Anda di halaman 1dari 96

KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT

DIREKTORAT JENDERAL SUMBER DAYA AIR


SATKER OPERASI DAN PEMELIHARAAN SUMBER DAYA AIR SULAWESI IV
Jl. Balaikota IV No. 1 Kota Kendari Telp/Fax. (0401) 3122818 Kendari 93117 SULTRA e-mail : bwss4_kendari@yahoo.co.id

LAPORAN PENDAHULUAN
Pekerjaan

PENYUSUNAN PENILAIAN KINERJA DAN


AKNOP AIR BAKU PROVINSI SULAWESI
TENGGARA

Tahun Anggaran
2017
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku Prov. Sultra

Laporan Pendahuluan ini adalah tahap pelaporan pertama dari tiga tahapan
pelaporan (Laporan Pendahuluan, Laporan Antara dan Laporan Akhir) dalam
pekerjaan Penyusunan Kinerja dan AKNOP Air Baku Provinsi Sulawesi
Tenggara.

Laporan pendahuluan ini berisi gambaran umum, metodologi


perencanaan, rencana alternatif dan rencana kerja yang akan digunakan dalam
penyelesaian kegiatan ini. Di dalamnya juga terdapat gambaran umum dari
lokasi kegiatan sebagai acuan dalam menyusun AKNOP air baku.

Laporan Pendahuluan ini dapat diselesaikan atas kerja sama dari semua
pihak baik di Daerah, maupun dari pihak Pemberi Kerja. Demi kesempurnaan
Laporan Pendahuluan ini, maka kritik dan saran yang membangun sangat
diharapkan.

Akhir kata, diucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu atas tersusunnya Laporan Pendahuluan ini

Kendari, April 2017

Tim Penyusun

i
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku Prov. Sultra

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang ....................................................................................... I.1


1.2. Maksud, Tujuan dan Sasaran................................................................. I.2
1.2.1. maksud ........................................................................................ I.2

1.2.2. Tujuan ......................................................................................... I.2

1.2.3. Sasaran ....................................................................................... I.2

1.3. Identitas Pemrakarsa Kegiatan ................................................................ I.3

1.4. Ruang Lingkup ....................................................................................... I.3

BAB II GAMBARAN UMUM WILAYAH STUDI

2.1. Kondisi Kabupaten ...................................................................................... II.1


2.1.1. Kondisi Geografis dan Administrasi .................................................. II.1
2.1.2. Kondisi Topografis ............................................................................ II.7
2.1.3. Kondisi Klimatologis.......................................................................... II.8
2.2. Kependudukan............................................................................................ II.10
2.3. Sosial .......................................................................................................... II.13
2.3.1. Fasilitas Pendidikan .......................................................................... II.13
2.3.2. Fasilitas Kesehatan .......................................................................... II.15
2.3.3. Fasilitas Peribadatan ........................................................................ II.17
2.3.4. Pemakaian Air .................................................................................. II.19
2.4. Pertanian .................................................................................................... II.20
2.4.1. Lahan Pertanian ............................................................................... II.20
2.4.2. Lahan Kehutanan ............................................................................. II.22
2.5. Keuangan Daerah ....................................................................................... II.23
2.5.1. Pendapatan dan Pengeluaran Daerah .............................................. II.23

ii
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku Prov. Sultra

BAB III METODOLOGI

3.1. Potensi dan Ketersediaan Air Baku............................................................. III.1


3.2. Permasalahan Umum Air Baku ................................................................... III.6
3.3.. Metodologi Pekerjaan ................................................................................ III.7
3.4. Analisa Data ............................................................................................... III.15
3.5. Penyusunan AKNOP .................................................................................. III.33

BAB IV KONDISI EKSISTING AIR BAKU WILAYAH STUDI

4.1. Kondisi Eksisting Wilayah Studi .................................................................. IV.1


4.1.1. Wilayah Sungai .................................................................. IV.1
4.1.2. Wilaya Air Baku Kabupaten Konawe dan Konawe Selatan IV.3
4.2. Kondisi Eksisting Air Baku .......................................................................... IV.4
4.2.1. Kondidi Eksisting Wilayah Kabupaten Konawe .................. IV.5
4.2.2. Kondidi Eksisting Wilayah Kabupaten Konawe Selatan ..... IV.5
4.3. Rencana Pengelolaan Data ........................................................................ IV.7

BAB V RENCANA KERJA


5.1. Program kerja .......................................................................................... V.1
5.2. Struktur Organisasi ..................................................................................... V.11

iii
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku Prov. Sultra

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Dewasa ini, air menjadi masalah yang perlu mendapat perhatian yang
serius. Untuk mendapat air yang baik sesuai dengan standar tertentu, saat ini
menjadi barang yang mahal, karena air sudah banyak tercemar oleh bermacam-
macam limbah dari berbagai hasil kegiatan manusia. Sehingga secara kualitas,
sumberdaya air telah mengalami penurunan. Demikian pula secara kuantitas, yang
sudah tidak mampu memenuhi kebutuhan yang terus meningkat.
Disamping bertambahnya populasi manusia, kerusakan lingkungan
merupakan salah satu penyebab berkurangnya sumber air baku. Abrasi pantai
menyebabkan rembesan air laut ke daratan, yang pada akhirnya akan
mengontaminasi sumber air baku yang ada di bawah permukaan tanah.
Pembuangan sampah yang sembarang di sungai juga menyebabkan air sungai
menjadi kotor dan tidak sehat untuk digunakan. Di Indonesia sendiri diperkirakan,
60 persen sungainya, terutama di Sumatera, Jawa, Bali, dan Sulawesi, tercemar
berbagai limbah, mulai dari bahan organik hingga bakteri penyebab diare. Saat ini
masalah penyediaan dan pengolahan air baku menjadi perhatian khusus baik bagi
negara-negara maju maupun negara berkembang. Indonesia yang merupakan
negara berkembang tidak luput dari permasalahan penyediaan dan pengolahan
air baku bagi masyarakatnya. Belum maksimalnya penyediaan dan pengolahan air
baku menjadikan satu masalah yang dihadapi oleh negara Indonesia.
Beranjak dari permasalahan tersebut di atas, Kementerian Pekerjaan Umum
dan Perumahan Rakyat sesuai dengan wewenangnya yang tertuang dalam Undang
– Undang Nomor 11 Tahun 1974 tentang Pengairan, yakni untuk mengelola serta
mengembangkan kemanfaatan air serta sumber – sumber air, telah melaksanakan
pembangunan prasarana air baku. Pembangunan prasarana penyediaan air baku
dilakukan untuk mendukung komitmen pemerintah dalam Millenium Development

. I-1 .
Laporan Pendahuluan
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku Prov. Sultra
Goals (MDG’s) khususnya Goal ke-7, yaitu ‘Memastikan Kelestarian Lingkungan’,
dimana target ke-10 adalah mengurangi hingga setengahnya proporsi
masyarakat yang tidak memiliki akses terhadap air minum yang aman dan sanitasi
dasar.
Balai Wilayah Sungai Sulawesi IV Kendari, selaku pelaksana pengelolaan
sumber daya air di wilayah sungai sebagai perpanjangan tangan dari Direktorat
Jenderal Sumber Daya Air – Kementerian Pekerjaan Umum, telah melaksanakan
pembangunan prasarana air baku di provinsi Sulawesi Tenggara sejak Tahun 2010
sampai saat ini. Agar dapat berfungsi optimal dalam mendukung pelayanan air baku
untuk masyarakat, maka prasarana – prasarana air baku yang telah dibangun
tersebut perlu dikelola dengan baik melalui kegiatan Operasi dan Pemeliharaan
(O&P). Dalam pelaksanaan O&P prasarana air baku perlu pula dilakukan upaya –
upaya pengembangan dalam rangka peningkatan layanan dengan mengambil
kebijakan dan membuat inovasi – inovasi pengelolaan. Untuk mendukung hal
tersebut maka kinerja pengelolaan prasarana air baku harus dapat di ukur, dimana
dalam pelaksanaan pengelolaan O&P dan kegiatan pendukung lainnya memerlukan
biaya O&P yang memadai.

1.2. Maksud, Tujuan, dan Sasaran

1.2.1. Maksud

Maksud dari pekerjaan ini adalah terwujudnya pengelolaan / O&P Prasarana


Air Baku yang efektif dan efesien dengan kinerja yang makin meningkat dalam
rangka memenuhi kebutuhan masyarakat akan air baku untuk air bersih.

1.2.2. Tujuan
Tujuannya adalah malaksanakan penilaian kinerja prasarana air baku
terhadap indikator – indikator kinerja pelaksanaan OP dan penyusunan Angka
Kebutuhan Nyata Operasi dan Pemeliharaan (AKNOP) Air Baku Prov. Sultra.

1.2.3. Sasaran

Sasaran Pelaksanaan kegiatan/pekerjaan adalah pada prasarana –


prasarana air baku yang telah dibangun oleh BWS Sulawesi IV Kendari yang
tersebar pada beberapa Kabupaten di Provinsi Sulawesi Tenggara

. I-2 .
Laporan Pendahuluan
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku Prov. Sultra

1.3. Identitas Pemrakarsa Kegiatan


Pemrakarsa pekerjaan Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku
Prov. Sultra adalah sebagai berikut :

Nama Pemrakarsa : Satuan Kerja Operasi dan Pemeliharaan Sumber


Daya Air Sulawesi IV

Alamat : Jl. Balai Kota IV No. 1 – Kendari 93117

Sulawesi Tenggara.

Telepon : (0401) 3122818

Sumber Dana : Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)


Tahun Anggaran 2017

Nama kegiatan : PENYUSUNAN PENILAIAN KINERJA DAN AKNOP


AIR BAKU PROV. SULTRA

Lokasi : Kabupaten Konawae dan Kabupaten Konawe Selatan

1.4. Ruang Lingkup Kegiatan

Ruang Lingkup Pekerjaan Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air


Baku Prov. Sultra, meliputi :
A. Melakukan persiapan pelaksanaan pekerjaan;

A1. Pengumpulan data teknis menyangkut data teknis Air Baku berupa gambar
purna laksana Pembangunan, peningkatan, dan rehabilitasi prasarana air baku,
wilayah layanan, jumlah KK layanan, data sumber air, laporan operasi dan
pemeliharaan prasarana air baku, data kelembagaan
masyarakat/pemerintah/swasta pengelola prasarana air baku, data peralatan
dalam pelaksanaan OP air baku dan data pendukung lainnya.

A2. Pengumpulan semua laporan hasil studi maupun publikasi studi terkait dan
kondisi existing prasarana air baku.

A3. Penyusunan rencana kerja, metodologi Pelaksanaan dan pembuatan peta


rencana kerja Berdasarkan evaluasi dan analisis terhadap data sekunder yang
telah diperoleh.Diharapkan pelaksana dapat menyusun Rencana Kerja sehingga

. I-3 .
Laporan Pendahuluan
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku Prov. Sultra

seluruh ruang lingkup pekerjaan ini dapat diselesaikan dengan baik dalam
kurung waktu yang telah ditetapkan.

A4. Penyiapan bahan, peralatandan personil.Penyedia jasa harus menyiapkan


bahan, peralatan, dan personil yang dibutuhkan.

B. Menyusun Rencana Mutu Kontrak (RMK);

Menyusun Rencana Mutu Kontrak (RMK) yang digunakan sebagai acuan dalam
Pelaksanaan pekerjaan. Rencan Mutu Pekerjaan (RMK) antara lain memuat:
sasaran mutu, persyaratan teknis dan administrasi, struktur organisasi, tugas
dan tanggung jawab, bagan alir kegiatan, jadwal Pelaksanaan kegiatan, jadwal
peralatan, daftar material dan jadwal personil dengan berpedoman pada
Permen PU No. 04/PRT/M/2009. RMK yang disusun harus dipresentasikan oleh
penyedia jasa kepada pengguna jasa sebelum mendapat persetujuan dari
pengguna jasa serta dapat dilakukan perbaikan – perbaikan. Penyedia jasa juga
harus mensosialisasikan RMK kepada semua tenaga ahli/stafnya yang terlibat
dalam pekerjaan.

C. Menyiapkan review literature yang terkait;

Melakukan review literatur serta peraturan perundang-undangan yang terkait


substansi Penyusunan Penilaian Kinerja dan Penyusunan AKNOP Air Baku
Prov. Sultra.

D. Melakukan pengumpulkan dan analisis data sekunder;

E. Menyusun pola pikir Penyusunan Penilaian Kinerja dan Penyusunan


AKNOP Air Baku;
i. Penilaian kinerja sarana dan prasarana air baku;
ii. Pelaksanaan survey prasarana air baku pada lokasi yang telah ditentukan;
iii. Kondisi pengelolaan dan AKNOP sarana dan prasarana OP sungai saat ini,
serta aturan/kebijakan yang mendasari;
iv. Langkah/upaya yang diperlukan dalam menentukan metoda dan biaya
didalam estimasi AKNOP OP Air Baku;
v. Tata Cara Penyusunan AKNOP OP Air Baku;

. I-4 .
Laporan Pendahuluan
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku Prov. Sultra

vi. Rekomendasi langkah/upaya penerapan.

F. Melakukan Survey Lapangan;


Melakukan survey di wilayah studi lapangan guna pengumpulan data,
inventarisasi dan konsultasi dengan pakar, pejabat/petugas OP,
pejabat/petugas Dinas PU/PSDA setempat (Provinsi dan kabupaten),
masyarakat, serta pemangku kepentingan lainnya terkait Penyusunan Penilaian
Kinerja dan Penyusunan AKNOP Air Baku Prov. Sultra, sekaligus melakukan
peninjauan langsung ke lapangan.

G. Melakukan diskusi-diskusi;
Melakukan diskusi-diskusi dengan Direksi Pekerjaan, narasumber dan pihak
lainnya guna memperoleh masukan dalam Pelaksanaan pekerjaan.
Narasumber merupakan personil yang kompeten dan memiliki pengetahuan
mendalam mengenai OP Air Baku.

H. Menyusun Penilaian Kinerja dan menyusun AKNOPAir Baku;


Sesuai data literatur, sekunder, dan lapangan, Penyedia jasa melakukan
analisis dan menyusun penilaian kinerja dan AKNOP Air Baku. Dalam
menyusun penilaian kinerja mengacu pada Permen PUPR No. 06/PRT/M/2015
tentang Eksploitasi Sumber Air dan Bangunan Air. Sedangkan penyusunan
AKNOP dalam hal analisa mengacu pada AHSP Bidang Pekerjaan Umum No.
28/PRT/M/2016 dan Harga dasar mengacu pada Basic Price yang berlaku pada
wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara. Dalam menyusun Penilaian Kinerja dan
AKNOP Wilayah Sungai Towari Lasusua, penyedia Jasa harus membuat
telaahan terkait K3 dalam pelaksanaan OP Prasarana Air Baku Prov. Sultra
sesuai Permen PU No. 05/PRT/M/2014.

I. Melakukan rapat-rapat pembahasan;


Penyedia jasa melakukan rapat pembahasan laporan dengan Pengguna Jasa /
Direksi Pekerjaan guna mendapatkan masukan dan arahan serta untuk
membahas kendala – kendala yang dihadapi. Pelaksanaan Rapat harus
dibuatkan notulennya yang ditanda tangani oleh team leader dan diketahui oleh
direksi pekerjaan dan merupakan bagian dari laporan pelaksanaan pekerjaan.

. I-5 .
Laporan Pendahuluan
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku Prov. Sultra

J. Menyusun dan menyerahkan laporan-laporan; dan


Laporan – laporan yang terdiri dari Laporan Pendahuluan, Laporan Bulanan,
Laporan Antara, Draft Laporan Akhir, Laporan Akhir, dan Laporan Pelaksanaan
Survey Lapangan harus disusun dengan baik sesuai ketentuan dan diserahkan
kepada pengguna jasa sesuai jadwal program kerja yang disusun.

K. Dokumentasi

Setiap kegiatan yang terkait dengan pekerjaan ini harus didokumentasikan


berupa foto yang disusun dengan baik dan benar sesuai hirarki pekerjaan dan
merupakan bagian dari laporan pelaksanaan pekerjaan.

. I-6 .
Laporan Pendahuluan
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku Prov. Sultra

GAMBARAN UMUM WILAYAH STUDI

2.1. KONDISI FISIK KABUPATEN


2.1.1. Kondisi Geografis dan Administrasi
A. Kabupaten Konawe
Kabupaten Konawe dengan ibu kota Unaaha, 73 km dari Kota Kendari,
secara geografis terletak di bagian selatan Khatulistiwa, melintang dari Utara ke
Selatan antara 02⁰45’ dan 04⁰15’ Lintang Selatan, membujur dari Barat ke Timur
antara 121⁰15’ dan 123⁰30’ Bujur Timur. Kabupaten Konawe terbentang di
jazirah tenggara Pulau Sulawesi dengan luas dataran sebesar 5.798,94 kilometer
persegi (579.894 hektar). Luas daratan Kabupaten Konawe sebesar 11,65 persen
dari total luas dataran Provinsi Sulawesi Tenggara. Secara
administrasi Kabupaten Konawe memiliki batas-batas wilayah dengan wilayah yang
ada disekitarnya, batas-batas tersebut adalah sebagai berikut :

 Sebelah timur : Kota Kendari


 Sebelah barat : Kabupaten Kolaka
 Sebelah utara : Provinsi Selawesi Tenggara
 Sebelah selatan : Kabupaten Konawe Selatan

. II - 1 .
Gambaran Umum Wilayah Studi
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku Prov. Sultra

Secara administrasi wilayah Kabupaten Konawe terdiri dari


27 Kecamatan, Untuk luas wilayah masing-masing kecamatan dapat dilihat
pada Tabel 2.1.

Tabel 2.1. Luas Kecamatan di Kabupaten Konawe Tahun 2016


No Kecamatan Hektar (Ha) Luas (KM2)
1 Soropia 6173 61.73
2 Lalonggasumeeto 4078 40.78
3 Sampara 6001 60.01
4 Bondoala 13335 133.35
5 Besulutu 11126 111.26
6 Kapoiala 4542 45.42
7 Anggalomoare 0
8 Morosi 0
9 Lambuya 7839 78.39
10 Uepai 11876 118.76
11 Puriala 26878 268.78
12 Onembute 9913 99.13
13 Pondidaha 15628 156.28
14 Wonggeduku 11376 113.76
15 Amonggedo 12375 123.75
16 Wonggeduku Barat 0
17 Wawotobi 6768 67.68
18 Meluhu 20703 207.03
19 Konawe 1782 17.82
20 Unaaha 3375 33.75
21 Anggaberi 7501 75.01
22 Abuki 33884 338.84
23 Latoma 93634 936.34
24 Tongauna 22377 223.77
25 Asinua 29872 298.72
26 Padangguni 0
27 Routa 218858 2188.58
Sumber : Kabupaten Konawe Dalam Angka, 2016

. II - 2 .
Gambaran Umum Wilayah Studi
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku Prov. Sultra

. II - 3 .
Gambaran Umum Wilayah Studi
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku Prov. Sultra

B. Kabupaten Konawe Selatan


Berdasarkan letak geografis Konawe Selatan berada di bagian tenggara
Provinsi Sulawesi Tenggara. Secara astronomis Konawe Selatan terletak antara
3⁰.58.56’ dan 4⁰31.52’ lintang Selatan, dan antara 121.58’ dan 123.16’ bujur
Timur. Secara administrasi Kabupaten Konawe memiliki batas-batas wilayah
dengan wilayah yang ada disekitarnya, batas-batas tersebut adalah sebagai
berikut.
 Sebelah timur : Laut Banda Dan Laut Maluku
 Sebelah barat : Kabupaten Kolaka
 Sebelah utara : Konawe dan Kota Kendari
 Sebelah selatan : Bombana dan Muna

Secara administrasi wilayah Kabupaten Konawe Selatan terdiri dari


25 Kecamatan. Untuk luas wilayah masing-masing kecamatan dapat dilihat pada
Tabel 2.2.
Tabel 2.2. Luas Kecamatan di Kabupaten Konawe Selatan Tahun 2016
No Kecamatan Hektar (Ha) Luas (KM2)
1 Tinanggea 35474 354.74
2 Lalembuu 20480 204.80
3 Andoolo 10361 103.61
4 Buke 18561 185.61
5 Andoloo Barat 7546 75.46
6 Palangga 17783 177.83
7 Palangga Selatan 11021 110.21
8 Baito 15271 152.71
9 Lainea 21011 210.11
10 Laeya 27796 277.96
11 Kolono 34459 344.59
12 Kolono Timur 12280 122.80
13 Laonti 40663 406.63
14 Moramo 23789 237.89
15 Moramo Utara 18905 189.05
16 Konda 13284 132.84

. II - 4 .
Gambaran Umum Wilayah Studi
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku Prov. Sultra

No Kecamatan Hektar (Ha) Luas (KM2)


17 Wolasi 16028 160.28
18 Ranomeeto 9657 96.57
19 Ranomeeto Barat 7607 76.07
20 Landono 12500 125.00
21 Mowila 12741 127.41
22 Sabulakoa 6850 68.50
23 Angata 32954 329.54
24 Benua 13831 138.31
25 Basala 10568 105.68
Sumber : Kabupaten Konawe Selatan Dalam Angka, 2016

. II - 5 .
Gambaran Umum Wilayah Studi
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku Prov. Sultra

. II - 6 .
Gambaran Umum Wilayah Studi
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku Prov. Sultra

2.1.2. Kondisi Topografis


A. Kabupaten Konawe
Wilayah topografi Kabupaten Konawe memiliki permukaan tanah yang
bergunung dan berbukit yang diapit dataran rendah yang berpotensial untuk
dikembangkan, terutama sektor pertanian, sektor kelautan dan perikanan dan sektor
lainnya untuk mendukung ekonomi daerah.Ketinggian tanah di atas permukaan laut
di sebagian besar wilayah Kabupaten Konawe antara 10-400 meter. Adapun jenis
tanah Kabupaten Konawe meliputi tanah Latosol dengan luas 363,380 ha atau
23,35 persen, tanah Padzolik dengan luas 438,110 ha atau 28,15 persen, tanah
Organosol seluas 73,316 ha atau 4,71 persen, tanah Mediteran seluas 52,888 ha
atau 3,39 persen, tanah Aluvial seluas 74,708 ha atau 4,80 persen, dan tanah
Campuran seluas 553,838 ha atau 35,59 persen. Kabupaten Konawe mempunyai
beberapa sungai besar yang cukup potensial untuk pengembangan pertanian,
irigasi dan pembangkit tenaga listrik seperti sungai Konaweeha dan Sungai
Lahumbuti. Sedangkan Sungai Lapoa sekarang termaksut wilayah Kabupaten
Konawe Selatan. Sungai Lasolo; Kokapi; Toreo; Andumowu; dan sungai Molawe
menjadi bagian wilayah Kabupaten Konawe Utara. Sungai Konaweeha mempunyai
debit air ± 200 m3per detik. Dari sana telah dibangun bendungan air Wawotobi yang
mampu mengairi sawah seluas ± 18.000 hektar. Selain sungai-sungai yang
telah disebutkan di atas terdapat pula Rawa Aopa yang sangat potensial untuk
usaha perikana darat.

B. Kabupaten Konawe Selatan


Permukaan tanah di Konawe Selatan umumnya dataran yang sangat
potensial untuk pengembangan pertanian, yaitu terdapat 320 desa, selain itu
terdapat 35 desa yang merupakan lereng/punggung bukit, serta terdapat 6 desa
yang merupakan daerah aliran sungai. Berdasarkan garis ketinggian menurut hasil
penelitian wilayah Kabupaten Konawe Selatan dapat dibedakan atas 5 kelas, selain
menurut ketinggian dilakukan juga pemetaan terhadap klasifikasi kemiringan dan
jenis tanah. Jenis tanah di Kabupaten Konawe Selatan meliputi Latosol
dengan luas 105.451,71 Ha atau 23,36 persen, Podzolik seluas 127.074,73 Ha
atau 28,15 persen, Organosol seluas 21.261,88 Ha atau 4,71 persen,
Mediteran seluas 15.303,14 Ha atau 3,39 persen, Aluvial seluas 21.668,16 Ha atau
4,80 persen serta tanah Campuran seluas 160.660,38 Ha atau 35,59
. II - 7 .
Gambaran Umum Wilayah Studi
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku Prov. Sultra

persen. Sedangkan berdasarkan ketinggian tanahnya, wilayah terluas merupakan


tanah dengan tingkat kemiringan 1,8 – 13,5 derajat, yaitu seluas 147.208,06 Ha
(32,61%).

2.1.3. Kondisi Klimatologis


A. Kabupaten Konawe
Seperti daerah – daerah lain di Indonesia, Kabupaten Konawe memiliki dua
musim yaitu musim kemarau dan musim penghujan. Keadaan musim banyak
dipengaruhi oleh arus angin yang bertiup di atas wilayahnya. Pada bulan November
sampai dengan Maret, angin banyak mengandung uap air yang berasal dari Benua
Asia dan Samudera Pasifik, setelah sebelumnya melewati beberapa lautan. Pada
bulan – bulan tersebut terjadi musim penghujan. Sekitar bulan April, arus angin
selalu tidak menentukan dengan curah hujan kadang – kadang kurang dan kadang
– kadang lebih. Musim ini oleh para pelaut setempat dikenal sebagai musim
Pancaroba. Sedangkan pada bulan Mei sampai dengan Agustus, angin bertiup dari
arah timur yang berasal dari Benua Australia kurang mengandung uap air. Hal
tersebut mengakibatkan minimnya curah hujan di daerah ini. Pada
bulan Agustus sampai Oktober terjadi musim kemarau. Sebagai akibat
perubahankondisi alam yang sering tidak menentukan, keadaan musim juga sering
menyimpang dari kebiasaan. Lebih jelasnya mengenai klimatologi/curah hujan
Kabupaten Konawe dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 2.3 Hari Hujan dan Curah Hujan Per Bulan


Kabupaten Konawe 2016
No Bulan Hari Hujan (hh) Curah Hujan (mm)

1 Januari 11 162.6

2 Februari 19 323.1

3 Maret 10 79.5

4 April 9 98.6

5 Mei 14 198.6

6 Juni 14 149.4

. II - 8 .
Gambaran Umum Wilayah Studi
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku Prov. Sultra

7 Juli 8 94.6

8 Agustus 1 2.3

9 September

10 Oktober 1 0.8

11 November

12 Desember 11 164.95

Sumber : Kabupaten Konawe Dalam Angka 2016,

B. Kabupaten Konawe Selatan


Konawe Selatan memiliki dua musim, yaitu musim kemarau dan penghujan.
Musim kemarau terjadi antara Juni sampai dengan September, dimana angin timur
yang bertiup dari Australia tidak banyak mengandung uap air, sehingga
mengakibatkan musim kemarau. Sebaliknya musim hujan terjadi antara Desember
sampai dengan Maret, dimana angin barat yang bertiup dari Benua Asia dan
Samudera Pasifik banyak mengandung uap air sehingga terjadi musim hujan. Bulan
April-Mei dan Oktober-November merupakan masa peralihan atau yang lebih
dikenal sebagai musim pancaroba. Akan tetapi akhir-akhir ini akibat dari perubahan
kondisi alam yang sering tidak menentu, keadaanmusim juga sering menyimpang
dari kebiasaan. Curah hujan dipengaruhi oleh perbedaan iklim, orografi dan
perputaran arus udarasehingga menimbulkan perbedaan curah hujan setiap bulan.
Curah hujan di Kabupaten Konawe Selatan tahun 2015 mencapai 2.203,7 mm
dalam 172 Hari Hujan (hh). Lebih jelasnya mengenai klimatologi/curah hujan
Kabupaten Konawe dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 2.4 Hari Hujan dan Curah Hujan Per Bulan di


Kabupaten Konawe Selatan 2016
No Bulan Hari Hujan (hh) Curah Hujan (mm)
1 Januari 24 116.2
2 Februari 25 506
3 Maret 23 396.8
4 April 25 343.5
5 Mei 20 248.6

. II - 9 .
Gambaran Umum Wilayah Studi
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku Prov. Sultra

No Bulan Hari Hujan (hh) Curah Hujan (mm)


6 Juni 23 337
7 Juli 11 58.9
8 Agustus 7 6.3
9 September 1 TTU
10 Oktober
11 November 2 17.6
12 Desember 11 152.8
Sumber : Kabupaten Konawe Selatan Dalam Angka 2016,
Keterangan : TTU (Tidak Terukur)

2.2. KEPENDUDUKAN
A. Kabupaten Konawe
Kabupaten Konawe Penduduk berdasarkan Proyeksi tahun 2015 sebanyak
233.610 jiwa yang terdiri dari atas 119.716 jiwa penduduk laki – laki dan 113.894
jiwa pendudukperempuan. Angka pertumbuhan penduduk Kabupaten Konawe
diantara dua sensus penduduk 2000-2010 tercatat sebesar 2,14 persen per tahun.
Sementara itu besarnya angka rasio jenis kelamin tahun 2015 penduduk laki-laki
terhadap penduduk perempuan sebesar 105 atau terdapat 105 penduduk laki-laki
setiap 100 penduduk perempuan. Kepadatan penduduk di Kabupaten Konawe
tahun 2015 mencapai 40 jiwa/km2 dengan rata-rata jumlah penduduk
per rumah tangga 4 orang. Kepadatan penduduk di 27 Kecamatan cukup
beragam dengan kepadatan penduduk tertinggi terletak di Kecamatan Unaaha
dengan kepadatan sebesar 737 jiwa/km2 dan terendah di Kecamatan Routa
sebesar 1 jiwa/km2. Sementara itu jumlah rumah tangga mengalami pertumbuhan
sebesar 1,53 persen dari tahun 2014. Dari data kependudukan yang diperoleh dari
Kabupaten Konawe Dalam Angka Tahun 2016, diketahui bahwa jumlah penduduk
masing – masing Kecamatan di wilayah Konawe pada tahun 2016 adalah sebagai
berikut :

Tabel 2.5. Kepadatan Penduduk Akhir Tahun Menurut KecamatanTahun 2016


No Kecamatan Laki - laki Perempuan Jumlah
1 Soropia 4295 4207 8502

. II - 10 .
Gambaran Umum Wilayah Studi
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku Prov. Sultra

No Kecamatan Laki - laki Perempuan Jumlah


2 Lalonggasumeeto 2579 2478 5057
3 Sampara 4280 4125 8405
4 Bondoala 2217 2197 4414
5 Besulutu 3838 3574 7412
6 Kapoiala 2289 2166 4455
7 Anggalomoare 2249 2186 4435
8 Morosi 2389 2188 4577
9 Lambuya 3679 3564 7243
10 Uepai 6664 6296 12960
11 Puriala 4112 4008 8120
12 Onembute 3354 3161 6515
13 Pondidaha 5820 5625 11445
14 Wonggeduku 6746 6259 13005
15 Amonggedo 5289 4889 10178
16 Wonggeduku Barat 4468 4257 8725
17 Wawotobi 11373 10752 22125
18 Meluhu 2842 2628 5470
19 Konawe 4482 4329 8811
20 Unaaha 12326 12560 24886
21 Anggaberi 3462 3281 6743
22 Abuki 3772 3597 7369
23 Latoma 1381 1210 2591
24 Tongauna 8881 8062 16943
25 Asinua 1432 1288 2720
26 Padangguni 4361 4068 8429
27 Routa 1136 939 2075
Jumlah 119716 113894 233610
Sumber : Kabupaten Konawe Dalam Angka 2016

B. Kabupaten Konawe Selatan


Berdasarkan hasil proyeksi sensus penduduk 2010, jumlah penduduk
Kabupaten Konawe Selatan tahun 2015 adalah 295.326 jiwa. Jumlah tersebut

. II - 11 .
Gambaran Umum Wilayah Studi
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku Prov. Sultra

mengalami pertumbuhan sebesar 1,9 persen dibandingkan jumlah penduduk tahun


2014 yang berjumlah 289.815 jiwa. Persebaran penduduk paling besar terdapat di
Kecamatan Tinanggea sebesar 8,06%, yang artinya 8,06% penduduk Kabupaten
Konawe tinggal di Kecamatan Tinanggea. Sedangkan persebaran paling rendah
terdapat di Kecamatan Kolono Timur yang merupakan kecamatan pemekaran dari
Kecamatan Kolono. Kepadatan penduduk di Kabupaten Konawe Selatan adalah
sebesar 65, yang artinya dalam 1 km2 luas Kabupaten Konawe Selatan ditinggalkan
oleh 65 orang penduduk. Kepadatan penduduk terbesar ada di Kecamatan Andoolo
Barat dan yang terendah ada di Kecamatan Laonti. Rasio jenis kelamin di
Kabupaten Konawe Selatan adalah 104 artinya dalam 100 orang penduduk
perempuan terdapat 104 orang penduduk laki-laki. Dalam hal ini karena rasio jenis
kelamin diatas 100, maka jumlah penduduk laki-laki lebih banyak daripada
penduduk perempuan. Jumlah rumah tangga di Kabupaten Konawe Selatan adalah
73.454, dengan rata-rata jumlah penduduk per rumah tangga adalah 4 orang.
Kabupaten Konawe Selatan merupakan wilayah tujuan program transmigrasi.
Penempatan transmigrasi di Kabupaten Konawe Selatan terakhir kali pada tahun
2014 berjumlah 72 KK dan 296 jiwa. Pada tahun 2015 tidak ada transmigran yang
ditempatkan di Konawe Selatan. Dari data kependudukan yang diperoleh dari
Kabupaten Konawe Selatan Dalam Angka Tahun 2016, diketahui bahwa jumlah
penduduk masing – masing Kecamatan di wilayah Konawe Selatan pada tahun
2016adalah sebagai berikut :

Tabel 2.6. Kepadatan Penduduk Akhir Tahun Menurut KecamatanTahun 2016


No Kecamatan Laki - laki Perempuan jumlah
1 Tinanggea 12102 11695 23797
2 Lalembuu 8869 8547 17416
3 Andoolo 5038 4876 9914
4 Buke 4267 4030 8297
5 Andoloo Barat 7610 7162 14772
6 Palangga 6942 6773 13715
7 Palangga Selatan 3473 3379 6852
8 Baito 4329 4111 8440
9 Lainea 4983 4919 9902

. II - 12 .
Gambaran Umum Wilayah Studi
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku Prov. Sultra

No Kecamatan Laki - laki Perempuan jumlah


10 Laeya 10677 10539 21216
11 Kolono 5288 5072 10360
12 Kolono Timur 2423 2400 4823
13 Laonti 5337 5205 10542
14 Moramo 7394 7089 14483
15 Moramo Utara 4046 3962 8008
16 Konda 10228 10011 20239
17 Wolasi 2669 2611 5280
18 Ranomeeto 9214 8894 18108
19 Ranomeeto Barat 3664 3611 7275
20 Landono 3840 3707 7547
21 Mowila 2690 2565 5255
22 Sabulakoa 6572 5911 12483
23 Angata 8454 8183 16637
24 Benua 5627 5236 10863
25 Basala 4677 4425 9102
Jumlah 150413 144913 295326
Sumber : Kabupaten Konawe Selatan Dalam Angka 2016

2.3. SOSIAL
Dalam pelaksanaan pembangunan sosial, pemerintah telah mengupayakan
berbagai usaha guna terciptanya kesejahteraan masyarakat dibidang sosial yang
lebih baik. Usaha tersebut meliputi kegiatan pendidikan, kesehatan dan KB, Agama
serta sosial lainnya.

2.3.1 Fasilitas Pendidikan


A. Kabupaten Konawe
Pendidikan Kabupaten Konawe Pendidikan merupakan kebutuhan dasar
dalam kehidupan, dan faktor yang sangat dominan dalam pembentukan dan
pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) pendidikan selain begitu penting
dalam mengatasi dan mengikuti tantangan perkembangan zaman, juga
berpengaruh positif pada berbagai bidang kehidupan lainnya. Oleh karena itu
tidaklah mengherankan apabila sektor pendidikan senantiasa mendapatkan banyak
. II - 13 .
Gambaran Umum Wilayah Studi
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku Prov. Sultra

perhatian. Berikut data fasilitas pendidikan, jumlah Guru dan Murid Kabupaten
Konawe tahun 2016 :

Tabel 2.7. Jumlah Sekolah, Guru dan Murid Kabupaten Konawe 2016
Jenjang Guru/ Murid/ Murid/
No Sekolah Murid Guru
Pendidikan Sekolah Sekolah Guru
1 SD 272 33974 2639 10 125 13
2 SMP 62 11493 1114 18 185 10
3 SMA 34 10087 926 27 297 11
4 MI 16 1480 168 10 92 8
5 MTs 19 3223 363 19 170 9
6 MA 12 1534 205 17 128 7
Sumber : Kabupaten Konawe Dalam Angka 2016

Perguruan tinggi di kabupaten konawe pada tahun 2015 berjumlah 3 unit


yaitu perguruan tinggi Universitas Lakidende, Akademi Keperawatan (AKPER), dan
Akademi Kebidanan (AKBID). Pada tahun 2015, Sekolah Tinggi Kesehatan
(STIKES) Konawe seudah tidak beroperasi lagi.

B. Kabupaten Konawe Selatan


Jumlah fasilitas pendidikan di tahun 2015 sebanyak 311 sekolah SD & MI,
86 sekolah SMP & MTs, 54 Sekolah SMA , SMK dan MA. Jumlah murid SD & MI
sebanyak 41.139 siswa, murid SMP & MTs sebanyak 6.621siswa dan murid SMA,
SMK dan MA sebanyak 11.405 siswa. Untuk lebih lengkapnya berikut data fasilitas
pendidikan, jumlah Guru dan Murid Kabupaten Konawe Selatan tahun 2016 :

Tabel 2.8. Jumlah Sekolah, Guru dan Murid Kabupaten Konawe Selatan 2016
Jenjang Guru/ Murid/ Murid/
No Sekolah Murid Guru
Pendidikan Sekolah Sekolah Guru
1 TK 222 5753 671 3 25 8
2 SD 289 39879 2347 8 138 16
3 SLTP 59 4520 577 9 76 7
4 SLTA 37 9785 786 21 264 12
Sumber : Kabupaten Konawe Selatan Dalam Angka 2016

. II - 14 .
Gambaran Umum Wilayah Studi
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku Prov. Sultra

2.3.2 Fasilitas Kesehatan


A. Kabupaten Konawe
Berikut data Fasilitas Kesehatan, Kabupaten Konawe tahun 2016 :
Tabel 2.9. Fasilitas Kesehatan Kabupaten Konawe 2016
No Kecamatan Puskesmas Pustu Posyandu Polindes
1 Soropia 1 4 22 4
2 Lalonggasumeeto 1 0 13 3
3 Sampara 1 3 11 0
4 Bondoala 1 1 10 5
5 Besulutu 1 1 12 0
6 Kapoiala 1 3 19 0
7 Anggalomoare 1 3 18 5
8 Morosi 1 2 16 5
9 Lambuya 1 2 19 2
10 Uepai 1 1 12 3
11 Puriala 1 0 11 3
12 Onembute 1 4 14 6
13 Pondidaha 1 2 18 5
14 Wonggeduku 1 3 21 2
15 Amonggedo 1 1 11 4
Wonggeduku
16 Barat 1 1 15 8
17 Wawotobi 1 2 14 2
18 Meluhu 1 5 15 6
19 Konawe 1 3 15 5
20 Unaaha 1 0 9 0
21 Anggaberi 1 2 8 1
22 Abuki 1 2 16 3
23 Latoma 1 3 9 2
24 Tongauna 1 2 18 1
25 Asinua … … … …
26 Padangguni … … … …

. II - 15 .
Gambaran Umum Wilayah Studi
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku Prov. Sultra

No Kecamatan Puskesmas Pustu Posyandu Polindes


27 Routa … … … …
Jumlah 24 50 346 75
Sumber : Kabupaten Konawe Dalam Angka 2016
Keterangan : …) Data masih tergabung dengan Kecamatan Induk

B. Kabupaten Konawe Selatan


Berikut data Fasilitas Kesehatan, Kabupaten Konawe Selatan tahun 2016 :
Tabel 2.10. Fasilitas Kesehatan Kabupaten Konawe Selatan 2016
No Kecamatan Puskesmas Pustu Posyandu Poskendes Polindes
1 Tinanggea 1 28 7 0
2 Lalembuu 1 19 10 4
3 Andoolo 1 21 11 1
4 Buke 1 16 5 1
5 Andoloo Barat … … … …
6 Palangga 1 19 6 1
Palangga
7 Selatan 1 11 4 2
8 Baito 1 13 3 2
9 Lainea 1 15 6 2
10 Laeya 1 25 8 3
11 Kolono 1 21 5 1
12 Kolono Timur 1 10 7 0
13 Laonti 1 25 10 1
14 Moramo 1 25 9 1
15 Moramo Utara 1 14 5 0
16 Konda 1 23 9 1
17 Wolasi 1 12 4 1
18 Ranomeeto 1 17 0 0
Ranomeeto
19 Barat 1 11 0 2
20 Landono 1 24 7 0
21 Mowila 1 21 4 2
22 Sabulakoa … … … …

. II - 16 .
Gambaran Umum Wilayah Studi
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku Prov. Sultra

No Kecamatan Puskesmas Pustu Posyandu Poskendes Polindes


23 Angata 1 26 7 1
24 Benua 1 15 4 1
25 Basala 1 9 5 0
Jumlah 23 420 136 27
Sumber : Kabupaten Konawe Selatan Dalam Angka 2016
Keterangan : …) Data masih tergabung dengan Kecamatan Induk

2.3.3 Fasilitas Peribadatan


A. Kabupaten Konawe
Berikut data Fasilitas Peribadatan, Kabupaten Konawe tahun 2016 :
Tabel 2.11. Fasilitas Peribadatan Kabupaten Konawe 2016
Gereja Gereja
No Kecamatan Masjid Musholah Pura Vihara
Protestan Katolik
1 Soropia 18 - - - - -
2 Lalonggasumeeto 12 - - - - -
3 Sampara 13 2 - - - -
4 Bondoala 10 - - - - -
5 Besulutu 17 1 - 1 - -
6 Kapoiala 15 - - - - -
7 Anggalomoare 10 1 - - - -
8 Morosi 10 - - - - -
9 Lambuya 10 4 3 - - -
10 Uepai 23 4 2 2 - -
11 Puriala 16 6 1 - - -
12 Onembute 12 14 2 - 1 -
13 Pondidaha 20 8 6 1 2 -
14 Wonggeduku 19 - 3 1 1 1
15 Amonggedo 15 2 2 - 4 1
16 Wonggeduku Barat 13 6 1 - 13 -
17 Wawotobi 31 5 - - - -
18 Meluhu 9 18 - - - -
19 Konawe 13 - - - - -
20 Unaaha 31 16 4 1 - -
21 Anggaberi 9 - 2 - - -
22 Abuki 18 2 - - - -

. II - 17 .
Gambaran Umum Wilayah Studi
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku Prov. Sultra

Gereja Gereja
No Kecamatan Masjid Musholah Pura Vihara
Protestan Katolik
23 Latoma 15 - - - - -
24 Tongauna 20 6 2 2 14 -
25 Asinua 9 3 1 - 1 -
26 Padangguni 12 32 1 1 8 1
27 Routa 12 3 1 - - -
Jumlah 412 133 31 9 44 3
Sumber : Kabupaten Konawe Dalam Angka 2016

B. Kabupaten Konawe Selatan


Berikut data Fasilitas Peribadatan, Kabupaten Konawe Selatan tahun 2016 :
Tabel 2.12. Fasilitas Peribadatan Kabupaten Konawe Selatan 2016
No Kecamatan Mesjid Surau Gereja Pura Vihara
1 Tinanggea 32 18 3 3 1
2 Lalembuu 26 51 9 6 0
3 Andoolo 28 30 3 4 0
4 Buke 25 43 7 6 0
5 Andoloo Barat … … … … …
6 Palangga 20 16 1 1 0
7 Palangga Selatan 12 5 1 0 0
8 Baito 10 22 1 0 0
9 Lainea 16 8 0 0 0
10 Laeya 28 15 2 1 0
11 Kolono 30 2 0 0 0
12 Kolono Timur … … … … …
13 Laonti 24 0 0 0 0
14 Moramo 32 6 3 4 2
15 Moramo Utara 12 4 0 0 0
16 Konda 23 36 5 0 0
17 Wolasi 13 2 0 0 0
18 Ranomeeto 24 19 5 0 0
19 Ranomeeto Barat 8 6 0 4 0
20 Landono 22 6 3 9 0
21 Mowila 19 11 1 15 0

. II - 18 .
Gambaran Umum Wilayah Studi
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku Prov. Sultra

No Kecamatan Mesjid Surau Gereja Pura Vihara


22 Sabulakoa … … … … …
23 Angata 28 7 4 4 0
24 Benua 12 14 0 2 0
25 Basala 15 14 0 0 0
Jumlah 459 335 48 59 3
Sumber : Kabupaten Konawe Selatan Dalam Angka 2016
Keterangan : …) Data masih tergabung dengan Kecamatan Induk

2.3.4 Pemakaian Air


A. Kabupaten Konawe
berikut data pemakaian air rumah tangga menurut sember air minum,
Kabupaten Konawe tahun 2015 :
Tabel 2.13. Sumber Air Minum Kabupaten Konawe 2015
No Sumber Air 2015
1 Air Kemasan 1.38
2 Ledeng 6.05
3 Pompa 15.74
4 Sumur Terlindung / Tak Terlindung 61.00
5 Mata Air Terlindung / Tak Terlindung 10.74
6 Air Hujan 5.09
7 Lainnya 0.00
Jumlah 100
Sumber : Kabupaten Konawe Dalam Angka 2016

B. Kabupaten Konawe Selatan


berikut data pemakaian air rumah tangga menurut sember air minum,
Kabupaten Konawe Selatan tahun 2015 :
Tabel 2.14. Sumber Air Minum Kabupaten Konawe Selatan 2015
No Sumber Air 2015
1 Air Kemasan 14.81
2 Ledeng 3.19
3 Pompa 7.42
4 Sumur Terlindung 50.95

. II - 19 .
Gambaran Umum Wilayah Studi
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku Prov. Sultra

5 Sumur Tak Terlindung 11.33


6 Mata Air Terlindung 6.83
7 Mata Air Tak Terlindung 1.60
8 Air Sungai + Air Hujan 3.86
9 Lainnya 0.00
Jumlah 96.13
Sumber : Kabupaten Konawe Selatan Dalam Angka 2016

2.4. PERTANIAN
Tujuan pembangunan sektor pertanian dalam arti luas yaitu untuk
meningkatkan produksi, pendapatan dan kesejahteraan masyarakat khususnya
petani di pedesaan dan juga untuk memperluas kesempatan kerja.
2.4.1. Lahan Pertanian
A. Kabupaten Konawe
Penggunaan lahan di Kabupaten Konawe dibedakan menjadi : Lahan sawa,
lahan untuk bangunan dan halaman sekitarnya, tegal/kebun/ladang/huma, padang
rumput tambak/kolam/empang, lahan untuk tanaman kayu-kayu rakyat, hutan
negara, perkebunan, lahan yang sementara tidak diusahakan rawa yang tidak
ditanami dan lain sebagainya. Selama ini produksi tanaman bahan makanan yang
diusahakan oleh penduduk Kabupaten Konawe digunakan untuk mencukupi kebutuhan
masyarakat akan bahan makanan, selain itu Badan Urusan Logistik (BULOG)
Provinsi Sulawesi Tenggara setiap saat juga berusaha mengadakan beberapa jenis
bahan makanan pokok yang meliputi beras, gula pasir dan tepung terigu. Berikut
data luas lahan pertanian dirinci menurut penggunaannya Kabupaten Konawe tahun
2015 :

Tabel 2.15. Luas Lahan Pertanian Menurut penggunaannya


Kabupaten Konawe 2015
No Kecamatan Luas (hektar)
1 Tanah Sawa 37938
Pekarangan/tanah untuk bangunan dan halaman
2 sekitarnya
3 Tegal/kebun 13627

. II - 20 .
Gambaran Umum Wilayah Studi
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku Prov. Sultra

4 Ladang/huma 17601
5 Padang/rumput 15515
6 Rawa yang tidak ditanami 39964
7 Tambak, kolam, tebat, empang
8 Lahan yang sementara tidak diusahakan 51814
9 Lahan tanaman kayu-kayuan hutan rakyat 22450
10 Hutan negara 339251
11 Perkebunan 41734
12 Lainnya
Jumlah 579894
Sumber : Kabupaten Konawe Dalam Angka 2016

B. Kabupaten Konawe Selatan


Penggunaan lahan yang paling luas di Kabupaten Konawe Selatan adalah
untuk pekarangan/tanah untuk bangunan, dan halaman sekitar, yaitu seluas
115.581 Ha. Sedangkan penggunaan lahan yang paling sedikit adalah berupa
padang rumput seluas 8.608 Ha. Sebagai salah satu penghasil padi di Provinsi
Sulawesi Tenggara, luas sawah yang ada di Kabupaten Konawe Selatan adalah 23.
851 Ha. Berikut data luas lahan pertanian dirinci menurut penggunaannya,
Kabupaten Konawe selatan tahun 2015 :
Tabel 2.16. Luas Lahan Pertanian Menurut penggunaannya
Kabupaten Konawe Selatan 2015
No Kecamatan Luas (hektar)
1 Tanah Sawa 23851
Pekarangan/tanah untuk bangunan dan halaman
2 sekitarnya 115581
3 Tegal/kebun 36848
4 Ladang/huma 25825
5 Padang/rumput 8608
6 Lahan yang sementara tidak diusahakan 14794
7 Lahan tanaman kayu-kayuan hutan rakyat 25633
8 Perkebunan 84463
9 Tambak, kolam, empang, hutan negara, dll 113817
Jumlah 449420
Sumber : Kabupaten Konawe Selatan Dalam Angka 2016

. II - 21 .
Gambaran Umum Wilayah Studi
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku Prov. Sultra

2.4.2. Lahan Kehutanan


A. Kabupaten Konawe
Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 465/Menhut-11/2011,
kawasan hutan di Kabupaten Konawe Selatan terdiri dari kawasan hutan lindung,
hutan produksi biasa, hutan produksi terbatas, hutan kawasan perairan. Berikut
data luas lahan kehutanan dirinci menurut penggunaannya, Kabupaten Konawe
tahun 2015 :

Tabel 2.17. Luas Lahan kehutanan Menurut penggunaannya


Kabupaten Konawe 2015
No Jenis Hutan luas (hektar)
1 Kawasan suaka dan Pelestarian Alam 17115
2 Hutan Lindung 236190
3 Hutan Produksi Terbatas 107463
4 HutanProduksi Biasa 52041
5 Hutan Produksi Yang dapat dikonversi 24913
6 kawasan budidaya non kehutanan 173323
Jumlah 611045
Sumber : Kabupaten Konawe Dalam Angka 2016

B. Kabupaten Konawe Selatan


Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 465/Menhut-11/2011,
kawasan hutan di Kabupaten Konawe Selatan terdiri dari kawasan hutan lindung,
hutan produksi biasa, hutan produksi terbatas, hutan kawasan perairan. Kawasan
hutan yang terluas di Kabupaten Konawe Selatan adalah area penggunaan lain,
yaitu seluas 260.857 hektar. Berikut data luas lahan kehutanan dirinci menurut
penggunaannya, Kabupaten Konawe Selatan tahun 2015 :

Tabel 2.18. Luas Lahan kehutanan Menurut penggunaannya


Kabupaten Konawe Selatan 2015
No Jenis Hutan luas (hektar)
1 HutanProduksi Biasa 65017
2 Hutan Produksi Terbatas 3707
3 Hutan Lindung 44251

. II - 22 .
Gambaran Umum Wilayah Studi
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku Prov. Sultra

No Jenis Hutan luas (hektar)


4 Hutan Wisata 77587
5 Area Penggunaan lain 260857
6 Hutan Kawasan Perairan 9101
Jumlah 460520
Sumber : Kabupaten Konawe Selatan Dalam Angka 2016

2.5. KEUANGAN DAERAH


Dalam perencanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD),
pemerintah menganut prinsip anggaran berimbang dan dinamis. Berimbang berarti
keseimbangan antara penerimaan dan pengeluaran, sedangkan dinamis berarti
semakin meningkatkan jumlah anggaran dan tabungan pemerintah maka
kemampuan daerah semakin bertambah dan ketergantungan dari pihak lain akan
berkurang.

2.5.1 Pendapatan dan Pengeluaran Daerah


A. Kabupaten Konawe
Anggaran pendapatan daerah pemerintah Kabupaten Konawe pada tahun
2015 sebesar 1,13 triliun (meningkat 11,68 persen) dibandingkan dengan tahun
2014. Sementara anggaran belanja tercatat 1,11 triliun pada tahun 2015.
Dari sejumlah realisasi penerimaan daerah, sebanyak 56,51 persen
bersumber dari Dana Alokasi Umum (DAU), sebesar 12,08 persen berasal dari
Dana Alokasi Khusus (DAK), sebesar 10,05 persen berasal dari Dana Penyesuaian
dan sisanya bersumber dari Pajak Daerah, Retribusi Daerah, Hasil Pengelolaan
Kekayaan Daerah, Bagi Hasil Pajak, Bagi Hasil Bukan Pajak, PAD lain – lain. Setiap
tahunnya pemerintah daerah melakukan belanja pengeluaran. Realisasi
pengeluaran daerah Kabupaten Konawe pada tahun 2015 sebesar 1,11 riliun.
Secara rinci, pengeluaran tersebut didonasi oleh belanja pegawai (45,99 persen)
dan Belanja barang (26,69 persen). Sementara itu pengeluaran lainnya meliputi
belanja bunga, belanja hibah, belanja bantuan sosial, belanja tidak terduga, belanja
tanah, belanja peralatan dan mesin, belanja bangunan dan gedung, belanja jalan,
irigasi dan jaringan, dan belanja asset tetap lainnya. Berikut data Realisasi
Pendapatan Daerah Kabupaten Konawe tahun 2015 :

. II - 23 .
Gambaran Umum Wilayah Studi
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku Prov. Sultra

Tabel 2.19. Realisasi Pendapatan Daerah Kabupaten Konawe 2015


No Uraian Nilai (Rp)
1 Sisa Lebih Perhitungan anggaran tahun lalu
Pendapatan Asli
2 Pajak Daerah 13.060.335,665
3 Retribusi Daerah 14.519.330,269
4 Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah 3.933.768,921
5 Lain-lain Pendapatan Asli Daerah 28.577.476,807
Transfer Pemerintah Pusat - Dana Perimbangan
6 Bagi Hasil Pajak 10.566.127,100
7 Bagi Hasil Bukan Pajak 17.695.153,398
8 Dana Alokasi Umum 639.180.850,000
9 Dana Alokasi Khusus 136.596.900,000
Transfer Pemerintah Pusat - Lainnya
10 dana penyesuaian 113.739.739,000
Transfer Pemeritah Provinsi
11 Pendapatan Bagi Hasil Pajak 16.788.501,627
Lain-lain Pendapatan Yang Sah
12 Pendapatan Hibah 66.393.317,000
13 Pendapatan Lainnya 70.141.201,517
Jumlah 1.131.192.701,304
Sumber : Kabupaten Konawe Dalam Angka 2016

B. Kabupaten Konawe Selatan


Anggaran pendapatan daerah pada tahun 2015 sebesar 1.055.373,29 juta
rupiah atau meningkat sebesar 21,93 persen dibandingkan dengan tahun 2014.
Demikian halnya dengan anggaran belanja juga mengalami peningkatan dari
920.167,18 juta rupiah menjadi 1.002.732,92 juta rupiah. Realisasi penerimaan
Pajak Bumi dan penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan Tahun 2015 meningkat
18,07 persen atau dari Rp. 17.031.200.000,- menjadi Rp. 20.108.700.000,-. Jumlah
kantor bank yang ada di Kabupaten Konawe Selatan tahun 2015 adalah 13 unit,
yang terdiri dari 3 unit BRI, 5 unit BPD, 2 unit Bank Mandiri, 1 unti Bank Arta Graha,

. II - 24 .
Gambaran Umum Wilayah Studi
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku Prov. Sultra

1 unit Bank Haralata, dan 1 unit Bank Bahtera Mas. Berikut data Realisasi
Pendapatan Daerah Kabupaten Konawe Selatan tahun 2015 :

Tabel 2.19. Realisasi Pendapatan Daerah Kabupaten Konawe Selatan 2015


No Uraian Nilai (Rp)
1 Pendapatan Asli Daerah
1. Pendapatan Pajak Daerah 8.032.929,564
2. Hasil Retribusi daerah 2.277.440,822
3. Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah 4.108.467,700
4. Lain-lain PAD yang sah 29.431.619,925
2 Dana Perimbangan
1. Bagi Hasil Pajak / Bukan Pajak 51.918.623,652
2. Dana Alokasi Umum (DAU) 598.467.031,000
3. Dana Alokasi Khusus (DAK) 161.251.340,000
3 Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah
1. Pendapatan Hibah 10.000.000,000
2. Dana Darurat 0,000
3. Dana Bagi Hasil Pajak Dari Provinsi Dan Pemerintah
Daerah Lainnya 15.990.991,049
4. Dana Penyesuaian dan Otonomi Khusus 177.997.135,000
5. Bantuan Keuangan Dari Provinsi atau Pemerintah
Daerah Lainnya 0,000
6. Pendapatan Lainnya 5.605.000,000
Jumlah 1.065.080.578,712
Sumber : Kabupaten Konawe Selatan Dalam Angka 2016

. II - 25 .
Gambaran Umum Wilayah Studi
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku Prov. Sultra

METODOLOGI
3.1. Potensi dan Ketersediaan Air Baku
Suplai air baku (raw water) di dunia hampir seluruhnya berasal dari
presipitasi yang merupakan akibat dari evaporasi air laut. Proses ini menyangkut
transfer uap air dari laut ke darat dan kemudian kembali lagi ke laut, yang dikenal
sebagai siklus hidrologi. Air mengikuti siklus hidrologi secara alamiah (tanpa campur
tangan manusia) merupakan suatu sumber daya terbarukan (renewable resource).
Siklus hidrologi pada dasarnya merupakan suatu proses yang menerus (continuous)
yang dapat dianggap sebagai suatu sistem. Komponen-komponen daripada sistem
itu adalah presipitasi, evaporasi, runoff, dan lain-lain. Sistem hidrologi global dapat
dibagi menjadi 3 subsistem, yaitu Sistem air atmosfir, Sistem air permukaan, dan
Sistem air bawah permukaan. Sistem air atmosfir mencakup proses-proses
presipitasi (hujan dan salju), evaporasi, intersepsi, dan transpirasi. Sistem air
permukaan mencakup proses-proses overland flow, surface runoff, outflow dari
subsurface dan groundwater, dan runoff ke sungai dan ke laut. Sistem air bawah
permukaan mencakup proses-proses infiltrasi, groundwater recharge, subsurface
flow, dan groundwater flow.

3.1.1. Air Permukaan


Dengan mencermati sistem hidrologi, sumber air baku yang dapat dikelola oleh
manusia adalah berupa surface runoff (aliran sungai) dan groundwater flow (sumur
dan mata air). Untuk mengetahui berapa besarnya ketersediaan air dari sumber-
sumber tersebut, maka perlu dilakukan suatu studi dan inventarisasi di wilayah yang
bersangkutan baik mengenai kuantitas, kualitas, dan lokasinya. Air hujan pada
umumnya hanya berkontribusi untuk mengurangi kebutuhan air irigasi yaitu dalam
bentuk hujan efektif, meskipun pada beberapa daerah air hujan yang ditampung
dengan baik juga menjadi sumber air yang cukup berarti untuk keperluan rumah
tangga. Sumber air yang berpotensi besar untuk dimanfaatkan adalah sumber air

. III - 1 .
Laporan Pendahuluan
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku Prov. Sultra

permukaan dalam bentuk air di sungai, saluran, danau dan lainnya. Pengambilan air
permukaan yang tersedia di sepanjang sungai dalam prakteknya hanya dapat
dilakukan pada tempat-tempat tertentu yang memungkinkan dibuat bendung atau
free intake.

3.1.2.
3.1.3.
3.1.4.
3.1.5.
3.1.6.
3.1.7.

Gambar 3. 1 Tipikal Sumber Air Baku Melalui Pengambilan Bebas (Free Intake)

Tipe/ model intake yang lain adalah infiltrasi galeri yaitu bangunan yang
dibuat/ dibangun di dekat sungai perennial atau kolam air untuk mengumpulkan air
permukaan dengan cara meresapkan (infiltrasi) atau melalui pipa perporasi
sehingga dapat diambil untuk keperluan kebutuhan air minum. Dengan cara ini, air
meresap melalui lapisan tanah/pasir, secara otomatis air tersebut akan tersaring
sehingga bebas dari kotoran tersuspensi (suspended) termasuk mikroorganisme
yang biasanya terdapat di permukaan air. Dalam infiltrasi galeri air permukaan
merupakan sumber utama dan harus bebas dari zat arsen (arsenic). Jika tanah
merupakan tanah yang kedap air, pasir bergradasi baik dapat ditempatkan di antara
galeri dan sumber air permukaan untuk mempercepat aliran air seperti ditunjukkan
dalam gambar berikut ini.

. III - 2 .
Laporan Pendahuluan
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku Prov. Sultra

Gambar 3. 2 Tipikal Infiltrasi Galeri di Samping Sumber Air Permukaan

3.1.2. Mata Air


Penggunaan air tanah sangat membantu pemenuhan kebutuhan air baku
maupun air irigasi pada daerah yang sulit mendapatkan air permukaan harus dijaga
agar pengambilannya tetap berada di bawah debit aman (safe yield). Disamping
kedua sumber air tersebut terdapat mata air, berupa sumber air bawah tanah yang
muncul di permukaan. Secara umum mata air dapat dikelompokkan kedalam 4
(empat) jenis, yaitu (1) gravity spring, (2) surface spring, (3) artesian spring dan (4)
spring from solution channel

a. Gravity Spring

b. Surface Spring

. III - 3 .
Laporan Pendahuluan
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku Prov. Sultra

c. Artesian Spring

d. Spring from solution channel

rock

Gambar 3. 3 Beberapa Tipe Mata Air


Mata air dikatakan sebagai gravity spring apabila muka air tanah berada pada
elevasi yang relatif tinggi dan mengalir ke luar daerah yang lebih rendah (Gambar
a). Surface spring terjadi akibat adanya lapisan kedap air yang mengakibatkan
adanya tampungan air dan mengalir keluar (Gambar b). Sedangkan artesian spring
terjadi akibat adanya tekanan akuifer tertekan (confined aquifer) yang
mengakibatkan air keluar menuju permukaan tanah (Gambar c). Spring from
solution channel merupakan mata air yang dari aliran air dalam batuan atau gua
(Gambar d).
Mata air dapat dimanfaatkan dengan berbagai alternatif, yang paling sederhana
adalah dengan membutuhkan beberapa perlengkapan untuk akses dan
perlindungan sumber dari polusi. Berikutnya dapat dipasang sistem pengumpul
(collector system) dan jaringan pipa yang dapat mengalirkan air secara gravitasi
menuju bak pengumpul dan titik-titik distribusi. Pengembangan mata air apabila
dilakukan secara tidak benar akan mengakibatkan mata air tersebut mati atau
berpindah lokasinya. Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengembangkan
mata air adalah dengan (1) peningkatan debit mata air dengan membuat bangku
(bench), dan (2) memperdalam penampung dengan penggalian. Pada tebing
dengan batuan yang keras, peningkatan debit mata air dapat dilakukan dengan

. III - 4 .
Laporan Pendahuluan
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku Prov. Sultra

penggalian lubang horisontal. Beberapa tipe pengembangan mata air dapat dilihat
pada Gambar berikut.

Gambar 3. 4 Tipikal Penangkapan dan Pengembangan Mata Air

3.1.3. Air Tanah


Air bawah tanah merupakan salah satu sumber air baku untuk memenuhi
kebutuhan rumah tangga. Kuantitas dan kualitas air bawah tanah tergantung pada
wadah dan isi air tanah tersebut, berupa lapisan tanah (batuan) yang disebut
sebagai akuifer. Isi dari akuifer berupa air yang banyak sedikitnya tergantung pada
sifat-sifat hidrolika dan besarnya imbuhan. Kedua hal tersebut dikendalikan oleh
kondisi hidrogeologi, morfologi dan hidraulikanya yang menjadikan kesatuan
wilayah air bawah tanah atau yang dikenal sebagai cekungan air bawah tanah.
Pemanfaatan air bawah tanah dapat dilakukan dengan membuat sumur gali, sumur
pantek ataupun sumur bor. Sumur gali dan sumur pantek bagi kebutuhan yang kecil
sampai sedang. Kebutuhan yang relatif besar baik untuk air baku, irigasi, industri,
jasa dilakukan dengan sumur bor. Gambar berikut memperlihatkan beberapa bentuk
tipikal konstruksi sumur dangkal.
. III - 5 .
Laporan Pendahuluan
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku Prov. Sultra

Prinsip dasar pemanfaatan air bawah tanah pada umumnya dapat dilakukan
dengan 3 (tiga) cara, yaitu :
1. Mining yield (serahan pertambangan), yaitu besarnya eksploitasi air
bawah tanah hanya disesuaikan dengan banyaknya kebutuhan tanpa
memperhatikan laju pembentukan (imbuhan) airnya.
2. Perennial yield (serahan menahun) yaitu besarnya eksploitasi air
bawah tanah pada periode tertentu (tahunan) lebih kecil dibandingkan dengan
banyaknya imbuhan air. Di sini sebenarnya belum memperhitungkan jumlah
keluaran air alami misalnya air bawah tanah yang keluar pada tebing/ dasar sungai
sebagai aliran dasar, sehingga pada suatu ketika akan terjadi dampak lingkungan
walaupun tidak secepat cara mining yield.
3. Sustained yield (serahan berkelanjutan), yaitu besarnya eksploitasi
air bawah tanah dengan memperhitungkan laju pembentukan (imbuhan) air maupun
laju keluaran air alami sehingga pemanfaatannya dapat berkelanjutan.

3.2. Permasalahan Umum Air Baku

Permasalahan yang muncul dalam penyediaan air baku tidak dapat


dilepaskan dari sumber daya manusia yang ada, kelembagaan, dan infrastruktur
penunjang. Adapun permasalahan yang terkait dengan penyediaan air baku
diantaranya:
1. Kerusakan catchment area, terutama untuk tiap wilayah sungai,
akibat dari perubahan tata guna lahan,
2. Penurunan kinerja infrastruktur,
3. Eksploitasi air tanah berlebihan,
4. Rendahnya kualitas air permukaan dan air tanah,
5. Kesenjangan antara kebutuhan & ketersediaan DMI,
6. Kekeringan, defisit air di musim kemarau,
7. Lemahnya koordinasi, dan
8. Meningkatnya potensi konflik.

. III - 6 .
Laporan Pendahuluan
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku Prov. Sultra

3.3. Metodologi Pekerjaan

Metodologi Pelaksanaan Pekerjaan Audit Teknis dan Penyusunan AKNOP


Penyediaan Air Baku akan disusun dengan mengacu pada lingkup pekerjaan yang
tertuang pada Kerangka Acuan Kerja (KAK) dan didasarkan pada pengalaman
melaksanakan studi sejenis.

Start

 Persiapan Administrasi, Personil & Peralatan


 Pengumpulan dan Pengkajian Data Awal

Penyusunan Konsep

Tidak
Diskusi
Final Laporan RMK Ya Inventarisasi data:

 Studi Terdahulu
 Penyusunan Program Kerja
 Peraturan perundangan yang terkait
 Survai Lapangan Pendahuluan  Survey Harga Satuan material di Lokasi
Pekerjaan
 Data Wilayah Pemerintahan,Penduduk,
Kegiatan Ekonomi dll.
Penyusunan Konsep  Inventarisasi Permasalahan.
Laporan Pendahuluan

Tidak
Diskusi/Presenta

Ya Final Laporan
Survai Dan Penyelidikan Pendahuluan

. III - 7 .
Laporan Pendahuluan
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku Prov. Sultra

Analisis Data / Audit Teknis

Diskusi

Penilaian Kinerja Sarana Analisa Dan Tindak


Analisis Kondisi
Eksisting Lanjut
dan Sarana Air Baku

Penyusunan AKNOP

Tidak

Diskusi/Present

Ya

Rekomendasi OP Air Baku

Diskusi/Present

Selesai

Gambar 3. 5 Bagan Alir Metodologi

3.3.1. Kegiatan Persiapan


Kegiatan persiapan merupakan tahapan awal dalam pekerjaan ini dimulai
setelah diterimanya Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK). Dalam tahapan ini
dilakukan persiapan pekerjaan baik yang menyangkut persiapan
administratif maupun persiapan teknis. Dalam persiapan teknis tercakup
kegiatan penyusunan Usulan Teknis/Laporan Pendahuluan, pembentukan
organisasi pelaksanaan dan mobilisasi tenaga ahli yang akan dilibatkan
dalam keseluruhan pekerjaan.

. III - 8 .
Laporan Pendahuluan
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku Prov. Sultra

3.3.2. Pengurusan Administrasi


Pelaksanaan pengurusan administrasi dimaksudkan untuk memudahkan
kelancaran pekerjaan, terutama berkaitan dengan pengumpulan data dan
pekerjaan di lapangan Kegiatan ini meliputi pengurusan Surat pengantar
untuk pelaksanaan pekerjaan survey lapangan dan mendapatkan data-data
yang berhubungan dengan pekerjaan ini pada instansi yang terkait.

3.3.3. Survey Pendahuluan (Peninjauan Lapangan)


Konsultan bersama-sama dengan Direksi Pekerjaan melakukan peninjauan
dan penelusuran lapangan. Secara umum kegiatan ini akan memberikan
gambaran awal tentang kondisi lokasi pekerjaan dan permasalahannya.
Dengan adanya orientasi lapangan pendahuluan diharapkan dapat diperoleh
bahan untuk penyusunan rencana pelaksanaan pekerjaan lapangan.

3.3.4. Pengumpulan Data Sekunder


Data sekunder yang dibutuhkan dalam mendukung Pekerjaan Kinerja dan
AKNOP Air Baku meliputi:
o Peta Jaringan Air Baku
o Studi terdahulu (perencanaan desain, as built drawing, riwayat perbaikan
dan riwayat operasi yang pernah dilakukan)
o data banjir,
o data muka air maksimal,
o penggunaan lahan eksisting (Land Use)
o Dan lain-lain.

3.3.5. Persiapan Survey


o Program kerja (jadwal kerja dan personil).
o Pembuatan peta kerja untuk survey lapangan
o Pemeriksaan alat-alat survey
o Menyiapkan perlengkapan survey.
o Dan lain-lain.

. III - 9 .
Laporan Pendahuluan
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku Prov. Sultra

3.3.6. Penyusunan Laporan Pendahuluan Dan Diskusi


Berdasarkan data-data pendahuluan tersebut dapat diidentifikasi
karakteristik daerah yang bersangkutan. Hasil kunjungan lapangan dan
kajian data-data pendahuluan dapat dijadikan sebagai masukan dalam
penyusunan Laporan Pendahuluan.
Laporan pendahuluan merupakan bentuk laporan tahap awal, yang akan
menjelaskan kesiapan pihak konsultan dalam pelaksanaan pekerjaan secara
keseluruhan, yang dituangkan dalam bentuk metodologi dan rencana kerja.
Setelah Laporan Pendahuluan selesai disusun, dilakukan Diskusi Laporan
Pendahuluan dengan mengundang instansi yang terkait untuk memperoleh
masukan untuk menyamakan persepsi tentang maksud, tujuan dan sasaran
pakerjaan dan untuk melengkapi Laporan Pendahuluan dan Rencana Kerja
yang disusun.

3.3.7. Survey Hidrologi, Hidrometri, dan Kualitas Air


Pekerjaan ini dimaksud guna memperoleh data lapangan (primer dan
sekunder) dari kondisi hidrologi daerah survey, melalui kegiatan-kegiatan :
o Pengumpulan data curah hujan (terbaru) minimum selama 10 tahun dari
stasiun terdekat.
o Pengumpulan data klimatologi lainnya. (terbaru) minimum selama 5
tahun dan stasiun terdekat.
o Pengukuran tinggi/fluktuasi muka air, kecepatan arus pada titik-titik
pengukuran yang disesuaikan dengan rencana skematisasi dari model
matematik.
o Pengukuran penampang melintang sungai pada lokasi pengukuran muka
air.
o Pengamatan karakteristik sungai.
o Pengukuran sifat datar (leveling) untuk mengikat papan duga/peilschaal
terhadap BM terdekat.
Hidrometri yang diperlukan di lokasi lokasi alternatif sumber air baku dibagi
dalam 2 kelompok, yaitu daerah yang terkena rambatan pasang surut dan
daerah yang tidak terkena rambatan pasang surut.

. III - 10 .
Laporan Pendahuluan
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku Prov. Sultra

Untuk Daerah yang terkena rambatan Pasang Surut dimana daerah ini
dibagi menjadi yang terpengaruhi interusi air asin dan yang tidak
dipengaruhi inretusi air asin. parameter yang diukur seperti : Gerak muka air
vertikal 1 jam selama 15 hari, gerak muka air horisontal, Debit, salinitas, dan
kualitas air.
Sedangkan untuk daerah yang tidak dipengaruhi pasang surut, lingkup
penelitian lapangan hidrometri untuk daerah yang tidak terkena pasang surut
adalah :
1. Pengukuran muka air musim hujan dan musim kemarau dengan
menggunakan rambu ukur yang terikat dengan topografi
2. Pengukuran sesaat kecepatan air, minimum 3 (tiga) kali pengukuran
3. Pengambilan contoh air baku dan dianalisa pada laboratorium yang telah
diakreditasi dari instansi berwenang
4. Pengambilan contoh sedimen dasar dan sedimen melayang
5. Pengukuran profil melintang tempat pengukuran muka iar dan
kecepatan
6. Pengukuran derajat keasaman air (pH)
Pada Lokasi Pengambilan air dari danau atau saluran irigasi
1. Pengukuran duga air di danau atau sejenisnya yang mempunyai sifat
penggenangan air alami atau rekayasa manusia
2. Pengukuran dimensi tempat outlet danau tersebut
Sedangkan survei hidrometri dilakukan dengan cara sebagai berikut:
A. Penelusuran Saluran
Penulusuran dilakukan dengan menelusuri saluran atau sungai yang ada
dan kemudian dilakukan pengukuran hidrometri. Penelusuran dihentikan
pada cabang saluran/sungai.

B. Penentuan Lokasi Pengukuran Kecepatan


Lokasi pengukuran kecepatan harus bebas dari “olakan air”, arus yang
tidak teratur (tidak simetris),erosi pada sisi saluran, interupsi dari inlet
atau out-let anak saluran, atau adanya pengendapan didasarnya.

. III - 11 .
Laporan Pendahuluan
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku Prov. Sultra

Gambar 3. 6 Rambu-rambu Lokasi Pengukuran Kecepatan

C. Pengukuran Kecepatan Aliran


Sebelum mulai mengukur aliran sungai terlebih dahulu harus dipilih
lokasi sekitar pos duga yang memenuhi syarat sebagai berikut:
a. Palung saluran harus sedapat mungkin lurus dengan arah arus
kecepatan sejajar satu dengan yang lain.
b. Dasar saluran sedapat mungkin tidak berubah-ubah, bebas dari batu
besar, tumbuhan air dan bangunan air yang menyebabkan jalur
kecepatan tidak sejajar satu dengan yang lainnya.
c. Dasar penampang saluran sedapat mungkin rata supaya pada waktu
menghitung penampang basah hasilnya mendekati sebenarnya.
Tahap Kegiatan Pengukuran :
o Mengukur pada kedalaman garis vertikal yang akan diukur
kecepatannya kemudian menentukan titik kedalaman pengukuran.
o Mengukur jarak dari tepi permukaan sungai ke setiap garis
pengukuran vertikal.

. III - 12 .
Laporan Pendahuluan
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku Prov. Sultra

o Mencatat jumlah putaran yang terjadi pada setiap titik pengukuran.


o Menghitung kecepatan daripada setiap titik pengukuran berdasarkan
jumlah putaran yang diperoleh dan selanjutnya merata-ratakan.
o Menghitung luas bagian penampang melintang untuk setiap jalur.
o Menghitung besar aliran untuk setiap bagian jalur penampang
melintang dengan menggunakan rumus Q = A . V.
o Kegiatan ini terus berulang untuk setiap jalur garis vertikal pada
seluruh penampang melintang.
o Besar aliran untuk seluruh penampang basah adalah jumlah
kumulatif seluruh besar aliran bagian dari seluruh vertikal. Kecepatan
rata-rata aliran penampang basah diperoleh dengan membagi besar
aliran seluruh penampang dengan luas seluruh penampang
melintang.
Dalam pengukuran kecepatan ini dilakukan dengan current meter tipe
baling-baling.

Gambar 3.7 Current Meter Tipe Baling-baling

Arus memutar baling-baling, banyak putaran dicatat pada kounter, waktu


dicatat pada stopwacth:
V = a + b.N
Dimana :
N = banyak putaran persatuan waktu
a, b = konstanta tgt jenis alat

. III - 13 .
Laporan Pendahuluan
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku Prov. Sultra

D. Pengukuran Fluktuasi Muka Air


Pengukuran ini bertujuan untuk mengetahui fluktuasi muka air di sungai
atau saluran, baik alam maupun buatan yang mempengaruhi sistem
drainase yang akan direncanakan. Untuk mendapatkan elevasi muka air
dengan bidang referensi yang sama pada seluruh lokasi kerja, maka
peilschaal yang digunakan akan diikatkan terhadap Bench Mark yang
telah dipasang pada pelaksanaan survei topografi.
Karena fluktuasi muka air pada daerah rawa sangat dipengaruhi oleh
pasang surut air laut, maka pengukuran dilakukan minimum selama 15
hari penuh, dengan interval pengamatan setiap 1 jam.
Pengamatan fluktuasi muka air dilaksanakan menggunakan peilschaal
dengan interval skala 1 (satu) cm. Hasil pengamatan pada papan
peilschaal dicatat pada formulir pencatatan elevasi air pasang surut
yang telah disediakan. Kemudian diikatkan (levelling) ke patok
pengukuran topografi terdekat pada salah satu patok seperti Gambar 3 -
4, untuk mengetahui elevasi nol peilschaal dengan menggunakan Zeiss
Ni-2 Waterpass. Sehingga pengukuran topografi, Batimetri, dan pasang
surut mempunyai datum (bidang referensi) yang sama.
Elevasi Nol Peilschaal = T.P + BT.1 – BT.2
Dimana:
T.P = Tinggi titik patok terdekat dengan peilschaal
BT.1 = Bacaan benang tengah di patok
BT.1 = Bacaan benang tengah di peilschaal

Gambar 3.8 Pengamatan Dan Pengikatan Level Pasang Surut Terhadap Level
Topografi
. III - 14 .
Laporan Pendahuluan
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku Prov. Sultra

3.4. Analisa Data


3.4.1. Operasi Pemeliharaan Air Baku

Prosedur Operasi dan Pemeliharaan Air Baku dimaksudkan sebagai


pedoman bagi pengelola air baku dalam melaksanakan kegiatan operasi dan
pemeliharaan air baku.
Sedangkan tujuannya adalah agar para pengelola air baku mampu
melaksanakan operasi dan pemeliharaan air baku secara efektif, efisien, dan
berkelanjutan sehingga air dapat dimanfaatkan secara optimal serta dapat
meningkatkan kinerja air baku.
Guna keseragaman pola pikir dalam pedoman ini, maka perlu kesamaan
persepsi tentang pengertian sebagai berikut :
a. Air adalah semua air yang terdapat pada, di atas, ataupun di bawah
permukaan tanah, termasuk dalam pengertian ini air permukaan, air
tanah, air hujan, dan air laut yang berada di darat.
b. Sumber air adalah tempat atau wadah air alami dan/atau buatan yang
terdapat pada, di atas, ataupun di bawah permukaan tanah.
c. Sistem Air Baku meliputi prasarana air baku, air air baku, manajemen air
baku, kelembagaan pengelolaan air baku dan sumber daya manusia.
d. Penyediaan air minum adalah kegiatan penyediaan air minum untuk
memenuhi kebutuhan masyarakat agar mendapatkan kehidupan yang
sehat, bersih dan produktif.
e. Sistem Penyediaan Air Minum yang selanjutnya disebut SPAM
merupakan satu kesatuan sistem fisik (teknik) dan non fisik dari
prasarana dan sarana air minum.
f. Penyelenggaraan SPAM adalah kegiatan yang bertujuan membangun,
memperluan dan/atau meningkatkan sistem fisik (teknik) dan non teknik
(kelembagaan, manajemen, keuangan, peran masyarakat dan hukum)
dalam kesatuan yang utuh untuk melaksanakan penyediaan air minum
kepada masyarakat menuju keadaan yang lebih baik.
g. Penyelenggaraan pengembangan SPAM adalah kegiatan
merencanakan, melaksanakan konstruksi, mengelola, memelihara,
merehabilitasi, memantau dan/atau mengevaluasi sitem fisik (teknik) dan
non fisik penyediaan air minum.

. III - 15 .
Laporan Pendahuluan
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku Prov. Sultra

h. Pengembangan air baku adalah pembangunan air baku baru dan/atau


peningkatan air baku yang sudah ada.
i. Pengelolaan air baku adalah kegiatan yang meliputi operasi,
pemeliharaan, dan rehabilitasi air baku.
j. Operasi jaringan air baku adalah upaya pengaturan air air baku termasuk
kegiatan membuka-menutup pintu bangunan air baku, melaksanakan
kalibrasi pintu/ bangunan, mengumpulkan data, memantau dan,
mengevaluasi.
k. Pemeliharaan jaringan air baku adalah upaya menjaga dan
mengamankan jaringan air baku agar dapat berfungsi dengan baik guna
memperlancar pelaksanaan operasi dan mempertahankan
kelestariannya.
l. Ruang Lingkup.
Ruang lingkup Prosedur Operasi dan Pemeliharaan Jaringan Air Baku
adalah :
1. Pelaksanaan Operasi Jaringan Air Baku, meliputi perencanaan
operasi jaringan air baku, pelaksanaan operasi jaringan air baku,
monitoring dan evaluasi jaringan air baku, pengoperasian bangunan
air baku, pemanfaatan sumber air lain serta kegiatan pendukung
operasi dan pemeliharaan jaringan air baku.
2. Pelaksanaan Pemeliharaan Jaringan Air Baku, meliputi kegiatan
inventarisasi kondisi fisik jaringan air baku, perencanaan
pemeliharaan jaringan air baku, pelaksanaan pemeliharaan jaringan
air baku serta pemantauan, evaluasi dan pelaporan.

3.4.2. Pelaksanaan Operasi Air Baku.


1. Kegiatan Operasi Air Baku.
Operasi air baku adalah upaya pengaturan air baku termasuk kegiatan
membuka-menutup pintu bangunan air baku, menyusun rencana
pembagian air baku, melaksanakan kalibrasi pintu/ bangunan,
mengumpulkan data, memantau dan, mengevaluasi.
Kegiatan operasi jaringan air baku secara rinci meliputi :
1. Pekerjaan pengumpulan data (data debit, data curah hujan, dan
lain lain);
. III - 16 .
Laporan Pendahuluan
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku Prov. Sultra

2. Pekerjaan kalibrasi alat pengukur debit air;


3. Pekerjaan membuat Rencana Penyediaan Air Tahunan,
Pembagian dan Pemberian Air Tahunan dan lain-lain.;
4. Pekerjaan melaksanakan pembagian air baku;
5. Pekerjaan mengatur pintu-pintu air baku;
6. Pekerjaan mengatur pintu tampungan lumpur untuk menguras
endapan lumpur;
7. Koordinasi antar instansi terkait;
8. Monitoring dan Evaluasi kegiatan Operasi Air Baku.

2. Data Pendukung kegiatan operasi jaringan Air Baku.


Dalam rangka membantu kegiatan operasi jaringan air baku dapat
dilaksanakan, diperlukan data pendukung antara lain :
1. Peta lokasi Sumber Air Baku.
Peta lokasi Sumber Air Baku adalah Peta Wilayah Kerja Balai
PSDA dengan diploting peta lokasi air baku
2. Peta Air Baku.
Peta Wilayah Air Baku (Skala 1 : 5.000 atau disesuaikan)
dengan batas air baku, plotting saluran pembawa dan
bangunan air baku.
3. Skema Jaringan Air Baku.
Skema jaringan Air Baku menggambarkan saluran pembawa,
bangunan air dan bangunan lainnya yang masing-masing
dilengkapi dengan nomenklatur.
4. Gambar Purna Konstruksi (as built drawing).
Gambar Purna Konstruksi (as built drawing) berupa gambar
kerja purna konstruksi untuk saluran maupun bangunan.
5. Dokumen dan data lain.
Dokumen dan data lain, berupa :
a. Manual pengoperasian air baku bangunan ukur debit air
atau bangunan khusus lainnya;
b. Data seri dari catatan curah hujan;
c. Dan data lainnya.

. III - 17 .
Laporan Pendahuluan
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku Prov. Sultra

3. Peran Serta Masyarakat Dalam Operasi Jaringan Air Baku.


Balai PSDA menyusun rencana operasi jaringan air baku setelah
mendapat masukan dari instansi yang membidangi air baku.
Dalam kegiatan operasi jaringan air baku dilakukan dengan melibatkan
peran serta masyarakat diwujudkan mulai dari pemikiran awal,
pengambilan keputusan, dan pelaksanaan kegiatan dalam operasi
jaringan air baku.
Dalam rangka mengikutsertakan masyarakat petani pemakai air, kegiatan
perencanaan dan pelaksanaan operasi jaringan air baku didapat melalui
usulan dari masyarakat/PDAM, dengan proses sebagai berikut:
1. Masyarakat/PDAM mengusulkan rencana kebutuhan debit air
kepada Balai PSDA melalui instansi yang membidangi.
2. Balai PSDA melaksanakan operasi jaringan air baku atau dapat
dilakukan dengan melibatkan peran masyarakat untuk
melaksanakannya.

4. Ruang Lingkup Kegiatan Operasi Jaringan Air Baku.


Ruang Lingkup Kegiatan Operasi Jaringan Air Baku meliputi :
1. Perencanaan Operasi Jaringan Air Baku.
2. Pelaksanaan Operasi Jaringan Air Baku.
3. Monitoring dan Evaluasi Operasi Jaringan Air Baku.
4. Pengoperasian Bangunan Air Baku.
5. Pemanfaatan Sumber Air Lain.
a. Pemanfaatan air tanah (conjunctive use).
b. Pemanfaatan kembali drainase.
6. Kegiatan Pendukung Operasi Jaringan Air Baku.
a. Monitoring pelaksanaan operasi jaringan air baku.
b. Kalibrasi alat ukur debit.
c. Monitoring dan Evaluasi Kinerja Sistem Air Baku.

5. Tata Cara Operasi Jaringan Air Baku.


1. Perencanaan Operasi Jaringan Air Baku
a. Perencanaan Penyediaan Air Baku

. III - 18 .
Laporan Pendahuluan
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku Prov. Sultra

Rencana Penyediaan Air Tahunan dibuat oleh Dinas PSDA


Provinsi Sulawesi Tenggara cq. Balai PSDA sesuai dengan
kewenangannya berdasarkan ketersediaan air (debit andalan)
dan mempertimbangkan usulan rencana kebutuhan air baku.
b. Perencanaan Pembagian Air Baku.
Rencana Tahunan Pembagian Air Baku disusun oleh Balai
PSDA berdasarkan rencana tahunan penyediaan air Baku dan
pemakaian air untuk keperluan lainnya.
2. Pelaksanaan Operasi Jaringan Air Baku.
Berdasarkan perencanaan operasi jaringan air baku, maka
pelaksanaan kegiatan operasi jaringan air baku dilakukan dengan :
a. Blanko 01-AB (Pencatatan Debit Air Baku).
Pelaksanaan Pencatatan debit air baku pada saluran dengan
menggunakan Blangko 01-OAB
3. Pemanfaatan Sumber Air Lain.
Apabila terjadi kekurangan air baku dalam kegiatan
pembagian air baku dapat diupayakan pemanfaatan sumber-
sumber air lainnya seperti pemanfaatan air dari saluran suplesi, air
tanah dan lain-lain.
a. Pemanfaatan Air Dari Saluran Suplesi.
Dalam kondisi kekurangan debit air baku dapat diupayakan
debit air dari saluran suplesi air irigasi/air baku berdasarkan
musyawarah dan kesepakatan bersama.
b. Pemanfaatan Air Tanah.
Air tanah dapat merupakan sumber air utama atau secara
terpadu bersama-sama dengan air permukaan memenuhi
kebutuhan air baku (Conjunctive use).
Pengelolaan terpadu dalam penggunaan air permukaan dan air
tanah diperlukan terutama pada pemanfaatan air tanah sebagai
pengganti air baku dan air permukaan pada musim kemarau
dan atau sebagai tambahan (suplesi) bagi air baku.
4. Kegiatan Pendukung Operasi Jaringan Air Baku.
a. Monitoring Pelaksanaan Operasi Jaringan Air Baku.

. III - 19 .
Laporan Pendahuluan
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku Prov. Sultra

Monitoring pelaksanaan operasi jaringan air baku dilakukan


dengan menggunakan Blanko 01-AB.
b. Kalibrasi Alat Ukur.
Untuk dapat dicapainya operasi jaringan air baku yang efektif
dan efisien, pembagian air baku harus dapat diukur dengan
baik. Besarnya air yang mengalir melewati suatu alat ukur
dalam satuan waktu tertentu tidak selalu sama dengan
perhitungan memakai rumus standar yang berlaku . Hal ini
disebabkan oleh berbagai hal, antara lain nilai kekasaran,
endapan lumpur dan kekentalan air itu sendiri. Disamping itu
pengerjaan dan pemasangan alat ukur pada saat
pembangunan juga sangat berpengaruh.
Mengingat hal tersebut sebelum dipergunakan, alat ukur harus
dikalibrasi yaitu dengan membandingkan kenyataan besarnya
debit yang mengalir dengan besarnya debit sesuai dengan
perhitungan menggunakan rumus umum.
Tata cara kalibrasi harus dilakukan sesuai dengan petunjuk
pelaksanaan tata cara kalibrasi.
Kalibrasi harus dilakukan setiap ada perubahan/perbaikan dari
alat ukur atau minimal lima tahun sekali.
Apabila terjadi kerusakan alat ukur pada jaringan Air Baku
teknis maka sambil menunggu perbaikan, pengukuran debit
pada alat ukur yang rusak dapat dilakukan antara lain sebagai
berikut :
a) Pengukuran debit dengan metode pelampung.
b) Dibuat lubang pintu ukur yang proporsional dengan
pintu ukur yang masih berfungsi
c. Evaluasi Kinerja Sistem Air Baku
Evaluasi kinerja sistem Air Baku dimaksudkan untuk
mengetahui kondisi kinerja sistem air baku yang meliputi :
1) Prasarana fisik.
2) Produktivitas debit air.
3) Sarana penunjang.
4) Organisasi personalia.

. III - 20 .
Laporan Pendahuluan
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku Prov. Sultra

5) Dokumentasi.
6) Kondisi kelembagaan masyarakat.
Evaluasi ini dilaksanakan setiap tahun dengan menggunakan
formulir 1 sebagaimana dalam Pedoman Pemantauan
danEvaluasi Kinerja Sistem Air Baku, dengan nilai :
1) 80-100 : kinerja sangat baik
2) 70-79 : kinerja baik
3) 55-69 : kinerja kurang dan perlu perhatian
4) < 55 : kinerja jelek dan perlu perhatian
5) maksimal 100, minimal 55 dan optimum 77,5

Peta Lokasi air baku , peta air baku, skema jaringan air baku,

3.4.2. Pelaksanaan Pemeliharaan Jaringan Air Baku.


1. Kegiatan Pemeliharaan Jaringan Air Baku.
Pemeliharaan jaringan air baku adalah upaya menjaga dan
mengamankan jaringan air baku agar dapat berfungsi dengan baik guna
memperlancar pelaksanaan operasi dan mempertahankan
kelestariannya.
Pelaksanaan pemeliharaan jaringan air baku melalui kegiatan perawatan,
perbaikan, pencegahan dan pengamanan yang harus dilakukan secara
terus menerus
Ruang lingkup kegiatan pemeliharaan jaringan air baku, meliputi :
1. Inventarisasi kondisi jaringan air baku
2. Perencanaan pemeliharaan jaringan air baku.
3. Pelaksanaan pemeliharaan jaringan air baku.
4. Pemantauan, evaluasi dan pelaporan.

2. Data Pendukung Kegiatan Pemeliharaan Jaringan Air Baku.


Dalam penyelenggaraan pemeliharaan jaringan air baku diperlukan data-
data pendukung sebagai berikut :

. III - 21 .
Laporan Pendahuluan
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku Prov. Sultra

a. Peta Air Baku.


Peta Air Baku (Skala 1 : 5.000 atau Skala 1 : 10.000), dengan
batas-batasnya dan tata letak saluran pembawa serta bangunan
air.
b. Skema Jaringan Air Baku.
Skema jaringan air baku menggambarkan letak, nama saluran
pembawa dan bangunan bangunan airnya.

3. Jenis-Jenis Pemeliharaan Jaringan Air Baku.


Jenis pemeliharaan jaringan air baku terdiri dari : (1) Pengamanan
jaringan air baku; (2) Pemeliharaan rutin; (3) Pemeliharaan berkala; dan
(4) Perbaikan darurat.
a. Pengamanan Jaringan Air Baku.
Pengamanan jaringan air baku merupakan upaya untuk mencegah
dan menanggulangi terjadinya kerusakan jaringan air baku yang
disebabkan oleh daya rusak air, hewan, atau oleh manusia guna
mempertahankan fungsi jaringan air baku.
Setiap kegiatan yang dapat membahayakan atau merusak jaringan
air baku dilakukan tindakan pencegahan berupa pemasangan
papan larangan, papan peringatan atau perangkat pengamanan
lainnya.

Adapun tindakan pengamanan dapat dilakukan antara lain :

1) Tindakan Pencegahan
a. Melarang pengambilan air dengan pompa air maupun selang.
b. Melarang memandikan hewan selain di tempat yang telah
ditentukan dengan memasang papan larangan.
c. Menetapkan garis sempadan saluran sesuai ketentuan dan
peraturan yang berlaku.
d. Petugas pengelola air baku harus mengontrol patok-patok
batas tanah air baku supaya tidak dipindahkan oleh
masyarakat.
e. Memasang papan larangan untuk kendaraan yang melintas
jalan inspeksi yang melebihi kelas jalan.

. III - 22 .
Laporan Pendahuluan
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku Prov. Sultra

f. Melarang masyarakat, mandi di sekitar bangunan atau lokasi-


lokasi yang berbahaya.
g. Melarang mendirikan bangunan dan atau menanam pohon di
tanah/ tanggul saluran air baku.
h. Mengadakan penyuluhan/sosialisasi kepada masyarakat dan
instansi terkait tentang pengamanan fungsi jaringan aoir baku.
2) Tindakan Pengamanan
a. Membuat bangunan pengamanan ditempat-tempat yang
berbahaya, misalnya : disekitar bangunan utama, siphon, ruas
saluran yang tebingnya curam, daerah padat penduduk dan
lain sebagainya.
b. Pemasangan penghalang di jalan inspeksi dan temapt-tempat
yang berbahaya berupa portal, patok, dan lain-lain.
c. Pemeliharaan Rutin
Pemeliharaan rutin merupakan kegiatan perawatan dalam
rangka mempertahankan kondisi jaringan air baku yang
dilaksanakan secara terus menerus tanpa ada bagian
konstruksi yang diubah atau diganti.

Kegiatan pemeliharaan rutin meliputi :


1) Pemeliharaan Rutin yang bersifat Perawatan :
a) Memberikan minyak pelumas pada bagian pintu.
b) Membersihkan saluran dan bangunan dari tanaman liar
dan semak-semak.
c) Membersihkan saluran dan bangunan dari sampah dan
kotoran.
d) Pembuangan endapan lumpur di bangunan ukur.
e) Memelihara tanaman lindung di sekitar bangunan dan
di tepi luar tanggul saluran.
2) Pemeliharaan Rutin yang bersifat Perbaikan ringan.
a) Menutup lubang-lubang bocoran kecil di
saluran/bangunan.
b) Perbaikan kecil pada pasangan, misalnya
siaran/plesteran yang retak atau beberapa batu muka
yang lepas.
. III - 23 .
Laporan Pendahuluan
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku Prov. Sultra

d. Pemeliharaan Berkala
Pemeliharaan berkala merupakan kegiatan perawatan dan
perbaikan yang dilaksanakan secara berkala yang
direncanakan dan dilaksanakan oleh Balai PSDA dan dapat
bekerja sama masyarakat secara swakelola berdasarkan
kemampuan lembaga tersebut dan dapat pula dilaksanakan
secara kontraktual.
Pelaksanaan pemeliharaan berkala dilaksanakan secara
periodik sesuai kondisi jaringan air bakunya. Setiap jenis
kegiatan pemeliharaan berkala dapat berbeda-beda
periodenya, misalnya setiap tahun, 2 tahun atau 3 tahun.
Pemeliharaan berkala dapat dibagi menjadi tiga, yaitu
pemeliharaan yang bersifat perawatan, pemeliharaan yang
bersifat perbaikan, dan pemeliharaan yang bersifat
penggantian.
Pekerjaan pemeliharaan berkala meliputi :
1) Pemeliharaan Berkala Yang Bersifat Perawatan
a) Pengecatan pintu.
b) Pembuangan lumpur di bangunan dan saluran.
2) Pemeliharaan Berkala Yang Bersifat Perbaikan
a) Perbaikan bangunan pengambilan dan bangunan air
lainnya.
b) Perbaikan bangunan Ukur dan kelengkapannya.
c) Perbaikan saluran.
d) Perbaikan Pintu-pintu.
e) Perbaikan Jalan Inspeksi.
f) Perbaikan fasilitas pendukung seperti kantor, rumah
dinas, rumah PPA dan petugas lapangan, kendaraan
dan peralatan
3) Pemeliharaan Berkala Yang Bersifat Penggantian
a) Penggantian Pintu.
b) Penggantian alat ukur.
c) Penggantian peil schall
e. Penanggulangan/Perbaikan Darurat

. III - 24 .
Laporan Pendahuluan
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku Prov. Sultra

Perbaikan darurat dilakukan akibat bencana alam dan atau


kerusakan berat akibat terjadinya kejadian luar biasa (seperti
Pengrusakan/penjebolan tanggul, Longsoran tebing yang
menutup jaringan air baku, tanggul putus dll) dan
penanggulangan segera dengan konstruksi tidak permanen,
agar jaringan air baku tetap berfungsi.
Kejadian Luar Biasa/Bencana Alam harus segera dilaporkan
oleh Petugas lapangan, ditindak lanjuti Perwakilan Balai dan
dilaporkan kepala Balai PSDA secara berjenjang dan
selanjutnya oleh kepala Balai PSDA dilaporkan kepada Dinas
PSDA Provinsi Sulawesi Tenggara dengan tembusan Instansi
terkait termasuk Bupati/Walikota dan Gubernur. Lokasi,
tanggal/waktu, dan kerusakan akibat kejadian bencana
dimasukkan dalam Blangko 03-OAB dan lampirannya.
Perbaikan darurat ini dapat dilakukan secara gotong-royong,
swakelola atau kontraktual, dengan menggunakan bahan
yang tersedia di Balai PSDA atau yang disediakan
masyarakat seperti (bronjong, karung plastik, batu, pasir,
bambu, batang kelapa, dan lain-lain).
Selanjutnya perbaikan darurat ini disempurnakan dengan
konstruksi yang permanen dan dianggarkan secepatnya
melalui program rehabilitasi.

4. Peran Serta Masyarakat dalam Pemeliharaan Jaringan Air Baku.


Balai PSDA dalam melaksanakan kegiatan pemeliharaan jaringan air
baku dilakukan dengan melibatkan peran serta masyarakat diwujudkan
mulai dari pemikiran awal, pengambilan keputusan, dan pelaksanaan
kegiatan pemeliharaan jaringan air baku.
Kegiatan perencanaan dan pelaksanaan pemeliharaan didapat melalui
hasil penelusuran bersama dengan proses sebagai berikut :
a. Masyarakat bersama Perwakilan Dinas melakukan penelusuran
untuk mengidentifikasi kerusakan-kerusakan, usulan rencana
perbaikan dan skala prioritas.

. III - 25 .
Laporan Pendahuluan
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku Prov. Sultra

b. Penyusunan jenis-jenis pekerjaan yang dapat dikerjakan oleh


masyarakat.
c. Balai PSDA melaksanakan pemeliharaan jaringan air baku dapat
dilakukan melalui kerjasama dengan masyarakat secara swakelola.
d. Masyarakat dapat berperan serta dalam pelaksanaan pemeliharaan
jaringan air baku dalam bentuk tenaga, bahan, atau biaya sesuai
dengan kemampuannya.
e. Masyarakat berperan aktif dalam pengamanan jaringan air baku.
f. Masyarakat dapat melakukan pengawasan atas pelaksanaan
pemeliharaan jaringan airbaku dalam bentuk penyampaian laporan
penyimpangan pelaksanaan kepada Balai PSDA.

5. Tata Cara Pemeliharaan Jaringan Air Baku.


Untuk mendapatkan hasil pemeliharaan yang optimal, diperlukan
tata cara/prosedur yang tepat seperti pada bagan alir pelaporan dengan
mengacu pada tahapan sebagai berikut :
1) Inventarisasi Jaringan Air Baku.
Inventarisasi jaringan air baku dilakukan untuk mendapatkan
data jumlah, dimensi, jenis, kondisi dan fungsi seluruh asset air
baku serta data ketersediaan air baku, nilai asset jaringan air baku
pada setiap air baku. Inventarisasi jaringan air baku dilaksanakan
setiap tahun mengacu pada ketentuan/pedoman yang berlaku.
Untuk kegiatan pemeliharaan dan inventarisasi tersebut yang
sangat diperlukan adalah data kondisi fisik jaringan air baku yang
meliputi data kerusakan dan pengaruhnya terhadap ketersediaan
debit air baku.
Pelaksanaan inventarisasi jaringan air baku ini dilaksanakan
secara partisipatif melalui penelusuran jaringan air baku oleh
personil Balai PSDA secara berjenjang bersama-sama dengan
masyarakat dengan menggunakan Blangko Inventaris Jaringan air
baku. Dari hasil inventarisasi tersebut disusun program 5 tahunan
yang akan diusulkan untuk mendapatkan biaya pemeliharaan
jaringan air baku.

. III - 26 .
Laporan Pendahuluan
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku Prov. Sultra

2) Perencanaan Pemeliharaan Jaringan Air Baku.


Perencanaan pemeliharaan jaringan air baku dibuat oleh Balai
PSDA dan jajarannnya bersama masyarakat berdasarkan
penelusuran jaringan air baku dan rencana prioritas pemeliharaan
jaringan air baku. Dalam rencana pemeliharaan jaringan air baku
terdapat pembagian tugas, antara masyarakat dengan pemerintah
diantaranya bagian mana dapat ditangani masyarakat dan bagian
mana yang ditangani pemerintah melalui Nota Kesepakatan
kerjasama Operasi dan Pemeliharaan jaringan air baku.

a. Penelusuran Jaringan Air Baku.


Berdasarkan penelusuran jaringan air baku dicatat semua
kerusakannya, selanjutnya dikirim oleh Perwakilan Balai secara
rutin kepada Seksi Operasi dan Pemeliharaan Balai PSDA.

Penelusuran dilaksanakan setahun sekali yaitu pada saat debit


terkecil untuk mengetahui endapan, dan mengetahui tingkat
kerusakan yang terjadi ketika air di saluran berada di bawah air
normal.

Penelusuran dilakukan bersama secara partisipatif antara Staf


Balai PSDA, Perwakilan Balai dan masyarakat.

Hasil penelusuran direkam dalam Blanko 01-PAB (Laporan


Penelusuran Kerusakan Jaringan Air Baku) dan ditentukan
ranking prioritasnya oleh Balai PSDA.

Disamping itu dicatat juga dicatat secara detail dalam Blanko


02-PAB (Buku Catatan Pemeliharaan).

Pencatatan dalam Buku Catatan Pemeliharaan dibuat per ruas


saluran dan perbangunan setiap lembar.

b. Identifikasi dan Analisis Tingkat Kerusakan


Berdasarkan hasil inventarisasi dilakukan survei identifikasi
permasalahan dan kebutuhan pemeliharaan secara partisipatif,
dan dibuat suatu rangkaian rencana aksi yang tersusun
dengan skala prioritas serta uraian pekerjaan pemeliharaan
jaringan air baku. Dalam menentukan kriteria pemeliharaan

. III - 27 .
Laporan Pendahuluan
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku Prov. Sultra

dilihat dari kondisi kerusakan fisik jaringan air baku. Pada


hakekatnya pemeliharaan jaringan air baku yang tertunda akan
mengakibatkan kerusakan yang lebih parah dan memerlukan
rehabilitasi lebih dini.

Klasifikasi kondisi fisik jaringan air baku sebagai berikut :

1) Kondisi baik jika tingkat kerusakan < 10 % dari kondisi awal


bangunan/saluran dan diperlukan pemeliharaan rutin.
2) Kondisi rusak ringan jika tingkat kerusakan 10 – 20 % dari
kondisi awal bangunan/saluran dan diperlukan
pemeliharaan berkala.
3) Kondisi rusak sedang jika tingkat kerusakan 21 – 40 % dari
kondisi awal bangunan/saluran dan diperlukan rehabilitasi
4) Kondisi rusak berat jika tingkat kerusakan > 40 % dari
kondisi awal bangunan/saluran dan diperlukan rehabilitasi
berat atau penggantian.
Hasil identifikasi dan analisa kerusakan merupakan bahan
dalam penyusunan detail desain pemeliharaan jaringan air
baku.

c. Pengukuran dan Pembuatan Detail Desain Perbaikan Jaringan


Air baku.
1). Survai Dan Pengukuran Perbaikan Jaringan Air Baku.

Survai dan pengukuran untuk pemeliharaan jaringan air


baku dapat dilaksanakan secara sederhana oleh petugas
Balai PSDA bersama-sama masyarakat dengan
menggunakan roll meter, alat bantu ukur, selang air atau,
tali. Hasil survai yang dituangkan dalam gambar skets atau
diatas gambar as built drawing. Sedangkan untuk pekerjaan
perbaikan, perbaikan berat maupun penggantian harus
menggunakan alat ukur waterpass atau theodolit untuk
mendapatkan elevasi yang akurat. Hasil survai dan
pengukuran ini selanjutnya digunakan oleh personil Dinas
PSDA Provinsi Jawa Tengah dalam penyusunan detail
desain.
. III - 28 .
Laporan Pendahuluan
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku Prov. Sultra

2) Pembuatan Detail Desain.

Berdasarkan hasil survai dan pengukuran disusun


rancangan detail desain dan penggambaran. Hasil
rancangan detail desain ini didiskusikan kembali dengan
perkumpulan petani pemakai air sebagai dasar pembuatan
desain akhir.

d. Perhitungan Rencana Anggaran Biaya (RAB)


Rencana anggaran biaya dihitung berdasarkan perhitungan
volume dan harga satuan yang sesuai dengan standar yang
berlaku di wilayah setempat. Sumber-sumber pembiayaan
pemeliharaan jaringan air baku berasal dari :

1) Alokasi biaya pemeliharaan dari sumber APBN, APBD, atau


DAK.

2) Kontribusi biaya pemeliharaan jaringan air baku oleh


perkumpulan petani pemakai air.

3) Alokasi biaya dari badan usaha atau sumber lainnya.

e. Penyusunan Program/Rencana Kerja


Rencana Program/Rencana kerja dibuat oleh Balai PSDA
bersama perkumpulan masyarakat pemakai air baku. Untuk
lebih teratur dan terarah dalam mencapai tujuan kegiatan
pemeliharaan Jaringan air baku perlu adanya suatu program
atau rencana kerja sebagai berikut :

1) Pekerjaan Yang Dilaksanakan Secara Swakelola.

Pekerjaan yang dapat dilaksanakan dengan cara


swakelola antara lain adalah berupa pemeliharaan rutin,
pemeliharaan berkala yang bersifat perawatan, dan
penanggulangan.

a) Pemeliharaan Rutin :

- Pekerjaan pemeliharaan rutin dilaksanakan secara


terus menerus sesuai dengan kebutuhan/hasil
inspeksi rutin Pengelola Air Baku.

. III - 29 .
Laporan Pendahuluan
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku Prov. Sultra

- Pelaksanaan oleh Perwakilan Balai/UPTD/Cabang


Dinas atau oleh perkumpulan masyarakat pemakai
air baku secara gotong royong dengan bimbingan
teknis dari dinas/pengelola air baku.
b) Pemeliharaan Berkala :

- Pekerjaan dilaksanakan secara periodik


disesuaikan dengan tersedianya anggaran.
- Pelaksanaan secara swakelola oleh Balai PSDA
atau dapat melibatkan masyarakat pemakai air.
- Pekerjaan berupa perawatan
c) Penanggulangan

- Pekerjaan bersifat darurat agar bangunan dan


saluran segera berfungsi.
- Pelaksanaan oleh Balai PSDA bersama
masyarakat/perkumpulan petani pemakai air baku
dengan cara gotong royong.
Untuk program pemeliharaan jaringan air baku
yang akan dilaksanakan dengan cara swakelola
dibuat oleh Balai PSDA dengan menggunakan
Blangko 04-PAB (Program Pekerjaan
Pemeliharaan Swakelola).

2) Pekerjaan Yang Dapat Dikontrakkan

- Pekerjaan bersifat rehabilitasi, rehabilitasi berat, dan


penggantian.
- Pelaksanaan melalui pihak ketiga (kontraktor).
Untuk program pemeliharaan jaringan air baku yang
akan dilaksanakan dengan cara kontraktual dibuat oleh
Balai PSDA dengan menggunakan Blangko 05-PAB
(Program Pekerjaan Pemeliharaan Kontraktual).

f. Kebutuhan Bahan Operasi dan Bahan Pemeliharaan Yang


Bersifat Rehabilitasi.
Daftar kebutuhan bahan operasi dan bahan pemeliharaan rutin
serta daftar kebutuhan bahan pemeliharaan dan tenaga kerja
. III - 30 .
Laporan Pendahuluan
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku Prov. Sultra

untuk pemeliharaan berkala dilaksanakan oleh Perwakilan


Balai /UPTD/Cabang Dinas.

1). Daftar Kebutuhan Bahan Operasi dan Bahan Pemeliharaan


Rutin.
Perwakilan Balai /UPTD/Cabang Dinas melakukan
perhitungan kebutuhan bahan operasi rutin seperti : teer,
paselin, solar, oli, amplas, sikat baja, pel, kuas dan lain-lain.
Disamping itu juga melakukan perhitungan jaringan air baku
kebutuhan bahan pemeliharaan rutin seperti : semen, pasir,
batu belash, kerikil, tanah urug dan lain-lain.
Pelaksanaan kegiatan tersebut diisikan pada Blanko 06-
PAB (Daftar Kebutuhan Bahan Operasi dan Bahan
Pemeliharaan Rutin).
2). Daftar Kebutuhan Bahan dan Tenaga Kerja Untuk
Pemeliharaan Berkala.
Perwakilan Balai /UPTD/Cabang Dinas melakukan
perhitungan kebutuhan bahan pemeliharaan berkala seperti
: semen, pasir, batu belash, kerikil, tanah urug dan lain-lain.
Pelaksanaan kegiatan tersebut diisikan pada Blanko 07-
PAB (Daftar Kebutuhan Bahan Operasi dan Tenaga Kerja
Untuk Pemeliharaan Berkala).

3) Pelaksanaan Pemeliharaan Jaringan Air Baku.


a. Persiapan Pelaksanaan Pemeliharaan Jaringan Air Baku
1) Masyarakat dan atau kontraktor dalam melaksanakan
pekerjaan pemeliharaan wajib memahami dan menerapkan
persyaratan teknis yang telah ditetapkan oleh Balai PSDA.

2) Pelaksanaan pemeliharaan jaringan air baku tidak


mengganggu kelancaran pembagian air untuk tanaman,
artinya pelaksanaannya disesuaikan dengan jadwal
pengeringan dan giliran air.

. III - 31 .
Laporan Pendahuluan
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku Prov. Sultra

3) Balai PSDA wajib menyampaikan kepada masyarakat


pemakai air mengenai rencana pengeringan paling lambat
tiga puluh hari sebelum pelaksanaan pengeringan.

4) Untuk pekerjaaan yang dilaksanakan oleh masyarakat agar


sesuai dengan kuantitas dan kualitas yang dipersyaratkan,
perlu adanya bimbingan dari tenaga pendamping
lapangan/Balai PSDA.

5) Untuk pekerjaan yang dilaksanakan kontraktor, sebagai


kontrol sosial masyarakat dapat berperan serta secara
swadaya mengawasi pekerjaan.

6) Setelah pekerjaan rehabilitasi selesai dikerjakan harus dibuat


berita acara bahwa pekerjaan rehabilitasi telah selesai
dilaksanakan dan berfungsi baik.

b. Pelaksanaan Pemeliharaan Jaringan Air Baku


Pelaksanaan kegiatan pemeliharaan yang dilaksanakan sendiri
secara swakelola ataupun dikontrakkan, baik untuk jenis
pengamanan jaringan air baku, pemeliharaan rutin, pemeliharaan
berkala dan penanggulangan/reahbilitasi darurat.
c. Laporan Kemajuan Pelaksanaan Pekrjaan Pemeliharaan.
1) Laporan kemajuan pelaksanaan pekerjaan pemeliharaan
swakelola dan kontraktual dibuat oleh Balai PSDA setiap
akhir bulan dengan menggunakan Blangko RFK 1S dan RFK
2S.
2) Laporan kemajuan pelaksanaan pekerjaan pemeliharaan
dibuat oleh Kepala Balai PSDA pada Blanko 08-PAB (
Laporan Tahunan Realisasi Pekerjaan Pemeliharaan).

4) Pemantauan, Evaluasi, dan Pelaporan


Dalam mengetahui keberhasilan pelaksanaan pemeliharaan
jaringan air baku dilaukan pemantauan, evaluasi dan pelaporan
indikator keberhasilan kegiatan pemeliharaan jaringan air baku.
Indikator untuk mengukur keberhasilan pelaksanaan pemeliharaan
jaringan air baku dapat diukur :
. III - 32 .
Laporan Pendahuluan
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku Prov. Sultra

1) Terpenuhinya kapasitas saluran sesuai dengan kapasitas


rencana.
2) Terjaganya kondisi bangunan dan saluran :
 Kondisi baik jika tingkat kerusakan < 10 % dari kondisi awal
bangunan dan saluran, diperlukan pemeliharaan rutin.
 Kondisi rusak ringan jika tingkat kerusakan 10 – 20 % dari
kondisi awal bangunan dan saluran, diperlukan pemeliharaan
berkala.
 Kondisi rusak sedang jika tingkat kerusakan 21 – 40 % dari
kondisi awal bangunan dan saluran, diperlukan perbaikan.
 Kondisi rusak berat jika tingkat kerusakan > 40 % dari
kondisi awal bangunan dan saluran, diperlukan perbaikan
berat atau penggantian.

3.5. Penyusunan AKNOP


Berdasarkan AKNOP dibedakan menjadi beberapa kegiatan, seperti Angka
Kebutuhan Nyata OP Irigasi, Waduk, Sararana dan Prasarana Banjir, dan
Penyediaan Air Baku. Dalam rangka memberi kemudahan adalam melakukan
analisis kebutuhan biaya, unsur AKNOP dikelompokkan sebagai berikut ;
1. Perhitungan Kebutuhan Biaya Operasi Jaringan Air Baku
2. Perhitungan Kebutuhan Biaya Pemeliharaan Rutin
3. Perhitungan Kebutuhan Bahan Pelumas Pintu Air dan Cat
4. Perhitungan Kebutuhan Bahan Pekerjaan Pemeliharaan Rutin
5. Perhitungan Biaya Pemeliharaan Berkala
6. Daftar Usulan Pekerjaan Pemeliharaan Berkala
7. Perhitungan Kebutuhan Biaya Rehabilitasi
8. Daftar Usulan Pekerjaan Rehabilitasi
9. Rekapitulasi Kebutuhan Anggaran Biaya Operasi Jaringan Air Baku

. III - 33 .
Laporan Pendahuluan
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku Prov. Sultra

KONDISI EKSISTING
AIR BAKU WILAYAH STUDI
4.1 Kondisi Eksisting Wilayah Studi
4.1.1. Wilayah Sungai
A. Kabupaten Konawe
Kabupaten Konawe dengan ibu kota Unaaha, 73 km dari Kota Kendari, secara
geografis terletak di bagian selatan Khatulistiwa, melintang dari Utara ke Selatan antara
02⁰45’ dan 04⁰15’ Lintang Selatan, membujur dari Barat ke Timur antara 121⁰15’ dan
123⁰30’ Bujur Timur. Kabupaten Konawe terbentang di jazirah tenggara Pulau Sulawesi
dengan luas dataran sebesar 5.798,94 kilometer persegi (579.894 hektar). Luas daratan
Kabupaten Konawe sebesar 11,65 persen dari total luas dataran Provinsi Sulawesi
Tenggara.
Kabupaten Konawe mempunyai beberapa sungai yang cukup potensial sebagai
bahan baku air minum. Namun hanya sungai dengan debit air yang kecil saja yang sudah
dimanfaatkan. Saat ini sungai Lambuya dimanfaatkan sebagai sumber air baku untuk
PDAM Konawe yang melayani Kota Unaaha, Kec. Wawotobi dan sekitarnya. Beikut data
sungai Kabupaten Konawe.

Tabel 4.1 Data Sungai Kabupaten Konawe


No Nama Sungai WS Kecamatan
1 Motui Lasolo - Konaweha
2 Labota Lasolo - Konaweha
3 Wawone Lasolo - Konaweha
4 Banggina Lasolo - Konaweha Motui
5 Porara Lasolo - Konaweha
6 Kambu-kambu Lasolo - Konaweha
7 Konaweha Lasolo - Konaweha Unaaha
8 Lalowalesu Lasolo - Konaweha
9 Mendikonu Lasolo - Konaweha Amonggedo
10 Polua Lasolo - Konaweha Sampara

. IV - 1 .
Laporan Pendahuluan
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku Prov. Sultra

No Nama Sungai WS Kecamatan


11 Ulu Pohara Lasolo - Konaweha Besulutu
12 Andaroa Lasolo - Konaweha Abeli
13 Alabu Lasolo - Konaweha
14 Rambu-Rambu Lasolo - Konaweha Ranomeeto
15 Amoito Lasolo - Konaweha Ranomeeto
16 Boro-boro Lasolo - Konaweha Ranomeeto
17 Duduri Lasolo - Konaweha Ranomeeto
18 Aronggo Lasolo - Konaweha Landono
19 Landono Lasolo - Konaweha Landono
20 Onewila Lasolo - Konaweha Ranomeeto
21 Amoito Lasolo - Konaweha Ranomeeto
22 Lahuau Lasolo - Konaweha
23 mowila Lasolo - Konaweha Mowila
24 Langgonawe Lasolo - Konaweha
25 Awiliti Lasolo - Konaweha
26 Meraka Lasolo - Konaweha
27 Lambuya Lasolo - Konaweha
28 Wawolemo Lasolo - Konaweha
29 Lahumbuti Lasolo - Konaweha
30 Takambopo Lasolo - Konaweha
31 Anggapoa Lasolo - Konaweha
32 Anggasuputi Lasolo - Konaweha
33 Benua Lasolo - Konaweha
34 Meluhu Lasolo - Konaweha
35 Anggotoa Lasolo - Konaweha
36 Ambekaeri Lasolo - Konaweha
37 Anggoro Lasolo - Konaweha
38 Abuki Lasolo - Konaweha
39 Aleuti Lasolo - Konaweha
40 Ameroro Lasolo - Konaweha Uepai
41 Murehe Lasolo - Konaweha
42 Asinua Lasolo - Konaweha Asinua
43 Ambekaeri Lasolo - Konaweha Latoma
44 Latoma Lasolo - Konaweha Latoma
45 Pinole Lasolo - Konaweha Latoma
46 Tawanga Lasolo - Konaweha Latoma
47 Sanggona Lasolo - Konaweha Konawe
48 Parabua Lasolo - Konaweha
49 Wasinggote Lasolo - Konaweha
50 Ahilulu Lasolo - Konaweha Uluiwoi
51 Andolaki Lasolo - Konaweha

. IV - 2 .
Laporan Pendahuluan
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku Prov. Sultra

No Nama Sungai WS Kecamatan


52 Watu Lasolo - Konaweha
53 Mokeseo Lasolo - Konaweha
Sumber : Balai Wilayah Sungai IV Kendari

B. Kabupaten Konawe Selatan


Berdasarkan letak geografis Konawe Selatan berada di bagian tenggara Provinsi
Sulawesi Tenggara. Secara astronomis Konawe Selatan terletak antara 3⁰.58.56’ dan
4⁰31.52’ lintang Selatan, dan antara 121.58’ dan 123.16’ bujur Timur. Secara administrasi
wilayah Kabupaten Konawe Selatan terdiri dari 25 Kecamatan yaitu Tinanggea,
Lalembuu, Andoolo, Buke, Andoolo Barat, Palangga, Palangga Selatan, Baito, Lainea,
Laeya, Kolono, Kolono Timur, Laonti, Moramo, Moramo Utara, Konda, Wolasi,
Ranomeeto, Ranomeeto Barat, Landono, Mowila, Sabulakoa, Angata, Benua dan
Basala. Selain terdapat di jazirah Sulawesi, Wilayah Kabupaten Konawe Selatan juga
terletak di Pulau Hari dan Pulau Cempedak.
Kabupaten Konawe Selatan mempunyai beberapa sungai besar yang cukup
potensial untuk pengembangan pertanian, irigasi dan pembangkit tenaga listrik seperti;
Sungai Lapoa, Sungai Laeya, dan Sungai Roraya. Bendungan irigasi Benua Aporo
mengairi sawah ± 2.602 Ha. Selain sungai-sungai yang telah disebutkan di atas terdapat
pula Rawa Aopa yang sangat potensial untuk pengembangan usaha perikanan darat.
Beikut data sungai Kabupaten Konawe.

Tabel 4.2 Data Sungai Kabupaten Konawe Selatan


No Nama Sungai WS Kecamatan
1 Aopa Lasolo - Konaweha
2 Aopu Lasolo - Konaweha
3 Wotusa Lasolo - Konaweha
4 Teteasa Lasolo - Konaweha Angata
5 Otewe Lasolo - Konaweha
6 Motaha Lasolo - Konaweha Motaha
7 Benua Lasolo - Konaweha
8 Uwsungaisi Lasolo - Konaweha
Sumber : Balai Wilayah Sungai IV Kendari

4.1.2. Wilaya Air Baku Kabupaten Konawe dan Konawe Selatan


Pengertian air baku adalah adalah air bersih yang dipakai untuk keperluan air
minum, rumah tangga dan industri. Air siap dikonsumsi (portable water) adalah air yang
aman dan sehat karena air rentan terhadap penyebaran penyakit yang disebarkan
melalui air (water borne desease). Adapun sumber air baku adalah air permukaan, mata
. IV - 3 .
Laporan Pendahuluan
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku Prov. Sultra

air dan ait tanah. Sedangkan macam – macam air baku di alam adalah: air sungai, air
danau/waduk,rawa, air tanah dan mata air serta air laut. Penyusunan Penilaian Kinerja
Dan Aknop Air Baku Prov. Sultra ini dilakukan dengan menggunakan air baku setempat.
Berikut data Air Baku di Kabupaten Konawe dan Kabupaten Konawe Selatan.

Tabel 4.3 Data Air Baku Kabupaten Konawe


Nama Air
No WS DAS Kecamatan Tahun
Baku
Lasolo – Bondoala - 2010-
1 DAS Kokapi
Konaweha Mandonga 2011
Lasolo –
2 DAS Lasolo Anggaberi 2012
Konaweha
Sumber : Balai Wilayah Sungai IV Kendari

Tabel 4.4 Data Air Baku Kabupaten Konawe Selatan


Nama Air
No WS DAS Kecamatan Tahun
Baku
Poleang – DAS
1 Molo Indah 2010
Roraya Manggabutu
Poleang –
2 DAS Aosole Andoolo 2012
Roraya
Poleang – DAS
3 Moramo 2012
Roraya Moramo
Poleang –
4 DAS Moolo Lalembu 2013
Roraya
Poleang – DAS
5 Konda 2014
Roraya Wanggu
Poleang – DAS
6 Konda 2014
Roraya Wanggu
Poleang –
7 DAS Roraya Benua 2014
Roraya
Poleang – DAS
8
Roraya Rodaroda Kolono 2016
Sumber : Balai Wilayah Sungai IV Kendari

4.2 Kondisi Eksisting Air Baku


Sumber-sumber daya air di sebagian besar wilayah Indonesia dewasa ini
menghadapi beragam masalah. Jika ditinjau berdasarkan musim, maka pada musim
penghujan jumlah air melimpah dan bahkan memicu adanya musibah banjir. Kondisi
sebaliknya terjadi di musim kemarau, sumber air seperti di Kabupaten Konawe dan
Konawe Selatan, yang berakibat pada kekeringan. Selain dari segi kuantitas air baku di
Kabupaten Konawe dan Konawe Selatan, permasalahan sumber daya air juga terkait
dengan parameter kualitas. Rusaknya sumber-sumber Air Baku sering dikaitkan dengan

. IV - 4 .
Laporan Pendahuluan
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku Prov. Sultra

kesalahan pengelolaan lingkungan hidup, perubahan tata guna lahan, pencemaran


domestik dan industri serta eksploitasi sumber daya air yang berlebihan akibat tekanan
pertumbuhan penduduk dan aktifitas ekonomi di daerah wilaya studi. Faktor-faktor
tersebut diantaranya mengakibatkan perubahan siklus hidrologi yang pada akhirnya
mengganggu suplai sumber air baku.

Dilihat dari permasalahan maka dilakukan kegiatan Penyusunan Penilaian Kinerja


dan Penyusunan AKNOP Air Baku Prov. Sultra, untuk berupaya dalam menentukan
metoda dan biaya didalam estimasi AKNOP OP Air Baku.

Berikut Kondisi Eksisting air baku di Kabupaten Konawe dan Kabupaten Konawe
Selatan.

4.2.1. Kondidi Eksisting Wilayah Kabupaten Konawe


Pada wilayah Kabupaten konawe di lihat dari hasil surfei terdapat beberapa
kondisi tersebut sebagai berikut :
Tabel 4.5 Eksisting Air Baku Kabupaten Konawe
No WS DAS Kecamatan Kondisi Ket

Lasolo - DAS Bondoala -


1
Konaweha Kokapi Mandonga

Lasolo - DAS
2 Anggaberi
Konaweha Lasolo

4.2.2. Kondidi Eksisting Wilayah Kabupaten Konawe Selatan


Tabel 4.5 Eksisting Air Baku Kabupaten Konawe Selatan
No WS DAS Kecamatan Kondisi Ket

Poleang - DAS
1 Molo Indah
Roraya Manggabutu

. IV - 5 .
Laporan Pendahuluan
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku Prov. Sultra

No WS DAS Kecamatan Kondisi Ket

Poleang -
2 DAS Aosole Andoolo Aktif
Roraya

Poleang - DAS
3 Moramo
Roraya Moramo

Poleang -
4 DAS Moolo Lalembu
Roraya

Poleang - DAS
5 Konda Aktif
Roraya Wanggu

Poleang - DAS
6 Konda Aktif
Roraya Wanggu

Poleang -
7 DAS Roraya Benua
Roraya

. IV - 6 .
Laporan Pendahuluan
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku Prov. Sultra

No WS DAS Kecamatan Kondisi Ket

Poleang - DAS
8 Kolono Tidak Aktif
Roraya Rodaroda

4.3 Rencana Pengelolaan Data

Setelah dailakukan survey lingkup pekerjaan ternyata masih banyak warga yang
belum menikmati atau medapatkan air bersih. Kondisi bangunan penangkap air juga tidak
terawatt dan bada beberapa yang tertimbun lumpur.

Ketersediaan jaringan distribusi salah satu faktor yang mempengaruhi pelayanan


air bersih dari intake ke masyarakat setempat. Bocor dan rusak pada pipa masih banyak
terjadi di beberapa wilaya pelayanan air baku, hingga kekukarang pipa masi terdapat di
beberapa lokasi studi.

Rencana Penyusunan AKNOP Air Baku sebagai berikut :


i. Penilaian kinerja sarana dan prasarana air baku;
ii. Kondisi pengelolaan dan AKNOP sarana dan prasarana OP sungai saat ini, serta
aturan/kebijakan yang mendasari; iv.
iii. Langkah/upaya yang diperlukan dalam menentukan metoda dan biaya didalam
estimasi AKNOP OP Air Baku; v.
iv. Tata Cara Penyusunan AKNOP OP Air Baku.
v. Rekomendasi langkah/upaya penerapan.

Sesuai data literatur, sekunder, dan lapangan, melakukan analisis dan menyusun
penilaian kinerja dan AKNOP Air Baku. Dalam menyusun penilaian kinerja mengacu pada
Permen PUPR No. 06/PRT/M/2015 tentang Eksploitasi Sumber Air dan Bangunan Air.
Sedangkan penyusunan AKNOP dalam hal analisa mengacu pada AHSP Bidang
Pekerjaan Umum No. 28/PRT/M/2016 dan Harga dasar mengacu pada Basic Price yang
berlaku pada wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara. Dalam menyusun Penilaian Kinerja
dan AKNOP Wilayah Sungai Towari Lasusua, harus membuat telaahan terkait K3 dalam
pelaksanaan OP Prasarana Air Baku Prov. Sultra sesuai Permen PU No. 05/PRT/M/2014.

. IV - 7 .
Laporan Pendahuluan
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku Prov. Sultra

. IV - 8 .
Laporan Pendahuluan
Laporan Pendahuluan

Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku Prov. Sultra

RENCANA KERJA

5.1. Program Kerja

Tahapan rencana kerja yang akan dilakukan dipaparkan dengan mengikuti


diagram alir sebagai berikut:

. V-1 .
Laporan Pendahuluan
Laporan Pendahuluan

Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku Prov. Sultra

. V-2 .
Laporan Pendahuluan
Laporan Pendahuluan

Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku Prov. Sultra

Persiapan

Tahap persiapan merupakan tahap yang amat penting dan krusial dalam
menentukan keberhasilan pencapaian tujuan kegiatan, mengingat interaksi antara
konsultan dan pemberi pekerjaan akan sangat intensif pada tahap ini. Dengan
demikian, perlu dijalin suatu mekanisme komunikasi yang baik agar kesamaan
persepsi pencapaian kegiatan antara pihak pemberi pekerjaan dengan pihak
konsultan dapat tercapai dengan baik.

Pada tahap persiapan ini akan dilakukan beberapa hal sebagai berikut:

1. Membuat Program Kerja (Pola Pikir) kegiatan secara keseluruhan

Kegiatan yang dilakukan dalam tahap ini mencakup penyusunan pola pikir alur
pencapaian sasaran kegiatan yang kemudian mesti dikomunikasikan dan
dipahami oleh seluruh jajaran tenaga ahli dan tenaga pendukung kegiatan.

2. Menentukan Sasaran

Pada tahap ini, dilakukan definisi penentuan sasaran secara rinci dan spesifik
mengenai apa-apa saja hal yang diharapkan untuk dicapai dalam penyusunan
dokumen Angka Kebutuhan Nyata Operasi dan Pemeliharaan (AKNOP) Air
Baku Prov. Sultra.. Perlu dicatat, bahwa meski memang produk akhir dari
kegiatan ini adalah tersedianya dokumen Penyusunan Penilaian Kinerja dan
AKNOP Air Baku Prov. Sultra, diperlukan suatu pendekatan yang komprehensif
dalam rangka mencapai sasaran besar dari kegiatan ini yakni untuk
meningkatkan kinerja dan pelayanan air baku di kawasan Sulawesi Tenggara
Kabupaten Konawe dan Konawe Selatan.

3. Menggali Sumber Terkait

Mengingat kegiatan penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku Prov.
Sultra akan melibatkan berbagai aktivitas survey dan kajian, maka diperlukan
suatu perencanaan survey yang mantap dan tepat sasaran. Untuk itu,
diperlukan berbagai informasi yang tepat mengenai berbagai sumber informasi
terkait Air Baku di Kabupaten Konawe dan Konawe Selatan. Beberapa contoh
informasi penting tersebut antara lain: institusi-institusi terkait Air Baku, contact
person terkait, sumber-sumber data sekunder, dll.

. V-3 .
Laporan Pendahuluan
Laporan Pendahuluan

Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku Prov. Sultra

4. Melakukan Studi Literatur

Dengan semakin berkembangnya bidang Air Baku dan semakin banyaknya


berbagai teori dan contoh kasus yang telah ada, maka dperlukan upaya untuk
mempelajari dari berbagai sumber literature dan studi kasus untuk Penilaian
Kinerja dan AKNOP Air Baku di berbagai kota di Indonesia yang memiliki
kondisi yang mirip dengan lokasi yang akan dikaji. Selain itu, perkembangan
keberadaan peraturan-peraturan dan pedoman baru yang dikeluarkan oleh
pemerintah terkait dengan pengembangan AKNOP Air Baku juga perlu terus
diikuti dan dirujuk dalam Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku
Prov. Sultra.

5. Menyusun Format Pendataan

Agar data yang didapat tepat sasaran dan upaya pengumpulan data juga dapat
dilakukan secara efektif dan efisien, maka perlu disusun suatu format
pengumpulan data yang akan diambil, baik data sekunder, maupun data primer
(misalnya, form informasi pelayanan eksisting Air Baku, kuesioner
sosial/pelayanan kepada masyarakat, dll).

6. Menyusun Jadwal Kerja

Dengan terbatasnya waktu pelaksanaan kegiatan selama 2 bulan, maka dalam


rangka pencapaian sasaran kegiatan secara periodik sesuai dengan tahapan
pelaporan (laporan pendahuluan, laporan bulanan, laporan antara, laporan
akhir), dan juga dalam rangka memudahkan pendefinisian tanggung jawab
pihak terkait, terutama tim konsultan dan tim teknis dari pihak pemberi
pekerjaan, maka diperlukan jadwal kerja yang rinci, yang akan disajikan pada
Bab berikutnya.

Pengumpulan Data

1. Norma, Standar, Pedoman dan Manual Bidang Air Baku


Data-data awal yang mesti dikumpulkan adalah data-data terkait norma,
standar, pedoman, dan manual bidang Operasional & Pemeliharaan air baku
yang ada di Indonesia. Sebisa mungkin data Operasional & Pemeliharaan air
baku yang dikumpulkan tersebut adalah terbitan terbaru sehingga dapat
mengikuti dengan kondisi terkini.

. V-4 .
Laporan Pendahuluan
Laporan Pendahuluan

Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku Prov. Sultra

2. Petunjuk Teknis
Selain Operasional & Pemeliharaan air baku, berbagai data mengenai petunjuk
teknis Penilaian Kinerja Air Baku juga penting untuk dikumpulkan, sebagai
acuan dalam perumusan rencana-rencana yang dimuat dalam lingkup Rencana
Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku Prov. Sultra ini. Petunjuk
teknis ini dapat digunakan sebagai acuan dalam pengembangan berbagai
rencana yang terkait langsung dengan Rencana (misalkan: rencana
pengembangan sistem air baku, rencana pemeliharaan bangunan air baku,
rencana distribusi, dll), maupun sebagai acuan untuk pengembangan berbagai
turunan kegiatan sebagai produk dari dokumen Rencana Penyusunan AKNOP
ini, yakni identifikasi berbagai aktivitas Studi kelayakan (Feasibility Study) dan
Rencana Detil (Detailed Engineering Design).
3. Data Sekunder
Pengumpulan data, berupa data sekunder (melakukan survey ke instansi terkait
serta kelembagaan formal maupun non-formal untuk mengumpulkan data-data
yang terkait dengan kegiatan pengembangan Pengairan dari segi teknis,
kelembagaan, dan manajemen. dan studi literatur (norma, standar, pedoman,
manual bidang sumber daya airi, petunjuk teknis, PP No. 122/2015, dll).
4. Data Primer
Pengumpulan data primer melalui pengukuran langsung di lapangan, misalkan
data kebutuhan air di masyarakat, data kualitas air baku, data bangunan air
baku, pengambilan kuesioner langsung kepada masyarakat.
5. Data Lain yang dibutuhkan
Data-data lain dari berbagai sumber: Pengelolaan WS Towari - Lasusua, tata
kinerja OP prasarana Air Baku, BPS, Bappenas, dll, yang kemudian dapat
digunakan sebagai acuan pelengkap sesuai dengan data yang diperlukan.
Misalkan: data harga satuan, data Hidrologi dan Kualitas Air, Peraturan Daerah
terkait dll.

Analisa AKNOP Air Baku


Setelah mengetahui lokasi, kapasitas, dan layanan Air Baku, kita mencari tahu
nilai Operasional dan Pemeliharaan Prasarana Air Baku, misalnya mengetahui
peralatan prasarana Air Baku. Prosedur operasional standar pengoperasian intake
. V-5 .
Laporan Pendahuluan
Laporan Pendahuluan

Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku Prov. Sultra

dapat dilihat pada Permen PUPR No 26/2014 tentang Prosedur Operasional


Standar.
Analisis pemilihan alternatif sumber dilakukan terhadap sumber-sumber yang telah
diidentifikasi menurut jenis sumber air:
1. Mata air;
2. Sungai, saluran;
3. Intake;
4. Kebutuhan Air.
Dalam melakukan analsisis pemilihan alternatif sumber sejumlah faktor perlu
dipertimbangkan seperti:
1. Air sungai umumnya memerlukan pengolahan untuk menghasilkan air minum,
sehingga sumber air sungai baru dapat diperbandingkan dengan mata air,
hanya apabila lokasi penyadapan (intake) terletak dekat dengan daerah
pelayanan.
2. Danau atau rawa, pengisiannya (in-flow) umumnya berasal dari satu atau
beberapa sungai. Alternatif sumber danau diperbandingkan dengan air
permukaan sungai apabila volume air danau jauh lebih besar dari aliran sungai-
sungai bermuara kedalamnya, sehingga waktu tempuh yang lama (long
detention time) dari aliran sungai ke danau menghasilkan suatu proses
penjernihan alami atau self purification.
3. Mata air sering dijumpai mengandung CO2 agresif yang tinggi, yang mana
walaupun tidak banyak berpengaruh pada kesehatan tetapi cukup berpengaruh
pada bahan pipa (korosi). Proses untuk menghilangkannya harus dilakukan
sedekat mungkin ke lokasi sumber.
4. Dalam hal air permukaan (sungai) telah terkontaminasi berat, pemilihan
alternatif sumber air tanah dalam dapat diajukan, mengingat kualitas tanah
secara bakteriologi lebih aman daripada air permukaan.
5. Pertimbangan lain yang berkaitan dengan kebijakan Pemerintah Daerah
mengenai peruntukan sumber
Kompilasi dan Pemrosesan Data

Tahap ini teramat penting karena berupaya untuk mengelompokan data kuantitatif
dan kualitatif sebagai bahan analisis. Pengelompokan data-data tersebut mesti
sesuai dengan bahan analisis yang akan dilakukan, oleh karenanya upaya

. V-6 .
Laporan Pendahuluan
Laporan Pendahuluan

Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku Prov. Sultra

kompilasi data pun perlu dilakukan dengan menggunakan format yang spesifik
sesuai dengan kebutuhan analisis untuk tiap aspek yang dicakup dalam
Penyusunan Penilaian Kinerja dan Penyusunan AKNOP Air Baku ini. Misalkan:
perlunya dibuat format khusus untuk kompilasi data kualitas air, adanya format
khusus untuk kompilasi data-data kuesioner, dll.

A. Perkiraan Kebutuhan Air


Proyeksi kebutuhan air dalam suatu proyek penyediaan air minum merupakan
hal yang penting, karena merupakan dasar penentuan biaya investasi.
Prakiraan air harus didasarkan pada kondisi sosial ekonomi dan survey
kebutuhan nyata. Kebutuhan air diklasifikasikan berdasarkan aktifitas perkotaan
masyarakat, yaitu:
 Domestik
- Rumah tangga;
- Sosial.
 Non Domestik
- Komersil;
- Perkotaan;
- Fasilitas umum;
- Industri;
- Pelabuhan, dan sebagainya.
Pada umumnya konsumsi atau standar pemakaian dinyatakan dalam volume
pemakaian air rata-rata per orang perhari yang ditentukan berdasarkan survey
kebutuhan nyata.
Sedangkan konsumsi air untuk keperluan komersial dan industri sangat
dipengaruhi oleh harga dan kualitas air, jenis dan ketersediaan sumber air
alteranatif. Biasanya kebutuhan air disuatu kota juga dipengaruhi oleh besarnya
kehilangan air.
Dalam hal ini kehilangan air didefinisikan secara sederhana sebagai produksi
air yang tidak terjual. Besarnya kehilangan air sangat tergantung dari kondisi
dan umur pipa, tekanan dan sistem penyediaan air.

B. Identifikasi Air Baku

Umum

. V-7 .
Laporan Pendahuluan
Laporan Pendahuluan

Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku Prov. Sultra

Untuk mengindentifikasi ketersediaan air baku di suatu wilayah bagi kebutuhan


air minum diperlukan studi hidrogeologi. Studi tersebut terutama dimaksudkan
untuk memperoleh informasi mengenai:
1. Jarak dan beda tinggi sumber-sumber air;
2. Debit optimum (safe yield) sunliber;
3. Kualitas air dan pemakaian sumber saat ini (bila ada).
Pada umunya terdapat sejumlah alternatif sumber yang berbeda. Alternatif
sumber terpilih harus dipertimbangkan terhadap aspek ekonomi dan
kehandalan sumber.
Tingkat kehandalan sumber merupakan suatu faktor yang sulit dinilai secara
mata uang, dan penilaian bobotnya tergantung pada besar kecilnya kota atau
kawasan yang dilayani. Untuk kota-kota yang lebih kecil bobot penilaiannya
lebih besar dari kota besar.
Analisis pemilihan alternatif sumber dilakukan terhadap sumber-sumber yang
telah diidentifikasi menurut jenis sumber air:
5. Mata air;
6. Sungai, saluran;
7. Danau;
8. Air tanah.
Dalam melakukan analsisis pemilihan alternatif sumber sejumlah faktor perlu
dipertimbangkan seperti:
1. Air sungai umumnya memerlukan pengolahan untuk menghasilkan air
minum, sehingga sumber air sungai baru dapat diperbandingkan dengan
mata air, hanya apabila lokasi penyadapan (intake) terletak dekat dengan
daerah pelayanan.
2. Danau atau rawa, pengisiannya (in-flow) umumnya berasal dari satu atau
beberapa sungai. Alternatif sumber danau diperbandingkan dengan air
permukaan sungai apabila volume air danau jauh lebih besar dari aliran
sungai-sungai bermuara kedalamnya, sehingga waktu tempuh yang lama
(long detention time) dari aliran sungai ke danau menghasilkan suatu
proses penjernihan alami atau self purification.
3. Mata air sering dijumpai mengandung CO2 agresif yang tinggi, yang mana
walaupun tidak banyak berpengaruh pada kesehatan tetapi cukup

. V-8 .
Laporan Pendahuluan
Laporan Pendahuluan

Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku Prov. Sultra

berpengaruh pada bahan pipa (korosi). Proses untuk menghilangkannya


harus dilakukan sedekat mungkin ke lokasi sumber.
4. Dalam hal air permukaan (sungai) telah terkontaminasi berat, pemilihan
alternatif sumber air tanah dalam dapat diajukan, mengingat kualitas tanah
secara bakteriologi lebih aman daripada air permukaan.
5. Pertimbangan lain yang berkaitan dengan kebijakan Pemerintah Daerah
mengenai peruntukan sumber

Pengembangan Kelembagaan Non SDM


Dalam operasi dan pemeliharaan suatu sistem air minum diperlukan tenaga-
tenaga profesional yang berpengalaman. Tenaga-tenaga tersebut tidak
diperoleh begitu saja, tetapi harus dilatih dan dibina secara terus menurus.
Berdasarkan hal tersebut diatas, diperlukan suatu, penilaian terhadap
kemampuan karyawan yang ada untuk menyusun suatu program
pengembangan karyawan yang dicapai melalui pendidikan dan pelatihan.

1. Pembahasan / Diskusi
1. Mengadakan diskusi dengan mengundang para pemangku
kepentingan untuk menampung dan membicarakan konsep
Penyusunan Penilaian Kinerja dan Penyusunan AKNOP Air Baku ini
2. Melakukan pembahasan pada setiap kegiatan dengan pemberi tugas
(Pemimpin Proyek / Bagian Proyek) dan tim teknis yang akan ditunjuk
oleh Pemimpin Proyek / Bagian Proyek, serta aparat terkait. Dalam hal
ini, setelah disusunnya Draft laporan final, maka akan ditajamkan
menjadi laporan final setelah melalui proses focus group discussions
secara terbatas antara tim konsultan dengan tim teknis terkait

. V-9 .
Laporan Pendahuluan
Laporan Pendahuluan

Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku Prov. Sultra

JADWAL PELAKSANAAN PEKERJAAN

Bulan Ke - 1 Bulan Ke - 2
Ket
No. Kegiatan Minggu Minggu
1 2 3 4 1 2 3 4

I PERSIAPAN PELAKSANAAN
Mobilisasi/Demobilisasi Tenaga Ahli
1
Personil
2 Penyiapan Administrasi / Koordinasi Awal
3 Koordinasi Dengan Pemerintah Setempat

PELAKSANAAN PEKERJAAN
II
PENYUSUNAN

III LAPORAN
1 Laporan RMK dan RK3K 60 Hari
2 Laporan Bulanan
3 Laporan Pendahuluan
4 Laporan Antara
5 Konsep Laporan Akhir
6 Laporan Akhir (Final)
7 Laporan Survey
8 Gambar Cetakan A3
9 Laporan Foto-Foto Kegiatan
10 Hardisk External 1 Tera

. V - 10 .
Laporan Pendahuluan
Laporan Pendahuluan

Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku Prov. Sultra

5.2. Struktur Organisasi

Dalam melaksanakan suatu pekerjaan diperlukan suatu metode kerja dan rencana kerja
yang efisien dan sederhana, sehingga akan menghasilkan suatu produk kerja yang baik.
Oleh karena itu dalam melaksanakan pekerjaan ini CV. Mulyas Selaras Konsultan
mengerahkan personil-personilnya yang sudah berpengalaman dalam bidang masing-
masing dan mempunyai kemampuan serta berdedikasi tinggi. Secara garis besar akan
kami uraikan hubungan kerja dan tugas dari masing-masing personil, baik hubungan
dengan proyek dan instansi terkait maupun dengan anggota tim.

Berikut adalah usulkan struktur dan komposisi tim tenaga ahli dan tenaga pendukung :

Ahli OP Air Baku


Sudono, ST

Ahli OP Air Baku


TEAM LEADER
Mamik Rokhimi, ST
Muhammad Nugraha, ST, M,Si.
Ahli Cost Estimate
Hari Fadillah, ST

Ahli Kelembagaan
Zulfakar, SE

Komposisi Tim dan Penugasan Personil

Personil tenaga ahli (Professional Staff) yang dibutuhkan dalam menyelesaikan


pekerjaan ini terdiri dari beberapa ahli dari disiplin ilmu yang diperlukan. Uraian tentang
tenaga ahli yang akan diturunkan berikut posisinya pada pekerjaan ini seperti ditunjukkan
pada Tabel dibawah ini :

. V - 11 .
Laporan Pendahuluan
Laporan Pendahuluan

Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku Prov. Sultra

TABEL KOMPOSISI TIM DAN PENUGASAN PERSONIL

Tenaga Ahli (Personil Inti)

Jumlah
Tenaga Ahli
Nama Personil Perusahaan Lingkup Keahlian Posisi Diusulkan Uraian Pekerjaan Orang
Lokal/Asing
Bulan

Muhammad Nugraha, CV. Mulyas Lokal Ahli PSDA Team Leader - Mengkoordinir tim 2
ST, M,Si Selaras Konsultan - Berkoordinasi aktif dengan pemilik
pekerjaan
- Melaporkan perkembangan
pekerjaan secara berkala
- Membuat laporan sesuai KAK
Sudono, ST CV. Mulyas Lokal Ahli O dan P Air baku O dan P Air baku - Melakukan kajian analisis O dan P 2
Selaras Konsultan Air Baku

Mamik Rokhimi, ST CV. Mulyas Lokal Ahli O dan P Air baku O dan P Air baku - Melakukan kajian analisis O dan P 2
Selaras Konsultan Air Baku

Hari Fadillah, ST CV. Mulyas Lokal Ahli Cost Estimate Cost Estimator - Mengestimasi kebutuhan biaya riil 1
Selaras Konsultan rencana Operasional dan
Pemeliharaan

Zulfakar, SE CV. Mulyas Lokal Ahli Kelembagaan Kelembagaan - Melakukan kegiatan identifikasi, 1
Selaras Konsultan perumusan, solusi dan
rekomendasi kelembagaan Air
Baku

. V - 12 .
Laporan Pendahuluan
Laporan Pendahuluan

Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku Prov. Sultra

Tugas dan Tanggung Jawab Personil

Konsultan akan menurunkan semua tenaga ahli yang dibutuhkan, yang mana
kesemuanya telah memiliki pengalaman pada bidangnya masing-masing sesuai yang
disyaratkan, dengan uraian tugas masing-masing personil tenaga ahli adalah sebagai
berikut :

A. Ahli PSDA (Ketua Tim) Ketua Tim disyaratkan berlatar belakang pendidikan Sarjana
(S-1) bidang Teknik Sipil / Teknik Pengairan lulusan Perguruan Tinggi Negeri atau
Swasta yang terakreditasi, memiliki kualifikasi Ahli Madya dengan Sertifikasi SKA Ahli
Teknik Pengairan. Pengalaman profesional bidang Teknik Pengairan minimal selama 2
(dua) tahun, selain itu diutamakan yang telah mempunyai pengalaman sebagai ketua
Tim.
Tugas utama Ketua Tim adalah memimpin dan mengkoordinir seluruh kegiatan
anggota tim kerja dalam pelaksanaan pekerjaan selama 2 (dua) bulan penuh sampai
selesai, selain itu tugas ketua tim adalah sebagai berikut :
 Bertanggung jawab untuk melaksanakan koordinasi antara Tim Konsultan
dengan Pengguna Jasa, serta pihak pihak lain yang terkait dalam kegiatan
penyusunan materi selama kegiatan berlangsung;
 Bertanggung jawab untuk merencanakan/mengelola seluruh kegiatan Tim
Konsultan untuk mencapai tujuan sebagaimana yang dipersyaratkan dalam
Kerangka Acuan Kerja baik dari sisi waktu, kualitas maupun kuantitasnya;
 Bertanggung jawab atas pengendalian personil Tim Konsultan yang terlibat
dalam kegiatan ini, sehingga pekerjaan dapat diselesaikan sesuai target yang
ditetapkan;
 Bertanggung jawab untuk mengkonsolidasikan hasil pekerjaan setiap personil
dan melaporkannya kepada Pengguna Jasa;
 Mengkoordinasi kegiatan pembahasan untuk memastikan tercapainya validitas
dokumen yang disusun;
B. Ahli Operasi dan Pemeliharaan Air Baku disyaratkan berlatar belakang pendidikan
Sarjana (S-1) Jurusan Teknik Sipil / Teknik Pengairan lulusan Perguruan Tinggi Negeri
atau Swasta yang terakreditasi, memiliki kualifikasi Ahli Muda dengan sertifikasi SKA
Ahli Operasi dan Pemeliharaan Air Baku. Pengalaman kerja dibidang Teknik
Pengairan 2 (dua) tahun dengan referensi pengalaman kerja dari instansi yang
berkompeten.
. V - 13 .
Laporan Pendahuluan
Laporan Pendahuluan

Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku Prov. Sultra

Tugas dan tanggung jawab Tenaga Ahli Operasi dan Pemeliharaan Air Baku sebagai
berikut ;
 Melakukan kajian kelayakan teknis Operasi dan Pemeliharaan Air Baku;
 Menyusun rekomendasi struktur perencanaan O & P Air Baku;
 Melakukan kajian teknis lainnya terkait dengan O & P Air Baku;
 Membantu Ketua Tim dalam melaksanakan Penyusunan Penilaian Kinerja dan
Penyusunan AKNOP Air Baku, khususnya di bidangnya;
 Membantu Ketua Tim dalam membantu pembuatan Penyusunan Penilaian
Kinerja dan Penyusunan AKNOP Air Baku agar siap diimplementasikan;
 Bertanggung jawab dalam perhitungan O & P Air Baku;
 Dibawah koordinasi Ketua Tim, Tenaga Ahli Sipil menyusun laporan pekerjaan
di bidang O & P Air Baku.
C. Ahli Cost Estimate disyaratkan berlatar belakang pendidikan Sarjana (S-1) Jurusan
Teknik Teknik Sipil / Teknik Pengairan lulusan Perguruan Tinggi Negeri atau Swasta
yang terakreditasi, memiliki kualifikasi ahli muda dengan sertifikasi SKA Ahli Cost
Estimate. Pengalaman kerja dibidang Cost Estimate minimum 2 (dua) tahun dibuktikan
dengan referensi pengalaman kerja dari instansi yang berkompeten.

Tugas dan tanggung jawab Ahli Cost Estimate meliputi hal-hal sebagai berikut:

 Membantu Ketua Tim dalam melaksanakan pengumpulan data harga satuan


bahan dan upah khususnya di bidang Teknik Pengairan;
 Membantu Ketua Tim dalam analisa harga satuan pekerjaan di bidang Teknik
Pengairan agar siap diimplementasikan;
 Dibawah koordinasi Ketua Tim, Tenaga Ahli Cost Estimate menyusun laporan
pekerjaan ;
 Di bawah koordinasi Ketua Tim, Tenaga Ahli Cost Estimate melaksanakan
pembahasan dengan Pengguna Jasa;
D. Ahli Kelembagaan disyaratkan berlatar belakang pendidikan Sarjana (S-1) Jurusan
Sospol / Administrasi / Ekonomi lulusan Perguruan Tinggi Negeri atau Swasta yang
terakreditasi, memiliki kualifikasi ahli muda dengan sertifikasi SKA Ahli Kelembagaan.
Pengalaman kerja dibidang Kelembagaan minimum 2 (dua) tahun untuk S-1 dibuktikan
dengan referensi pengalaman kerja dari instansi yang berkompeten.

Tugas dan tanggung jawab Ahli Kelembagaan meliputi hal-hal sebagai berikut:

. V - 14 .
Laporan Pendahuluan
Laporan Pendahuluan

Penyusunan Penilaian Kinerja dan AKNOP Air Baku Prov. Sultra

 Membantu Ketua Tim dalam melaksanakan pengumpulan data, administrasi


dalam bidang Pengairan;
 Memberi masukan tentang aspek – aspek kelembagaan kepada Tenaga Ahli
dan Team Teknis;
 Melakukan kegiatan identifikasi, perumusan, solusi dan rekomendasi
kelembagaan PSDA;
 Dibawah koordinasi Ketua Tim, Tenaga Ahli Kelembagaan menyusun laporan
pekerjaan ;
 Di bawah koordinasi Ketua Tim, Tenaga Ahli Kelembagaan melaksanakan
pembahasan dengan Pengguna Jasa;

Jadwal Penugasan Tenaga Ahli

Bulan I Bulan II Orang


No Nama Personil
I II III IV I II III IV Bulan

Nasional
1
Muhammad Nugraha, ST, M,Si. 1
(Team Leader)

2
Sudono, ST. 1
(Ahli O dan P air baku)

3
Mamik Rokhimi, ST 1
(Ahli O dan P air baku)

4
Hari Fadillah, ST 1
(AhliCost Estimate)

5
Zulfakar, SE 1
(Ahli Kelembagaan)
Total 5

Kerja Penuh Waktu


Kerja Paruh Waktu

. V - 15 .
Laporan Pendahuluan

Anda mungkin juga menyukai