan tersebut dapat membedakan satu kerangka acuan inersial dari kerangka
lainnnya. Disamping itu, yang tidak kalah baru adalah teori tentang ramalan
mengenai laju radiasi elektromagnetik yang diturunkan dari persamaan Maxwell.
Menurut analisis ini, cahaya dan semua gelombang elektromagnetik lain berjalan
dalam ruang hampa dengan laju konstan yang sekarang didefenisikan secara eksak
sebesar 299.792.458 m/s atau biasa dituliskan dengan 3 x 108 m/s. Hal ini akan kita
temukan dalam ruang hampa yang memiliki peranan penting dalam teori relativitas
Einstein.

Kehadiran kedua postulat tersebut juga sukses dalam memperluas cakupan


hukum-hukum gerak oleh Galileo yang terbatas di mekanika ke hukum-hukum
elektromagnetik dan optik. Hasil dari memperkenalkan teori relativitas khusus ini,
diperkenalkannya transformasi koordinat baru yang dinamakan Transformasi Lorentz
yang sesuai untuk laju tinggi.

F. Transformasi Lorentz

Gambar 7. kerangka acuan S’ bergerak ke kanandengan kecepatan v


table1vi terhadap kerangka S
Transformasi Galileo hanya berlaku jika kecepatankecepatan yang digunakan tidak
bersifat table2vistic, yaitu jauh lebih kecil dari kecepatan cahaya, c. Sebagai contoh, pada
persamaan (10.6) berlaku untuk kecepatan cahaya, karena cahaya yang bergerak di S’
dengan kecepatan ux’ = c akan memiliki kecepatan c + v di S. Sesuai dengan teori relativitas
bahwa kecepatan cahaya di S juga adalah c.
Sehingga, diperlukan persamaan transformasi baru untuk
bisa melibatkan kecepatan table2vistic.
(𝑥 – 𝑣𝑡)2 + 𝑦 2 + 𝑧 2 – 𝑐 2 𝑡 2 = 0 ….………… (11)
x‘ = k (𝑥 – 𝑣𝑡) ………………………………(12)
x = k (𝑥‘ − 𝑣𝑡‘) ……………….……………(13)

Pada sumbu y dan z tidak ada Perbedaan,maka

y‘= y dan z‘= z

Persamaan (12) di subtitusikan ke Persamaan (11)

x = 𝑘 2 (𝑥 – 𝑣𝑡) +𝑘𝑣𝑡‘
2
t‘ = kt + x {(1 − 𝑘 ⁄𝑘𝑣 )} ………………………(14)

x dan x‘ masing – masing adalah


x = ct ……………………...…………………(15)
x‘ = ct‘……………………...…………………(16)
Jika Persamaan (12) , (114) dan (15) di subtitusikan ke Persamaan (16)
1
k= 2
.……………………...……..…(17)
√1−(𝑣 ⁄ 2 )
𝑐

Jadi bentuk yang di hasilkan adalah


x‘ = k (𝑥 – 𝑣𝑡)
y‘= y
z‘= z

t‘ = γ (𝑡 − 𝑣𝑥⁄𝑐 2 )……….…………(1.20)

Dinamakan Transformasi Lorentz


𝑥2 + 𝑦2+ 𝑧2 – 𝑐2 𝑡2 = 0
Persamaan Transformasi

Galilei Lorentz
x‘ = (𝑥 – 𝑣𝑡) x‘ = k (𝑥 – 𝑣𝑡)
y‘= y y‘= y
z‘= z z‘= z

t‘ = t t‘ = k (𝑡 − 𝑣𝑥⁄ 2 )
𝑐
1
k= 2
√1−(𝑣 ⁄ 2 )
𝑐

Table hubungan transformasi galileo dengan lorentz

G. Dilatasi Waktu
Akibat penting postulat Einstein dan transformasi Lorentz adalah bahwa selang
waktu antara dua kejadian yang terjadi pada tempat yang sama dalam suatu kerangka acuan
selalu lebih singkat daripada selang waktu antara kejadian sama yang diukur dalam kerangka
acuan lain yang kejadiannya terjadi pada tempat yang berbeda.
Pada dua kejadian yang terjadi di x0' pada waktu t1' dan t2' dalam kerangka S ', kita
dapat menentukan waktu t1 dan t2 untuk kejadian ini dalam kerangka S.

t = k (𝑡‘ − 𝑣𝑥⁄𝑐 2 )

Selang waktu Δt = 𝑡2 −𝑡1

Δt = k (𝑡2 ‘ − 𝑣𝑥⁄𝑐 2 ) − k (𝑡1 ‘ − 𝑣𝑥⁄𝑐 2 )


𝑘𝑣
Δt = k (𝑡2 ‘ − 𝑡1 ‘ ) + 𝑐 2 ( 𝑥2 ‘ − 𝑥1 ‘ )

Karena 𝑥2 ‘ = 𝑥1 ‘ maka 𝑥2 ‘ − 𝑥1 ‘ = 0 Jadi ,


Δt = k (𝑡2 ‘ − 𝑡1 ‘ )
Karena 𝑡2 ‘ − 𝑡1 ‘ = Δ𝑡0 , maka
Δt = k Δ𝑡0

1
Δt = 2
Δ𝑡0
√1−(𝑣 ⁄ 2 )
𝑐

H. Kontraksi Panjang

Gambar 8 Kontraksi Panjang

Kontraksi panjang adalah


penyusutan panjang suatu benda akibat gerak relatif pengamat atau benda yang bergerak
mendekati cepat rambat cahaya. Penyusutan panjang yang terjadi merupakan suatu
fenomena yang berhubungan dengan pemekaran waktu. Panjang benda yang diukur
dalam kerangka acuan di mana bendanya berada dalam keadaan diam disebut panjang
patut (panjang benda menurut pengamat), l. Kita tinjau sebatang tongkat dalam keadaan
diam di S' dengan satu ujung di x2' dan ujung lainnya di x1' , seperti pada Gambar 8
Panjang tongkat dalam kerangka ini adalah l = x2' – x1'.
Sehingga di hasilkan

x = k (𝑥‘ − 𝑣𝑡‘)
1
x= 2
(𝑥‘ − 𝑣𝑡‘)
√1−(𝑣 ⁄ 2 )
𝑐

maka ,
1
𝑥2 − 𝑥1 = 2
{( 𝑥2 ‘ − 𝑥1 ‘) + 𝑣(𝑡2 ‘ − 𝑡1 ‘)}
√1−(𝑣 ⁄ 2 )
𝑐

Karena 𝑡2 ‘ = 𝑡‘ maka 𝑡2 ‘ − 𝑡1 ‘ = 0
1
𝑥2 − 𝑥1 = ( 𝑥2 ‘ − 𝑥1 ‘)
𝑣2
√1 − ( ⁄ 2 )
𝑐
Misal 𝑥2 − 𝑥1 = 𝐿0 dan 𝑥2 ‘ − 𝑥1 ‘ = L
1
L = 𝐿0 2
√1−(𝑣 ⁄ 2 )
𝑐

Cntoh Soal
I. Penjumlahan Kecepatan Relatifisti
Dilihat dari berbagai acuan sebagai contoh adalah

Gambar 10. penjumlahan kecepatan arah berlawanan

Ketika orang yang menjadi acuan dan mengamati sama sama sedang bergerak
dimana bila sama sama bergerak dan berbeda arah gerak sebagaimana di gambar , maka
penjumlahan kecepatannya menjadi di tambah. Sehingga di hasilkan

𝑣1 + 𝑣2

𝑣= 𝑣1 𝑣2
1+

𝑐2

Gambar 11. penjumlahan kecepatan arah berlawanan

Ketika orang yang menjadi acuan bergerak dan orang yang mengamati diam dan
arah geraknya sama maka arah gerak sebagaimana di gambar , maka penjumlahan
kecepatannya menjadi di tambah.