Anda di halaman 1dari 16

Terlepas dari perdebatan tentang kurikulum 2013 dan kebutuhan belajar yang diperlukan

pada abad ke-21, peranan guru tetap diharapkan menjadi ujung tombak dalam pendidikan,
terutama di sekolah. Guru abad ke-21 yang efektif memerlukan kemahiran dalam menilai
penggunaan teknologi yang edukatif dan non edukatif. Guru hendaknya terus-menerus
mengevaluasi kemampuan siswa yang dibutuhkan untuk bersaing dalam ekonomi global.
Tapi karakteristik atau keterampilan apa yang dibutuhkan untuk menjadi seorang guru abad
ke-21 yang efektif ? Apa kualitas dari seorang guru abad ke-21 yang efektif ?

Kita mungkin pernah mendengar bahwa seorang pendidik abad ke-21 yang efektif harus
menjadi "panduan di samping”, tidak "bijak di atas panggung” bagi siswanya. Guru abad ke-
21 harus menjadi pembelajar seumur hidup dan harus bersedia untuk belajar tidak hanya dari
rekan-rekan mereka tetapi dari siswa mereka juga.

Berikut ini adalah lima karakteristik guru abad ke-21yang efektif yang banyak ditulis ulang.
Saya tuliskan tema-tema pokoknya saja menurut interpretasi dan “bahasa” saya. Inilah lima
karakteristik itu.

1 . Mengantisipasi Masa Depan

"Guru yang baik abad ke-21 merupakan salah seorang yang sadar akan tren teknologi yang
cepat berubah selaras dengan arah ekonomi, proyeksi masa depan yang dibutuhkan bisnis dan
industri; sadar akan peluang karir bagi anak-anak di tahun-tahun mendatang dan semua
keterampilan pendidikan yang diperlukan dan bakat yang diperlukan untuk memungkinkan
anak-anak untuk memposisikan diri untuk bersaing. Guru yang baik abad ke-21 selalu
mendorong untuk memastikan bahwa siswa mereka tidak tertinggal di belakang kemajuan.
Terakhir, guru baik abad ke-21 bukan guru dalam ruang hampa, mereka progresif dalam
mendorong perubahan sistemik melalui kurikulum, anggaran, dan bijaksana , pengawasan
strategis pengambilan keputusan untuk memastikan bahwa persiapan anak-anak saat
ini selalu terfokus mempersiapkan mereka untuk dunia di mana mereka akan tinggal
dan bekerja - bukan dunia saat ini di mana para guru harus menavigasi dan diam ." -
Amy Baldridge, secondary curriculum supervisor, Xenia Community Schools

1391669856369313001
Amy Baldridge (https://www.greeneesc.org/our-programs/alternative-
education/academy.html)

"Pendidik abad ke-21 harus menjadi pemikir yang encer, siap untuk melihat situasi dengan
segar dan kreatif . Dia harus melampaui secara jelas untuk melihat pola yang mendasari
dan isu-isu inti dari suatu keadaan tertentu. Dan - yang paling penting - pemahaman
tentang teori chaos sangat penting : Kupu-kupu mengepakkan sayapnya dan 3000 mil
jauhnya cuaca berubah" - Donn K. Harris, executive director, artistic director, Oakland
School for the Arts, Oakland, Calif.

13916700021252037911
Donn K. Harris (https://goldrushcam.com/sierrasuntimes/index.php/mariposa-daily-news-
2014/169-january/11627-donn-k-harris-appointed-to-the-california-arts-council)
"Pendidik masa kini memiliki tugas berat mempersiapkan siswa untuk masa depan global di
abad ke-21. Ketika kita mulai tertinggal di belakang negara-negara lain di bidang
matematika, ilmu pengetahuan, rekayasa dan teknologi, kita perlu mendidik diri kita sendiri
dan menyampaikan informasi ini kepada siswa kita. Pendidikan STEM (Science, Technology,
Engineering and Mathematics) diperlukan di semua kelas di semua sekolah agar tetap
kompetitif dalam masyarakat global sekarang. Tantangan pertama bagi guru adalah untuk
menarik siswa menuju pendidikan STEM, dan yang kedua adalah untuk menjaga agar
mereka tertarik. Penekanan pada ilmu pengetahuan harus sama-sama pentingnya dengan
membaca dan matematika . Kita, sebagai bangsa , sudah jatuh di belakang negara-negara
dunia lainnya . Siswa saat ini adalah masa depan kita dan masa depan kita tergantung pada
keberhasilan mereka." - Bonnie Bahr, kindergarten teacher, Baltimore County Public
Schools, Baltimore, Md.

1391670077881804251
Bonnie Bahr (https://www.edmodo.com/profile/1812738)

2 . Pembelajar Seumur Hidup

13916705121233034837

"Saya telah menemukan bahwa tidak hanya untuk guru, tetapi siapa pun yang terlibat dengan
menggunakan teknologi untuk meningkatkan produktivitas mereka , apakah itu di bidang
manufaktur , penjualan dan pemasaran , ilmu pengetahuan dan penelitian , atau pendidikan ,
kualitas yang paling penting adalah untuk menjadi fleksibel , hidup - pembelajar seumur ,
bersedia menerima dan merangkul perubahan , bersedia untuk membuat kesalahan
dan salah (dengan peringatan bahwa dari kesalahan perbaikan yang dibuat dan keterampilan
baru yang dipelajari) , dan untuk menjaga fokus pada proses dan hasilnya, daripada alat .
Setelah semua, ketika hari berakhir , teknologi hanya alat untuk meningkatkan kualitas hidup
kita , ketika mereka gagal melakukan itu , saatnya untuk menciptakan alat-alat baru " - Chuck
Dinsfriend, MBA, CTO mentor, director of Information Technology Services, Woodburn
School District

1391670195631474831
Chuck Dinsfriend (https://blog.iste.org/love-e-rate-technology-directors-viewpoint/)

" A great ... pendidik akan merangkul tidak hanya teknologi, tetapi bersedia untuk belajar dari
rekan-rekan dan mahasiswa ." - David Brandvold

13916703181017721293
David Brandvold (https://mygatewaynews.com/Content/News/Baldwin-News/Article/David-
Brandvold-hired-as-BWHS-principal/2/35/6791)

"Saya percaya bahwa pendidik yang baik abad ke-21 harus mampu mengajukan
pertanyaan terbuka kepada siswa tanpa harus mengetahui satu jawaban yang tepat.
Pendidik ini mendorong siswa agar mereka menjadi kapten dari pembelajaran mereka sendiri.
Belajar menjadi terarah dan bermakna bagi siswa karena mereka bekerja melalui kegiatan
dunia nyata." - Jonna Wallis, 6-12 Language Arts academic coach, Professional
Development Center, Scottsdale, Ariz.

3 . Memupuk Hubungan Teman Sejawat

1391670551414666910

"Di era berbasis teknologi ini, lebih penting daripada itu bahwa kita membina hubungan
dengan dan antar siswa kita. Kita harus menjadi model sopan santun, kita menjadi model
berkomunikasi, dan kita harus menjadi model rasa hormat dan kerjasama - siswa kita
membutuhkan kita untuk menunjukkan kepada mereka bagaimana memperlakukan satu sama
lain . Mereka mungkin memiliki 500 teman di Facebook, tapi apakah mereka tahu
bagaimana menjadi teman? Teknologi dapat mendorong isolasi karenanya keterampilan
hubungan antarpribadi itu harus diajarkan di kelas kita agar siswa kita bisa melanjutkan untuk
menjadi efektif di tempat kerja dan dalam hidup mereka . Membantu siswa belajar pelajaran
kehidupan menjadi semakin lebih penting -hubungan interpersonal, membiarkan siswa tahu
bahwa guru benar-benar peduli untuk mereka dan akan membantu siswa menjadi lebih sukses
dalam hidupnya." - Julia C. Bernath, District 7 board member, Fulton County Board of
Education

13916703912136975854
Julia C. Bernath ( https://www.juliabernath.com/)

4 . Mampu Mengajar dan Menilai Semua Tingkat Pelajar

13916706111097086293

"Pendidik abad ke-21 harus menjadi 'Pemimpin Situasional .’ Mereka harus menilai setiap
siswa yang mereka ajarkan terhadap 'Kemampuan Belajar ' dan ' Komitmen untuk
Belajar. "Mereka harus bekerja untuk membawa semua siswa sampai ke tingkat di mana
pedagogi pembelajaran digantikan oleh andragogi atau gaya pembelajaran orang dewasa,
dimana siswa memiliki pendapat dalam pembelajaran mereka sendiri." - Gerald Morris,
adjunct instructor, Spring Arbor University, Davenport University and Baker College

"Untuk menjadi seorang guru abad ke-21 yang efektif, guru harus terlebih dahulu memiliki
keterampilan abad ke-21 yang siswa mereka diharapkan memilikinya. Dan, di samping untuk
keterampilan, mereka harus dapat membantu semua siswa mereka memperoleh dan
mengembangkan keterampilan abad ke-21." - Mamzelle Adolphine

5 . Mampu Membedakan Teknologi Efektif vs Teknologi Non-Efektif

13916706561155852990

"Anak usia sekolah yang jauh juah lebih mengadopsi teknologi informasi dan komunikasi.
Sistem pendidikan tidak perlu mengajar mereka bagaimana menggunakan teknologi ini,
tetapi harus mengakui bahwa teknologi dapat membantu siswa belajar lebih banyak dan lebih
cepat . Teknologi kelas juga dapat membuat lebih efisien penggunaan waktu guru, apakah itu
dengan alat-alat untuk persiapan pelajaran, pelajaran presentasi, pelajaran umpan balik,
penilaian tingkat pekerjaan rumah, penilaian , atau tingkatan. Guru abad ke-21 yang efektif
akan memerlukan kemahiran dalam menilai penggunaan terknologi edukatif dan non-
edukatif - teknologi yang tersedia untuk mereka dan siswa mereka di sekolah dan di
rumah . Potensi rendah teknologi adalah potensi mereka untuk non-produktif menggunakan
waktu -buang waktu dan sumber daya meskipun keuntungannya adalah signifikan jika
digunakan dengan benar . " - Doug Hatch, president & CEO, Core Learning
Pendidik pada Abad ke-21

A. Guru Abad ke-21


Abad ke-21 adalah abad yang sangat berbeda dengan abad-abad sebelumnya. Perkembangan
ilmu pengetahuan yang luar biasa disegala bidang.pada abad ini, terutama bidang Information
and Communication Technology (ICT) yang serba sophisticated membuat dunia ini semakin
sempit.Karena kecanggihan teknologi ICT ini beragam informasi dari berbagai sudut dunia
mampu diakses dengan instant dan cepat oleh siapapun dan dari manapun. Komunikasi antar
personal dapat dilakukan dengan mudah, murah kapan saja dan di mana saja.
Namun demikian, pada abad ke-21 ini permasalahan yang dihadapi manusia semakin
complicated dan ruwet, misalnya krisis ekonomi global, pemanasan global,
terorisme,rasisme, drug abuse, trafficking, masih rendahnya kesadaran multikultural,
kesenjangan mutu pendidikan antar kawasan dan lain sebagainya. Setiap masalah tersebut
membutuhkan pemecahan yang harus dilakukan masyarakat secara bersama sama
(collaboration). Kompleksitas permasalahan pada abad ini juga terletak pada tidak
berdayanya manusia mencari sumber dan penyebab permasalahannya secara tepat dan cepat.
Di samping itu juga kapan timbulnya permasalahan sering tidak mampu diprediksi
(unpredictable) dan tidak terduga sebelumnya. Pada akhirnya banyak permasalahan
masyarakat tidak mampu diselesaikan secara efektif dan efisien.
Era ini juga ditandai semakin ketatnya persaingan diberbagai bidang antar negara, dan antar
bangsa. Terutama yang bisa diamati setiap saat adalah persaingan pemasaran produk –
produk industri .Pasar didesain sedemikian rupa menjadi sebuah sistem perdagangan yang
terbuka (free trade). Perilaku persaingan modern ini benar-benar merupakan praktek perilaku
“survival for the fittest” yang kejam. Siapa kuat dialah yang akan menjadi pemenang,
sebaliknya siapa yang tidak berdaya dialah yang akan kalah dan termarginalkan.
Negara-negara maju (advanced countries) yang telah memiliki sumberdaya manusia yang
unggul akan semakin jauh meninggalkan negara negara berkembang (developing countries)
dan negara-negara terbelakang (under developing countries). Sebuah artikel yang ditulis oleh
Parag Kahnna di New York Times Magazine (21/1/2008) dengan jelas mengatakan bahwa
dunia pada abad ke-21 akan dikuasai oleh BIG THREE, yaitu Amerika Serikat, Uni Eropa,
dan China. Sedangkan negara-negara lain yang sering disebut emerging market disebutnya
sebagai second world yang bernasib sebagai tempat persaingan dan pertarungan BIG THREE
tersebut.
Mulai dari kemajuan Information and Communication Technology dan beragam dampak
positif negatifnya, semakin kompleksnya permasalahan manusia, dan kita berada pada era
kompetitif yang semakin ketat pada abad ke-21 ini, dibutuhkanlah persiapan yang matang
dan mantap baik konsep maupun aplikasinya untuk membentuk sumber daya manusia
(human resources) yang unggul. Dan yang paling bertanggung jawab dalam menyiapkan
sumber daya manusia yang unggul adalah lembaga-lembaga pendidikan di mana guru sebagai
unsur yang berperan paling dominan dan menentukan .Hal inilah yang membuat guru
memikul tanggung jawab yang tidak ringan dalam upaya peningkatan sumber daya manusia.
Guru merupakan profesi tertua di dunia seumur dengan keberadaan manusia. Apabila melihat
kehidupan masyarakat yang semakin terdiferensial dan ketika semua orang mempunyai
banyak pilihan sebagai ladang kehidupannya, maka citra profesi guru kian merosot didalam
kehidupan sosial. Apalagi masyarakat makin lama makin terarah kepada kehidupan
materialistis, sehingga suatu profesi dinilai sesuai nilai materinya. Oleh sebab itu tidak heran
bila profesi guru termarjinalkan dan menjadi pilihan terakhir.
Fenomena tersingkirnya profesi guru dalam kehidupan masyarakat merupakan suatu gejala
global. Bukan saja di negara-negara maju citra profesi guru semakin menurun namun juga
terjadi di negara miskin dan berkembang. Namun demikian, tak ada golongan masyarakat
yang tidak membutuhkan profesi guru. Tidak dapat dipungkiri bahwa masyarakat tanpa
profesi guru tidak mungkin tercipta suatu generasi unggul, kreatif dan cerdas. Ironi yang
terjadi, begitu besarnya jasa guru dalam membangun masyarakat bangsa namun penghargaan
yang diberikan rendah. Sehingga tidak mengherankan bila para pakar berpendapat bahwa
profesi guru merupakan “Most thankless profession in the world ”.
Secara konseptual guru sebagai tenaga profesional harus memenuhi berbagai persyaratan
kompetensi untuk menjalankan tugas dan kewenangannya secara profesional, sementara
kondisi riil di lapangan masih sangat memprihatinkan, baik secara kuantitas, kualitas maupun
profesionalitas guru. Persoalan ini masih ditambah adanya berbagai tantangan ke depan yang
masih kompleks di era global ini.
Secara umum, sebagaimana diungkapkan oleh Tilaar (1995), pada masa Pembangunan
Jangka Panjang (PJP) II, masyarakat tidak dapat lagi menerima guru yang tidak profesional.
Hal ini sesuai dengan rekomendasi UNESCO, yang ditekankan pada tiga tuntutan yaitu:

1. Guru harus dianggap sebagai pekerja profesional yang memberi layanan kepada
masyarakat.
2. Guru dipersyaratkan menguasai ilmu dan keterampilan spesialis
3. Ilmu dan keterampilan tersebut diperoleh dari pendidikan yang mendalam dan
berkelanjutan.

Bertitik tolak dari rekomendasi tersebut serta profil guru pada saat ini, seharusnya guru pada
abad 21 benar-benar merupakan guru yang profesional, agar mampu menghadapi tantangan
abad 21. Untuk itu, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional, dan kompetensi sosial,
serta kompetensi pedagogik seorang guru perlu dikembangkan sehingga mampu mendidik
siswa yang mempunyai kemampuan memprediksi dan menanggulangi.
Di sisi lain, tugas-tugas guru yang bersifat profesional harus ditunjang oleh sistem
penghargaan yang sesuai, sehingga guru mampu memfokuskan diri pada peningkatan kualitas
layanan yang diberikan. Hal ini sejalan dengan kriteria pekerjaan profesional yang
menyebutkan bahwa guru berhak mendapat imbalan yang layak, bukan hanya dalam bentuk
materi, tetapi juga dalam bentuk penghargaan, hormat, dan rasa segan masyarakat terhadap
guru

B. TANTANGAN GURU ABAD 21


Guru pada abad 21 dan abad selanjutnya ditantang untuk melakukan akselerasi terhadap
perkembangan informasi dan komunikasi. Pembelajaran di kelas dan pengelolaan kelas, pada
abad ini harus disesuaikan dengan standar kemajuan teknologi informasi dan komunikasi.
Menurut Susanto (2010), terdapat 7 tantangan guru di abad 21, yaitu :

1. Teaching in multicultural society, mengajar di masyarakat yang memiliki beragam


budaya dengan kompetensi multi bahasa.
2. Teaching for the construction of meaning, mengajar untuk mengkonstruksi makna
(konsep).
3. Teaching for active learning, mengajar untuk pembelajaran aktif.
4. Teaching and technology, mengajar dan teknologi.
5. Teaching with new view about abilities, mengajar dengan pandangan baru mengenai
kemampuan.
6. Teaching and choice, mengajar dan pilihan.
7. Teaching and accountability, mengajar dan akuntabilitas.

Lebih lanjut, Yahya (2010) menambahkan tantangan guru di Abad 21 yaitu:

1. Pendidikan yang berfokus pada character building


2. Pendidikan yang peduli perubahan iklim
3. Enterprenual mindset
4. Membangun learning community
5. Kekuatan bersaing bukan lagi kepandaian tetapi kreativitas dan kecerdasan bertindak
(hard skills- soft skills).

Guru yang mampu menghadapi tantangan tersebut adalah guru yang profesional yang
memiliki kualifikasi akademik dan memiliki kompetensi-kompetensi antara lain kompetensi
profesional, kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, dan kompetensi sosial yang
kualifaid.
a. Kompetensi profesional
Kompetensi profesioanal sekurang-kurangnya meliputi :

1. Menguasai subtansi bidang studi dan metodologi keilmuannya


2. Menguasai struktur dan materi kurikulum bidang studi
3. Menguasai dan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi dalam
pembelajaran
4. Mengorganisasikan materi kurikulum bidang studi
5. Meningkatkan kualitas pembelajaran melalui penelitian tindakan kelas

b. Kompetensi pedagogik
Kompetensi pedagogik sekurang-kurangnya meliputi:

1. Memahami karakteristik peserta didik dari aspek fisik, sosial, kultural, emosional, dan
intelektual
2. Memahami latar belakang keluarga dan masyarakat peserta didik dan kebutuhan
belajar dalam konteks kebhinekaan budaya
3. Memahami gaya belajar dan kesulitan belajar peserta didik
4. Memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik
5. Menguasai teori dan prinsip belajar serta pembelajaranYang mendidik
6. Mengembangkan kurikulum yang mendorong keterlibatan peserta didik dalam
pembelajaran
7. Merancang pembelajaran yang mendidik
8. Melaksanakan pembelajaran yang mendidik
9. Mengevaluasi proses dan hasil pembelajaran

c. Kompetensi kepribadian
Kompetensi kepribadian sekurang-kurangnya meliputi:
1. Menampilkan diri sebagai pribadi yang mantap, stabil, dewasa, arif dan berwibawa
2. Menampilkan diri sebagai pribadi yang berakhlak mulia dan sebagai teladan bagi
peserta didik dan masyarakat
3. Memiliki sikap, perilaku, etika, tata cara berpakaian, dan bertutur bahasa yang baik
4. Mengevaluasi kinerja sendiri
5. Mengembangkan diri secara berkelanjutan

d. Kompetensi sosial
Kompetensi sosial sekurang-kurangnya meliputi:

1. Berkomunikasi secara efektif dan empatik dengan peserta didik, orang tua peserta
didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan dan masyarakat
2. Berkontribusi terhadap pengembangan pendidikan di sekolah dan masyarakat
3. Berkontribusi terhadap pengembangan pendidikan di tingkat lokal, regional, nasional
dan global
4. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (ICT) untuk berkomunikasi dan
mengembangkan diri
5. Memiliki sikap, perilaku, etika, tata cara berpakaian dan bertutur bahasa yang baik

Guru yang profesional selain memiliki empat kompetensi tersebut di atas, menurut
Prof.Dr.Haris Supratno memiliki ciri-ciri profesional sebagai berikut.

1. Memiliki wawasan global holistik


2. Memiliki daya ramal ke depan
3. Memiliki kecerdasan, kreatifitas dan Inovasi
4. Memiliki kemampuan bermasyarakat
5. Menguasai IPTEK
6. Memiliki jiwa dan wawasan kewirausahaan
7. Memiliki akhlakul karimah
8. Memiliki keteladanan
9. Bekerja secara efisien dan efektif
10. Menguasai bahasa asing

C. KARAKTERISTIK GURU ABAD 21


Perubahan paradigma pendidikan tidak dapat dilepaskan dari peran guru karena berbagai
informasi terkini senantiasa mengalir kepada siswa atas kerja keras yang dilakukannya.
Bahwa di luar itu ada media lain yang membantu siswa bukan berarti peran guru harus
ditiadakan.
Harus diakui dalam maraknya arus informasi pada masa kini, guru bukan lagi satu-satunya
sumber informasi tetapi merupakan salah satu sumber informasi. Meskipun demikian,
perannya di dalam proses pendidikan masih tetap diperlukan, khususnya yang berkenaan
dengan sentuhan-sentuhan psikologis dan edukatif terhadap anak didik. Oleh karena itu, pada
hakekatnya guru itu dibutuhkan oleh setiap orang dan semua orang sangat mengharapkan
kehadiran citra guru yang ideal di dalam dirinya. Untuk itu, guru akan lebih tetap berperan
sebagai pendidik sekaligus berperan sebagai manager atau fasilitator pendidikan, sehingga
guru harus sanggup merencanakan, melaksanakan dan mengawasi sumber daya pendidikan
agar supaya peserta didik dapat belajar secara produktif.
Abad 21 menuntut peran guru yang semakin tinggi dan optimal. Sebagai konsekuensinya,
guru yang tidak bisa mengikuti perkembangan alam dan zaman akan semakin tertinggal
sehingga tidak bisa lagi memainkan perannya secara optimal dalam mengemban tugas dan
menjalankan profesinya.
Guru di abad 21 memiliki karakteristik yang spesifik dibanding dengan guru pada abad-abad
sebelumnya. Adapun karakteristik yang dimaksud adalah sebagai berikut :

1. Memiliki semangat juang dan etos kerja yang tinggi disertai kualitas keimanan dan
ketakwaan yang mantap.
2. Mampu memanfaatkan iptek sesuai tuntutan lingkungan sosial dan budaya di
sekitarnya.
3. Berperilaku profesional tinggi dalam mengemban tugas dan menjalankan profesi.
4. Memiliki wawasan ke depan yang luas dan tidak picik dalam memandang berbagai
permasalahan.
5. Memiliki keteladanan moral serta rasa estetika yang tinggi.
6. Mengembangkan prinsip kerja bersaing dan bersanding.

Masih terkait dengan harapan-harapan yang digayutkan di pundak setiap guru, H.


Muhammad Surya, Ketua Umum Pengurus Besar PGRI, mengemukakan ada sembilan
karakteristik citra guru yang diidealkan. Masing- masing adalah guru yang :

 Memiliki semangat juang yang tinggi disertai kualitas keimanan dan ketaqwaan yang
mantap.
 Mampu mewujudkan dirinya dalam keterkaitan dan padanan dengan tuntutan
lingkungan dan perkembangan iptek.
 Mampu belajar dan bekerja sama dengan profesi lain
 Memiliki etos kerja yang kuat
 Memiliki kejelasan dan kepastian pengembangan jenjang karir
 Berjiwa profesionalitas tinggi
 Memiliki kesejahteraan lahir dan batin, material dan nonmaterial
 Memiliki wawasan masa depan
 Mampu melaksanakan fungsi dan peranannya secara terpadu

Untuk dapat berperilaku profesional dalam mengemban tugas dan menjalankan profesi maka
terdapat lima faktor yang harus senantiasa diperhatikan, yaitu :

1. Sikap keinginan untuk mewujudkan kinerja ideal


2. Sikap memelihara citra profesi
3. Sikap selalu ada keinginan untuk mengejar kesempatan-kesempatan profesionalisme.
4. Sikap mental selalu ingin mengejar kualitas cita-cita profesi
5. Sikap mental yang mempunyai kebanggaan profesi

Kelima faktor sikap mental ini memungkinkan profesionalisme guru menjadi


berkembang.Karakter ideal serta perilaku profesional tersebut tidak mungkin dapat dicapai
apabila di dalam menjalankan profesinya sang guru tidak didasarkan pada panggilan jiwa.

D. CIRI-CIRI GURU ABAD 21


Menghadapi tantangan abad 21, diperlukan guru yang benar-benar profesional. Tilaar (1998)
memberikan ciri-ciri agar seorang guru terkelompok ke dalam guru yang profesional.
Masing-masing adalah :

 Memiliki kepribadian yang matang dan berkembang


 Memiliki keterampilan untuk membangkitkan minat peserta didik
 Memiliki penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang kuat
 Sikap profesionalnya berkembang secara berkesinambungan
 Menguasai subjek (kandungan kurikulum)
 Mahir dan berketrampilan dalam pedagogi (pengajaran & pembelajaran)
 Memahami perkembangan murid-murid dan menyayangi mereka
 Memahami psikologi pembelajaran (cognitive psychology)
 Memiliki kemahiran konseling

E. KECAKAPAN UTAMA GURU ABAD 21


Sesuai dengan Undang-udang, guru dan dosen harus mempunyai berbagai kompetensi,
diantaranya adalah kompetensi pedagogik, kompetensi akademik, kompetensi sosial, dan
kompetensi kepribadian. Disamping empat kompetensi tersebut, dalam membantu para siswa
beradaptasi terhadap perubahan sosial dan teknologi di abad ke 21 ini guru juga harus
mempunyai kecakapan utama yang yang meliputi:
a. Akuntabilitas dan Kemampuan Beradaptasi
Sebagai seseorang yang dapat ditiru, apapun yang dikerjakan dan diucapkan harus dapat
dipercaya oleh orang lain. Dalam menjalankan tanggung jawab pribadi mempunyai
fleksibilitas secara pribadi, pada tempat kerja, maupun dalam hubungan dengan masyarakat
sekitarnya. Disamping itu guru harus mampu menetapkan dalam mencapai standar dan tujuan
yang tinggi baik untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain, dan yang tidak kalah
pentingnya guru juga harus mampu memaklumi kerancuan yang dilakukan oleh anak
didiknya.
b. Kecakapan Berkomunikasi
Kecakapan yang kedua ini sangat penting bagi guru. Betapapun pintarnya seorang guru jika
tidak mempunyai kecakapan ini maka tidak akan mampu mentransfer ilmu kepada anak
didiknya. Kecakapan ini meliputi : memahami, mengelola, dan menciptakan komunikasi
yang efektif dalam berbagai bentuk dan isi baik secara lisan, tulisan, maupun menggunakan
multimedia.
c. Kreatifitas dan Keingintahuan Intelektual
Selama ini pembelajaran yang dilakukan guru berlangsung monoton. Salah satu penyebabnya
adalah tidak adanya kreatifitas dan keingintahuan intelektual guru. Dia mengajar hanya
bermodalkan teori keguruan yang ia peroleh sekian puluh tahun yang lalu. Kecakapan
kreatifitas dan keingintahuan intelektual tersebut mencakup : mengembangkan,
melaksanakan, dan menyampaikan gagasan-gagasan baru kepada yang lain, bersikap terbuka
dan responsif terhadap perspektif baru dan berbeda.
d. Berpikir Kritis dan Berpikir dalam Sistem
Kecakapan berpikir kritis merupakan proses berpikir dan bertindak berdasarkan fakta yang
telah ada, apapun yang akan dilakukan dimulai dari identifikasi terhadap kemungkinan-
kemungkinan yang akan timbul dari suatu perbuatan tersebut, berusaha untuk memberikan
penalaran yang masuk akal dalam memahami dan membuat pilihan yang rumit serta selalu
memahami dan menjalin interkoneksi antara sistem.
e. Kecakapan Melek Informasi dan Media
Agar proses pembelajaran yang dilakukan guru di kelas menarik dan menantang, maka di era
globalisasi dan tanpa batas seperti sekarang ini guru harus mampu menganalisa, mengakses,
mengelola, mengintegrasi, mengevaluasi, dan menciptakan informasi dalam berbagai bentuk
dan media.
f. Kecakapan Hubungan AntarPribadi dan Kerjasama
Sebagai makhluk sosial yang hidup di tengah-tengah masyarakat, guru juga dituntut harus
mampu menunjukkan kerjasama berkelompok dan kepemimpinan, mampu beradaptasi dalam
berbagai peran dan tanggungjawab, mampu bekerja secara produktif dengan yang lain,
mampu menempatkan empati pada tempatnya, serta mampu menghormati perspektif yang
berbeda dengan pendiriannya.
g. Identifikasi Masalah, Penjabaran, dan Solusi
Dalam menghadapi masalah sekecil apapun guru tidak boleh ceroboh dalam menanggapinya.
Oleh sebab itu guru dituntut untuk mempunyai kemampuan dalam menyusun,
mengungkapkan, menganalisa, dan menyelesaikan masalah dengan baik.
h. Pengarahan Pribadi
Sebagai guru tentu setiap harinya menghadapi siswa yang perilakunya bermacam-macam.
Oleh karena itu guru dituntut memiliki kemampuan dalam memonitor pemahaman diri dan
mempelajari kebutuhan yang diperlukan dalam pembelajaran, menemukan sumber-sumber
belajar yang tepat, serta mentransfer pembelajaran dari satu bidang ke bidang lainnya.
i. Tanggung Jawab Sosial
Orang tua/masyarakat menyekolahkan anaknya di suatu sekolah mempunyai harapan agar
anaknya berubah, baik dari segi prilaku maupun kecakapan kompetensinya. Oleh sebab itu
sebagai seorang yang dituntut mempunyai kompetensi sosial, maka tanggung jawab dalam
bertindak guru harus mengutamakan kepentingan masyarakat yang lebih besar, menunjukkan
perilaku etis secara pribadi, pada tempat kerja, dan hubungan antarmasyarakat.

F. KETRAMPILAN GURU ABAD 21


Menurut International Society for Technology in Education karakteristik keterampilan guru
abad 21 dimana era informasi menjadi ciri utamanya, membagi keterampilan guru abad 21
kedalam lima kategori, yaitu :
1. Mampu memfasilitasi dan menginspirasi belajar dan kreatifitas siswa, dengan indikator
diantaranya adalah sebagai berikut :

 Mendorong, mendukung dan memodelkan penemuan dan pemikiran kreatif dan


inovatif.
 Melibatkan siswa dalam menggali isu dunia nyata (real world) dan memecahkan
permasalahan otentik menggunakan tool dan sumber-sumber digital.
 Mendorong refleksi siswa menggunakan tool kolaboratif untuk menunjukan dan
mengklarifikasi pemahaman, pemikiran, perencanaan konseptual dan proses kreatif
siswa.
 Memodelkan konstruksi pengetahuan kolaboratif dengan cara melibatkan diri belajar
dengan siswa, kolega, dan orang-orang lain baik melalui aktifitas tatap muka maupun
melalui lingkungan virtual.

2. Merancang dan mengembangkan pengalaman belajar dan asessmen era digital, dengan
indikator sebagai berikut :

 Merancang atau mengadaptasi pengalaman belajar yang tepat yang mengintegrasikan


tools dan sumebr digital untuk mendorong belajar dan kreatifitas siswa.
 Mengembangkan lingkungan belajar yang kaya akan teknologi yang memungkinkan
semua siswa merasa ingin tahu dan menjadi partisipan aktif dalam menyusun tujuan
belajarnya, mengelola belajarnya sendiri dan mengukur perkembangan belajarnya
sendiri.
 Melakukan kostumisasi dan personalisasi aktifitas belajar yang dapat memenuhi
strategi kerja gaya belajar dan kemampuan menggunakan tools dan sumber-sumber
digital yang beragam.
 Menyediakan alat evaluasi formatif dan sumatif yang bervariasi sesuai dengan standar
teknologi dan konten yang dapat memberikan informasi yang berguna bagi proses
belajar siswa maupun pembelajaran secara umum.

3. Menjadi model cara belajar dan bekerja di era digital, dengan indikator sebagai berikut :

 Menunjukkan kemahiran dalam sistem teknologi dan mentransfer pengetahuan ke


teknologi dan situasi yang baru.
 Berkolaborasi dengan siswa, sejawat, dan komunitas menggunakan tool-tool dan
sumber digital untuk mendorong keberhasilan dan inovasi siswa.
 Mengkomunikasikan ide/gagasan secara efektif kepada siswa, orang tua, dan sejawat
menggunakan aneka ragam format media digital.
 Mencontohkan dan memfasilitasi penggunaan secara efektif daripada tool-tool digital
terkini untuk menganalisis, mengevaluasi dan memanfaatkan sumber informasi
tersebut untuk mendukung penelitian dan belajar.

4. Mendorong dan menjadi model tanggung jawab dan masyarakat digital, dengan indikator
diantaranya sebagai berikut :

 Mendorong, mencontohkan, dan mengajar secara sehat, legal dan etis dalam
menggunakan teknologi informasi digital, termasuk menghagrai hak cipta, hak
kekayaan intelektual dan dokumentasi sumber belajar.
 Memenuhi kebutuhan pembelajar yang beragam dengan menggunakan strategi
pembelajaran yang berpusat pada siswa dengan memberikan akses yang memadai
terhadap tool-tool digital dan sumber belajar digital lainnya.
 Mendorong dan mencontohkan etika digital tanggung jawab interkasi sosial terkait
dengan penggunaan teknologi informasi.
 Mengembangkan dan mencontohkan pemahaman budaya dan kesadaran global
melalui keterlibatan/partisipasi dengan kolega dan siswa dari budaya lain
menggunakan tool komunikasi dan kolaborasi digital.

5. Berpartisipasi dalam pengembangan dan kepemimpinan profesional, dengan indikator


sebagai berikut :
 Berpartisipasi dalam komunitas lokal dan global untuk menggali penerapan teknologi
kreatif untuk meningkatkan pembelajaran.
 Menunjukkan kepemimpinan dengan mendemonstrasikan visi infusi teknologi,
berpartisipasi dalam pengambilan keputusan bersama dan penggabungan komunitas,
dan mengembangkan keterampilan kepemimpinan dan teknologi kepada orang lain.
 Mengevaluasi dan merefleksikan penelitian-penelitian dan praktek profesional terkini
terkait dengan penggunaan efektif daripada tool-tool dan sumber digital untuk
mendorong keberhasilan pembelajaran.
 Berkontribusi terhadap efektifitas, vitalitas, dan pembaharuan diri terkait dengan
profesi guru baik di sekolah maupun dalam komunitas.

G. PERANAN GURU ABAD 21


Tuntutan dunia internasional terhadap tugas guru memasuki abad ke-21 tidaklah ringan. Guru
diharapkan mampu dan dapat menyelenggarakan proses pembelajaran yang bertumpu dan
melaksanakan empat pilar belajar yang dianjurkan oleh Komisi Internasional UNESCO untuk
Pendidikan, yaitu :

 learning to know
 learning to do
 learning to be
 learning to live together

Jika dicermati keempat pilar tersebut menuntut seorang guru untuk kreatif, bekerja secara
tekun dan harus mampu dan mau meningkatkan kemampuannya. Berdasarkan tuntutan
tersebut seorang guru akhirnya dituntut untuk berperan lebih aktif dan lebih kreatif.

1. Guru tidak hanya menguasai ilmu pengetahuan sebagai produk, tetapi terutama
sebagai proses. Dia harus memahami disiplin ilmu pengetahuan yang ia tekuni
sebagai ways of knowing. Karena itu lebih dari sarjana pemakai ilmu pengetahuan
tetapi harus menguasai epistimologi dari disiplin ilmu tersebut.
2. Guru harus mengenal peserta didik dalam karakteristiknya sebagai pribadi yang
sedang dalam proses perkembangan, baik cara pemikirannya, perkembangan sosial
dan emosional, maupun perkembangan moralnya.
3. Guru harus memahami pendidikan sebagai proses pembudayaan sehingga mampu
memilih model belajar dan sistem evaluasi yang memungkinkan terjadinya proses
sosialisasi berbagai kemampuan, nilai, sikap, dalam proses memperlajari berbagai
disiplin ilmu.

Lebih jauh, dikemukakan pula tentang peranan guru yang berhubungan dengan aktivitas
pengajaran dan administrasi pendidikan, diri pribadi (self oriented), dan dari sudut pandang
psikologis.

 Dalam hubungannya dengan aktivitas pembelajaran dan administrasi pendidikan, guru


berperan sebagai :

1. Pengambil inisiatif, pengarah, dan penilai pendidikan


2. Wakil masyarakat di sekolah, artinya guru berperan sebagai pembawa suara dan
kepentingan masyarakat dalam pendidikan.
3. Seorang pakar dalam bidangnya, yaitu menguasai bahan yang harus diajarkannya.
4. Penegak disiplin, yaitu guru harus menjaga agar para peserta didik melaksanakan
disiplin.
5. Pelaksana administrasi pendidikan, yaitu guru bertanggung jawab agar pendidikan
dapat berlangsung dengan baik.
6. Pemimpin generasi muda, artinya guru bertanggung jawab untuk mengarahkan
perkembangan peserta didik sebagai generasi muda yang akan menjadi pewaris masa
depan.
7. Penterjemah kepada masyarakat, yaitu guru berperan untuk menyampaikan berbagai
kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi kepada masyarakat.

 Di pandang dari segi diri pribadinya (self oriented), seorang guru berperan sebagai :

1. Pekerja sosial (social worker), yaitu seorang yang harus memberikan pelayanan
kepada masyarakat.
2. Pelajar dan ilmuwan, yaitu seorang yang harus senantiasa belajar secara terus menerus
untuk mengembangkan penguasaan keilmuannya.
3. Orang tua, artinya guru adalah wakil orang tua peserta didik bagi setiap peserta didik
di sekolah.
4. Model keteladanan, artinya guru adalah model perilaku yang harus dicontoh oleh
mpara peserta didik.
5. Pemberi keselamatan bagi setiap peserta didik. Peserta didik diharapkan akan merasa
aman berada dalam didikan gurunya.

 Dari sudut pandang secara psikologis, guru berperan sebagai :

1. Pakar psikologi pendidikan, artinya guru merupakan seorang yang memahami


psikologi pendidikan dan mampu mengamalkannya dalam melaksanakan tugasnya
sebagai pendidik.
2. Seniman dalam hubungan antarmanusia (artist in human relations), artinya guru
adalah orang yang memiliki kemampuan menciptakan suasana hubungan
antarmanusia, khususnya dengan para peserta didik sehingga dapat mencapai tujuan
pendidikan.
3. Pembentuk kelompok (group builder), yaitu mampu membentuk atau menciptakan
kelompok dan aktivitasnya sebagai cara untuk mencapai tujuan pendidikan.
4. Catalyc agent atau inovator, yaitu guru merupakan orang yang yang mampu
menciptakan suatu pembaharuan bagi membuat suatu hal yang baik.
5. Petugas kesehatan mental (mental hygiene worker), artinya guru bertanggung jawab
bagi terciptanya kesehatan mental para peserta didik.
EPUBLIKA.CO.ID, BOGOR – Tugas mengajar dan mendidik pada abad ke-21 mempunyai
tantangan tersendiri. Hal itu terkait dengan karakteristik siswa di zaman milenial, seperti
sangat aware teknologi, warga global, otentik, liberal, progresif, percaya diri, dan
berorientasi tim.

“Karena itu, guru perlu memahami model pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan
zaman,” kata dosen Universitas Pakuan Bogor Dr Yuyun Elizabeth Patras MPd saat mengisi
upgrading tenaga pendidik dan kepemimpinan yang diadakan oleh Sekolah Bosowa Bina
Insani (SBBI) di Bogor, Jawa Barat, balum lama ini.

Yuyun menambahkan, guru abad ke-21 harus mempunyai sejumlah karakteristik yang tepat
untuk mengajar siswa milenial. “Karakteristik tersebut antara lain menjadikan siswa sebagai
producer, belajar teknologi baru, berwawasan global, siap dengan era digital, berkolaborasi,
pembelajaran berbasis proyek, dan terus berinovasi,” ujarnya.

Ia mengemukakan, model pembelajaran atau cara/teknik yang digunakan oleh seorang guru
bergantung kepada arakteristik peserta didik, karakteristik kompetensi yang harus dikuasai
oleh peserta didik, dan daya dukung lingkungan belajar.

“Model pembelajaran abad ke-21 merupakan cara/teknik yang digunakan guru untuk
memfasilitasi pengaman belajar terbaik anak sesuai dengan kondisi anak, lingkungan belajar
anak, dan daya dukung yang dimiliki,” tuturnya.

Model pembelajaran abad ke-21 ini, kata Yuyun, sering disebut Project Based Learning
(Pembelajaran Berbasis Proyek). Model Pembelajaran Berbasis Proyek bertujuan
menemukan sendiri (inquiry), dan menuntaskan suatu kegiatan/proyek. Selain itu,
menerapkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap tertentu ke dalam berbagai konteks (a
variety of contexts) dalam menuntaskan proyek, serta interpersonal skills dan berkolaborasi
dalam suatu tim.

Yuyun menyebutkan, ada beberapa karakteristik Pembelajaran Berbasis Proyek. Karakteristik


tersebut antara lain, adanya permasalahan atau tantangan yang diajukan kepada peserta
didik; peserta didik mendesain proses untuk menentukan solusi atas permasalahan atau
tantangan yang diajukan; peserta didik secara kolaboratif bertanggungjawab untuk
mengakses dan mengelola informasi untuk memecahkan permasalahan; dan proses evaluasi
dijalankan secara kontinyu.

“Selain itu, peserta didik secara berkala melakukan refleksi atas aktivitas yang sudah
dijalankan; produk akhir aktivitas belajar akan dievaluasi secara kualitatif; dan situasi
pembelajaran sangat toleran terhadap kesalahan dan perubahan,” papar Yuyun.

Ia menjelaskan, sistem penilaian proyek mencakup tiga hal, yakni kemampuan, relevansi,
dan keaslian. “Kemampuan pengelolaan adalah kemampuan peserta didik dalam memilih
topik, mencari informasi dan mengelola waktu pengumpulan data serta penulisan laporan,”
ujarnya.

Relevansi adalah kesesuaian dengan mata pelajaran, dengan mempertimbangkan tahap


pengetahuan, pemahaman dan keterampilan dalam pembelajaran. “Adapun keaslian adalah
proyek yang dilakukan peserta didik harus merupakan hasil karyanya, dengan
mempertimbangkan kontribusi guru berupa petunjuk dan dukungan terhadap proyek peserta
didik,” paparnya.