Anda di halaman 1dari 14

PENETAPAN HCG DENGAN TEKNIK

IMUNOKROMATOGRAFI

==

Nama : Maria Pricilia Gita P.P.


NIM : B1A015068
Rombongan : II
Kelompok :5
Asisten : Dyah Retno Annisa

LAPORAN PRAKTIKUM IMUNOBIOLOGI

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2018
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

FSH dan LH sebagai endokrin golongan gonadotropin merupakan hormon


glikoprotein. FSH bersama dengan growth factor dapat merangsang cumullus
oophorus untuk memproduksi dan mengeluarkan asam hyaluronic yang akan
mendispersikan sel. Proses ini disebut ekspansi atau mucifikasi (Ciptadi et al.,
2011). Uji imunologik untuk kehamilan dapat dilakukan dengan beberapa metode,
seperti Rapid Latex Slide Test, Tube Test Haemaglutination (tipe inhibisi) atau
Immunochromatographic Assay. Uji-uji tersebut pada dasarnya menggunakan
prinsip antigen-antibody yaitu anti HCG terhadap kadar HCG (human Chorionic
Gonadotropin), hormon yang dihasilkan oleh plasenta. Uji yang dilakukan
menggunakan serum anti HCG ini bersifat lebih sensitif, lebih akurat, lebih murah,
dan lebih mudah dilakukan dibandingkan dengan uji kehamilan yang terdahulu,
seperti menggunakan hewan hidup (Cole, 1997).
HCG adalah hormon yang mendukung perkembangan telur dalam ovarium
dan merangsang telur dalam pelepasan telur dalam ovulasi. Hormon HCG tersusun
atas glikoprotein yang dihasilkan oleh protoblast dan bakal plasenta. Pembentukan
HCG maksimal pada 60-90 hari, kemudian turun ke kadar rendah yang menetap
selama kehamilan. Kadar HCG yang terus menerus rendah berkaitan
dengan gangguan perkembangan plasenta atau kehamilan. Kadar HCG memiliki
struktur yang sangat mirip dengan yang bekerja pada reseptor LH sehingga usia
korpus luteum memanjang. HCG mula-mula di produksi oleh sel lapisan luar
blastokista. Sel ini berdiferensiasi menjadi sel tropoblast, sinsitiotropoblast yang
berkembang dari tropoblast, terus menghasilkan HCG yang disekresikan dan dapat
dideteksi disekresi vagina sebelum inplantasi. biasanya HCG dapat dideteksi di
darah ibu 8-10 minggu (Frandson, 1993).
Penggunaan strip HCG urine test merupakan suatu metode imunoassay untuk
memastikan secara kualitatif adanya Human Chorionic Gonadotropin
(HCG) didalam urine sebagai deteksi dini adanya kehamilan. Human Chorionic
Gonadotropin merupakan sebuah hormon glikopeptida yang dihasilkan oleh
plasenta selama kehamilan. Adanya HCG dan peningkatan konsentrasinya secara
cepat didalam urin ibu membuatnya sebagai penanda untuk memastikan kehamilan
(Prawirohardjo, 1976).
Alat uji kehamilan untuk dipakai di rumah (home pregnancy test, HPT) yang
biasa dikenal dengan test pack merupakan alat praktis yang cukup akurat untuk
mendeteksi kehamilan pada tahap awal yang menggunakan urine. Urine yang
digunakan yaitu air seni pertama setelah bangun pagi, karena konsentrasi hormon
HCG tinggi pada saat itu. Bentuk alat tes kehamilan (test pack) ada dua macam,
yaitu strip dan compact. Bedanya, bentuk strip harus dicelupkan ke urin yang telah
ditampung atau disentuhkan pada urine waktu buang air kecil sedangkan compact
sudah ada tempat untuk menampung urine yang akan diteteskan. Test slide ini
sangat tergantung pada kerja sama antibodi dan antigen. Antibodi ini zat kimia yang
dihasilkan oleh limfosit dan struktur lain di dalam tubuh. Sedangkan antigen, zat
asing yang masuk dan merangsang reaksi kimia tubuh. Jika antigen masuk ke dalam
jaringan tubuh, antibodi bereaksi sehingga antigen tidak berbahaya lagi. Tiap
antibodi hanya bereaksi terhadap antigen tertentu. Antibodi-antibodi itulah yang
“ditambatkan” pada media test, yang mempunyai dua strip (garis) indikator (Pearce,
1997).

B. Tujuan

Tujuan praktikum acara ini adalah untuk mengetahui kadar HCG dengan
teknik imunokromatografi.
II. MATERI DAN CARA KERJA

A. Materi

Bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah sampel urin wanita
hamil muda dan wanita tidak hamil.
Alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah tempat urin (botol film),
test strip Acon (antigen HCG), dan tissue.

A. Metode

1. Urin dimasukkan kedalam botol film.


2. Test strip dimasukkan sampai batas maksimal selama 3 menit.
3. Perubahan garis diamati.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

a. b.

Gambar 3. 1. Hasil Test Strip (a) Urin Wanita Hamil dan (b) Urin Wanita
Tidak Hamil

Interpretasi :
(+) : terdapat 2 garis pada daerah control dan tes, kadar HCG ≥ 10 mIU/ml.
(-) : terdapat 1 garis pada daaerah control, kadar HCG < 10 mIU/ml.
B. Pembahasan

Berdasarkan hasil praktikum didapatkan hasil bahwa urin yang digunakan


kelompok 5 rombongan II merupakan urin wanita yang hamil dan tidak hamil. Hal
ini ditandai dengan garis merah yang hanya terdapat 1 strip saja untuk wanita tidak
hamil dan 2 strip untuk wanita yang hamil. Sesuai dengan pernyataan George (2008)
strip HCG urin adalah tes menggunakan metode imunoassay kromatografi dimana
menggunakan antibodi spesifik untuk secara selektif mengidentifikasi adanya HCG
didalam urin dengan derajat sensitivitas yang tinggi. Peningkatan level HCG
sebesar 20 mIU/ml dapat dideteksi hanya dalam 3 menit. Prinsip dari test ini adalah
penambahan urin ke peralatan test dan membiarkannya berjalan di sepanjang
absorban. Penanda antibodi yang menafsirkan warna melekat ke HCG pada daerah
tes dan menghasilkan pita berwarna merah ketika konsentrasi HCG sama dengan
atau lebih dari 20 mIU/ml. Saat keadaan tidak adanya hormon HCG, maka tidak
akan terbentuk pita di daerah test. Reaksi pencampuran berlanjut di sepanjang
absorban melewati daerah test dan kontrol. Konjugasi yang tidak berikatan ke
reagen pada daerah kontrol menghasilkan pita berwarna merah, yang menunjukkan
bahwa reagen dan peralatan masih berfungsi secara baik.
Human Chorinic Gonadotropin (HCG) adalah suatau glikoprotein yang
mengandung galaktosa dan heksosamin. Kadar HCG meningkat dalam darah dan
urine segera setelah implantasi ovum yang sudah dibuahi. Dengan demikian
ditemukannya HCG merupakan dasar bagi banyak tes kehamilan (Murray et al.,
1999). Tes kehamilan menggunakan urine, karena dalam wanita hamil mengadung
HCG (Human Chorionic Gonadotropin). HCG yaitu suatau hormon glikoprotein
yang mempertahankan sistem reproduksi wanita dalam keadaan cocok untuk
kehamilan. HCG di sintesis pada retikulum endoplasma kasar, glikosilasi
disempurnakan apparatus golgi (Shakuntala et al., 2012). HCG dapat juga
digunakan dalam upaya mensinkronkan ovulasi dan perkawianan yang diperlukan
agar terjadi suatu konsepsi (Frandson,1993). Bila terdapat HCG dalam urin, HCG
terikat pada antibodi dan dengan demikian akan mencegah aglutinasi partikel lateks
yang dilapisi HCG yang diperlihatkan oleh antibodi tersebut. Dengan demikian uji
kehamilan positif apabila tidak terjadi aglutinasi, dan kehamilan negatif jika terjadi
aglutinasi (Pearce , 1997).
Hormon HCG terdiri dari subunit alfa (α) dan subunit beta (β). Subunit α
HCG adalah sama dengan subunit α dari LH, FSH dan TSH. Subunit β HCG secara
struktur hanya sedikit mirip dengan Subunit β LH. HCG dan LH berikatan dan
berfungsi melalui reseptor LH. Perbedaan utama dari HCG dan LH adalah LH
dengan PI 8,0 memiliki waktu paruh di sirkulasi hanya 25-30 menit, sedangkan
HCG dengan PI 3,5 waktu paruhnya sampai 37 jam atau 80 kali lebih lama dari LH.
hCG adalah super LH yang diproduksi pada saat kehamilan berkerja pada reseptor
LH. LH, FSH dan TSH diproduksi di lobus anterior hipofisis, sedangkan HCG
diproduksi dengan fusi dan diferensiasi sel sinsitiotropoblas plasenta. Selain selama
kehamilan, HCG juga diproduksi baik pada wanita maupun pria yang menderita
kanker. Saat kehamilan, HCG mengambil alih LH dalam menstimulasi produksi
progesteron oleh sel korpus luteum ovarium, mencegah perdarahan. Seperti yang
kita ketahui sekarang, HCG hanya menstimulasi produksi progesteron pada 3-4
minggu setelah implantasi, artinya HCG hanya berfungsi pada 10% durasi lama
kehamilan. Namun ternyata HCG mencapai puncaknya pada minggu ke 10
kehamilan atau hampir 1 bulan setelah promosi progesteron selesai lalu secara terus
menerus diproduksi selama kehamilan. Hal ini menunjukkan bahwa fungsi utama
HCG bukanlah produksi progesteron, melainkan memiliki berbagai macam fungsi
yang dapat bekerja pada plasenta, uterus dan kemungkinan pada fetus selama
kehamilan. α-subunit dari gonadotropin disandi oleh gen CGA, terdiri dari 92 asam
amino residu. Sedangkan β-subunit LH, FSH dan HCG masing-masing terdiri dari
121, 110, dan 145 asam amino (aa) secara berurutan. Tambahan pada panjang β-
subunit hCG akibat pada pemanjangan ujung karbosilnya ada mutasi frameshift dari
gen LH-β pendahulu. Pemanjangan asam amino ini disebut dengan carboxyl
terminal peptide (CTP). Target untuk pengembangan kontrasepsi vaksin pada HCG
ini adalah pada β-subunit HCG secara utuh ataupun pada CTP dari β- subunit HCG,
hal ini untuk menghindari reaksi silang dengan LH (Darmawi, 2017).
Hormon kehamilan ini hanya ditemukan pada tubuh seorang wanita hamil
yang dibuat oleh embrio segera setelah pembuahan dan karena pertumbuhan
jaringan plasenta. Hormon kehamilan yang dihasilkan oleh villi choriales ini
berdampak pada meningkatnya produksi progesteron oleh indung telur sehingga
menekan menstruasi dan menjaga kehamilan. Produksi HCG akan meningkat hingga
sekitar hari ke 70 dan akan menurun selama sisa kehamilan. Hormon kehamilan
HCG mungkin mempunyai fungsi tambahan, sebagai contoh diperkirakan HCG
mempengaruhi toleransi imunitas pada kehamilan. Hormon ini merupakan indikator
yang dideteksi oleh alat tes kehamilan yang melalui air seni. Jika, alat tes kehamilan
mendeteksi adanya peningkatan kadar hormon HCG dalam urin, maka alat tes
kehamilan akan mengindikasikan sebagai terjadinya kehamilan atau hasil tes positif.
Dampak kadar HCG yang tinggi dalam darah menyebabkan mual-muntah (morning
sickness) (Johnson, 1994).
Pengumpulan dan penyimpanan urin sebaiknya menggunakan urin pagi hari
karena berisi konsentrasi HCG yang paling tinggi sehingga baik untuk pemeriksaan
sampel urin. Meskipun demikian, urin sewaktu dapat juga digunakan. Urin spesimen
dikumpulkan pada gelas atau penampung plastik yang bersih. Jika spesimen tidak
digunakan segera maka harus disimpan pada suhu 2-8oC dan letakkan pada suhu
temperatur sebelum digunakan, tetapi penyimpanan ini tidak boleh lebih dari 48 jam
(Vitthala, 2012).
Tingkat sekresi HCG meningkat dengan cepat selama kehamilan awal untuk
menyelamatkan korpus luteum dari kematian. Sekresi puncak HCG berlangsung
sekitar 60 hari setelah periode haid terakhir. Pada minggu kesepuluh kehamilan,
pengeluaran HCG menurun sehingga tingkat sekresinya rendah yang kemudian
dipertahankan selama kehamilan. Turunnya HCG terjadi pada saat korpus luteum
tidak lagi diperlukan untuk menghasilkan hormon-hormon steroid karena plasenta
sudah mulai mengeluarkan estrogen dan progesterone dalam jumlah bermakna.
Korpus luteum kehamilan mengalami regresi parsial seiring dengan turunnya sekresi
HCG (Saifuddin, 2002).
Adapun mekanisme kerja test strip yang lebih rinci adalah urin yang
diperiksa akan bergerak dari zona yang satu ke zona yang lain, dimulai dari zona
yang terdapat mobile anti HCG1. Anti HCG1 akan ikut terbawa oleh urin ke zona
anti HCG2. Disinilah penentuan positif atau negatifnya suatu tes. Jika pada urin
terdapat molekul HCG, maka molekul ini yang sebelumnya sudah berikatan dengan
anti-HCG1 akan berikatan dengan anti-HCG 2 sehingga akan terbentuk warna atau
garis pada strip ataupun kaset pemeriksaan. Jika pada urin tidak terdapat molekul
HCG, maka anti-HCG 2 tidak akan terikat. Selanjutnya urin bergerak ke zona anti-
anti HCG. Pada zona ini, baik urin yang mengandung molekul HCG maupun yang
tidak, akan terbentuk warna ataupun garis. Hal ini dikarenakan anti-anti HCG
berikatan dengan anti-HCG1 yang ikut terbawa oleh urin. Zona ini disebut kontrol
(Hanifa, 2005).
Keuntungan immunoassay cara cepat menggunakan lateks pada lempeng
kaca adalah lebih baik dan cepat, tidak perlu disentifugasi, spesifik kalau kandungan
protein rendah (<50 mg/dl) dan tidak ada obat yang mempengaruhi ikatan lateks
HCG kovalen. Sedangkan kerugiannya relatif tidak sensitif, angka kesalahan teknis
tinggi (1,5-3,0 %) akibat pencampuran teknik yang tidak tepat dan hasil positif palsu
yang kadang-kadang terjadi disebabkan oleh protein protein yang jelas (Speicher &
Smith, 1996). Ditambahkan oleh Greenspan dan Baxter (2000) keuntungan dari uji
ini adalah murah, dijual bebas diapotek, tidak memerlukan waktu yang lama untuk
menunjukkan hasilnya serta memberi hasil positif pada kehamilan yang sangat dini,
sebelum kita memutuskan pergi ke dokter, namun kelemahannya adalah, hasilnya
akan rancau atau tidak falid jika ikatan yang sudah dikemas oleh pabrik tersebut
rusak.
Manfaat penetapan kadar HCG tidak hanya untuk wanita hamil. Dokter telah
menghadapi pasien dengan titer HCG meningkat dalam 5 tahun terakhir. Biasanya
dalam kisaran 500-100 mIU/mL setelah kehamilan muda. Kadang-kadang
ditemukan secara kebetulan titer HCG pada wanita yang tidak hamil. Selama
periode diam, pasien yang tidak terdeteksi memiliki HCG-H tapi secara tiba-tiba
kadar HCG naik secara signifikan. Sekitar 20% pasien ini menjadi relevan dan
diketahui bahwa mereka mengidap tumor. Pasien yang memiliki kejadian abnormal
ini biasanya melakukan pengobatan dengan kemotrapi atau operasi. Pasien yang
memiliki kejadian abnormal ini biasanya melakukan pengobatan dengan kemotrapi
atau operasi (Hektan et al., 2012).
Dahulu, tes kehamilan dilakukan dengan raksi bufo atau reaksi katak. Tes ini
menggunakan urin yang disuntikkan pada katak jantan bernama Bufo melanotictus.
Hasil positif bila terdapat sperma katak dan negatif bila tidak ada. Kini tes
kehamilan dengan urin dapat dilakukan sendiri atau di laboratorium. Bahkan, alat-
alat tes kehamilan banyak dijual di apotek dengan harga yang bervariasi, Semakin
mahal harga test pack tersebut, biasanya tingkat keakuratannya akan semakin tinggi.
Test pack merupakan salah satu pilihan yang sering dilakukan karena cara
penggunaannya mudah. Meskipun terdapat berbgaia macam jenis test pack
(berbentuk strip, pena, batangan kecil dan sebagainya) tetapi pada prinsipnya sama
yaitu unuk mengetahui ada tidaknya pengikatan HCG (Human Chorionic
Gonadotropin) di dalam tubuh Ibu. Hormon ini terdapat dalam urin dan darah
apabila terjadi kehamilan. Test pack juga relatif mudah didapat. Cara
penggunaannya juga cukup mudah, yaitu dengan mencelupkannya pada urin dan
ditunggu selama beberapa menit dan dilihat hasilnya (Siswosuharjo & Chakrawati,
2010).
Teknik imunokromatografi ini memiliki keuntungan dan kerugian.
Keuntungan yang diperoleh pada teknik ini yaitu tes dapat diakukan dengan cepat,
test pack juga dapat digunakan walapun kandungan protein urin rendah, murah dan
tidak memerlukan perlakuan dengan biaya besar seperti sentrfugasi dan filtrasi.
Sedangkan kekurangannya adalah test pack memiliki angka kesalahan yang tinggi,
kurang sensitive dibandingkan dengan uji kehamilan lainnya dan diperlukan kadar
HCG minimal untuk dpaat memunculkan hasil positif, sehingga kadar HCG yang
kurang tidak akan berekasi, sehingga terdapat kemungkinan hasil uji palsu (Speicher
& Smith, 1996).
Sistem pencitraan dual-modality berbasis smartphone baru dikembangkan,
yang secara kuantitatif dapat mendeteksi warna atau fluoresen lateral
immunochromatographic flow strip (ICTS). Algoritma diterapkan untuk menghitung
lokalisasi batas dan meningkatkan akurasi sinyal penggalian, yang mencapai
intensitas sinyal tinggi dan sensitivitas. Kinerja sistem diuji menggunakan sampel
yang berbeda, yang menyajikan hasil yang memuaskan. Banyaknya objek yang
terhubung yang dirancang untuk dihubungkan dengan sistem yang dikendalikan oleh
smartphone dan data besar untuk mewujudkan bio-analis dan pemantauan dan
pengelolaan perawatan kesehatan pribadi, pekerjaan lebih lanjut akan fokus pada
pengembangan sistem pencitraan portabel dan serbaguna berdasarkan pada
smartphone untuk deteksi di POCT dalam waktu dekat (Hou et al., 2017).
Intensitas cahaya yang berbeda dan lokasi strip menyebabkan sedikit variasi
dalam gambar yang diperoleh. Untuk menguji pengulangan sistem, konsentrasi yang
sama sepuluh strip terdeteksi berulang kali dan setiap strip dimasukkan ke dalam
sistem selama 10 kali dalam 5 menit. Untuk mengevaluasi stabilitas sistem, strip
immunochromatographic mengandung tiga konsentrasi yang berbeda (10, 60, dan
120 mIU / mL untuk HCG dan 5, 20, dan 50 ng / mL untuk CEA) diuji oleh sistem.
Tes ini dilakukan untuk mendeteksi toleransi kesalahan variasi. Varians dihitung
oleh hasil setelah diuji untuk 10 kali di setiap strip. Untuk konsentrasi HCG, 10, 60,
120 mIU / mL sesuai dengan deteksi standar deviasi masing-masing adalah 2,63,
1,37, 0,91%. Untuk CEA, 5, 20, 50 ng / mL konsentrasi yang sesuai dengan deteksi
standar deviasi masing-masing adalah 3,85, 1,45, dan 1,05%. Varians dari seluruh
hasil tes adalah 1,6% (strip berwarna) dan 2,1% (strip fluorescent), masing-masing.
Hasil tersebut menyatakan bahwa stabilitas sistem sebanding dengan konsentrasi
sampel, dan itu menunjukkan hal yang sama nilai dari setiap pengukuran, sehingga
membuktikan pengulangan yang baik dari sistem (Hou et al., 2017)..
IV. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa
hasil urin wanita yang hamil ditunjukkan dengan 2 garis merah yang menunjukkan
kadar HCG lebih dari 10 mIU/ml dan hasil urin wanita yang tidak hamil ditunjukkan
dengan 1 garis merah yang menunjukkan kadar HCG kurang dari 10 mIU/ml.
DAFTAR REFERENSI

Ciptadi, G., Susilawati, T., Siswanto, B. & Karima, H.N., 2011. Efektiftas
Penambahan Hormon Gonadotropin Pada Medium Maturasi mSOF
Terhadap Tingkat Maturasi Oosit. Jurnal Ternak Tropika, 12(1), pp.108-115.

Cole, L. A. 1997. Immunoassay of human chorionic gonadotropin, its free subunits,


and metabolites. Clinical Chemical, 43(12), pp.33-43.

Darmawi, 2017. Vaksin Human Chorionic Gonadotropin (hCG) sebagai Kandidat


Kontrasepsi Imunologi pada Wanita. Jurnal Kesehatan Melayu, 1(1), pp.29-
34.

Frandson, R.D., 1993. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press.

George, A., 2008. Asuhan Antenatal, Jaringan Nasional Pelatihan Klinik


Kesehatan Reproduksi. Surabaya: Bina Pustaka.

Greenspan, F. S.& Baxter, J.D., 2000. Endokrinologi Dasar Klinik. Jakarta: EGC.

Hanifa,W. & Saifuddin, A.B., 2005. Ilmu Kebidanan Edisi 3. Jakarta: Yayasan Bina
Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

Hextan, Y.S., Ngana, E.I. & Kohorn, L.AC., 2012. Trophoblastic Disease.
International Journal Of Gynecology And Obstetric, 12(5), pp.130–136.

Hou, Y., Wang, K., Xiao, K., Qin, W., Lu, W., Tao, W. & Cui, D., 2017.
Smartphone-Based Dual-Modality Imaging System for Quantitative
Detection of Color or Fluorescent Lateral Flow Immunochromatographic
Strips. Nanoscale Research Letters, 12(291),pp.1-13.

Johnson, K. E., 1994. Hormon-Hormon Kehamilan. Jakarta: Binarupa Aksara.

Murray, R.K., 1999. Biokimia Harper. Jakarta: ECG.

Pearce, E., 1997. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama.

Prawirohardjo, S., 1976. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka.

Saifuddin, 2002. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono


Prawiroharjo.

Shakuntala, P., Ud, B., Anbukkani, S., Rajshekar, K. & Umaevi, K., 2012. Risiko
Tinggi Neoplasia Tropoblastik Gestasional Setelah Kehamilan Anggur.
Departemen Ginekologi, 3(1), pp.50-54.
Siswosuharjo, S. & Chakrawati, F., 2010. Panduan Super Lengkap Hamil Sehat.
Semarang: PT Niaga Swadaya.

Speicher, C.E. & Smith, N.W., 1996. Pemilihan Uji Laboratorium yang Efektif.
Jakarta: EGC.

Vitthala, S.,1 Bouaziz, J., Tozer, A., Zosmer, A. & Al-Shawaf. T., 2012. Serum FSH
Levels in Coasting Programmes on the hCG Day and Their Clinical
Outcomes in IVF ± ICSI Cycles. International Journal of Endocrinology,
1(1), pp.1-7.